Anda di halaman 1dari 93

JOURNAL READING

Medico Legal Aspects of Sexual Violence:


Impact on Court Judgments

Dosen Penguji:
dr. Tuntas Dhanardono, M.Si, Med., MH, Sp.FM

Residen Pembimbing:
dr. Dadan Rusmanjaya

Disusun Oleh:
Hasnania Rilanty Munaf FK Trisakti 03013090
Waode Satriana Sari FK Trisakti 03012279
Yanti Puspitasari FK Trisakti 03013260

Vivian Keung FK UKI 1361050056


Yeni Rosa Sitohang FK UKI 1361050247
Manar Siti Denari Subur FK UKI 1461050168
Norbertus Maceka FK UKI 1261050226

KEPANITERAAN KLINIK DEPARTMEN


ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL
RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DOKTER KARIADI SEMARANG
PERIODE 27 AGUSTUS 2018 – 22 SEPTEMBER 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan journal reading dengan
judul Medico Legal Aspects of Sexual Violence : Impact on Court Judgments.
Journal reading ini dibuat sebagai salah satu syarat kelulusan kepaniteraan klinik
di SMF Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, Rumah Sakit Umum Pusat
Dokter Kariadi, Semarang.
Penulis tidak lupa juga ingin menyampaikan terima kasih kepada semua
pihak atas bantuan-bantuan yang diberikan sehingga journal reading ini dapat
selesai tepat waktu, terutama kepada dr. Tuntas Dhanardono, M.Si, Med. Sp.FM
selaku dosen penguji dan dr. Dadan, selaku residen pembimbing journal reading
di SMF Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal, RSUP Dr. Kariadi Semarang
yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, kritik, serta saran yang
membangun. Tidak lupa rasa terima kasih juga kami ucapkan kepada para tenaga
media yang telah membantu selama mengikuti kepaniteraan klinik di SMF Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal, RSUD Dr. Kariadi Semarang dan juga
berbagai pihak lain yang tidak mungkin kami sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari journal reading ini masih jauh dari sempurna, sehingga
penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangn untuk memperbaiki
kekurangan dari journal reading ini.Penulis memohon maaf apabila terdapat
kesalahan penulisan atau perkataan yang tidak berkenaan kepada pembaca.
Akhir kata, penulis berharap isi journal reading ini dapat bermanfaat bagi
pembaca sehingga dapat menginspirasi berbagai pihak baik secara langsung
maupun tidak langsung.

Semarang, 14 September 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................. i

DAFTAR ISI ............................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ................................................................ 1

1.1 Latar Belakang .............................................................. 2

1.2 Tujuan ........................................................................... 2

1.3 Manfaat ........................................................................ 2

BAB II TERJEMAHAN JURNAL....................................................... 3

2.1 Jurnal Asli .................................................................... 3

2.2 Juenal Terjemahan ........................................................ 21

BAB III TINJAUAN PUSTAKA ....................................................... 35

3.1 Definisi Kekerasan Seksual............................................ 35

3.2 Epidemiologi ................................................................ 36

` 3.3 Kategori Perkosaan ....................................................... 38

3.4 Tanda Persetubuhan ....................................................... 39

3.5 Pembuktian Persetubuhan ............................................. 40

` 3.6 Informed Consent .......................................................... 40

3.7 Anamnesis ..................................................................... 41

3.8 Pemeriksaan Fisik .......................................................... 42

` 3.9 Kendala Pembuktian Kasus Perkosaan .......................... 48

3.10 Pemeriksaan Laboratorium .......................................... 49

3.11 Alur Pemeriksaan ......................................................... 50

3.12 Kejahatan Seksual Berdasarkan Hukum di Indonesia ... 52

` 3.13 Aturan Baru Kejahatan Seksual ................................... 58

3.14 Perkosaan di Mata Hukum ......................................... 60

3.15 Dampak Kejahatan Seksual.......................................... 63

ii
3.16 Hambatan Korban dalam Memperoleh Keadilan .......... 64

` 3.17 Hambatan Bantuan Ahli dalam Kejahatan Seksual ...... 67

3.18 Peran LSM dalam Menangani Kejahatan Seksual ........ 69

3.19 Proses Peradilan Kejahatan Seksual ............................. 71

` 3.20 Peran Pemerintah, Lingkungan, Keluarga terhadap

Pencegahan Kejahatan Seksual .................................... 72

3.21 Dampak Bukti Medikolegal dengan Keputusan Pengadilan . 79

BAB IV JURNAL PEMBANDING ................................................... 80

BAB V PENUTUP ............................................................................ 85

5.1 Kesimpulan ................................................................... 85

5.2 Saran ............................................................................ 86

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 87

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejahatan seksual merupakan kejahatan yang dapat ditemukan di seluruh
dunia, pada tiap tingkatan masyarakat, tidak memandang usia maupun jenis
kelamin.(1) Besarnya insiden yang dilaporkan di setiap negara berbeda-beda.
Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2006 (National Violence against
Women Survey/NVAWS) melaporkan bahwa 17,6% dari responden wanita dan
3% dari responden pria pernah mengalami kekerasan seksual, beberapa di
antaranya bahkan lebih dari satu kali sepanjang hidup mereka. Dari jumlah
tersebut hanya sekitar 25% yang pernah membuat laporan polisi.(1)
Di Indonesia, menurut Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan) sejak tahun 1998 sampai 2011 tercatat 93.960 kasus
kejahatan seksual terhadap perempuan di seluruh Indonesia. Dengan demikian
rata-rata ada 20 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual tiap harinya.(2)
Terdapat dugaan kuat bahwa angka-angka tersebut merupakan fenomena gunung
es, yaitu jumlah kasus yang dilaporkan jauh lebih sedikit daripada jumlah kejadian
sebenarnya di masyarakat. Banyak korban enggan melapor, mungkin karena malu,
takut disalahkan, mengalami trauma psikis, atau karena tidak tahu harus melapor
ke mana. Seiring dengan meningkatnya kesadaran hukum di Indonesia, jumlah
kasus kekerasan seksual yang dilaporkan pun mengalami peningkatan.(1,2)
Pelaporan tentu hanya merupakan langkah awal dari rangkaian panjang dalam
mengungkap suatu kasus kekerasan seksual. Salah satu komponen penting dalam
pengungkapan kasus kekerasan seksual adalah Visum et Repertum yang dapat
memperjelas perkara dengan pemaparan dan interpretasi bukti-bukti fisik
kekerasan seksual.(2) Dokter, sebagai pihak yang dianggap ahli mengenai tubuh
manusia, tentunya memiliki peran yang besar dalam pembuatan Visum et
Repertum dan membuat terang suatu perkara bagi aparat penegak hukum.(2)
Dalam upaya pembuktian secara kedokteran forensik, faktor keterbatasan di
dalam ilmu kedokteran forensik itu sendiri dapat sangat berperan, demikian
halnya dengan faktor waktu serta faktor keaslian dari barang bukti (korban),

1
maupun faktor-faktor dari pelaku kejahatan seksual itu sendiri.(3) Dengan
demikian upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus
kejahatan seksual sebenarnya terbatas pada ada tidaknya tanda-tanda
persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur serta
pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau sudah mampu
dikawinkan atau tidak.(3) Pada pembuktian tersebut bantuan dokter sangat
diperlukan namun harus disadari bahwa kemampuan dokter di dalam rangka
membantu mengungkap kasus kejahatan seksual sangat terbatas sekali sehingga
tidak mungkin dokter dapat membantu mengungkap adanya paksaan dan ancaman
kekerasan mengingat kedua hal itu tidak meninggalkan bukti-bukti medik.(3)
Dokter hanya diminta bantuannya untuk melakukan pemeriksaan terhadap korban
dan barang bukti medik tindakan perkosaan, sehingga dalam pemeriksaan tersebut
dokter diharap bisa memperjelas kasus tindak pidana. Karena itu, hendaknya
setiap dokter memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni dalam
melakukan pemeriksaan dan penatalaksanaan korban kekerasan seksual.(1)

1.2 Tujuan
Tujuan penyusunan journal reading ini untuk menambah wawasan tentang
medikolegal pada kejahatan seksual dan memenuhi salah satu syarat dalam
mengikuti kepaniteraan klinik Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal di RSUP dr. Kariadi Semarang

1.3 Manfaat
Manfaat penyusunan journal reading ini yaitu untuk menambah pengetahuan
mengenai cabang ilmu kedokteran forensik, dalam hal ini, aspek medikolegal
dalam kejahatan seksual yang merupakan fokus dari jurnal yang dibahas dalam
penulisan ini.

2
BAB II
TERJEMAHAN JURNAL
2.1 Jurnal Asli
RESEARCH ARTICLE Volume 1 - Issue 1 | DOI: h
p://dx.doi.org/10.16966/2577-7262.103 Medico Legal Aspects of Sexual
Violence: Impact on Court Judgments

Sangeeta Rege1*, Padma Bhate-Deosthali2 and Jagadeesh N Reddy2

1Coordinator Designate, CEHAT, Aaram Society Road, Vakola, Santacruz East,

Mumbai - 400 055, India 2 PhD Scholar, Former coordinator, CEHAT, Mumbai,
India; Tata Institute of Social Sciences, Hyderabad, India

*Corresponding author: Sangeeta Rege, Coordinator Designate, CEHAT,


Aaram Society Road, Vakola, Santacruz East, Mumbai - 400 055, India, Tel: 022-
26673154; E-mail: sangeetavrege@gmail.com

Received: 13 Sep, 2017 | Accepted: 23 Nov, 2017 | Published: 29 Nov, 2017

Cita on: Rege S, Deosthali P, Reddy JN (2017) Medico Legal Aspects of Sexual
Violence: Impact on Court Judgments. J Forensic Res Ana 1(1):
dx.doi.org/10.16966/jfra.103

Copyright: © 2017 Rege S, et al. This is an open-access ar cle distributed under


the terms of the Crea ve Commons A ribu on License, which permits unrestricted
use, distribu on, and reproduc on in any medium, provided the original author and
source are credited.

Background

Health professionals play a critical role in responding to survivors of


sexual violence. e Indian law, Sec 164 (A) CrPC speci cally vests medico legal
responsibility in health professionals and provides them guidelines to carry it out
in a systematic manner [1]. Additionally recent laws related to sexual violence
namely ‘Protection of Children from Sexual O ences, 2012’ and ‘Criminal Law

3
Amendment to Rape, 2013’ specify dual roles for health professionals; therapeutic
and medico legal vis- a -vis survivors of sexual violence [2-3]. Both laws
emphasize that sexual violence must be considered as a medico legal emergency
and immediate care must be o ered to survivors irrespective of whether the health
facility is a government one or a private one. e right to emergency medical care
existed in other statute and has been also mentioned in high court orders [4].
However; the recent changes in law have brought a strong focus on health systems
to operationalize both these roles. e medico legal role comprises of forensic
examination, sample collection, and documentation of history along with dispatch
of the evidences to the forensic science laboratories. is role assists the
investigation machinery related to prosecution. e therapeutic role comprises
provision of medical care along with psychosocial support. is role seeks to
mitigate the health consequences sustained as a result of sexual violence along
with psychological rst aid. Despite the criticality of both roles - forensic and
therapeutic - health professionals’ response in India continues to be suboptimal
[5].

The current medico legal procedure is fraught with lack of uniformity,


medieval biases against women, and unscienti c practices which act as a barrier in
survivor’s struggle for justice [6]. Forensic science textbooks used by medical
students comprise several biases against women such as “well-built woman
cannot be raped”, “working class women cannot be raped as they can o er
resistance” and “most rape cases are false”[7]. e changes in the laws on rape have
not been incorporated in to the forensic textbooks. e teaching of forensic
medicine, therefore, continues to emphasize aspects such as two nger test
conducted to determine if the survivor is sexually active, hymenal status recorded
to assess virginity, and height-weight measured to determine the extent of
resistance o ered by the survivor to prevent the attack. ere is also an overriding
emphasis on presence of injuries.

Evidence from hospital-based studies show that the medico legal


examination of survivors is conducted in a mechanical manner [8]. More o en than
not, history of sexual violence is not given any importance; health professionals

4
collect forensic evidence without any thought e.g. anal, oral and, vaginal swabs
are routinely collected from all survivors whether or not there is any history of
such forms of violence. Health professionals do not seek information on
circumstances of sexual violence. Fail to acknowledge reasons for survivors being
unable to resist the act of sexual violence: they may be scared, or may be drugged,
or may just be in a state of terror to react to the forced act. Besides circumstances
of sexual violence, health professionals also do not document speci c activities
undertaken post assault by survivors which lead to loss of evidence. Time lapse in
reporting to a hospital, activities such as urinating, gargling, bathing, defecating,
and menstruation lead to loss of evidence. It is evident that health professionals
are not equipped to understand the limitations of medical evidence [9]. In a study
conducted in a tertiary care hospital in India, it was found that the hospital was
equipped with the state of art facilities, but did not have a treatment protocol for
sexual violence survivors. Health professionals le the follow up care and referrals
for treatment to the discretion of police. As a result, if the police perceived referral
as important for their case they would take the survivor to the speci ed
department, but if they did not nd it important they would neglect the medical
care. erapeutic care did not gure in the rst line of care for survivors of sexual
violence even in this state of the art tertiary care hospital [10].

The current paper presents learnings related to establishing a


comprehensive health care model for survivors of sexual violence. Within this
context the paper seeks to explore whether a systematic medico legal response
plays any role in the court trials of sexual violence. is is done through analysis of
court judgments. Findings from the analyses of court judgments suggest that
police, prosecution, and judiciary continue to subscribe to unscienti c aspects of
medico legal examinations. e paper presents an analysis of 14 judgments in the
light of medico legal evidence and presents factors that led to conviction and
acquittals. e paper concludes that it is critical for all the systems to understand the
scope and limitations of medico legal evidence if justice has to be secured for
sexual violence survivors.

5
Establishing a Comprehensive Health Care Model for Responding to Sexual
Violence

In order to address the gaps in the forensic and therapeutic response of the
health sector as stated earlier, CEHAT a research centre of the Anusandhan trust
collaborated with the Municipal Corporation of Greater Mumbai ( MCGM), in
2008, to establish an intervention model to respond to sexual violence survivors in
3 Municipal hospitals of Mumbai. e model aimed at changing the practice of
health professionals from a purely medico legal evidence perspective to a medico
legal care perspective. Elements of comprehensive health care model for sexual
violence survivors were evolved from the perspective of science, medicine, ethics,
and law.

The model comprised of the following aspects

• Operationalising informed consent for survivors of sexual violence

• Carrying out systematic documentation of history of sexual violence

• Using gender sensitive protocols for examination and collection of relevant


forensic evidence

• Recording a reasoned medical opinion

• Providing rst contact psychological support and free medical support

Maintaining a clear and fool-proof chain of custody is hospital-based


model was operationalized through a systematic training of Health Professionals
on developing communication skills to speak to survivors of all ages and sexes. E
orts were made in the training programs to replace clinical terms used by the
health providers with colloquial terms to speak to about the incident. Trainings
also provided them with information on dynamics of sexual violence and an
understanding of scope and limitations of medical evidence. Discussion with
health professionals enabled them to replace the archaic medico legal practices
with use of gender sensitive and scienti c methods of examination. It also

6
equipped them to formulate medical opinion and explain the reasons for lack of
medical evidence on the survivors. Mock sessions were o ered to health
professionals in order to prepare them for court appearances and defend their
clinical observations. An important component of the model was the provision of
crisis intervention services. ese ranged from providing psycho- social support,
preparing a safety assessment and safety plan, demystifying and facilitating
various institutional procedures and providing counseling services to family
members [11].

A total of four hundred and forty four survivors were responded to in the
period of 2008 to 2014 in the three hospitals where the model was implemented.
Four hundred and eleven survivors were considered for analysis as the rest of the
survivors reported consensual sexual activity and did not want to pursue a case. A
threefold increase was seen in the reporting of sexual violence during the period
2012-14 as compared to 2008- 12 (94 from 2008-2012, and 354 in 2012-2014). e
sudden increase in reporting could be attributed to the enactment of a new law on
Protection of children from sexual o ences in 2012 (POCSCO), campaigns against
the brutal physical and sexual violence of a young woman in New Delhi in 2012
that created mass awareness on reporting of sexual violence and Criminal law
amendment to rape law 2013 [2,3]. e campaign and outcry against sexual o ences
through media reports may have provided survivors and their families the courage
to report sexual violence.

Pro le of Survivors

Most survivors reporting sexual violence were under the age of 18 years
(65%), where as the rest of them were adults. Under the age of 18 years, 42%
were under 12 years of age (Table 1). In 77% cases, the survivors knew their
perpetrators. Documentation by health professional brought forth that the assault
took place when survivors were going about their routine such as grocery
shopping, traveling home a er school, relatives visiting the survivor’s family, and
being in the care of a known adult while parents were away at work. ese
circumstances clearly show that while the perpetrator planned the act, for the
survivor these were unsuspecting circumstances.

7
A quarter of the survivors voluntarily reported to the hospital (Table 2). ese
survivors expressed concerns about their health and feared having HIV/STI
infections, unwanted pregnancies and reached the hospital for treatment. In
instances of child sexual abuse, caregivers brought them to the hospital fearing
negative health consequences and worries about the child’s ability to lead a
normal life.

40% survivors reported sexual violence in the nature of penovaginal


penetration, additionally 17% reported penetration of the anus and mouth by penis
and 14% reported penetration of the vagina by use of ngers. 36% survivors
reported a range of non-penetrative forms of sexual violence such as fondling of
sexual organs, kissing and licking. is is an important learning as “Rape” is o en
associated only with penovaginal penetration. However, when trained health
professionals elicit details of sexual violence, survivors are able to report a range
of sexually violent acts (Table 3).

20% survivors sustained genital injuries and 22% su ered physical injuries.
is is in keeping with global evidence, where it has been found that only 33%
survivors su er any injury.11 other health consequences were found to be
unwanted pregnancies, burning micturition, pain in abdomen, sleep disturbances,
attempted suicide, and bedwetting (Table 4).

8
Analysing Legal Outcomes

All survivors received medical care and psychosocial support. Having


ensured a comprehensive health care, the question remained about legal justice to

9
the survivors. For this, court judgments were procured for fourteen survivors. e
contents of the judgments were segregated in an excel sheet on the basis of age,
nature of sexual violence, health consequences sustained, and results of forensic
science results. ese judgments were found between the period of 2010-2012 e
survivors of the period 2010-12 could not bene t from the expanded de nition of
rape as per Protection of Children from Sexual O ences’ ( 2012) and ‘Criminal
Law Amendment to Rape’ (2013). e previous laws on rape did not consider
penetration of mouth and vagina, penetration by parts other than penis and non-
penetrative forms of violence as rape.

Of the fourteen case judgments, only six convictions were secured, while
the rest were acquittals. Factors such as age of the survivor, type of sexual
violence, nature of health consequences, forensic ndings and health professional’s
deposition were considered for analysing the outcomes of fourteen judgments. e
table (Table 5) presents speci c components from the fourteen judgments that
played a role in convictions and acquittals.

10
Factors Leading to Convictions

Ensuring availability of medico legal documentation and Health professionals


to the courts

Availability of medico legal records and detailed documentation by health


professionals seems to have played an important role in the trial process. e court
took cognisance that documentation was nuanced and included forms of non-
penile penetration as well as attempt to penetration. e law before 2012 recognized
only penovaginal penetration as rape, but despite the limitations of legal
provisions health professionals carried out comprehensive history seeking and
documentation pertaining to non-penile penetration as well as non penetrative
sexual violence.

Reasonable explanation for lack of Injuries

Amongst the six cases, where convictions were secured, it is important to


note that all survivors did not sustain injuries. Health professionals were able to
substantiate reasons for lack of injuries. Aspects such as delay of more than a
month in reporting to the hospital, being o ered a drink comprising of a stupefying
substance and hence inability to resist the attack were cited as reasons for lack of
injuries. Health Professionals brought forth the documentation of health
consequence in the form of pain in urination, lower abdominal pain, and attempt
to end one’s life as post sexual violence consequences. Such explanations by them
drew the attention of the courts to consider such health consequences as medico
legal evidence.

In one particular instance, health professional had noted in ammation in


the genital region in a child survivor of ve years. e court questioned the medico
legal evidence asking the health professional to explain if in ammation could be
an outcome of a sexually transmitted infection. e Health Professional explained
that her examination ndings noted that in ammation was a result of injury. She
also drew attention to the fact that presence of a STI in a ve year old is a sign of
sexual violence.

11
E ective explanation for negative forensic reports

Of the six survivors where conviction was secured, forensic evidence was
collected from ve. is was because one survivor had reported to the hospital a er a
month, hence no evidence could be located from the body of the survivor. WHO
guidelines clarify that medico legal evidence cannot be located on the body a er a
period of seventy two hours. For the ve survivors reporting before that period of
seventy two hours, forensic evidence was collected in the form of blood samples,
urine samples, nail cuttings, swabs for detection of semen/ sperms etc.

Medico legal evidence analyzed by forensic science laboratory (FSL)


tested positive in case of two survivors as semen stains found on body of the
survivor matched the perpetrator. In instances where the forensic reports were
negative, health professionals were able to explain it in the court. In one nstance
despite the survivor reaching the hospital immediately a er the episode of sexual
violence, swabs collected for seminal stains did not test positive. e Health
professional explained that because survivor was menstruating at the time of
sexual violence and at the time of examination, it is possible that evidence was
lost with menstrual blood. Such an explanation was admitted by the court. In
another instance, doctor was also able to explain that many a times survivors are
not able to recall whether there was emission of semen, if semen is not emitted or
ejaculation has occurred outside the body swabs would not test positive. Such
explanations were given credence by the courts.

Well-equipped prosecution

For all six survivors, prosecution was well prepared and had reviewed the
medico legal documentation along with the health professionals. ey had also
ensured that doctors were called as expert witnesses. Out of six cases, doctors
could come in four cases to depose evidence. In two instances that the doctors
could not be present, medico legal documentation was presented appropriately by
the Public Prosecutor (PP). PPs in all the six convictions were aware that even
negative medical evidence needs to be presented to the court to ensure that non-
disclosure of status of medico legal evidence is not looked by the court in a

12
negative manner.

Factors Leading to Acquittal De ciencies in presentation of injuries as


evidence

Amongst the cases where acquittals had taken place, there was presence of
medico legal evidence in the form of injuries. ree survivors sustained physical
injuries and four sustained genital injuries. Despite deposition by the doctor in the
court, the prosecution was unable to link these injuries to the episode of sexual
violence. Prosecution could not o er an explanation when the defense counsel
raised questions such as whether injuries may have emerged from consensual
sexual activity. In cases, where there was absence of injuries on the survivors, PPs
assumed that health professionals need not be called to depose in the court. When
questions were raised by the court on absence of injuries Prosecution could not
adequately respond as they were not aware of the limitation of medical evidence.
Had they summoned the doctors, the situation could have been di erent with the
possibility of doctors bringing clarity on this issue to the Court.

Inconclusive presentation of trace evidence

Amongst the eight survivors, trace evidence was found in four survivors in
the form of semen traces and presence of alcohol in blood. Due to the fact that
three of the four survivors were adults and in a relationship, the court raised the
possibility of the semen evidence being of the partner from the consensual
relationship and asked the prosecution to explain it. Prosecution could have
disputed such an argument based on the case narration of the survivor. Survivors
had clearly stated that the perpetrator was a known person but they were not in a
relationship with them. Further directions could have been sought from the court
to assess whether the semen evidence of the consensual partner matched that of
the perpetrator. e prosecution however could not bring these aspects to the notice
of the court. DNA examination and matching could have been sought to assess
whether the semen traces belonged to the consensual partner but even such a
direction was not sought, leaving the survivors at a disadvantaged position.

13
Even instances where no trace evidence was found on survivors, medico legal
records provided clari cations for it. Medical opinion of the Health Professional
was recorded for lack of trace evidence. Such an opinion stated that perpetrator
had not emitted semen on the survivor’s body, survivor reported to the hospital a
er delay of a week and survivor being assaulted by nger penetration; hence semen
could not be found. Despite such clear medical interpretation, prosecution was not
able to present these ndings in the Court.

Inconsistencies in survivor deposition and medico legal documentation

An important responsibility of the Public Prosecutor is preparation of the


survivor before making court appearances. Each potential evidence to be
presented by the PP has to be examined and veri ed. If this is not done and
contradictions appear, then it can mar the chances of successful prosecution. In
one instance, contradiction appeared in the medical evidence presented by the
health professional in the court and questions raised by the survivor against
medico legal documentation. Survivor stated that she had sustained genital lesions
a er the violent episode which the HP had not recorded. e HP maintained that at
the time of examination no lesion was found on the genitals. e PP was not able to
salvage the situation, and resulted in an issue indicating inconsistency in the
statements of the survivor and the Health professional. e court upheld that a health
professional is a disinterested party and hence there is no reason to record false
reports. e court stated that had the survivor sustained genital lesions post the
assault, she could have visited another HP and that medical record could have
been brought to the court. Such a record was not sought by the prosecution.
Unfortunately such inconsistencies were used by the defense counsel to discredit
survivor’s narrative. Hence proactive prosecution is needed to bring medical
evidence to clarify any suspicion observed by the Court in relation to acceptance
of any evidence and testimony.

Overambitious prosecution

Eagerness on the part of prosecution also a ected the chances of


conviction. In one instance police prepared a charge sheet of gang rape despite the

14
survivor stating that there was only one perpetrator. e focus of the prosecution
became proving the o ence of gang rape, but required evidence was found to be
lacking. In another instance, the survivor reported assault from the perpetrator by
insertion of ngers in the vagina but the police had included charge under rape.

The law on rape till 2012 required an attempt to penetration by penis and
did not prosecute use of objects, ngers etc. When non-penetrative assault charge
was brought under rape sections of the law, it allowed the defense an upper hand
in squashing the prosecution’s case. If appropriate sections of Indian penal code
were charged for the o ence on insertion of ngers in the vagina, the chances of
getting conviction would have certainly increased. Even if the charges (which
provided higher punishments) were leveled with an intention to punish the
perpetrator with a severe sentence, it back red when the prosecution failed to
prove its point and with the accused going scot-free and the victim denied justice
for no fault of hers.

Fear of social incrimination

Amongst the eight survivors where acquittals were declared, three


survivors withdrew from court appearances during trial as they did not want to
pursue the legal battle any longer. Survivors and their families cited reasons such
as wanting to move on, not wanting the survivor to be labeled fear of future
prospects of survivor’s marriage amongst others. Amongst the survivors who
withdrew period of trial ranged from 1.5 years to 3 years.

Discussion

Trough the analysis of fourteen judgments an e ort was made to


understand how courts interpret medico legal ndings and whether these ndings
have any role to play in conviction and acquittal. An important insight that we
gained was about the gaps in the understanding of the medico legal evidence by
courts. Medico legal evidence was largely understood in the form of injuries.
Presences of genital and physical injuries were found to be an important factor in
the process of conviction as was seen in the ndings. But inconsistencies were

15
found in accepting injuries as evidence in cases of adolescent survivors. Courts
raised questions on whether the injuries were related to consensual sexual
activities. Further biases were re ected in court proceedings when health
professionals were asked for results of the two nger test - such a test was used in
the past by health professionals to determine the past sexual conduct of a survivor,
but in recent times it has been banned by a Supreme Court order [12]. Yet such
questions were asked in the court.

Courts displayed a lack of understanding of health consequences of sexual


violence such as burning micturition, pain in abdomen and possibility of sexually
transmitted infection in children. Despite medical records indicating the nature of
treatment o ered to these survivors in the form of analgesics for pain relief,
antibiotics for treatment of sexually transmitted infections and provision of
emergency contraception to avoid an unwanted pregnancy - the prosecution was
not able to link the health consequences as outcome of sexual violence. Evidence
from di erent countries has established physical and psychological health
consequences of sexual violence [13]. However, the courts in India have not taken
cognizance of the same.

Another issue of concern is the inconsistent interpretations of biological


evidence (presence of semen stains, alcohol in blood) - whether positive
biological evidence plays any role in the conviction or acquittal could not be
determined in these judgments. Similar evidence was found by other studies
assessing the impact of forensic evidence on legal outcomes [14]. ese studies in
fact discussed that more than biological evidence, factors such as prosecutorial
screening, and chances of convictability of a crime were instrumental in how the
courts operate. ese studies thus showed that presence of biological evidence was
not obligatory to secure convictions. Hence the impact of biological evidence and
its impact on legal outcomes have been unclear [15].

The court judgments also re ected stereotypical beliefs and biases existed
against survivors of sexual violence. If the survivor knew the perpetrator, court
drew inferences that the possibility of the act being a consensual one cannot be
ruled out. Such inferences proved to be damaging to the survivor and also to the

16
outcome of the court trial. When the perpetrator was a known person or a partner,
such cases were seen to be less deserving of justice as against survivors who
resisted sexual violence and tried hard to physically resist the attack [16].

Besides the long process of court trials, an important factor for survivors
was also how societies and communities perceived them. Unfavorable attitudes by
neighbors, fear of another attack by perpetrators, concern about future of the
survivor and concerns around impact of the legal processes on family and friends
led survivors to drop out of the court trials as evidenced in the analysis of the
judgments. Similar ndings were seen in a report undertaken by the Home
department of England and Wales 15. eir study showed similar ndings where
survivors stated that they wanted to move on in their lives by dropping from the
trial process. In order that a survivor of sexual violence continues with the legal
processes, there is a critical need for multiplicity of stake holders to work in
coordination with one another and also in the best interest of the survivors.
Aspects such as compensation, counseling and therapeutic services along with
strong support mechanisms for navigating the criminal justice system and
commitment to protect and support survivors are critical to prevent attrition [16].

Conclusion

Medico legal evidence has been considered an important component in the


prosecution of crimes, especially those related to sexual violence. e courts heavily
rely upon it. However it is important to understand that forensic science itself is a
new and emerging discipline. No forensic method has rigorously been able to
demonstrate a de nitive connection between a speci c individual and a
sample/source .Far more research is required to arrive at de nitive conclusions as
stated by global research on forensic sciences [17].

In the Indian context, the medico legal practice was fraught with medieval
practices and lacked a scienti c approach. is paper has presented e orts made in
order to change the age old medico legal practice in hospitals by a scienti c,
survivor centric gender sensitive approach. E orts were made through the model to
look beyond the forensic role of health professionals and harness therapeutic care

17
for survivors. While providing therapeutic and medico legal care to survivors and
assisting them with rehabilitation services, there was also an While doing so, there
was also an interest in understanding if medico legal practice of health
professionals can assist the courts in interpretation of medico legal evidence.
Medical opinions by health professionals documented circumstances of sexual
violence and highlighted reasons for loss of medical evidence in instances where
it was not found. Such ndings were expected to assist the courts in interpreting
medico legal evidence. But analysis of case judgments in this paper brought forth
serious gaps in how the police, prosecution and courts understand medico legal
evidence. Despite several judgments of the apex court stating medical evidence
only as corroborative evidence , courts continued to believe that medico legal
examination and evidence collection will inform them whether rape occurred or
not . E orts must be made to acknowledge that health systems have a therapeutic
[18].

This paper highlights that training of health professionals to carry out


systematic and scienti c medico legal examination and care must be supported
with training of the police, prosecution and judiciary to explain the scope and
limitations of medical evidence. Interface amongst these stakeholders is pertinent
in order to enable survivors in their pursuit for justice.

Acknowledgements

This paper is based on our experience of implementing a comprehensive


healthcare response to sexual violence. We would like to acknowledge the
contribution of Ms Rashi Vidyasagar and Ms Sanjida Arora for assisting in the
analysis pertaining to the court records. We also acknowledge Ms Chitra Joshi,
who has made a valuable contribution in providing crisis intervention services to
the survivors of sexual violence.

18
References

1. Reddy JN (2010) Legal changes towards jus ce for sexual assault vic ms. Indian
J Med Ethics 7: 108-112.

2. Protec on of Children from Sexual O ences Act of 2012, Ministry Of Women &
Child Development.

3. The Criminal Law (Amendment)Act 2013(2015) Ministry of Law and Jus ce


2013.

4. Manjanna v/s state of Karnataka (2015).

5. Reddy JN (2014) Recent Changes in Medical Examina on of Sexual Violence


Cases. J Karnataka Medico Legal Society 23: 36-40.

6. Deosthali BP (2013) Moving from evidence to care: ethical responsibility of


health professionals in responding to sexual assault. Indian J Med Ethics 10: 2-5.

7. Analysis of forensic medical textbooks (2013) Centre for Enquiry Into Health
and Allied Themes (CEHAT).

8. Contractor S, Divekar R, Ranjan A (2009) Report on observa ons conducted at


a police hospital Mumbai, CEHAT.

9. Rege S, Deosthali BP, Reddy JN,Contractor S (2014) Responding to Sexual


Violence: Evidence-based Model for the Health Sector. Economic and Poli cal
Weekly 49: 96-101.

10. Contractor S, Venkatachalam D, Keni Y, Mukadam R (2011) Responding to


sexual assault: A study of prac ces of health professionals in a public hospital
CEHAT,Mumbai.

11. Centre for Enquiry Into Health and Allied Themes (CEHAT) (2012)
Establishing a Comprehensive Health Sector Response to Sexual Assault,
Mumbai.

19
12. State of U.P vs Pappu @ Yunus and Anr (2004) 3 SCC 594, para 10-11.

13. Moreno G, Jansen C, Wa s H, Ellsberg C N, Heise L (2005) WHO Mul


country study on womens health and domes c violence against women.

14. Dumont J, White D (2007) WHO The uses of impact of medico legal evidence
in sexual assault, Geneva.

15. Quadara A, Fileborn B, Parkinson D (2013) The role of forensic medicine in


prosecu on of adult sexual assault.

16. Rape: How women, community and health sector respond. World Health
Organisa on 2007.

17. Edmond G (2015)What lawyers should know about forensic science.

18. World Health Organiza on (2003) Guidelines for medico-legal care of vic ms
of sexual violence.

20
2.2 Jurnal Terjemahan

ASPEK MEDIKOLEGAL PADA KEJAHATAN SEKSUAL : PENGARUH


PADA PENILAIAN PENGADILAN
Sangeta Rege, Padma Bhate-Deosthall, Jagadeesh N Reddy

Membangun Model Komprehensif Perawatan Kesehatan untuk Menanggapi


Kejahatan Seksual
Dalam rangka untuk mengatasi kesenjangan dalam respon forensik dan
terapi sektor kesehatan seperti yang dinyatakan sebelumnya, CEHAT (pusat
penelitian dari kepercayaan Anusandhan) berkolaborasi dengan Municipal
Corporation of Greater Mumbai (MCGM), pada tahun 2008, untuk mendirikan
sebuah model intervensi untuk merespon korban kekerasan seksual di 3 rumah
sakit Kota Mumbai. Metode yang digunakan bertujuan untuk mengubah praktek
profesional kesehatan dari perspektif bukti murni medikolegal menjadi perspektif
perawatan medikolegal. Model-model metode yang digunakan dalam pelayanan
kesehatan yang komprehensif untuk korban kekerasan seksual diambil dari
perspektif ilmu pengetahuan, kedokteran, etika, dan hukum.
Model terdiri dari aspek-aspek berikut :
• Operasional informed consent untuk korban kekerasan seksual
• Melaksanakan dokumentasi sistematis perjalanan kekerasan seksual
• Menggunakan perspektif perbedaan jenis kelamin untuk pemeriksaan dan
pengumpulan bukti forensik yang relevan
• Mencatat setiap bukti yang berdasar pada alasan medis
• Memprioritaskan dukungan psikologis dan dukungan kesehatan
• Mempertahankan bukti bukti yang nyata dari faktor ekstrinsik

Metode ini dilaksanakan dengan menggunakan metodologi medis professional


yang terlatih, terutama dalam hal komunikasi terhadap seluruh usia dan jenis
kelamin. Ini bertujuan agar istilah klinis yang digunakan oleh penyedia kesehatan
diganti dengan istilah sehari-hari yang biasa digunakan dalam kasus tersebut.

21
Pelatihan ini juga menyediakan berbagai macam kasus kekerasan seksual dan
kasus kasus dengan bukti yang terbatas. Diskusi dengan profesional kesehatan
memungkinkan mereka untuk menggantikan praktek medikolegal kuno menjadi
istilah-istilah yang mudah dipahami dalam pelaksanaannya. Metode ini juga
melengkapi mereka untuk dapat merumuskan pendapat medis dan menjelaskan
alasan-alasan kurangnya bukti medis pada para korban. Sesi tanya jawab juga
diberikan untuk para paramedic muda supaya mereka dapat mempertahankan
bukti bukti medis yang mereka dapatkan terutama dalam proses sidang pengadilan
nantinya. Metode ini juga mencakup bantuan psikososial, program pengamanan
untuk para trainee, kemudahan dalam pengambilan data dan konseling untuk
keluarga korban[11]. Sebanyak 444 korban yang menjadi sampel pada periode
2008-2014 di tiga rumah sakit di mana model itu dilaksanakan. 411 korban
bersedia untuk menjalankan metode hingga selesai, tetapi sisanya menolak untuk
melanjutkan kasusnya. Terjadi peningkatan hingga tiga kali lipat dalam pelaporan
kekerasan seksual selama periode 2012-2014 dibandingkan dengan 2008- 2012
(94 pada 2008-2012, dan 354 pada 2012-2014). Peningkatan ini berkaitan dengan
diberlakukannya undang-undang baru tentang Perlindungan anak dari kejahatan
seksual pada tahun 2012 (POCSCO), demo yang dilaksanakan untuk membela
seorang wanita muda di New Delhi yang diduga menjadi korban kekerasan fisik
dan seksual pada tahun 2012 yang meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa
pentingnya melaporkan kasus kekerasan seksual dan amandemen undang-undang
pidana hukum perkosaan tahun 2013[2,3]. Pemberitaan ini membuat para keluarga
korban berani untuk melaporkan kasus kekerasan seksual kepada pihak yang
berwajib.

Profil Korban Selamat dari Kejahatan Seksual


Sebagian besar korban yang melaporkan kekerasan seksual berusia di
bawah 18 tahun dengan presentase sebesar 65%, sedangkan sisanya adalah orang
dewasa. Di bawah usia 18 tahun, dengan presentase 42% berusia di bawah 12
tahun (Tabel 1). Pada 77% kasus, mereka yang selamat mengetahui pelaku
mereka. Berdasarkan dokumentasi oleh profesional kesehatan menyatakan
serangan yang terjadi ketika korban saat rutinitas seperti mereka seperti

22
berbelanja, perjalanan pulang sekolah, kerabat mengunjungi keluarga korban, dan
bersama seorang dewasa yang dikenal sementara orang tua sedang pergi bekerja .
Keadaan ini jelas menunjukkan bahwa ketika pelaku merencanakan tindakan, bagi
yang selamat, ini adalah keadaan yang tidak mencurigakan.
Seperempat orang yang selamat secara sukarela dilaporkan ke rumah sakit
(Tabel 2). Mereka yang selamat menyatakan keprihatinan tentang kesehatan
mereka dan takut terinfeksi HIV / IMS, kehamilan yang tidak diinginkan dan ke
rumah sakit untuk perawatan. Dalam kasus pelecehan seksual anak, pengasuh
membawa mereka ke rumah sakit karena khawatir akan konsekuensi kesehatan
yang negatif dan kekhawatiran tentang kemampuan anak untuk menjalani
kehidupan normal.
Dari 40% korban dilaporkan kekerasan seksual dengan penetrasi
penovaginal, 17% dilaporkan penetrasi dari anus dan mulut dengan penis dan 14%
melaporkan penetrasi vagina dengan menggunakan jari. 36% korban melaporkan
berbagai bentuk kekerasan seksual non-penetratif seperti membelai organ seksual,
berciuman dan menjilati. Ini adalah pembelajaran penting karena “Pemerkosaan”
umumnya hanya terkait dengan penetrasi penovaginal. Namun, ketika tenaga
kesehatan yang terlatih menemukan rincian kekerasan seksual, mereka yang
selamat dapat melaporkan berbagai tindakan kekerasan seksual (Tabel 3).
Dari 20% korban mengalami cedera genital dan 22% menderita cedera
fisik. Hal ini sesuai dengan global evidance, di mana telah ditemukan bahwa
hanya 33% yang selamat menderita cedera.11 konsekuensi kesehatan lainnya
ditemukan seperti kehamilan yang tidak diinginkan, perih saat berkemih, nyeri di
perut, gangguan tidur, percobaan bunuh diri, dan mengompol.

Tabel 1. Usia korban yang melaporkan kejahatan seksual

Rentang Usia Frekuensi %


0 – 12 tahun 174 42,3
13 – 17 tahun 95 23,1
Lebih dari 18 tahun 142 34,5
Total 411 100

23
Tabel 2. Langkah ke rumah sakit pada korban kejahatan seksual

Langkah Frekuensi %
Kontak pertama ke rumah 100 24
sakit
Kontak pertama ke polisi 300 73
Tidak ada informasi 3 1
Datang ke rumah sakit atas 8 2
rujukan pusat konseling
Total 411 100

Tabel 3. Kejadian kejahatan seksual sesuai yang dilaporkan korban

Kejadian kejahatan Frekuensi %


Penetrasi vagina oleh penis 164 40
Penetrasi vagina oleh jari 57 14
Penetrasi anus oleh penis 37 8
Penetrasi mulut oleh penis 39 9
Tidak ada peneterasi (berciuman, perabaan, 148 36
mastrubasi)

Tabel 4. Konsekuensi kesehatan pada korban setelah mengalami kejahatan


seksual

Konsekuensi kesehatan Frekuensi %


Luka pada alat kelamin 81 20
Luka fisik 91 22
Nyeri saat berkemih (rasa terbakar) 19 5
Nyeri pada alat kelamin 18 4
Nyeri rektum 11 3
Nyeri bagian tubuh lain 29 7
Kehamilan tidak diinginkan 39 9

24
Konsekuensi kesehatan lain (percobaan bunuh 27 7
diri, mengompol, gangguan tidur)
Tidak ada gangguan 138 33

Analisis Hukum
Semua korban menerima perawatan medis dan dukungan psikososial.
Setelah mendapatkan perawatan kesehatan yang komprehensif, pertanyaannya
tentang keadilan hukum bagi para korban. Untuk ini, keputusan pengadilan
diperoleh untuk empat belas orang yang selamat. Isi dari penilaian dipisahkan
dalam excel sheet berdasarkan usia, sifat kekerasan seksual, konsekuensi
kesehatan yang berkelanjutan, dan dari hasil pemeriksaan forensik. Penilaian ini
ditemukan antara periode 2010-2012. Para korban yang selamat dari periode
2010-2012 tidak mendapatkan manfaat yang sesuai dengan Perlindungan Anak-
Anak dari tindakan Seksual (2012) dan 'Perubahan Hukum Pidana Terhadap
Pemerkosaan '(2013). Undang-undang sebelumnya tentang perkosaan tidak
mempertimbangkan penetrasi mulut dan vagina, penetrasi oleh bagian-bagian
selain penis dan bentuk-bentuk kekerasan non-penetratif sebagai perkosaan.
Dari empat belas putusan kasus, hanya enam putusan yang dijamin,
sementara sisanya dibebaskan. Faktor-faktor seperti usia korban, jenis kekerasan
seksual, sifat konsekuensi kesehatan, temuan forensik dan kesehatan
dipertimbangkan untuk menganalisis hasil dari empat belas penilaian. Pada table
(Tabel 5) menyajikan komponen spesifik dari empat belas penilaian yang
memainkan peran dalam keyakinan dan pembebasan.

Tabel 5. Profil dari 14 korban yang hasil pengadilan dapat di analisa

Lebih dari
Usia 0-12 13-17
18
Jumlah korban selamat 5 2 7
Mengenal 4 2 5
Hubungan dengan
Tidak mengenal 1 0 2
pelaku
Total 5 2 7

25
Penetrasi 4 1 7
Tipe kejahatan
Tidak penetrasi 1 1 0
seksual
Total 5 2 7
Adanya cedera fisik 0 0 3
Adanya cedera alat kelamin 5 0 2
Ya 0 1 2
Adanya intoksikasi Tidak 5 1 5
Total 5 2 7

Lebih dari
Usia 0-12 13-17
18
Ada 1 0 4
Air mania tau darah Tidak 4 2 3
Total 5 2 7
Fisik 3 0 3
Konsekuensi
Psikologik 0 1 3
kesehatan
Total 3/5 1/2 6/7
Pelaku dihukum 2 2 2
Hasil pengadilan Pelaku bebas 3 0 5
Total 5 2 7

Faktor – faktor yang Mengarah ke Hukuman

1. Memastikan adanya dokumentasi mediko legal dan ahli kesehatan pada


pengadilan
Adanya rekam mediko legal dan dokumentasi mendetail dibuat oleh ahli
kesehatan memiliki peran yang cukup penting dalam proses sidang
pengadilan. Pengadilan mengambil tanggung jawab bahwa dokumentasi
tersebut memiliki perbedaan kecil dan memasukkan data dari kasus pelecahan
tanpa penetrasi dan percobaan pemerkosaan. Dasar hukum sebelum tahun
2012 hanya mengakui pemerkosaan adalah penetrasi penis ke vagina,

26
walaupun adanya keterbatsan dalam ketentuan hukum yang legal, ahli
kesehatan melakukan pencarian sejarah yang komprehensif dan dokumentasi
yang berkatian dengan penetrasi non-penis serta pelecehan seksual tanpa
penetrasi.

2. Penjelasan masuk akal minimnya cedera


Dari enam kasus dimana sudah ditetapkan hukuman, perlu dicatat bahwa
korban yang selamat tidak terluka. Ahli kesehatan professional mampu
membuktikan alasan kurangnya cedera. Aspek seperti keterlambatan lebih dari
satu bulan dalam melaporkan ke rumah sakit, ditawari minuman yang memliki
zat pembius dank arena tidak mampu menahan serangan tersebut dikutip
sebagai alasan kurangnya cedera pada korban yang selamat. Kemudian tenang
medis memperlihatkan dokumentasi akibatnya secara kesehatan seperti nyeri
saat buang air kecil, nyeri perut bagian bawah dan percobaan bunuh diri
setelah kekerasan seksual tersebut. Penjelasan yang dipaparkan tersebut
menarik perhatian pengadilan untuk mempertimbangkan dampak pada
kesehatan tersebut sebagai bukti mediko legal.
Dalam satu contoh khusus, tenaga media professional menemukan
peradangan pada area genital pada anak umur lima tahun yang selamat.
Pengadilan sendiri mempertanyakan bukti mediko legal tersebut kepada sang
ahli kesehatan untuk menjelaskan apakah peradangan itu menjadi akibat dari
penyakit seksual menular. Sang ahli kesehatan menjelaskan bahwa
peradangan tersebut merupakan akibat cidera. Dari bukti yang dipaparkan ahli
kesehatan tersebut menunjukkan adanya penyakit seksual menular merupakan
tanda adanya pelecehan seksual.

3. Penjelasan efektif dari laporan forensik yang negatif


Dari enam korban yang selamat, bukti forensik yang dikumpulkan hanya
dari lima korban. Ini dikarenakan salah satu korban sudah melapor ke rumah
sakit setelah satu bulan, maka dari itu tidak ditemukan bukti dari tubuh
korban. Pedoman WHO menjelaskan bahwa bukti mediko legal tidak dapat
ditemukan pada tubuh setalah jangka waktu tujuh puluh dua jam. Untuk lima

27
korban selamat yang melapor sebelum jangka waktu tujuh puluh dua jam,
bukti forensik yang dikumpulkan berupa sampel darah, sampel urin, kuku,
swab mani dan sebagainya.
Bukti yang dianalisa oleh Laboratorium Ilmu Forensik mendapatkan hasil
uji positif dimana dua korban yang selamat ditemukan bercak air mani pada
tubuh korban dan cocok dengan pelaku pemerkosaan. Jika dimana laporan
forensik negatif, ahli kesehatan profesional mampu menjelaskannya di
pengadilan. Dalam satu contoh kasus meskipun korban datang ke rumah sakit
setelah terjadi pemerkosaan, hasil swab untuk bercak seminal negatif. Ahli
kesehatan tersebut menjelaskan bahwa korban yang selamat sedang haid saat
pemeriksaan dan memungkinkan bahwa bukti pemerkosaan hilang bersama
darah menstruasi. Penjelasan tersebut diterima di pengadilan. Satu contoh
lainnya, dokter juga menjelaskan bahwa sering kali korban yang selamat tidak
mengingat apakah ada emisi dari air mani, jika air mani tidak diemisikan atau
jika ejakulasi terjadi di luar tubuh korban hasil uji swab akan mengeluarkan
hasil yang negatif. Penjelasan tersebut dipercaya oleh pengadilan.

4. Penuntutan yang dipersiapkan dengan baik


Dari keenam korban, penuntutan terhadap terdakwa dipersiapkan dengan
baik dan telah meninjau dokumentasi mediko legal bersama dengan ahli
kesehatan. Juga dipastikan bahwa dokter adalah saksi ahli. Dokter dapat
memberi kesaksian terhadap empat dari enam kasus. Dari dua contoh dimana
dokter tidak dapat hadir, dokumentasi mediko legal dapat dijelaskan dengan
tepat oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum menyadari bahwa
bukti medis yang menunjukkan hasil negatif dari keenam kasus tersebut tetap
perlu dijelaskan saat sidang pengadilan untuk menghindari cara pandang
negatif oleh pengadilan saat status bukti mediko legal tetap dirahasiakan.

Faktor-faktor yang Menyebabkan Pembebasan


1. Kurangnya Penjelasan Tentang Cedera Sebagai Bukti
Diantara semua kasus dimana pelaku dibebaskan, terdapat bukti medis
dalam bentuk cedera. Tiga korban mendapatkan cedera fisik dan empat

28
korban mendapat cedera pada daerah genital. meskipun dokter telah hadir
dalam pengadilan, penuntut tidak dapat menghubungkan cedera-cedera yang
di alami korban dengan kekerasan seksual. Penuntut tidak dapat memberikan
penjelasan ketika Pembela bertanya apakah cedera yang didapat mungkin
dikarenakan kegiatan seksual yang sama-sama korban dan pelaku inginkan.
Pada beberapa kasus dimana tidak ada cedera pada korban, Jaksa Penuntut
Umum beranggapan bahwa dokter tidak perlu hadir dalam pengadilan. Tetapi
ketika diajukan pertanyaan perihal ketiadaannya cedera, Penuntut tidak dapat
menjelaskan karena keterbatasan pengetahuan tentang medis. Seandainya
mereka meminta dokter untuk hadir dalam pengadilan, keadaannya mungkin
akan berbeda karena dokter dapat memberikan kejelasan tentang masalah ini.

2. Kurang Kuatnya Barang Bukti yang Ditemukan


Diantara delapan korban, bukti ditemukan pada empat korban dalam
bentuk air mani dan adanya alkohol dalam darah. Karena tiga dari empat
korban adalah orang dewasa dan sedang terlibat dalam suatu hubungan,
pengadilan dapat berasumsi bahwa air mani tersebut berasal dari kegiatan
seksual yang memang dilakukan dengan masing-masing pasangannya.
Penuntut dapat mendebatkan argumen tersebut berdasarkan cerita korban
dimana korban mengaku pelaku adalah orang yang mereka kenali tetapi tidak
menjalin hubungan dengan mereka. Pemeriksaan dan pencocokan DNA dapat
dilakukan untuk menilai apakah air mani adalah milik pasangan tetapi
pemeriksaan tersebut bahkan tidak dilakukan sehingga membuat korban
dalam posisi yang tidak diuntungkan.
Disaat tidak ada barang bukti yang ditemukan pada korban, catatan
medikolegal dapat memberikan klarifikasi untuk hal tersebut. Opini medis
dari dokter dicatat karena kurangnya barang bukti. Opini seperti pelaku tidak
mengeluarkan air mani pada tubuh korban, korban melapor ke rumah sakit
satu minggu setelah kejadian, dan korban dipenetrasi dengan jari sehingga air
mani tidak dapat ditemukan. Meskipun ada interpretasi medis yang jelas,
penuntut tidak dapat menyajikan penemuan ini di pengadilan.

29
3. Inkonsistensi pernyataan korban dan dokumen medikolegal
Tanggung jawab terpenting dari Jaksa Penuntut Umum adalah
mempersiapkan korban sebelum hadir dalam pengadilan. Setiap barang bukti
yang berpotensi dan akan dihadirkan dalam pengadilan harus sudah
diperiksan dan diverifikasi. Jika hal ini tidak dilakukan dan muncul sebuah
pertentangan, dapat merusak peluang penuntut untuk berhasil. Dalam satu
contoh, pertentangan muncul pada barang bukti medis yang diajukan oleh
dokter di pengadilan dan pertanyaan pun diajukan kepada korban tentang
catatan medisnya. Korban menyatakan bahwa ia mendapatkan luka pada
daerah genital setelah kekerasan seksual terjadi tetapi dokter tidak
mencatatnya. Dokter menyatakan bahwa pada saat pemeriksaan, tidak
ditemukan adanya lesi pada daerah genital. Jaksa Penuntut Umum tidak dapat
dapat membantu dalam situasi tersebut terlebih lagi menimbulkan masalah
yang menunjukkan adanya inkonsistensi dalam pernyataan korban dan
dokter. Pengadilan yakin bahwa seorang dokter merupakan pihak yang tidak
memiliki alasan untuk membuat keterangan palsu. Pengadilan pun
menyatakan bila korban mendapatkan luka setelah kekerasan seksual terjadi,
seharusnya mencari dokter lain dan catatan medisnya dapat dibawa ke
pengadilan. Sayangnya, inkonsistensi seperti itu sering digunakan Pembela
untuk menjatuhkan pernyataan korban.

4. Ambisi Berlebihan Penuntut


Kesungguhan pihak penuntut juga mempengaruhi keyakinan
pengadilan. Dalam satu contoh, polisi mengajukan satu lembar tunduhan
pemerkosaan oleh banyak orang tetapi korban menyatakan bahwa hanya ada
satu pelaku. Fokus dari penuntutan menjadi pembuktian adanya pemerkosaan
oleh banyak orang tetapi bukti yang didapat ternyata kurang. Contoh lain,
seorang korban melaporkan kekerasan seksual oleh jari tangan yang
dimasukkan ke dalam vagina, tetapi polisi membuat tuduhan selain
pemerkosaan. Undang-undang tentang pemerkosaan pada tahun 2012
menyatakan bahwa pemerkosaan adalah penetrasi penis dan bukan
menggunakan barang lain seperti objek, jari, dan lain-lain. Ketika tuduhan

30
non-penetrasi dibawa ke pengadilan dengan menggunakan Undang-undang
tentang pemerkosaan dengan mudahnya pembela akan mengalahkan kasus
tersebut dalam pengadilan.

5. Rasa takut akan tuduhan sosial


Diantara delapan korban dimana dinyatakan putusan bebas, tiga orang
mengundurkan diri dari persidangan karena mereka tidak ingin melanjutkan
proses hukum. Korban dan keluarganya mengutarakan alasan seperti ingin
melanjutkan hidup, korban tidak ingin dicap takut akan masa depan
pernikahannya diantara orang lain. Diantara semua korban yang mundur dari
persidangan berkisar antara 1,5 tahun hingga 3 tahun.

DISKUSI
Melalui analisis empat belas kasus, sebuah upaya dibuat untuk memahami
bagaimana pengadilan menginterpretasikan temuan medis dan apakah temuan-
temuan ini memiliki peran dalam penentuan hukuman atau pembebasan. Sebuah
wawasan penting yang kami peroleh adalah tentang kesenjangan dalam
memahami bukti hukum medis oleh pengadilan. Bukti temuan medis sebagian
besar dipahami dalam bentuk cedera. Adanya cedera pada alat kelamin dan cedera
fisik merupakan faktor penting dalam proses pengadilan seperti yang terlihat
dalam kasus-kasus. Tetapi inkonsistensi ditemukan dalam menerima luka sebagai
bukti dalam kasus-kasus remaja yang mengalami kejahatan seksual. Pengadilan
mengajukan banyak pertanyaan mengenai cedera terkait dengan aktivitas seksual
sebelumnya. Bias lebih lanjut tercermin dalam proses pengadilan ketika
profesional kesehatan diminta mengenai hasil tes dua jari – yaitu pemeriksaan
yang digunakan di masa lalu oleh para profesional kesehatan untuk menentukan
perilaku seksual sebelumnya dari seorang yang mengalami kejahatan seksual,
tetapi belakangan ini telah dilarang oleh Mahkamah Agung[12]. Namun pertanyaan
seperti itu tetap diajukan di pengadilan.
Pengadilan menunjukkan kurangnya pemahaman tentang konsekuensi
kesehatan dari kejahatan seksual seperti nyeri saat berkemih, nyeri di perut dan
kemungkinan infeksi menular seksual pada anak-anak. Meskipun pada catatan

31
medis dapat diberikan pengobatan yang ditawarkan kepada mereka yang selamat
dalam bentuk analgesik untuk menghilangkan rasa nyeri, antibiotik untuk
pengobatan infeksi menular seksual dan penyediaan kontrasepsi darurat untuk
menghindari kehamilan yang tidak diinginkan - jaksa tidak dapat menghubungkan
konsekuensi kesehatan sebagai hasil dari kekerasan seksual. Bukti dari berbagai
negara telah menetapkan konsekuensi kesehatan fisik dan psikologis dari
kekerasan seksual[13]. Namun, pengadilan di India belum mengambil keakraban
yang sama. Masalah lain yang menjadi perhatian adalah interpretasi yang tidak
konsisten dari bukti biologis (keberadaan noda air mani, alkohol dalam darah) -
apakah bukti biologis positif memainkan peran apa pun dalam keyakinan atau
pembebasan tidak dapat ditentukan dalam penilaian ini. Bukti serupa ditemukan
oleh penelitian lain yang menilai dampak bukti forensik pada hasil pengadilan [14].
Studi-studi ini pada kenyataannya membahas bahwa lebih dari bukti biologis,
faktor-faktor seperti penyaringan kejaksaan, dan kemungkinan terpidana
kejahatan adalah instrumental dalam bagaimana pengadilan beroperasi. Studi-
studi ini dengan demikian menunjukkan bahwa kehadiran bukti biologis tidak
wajib untuk menentukan hukuman dalam pengadilan. Oleh karena itu, dampak
bukti biologis dan dampaknya terhadap hasil hukum belum jelas[15].
Keputusan pengadilan juga mencerminkan keyakinan stereotip dan bias
yang ada terhadap korban kekerasan seksual. Jika orang yang selamat mengenal
pelaku, pengadilan menarik kesimpulan bahwa kemungkinan tindakan itu sebagai
tindakan yang sebelumnya sering dilakukan, tidak dapat dikesampingkan.
Kesimpulan semacam itu terbukti merusak korban dan juga hasil persidangan.
Ketika pelaku adalah orang yang dikenal atau pasangan, kasus-kasus seperti itu
dianggap kurang pantas untuk keadilan karena melawan korban yang menolak
kekerasan seksual dan berusaha keras untuk secara fisik menahan serangan [16].
Selain proses pengadilan yang panjang, faktor penting bagi orang yang
selamat dari kejahatan seksual adalah juga bagaimana masyarakat dan lingkungan
menerimanya. Sikap yang tidak menguntungkan oleh tetangga, takut serangan lain
oleh pelaku, kekhawatiran tentang masa depan korban dan kekhawatiran tentang
dampak dari proses hukum pada keluarga dan teman-teman menyebabkan korban
untuk keluar dari persidangan pengadilan sebagaimana dibuktikan dalam analisis

32
penilaian. Temuan serupa terlihat dalam laporan yang dilakukan oleh Departemen
[15]
Dalam Negeri Inggris dan Wales . Studi mereka menunjukkan temuan serupa
di mana para korban menyatakan bahwa mereka ingin melanjutkan hidup normal
mereka dengan cara mengundurkan diri dari proses persidangan. Agar seorang
yang selamat dari kekerasan seksual melanjutkan proses hukum, ada kebutuhan
kritis bagi berbagai pihak yang bertanggungjawab untuk bekerja dalam koordinasi
satu sama lain dan juga demi kepentingan terbaik para korban. Aspek seperti
kompensasi, konseling dan layanan terapeutik bersama dengan mekanisme
dukungan yang kuat untuk menavigasi sistem peradilan pidana dan komitmen
untuk melindungi dan mendukung korban sangat penting untuk mencegah
pengurangan hukuman[16].

KESIMPULAN
Bukti medikolegal telah dianggap sebagai komponen penting dalam
penuntutan kejahatan, terutama yang terkait dengan kekerasan seksual. Pengadilan
sangat bergantung padanya. Namun penting untuk memahami bahwa ilmu
forensik itu sendiri adalah ilmu yang baru berkembang. Tidak ada metode
forensik yang telah mampu menunjukkan hubungan definitif antara individu
tertentu dan sampel atau sumber. Diperlukan lebih banyak penelitian untuk
mencapai kesimpulan definitif seperti yang dinyatakan oleh penelitian global pada
ilmu forensik [17].
Pada Negara India, praktek medikolegal penuh dengan praktek abad
pertengahan dan kurang menerapkan pendekatan ilmiah. Makalah ini telah
mempresentasikan upaya-upaya yang dilakukan untuk mengubah praktek
medikolegal lama di rumah sakit dengan pendekatan sensitif gender yang ilmiah
dan fokus pada korban selamat. Upaya dilakukan melalui model untuk melihat
melampaui peran forensik profesional kesehatan dan memanfaatkan perawatan
terapeutik bagi yang selamat. Sambil memberikan perawatan medis yang
terapeutik dan medik untuk orang yang selamat dan membantu mereka dengan
layanan rehabilitasi, ambil melakukannya, ada juga minat untuk memahami
apakah praktek medis profesional medis profesional dapat membantu pengadilan
dalam menafsirkan bukti medis. Pendapat medis oleh profesional kesehatan

33
mendokumentasikan keadaan kekerasan seksual dan menyoroti alasan hilangnya
bukti medis dalam kasus di mana tidak ditemukan. Temuan semacam itu
diharapkan membantu pengadilan dalam menafsirkan bukti hukum medis. Tetapi
analisis putusan kasus dalam makalah ini melahirkan kesenjangan yang serius
dalam bagaimana polisi, jaksa dan pengadilan memahami bukti hukum medis.
Meskipun beberapa putusan pengadilan menyatakan bukti medis hanya sebagai
bukti yang menguatkan, pengadilan terus percaya bahwa pemeriksaan medis dan
pengumpulan bukti akan memberi tahu mereka apakah pemerkosaan terjadi atau
tidak. Upaya harus dilakukan untuk mengakui bahwa sistem kesehatan memiliki
terapi[18].
Makalah ini menyoroti bahwa pelatihan profesional kesehatan untuk
melaksanakan pemeriksaan dan perawatan medikolegal yang sistematis dan
ilmiah harus didukung dengan pelatihan polisi, jaksa dan pengadilan untuk
menjelaskan ruang lingkup dan keterbatasan bukti medis. Pertemuan antarmuka di
antara para penanggungjawab kepentingan ini penting untuk membantu korban
yang selamat dalam upaya mereka untuk mendapatkan keadilan.

UCAPAN TERIMA KASIH


Makalah ini didasarkan pada pengalaman kami menerapkan respons
kesehatan yang komprehensif terhadap kekerasan seksual. Kami ingin berterima
kasih atas kontribusi Rashi Vidyasagar dan Sanjida Arora untuk membantu dalam
analisis yang berkaitan dengan catatan pengadilan. Kami juga berterima kasih
pada Chitra Joshi, yang telah memberikan kontribusi berharga dalam memberikan
layanan intervensi krisis kepada para korban kekerasan seksual.

Diterjemahkan dari :
Rege S, Deosthali P, Reddy JN. 2017. Medico Legal Aspects of Sexual Violence:
Impact on Court Judgments. J Forensic Res Ana 1(1): dx.doi.org/10.16966/2577-
7262.103

34
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Kekerasan Seksual


Definisi yuridisi dari tindak pidana perkosaan di tiap-tiap negara berdeda-
beda, baik dilihat dari aspek pelaku, korban maupun cara melakukannya.
Sebelum membahas tentang kejahatan seksual, penting kita memahami tentang
pengertian senggama (coitus). Oleh kalangan hukum, senggama didefinisikan
sebagai perpaduan antara dua alat kelamin yang berlainan jenis guna memenuhi
kebutuhan biologis, yaitu kebutuhan seksual.4
Umumnya neggara-negara maju mendefinisikan perkosaan sebagai
perbuatan bersenggama yang dilakukan dengan menggunakan kekerasan (force),
menciptakan ketakutan (fear) atau dengan cara memperdaya (fraud). Pasal 285
KUHP mengatur tentang tindak pidana perkosaan yang rumusannya sebagai
berikut: Barangsiapa dengan kekerasan atau dengan ancaman akan memakai
kekerasan memaksa seorang wanita mengadakan hubungan kelamin di luar
pernikahan dengan dirinya, karena bersalah melakukan perkosaan dipidana
dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun.4,5
Istilah kekerasan seksual adalah perbuatan yang dapat dikategorikan
hubungan dan tingkah laku seksual yang tidak wajar, sehingga menimbulkan
kerugian dan akibat yang serius bagi para korban. Perbuatan perkosaan merupakan
perbuatan kriminal yang berwatak seksual yang terjadi ketika seseorang manusia
memaksa manusia lain untuk melakukan hubungan seksual dalam bentuk
penetrasi vagina dengan penis, secara paksa atau dengan cara kekerasan. Dalam
kamus besar bahasa Indonesia, perkosaan berasal dari kata perkosaan yang berarti
menggagahi atau melanggar dengan kekerasan. Sedangkan pemerkosaan diartikan
sebagai proses, cara, perbuatan perkosa atau melanggar dengan kekerasan. 5,6

35
Di Indonesia, tindak pidana perkosaan harus memenuhi unsur-unsur
sebagai berikut.4
1. Unsur pelaku
- Harus orang laki-laki
- Mampu melakukan persetubuhan
2. Unsur korban
- Harus orang perempuan
- Bukan istri dari pelaku.
3. Unsur perbuatan
- Persetubuhan dengan paksa
- Pemaksaan tersebut harus dilakukan dengan kekerasan fisik atau
ancaman kekerasan.4

3.2 Epidemiologi
Di Indonesia kasus kekerasan seksual setiap tahun mengalami peningkatan,
korbanya bukan hanya dari kalangan dewasa saja sekarang sudah merambah ke
remaja, anak-anak bahkan balita. Di Jakarta, angka perkosaan pada tahun 2012
naik 20,22% (tahun 2011: 89 kasus dan tahun 2012: 107 kasus).5 Dokumentasi
Komnas Perempuan memperlihatkan bahwa dari total kasus kekerasan seksual di
Indonesia yaitu 93.960 kasus, dimana kasus perkosaan, pelecehan seksual dan
eksploitasi seksual memiliki 3 peringkat tertinggi. yaitu perkosaan merupakan 5%
dari keseluruhan kasus kekerasan seksual.

Gambar 1. Perbandingan kekerasan umum dan kekerasan seksual tahun 2015 6

36
Gambar 2. Jumlah Kasus Kekerasan Seksual (tahun 2008 – 2015) 5

Data dari Catatan Tahunan (CATAHU) Komisi Nasional Anti Kekerasan


Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) tahun 2017, persentase tertinggi
kekerasan terhadap perempuan adalah kekerasan fisik 42% (4.281), diikuti
kekerasan seksual 34% (3.495),

Gambar 3. Perbandingan kekerasan umum dan kekerasan seksual tahun 2017 7

Secara khusus bentuk dan jumlah kekerasan seksual di ranah personal


ditampilkan dalam grafik berikut ini yang memperlihatkan tiga bentuk kekerasan
seksual tertinggi adalah perkosaan 1389 kasus, pencabulan 1.266 kasus dan
eksploitasi seksual 578 kasus. Tingginya jumlah perkosaan dalam relasi personal
patut dicermati lebih jauh. Hal ini mengindikasikan lebih banyak perempuan
korban berani melaporkan kekerasan seksual yang dialaminya yang terjadi di
ranah rumah tangga.

37
Gambar 4. Jumlah Kasus Kekerasan Seksual tahun 20177

3.3 Kategori Perkosaan


Terdapat dua macam bentuk kejahatan seksual , yaitu ringan dan berat.8
1. Macam-macam kejahatan seksual ringan :
• Gurauan porno
• Siulan, ejekan dan julukan
• Tulisan atau gambar
• Gerakan tubuh
• Perbuatan menyita perhatian seksual tak dikehendaki korban,
melecehkan dan atau menghina korban
• Melakukan repetisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke
dalam jenis kekerasan seksual berat

2. Macam-macam kejahatan seksual berat,9 :


• Pelecehan, kontak fisik : raba, sentuh organ seksual, cium paksa,
rangkul
• Perbuatan yang rasa jijik dan terhina
• Pemaksaan hubungan seksual

38
• Hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan
atau menyakitkan
• Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain, pelacuran
tertentu.
• Hubungan seksual memanfaatkan posisi ketergantungan atau
lemahnya korban
• Tindakan seksual dan kekerasan fisik, dengan atau tanpa bantuan
alat yang menimbulkan sakit, luka, atau cedera.

Kejahatan seksual berdasarkan jenisnya terbagi atas senggama dan non-senggama,


yaitu8 :
• Senggama : selingkuh, perkosaan, wanita tidak berdaya, wanita
dibawah umur, incest
• Non-senggama : perbuatan cabul

3.4 Tanda Persetubuhan


Persetubuhan adalah masuknya penis ke dalam vagina, sebagian atau
seluruhnya dengan atau tanpa ejakulasi, setidaknya melewati vestibulum.
Pencabulan adalah setiap penyerangan seksual tanpa terjadi persetubuhan, maka
pencabulan tidak sama dengan persetubuhan.8 Tanda penetrasi biasanya hanya
jelas ditemukan pada korban yang masih kecil atau belum pernah melahirkan atau
multipara. Pada korban-korban ini penetrasi dapat menyebabkan terjadinya
robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5 sampai 7, luka lecet,
memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina, bibir kemaluan maupun
daerah perineum.8
Adanya penyakit keputihan akibat jamur Candida misalnya dapat
menunjukan adanya erosi yang dapat disalah artikan sebagai luka lecet oleh
pemeriksa yang kurang berpengalaman.9 Tidak ditemukannya luka-luka tersebut
pada korban yang bukan multipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya
penetrasi. Tanda ejakulasi bukanlah tanda yang harus ditemukan pada
persetubuhan, meskipun adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti

39
menyatakan bahwa telah terjadi persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan dengan
pemeriksaan ada tidaknya sperma dan komponen cairan mani.8,9

3.5 Pembuktian Persetubuhan10


Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana terjadi penetrasi penis ke dalam
vagina, penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidk lengkap dan dengan atau tanpa
disertai ejakulasi. Dengan demikian hasil dari upaya pembuktian adanya
persetubuhan dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain:

• Besarnya penis dan derajat penetrasinya


• Bentuk dan elastisitas selaput dara (hymen)
• Ada tidaknya ejakulasi dan keadaan ejakulat itu sendiri
• Posisi persetubuhan
• Keaslian barang bukti serta waktu pemeriksaan
Pemeriksaan harus dilakukan sesegera mungkin, sebab dengan berjalannya
waktu, tanda-tanda persetubuhan akan menghilang dengan sendirinya. Sebelum
dilakukan pemeriksaan, dokter hendaknya mendapat izin tertulis dari pihak yang
diperiksa. Jika korban adalah seorang anak, izin dapat diminta dari orangtua atau
walinya.10

3.6 Informed Consent


Informed consent adalah suatu pernyataan pasien atau yang sah
mewakilinya yang isinya berupa persetujuan atas rencana tindakan kedokteran
yang diajukan oleh dokter setelah menerima informasi yang cukup unutk dapat
membuat persetujuan atau penolakan.11 Persetujuan tindakan yang akan dilakukan
oleh dokter harus dilakukan tanpa adanya unsur pemaksaan.11
Rekomendasi untuk para petugas kesehatan untuk meminta perseujuan
pasien selama proses pemeriksaan:
1. Meminta persetujuan pasien sesuai dengan proses pemeriksaan
2. Pastikan adanya kebijakan untuk memandu proses permintaan persetujuan.

Cara untuk membuat pasien dapat unutk mampu memberikan persetujuan adalah
dengan menjelaskan semua informasi yang relevan dalam bahasa yang mereka

40
pahami. Pasein dapat menolak sebagain atau seluruh pemeriksaan.13 Namun,
proses informed consent adalah untuk membuat pasien sadar akan akibat dari
tidak melakukan prosedur karena dapat berdampak negatif terhadap kualitas
perawatan dan kegunaan pengumpulan bukti. Selain memberikan informasi secara
verbal dan meminta persetujuan untuk pemeriksaan, informed consent secara
tertulis dari pasien mungkin diperlukan untuk melakukan prosedur tertentu dan
harus mengikuti kebijakan fasilitas kesehatan itu sendiri. Informed consent unutk
evaluasi medis dan pengobatan biasanya diperlukan untuk hal berikut : 12
• Perawatan medis umum
• Tes dan perawatan kehamilan
• Tes dan profilaksis untuk infeksi menular seksual
• Profilaksis HIV
• Pengambilan foto termasuk gambar kolposkopi
• Izin menghubungi pasien unutk keperluan medis
• Pemberitahuan informasi medis

3.7 Anamnesis12,13
Anamnesis atau metode wawancara pada pasien atau penanggung jawab
yang dilakukan dokter untuk mengumpulkan informasi untuk menentukan
perbedaan kelainan seksual atau tanda dari kejahatan seksual yang berkaitan
dengan pemeriksaan medis dan juga forensik harus dilakukan dengan bahasa
awam yang mudah dimengerti bagi pasien. Penggunaan bahasa dan istilah-istilah
yang sesuai tingkat pendidikandan sosio-ekonomi pasien sekalipun menggunakan
kata kata yang vulgar namun diharapkan mendapatkan informasi yang akurat.
Wawancara yang dilakukan meliputi empat elemen yaitu wawancara
teraupetik, wawancara investigasi, wawancara medis dan wawancara medikolegal.
Wawancara pada semua aspek tersebut bisa saling tumpang tindih dan perbedaan
wawancara dalam beberapa hal dapat dilakukan oleh orang yang sama, dengan
tujuan dan fungsi masing-masing berbeda. Wawancara harus dilakukan tersendiri,
bersahabat, dan lingkungan yang mendukung. Pemeriksaan dengan wawancara ini
akan membangun suatu hubungan yang baik dengan pasien dan mulai dengan

41
pertanyaan umum yang tidak berhubungan dengan kekerasan seksual yang
dialami, seperti riwayat medis dan riwayat trauma lainnya.
Anamnesis dapat dibagi dalam anamnesis umum dan khusus. Pada
anamnesis umum dapat ditanyakan:
• Umur atau tanggal lahir
• Status pernikahan
• Riwayat paritas dan/atau abortus
• Riwayat haid (menarche, hari pertama haid terakhir, siklus haid),
• Riwayat koitus (sudah pernah atau belum, riwayat koitus sebelum dan/atau
setelah kejadian kekerasan seksual, dengan siapa, penggunaan kondom atau
alat kontrasepsi lainnya),
• Penggunaan obat-obatan (termasuk NAPZA),
• Riwayat penyakit (sekarang dan dahulu), serta
• Keluhan atau gejala yang dirasakan pada saat pemeriksaan.
Pada anamnesis khusus mencakup keterangan yang terkait kejadian
kekerasan seksual yang dilaporkan dan dapat menuntun pemeriksaan fisik, seperti
waktu kejadian (tanggal dan jam kejadian), tempat kejadian, kronologi kejadian
(ada atau tidaknya perlawanan, kesadaran pasien, penetrasi, ejakulasi), aktivitas
yang dilakukan korban setelah kejadian (mencuci, mandi atau berganti pakaian).

3.8 Pemeriksaan Fisik


3.8.1 Pemeriksaan Korban
Saat melakukan pemeriksaan fisik, gunakan prinsip “top-to-toe”. Artinya,
pemeriksaan fisik harus dilakukan secara sistematis dari ujung kepala sampai ke
ujung kaki. Pelaksanaan pemeriksaan fisik juga harus memperhatikan keadaan
umum korban. Apabila korban tidak sadar atau keadaan umumnya buruk, maka
pemeriksaan untuk pembuatan visum dapat ditunda dan dokter fokus untuk ”life-
saving” terlebih dahulu.
Pemeriksaan fisik berupa pemeriksaan fisik umum dan khusus, pemeriksaan
umum meliputi :
- Keadaan Umum : Tingkat kesadaran, penampilan secara keseluruhan,
keadaan emosional (tenang, sedih)

42
- Tanda vital
- Pada persetubuhn oral, periksa lecet, bintik perdarahan atau memar pada
palatum, lakukan swab pada laring dan tonsil
- Perkembangan seks sekunder (pertumbuhan mammae, rambut axilla dan
rambut pubis)
- Jika pada baju ada bercak mani (kaku), bila mungkin pakaian diminta,
masukkan dalam amplop

Untuk mempermudah pencatatan luka-luka, dapat digunakan diagram tubuh


seperti pada gambar

Gambar 5. Diagram tubuh manusia untuk pencatatan luka

Pemeriksaan fisik khusus bertujuan mencari bukti-bukti fisik yang terkait


dengan tindakan kekerasan seksual yang diakui korban, prosedurnya meliputi :
- Posisi litotomi
- Periksa daerah pubis (kemaluan bagian luar), yaitu adanya perlukaan pada
jaringan lunak atau bercak cairan mani;
- Periksa luka-luka sekitar vulva, perineum dan paha (adanya perlukaan
pada jaringan lunak, bercak cairan mani)

43
- Jika ada bercak, kerok dengan skalpel dan masukkan dalam amplop
- Rambut pubis disisir, rambut yang lepas dimasukkan dalam amplop
- Jika ada rambut pubis yang menggumpal, gunting dan masukkan dalam
amplop, cabut 3-10 lembar rambut dan masukkan dalam amplop lain
- Labia mayora dan minora (bibir kemaluan besar dan kecil), apakah ada
perlukaan pada jaringan lunak atau bercak cairan mani;
- Vestibulum dan forniks posterior (pertemuan bibir kemaluan bagian
bawah), apakah ada perlukaan;
- Hymen (selaput dara), catat bentuk, diameter ostium, elastisitas atau
ketebalan, adanya perlukaan seperti robekan, memar, lecet, atau hiperemi).
Apabila ditemukan robekan hymen, catat jumlah robekan, lokasi dan arah
robekan (sesuai arah pada jarum jam, dengan korban dalam posisi
litotomi), apakah robekan mencapai dasar atau tidak, dan adanya
perdarahan atau tanda penyembuhan pada tepi robekan;
- Swab daerah vestibulum, buat sediaan hapus
- Vagina (liang senggama), cari perlukaan dan adanya cairan atau lendir;
- Serviks dan portio (mulut leher rahim), cari tanda-tanda pernah melahirkan
dan adanya cairan atau lendir;
- Uterus (rahim), periksa apakah ada tanda kehamilan;
- Anus (lubang dubur) dan daerah perianal, apabila ada indikasi berdasarkan
anamnesis;

Gambar 6. Robekan Hymen

44
Gambar 7. Laserasi anal

- Mulut, apabila ada indikasi berdasarkan anamnesis,


- Tanda kehilangan kesadaran (pemberian obat tidur / bius) needle marks
indikassi pemeriksaan darah dan urin

Kesulitan utama yang umumnya dihadapi oleh dokter pemeriksa adalah


pemeriksaan selaput dara. Bentuk dan karakteristik selaput dara sangat bervariasi.
Pada jenis-jenis selaput dara tertentu, adanya lipatan-lipatan dapat menyerupai
robekan. Karena itu, pemeriksaan selaput dara dilakukan dengan traksi lateral dari
labia minora secara perlahan, yang diikuti dengan penelusuran tepi selaput dara
dengan lidi kapas yang kecil untuk membedakan lipatan dengan robekan.

Gambar 8. Beragam jenis selaput dara

45
Saat melakukan pemeriksaan fisik, dokumentasi yang baik sangat penting.
Selain melakukan pencatatan dalam rekam medis, perlu dilakukan pemotretan
bukti-bukti fisik yang ditemukan. Foto-foto dapat membantu dokter membuat
visum et repertum. Dengan pemotretan, korban juga tidak perlu diperiksa
terlalu lama karena foto-foto tersebut dapat membantu dokter mendeskripsi
temuan secara detil setelah pemeriksaan selesai. Diperlukan untuk menilai
adanya kekerasan. Dalam hal ini perlu diketahui lokasi luka-luka yang sering
ditemukan, yaitu di daerah mulut dan bibir, leher, puting susu, pergelangan
tangan, pangkal paha serta di sekitar dan pada alat genital. Luka-luka akibat
kekerasan seksual biasanya berbentuk luka lecet bekas kuku, gigitan (bite
marks) serta luka-luka memar.
Sepatutnya diingat bahwa tidak semua kekerasan meninggalkan bekas
atau jejak berbentuk luka. Dengan demikian, tidak ditemukannya luka tidak
berarti bahwa pada wanita korban tidak terjadi kekerasan itulah alasan
mengapa dokter harus menggunakan kalimat tanda-tanda kekerasan di dalam
setiap Visum et Repertum yang dibuat, oleh karena tidak ditemukannya tanda-
tanda kekerasan mencakup dua pengertian: pertama, memang tidak ada
kekerasan, dan yang kedua kekerasan terjadi namun tidak meninggalkan bekas
(luka) atau bekas tersebut sudah hilang. Tindakan pembiusan serta tindakan
lainnya yang menyebabkan korban tidak berdaya merupakan salah satu bentuk
kekerasan. Dalam hal ini perlu dilakukan pemeriksaan untuk menentukan
adanya racun atau obat-obatan yang kiranya dapat membuat wanita tersebut
pingsan.

Menentukan ada tidaknya persetubuhan, dengan menemukan :


• Tanda langsung
- Adanya robekan selaput dara
- Luka lecet atau memar di lliang senggama
- Ditemukan sperma
• Tanda tidak langsung
- Kehamilan
- Penyakit hubungan seksual

46
3.8.2 Pemeriksaan Pelaku
Beberapa sumber menyebutkan bahwa sebetulnya pemeriksaan medik
terhadap tersangka hanya diperlakukan apabila ia menyangkal dapat melakukan
persetubuhan karena impotensi. Ini berkenaan dengan salah satu syarat perkosaan,
yaitu terjadinya senggama. Seorang laki-laki yang menderita impotensi tentunya
tidak mungkin dapat melakukan persetubuhan, sehingga tidak mungkin dituduh
melakukan perkosaan. Maka pemeriksaannya pun hanyalah untuk menentukan
adanya penyakit yang dapat menyebabkan impotensi seperti diabetes mellitus,
hernia scrotalis atau hydrocele. Impotensi juga dapat dialami laki-laki yang sudah
tua. Yang agak sulit untuk dibuktikan adalah impotensi yang bersifat psikis.
Terdapat 2 pemeriksaan yang dilakukan terhadap pelaku, yaitu:
1. Pemeriksaan tubuh
Jika pelaku kekerasan segera tertangkap setelah kejadian, kepala zakar
harus diperiksa, yaitu untuk mencari sel epitel vagina yang melekat pada
zakar. Hal ini dilakukan dengan cara menempelkan gelas objek pada glans
penis (tepatnya sekeliling korona glandis) dan segera dikirim untuk analisis
secara mikroskopis. Perlu juga dilakukan pemeriksaan sekret uretra untuk
menentukan adanya penyakit kelamin.

2. Pemeriksaan pakaian
Pada pemeriksaan pakaian, catat adanya bercak semen, darah, dan
sebagainya. Bercak semen tidak mempunyai arti dalam pembuktian sehingga
tidak perlu ditentukan. Darah mempunyai nilai karena kemungkinan berasal
dari darah deflorasi. Di sini penentuan golongan darah penting untuk
dilakukan. Trace evidence pada pakaian yang dipakai ketika terjadi
persetubuhan harus diperiksa. Bila fasilitas untuk pemeriksaan tidak ada,
kirim ke laboratorium forensik di kepolisian atau bagian Ilmu Kedokteran
Forensik, dibungkus, segel, serta dibuat berita acara pembungkusan dan
penyegelan. 17

47
3.9 Kendala Pembuktian Dalam Kasus Perkosaan12,17
Dalam sistem peradilan yang dianut negara kita, seorang hakim tidak
dapat menjatuhkan hukuman kepada seseorang terdakwa kecuali dengan
sekurangnya dua alat bukti yang sah ia merasa yakin bahwa tindak pidana itu
memang telah terjadi (pasal 183 KUHAP). Sedang yang dimaksud dengan alat
bukti yang sah adalah keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan
keterangan terdakwa (pasal 184 KUHAP). Berdasarkan hal tersebut di atas,
maka pada suatu kasus perkosaan dan kejahatan seksual lainnya perlu
diperjelas keterkaitan antara:
1) Bukti-bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara
2) Pada tubuh atau pakaian korban
3) Pada tubuh atau pakaian pelaku
4) Pada alat yang digunakan pada kejahatan ini (yaitu penis)
Keterkaitan antara berbagai faktor inilah yang sering dijabarkan dan
merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan keyakinan hakim. Pada
banyak kasus perkosaan keterkaitan empat faktor ini tidak jelas atau tidak
dapat ditemukan sehingga mengakibatkan tidak timbul keyakinan pada hakim
yang bermanifestasi dalam bentuk suatu hukuman yang ringan dan
sekadarnya. Beberapa hal yang dapat mengakibatkan terjadinya hal ini adalah
sebagai berikut:
a. Masalah keutuhan barang bukti
Seorang korban perkosaan setelah kejadian yang memalukan tersebut
umumnya akan merasa jijik dan segera mandi atau mencuci dirinya bersih-
bersih. Sprei yang mengandung bercak mani atau darah seringkali telah dicuci
dan diganti dengan sprei yang baru sebelum penyidik tiba di TKP. Lantai yang
mungkin mengandung benda bukti telah disapu dan dipel terlebih dahulu
ketika polisi datang. Ketika korban akan dibawa ke dokter untuk diperiksa dan
berobat seringkali ia mandi dan/atau mengganti pakaiannya terlebih dahulu
dengan yang baru dan masih bersih. Hal-hal semacam ini tanpa disadari akan
menyebabkan hilangnya banyak benda bukti seperti cairan/bercak mani,
rambut pelaku, darah pelaku, dan lain-lain yang diperlukan untuk pembuktian
di pengadilan.

48
b. Masalah teknis pengumpulan barang butki
Pengolahan TKP dan teknik pengambilan barang bukti merupakan hal
amat mempengaruhi pengambilan kesimpulan. Pada suatu kejadian perkosaan
dengan kejahatan seksual lainnya penyidik mencari sebanyak mungkin benda
bukti yang mungkin ditinggalkan di TKP seperti adanya sidik jari, rambut,
bercak mani pada lantai, sprei atau kertas tissue di tempat sampah, dsb. Tidak
dilakukannya pencarian benda bukti, baik akibat kurangnya pengetahuan,
kurang pengalaman atau kecerobohan, dapat mengakibatkan hilangnya banyak
data yang penting untuk pengungkapan kasus. Pada pemeriksaan terhadap
tubuh korban cara pengambilan sampel usapan vaginal yang salah juga dapat
menyebabkan hasil negatif palsu. Pada pemeriksaan persetubuhan dengan
melalui anus pengambilan bahan usapan dengan kapas lidi bukan dilakukan
dengan pencolokan lidi ke dalam liang anus saja tetapi harus dilakukan juga
pada sela-sela lipatan anus, karena pada pengambilan pertama akan
didapatkan umumnya tinja dan bukan sperma. Adanya bercak mani pada kulit,
bulu kemaluan korban yang menggumpal atau pakaian korban, adanya rambut
di sekitar bulu kemaluan korban, adanya bercak darah atau epitel kulit pada
kuku jari (jika korban sempat mencakar pelaku) adanya hal-hal yang tidak
boleh dilewatkan pada pemeriksaan.

3.10 Pemeriksaan Laboratorium Semen dan Spermatozoa18


Permeriksaan cairan mani dapat digunakan untuk membuktikan adanya
persetubuhan melalui penentuan adanya cairan semen dalam vagina yang diambil
melalui swab atau irigasi. Cairan mani merupakan cairan agak putih kekuningan,
keruh dan berbau khas. Cairan mani mengandung spermatozoa, sel-sel epitel dan
sel-sel lain yang tersuspensi dalam cairan yang disebut plasma seminal yang
mengandung spermion dan beberapa enzim seperti fosfatase asam. Spermatozoa
mempunyai bentuk yang khas untuk spesies tertentu dengan jumlah yang
bervariasi biasanya antara 60-120 juta per ml.

49
Sperma itu sendiri didalam liang vagina masih dapat bergerak dalam
waktu 4-5 jam post coitus. Sperma masih dapat ditemukan bergerak sekitar 24-36
jam post coital dan bila wanitanya mati akan dapat ditemukan 7-8 hari.
Pemeriksaan cairan mani dapat digunakan untuk membuktikan :
1. Adanya persetubuhan melalui penentuan adanya cairan mani dalam labia
minor atau vagina yang diambil dari forniks posterior.
2. Adanya ejakulasi pada persetubuhan atau perbuatan cabul melalui
penentuan adanya cairan mani pada pakaian, seprai dan kertas tissue.
Teknik pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk
pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina yaitu dengan
mengambil lendir vagina menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan swab.
Bahan diambil dari fornik posterior bila mungkin dengan spekulum. Pada anak-
anak bila selaput dara masih utuh pengambilan bahan sebaiknya dibatasi dari
vestibulum saja.

3.11 Alur Pemeriksaan


Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan
Anak, perkosaan termasuk dalam kekerasan terhadap perempuan dan anak. Oleh
karena itu, alur penanganan dan rujukannya dapat berpedoman pada alur yang
telah ditetapkan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.13

50
Korban

Memproses

Datang SPV, jika


tanpa SPV Kantor Polisi
non kritis

Datang dengan SPV

Rumah Sakit

IGD

Non Kritis Kritis Semi Kritis

PKT/ ICU/HCU

PPT Rawat Inap

Pemeriksaan Psikososial Meninggal

Pemeriksaan Fisik/Medikolegal

Konseling/Konsultasi Spesialis

Pulang/Rawat Jalan Shelter

Bagan 1. Alur Penanganan dan Rujuan Kasus Perkosaan


Terhadap Perempuan dan Anak

51
Sebelum korban dikirim ke rumah sakit/fasilitas kesehatan untuk
dilakukan pemeriksaan dokter, perlu dijelaskan dengan hati-hati proses
pemeriksaan forensik dengan memaparkan langkah-langkah penyelidikan.
Sebelum pemeriksaan forensik syarat yang harus dipenuhi adalah:
1. Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis
dari penyidik yang berwenang.
2. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti.
Kalau korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi,
jangan diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi.
3. Setiap Visum et Repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapat
pada tubuh korban pada waktu permintaan Visum et Repertum
4. Ijin tertulis untuk pemeriksaan dapat diminta pada korban sendiri atau pada
wali atau orang tua korban apabila korban adalah anak di bawah umur
(informed consent)
5. Setiap pemeriksaan harus didampingi oleh perawat perempuan atau bidan.
6. Pemeriksaan harus dilakukan sesegera mungkin. Hindari korban dari
menunggu terlalu lama yang memungkinkan timbulnya perasaan cemas
terutama bila korban seorang anak-anak. Hal ini juga bertujuan untuk
mencegah hilangnya alat bukti yang penting bagi pengadilan
7. Visum et Repertum harus diselesaikan secepat mungkin karena semakin cepat

3.12 Kejahatan Seksual Berdasarkan Hukum di Indonesia


3.12.1 Kejahatan Seksual Berdasarkan KUHP8,9
Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh
undang-undang, tertera pada pasal-pasal yang terdapat pada Bab XIV KUHP,
tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan; yang meliputi persetubuhan di dalam
perkawinan maupun di luar perkawinan.

3.12.2 Kejahatan Terhadap Kesusilaan Dalam Perkawinan8


Pasal 288 KUHP
1. Barang siapa dalam perkawinan bersetubuh dengan seorang wanita yang
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa yang bersangkutan

52
belum waktunya untuk dikawin, apabila perbuatan mengakibatkan luka-
luka diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
2. Jika perbuatan itu mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana
penjara paling lama delapan tahun.
3. Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama dua belas
tahun.
Dengan demikian dari Visum et Repertum yang dibuat oleh dokter
diharapkan dapat membuktikan bahwa korban memang belum pantas dikawin,
terdapat tanda-tanda persetubuhan, tanda-tanda kekerasan dan dapat menjelaskan
perihal sebab kematiannya.
Di dalam upaya menentukan bahwa seseorang belum mampu dikawin
dapat timbul permasalahan bagi dokter karena penentuan tersebut mencakup dua
pengertian, yaitu pengertian secara biologis dan pengertian menurut undang-
undang. Secara biologis seorang perempuan dikatakan mampu untuk dikawin bila
ia telah siap untuk dapat memberikan keturunan, dimana hal ini dapat diketahui
dari menstruasi, apakah ia belum pernah mendapat menstruasi atau sudah pernah.
Sedangkan menurut Pasal 7 Ayat 1 UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan,
maka batas umur termuda bagi seorang perempuan yang diperkenankan untuk
melangsungkan perkawinan adalah 16 tahun. Dengan demikian dokter diharapkan
dapat menentukan berapa umur dari perempuan yang diduga merupakan korban
seperti yang dimaksud dalam pasal 288 KUHP.

3.12.3 Kejahatan Terhadap Kesusilaan di Luar Perkawinan8,9


Dalam kasus-kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan
kejahatan, dimana persetubuhan tersebut memang disetujui oleh si perempuan
maka dalam hal ini pasal-pasal dalam KUHP yang dimaksud adalah pasal 284 dan
287.
Pasal 284 KUHP
(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan:
1. a. Seorang pria yang telah kawin yang melakukan gendak (overspel),
padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku
baginya.

53
b. Seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak
(overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk
Wetboek) berlaku baginya.
2. a. Seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal
diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin.
b. Seorang wanita yang telah kawin yang turut serta melakukan
perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah
telah kawin dan pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek) berlaku
baginya.
(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/isteri
yang tercemar,dan bila bagi mereka berlaku pasal 27 BW (Burgerlyk
Wetboek), dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan
bercerai atau pisah meja dan pisah ranjang karena alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang
peradilan belum dimulai.
(5) Jika bagi suami-isteri berlaku pasal 27 BW (Burgerlyk Wetboek),
pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena
perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat
tidur menjadi tetap.

Pasal 27 BW
Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu
orang perempuan sebagai isterinya, seorang perempuan hanya satu orang laki
sebagai suaminya.
Pasal 287 KUHP
(1) Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan,
padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum
lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk
dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

54
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita
belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal
291 dan pasal 294.
Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut
undang-undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun
tetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan
dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut
merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan, tidak ada penuntutan.
Tetapi keadaan akan berbeda jika :
a. Umur korban belum sampai 12 tahun
b. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati
akibat perbuatan itu (KUHP pasal 291); atau
c. Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya,
muridnya, anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau
bawahannya (KUHP pasal 294).

Dalam keadaan di atas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada


pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan. Pada pemeriksaan akan
diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran maka umur korban yang
pasti tidak diketahui. Dokter perlu memperkirakan umur korban baik dengan
menyimpulkan apakah wajah dan bentuk tubuh korban sesuai dengan umur yang
dikatakannya, melihat perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut
kemaluan, melalui pertumbuhan gigi (molar ke-2 dan molar ke-3), serta dengan
mengetahui apakah menstruasi telah terjadi.
Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat: padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa wanita itu umurnya belum
lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk
dikawin. Perempuan yang belum pernah mengalami menstruasi dianggap belum
patut untuk dikawin.

55
Pasal 291 KUHP
(1) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 288
dan 290 itu berakibat luka berat, diancam dengan pidana penjara paling lama
dua belas tahun.
(2) Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287,
289 dan 290 itu berakibat matinya orang, diancam dengan pidana penjara
paling lama lima belas tahun.

Pasal 294 KUHP


Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya atau
anak piaraannya, anak yang di bawah pengawasannya, orang di bawah umur yang
diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau bujangnya
atau orang yang di bawah umur, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh
tahun.
Dengan itu maka dihukum juga:
1. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang di
bawahnya/orang yang dipercayakan/diserahkan kepadanya untuk dijaga.
2. Pengurus, dokter, guru, pejabat, pengurus atau bujang di penjara, di tempat
bekerja kepunyaan negeri, tempat pendidikan, rumah piatu, RS jiwa atau
lembaga semua yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang
dimaksudkan di situ.

Pada kasus persetubuhan di luar perkawinan yang merupakan kejahatan


dimana persetubuhan tersebut terjadi tanpa persetujuan wanita, seperti yang
dimaksud oleh pasal 285 dan 286 KUHP; maka untuk kasus-kasus tersebut Visum
et Repertum harus dapat membuktikan bahwa pada wanita tersebut telah terjadi
kekerasan dan persetubuhan. Kejahatan seksual seperti yang dimaksud oleh pasal
285 KUHP disebut perkosaan, dan perlu dibedakan dari pasal 286 KUHP.

56
Pasal 285 KUHP
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang
wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan
dan telah terjadi paksaan dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Dokter dapat
menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, apakah terdapat tanda-
tanda kekerasan. Tetapi ini tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan
pada tindak pidana ini.
Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu
merupakan akibat paksaan, mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tak
ada hubungannya dengan paksaan. Demikian pula bila tidak ditemukan tanda-
tanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan bukti bahwa paksaan tidak
terjadi. Pada hakekatnya dokter tak dapat menentukan unsur paksaan yang
terdapat pada tindak pidana perkosaan; sehingga ia juga tidak mungkin
menentukan apakah perkosaan telah terjadi.
Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim, karena
perkosaan adalah pengertian hukum bukan istilah medis sehingga dokter jangan
menggunakan istilah perkosaan dalam Visum et Repertum.

Pasal 286 KUHP


Barangsiapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan padahal
diketahuinya bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa korban berada dalam keadaan
pingsan atau tidak berdaya. Dokter perlu mencari tahu apakah korban sadar waktu
persetubuhan terjadi, adakah penyakit yang diderita korban yang sewaktu-waktu
dapat mengakibatkan korban pingsan atau tidak berdaya. Jika korban mengatakan
ia menjadi pingsan, maka perlu diketahui bagaimana terjadinya pingsan itu,
apakah terjadi setelah korban diberi minuman atau makanan. Pada pemeriksaan
perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan tanda-tanda bekas kehilangan
kesadaran, atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh obat-obatan.

57
Jika terbukti bahwa si pelaku telah telah sengaja membuat korban pingsan
atau tidak berdaya, ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan,
karena dengan membuat korban pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan
kekerasan.

Pasal 89 KUHP
Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan
kekerasan.
Kejahatan seksual yang dimaksud dalam KUHP pasal 286 adalah pelaku tidak
melakukan upaya apapun; pingsan atau tidak berdayanya korban bukan
diakibatkan oleh perbuatan si pelaku kejahatan seksual.
Yang menarik dari KUHP yang mengatur tentang Kejahatan terhadap
Kesusilaan adalah Pembuat Undang-Undang ternyata menganggap tidak perlu
untuk menentukan hukuman bagi perempuan yang memaksa untuk bersetubuh,
bukanlah semata-mata oleh karena paksaan dari seorang perempuan terhadap
orang laki-laki itu dipandang tidak mungkin, akan tetapi justru karena perbuatan
itu bagi laki-laki dipandang tidak mengakibatkan sesuatu yang buruk atau yang
merugikan. Bentuk perkosaan terbatas pada persetubuhan atau penetrasi penis ke
dalam vagina perempuan secara paksa, belum termasuk benda-benda lain selain
penis yang dimasukkan secara paksa ke dalam vagina atau bagian tubuh
perempuan lainnya serta perlakuan menggesek-gesekkan penis ke bibir kelamin
perempuan di luar kehendak perempuan. Selain itu, perkosaan dan tindakan
persetubuhan terhadap wanita pingsan/tidak berdaya di atas disyaratkan dilakukan
di luar perkawinan. Maka, jika seorang suami memaksa untuk menyetubuhi
istrinya atau menyetubuhi istrinya yang pingsan/tidak berdaya, hal ini tidak akan
dinilai melanggar hukum.

3.13 Aturan Baru Kejahatan Seksual


Ada 2 aturan baru yang muncul sehubungan dengan kejahatan seksual.
Aturan yang pertama berkenaan dengan kejahatan seksual terhadap anak.
Sementara itu, aturan yang kedua berkenaan dengan kejahatan seksual dalam
lingkup rumah tangga.

58
Dalam aturan pertama, yaitu UU Perlindungan Anak (UU No. 23 Tahun
2002), maka persetubuhan terhadap anak yakni seseorang yang belum berusia 18
(delapan belas) tahun (vide Pasal 1 angka 1) mendapat pengaturan lebih khusus ,
yakni dalam Pasal 81.10

Pasal 81 UU No. 23 Tahun 2002


(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman
memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling
singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus
juta rupiah) dan paling sedikit Rp. 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula
bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian
kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau
dengan orang lain.
Selanjutnya aturan baru mengenai kejahatan persetubuhan juga termuat
dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga (PKDRT), UU ini secara khusus berlaku dan diberlakukan bagi orang
dalam lingkup rumah tangga. Salah satu jenis kejahatan dalam rumah tangga
adalah kekerasan seksual, Pasal 5 huruf c UU PKDRT dilarang setiap orang
melakukan kekerasan seksual yakni meliputi a. pemaksaan hubungan seksual
yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam lingkup rumah tangga
tersebut dan b. pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam
lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan/atau
tujuan tertentu (Vide Pasal 8). Yang termasuk lingkup rumah tangga, berdasarkan
Pasal 2, adalah suami, isteri, anak, orang-orang yang memiliki hubungan keluarga
karena darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, dan perwalian, dan orang-
orang yang membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah tangga.4
Pertanyaan pertama yang muncul dari pengertian kekerasan seksual
menurut UU PKDRT adalah kualifikasi dari “hubungan seksual”, karena istilah
tersebut belum dikenal dalam aturan hukum pidana, KUHP dan UU lainnya
misalnya UU No. 23 Tahun 2002, menggunakan kualifikasi “persetubuhan dan

59
pencabulan”. Hal yang baru lain yang dianut UU PKDRT dibandingkan KUHP,
yakni dengan dikenalnya kekerasan seksual terhadap orang yang menetap dalam
lingkup rumah tangga maka dimungkinkan adanya kekerasan seksual yang
dilakukan oleh suami kepada isteri dan sebaliknya yakni kekerasan seksual yang
dilakukan oleh isteri (perempuan) kepada suami (laki-laki).5

3.14 Perkosaan di Mata Hukum


Tindak pidana perkosaan yang diatur dalam Pasal 285 KUHP memiliki
beberapa unsur, yaitu:11
1. Barangsiapa
2. Dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
3. Memaksa
4. Seorang wanita bersetubuh dengan dia
5. Diluar perkawinan
Walaupun didalam rumusannya, undang-undang tidak mensyaratkan
keharusan adanya unsur kesengajaan pada diri pelaku dalam melakukan perbuatan
yang dilarang didalam Pasal 285 KUHP, tetapi dengan dicantumkannya unsur
memaksa didalam rumusan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 285 KUHP,
kiranya sudah jelas bahwa tindak pidana perkosaan seperti yang dimaksudkan
dalam Pasal 285 KUHP itu harus dilakukan dengan sengaja. Karena seperti yang
telah kita ketahui tindak pidana perkosaan dalam Pasal 285 KUHP harus
dilakukan dengan sengaja, dengan sendirinya unsur kesengajaan tersebut harus
dibuktikan baik oleh penuntut umum maupun oleh hakim disidang pengadilan
yang memeriksa dan mengadili perkara pelaku yang oleh penuntut umum telah
didakwa melanggar larangan yang diatur dalam Pasal 285 KUHP.
Unsur obyektif pertama dari tindak pidana perkosaan yang diatur dalam
Pasal 285 KUHP ialah unsur barangsiapa. Kata barangsiapa ini menunjukkan
orang, yang apabila orang tersebut memenuhi semua unsur dari tindak pidana
yang diatur dalam Pasal 285 KUHP, maka ia dapat disebut sebagai pelaku tindak
pidana perkosaan tersebut.
Unsur obyektif kedua dari tindak pidana yang diatur dalam Pasal 285
KUHP ialah unsur dengan kekerasan atau ancaman kekerasan. Menurut

60
Tirtaamidjaja, yang dimaksudkan dengan kekerasan adalah setiap perbuatan yang
dilakukan dengan kekuatan badan yang agak hebat.12 Kekerasan atau ancaman
kekerasan tersebut ditujukan terhadap wanita itu sendiri dan bersifat sedemikian
rupa sehingga berbuat lain tidak memungkinkan baginya selain membiarkan
dirinya untuk disetubuhi. Menurut Hoge Raad dalam arrest-arrestnya masing-
masing tanggal 5 Januari 1914, NJ 1914 halaman 397,W.9604 dan tanggal 18
Oktober 1915,NJ 1915 halaman 1116, mengenai ancaman kekerasan tersebut
disyaratkan yakni :
1. Ancaman itu harus diucapkan dalam suatu keadaan yang demikian rupa,
sehingga dapat menimbulkan kesan pada orang yang diancam, bahwa yang
diancamkan itu benar-benar akan dapat merugikan kebebasan pribadinya.
2. Maksud pelaku memang telah ditujukan untuk menimbulkan kesan seperti itu.
Dari arrest-arrest Hoge Raad tersebut, belum jelas apa yang dimaksudkan
dengan ancaman kekerasan atau ancaman akan memakai kekerasan, karena arrest-
arrest tersebut hanya menjelaskan tentang caranya ancaman itu harus diucapkan.12
Karena kekerasan tidak hanya dapat dilakukan dengan memakai tenaga badan
yang sifatnya tidak terlalu ringan, yakni seperti yang dikatakan oleh Simons,
melainkan juga dapat dilakukan dengan memakai sebuat alat, sehingga tidak
diperlukan adanya pemakaian tenaga badan yang kuat, misalnya menembak
dengan sepucuk senjata api, menjerat leher dengan seutas tali, menusuk dengan
sebilah pisau dan lain-lainnya, maka mengancam akan memakai kekerasan itu
harus diartikan sebagai suatu ancaman yang apabila yang diancam tidak bersedia
memenuhi keinginan pelaku untuk mengadakan hubungan kelamin dengan
pelaku, maka ia akan melakukan sesuatu yang dapat berakibat merugikan bagi
kebebasan, kesehatan, atau keselamatan nyawa orang yang diancam.12
Unsur ketiga dari tindak pidana yang diatur dalam Pasal 285 KUHP ialah
unsur memaksa. Memaksa berarti di luar kehendak dari wanita tersebut atau
bertentangan dengan kehendak wanita itu. Satochid Kartanegara menyatakan
antara lain “Perbuatan memaksa ini haruslah ditafsirkan sebagai suatu perbuatan
sedemikian rupa sehingga menimbulkan rasa takut orang lain. Perbuatan memaksa
dapat dilakukan dengan perbuatan dan dapat juga dilakukan dengan ucapan.
Perbuatan membuat seorang wanita menjadi terpaksa bersedia mengadakan

61
hubungan kelamin, harus dimasukkan dalam pengertian memaksa seorang wanita
mengadakan hubungan kelamin. Dalam hal ini kiranya sudah jelas bahwa
keterpaksaan wanita tersebut harus merupakan akibat dari dipakainya kekerasan
akan dipakainya ancaman akan memakai kekerasan oleh pelaku atau oleh salah
seorang dari para pelaku.
Unsur objektif keempat dari tindak pidana yang diatur dalam Pasal 285
KUHP ialah seorang wanita bersetubuh dengan dia. Kalau bukan wanita (dalam
hal homoseks) maka tidak dapat diterapkan Pasal 285 KUHP ini. Perlu diketahui
bahwa kejahatan terhadap kesusilaan, KUHP telah menyebutkan adanya berbagai
wanita, masing-masing yakni13:
1. Wanita yang belum mencapai usia dua belas tahun (Pasal 287 ayat (2)
KUHP),
2. Wanita yang belum mencapai usia lima belas tahun (Pasal 287 ayat (1)
3. Wanita yang belum dapat dinikahi (Pasal 288 ayat (1) KUHP),
4. Wanita pada umumnya. Adapun yang dimaksud dalam Pasal 285 KUHP
adalah wanita pada umumnya.
Pengertian bersetubuh diartikan bahwa penis telah penetrasi ke dalam
vagina. Bila ternyata pelaku tidak berhasil memasukkan penisnya kedalam vagina
korban, misalnya karena korbannya telah memberikan perlawanan, maka pelaku
dapat dipersalahkan karena telah melakukan suatu percobaan pemerkosaan yakni
melanggar larangan yang diatur dalam Pasal 53 ayat (1) jo. Pasal 285 KUHP, dan
sesuai dengan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 53 ayat (2) KUHP, hakim
dapat menjatuhkan pidana penajara selama-lamanya 8 tahun bagi pelaku yakni
sesuai ketentuan pokok terberat yang diancamkan dalam Pasal 285 KUHP
dikurangi sepertiganya.8
Unsur objektif kelima dari tindak pidana perkosaan yang diatur dalam
Pasal 285 KUHP ialah unsur di luar perkawinan. Di luar perkawinan berarti bukan
istrinya. Dari peraturan ini dapat ditarik beberapa pengertian sebagai berikut:
1. Korban perkosaan harus seorang perempuan, tanpa batas umur.
2. Korban harus mengalami kekerasan atau ancaman kekerasan. Ini berarti tidak
ada persetujuan dari korban mengenai niat dan tindakan si pelaku.

62
3. Persetubuhan di luar perkawinan adalah tujuan yang ingin dicapai dengan
melakukan kekerasan atau ancaman terhadap perempuan tersebut.

Mengenai rumusan tindak pidana perkosaan RUU KUHP 1999/2000 Direvisi


2004/2005 merumuskannya pada pasal 489 bunyinya sebagai berikut:
1) Dipidana karena melakukan tindak pidana perkosaan, dengan pidana penjara
paling sedikit 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 (dua belas tahun):
a. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan diluar
perkawinan , bertentangan dengan kehendak perempuan tersebut;
b. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan diluar
perkawinan tanpa persetujuan perempuan tersebut;
c. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan dengan
persetujuan perempuan tersebut, tetapi persetujuan tersebut dicapai
melalui ancaman untuk dibunuh atau dilukai ;
d. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan, dengan
persetujuan perempuan tersebut karena perempuan tersebut percaya bahwa
laki-laki tersebut adalah suaminya yang sah;
e. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan yang berusia
dibawah 14 (empat belas) tahun, dengan persetujuannya, atau
f. laki-laki yang melakukan persetubuhan dengan perempuan, padahal
diketahui bahwa perempuan tersebut dalam keadaan pingsan atau tidak
berdaya.
2) Dianggap juga melakukan tindak pidana perkosaan, jika dalam sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1);
a. Laki-laki memasukkan alat kelaminnya kedalam anus atau mulut
perempuan; atau
b. Laki-laki memasukkan suatu benda yang bukan merupakan bagian
tubuhnya kedalam vagina atau anus perempuan.

3.15 Dampak Kejahatan Seksual


Dampak kejahatan seksual secara garis besar dapat dibagi menjadi dampak
fisik, dampak psikologis, hingga dampak sosial.11

63
1. Dampak fisik yang biasa ditimbulkan akibat kejahatan seksual, antara lain
adanya memar, luka, bahkan robek pada alat kelamin dan/atau bagian
tubuhnya.(1) Pada perempuan, yang tentunya sangat berat adalah terjadinya
kehamilan yang tidak diinginkan. Dampak fisik lain adalah kemungkinan
penularan penyakit berupa infeksi menular seksual.11
2. Dampak psikologis pada korban kejahatan seksual umumnya timbul
beberapa gejala yang sangat bervariasi, diantaranya merasa menurunnya
harga diri, menurunnya kepercayaan diri, depresi, kecemasan, ketakutan
terhadap perkosaan serta meningkatnya ketakutan terhadap tindakan-
tindakan kriminal lainnya.11 Adapun berdasarkan data kejahatan seksual
dimana korbannya adalah pelajar, didapatkan Sindrom Trauma Perkosaan
(Rape Trauma Syndrome)12 yang berhubungan dengan gejala psikologi,
mencakup depresi, rasa tidak berdaya, merasa terasing (isolasi), mudah
marah, takut, kecemasan, dan penyalahgunaan zat adiktif, kecurigaan dan
ketakutan terhadap orang tertentu atau orang asing, serta ketakutan pada
tempat atau suasana tertentu.12
3. Dampak sosial yang dialami korban, terutama akibat stigma atau
diskriminasi dari orang lain mengakibatkan korban ingin mengasingkan
diri dari pergaulan.11 Perasaan ini timbul akibat adanya harga diri yang
rendah karena ia menjadi korban kejahatan seksual, sehingga merasa tidak
berharga, tidak pantas dan juga merasa tidak layak untuk bergaul bersama
teman-temannya.12 Sementara dampak sosial kejahatan seksual di tempat
kerja adalah menurunnya kepuasaan kerja, mengganggu kinerja,
mengurangi semangat bekerja, menurunnya produktivitas kerja, merusak
hubungan antara rekan kerja, dan menurunnya motivasi.12 Maka dari itu,
korban kejahatan seksual di tempat kerja dapat memiliki komitmen yang
rendah terhadap tempat kerjanya hingga korban lebih memilih untuk
mengundurkan diri dari pekerjaan mereka.12

3.16 Hambatan Korban Kejahatan Seksual dalam Memperoleh Keadilan


Secara umum menurut Komnas Perempuan, ada empat faktor penentu
perempuan korban kejahatan seksual dalam mengakses keadilan dan

64
pemulihan, yaitu faktor personal, sosial budaya, hukum dan politik.11 Keempat
faktor ini saling berkaitan dan menentukan tingkat kepercayaan korban untuk
melaporkan kasusnya, menuntut keadilan dan menjadi pulih.11
1. Faktor personal
Perempuan korban kejahatan seksual berupa perkosaan bisa
menderita trauma mendalam akibat perkosaan yang ia alami.11 Trauma ini
dapat termanifestasi pada kehilangan ingatan pada peristiwa yang
dialaminya, kehilangan kemampuan bahasa, gangguan kejiwaan, rasa
takut yang luar biasa, atau keinginan untuk melupakan dengan tidak
membicarakan peristiwa yang melukainya itu.11,12 Kesemua hal ini
menyebabkan korban tidak mampu atau tidak bersedia untuk melaporkan
kasusnya.11 Korban kejahatan seksual juga umumnya merasa malu dan
takut untuk melaporkan, tidak ingin keluarga mengetahui perkosaan yang
terjadi padanya dan juga merasa takut untuk tidak dipercaya.13 Hal-hal
seperti ini yang juga membuat korban kejahatan seksual merasa lebih baik
bungkam karena merasa lebih banyak kerugian yang akan bertambah pada
dirinya.13

2. Faktor sosial budaya


Konsep moralitas dan aib mengakibatkan masyarakat cenderung
menyalahkan korban, meragukan kesaksian korban atau mendesak korban
untuk bungkam.11 Pada sejumlah masyarakat, konsep aib, yang memiliki
pengertian mencela atau menodai nama baik, juga dikaitkan dengan
konsep nasib sial dan karma.11 Perempuan korban perkosaan dianggap
bernasib sial karena harus menanggung balasan dari tindak kejahatan yang
pernah dilakukan oleh keluarga atau para leluhurnya.12 Menceritakan
tindak kejahatan seksual yang ia alami dianggap membongkar aib yang
ada di dalam keluarganya. Situasi ini pula yang mendorong keluarga untuk
mengambil keputusan bagi korban untuk tidak melapor.11 Cara pikir
tentang aib seringkali menyudutkan korban, dikucilkan, atau diusir dari
lingkungannya atau bahkan dipaksa untuk menjalani hidupnya dengan

65
pelaku kejahatan, misalnya dengan memaksakan perempuan korban
menikahi pelakunya.11

3. Faktor hukum
Terdapat tiga aspek yang harus diperhatikan dalam memahami
hambatan yang dihadapi korban yaitu aspek substansi, struktur dan budaya
hukum. Di tingkat substansi, sekalipun ada penegasan pada hak atas
perlindungan dari kejahatan dan diskriminasi, berbagai jenis kejahatan
seksual belum dikenali oleh hukum Indonesia, ataupun pengakuan pada
tindak kejahatan tersebut masih belum utuh.11 Dalam konteks perkosaan,
hukum Indonesia hanya mengakomodir tindak pemaksaan hubungan
seksual yang berbentuk penetrasi penis ke vagina dan dengan bukti-bukti
kejahatan fisik akibat penetrasi tersebut, padahal ada banyak keragaman
pengalaman perempuan akan perkosaan, sehingga perempuan tidak dapat
menuntut keadilan dengan menggunakan hukum yang hanya memiliki
definisi sempit atas tindak perkosaan itu.11
Di tingkat struktur, lembaga penegakan hukum mulai membuat
unit dan prosedur khusus untuk menangani kasus kekerasan terhadap
perempuan, khususnya kejahatan seksual. Sayangnya, unit dan prosedur
ini belum tersedia di semua tingkat penyelenggaraan hukum dan belum
didukung dengan fasilitas yang memadai.11 Di tingkat kultur atau budaya
hukum, banyak penyelenggara hukum mengadopsi cara pandang
masyarakat tentang moralitas dan kejahatan seksual. Akibatnya,
penyikapan terhadap kasus tidak menunjukkan empati pada perempuan
korban, bahkan cenderung ikut menyalahkan korban.11 Pertanyaan seperti
memakai baju apa, sedang berada dimana, dengan siapa jam berapa
merupakan beberapa pertanyaan yang kerap ditanyakan oleh aparat
penegak hukum ketika menerima laporan kasus perkosaan.11 Pertanyaan
semacam itu tidak saja menunjukkan bahwa tiadanya perspektif korban
tapi juga bentuk mengakimi korban dan menjadikan korban mengalami
kejahatan kembali (reviktimisasi). Persoalan lain yang seringkali muncul
adalah tersedia tidaknya perlindungan saksi dan korban yang mumpuni.

66
Pada sejumlah kasus, korban tidak mau melaporkan kasusnya karena
kuatir balas dendam pelaku.11 Korupsi dalam proses penegakan hukum
yang begitu mengurat akar juga menjadi hambatan bagi perempuan korban
yang kehilangan keyakinan bahwa ia akan memperoleh proses hukum
yang adil dan terpercaya.11

4. Faktor politik
Dalam konteks konflik, proses pengungkapan kebenaran sangat
ditentukan oleh itikad baik politik penyelenggara negara. Hal ini karena
kasus kejahatan seksual melibatkan aparat negara sebagai pelaku
kejahatan dan terkait dengan adanya kebijakan-kebijakan negara yang
memungkinkan kekerasan tersebut terjadi dan terus berulang.11 Banyak
sikap negara ini pada penuntasan pelanggaran hak asasi manusia masa lalu
terus mendua dan membiarkan korban yang telah mengungkapkan
kasusnya terus menunggu tanpa batas waktu kapan proses keadilan akan
diawali dengan sungguh-sungguh.11 Karenanya korban kejahatan seksual
merasa ragu-ragu untuk melaporkan tindak kejahatan yang terjadi.11

3.17 Hambatan Bantuan Ahli Dalam Kasus Kejahatan Seksual


Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kualitas pengumpulan
bukti forensik, diantaranya :
1. Faktor usia
Usia merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi
penilaian kasus kekerasan seksual. Pada anak-anak, dokter akan
memerlukan pendekatan yang berbeda, mengingat beberapa anak masih
memiliki keterbatasan untuk berbicara dan menyampaikan riwayat
kejadian yang dialaminya sehingga lebih tertutup, malu, ataupun takut
kepada tenaga medis.14 Pada korban yang masih tergolong prepubetas dan
pubertas, penilaian selaput dara membutuhkan kehati-hatian. Klasifikasi
Adams dapat menjadi rujukan para tenaga medis untuk melakukan
penilaian robekan selaput dara pada dua kelompok usia tersebut.14
Konfirmasi kejadian kejahatan seksual dua kali lebih mungkin dalam

67
kasus yang melibatkan anak-anak remaja daripada anak-anak kurang dari
10 tahun, bahkan setelah penyesuaian untuk penetrasi yang dilaporkan.
Temuan ini tampaknya karena anak-anak yang lebih kecil dapat
melaporkan upaya penetrasi di luar labia majora hingga vestibulum vulva
sebagai penetrasi vagina karena mereka tidak memiliki referensi yang
mendasari pengalaman mereka. Oleh karena itu, laporan penetrasi pada
anak yang lebih tua mungkin sesuai dengan penetrasi yang sebenarnya
dibandingkan dengan laporan dari anak-anak yang lebih muda.15

2. Faktor waktu16
Jenis cedera genital yang paling konsisten dilaporkan pada kasus
kejahatan seksual adalah laserasi, lecet, dan memar. Waktu adalah esensi
dalam mendokumentasikan luka atau lecet, karena masa penyembuhan
dimulai dengan cepat. Seiring berjalannya waktu, di sebagian besar luka dapat
terjadi perubahan warna. Pemeriksaan dan perawatan korban kekerasan
seksual memiliki beberapa tujuan, termasuk identifikasi dan pengobatan
cedera, pengumpulan bukti DNA, pengobatan atau penyakit menular seksual,
dan untuk pencegahan kehamilan, jika masih bisa dilakukan. Untuk waktu
yang lama, periode waktu untuk bisa dapatkan sampel DNA adalah 72 jam,
namun sekarang telah diperluas menjadi 96 jam di beberapa yurisdiksi karena
adanya kemajuan di bidang teknologi. Tanpa adanya trauma anogenital yang
serius, diragukan bahwa bukti trauma minor akan terdeteksi untuk periode
pasca-penyerangan yang panjang. Secara umum, periode waktu untuk
evaluasi cedera anogenital dibatasi hingga 72 jam pasca penyerangan karena
penyembuhan akan sering memiliki dampak signifikan pengamatan obyektif
terhadap trauma.

3. Faktor pemeriksa16
Ada perbedaan yang nyata dalam penelitian sehubungan dengan dokter
yang melakukan pemeriksaan dan membuat penentuan cedera anogenital.
Hasil menunjukan penemuan yang baik pada dokter yang mendapat pelatihan
khusus dalam sistem reproduksi wanita mencakup paparan pada forensik.

68
Dalam memeriksa korban kekerasan seksual, perlu ada standardisasi atau
prakeik terbaik yang telah ditetapkan untuk memastikan konsistensi dalam
dokumentasi. Berkaitan dengan pemeriksaan cedera, sangat penting untuk
mendapatkan pelatihan yang tepat untuk pemeriksaan dan perawatan korban
kekerasan seksual. Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) telah
menetapkan standar pelatihan nasional untuk pemeriksa forensik medis.
Namun, kepatuhan terhadap standar-standar ini saat ini direkomendasikan.
Standar ini dihasilkan dari kebutuhan akan perawatan yang terampil dan tepat
waktu dari pasien kekerasan seksual bersama dengan kebutuhan untuk
pengumpulan bukti forensik yang konsisten dan akurat.

3.18 Peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dalam Menangani


Kejahatan Seksual 17
Pada dasarnya kasus kejahatan seksual baik pada orang dewasa
maupun pada anak sudah diatur dan dipayungi dalam hukum yaitu pada
KUHP BAB XIV Pasal 281 – Pasal 303. Tetapi pada realitanya banyak
korban – korban kejahatan seksual tidak berani melaporkan atau menceritakan
mengenai kasus yang dialaminya. Ini terjadi karena di Indonesia masih
menganut aturan patriarki secara budaya, dan secara psikologis korban yang
terganggu setelah kejadian membuat korban menjadi susah untuk mengangkat
bicara dan melaporkan kasus tersebut.
Disinilah peran Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) membantu
melaporkan dan merealisasikan payung hukum yang sudah dibentuk di Indonesia.
1. Pemberdayaan
Pemberdayaan adalah sebuah proses dimana orang menjadi cukup
kuat untuk berpartisipasi dalam berbagi pengontrolan atas, dan
mempengaruhi terhadap kejadian – kejadian serta lembaga – lembaga yang
mempengaruhi kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang
memperoleh keterampilan, pengetahuan dan kekuasaan yang cukup untuk
mempengaruhi kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi
perhatiannya. Pemberdayaan juga secara singkat dapat pula diartikan
sebagai upaya untuk memberikan kesempatan dan kemampuan kepada

69
masyarakat yang belum mampu agar mampu dan berani bersuara (voice)
serta keberanian untuk memilih (choice).
Berdasarkan definisi – definisi pemberdayaan di atas, dapat
dinyatakan bahwa pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk
memperkuat kemampuan kelompok lemah dalam masyarakat. Termasuk
individu – individu yang mengalami masalah kemiskinan dan diskriminasi
dalam berbagai bidang.
Ada 3 pendekatan dalam pemberdayaan :
a. perencanaan sosial dan koordinasi pelayanan
b. pembangunan lokal
c. tindak sosial. Proses pembangunan lokal pada dasarnya adalah
memungkinkan masyarakat untuk memecahkan masalah secara kooperatif
dan kesadaran diri.
2. Program Pencegahan
LSM biasanya melihat masyarakat yang berpeluang mengalami kasus
tersebut, seperti anak – anak yang membolos sekolah atau anak – anak yang
tidak bersekolah, wanita – wanita pekerja malam (prostitusi). Bentuk
pencegahan biasanya berupa penyuluhan dan bimbingan mengenai hukum
hukum yang berlaku di Indonesia mengenai kejahatan seksual.
3. Program Perlindungan
Bentuk – bentuk perlindungan yang dilakukan biasanya berupa
kampanye dan membuat buku – buku yang berkaitan dengan kasus
kejahatan seksual. Korban – korban biasanya akan dilindungi dari media
pers, dan akan dibantu kasusnya untuk naik kemeja pengadilan.
4. Program Pemulihan
Korban yang sudah menjalani kasus akan diberikan bantuan gratis
secara medis dan psikis dari tenaga medis yang berpengalaman, dan
diupayakan agar merasa dirinya tetap berharga dan mampu menjalani
kehidupannya sendiri.
Peranan LSM sangatlah penting dalam memberitakan dan menyelesaikan
kasus – kasus kejahatan seksual di Indonesia. Banyak kasus – kasus kekerasan
seksual yang tidak muncul kepermukaan karena faktor budaya ataupun psikis dari

70
korban dan keluarga korban. LSM merupakan wadah yang tepat dan organisasi
yang membantu kepolisian dan korban dalam menyelesaikan kasus – kasus
kejahatan seksual di Indonesia.

3.19 Proses Peradilan Kasus Kejahatan Seksual


Proses peradilan dalam kasus kejahatan seksual dimulai dengan proses
penyidikan dengan memberikan perlindungan hak – hak anak sebagai korban
kejahatan seksual dalam setiap proses penyidikan. Mulai dari anak harus
didampingi oleh orang tua atau wali (biasanya LSM) dan memberikan
perlindungan hukum terhadap anak dari tindakan yang merugikan korban, hak
mendapatkan pelayanan karena korban mengalami penderitaan mental, fisik dan
aspek psikologis lainnya serta tidak memaksa anak untuk memberikan keterangan.
Pemeriksaan penyidik difokuskan sepanjang hal yang menyangkut persoalan
hukum. Titik pangkal pemeriksaan dihadapkan penyidik ialah tersangka. Dari
sinilah diperoleh keterangan mengenai peristiwa pidana yang sedang diperiksa.
Akan tetapi, sekalipun tersangka yang menjadi titik tolak pemeriksaan,
terhadapnya harus diberlakukan asas akusatur yaitu tersangka harus ditempatkan
pada kedudukan manusia yang memiliki harkat martabat. Yang diperiksa bukan
manusia sebagai tersangka melainan perbuatan tindak pidana yang
dilakukannyalah yang menjadi objek pemeriksaan. Tersangka harus dianggap tak
bersalah, sesuai dengan prinsip hukum “praduga tak bersalah” sampai diperoleh
putusan yang telah berkekuatan hukum tetap. Tindakan penyidikan tidah harus
didahului penyelidikan. Bilamana penyidik menemukan peristiwa yang dinilai
sebagia tindak pidana, dapat segera melakukan penyidikan. Alat bukti yang biasa
digunakan adalah : Visum Et Repertum dari korban dan memeriksa saksi – saksi
yang mengetahui kejadian tersebut. Proses tersebut dapat disingkat seperti ini. (a)
menerima laporan dari korban atau keluarga korban; (b) melakukan pemeriksaan;
(c) melakukan visum et repertum; (d) memberikan obat pencegah kehamilan
untuk korban; (e) menyediakan fasilitas rumah aman; (g) mengumpulkan saksi –
saksi; (h) memberikan surat pemberitahuan perkembangan hasil penyidikan atau
(SP2HP).

71
Sedangkan penanganan terhadap pelaku adalah : (a) pemanggilan atau
penangkapan tersangka; (b) penahanan sementeara; (c) penyitaan barang bukti; (d)
melakukan pemeriksaan; (e) melakukan gelar perkara; (f) pembuatan berita acara
perkara; (g) penyerahan berkas perkara penuntut umum.

3.20 Peran Pemerintah, Lingkungan dan Keluarga Terhadap Pencegahan


Kejahatan Seksual
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi
Mengenai Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita
(Convention On The Elimination Of All Forms Of Discrimination Against
Women-CEDAW). Sebagaimana yang telah diatur dalam UndangUndang di atas,
maka terbentuk pula Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Tata
Cara Perlindungan terhadap Korban dan Saksi. Bentuk-bentuk perlindungan yang
diberikan oleh Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 sebagaimana
dinyatakan dalam Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002 meliputi: a.
Perlindungan atas keamanan pribadi korban atau saksi dari ancaman fisik dan
mental; b. Perahasiaan identitas korban dan saksi; c. Pemberian keterangan pada
saat pemeriksaan di sidang pengadilan tanpa bertatap muka dengan tersangka 18.
1. Sebelum Sidang Pengadilan
Perlindungan hukum yang diberikan terhadap korban tindak pidana
perkosaan, pertama kali diberikan oleh polisi pada waktu korban melapor. Saat ini
Polri telah membentuk suatu Ruang Pelayanan Khusus (RPK) yang diawaki oleh
Polwan yang terwadahi dalam satu Unit Khusus yang berdiri sendiri untuk
menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ruang Pelayanan
Khusus (RPK) adalah sebuah ruang khusus yang tertutup dan nyaman di kesatuan
Polri, dimana perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan atau pelecehan
seksual dapat melaporkan kasusnya dengan aman kepada Polwan yang empatik,
penuh pengertian dan profesional. Dalam hal menangani kasus kekerasan terhadap
perempuan dan anak khususnya kasus. tindak pidana perkosaan, polisi menjalin
kerjasama dengan Instansi terkait dan LSM. Dalam memeriksa korban, Polwan
melakukan pendekatan psikologis korban perkosaan yang antara lain sebagai
berikut18:

72
a. Pendekatan Psikologis Yang Dilakukan Dengan Mengenali Reaksi-reaksi
Korban Setelah Perkosaan
Perempuan yang mengalami perkosaan selain menderita luka fisik juga
mengalami penderitaan secara psikis. Kehidupannya akan menjadi porak
poranda dan tidak menutup kemungkinan korban perkosaan akan menjadi
hamil atau terkena penyakit kelamin. Selain itu korban perkosaan juga dapat
ditinggal kekasih/suami dan bahkan tidak diakui oleh keluarganya karena
dianggap membawa sial atau aib. Untuk dapat membantu dan juga
memperoleh masukan sebanyak-banyaknya untuk pelaksanaan tugas
kepolisian, terlebih dahulu harus dipahami perasaan atau reaksi yang ada pada
diri korban sesudah perkosaan terjadi. Pada umumnya korban perkosaan akan
mengalami trauma psikis yang intensif dan berat yang sulit untuk dipulihkan.
Korban akan mengalami depresi yang akan ditandai oleh adanya obsesi
tentang perkosaan, mungkin ia akan merasa bahwa ia tidak mampu untuk
mengendalikan lingkungannya dan bahkan dirinya sendiri. Ia sangat
membutuhkan dorongan yang kuat pada masa-masa seperti ini, dukungan juga
diperlukan selama pemeriksaan dan persidangan apabila si korban
rnemutuskan untuk menuntut pelaku perkosaan. Yang terutama sangat
dibutuhkan oleh korban perkosaan adalah bicara dan ia membutuhkan
seseorang untuk mendengarkannya, untuk menerimanya dan membantunya
merubah perasaan tentang apa yang terjadi padanya. Korban mungkin takut
pada situasi-situasi yang mengingatkannya pada perkosaan, dan dia sangat
membutuhkan dukungan dari orang lain pada saat-saat seperti ini18,19.

b. Pendekatan Psikologis Yang Perlu Diperhatikan Pada Waktu Korban


Melapor
Dalam setiap kasus perkosaan, korban selalu mengalami stress dan trauma
sehingga besar kemungkinan dia akan memproyeksikan sikap dan emosi
negatifnya kepada kaum laki-laki. Situasi tersebut sangat tidak
menguntungkan dalam proses pemeriksaan dan penyidikan oleh polisi jika
yang memeriksa adalah polisi pria. Oleh karena itu banyak pakar
menyarankan perlunya Polwan untuk penanganan kasus perkosaan. Beberapa

73
keuntungan yang bisa diharapkan dari peran polisi dalam penyidikan kasus--
kasus kekerasan (perkosaan) terhadap perempuan adalah18:
1) Hambatan Psikologis Dapat Dihindari Dalam kasus perkosaan
hambatan yang berupa jarak psikologis antara pemeriksa dengan
korban dapat dengan mudah tercipta. Biasanya malu merupakan
kendala utama bagi korban untuk menceritakan peristiwa yang
dialaminya. Hambatan ini muncul sejak pertama kali korban
melaporkan diri sampai dengan saat pemeriksaan yang membutuhkan
pengungkapan kembali secara detil peristiwa yang dialami. Jarak
psikologis ini dikurangi jika penerima laporan dan pemeriksa adalah
Polwan. Setidaktidaknya rasa malu dan sungkan dapat dihilangkari,
sehingga proses pemeriksaan dapat berjalan dengan lancar18.
2) Komunikasi Dapat Terjalin Dengan Baik. Komunikasi antara korban
dengan Polwan pemeriksa akan lebih mudah terjalin, sebab proses
terciptanya empati (kemampuan untuk dapat menghayati dan
merasakan seperti apa yang dirasakan orang lain) lebih mudah
terbentuk. Dengan demikian maka kepercayaan korban terhadap
pemeriksa dapat tumbuh lebih cepat dan diharapkan dapat terjalin
komunikasi dan kerja sama yang baik dalam proses pemeriksaan
tersebut18.
3) Informasi Yang Diperoleh Dapat Maksimal Sebagai akibat dari
terjalinnya komunikasi dan kerja sama yang baik, maka dengan
sendirinya diharapkan dapat diperoleh informasi yang maksimal.
Hanya perlu diperhatikan, khususnya bagi para Polwan pemeriksa
agar berpandangan objektif (tidak subjektif dan larut dalam emosi)
dan tetap berpedoman pada ketentuan Yang sudah ada. c. Pendekatan
Psikologis Yang Dilakukan Oleh Polwan Pada Saat Memeriksa
Korban Perkosaan Yang terutama sangat dibutuhkan oleh korban
adalah bicara dan membutuhkan seseorang untuk mendengarkannya.
Segera setelah kejadian memang tidak banyak cerita yang dapat
diperoleh karena korban masih dalam keadaan shock. Sikap yang
diperlihatkan dalam menghadapinya akan mempunyai pengaruh yang

74
sangat kuat terhadap korban dan persepsi tentang dirinya. Untuk dapat
mengungkapkan kasus tindak pidana, polisi sangat membutuhkan
informasi sebanyak-banyaknya dari para saksi korban, karena situasi
dan kondisi yang sudah digambarkan di atas, maka khusus untuk saksi
korban perkosaan sangat diperlukan pendekatan khusus agar terbentuk
hubungan yang baik dan ada kepercayaan dalam diri saksi korban
terhadap polisi. Perasaan aman, terlindungi dan dipercayai adalah hal
pokok yang harus dapat ditumbuhkan oleh Polwan agar saksi korban
mau bekerja sama dalam mengungkap kasusnya. Pada saat
melaporkan kasusnya ke Polisi, perempuan korban perkosaan
disamping membutuhkan pelayanan yang empatik, ia juga
membutuhkan kepastian akan adanya proses lanjut dari kasusnya serta
keinginan untuk mendapatkan keadilan. Namun harus disadari bahwa
kondisi psikis korban pada saat itu masih rawan dan tidak stabil.
Untuk membantu korban mengurangi penderitaannya digunakan
teknik konseling18,19.
Perlindungan yang juga sangat dibutuhkan oleh korban tindak pidana
perkosaan adalah pelayanan/bantuan medis. Bantuan ini diberikan kepada
korban yang menderita secara medis akibat suatu tindak pidana. Pelayanan
medis yang dimaksud dapat berupa pemeriksaan kesehatan dan laporan
tertulis (visum atau surat keterangan medis yang memiliki kekuatan hukum
yang sama dengan alat bukti). Keterangan medis ini diperlukan terutama
apabila korban hendak melaporkan kejahatan yang menimpanya ke kepolisian
untuk ditindak lanjuti18.

2. Selama Sidang Pengadilan


Selama proses sidang pengadilan, korban dalam memberikan kesaksian
didampingi oleh anggota LBH/LSM supaya korban dapat lebih tenang dan
tidak merasa takut dalam persidangan. Mengingat korban masih labil
psikisnya dan merasa tertekan setelah menjalani pemeriksaan selama proses
peradilan, maka upaya pendampingan sangat dibutuhkan oleh korban. Apalagi
dalam persidangan, korban harus dipertemukan lagi dengan pelaku yang dapat

75
membuat korban trauma sehingga akan mempengaruhi kesaksian yang akan
diberikan dalam persidangan. Bentuk-bentuk perlindungan selama sidang
pengadilan juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2002
Tentang Tata Cara Perlindungan terhadap Korban dan Saksi Pasal 4 yang
berbunyi18:
i. Perlindungan atas keamanan pribadi korban atau saksi dari
ancaman fisik dan mental;
ii. Perahasiaan identitas korban dan saksi;
iii. Pemberian keterangan pada saat pemeriksaan di sidang pengadilan
tanpa bertatap muka dengan tersangka.
Perlindungan senada juga terdapat dalam Undang-Undang Nomor 13
Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban Pasa1 5 ayat (1)
huruf a s/d g yang berbunyi18:
a. Memperoleh perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga,
dan harta bendanya, serta bebas dari ancaman yang berkenaan
dengan kesaksian yang akan, sedang, atau telah diberikannya.
b. Ikut serta dalam proses memilih dan menentukan bentuk
perlindungan dan dukungan keamana.
c. Memberikan keterangan tanpa tekanan.
d. Mendapat penerjemah.
e. Bebas dari pertanyaan yang menjerat.
f. Mendapatkan informasi mengenai perkembangan kasus.
g. Mendapatkan informasi mengenai putusan pengadilan.

3. Setelah Sidang Pengadilan


Setelah pelaku dijatuhi hukuman oleh hakim, maka sesuai dengan Pasal 5 ayat (1)
huruf h s/d m Undang-Undang Nornor 13 Tahun 2006, maka korban berhak
mendapatkan perlindungan yang antara lain sebagai berikut18:
a. Mengetahui dalam hal terpidana dibebaskan.
b. Mendapatkan identitas baru.
c. Mendapatkan tempat kediaman baru.
d. Memperoleh penggantian biaya transportasi sesuai dengan kebutuhan.

76
e. Mendapatkan nasihat hukum; dan/atau
f. Memperoleh bantuan biaya hidup sementara sampai batas waktu
perlindungan akhir.
Selama ini belum ada aparat yang memberikan perlindungan secara
maksimal. Upaya negara untuk memberikan perlindungan dengan peraturan
perundang-undangan pun belum maksimal. Hanya pendamping (LSM/LBH) yang
memberikan layanan bagi perempuan korban perkosaan saja yang selama ini
bergerak maksimal. Meskipun sudah ada Undang-Undang Perlindungan Saksi dan
Korban, tetapi apa yang ada di dalamnya belum dilaksanakan oleh aparat penegak
hukum. Dari uraian di atas bagaimana korban diperlakukan selama proses
peradilan pidana, masih ada beberapa aparat hukum yang dalam memperlakukan
korban pada kasus perkosaan belum berspektif perempuan. Penangan kasus
perkosaan juga terlampau panjang karena harus mengikuti prosedur hukum yang
rnembuat korban menjadi enggan berhadapan dengan hukum yang prosesnya
sangat melelahkan. Oleh karena itu, perlu adanya reformasi hukum dan kebijakan,
terutama sistem penegakan hukum yang berkeadilan jender. Perubahan reformasi
ini diharapkan mampu membawa pemahaman mengenai kepekaan jender bagi
aparat penegak hukum agar bersikap tanggap terhadap kepentingan perempuan
korban kekerasan (perkosaan) yang dialaminya. Bicara mengenai reformasi
penegakan hukum yang berkeadilan jender, menyangkut bagaimana sistem
penegakan hukum yang ada mampu mengeluarkan kebijakan yang menjamin
perlindungan terhadap kepentingan dan hak asasi perempuan. Perlindungan dalam
proses penegakan hukum, muiai dari proses pelaporan, pemeriksaan, penyidikan,
hingga persidangan berakhir18,19.
Dengan berpijak pada ketiga elemen dalam sistem hukum, maka disusunlah
parameter yang merupakan prasyarat bagi perbaikan serta upaya yang dapat
dilakukan. Secara umum; wujud penegakan hukum yang berkeadilan jender
adalah sebagai berikut 18,19:
a. Dari segi substansi hukum, terdapat aturan-aturan yang mendukung
penegakan hukum yang mengedepankan kepentingan dan kebutuhan
perempuan korban kekerasan, diantaranya 18,19:

77
1) Mengubah aturan dasar yang berkaitan dengan mated kekerasan
terhadap perempuan, hukum acara, dan lain-lain. Misalnya,
perubahan atas KUHAP berkaitan dengan pengaturan hak-hak
korban dan pembuktian kasus kekerasan terhadap perempuan.
2) Mengembangkan pemikiran tentang kebutuhan penafsiran pasal-
pasal yang ada, termasuk perumusan perubahan hukum.
3) Menempatkan korban sebagai subyek dalam proses pemeriksaan
perkara dan bukan obyek seperti yang terjadi selama ini.
4) Menyediakan pendampingan bagi korban dalam setiap proses
pemeriksaan perkara:
5) Mempertimbangkan hukuman alternatif yang diatur secara tegas
dalam perundang-undangan bagi perempuan yang dianggap
"pelaku" kejahatan karena sesungguhnya ada dimensi jender dalam
kasus-kasus seperti itu.
b. Dari segi struktur hukum, tersedianya infrastruktur yang melayani
kebutuhan perempuan korban kekerasan, diantaranya18,19:
1) Penanganan secara khusus bagi perempuan korban kekerasan. Ini
bisa dicapai dengan alokasi prasarana dan anggaran yang memadai.
2) Penyediaan informasi dan pelayanan pemeriksaan yang cepat dan
nyaman serta peka jender, yang dapat diakses oleh korban,
pendamping maupun yang berkepentingan.
3) Wewenang dan peran yang jelas dalam upaya memberi
perlindungan terhadap perempuan korban kekerasan.
c. Dari segi budaya hukum, yaitu kesiapan aparat penegak hukum yang
memiliki pemahaman yang memadai mengenai permasalahan kekerasan
terhadap perempuan. Ini dapat ditempuh melalui usaha-usaha penyuluhan
misainya pelatihan jender bagi aparat penegak hukum, termasuk
memasukkan mated ke dalam kurikulum pendidikan, serta dibukanya
keran partisipasi masyarakat dalam penanganan kasus kekerasan terhadap
perempuan. Termasuk di dalamnya, upaya membangun kesadaran
masyarakat terhadap persoalan kekerasan terhadap perempuan 18.

78
3.21 Dampak Bukti Medikolegal Dengan Hasil Keputusan Pengadilan22
Setelah didapatkan bukti yang diperiksa termasuk dokumentasi cedera fisik
umum, trauma anogenital, sperma, air mani, air liur dan keaddan psikologis. Maka
didapatkan bahwa :

1. Bukti medikolegal secara keseluruhan


Sejumlah studi deskriptif yang telah membahas hubungan
keputusan pengadilan dengan bukti medikolegal sebagai variabel tunggal.
Dua temuan utama yang terkait dan timbul dari penelitian ini adalah bukti
medikolegal menjadi sangat penting bagi pengadilan dan bukti
medikolegal yang mendukung tidak selalu diperlukan untuk suatu kasus.
2. Hubungan keputusan pengadilan dengan faktor lain
Temuan penting dari review ini adalah faktor-faktor selain adanya
bukti medikolegal telah terbukti berpengaruh dalam pembentukan
keputusan pengadilan Seperti profil korban yang seorang pekerja seks
komersial, memiliki riwayat kejiwaan, masalah penyalahgunaan narkoba
dan atau catatan kriminial lainnya. selain itu mungkin ju gakorban telah
diduga bahwa ia meicu serngan tersebut seperti berjalan sendirian larut
malam atau menumpang atau minum-minuman beralkohol sebelum
penyerangan terjadi. Faktor-faktor lain termasuk di saat korban secara
lisan dan atau fisik menolak perlakuan pelaku atau tidak langsung
melaporkan hal tersebut ke polisi.
Sebagian besar temuan dalam studi yan ditinjau juga menunjukkan
bahwa karakteristik tertentu dari pelanggaran secara signifikan terkait
dengan proses peradilan pidana atas kekerasan seksual. misalnya kasus-
kasus yang meliatkan tersangka dengan dakwaan sebelumnya dan atau
beberap tuduhan, penetrasi, paksaan secara fisik atau verbal dan
penggunaan senjata lebih mungkin untuk memenangkan pengadilan .
kekuatan para saksi yang menguatkan juga secara signifikan terkait
dengan keputusan pengadilan yang menguntungkan korban.

79
BAB IV
JURNAL PEMBANDING

Pada makalah ini berisi penjelasan tentang pola luka pada alat genital
wanita akibat kekerasan seksual yang sekarang masih menjadi perdebatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mencoba mengklarifikasi perdebatan tersebut
dengan menelitian pola luka pada genitalia wanita apakah luka tersebut
disebabkan oleh kekerasan seksual atau tidak melalu penelitian prospektif kasus
kontrol.

Temuan pada penelitian ini adalah:

1. Pada Makalah ini tidak ada perbedaan pola luka arah jam 6 antara
kelompok kontrol dan kelompok kasus.
2. Pada Makalah ini ditemukan pada kelompok kasus secara signifikan
frekuensi hematom,abrasi dan luka multiple lebih tinggi.
3. Perbedaan tersebut hanya terlihat pada pemeriksaan dengan melihat
langsung atau colposcopy, sementara dengan menggunakan toluidine blue
dye tidak menunjukan hasil yang signifikan pada kelompok kasus.
4. Pada penelitian ini tidak ditemukan lesi/luka pada vagina atau serviks
seperti yang telah dilaporkan pada penelitian-penelitian sebelumnya.
5. Pada penelitian ini juga diduga bahwa kesesuain dan ketidaksesuain pada
penelitian ini juga mungkin disebabkan oleh beberapa hal yaitu, faktor
predisposisi, tipe kulit, ukuran genitalia eksterna wanita, ras, umur dan
parietas.

Medico Legal Aspects of Sexual Violence: Patterned genital injury in cases of


Impact on Court Judgments rape –A case control study

Penulis: Penulis:
Sangeeta Rege1, Padma Bhate-Deosthali2 Birgitte Schmidt Astrup, Mda,*,
and Jagadeesh N Reddy2 Pernille Ravn, DMSci, Senior
Consultant b,Jørgen Lange Thomsen,

80
Professor of Forensic Medicine a,Jens
Lauritsen, MD, Ph.D, Consultant c,d

Jenis penelitian: penelitian observasional di Jenis penelitian: penelitian prospective


Tata Institute of Social Sciences, Mumbai, case control di Southern Denmark
India; pada tanggal , Sexual Assault Referral Centre
(SDSARC), Denmark bekerja sama
dengan Institute of Forensic Medicine,
University of Southern Denmark,
Department of Obstetrics and
Gynaecology, Odense University
Hospital, Department of Orthopedics,
Odense University Hospital, University
of Southern Denmark, Department of
Public Health, Biostatistics, University
of Southern Denmark selama 2 tahun
(2009-2011) dengan total sampel 71
perempuan.

Membahas tentang bagaimana pengadilan Pada penenitian ini ingin melihat pola
menginterprestasikan temuan medikolegal luka pada genitalia wanita pada kasus
dalam pengambilan keputusan dan pemerkosaan dengan cara inspeksi
bagaimana temuan tersebut berpengaruh secara langsung, Colposcopy dan
terhadap pengambilan keputusan pengadilan. Toluidine blue dye.
Hasil: Hasil:
- Cedera genital dan fisik merupakan - Pada penelitian ini ditemukan
tanda penting dalam menentukan bahwa ada perbedaan pola
kasus pemerkosaan. luka/cedera genitalia wanita pada
- Pengadilan sendiri kurang memahami hubungan seks yang karena
komplikasi akibat kekerasan seksual dipaksa dan yang tidak
seperti rasa terbakar pada genitalia, dipaksakan.
nyeri pada perut, dan mungkin juga - Pada pemeriksaan langsung atau

81
penyakit infeksi akibat seksual pada inspeksi ditemukan pada
anak. penelitian ini luka multiple lebih
- Masalah lain yang menjadi fokus banyak terjadi pada kelompok
perhatian adalah ketidakkonsistenan kasus.
terhadapa interprestasi sampel
biologi seperti adanya pewarnaan
cairan semen, adanya alkohol dalam
darah tidak dapat ditentukan oleh
oleh pangadilan.
Perbandingan dengan Jurnal Lainnya

Biological Evidence in Adult


Adolescent Sexual Assault Cases: Timing
and Relationship to Arrest

Theodore P. Cross1, Megan Alerden2,


Alex Wagner3, Lisa Sampson4, Brittany
Peters4, and Kaitlin Lounsbury5
• Jenis Penelitian: Retrospective sampling dari
Provider Sexual Crime Report (PSCR) USA
sejak tahun 2008-2010 dengan total 528
sampel.
• Membahas penggunaan barang bukti
biologis (DNA) sebagai alat untuk
penangkapan pelaku kekerasan seksual.
• Hasil: 10 dari 11 kasus memiliki data DNA
yang valid. 8 dari kasus tersebut ditemukan
DNA cocok dengan pelaku (80%); secara
signifikan lebih tinggi dibandingkan
penangkapan lain (41,2%) dan pembebasan
(30,5%)

82
Medico Legal Aspects of Sexual Violence: Patterned genital injury in cases of
Impact on Court Judgments rape –A case control study

Penulis: Penulis:
Sangeeta Rege1, Padma Bhate-Deosthali2 and Birgitte Schmidt Astrup, Mda,*,
Jagadeesh N Reddy2 Pernille Ravn, DMSci, Senior
Consultant b,Jørgen Lange Thomsen,
Professor of Forensic Medicine a,Jens
Lauritsen, MD, Ph.D, Consultant c,d
Jenis penelitian: penelitian observasional di Jenis penelitian: penelitian prospective
Tata Institute of Social Sciences, Mumbai, case control di Southern Denmark
India; pada tanggal , Sexual Assault Referral Centre
(SDSARC), Denmark bekerja sama
dengan Institute of Forensic Medicine,
University of Southern Denmark,
Department of Obstetrics and
Gynaecology, Odense University
Hospital, Department of Orthopedics,
Odense University Hospital, University
of Southern Denmark, Department of
Public Health, Biostatistics, University
of Southern Denmark selama 2 tahun
(2009-2011) dengan total sampel 71
perempuan.

Membahas tentang bagaimana pengadilan Pada penenitian ini ingin melihat


menginterprestasikan temuan medikolegal dalam tentang pola luka pada genitalia wanita
pengambilan keputusan dan bagaimana temuan pada kasus pemerkosaan dengan cara
tersebut berpengaruh terhadap pengambilan inspeksi secara langsung, Colposcopy
keputusan pengadilan. dan Toluidine blue dye

83
Hasil: Hasil:
- Cedera genital dan fisik merupakan tanda - Pada penelitian ini ditemukan
penting dalam menentukan kasus bahwa ada perbedaan pola
pemerkosaan. luka/cedera genitalia wanita
- Pengadilan sendiri kurang memahami pada hubungan seks yang
komplikasi akibat kekerasan seksual karena dipaksa dan yang tidak
seperti rasa terbakar pada genitalia, nyeri dipaksakan.
pada perut, da mungkin juga penyakit - Pada pemeriksaan langsung atau
infeksi akibat seksual pada anak. inspeksi ditemukan pada
- Masalahlain yang menjadi fokus penelitian ini luka pada arah
perrhatian adalah ketidakkonsistenan jam 6 lebih banyak ditemukan
terhadapa interprestasi sampel biologi pada korban kekerasan seksual.
seperti adanya pewarnaan cairan semen,
adanya alcohol dalam darah tidak dapat
ditentukan oleh oleh pangadilan.

84
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kekerasan seksual merupakan kejahatan yang universal. Kejahatan ini
dapat ditemukan diseluruh dunia, pada tiap tingkatan masyarakat dan tidak
memandang. Istilah kekerasan seksual adalah perbuatan yang dapat dikategorikan
hubungan dan tingkah laku seksual yang tidak wajar, sehingga menimbulkan
kerugian dan akibat yang serius bagi para korban. Kekerasan seksual yang paling
sering terjadi adalah pemerkosaan dimana hukum di Indonesia mengatakan bahwa
pemerkosaan adalah terjadinya persetubuhan yaitu masuknya penis ke dalam
vagina, sebagian atau seluruhnya dengan atau tanpa ejakulasi, padahal perbuatan
kekerasan seksual tidak selalu memasukan penis ke dalam vagina.
Akibat keterbatasan dari cakupan hukum yang mengatur kekerasan
seksual, banyak korban yang tidak melaporkan kejadian pidana ini sehingga
timbul fenomena gunung es pada kasus kekerasan seksual. Terdapat beberapa
faktor lain sebagai penentu korban kejahatan seksual dalam mengakses keadilan,
yaitu faktor personal, faktor sosial budaya, faktor hukum dan faktor politik.
Selain kurangnya kesadaran korban akan pentingnya melaporkan
kekerasan seksual, terdapat hambatan untuk ahli menemukan bukti persetubuhan
yaitu faktor usia, dimana pada anak kecil tidak terjadi penetrasi yang
sesungguhmua, lalu faktor waktu dan faktor pemeriksa. Pembuktian persetubuhan
dilakukan dengan dua cara yaitu membuktikan adanya penetrasi (penis) kedalam
vagina dan atau anus/oral dan membuktikan adanya ejakulasi atau adanya air mani
didalam vagina atau anus. Hendaknya setiap dokter memiliki pengetahuan dan
keterampilan yang mumpuni dalam melakukan pemeriksaan dan penatalaksanaan
korban kekerasan seksual

5.2 Saran
• Masyarakat
o Agar lebih waspada terhadap banyaknya kasus kejahatan seksual
o Setelah mengalami kejahatan seksual, hendaknya segera melapor ke
pihak berwenang agar dokter yang memeriksa dapat menemukan bukti
sebanyak - banyaknya

85
• Kedokteran forensik
o Agar selain mengobati korban kejahatan seksual juga mengetahui
prinsip – prinsip pengumpulan benda bukti dan cara pemeriksaannya
agar tidak membuat banyak bukti penting terlewatkan dan tak
terdeteksi selama pemeriksaan
o Lebih teliti dalam melakukan identifikasi temuan klinis dalam kasus
kejahatan seksual
o Akan lebih baik bila dalam kasus kejahatan seksual dapat dilengkapi
dengan visum yang melibatkan psikiater yang dapat menelaah salah
satu gejala jangka panjang seperti post traumatic stress disorder atau
post traumatic rape síndrome.
• Pemerintah dan pihak kepolisian
o Lebih intensif dalam memberantas kasus perkosaan dengan tujuan
menurunnya kasus kejahatan seksual
o Menelaah ulang cakupan pemerkosaan, yaitu tidak hanya sebatas
masuknya penis ke liang vagina.

86
DAFTAR PUSTAKA

1. Meilia I. Prinsip Pemeriksaan dan Penatalaksanaan Korban (P3K)


Kekerasan Seksual. Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan
Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo. 2012. Vol. 39 no. 8, th. 2012. Hal.579-583
2. Komnas Perempuan. Kekerasan seksual: Kenali dan tangani. 2011.
Komnas Perempuan Jakarta. Hal 1-5
3. World Health Organization. Guidelines for medico-legal care for victims
of sexual violence. Geneva: WHO; 2013. Hal. 17-55.
4. Dahlan, Sofwan. Ilmu Kedokteran Forensik. Pedoman Bagi Dokter dan
Penegak Hukum. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
2000. h. 125-28.
5. Kekerasan Seksual : Kenali dan Tangani. Komnas Perempuan. 2017 [cited
on 9-9-2018]. Available from: http://www.komnasperempuan.or.id/wp
content/uploads/2017/12/Kekerasan-Seksual-Kenali-dan-Tangani.pdf. Hal
1 -5.
6. World Health Organization. Guidelines for medico-legal care for victims
of sexual violence. Geneva: WHO; 2013. Hal. 17-55.
7. Kusuma, S.E dan Yudianto, A. Kejahatan Seksual. Dalam Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal. 2007.
8. Moeljatno . Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Bina

Aksara.1983.

9. Soesilo. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana Lengkap. Bogor: Politea;

1986.

10. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang

Perlindungan Anak

11. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan. Membangun Akses


ke Keadilan bagi Perempuan Korban Kekerasan. Jakarta: Komisi Nasional

87
Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan). 2017. p.12-
18, 108-113.
12. Thomas J, Guerin V, Levy P, Carette M, de Andreis N, Lacrosse P. The
Impact of a History of Sexual Abuse on Health: Data from a Self-Reported
Questionnaire from a Sample of French Victims. Journal of General
Practice. 2017;05(06):6-8.
13. Sable M, Danis F, Mauzy D, Gallagher S. Barriers to Reporting Sexual
Assault for Women and Men: Perspectives of College Students. Journal of
American College Health. 2016;55(3):157-162.
14. Dhanardono T, Bhima SKL. Analisa Faktor Penghambat Bantuan Ahli
Dalam Kasus Kekerasan Seksual. Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan.
2017. p. 301-302
15. Silva W, Ribeiro F, Guimarães G, Santos M, Almeida V, Barroso-Junior
U. Factors associated with child sexual abuse confirmation at forensic
examinations. Ciência & Saúde Coletiva. 2018;23(2):599-606.
16. Laitinen F, Grundmann O, Ernst E. Factors That Influence the Variability
in Findings of Anogenital Injury in Adolescent/Adult Sexual Assault
Victims. The American Journal of Forensic Medicine and Pathology.
2013;34(3):286-294.
17. Kunthi Tridewiyanti, Et al. Ed., Mewujudkan Perlindungan Hak-hak

Perempuan Korban dalam Kebijakan: Himpunan Kertas Posisi dan Kajian

dari Berbagai Kebijakan Tahun 2010-2013. Jakarta: Komnas Perempuan,

2014.

18. Wedani MAPN, Perlindungan Korban Tindak Pidana Perkosaan Selama

Proses Peradilan Pidana, Program Kekhususan Hukum Bisnis Fakultas

Hukum Universitas Udayana, 02 Fabruari 2015: -(-); 4-7.

19. Runtuwene CV.Perlindungan Hukum Terhadap Korban Perkosaan Selama

Proses Peradilan Pidana, Lex Crimen; 4 Agustus 2013 II (4); 40-9.

88
20. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Mun’im TWA, Sidhi, Hertian S,
et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik
FKUI; 2007.
21. Kalangit A, Mallo J, Tomuka D. Peran Ilmu Kedokteran Forensik dalam
Pembuktian Tindak Pidana Pemerkosaan sebagai Kejahatan Kekerasan
Seksual. Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi: Manado; 2015
22. White D, Mont JD. The Uses and Impacts of Medico-legal Evidence in
Sexual Assault Cases: A Global Review. WHO 2007

89