Anda di halaman 1dari 20

Case Report Session

ABORTUS INKOMPLIT

Aulia Rahmi 174031


Vando Fernando Sardi 1740312100

PRESEPTOR:
dr. Muslim Nur, Sp. OG(K)
dr. Alam Patria, Sp. OG
dr. Susanti Apriani, Sp. OG

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS


BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUD DR. MUHAMMAD ZEIN PAINAN
2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan pada Allah SWT karena berkat rahmat

dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Case Report Session (CRS) yang

berjudul “Abortus Inkomplit”. CRS ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat

dalam mengikuti kepaniteraan klinik di bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas

Kedokteran Universitas Andalas.

Terima kasih penulis ucapkan kepada pembimbing yang telah memberikan

arahan dan petunjuk, dan semua pihak yang telah membantu dalam penulisan

CRS ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa CRS ini masih memiliki banyak

kekurangan. Untuk itu kritik dan saran sangat penulis harapkan. Akhir kata,

semoga CRS ini dapat bermanfaat untuk kita semua.

Painan, November 2018

Penulis

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat

hidup di luar kandungan dengan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat

janin kurang dari 500 gram. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut

abortus spontan, sedangkan abortus yang terjadi dengan sengaja dilakukan

tindakan disebut abortus provokatus. Berdasarkan gejala, tanda, dan proses

patologi yang terjadi, abortus terdiri dari: abortus iminens, abortus insipiens,

abortos komplit, dan abortus inkomplit.

Abortus inkomplit adalah pengeluaran hasil konsepsi dengan sebagian hasil

konsepsi tertinggal di dalam uterus dan terjadi pada usia kehamilan kurang dari 20

minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Pada pemeriksaan vagina, kanalis

servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau menonjol

pada ostium uteri eksternum. Perdarahan biasanya masih terjadi, jumlahnya pun

bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa, yang

menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga perdarahan berjalan

terus. Pasien dapat mengalami anemia atau syok hemoragik sebelum sisa jaringan

konsepsi dikeluarkan.

Pengelolaan pasien harus diawali dengan perhatian terhadap keadaan umum

dan mengatasi gangguan hemodinamik yang terjadi untuk selanjutnya disiapkan

tindakan kuretase. Bila terjadi perdarahan yang hebat, dianjurkan melakukan

pengeluaran sisa hasil konsepsi secara manual agar jaringan yang mengganjal

3
terjadinya kontraksi uterus segera dikeluarkan, sehingga kontraksi uterus dapat

berjalan dengan baik dan perdarahan bisa berhenti..

1.2 Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui pengertian, etiologi, patofisiologi, gejala klinis,

pemeriksaan penunjang, diagnosis, diagnosis banding, penatalaksanaan, dan

komplikasi pada abortus inkomplit.

1.3 Manfaat Penulisan

Diharapkan mahasisiwa kedokteran untuk mengerti dan memahami tentang

abortus inkomplit sehingga dapat melakukan penatalaksanaan pada ibu hamil

yang mengalami permasalahan yang terkait, khususnya abortus inkomplit.

4
BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin

dapat hidup di luar kandungan dengan kehamilan kurang dari 20 minggu atau

berat janin kurang dari 500 gram.

2.2 Etiologi

Ada beberapa factor penyebab terjadinya abortus yaitu:

1. Faktor genetik

Ada banyak sebab genetik yang berhubungan dengan abortus.

Sebagianbesar abortus spontan disebabkan oleh kelainan kariotip dari

embrio, yangbisa disebabkan oleh kejadian nondisjuction meiosis atau

poliploidi darifertilas abnormal dan separuh dari abortus kerana

kelainan sitogenetik padatrimester pertama berupa trisomi autosom.

Kelainan dari struktur kromosomjuga adalah salah satu penyebab

kelainan sitogenetik yang berakibat aborsidan kelainan ini sering

diturunkan oleh ibu. Gangguan genetik sepertiSindroma Marfan,

Sindroma Ehlers-Danlos.

2. Faktor endokrin

Ovulasi, implantasi dan kehamilan dini sangat bergantung pada

koordinasisistem pengaturan hormonal martenal yang baik. Perhatian

langsung padasistem humoral secara keseluruhan, fase luteal, dan

gambaran hormonsetelah konsepsi terutamanya kadar progesteron

5
sangat penting dalammengantisipasi abortus. Pada pasien dengan DM,

hipotiroidisme,hipoprolaktinemia dan sindrom polikistik ovarium.

3. Faktor infeksi

Infeksi menyebabkan adanya metabolik toksik, endotoksin, eksotoksin,

dansitokin yang berdampak langsung pada janin dan unit fetoplasenta.

Infeksijanin yang bisa berakibat kematian janin dan cacat berat

sehingga janin sulituntuk bertahan hidup. Infeksi plasenta akan

berakibat insufisiensi plasenta. Infeksi kronis endometrium dari

penyebaran kuman genetalia bawah yangbisa mengganggu proses

implantasi. Amnionitis oleh kuman gram positif dangram negatif juga

bisa mengakibatkan abortus. Infeki virus pada kehamilanawal dapat

mengakibatkan perubahan genetik dan anatomik embrio misalnyapada

infeksi rubela, parvovirus, CMV, HSV, koksakie virus, dan

varisellazoster.

4. Faktor imunologi

Beberapa penyakit berhubungan erat dengan kejadian abortus. Seperti

SLE dan Antiphospholipid Antibodies (aPA). ApA adalah

antibodispesifik yang ditemukan pada ibu yang menderita SLE.

5. Faktor trauma

Trauma abdominal yang berat dapat menyebabkan terjadinya abortus

yangyang diakibatkan karena adanya perdarahan, gangguan

sirkulasimaternoplasental, dan infeksi. Namun secara statistik, hanya

sedikit insidenabortus yang disebabkan karena trauma.

6. Faktor nutrisi dan lingkungan

6
Diperkirakan 1-10% malformasi janin adalah akibat dari paparan obat,

bahankimia atau radiasi yang umumnya akan berakhir dengan abortus.

Faktor-faktoryang terbukti berhubungan dengan peningkatan insiden

abortus adalahmerokok, alkohol dan kafein.

2.3 Klasifikasi

Abortus dapat dibagi atas dua golongan, yaitu:

1. Abortus Spontan

Abortus spontan adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-

faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-

faktor alamiah.

Abortus Spontan terdiri dari:

a. Abortus Imminens ( Threatened abortion, Abortus mengancam )

Abortus imminens ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada

kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam

uterus, dan tanpa adanya dilatasi serviks.

b. Abortus Insipien (Inevitable abortion, Abortus sedang berlangsung)

Abortus incipien ialah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada

kehamilan sebelum 20 minggudengan adanya dilatasi serviks uteri yang

meningkat, tetapi hasil konsepsi masih dalamuterus.

c. Abortus Komplit

Abortus kompletus ialah proses abortus dimana keseluruhan hasil konsepsi

(desidua dan fetus) telah keluarmelalui jalan lahir sehingga rongga rahim

kosong.

d. Abortus Inkomplit.

7
Abortus inkomplitialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada

kehamilan sebelum 20 minggu denganmasih ada sisa tertinggal dalam

uterus.

e. Missed Abortion

Missed abortion ialah berakhirnya suatu kehamilan sebelum 20

minggu, namun keseluruhan hasilkonsepsi tertahan dalam uterus 8

minggu atau lebih.

f. Abortus Habitualis

Abortus habitualis ialah abortus yang terjadi 3 kali berturut – turut atau

lebih oleh sebab apapun.

g. Abortus Infeksious

Abortus infeksious ialah suatu abortus yang telah disertai komplikasi

berupa infeksi genital.

h. Septic Abortion

Septic abortion ialah abortus infeksiosus berat disertai penyebaran

kuman atau toksin ke dalamperedaran darah atau

peritoneum.Diagnosis septic abortion ditegakan jika didapatkan tanda –

tanda sepsis, seperti nadicepat dan lemah, syok dan penurunan kesadaran.

2. Abortus Provokatus

Abortus provokarus adalah abortus yang disengaja, baik dengan mengunakan

obat-obatan ataupun alat-alat. Abortus ini terbagi lagi menjadi :

a. Abortus Medisinalis

8
Abortus medisinalis adalah abortus karena tindakan kita sendiri, dengan

alasan bila kehamilandilanjutkan dapat membahayakan jiwa ibu

(berdasarkan indikasi medis).

b. Abortus Kriminalis atau tidak aman

Abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi oleh karena tindakan-

tindakan yang tidak legalatau tidak berdasarkan indikasi medis.

2.4 Patofisiologi

Abortus dimulai dari perdarahan ke dalam decidua basalis yang diikuti dengan

nekrosis jaringan disekitar perdarahan. Jika terjadi lebih awal,maka ovum akan

tertinggal dan mengakibatkan kontraksi uterin yang akanberakhir dengan ekspulsi

karena dianggap sebagai benda asing oleh tubuh.Pada kehamilan di bawah 8

minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya,karena vili korialis belum

menembus desidua terlalu dalam; sedangkan padakehamilan 8-14 minggu, vili

korialis telah masuk agak dalam, sehinggasebagian keluar dan sebagian lagi akan

tertinggal. Perdarahan yang banyakterjadi karena hilangnya kontraksi yang

dihasilkan dari aktivitas kontraksi danretraksi.

2.3 Gejala Klinis

Gejala abortus berupa amenorea, sakit perut kram, dan mules-

mules.Perdarahan pervaginam bisa sedikit atau banyak, biasanya berupadarah

beku tanpa atau desertai dengan keluarnya fetus atau jaringan,demam, nadi cepat,

perdarahan, berbau, uterus membesar dan lembek, nyeritekan,dan leukositosis.

Pada pemeriksaan dalam untuk abortus yang barusaja terjadi didapati serviks

terbuka, kadang-kadang dapat diraba sisa-sisajaringan dalam kanalis servikalis

atau kavum uteri, serta uterus berukurankecil dari seharusnya. Pada pemeriksaan

9
USG, ditemukan kantunggestasional yang tidak utuh lagi dan tiada tanda-tanda

kehidupan dari janin.

2.4 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium berupa tes kehamilan, hemoglobin,leukosit, waktu

bekuan, waktu perdarahan, trombosit, dan GDS. Padapemeriksaan USG

ditemukan kantung gestasi tidak utuh, ada sisa hasilkonsepsi dalam uterus.

2.5 Diagnosis Banding

Beberapa diagnosis banding dari abortus adalah:

• Kehamilan ektopik terganggu

• Perdarahan anovular pada wanita yang tidak hamil

• Abortus mola hidatidosa

• Polip endoserviks

• Karsinoma serviks

2.6 Tatalaksana

Penatalaksanaan pada abortus inkomplit adalah:

 Jika perdarahan ringan atau sedang dan kehamilan kurangdari 16 minggu,

gunakan jari atau forsep cincin untuk mengeluarkan hasil konsepsi yang

terdapat pada serviks.

 Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usiakehamilan kurang

dari 16 minggu, lakukan evakuasi isi uterus. AspirasiVakum Manual

(AVM) adalah metode yang dianjurkan. Kuret tajam hanya dilakukan bila

AVM tidak tersedia. Jika evakuasi tidak dapat segera dilakukan, berikan

ergometrin 0,2 mg IM (dapat diulang 15 menit kemudian bila perlu).

10
 Jika usia kehamilan lebih dari 16 minggu, berikan infus 40 IU oksitosin

dalam 1 Liter NaCl 0,9% atau ringer laktat dengan kecepatan 40 tetes per

menit untuk membantu pengeluaran hasil konsepsi.

 Lakukan evakuasi tanda vital pasca tindakan setiap 30 menit selama 2 jam.

Bila kondisi ibu baik, pindahkan ibu ke ruang rawat.

 Lakukan pemeriksaan jaringan secara makroskopik dan kirimkan untuk

pemeriksaan patologi ke laboratorium.

 Lakukan evaluasi tanda vital, perdarahan pervaginam, tanda akut

abdomen, dan produksi urin setiap 6 jam selama 24 jam. Bila hasil

pemantauan baik dan kadar HB> 8g/dl, ibu diperbolehkan pulang.

2.7 Komplikasi

• Perdarahan (haemoragik)

• Perforasi: sering terjadi sewaktu dilatasi dan kuretase yang dilakukan

olehtenaga yang tidak ahli seperti bidan dan dukun.

• Syokpada abortus dapat disebabkan oleh:

- Perdarahan yang banyak disebut syok hemoragik

- Infeksi berat atau sepsis disebut syok septik atau endoseptik

• Infeksi dan tetanus

• Disseminated Intravascular Coagulopathy (DIC)

11
BAB 3

LAPORAN KASUS

IDENTITAS

Nama : Ny. WM

Usia : 33 tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

No. Rekam Medik : 260643

Tgl. Masuk : 11 November 2018

ANAMNESIS

Seorang pasien wanita umur 33 tahun datang ke IGD RSUD Dr.

Muhammad Zein Painan pada tanggal 11 November pukul 17.40 WIB dengan

keluhan keluar darah berbongkah-bongkah dari kemaluan dan pasien sudah 2 kali

ganti pembalut sejak ± 5 jam sebelum masuk rumah sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang :

 Keluar darah berbongkah-bongkah dari kemaluan dan pasien sudah 2 kali

ganti pembalut sejak ± 5 jam sebelum masuk rumah sakit.

 Perdarahan banyak dan berbongkah-bongkah disertai keluarnya jaringan.

 Nyeri perut di sekitar ari-ari ada.

 Tidak haid sejak ± 4 bulan yang lalu.

 Ini merupakan kehamilan yang ke 4

 Hari Pertama Haid Terakhir: 26 Juni 2018.

12
 Riwayat demam tidak ada.

 Riwayat trauma tidak ada.

 Riwayat menstruasi : menarche umur 12 tahun, siklus haid teratur 1x

sebulan, lamanya 5-7 hari, ganti duk 2-3x/hari, nyeri haid (-).

Riwayat Penyakit Dahulu:

 Belum pernah keguguran sebelumnya.

 Tidak pernah menderita penyakit jantung, paru, hati, ginjal, DM, dan

hipertensi.

Riwayat Penyakit Keluarga :

 Tidak ada keluarga yang menderita penyakit keturunan, menular dan

kejiwaan.

Riwayat Perkawinan :

 1 x tahun 2012

RiwayatKehamilan, Persalinan, Nifas :

 tahun 2013/ spontan/ cukup bulan/ ditolong bidan/ BBL 3200 gr/ laki-laki/

menangis kuat/ hidup dengan sehat.

 tahun 2015/ spontan/ cukup bulan/ ditolong bidan/ BBL 3000 gr/

perempuan/ menangis kuat/ hidup dengan sehat.

 tahun 2017/ spontan/ cukup bulan/ ditolong bidan/ BBL 3200 gr/

perempuan/ menangis kuat/ hidup dengan sehat.

Riwayat Kontrasepsi :

 Riwayat penggunaan kontrasepsi suntik yang dihentikan ± 8 bulan yang

lalu.

Riwayat Imunisasi : (-)

13
Riwayat Pendidikan : tamat SMA

Riwayat Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Riwayat Kebiasaan : Tidak ada riwayat merokok, minum alkohol dan

narkoba

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Sedang

Kesadaran : Composmentis cooperatif (CMC)

Vital sign : Tekanan Darah : 100/60mmHg.

Nadi : 89 x/menit.

Nafas : 20 x/menit.

Temperatur : 370C.

Kulit : dalam batas normal

Mata : Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik.

Leher : JVP 5-2 cmH2O, tidak ada pembesaran KGB

Toraks :

Cor : Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat.

Palpasi : Ictus cordis teraba 1 jari medial LMCS RIC V.

Perkusi : Batas jantung :

Kanan : RIC IV parasternal dextra.

Kiri : RIC II midclavicula sinistra.

Atas : RIC II parasternal kiri.

Auskultasi : Irama jantung reguler, bising (-).

Pulmo : Inspeksi : Bentuk dan pergerakan simetris kiri = kanan.

Palpasi : Fremitus kiri sama dengan kanan.

14
Perkusi : Sonor kiri sama dengan kanan.

Auskultasi : Vesikuler, Rhonki (-/-), wheezing (-/-).

Abdomen : Status Obstetrikus

Genitalia : Status Obstetrikus

Ekstremitas : Edema -/-

Status Obstetrikus :

Muka : kloasma gravidarum (+)

Mammae : membesar, A/P hiperpigmentasi

Abdomen :I : tidak tampak membuncit

Pa : FUT tidak teraba, NT (+), NL (-), DM (-), tidak teraba

massa

Pe : timpani

Au : BU (+) Normal

Genitalia : Inspeksi : V/U tenang, PPV (+).

Inspekulo : Vagina:tumor (-), laserasi (-)tampak genangan

darah di forniks posterior.

Portio: multipara, ukuransebesarjempol

kakidewasa, tumor (-), laserasi (-), tampak darah

merah kehitaman merembes dari kanalis

servikalis, OUE terbuka 1 cm.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Pemeriksaan Hematologi

- Hb : 8,3 g/dL

15
- Leukosit : 17.400 /mm3

- Hematokrit : 24%

- Trombosit : 363.000/mm3

- Golongan Darah :B

- HbsAg : negatif

- PT : 27,1

- aPTT : 55,4

2. USG:

Kesan : terdapat sisa jaringan dalam kavum uteri.

DIAGNOSIS

G4P3A0H3 gravid 18-19 minggu + Abortus Inkomplit

TERAPI

1. Kontrol KU, VS, dan perdarahan pervaginam

2. IVFD RL 20 tpm

3. Injeksi Ceftriaxon 2 x 1 gr IV

4. Drip oksitosin 1 ampul dalam 500 cc RL

5. Rencana Kuretase

6. Pasang Kateter

FOLLOW UP

Kamis, 12 November 2018/Pukul 08.00 WIB

S/ : Keluar darah dari kemaluan (+), awalnya keluar flek-flek kemerahan sejak 1

hari yang lalu. Nyeri perut bagian bawah (+)

16
PF/ :

KU Kes TD Nd Nf T

Sdg CM 110/70 82 20 36,9

Abdomen : I : tampak tidak membuncit

Pa : FUT tidak teraba, NT (-)

Genitalia : u/v tenang, PPV(-)

A/ : P3A1H3 post kuretase a/i Abortus Inkomplit

P/ :

Kontrol KU, VS, dan perdarahan pervaginam

IVFD RL 28 tpm

Injeksi Ceftriaxon 2 x 1 gr IV

Drip oksitosin 1 ampul dalam 500 cc RL

Vit C 3x1

17
BAB 4

DISKUSI

Seorang pasien wanita umur 33 tahun datang ke RSUD Dr. Muhammad

Zein Painan pada tanggal 11 November pukul 17.40 WIB dengan keluhan keluar

darah berbongkah-bongkah dari kemaluan dan pasien sudah 2 kali ganti pembalut

sejak ± 5 jam sebelum masuk rumah sakit. Pasien juga mengeluhkan nyeri perut

disekitar ari-ari. Pasien tidak memiliki riwayat trauma.

Dari anamnesis kita dapat mengarahkan pasien kepada diagnosis abortus,

karena perdarahan berupa gumpalan darah dan terjadi pada usia gestasi dibawah

20 minggu. Kemungkinan mola hidatidosa dapat kita singkirkan karena pada

perdarahan tidak ditemukan gumpalan darah seperti telur ikan, kemudian mola

hidatidosa juga dapat disingkirkan karena tinggi fundus uteri pada mola hidatidosa

lebih tinggi dari usia kehamilannya, sedangkan tinggi fundus uteri pada pasien

sesuai dengan usia kehamilan setinggi simfisis pubis.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan konjungtiva anemis, dan pada

pemeriksaan laboratorium diketahui pasien anemia dengan Hb sebesar 8,3 gr/dL.

Hal ini menunjukkan bahwa perdarahan. Pada pemeriksaan inspekulo tampak

genangam darah di forniks posterior, portio multipara, ukuran sebesar jempol kaki

dewasa, OUE terbuka 1 cm, dan tampak darah merembes darikanalis servikalis.

Menurut literatur, gejala yang timbul pada abortus inkomplitus antara lain

perdarahan yang sedikit sampai banyak dan dapat bertahan selama beberapa hari

atau minggu. Abortus inkomplit dapat diikuti oleh nyeri kram ringan yang mirip

nyeri menstruasi atau nyeri pinggang bawah. Nyeri pada abortus dapat terletak

disebelah anterior dan berirama seperti nyeri pada persalinan biasa. Dari

18
pemeriksaan USG didapatkan gambaran sisa jaringan di cavum uteri. Hal ini

menunjukkan bahwa konsepsi belum keluar seluruhnya, dan kita dapat

mengarahkan pasien kepada diagnosis abortus inkomplit. Tatalaksana yang

diberikan pada pasien adalah oksitosin sebagai uterotonik. Pada pasien juga

diberikan antibiotik injeksi Ceftriaxon 2x1 gram IV untuk mencegah penyebaran

infeksi ke seluruhtubuh saat kuretase. Tindakan kuretase cenderung menyebabkan

perlukaan pada dinding endometrium yang dapat menjadi port d’ entree

penyebaran secara hematogen. Setelah 24 jam masih terdapat sisa konsepsi pada

uterus sehingga dilakukan kuretase.

Pada pasien diberikan antibiotik cefixim 2x200mg tab

danmetronidazol3x500mg tabuntukmencegahinfeksi. Asam mefenamat 3 x 1 tab

diberikan kepada pasien untuk mengatasi nyeri abdomen. Diberikan sulfas

ferrosus dan vitamin C sebagai suplemen nutrisi dan mempercepat penyembuhan.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. F. G Cunningham, KJ. Leveno, SL. Bloom. Abortion in WilliamObstetrics,

24th edition. Mc-Graw Hill, 2014

2. Sarwono prawiroharhdjo.Perdarahan pada kehamilan muda dalamIlmu

Kandungan, edisi 2010

3. Saifuddin A. Perdarahan pada kehamilan muda dalam Buku Panduan Praktis

Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal,Yayasan BinaPustaka Sarwono

Prawirohardjo, Jakarta,2006 Hal M9-M17

4. Standard Pelayanan Medis Ilmu Kebidanan dan Kandungan, RSEfarina

Etaham, 2008, ms 33-35

5.Abortus Incomplete. Available athttp://www.jevuska.com/2007/04/11/abortus-

inkomplit , accessed on Februari 1, 2014

6. Kemenkes RI. Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan Dasar dan

Rujukan. Edisi 1. 2013.

20