Anda di halaman 1dari 28

KEPUTUSAN DIREKTUR RUMAH SAKIT PERMATA HATI MUARA

BUNGO

NOMOR :

Tentang

PEMBERLAKUAN PEDOMAN PELAYANAN UNIT KESEHATAN DAN


KESELAMATAN KERJA RUMAH SAKIT (K3RS)

RUMAH SAKIT

Menimbang : a. bahwa dalam kegiatan Rumah Sakit berpotensi


menimbulkan bahaya fisik, kimia, biologi,
ergonomik dan psikososial yang dapat membahayakan
kesehatan dan keselamatan baik terhadap Karyawan,
pasien, pengunjung maupun masyarakat di
lingkungan Rumah Sakit.

b. bahwa untuk mencegah dan mengurangi bahaya


kesehatan dan keselamatan khususnya terhadap
Karyawan, perlu dilakukan upaya-upaya kesehatan
dan keselamatan kerja dengan menetapkan Peraturan
Direktur tentang Pedoman Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3) Rumah Sakit Permata Hati Muara Bungo

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun


1970 tentang Keselamatan Kerja.

2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun


1992 tentang Kesehatan.

3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun


2003 tentang Ketenagakerjaan.

4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27


tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 63
tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan terhadap
Pemanfaatan Radiasi Pengion.

6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 tahun


1993 tentang Penyakit yang Timbul karena Hubungan Kerja.

7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 tahun


1999 tentang Wajib Laporan Penyakit Akibat Hubungan
Kerja.

8. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


876/Menkes/SK/VIII/2001 tentang Panduan Teknis Analisis
Dampak Kesehatan Lingkungan.

9. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


1217/Menkes/SK/IX/2001 tentang Panduan Pengamanan
Dampak Radiasi.

10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


1335/Menkes/SK/X/2002 tentang Standar Operasional
Pengambilan dan Pengukuran Kualitas Udara Ruangan
Rumah Sakit.

11. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


1439/Menkes/SK/XI/2002 tentang Penggunaan Gas Medis
pada Sarana Pelayanan Kesehatan.

12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor


1204/Menkes/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit.

13. Peraturan Direktur PT. Permata Griya Husada 01/PT


RB/RSIA/X tahun 2016 tentang Peraturan Internal (Tata
Kelola) Rumah Sakit Permata Hati Muara Bungo.
MEMUTUSKAN:

Menetapkan 1. Pemberlakuan Buku Pedoman Unit Pelayanan Keselamatan


dan Kesehatan Kerja Rumah Sakit (K3RS) sebagai
petunjuk pelaksanaan program pada Rumah Sakit Permata Hati
Muara Bungo

2. Keputusan ini berlaku sejak ditetapkan tanggal ditetapkan


dan diadakan peninjauan kembali setelah 3 (tiga) tahun;

3. Apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dan kekurangan


akan diadakan perbaikan dan perubahan sebagaimana
mestinya ;

Ditetapkan di

Muara Bungo,

Direktur RS Permata Hati

Dr. H. Asnim AB, M.Kes

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumah Sakit sebagai salah satu tempat pelayanan masyarakat, di Bidang


kesehatan adalah rawan terhadap kejadian gangguan kesehatan, terjadinya kecelakaan
waktu bekerja, gangguan dari lingkungan dan terjadinya bermacam-macam bencana
karena api, listrik, gas, air, ledakan, kimia maupun rusaknya bangunan.

Hal ini mudah terjadi karena rumah sakit mempunyai sarana dan prasarana yang
bila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan gangguan lingkungan maupun
bencana terhadap orang-orang yang ada di dalam maupun sekitarnya. Demikian pula
sistem dan fungsi rumah sakit serta produk dan limbahnya bila tidak ditangani dengan
baik dapat berakibat buruk bagi manusia yang ada di sekitarnya.

Penghuni rumah sakit, selain manusia (penderita, keluarganya, petugas medis


dan non medis serta tamu) juga mungkin terdapat hewan~hewan seperti kucing, tikus,
kecoak, lalat dan nyamuk dapat juga berupa hewan bakteri, virus yang berasal dari
penderita.

Interaksi antar bangunan, penghuni, sarana prasarana, fungsi, sistem dan


limbanhnya mempunyai potensi terjadinya bahaya~bahaya dari segi biologi, kimia,
fisika (panas, radiasi, suara), ergometri dan psikososial. Pada akhirnya akan
mengurangi produktivitas, kinerja dan efektifitas pelayanan akibat penurunan mutu
sumberdaya manusia beserta alatnya.

Oleh karena itu perlu selalu diupayakan sejak dari perencanaan sampai
pelaksanaan pelayanan ini agar selalu dicegah dan ditekan potensi risiko terjadinya
bahaya-bahaya yang disebut di atas serta kita terjadi agar ditanggunhkan dengan cepat
dan tepat sehingga deampaknya tidak terlalu merugikan bagi semua pihak.

1.2. Tujuan dan Manfaat Pelayanan K3RS

 Tujuan

Terciptanya lingkungan kerja dan cara kerja yang aman, sehat, nyaman dan
sesuai dengan standar kesehatan kerja

 Manfaat
1. Bagi Rumah sakit

a. Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan standard akreditasi RS

b. Meningkatkan Citra RS

2. Bagi Karyawan RS

a. Melindungi karyawan dari penyakit akibat kerja (PAK)

b. Mencegah terjadinya kecelakaan akibat kerja (KAK)

c. Menciptakan kenyamanan dalam bekerja

3. Bagi pasien dan pengunjung

a. Mutu layanan yang baik

b. Kepuasan pasien dan pengunjung

c. Melindungi pasien dari penyakit nosokomial dan kecelakaan

1.3 Ruang Lingkup Pelayanan

Ruang lingkup K3RS RS Permata Hati Muara Bungo mencakup


kegiatan-kegiatan dibidang :

a. Pengamanan peralatan medik, pengamanan radiasi dan limbah radioaktif.

b. Pengamanan peralatan berat non medik, pengamanan dan keselamatan


bangunan.

c. Pengamanan sanitasi sarana kesehatan kerja dan pencegahan penyakit


akibat kerja.

d. Pengembangan manajemen tanggap darurat

e. Pelayanan kesehatan kerja dan pencegahan penyakit akibat kerja.

f. Pengumpulan, pengolahan, dokumentasi data dan pelaporan kegiatan


K3RS

g. Bidang satuan tugas fungsional.


1.4 Batasan Operasional
A. Pengertian K3 menurut WHO / ILO (1995)

Kesehatan kerja bertujuan untuk meningkatkan dan memelihara derajat


kesehatan fisik, mental dan sosial yang setinggi-tingginya bagi pekerja di
semua jenis pekerjaan, pencegahan terhadap gangguan kesehatan pekerja
yang disebabkan oleh kondisi pekerjaan, perlindungan bagi pekerja dalam
pekerjaannya dari resiko akibat faktor yang merugikan kesehatan dan
penempatan serta pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang
disesuaikan dengan kondisi fisiologi dan psikologisnya, secara ringkas
merupakan penyesuaian pekerjaan kepada manusia dan setiap manusia
kepada pekerjaan atau jabatannya.

Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Upaya untuk memberikan jaminan keselamatan dan meningkatkan derajat


kesehatan para pekerja atau buruh dengan cara pencegahan kecelakaan dan
penyakit akibat kerja, pengendalian bahaya di tempat kerja, promosi
kesehatan, pengobatan dan rehabilitasi.

Manajemen K3 RS

Suatu proses kegiatan yang dimulai dengan tahap perencanaan,


pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian yang bertujuan untuk
membudayakan K3 di RS

B. Upaya K3 di RS

Upaya K3 di RS menyangkut tenaga kerja, cara atau metode kerja, alat kerja,
proses kerja dan lingkungan kerja. Upaya ini meliputi peningkatan,
pencegahan, pengobatan dan pemulihan. Kinerja setiap petugas kesehatan
dan non kesehatan merupakan resultante dari tiga komponen K3 yaitu
kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja, yang dimaksud dengan :
1. Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang pekerja untuk
menyelesaikan pekerjaannya dengan baik pada suatu tempat kerja dalam
waktu tertentu.

2. Beban kerja adalah suatu kondisi yang membebani pekerja baik secara
fisik maupun non fisik dalam menyelesaikan pekerjaannya, kondisi
tersebut dapat diperberat oleh kondisi lingkungan yang tidak mendukung
secara fisik atau non fisik

3. Lingkungan kerja adalah kondisi lingkungan tenpat kerja yang meliputi


faktor fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikososial yang
mempengaruhi pekerja dalam melaksanakan pekerjaannya.

C. Bahaya Potensial di RS

Bahaya potensial yang mungkin terjadi di RS dan dapat menyebabkan


kecelakaan, diantaranya adalah mikrobiologik, desain/fisik, kebakaran,
mekanik, kimia/gas/karsinogen, radiasi dan risiko hukum atau keamanan,
yang dapat mengakibatkan penyakit dan kecelakaan akibat kerja. Hal
tersebut disebabkan oleh faktor biologi (virus, bakteri, jamur dan hewan
pengerat), faktor kimia (antiseptik, gas anestesi dan bahan desinfektan),
faktor ergonomi (tata cara kerja yang salah), faktor fisik (suhu, cahaya,
bising, listrik, getaran dan radiasi), faktor psikososial (hubungan antar
karyawan/atasan)

Bahaya potensial lainnya yang dapat menyebabkan penyakit akibat kerja


(PAK) yang terjadi di RS, umumnya berkaitan dengan faktor biologik
(kuman pathogen yang berasal umumnya dari pasien), faktor kimia
(pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti antiseptik pada
kulit, gas anestesi pada hati), faktor ergonomi (tata cara duduk, tata cara
mengangkat pasien), faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (suhu
udara panas, listrik tegangan tinggi, dan radiasi), faktor psikologis
(hubungan kerja antar karyawan atau atasan serta tata cara kerja di kamar
bedah, dibagian penerimaan pasien, di unit gawat darurat dan ruang
perawatan).

D. Respon Kegawatdaruratan di RS
Kegawatdaruratan merupakan suatu kejadian yang dapat menimbulkan
keracunan, kematian, luka serius bagi pekerja, pengunjung ataupun
masyarakat, sehingga dapat mengganggu operasional yang berakibat
kegiatan usaha berhenti sebagian atau seluruhnya. Hal lain akibat dari
kegawatdaruratan adalah kerusakan fisik lingkungan ataupun mengancam
finansial dan citra, sehingga muntal mempunyai sistem tanggap darurat
sebagai bagian dari Manajemen K3RS

1.5 Landasan Hukum


Landasan hukum dalam implementasi K3RS di RS Permata Hati adalah sebagai
berikut :

DASAR HUKUM TENTANG

A. Undang-undang

1. UU No. 1 Tahun 1970 Keselamatan Kerja

2. UU No. 13 tahun 2003 Ketenagakerjaan

3. UU No. 36 Tahun 2009 Kesehatan

4. UU No. 44 tahun 2009 Rumah sakit

B. Peraturan Pemerintah

1. Peraturan Pemerintah RI Persyaratan Kesehatan Konstruksi ruang di


No.11 Tahun 1975 RS, Persyaratan & Petunjuk Teknis tata cara
penyehatan lingkungan RS

Keselamatan kerja terhadap radiasi


2. Peraturan Pemerintah RI
No.12 Tahun 1975

3. Peraturan Pemerintah RI Ijin pemakaian zat radioaktif dan atau


No.13 Tahun 1975 sumber radiasi lainnya.
4. Peraturan Pemerintah No. Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan
50 Tahun 2012 dan Kesehatan Kerja

C. Menakertran

1. Permenaker RI No. Per Syarat-syarat K3 dalam pemakaian lift


05/Men/1978 listrik untuk pengangkutan orang & barang

2. Permenaker RI No. Per Keselamatan dan kesehatan kerja pada


01/Men/1980 konstruksi bangunan

3. Permenaker RI No. Per Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam


02/Men/1980 penyelenggraan keselamatan kerja

4. Permenaker RI No. Per Syarat-syarat pemasangan dan


04/Men 1980 pemeliharaan alat pemadam api ringan

5. Permenaker RI No. Per Kewajiban melapor penyakit akibat kerja


02/Men/1983

6. Permenaker RI No. Per


Instalasi kebakaran Automatik
02/Men/1983

7. Permenaker RI No. Per


03/Men/!983 Pelayanan Kesehatan tenaga kerja

8. Permenaker RI No. Per


02/Men/1989
Pengawasan Instalasi Penyalur Petir
9. Permenaker RI No. Per
05/Men/1996
Sistim Manajemen keselamatan dan
10.Permenaker RI No. 18
kesehatan kerja (SMK3)
Tahun 2010
Alat Pelindung Diri
11. Permenaker RI No.13
Tahun 2011 Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Faktor Kimia di Tempat Kerja

Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat


12. Kepmenaker RI No. 186 Kerja
Tahun 1999

C. Menteri Kesehatan

1. SK Menkes RI Komite K3

No.852
/Menkes/SK/X/1993
Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah
2. Per Menkes RI Sakit

No.1204/
Menkes/Per/XI/2004
Pedoman Keamanan
3. Kep. Menkes RI Laboratorium~Mikrobiologi dan Biomedis

No.1244
/Menkes/SK/XII/1994
Standard Kesehatan dan Keselamatan Kerja
4. Kep.Menkes RI Di Rumah sakit

No. Pedoman Manajemen Kesehatan dan


1087/Menkes/SK/VIII/2010 Keselamatan Kerja (K3) di Rumah sakit

5. Direktorat Bina Kesehatan Pengamanan bahan berbahaya bagi


Kerja Kementrian Kesehatan kesehatan
RI Tahun 2012

6. Per Menkes RI

No.472/ Menkes/Per/V/1996

D. Keputusan Dirjen

1. Keputusan Dirjen P.PM & Persyaratan Kesehatan lingkungan ruang &


PLP No.HK 00.06.64.44 bangunan serta fasilitas sanitasi RS

2. Keputusan Dirjen Batan Pengangkutan Zat Radioaktif Ketentuan


No.03/160/DI/1989 Keselamatan kerja terhadap radiasi.
BAB II

STANDAR KETENAGAAN

2.1 Kualifikasi Sumber Daya Manusia

Organisasi K3RS RS Permata Hati di tetapkan berdasarkan Surat Keputusan


Direktur No. 188.4/104/301/2013 tentang Unit Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Rumah Sakit RS Permata Hati Muara Bungo. Organisasi ini dibentuk sebagai upaya di
dalam pengendalian dan pencegahan terjadinya insiden di lingkungan RSPermata Hati.
Struktur organisasi unit K3RS mengacu kepada struktur organisasi RS yng dilengkapi
dengan staf yang memenuhi syarat kualitas, jabatan dan uraian tugas. Organisasi ini
bertanggung jawab kepada direktur dan terintegrasi dalam komite yang ada di RS

a. Ketua Komite K3

 Membuat target keselamatan dan menjamin efektifitas pencapaiannya

 Membuat rencana kerja Keselamatan.

 Memastikan semua karyawan, pasien, pengunjung dan pihak ketiga


memahami kebijakan terkait keselamatan

 Memastikan dilakukan identifikasi terhadap aspek keselamatan dan


memastikan penilaian tingkat pentingnya serta mekanisme
pengendaliannya

 Memastikan implementasi dari pengendalian aspek keselamatan di


RSPermata Hati.

 Mampu memberikan contoh tindakan dan memberikan briefing terkait


keselamatan.

b. Wakil dan sekretaris unit K3RS

 Memberikan bimbingan dan pengawasan terkait keselamatan.

 Mendistribusikan tugas kepada satuan kerja terkait dalam hal keselamatan


 Membuat evaluasi kinerja Bagian dan satuan kerja terkait keselamatan.

 Mematuhi peraturan dan ketetapan Rumah Sakit terkait keselamatan.

 Mengidentifikasi potensial bahaya

 Mampu memberikan briefing atau training terkait keselamatan di Seluruh


area rumah sakit

 Mampu melakukan investigasi insiden

c. Kepala Bidang/Bagian/Instalasi/ Unit Kerja Terkait

 Mematuhi peraturan dan ketetapan rumah sakit terkait keselamatan.

 Memastikan sarana, lingkungan dan aktifitas kerja dalam kondisi aman .

 Melaporkan setiap adanya insiden dan potensial bahaya disatuan kerja terkait
keselamatan.

 Mampu memberikan briefing atau training terkait dengan keselamatan di


satuan kerjanya

d. Semua Pegawai

 Melakukan tugas sesuai yang diinstruksikan seperti menyusun manajemen


risiko terkait dengan pekerjaan yang dilakukan

 Mematuhi peraturan dan ketetapan rumah sakit terkait keselamatan.

 Menjaga sarana, lingkungan dan aktifitas kerja yang aman dan selamat serta
menjaga kebersihan lingkungan

 Melaporkan setiap adanya insiden dan potensial bahaya di area kerja dan
area lain yang ditemuinya.

Distribusi ketenagaan kepengurusan K3RS RS Permata Hati meliputi :


a. Ketua (tenaga kesehatan atau medis senior yang memahami permasalahan
terkait dengan K3RS)

b. Wakil Ketua K3RS

c. Sekretaris

d. Anggota (terdiri dari kepala ruangan)

2.2 Tugas dan Fungsi Komite K3RS

Tugas dan fungsi Komite K3RS RS Permata Hati adalah sebagai berikut :

a. Tugas pokok

 Merumuskan kebijakan, peraturan, pedoman, petunjuk pelaksanaan dan


prosedur

 Menyusun program K3RS

 Menyusun rekomendasi untuk bahan pertimbangan direktur RS yang


berkaitan dengan K3RS

 Melakukan sosialisasi dan bimbingan teknis terkait kebijakan, pedoman,


panduan dan standar prosedur operasional keselamatan dan kesehatan kerja
RS Permata Hati

 Melaporkan pelaksanaan dan hasil monitoring dan evaluasi tiap kejadian,


maupun berkala tiap bulan dan tahunan kepada direktur RS Permata Hati,
Unit bertanggung jawab kepada Direktur RS Permata Hati.

b. Fungsi

 Pengolahan data dan informasi yang berhubungan dengan K3RS

 Membantu direktur dalam upaya manajemen K3, promosi K3, pelatihan dan
penelitian K3 di RS

 Pengawasan pelaksanaan program kerja K3RS

 Memberikan saran dan pertimbangan berkaitan dengan tindakan korektif


 Koordinasi dengan unit-unit lain yang menjadi anggota K3RS

 Investigator dalam kejadian PAK dan KAK

BAB III

STANDAR FASILITAS
3.1 Denah Ruangan

3.2 Standar Fasilitas

Standar fasilitas yang terkait dengan K3RS di RS Permata Hati adalah sebagai berikut :

a. Standar penggunaan APD

Standar penggunaan APD di masing-masing unit kerja sebagai berikut:

Standar fasilitas yang terkait dengan K3RS di RS Permata Hati adalah sebagai
berikut :

a. Standar penggunaan APD

Standar penggunaan APD di masing-masing unit kerja sebagai berikut:

b.Standard Pengamanan dari Kebakaran

RS Permata Hati telah memiliki fasilitas untuk pengamanan dari bahaya


kebakaran dengan melengkapi APAR.. Lokasi APAR di RS Permata Hati sebagai
berikut :
Lokasi APAR dan Jumlahnya di RS Permata Hati Muara Bungo
BAB IV

TATA LAKSANA PELAYANAN

6.1 Logistik K3

Logistik yang dimiliki oleh RS Permata Hati Muara Bungo terkait dengan upaya
peningkatan kinerja K3RS dalam mencegah terjadinya kebakaran yaitu :

1. APAR

Alat pemadam api ringan (APAR) yang dimiliki oleh RS Permata Hati sebayak
buah

Upaya penyediaan peralatan keselamatan kerja di RS Permata Hati yang dilakukan


dalam rangka mencegah terjadinya kecelakaan kerja yaitu dengan penggunaan alat
pelindung diri, dengan jenis APD sebagai berikut :

1. Sarung tangan (hand gloves)

2. Masker

3. Aprron

4. Earmuff

5. Safety shoes

6. Helmet

7. Face shiled

6.2 Keselamatan Kerja


Untuk memudahkan penyelenggaraan K3RS di RS Permata Hati, maka
langkah-langkah yang dilakukan dalam penerapan sistem manajemen Kesehatan
dan Keselamatan Kerja K3 yaitu sebagai berikut :

6.2.1 Tahap Persiapan

a. Penetapan komitmen

Komitmen dimulai dari direktur. Pernyataan komitmen di susun dalam


bentuk dokumen tertulis yang dinyatakan dalam tindakan nyata, agar
dapat diketahui, dipelajari, di hayati dan dilaksanakan oleh seluruh staf
dan petugas rumah sakit.

b. Penetapan SK organisasi K3RS

c. Pembentukan organisasi/unit pelaksana K3RS

d. Penetapan sumberdaya

6.2.2 Tahap Pelaksanaan

a. Penyuluhan K3 untuk petugas rumah sakit

b. Pelatihan K3RS yang disesuiakan dengan kebutuhan individu dan


kelompok di dalam organisasi rumah sakit. Fungsinya memproses
individu dengan perilaku tertentu agar berperilaku sesuai dengan yang
telah ditentukan sebelumnya sebagai produk akhir dari pelatihan

c. Melaksanakan program K3RS sesuai dengan peraturan yang berlaku


diantaranya :

- Pemeriksaan kesehatan petugas (berkala dan khusus)

- Penyediaan APD

- Penyiapan pedoman pencegahan dan penanggulangan keadaan


darurat
- Penempatan pekerja pada pekerjaan yang sesuai kondisi
kesehatannya

- Pengobatan pekerja yang menderita sakit

- Menciptakan lingkungan kerja yang hygienis secara teratur, melalui


monitoring lingkungan kerja dari hazard yang ada

6.2.3 Tahap Pemantauan dan Evaluasi

Pemantauan dan evaluasi K3RS di RS Permata Hati merupakan salah satu


fungsi manajemen K3 untuk menilai proses kegiatan K3RS di RSPermata
Hati, serta menilai efektifitas dan efisiensi pelaksanaan dalam mencapai
tujuan yang diterapkan.

Pemantauan dan evaluasi meliputi :

a. Pencatatan dan pelaporan K3 yang terintegrasi ke dalam sistem


pelaporan rumah sakit

b. Inspeksi dan pengujian

Inspeksi K3RS merupakan suatu kegiatan untuk menilai keadaan K3RS


secara umum dan tidak terlalu mendalam. Inspeksi K3 di lingkungan
rumah sakit dilakukan secara berkala, sehingga kejadian penyakit akibat
kerja (PAK) dan kecelakaan akibat kerja (KAK) dapat dicegah sedini
mungkin. Kegiatan lain yang dilakukan yaitu pengujian baik terhadap
lingkungan maupun pemeriksaan terhadap pekerja yang beresiko.

c. Pelaksanaan Audit K3RS

Audit K3RS meluputi falsafah dan tujuan, administrasi dan pengelolaan,


karyawan dan pimpinan, fasilitas dan peralatan, kebijakan dan prosedur,
pengembangan karyawan dan program pendidikan, evaluasi dan
pengendalian

Tujuan audit K3RS yaitu :


- Untuk menilai potensi bahaya, gangguan kesehatan dan
keselamatan

- Memastikan dan menilai pelaksanaan pengelolaan K3RS sesuai


ketentuan

- Menentukan langkah pengendalian bahaya potensial serta


pengembangan mutu.

d. Perbaikan dan pencegahan hasil temuan audit diidentifikasi dan dinilai


resikonya untuk direkomendasikan kepada manajemen

e. Secara berkesinambungan manajemen melakukan tinjauan ulang dan


peningkatan perencanaan untuk menjamin kesesuaian serta efektifitas
pencapaian kebijakan dan tujuan K3

4.3. Penutup
Pelaksanaan panduan K3RS RS Permata Hati adalah seluruh jajaran di
lingkungan kerja RS Permata Hati. Penanggung jawab di tingkat unit kerja adalah
Kepala Instansi pada Kepala Bagian yang bertanggung jawab kepada Kabid Pelayanan
dan selanjutnya kepada Direktur RSPermata Hati. Unit K3RS RS Permata Hati
membuat perencanaan, koordinasi pelaksanaan, membantu pengawasan, melaksanakan
evaluasi dan memberikan rekomendasi untuk tindak lanjut program berikutnya.
LAMPIRAN : RAMBU-RAMBU K3
STANDARD PENEMPATAN BOTOL OXYGEN
TABUNG WAJIB
DIIKAT RANTAI
SIMBOL-SIMBOL B3

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup No. 03 Tahun 2008 tentang Tata Cara
pemberian Simbol dan Label Bahan Berbahaya & Beracun
SIMBOL LIMBAH B3 (Standard Kep Bapedal No. 5 Tahun 1995)