Anda di halaman 1dari 35

Diskusi Refleksi Kasus (DRK)

oleh
KELOMPOK E
1. Vivin Riskiyana NIM 152310101011
2. Rindyawati Kusuma Sari NIM 152310101019
3. Grace A. Pakilaran NIM 152310101039
4. Regitasari Dwi Cahyani NIM 152310101180
5. Ifa Mardiana NIM 152310101196
6. Nurdianah Fajri Ronandini NIM 152310101346

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
Diskusi Refleksi Kasus (DRK)

diajukan guna memenuhi tugas Mata Kuliah Manajemen Keperawatan dengan


dosen PJMK Ns. Retno Purwandari, M.Kep

oleh

KELOMPOK E

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
PENDAHULUAN

DRK menjadi salah satu cara untuk meningkatkan profesionalisme mutu


pelayanan keperawatan. Melalui Diskusi Refleksi Kasus yang dilakukan
pemecahan terhadap masalah yang muncul dalam pelayanan asuhan keperawatan
dapat ditemukan, misal dengan adanya rencana untuk menyusun SOP. Diskusi
Refleksi Kasus dilaksanakan secara terpisah antara profesi perawat dan bidan
serta preofesi lain minimal satu bulan sekali selama 60 menit dengan tujuan untuk
mengembangkan profesionalisme, membangkitkan motivasi belajar,
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, aktualisasi diri serta menerapkan
teknik asertif dalam berdiskusi tanpa menyalahkan dan memojokkan antar peserta
diskusi. Apabila Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dilaksanakan secara rutin serta
berkelanjutan akan dapat mendorong perawat untuk memahami hubungan standart
dengan kegiatan pelayanan yang dilakukan sehari-hari dan menjadi bagian dari
instropeksi terhadap tindakan atau kegiatan kerja yang sudah dilakukan sehingga
berdampak pada peningkatan kualitas kerja. Tindak lanjut dari Diskusi Refleksi
Kasus (DRK) ini dapat berupa kegiatan penyusunan SOP-SOP baru sesuai dengan
masalah yang ditemukan.
Berdasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia,
DRK menjadi bagian dari penilian internal yang dilakukan terhadapt seluruh
komponen rumah sakit. Dengan melakukan Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
merupakan salah satu bentuk tanggung jawab perawat terhadap profesi dan bagian
dari peningkatan profesionalisme yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja
perawat sehingga dapat meningkatkan pasien dari pelayanan asuhan keperawatan
yang dilakukan.

Pengertian
Diskusi refleksi kasus (DRK) adalah suatu metode dalam merefleksikan
pengalaman klinis perawat dalam menerapkan standar dan uraian tugas dalam
mengelola asuhan keperawatan kepada pasien melalui suatu diskusi kelompok
yang mengacu pada pemahaman standar yang ditetapkan. Pengalaman klinis yang
direfleksikan merupakan pengalaman aktual dan menarik baik yang merupakan
keberhasilan maupun kegagalan dalam memberikan pelayanan asuhan
keperawatan.

Tujuan
1. Untuk meningkatkan profesionalisme perawat;
2. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat.

Manfaat
1. Meningkatkan aktualisasi diri perawat;
2. Membangkitkan motivasi untuk belajar;
3. Menyelesaikan permasalahan yang muncul mengacu pada standar
keperawatan yang telah ditetapkan;
4. Memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berpendapat.

Komponen DRK
Komponen-komponen dalam DRK antara lain :
1. Menetapkan Kasus
Topik bahasan ditetapkan untuk melakukan diskusi dalam Diskusi Refleksi
Kasus (DRK) :
a. Pengalaman pribadi perawat yang aktual dan menarik dalam
menangani kasus masalah-masalah keperawatan baik di lapangan dan
di rumah sakit maupun puskesmas. Pengalaman terkait mengelola
pelayanan keperawatan dan isu-isu strategis.
b. Pengalaman yang masih relevan untuk dibahas dan memberikan
informasi berharga untuk meningkatkan mutu pelayanan.
2. Menyusun Jadwal Kegiatan
Jadwal kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) merupakan daftar kegiatan
yang harus dilaksanakan dalam kurun waktu yang telah ditetapkan dan
disepakati bersama. Kegiatan DRK disepakati dalam kelompok kerja baik
di rumah sakit maupun puskesmas pada tiap ruangan. Kegiatan DRK
dilakukan secara rutin dan bekelanjutan minimal satu kali dalam satu bulan
dan sebaiknya jadwal disusun untuk kegiatan dalam kurun waktu setahun,
dengan demikian pengalaman para perawat dalam diskusi kelompok akan
mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkannya.

Persyaratan DRK
1. Sistem yang didukung oleh manajer lini pertama (kepala
ruangan/supervisor di puskesmas) yang mendorong serta mewajibkan
anggotanya untuk melaksanakan DRK secara rutin, terencana dan
terjadwal dengan baik.
2. Kelompok perawat berbagi (sharring) pengalaman klinis dan iptek
diantara sejawat masing-masing selama 1 jam, minimal setiap bulan sekali.
3. Setiap anggota secara bergilir mendapat kesempatan dan menimba
pengalaman sebagai fasilitator, penyaji dan sebagai anggota dalam diskusi
tersebut.
4. Proses diskusi memberikan kesempatan kepada setiap anggota untuk
menyampaikan pendapat dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan
sedemikian rupa yang merefleksikan pengalaman, pengetahuan serta
kemampuan masing-masing.
5. Selama diskusi berlangsung harus dijaga agar tidak ada pihak-pihak yang
nerasa tertekan ataupun terpojok. Yang diharapkan terjadi justru
sebaliknya yaitu dukungan dan dorongan bagi setiap peserta agar terbiasa
menyampaikan pendapat mereka masing-masing.
6. Diskusi Refleksi Kaus dapat dimanfaatkan sebagai wahana untuk
memecahkan masalah, namun tidak dipaksakan (tidak harus).
7. Adanya catatan kehadiran dan laporan DRK serta catatan tentang isu-isu
yang muncul tidak terjadi atau terulang lagi.
8. DRK merupakan salah satu metoda in-service training yang mengandung
ciri-ciri pembelajaran antar sejawat dalam satu profesi, sebagai salah satu
sarana untuk meningkatkan kemampuan perawat atau bidan.

Peran fasilitator dalam DRK


1. Membuka pertemuan dan mengucapkan selamat datang
2. Menyampaikan tujuan pertemuan, mengajak semua peserta untuk
merefleksikan pengalaman klinis masing-masing.
3. Meminta persetujuan tentang lamanya waktu diskusi (kontrak waktu).
4. Menyampaikan syarat-syarat selama pertemuan.
5. Mempersilakan penyaji untuk mempresentasikan kasusnya selama 10 – 20
menit.
6. Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengajukan
pertanyaan secara bergilir selama 30 menit.
7. Mengatur lalu lintas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh peserta dan
klarifikasi bila ada yang tidak jelas.
8. Fasilitator boleh mengajukan pertanyaan sama seperti peserta lainnya.
9. Setelah pertanyaan berakhir, fasilitator bertanya kepada presenter, apa
yang bisa dipelajari dari diskusi tersebut, kemudian dilanjutkan kepada
semua peserta lainnya satu persatu, termasuk fasilitator sendiri juga
memberikan pendapatnya.
10. Fasilitator membuat kesimpulan dan menyampaikan issue-issue yang
muncul berdasarkan pernyataan-pernyataan yang disampaikan oleh semua
peserta.
11. Fasilitator melengkapi catatan DRK meliputi materi, issue-issue yang
muncul, termasuk meminta tanda tangan semua peserta.
12. Selanjutnya fasilitator meminta kesepakatan untuk rencana pertemuan
berikutnya.
13. Fasilitator menutup pertemuan dan berjabat tangan.
14. Fasilitator menyimpan laporan DRK pada arsip yang telah ditentukan
bersama.

Peran penyaji dalam DRK


1. Memikirkan serta menyiapkan kasus klinis keperawatan atau kebidanan
yang pernah dialami atau pernah terlibat didalam perawatannya.
2. Menjelaskan kasus tersebut dan tetap merahasiaan identitas pasen.
3. Tujuan penyajian kasus memberikan kesempatan bagi penyaji untuk
berfikir atau berefleksi ulang tentang bagaimana pasen tersebut
ditangani, hambatan apa saja yang dialami serta keberhasilan apa saja
yang telah dicapai.
4. Penyaji mempunyai kesempatan 10-20 menit untuk menyajkan kasus
tersebut.
5. Bila penyajian telah selesai, peserta akan mengajukan pertanyaan-
pertanyaan berupa klarifikasi penanganannya. Mereka tidak akan
mengatakan apa yang harus anda lakukan atau memberi jawaban
maupun saran apapun.
6. Penyaji menyimak pertanyaan dan memberikan jawaban sesuai dengan
pengetahuan serta pengalaman nyata yang telah dilakukan dan merujuk
pada standar yang relevan atau SOP yang berlaku.
7. Bila perlu mencatat esensi penting dari pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan, atau hal-hal yang belum pernah diketahui sebelumnya sebagai
informasi baru.
8. Bila tidak ada lagi pertanyaan, fasilitator akan meminta anda sebagai
orang pertama dalam kelompok untuk menyampaikan apa saja yang
dapat dipelajari dari kasus tersebut, terutama berhubungan dengan
informasi baru yang dianggap dapat memberikan tambahan pengetahuan
atau sesuatu hal yang pernah diketahui tetapi dilupakan. Semua hal
tersebut diyakini akan dapat dipergunakan untuk perbaikan kinerja pada
waktu yang akan datang.

Peran anggota dalam DRK


1. Setelah memperhatikan penyajian kasus tersebut , setiap peserta
menyiapkan pertanyaan-pertanyaan, minimal satu pertanyaan.
Kesempatan seluas-luasnya diberikan untuk melakukan klarifikasi atas
penanganan kasus tersebut.
2. Didalam mengajukan pertanyaan, cobalah merujuk pada standar atau
SOP yang berlaku, refleksi ulang bila anda mempunyai pengalaman
dalam menangani kasus semacam itu atau iptek terbaru yang diketahui.
3. Peserta tidak diperbolehkan untuk memberikan jawaban, saran secara
langsung atau memberitahukan bagaimana seharusnya perawatan pasen
itu harus dilakukan.
4. Bila anda berpikir bahwa penyaji melakukan perawatan dengan cara
yang berbeda , tidak sesuai standar atau tidak sesuai dengan SOP yang
berlaku, anda dilarang keras untuk melakukan kritik. Anda hanya dapat
melakukan klarifikasi kepada penyaji apakah dia telah memikirkan cara
lain seperti apa yang anda pikirkan.
5. Selama diskusi berlangsung semua peserta memberikan perhatian penuh,
karena sangat mungkin dari setiap pertanyaan atau klarifikasi yang
muncul, adadiantaranya yang belum pernah diketahui oleh peserta
lainnya. Ini merupakan kesempatan bagi semua anggota untuk belajar
serta memperoleh informasi atau pengetahuan baru dari proses diskusi
ini dalam waktu yang relatif sangat singkat.
6. Perlu diingat bahwa semua anggota kelompok juga akan belajar dari
pemikiran anda.
7. Peserta mempunyai waktu 20-30 menit untuk mengajukan pertanyaan,
setelah itu anda perlu menyimak kembali apa yang dapat anda pelajari
dari proses diskusi kasus tersebut, guna dapat menjawab dengan tepat
pertanyaan dari fasilitator pada akhir sesi tersebut.
8. Kesimpulan tentang issue-issue yang muncul dapat dijadikan cermin
bagi semua peserta, agar kejadian atau masalah yang sama tidak terulang
dimasa yang akan datang.
Proses DRK
Adapun pedoman DRK adalah:
1. Pengumpulan Data
Tahap pengumpulan data perlu memperhatikan tentang riwayat masa lalu
dari kasus yang akan didiskusikan serta bagaimana perkembangan kasus
tersebut saat ini. Beberapa poin penting yang perlu dikaji dalam tahap
pengumpulan data adalah sebagai berikut:
a. Menilai bagaimana diagnosa medis pasien mempengaruhi wawancara
anda
b. Bagaimana bias pribadi anda/asumsi mungkin mempengaruhi
wawancara anda
c. Menilai informasi yang anda kumpulkan, apa yang anda lihat sebagai
pola atau hubungan antara gejala?
d. Berapa nilai data yang anda kumpulkan?
e. Apakah beberapa pertimbangan yang dapat anda simpulkan dari data?
Apakah ada alternatif solusi?
f. Apakah penilaian anda mengenai pengetahuan dan pemahaman
pasien/ pemberi perawatan tentang diagnosa mereka dan kebutuhan
untuk terapi fisik?
g. Sudahkah anda melakukan verifikasi tujuan pasien dan sumber daya
apa yang tersedia?
h. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, apakah anda dapat menilai
kebutuhan untuk rujukan kepada tenaga kesehatan profesional
lainnya?
2. Menentukan Hipotesis Awal
Pennetuan hipotesis awal didasarkan pada struktur kerangka/fungsi,
gangguan yang dialami pasien, keterbatasan aktivitas harian pasien, dan
pembatasan partisipasi pasien. berikut ini adalah poin refleksi yang perlu
dikaji dalam penentuan hipotesis awal:
a. Dapatkah anda membangun hipotesis berdasarkan informasi yang
dikumpulkan?
b. Apa yang didasarkan pada (bias, pengalaman)?
c. Bagaimana anda dapat menentukan hipotesis? Bagaimana anda dapat
menjelaskan alasan anda?
d. Bagaimana informasi dan data kondisi pasien yang telah dikumpulkan
dalam mendukung hipotesis anda?
e. Apakah yang anda antisipasi dapat menjadi hasil/outcome bagi pasien
(prognosis)?
f. Berdasarkan hipotesis anda, bagaimanakah strategi anda dalam
mempengaruhi pemeriksaan?
g. Apa pendekatan/urutan rencana/strategi anda untuk melakukan
pemeriksaan?
h. Bagaimana faktor lingkungan dapat mempengaruhi pemeriksaan
anda?
i. Bagaimanakah informasi diagnostik lainnya dapat mempengaruhi
pemeriksaan anda?
3. Pemeriksaan
Tahapan pemeriksaan mempertimbangkan tes yang perlu dilakukan serta
pengukuran-pengukuran. Berikut adalah poin refleksi dari tahapan
pemeriksaan:
a. Menilai tes dan pengukuran yang anda pilih untuk pemeriksaan,
bagaimana dan mengapa anda memilihnya?
b. Menggambarkan dari tes ini, bagaimana tes tersebut dapat
mendukung.meniadakan hipotesis anda?
c. Dapatkah identifikasi dari tes dan pengukuran tersebut membantu
anda menentukan perubahan status? Apakah tes dan pengukuran itu
setidaknya mampu mendeteksi perbedaan klinis penting?
d. Bagaimana andda mengatur pemeriksaan? Apa yang mungkin anda
lakukan secara berbeda?
e. Jelaskan pertimbangan untuk sifat psikometrik tes dan pengukuran
yang digunakan
f. Diskusikan sistem lain yang tidak diuji, apakah dapat mempengaruhi
masalah pasien
g. Bandingkan pemeriksaan temuan anda untuk pasien ini dengan pasien
lain dengan diagnosis medis serupa
h. Bagaimana pilihan tes ddan pengukuran berhubungan dengan tujuan
pasien

4. Evaluasi
a. Bagaimana anda menetukan diagnosis anda? Bagaimana pendapat
pasien tentang diagnosis yang anda tentukan?
b. Bagaimana hasil pemeriksaan anda dapat mendukung atau
meniadakan hipotesis awal anda?
c. Apa penilaian anda tentang masalah yang paling penting untuk
dikerjakan/
d. Bagaimana evaluasi ini berhubungan dengan tujuan pasien dan
identifikasi masalah?
e. Faktor-faktor apa yang mungkin mendukung atau mengganggu
prognosis pasien?
f. Bagaimana faktor lain seperti fungsi tubuh, faktor lingkungan, dan
sosial mempengaruhi pasien?
g. Apa alasan anda untuk prognosis, dan apa indikator prognostik positif
dan negatif?
h. Bagaimana tindakan yang akan anda lakukan untuk mengembangkan
hubungan terapeutik?
i. Bagaimana mungkin setiap faktor budaya mempengaruhi perawatan
anda dari pasien?
j. Apakah pertimbangan anda untuk perilaku, motivasi, dan kesiapan?
k. Begaimana anda dapat menenttukan kapasitas untuk kemajuan menuju
tujuan?
5. Rencana Tindak Lanjut
a. Bagaimana anda memasukkan tujuan pasien dan keluarga?
b. Bagaimana tujuan mencerminkan pemeriksaan dan evaluasi anda?
c. Bagaimana anda menentukan resep terapi fisik atau rencana perawatan
(frekuensi, intensitas, antisipasi layanan perawatan jangka panjang)?
d. Bagaimana elemen kunci dari rencana perawatan terapi fisik
berhubungan kembali dengan diagnosis awal?
e. Bagaimana faktor perssonal dan lingkungan pasien mempengaruhi
rencana perawatan terapi fisik?
6. Rencana Kegiatan
a. Diskusikan semua pendekatan terapi fisik atau beberapa strategi
(misalnya, pembelajaran motork, penguatan)
b. Bagaiman anda akan memodifikasi prinsip untuk pasien?
c. Apakah ada aspek yang spesifik tentang pasien yang perlu diingat?
d. Bagaimana pendekatan anda berhubungan dengan teori dan bukti saat
ini?
e. Ketika anda merancang rencana intervensi anda, bagaimana anda
memilih strategi yang spesifik?
f. Apakah alasan anda untuk strategi intervensi yang digunakan/
g. Bagaimana intervensi berhubungan dengan masalah utama yang telah
diidentifikasi?
h. Apakah mungkin anda perlu mengubah intervensi untuk pasien
tertentu dan pemberian perawwatan? Apa kiteria anda untuk
melakukannya?
i. Apa koordinasi dari aspek perawatan?
j. Apa kebutuhan komunikasi degan anggota tim lainnya?
k. Apa aspek dokumentasi?
l. Bagaimana anda akan memastikan keselamatan?
m. Pendidikan pasien/pemberi perawatan?
n. Jelaskan gaya belajar/hambatan dan setiap akomodasi yang mungkin
untuk pasien dan pemberi perawatan
o. Bagaimana anda dapat memastikan pemahaman?
p. Apa strategi komunikasi (verbal dan nonverbal) yang nantinya paling
efektif
7. Pemeriksaan Ulang
a. Mengevaluai efektivitas intervensi anda. Apakah anda perlu
mengubah apa pun?
b. Apa yang telah anda pelajari tentang pasien/perawat yang andd tidak
tahu sebelumnya?
c. Bagaimana kemajuan pasien saat inii terhadap tujuan dibandingkan
dengan pasien lain dengan diagnosis yang sama?
d. Apakah ada sesuatu yang diabaikan, disalahartikan, sinilai terlalu
tinggi, atau dinilai rendah, dan apa yang mungkin anda lakukan secara
berbeda? Akankah hal ini dapat menunjukkan ssetiap potensi
kesalahan yang telah anda buat?
e. Bagaimana interaksi andda dengan pasieen/pemberi perawatan dapat
diubah?
f. Apakah terdapat kemungkinan faktor-faktor baru yang mempengaruhi
prognosis, dan pengantisipasian hasil?
g. Bagaiman anda dapat menentukan pandangan pasien
(kepuasan/frustrasi) tentang kemajuannya ke arah tujuan? Bagaimana
kemungkinannya dapat mempengaruhi rencana perawatan anda?
h. Bagaimana terapi fisik mempengaruhi kehidupan pasien
8. Hasil
a. Apakah terapi fisik yang efektif, dan apa ukuran yang anda gunakan
untuk menilai hasilnya? Apakah ada perbedaan klinis minimum yang
penting?
b. Mengapa iya atau mengapa tidak?
c. Kriteria apa yang anda atau akan anda gunakan untuk menentukkan
apakah pasien telah mencapai tujuannya?
d. Bagaimana anda menentukan pasien siap untuk kembali
kerumah/masyarakat/kerja/sekolah/olahraga?
e. Hambatan apa (fisik, pribadi, lingkungan), jika ada, apakah dapat
dipulangkan?
f. Apakah kebutuhan yang dapat diantisipasi terkait usia, dan apa yang
menjadi dasarnya?
g. Apakah peranan yang memungkinkan dari terapi fisik dimasa yang
akan datang?
h. Apa ppandangan pasien/pemberi perawatan dari kebutuhan terapi fisik
di masa yang akan datang?
i. Dapatkah anda dan pasien/pemberi perawatan yang lain secara
bersama-sama merencanakan rencana seumur hidup untuk sehat?
DISKUSI REFLEKSI KASUS

1. Laporan Kasus
Di Ruang Mawar RS Jiwa Pelita Hati Jember saat ini merawat 22
pasien sesuai kapasitas. Diantara 22 pasien yang dirawat terdapat satu
pasien yang menurut pandangan kami merupakan pasien yang unik. Pasien
ini telah 2 kali dirawat di RS Jiwa Provinsi dan kebetulan juga dua kali
dirawat di Ruang Mawar. Pasien berinisial “Nn.I” dengan diagnosa medis
F.25.0 DD F.20.3, dan diagnosa keperawatan yang muncul defisit
pearawatan diri (toileting dan berhias) dan gangguan proses pikir. Perawat
bersama dengan psikiater dan dokter ruangan merasa sudah memberikan
perawatan pada pasien ini semaksimal mungkin akan tetapi pasien ini
tidak menunjukkan perbaikan tetapi mengalami kemunduran. Perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien “Nn.I” merujuk dari
Standar Asuhan Keperawatan yang ada di RS Jiwa Pelita Hati Jember.
Oleh karena itu, kami menampilkan kasus pada pasien “Nn.I” ini
pada diskusi refleksi kasus. Kami berharap mendapat masukan dari pihak-
pihak terkait agar dapat memberikan asuhan keperawatan pada pasien
“Nn.I” dengan hasil yang maksimal.

2. Pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus


Hari, tanggal : Rabu, 11 Oktober 2018
Waktu : 09.00 – 10.30 WIB
Tempat : Ruang Mawar RS Jiwa Pelita Hati Jember
Peserta :
1. Kepala Bidang Keperawatan
2. Psikiater R. Mawar
3. Komite keperawatan
4. Kepala Ruang
5. Semua Staf perawatan di R.Srikandi.
Penyaji : Elmi Kuntari
Moderator : Sriyatun
Observer : Fitri Fitawati
Notulen : Pudji Hastuti

3. Proses Pelaksanaan
Diskusi refleksi kasus dibuka oleh Kepala Ruang Srikandi : Ibu
Nuning Sri Wahyuni,SST. Kemudian dilanjutkan dengan penyajian
“Asuhan keperawatan pada pasien Nn.I”
Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut 90
menit dengan perincian sebagai berikut:
a. Pembukaan : 5 menit
b. Penyajian : 15 menit
c. Tanya jawab/diskusi : 60 menit
d. Penutup/kesimpulan : 10 menit

4. Hasil Diskusi
Hasil penyajian telah memberikan beberapa masukan dan
pertanyaan dari peserta, antara lain :
1. Ibu Indarti W : pasien sudah lama sakitnya, sudah 10 tahun, sehingga
rentang sakit sudah lama dan merupakan sakit yang kronis. Hal ini
termasuk dari sepertiga pasien yang tidak bisa sembuh total, apalagi
dukungan keluarga yang kurang.
2. Bp.Eka Suwartana: disarankan untuk memberikan cuti pada pasien agar
pasien bisa berkumpul dengan keluarga karena riwayat pasien yang belum
pernah pulang ke rumah sejak lama (pasien tinggal di panti dan mondok di
RS Jiwa) dan selama dirawat pasien ditengok oleh keluarga hanya satu kali
yang bersamaan dengan familiy gathering yang diadakan beberapa waktu
yang lalu di R. Srikandi.
3. Ibu Krismawati (Katim R.Arimbi) : Pasien sudah lama diberi terapi obat
tipikal sehingga menyebabkan kemunduran kognitif. Hal ini mungkin
yang menyebabkan terjadinya kemunduran pada pasien.
4. Ibu Suyatmi (Karu R. Shinta) : Memberikan saran bahwa pasien
ditempatkan di Ruangan tersediri dan dikeluarkan ketika pasien akan
mandi, BAB, BAK, Makan atau kegiatan tertentu sehingga bisa membatasi
aktivitas pasien yang kompulsif.
5. Ibu Nuning: Berpendapat bahwa walaupun pasien sudah lama sakitnya dan
kronis, masih berharap pasien bisa mengalami perbaikan karena dari
kognitf pasien masih baik, orientasi pasien juga baik, hanya perilaku yang
mengalami masalah.
6. Bp.Sudiharjo : memberi masukan bahwa pasien mungkin bisa dilakukan
terapi relaksasi untuk memperbaiki konsentrasi pikiran dan membuat
pasien tidak melakukan kegiatan yang diulang-ulang. Terapi relaksasi ini
juga perlu dukungan keluarga, sehingga terapi ini bisa diteruskan atau
dilakukan oleh keluarga.
7. Dr. Kus Sumartinah,SpKJ : Memberi penjelasan sekaligus memberikan
masukan :
a. Rumah sakit belum pernah melakukan kunjungan rumah, untuk
mengetahui bagaimana kondisi keluarga yang membuat pasien tidak
mendapat dukungan.
b. Keluarga kurang kooperatif dalam memberikan dukungan pada
pasien, disaranakan ada home visite (kunjungan rumah).
c. Penanganan pada pasien ini, selain obat tipikal yang diberikan harus
dikombinasi dengan terapi perilaku, terapi rehabilitasi, dan dukungan
keluarga yang baik.
d. Untuk selanjutnya terapi medis yang diberikan akan diganti sesuai
kondisi pasien.
e. Usul untuk pimpinan : Dalam perbaikan gedung, kedepan diharapkan
untuk lebih memperhatikan sekat-sekat ruangan, seperti di ruangan
tertentu ada kamar pasien yang terpisah oleh sekat dengan kamar
mandi.
8. Bp.Amin S : Memberikan apresiasi positif pada R.Srikandi telah
melakukan diskusi refleksi kasus dan diharapkan di ruangan-ruangan lain
juga bisa melakukan. Semua masukan diharapkan bisa ditindak lanjuti,
seperti untuk kunjungan rumah (home visite) bisa diusulkan melalui
Bidang Pelayanan Medik, usulan bentuk ruangan akan disampaikan ke
jajaran manajemen, dalam memberikan panisment pada pasien dengan
prinsip tidak menyakiti.
9. Dr.Sulasmi, SpKJ : mendukung adanya terapi relaksasi yang dilakukan
pada pasien, kemudian perlu dilihat kembali terapi medis yang diberikan.

5. Kesimpulan dan Rencana Tindak Lanjut


1. Kesimpulan :
Diskusi refleksi kasus telah berjalan baik dan lancar, peserta aktif
memberikan pertanyaan, pendapat, masukan. Pada kasus pasien “Nn.I” ini
terjadi gangguan pada pengendalian impulsnya yang rusak sehingga perlu
diberikan beberapa terapi yang mendukung, diantaranya terapi medis yang
sesuai, terapi kognitif, dan terapi relaksasi serta adanya dukungan dari
keluarga. Dukungan keluarga yang kurang kooperatif perlu dilakukan
kunjungan rumah (home visite).
2. Rencana Tindak Lanjut
a. Home visit
b. Terapi kognitif dilakukan pagi hari
c. Terapi relaksasi bisa dilakukan 2-3 kali setiah hari
d. Penyusunan SPO terapi relaksasi dan terapi kognitif
e. Pemberian reward dengan manajemen pola makan
f. Pemberian panisment dengan prinsip tidak menyakiti.
SOP TERAPI TEHNIK RELAKSASI

A. Pengertian :
metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien yg mengalami nyeri yang
kronis. Rileks sempurna yg dapat mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh dara
perasaan cemas sehingga mencegah menghebatnya stimulasi nyeri
B. Ada tiga faktor yg utama dalam teknik relaksasi :
1. Posisikan pasien dengan tepat sehingga klien merasa nyaman
2. Pikiran beristirahat
3. Lingkungan yg santai/tenang
C. Tujuan :
Untuk dapat menggurangi/menghilangkan rasa nyeri yang dirasakan
D. Indikasi :
Dilakukan untuk pasien yg mengalami nyeri kronis
E. Prosedur pelaksanaan :
a. Tahap pra interaksi
1. Membaca mengenai status pasien
2. Mencuci tangan
3. Meyiapkan alat
4. Tahap orientasi
5. Mengucapkan salam teraupetik kepada pasien
6. Validasi kondisi pasien saat ini
7. Menjaga keamanan perivacy pasien
8. Menjelaskan tujuan & prosedur yg akan dilakukan terhadap pasien &
keluarga
b. Tahap kerja
1. Memberi kesempatan kepada pasien untuk bertanya bila ada sesuatu yang
kurang dipahami/jelas
2. Atur posisi pasien agar rileks tanpa adanya beban fisik
3. Instruksikan pasien untuk melakukan tarik nafas dalam sehingga rongga
paru berisi udara
4. Intruksikan pasien dengan cara perlahan & menghembuskan udara
membiarkanya ke luar dari setiap bagian anggota tubuh, pada saat
bersamaan minta pasien untuk memusatkan perhatiannya pada sesuatu hal
yang indah dan merasakan betapa nikmatnya rasanya
5. Instruksikan pasien buat bernafas dengan irama normal beberapa saat ( 1-2
menit )
6. Instruksikan pasien untuk kembali menarik nafas dalam, kemudian
menghembuskan dengan cara perlahan & merasakan saat ini udara mulai
mengalir dari tangan, kaki, menuju keparu-paru seterusnya udara &
rasakan udara mengalir keseluruh bagian anggota tubuh
7. Minta pasien untuk memusatkan perhatian pada kaki & tangan, udara yg
mengalir & merasakan ke luar dari ujung-ujung jari tangan & kai &
rasakan kehangatanya
8. Instruksiakan pasien buat mengulani teknik-teknik ini apabila rasa nyeri
kembali lagi
9. Setelah pasien mulai merasakan ketenangan, minta pasien untuk
melakukan secara mandiri
c. Tahap terminasi
1. Evaluasi hasil gerakan
2. Lakukan kontrak untuk melakukan kegiatan selanjutnya
3. Akhiri kegiatan dengan baik
4. Cuci tangan
SOP TERAPI KOGNITIF
A. Pengertian
Terapi kognitif adalah suatu bentuk psikoterapi yang dapat melatih klien
untuk mengubah cara klien menafsirkan dan memandang segala sesuatu pada saat
klien mengalami kekecewaan, sehingga klien merasa lebih baik dan dapat
bertindak lebih produktif. Terapi kognitif dikembangkan oleh Aaron Beck.
Melalui terapi ini individu diajarkan/ dilatih untuk mengontrol distorsi
pikiran/gagasan/ide dengan benar – benar mempertimbangkan faktor dalam
berkembangnya dan menetapnya gangguan mood. (Townsend, 2005).
B. Tujuan
Tujuan terapi ini mengubah pikiran negatif menjadi positif, mengetahui
penyebab perasaan negatif yang dirasakan, membantu mengendalikan diri,
pencegahan serta perkembangan pribadi (Burn, 1980). Memperoleh keringanan
gejala secepat mungkin, untuk membantu klien dalam mengidentifikasikan
dysfunctional pola pemikiran dan tindakan serta untuk memandu klien pada bukti
serta logika yang secara efektif menguji kebenaran dari dysfunctional thingking.
Terapi memfokuskan pada mengubah “pemikiran otomatis”. (Townsend, 2005 p.
198). Mengubah kepercayaan (anggapan) tidak logis, penalaran salah, dan
pernyataan negatif yang mendasari permasalahan perilaku ( Stuart & Laraia, 2005
p. 656).
C. Indikasi
Terapi kognitif diterapkan untuk masalah depresi dan masalah psikiatrik
lainnya seperti, panik, masalah pengontrolan marah dan pengguna obat, harga diri
rendah, resiko bunuh diri, ketidakberdayaan. Selain itu juga efektif pada
gangguan makan ( bulimia, anoreksia nervosa), gangguan kepribadian (Wright
and Beck,2000; Stuart & Laraia, 2005). Berpendidikan, mampu berkomunikasi
verbal, dan berpikir psikologi (psychologically minded) dan terbebas dari
gangguan kepribadian (paranoid, schizoid, skizotipal, antisocial, borderline,
histrionic, narcistik,obsesif-convulsif dan gangguan kepribadian yang tidak
spesifif) tanpa menunjukan gejala psikotik dan sering adanya mood depresi.
( Shives,2005 p.161, p.334 -346).
D. Proses Pelaksanaan CT
 Sesi 1 : Mengungkapkan pikiran otomatis
 Sesi 2 : Mengungkapkan alasan
 Sesi 3 : Tanggapan terhadap pikiran otomatis
 Sesi 4 : Menuliskan pikiran otomatis
 Sesi 5 : Penyelesaian masalah
 Sesi 6,7,8 : Manfaat tanggapan, ungkapkan hasil dan membuat buku
harian
E. Petunjuk Pelaksanaan Cognitive Therapy
a. Sesi 1 : Mengungkapkan pikiran otomatis
1. Tujuan
Pasien mampu mengungkapkan pikiran otomatis pada perawat
2. Setting
Pasien dan terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan nyaman.
3. Alat
Tempat duduk, alat tulis dan kertas
4. Metode
a. Sharing
b. Diskusi dan tanya jawab
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1). Membuat kontrak dengan pasien
2). Mempersiapkan alat dan tempat yang kondusif
b. Orientasi
1). Salam terapeutik
 Salam dari terapis kepada pasien
 Perkenalkan nama dan nama panggilan terapis ( pakai papan nama )
 Menanyakan nama dan panggilan pasien
2). Evaluasi/Validasi
 Menanyakan perasaan klien pada saat ini.
 Menanyakan apa yang sudah dilakukan untuk mengatasi perasaannya
3). Kontrak
 Menjelaskan tujuan sesi terapi, yaitu meningkatkan kemampuan pasien
mengenal pikiran otomatis dan hal yang mendasari pemikiran tersebut
 Menjelaskan peraturan terapi : klien berhadapan dengan terapis dari awal
sampai selesai.
c. Tahap kerja
1. Terapis mengidentifikasi masalah what, where, when, who
2. Diskusikan sumber masalah
3. Diskusikan pikiran dan perasaan serta yang menyebabkan hal tersebut
timbul
4. Catat pikiran otomatis, perawat mengklasifikasikan dalam distorsi kognitif
5. Memberikan pujian terhadap keberhasilan pasien.
5. Tahap terminasi
1. Evaluasi
– Terapi menanyakan perasaan klien setelah menjalani terapi.
– Terapis memberikan pujian yang sesuai
b. Tindak lanjut
– Menganjurkan pada pasien untuk mengidentifikasi pikiran yang belum
didiskusikan
– Positif thinking terhadap diri sendiri
c. Kontrak akan datang
– Menyepakati topic yang akan datang
– Menyepakati waktu dan tempat
6. Evaluasi dan Dokumentasi
a. Evaluasi
1). Ekspresi pasien pada saat terapi
2). Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian tujuan terapi
b. Dokumentasi
1). Terapis mendokumentasikan pencapaian hasil terapi yang dilakukan
2). Dokumentasikan rencana klien sesuai dengan yang telah dirumuskan.

Sesi 2 : Mengungkapkan alasan


1. Tujuan
Pasien mampu mengungkapkan penyebab timbulnya pikiran otomatis pada
perawat
2. Setting
Pasien dan terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan nyaman.
3. Alat
a. .Diri perawat dan kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara terapeutik.
b. Tempat duduk, alat tulis dan kertas
4. Metode
a. Sharing
b. Diskusi dan tanya jawab
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1). Membuat kontrak dengan pasien
2). Mempersiapkan alat dan tempat yang kondusif
b. Orientasi
1). Salam terapeutik
Salam dari terapis kepada pasien
2). Evaluasi/Validasi
- Menanyakan perasaan klien pada saat ini
- Menanyakan apa telah mencoba mengidentifikasi pikiran otomatis yang
lainnya
c. Kontrak
- Menjelaskan tujuan sesi terapi, yaitu meningkatkan kemampuan pasien
mengenal hal yang mendasari pemikiran tersebut
- Mejelaskan lama kegiatan yaitu 45 menit
- Menjelaskan peraturan terapi : klien berhadapan dengan terapis dari awal sampai
selesai.
3. Tahap kerja
a. Diskusikan pikiran otomatis
1. Tanyakan penyebabnya
2. Beri respon terhadap pernyataan pasien
3. Tanyakan tindakan pasien
4. Anjurkan pasien menuliskan pernyataannya
4. Tahap terminasi
1. Evaluasi
– Terapi menanyakan perasaan klien setelah menjalani terapi.
– Terapis memberikan pujian yang sesuai
b. Tindak lanjut
– Menganjurkan pada pasien untuk mengidentifikasikan tindakannya
terhadap pikiran otomatis
c. Kontrak akan datang
– Menyepakati topic yang akan datang yaitu mengenai keuntungan
berhubungan dan kerugiannya
– Menyepakati waktu dan tempat
Evaluasi dan Dokumentasi
1. Evaluasi
a. Ekspresi pasien pada saat terapi
b. Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian tujuan terapi
2. Dokumentasi
a. Terapis mendokumentasikan pencapaian hasil terapi yang dilakukan
b. Dokumentasikan rencana klien sesuai dengan yang telah dirumuskan.
Sesi 3 : Tanggapan terhadap pikiran otomatis
1. Tujuan
1. Meningkatkan komunikasi perawat dengan pasien
2. Pasien dapat menyatakan tanggapannya terhadap pikiran otomatis pada
perawat
2. Setting
Pasien dan terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan nyaman.
3. Alat
a. Diri perawat dan kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara terapeutik.
b. Tempat duduk, alat tulis dan kertas
4. Metode
Diskusi dan tanya jawab
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1). Mengingatkan kontrak dengan pasien
2). Mempersiapkan alat dan tempat yang kondusif
b. Orientasi
1). Salam terapeutik
Salam dari terapis kepada pasien
2). Evaluasi/Validasi
 Menanyakan perasaan klien pada saat ini
 Menanyakan apa telah mencoba mengidentifikasi pikiran
otomatis yang lainnya
c. Kontrak
 Menjelaskan tujuan terapi, yaitu meningkatkan kemampuan memberi
respon positif terhadap pikiran otomatis
 Menjelaskan lama kegiatan yaitu 45 menit
 Menjelaskan peraturan terapi yaitu : pasien duduk dengan terapis
berhadapan dari awal sampai selesai
3. Tahap kerja
a. Jelaskan metode 3 kolom
1. Diskusikan cara menggunakan metode 3 kolom
2. Diskusikan dengan klien untuk memilih satu pikiran otomatis yang ingin
diselesaikan saat ini
3. Anjurkan / bantu klien menuliskan pikiran otomatis pada kolom pertama,
alas an pada kolom kedua atau kosongkan saja kolom kedua
4. Diskusikan tanggapan positif untuk membantah pikiran negatif yang telah
dituliskan dan dorong untuk mengungkapkan keinginan atau hal – hal
yang dapat mengatasi pikiran-pikiran negative
5. Beri respon terhadap pernyataan pasien
6. Beri reinforcement positif
7. Tanyakan tindakan pasien yang direncanakan untuk mengatasi pikiran
otomatis
8. Motivasi klien berlatih untuk pikiran otomatis yang lain
4. Tahap terminasi
1. Evaluasi
– Terapi menanyakan perasaan klien setelah menjalani terapi.
– Terapis memberikan pujian yang sesuai
b. Tindak lanjut
– Menganjurkan pada pasien untuk menggunakan cara metode 3 kolom
– Memasukkan kegiatan pada jadwal kegiatan harian
c. Kontrak akan datang
– Menyepakati topic yang akan datang
– Menyepakati waktu dan tempat
Evaluasi dan Dokumentasi
a. Evaluasi
1). Ekspresi pasien pada saat terapi
2). Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian tujuan terapi
b. Dokumentasi
1). Terapis mendokumentasikan pencapaian hasil terapi yang dilakukan
2). Dokumentasikan rencana klien sesuai dengan yang telah dirumuskan.

Sesi 4 : Menuliskan pikiran otomatis


1. Tujuan
1. Meningkatkan komunikasi perawat dengan pasien
2. Pasien dapat menuliskan pikiran otomatis pada perawat
2. Setting
Pasien dan terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan nyaman.
3. Alat
1. Diri perawat dan kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara
terapeutik.
2. Tempat duduk, alat tulis dan kertas
4. Metode
Diskusi dan tanya jawab
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1). Mengingatkan kontrak dengan pasien
2). Mempersiapkan alat dan tempat yang kondusif
b. Orientasi
1). Salam terapeutik
– Salam dari terapis kepada pasien
2). Evaluasi/Validasi
 Menanyakan perasaan klien pada saat ini
 Menanyakan apa telah mencoba metode 3 kolom dalam
menyelesaikan masalah
3). Kontrak
 Menjelaskan tujuan terapi, yaitu meningkatkan kemampuan
memberi respon positif terhadap pikiran otomatis
 Menjelaskan lama kegiatan yaitu 45 menit
 Menjelaskan peraturan terapi yaitu : pasien duduk dengan terapis
berhadapan dari awal sampai selesai
c. Tahap kerja
1) Anjurkan pasien untuk menuliskan pikiran otomatisnya
2) Dorong pasien untuk mengomentari tulisannya
3) Anjurkan pasien untuk melakukannya
d. Tahap terminasi
1). Evaluasi
 Terapis menanyakan perasaan klien setelah menjalani terapi
 Terapis memberikan pujian yang sesuai
2). Tindak lanjut
 Menganjurkan pada pasien untuk menuliskan setiap apa yang dipikirkannya
dan mengomentari isi tulisannya
 Memasukkan kegiatan pada jadwal kegiatan harian
3). Kontrak akan datang
– Menyepakati topic yang akan datang
– Menyepakati waktu dan tempat
Evaluasi dan Dokumentasi
1. Evaluasi
a. Ekspresi pasien pada saat terapi
b. Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian tujuan terapi
2. Dokumentasi
a. Terapis mendokumentasikan pencapaian hasil terapi yang dilakukan
b. Dokumentasikan rencana klien sesuai dengan yang telah dirumuskan.

Sesi 5 : Penyelesaian masalah


1. Tujuan
2. Meningkatkan komunikasi perawat dengan pasien
3. Pasien mampu menyelesaikan masalah
2. Setting
Pasien dan terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan nyaman.
3. Alat
1. Diri perawat dan kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara terapeutik.
2. Tempat duduk, alat tulis dan kertas
4. Metode
Diskusi dan tanya jawab
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1). Mengingatkan kontrak dengan pasien
2). Mempersiapkan alat dan tempat yang kondusif
b. Orientasi
1). Salam terapeutik
 Salam dari terapis kepada pasien
2). Evaluasi/Validasi
– Menanyakan perasaan klien pada saat ini
– Menanyakan apa telah dilakukan untuk menyelesaikan masalahnya
3). Kontrak
– Menjelaskan tujuan terapi, yaitu meningkatkan kemampuan
memberi respon positif terhadap pikiran otomatis
– Menjelaskan lama kegiatan yaitu 45 menit
– Menjelaskan peraturan terapi yaitu : pasien duduk dengan terapis
berhadapan dari awal sampai selesai
c. Tahap kerja
1) Diskusikan kembali prinsip terapi 3 kolom
2) Tanyakan masalah baru dan respon penyelesaiannya
3) Tanyakan kemampuan menanggapi pikiran otomatis negatif
4) Beri penguatan positif
d. Tahap terminasi
1). Evaluasi
– Terapis menanyakan perasaan klien setelah menjalani terapi
– Terapis memberikan pujian yang sesuai
2). Tindak lanjut
– Menganjurkan pada pasien untuk menanggapi pikiran otomatis negatif
– Memasukkan kegiatan pada jadwal kegiatan harian
3). Kontrak akan datang
– Menyepakati topic yang akan datang
– Menyepakati waktu dan tempat
Evaluasi dan Dokumentasi
1. Evaluasi
a. Ekspresi pasien pada saat terapi
b. Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian tujuan terapi
2. Dokumentasi
a. Terapis mendokumentasikan pencapaian hasil terapi yang dilakukan
b. Dokumentasikan rencana klien sesuai dengan yang telah dirumuskan.

Sesi 6,7,8 : Manfaat tanggapan, ungkapkan hasil dan membuat buku harian
1. Tujuan
Meningkatkan kemampuan pasien mengungkapkan hasil
Pasien mampu menyelesaikan masalah
2. Setting
Pasien dan terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan nyaman.
3. Alat
1. Diri perawat dan kemampuan untuk dapat berkomunikasi secara
terapeutik.
2. Tempat duduk, alat tulis dan kertas
4. Metode
Diskusi dan tanya jawab
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1). Mengingatkan kontrak dengan pasien
2). Mempersiapkan alat dan tempat yang kondusif
b. Orientasi
1). Salam terapeutik
Salam dari terapis kepada pasie
2). Evaluasi/validasi
– Menanyakan perasaan klien pada saat ini
– Menanyakan apa sudah mencoba menanggapi pikiran negatif otomatis
3). Kontrak
– Menjelaskan tujuan terapi
– Menjelaskan lama kegiatan yaitu 45 menit
– Menjelaskan peraturan terapi yaitu : pasien duduk dengan terapis
berhadapan dari awal sampai selesai
c. Tahap kerja
1) Diskusikan perasaan setelah menggunakan tahapan rasional
2) Beri umpan balik
3) Diskusikan manfaat tanggapan rasional
4) Tanyakan apakah dapat menyelesaikan masalah
5) Tanyakan hambatan yang dialami
6) Beri persepsi perawat
7) Diskusiakan cara mengatasi masalah
8) Anjurkan untuk mengatasi sesuai kemampuan
9) Mengungkapkan hasil yang diperoleh
10) Membuat buku harian setiap timbul pikiran negative dan tanggapan
rasionalnya atau membaca catatan pikiran otomatis dan tanggapan rasional yang
telah dibuat saat timbul pikiran negative
11) Beri reinforcement positif

d. Tahap terminasi
1) Evaluasi
– Terapi menanyakan perasaan klien setelah menjalani terapi.
– Terapis memberikan pujian yang sesuai
2). Tindak lanjut
 Menganjurkan pada pasien selalu menggunakan pikiran rasional dalam
menyelesaikan masalah
 Menganjurkan untuk menuliskan kegiatan yang dilakuakan pada buku
kegiatan harian
3). Kontrak akan datang
– Menyepakati topic yang akan datang
– Menyepakati waktu dan tempat
Evaluasi dan Dokumentasi
1. Evaluasi
a. Ekspresi pasien pada saat terapi
b. Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian tujuan terapi
2. Dokumentasi
a. Terapis mendokumentasikan pencapaian hasil terapi yang dilakukan
b. Dokumentasikan rencana klien sesuai dengan yang telah dirumuskan.

Sesi 9 : Support system


1. Tujuan
1. Meningkatkan komunikasi perawat dengan pasien
2. Pasien mendapat support system
3. Keluarga dapat menjadi support system bagi pasien
2. Setting
Pasien, keluarga dan terapis dalam suatu ruangan yang tenang dan nyaman
3. Alat
1. Diri perawat dan kemampuan menggunakan diri secara terapeutik dengan
berkomunikasi secara terapeutik.
2. Tempat duduk, alat tulis dan kertas
4. Metode
Diskusi dan tanya jawab
5. Langkah kegiatan
a. Persiapan
1). Mengingatkan kontrak dengan pasien
2). Mempersiapkan alat dan tempat yang kondusif
b. Orientasi
1). Salam terapeutik
– Salam dari terapis kepada pasien dan keluarga
2). Evaluasi/validasi
– Menanyakan perasaan klien dan keluarga pada saat ini
– Menanyakan apa sudah dilakukan untuk mengatasi perasaannya
3). Kontrak
– Menjelaskan tujuan terapi, yaitu meningkatkan kemampuan
bersosialisasi pasien
– Menjelaskan lama kegiatan yaitu 45 menit
– Menjelaskan peraturan terapi yaitu : pasien duduk dengan terapis
berhadapan dari awal sampai selesai
c. Tahap kerja
1) Jelaskan pada keluarga tentang terapi kognitif
2) Libatkan keluarga
3) Diskusikan dengan keluarga kemampuan yang telah dimiliki pasien
4) Anjurkan keluarga untuk siap mendengarkan dan mendengarkan masalah
pasien
5) Beri reinforcement positif
1. Tahap terminasi
1) Evaluasi
– Terapi menanyakan perasaan klien dan keluarga setelah setelah menjalani
terapi.
– Terapis memberikan pujian yang sesuai
2). Tindak lanjut
– Menganjurkan pada keluarga untuk dapat menerima dan merawat pasien
dirumah
– Menganjurkan untuk melaksanakan jadwal kegiatan yang telah dibuat
bersama pasien
3). Kontrak akan datang
– Membuat kesepakatan dengan keluarga untuk dapat menjadi support
system bagi pasien
– Menyepakati waktu dan tempat
Evaluasi dan Dokumentasi
1. Evaluasi
a. Ekspresi pasien pada saat terapi
b. Evaluasi dilakukan terhadap pencapaian tujuan terapi
2. Dokumentasi
a. Terapis mendokumentasikan pencapaian hasil terapi yang dilakukan
b. Dokumentasikan rencana klien sesuai dengan yang telah dirumuskan
DAFTAR PUSTAKA
Atik. R. ( 2007 ), Pengaruh Terapi Kognitif Terhadap Tingkat Harga Diri Dan
Kemandirian Klien Dengan Kanker Payudara, Thesis , Program Pasca
Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Hennesy, D, (2001), “Reflective Case Discussion” Modul of Clinical Performance
and Development Management System, Jogjakarta.
Kemenkes. 2005. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 36.
Pedoman Pengembangan Manajemen Kinerja Perawat dan Bidan : Jakarta.
Shives.L.R, ( 1998), Basic Concepts of Psychiatric – Mental health Nursing, 4
ed. Lippincott.
Stuart&Laraia ( 2001), Principles and Practice of Psychiatric Nursing, 7 ed.
Mosby
Townsend. M.C, ( 2003), Psychiatric Mental Health Nursing Concept of Care, 4
ed. F.A Davis Company
Townsend . M.C, (2005), Essentials of Psychiatric Mental Health Nursing 3.ed.
F.a Davis Company.