Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

WAWASAN KEMARITIMAN

INDONESIA DAN ASIA PASIFIK DI ABAD MARITIM

KELOMPOK 6
KELAS K3

1. SILVI TRISTYA PRATIWI J1A1 17 131


2. SITI AZZAHRA J1A1 17 132
3. TRY SAPUTRA HABIBIE J1A1 17 142
4. TUTI MULYANTI J1A1 17 143

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018
PRAKATA

Dengan mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, berkat
rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
“Indonesia dan Asia Pasifik di Abad Maritim”.

Dalam menyelesaikan makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih


kepada pihak yang telah membimbing dan memberikan bantuan sehingga
makalah ini dapat diselesaikan dengan baik.

Penulis berharap makalah ini dapat berguna dan membantu para remaja
untuk dapat menjauhi obat-obatan terlarang yang dapat merugikan. Sehingga para
pengguna obat-obatan tersebut dapat semakin berkurang dan tidak ada lagi.
Penulis meminta maaf apabila terdapat banyak kesalahan dan kekurangan
pada pembuatan makalah ini. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk perbaikan
penyusunan selanjutnya.

Kendari, Maret 201

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1 Latar belakang 1
1.2 Rumusan Masalah 1
1.3 Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
2.1. Indonesia dan Asia Pasifik di Abad Maritim 3
2.2. Lautan Pasifik Merupakan Pusat Masa Depan 9
2.3. Perkembangan Perekonomian Cina 10
2.4. Memahami Kerangka Teori Tony Cartalucci 12
2.5 Indonesia di Tengah Kehadiran Negara Adidaya di Asia Pasifik 12
BAB III PENUTUP 14
3.1 Kesimpulan 14
DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan Negara Kepulauan terluas di dunia yang terdiri
atas lebih dari 17.504 pulau dengan 13.466 pulau telah diberi nama. Sebanyak
92 pulau terluar sebagai garis pangkal wilayah perairan Indonesia ke arah laut
lepas telah didaftarkan ke Perserikatan Bangsa Bangsa. Indonesia memiliki
garis pantai sepanjang 95.181 km dan terletak pada posisi sangat strategis
antara Benua Asia dan Australia serta Samudera Hindia dan Pasifik. Luas
daratan mencapai sekitar 2.012.402 km dan laut sekitar 5,8 juta km (75,7%),
yang terdiri 2.012.392 km Perairan Pedalaman, 0,3 juta km2 Laut Teritorial,
dan 2,7 juta km2 Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE). Sebagai Negara Kepulauan
yang memiliki laut yang luas dan garis pantai yang panjang, sektor maritim
dan kelautan menjadi sangat strategis bagi Indonesia ditinjau dari aspek
ekonomi dan lingkungan, sosial budaya, hukum dan keamanan. Meskipun
demikian, selama ini sektor tersebut masih kurang mendapat perhatian serius
bila dibandingkan dengan sektor daratan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1. Bagaimana Indonesia dan Asia Pasifik di Abad Maritim?
2. Mengapa Lautan Pasifik Merupakan Pusat Masa Depan ?
3. Bagaimana Perkembangan Perekonomian Cina ?
4. Bagaimana Memahami Kerangka Teori Tony Cartalucci?
5. Bagaimana Indonesia di Tengah Kehadiran Negara-Negara Adidaya di
Asia Pasifik?

1
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui Indonesia dan Asia Pasifik di Abad Maritim?
2. Untuk mengetahui Lautan Pasifik Merupakan Pusat Masa Depan ?
3. Untuk mengetahui Perkembangan Perekonomian Cina ?
4. Untuk Memahami Kerangka Teori Tony Cartalucci?
5. Untuk mengetahui Indonesia di Tengah Kehadiran Negara-Negara
Adidaya di Asia Pasifik?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Indonesia dan Asia Pasifik di Abad Maritim


Di masa lalu Nusantara pernah mengalami kejayaan maritim.
Kejayaan maritim dapat dilacak dari kehadiran kerajaan kerajaan di pesisir
pantai yang telah membangun budaya maritim. Disebut memiliki budaya
maritim karena kerajaan kerajaan itu menghidupi aktivitas ekonominya dari
perdagangan yang kegiatannya dipusatkan di laut. Kerajaan-kerajaan
maritim yang menyebar dipisahkan laut. Laut tidak membuat mereka saling
menjauh, tetapi saling berinteraksi. Interaksi antara satu kerajaan dengan yang
lain terbangun lewat transaksi perdagangan.
Dalam budaya maritim, perdagangan dan pelayaran menjadi denyut
nadi kerajaan. Perdagangan ini yang menjulangkan kemashuran kerajaan-
kerajaan Nusantara di masanya. Sriwijaya adalah kerajaan maritim dengan
aktivitas perdagangannya pada abad ke-7. Pada masanya para saudagar dari
Cina melakukan transaksi perdagangan dengan Sriwijaya. Saudagar dari Cina
banyak yang menetap di wilayah kerajaan ini, bahkan Sriwijaya mengundang
ratusan pendeta Budha belajar agama di Palembang. Kedatangan pendeta
Budha melambungkan ketenaran Sriwijaya sebagai kota dagang terbesar di
Nusantara. Sebagai kota dagang infrastruktur perdagangan seperti bongkar
muat relati berkembang dan memudahkan kapal-kapal besar memasuki
wilayah Sriwijaya. Dengan demikian kapal lebih mudah merapat dan
bersandar di Sriwijaya. Sebagai kerajaan maritim berpengaruh, Sriwijaya
meluaskan ekspansi kekuasaan dengan menaklukkan Jawa. Kerajaan
Sriwijaya juga telah menaklukkan Laut Jawa, Indonesia Timur, dan beberapa
daerah lain di Nusantara. Sejalan dengan itu, kerajaan maritim pertama ini
juga menjalin jejaring perdagangan dengan India, Birma, Melayu
Kalimantan, Siam, Kamboja, Cina, dan Filipina. Pedagang-pedagang dari
Sriwijaya bahkan telah melakukan transaksi perdagangan sampai ke Afrika.

3
A. Pemikiran Kemaritiman di Indonesia
Pemikiran kemaritiman sebagai pusat perhatian juga belum tampak
dalam berbagai kajian akademis misalnya di bidang ekonomi, sosial
politik, antropologi dan sejarah. Di bidang sejarah, fokus historiografi
Indonesia lebih banyak membahas tentang persoalan yang menyangkut
daratan, baik masyarakat maupun institusi sosial politiknya. Buku karya
Adrian B. Lapian “ Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan
17 “ misalnya, merupakan salah satu sumbangan berharga dalam
historiografi bahari di Indonesia. Banyak informasi dalam buku ini yang
sekaligus menjadi pancingan untuk studi lanjut tentang kemaritiman yang
meliputi aspek teknologi, pust-pusat pelayaran, pola pelayaran dan
perdagangan, dan pelabuhan. Buku ini juga memaparkan tentang hal apa
yang diatur dalam hukum laut Amanna Gappa.
Negara maritim adalah negara yang berbeda dalam
kawasan/teritorial laut yang sangat luas.
Negara maritim adalah negara yang mempunyai wilayah
kekuasaan laut yang luas serta tersimpan berbagai kekayaan sumber daya
alam diwilayah tersebut.
Negara maritim adalah negara yang banyak dikelilingi oleh
wilayah laut dan perairan (Miffin).
Arti maritim adalah wilayah laut. Negara maritim adalah negara
yang sebagian besar penduduknyabekerja di wilayah perairan (Merman).
B. Kemaritiman di Wilayah Asia Tenggara
Posisi Asia Tenggara tidak kalah pentingnya dalam sejarah
maritim. Telah berabad-abad kawasan ini menempati posisi strategis
dalam jalur pelayaran dan perdagangan antar bangsa, antar negara dan
antar pulau. Peran strategis kawasan ini dapat dilihat jika melihat penting
dan posisi sejarah Sriwijaya, Ayutthaya dan kerajaan-kerajaan Melayu di
sepanjang Semenanjung Melayu. Negeri-negeri ini turut berperan aktif
dalam membangun suatu peradaban dan perdagangan di kawasan itu.
Asia Tenggara di kelompokkan menjadi dua, yaitu :

4
1) Negara-negara yang termasuk Asia Tenggara Daratan:
1. Kamboja
2. Laos
3. Myanmar
4. Thailand
5. Vietnam
2) Negara-negara yang termasuk Asia Tenggara Maritim:
1. Brunei
2. Filipina
3. Indonesia
4. Malaysia
5. Singapura
6. Timor Leste
Studi mendalam terhadap Ayutthaya misalnya telah
memperlihatkan bagaimana negeri ini berperan penting bagi
perkembangan sejarah dan peradaban di kawasan Asia tenggara sejak abad
ke-14 hingga ke-18. Negeri ini merupakan pusat utama politik, budaya dan
perdagangan Thailand masa silam. Kedudukannya bukan hanya penting
bagi negeri sekitarnya, namun meluas hingga ke luar kawasan Asia
Tenggara: Eropa, India, Cina, dan Jepang (Breazeale, 1999: 1-54).
Hubungan antara Ayutthaya dan penguasa di Indonesia meliputi
hubungan diplomatik dan perdagangan seperti dengan Aceh, Jambi,
Banten, Palembang, Riau, selain dengan penguasa di kawasan Asia Selatan
seperti dengan Bengala, Golkonda, Kesultanan Mughal, dan Persia. Sejak
awal Ayutthaya telah membuka negerinya untuk perdagangan dan
pedagang asing masuk ke negeri ini. Salah satu alasan penting Ayutthaya
dalam dunia maritim karena letaknya strategis menghadap ke arah timur
Laut Cina Selatan. Jaringan perdagangan dan diplomatik Ayutthaya sudah
cukup luas, yang tampaknya diurus dengan baik melalui kementerian yang
bertanggung jawab atas perdagangan dan hubungan luar negeri. Ayutthaya
sendri merupakan pemasok sejmlah barang dagangan penting untuk pasar

5
Asia karena jaringan perdagangan yang dimiliki, harga barang yang
bersaing dan lingkungan perdagangan bebas di pelabuhan.
Orientasi internasional sepanjang sejarah Asia Tenggara juga
ditentukan oleh konfigurasi maritim wilayah ini dan peran penting yang
dimainkan sebagai perantara perniagaan antara Barat dan Asia Timur, dan
antara Barat dan Cina. Terkait Ayutthaya, hubungan dengan Cina dan
Jepang telah dilakukan sejak awal, bahkan kapal-kapal dagang dari
Ayuttaya mendapat perlakuan baik dari penguasa Cina di pelabuhan bebas
Guangzhou (Breazeale, 1999: 23-26).
Pemukiman juga menjadi tempat penting bagi pertumbuhan
perdagangan di kawasan Asia Tenggara. Pemusatan antara pelabuhan dan
pemerintahan (port and politics) menjadi gejala umum dalam dunia
maritim Asia Tenggara, meskipun lokasinya terpisah keduanya memiliki
mata rantai seperti halnya Kerajaan Funan dan Oc-eo, Majapahit dan
pelabuhan sungai Canggu, dan pada abad ke-17 antara Pegu dan Syriam,
dan Ayutthaya dengan pantai Bangkok. Hubungan antara pelabuhan dan
pemerintahan dan kedudukannya yang strategis menjadikannya sebagai
pintu gerbang utama negeri-negeri di kawasan Asia Tenggara. Hal ini
diperlihatkan oleh Funan, penguasa tertingginya memiliki akses di bidang
perdagangan, sehingga dengan cepat dapat mengontrol politik dengan cara
ikut serta dalam organisasi dan ekspansi perdagangan di pelabuhan besar
Hubungan antara port dan polity , mengakibatkan suatu wilayah berfungsi
sebagai pusat pemerintahan, perniagaan dan budaya. Buktibukti arkeologis
menyatakan bahwa aktivitas niaga telah berlangsung sejak lama di
kawasan Asia Tenggara dan sekitarnya (Wells and Villiers, 1990).
Studi maritim tentang Asia Tenggara juga memunculkan dua tipe
negara, yaitu 1) negara-negara sungai di kepulauan Indonesia,
Semenanjung Melayu, dan Filipina; 2) negara-negara subur di dataran
rendah yaitu Burma, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam dan Jawa.
Sementara itu pendekatan-pendekatan terhadap sumber-sumber klasik Asia
Tenggara juga dilakukan melalui perangkat sejarah ekonomi modern dan

6
peran penting yang dimainkan Asia Tenggara dalam perdagangan
internasional. Pola pertukaran dilakukan antara mereka yang berada di
dataran tinggi dan rendah, antara ereka yang tinggal di pantai dan
pedalaman, dan para pedagang asing yang membangun basisnya di sekitar
pantai, dan dari sini pula diatur perniagaan daam hal produk-produk lokal
dari pedalaman.
Geohistori Asia Tenggara memunculkan dua pola dominan (Hall,
1985: 1-14). Pertama, sistem sungai (riverine system) yang mengalir dari
pedalaman hingga ke samudera. Pada pola ini penduduk berkonsentrasi di
delta atau mulut sungai. Kekuatan politik dan ekonomi yang muncul di
daerah semacam ini berusaha melakukan perluasan wilayah ke daerah-
daerah pinggir sungai lain untuk tunduk di bawah hegemoninya. Sebagai
kekuatan yang berlandas pada ekoomi perdagangan, mereka mengadakan
kontrol dengan menggunakan jaringan komunikasi perairan untuk
mengawasi daerah hulu sungai maupun daerah pantai di sekitarnya, contoh
sistem ini adalah Palembang, ibukota Sriwijaya yang mengontrol dari
hulu sungai hingga pantai. Kontrol ini tidak hanya melewati jalur
sepanjang sungai hingga ke pedalaman, namun juga terhadap pelabuhan-
pelabuhan yang menjadi kekuasaannya dalam hal ini Sriwijaya bertindak
sebagai pelindung dari penguasa lokal (para datu) dan beraliansi dengan
mereka. Dengan cara ini Sriwijaya dapat menguasai jalur Sungai Musi,
Batanghari dan Semenanjung Malaya selain Selat Malaka ( Hall, 1985:
14), selain Funan yang menguasai Sungai Mekhong dan Samudra Pasai
yang memiliki hegemoni di Sungai Pasangan.
Pola yang kedua adalah sistem pertanian padi (Wet Rice Plain
System). Pada sistem ini terjadi adanya konsentrasi penduduk di daerah-
daerah subur yang digunakan untuk menanam padi, yang meliputi Asia
Tenggara daratan dan kepulauan, yang biasanya juga berada di daerah
lembah sungai, contohnya Pagan di daerah Sungai Irawadi (Birma),
Angkor dan Chen-la di lembah Mekhong, sedang Pulau Jawa di lembah
Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Antara dua model ini tidak banyak

7
perbedaan kecuali sistem sungai lebih berorientasi ke perdagangan, sedang
sistem pertanian orientasinya cenderung ke agraris. Antara dua sistem
kadang saling berbaur, sulit dipisahkan sebagai suatu bentuk sistem
tertentu, misalnya negara bersistem pertanian namun juga memiliki
jaringan perdagangan laut yang bagus, misalnya Majapahit, dan Sriwijaya,
sebagai negara sungai namun mampu menguasai sektor pedalaman untuk
memperkuat basis ekonominya.
Zona perdagangan dan pertukaran barang di kawasan Asia
Tenggara memiliki lima kawasan yang penting, 1) Semenanjung Melayu
bagian utara dan pantai Vietnam bagian selatan pada milenium akhir SM,
2) sekitar Laut Jawa pada abad kedua dan ketiga Masehi, 3) Selat Malaka
pada awal kelima Masehi yang juga menarik pusat lain seperti pantai
tenggara Sumatra untuk menjadi penghubung Kalimantan bagian Barat,
Jawa, dan pulau-pulau lain di bagian timur maupun semenanjung Melayu
dan pedalamannya, Chao Phraya dan jaringan perniagaan Sungai Irawadi.
Sumatra bagian selatan sebagai pantai yang istimewa karena membantu
memperlancar perniagaan, pemasar hasil hutan Sumatra dan Laut Jawa,
juga memanfaatkan kapal dan anak buah kapal Melayu untuk
menghubungkan jaringan perniagaan pribumi maupun internasional.
Sriwijaya memiliki kedudukan penting di wilayah ini. Runtuhnya kerajaan
ini seiring meningkatnya perniagaan dengan Cina selama dinasti Sung dan
berkembangnya Laut Jawa sebagai pusat perniagaan selama abad ke-11
dan ke-12. Zona perdagangan laut Sulu sebagai zona keempat yang
dilakukan pelaut Cina untuk membawa rempah-rempah dari kepulauan
Indonesia bagian Timur sehingga Kalimantan Utara dan Filipina
berkembang dalam perdagangan ini. Para pedagang Cina membangun
pusat perdagangan di Filipina selama masa ini.
Tumbuhnya kekuatan-kekuatan di darat seperti Angkor dan Pagan
dalam perdagangan internasional membuat Teluk Bengala menjadi penting
sebagai zona kelima perdagangan di kawasan ini pasca Sriwijaya. Teluk
Bengala strategis kedudukannya karena mempertemukan semenanjung

8
Melayu dan Sumatra bagian utara serta barat dengan India bagian selatan
dan Sri Lanka. Kelima zona ini menjadijaringan ekonomi independen dan
makmur di kawasan Asia Tenggara.
Era baru perniagaan di Asia tenggara muncul setelah Portugis
masuk ke wilayah Selat Malaka tahun 1511. Bukan hanya portugis yang
menguasai Malaka, namun kekuatan-kekuatan Eropa lainnya juga masuk
lebih dalam lagi hingga ke Jawa dan kepulauan Indonesia bagian Timur
untuk menguasai rempah-rempah hingga empat abad kemudian.
Datangnya Portugis di perairan Indonesia ini membawa dampak besar,
terutama dalam hal teknologi perkapalan, jadi ada hubngan timbal balik
dalam pengetahuan navigasi orang pribumi dan Portugis, demikian pula
dalam pembuatan kapal ( Lapian, 2008).
Kapal milik pribumi di dapat dengan jalan membeli dan membuat
sendiri. Hal ini nampak di Malaka yang membeli kapal dari Pegu, namun
Jawa pada abad ke-16, di lingkup asia Tenggara dikenal sebagai pembuat
galangan kapal yang terkenal, misalnya di Lasem. Untuk wilayah
Indonesia Timur, Pulau Kei menghasilkan galangan kapal yang dijual di
Maluku pada abad ke-19. Inovasi sebagai dampak dari pengaruh luar
terhadap teknik pelayaran dan perkapalan tidak dapat dihindarkan,
misalkan pengaruh Arab, Persia, dan India, selain dari Eropa, yaitu dari
Inggris dan Belanda, misalnya penggunaan kata pinisi yang berhubungan
dengn pinas (bhs Belanda) atau pinnace (bhs Inggris).

2.2 Lautan Pasifik Merupakan Pusat Masa Depan


Sejarah mencatat bahwa lautan Mediterania merupakan pusat
kehidupan masa lalu, Lautan Atlantik merupakan pusat kehidupan masa kini,
dan Lautan Pasifik merupakan pusat masa depan. Memasuki 2012 saya
melihat adanya tren ke arah perobahan mendasar dalam kebijakan politik luar
negeri Amerika Serikat yang kemudian diikuti dengan kebijakan strategi
keamanan nasionalnya (National Security Strategy). Presiden Barrack Obama
pada awal 2012 telah menegaskan bahwa Amerika telah kembali ke Asia,

9
suatu pernyataan yang seolah-olah ingin mengatakan bahwa selama ini
(katakanlah selama 2 dekade), Amerika Serikat tidak menaruh perhatian
terhadap Asia dan tepian Pasifik pada umumnya.
Namun dalam pernyataannya itu, tersirat juga bahwa AS
sesungguhnya tidak pernah meninggalkan Asia. Pada kenyataannya, selama
dua periode masa jabatannya sebagai Presiden AS, Presiden George W Bush
tetap memelihara hubungan baik dengan negara-negara sekutu maupun
negara-negara sahabat di kawasan Asia Pasifik sekalipun sedang menghadapi
perang di dunia front yaitu Timur Tengah dan Asia Selatan.
Kita harus menyadari kenyataan bahwa Asia Pasifik saat ini sedang
muncul sebagai pemain utama di bidang politik dan mesin ekonomi global.
Negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara hampir menempati sepertiga
penduduk dunia, menghasilkan kurang lebih seperempat produksi dunia, dan
memproduksi hampur seperempat ekspor global.
Pemerintah dan institusi di bawah kontrol pemerintah di Asia
menguasai dua pertiga dari cadangan devisa dunia yang berjumlah 6 triliun
dolar AS. Sekalipun dunia mengalami krisis finansial, pertumbuhan rata-rata
Asia pada dekade terakhir mencapai dua digit.
Sistem ekonomi yang menganut orientasi pasar dan keterlibatan secara
global ditunjang oleh teknologi yang maju, telah memungkinkan Asia
memberikan kontribusi yang besar dalam mengatasi masalah-masalah dunia
saat ini.
2.3 Perkembangan Pesat Perekonomian Cina
Perkembangan ekonomi Cina dan modernisasi kekuatan militernya,
mengejutkan banyak pihak. Ketika Cina meningkatkan kemampuan
militernya untuk menjamin keamanannya dan menyebarkan instalasi-instalasi
militernya secara luas sebagaimana layaknya suatu kekuatan besar, maka
keadaan ini akan mengancam keseimbangan kekuatan kontinental maritim
yang selama ini ada. Ketika kekuatan militer dikombinasikan dengan
pertumbuhan ekonomi, didukung oleh komitmen diplomatik, maka jadilah
Cina sebagai pemain utama dalam semua aspek keamanan di Asia.

10
Keberhasilan Cina dalam bidang ekonomi telah menghasilkan
keuntungan yang sangat berarti, sehingga mampu membiayai modernisasi
angkatan bersenjatanya secara menyeluruh di People’s Liberation
Army (PLA).
Di Samudera Hindia, Cina sedang mengembangkan infrastruktur
militer, yang disebut Pentagon sebagai “Kalung Mutiara,” atau String of
Pearl. Sebuah upaya untuk mengelilingi wilayahnya dengan infrastruktur
ekonomi dan kekuatan militer dari Pakistan hingga Maladewa.
Cina berupaya membangun hubungan persahabatan dan kerjasama
dengan mitra-mitranya di Asia Selatan. Hal itu bertujuan untuk menjamin
keamanan dan stabilitas regional serta memperluas persekutuan.
Sementara itu Iran, melalui proses ekspansi angkatan laut,
mengerahkan pasukan maritim semakin jauh dari perairan mereka di Teluk
Persia dan Laut Oman. Angkatan Laut Iran menegaskan kembali rencana
untuk memperluas kehadirannya di perairan internasional, termasuk
Samudera Atlantik, Samudera Pasifik, sebelah selatan Samudera Hindia dan
Kutub Selatan.
Rusia juga telah memiliki dua pangkalan angkatan laut di luar
wilayahnya, salah satunya adalah di pelabuhan Sevastopol Ukraina di Laut
Hitam dan yang lainnya adalah di pelabuhan Tartus, Suriah, di Laut
Mediterania. Kremlin sekarang melirik Laut Karibia, Laut Cina Selatan, dan
pantai timur Afrika (di dekat Teluk Aden) sebagai lokasi yang cook untuk
pangkalan bagi Rusia.
Kekuatan-kekautan trans-regional ini menyadari bahwa pada dasarnya
“perisai rudal global AS” merupakan komponen dari strategi Pentagon untuk
mengepung Eurasia dan tiga kekuatan tersebut.
Sistem militer itu bertujuan untuk mewujudkan keunggulan nuklir AS
dengan menetralisir kemampuan nuklir Rusia maupun Cina. Moskow juga
menyadari bahwa AS dan NATO ingin membatasi kehadiran kekuatan
maritim Rusia di Laut Hitam dan Laut Mediterania. Barat ingin mengontrol
dan membatasi akses maritim Rusia ke Suriah, yang sedang bergolak.

11
2.4 Memahami Kerangka Teori Tony Cartalucci
Meningkatnya militerisasi di dunia internasional memang semakin
mencemaskan. AS dan sekutu-sekutunya sekarang sedang menerapkan teori
Tony Cartalucci, Research Associate di Central for Research on
Globalization (CRG), Montreal, Kanada. Dalam asumsi Cartalucci: “Matikan
Timur Tengah, maka Anda mematikan Cina dan Rusia dan Anda akan
menguasai dunia.”
Semangat imperialisme AS tampaknya tak hanya mengikuti aliran
minyak, tetapi juga formulasi geoekonomi baru yang tumbuh di Asia Pasifik.
Langkah dan tindakan AS sekarang memaksa aktor internasional lainnya
untuk mendefinisikan dan menilai kembali doktrin militer dan strategi
mereka.
Perkembangan terkini memang mengisyaratkan terjadinya pergeseran
geopolitik dari Timur Tengah menuju Asia Tenggara, khususnya Laut Cina
Selatan. Isyarat itu terlihat dari ambisi AS untuk membangun sistem
pertahanan rudal di Asia dengan dalih untuk membendung manuver Korea
Utara. AS juga mendukung pembentukan ASEAN Security Communituy
2015, yang terkait isu Laut Cina Selatan.

2.5 Indonesia di Tengah Kehadiran Negara-Negara Adidaya di Asia Pasifik


Sekarang, Indonesia berada dalam lingkaran kehadiran negara-negara
besar seperti AS, Australia, India dan Cina. Negara-negara tersebut sudah
mempunyai visi dan Ocean Policy. Lantas bagaimana dengan Indonesia?
Negeri yang dinamakan Zamrud Khatulistiwa, yang kaya akan
sumberdaya laut, memiliki ribuan pulau, dengan bentangan luas wilayah yang
bagian terbesarnya adalah laut dan posisi geografi yang paling strategis di
dunia, sudahkah kita memiliki Ocean Policy yang jelas sebagai jatidiri bangsa
yang merupakan penghuni negara kepulauan terbesar di dunia.
Kita harus bangkit dan menampilkan sosok kepemimpinan yang
mempunyai visi dan strategi yang cerdas dan kreatif untuk keluar dari

12
paradigma agraris tradisional ke arah paradigma maritim yang rasional dan
berwawasan global.
Maka dari itu, Indonesia, melalui tekad dan itikad para pemimpin dan
rakyatnya, harus berani membangun paradigma baru sebagai negara maritim
terbesar di Asia.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Di masa lalu Nusantara pernah mengalami kejayaan maritim.


Kejayaan maritim dapat dilacak dari kehadiran kerajaan kerajaan di pesisir
pantai yang telah membangun budaya maritim.
Sriwijaya adalah kerajaan maritim dengan aktivitas perdagangannya
pada abad ke-7. Pada masanya para saudagar dari Cina melakukan transaksi
perdagangan dengan Sriwijaya.
Budaya maritim Indonesia yang telah ada sejak dulu memudar
semenjak ada perseteruan kerajaan pedalaman dan pesisir. Kerajaan
pedalaman seperti Mataram sewaktu meluaskan ekspansi kekuasaannya
melumpuhkan kota dagang di wilayah pesisir seperti Gresik, Tuban, dan
Surabaya menjadi taklukannya. Penaklukan ini menggeser orientasi kerajaan
dari budaya maritim ke agraris.

14
DAFTAR PUSTAKA

Murtayasa, wawa. 2016. Wmf wayan 015indonesia dan asia pasifik pada abad
maritim. http://wayanmurtayasaaddres.blogspot.co.id/2016/10/wmf-wayan-
015indonesia-dan-asia-pasifik.html. [25 Maret 2018]
Hendrajit. 2018. Indonesia Masa Depan Negara Maritim Terbesar di Asia.
http://theglobal-review.com/indonesia-masa-depan-sebagai-negara-
maritim-terbesar-di-asia/. [26 Maret 2018]

Hidayat, Taufik. 2016. PAPER WAWASAN KEMARITIMAN “Indonesia dan Asia


Pasifik di abad maritim”.
http://geographyeducat.blogspot.co.id/2016/06/paper-wawasan-
kemaritiman-indonesia-dan.html. [25 Maret 2018]

15