Anda di halaman 1dari 80

Diktat Perkuliahan

PENGANTAR ILMU
LINGKUNGAN
Program Pengelolaan Lingkungan di
Indonesia

UNIVERSITAS ISLAM DJAKARTA


Prof. Dr. Ir. Raihan R., M.Si.
Nur Fadli Hazhar Fachrial, S.T., M.Pd.
Bambang Sukamto, S.H., M.H.
PROGRAM PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP
Delivered by :
Nur Fadli Hazhar Fachrial

Jakarta Islamic University


Jl. Balai Rakyat Utan Kayu, Matraman ,Jakarta
Timur 13120, Indonesia
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
OUT LINE PENGELOLAAN
LINGKUNGAN

Udara

Internasionalisasi
Lingkungan
Hidup

Perubahan
Iklim
Sampah
INTERNASIONALISASI
LINGKUNGAN HIDUP

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional
PERAN INDONESIA DI FORUM
INTERNASIONAL 1
4 2
3
Pembangunan Berkelanjutan
• Konferensi Tingkat Tinggi Rio+20 di Rio de Janeiro,
Brazil, 20 – 22 Juni 2012.
Peran Indonesia
• Topik bahasan KTT Rio+20 adalah ekonomi hijau dalam
Di Forum pembangunan berkelanjutan dan penghapusan
Internasional kemiskinan, kelembagaan bagi pembangunan.
• Dihadiri 191 negara,105 kepala negara,487 menteri.
• Menyepakati Dokumen The Future We Want yang
memuat kesepahaman pandangan terhadap masa
depan yang diharapkan oleh dunia (common vision).
• Penerapan Konsumsi dan Produksi Berkelanjutan (SCP)
sejak 2012 dengan fokus sebagai berikut:
1.Instrumen penerapan Konsumsi dan Produksi
Berkelanjutan.
2.Sinergi program riil antar-instansi dan pemangku
kepentingan.
3.Penyiapan kompetensi Konsumsi dan Produksi
Berkelanjutan dan ‘green economy’.
PERAN INDONESIA DI FORUM
INTERNASIONAL 1
4 2
3
Perlindungan Lapisan Ozon
• Masyarakat dunia pada 1985 telah menyepakati
Konvensi Wina sebagai kerangka kerjasama
Peran Indonesia
perlindungan lapisan ozon.
Di Forum • Keputusan Presiden No. 23 Tahun 1992 tentang
Internasional pengesahaan Vienna Convention for the Protection of
The Ozone Layer and Montreal Protocol on Protocol on
Substances that Deplete the Ozone Layer as adjusted
and Amended by The Second Meeting of The Parties
London.
• Sejak 1 Januari 2008, Indonesia telah melarang impor
beberapa jenis BPO yaitu jenis CFC, CTC, TCA, halon
dan metil bromida untuk keperluan non-karantina dan
pra-pengapalan
• Sedangkan untuk HCFC dan metil bromida untuk
keperluan karantina dan prapengapalan masih
diperkenankan untuk diimpor dengan pengaturan melalui
sistem lisensi dan kuota
PERAN INDONESIA DI FORUM
INTERNASIONAL 1
4 2
3
Perlindungan Lapisan Ozon...2

Peran Indonesia • 24th Meeting of the Parties to the Montreal


Di Forum Protocol on Substances that Deplete the Ozone
Internasional Layer (MOP-24) diselenggarakan di Jenewa,
Swiss, pada 12 – 16 November 2012.
• Pelaksanaan percepatan penghapusan HCFC
dan menerapkan sistem kuota impor sebagai
aspek kunci untuk mencapai target pembekuan
(freeze) atau kembali ke angka baseline 2013.
• Program ISP untuk peningkatan kapasitas bagi
upaya penghapusan BPO; penghapusan CFC
untuk sektor refrigerator; dan program
penghapusan HCFC untuk sektor AC dan
refrigerator.
PERAN INDONESIA DI FORUM
INTERNASIONAL 1
4 2
3
Pengelolaan bahan kimia
dan limbah B3
Peran Indonesia • Indonesia telah meratifikasi Stockholm Convention
tentang pengelolaan POP’s (Persistent Organic
Di Forum
Pollutants) dan menyusun NIP (National Implementation
Internasional Plan) yang merupakan kewajiban dalam konvensi ini.
• Konvensi Basel untuk mencegah pengiriman limbah B3
dari negara maju ke negara berkembang. Indonesia
telah menandatangani konvensi Basel, dan
meratifikasinya melalui Keppres Nomor 61 Tahun 1993.
• Indonesia bersama pemerintah Swiss telah
memprakarsai Indonesia-Swiss Country Led Initiative
(CLI) dan berperan aktif sebagai Sekretariat Basel
Convention Regional Center untuk Asia Tenggara.
• Indonesia melalui International Negotiating Committee
(INC), aktif dalam penyusunan legally binding untuk
pelarangan merkuri.
PERAN INDONESIA DI FORUM
INTERNASIONAL 1
4 2
3
Perdagangan dan Lingkungan
• Tahun 2012 dihasilkan dokumen “Khabarovsk
Statement” yang memuat kesepahaman bersama atas
Peran Indonesia
isu keanekaragaman hayati, pendekatan Green Growth,
Di Forum pengelolaan sumber daya air dan sumber daya alam
Internasional yang berkelanjutan, pencemaran udara lintas batas,
mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
• Sertifikasi/kompetensi di enam bidang: 1).Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan, 2).Auditor Lingkungan
Hidup, 3).Penanggungjawab Pengendalian Pencemaran
Air, 4).Penanggungjawab Pengendalian Pencemaran
Udara, 5).Teknisi Servis Refrigerasi (perlindungan
Ozon), dan 6).Green Building.
• Inventarisasi Gas Rumah Kaca, Pengelolaan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun, dan Analis Lingkungan
Hidup di Bank Umum.
INDONESIA TUAN RUMAH
PERTEMUAN INTERNASIONAL
1 2

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional
INDONESIA TUAN RUMAH
PERTEMUAN INTERNASIONAL
1 2

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional
PARTISIPASI AKTIF INDONESIA DI
ORGANISASI INTERNASIONAL
1 2

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional
PARTISIPASI AKTIF INDONESIA DI
ORGANISASI INTERNASIONAL
1 2

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional
KERJASAMA BILATERAL

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional
KERJASAMA BILATERAL :
INDONESIA – KOREA SELATAN

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional

Kerjasama intensif dengan


negara ini dimulai sejak
Desember 2011 dan
dibentuknya kantor bersama
Indonesia – Korea
Environmental Cooperation
Center (IKECC). Salah
satunya, dibangun Pilot
Project di Istiqlal
KERJASAMA BILATERAL :
INDONESIA – AMERIKA SERIKAT

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional

Kerjasama dengan US-EPA


telah dimulai kembali pada
akhir 2011 dengan fokus
pada peningkatan kapasitas
dan pertukaran informasi
dalam pengendalian
pencemaran udara,
pengelolaan bahan dan
limbah
berbahaya beracun,
pengelolaan data dan
informasi
KERJASAMA BILATERAL :
INDONESIA – NEGARA LAINYA

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional

Dengan Jerman untuk


kebijakan mitigasi dan
adaptasi perubahan iklim
(PAKLIM); Denmark untuk
kajian lingkungan hidup
strategis,
kerjasama dengan Australia,
Swedia, Selandia Baru,
Belanda, Singapura,
Meksiko,
dan Inggris.
INTERNASIONALISASI
LINGKUNGAN HIDUP

Peran Indonesia
Di Forum
Internasional
HUTAN dan LAHAN

Kapasitas
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Di KEMENHUT
KAPASITAS PENGELOLAAN
LINGKUNGAN HIDUP KEMENHUT

Kapasitas
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Di KEMENHUT
GERAKAN PENANAMAN 1 MILIAR
POHON
1 2

Gerakan Penanaman 1 Miliar


Kapasitas
Pohon
Pengelolaan
Lingkungan Hidup • Dengan gerakan ini diharapkan bisa
Di KEMENHUT mengurangi dampak perubahan iklim dan
emisi gas karbon. Satu pohon dapat
menghasilkan 20 juta kandungan oksigen
yang dihirup manusia
• Mendapat dukungan komponen bangsa
antara lain sumbangan pohon :Pemerintah
menyediakan 36 juta pohon, pihak
(swasta, BUMN, LSM, pemda, lembaga
donor) =300 juta pohon,Masyarakat Desa
=320 juta pohon Rehabilitasi Hutan = 300
juta batang.
GERAKAN PENANAMAN 1 MILIAR
POHON
1 2

Gerakan Penanaman 1 Miliar


Kapasitas
Pohon
Pengelolaan
Lingkungan Hidup • Program ini juga bertujuan meningkatkan
Di KEMENHUT kesejahteraan masyarakat, terutama yang
tinggal di sekitar hutan.
• Jumlah hutan yang dilibatkan :Hutan
Kemasyarakatan seluas 210.749 hektar;
Hutan Rakyat Kemitraan, seluas 203.833
hektar, Hutan Desa, seluas 10.310 hektar;
dan pencadangan Hutan Tanaman Rakyat,
mencapai 480.303 hektar. Total luas
mencapai 905.195,64 hektar.
HUTAN dan LAHAN

Kapasitas
Pengelolaan
Lingkungan Hidup
Di KEMENHUT
AIR
KAPASITAS PENGELOLAAN
LINGKUNGAN DIRJEN SDA
1 2
Pengelolaan
Sumber Daya Air
• Pengelolaan sumberdaya air terpadu sesuai
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004
tentang Sumberdaya Air, yang menjelaskan air
harus dikelola secara menyeluruh,terpadu dan
berwawasan lingkungan hidup, dengan tujuan
kemanfaatan secara berkelanjutan.
• Secara menyeluruh, landasan kebijakan
nasional sumberdaya air, adalah:
• UUD 1945
• UU Nomor 7 Tahun 2004, tentang
Sumberdaya Air
• UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah
PENYIDIK PNS SDA
1
5 2

4 3 Pembentukan Penyidik
Sumber Daya Air
Sesuai amanat Pasal 93 Undang-Undang
Sumberdaya Air.Pembentukan PPNS SDA di
setiap wilayah sungai ditargetkan selesai pada
2013. Kewenangan PPNS SDA:
• Memeriksa kebenaran laporan atau keterangan
tentang adanya tindak pidana sumberdaya air.
• Memeriksa orang atau badan usaha yang
diduga melakukan tindak pidana sumberdaya
air.
• Memanggil orang untuk didengar dan diperiksa
sebagai saksi atau tersangka dalam perkara
tindak pidana sumber daya air.
• Melakukan pemeriksaan prasarana sumberdaya
air dan menghentikan peralatan yang diduga
untuk tindak pidana
PENYIDIK PNS SDA
1
5 2

4 3 Wewenang Penyidik Sumber


Daya Air
• Menyegel dan/atau menyita alat kegiatan yang
digunakan untuk melakukan tindak pidana
sebagai alat bukti
• Meminta bantuan ahli dalam rangka
pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana
sumber daya air
• Membuat dan menandatangani berita acara dan
mengirimkannya kepada penyidik Kepolisian
Negara Republik Indonesia
• Menghentikan penyidikan bila tidak terdapat
cukup bukti atau peristiwa tersebut bukan
merupakan tindak pidana.
PENYIDIK PNS SDA
1
5 2

4 3 BBWS & BWS

• Mewujudkan konsep pengelolaan sumberdaya


air secara menyeluruh dibentuk Balai Besar dan
Balai Wilayah Sungai (BBWS dan BWS) sesuai
UU Sumberdaya Air Pasal 14, 15, dan 16.
• Lembaga ini bertugas mengelola sumberdaya air
yang meliputi perencanaan, pelaksanaan
konstruksi, serta operasi dan pemeliharaan
dalam rangka konservasi, pendayagunaan
sumberdaya air, dan pengendalian daya rusak
air.
• Penetapan Wilayah Sungai.yaitu: 5 wilayah
sungai Lintas-negara, 29 sungai Lintas-provinsi,
29 sungai Strategis Nasional, 53 sungai Lintas-
kabupaten/Kota dalam provinsi dan 15 sungai
dalam kabupaten/kota.
PENYIDIK PNS SDA
1
5 2

4 3 PDAM BUMN

• Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2006


tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air
Minum, pemerintah melakukan pengembangan
Sistem Penyediaan Air Minum (PAM) di pusat
dan daerah. Badan usaha milik negara dan
badan usaha milik daerah ini merupakan
penyelenggara pengembangan sistem
penyediaan air minum.
• Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7
Tahun 2004 Bab II pasal 21 tentang konservasi
sumberdaya air, menjaga kelangsungan
keberdayaan daya dukung, daya tampung dan
fungsi sumberdaya air.
PENYIDIK PNS SDA
1
5 2

4 3 Permasalahan Sumber Daya


Air
•Terdapat 7,46 juta hektar daerah irigasi yang
dibangun, sekitar 1,34 juta hektar belum
berfungsi optimal karena kerusakan jaringan
irigasi, bencana alam, kurangnya
pemeliharaan, rendahnya keterlibatan petani
dan pihak lain dalam pengelolaan jaringan
irigasi.
•Kinerja pelayanan jaringan reklamasi rawa
belum optimal: dari 33,4 juta hektar lahan rawa
pasang surut dan rawa lebak termasuk
gambut, baru sekitar 1,8 juta hektare jaringan
reklamasi rawa yang dikembangkan
pemerintah
AIR
KEANEKARAGAMAN HAYATI

Balai Kliring
Keamanan
Hayati
TAMAN KEANEKARAGAMAN
1 HAYATI INDONESIA
3 2 Taman Keanekaragaman
Hayati Indonesia
•Lebih 11 persen daratan Indonesia (sekitar 21,5
juta hektar) dicanangkan sebagai wilayah
dilindungi,dalam bentuk suakaBalai Kliring
alam, suaka
Keamanan
margasatwa, taman nasional, taman rekreasi
alam, taman hutan raya, dan taman Hayati
buru yang
dikelola Kementerian Kehutanan. Selain itu,
Indonesia memiliki tambahan 6,3 juta hektar
taman laut.
•Upaya pelestarian keanekaragaman hayati juga
dilakukan di kebun raya, kebun binatang, taman
safari, pusat penangkaran dan budidaya, serta
arboretum.
TAMAN KEANEKARAGAMAN
1 HAYATI INDONESIA
3 2 Taman Keanekaragaman
Hayati Indonesia
•Kementerian Kehutanan juga mendirikan
“bank genetika” untuk tanaman pangan,
Balai Kliring
sementara Kementerian Pertanian memiliki
Keamanan
koleksi sel dan plasma untuk Hayati
ternak dan
tanaman pertanian.
•Kementerian Lingkungan Hidup telah
merumuskan Strategi dan Rencana Aksi
Keanekaragaman Hayati Indonesia (Indonesia
Biodiversity Strategy and Action Plan,
IBSAP) untuk memandu penerapan program
keanekaragaman hayati hingga 2020
TAMAN KEANEKARAGAMAN
1 HAYATI INDONESIA
3 2 Taman Keanekaragaman
Hayati Indonesia
•Indonesia turut memperjuangkan
pengembangan Produk Rekayasa Genetik
(PRG) pada Konferensi PBB BalaiXIKliring
tentang
Keamanan
Keanekaragaman Hayati (Convention on
Biological Diversity/CBD), yangHayatidiawali
dengan pertemuan para pihak pada Protokol
Cartagena mengenai Keamanan Hayati VI di
Hyderabad, India.
•Indonesia menginginkan agar negara maju
berlaku fair terhadap setiap pemanfaatan
sumber daya genetik dan agar negara-negara
sumber memperoleh manfaat yang sepadan
dalam prinsip kesetaraan dalam masyarakat
dunia.
BALAI KEAMANAN HAYATI
INDONESIA
1 2
Balai Keamanan Hayati
Indonesia
•Balai Kiring Keamanan Hayati (BKKH)
Balai Kliring atau Biosafety Clearing House adalah
Keamanan salah satu persyaratan yang harus
Hayati dipenuhi setiap negara yang meratifikasi
Protokol Cartagena.
•Protokol Cartagena bertujuan memberi
jaminan perlindungan yang memadai
dalam penanganan dan pemanfaatan,
perpindahan lintas batas organisme hasil
modifikasi genetik, termasuk pangan,
pakan, dan pengolahan.
BALAI KEAMANAN HAYATI
INDONESIA
1 2 Alur Proses Keanekaragaman Hayati Indonesia

Balai Kliring
Keamanan
Hayati
PROTOKOL NAGOYA
1

3 2 Protokol NAGOYA

•Indonesia segera meratifikasi Protokol Nagoya,


yang sebelumnya telah ditandatangani Menteri
Balai
Lingkungan Hidup. Ratifikasi ituKliring
untuk menjaga
Keamanan
sumberdaya genetik dari pencurian intelektual
pihak asing. Hayati
•Bila telah diratifikasi, akan ditindaklanjuti
dengan inventarisasi sumberdaya genetik dan
pengetahuan tradisional.
•Protokol Nagoya berfungsi apabila
ditandatangani sedikitnya 50 negara. Sampai
saat ini, dari 193 negara anggota Konvensi
Keanekaragaman Hayati, 92 negara telah
menandatangani dan baru 14 negara yang
meratifikasinya
PROTOKOL NAGOYA
1

3 2 Protokol NAGOYA

•Indonesia perlu meratifikasinya dalam hukum


nasional seiring dengan percepatan
Rancangan Balai
Undang-undang Kliring
Pengelolaan
Keamanan
Sumber Daya Genetik (RUU PSDG). Dengan
begitu,akan memperkuat Hayatilegislasi nasional
dalam pemanfaatan SDG untuk kesejahteraan
masyarakat terutama masyarakat yang
memiliki kearifan atau pengetahuan tradisional
dalam pengolahan sumber daya genetik
•Protokol Nagoya memberi akses dan
pembagian keuntungan terhadap pemanfatan
sumberdaya genetik dan pengetahuan
tradisional, termasuk komersialisasi produk
turunannya
PROTOKOL NAGOYA
1

3 2 Protokol NAGOYA

•Salah satu contoh keanekaragaman


hayati yang patut mendapat perhatian
Balai Kliring
sungguh-sungguh adalah
Keamanan tumbuhan
obat. Berbagai jenis Hayatitumbuhan
obat Indonesia bernilai US$14,6
miliar atau lebih dua kali lipat nilai
produk kayu hutan
RANCANGAN UU SUMBER
1 DAYA GENETIK
3 2 RANCANGAN UU SUMBER
DAYA GENETIK
•Undang-Undang ini sangat penting mengingat
Balai Kliring isu kepemilikan pengetahuan tradisional dan
Keamanan sumberdaya genetik terkaitan erat dengan hak
Hayati kekayaan intelektual.
•Rancangan UU Pengesahan Protokol Nagoya
sudah disetujui DPR untuk disahkan sebagai
UU pada April 2013. Kini, Indonesia menunggu
kehadiran UU Pengelolaan Sumber Daya
Genetik, yang sangat penting bagipengelolaan
keanekaragaman hayati.
•Untuk melindungi flora dan fauna dari
kepunahan, pemerintah melakukan berbagai
upaya. Di antaranya menambah jumlah cagar
alam
RANCANGAN UU SUMBER
1 DAYA GENETIK
3 2 PENGELOLAAN SUMBER DAYA
GENETIK
•Taman Nasional Laut yang terjadi justru
Balai Kliring penurunan. Bila pada 2003 terdapat 8 unit,
Keamanan seluas 4,2 juta hektar, tahun 2009 berkurang
Hayati menjadi 7 unit, seluas hanya 4,0 juta hektar.
•Sementara jumlah Taman Nasional Darat pada
2001 hingga 2009 bertambah dari 40 unit
menjadi 43 unit, tetapi luas kawasan
konservasinya turun dari 14,7 juta hektar
menjadi 12,3 juta hektar.
•Di Indonesia terdapat paling sedikit 50 Taman
Nasional, yang tersebar di seluruh pulau.
Untuk Suaka Margasatwa, terdapat 73 lokasi,
dengan total luas 5.422.922,79 hektar.
RANCANGAN UU SUMBER
1 DAYA GENETIK
3 2 TAMAN HUTAN INDONESIA

•Taman Hutan Raya di Indonesia sedikitnya ada


Balai Kliring 22 lokasi, sebagai bentuk pelestarian
Keamanan kombinasi, antara ex-situ dan in-situ.Sehingga,
Hayati setiap tahun dapat ditetapkan baik dari hutan
alam maupun hutan buatan. Namun demikian,
fungsi taman hutan raya adalah sebagai
‘etalase’ keanekaragaman hayati, tempat
penelitian, tempat penangkaran jenis, serta
tempat wisata.
KONSERVASI TUMBUHAN DI
1 KAWASAN EX-SITU
4 2
3
KONSERVASI EX-SITU

•Konservasi di luar habitat asli (ex-situ


Balai Kliring konservasi) menjadi alternatif terbaik sebagai
Keamanan benteng terakhir sebelum terjadi kepunahan.
Hayati Ex-situ konservasi dapat berupa konservasi
spesies, genetik ataupun molekuler.
•Pembangunan kebun raya daerah antara lain
untuk konservasi tumbuhan lokal, pendidikan,
penelitian dan wisata alam. Dengan Inpres
Nomor 3 Tahun 2009 kegiatan ex-situ
konservasi tumbuhan dalam bentuk kebun raya
mempunyai kekuatan hukum. Hingga perhatian
dan alokasi dana daerah untuk pengelolaan
kebun raya di daerah lebih terjamin.
KONSERVASI TUMBUHAN DI
1 KAWASAN EX-SITU
4 2
3
KONSERVASI EX-SITU

•Konservasi di luar habitat asli (ex-situ


Balai Kliring konservasi) menjadi alternatif terbaik sebagai
Keamanan benteng terakhir sebelum terjadi kepunahan.
Hayati Ex-situ konservasi dapat berupa konservasi
spesies, genetik ataupun molekuler.
•Pembangunan kebun raya daerah antara lain
untuk konservasi tumbuhan lokal, pendidikan,
penelitian dan wisata alam. Dengan Inpres
Nomor 3 Tahun 2009 kegiatan ex-situ
konservasi tumbuhan dalam bentuk kebun raya
mempunyai kekuatan hukum. Hingga perhatian
dan alokasi dana daerah untuk pengelolaan
kebun raya di daerah lebih terjamin.
KONSERVASI TUMBUHAN DI
1 BAWAH LIPI & PEMDA
4 2
3

Balai Kliring
Keamanan
Hayati
NAMA & LUAS KEBUN RAYA DI
1 INDONESIA
4 2
3

Balai Kliring
Keamanan
Hayati
KEANEKARAGAMAN HAYATI

Balai Kliring
Keamanan
Hayati
PESISIR DAN LAUT
PROGRAM RANTAI EMAS
1 2
RANTAI EMAS

•Forum pertemuan para menteri East Asian


Seas (EAS) Congress pada Juli 2012 di
Balai Kliring
Korea Selatan yang dihadiri 12 negara ini
Keamanan
untuk membahas pembangunan
Hayati
berkelanjutan pengelolaan laut.
menyepakati Deklarasi Changwon yang
merupakan
•Platform berbagi pengetahuan dan
perumusan tindakan kolaboratif dalam
menyelesaikan tantangan di pesisir dan
lautan. Pada 2012, telah disusun Status
Lingkungan Pesisir dan Laut atau State of
the Coast (SOC),
PROGRAM RANTAI EMAS
1 2
RANTAI EMAS

•Indonesia mendapatkan bantuan dana


melalui GEF untuk Balai mengembangkan
Kliring
kemitraan dalam pengelolaan
Keamanan lingkungan
di kawasan laut di regional
HayatiAsia Timur
(PEMSEA) sejak 2008.
•Bagi Indonesia, program ini untuk
melaksanakan Strategi Pembangunan
Berkelanjutan di Wilayah Pesisir dan Laut
yang menekankan pemantapan dan
pengembangan National Interagency
Coordinating Mechanism (NICM) di
perairan Jakarta.
REHABILITASI & PENGELOLAAN
1 TERUMBU KARANG
3 2
COREMAP

•Program Rehabilitasi dan Pengelolaan


Terumbu Karang atau COREMAP adalah
program yang diparkarsai pemerintah
Indonesia untuk melindungi,
merehabilitasi, dan mengelola
pemanfaatan lestari terumbu karang serta
ekosistemnya. Pada gilirannya, program
ini menunjang kesejahteraan masyarakat
pesisir.
•COREMAP didanai pemerintah
Indonesia, World Bank, Asian
Development Bank, dan Australia Agency
for International Development (AusAID).
REHABILITASI & PENGELOLAAN
1 TERUMBU KARANG
3 2
Indonesia & COREMAP

•Indonesia ikut dalam Program ASEAN-


Australia, Living Coastal Resources,
untuk memantau sumberdaya laut di Asia
Tenggara.
•Survei pendahuluan pada 1984
menemukan terumbu karang dalam
keadaan baik tinggal sekitar 5 persen;
kondisi lumayan, 29 persen; buruk, 25
persen; dan sangat buruk, 40 persen.
•Penelitian terumbu karang mulai
ditingkatkan, melibatkan 10 universitas
dari berbagai provinsi, yang membentuk
jejaring informasi, cikal bakal Coral Reef
Information and Training Centre (CRITIC).
REHABILITASI & PENGELOLAAN
1 TERUMBU KARANG
3 2
Perkembangan
COREMAP
•Program pengelolaan terumbu karang dari
Nias, Sumatera Utara, sampai Raja Ampat
dan Biak di Papua Barat dan Papua telah
membuahkan hasil. Data dari penelitian
tahun 2012 menunjukkan kondisi terumbu
karang sangat baik, 5,30 persen;kondisi
baik, 27,19 persen; cukup baik, 37,29
persen; dan kurang baik 27,19 persen.
•Di Raja Ampat, program COREMAP
mendorong masyarakat desa pesisir
mengembangkan budidaya kerapu atau
lobster, mengembangkan usaha kecil,
mengelola usaha homestay, dan tidak
bergantung sepenuhnya pada penangkapan
ikan.
PESISIR DAN LAUT
UDARA
INSTALASI PEMANTAUAN
1 KUALITAS UDARA
3 2 Pemantauan Kualitas Udara

•Sampai saat ini, BMKG memiliki 44


jaringan stasiun pemantau kualitas udara.
Balai Kliring
Dari 44 unit kerja pemantau kualitas
Keamanan
udara itu, 42 mengamati parameter
Hayati SPM
(Suspended Particulate Matter), 31
stasiun parameter kimia air hujan (KAH),
7 stasiun parameter SO2 dan NO2. 4
stasiun parameter PM10, 3 stasiun
parameter Aerosol, dan 2 stasiun
melakukan pengamatan parameter Ozon
(O3) permukaan, serta 1 stasiun lainnya
memonitoring gas rumah kaca (GRK). Jaringan
Pemantauan
Kualitas
Udara
INSTALASI PEMANTAUAN
1 KUALITAS UDARA
3 2 Inisiasi Kampung Iklim (ProKlim)

•Program Kampung Iklim (ProKlim) yang


diinisiasi Kementerian Lingkungan Hidup
Balai Kliring
merupakan upaya memperkuat berbagai
Keamanan
inisiatif lokal terkait perubahanHayati
iklim.
•Melalui ProKlim, pemerintah memberi
penghargaan bagi partisipasi aktif
masyarakat yang melakukan upaya
mitigasi dan adaptasi perubahan iklim
yang terintegrasi di tingkat lokal.
•Sehingga, dapat mendukung target
penurunan emisi GRK nasional dan
meningkatkan ketahanan masyarakat Jaringan
terhadap dampak perubahan iklim. Pemantauan
Kualitas
Udara
INSTALASI PEMANTAUAN
1 KUALITAS UDARA
3 2 Pencemaran dan Pemantauan
Lapisan Ozon
•Indonesia berperan aktif di tingkat global
melalui Protokol Montreal tentang
Balai Kliring
Pengendalian Bahan Perusak Ozon (BPO).
Keamanan
Penghapusan BPO akan berkontribusi,
Hayati tidak
saja untuk perlindungan lapisan ozon,
namun juga mereduksi CO2 ekuivalen, yang
secara langsung dan tidak langsung
melindungi sistem iklim.
•Indonesia telah menghapus BPO jenis
chlorofluorocarbons (CFC), Halon, Carbon
tetrachloride (CTC), Methyl chloroform
(TCA) dan Methyl bromide (MBr) untuk
Jaringan
keperluan non-karantina dan
Pemantauan
prapengapalan sejak 31 Desember 2007.
Kualitas
Udara
PEMANTAUAN LAPISAN OZON
1
7 2

6 3
Pencemaran dan Pemantauan
5 4
Lapisan Ozon
•Bertambahnya jumlah kendaraan bermotor
pada kisaran 10 persen (BPS, 2012),
Balai Kliring
meningkatkan konsumsi bahan bakar fosil,
Keamanan
yang menaikkan konsentrasi
Hayatigas rumah
kaca.
•Pemantauan kualitas udara jalan raya di
beberapa kota besar pada 2012,
menunjukkan beberapa parameter
pencemar udara cenderung meningkat—
namun masih dibawah baku mutu.
•Penurunan kualitas udara akan berdampak
burukbagi kesehatan manusia, merusak
Jaringan
tanaman dan bangunan, pertumbuhan
Pemantauan
hutan terganggu dan berkurangnya jarak
Kualitas
pandang.
Udara
1
PROGRAM LANGIT BIRU
7 2

6 3
Program Langit Biru
5 4

•Program Langit Biru dikemas sebagai upaya


pengendalian pencemaran udara untuk
Balai Kliring
sumber bergerak meliputi:
Keamanan
1.Penetapan baku mutu emisi,
Hayati
2.Penggunaan bahan bakar bersih,
3.Manajemen kebutuhan transportasi
(Transport Demand Management),
4.Pemeriksaan emisi dan perawatan
kendaraan bermotor.
•Program langit biru bertujuan
mengendalikan dan mencegah pencemaran
udara dan mewujudkan perilaku sadar
Jaringan
lingkungan baik dari sumber tak bergerak
Pemantauan
(industri) maupun sumber bergerak.
Kualitas
Udara
MENINGKATKAN KUALITAS
7
1
2
UDARA
6 3
Meningkatkan Kualitas Udara
5 4

• Ditjen Perhubungan Darat Kementerian


Perhubungan berupaya meningkatkan kualitas
emisi gas buang kendaraanBalaibermotor
Kliring antara
lain: pendekatan teknologiKeamanan
ramah lingkungan,
inspeksi kendaraan bermotor,Hayati penetapan
standar emisi gas buang kendaraan, serta
manajemen lalu-lintas yang baik.
•Upaya lain yang dilakukan antara lain dengan:
a) Penerapan standar emisi CO2 untuk mobil
penumpang,
b) Pemasangan Converter Kit (gasifikasi
angkutan umum)
c) Penerapan Congestion Charging dan Road Jaringan
Pricing Pemantauan
d) Pembinaan Peningkatan Pelayanan
Kualitas
Angkutan Umum.
Udara
UPAYA MENCEGAH
7
1
KEMACETAN TRANSPORTASI
2

6 3
Upaya Mencegah Kemacetan di
5 4
Sektor Transportasi
• Kemacetan menyebabkan emisi gas buang
kendaraan meningkat lebih besar. Upaya yang
dilakukan diantaranya: Balai Kliring
a) Reformasi sistem transitKeamanan
- Bus Rapid Transit
(BRT)/semi BRT, Hayati
b) Pemanfaatan teknologi untuk lalu lintas di
jalan nasional (ATCS-Area Traffic Control
System),
c) Penerapan pengendalian dampak lalu lintas
di jalan nasional,
d) Penerapan manajemen parkir di jalan
nasional,
e) Mendorong pembinaan dan pengembangan Jaringan
sistem transit - BRT/Semi BRT, Pemantauan
f) Pembangunan budaya smart driving
Kualitas
(ecodriving),
- Pengembangan prasarana kendaraan tidak
Udara
bermotor dan pejalan kaki (Nonmotorize
transport):
UPAYA MENCEGAH
7
1
KEMACETAN TRANSPORTASI
2

6 3
Upaya Mencegah Kemacetan di
5 4
Sektor Transportasi
f) Pembangunan budaya smart driving
(ecodriving)
g) Pengembangan prasaranaBalai kendaraan
Kliring tidak
Keamanan
bermotor dan pejalan kaki (Nonmotorize
transport): Hayati
i. Pengembangan fasilitas pejalan kaki
ii. Pembangunan jalur sepeda
iii.Pembangunan fasilitas integrasi moda
(pedestrian)
iv.Penerapan Car Labelling.

Jaringan
Pemantauan
Kualitas
Udara
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
7
1
2
PENCEMARAN UDARA
6 3
Implementasi Kebijakan Pemerintah
5 4
Mengatasi Pencemaran Udara
• Implementasi kebijakan dalam pengendalian
pencemaran dari emisi kendaraan bermotor
terus dilakukan melalui: Balai Kliring
Keamanan
1) Penetapan baku mutu emisi sepeda motor
Hayati
(EURO3) yang akan mulai pada Agustus
2013. Hl ini diperkirakan akan menurunkan
emisi sepeda motor untuk parameter CO
sebesar 5,5 persen, HC sebesar 2,7 persen
dan NOx sebesar 4,04 persen pada 2014.
2) Evaluasi kualitas udara perkotaan (EKUP)
dilaksanakan di 45 lokasi: 14 kotametro, 14
kota besar, serta 17 ibu kota provinsi.
Kegiatan ini mengevaluasi upaya Jaringan
pengendalian pencemaran udara oleh Pemantauan
pemerintah kota. Harapannya bisa memicu
Kualitas
pemerintah kota menurunkan beban
pencemaran udara.
Udara
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN
7
1
2
PENCEMARAN UDARA
6 3
Implementasi Kebijakan Pemerintah
5 4
Mengatasi Pencemaran Udara
3) Evaluasi penaatan baku mutu emisi
kendaraan bermotor tipe baru sebanyak 28
kendaraan roda empat Balaiberbahan
Kliring bakar
Keamanan
bensin, 5 kendaraan roda empat berbahan
bakar solar, dan motorHayati sebanyak 10.
Kegiatan ini untuk mengevaluasi konsistensi
produk yang lulus uji emisi, dan memberi
informasi kepada masyarakat mengenai
kendaraan bermotor ramah lingkungan.
4) Pedoman pengendalian pencemaran udara
dari transportasi air, udara, kereta api, dan
alat berat. Adanya pedoman ini menjadi
acuan bagi para pihak mengendalikan Jaringan
pencemaran udara Pemantauan
Kualitas
Udara
JARINGAN PEMANTAUAN
KUALTAS UDARA

Perkembangan
COREMAP
•Program pengelolaan terumbu karang dari
Balai Kliring
Nias, Sumatera Utara, sampai Raja Ampat
Keamanan
dan Biak di Papua Barat danHayati
Papua telah
membuahkan hasil. Data dari penelitian
tahun 2012 menunjukkan kondisi terumbu
karang sangat baik, 5,30 persen;kondisi
baik, 27,19 persen; cukup baik, 37,29
persen; dan kurang baik 27,19 persen.
•Di Raja Ampat, program COREMAP
mendorong masyarakat desa pesisir
mengembangkan budidaya kerapu atau Jaringan
lobster, mengembangkan usaha kecil, Pemantauan
mengelola usaha homestay, dan tidak Kualitas
bergantung sepenuhnya pada penangkapan Udara
ikan.
UDARA
PERUBAHAN
IKLIM
SISTEM INVENTARISASI GAS
RUMAH KACA NASIONAL 1
4 2
Sisten Inventarisasi Gas
Rumah Kaca Nasional 3

Sistem •Untuk koordinasi inventarisasi


Inventarisasi GRK, perubahan emisi dan
Gas Rumah
Kaca Nasional serapan GRK, simpanan karbon
nasional,monitoring proses dan
hasil inventarisasi GRK,
pemerintah sedang membangun
Sistem Inventarisasi Gas Rumah
Kaca Nasional (SIGN) yang
diharapkan akan mulai berjalan
efektif pada akhir 2012.
THANK YOU

Jakarta Islamic University


Jl. Balai Rakyat Utan Kayu, Matraman ,Jakarta
Timur 13120, Indonesia