Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRATIKUM

Dexamtehason Guttae Opthalmic

Disusun Oleh :

Nama : Isabella Ramdha Y.P.M

NIM : 33178K17022

Semester 3 Tingkat II

STIKES MUHAMMADIYAH KUNINGAN


Jl. Pangeran Adipati No D4 Rt.09 rw.03 Blok Cisumur

Kelurahan Cipari-Cigugur

Kuningan
DEXSAMETHASON GUTTAE OPTHALMIC

I. Tujuan Pratikum
Mahasiswa diharapkan mampu melakukan kajian preformulasi sediaan teteh mata
Deksamethason, mampu melakukan evaluasi sediaan serta mengetahui cara pembuatan
tetes mata Deksamethason.

II. Dasar Teori

Sediaan obat mata adalah sediaan steril berupa salep, larutan atau uspensi,
digunakan pada mata dengan meneteskan, mengoleskan pada selaput lendir mata
disekitar kelopak mata dan bola mata.

Obat mata ini pada dasar nya terbagi menjadi tiga macam :

1. Obat cuci mata (Collyria)


2. Obat tetes mata (Guttae Opthalmicae)
3. Salep mata
(Anief, 1999)

Tetes mata merupakan sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi,
digunakan untuk mata, dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir disekitar
kelopak mata atau bola mata. (Farmakope Indonesia Edisi III). Larutan obat adalah
larutan steril, bebas partikel asing, merupakan sediaan yang dibuat dan dikemas
sedemikian rupa sehingga sesuai digunakan pada mata (Farmakope Indonesia Edisi
IV,1995)

Tetes mata yaitu obat tetes steril yang umumnya bersifat isotonis dan isohidrik
dimana digunakan dengan meneteskan kedalam lekuk mata atau ke permukaan selaput
bening mata, umunya mengandung pengawet yang cocok. Suspensi obat mata adalah
sediaan cair steril yang mengandung partikel-partikel yang terdispersi dalam cairan
pembawa untuk pemakaian pada mata seperti yang tertera pada suspension. Obat
dalam suspensi harus dalam bentuk termikronisasi agar tidak menimbulkan iritasi atau
goresan pada kornea. Suspensi obat mata tidak boleh digunakan apabila tejadi massa
yang mengeras atau menggumpal.

Syarat-syarat yang dikehendaki pada tetes mata antara lain :

1. Steril
2. Bersifat isotonis dan isohidris
3. Stabil secara kimia dan mempunyai aktivitas terapi yang optimal.
Pada dasar nya sebagai obat mata biasanya dipakai :
1. Bahan-bahan yang bersifat antiseprik (dapat memusnahkan kuman-kuman pada
selaput lendir mata), misalnya asam borat, protagrol, kloramfenikol, basitrasina
dan sebagainya.
2. Bahan-bahan yang bersifat menciutkan seput lendir pada mata (Adstringen
misalnya seng sulfat)

Untuk pembuatan obat mata ini perlu diperhatikan mengenai


kebersihannya, pH yang stabil, dan mempunyai tekanan osmose yang sama dengan
tekanan osmose darah. Pada pembuatan obat cuci mata tak perlu disterilkan,
sedangkan pada obat tetes mata harus disterilkan. (Anief, 1999)

Pada pembuatan obat mata perlu diperhatikan hal khusus sebagai berikut :

1. Toksisitas bahan obat


2. Tonisitas
3. Kebutuhan akan dapar
4. Sterilisasi
5. Kemasan yang tepat (Lund,1994)

Obat tetes mata yang digunakan harus diserap masuk kedalam mata untuk
dapat memberi efek. Larutan obat tetes mata segera campur dengan cairan lakrimal
dan meluas di permukaan kornea dan konjungtiva dan obatnya harus masuk melalui
kornea menembus mata. (Anief, 2000)

Air ata normal memiliki pH kurang lebih 7,4 dan mempunyai kapasitas
dapar tertentu. Penggunaan obat mata merangsang pengeluaran air mata dan
penetralan cepat setiap perubahan pH tertentu. Secara ideal larutan obat
mempunyai pH dan isotonistas yang sama dengan air mata. Hal ini tidak selalu dapat
dilakukan, karena pada pH >7,4 banyak obat yang tidak cukup larut dalam air. Selain
itu banyak obat yang secara khemis tidak stabil pada pH mendekati 7,4.
Ketidakstabilan ini lebih nyata pada suhu tinggi yaitu pada saat sterilisasi dengan
pemanasan. Oleh karena itu pada system dapar harus dipilih sedekat mungkin
dengan pH fisiologis yaitu 7,4 dan tidak menyebabkan pengendapan obat ataupun
mempercepat kerusakan obat (Lund, 1994)

Larutan Obat mata dapat dikemas dalam wadah takaran ganda bila
digunakan secara perorangan pada pasien dan bila tidak terdapat kerusakan pada
permukaan mata. Wadah larutan obat mata harus tertutup rapat dan disegel untuk
menjamin sterilisasi pada pemakaian pertama. Sedangkan untuk penggunaan
pembedahan, disamping steril, larutan obat mata tidak boleh mengandung
antibakteri karena dapat mengiritasi jaringa mata. (Farmakope Indonesia IV, 1995)
Keuntungan dan kerugian tetes mata:

A. Keuntungan tetes mata


Tidak mengganggu penglihatan ketika digunakan dan menggambarkan larutan
suatu mata dengan definisi semua bahan-bahan lengkap dalam larutan
keseragaman tidak menjadi masalah hanya sedikit pengaruh sifat fisika dengan
tujuan ini (Remington,Joseph P. 2005)
Larutan mata yang viskositasnya bertambah akan tinggi dalam mata untuk
periode waktu yang lebih lama sehingga meningkatkan biovabilitas obat (Ansel,
Howard C,2011)
B. Kerugian tetes mata
Kerugian yang prinsip nya dari larutan mata relatif singkat antara obat dan
permukaan yang terabsorbsi serta hanya dapat bekerja pada bagian karena iris
dan konjungtiva (Remington,Joseph P. 2005)
Diberikan pada volume yang kecil maupun kapasitas mata menahan dan
menyimpan terbatas (Ansel, Howard C,2011)

Dexametason merupakan golongan kortikosteroid pada penyakit mata,


kortikosteroid dapat mengatasi inflamasi mata bagian luar maupun pada segmen
arterior. Obat Dexamethason dapat diberikan pada kantung konjuctiva yang akan
mencapai kadar terapi dalam cairan mata sedangkan golongan ganggungan ada
pada bagian mata. Postenor lebih baik diberikan sistemik. Umumnya dipakai larutan
Dexamethasob Fosfat 0,1% pagi dan siang (Gunawan, Sulista Gan.2012)

Dexamethason zat ini menekan adrenal relative kuat mata resiko


insupisiensi juga agak besar. Dexamethason sering digunakan sebagai zat diagnostic
untuk menentukan hiper fungsi adrenal (teruspersi Dexamethason). Secara topikal
digunakan sebagai tetes mata atau tetes telinga. (Tjay, Tan Hoan. 2007)
III. Alat dan Bahan
A. Alat
1. Batang Pengaduk
2. Beaker Glass
3. Gelas ukur 100 ml
4. Gelas ukur 10 ml
5. Erlenmeyer
6. Kaca arloji
7. Botol Tetes mata
8. Syringe
9. Timbangan analitik
10. Spatel
B. Bahan
1. Dexamethason
2. Benzalkonium Klorida
3. Metil Selulosa
4. Natrium Fosfat
5. Natrium Hidrogen Fosfat
6. Natrium Klorida
7. Aqua Pro Injeksi
IV. Proses Pengerjaan

No. Batch : CG 180316E3 Tanggal : 28 November 2018


Disusun Oleh : Disetujui Oleh : Herliningsih S.Farm.,Apt
Isabella Ramdha Y.P.M Manager Produksi :
PT. STIKES Muhammadiyah Kuningan
Kode Nama Volume Bentuk Kemasan Waktu
Produksi Produksi Produksi Pengolahan
A-3 Dexosa 10 ml Larutan Tetes mata 08.30-10.10

A. Formulasi Dasar
Dexamtehason Tetes Mata

B. Spesifikasi
a. Bahan Berkhasiat : Dexamethason (FI Edisi III Halaman 195)
Pemerian : Hablur atau serbuk hablur, putih atau hampir putih, tidak berbau, rasa
agak pahit.
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam 45 bagian etanol (95%) P dan
dalam 165 bagian Kloroform P
Ph : 7,4 – 9 (FI Edisi III Halaman 13)
b. Pengawet : Methyl Selulosa (FI Edisi IV Halaman 544)
Pemerian : Serbuk berserat atau granul, berwarna putih =, suspensi dalam air
bereaksi netral terhadap lakmus P. Mengembang dalam air dan membentuk
suspensi yang jernih hingga opalesen, kental dan koloid.
Kelarutan : tidak larut dalam etanol, eter dan kloroform. Larut dalam asam asetat,
glasial dan campuran volume sama etanol dan cloroform.
c. Pengisotonis : Natrium Klorida (FI Edisi III Halaman 403)
Pemerian : Hablur heksanedral tidak berwarna atau serbuk hablur putih, tidak
berbau dan rasa asin.
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih dan dalam
lebih kurang 10 bagian gliserol P, sukar larut dalam etanol.
Kestabilan : Stabil tetapi dapat menyebabkan pemisahan partikel kaca dari jenis
tertentu.
d. Viskositas : Benzalkonium Klorida (Excipient Halaman 59, RPS Halaman 1626,
Martindal Halaman 1629)
Pemerian : Serbuk almont, kekuningan, gel tebal atau lempengan gelatin,
higroskopis, seperti sabun.
Kelarutan : Sangat larut dalam air, alkali, aseton. Praktis tidak larut dalam eter,
larutnya berbusa jika dikocok.
Kestabilan : Higroskopis dan dapat dipengaruhi oleh cahaya, udara dan logam. Solusi
yang stabil selama pH dan temperatur yang luas jangkauan dapat disimpan untuk
waktu yang lama.
e. Pendapar
 Natrium Fosfat ( Excipient Halama 659, RPS Halaman 821, Martindal Hal.1682)
Pemerian : tidak berbau atau putih, anhidratnya berupa serbuk kristal atau
granul putih.
Kelarutan : 1 dalam 1 bagian air, praktis tidak larut dalam alkohol,
kloroform, eter
Kestabilan : Pengolahan kimia stabil, meskipun sedikit deliquescent
 Natrium Hidrogen Fosfat ( Excipient hal. 656, RPS hal.1307, Martindal Hal.1682)
Pemerian : Kristal putih, tidak berwarna larutannya alkali, tidak berbau,
efferesensi kristal transparan.
Kelarutan : 1 gram dalam 4 ml air, 1 gram dalam 5 ml air, praktis tidak larut
dalam alkohol
Kestabilan : Bentuk anhidrat dari basa Natrium Fosfat adalaj Higroskopis

C. Dosis
Dosis Maksimum : -
Dosis Lazim : Oral ; sehari 0,5 mg – 2 mg

D. Daftar Obat
Obat Keras, Sediaan Tetes Mata

E. Sediaan Obat
Pemerian : Larutan
Stabilitas Obat :
 OTT : Dexamethason tidak tercampurkan atau tidak dapat menyatu dengan 1 ml
Prochloperazine edisylate atau Vancomycin Hidroklorida. Materi partikular diamati
asam : Pengendapan segera terjadi pada suhu kamar. Dalam larutan :tions
mengandung volema yang sama dari dexamethason Sodium Phosfat 10mg/ml, patel
melaporkan tidak cocokan asam serupa dengan Maleat Prochloperazine (The
Pharmacetical Codex Hal. 824)
 pH : 7,4 – 9
 Antioksidan : Air bebas O2 dan CO2
Terlindung dari cahaya
Wadah berwarna
 Pengawet : Methyl Selulosa

F. Perhitungan Tonisitas
 Perhitungan
Dexamethason = 0,1% x 10 ml
= 0,01 gram
Benzalkonium Klorida = 0,01% x 10 ml
= 0,001 gram
Metil Selulosa = 0,5% x 10 ml
= 0,05 gram
Natrium Fosfat = 0,56% x 10 ml
= 0,056 gram
Natrium Hirogen Fosfat = 0,284% x 10 ml
= 0,0284 gram
Natrium Klorida = 0,891% x 10 ml
= 0,0891 gram
TOTAL = 0,49 gram
Aqua Pro Injeksi ad = 10 ml
= 10 ml – 0,49
= 9,51 ml
 Perhitungan Sediaan
Dexamethason = 0,01 gram x 2 boto
= 0,02 gram
Benzalkonium Klorida = 0,001 gram x 2 boto
= 0,002 gram
Metil Selulosa = 0,05 x 2 boto
= 0,10 gram
Natrium Fosfat = 0,0,56 x 2 boto
= 0,112 gram
Natrium Hirogen Fosfat = 0,0284 x 2 boto
= 0,0568 gram
Natrium Klorida = 0,0891 x 2 boto
= 0,1782 gram
TOTAL = 0,469 gram
Aqua Pro Injeksi ad = 10 ml
= 10 ml – 0,469
= 9,5 ml

NO. ZAT ∆𝒕𝒇 Konsentrasi ∆𝒕𝒇 𝒙 𝑲𝒐𝒏𝒔𝒆𝒏𝒕𝒓𝒂𝒔𝒊 𝒁𝒂𝒕


Zat
1 Dexamethason 0,17 0,1 0,017
2 Benzalkonium Klorida 0,09 0,01 0,0009
3 Metil Selulosa - - -
4 Natrium Fosfat 0,31 0,56 0,1736
5 Natrium Hirogen 0,24 0,128 0,030
Fosfat
6 Natrium Klorida 0,58 0,891 0,516
TOTAL 0,7375
∆𝑡𝑓 Isotonis NACL 0,9% 0,52
Karena 0,7375 > 0,52 maka sediaan tetes mata ini HIPERTONIS
G. Sterilisasi

Nama Alat Cara Sterilisasi Paraf


Praktikan Pengawas
Erlenmeyer Oven 170℃ selama 30 menit
Beaker Glass Oven 170℃ selama 30 menit
Kaca arloji/ Cawan penguap Oven 170℃ selama 30 menit
Batang pengaduk Oven 170℃ selama 30 menit
Spatel Logam Oven 170℃ selama 30 menit
Gelas Ukur 100 ml/10 ml Oven 170℃ selama 30 menit
Kertas Saring Oven 170℃ selama 30 menit
Corong gelas Oven 170℃ selama 30 menit
Botol tetes plastik Dikocok atau direndam etanol 95%

H. Formula Lengkap
Tiap 10 ml mengandung :
Dexamethason 0,1%
Benzalkonium Klorida 0,01%
Metil Selulosa 0,5%
Natrium Fosfat 0,56%
Natrium Hidrogen Fosfat 0,284%
Natrium Klorida 0,891%
Aqua Pro Injeksi ad 10 ml

I. Penimbangan

Bahan Satuan Satuan Satuam Produk Paraf


Dasar Produksi 10 botol Praktikan Pengawas
10 ml 2 botol
tetes mata
Dexamethason 0,1 0,02 0,1
Benzalkonium Klorida 0,01 0,002 0,01
Metil Selulosa 0,05 0,10 0,5
Natrium Fosfat 0,056 0,112 0,56
Natrium Hidrogen Fosfat 0,0284 0,0568 0,284
Natrium Klorida 0,0891 0,1782 0,891
Aqua Pro Injeksi 10 ml 20 ml 100
J. Proses Pengolahan
NO Ruang Proses Pengolahan Paraf
Kelas Praktikan Pengawas
1 C Sterilisasi alat dan bahan
2 C Timbang masing-masing bahan yang dibutuhkan dan
buatlah API
3 C Waktu pemanasan dihitung selama 30 menit (Waktu
dimulai setelah air mendidih). Setelah itu panaskan lagi
selama 10 menit agar diperoleh API bebas O2
4 C Beaker Glass diklaribrasi 25 ml botol plastik berpipet
diklaribrasi 10 ml
5 C Natrium Fosfat dilarutkan dengan API secukupnya
dalam beaker glass (Massa 1)
6 C Natrium Hidrogen Fosfat dilarutkan dengan API, lalu
masukan kedalam massa 1
7 C Metil Selulosa larutkan dalam API, lalu masukan
kedalam massa 1
8 C Benzalkonium Klorida dilarutkan dengan API lalu
dimasukan kedalam massa 1
9 C Bahan aktif Dexamethasone dilarutkan dengan API
secukupnya sampai larut (Massa 2)
10 C Campurkan massa 1 + massa 2 aduk sampai larut
11 C Cek pH (7,4-9)
12 C Larutan tersebut disaring menggunakan kertas saring
13 B Sediaan tetes mata yang telah steril sebanyak 10 ml
dimasukan kedalam botol yang steril
14 B Sediaan obat jadi diberi etiket dengan brosur
K. Kemasan

L. Etiket

M. Label
N. Brosur

O. Evaluasi

NO Jenis Evaluasi Penilaian


1 Pemeriksaan sterilisasi √
2 Penampilan fisik √
3 Jumlah sediaan √
4 Kejernihan √
5 Keseragaman volume √
6 Larutan √
7 Kemasan √
8 Etiket √
9 Uji kebocoran √
10 Pemeriksaan pirogen √
11 Uji pH √
12 Label √
V. Pembahasan

Uji evaluasi yang dilakukan pada sediaan jadi yang pertama diuji yaitu uji
keseragaman volume. Dimana pengujian ini bertujuan untuk melihat dan mengecek
berapa volume yang ada di dalam kemasan botol tetes mata tersebut. Apakah volume
sediaan tetes mata yang telah jadi itu volumenya sesuai dengan yang diinginkan yaitu 10
ml per botol tetes mata atau tidak. Hasil pengujian keseragaman volume ini lolos
pengujian karena pada saat cairan tetes mata yang ada di botol tetes dipindahkan
kedalam gelas ukur berukuran 10 ml, garis cekung yang ada di gelas ukur tersebut pas
pada garis 10 ml yang menandakan bahwa volume yang ada didalam botol tetes mata
itu sesuai dengan yang diminta yaitu 10 ml per botol tetes mata. Cara yang dapat
dilakukan agar sediaan dalam botol ber volume tepat 10 ml adalah pada saat
pemindahan cairan kedalam botol, harus dengan teliti melihat garis yang ada di syringe
tersebut dan untuk yang memindahkan larutan tersebut disarankan hanya satu orang
saja agar semua volume sediaan sama. Karena jika pengambilan cairan yang akan
dipindahkan ke botol selalu berganti terus maka pasti volume nya tidak akan sama,
karena setiap takaran setiap orang pasti berbeda-beda.
Uji selanjutnya yaitu uji pH, pengujian ini dilakukan dengan cara mencelupkan
indikator universal kedalam cairan tetes mata yang telah jadi, lalu kemudian hasil dari
indikator universal itu akan mengalami perubahan warna. Lalu perubahan warna pada
indikator universal tersebut dicocokan dengan tabel warna yang ada di kotak wadah
indikator universal tersebut. Uji Ph ini dilakukan untuk mengecek apakah sediaan tetes
mata yang dibuat pH nya sesuai dengan yang ada di literatur apakah tidak. harga pH
yang diharapkan kelompok saya adalah 7,4-9, lalu hasil dari pengujian pH ini kelompok
saya mendapatkan hasil bahwa pH Dexamethason tetes mata adalah 7. Jadi untuk
pengujian pH ini lolos tahap evaluasi karena pH yang didapat sama dengan yang ada di
literatur.
Uji selanjutnya yaitu uji kejernihan pada cairan tetes mata. Uji kejernihan ini
dimaksudkan agar tidak ada nya sediaan yang masih menggumpal atau tidak larut yang
terbawa kedalam sediaan tetes mata yang telah jadi ini. Agar tahap pengujian kejernian
ini berhasil, maka sebelumnya sediaan tetes mata yang telah dicampurkan semua
bahannya disaring terlebih dahulu agar kotoran kecil atau partikel yang tidak diinginkan
tidak terbawa ke dalam sediaan tetes mata ini. Penyaringan pun dilakukan sebanyak 3
kali penyaringan, yang dimana penyaringan ini menggunakan kertas saring. Hasil dari uji
kejernihan ini lolos dari pengujian evaluasi.
Uji berikutnya yaitu uji jumlah sediaan. Uji ini dilakukan untuk mengecek jumlah
sediaan yang diserahkan apakah sama dengan jumlah sediaan yang diminta. Jumlah
sediaan untuk tetes mata kali ini tiap orang per kelompok diminta untuk membuat 2
botol tetes mata. Hasil pengujian jumlah sediaan ini sesuai dengan yang diminta yaitu
tiap mahasiswa mengumpulkan 2 botol tetes mata.
Uji kebocoran dilakukan untuk mengecek atau memastikan apakah botol yang
digunakan bocor atau tidak, penutupan tutup botol tetes benar atau tidak. Agar lolos
jadi uji kebocoran ini, pada saat setelah menuangkan cairan tetes mata kedalam botol
maka penutupan tutup botol nya harus benar jangan terlalu longgar agar tidak mudah
tumpah, serta jangan terlalu keras juga agar pada saat membuka botol tetes mata ini
tidak sulit. Hasil dari pengujian ini yaitu bahwa kelompok saya lolos dari uji kebocoran.
Uji secara penampilan fisik dilakukan dengan melihat kerapihan dari penempelan
etiket pada kemasan, kerapihan label pada botol tetes mata, kerapihan dalam
kemasannya. Uji ini berguna untuk menarik perhatian konsumen agar tertarik terhadap
produk yang kita buat. Semakin menarik dan rapih penampilan produk itu maka minat
untuk membeli produk tetes mata ini pun semakin banyak. Uji ini pun berguna supaya
pada saat melihat kemasan sediaan tetes mata itu tampak tertarik dan enak untuk
dilihat. Untuk hasil dari pengujian ini bahwa uji penampilan fisik lolos pada penilaian
evaluasi.
Kendala yang dilalui pada saat pratikum yaitu pada literatur kelarutan
Dexamethason memang obat ini tidak dapat larut didalam air dan hanya dapat larut
dalam kloroform dan eter. Sedangkan sediaan yang akan kelompok saya buat yaitu
sediaan tetes mata yang tidak memungkinkan untuk melarutkan Dexamethason ini
dengan etanol karena tetes mata tidak boleh mengandung etanol. Jika tetap
memaksakan mengandung etanol akan menyebabkan kontraindikasi pada sediaan tetes
mata ini. Jadi kelompok saya mencoba melarutkan Dexamethason ini dengan
menggunakan Water For Injection. Tetapi pada saat melarutkan Dexamethason ini
dengan WFI tetap tidak larut juga yang terjadi adalah serbuk Dexamethason
mengambang diatas permukaan air dan tidak dapat larut sama sekali. Lalu setelah itu
kelompok saya mencoba untuk berkonsultasi kepada dosen bagaimana untuk solusi
Dexamethason yang tidak dapat larut dalam WFI ini. Lalu dosen menyarankan untuk
menyatukan semua bahan terlebih dahulu lalu membuat nya diatas spiritus sambil di
aduk menggunakan batang pengaduk. Lalu setelah beberapa lama pengadukan memang
hasil dari Dexamethasone ini agak larut tapi tidak sepenuhnya larut. Lalu kelompok saya
mencoba untuk langsung menyaring cairan tetes mata tersebut menggunakan kertas
saring agar partikel yang masih ada tadi yang belum terlalu larut dapat tersaring
menggunakan kertas saring tersebut. Dan hasil dari penyaringan tersebut berhasil
dengan tidak adanya lagi partikel yang nampak tidak larut pada sediaan tetes mata
tersebut.
VI. Kesimpulan
Tetes mata Dexamethasone ini dibuat dengan cara mencampurkan semua
bahan yang digunakan diatas lampu spiritus sambil terus semua sediaan nya itu
larut dan tercampur. Hal ini dikarenakan Dexamethasone tidak dapat larut dalam
air maupun API jadi untuk menyiasati nya pencampuran semua bahannya
dilakukan sekaligus dengan pemanasan. Hasil pH Dexamethason ini adalah 7 dan
sesuai dengan literatur yang tercantum dalam Farmakope Indonesia Edisi III.
Hasil akhir dari sediaan tetes mata Dexamethasone ini tidak berwarna bening
tetapi berwarna putih seperti susu dikarenakan warna dari serbuk
Dexamethasone nya pun berwarna putih jadi hasil dari pencampuran pun pasti
berwarna putih pula.
VII. Daftar Pustaka
1. Remington,Joseph P. 2005
2. Jelajahanakpharmacist.nlogspot.com/2017/03/formula-tetes-mata-
deksametason.html?m=1
3. Farmakope Indonesia Edisi III
4. Farmakope Indonesia Edisi IV
5. susanprasanti.blogspot.com/2012/02/tetes-mata-deksametason.html?m=1
VIII. Lampiran