Anda di halaman 1dari 5

TEORI RAPID CELL DIVISION

OLEH

Wirjapratama Putra, S. Ked

Pembimbing
dr. Syukri Delam, Sp.OG

KEPANITERAAN KLINIK SENIOR

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS RIAU

RSUD ARIFIN ACHMAD PROVINSI RIAU

PEKANBARU

2017
Proses Ovulasi

Ovulasi adalah peristiwa dilepaskannya ovum atau sel telur yang sudah matang dari ovarium.
Ovulasi terjadi dalam siklus yang teratur yaitu satu kali siklus (daur menstruasi). Pada
manusia biasanya terjadi kira-kira 14 hari atau biasanya satu hari sebelum menstruasi
berikutnya terjadi. Ovulasi diperngaruhi oleh hormone FSH dan LH dari kelenjar hipofisis.
Setelah ovulasi folikel berubah menjadi corpus luteum yang akan menghasilkan
progesterone. Progesteron berfungsi untuk mempersiapkan Rahim untuk menerima hasil
pembuahan. Pembuahan telur tadi akan menghasilkan human Chorionic Gonadotropin(hCG).
Namun jika tidak terjadi pembuahan, maka progesterone akan menurun pada 9-11 hari
setelah ovulasi. Penurunan tingkat progesterone kemudian mengarah kepada menstruasi.

Proses Fertilisasi

Fertilisasi (pembuahan) adalah proses penyatuan gamet pria dan wanita, terjadi di
pars ampulla tuba falopii. Bagian ini merupakan bagian terluas dari saluran telur dan terletak
dekat dengan ovarium. Selama berhubungan seksual jumlah semen yang diejakulasikan rata-
rata adalah 3,5 ml dan tiap 1 ml semen mengandung 120 juta spermatozoon. Jumlah ini
diperlukan mengingat tingkat kematian spermatozoon sangat tinggi. Spermatozoa bergerak
cepat dari vagina ke rahim dan selanjutnya masuk ke dalam saluran telur. Pergerakan naik ini
disebabkan oleh kontraksi otot-otot uterus dan tuba. Perlu diingat bahwa pada saat sampai di
saluran kelamin wanita, spermatozoa belum mampu membuahi oosit. Mereka harus
mengalami kapasitasi dan reaksi akrosom.Kapasitasi adalah suatu masa penyesuaian di dalam
saluran reproduksi wanita, yang pada manusia belangsung kira-kira 7 jam. Selama waktu itu,
suatu selubung glikoprotein dari protein-protein plasma semen dibuang dari selaput plasma,
yang membungkus daerah akrosom spermatozoa. Hanya sperma yang mengalami kapasitasi
yang dapat melewati sel korona dan mengalami reaksi akrosom.Reaksi akrosom terjadi
setelah penempelan ke zona pellusida dan diinduksi oleh protein-protein zona. Reaksi ini
berpuncak pada pelepasan enzim-enzim yang diperlukan untuk menembus zona pelusida,
antara lain akrosin dan zat-zat serupa tripsin.
Pada fertilisasi mencakup 3 fase:
1. Penembusan korona radiata
Dari 200-300 juta spermatozoa yang dicurahkan ke dalam saluran kelamin wanita, hanya
300-500 yang mencapai tempat pembuahan. Hanya satu diantaranya yang diperlukan untuk
pembuahan dan diduga bahwa sperma-sperma lainnya membantu sperma yang akan
membuahi untuk menembus sawar yang melindungi gamet wanita. Sperma yang mengalami
kapasitasi dengan bebas menembus sel korona
2. Penembusan zona pelusida
Zona pelusida adalah sebuah perisai glikoprotein di sekeliling telur yang mempermudah dan
mempertahankan pengikatan sperma dan menginduksi reaksi akrosom. Pelepasan enzim-
enzim akrosom memnungkinkan sperma menembus zona pelusida, sehingga akan bertemu
dengan membrane plasma oosit. Permeabilitas zona pelusida berubah ketika kepala sperma
menyentuh permukaan oosit. Hal ini mengakibatkan pembebasan enzim-enzim lisosom dari
granul-granul korteks yang melapisi membrane plasma oosit. Pada gilirannya, enzim-enzim
ini menyebabkan perubahan sifat zona pelusida untuk menghambat penetrasi sperma.
3. Fusi oosit dan membrane sel plasma
Segera setelah spermatozoa menyentuh membrane sel oosit, kedua selaput plasma sel
tersebut menyatu. Karena selaput plasma yang membungkus kepala akrosom telah hilang
pada saat reaksi akrosom, penyatuan yang sebenarnya terjadi adalah antara selaput oosit dan
selaput yang meliputi bagian belakang kepala sperma.

Proses Implantasi/Nidasi

Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, mulailah terjadi pembelahan zigot. Hal ini
dapat berlangsung oleh karena sitoplasma ovum mengandung banyak zat asam amino dan
enzim. Segera setelah pembelahan terjadi, maka pembelahan-pembelahan selanjutnya
berjalan dengan cepat dan sel zigot yang mengalami pembelahan menghasilkan blastomers.
Pada zigot dengan 2 sel, blastomers dan polar body dikelilingi oleh zona pelusida. Lalu zigot
mengalami pembelahan lagi dalam tuba falopii dan dalam 3 hari terbentuk suatu kelompok
sel-sel yang sama besarnya. Hasil konsepsi berada stadium morula (16 sel). Morula
memasuki cavum uteri 3 hari setelah terjadinya fertilisasi. Energi untuk pembelahan ini
diperoleh dari vitellus, hingga volume vitellus semakin berkurang dan terisi seluruhnya oleh
morula. Dengan demikian, hasil konsepsi ini dengan ukuran tetap bergerak kearah rongga
rahim oleh arus dan getaran silia serta kontraksi tuba, selama dalam perjalan ke kavum uteri
morula mengalami pembelahan-pembelahan menjadi blastula. Akumulasi cairan bertahap
diantara sel morula yang membentuk blastokis. Setelah 4-5 hari terjadinya fertilisasi, blastula
(58 sel) berdiferensiasi membentuk inner mass cell dan blastula dengan 53 sel sudah
waktunya untuk membentuk trophoblast. Blastokis dengan 107 sel memiliki ukuran yang
sama dengan blastokis dengan 58 sel (0.155 mm diameter). Pada tahap ini, sel dikelilingi oleh

99 sel trofoblas

Setelah terjadi pembuahan, tahap berikutnya berikutnya pembelahan sel yang disebut
“cleavage” yang memiliki arti divisi mitotic dimana zigot yang berukurang di fraksionisasi
menjadi sel sel yang berukuran kecil bernama blastomer. “Cleavage” berawal dari zigot dan
berakhir pada awal stadium blastula. Pembelahan pertama tejadi 1-5 hari setelah ovulasi, dan
membelah sekali setiap 12 jam.
Pada perkembangan embriologi janin, pembelehan sel terjadi di awal perkembangan embrio.
Zigot mengalami siklus sel yang cepat dengan pertumbuhan yang tidak signifikan,
memproduksi sel dengan ukuran yang sama dengan zigot pada mulanya. Diferensiasi sel
dikarenakan adanya pembelahan sel disebut blastomer and membentuk suatu massa yang
kompak yang disebut dengan morula
Siklus sel yang cepat (rapid cell division) diaktivasi oleh adanya influx dari ion calcium dan
difasilitasi dengan kadar protein yang tinggi untuk mengontrol progesifitas siklus sel seperti
siklin dan siklin dependent kinase(cdk). Komplek Cyclin B/CDK1 atau yang sering disebut
“maturation promoting factor” mencetuskan terjadinya mitosis. Proses Karyokinesis (mitosis)
dan cytokinesis bekerja bersama menghasilkan pembelahan yang cepat.
Maturation promoting factor merupakan kompleks cyclin-cdk. MPF mencetuskan terjadinya
mitosis dari fase G2 dengan protein phosporilasi multiple. MPF juga disebut dengan fase M
kinase karena kemampuan untuk memfosforilasi protein target pada siklus sel.

Referensi :
1. Cunningham F.G. 2012. Obstetric Williams. Cetakan 24E, EGC, Jakarta.
2. Cunningham F.G, Hoffman, Shorge, Schaffer, Halvorson, Bradshow. 2012. Williams
Gynecology. Mc-Graw Hill: cetakan ke-2.
3. Individual Human Development and Health Issues. Diambil dari:
http://www.wiley.com/legacy/Australia/Landing_Pages/KC_VCE_H&HD_U1&2_4E
_c06_web.pdf
4. Decherney AH, Agel WO, Yauger BJ. Ectopic Pregnancy. The global Library of
Women’s Medicine. 2008.
5. Embryonic Development. Diambil dari: http://cnx.org/contents/FwQJfRAS@3/
Embryonic-Development
6. Sadler TW. Langman’s Medical Embryology. 8th Edition
7. Laffranchini D. Child Growth and Development, Pregnancy and Prenatal
Development Chapter 4.
8. Forgacs G, Newman, Stuart A. 2005. Cleavage and blastula formation. Biological
physics of the developing embryo. Cambridge University Press. P.27. ISBN 978-0-
521-78337-8.