Anda di halaman 1dari 49

Laporan Pendahuluan

BAB 2

2.1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003


TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL
Ada beberapa pengertian terkait dalam undang-undang ini yang dapat digunakan
sebagai landasan dalam Penyusunan Masterplan Kawasan Pendidikan, beberapa
pengertian itu adalah :
1. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
2. Jalur pendidikan adalah wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan
potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.
3. Jenjang pendidikan adalah tahapan pendidikan yang ditetapkan berdasarkan
tingkat perkembangan peserta didik, tujuan yang akan dicapai, dan kemampuan
yang dikembangkan.
4. Jenis pendidikan adalah kelompok yang didasarkan pada kekhususan tujuan
pendidikan suatu satuan pendidikan.
5. Satuan pendidikan adalah kelompok layanan pendidikan yang menyelenggarakan
pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal pada setiap jenjang dan
jenis pendidikan.
6. Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang
yangterdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
7. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat
dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
8. Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.

2-1
1
Laporan Pendahuluan

9. Sumber daya pendidikan adalah segala sesuatu yang dipergunakan dalam


penyelenggaraan pendidikan yang meliputi tenaga kependidikan, masyarakat,
dana, sarana, dan prasarana.

Dalam undang-undang ini juga terdapat beberapa prinsip dalam penyelanggaraan


pendidikan, yaitu :
1. Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak
diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, nilai
kultural, dan kemajemukan bangsa.
2. Pendidikan diselenggarakan sebagai satu kesatuan yang sistemik dengan sistem
terbuka dan multimakna.
3. Pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan
pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
4. Pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan, membangun
kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.
5. Pendidikan diselenggarakan dengan mengembangkan budaya membaca,
menulis, dan berhitung bagi segenap warga masyarakat.(6) Pendidikan
diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui
peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

Sedangkan jalur, jenjang, dan jenis pendidikan yang dibahas dalam undang-undang
ini terdiri dari pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi
dan memperkaya. Jenjang pendidikan formal terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan
menengah, dan pendidikan tinggi. Jenis pendidikan mencakup pendidikan umum,
kejuruan, akademik, profesi, vokasi, keagamaan, dan khusus. Jalur, jenjang, dan jenis
pendidikan dapat diwujudkan dalam bentuk satuan pendidikan yang diselenggarakan
oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan/atau masyarakat.
Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal menyediakan sarana dan prasarana
yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan
potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan peserta didik.

2-2
2
Laporan Pendahuluan

2.2. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA


NOMOR 24 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR SARANA DAN PRASARANA
UNTUK SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI), SEKOLAH
MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), DAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA).

2.2.1. Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah


(SD/MI)
A. Satuan Pendidikan
1. Satu SD/MI memiliki minimum 6 rombongan belajar dan maksimum 24
rombongan belajar.
2. Satu SD/MI dengan enam rombongan belajar melayani maksimum 2000
jiwa.
Untuk pelayanan penduduk lebih dari 2000 jiwa dilakukan
penambahan rombongan belajar di sekolah yang telah ada, dan bila
rombongan belajar lebih dari 24 dilakukan pembangunan SD/MI baru.
3. Satu desa/kelurahan dilayani oleh minimum satu SD/MI.
4. Satu kelompok permukiman permanen dan terpencil dengan banyak penduduk
lebih dari 1000 jiwa dilayani oleh satu SD/MI dalam jarak tempuh bagi peserta didik
yang berjalan kaki maksimum 3 km melalui lintasan yang tidak membahayakan.
B. Lahan
1. Lahan untuk satuan pendidikan SD/MI memenuhi ketentuan rasio minimum
luas lahan terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Rasio Minimum Luas Lahan terhadap Peserta Didik


Rasio minimum luas lantai bangunan terhadap peserta didik
Banyak (m2/peserta didik)
No rombongan
belajar Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga
lantai lantai lantai
1 6 12,7 7,0 4,9
2 7-12 11,1 6,0 4,3
3 13-18 10,6 5,6 4,1
4 19-24 10,3 5,5 4,1

2-3
3
Laporan Pendahuluan

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak


peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lahan juga memenuhi
ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel 2.2.

Tabel 2.2 Luas Minimum Lahan

Rasio minimum luas lantai bangunan terhadap peserta didik


Banyak (m2/peserta didik)
rombongan
No Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga
belajar
lantai lantai lantai
1 6 1340 790 710
2 7-12 2270 1240 860
3 13-18 3200 1720 1150
4 19-24 4100 2220 1480

3. Luas lahan yang dimaksud pada angka 1 dan 2 di atas adalah luas lahan yang
dapat digunakan secara efektif untuk membangun prasarana sekolah berupa
bangunan gedung dan tempat bermain/berolahraga.
4. Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan
keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam keadaan
darurat.
5. Kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, tidak berada di dalam garis
sempadan sungai dan jalur kereta api.
6. Lahan terhindar dari gangguan-gangguan berikut.
a. Pencemaran air, sesuai dengan PP RI No. 20 Tahun 1990
tentang Pengendalian Pencemaran Air.
b. Kebisingan, sesuai dengan Kepmen Negara KLH nomor 94/MENKLH/1992
tentang Baku Mutu Kebisingan.
c. Pencemaran udara, sesuai dengan Kepmen Negara KLH Nomor 02/MEN
KLH/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan.
7. Lahan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota atau rencana

2-4
4
Laporan Pendahuluan

lain yang lebih rinci dan mengikat, dan mendapat izin pemanfaatan tanah dari
Pemerintah Daerah setempat.
8. Lahan memiliki status hak atas tanah, dan/atau memiliki izin pemanfaatan
dari pemegang hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku untuk jangka waktu minimum 20 tahun.
C. Bangunan Gedung
1. Bangunan gedung untuk satuan pendidikan SD/MI memenuhi ketentuan
rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel
2.3.

Tabel 2.3 Rasio Minimum Luas Lantai Bangunan terhadap Peserta Didik
Rasio Minimum Luas Lantai Bangunan Terhadap
Banyak Peserta Didik
No Rombongan (m2/peserta didik)
Belajar
Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga
lantai lantai lantai
1 6 3,8 4,2 4,4
2 7-12 3,3 3,6 3,8
3 13-18 3,2 3,4 3,5
4 19-24 3,1 3,3 3,4

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak


peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lantai bangunan juga
memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel 2.4.

Tabel 2.4 Luas Minimum Lantai Bangunan

Banyak Luas minimum lantai bangunan (m2)


No rombongan
belajar Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga
lantai lantai lantai
1 6 400 470 500
2 7-12 680 740 770
3 13-18 960 1030 1050
4 19-24 1230 1330 1380

2-5
5
Laporan Pendahuluan

3. Bangunan gedung memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri dari:


a. koefisien dasar bangunan maksimum 30 %;
b. koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan gedung yang
ditetapkan dalam Peraturan Daerah;
c. jarak bebas bangunan gedung yang meliputi garis sempadan bangunan
gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau
jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan gedung dengan batas-batas
persil, dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang ditetapkan
dalam Peraturan Daerah.
4. Bangunan gedung memenuhi persyaratan keselamatan berikut.
a. Memiliki struktur yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi pembebanan
maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan beban muatan mati,
serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan untuk menahan gempa dan
kekuatan alam lainnya.
b. Dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif untuk mencegah dan
menanggulangi bahaya kebakaran dan petir
5. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kesehatan berikut.
a. Mempunyai fasilitas secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan yang
memadai.
b. Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan gedung untuk memenuhi
c. kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air limbah, kotoran dan
tempat sampah, serta penyaluran air hujan.
d. Bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan gedung
dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
6. Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman,
dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat.
7. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kenyamanan berikut.
a. Bangunan gedung mampu meredam getaran dan kebisingan yang
mengganggu kegiatan pembelajaran.
b. Setiap ruangan memiliki temperatur dan kelembaban yang tidak melebihi
kondisi di luar ruangan.

2-6
6
Laporan Pendahuluan

c. Setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan.


8. Bangunan gedung bertingkat memenuhi persyaratan berikut.
a. Maksimum terdiri dari tiga lantai.
b. Dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan, keamanan,
keselamatan, dan kesehatan pengguna.
9. Bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan berikut.
a. Peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi jika
terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya.
b. Akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi penunjuk
arah yang jelas.
10. Bangunan gedung dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 900 watt.
11. Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan, dan
diawasi secara profesional.
12. Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan PP No.
19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU.
13. Bangunan gedung sekolah baru dapat bertahan minimum 20 tahun.
14. Pemeliharaan bangunan gedung sekolah adalah sebagai berikut.
a. Pemeliharaan ringan, meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian daun
jendela/pintu, penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi air dan listrik,
dilakukan minimum sekali dalam 5 tahun.
b. Pemeliharaan berat, meliputi penggantian rangka atap, rangka plafon, rangka
kayu, kusen, dan semua penutup atap, dilakukan minimum sekali dalam 20
tahun.
15. Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin
penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

D. Ketentuan Prasarana dan Sarana


Sebuah SD/MI sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. ruang kelas,
2. ruang perpustakaan,
3. laboratorium IPA,

2-7
7
Laporan Pendahuluan

4. ruang pimpinan,
5. ruang guru,
6. tempat beribadah,
7. ruang UKS,
8. jamban,
9. gudang,
10. ruang sirkulasi,
11. tempat bermain/berolahraga.

Ketentuan mengenai prasarana tersebut beserta sarana yang ada di dalamnya


dapat dipelajari lebih lanjut dalam Permendiknas No 24 Tahun 2007.

2.2.2. Standar Sarana dan Prasarana Sekolah Menengah Pertama/Madrasah


Tsanawiyah (SMP/MTs)
A. Satuan Pendidikan
1. Satu SMP/MTs memiliki minimum 3 rombongan belajar dan maksimum 24
rombongan belajar.
2. Satu SMP/MTs dengan tiga rombongan belajar melayani maksimum 2000 jiwa.
Untuk pelayanan penduduk lebih dari 2000 jiwa dilakukan penambahan
rombongan belajar di sekolah yang telah ada, dan bila rombongan belajar
lebih dari 24 dilakukan pembangunan SMP/MTs baru.
3. Satu kecamatan dilayani oleh minimum satu SMP/MTs yang dapat menampung
semua lulusan SD/MI di kecamatan tersebut.
4. Satu kelompok permukiman permanen dan terpencil dengan banyak
penduduk lebih dari 1000 jiwa dilayani oleh satu SMP/MTs dalam jarak tempuh
bagi peserta didik yang berjalan kaki maksimum 6 km melalui lintasan yang tidak
membahayakan.
B. Lahan
1. Lahan untuk satuan pendidikan SMP/MTs memenuhi ketentuan rasio minimum
luas lahan terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel 2.5.

2-8
8
Laporan Pendahuluan

Tabel 2.5. Rasio Minimum Luas Lahan terhadap Peserta Didik


Rasio minimum luas lahan terhadap peserta didik
Banyak (m2/peserta didik)

No Rombongan Bangunan Bangunan Bangunan tiga


Belajar satu lantai dua lantai lantai

1 3 22,9 - -
2 4-6 16,0 8,5 -
3 7- 9 13,8 7,5 5,1
4 10-12 12,8 6,8 4,7
5 13-15 12,2 6,6 4,5
6 16-18 11,9 6,3 4,3
7 19-21 11,6 6,2 4,3
8 22-24 11,4 6,1 4,3

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak


peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lahan juga memenuhi
ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel 2.6.

Tabel 2.6. Luas Minimum Lahan

Banyak Luas minimum lahan (m2)

Rombongan Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga


No
Belajar lantai lantai lantai
1 3 1440 - -
2 4-6 1840 1310 -
3 7- 9 2300 1380 1260
4 10-12 2770 1500 1310
5 13-15 3300 1780 1340
6 16-18 3870 2100 1450
7 19-21 4340 2320 1600
8 22-24 4870 2600 1780

3. Luas lahan yang dimaksud pada angka 1 dan 2 di atas adalah luas lahan yang
dapat digunakan secara efektif untuk membangun prasarana sekolah berupa
bangunan gedung dan tempat bermain/berolahraga

2-9
9
Laporan Pendahuluan

4. Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan


keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam keadaan
darurat.
5. Kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, tidak berada di dalam garis
sempadan sungai dan jalur kereta api.
6. Lahan terhindar dari gangguan-gangguan berikut.
a. Pencemaran air, sesuai dengan PP RI No. 20 Tahun 1990 tentang
Pengendalian Pencemaran Air.
b. Kebisingan, sesuai dengan Kepmen Negara KLH nomor 94/MENKLH/1992
tcntang Baku Mutu Kebisingan.
c. Pencemaran udara, sesuai dengan Kepmen Negara KLH Nomor 02/MEN
KLH/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan.
7. Lahan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Peraturan Daerah
tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota atau rencana lain
yang lebih rinci dan mengikat, dan mendapat izin pemanfaatan tanah dari
Pemerintah Daerah setempat.
8. Lahan memiliki status hak atas tanah, dan/atau memiliki izin pemanfaatan
dari pemegang hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku untuk jangka waktu minimum 20 tahun.

C. Bangunan Gedung
1. Bangunan gedung untuk satuan pendidikan SMP/MTs memenuhi ketentuan
rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel
2.7.
Tabel 2.7. Rasio Minimum Luas Lantai Bangunan terhadap Peserta Didik
Rasio minimum luas lantai bangunan terhadap
Banyak peserta didik
No Rombongan (m2/peserta didik)
Belajar

Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga


lantai lantai lantai
1 3 6,9 - -
2 4-6 4,8 5,1 -

2-10
10
Laporan Pendahuluan

3 7-9 4,1 4,5 4,6


4 10-12 3,8 4,1 4,2
5 13-15 3,7 3,9 4,1
6 16-18 3,6 3,8 3,9
7 19-21 3,5 3,7 3,8
8 22-24 3,4 3,6 3,7

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan banyak


peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lantai bangunan juga
memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel 2.8.

Tabel 2.8. Luas Minimum Lantai Bangunan

Luas minimum lantai bangunan (m2)


Banyak
Rombongan Bangunan satu Bangunan dua Bangunan tiga
No
Belajar lantai lantai lantai

1 3 430 - -
2 4-6 550 610 -
3 7-9 690 750 780
4 10-12 830 900 930
5 13-15 990 1060 1090
6 16-18 1160 1260 1300
7 19-21 1300 1390 1440
8 22-24 1460 1560 1600

3. Bangunan gedung memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri dari:


a. koefisien dasar bangunan maksimum 30 %;
b. koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan gedung
yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah;
c. jarak bebas bangunan gedung yang meliputi garis sempadan bangunan
gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api,
dan/atau jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan gedung

2-11
11
Laporan Pendahuluan

dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar


halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
4. Bangunan gedung memenuhi persyaratan keselamatan berikut.
a. Memiliki struktur yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi
pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan
beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan
untuk menahan gempa dan kekuatan alam lainnya.
b. Dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif untuk mencegah
dan menanggulangi bahaya kebakaran dan petir.
5. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kesehatan berikut.
a. Mempunyai fasilitas secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan
yang memadai.
b. Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan gedung untuk
memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air
limbah, kotoran dan tempat sampah, serta penyaluran air hujan.
c. Bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan
gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
6. Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah, aman,
dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat.
7. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kenyamanan berikut.
a. Bangunan gedung mampu meredam getaran dan kebisingan yang
mengganggu kegiatan pembelajaran.
b. Setiap ruangan memiliki temperatur dan kelembaban yang tidak
melebihi kondisi di luar ruangan.
c. Setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan.
8. Bangunan gedung bertingkat memenuhi persyaratan berikut.
a. Maksimum terdiri dari tiga lantai.
b. Dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan, keamanan,
keselamatan, dan kesehatan pengguna.
9. Bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan berikut.

2-12
12
Laporan Pendahuluan

a. Peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur evakuasi jika
terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya.
b. Akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi penunjuk
arah yang jelas.
10. Bangunan gedung dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum
1300 watt.
11. Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang,
dilaksanakan, dan diawasi secara profesional.
12. Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai
dengan PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada
Standar PU.
13. Bangunan gedung sekolah baru dapat bertahan minimum 20 tahun.
14. Pemeliharaan bangunan gedung sekolah adalah sebagai berikut.
a. Pemeliharaan ringan, meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian
daun jendela/pintu, penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi air
dan listrik, dilakukan minimum sekali dalam 5 tahun.
b. Pemeliharaan berat, meliputi penggantian rangka atap, rangka plafon,
rangka kayu, kusen, dan semua penutup atap, dilakukan minimum sekali
dalam 20 tahun.
15. Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin
penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

D. Kelengkapan Prasarana dan Sarana


Sebuah SMP/MTs sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. ruang kelas,
2. ruang perpustakaan,
3. ruang laboratorium IPA,
4. ruang pimpinan,
5. ruang guru,
6. ruang tata usaha,
7. tempat beribadah,
8. ruang konseling,

2-13
13
Laporan Pendahuluan

9. ruang UKS,
10. ruang organisasi kesiswaan,
11. jamban,
12. gudang,
13. ruang sirkulasi,
14. tempat bermain/berolahraga.

Ketentuan mengenai ruang-ruang tersebut beserta sarana yang ada di setiap


ruang diatur dalam standar Permendiknas no 24 Tahun 2007.

2-14
14
Laporan Pendahuluan
2.2.3. Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Menengah Atas/Madrasah
Aliyah (SMA/MA).
A. Satuan Pendidikan
1. Satu SMA/MA memiliki minimum 3 rombongan belajar dan maksimum
27 rombongan belajar.
2. Satu SMA/MA dengan tiga rombongan belajar melayani maksimum 6000
jiwa. Untuk pelayanan penduduk lebih dari 6000 jiwa dapat dilakukan
penambahan rombongan belajar di sekolah yang telah ada atau
pembangunan SMA/MA baru.
B. Lahan
1. Lahan untuk satuan pendidikan SMA/MA memenuhi ketentuan rasio
minimum luas lahan terhadap peserta didik seperti tercantum pada Tabel
2.9.
Tabel 2.9. Rasio Minimum Luas Lahan terhadap Peserta Didik
Rasio Minimum Luas Lahan Terhadap
Peserta Didik
Banyak
Rombongan (m2/peserta didik)
No
Belajar
Bangunan Bangunan Bangunan tiga
satu lantai dua lantai lantai
1 3 36,5 - -
2 4-6 22,8 12,2 -
3 7- 9 18,4 9,7 6,7
4 10-12 16,3 8,7 6,0
5 13-15 14,9 7,9 5,4
6 16-18 14,0 7,5 5,1
7 19-21 13,5 7,2 4,9
8 22-24 13,2 7,0 4,8
9 25-27 12,8 6,9 4,7

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan


banyak peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lahan
juga memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum pada Tabel
2.10.

2-15
15
Laporan Pendahuluan
Tabel 2.10. Luas Minimum Lahan
Banyak Luas minimum lahan (m2)
No Rombongan Bangunan Bangunan Bangunan
Belajar satu lantai dua lantai tiga lantai
1 3 2170 - -
2 4-6 2570 1420 -
3 7- 9 3070 1650 1340
4 10-12 3600 1920 1400
5 13-15 4070 2190 1520
6 16-18 4500 2420 1670
7 19-21 5100 2720 1870
8 22-24 5670 3050 2100
9 25-27 6240 3340 2290

3. Luas lahan yang dimaksud pada angka 1 dan 2 di atas adalah luas
lahan yang dapat digunakan secara efektif untuk membangun prasarana
sekolah berupa bangunan gedung dan tempat bermain/berolahraga.
4. Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan
keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam
keadaan darurat.
5. Kemiringan lahan rata-rata kurang dari 15%, tidak berada di dalam
garis sempadan sungai dan jalur kereta api.
6. Lahan terhindar dari gangguan-gangguan berikut.
a. Pencemaran air, sesuai dengan PP RI No. 20 Tahun 1990
tentang Pengendalian Pencemaran Air.
b. Kebisingan, sesuai dengan Kepmen Negara KLH nomor
94/MENKLH/1992 tcntang Baku Mutu Kebisingan.
c. Pencemaran udara, sesuai dengan Kepmen Negara KLH Nomor
02/MEN KLH/1988 tentang Pedoman Penetapan Baku Mutu
Lingkungan.
7. Lahan sesuai dengan peruntukan lokasi yang diatur dalam Peraturan
Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota atau
rencana lain yang lebih rinci dan mengikat, dan mendapat izin
pemanfaatan tanah dari Pemerintah Daerah setempat.
2-16
16
Laporan Pendahuluan
8. Lahan memiliki status hak atas tanah, dan/atau memiliki izin
pemanfaatan dari pemegang hak atas tanah sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku untuk jangka waktu minimum 20
tahun.
C. Bangunan Gedung
1. Bangunan gedung untuk satuan pendidikan SMA/MA memenuhi ketentuan
rasio minimum luas lantai terhadap peserta didik seperti tercantum pada
Tabel 2.11.

Tabel 2.11. Rasio Minimum Luas Lantai Bangunan terhadap Peserta Didik
Rasio Minimum Luas Lantai Bangunan Terhadap
Peserta Didik
Banyak
Rombongan (m2/peserta didik)
No Belajar
Bangunan Bangunan Bangunan tiga
satu lantai dua lantai lantai
1 3 10,9 - -
2 4-6 6,8 7,3 -
3 7-9 5,5 5,8 6,0
4 10-12 4,9 5,2 5,4
5 13-15 4,5 4,7 4,9
6 16-18 4,2 4,5 4,6
7 19-21 4,1 4,3 4,4
8 22-24 3,9 4,2 4,3
9 25-27 3,9 4,1 4,1

2. Untuk satuan pendidikan yang memiliki rombongan belajar dengan


banyak peserta didik kurang dari kapasitas maksimum kelas, lantai
bangunan juga memenuhi ketentuan luas minimum seperti tercantum
pada Tabel 2.12.

2-17
17
Laporan Pendahuluan
Tabel 2.12. Luas Minimum Lantai Bangunan

Banyak Luas minimum lantai bangunan (m2)


No Rombongan Bangunan Bangunan Bangunan tiga
Belajar satu lantai dua lantai lantai
1 3 650 - -
2 4-6 770 840 -
3 7-9 920 990 1020
4 10-12 1080 1150 1180
5 13-15 1220 1310 1360
6 16-18 1350 1450 1500
7 19-21 1530 1630 1680
8 22-24 1700 1830 1890
9 25-27 1870 2000 2060

3. Bangunan gedung memenuhi ketentuan tata bangunan yang terdiri


dari:
a. Koefisien dasar bangunan maksimum 30 %;
b. Koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan
gedung yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah;
c. jarak b e b a s bangunan gedung yang meliputi garis sempadan
bangunan gedung dengan as jalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan
kereta api, dan/atau jaringan tegangan tinggi, jarak antara bangunan
gedung dengan batas-batas persil, dan jarak antara as jalan dan pagar
halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah.
4. Bangunan gedung memenuhi persyaratan keselamatan berikut.
a. Memiliki struktur yang stabil dan kukuh sampai dengan kondisi
pembebanan maksimum dalam mendukung beban muatan hidup dan
beban muatan mati, serta untuk daerah/zona tertentu kemampuan
untuk menahan gempa dan kekuatan alam lainnya.
b. Dilengkapi sistem proteksi pasif dan/atau proteksi aktif untuk mencegah
dan menanggulangi bahaya kebakaran dan petir.

2-18
18
Laporan Pendahuluan
5. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kesehatan berikut.
a. Mempunyai fasilitas secukupnya untuk ventilasi udara dan pencahayaan
yang memadai.
b. Memiliki sanitasi di dalam dan di luar bangunan gedung untuk
memenuhi kebutuhan air bersih, pembuangan air kotor dan/atau air
limbah, kotoran dan tempat sampah, serta penyaluran air hujan.
c. Bahan bangunan yang aman bagi kesehatan pengguna bangunan
gedung dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.
6. Bangunan gedung menyediakan fasilitas dan aksesibilitas yang mudah,
aman, dan nyaman termasuk bagi penyandang cacat.
7. Bangunan gedung memenuhi persyaratan kenyamanan berikut.
a. Bangunan gedung mampu meredam getaran dan kebisingan yang
mengganggu kegiatan pembelajaran.
b. Setiap ruangan memiliki temperatur dan kelembaban yang tidak
melebihi kondisi di luar ruangan.
c. Setiap ruangan dilengkapi dengan lampu penerangan.
8. Bangunan gedung bertingkat memenuhi persyaratan berikut.
a. Maksimum terdiri dari tiga lantai.
b. Dilengkapi tangga yang mempertimbangkan kemudahan,
keamanan, keselamatan, dan kesehatan pengguna.
9. Bangunan gedung dilengkapi sistem keamanan berikut.
a. Peringatan bahaya bagi pengguna, pintu keluar darurat, dan jalur
evakuasi jika terjadi bencana kebakaran dan/atau bencana lainnya.
b. Akses evakuasi yang dapat dicapai dengan mudah dan dilengkapi
penunjuk arah yang jelas.
10. Bangunan gedung dilengkapi instalasi listrik dengan daya minimum 1300
watt.
11. Pembangunan gedung atau ruang baru harus dirancang, dilaksanakan,
dan diawasi secara profesional.
12. Kualitas bangunan gedung minimum permanen kelas B, sesuai dengan
PP No. 19 Tahun 2005 Pasal 45, dan mengacu pada Standar PU.
13. Bangunan gedung sekolah baru dapat bertahan minimum 20 tahun.

2-19
19
Laporan Pendahuluan
14. Pemeliharaan bangunan gedung sekolah adalah sebagai berikut.
a. Pemeliharaan ringan, meliputi pengecatan ulang, perbaikan sebagian
daun jendela/pintu, penutup lantai, penutup atap, plafon, instalasi
air dan listrik, dilakukan minimum sekali dalam 5 tahun.
b. Pemeliharaan berat, meliputi penggantian rangka atap, rangka
plafon, rangka kayu, kusen, dan semua penutup atap, dilakukan
minimum sekali dalam 20 tahun.
15. Bangunan gedung dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin
penggunaan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
D. Kelengkapan Prasarana dan Sarana
Sebuah SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:
1. ruang kelas,
2. ruang perpustakaan,
3. ruang laboratorium biologi,
4. ruang laboratorium fisika,
5. ruang laboratorium kimia,
6. ruang laboratorium komputer,
7. ruang laboratorium bahasa,
8. ruang pimpinan,
9. ruang guru,
10. ruang tata usaha,
11. tempat beribadah,
12. ruang konseling,
13. ruang UKS,
14. ruang organisasi kesiswaan,
15. jamban,
16. gudang,
17. ruang sirkulasi,
18. tempat bermain/berolahraga.

2-20
20
Laporan Pendahuluan
Ketentuan mengenai ruang-ruang tersebut beserta sarana yang ada di
setiap ruangdapat dilihat lebih detail dalam Permendiknas No.24 Tahun
2007.

2.3. STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-1733-2004 TENTANG TATA


CARA PERENCANAAN LINGKUNGAN PERUMAHAN DI PERKOTAAN.
Dalam SNI 03-1733-2004 ini dijabarkan terkait sarana pendidikan yang harus
dipenuhi dalam suatu kawasan/lingkungan perumahan.
A. Deskripsi umum
Dasar penyediaan sarana pendidikan adalah untuk melayani setiap unit
administrasi pemerintahan baik yang informal (RT, RW) maupun yang formal
(Kelurahan, Kecamatan), dan bukan didasarkan semata-mata pada jumlah
penduduk yang akan dilayani oleh sarana tersebut.
Dasar penyediaan sarana pendidikan ini juga mempertimbangkan pendekatan
desain keruangan unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada. Tentunya hal ini
dapat terkait dengan bentukan grup bangunan/blok yang nantinya terbentuk sesuai
konteks lingkungannya. Sedangkan penempatan penyediaan fasilitas ini akan
mempertimbangkan jangkauan radius area layanan terkait dengan kebutuhan dasar
sarana yang harus dipenuhi untuk melayani pada area tertentu.
Perencanaan sarana pendidikan harus didasarkan pada tujuan pendidikan
yang akan dicapai, dimana sarana pendidikan dan pembelajaran ini akan
menyediakan ruang belajar harus memungkinkan siswa untuk dapat
mengembangkan pengetahuan, keterampilan, serta sikap secara optimal. Oleh
karena itu dalam merencanakan sarana pendidikan harus memperhatikan:
a. berapa jumlah anak yang memerlukan fasilitas ini pada area perencanaan;
b. optimasi daya tampung dengan satu shift;
c. effisiensi dan efektifitas kemungkinan pemakaian ruang belajar secara
terpadu;
d. pemakaian sarana dan prasarana pendukung;
e. keserasian dan keselarasan dengan konteks setempat terutama dengan
berbagai jenis sarana lingkungan lainnya.

2-21
21
Laporan Pendahuluan
B. Jenis sarana
Sarana pendidikan yang diuraikan dalam standar ini hanya menyangkut
bidang pendidikan yang bersifat formal / umum, yaitu meliputi tingkat prabelajar
(Taman Kanak-kanak); tingkat dasar (SD/MI); tingkat menengah (SLTP/MTs dan
SMU).
Adapun penggolongan jenis sarana pendidikan dan pembelajaran ini meliputi:
a. taman kanak-kanak (TK), yang merupakan penyelenggaraan kegiatan
belajar dan mengajar pada tingkatan pra belajar dengan lebih
menekankan pada kegiatan bermain, yaitu 75%, selebihnya bersifat
pengenalan;
b. sekolah dasar (SD), yang merupakan bentuk satuan pendidikan dasar
yang menyelenggarakan program enam tahun;
c. sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), yang merupakan bentuk
satuan pendidikan dasar yang menyelenggarakan proram tiga tahun
sesudah sekolah dasar (SD);
d. sekolah menengah umum (SMU), yang merupakan satuan pendidikan
yang menyelenggarakan program pendidikan menengah mengutamakan
perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan siswa untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi;
e. sarana pembelajaran lain yang dapat berupa taman bacaan ataupun
perpustakaan umum lingkungan, yang dibutuhkan di suatu lingkungan
perumahan sebagai sarana untuk meningkatkan minat membaca,
menambah ilmu pengetahuan, rekreasi serta sarana penunjang
pendidikan.
C. Kebutuhan Ruang dan Lahan
Berbagai pertimbangan yang harus diperhatikan pada penentuan kebutuhan
ruang dan lahan adalah:
a. Penyediaan jumlah sarana pendidikan dan pembelajaran yang harus
disediakan didasarkan pada Tabel 2.13.
b. Kebutuhan sarana pendidikan prabelajar serta pendidikan tingkat dasar
dan menengah, harus direncanakan berdasarkan perhitungan proyeksi
jumlah siswa dengan cara sebagaimana Rumus 2, Rumus 3, Rumus 4

2-22
22
Laporan Pendahuluan
dan Rumus 5, yang akan menentukan tipe sekolah serta kebutuhan
jumlah ruang, luas ruang dan luas lahan.Rumus 2, Rumus 3, Rumus 4 dan
Rumus 5, dipergunakan juga untuk menghitung penambahan ruang-ruang
belajar pada sekolah-sekolah yang sudah ada.
c. Perencanaan kebutuhan ruang dan lahan untuk sarana pendidikan
didasarkan tipe masing-masing sekolah yang dibedakan menurut:
1) jumlah rombongan belajar;
2) jumlah peserta didik;
3) jumlah tenaga kependidikan; kepala sekolah, wakil kepala sekolah,
guru, dan tenaga tata usaha;
4) kebutuhan ruang belajar, ruang kantor, dan ruang penunjang;
5) luas tanah, dan lingkungan/lokasi sekolah.
d. Kebutuhan luas lantai dan lahan untuk masing-masing sarana
pendidikan tergantung pada tipe sekolah untuk masing-masing
tingkatan pendidikan.
Untuk perencanaan bangunan SMU, mengacu pada SNI-03-1730-2002
tentang Tata cara perencanaan bangunan gedung sekolah menengah umum.
Dasar penyediaan ini juga akan mempertimbangkan pendekatan desain keruangan
unit-unit atau kelompok lingkungan yang ada beserta posisi pusat lingkungan yang
ada. Tentunya hal ini dapat terkait dengan bentukan grup bangunan / blok yang
nantinya lahir sesuai konteks lingkungannya.

Tabel 2.13. Kebutuhan Program Ruang Minimum


No Jenis Sarana Program Ruang
1. Taman Kanak-kanak Memiliki minimum 2 ruang kelas @ 25-30 murid.
Dilengkapi dengan ruang-ruang lain dan ruang
terbuka/bermain ±700 m
2. Sekolah Dasar Memiliki minimum 6 ruang kelas @ 40 murid
3. SLTP Dilengkapi dengan ruang-ruang lain dan ruang
4. SMU terbuka / bermain ±3000-7000 m2
5. Taman Bacaan Memiliki minimum 1 ruang baca @ 15 murid

2-23
23
Laporan Pendahuluan

Tabel 2.14 Kebutuhan Sarana Pendidikan dan Pembelajaran


No Jenis Sarana Jumlah Kebutuhan Per Standart kriteria Keterangan
2
Penduduk Satuan Sarana (m /jiwa)
Pendukung Luas Lantai Luas Lahan Radius Lokasi dan
(Jiwa) Min. (m2) Min. (m2) Pencapaian Penyelesaian
1 Taman 1.250 216 0,28 m2/j 500 m’ Di tengah 2 rombongan
Kanakkanak termasuk kelompok warga. prabelajar @
rumah Tidak menyeberang 60 murid dapat
penjaga jalan raya. bersatu
36 m2 Bergabung dengan dengan sarana
taman lain
Sekolah 1.600 633 2.000 1,25 1.000 m’ sehingga terjadi
Dasar pengelompokan
kegiatan.
SLTP 4.800 2.282 9.000 1,88 1.000 m’ Dapat dijangkau Kebutuhan
SMU 4.800 3.835 12.500 2,6 3.000 m’ dengan kendaraan harus
umum. Disatukan berdasarkan
dengan lapangan olah perhitungan
raga. Tidak selalu dengan rumus
harus di pusat 2, 3 dan 4.
lingkungan. Dapat digabung
dengan sarana
pendidikan lain,
mis. SD, SMP,

2-24
Laporan Pendahuluan

No Jenis Sarana Jumlah Kebutuhan Per Standart kriteria Keterangan


Penduduk Satuan Sarana (m2/jiwa)
Pendukung Luas Lantai Luas Lahan Radius Lokasi dan
(Jiwa) Min. (m2) Min. (m2) Pencapaian Penyelesaian
SMA dalam
satu komplek
Taman 2.500 72 150 0,09 1.000 m’ Di tengah
Bacaan kelompok warga
tidak menyeberang
jalan
lingkungan.

Tabel 2.15. Pembakuan Tipe SD/MI, SLTP/MTs dan SMU


Tingkat Pendidikan Tipe Sekolah Rombongan Belajar Peserta Didik (siswa) Lokasi
SD/MI Tipe A 12 480
Tipe B 9 360
Dekat dengan
Tipe C 6 240
lokasi ruang
SLTP/MTs Tipe A 27 1.080
terbuka
Tipe B 18 720
lingkungan
Tipe C 9 360
SMU Tipe A 27 1.080

2-25
Laporan Pendahuluan

Tingkat Pendidikan Tipe Sekolah Rombongan Belajar Peserta Didik (siswa) Lokasi
Tipe B 18 720
Tipe C 9 360

Tabel 2.16. Kebutuhan Ruang Belajar Pada SD, SLTP dan SMU

2-26
Laporan Pendahuluan

Tabel 2.17. Kebutuhan Luas Lantai dan Lahan Sarana Pendidikan Menurut Tipe Sekolah

2-27
Laporan Pendahuluan

2.4. RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PEGUNUNGAN


BINTANG TAHUN 2011 – 2031.
A. Tujuan Penataan ruang
Sesuai dengan tujuan penataan ruang nasional, visi dan misi pembangunan
wilayah kabupaten, karakteristik wilayah kabupaten, isu strategis, dan kondisi
objektif yang diinginkan, maka tujuan penataan ruang Kabupaten Pegunungan
Bintang ini adalah:
“Mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Pegunungan Bintang sebagai
Beranda Depan NKRI yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan
berbasis pada agribisnis, agroforestry dan ekowisata melalui pengembangan
komoditas keunggulan lokal dan menggunakan teknologi tepat guna dengan
memperhatikan mitigasi bencana”.
B. Kebijakan Penataan Ruang
Untuk mewujudkan tujuan penataan ruang maka ditetapkan kebijakan dan
strategi penataan ruang. Kebijakan penataan ruang Kabupaten Pegunungan
Bintang meliputi:
1. Pengembangan sistem pusat permukiman dan pusat pelayanan ekonomi,
sosial, dan budaya guna mewujudkan pemerataan hasil-hasil pembangunan,
keterjangkauan pelayanan umum, dan peningkatan dinamika ekonomi;
2. Pengembangan prasarana wilayah guna membuka keterisolasian wilayah
terpencil dan wilayah perbatasan serta meningkatkan hubungan antar
kabupaten, antar distrik, dan antar kampung dengan satuan permukiman
lainnya;
3. Pemantapan fungsi lindung pada kawasan yang dilestarikan atau mempunyai
limitasi untuk dikembangkan/dibudidayakan;
4. Pengoptimalan pengembangan potensi lokal dan kawasan-kawasan budidaya
berdasarkan daya dukung lingkungan fisik dan kearifan lokal melalui
pemanfaatan teknologi tepat guna;
5. Peningkatan fungsi kawasan strategis kabupaten khususnya kawasan strategis
perekonomian dan pelayanan sosial budaya;

2-28
28
Laporan Pendahuluan
6. Perlindungan terhadap hak masyarakat adat secara pasti dengan memberikan
pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat adat;
7. Pemantapan fungsi pertahanan dan keamanan kawasan perbatasan dengan
mengedepankan kesejahteraan masyarakat untuk menciptakan keamanan dan
stabilitas kawasan perbatasan Negara; dan
8. Perlindungan kawasan rawan bencana alam melalui pengembangan sistem
mitigasi bencana terpadu untuk melindungi manusia dan kegiatannya dari
bencana alam.

C. Kebijakan Penataan Ruang


Adapun strategi penataan ruang Kabupaten Pegunungan Bintang meliputi:
(1) Strategi untuk mengembangkan sistem pusat permukiman dan pusat
pelayanan ekonomi, sosial, dan budaya guna mewujudkan pemerataan hasil-
hasil pembangunan, keterjangkauan pelayanan umum, dan peningkatan
dinamika ekonomi, terdiri atas:
a. Menetapkan Sub Satuan Wilayah Pengembangan (SSWP) berdasarkan
potensi pengembangannya;
b. Memantapkan peran Batom sebagai Pusat Kegiatan Strategis Nasional
(PKSN) dari sudut kepentingan pertahanan keamanan;
c. Memantapkan peran Kota Oksibil sebagai ibukota kabupaten dan Pusat
Kegiatan Lokal (PKL);
d. Mengembangkan peran Teriaplu sebagai Pusat Kegiatan Lokal Promosi
(PKLp) sebagai pusat pelayanan di bagian utara kabupaten.
e. Mengembangan dan memantapkan peran ibukota distrik dan pusat-pusat
permukiman utama yakni Pusat Pelayanan Kawasan (PPK) dan Pusat
Pelayanan Lokal (PPL) yang ada sebagai pusat pengembangan demi
mewujudkan pemerataan pembangunan dan pelayanan sosial ekonomi;
f. Mengembangkan keterkaitan antar distrik dan antar pusat permukiman
secara fungsional, melalui pengembangan fungsi distrik dan pusat-pusat
permukiman; dan
g. Mengembangkan pusat-pusat permukiman atau kampung-kampung yang
terisolasi melalui peningkatan aksesibilitas dan penyediaan fasilitas

2-29
29
Laporan Pendahuluan
kebutuhan dasar sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat
lokal baik pada bidang ekonomi, sosial, dan budaya.

(2) Strategi untuk mengembangkan prasarana wilayah guna membuka


keterisolasian wilayah terpencil dan wilayah perbatasan serta meningkatkan
hubungan antar kabupaten, antar distrik, dan antar kampung dengan satuan
permukiman lainnya, terdiri atas:
a. Mengembangkan sistem prasarana transportasi udara, darat, dan sungai
untuk meningkatkan aksesibiltas, intensitas dan kualitas hubungan ke luar
kabupaten, antar distrik, antar kampung/antar satuan permukiman, sampai
pada permukiman-permukiman terpencil di wilayah pegunungan maupun
di kawasan perbatasan negara tetangga (PNG);
b. Mengutamakan dan meningkatkan peran transportasi udara melalui
bandara perintis dan transportasi sungai melalui dermaga sungai sebelum
dilayani oleh transportasi jalan raya;
c. Mengembangkan keterpaduan antar moda transportasi darat, sungai, dan
udara untuk mewujudkan pemerataan perkembangan wilayah dan
meningkatkan keefektifan arus atau pergerakan orang, barang dan jasa;
d. Mengembangkan prasarana telekomunikasi terutama di kawasan yang
terpencil;
e. Mengembangkan sistem prasarana pengairan untuk menunjang
pengembangan kawasan pertanian dan penyediaan energi listrik; dan
f. Mengembangkan sistem energi dan kelistrikan yang ramah lingkungan
guna mewujudkan kemandirian energi, ketersediaan, pemenuhan
kebutuhan dan perluasan jangkauan pelayanan listrik dengan harga yang
terjangkau untuk seluruh masyarakat.

(3) Strategi untuk memantapkan fungsi lindung pada kawasan yang dilestarikan
atau mempunyai limitasi untuk dikembangkan/dibudidayakan, terdiri atas:
a. Meningkatkan fungsi kawasan lindung dan mengendalikan pemanfaatan
ruang pada kawasan lindung agar sesuai fungsi yang telah ditetapkan;

b. Melindungi Kawasan Suaka Alam Mamberamo-Foja dan Puncak


Jaya/Pegunungan Bintang, serta hutan lindung dari tekanan perubahan

2-30
30
Laporan Pendahuluan
dan / atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh kegiatan agar tetap
mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;
dan

c. Melindungi wilayah sungai di Kabupaten Pegunungan Bintang sebagai


wilayah sungai strategis nasional dan lintas Negara.

(4) Strategi untuk mengoptimalkan pengembangan potensi lokal dan kawasan-


kawasan budidaya berdasarkan daya dukung lingkungan fisik dan kearifan
lokal melalui pemanfaatan teknologi tepat guna, terdiri atas:
a. Mengembangkan agribisnis, agroforestry dan ekowisata sesuai dengan
potensi sumberdaya alam, daya dukung lingkungan, dan kearifan lokal
yang didukung oleh penyediaan sarana dan prasarana pendukung;

b. Menggunakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk


pemanfaatan pengelolaan komoditas lokal;
c. Mengembangkan kegiatan budi daya unggulan dan komoditas unggulan
beserta prasarana secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong
pengembangan perekonomian kawasan; dan

d. Mengembangkan kawasan wisata budaya dan alam sebagai bentuk


pelestarian kebudayaan dan penigkatan ekonomi dengan tetap
memperhatikan daya dukung lingkungan.

(5) Strategi untuk meningkatkan fungsi kawasan strategis khususnya kawasan


strategis perekonomian dan pelayanan sosial budaya, terdiri atas:
a. Mengembangan wilayah-wilayah prioritas untuk mengakomodasikan
perkembangan sektor-sektor strategis melalui studi yang lebih mendalam
serta upaya penyiapan penataan ruang;
b. Mengembangkan kawasan perkotaan dan kawasan pengembangan
agribisnis dan agroforestry untuk menciptakan kemadirian ekonomi;
c. Mempertahankan keunikannya kawasan kekuasaan adat dan budaya
sebagai sentra pengembangan budaya dan keberlangsungan identitasnya
peradaban; dan

2-31
31
Laporan Pendahuluan
d. Mengembangkan sarana dan prasarana pendukung pada setiap kawasan
strategis.
(6) Strategi untuk perlindungan terhadap hak masyarakat adat secara pasti
dengan memberikan pengakuan terhadap hak ulayat masyarakat adat, terdiri
atas :
a. Mengarahkan pengelolaan tanah ulayat yang dapat membantu masyarakat
adat secara nyata keluar dari kesulitan;
b. Memberikan tanggungjawab kemandirian kepada masyarakat berdasarkan
pengalaman sendiri secara empirik kondisional, dan memberdayakan sikap
independensi peran serta masyarakat agar tercipta hasil kerja dan hasil
guna sesuai dengan pandangan hidupnya;
c. Menumbuhkan kesadaran ilmiah masyarakat secara persuasif untuk
menggerakkan semangat kebersamaan, kreativitas masyarakat dan
bersedia melakukan perubahan-perubahan terhadap tradisi-tradisi yang
menghambat; dan
d. Membangun kemitraan dengan pemerintah, kaum intelektual, dan
lembaga-lembaga terkait, serta upaya legitimasi program agar dapat
memberikan jaminan terhadap prioritas hak-hak masyarakat, dan
pemerataan kesempatan usaha.
(7) Strategi untuk pemantapan fungsi pertahanan dan keamanan kawasan
perbatasan dengan mengedepankan kesejahteraan masyarakat untuk
menciptakan keamanan dan stabilitas kawasan perbatasan Negara; dan
a. Meningkatkan prasarana dan sarana penunjang kegiatan sosial ekonomi
masyarakat sebagai upaya untuk meningkatkan aksesibilitas dan
pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat di kawasan perbatasan;
b. Mengembangkan distrik-distrik perbatasan dan kampung-kampung
perbatasan sebagai pintu gerbang negara berdasarkan kesepakatan
dengan negara tetangga;
c. Mengembangkan kegiatan ekonomi dan pendidikan terpadu di kawasan
perbatasan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat kedua Negara; dan
d. Meningkatkan sarana dan prasarana pertahanan dan keamanan pada
pintu-pintu perbatasan negara.

2-32
32
Laporan Pendahuluan
(8) Strategi untuk perlindungan kawasan rawan bencana alam melalui
pengembangan sistem mitigasi bencana terpadu untuk melindungi manusia
dan kegiatannya dari bencana alam, terdiri atas:
a. Menentukan kawasan rawan bencana berdasarkan kriteria yang telah
ditetapkan berdasarkan norma, peraturan, standar, dan ketentuan;
b. Menentukan distribusi peruntukan ruang dalam suatu kawasan rawan
bencana yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan
peruntukan ruang untuk fungsi budidaya yang dilakukan melalui kajian
terhadap tingkat kerawanan bahaya serta tingkat risiko yang dihadapi suatu
wilayah terhadap suatu jenis bahaya;
c. Menetapkan rencana pengelolaan kawasan rawan bencana alam sebagai
sebuah acuan yang harus digunakan dalam pemanfaatan ruang pada
kawasan rawan bencana; dan
d. Memberikan sosialisasi, penyuluhan, pelatihan dan pendidikan kepada
semua stakeholder menyangkut kebencanaan dari mulai tindakan
pencegahan, tindakan pada saat bencana terjadi, dan tindakan setelah
bencana terjadi.

D. Rencana Sistem Perkotaan


Berdasarkan pertimbangan teknis penyusunan RTRW Kabupaten
Pegunungan Bintang, dalam upaya untuk menciptakan integrasi antarwilayah di
Kabupaten Pegunungan Bintang dan mendorong pertumbuhan perekonomian
wilayah maka terdapat usulan penetapan pusat kegiatan kegiatan baru. Sasaran
rencana pengembangan sistem perkotaan di Kabupaten Pegunungan Bintang
adalah menetapkan PKLp, PPK, dan PPL. Hal ini didorong untuk mempermudah
dalam peningkatan pelayanan produksi, koleksi dan distribusi sektor-sektor
perekonomian serta peningkatan pelayanan sosial ekonomi lainnya. Selain fungsi
tersebut, di kabupaten Pegunungan bintang juga terdapat Pusat kegiatan Strategis
Nasional (PKSN) di Batom, Distrik Batom. Untuk lebih jelasnya sistem perkotaan
dapat dilihat pada peta 2.1. Peta Struktur Ruang Kabupaten Pegunungan Bintang.

2-33
33
Laporan Pendahuluan

Tabel 2.18. Rencana Sistem Perkotaan Kabupaten Pegunungan Bintang


Sistem
No. Pusat Fungsi Utama
Perkotaan
1 PKSN Batom di Distrik Batom Pertahanan dan Kemanan;
Pendidikan; Perdagangan
dan jasa; Pemerintahan distrik
2 PKL Oksibil di Distrik Oksibil Pemerintahan Kabupaten;
Perdagangan dan jasa;
Pariwisata; Pendidikan,
kesehatan, dan kebudayaan
3 PKLp Teiraplu di Distrik Teiraplu Perkebunan; Kehutanan;
Perdagangan dan jasa;
Pemerintahan distrik
4 PPK Iwur di Distrik Iwur Kehutanan, Perdangan dan
Jasa, Pertanian, Pendidikan,
Kesehatan, pemerintahan
distrik
Awimbon di Distrik Awinbon Pertambangan minyak bumi,
pertanian, perkebunan
Kiwirok di Distrik Kiwirok Wisata agroforestry,
konservasi sumber daya air
(sungai), perkebunan kopi,
pertanian, pemerintahan
distrik, pendidikan dan
kesehatan.
Abmisibil di Distrik Okbibab Wisata alam, konservasi
alam, pemerinatahan distrik,
pendidikan dan kesehatan
Bias di Distrik Murkim Perdagangan dan jasa,
perkebunan, kehutanan,
pemerintahan distrik,
pendidikan dan kesehatan.
Eupumek di Distrik Eupumek Pendidikan, kesehatan,
pemerintahan distrik
konservasi sumber daya air
(sungai), pariwisata,
perikanan darat.
Borme di Distrik Borme Pendidikan, kesehatan,
perdagangan dan jasa, dan
pertanian, pemerintahan
distrik.

2-34
34
Laporan Pendahuluan
Sistem
No. Pusat Fungsi Utama
Perkotaan
5 PPL Pepera di Distrik Pepera
Turwe di Distrik Bime
Apmisibil di Distrik Okbibab
Aboy di Distrik Aboy
Okyop di Distrik Kiwirok Timur
Arintap di Distrik Kawor
Tarup di Distrik Tarup
Dabolding di Distrik Kalomdol
Oksebang di Distrik Oksebang
Wonbakon di Distrik
Serambakon Pemerintahan distrik,
peternakan lokal, perikanan
Alemsom di Distrik Alemsom
darat, pendidikan dasar,
Oksop di Distrik Oksop
wisata alam, pintu
Oklip di Distrik Oklip perbatasan, konservasi alam.
Okelwel di Distrik Okhika
Oksamol di Distrik Oksamol
Okngam di Distrik Okbemtau
Bape di Distrik Okbape
Bulangkop di Distrik Okaon
Pamek di Distrik Pamek
Nongme di Distrik Nongme
Batani di Distrik Batani
Jetfa di Distrik Yefta Mot di
Distrik Mofinop

E. Pembagian Sub Satuan Wilayah Pengembangan


Kabupaten Pegunungan Bintang diarahkan menjadi tiga Sub Satuan Wilayah
Pengembangan. Pembagian Satuan Wilayah Pengembangan ini didasarkan
pada perkiraan hirarki permukiman, efektifitas jangkaun pelayanan, orientasi
pergerakan penumpang dan barang. Pembagian Sub Satuan Wilayah
Pengembangan di Kabupaten Pegunungan Bintang dapat dilihat pada peta 2.2.
Peta Sub Satuan Wilayah Pengembagan Kabupaten Pegunungan Bintang.

2-35
35
Laporan Pendahuluan
Tabel Error! No text of specified style in document..1 Sub Satuan Wilayah
Pengembangan dan Kegiatan Utama di Kabupaten Pegunungan
Bintang
Satuan Wilayah
No Pengembangan Pusat Distrik Kegiatan Utama
(SWP)
1. SWP I Oksibil Alemsom, Okbape, pusat
Serambakon, pemerintahan
Oksebang, Oksop, kabupaten,
Okaom, Pepera, perkebunan,
Kalomdol, Iwur, kehutanan
Kawor, Awimbon, perdagangan,
Tarub. pertanian,
perikanan darat,
industri
pertambangan,
Pariwisata dan
pendidikan dan
kesehatan
2 SWP II Batom Kiwirok, Kiwirok Pertahanan
Timur, Oklip, Keamanan,
Oksamol Pendidikan,
Batom, Okbemtau, kesehatan,
Okhika, Okbibab,, Perdagangan,
Murkim, Mofinop, Perkebunan,
Jetfa, Aboy Pertambangan,
Pariwisata,
Pertanian,
Perikanan darat,
dan kehutanan.
3 SWP III Teiraplu Distrik Borme, pertanian,
Bime, Weime, perkebunan,
Nongme, Batani, pariwisata,
Eupomek, Pamek, pendidikan, industri
Okbab, dan pertambangan,
Teiraplu. pelayanan jasa,
perdagangan

2-36
36
Laporan Pendahuluan

2-37
37
Laporan Pendahuluan

2-38
38
Laporan Pendahuluan
F. Rencana Pola ruang Pembagian Sub Satuan Wilayah Pengembangan
Untuk rencana pola ruang Kabupaten Pegunungan Bintang secara umum dapat
dilihat pada tabel 2.19 berikut ini :

Tabel 2.19. Rencana Pola Ruang Kabupaten Pegunungan Bintang


Klasifikasi Rencana Pola Luas
No Sebaran Kawasan %
Ruang (km2)
1 Kawasan Lindung
Bagian utara dan
selatan Kecuali Distrik
Aboy, Mofinop, 5699.46
Kaw. Hutan Lindung 36,34
Nongme, Okbab,
Okbibab, Okhika, dan
Weime
Bagian tengah di distrik
Kaw. Suaka Alam, Aboy, Alemsom, Batani,
Pelestarian Alam, dan Batom, Bime, Borme,
Cagar Budaya: Eipumek, Kiwirok,
4562.84
Kiwirok Timur, Nongme, 29,09
Okaon, Okbab, Okbape,
KSA Mamberamo Foja
Okbemtau, Okbibab,
dan Jayawijaya
Okhika, Oklip, Oksop,
Pamek, dan Weime.
Kaw. Perlindungan
Seluruh distrik 509.18 3,25
Setempat
2 Kawasan Budidaya
Distrik Aboy, Alemsom,
Batom, Borme, Iwur,
Jetfa, Kiwirok Timur,
Hutan Produksi Tetap 2320.40 14,80
Mofinop, Murkim,
Okbemtau, Tarup, dan
Teriaplu
Alemsom, Awimbon,
Batom, Iwur,Jetfa,
Hutan Produksi Terbatas 1328.34 8,47
Mofinop, Murkim, dan
Tarup.
Distrik Iwur, Oksibil,
Hutan Produksi Konversi 489.84 3,12
Awimbon, dan Alemsom

Pertanian Lahan Kering Kawor dan Alemsom 249.08 1,59

2-39
39
Laporan Pendahuluan
Klasifikasi Rencana Pola Luas
No Sebaran Kawasan %
Ruang (km2)
Perkebunan/Tanaman
Kawor 277.24 1,77
Tahunan
Permukiman Seluruh distrik 246.61 1,57
Total 15.683 100

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.3. Peta Rencana Pola Ruang
Kabupaten Pegunungan Bintang.

2-40
40
Laporan Pendahuluan

2-41
41
Laporan Pendahuluan
G. Kawasan Strategis Kabupaten Pegunungan Bintang
1) Kawasan Strategis Nasional.
Kawasan Strategis Nasional dari sudut kepentingan pertahanan dan keamanan
yang ditetapkan di Provinsi Papua khususnya di Kabupaten Pegunungan Bintang
adalah kawasan perbatasan Negara dengan Negara Papua Nugini. Rencana
kawasan strategis nasional di Kabupaten Pegunungan Bintang yaitu terdapat
Kawasan Perbatasan RI dengan Negara Papua New Guinea di Distrik Batom,
Oksamol, Tarup, Murkim, Mopinop, Kiwirok timur, Iwur, dan Pepera. Sedangkan
pintu perbatasan negara terdapat di Distrik Batom, Distrik Tarup, Distrik Oksamol,
Bias di Distrik Murkim, dan Okiyop di Distrik Kiwirok Timur.

2) Kawasan Strategis Provinsi.


Kawasan strategis provinsi adalah wilayah yang penataan ruangnya
diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup
provinsi terhadap ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan.
a) Kawasan Strategis Provinsi dari Sudut Kepentingan Ekonomi
Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Papua, di Kabupaten
Pegunungan Bintang terdapat kawasan strategis provinsi yaitu Kawasan
Strategis Ekonomi Wilayah Pegununungan Tengah Bagian Timur. Rencana
Kawasan Strategis Provinsi Kawasan Wilayah Pegununungan Tengah Bagian
Timur yang merupakan kawasan strategis dari sudut kepentingan ekonomi
terdapat di Distrik Oksibil.
b) Kawasan Strategis Provinsi dari Sudut Kepentingan Daya Dukung
Lingkungan Hidup
Kawasan Strategis Nasional dari sudut kepentingan daya dukung lingkungan
hidup yang ditetapkan di Provinsi Papua khususnya di Kabupaten
Pegunungan Bintang adalah kawasan Suaka Margasatwa Mamberamo-Foja
dan Kawasan Suaka Margasatwa Jayawijaya. Kawasan Suaka Margasatwa
Jayawijaya yang merupakan kawasan strategis dari sudut kepentingan fungsi
dan daya dukung lingkungan hidup terdapat di Distrik Bime, Alemsom,
Waime, Borme, Nongme, Pamek, Eupumek, Oksob, Okbape, Okaon,
Oksebang, Okhika, Okbibab, Okbab, Okbemtau, Aboy, Batani dan Teriaplu.
Kawasan wilayah Mamberamo-Foja yang merupakan kawasan strategis dari
2-42
42
Laporan Pendahuluan
sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup terdapat di
Distrik Batani.
Pada kawasan inilah terdapat Puncak Mandala dan sumber dari 4 (empat)
sungai terbesar di Papua, yakni Sungai Digul yang mengalir ke selatan,
Sungai Mamberamo yang mengalir ke arah Utara, Sungai Sific yang mengalir
ke arah Timur, dan Sungai Ok Nimno yang mengalir ke arah Barat
(Yahukimo). Keempat sungai tersebut dapat dikelola dan dikembangkan
sebagai potensi unggulan lokal.
c) Kawasan Strategis Kabupaten
 Kawasan Strategis Kabupaten Dari Sudut Kepentingan Ekonomi
Penetapan kawasan strategis kabupaten dari sudut kepentingan ekonomi
di Kabupaten Pegunungan Bintang, meliputi :
1. Kawasan cepat tumbuh perkotaan Oksibil, Batom, Iwur dan
Teiraplu.
Kawasan cepat tumbuh di Kabupaten Pegunungan Bintang terdapat di
kawasan :
a. Perkotaan Oksibil yang meliputi Distrik Oksibil, Serambakon,
Kolomdol, dan Pepera
b. Perkotaan Batom yang meliputi Distrik Batom dan Mofinop
c. Perkotaan Teiraplu yang meliputi Distrik Teiraplu dan Jetfa
d. Perkotaan Iwur yang meliputi Distrik Iwur dan Kawor

Kawasan perkotaan Oksibil ditetapkan mengingat potensi kawasan ini


sebagai kawasan yang mempunyai kecenderungan untuk cepat
tumbuh, berperan strategis sebagai pusat pemerintahan, simpul koleksi
dan distribusi untuk wilayah belakang yang luas. Kawasan perkotaan
Batom ditetapkan sebagai kawasan strategis mengingat peran Batom
sebagai pintu perbatasan dengan PNG dan pada kawasan ini akan
direncanakan sebagai pusat pendidikan terpadu yang akan dapat
digunakan oleh kedua Negara. Kawasan perkotaan Teiraplu ditetapkan
karena kawasan ini akan dikembangkan menjadi pusat pelayanan di
bagian utara Kabupaten Pegunungan Bintang. Iwur akan memegang
peranan penting bagi perkembangan ekonomi Kabupaten Pegunungan
2-43
43
Laporan Pendahuluan
Bintang untuk menunjang peran Oksibil. Pertumbuhan perkotaan Iwur
akan sangat dipegaruhi dengan dibangunnya jalan nasional yang
menghubungkan Iwur dengan Kabupaten Boven Digul.
2. Kawasan pengembangan agribisnis dan agroforestry.
Konsep agribisnis dan agroforestry dikembangkan untuk menciptakan
pertumbuhan dan perkembangan kegiatan pembangunan pertanian
dan kehutanan yang mampu melayani dan mendorong kegiatan
pertanian, perkebunan dan kehutanan di wilayah sekitarnya.
Pengembangan sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan
dijalankan secara terpadu baik usaha budidaya, penyediaan sarana,
pemrosesan dan pemasaran hasil pertanian dan kehutanan, serta jasa
pendukungnya. Potensi dan lokasi yang akan dikembangkan dengan
konsep agribisnis dan agroforestry di Kabupaten Pegunungan Bintang
adalah di Distrik Kawor, Iwur, Kolomdol, dan Alemsom dengan kegiatan
utama berupa budidaya tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, dan
hasil hutan. Komoditas utama pertanian tanaman pangan dan
holtikultura yang akan dikembangkan pada kawasan ini adalah padi
ladang, ubi-ubian, sayuran, dan buah-buahan. Komoditas utama
perkebunan yang akan dikembangkan pada kawasan ini adalah kopi
dan vanili. Untuk pengembangan agroforesti pada kawasan ini kan
dikembangkan industri pengolahan hasil hutan berupa plywood.
3. Kawasan Pengembangan Ecowisata
Rencana pengembangan kawasan pariwisata di wilayah Kabupaten
Pegunungan Bintang adalah sebagai berikut :
 Kawasan Wisata Budaya, yang terdapat di Distrik Serambakon
berupa miniatur adat.
 Kawasan Wisata Alam, yang terdiri dari :
a. Air terjun bawah tanah di Serambakon
b. Gua Kelelawar di Kalomdol dan Batom
c. Salju abadi di Puncak Mandala yang terdapat di Bime dan Oksop
d. Wisata arung jeram di Sungai Armase dan Sungai Sifik

2-44
44
Laporan Pendahuluan
e. Wisata lintas alam di Pegunungan karst di Oksibil, Okaon,
Oksop, dan Oksebang
f. Terowongan alam di Oksebang
g. Gua Sibilbuk di Oksibil dengan panjang gua kurang lebih 10 km.
 Kawasan Strategis Kabupaten Dari Sudut Kepentingan Sosial
Budaya
Kawasan strategis kepentingan sosial budaya di Kabupaten Pegunungan
adalah kawasan pelestarian budaya dan adat manusia Aplim Apom.
Kawasan ini berlokasi di Tanah Serambakon (Distrik Serambakon) dengan
mengembangkan kawasan miniatur adat suku yang ada Kabupaten
Pegunungan Bintang. Penetapan kawasan ini adalah upaya pemerintah
Kabupaten Pegunungan Bintang dalam mempertahankan harkat dan
martabat manusia Aplim Apom. Manusia Pegunungan Bintang terdiri dari
pembagian wilayah penyebaran sejarahnya sendiri dan memiliki sifat, ciri
khas, silsilah keturunan dan penyebaran yang unik. Konsep strategis
dalam mempertahankan keutuhan satu kesatuan manusia Aplim Apom
yang memiliki keunikan sub suku yang satu dengan sub suku yang lain.
Dengan demikian mencegah bahaya superioritas antar suku, diskriminasi,
sikap aprioritas negatif terhada satu sama lain. Maka untuk
mempertahankan keunikannya kawasan budaya tersebut ditetapkan
sebagai kawasan strategis dan sentra pengembangan budaya demi
mempertahankan identitasnya sebagai suatu peradaban.
 Kawasan Strategis Kabupaten Dari Sudut Kepentingan Fungsi Dan
Daya Dukung Lingkungan Hidup
Demi menjaga keberlangsungan hidup dan keseimbangan alam atau
ekosistem baik di masa kini dan masa yang akan datang perlu ditetapkan
kawasan strategis untuk kepentingan lingkungan hidup di Kabupaten
Pegunungan Bintang yang berfungsi sebagai kawasan konservasi sumber
daya alam dan sumber daya air serta dalam hal pemanfaatan potensi
maupun dalam rangka mengatasi permasalahan yang ada. Kawasan
strategis untuk kepentingan lingkungan hidup di Kabupaten Pegunungan

2-45
45
Laporan Pendahuluan
Bintang adalah kawasan Cagar Alam Geologi di berupa rangkaian
pegunungan karst di Distrik Oksibil, Okaon, Oksop, dan Oksebang.

Untuk lebih jelasnya Kawasan Strategis Kabupaten Pegunungan Bintang dapat


dilihat pada peta 2.4. Peta Kawasan Strategis Kabupaten Pegunungan Bintang.

2-46
46
Laporan Pendahuluan

2-47
47
Laporan Pendahuluan

Contents
2.1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG
SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL ................................................................................... 1
2.2. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 24 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR SARANA DAN PRASARANA
UNTUK SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI), SEKOLAH
MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), DAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA). ............................. 3
2.2.1. Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
(SD/MI) ....................................................................................................................... 3
2.2.2. Standar Sarana dan Prasarana Sekolah Menengah Pertama/Madrasah
Tsanawiyah (SMP/MTs) ......................................................................................... 8
2.2.3. Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Menengah Atas/Madrasah
Aliyah (SMA/MA). ............................................................................................ 15
2.4. RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PEGUNUNGAN BINTANG
TAHUN 2011 – 2031. .......................................................................................................... 28

2.1. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003


TENTANG SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL .............................................. 1
2.2. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 24 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR SARANA DAN PRASARANA
UNTUK SEKOLAH DASAR/MADRASAH IBTIDAIYAH (SD/MI), SEKOLAH
MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH (SMP/MTS), DAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS/MADRASAH ALIYAH (SMA/MA). ................. 3
2.2.1. Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah
(SD/MI) ................................................................................................ 3
2.2.2. Standar Sarana dan Prasarana Sekolah Menengah
Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) ....................................... 8
2.2.3. Standar Sarana Dan Prasarana Sekolah Menengah Atas/Madrasah
Aliyah (SMA/MA). ............................................................................... 15
2-48
48
Laporan Pendahuluan
2.3. STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) 03-1733-2004 TENTANG TATA
CARA PERENCANAAN LINGKUNGAN PERUMAHAN DI PERKOTAAN ... 21
2.4. RENCANA TATA RUANG WILAYAH KABUPATEN PEGUNUNGAN
BINTANG TAHUN 2011 – 2031.................................................................... 28

2-49
49