Anda di halaman 1dari 17

Identifikasi dan Inventarisasi Aset

Identifikasi Aset
Pengertian aset secara etimologi berasal dari kata bahasa Inggris yang diterjemahkan
dalam kata Asset. Secara etimologi asset didefinisikan adalah barang (thing) atau sesuatu
barang (anything) yang memiliki suatu nilai (economic value), nilai komersial (comercial
value), atau nilai tukar (excange value) yang dimiliki oleh instansi, organisasi, badan usaha,
individu ataupun perorangan Hidayat, (2011). Selain pengertian aset diatas, juga terdapat
beberapa pengertian aset yang dicetuskan oleh beberapa para ahli baik melalui teori-teori,
gagasan, pendapat, aturan atau undang-undang dan juga baik berupa asumsi. Menurut Munawir
(2007), aset adalah sarana atau sumber daya yang memiliki nilai ekonomi yang mampu
menunjang perusahaan dalam harga perolehnnya atau nilai wajarnya harus diukur secara
objektif. Sementara menurut Hidayat (2011) bahwa definisi aset adalah barang yang dalam
pengertian hukum disebut sebagai suatu benda, yang terdiri atas benda abergerak dan juga
benda tidak bergerak, baik yang berwujud (tangible) maupun yang tidak berwujud (intangible).
Keseluruhan dari hal tersebut mencakup dalam aktiva atau aset atau harta aset dari suatu
instansi, organisasi, badan usaha ataupun dari individu perorangan.
Aset dapat diketahui dengan beberapa karakteristik. Karakteristik tersebut adalah suatu
pembeda dengan beberapa hal. Adapun karakteristik aset adalah sebagai berikut.
1. Aset merupakan manfaat ekonomi yang diperoleh disuatu hari mendatang.
2. Aset dikuasai oleh perusahaan yang dalam artian dikendalikan oleh perusahaan.
3. Aset merupakan hasil dari transaksi atua peristiwa yang terjadi di masa lalu.
Aset terdiri dari eberapa unsur. Unsur – unsur yang dapat menyusun aset sebagaimana mestinya
dikelompokan berdasarkan bentuknya,
1. Aset Lancar
Pengertian aset lancar adalah aset yang diharapkan untuk dapat direalisasikan yang
menghasilkan sebuah manfaat dalam jangka waktu yang lama sekitar satu tahun atau dalam
siklus operasi normal perusahaan. Aset terdiri dari kas, investasi jangka pendek, persediaan,
piutang, penghasilan yang masih harus diterima dan akun-akun lainnya, dan biaya yang harus
dibayar.
Aset lancar terdiri dari :
a. Kas (cash), semua aktiva yang tersedia di dalam kas perusahaan ataupun setara kas
yang disimpan di Bank yang bisa di ambil setiap saat.
b. Surat Berharga, pemilikan saham atau juga obligasi perusahaan lain yang mempunyai
sifat sementara, yang sewaktu-waktu bisa dijual kembali.
c. Piutang Dagang, tagihan dari perusahaan kepada pihak lain (debitur) yang disebabkan
karena penjualan barang atau jasa secara kredit.
d. Piutang Wesel, adalah surat perintah penagihan pada seseorang atau juga badan untuk
dapat membayar sejumlah uang di tanggal yang telah ditentukan
e. sebelumnya, pada orang yang namanya sudah disebut di dalam surat.
f. Piutang pendapatan, pendapatan yang sudah menjadi hak, namun belum diterima
pembayarannya.
g. Beban Dibayar di Muka, pembayaran beban yang dibayar di awal, namun belum
menjadi suatu kewajiban pada periode yang bersangkutan.
h. Perlengkapan, seluruh perlengkapan yang dipakai demi suatu kelancaran bisnis dan
bersifat habis pakai.
i. Persediaan Barang Dagang, barang yang dibeli dengan tujuan dijual kembali dengan
mengharapkan untuk mendapat suatu laba.
2. Investasi/Penyertaan
Pengertian investasi adalah suatu aset yang difungsikan untuk adanya pertumbuhan kekayaan
melalui adanya distribusi terhadap hasil investasi. Investasi yang dilakukan dalam aset tersebut
juga dikelompokkan kedalam dua jenis. Jenis-jenis investasi dalam aset adalah investasi jangka
pendek dan investasi jangka panjang.
3. Aset Tetap
Pengertian aset tetap adalah aset berwujud yang didapatkan dalam bentuk yang siap untuk
digunakan atau difungsikan atau dengan dibangun lebih dahlu, yang difungsikan dalam operasi
perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual yang bertujuan adanya kegiatan normal
perusahaan dan memiliki masa manfaat yang lebih dari satu tahun. Aset tetap terdiri dari tanah,
gedung, investasi jangka panjang dan lainnya.
4. Aset Tidak Berwujud
Pengertian aset tidak berujuwd adalah aset tetap yang tidak berwjud yang bermanfaat dengan
memberikan hak ekonomi dan hukum kepada suatu pemiliknya. Aset tidak berwujud memiliki
jens-jenis bentuk atau macam-macam bentuk misalnya goodwill, merk dagang, hak cipta dan
franchise. Aset tak berwujud terdiri dari :
a. Good will, nilai lebih yang dipunyai perusahaan dikarenakan keistimewaan tertentu.
b. Hak Paten, adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah kepada seseorang atau
juga badan dikarenakan penemuan tertentu.
c. Hak Cipta, adalah hak tunggal yang diberikan oleh pemerintah kepada seseorang atau
juga badan dikarenakan adanya hasil karya seni atau tulisan atau juga karya intelektual.
d. Merek Dagang, adalah hak yang diberikan oleh pemerintah kepada suatu badan untuk
dapat menggunakan nama dan juga lambang bagi bisnisnya.
e. Hak Sewa, adalah hak untuk dapat menggunakan aktiva tetap pihak lain di dalam waktu
yang panjang sesuai dengan kesepakatan sebelumnya.
f. Franchise, adalah suatu hak istimewa yang diterima oleh seseorang atau juga suatu
badan dari pihak lain untuk dapat mengkomersilkan formula, teknik, atau juga produk
tertentu.
5. Aset Lain
Adapun dari jenis-jenis aset lainnya yang menjadi unsur-unsur aset lainnya adalah
menggambarkan pos-pos tidak dapat secara layak yang digolongkan ke dalam aset lancar,
investas/peyertaan/ ase tidak berwujud, dan aset tetap.
Siklus Hidup Aset Menurut Hindrawan dkk (2006) bahwa silus hidup fisik dan suatu
aset atau kelompok aset mempunyai empat fase diantaranya perencanaan, pengadaan
(acquisittion), operasi dan pemeliharaan, serta penghapusan (disposal). Adapun penjelasan dari
macam-macam fase siklus hidup aset adalah sebagai berikut :
1. Fase perencanaan adalah fase identifikasi kebutuhan yakni terdapat adanya
permintaaan atas aset.
Pentingnya Perencanaan Aset :
Ø Mengurangi ketidakpastian dan perubahan-perubahan di waktu
Ø Memusatkan perhatian kepada sasaran.
Ø Menjamin proses pencapaian tujuan terlaksana secara ekonomis.
Ø Memudahkan pengawasan.
Menurut Hindrawan, dkk (2006) perencanaan aset yang baik terdiri atas beberapa perencanaan
adalah sebagai berikut :
Ø Menentukan adanya kebutuhan aset dan membeli aset yang dibutuhkan
Ø Mengoptimalkan adanya penggunaan aset yang telah ada sehingga pengadaaan aset
baru dapat dihindari.
Ø Mengevaluasi adanya aset-aset yang telah ada untuk mengetahui adanya aset-aset yang
memiliki kinjera buruk, atau membutuhkan biaya yang terlalu tinggi untuk dimiliki atau
dioperasikan.
Ø Rencananya pengadaan aset hendaknya mampu menengaskan tentang jenis dan waktu
kebuuhan aset dan menguraikan metode pengadaan dan pendanaan yang diusulkan.
Ø Pendanaan dan penganggaran modal untuk mempertimbangkan pilihan pengadaan dan
penambahana aset dan membuat skala prioritas.
Ø Mempertimbangkan solusi-solusi non-aset untuk mengurangi adanya kebutuhan aset.

2. Fase pengadaan, yakni saat aset dibeli, dibangun atau dibuat


3. Fase pengoperasian dan pemeliharaan, yakni pada saat aset dimanfaatkan untuk
tujuan yang telah ditetapkan. Fase tersebut diselingi dengan adanya pemaruan,
pergantian ataupun perbaiikan yang dilkukan secara periodik atas aset yang
rusak.
4. Fase penghapusan (disposal) dijalnkan pada saat umur ekobomis suatu aset telah
habis atau pada saat kebutuhan atas pelayanan yang disediakan aset telah hilang.

Aset harus dievaluasi dalam hal kondisi fisik, fungsionalitas, penghematannya, dan
kinerja finansial. Efektivitas dari aset-aset yang ada dalam mendukung penyediaan pelayanan
juga harus ditentukan. Proses ini menganggap standar kondisi dan kinerja yang memadai
disusun untuk aset. Gambar berikut ini adalah proses pemantauan (monitoring)kinerja Hasil
dari evaluasi harus disertakan dalam laporan kinerja yang terintegrasi.
Aset di identifikasi berdasarkan 2 elemen berikut ini :
1. Identifikasi Fisik
menentukan aset dibantu dengan wbs, accounting, dsb.
2. Identifikasi Fungsi
Aset harus memiliki fungsi. Contoh aset : suatu AC tapi bukan kabelnya

Sementara Aset di identifikasi berdasarkan beberapa tahapan :


a. Pemerolehan dan Pengujian Data
Pada tahap ini, pemeriksa menganalisis bukti pemeriksaan dari obyek yang diperiksa untuk
memperoleh keyakinan yang memadai dalam menjawab tujuan pemeriksaan. Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk memperoleh bukti pemeriksaan sebagai pendukung temuan dan
simpulan pemeriksaan. Berdasarkan bukti-bukti yang sudah diuji, Pemeriksa dapat:
1) Mengembangkan hasil pengujian untuk menilai apakah kinerja entitas yang
diperiksa telah sesuai dengan kriteria atau tidak;
2) Mengumpulkan hasil pengujian dan membandingkannya dengan tujuan
pemeriksaan;
3) Mengidentifikasi kemungkinan-kemungkinan untuk memperbaiki kinerja
entitas;
4) Memanfaatkan hasil pengujian untuk mendukung rekomendasi dan simpulan
pemeriksaan.
Dalam mengumpulkan dan menguji bukti pemeriksaan tersebut, teknik pemeriksaan
diarahkan pada reviu dokumen, wawancara, pengamatan langsung/observasi, kuesioner
dan analisa data. Pelaksanaan pemeriksaan dilakukan secara sampling, dengan
memperhatikan aspek BPK RI LHP Kinerja Pengelolaan Operasional Jalan Tol 2,
signifikansi dan pendekatan risiko (berisiko tinggi) sehingga simpulan yang diambil dapat,
dan menggambarkan penilaian kinerja objek yang diperiksa.
b. Penyusunan Konsep Temuan Pemeriksaan
Pemeriksa menyusun konsep temuan pemeriksaan atas kondisi yang tidak memenuhi
kriteria pemeriksaan yang telah ditetapkan dan disepakati. Tujuan dari penyusunan konsep
temuan pemeriksaan adalah:
1. Memberikan informasi kepada entitas yang diperiksa tentang fakta dan informasi yang
akurat dan berhubungan dengan permasalahan yang diperoleh dari kegiatan
pemeriksaan;
2. Menjawab tujuan pemeriksaan dengan cara memaparkan hasil pemeriksaan;
3. Menyajikan kelemahan pengendalian intern yang signifikan, kecurangan, dan
penyimpangan terhadap ketentuan perundang-undangan yang terjadi pada entitas yang
diperiksa.
c. Perolehan Tanggapan Entitas
Pemeriksa mengkomunikasikan konsep temuan pemeriksaan kepada entitas untuk
memperoleh tanggapan. Tujuan komunikasi tersebut adalah untuk memvalidasi konsep
temuan pemeriksaan yang telah dikembangkan oleh pemeriksa.
d. Penyampaian Temuan Pemeriksaan Kepada Entitas
Aset harus dievaluasi dalam hal:
a) Kondisi fisiknya;
b) Fungsionalitasnya;
c) Penghematannya; dan
d) Kinerja finansialnya.
Efektivitas dari aset-aset yang ada dalam mendukung penyediaan pelayanan juga harus
ditentukan. Proses ini menganggap standar kondisi dan kinerja yang memadai disusun
untuk aset. Gambar berikut ini adalah proses pemantauan (monitoring)kinerja Hasil dari
evaluasi harus disertakan dalam laporan kinerja yang terintegrasi.

Inventarisasi Aset
Inventarisasi adalah pencatatan atau pendaftaran barang-barang milik kantor, (sekolah,
rumah tangga, dan sebagainya) yang dipakai dalam melaksanakan tugas. Menurut A. Gima
Sugiama (2013) "Inventarisasi aset adalah serangkaian kegiatan untuk melakukan pendataan,
pencatatan, pelaporan hasil pendataan aset, dan mendokumentasikannya baik aset berwujud
maupun aset tidak berwujud pada suatu waktu tertentu. Inventarisasi aset dilakukan untuk
mendapatkan data seluruh aset yang dimliki,dikuasai sebuah organisasi perusahaan atau
instansi pemerintah. Seluruh aset perlu diinventarisasi baik yang diperoleh berdasarkan beban
dana sendiri (investasi), hibah ataupun dari cara lainnya". Dalam buku Manajemen Aset
Pariwisata (Sugiama, 2013) Inventarisasi Aset berada pada tahap ketiga setelah tahap
perencanaan kebutuhan aset dan pengadaan aset. Tujuan utama dilakukannya Inventarisasi
Aset ada tiga yaitu:
1. Menciptakan tertib administrasi;
2. Pengamanan aset;
3. Pengendalian dan pengawasan aset.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2014 pasal 85 ayat 1
menyebutkan bahwa Pengguna Barang melakukan Inventarisasi Barang Milik Negara/Daerah
paling sedikit 1(satu) kali dalam 5 (lima) tahun. Hal tersebut dilakukan agar aset yang ada di
suatu instansi pemerintah dapat dikontrol dengan baik sehingga bisa meminimalisir masalah
yang muncul akibat aset yang tidak tercatat dan penggunaan aset yang tidak sesuai dengan
tupoksi dapat segera dihentikan.
Ada dua jenis barang yang harus diinventarisasi yaitu:
1. Aset berwujud atau tangible assets adalah kekayaan yang dapat dimanifestasikan secara
fisik dengan menggunakkan panca indera. Contoh aset berwujud antara lain berupa :
a. Tanah atau lahan;
b. Bangunan;
c. Infrastruktur misal jalan raya, jembatan, irigasi, waduk;
d. Peralatan dan perlengkapan pabrik atau plant and machinery;
e. Peralatan dan perlengkapan kantor misalnya meubel atau furniture;
f. Persediaan barang;
g. Sumberdaya alam seperti bahan tambang,hutan/tanaman,air dan sumberdaya alam
lainnya.
2. Aset tidak berwujud atau Intangible assets adalah kekayaan yang manifestasinya tidak
berwujud secara fisik yakni tidak dapat disentuh, dilihat, atau tidak bisa diukur aecara fisik,
namun kekayaan ini memberikan manfaat serta memiliki nilai tertentu secra ekonomi sebagai
hasil dari proses usaha atau melalui waktu. Aset ini antara lain berupa :
a. Hak paten misal untuk sebuah formulasi produk;
b. Hak cipta atau copyright atau sebuah karya;
c. Nama baik sebuah organisasi/perusahaan atau Goodwill;
d. Hak merek dagang;
e. Hak atas usaha waralaba atau franchise.
Tahapan dari invetaris aset sendiri biasanya mengikuti kebijakan atau standar
operasional prosedur dari perusahaan masing – masing. Namun menurut pengalaman
VemaFATS yang bergerak dalam pengelolaan fixed asset serta asset tracking secara garis besar
tahap inventaris aset sebagai berikut :
1. Persiapan
Di tahap ini kumpulkan data pencatatan aset yang terakhir atau setidaknya menjadi acuan
dalam melakukan inventaris aset, yang kemudian data tersebut di maping berdasarkan lokasi
atau departemen, pisahakan asset berdasarkan kondisi dan bentuk team yang di tugaskan untuk
menginventaris aset tersebut.
2. Ekseskusi
Eksekusi bisa dilakukan jika tahap persiapan sudah di lengkapi dan di laksanakan. Tahap ini
merupakan kegiatan yang memerlukan waktu cukup lama, tergantung berapa banyak aset, ke
akuratan data acuan, serta luas atau tidak nya persebaran aset yang dimiliki
3. Selesai dan Rekonsiliasi Data
Ketika team yang di tugaskan sudah merasa seluruh aset yang sudah di inventarisasi, maka
reconcile serta update data acuan anda untuk membandingkan mana aset yang sudah terpakai,
hilang, sebagai aset backup, atau kondisi yang masih bagus. Sekarang anda sudah memiliki
laporan atau data terkini fixed asset apa saja yang ada.
Melakukan kegiatan inventaris aset secara rutin dan terjadwal, memiliki banyak
manfaat bagi perusahaan. Manfaat yang utama adalah data pencatatan yang dimiliki sangat
akurat terhadap fisik aset yang di beli, digunakan serta lokasi – lokasi aset tersebut
ditempatkan. Manfaat lainnya adalah :
Ø Sebagai kegiatan untuk pengamanan aset
Ø Sebagai bahan pedoman untuk menghitung kekayaan perusahaan
Ø Sebagai kegiatan yang menuntut tertibnya administrasi terhadap tata kelola fixed aset
Ø Sebagai kegiatan yang memberikan data serta informasi, untuk dijadikan
bahan/pedoman dalam penyaluran aset
Ø Sebagai kegiatan yang memberikan data serta informasi terhadap aset – aset yang dibeli
sedetail dan selengkap mungkin
Ø Menentukan keadaan barang (barang yang rusak/tua) sebagai dasar untuk menetapkan
penghapusannya atau disposal
Ø Sebagai kegiatan yang memberikan data dan informasi aset dalam rangka
mempermudah pengendalian serta pengawasan aset.
Ø Untuk menghemat keuangan, karena dengan rapih serta akuratnya pencacatan aset
terhadap fisik aset yang dimiliki perusahaan dapat meminimalisir pembelian aset yang
tidak perlu
Tentunya kendala atau tantangan yang harus di hadapi dalam melakukan kegiatan inventaris
ini adalah memerlukan waktu yang tidak sebentar.
Pengelolaan Aset Infrastrukstur
Kerangka Tata Kelola Stakeholder Manajemen Aset (Case Study Kanada)

Pendahuluan
Dunia sedang berubah. Stabilitas lingkungan, keuangan dan sosial tradisional
masyarakat ditantang tidak seperti sebelumnya. Besarnya dan kompleksitas tantangan yang
dihadapi aspek fisik dan keuangan dari sistem infrastruktur sipil yang telah mendukung gaya
hidup tradisional masyarakat adalah signifikan dan kompleks. Praktik manajemen historis tidak
lagi dapat mendukung tingkat layanan infrastruktur yang diharapkan secara berkelanjutan.
Pendekatan yang ditingkatkan untuk mengelola infrastruktur kami untuk mengikuti perubahan
ini adalah "Strategic Asset Management" (AM). Tantangannya adalah untuk membuat
perubahan ini dalam pendekatan manajemen kolektif.
Dalam beberapa tahun terakhir upaya signifikan telah dilakukan oleh individu dan
kelompok untuk memahami dan mengembangkan praktik dan alat Manajemen Aset baru ini.
Hasil dari upaya ini dan kegiatan pengembangan lebih lanjut perlu diintegrasikan dan
diimplementasikan dalam skala nasional yang akan menjadi tantangan mengingat ruang
lingkup yang luas, kompleksitas dan sifat multi-disiplin Manajemen Aset dan sifat pemangku
kepentingan yang beragam dan berbeda.
Pada tahun 2003, empat organisasi nasional yang mewakili kepentingan infrastruktur
mengembangkan konsensus nasional tentang kebutuhan infrastruktur di Kanada di masa depan.
"Road Map Teknologi" (TRM) untuk Sistem Infrastruktur Sipil, yang diterbitkan pada bulan
Juni 2003 menyerukan rencana aksi nasional dan visi bersama nasional untuk menangani
kebutuhan masa depan, termasuk peningkatan pemeliharaan dan penggantian defisit sistem
infrastruktur.

Kelompok Kerja Manajemen Aset Nasional (NAMWG) diciptakan untuk membahas


strategi manajemen aset. Kelompok ini, yang terdiri dari berbagai perwakilan sektor swasta
dan publik (stakeholder infrastruktur), dibentuk untuk mengembangkan strategi dan program
untuk mengimplementasikan rekomendasi Manajemen Aset dari Road Map Teknologi. Salah
satu tujuan khusus dari kelompok ini adalah untuk mengembangkan kerangka kerja nasional
model untuk manajemen terpadu aset infrastruktur kota. Dengan demikian, kelompok kerja
mengadopsi pernyataan visi berikut:
Pernyataan Visi
Pada tahun 2020, dengan kolaborasi dari pemerintah, komunitas di Kanada akan
mempunyai infrastruktur berkelanjutan dengan kemempuan pelayanan untuk
mendukung kesehatan, keselamatan, kemakmuran ekonomi, dan kualitas hidup.

Dengan spesifik, komunitas Kanada akan:


• Buat keputusan infrastruktur kota yang sehat berdasarkan analisis siklus hidup
penuh yang berkelanjutan secara sosial, lingkungan dan ekonomi.
• Telah menghilangkan infrastruktur saat ini dan pemeliharaan defisit yang
ditangguhkan dan memiliki akses ke mekanisme pendanaan yang berkelanjutan.
• Meningkatkan ketahanan dan adaptabilitas infrastruktur kota secara keseluruhan
terhadap dampak perubahan iklim, dan
• Diakui sebagai pemimpin dalam teknologi dan praktik infrastruktur inovatif.

Definisi Dari Manajemen Aset


Manajemen Aset adalah pendekatan bisnis terpadu yang melibatkan perencanaan,
keuangan, teknik, dan operasi untuk secara efektif mengelola infrastruktur yang ada dan baru
untuk memaksimalkan manfaat, mengurangi risiko dan memberikan tingkat layanan yang
memuaskan kepada pengguna masyarakat dengan cara yang berkelanjutan secara sosial,
lingkungan dan ekonomi.

Kerangka Kerja Pengelolaan Aset Nasional


Kelompok Kerja Manajemen Aset Nasional telah mengembangkan Kerangka Kerja
Manajemen Aset Nasional. Kerangka Tata Kelola berfokus pada 'mengapa manajemen aset'.
Ini dimaksudkan sebagai dasar untuk pengembangan strategi manajemen aset di tingkat lokal.
'Kerangka Tata Kelola' secara khusus tidak fokus atau mengatasi 'bagaimana' untuk melakukan
manajemen aset karena tidak ada satu pun pendekatan terbaik yang memenuhi semua
kebutuhan. 'Kerangka kerja' menegaskan sifat holistik pengelolaan aset dalam konteks lingkup
luas kegiatan skala multi-disiplin dan terpadu. 'Kerangka' mencakup pernyataan dari tujuan
keseluruhan manajemen aset sebagai pendekatan baru untuk mengelola sistem infrastruktur
sipil, prinsip-prinsip dasar utama yang membedakan manajemen aset dari praktik manajemen
historis, jenis-jenis kegiatan dasar yang terlibat dalam manajemen aset dan identifikasi
stakeholder infrastruktur dalam konteks skala, ruang lingkup dan kegiatan yang terkait dengan
manajemen aset. Kerangka kerja ini mengidentifikasi 'mengapa, apa dan siapa dari manajemen
aset. Lalu tidak mengidentifikasi atau menggabungkan 'bagaimana' untuk melaksanakan
pengembangan dan implementasi strategi AM.

Kerangka Tata Kelola Pengelolaan Aset Nasional - Mengapa?


Tujuan dari 'Kerangka Kerja' adalah untuk membangun landasan di mana setiap
kegiatan yang terkait dengan manajemen aset di Kanada dapat berhubungan dengan
seperangkat prinsip operasi umum untuk mencapai tujuan umum secara keseluruhan. Para
pemangku kepentingan infrastruktur didorong, oleh karena itu, untuk menilai peran dan mandat
mereka sebagai pemangku kepentingan dan, dalam konteks kerangka kerja, mengenali
bagaimana mereka berkontribusi terhadap keseluruhan tujuan masyarakat yang berkelanjutan.
Melalui kerangka kerja, sifat komunitas infrastruktur yang beragam dan berbeda dapat
disatukan. Ini akan mengambil upaya kolektif dan terpadu dari seluruh masyarakat untuk
mengatasi tantangan manajemen infrastruktur yang signifikan. Dalam meninjau kerangka kerja
ini, penting bahwa para pemangku kepentingan dapat menyetujui pernyataan yang dibuat dan
untuk mengenali hubungan yang dimiliki organisasi atau kelompok mereka dalam komunitas
pemangku kepentingan (infrastruktur) secara keseluruhan. Pengakuan dan dukungan dari
'Kerangka' ini merupakan langkah penting dalam bergerak ke arah mengintegrasikan upaya
kolektif semua pemangku kepentingan infrastruktur untuk menangani tujuan strategis bersama.
Scope dari AM Siapa saja pemangku kepentingannya?
• AM bersifat multidisipliner Badan publik dan swasta, organisasi, asosiasi
• AM mencakup spektrum luas AM adalah dan individu dengan disiplin ilmu yang
masalah lokal. komponen terintegrasi, mewakili kegiatan operasional dan
termasuk AM harus konsisten tetapi mendukung kegiatan pengembangan
tidak terbatas pada: kapasitas dalam industri:
o Pemerintah (pemerintah federal,
o Technical/operations spectrum (i.e. provinsi / teritorial dan kota)
vertical integration) o perusahaan swasta
o Planning o financers
o Financial o engineers and technologist
o Policy o information technology pratitioners
o Management/administration and suppliers
o Customers/users o perencana
o akuntan
o kontraktor
o manufaktur dan fabrikasi
o researchers
o pengajar
o legal, regulatory and policy makers
o associations and professional
societies

Aktivitas Siapa saja pemangku kepentingannya?


• Proses AM termasuk kegiatan 'Para pemangku kepentingan kegiatan
operasional dan kegiatan pengembangan operasional' pada dasarnya adalah tanggung
kapasitas jawab pemilik infrastruktur dan departemen,
• AM sedang dikembangkan dan agen, dan individu dalam kelompok
didokumentasikan melalui berbagai kepemilikan ini:
inisiatif nasional. Kegiatan operasional o Pemerintah federal
inti meliputi: o Pemerintah provinsi / teritorial
o Kepemilikan (mengelola, o Pemerintah kotamadya
pendanaan) o Otoritas Publik (yaitu bandara dan
o Penciptaan (perencanaan, pelabuhan)
perancangan, pembangunan, o Bangsa Pertama
pembiayaan) o Perusahaan swasta
o Operasi dan perawatan Pemantauan
o Memperbarui dan mengganti Kegiatan operasional inti juga difasilitasi
o Pengaturan oleh berbagai pemangku kepentingan teknis
• Kegiatan pengembangan kapasitas dan profesional:
mendukung dan meningkatkan proses o pemodal
operasional AM termasuk: o perencana
o Pembiayaan publik dan swasta o insinyur dan teknolog
o Penelitian dan pengembangan proses o kontraktor dan perdagangan
dan alat analisis konstruksi
o Pendidikan dan pelatihan o pembuat hukum, peraturan dan
o Pengadaan kebijakan
o Inovasi dan pengembangan dalam
desain, konstruksi, operasi dan 'Para pemangku kepentingan pengembangan
kegiatan pemantauan kapasitas' adalah kunci untuk mendukung
o Manajemen data (teknologi dan meningkatkan kegiatan operasional AM.
informasi) Mereka termasuk:
o insinyur dan teknolog
o perencana praktisi teknologi
informasi
o pengguna
o akuntan / analis keuangan
o kontraktor dan perdagangan
konstruksi
o produsen, perakit dan distributor
o peneliti, pendidik dan pelatih,
o asosiasi pembuat undang-undang,
peraturan dan kebijakan serta
masyarakat profesional
o politisi

Pendahuluan

Rencana Pengelolaan Aset Strategis (SAMP) memberikan kerangka kerja untuk pengelolaan
berkelanjutan dari aset Dewan saat ini dan masa depan sehingga layanan yang tepat secara
efektif disampaikan kepada masyarakat saat ini dan di masa depan. Ini mempertimbangkan
informasi tentang aset Dewan, proses dan praktik manajemen aset, dan menyajikan rencana
untuk meningkatkan penyediaan aset Dewan dan kemampuan manajemen.

Port Stephens Council bertanggung jawab untuk portofolio aset yang sangat besar dan luas,
yang totalnya $ 886 juta dari aset tidak lancar. Aset dewan diperoleh, dipegang dan dipelihara
untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Layanan yang dibutuhkan oleh dan untuk
masyarakat cukup besar, dan penyediaan ini sering bergantung pada portofolio ini.

Dasar aset Dewan meliputi infrastruktur aset tradisional seperti jalan, jalan setapak, bangunan
dan drainase serta aset, yang unik untuk dewan pesisir seperti dinding laut, klub selancar,
menara penjaga pantai, dermaga dan dermaga. Dewan memiliki kewajiban etis dan hukum
untuk secara efektif merencanakan, mempertanggungjawabkan, dan mengelola aset publik
yang menjadi tanggung jawabnya. Keberhasilan pengiriman aset Dewan akan memungkinkan
aspirasi masyarakat saat ini dan jangka panjang yang harus dipenuhi.

Alasan

Dewan memiliki Kebijakan Manajemen Aset yang diadopsi yang mengartikulasikan


komitmennya untuk manajemen aset yang sehat dan penyediaan aset yang terintegrasi,
responsif dan finansial berkelanjutan. Ini memberikan arah yang jelas untuk manajemen aset
dengan mendefinisikan prinsip-prinsip utama yang mendukungnya.

SAMP ini adalah langkah pertama dalam menerjemahkan Kebijakan itu ke dalam praktik
organisasi. Tujuannya adalah untuk menetapkan struktur untuk perencanaan dan perbaikan
lebih lanjut dalam manajemen pengetahuan organisasi, sistem, proses, dan struktur, yang akan
mendukung manajemen aset jangka panjang sampai ke masa depan. Ini menggabungkan:

o semua aset di bawah kendali Dewan;


o harapan masyarakat atas penyediaan dan pemeliharaan aset;
o rencana untuk meningkatkan kematangan manajemen aset Dewan sampai ke
tingkat yang dapat dipenuhi oleh komunitas dan Dewan;

Melalui pengembangan dan implementasi Dewan SAMP ini bertujuan untuk:

o memberikan tingkat layanan yang ditentukan untuk aset;


o mengadopsi pendekatan siklus hidup untuk mengembangkan strategi efektif
biaya untuk mengelola aset dalam jangka panjang yang memenuhi tingkat
layanan tertentu;
o menentukan permintaan di masa mendatang untuk memungkinkan pengelolaan
tingkat investasi yang tepat (tautan ke Rencana Keuangan Jangka Panjang);
o menerapkan manajemen risiko termasuk identifikasi, penilaian, dan
pengendalian risiko yang tepat.

Portofolio aset Dewan saat ini memungkinkan penyediaan berbagai layanan yang diperlukan
dan diinginkan, yang mendukung penduduk, bisnis dan pengunjung untuk Live, Play, Bekerja
dan Berkembang di Port Stephens Council Local Government Area (LGA). Pengiriman
layanan ini kepada masyarakat lokal adalah pertimbangan terpenting.

Ketentuan, kondisi, dan tingkat layanan infrastruktur bergantung pada kebutuhan dan harapan
masyarakat setempat. Dewan saat ini memiliki empat Kategori Aset utama yang terdiri dari
berbagai kelas aset:

o Aset Sipil - terdiri dari jalan, jalan setapak, dan cara-cara siklus, drainase,
infrastruktur transportasi, depot, armada, dan fasilitas pengelolaan limbah;
o Aset Komunitas dan Rekreasi - terdiri dari ruang publik, perpustakaan, pusat air,
fasilitas olahraga, klub selancar, taman skate, taman bermain, kuburan, pusat
perawatan anak dan infrastruktur saluran air;
o Aset Komersial - terdiri dari portofolio properti komersial, taman liburan, tanah
operasional, Gedung Administrasi dan Pusat Informasi Pengunjung;
o Aset Teknologi Komunikasi Informasi (ICT) - terdiri dari pemasangan kabel, aset
desktop, dan infrastruktur TIK.
Prinsip perencanaan dan pelaporan yang terintegrasi yang berlaku untuk Dewan

Prinsip-prinsip berikut untuk perencanaan strategis berlaku untuk pengembangan perencanaan


terpadu dan kerangka pelaporan oleh Dewan. Dewan harus:

1. mengidentifikasi dan memprioritaskan kebutuhan dan aspirasi masyarakat lokal utama


dan mempertimbangkan prioritas regional.
2. mengidentifikasi tujuan strategis untuk memenuhi kebutuhan dan aspirasi tersebut.
3. mengembangkan kegiatan, dan memprioritaskan tindakan, untuk bekerja menuju
tujuan strategis.
4. memastikan bahwa tujuan strategis dan kegiatan untuk bekerja ke arah mereka dapat
dicapai dalam sumber daya dewan.
5. secara teratur meninjau dan mengevaluasi kemajuan menuju pencapaian tujuan
strategis.
6. mempertahankan pendekatan terpadu untuk perencanaan, pengiriman, pemantauan dan
pelaporan pada tujuan strategis.
7. berkolaborasi dengan orang lain untuk memaksimalkan pencapaian tujuan strategis.
8. mengelola risiko kepada masyarakat atau daerah setempat atau ke dewan secara efektif
dan secara proaktif.
9. membuat adaptasi berbasis bukti yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan yang berubah
dan keadaan.