Anda di halaman 1dari 18

Metabolisme Enzim ALDH

Terhadap Alkohol

Erwin Ramandei
(102012310)

Falkutas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510 Telp. 021-56942061 Fax. 021-5631731

Pendahuluan
Konsumsi alkohol terus menerus dapat mengakibatkan penyakit alkoholik yang dapat
diketahui lebih awal dengan penentuan biomarker-biomarker dari alkohol. Salah satu
biomarker alkohol adalah enzim. Enzim yang digunakan untuk mengoksidasi etanol adalah
aldehid dehydrogenase (ALDH). Bila ALDH tidak cukup tersedia maka asetaldehid yang
bersifat toksik sebagai hasil oksidasi etanol tidak dapat mengalami metabolisme yang
sempurna. Alkohol (etanol) yang diminum dapat mengalami reaksi oksidasi menjadi
asetaldehid oleh enzim alkohol dehidrogenase (ADH) dan selanjutnya dioksidasi lagi menjadi
asam asetat oleh aldehid dehidrogenase (ALDH). Akumulasi asetaldehid dapat menyebabkan
berbagai penyakit hati.1
Sesuai dengan mind map yang telah di buat maka akan di bahas satu per satu, yaitu:
Enzim ALDH itu sendiri, teori mendel, mutasi gen, proses replikasi, transkripsi dan translasi.

Pembahasan
Enzim Aldehida Dehidrogenase
Aldehida dehidrogenase (ALDH) merupakan enzim yang berperan penting pada
metabolisme alkohol. Penurunan aktivitas enzim ALDH lebih berpengaruh pada
hipersensitivitas terhadap alkohol daripada penurunan aktivitas alkohol dehidrogenase.
Enzim ALDH terdapat dalam beberapa isozim. Di antara isozim-isozim ini, ALDH2
merupakan isozim utama yang mempunyai afinitas yang sangat tinggi terhadap asetaldehida.
Gangguan pada enzim ini menyebabkan penumpukan aldehid dalam darah, selanjutnya
aldehid yang menumpuk dapat menimbulkan kemerahan dan rasa panas pada wajah
(flushing).2
Pada gen yang atipik, kodon ini terdiri dari nukleotida AAA yang menyandi asam
amino lisin, sebagai pengganti GAA untuk asam glutamat pada gen wild type. Frekuensi alel

1
ALDH2 yang atipik pada orang Indonesia (31/200) lebih tinggi daripada frekuensi tersebut
pada orang Kaukasoid (hanya sekitar 5-10%), namun lebih rendah dibandingkan dengan
frekuensi pada orang Mongoloid (40-50%). Hal ini mungkin berkaitan dengan
keanekaragaman etnik yang dijumpai pada populasi Indonesia. 2

Metabolisme Alkohol
Alkohol yang dikonsumsi 90% akan dimetabolisme oleh tubuh terutama dalam hati
oleh enzim alkoholdehidrogenase (ADH) dan koenzim nikotinamid-adenin-dinukleotida
(NAD) menjadi asetaldehid dan kemudian oleh enzim aldehida dehidrogenase (ALDH)
diubah menjadi asam asetat. Asam asetat dioksidasi menjadi CO2 dan H2O. Piruvat, levulosa
(fruktosa), gliseraldehida (metabolit dari levulosa)dan alanina akan mempercepat metabolism
alcohol.3
Hepatosit memiliki tiga jalur metabolisme alkohol, yang masing-masing terletak pada
bagian yang berlainan. Jalur yang pertama adalah jalur alkohol dehidrogenase (ADH) yang
terletak pada sitosol atau bagian cair dari sel. Dalam keadaan fisiologik, ADH memetabolisir
alkohol yang berasal dari fermentasi dalam saluran cerna dan juga untuk proses
dehidrogenase steroid dan omega oksidasi asam lemak. ADH memecah alkohol menjadi
hidrogen dan asetaldehida, yang selanjutnya akan diuraikan menjadi asetat. Asetat akan
terurai lebih lanjut menjadi H2O dan CO2. Jalur kedua ialah melalui Microsomal Ethanol
Oxydizing System (MEOS) yang terletak dalam retikulum endoplasma. Dengan pertolongan
tiga komponen mikrosom yaitu sitokrom P-450, reduktase, dan lesitin, alkohol diuraikan
menjadi asetaldehida. Jalur ketiga melalui enzim katalase yang terdapat dalam peroksisom
(peroxysome).3
Hidrogen yang dihasilkan dari metabolisme alkohol dapat mengubah keadaan redoks,
yang pada pemakaian alkohol yang lama dapat mengecil. Perubahan ini dapat menimbulkan
perubahan metabolisme lemak dan karbohidrat, mungkin menyebabkan bertambahnya
jaringan kolagen dan dalam keadaan tertentu dapat menghambat sintesa protein. Perubahan
redoks menimbulkan perubahan dari piruvat ke laktat yang menyebabkan terjadinya
hiperlaktasidemia. Bila sebelumnya sudah terdapat kadar laktat yang tinggi karena sebab lain,
bisa terjadi hiperurikemia. ssSerangan kejang pada delirium tremens juga meningkatkan
kadar asam urat dalam darah. Pada pasien gout, alkohol dapat meningkatkan produksi asam
urat sehingga kadarnya dalam darah makin meningkat.3

2
Teori Mendel
Tokoh peletak prinsip dasar genetika adalah George Johan Mendel seorang biarawan
dan penyelidik tanaman berkebangsaan Austria. Pada tahun 1866 Mendell melaporkan hasil
penyelidikannya selama bertahun-tahun atas kacang ercis/kapri (Pisum sativum). Untuk
mempelajari sifat menurun Mendell menggunakan kacang ercis dengan alasan:
- memiliki pasangan sifat yang menyolok
- bisa melakukan penyerbukan sendiri
- segera menghasilkan keturunan atau umurnya pendek
- mampu menghasilkan banyak keturunan, dan
- mudah disilangkan
Dari hasil penelitiannya tersebut Mendell menemukan prinsip dasar genetika yang lebih
dikenal dengan Hukum Mendell.4

Hukum Mendell I/Hukum Pemisahan Bebas


Hukum Mendell I dikenal juga dengan Hukum Segregasi menyatakan: ‘pada
pembentukan gamet kedua gen yang merupakan pasangan akan dipisahkan dalam
dua sel anak’. Hukum ini berlaku untuk persilangan monohibrid (persilangan dengan satu
sifat beda). Contoh dari terapan Hukum Mendell I adalah persilangan monohibrid dengan
dominansi. Persilangan dengan dominansi adalah persilangan suatu sifat beda dimana satu
sifat lebih kuat daripada sifat yang lain. Sifat yang kuat disebut sifat dominan dan bersifat
menutupi, sedangkan yang lemah/tertutup disebut sifat resesif.
Perhatikan contoh berikut ini, disilangkan antara mawar merah yang bersifat dominan dengan
mawar putih yang bersifat resesif. 4

Gambar 1: Contoh persilanga. ( sumber: http://dittakris.wordpress.com/2011/06/07/hukum-


mendel/)

3
Persilangan monohibrid dengan kasus intermediet
Sifat intermediet adalah sifat yang sama kuat, jadi tidak ada yang dominan ataupun resesif.
Contoh: disilangkan antara mawar merah dengan mawar putih

Gambar 1: Contoh persilanga. ( sumber http://dittakris.wordpress.com/2011/06/07/hukum-


mendel/)

Hukum Mendell II/Hukum Berpasangan Bebas

Hukum Mendell II dikenal dengan Hukum Independent Assortment, menyatakan:


‘bila dua individu berbeda satu dengan yang lain dalam dua pasang sifat atau lebih, maka
diturunkannya sifat yang sepasang itu tidak bergantung pada sifat pasangan lainnya’. Hukum
ini berlaku untuk persilangan dihibrid (dua sifat beda) atau lebih.
Contoh: disilangkan ercis berbiji bulat warna kuning (dominan) dengan ercis berbiji kisut
warna hijau (resesif). 4,5

Gambar 1: Contoh persilanga. ( sumber http://dittakris.wordpress.com/2011/06/07/hukum-


mendel/

4
Konsep Backcross dan Testcross
Backcross (silang balik) adalah langkah silang antara F1 dengan salah satu induknya.
F1 x salah satu induk (P)
Testcros (uji silang) adalah persilangan antara suatu individu yang genotifnya belum
diketahui dengan individu yang telah diketahui bergenotif homozigot resesif. Gunanya untuk
mengetahui apakah genotif suatu individu tersebut homozigot ataukah heterozigot.
? x homozigot resesif
Persilangan Resiprok
Persilangan resiprok adalah suatu persilangan dimana sifat induk jantan dan betina bila
dibolak-balik/dipertukarkan tetapi tetap menghasilkan keturunan yang sama atau disebut juga
sebagai persilangan sendiri.4,5

Mutasi gen
Pasangan basa nitrogen pada DNA, antara timin dan adenine atau antara guanine dan
sitosin dihubungkan oleh ikatan hydrogen yang lemah. Atom-atom hydrogen dapat berpindah
dari satu posisi ke posisi lain pada purin atau pirimidin. Perubahan kimia sedemikian disebut
perubahan tautomer. Misalnya secara tidak normal, adenine berpasangan dengan sitosin dan
timin dengan guanine. Peristiwa perubahan genetic seperti ini disebut mutasi gen karena
hanya terjadi di dalam gen. Mutasi gen disebut juga dengan mutasi titik (point mutation).
Mutasi gen dapat terjadi karena substitusi basa N. Macam macam mutasi gen antara lain:
1. Mutasi Titik (point mutation)
Hanya 1 basa nukleotida yang berubah – 1 basa nukleotida pada mRNA berubah. Dapat
transisi (A-G, U-C).
a. Mutasi Diam (silent mutation)
Mutasi yang tidak mempengaruhi suasana asam amino. Contoh: perubahan CGA
menjadi CGG, keduanya kodon untuk argini.
b. Missense Mutation
Mutasi yang mengakibatkan 1 aa pada protein di ganti dengan aa lain. Contoh: CGA
dimutasi menjadi CCA – arginin diganti prolin.
Tergantung lokasi aa yang di mutasi pada protein spesifik, maka berdasatkan fungsi
protein tersebut dapat di bagi:
o Acceptable MM: hasil mutasi tidak mengubah fungsi protein.
o Partially acceptable MM: hasil mutasi mengakibatkan sebagian fungsi protein
tersebut tergangu/ menurun fungsinya.

5
o Unacceptable MM: hasil mutasi mengakibatkan protein tidak berfungsi.
c. Mutasi Nonsense
Mutasi yang mengakibatkan terminasi premature/dini dari suatu sintesis protein.
Contoh: dari CGA-UGA (kodon stop) > sintesis protein berhenti sebelum waktunya.6
2. Mutasi ‘frame shift’
Mutasi akibat insersi (penambahan 1 nukleotida) atau delesi (pengurangan 1 nukleotida)
nukleotida pada gen yang menyebabkan perubahan urutan nukleotida pada mRNA.
Contoh kelainan klinik: Hemoglobinopati > terbentuk Hb abnormal dengan gangguan
fungsi minimal – maksimal tergantung hasil translasi. 6

Mutasi Kromosom (Aberasi)


Istilah mutasi umumnya digunakan untuk perubahan gen, sedangkan perubahan
kromosom yang dapat diamati dikenal sebagai variasi kromosom atau mutasi besar/gross
mutation adalah perubahan jumlah kromosom dan susunan atau urutan gen dalam kromosom.
Mutasi kromosom sering terjadi karena kesalahan meiosis dan sedikit dalam mitosis. Pada
prinsipnya mutasi kromosom dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Mutasi kromosom terjadi karena perubahan jumlah kromosom
Mutasi kromosom yang terjadi karena perubahan jumlah kromosom (ploid)
melibatkan kehilangan atau penambahan perangkat kromosom (genom) disebut euploid,
sedang yang terjadi pada hanya pada salah satu kromosom dari genom disebut aneuploid.
a. Euploid (Eu = benar; ploid = unit)
Makhluk hidup yang terjadi secara kawin, biasanya bersifat diploid, memiliki 2
perangkat kromosom atau 2 genom pada sel somatisnya (2n kromosom). Organisme
yang kehilangan 1 set kromosomnya disebut monoploid. Organisme monoploid
memiliki satu genom atau satu perangkat kromosom (n kromosom) dalam sel
somatisnya. Sel kelamin (gamet), yaitu sel telur (ovum) dan spermatozoa, masing-
masing memiliki satu perangkat kromosom. Satu genom (n kromosom) yang disebut
haploid. Sedangkan organism yang memiliki lebih dari dua genom disebut poliploid,
misalnya triploid (3n kromosom), tetraploid (4n kromosom), heksaploid (6n
kromosom). Poliploid yang terjadi pada tumbuhan misalnya pada apel dan tebu.
Poliploid pada hewan misalnya Daphnia, Rana esculenta, dan ascaris. Poliploid dibagi
menjadi dua, yaitu otopoliploid, terjadi pada kromosom homolog, misalnya semangka
tak berbiji; dan alopoliploid, terjadi pada kromosom non homolog, misalnya
Rhaphanobrassica (akar sepeti kol, daun mirip lobak).6
6
b. Aneuploid (An = tidak; eu = benar; ploid = unit)
Aneupliodi adalah perubahan jumlah n-nya. Mutasi kromosom ini tidak
melibatkan seluruh genom yang berubah, melainkan hanya terjadi pada salah satu
kromosom dari genom. Biasa disebut juga dengan aneusomik. Macam-macam
aneusomik antara lain :
1. Monosomik (2n-1); mutasi karena kekurangan 1 kromosom
2. Nullisomik (2n-2); mutasi karena kekurangan 2 kromosom
3. Trisomik (2n+1); mutasi karena kelebihan 1 kromosom
4. Tetrasomik (2n+2); mutasi karena kelebihan 2 kromosom

Mutasi gen aldehyde dehydrogenase


- Mutasi Genetik
Mutasi adalah perubahan yang terjadi pada bahan genetik (DNA
maupunRNA), baik pada taraf urutan gen (disebut mutasi titik) maupun pada taraf
kromosom. Mayoritas merupakan mutasi tidak nyata atau mutasi netral (silent
mutation). Silent mutation merupakan perubahan sekuens basa yang tidak
menyebabkan perubahan aktivitas pada produk yang dikode oleh gen. Silent mutation
umumnya muncul akibat satu nukleotida diganti oleh nukleotida lain, terutama pada
lokasi basa ketiga pada triplet kodon mRNA. Bila perubahan satu basa nukleotida ini
tidak mengubah asam amino, maka fungsi dari protein tidak berubah. Bila asam
amino yang dikode berubah, fungsi protein dapat tidak terganggu bila asam amino
yang berubah tersebut bukan merupakan bagian vital dari protein, atau secara kimia
sangat mirip dengan asam amino aslinya.5,6,
- Mutasi gen aldehyde dehidrogenase
Pada variasi kelainan gen aldehid-dehidrogenase-2 (ALDH-2) dapat
mempengaruhi sensitivitas seseorang terhadap konsumsi alkohol. Sensitivitas
terhadap alkohol bervariasi antar ras. Pada ras kaukasus misalnya, 90%-nya tahan
terhadap alkohol. Studi genetika manusia menunjukkan bahwa kecenderungan
sensitivitas alkohol tinggi dapat diwariskan. Polimorfisme fungsional telah diamati di
berbagai gen penyandi ALDH. Ada empat gen yang mengkodekan empat isozim yang
berbeda pada ALDH yang telah dikloning. Pertama adalah gen ALDH1 yang
mengkodekan pada sitosol utama, yang ada dalam hati dan jaringan lain, dengan
afinitas rendah untuk asetaldehida. Kekurangan genetik isozim ini ditemukan pada

7
orang bule dengan frekuensi rendah (<< 10%). Gen ALDH2 mengkodekan
mitokondria utama, dan enzim ALDH2 ini memiliki afinitas yang sangat tinggi untuk
asetaldehida. Sensitivitas alkohol tinggi terutama terjadi pada gen ALDH2. Alel
ALDH2 atipikal yang sangat umum di Oriental, baik homozigot dan heterozigot,
mengakibatkan aktivitas enzim ALDH2 menurun. Homozigot atipikal lebih peka
terhadap alkohol daripada heterozigot. Gen ALDH3 menghasilkan isozim ALDH3
sitosol yang ada di perut dan hati karsinoma . Lokus ALDH3 adalah polimorfik
Orientals dan mungkin terdapat pada populasi lainnya. Gen ALDH5, yang terdapat
dalam testis dan hati, sangat polimorfik pada bule dan Oriental. Enzim ALDH-2
tersusun dari 517 asam amino. Dari beberapa hasil penelitian ternyata pada individu
yang tidak tahan alkohol ditemukan adanya variasi pada gen ALDH-2 yaitu
nukleotida G dari kodon GAA untuk asam amino ke-487 berubah menjadi nukleotida
A sehingga asam amoni ke -487 berubah dari asam glutamat (GAA) menjadi lisin
(AAA). Asam amino lisin pada posisi 487 dari enzim ALDH-2 ini menyebabkan
aktivitas enzim ini menjadi menurun. 5,6,

Proses replikasi, transkripsi dan translasi.


 DNA : Replikasi, Transkripsi dan Translasi
- Model DNA
DNA adalah entitas yang sangat dinamis dan srtukturnya tidak beku.
Pernapasan (breathing), DNA terkandung dalam pembukaan temporer pasangan-
pasangan basa [2]. Dalam pemodelan gerak fungsional DNA, dianalogikan dengan
gerak mekanis. Terdapat banyak variasi model yang mendeskripsikan gerak DNA:

8
Gambar 2. Model DNA. Sumber : http://www.nimble2.com/dna.gif

kontinyu dan diskrit, spiral dan tak spiral, gerak tiruan dari setiap atau hampir
setiap atom, model homogen dan model-model yang memasukkan keberadaan barisan
basa. Model batang elastis dicirikan oleh tiga tipe gerak internal: gerak longitudinal,
gerak rotasi atau berpilin, dan gerak transversal. Model DNA tingkat kedua
memasukkan perhitungan bahwa molekul DNA terdiri dari dua rantai polinukleotida,
dapat dimodelkan dengan dua batang elastis yang berinteraksi lemah di antara mereka
serta tergulung ke dalam spiral ganda. Analogi diskrit dari model demikian mewakili
dua rantai dari cakram yang terkait oleh pegas longitudinal dan transversal serta
kekakuan pegas longitudinal yang jauh lebih kuat ketimbang pegas transversal.8
Model DNA tingkat ketiga memperhitungkan tiap-tiap rantai terdiri dari tiga
subunit: gula, fosfat dan basa. Model DNA tingkat keempat diwakili oleh model kisi
DNA dan mendeskripsikan gerak atom yang menyusun sel kisi. Solusi tipe model
DNA tingkat keempat ini dapat diselesaikan dengan aproksimasi (harmonik) linier.
Model DNA tingkat kelima mensimulasi struktur dan gerak DNA dengan akurasi
maksimum dalam model dinamika molekuler. Untuk mendeskripsikan gerak internal
DNA, digunakan model aproksimasi berbeda. Model yang paling sederhana dari
DNA, katakanlah, model batang elastis dan versi diskritnya. Untuk mendeskripsikan
dinamika internal dari batang elastis, cukup dengan menuliskan tiga pasang
persamaan diferensial: satu persamaan untuk gerak longitudinal, satu persamaan
untuk gerak puntiran (torsional) dan satu persamaan untuk gerak transversal. Untuk
mendeskripsikan versi diskrit diperlukan 3N persamaan. 7
Model yang lebih kompleks, dengan meninjau molekul DNA yang terdiri dari
dua rantai polinukleotida. Model pertama terdiri dari dua batang elastis yang secara
lemah berinteraksi dan melilit satu sama lain untuk menghasilkan heliks ganda. Model
kedua adalah versi diskritnya. Untuk mendeskripsikan model yang terdiri dari dua
batang elastis yang berinteraksi lemah (dengan mengabaikan helisitas struktur DNA),
diperlukan enam persamaan diferensial tergandeng: dua persamaan untuk gerak
longitudinal, dua persamaan untuk gerak torsional dan dua persamaan untuk gerak
transversal dalam kedua batang. Deskripsi model untuk versi diskritnya terdiri dari 6N
persamaan tergandeng model berikutnya dengan memasukkan dalam perhitungan
bahwa masing-masing rantai polinukleotida terdiri dari tiga tipe grup atom (basa, gula
dan fosfat). Dalam model-model DNA tersebut di atas, grup berbeda ditunjukkan

9
dengan bentuk geometri yang berbeda, dan untuk penyederhanaan helisitas struktur
DNA diabaikan. Pembentukan keadaan terbuka DNA dihubungkan dengan deviasi
sudut basa dari keadaan kesetimbangan. Proses ini dideskripsikan dengan
menggunakan formalisme Hamiltonian. 7
Dalam skema penguraian DNA, dua rantai gula-fosfat digambarkan oleh dua
garis panjang, sementara basa ditandai dengan banyak garis pendek. Kusutan (kink)
berhubungan dengan daerah lokal dengan pasangan basa yang terbuka. Solusi tipe
kink mendeskripsikan deformasi lokal (pembukaan pasangan-pasangan basa)
bergerak sepanjang molekul DNA. 7
- Replikasi
Replikasi : proses perbanyakan bahan genetik (genom : DNA dan RNA), Proses yg
mengawali pertumbuhan sel. Replikasi akan diikuti oleh pembentukan sel-sel anakan
yg membawa duplikat bhn genetik hasil replikasi. Komposisi bahan genetik sel
anakan sangat identik dengan komposisi genetik sel induk. Fungsi replikasi ini
merupakan fungsi genotipik. Kesalahan dalam replikasi bahan genetik dapat
mengakibatkan perubahan pada sifat sel-sel anakan. Perbedaan struktural molekul
bahan genetik (DNA) menyebabkan perbedaan mekanisme replikasi pada prokariot
dan eukariot, replikasi pada prokariot dimulai dari satu situs awal replikasi (ORI) dan
berlangsung ke dua arah menuju daerah terminasi Replikasi pada eukariot dimulai
dari banyak ORI, bergerak ke dua arah:

Gambar 3. Replikasi DNA


Sumber : http://www.forumsains.com/biologi/bagaimana-dna-mengatur-sifat/

10
Ada 3 hipotesis mengenai replikasi DNA yaitu:
1. Hipotesis semikonservatif : setiap molekul untai ganda DNA anakan terdiri atas
satu untai-tunggal DNA induk dan satu untai tunggal DNA hasil sintesis baru.
2. Konservatif : DNA untai ganda induk tetap bergabung sedangkan kedua untaian
DNA anakan terdiri atas molekul hasil sintesis baru.
3. Dispersif : molekul DNA induk mengalami fragmentasi sehingga DNA anakan
terdiri atas campuran molekul lama (induk) dan molekul hasil sintesis baru.8,9

Gambar 4. Semikonservatif, Konservatif, Dispersif


Sumber : http://dc383.4shared.com/doc/xpuHcay6/preview.html

Diantara ketiga cara replikasi DNA yang diusulkan tersebut, hanya cara
semikonservatif yang dapat dibuktikan kebenarannya melalui percobaan yang dikenal
dengan nama sentrifugasi seimbang dalam tingkat kerapatan atau equilibrium density-
gradient centrifugation. model replikasi semikonservatif memberikan gambaran
bahwa untaian DNA induk berperan sbg cetakan (template) bagi pembentukan untaian
DNA baru . Dengan demikian, salah satu bagian yg sangat penting dlm proses
replikasi DNA adalah denaturasi awal untaian DNA yg mrpk proses
enzimatis. Denaturasi awal terjadi pd bagian DNA yg disebut ORI. Untaian DNA
membuka membentuk struktur yg disebut garpu replikasi (replication fork). Garpu
replikasi akan bergerak sehingga molekul DNA induk membuka secara bertahap
. Masing-masing untaian DNA yang sudah terpisah, berfungsi sebagai cetakan untuk
penempelan nukleotida-nukleotida yg akan menyusun molekul DNA baru. Sekuens
basa nitrogen DNA baru sesuai dengan sekuens basa cetakan DNA komplementernya.

11
Replikasi DNA berlangsung dlm tahapan : 1) denaturasi (pemisahan) untaian
DNA induk; 2). peng”awal”an (inisiasi) sintesis DNA; 3). Pemanjangan untaian
DNA; 4). Ligasi fragmen DNA; 5) peng”akhir”an (terminasi) sintesis DNA.8,9
Sintesis untaian DNA yg baru akan dimulai segera setelah ke dua untaian
DNA induk terpisah membentuk garpu replikasi.
Pemisahan dilakukan oleh enzim DNA helikase.
 Kedua untaian DNA induk menjadi cetakan dlm orientasi 5’-P ke arah 3’-OH
 Jadi, ada dua untaian DNA cetakan yg orientasinya berlawanan
 Garpu replikasi akan membuka secara bertahap
 Sintesis untaian DNA baru yang searah dg pembukaan garpu replikasi akan
dpt dilakukan dilakukan tanpa terputus (kontinyu) : untaian DNA awal
(leading strand)
 Sebaliknya, tahap demi tahap (diskontinyu) : untaian DNA lambat (lagging
strand)
 Mekanisme replikasi DNA berlangsung secara semidiskontinyu karena ada
perbedaan mekanisme dlm proses sintesis kedua untaian DNA
 Fragmen-fragmen DNA hasil replikasi diskontinyu (fragmen Okazaki) akan
disambung (ligasi) dengan enzim DNA ligase
Polimerisasi DNA hanya dpt dimulai jika tersedia molekul primer : molekul
yg digunakan untuk mengawali proses polimerisasi untai DNA
 Primer : molekul DNA, RNA atau protein spesifik
 Pada transkripsi : tidak diperlukan primer.
 Dlm replikasi DNA in vivo, primer berupa molekul RNA berukuran 10-12
nukleotida
 In vitro, misal pada Polymerase Chain Reaction (PCR) : diperlukan DNA
sebagai molekul primer
 Fungsi primer : menyediakan ujung 3’-OH yg akan digunakan untuk
menempelkan molekul DNA pertama dlm proses polimerisasi
 Sintesis RNA primer dilakukan oleh kompleks protein yg disebut primosom
(primase+bbrp protein lain)
 Diperlukan lebih dari 1 primer untuk proses sintesis pada untaian DNA lambat
(lagging strand)
 Pada prokariot, polimerisasi dikatalisis DNA polimerase III

12
 Dissosiasi enzim ini dari DNA cetakan terjadi saat bertemu dengan ujung 5’-P
RNA primer yang menempel pada bagian lain RNA primer pd fragmen
Okazaki, didegradasi oleh aktivitas eksonuklease yg ada pada enzim DNA
polimerase I.

Gambar 5. DNA Polimerase


(Sumber : http://biologigonz.blogspot.com/2009/11/sintesa-protein-2.html)

Bagian RNA yg terdegradasi, diisi oleh molekul DNA, meskipun antar


fragmen masih ada celah (takik = nick) Celah terbentuk karena belum ada ikatan
fosfodiester antara ujung 3’-OH pd nukleotida terakhir yg disintesis oleh DNA
polimerase I dengan ujung 5’-P fragmen DNA yg ada didekatnya . Takik ini akan
disambung oleh DNA ligase dengan menggunakan NAD atau ATP sebagai sumber
energi pada untai DNA awal (leading strand) : hanya diperlukan satu molekul primer
pd titik awal replikasi .Untaian DNA baru disintesis dengan aktivitas DNA polimerase
III secara terus-menerus. Replikasi dapat berlangsung ke dua arah yg berlawanan :
replikasi dua arah (bidirectional replication). Replikasi 2 arah terjadi pada prokariot
maupun eukariot, replikasi pada plasmid colE1 : satu arah . Proses pemisahan untaian
DNA dilakukan oleh enzim DNA helicase. Selain helikase, enzim lain yg berperan
dlm pemisahan untaian DNA adalah enzim DNA girase.8,9
DNA girase adalah salah satu enzim topoisomerase : suatu enzim yg dpt
mengubah topologi molekul DNA yakni dengan memutus ikatan hydrogen. Protein
SSb menjaga agar bagian DNA yg sudah terpisah tidak berikatan lagi sehingga dpt
digunakan sebagai cetakan . Protein ini mempunyai sifat kooperatif, artinya

13
pengikatan satu molekul protein pd untai tunggal DNA akan meningkatkan kekuatan
ikat (affinity) molekul yg lain beberapa ribu kali.8,9
- Transkripsi
Transkripsi merupakan proses penyalinan kode-kode genetik yang ada pada urutan
DNA menjadi molekul RNA. Merupakan proses yan mengawali ekspresi sifat-sifat
genetik yang nantinya muncul sebagai fenotip. RNA: selalu “single stranded” . Pada
proses transkripsi hanya 1 untai DNA yang disalin DNA- RNA. Sintesis RNA : 5’-3’.

Gambar 6. Transkripsi DNA


(Sumber: http://oblktirupifabiounsoed.wordpress.com/2009/03/29/gambaran-umum-materi-
olimpiade-biologi/c7177btranscription/)

- Inisiasi Transkripsi
Pembentukan kompleks promoter tertutup. Pembentukan kompleks promoter
terbuka. Penggabungan beberapa nukleotida awal (sekitar 10 nukeotida). Perubahan
konformasi RNA polimerase karena subunit/faktor σ dilepaskan dari kompleks
holoenzim. Mekanisme transkripsi pada eukariot pada dasarnya menyerupai
mekanisme pada prokariot, proses transkripsi diawali (diinisiasi) oleh proses
penempelan faktor-faktor transkripsi dan kompleks enzim RNA polimerase pd daerah
promoter, berbeda dengan prokariot, RNA polimerase eukariot tidak menempel secara
langsung pada DNA di daerah promoter, melainkan melalui perantaraan protein-
protein lain, yg disebut faktor transkripsi (transcription factor = TF) . TF dibedakan 2,

14
yaitu : 1) TF umum dan 2) TF yg khusus untuk suatu gen n TF umum dlm
mengarahkan RNA polimerase II ke promoter adalah TFIIA, TFIIB, TFIID, TFIIE,
TFIIF, TFIIH, TFIIJ.
- Produk Transkripsi
mRNA (messenger RNA) : salinan kode genetik pada DNA’ yang pada proses
translasi akan diterjemahkan menjadi urutan asam amino yang menyusun suatu
polipeptida atau protein tertentu. tRNA (transfer RNA) : berperanan membawa asam
amino spesifik yang akan digabung pada proses translasi (sintesis protein). rRNA
(ribosomal RNA) : digunakan untuk menyusun ribosom sebagai tempat sintesis
protein .
- Faktor transkripsi
 Diperlukan untuk sintesis semua mRNA
 Mengenali urutan promoter basal spesifik
 Menentukan situs inisiasi transkripsi
 Menginstruksikan RNA polimerase II ke tempat tersebut
 Bersama-sama dengan RNA polimerase dan promoter basal membentuk
Kompleks inisiasi Transkripsi
Pada prokariot, proses transkripsi dan translasi berlangsung hampir secara
serentak, artinya sebelum transkripsi selesai dilakukan, translasi sudah dpt dimulai.
Pada eukariot, transkripsi berlangsung di dlm nukleus , sedangkan translasi
berlangsung di dlm sitoplasma (ribosom) Dengan demikian, ada jeda waktu antara
transkripsi dengan translasi, yg disebut sebagai fase pasca-transkripsi .Pada fase ini,
terjadi proses : 1). Pemotongan dan penyambungan RNA (RNA-splicing); 2).
Poliadenilasi (penambahan gugus poli-A pada ujung 3’mRNA); 3). Penambahan
tudung (cap) pada ujung 5’ mRNA dan 4). Penyuntingan mRNA . 8,9
- Translasi
Translasi adalah proses penerjemahan kode genetik oleh tRNA ke dalam
urutan asam amino. Translasi menjadi tiga tahap (sama seperti pada transkripsi) yaitu
inisiasi, elongasi, dan terminasi. Semua tahapan ini memerlukan faktor-faktor protein
yang membantu mRNA, tRNA, dan ribosom selama proses translasi. Inisiasi dan
elongasi rantai polipeptida juga membutuhkan sejumlah energi. Energi ini disediakan
oleh GTP (guanosin triphosphat), suatu molekul yang mirip dengan ATP.

15
Gambar 7. Langkah-langkahTranslasi
(Sumber : http://biology.unm.edu/ccouncil/Biology_124/Summaries/T&T.html)

- Inisiasi
Tahap inisiasi terjadi karena adanya tiga komponen yaitu mRNA, sebuah
tRNA yang memuat asam amino pertama dari polipeptida, dan dua sub unit ribosom.
mRNA yang keluar dari nukleus menuju sitoplasma didatangi oleh ribosom,
kemudian mRNA masuk ke dalam “celah” ribosom. Ketika mRNA masuk ke
ribosom, ribosom “membaca” kodon yang masuk. Pembacaan dilakukan untuk setiap
3 urutan basa hingga selesai seluruhnya. Sebagai catatan ribosom yang datang untuk
mebaca kodon biasanya tidak hanya satu, melainkan beberapa ribosom yang dikenal
sebagai polisom membentuk rangkaian mirip tusuk satu, di mana tusuknya adalah
“mRNA” dan daging adalah “ribosomnya”. Dengan demikian, proses pembacaan
kodon dapat berlangsung secara berurutan. Ketika kodon I terbaca ribosom (misal
kodonnya AUG), tRNA yang membawa antikodon UAC dan asam amino metionin
datang. tRNA masuk ke celah ribosom. 8,9
Ribosom di sini berfungsi untuk memudahkan perlekatan yang spesifik antara
antikodon tRNA dengan kodon mRNA selama sintesis protein. Sub unit ribosom
dibangun oleh protein-protein dan molekul-molekul RNA ribosomal. 8,9

16
- Elongasi
Pada tahap elongasi dari translasi, asam amino-asam amino ditambahkan satu per satu
pada asam amino pertama (metionin). Ribosom terus bergeser agar mRNA lebih
masuk, guna membaca kodon II. Misalnya kodon II UCA, yang segera diterjemahkan
oleh tRNA berarti kodon AGU sambil membawa asam amino serine. Di dalam
ribosom, metionin yang pertama kali masuk dirangkaikan dengan serine membentuk
dipeptida. Ribosom terus bergeser, membaca kodon III. Misalkan kodon III GAG,
segera diterjemahkan oleh antikodon CUC sambil membawa asam amino glisin.
tRNA tersebut masuk ke ribosom. Asam amino glisin dirangkaikan dengan dipeptida
yang telah terbentuk sehingga membentuk tripeptida. Demikian seterusnya proses
pembacaan kode genetika itu berlangsung di dalam ribobom, yang diterjemahkan ke
dalam bentuk asam amino guna dirangkai menjadi polipeptida. 8,9
Kodon mRNA pada ribosom membentuk ikatan hidrogen dengan antikodon
molekul tRNA yang baru masuk yang membawa asam amino yang tepat. Molekul
mRNA yang telah melepaskan asam amino akan kembali ke sitoplasma untuk
mengulangi kembali pengangkutan asam amino. Molekul rRNA dari sub unit ribosom
besar berfungsi sebagai enzim, yaitu mengkatalisis pembentukan ikatan peptida yang
menggabungkan polipeptida yang memanjang ke asam amino yang baru tiba. 8,9

- Terminasi
Tahap akhir translasi adalah terminasi. Elongasi berlanjut hingga kodon stop
mencapai ribosom. Triplet basa kodon stop adalah UAA, UAG, dan UGA. Kodon
stop tidak mengkode suatu asam amino melainkan bertindak sinyal untuk
menghentikan translasi. Polipeptida yang dibentuk kemudian “diproses” menjadi
protein. 8,9

Kesimpulan
Seseorang yang sensitif akan alkohol sehingga membuat wajahnya memerah dan
terasa panas itu disebabkan karena kurangnya enzim aldehyde dehydrogenase yang
merupakan enzim yang bekerja untuk memetabolismekan alkohol. Defisiensi ALDH tersebut
menyebabkan asetil-dehide menumpuk, itulah sebabnya seseorang menjadi sensitif akan
alkohol, selain itu gen aldehyde dehydrogenase yang membentuk enzim ini banyak terdapat

17
pada ras tertentu karena merupakan suatu keturunan yang memiliki gen itu. akan tetapi,
dengan kebiasaan minum alkohol orang tersebut, ketika hati mengenali bahwa enzim dalam
jumlah besar diperlukan, tubuh akan menyesuaikan diri dan memusatkan enzim-enzimnya
untuk metabolisme alkohol.

Daftar Pustaka
1. Tjay TH, Raharja K. Obat-obat penting. Jakarta: Media Komputindo; 2007. h. 368-9

2. Shinya H. The miracle of enzyme. Jakarta: Mizan publika; 2008. h. 84-6

3. Wanandi SI. Distribution of genetic polymorphism of aldehyde dehydrogenase-2


(ALDH2) in Indonesian subjects. Medical journal of Indonesia 2002;11(Pt 3):135-42

4. Elrod S. Schaum’s genetika. Jakarta: Erlangga; 2008. h. 26-8

5. Wanandi SI. Distribution of genetic polymorphism of aldehyde dehydrogenase-2


(ALDH2) in Indonesian subjects. 2002 July – September:11(3)

6. Suaniti NM, Djelantik GS, Suastika IK, Astawa INM. Aldehid dehidrogenase dalam tikus
wistar sebagai biomarker awal konsumsi alcohol secara akurat. Diunduh dari:
ojs.unud.ac.id/index.php/BIO/article/download/599/419 , 23 Januari 2013

7. Watson RR, Preedy VR. Alcohol, nutrition and health consequences. New York:
Springer. 2012. p. 442

8. Chang M. Kimia dasar. Ed 3. Jakarta: Erlangga; 2005. h. 350-2

9. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia kedokteran dasar. Jakarta : EGC. 2000.

18