Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI

SISTEM PEMASTIAN MUTU

KONTAMINASI MIKROBA JAMUR DAN KHAMIR PADA PRODUK


PANGAN

Disusun oleh:
Riza Nur Febriani (29171436C)
Sanggra Marisa E (29171437C)
Claudya Monica W (29171438C)
Deva Andresa (29171444C)

DIII ANALIS FARMASI DAN MAKANAN


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SETIA BUDI
SURAKARTA
2018
KONTAMINASI MIKROBA JAMUR DAN KHAMIR PADA PRODUK
PANGAN YANG BEREDAR DI MASYARAKAT

A. Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui mikroba yang mengkontaminasi produk pangan.
2. Mahasiswa dapat mengetahui cara mencegah kontaminasi mikroba pada
produk pangan yang beredar di masyarakat.

B. Landasan Teori
Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme mikroskopik yang
sebagian besar berupa satu sel yang terlalu kecil untuk dapat dilihat
menggunakan mata telanjang. Mikroba berukuran sekitar seperseribu milimeter
(1 mikrometer) atau bahkan kurang, walaupun ada juga yang lebih besar dari 5
mikrometer. Karenanya, mikroba hanya bisa dilihat dengan menggunakan alat
bantu berupa mikroskop. (Irianto, Koes. 2007)

Saat ini aneka jenis makanan yang berkembang semakin beragam, begitu
juga dengan biskuit. Saat ini banyak biskuit yang beredar di pasaran dengan
berbagai bentuk dan rasa yang bermacam-macam. Namun tidak semua biskuit
yang beredar dipasaran memenuhi standar SNI yang ditetapkan sehingga
berbahaya bagi kesehatan konsumen. Hal ini dapat terjadi karena biskuit telah
terkontaminasi oleh cemaran fisik, kimia, maupun mikroba (Syarifah. 2002.)

Hampir semua bahan pangan tercemar oleh berbagai mikroorganisme dari


lingkungan sekitarnya. Beberapa jenis mikroba yang terdapat pada bahan
pangan adalah Salmonella sp, Staphylococcus aureus, Escherichia coli,
kapang, khamir serta mikroba patogen lainnya. Mikroba mempunyai batasan
tertentu dalam bahan pangan yang berpengaruh terhadap ketahanan bahan
pangan. Kondisi lingkungan juga mempengaruhi mikroba untuk tumbuh dan
berkembang lebih cepat (Syarifah. 2002.)

Bahan pangan dapat bertindak sebagai perantara atau substrat untuk


tumbuhnya mikroorganisme yang bersifat patogenik terhadap manusia.
Penyakit menular yang cukup berbahaya seperti tipes, kolera, disentri, tbc,
poliomilitis dengan mudah disebarkan melalui bahan pangan. (Syarifah. 2002.)

Makanan olahan adalah makanan yang disajikan oleh jasa boga dimana,
telah mengalami proses pengolahan dari bahan mentah menjadi makanan siap
saji. Makanan olahan mudah sekali tercemar oleh mikroba, sehingga jarang
sekali dijumpai dalam keadaan steri. Salah satu pencemar pada makanan
olahan adalah bakteri Coliform. Golongan bakteri Coliform adalah kelompok
bakteri intestinal yang banyak hidup di saluran pencernaan manusia maupun
hewan berdarah panas. Coliform digunakan untuk uji makanan karena
kemampuannya untuk tumbuh baik pada berbagai macam substrat dan dapat
memanfaatkan karbohidrat sebagai sumber energinya. (Syarifah. 2002.)

Mikroorganisme tersebar luas di alam dan sebagai akibatnya produk


pangan jarang sekali yang steril, tetapi umumnya tercemar oleh berbagai jenis
mikroorganisme. Pertumbuhan mikroorganisme dalam bahan pangan dapat
mengakibatkan perubahan fisik atau kimia yang tidak diinginkan, sehingga
bahan pangan tersebut tidak layak dikonsumsi. Pengawetan pangan merupakan
usaha untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pada bahan pangan.
Untuk dapat tumbuh dan berfungsi secara normal, mikroorganisme
membutuhkan sumber energi, sumber nitrogen, vitamin, mineral dan faktor
pertumbuhan lainnya. Komponen-komponen tersebut diperoleh mikroba dari
bahan pangan, sehingga makanan menjadi rusak. Untuk pertumbuhannya,
kapang mempunyai kebutuhan zat gizi yang paling minimal, diikuti dengan
khamir, kemudian bakteri gram negatif, sedangkan bakteri gram positif
mempunyai kebutuhan zat gizi yang paling lengkap. (Irianto, Koes. 2007)

Di samping komponen zat gizi yang diperlukan tersebut, kondisi


lingkungan yang sesuai, seperti keberadaan air bebas (aktivitas air), pH,
oksigen, dan suhu juga mempengaruhi pertumbuhan mikroba. Apabila kondisi
lingkungan tidak sesuai, maka mikroba pun tidak dapat hidup. Di dalam proses
pasteurisasi atau sterilisasi, tujuan utama yang diinginkan adalah untuk
membunuh mikroba yang tidak diinginkan, terutama mikroba pem-busuk dan
patogen. Agar proses pemanasan dapat menjamin mikroba target dibunuh,
maka perlu pengetahuan tentang sifat-sifat mikroorganisme dan faktor-faktor
yang mempengaruhi pertumbuhannya. (Setyawan, Arif Budi. 2008).

C. Bahan-Bahan
1. Susu UHT
2. Sarden
3. Kornet
4. Jus Buah Kemasan
5. Yoghurt
6. Sosis

D. Cara Kerja
Mencari literatur tentang cemaran mikroba, jamur dan kapang yang
mengkontaminasi produk pangan yang sering dijumpai di masyarakat.

E. Hasil Pengamatan
A. Susu UHT
Bakteri yang biasa mencemari Susu UHT antara lain : Salmonella,
Shigella, Bacillus cereus, dan S. aureus .Selain itu pada susu juga terdapat
bakteri Proteus, Clostridium, E.Coli, dan Streptococcus pyogenes, coliform.
Untuk mengendalikan agar susu tidsk terkontaminasi bakteri maka perlu
dilakukan tin dakan atau perlakuan seperti pasteurisasi untuk mematikan
bakteri patogen, Ultra High Temperature(UHT), dan penggunaan bakteriosin.
B. Sarden
Bakteri Clostridium botulinum , bacillus, sporogenes, putrefadens
merupakan beberapa mikroba yang menyebabkan kebusukan sulfida dan
menyebabkan gembung pada kemasan kaleng.sedangkan bakteri mesofil,
bakteri subtilis, bakteri mesentricin, bakteri polimixa dan bakteri macerans
juga merupakan beberapa jenis bakteri atau mikroba yang dapat menimbulkan
kebocoran pada kemasan kaleng bahkan juga dapat menyebabkan kebusukan
produk sarden.
Untuk mengendalikan atau mencegah hal hal yang tidak diinginkan seperti
produk terkontaminasi oleh mikroba atau kebusukan atau kerusakan kemasan,
maka perlu dilakukan proses sterilisasi yang terpenting, proses pemanasan,
proses pendinginanan, range pH atau derajat keasaman juga perlu diperhatikan
dalam hal ini.
C. Kornet
Kapang, Bakteri mesofilik dan khamir dapat mengkontaminasi kornet. Cara
pengendalian cemaran kapang pada kornet yaitu dengan oksigen, karena
dengan adanya oksigen kapang akan mengalami pertumbuhan, sehingga tidak
mengakibatkan kebocoran. Maka selain itu diperlukan pula sterilisasi pada
produk untuk menjamin kualitas.Sedangkan untuk khamir dapat di kendalikan
dengan proses pasteurisasi.
D. Jus buah kemasan
Cemaran mikroba pada jus buah kemasan dapat berupa jamur, yeast,
bakteri salmonella, E. Coli, lactobacillus, leuconostoc, geotricum, acetobakter
dan gluconobakter sp. Proses pasteurisasi dan sterilisasi dapat dilakukan untuk
mengendalikan cemaran dari mikroba.
E. Yoghurt
Mikroba yang biasa mengkontaminasi dan ditemukan pada produk yoghurt
antara lain ragi, bakteri E.Coli, dan kapang. Cara pengendalian dari akibat
kontaminasi atau cemaran mikroba tersebut dengan membuang bibit yoghurt
yang telah tercemar dan bukan mensiasatinya dengan cara menambahkan
bahan tambahan untuk mengatasi peragian atau terbentuknya alkohol pada
hasil fermentasi susu atau yoghurt.
F. Sosis
Bakteri Pediococcus banyak digunakan dalam pembuatan sosis. Bahan
baku sosis bermacam-macam jenisnya, ada yang menggunakan daging sapi,
daging ayam dan daging ikan. Sosis adalah satu-satunya produk daging
terfermentasi. Sosis yang telah diolah kemudian disimpan pada suhu 8 derajat
celcius selama 40 hari atau lebih, yang selama waktu itu terjadi fermentasi
asam laktat disertai dehidrasi daging yang cukup. Tentu saja hal ini
meningkatkan kadar garam yang bersama dengan asam laktat mencegah
pertumbuhan organisme yang merusak. saat tumbuh pada daging,

F. Pembahasan

Bahan makanan merupakan,salah satu tempat yang paling memungkinkan


bagi pertumbuhan mikroorganisme. beberapa alasan yang mendasari
pentingnya mikroorganisme dalam bahan makanan, yaitu: adanya
mikroorganisme, mikroorganisme tersebut dapat menyebabkan kerusakan
bahan makanan. Beberapa jenis mikroorganisme tertentu dapat digunakan
untuk membuat produk-produk makanan khusus.

Jenis-jenis mikroba yang dapat menyebabkan keracunan pada bahan


makanan. Sebenarnya ada 2 (dua) tipe keracunan makanan yang disebabkan
mikroba yaitu : Intoksikasi makanan yang disebabkan oleh racun yang
dikeluarkan oleh mikroba yang mencemari makanan. Dan infeksi makanan,
yaitu suatu keadaan timbulnya sakit karena masuknya mikroorganisme melalui
perantaraan makanan. Berikut ini adalah jenis-jenis mikroba yang paling sering
menimbulkan keracunan makanan / bahan makanan :

a.Staphylococcus
Merupakan mikroorganisme yang banyak menyebabkan intoksikasi makanan
(75-85 %). Gejala yang biasanya timbul adalah mual, muntah, sakit kepala, dan
keringatdingin. Racun staphylococcus keluar pada saat direbus dan kumannya
mati sehingga untuk mempertahankan kondisi makanan lebih baik, sebaiknya
suhu makanan kurang dari 400 F atau lebih dari 1400 F.

b.Clostridium Botulinum
Keracunan ini disebabkan oleh eksotoksinnya, mikroorganisme ini
merupakan kuman yang ansero dan akan memproduksi toksinnya pada suhu
yang rendah (kurang dari 380 F). Gejala yang ditimbulkan oleh kuman ini
adalah gangguan saraf, lever, konstipasi dan dapat terjadi gagal nafas, gejala
akan timbul dalam waktu 12 jam – 10 hari setelah kontak.

Beberapa saran yang dapat digunakan untuk mencegah timbulnya


keracunan akibat mikroorganisme ini adalah dengan menjaga sanitasi makanan,
proses pegolahan makanan yang benar, memanaskan makanan kaleng sebelum
dikonsumsi dan melakukan kontrol pada pabrik makanan kaleng.

c.Aspergillus
Umumnya terjadi pada tempat pengolahan makanan ternakayam yang
terkontaminasi, tidak diperoleh laporan adanya keracunan aspergillus pada
manusia. pencegahan dari kuman ini yaitu dengan mengadakan pemilihan
bahan-bahan makanan yang baik serta kelembaban yang baik.

d.Salmonella
Mikroorganisme ini menyebabkan infeksi / sakit pada manusia yang
memakan makanan yang terkontaminasi kuman ini.

Bahaya mikroba dalam makanan diilustrasikan sebagai berikut : seperti


kendaraan, tubuh kita membutuhkan energi dan bahan lain untuk dapat
beraktivitas dan makanan menjadi sumber energi dan berbagai zat gizi
pendukung hidup tersebut. Tetapi, makanan dapat menjadi wahana bagi unsur
pengganggu kesehatan manusia. Bahaya yang timbul dari makanan/ minuman
sering disebut sebagai keracunan makanan. Pada makanan ,bahaya tersebut
dapat terjadi melalui berbagai cara: dari pangan itu sendiri, pekerja, peralatan,
proses pengolahan dan pembersihan serta dari konsumen.

Pertumbuhan mikroba pada pangan juga dipengaruhi oleh adanya bahan


pengawet yang terkandung di dalamnya, yaitu senyawa yang dapat
menghambat pertumbuhan mikroba. Bahan pengawet atau disebut juga
senyawa antimikroba pada pangan dibedakan atas tiga golongan berdasarkan
sumbernya, yaitu : Senyawa antimikroba yang terdapat secara alami di dalam
bahan pangan, misalnya asam pada buah-buahan, dan beberapa senyawa pada
rempah-rempah.

Bahan pengawet yang ditambahkan dengan sengaja ke dalam pangan atau


pangan olahan, misalnya: Nitrit untuk menghambat bakteri pada kornet sapi
dan sosis, Garam natrium klorida untuk menghambat mikroba pada ikan asin,
Asam benzoat untuk menghambat kapang dan kamir pada selai dan sari buah,
Asam cuka (asam asetat) untuk menghambat mikroba pada asinan, Asam
propionat untuk menghambat kapang pada roti dan keju, Sulfit untuk
menghambat kapang dan kamir pada buah-buahan kering dan anggur.

Senyawa antimikroba yang terbentuk oleh mikroba selama proses


fermentasi pangan. Asam laktat, hidrogen peroksida (H202), dan bakteriosin
adalah senyawa antimikroba yang dibentuk oleh bakteri asam laktat selama
pembuatan produkproduk susu fermentasi seperti yogurt, yakult, susu
asidofilus, dan lain-lain, serta dalam pembuatan pikel dari sayur-sayuran
seperti sayur asin.
Keefektifan penghambatan merupakan salah satu kriteria pemilihan suatu
senyawa antimikroba untuk diaplikasikan sebagai bahan pengawet bahan
pangan. Semakin kuat penghambatannya semakin efektif digunakan.
Kerusakan yag ditimbulkan komponen antimikroba dapat bersifat mikrosidal
(kerusakan tetap) atau mikrostatik (kerusakan sementara yang dapat kembali).
Suatu komponen akan bersifat mikrosidal atau mikrostatik tergantung pada
konsentrasi dan kultur yang digunakan.

Kapang mempunyai kisaran pH pertumbuhan yang luas, yaitu 1.5-11.0.


Kebanyakan kapang dapat hidup pada aw> 0.70. Kebusukan makanan kaleng
yang disebabkan oleh kapang sangat jarang terjadi, tetapi mungkin saja terjadi.
Kebanyakan kapang tidak tahan panas sehingga adanya kapang pada makanan
kaleng disebabkan oleh kurangnya pemanasan (under process) atau karena
terjadi kontaminasi setelah proses. Kapang memerlukan oksigen untuk tumbuh
sehingga pertumbuhan pada kaleng hanya mungkin terjadi apabila kaleng
bocor.

Kapang lebih tahan asam, sehingga kapang terutama membusukkan


makanan asam, seperti buah-buahan asam dan minuman asam. Kapang seperti
Bysochamys fulva, Talaromyces flavus, Neosartorya fischeri dan lain-lain telah
diketahui sebagai penyebab kebusukan minuman sari buah kaleng dan produk-
produk yang mengan-dung buah. Spora kapang-kapang ini ternyata mampu
bertahan pada pemanasan yang digunakan untuk mengawetkan produk
tersebut. Spora kapang ini tahan terha-dap pemanasan selama 1 menit pada
92oC dalam kondisi asam atau pada makanan yang diasamkan. Akan tetapi
untuk mencapai konsistensi yang seperti ini, kapang tersebut memerlukan
waktu untuk membentuk spora, sehingga sanitasi sehari-hari terhadap peralatan
sangat penting untuk mencegah pertumbuhan kapang ini dan pembentukan
sporanya. Pada umumnya kapang yang tumbuh pada makanan yang diolah
dengan panas tidak menyebabkan penyakit pada manusia.

Bahan pangan dapat berasal dari tanaman maupun ternak. Produk ternak
merupakan sumber gizi utama untuk pertumbuhan dan kehidupan manusia.
Namun, produk ternak akan menjadi tidak berguna dan membahayakan
kesehatan apabila tidak aman dikonsumsi. Bahan pangan asal ternak (daging,
telur, susu) serta olahannya mudah rusak dan merupakan media yang sangat
baik bagi pertumbuhan mikroba.

Cemaran mikroba pada pangan asal ternak yang dapat membahayakan


kesehatan manusia adalah Coliform, Escherichia coli, Enterococci,
Staphylococcus aureus, Clostridium sp., Salmonella sp., Champhylobacter
sp., dan Listeria sp. (Syukur 2006). Beberapa cemaran mikroba yang
berbahaya pada produk segar antara lain adalah Salmonella sp., Shigella
sp., dan E. coli Tidak kalah pentingnya, selain makanan manusia juga
membutuhkan minuman sebagai asupan akan kebutuhan air dan elektrolit.
Minuman yang dikonsumsi oleh manusia tidak ubahnya dengan makanan yang
dapat tercemari oleh bakteri, misalnya susu. Susu memiliki kandungan gizi
yang tinggi dan merupakan bahan makanan. sempurna, karena mengandung
hampir semua zat gizi yang diperlukan tubuh manusia dalam jumlah yang
cukup dan seimbang.

Susu merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan bakteri dan
dapat menjadi sarana bagi penyebaran bakteri yang membahayakan kesehatan
manusia. Karena itu, susu akan mudah tercemar mikroorganisme bila
penanganannya tidak memperhatikan aspek kebersihan. Bakteri yang dapat
mencemari susu terdiri atas dua golongan, yaitu bakteri patogen dan bakteri
pembusuk. Kedua golongan bakteri tersebut dapat menyebabkan penyakit yang
ditimbulkan oleh susu (milkborne disease), seperti tuberkulosis, bruselosis,
dan demam tipoid. Mikroorganisme lain yang terdapat di dalam susu yang
dapat menyebabkan penyakit adalah Salmonella, Shigella, Bacillus
cereus, dan S. aureus .Selain itu pada susu juga terdapat bakteri Proteus,
Clostridium, E.Coli, dan Streptococcus pyogenes. Mikroorganisme tersebut
dapat masuk ke dalam susu melalui udara, debu, alat pemerah, dan manusia.

Streptococcus pyogenes adalah salah satu bakteri pada susu, bakteri ini
berbentuk coccus Gram positif, non motil, tidak berkapsul dan tidak berspora.
Bakteri ini termasuk dalam bakteri β-hemolitik. Bakteri ini berasal dari
kelenjar mammae yang terinfeksi. Pada manusia infeksi dari bakteri ini akan
menyebabkan radang tenggorokan akut tanpa dahak (faringitis).

Sterilisasi merupakan suatu proses untuk membunuh mikroorganisme


sampai ke spora-sporanya, yang terdapat di dalam bahan makanan. Proses ini
dilakukan dengan cara memanaskan makanan sampai temperatur 1210C,
selama watu 15 menit.Salah satu contoh alat untu melakukan sterilisasi
adalah Autoclave. Pada alat Autoclave ini, bahan makanan dipanaskan sampai
temperatur 121-1340C. makanan diproses selama 15 menit, untuk temperatur
1210C, atau pada temperatur 1340C selama 3 menit. Setelah pemanasan ini,
dilakukan pendinginan secara perlahan untuk menghindari over-boiling ketika
tekanan diberikan pada makanan.

Untuk memastikan bahwa proses autoclave ini berfungsi untuk


mensterilisasi, kebanyakan autoclave memiliki meteran dan chart yang
menampilan informasi berupa temperatur dan tekanan sebagai fungsi dari
waktu. Warna pada meteran ataupun chart tersebut akan berubah, jika makanan
berada pada kondisi yang diinginkan.

Selain itu, bioindicator, juga dapat digunakan sebagai indicator untuk


menunjukkan performansi autoclave. Bioindicator ini harus diletakkan pada
daerah yang sulit dijangkau oleh steam, untuk memastikan bahwa walaupun
daerah tersebut sulit dijangkau, namun steam tetap terdapat proses penetrasi
disana. Pada daging, terjadi Maillard browning dan karamelisasi yang
mempengaruhi warna dari daging, ketika daging melalui proses sterilisasi.
Pada sterilisasi susu dengan cara UHT (Ultra High Temperatur), terdapat
peningkatan keputihan warna dari susu itu sendiri.

Sterilisasi juga mempengaruhi aroma dan rasa dari makanan. Contohnya,


pada sterlisasi makanan kaleng terjadi perubahan rasa yang kompleks, yaitu
terjadi proses pirolisis, deaminasi, dan dekarboksilasi asam amino. Interaksi ini
dapat menghasilkan lebih dari 600 komponen. Pada sterilisasi dengan cara
UHT, perubahan aroma dan rasa yang terjadi lebih sedikit

Tekstur dari makanan juga mengalami perubahan setelah melwati proses


sterilisasi. Contohnya, tekstur dari padatan buah dan sayur akan menjadi lebih
lunak daripada buah dan sayur yang tidak disterilisasi. Nutrient value dari
makanan juga mengalami penurunan. Stabilitas inhibitor tripsin pada kacang
kedelai juga menurun setelah mengalami proses sterilisasi. Thiamin dan
pyridoxine juga mengalami degradasi. Namun pada proses sterilisasi ini tidak
meningkatkan ataupun menurunkan kandungan vitamin.

Pasteurisasi merupakan suatu proses untuk memperlambat pertumbuhan


mikroba pada makanan. Proses ini tidak dimaksudkan untuk membunuh semua
pathogen yang terdapat pada makanan, melainkan untuk mengurangi jumlah
pathogen, sehingga tidak menyebabkan penyakit. Pada makanan dalam
kemasan, digunakan Steam tunnels sebagai bagian dari alat pasteurisasi. Tunnel
tersebut dibagi menjad beberapa heating zone. Lalu water spray memanaskan
kemasan, ketika kemasan tersebut melewati tiap zona pada conveyor.
Pemanasan ini dilakukan pada temperatur pasteurisasi yang diinginkan,
biasanya dibawah titik didih air. Ketika makanan dalam kemasan tersebut akan
keluar dari satu heating zone, makanan tersebut sekaligus didinginkan dengan
menggunakan water spray juga.

Pada pasteurisasi dalam makanan yang tidak dimasukkan dalam kemasan,


digunakan alat bernama Plate heat exchangers. Terdiri dari beberapa plat
stainless steel tipis yang terikat pada metal frame. Plate-plat tersebut
membentuk channel parallel. Lalu makanan cair dan medium pemanas
dilewatkan di channel dengan pola alir counter-current. Setelah melalui
pemanasan, makanan cair tersebut didinginkan.

Proses pasteurisasi sendiri tidak menyebabkan dampak yang berarti secara


fisik bagi makanan. Tidak ada peubahan rasa ataupun aroma. Pada pasteurisasi
juga tidak terjadi perubahan warna. Namun dari segi nutrient, banyak dampak-
dampak yang diakibatkan oleh pasteurisasi. Berdasarkan beberapa penelitian,
pateurisasi dapat merusak 38% vitamin B kompleks. Selain itu, terjadi
denaturasi protein selama proses ini berlangsung, dan presipitasi mineral tidak
terlihat.

G. Kesimpulan

Kontaminansi pada produk pangan dapat disebabkan oleh kapang, khamir


dan bakteri. Dari ketiga mikroba tsb, kerusakan oleh bakteri lebih dominan.
Kebusukan karena bakteri seringkali menghasilkan kondisi kaleng yg
abnormal. Penyebab kebusukan makanan kaleng adalah incipient spoilage
(proses membiarkan terlalu lama maknan yang sudah dikemas sblm di
sterilisasi), kontaminasi stl proses (karena kebocoran selama pendinginan
dengan air atau penanganan stl disterilisasi), pemanasan yang tidak cukup dan
kebusukan termofilik atau suhu penyimpanan diatas normal.

H. Daftar Pustaka
Moeljanto. 1992. Pengawetan dan Pengolahan Hasil
Perikanan:Penebar Swadaya, Jakarta.
Leon Chaitow dan Natasha Trenev, Probiotics: How Live Yogurt and
Other Friendly Bacteria can Restore Health and Vitality, Thornsons, 1990.

Irianto, Koes. 2007. Mikrobiologi: Menguak Dunia Mikroorganisme.


Bandung: CV. YRAMA WIDYA

Setyawan, Arif Budi. 2008. Keamanan Pangan “Food safety” Industri.


(Online), (www.teknopangan.com, diakses pada tanggal 10 Mei 2008).

Syarifah. 2002. Mikroba Patogen pada Makanan dan Sumber


Pencemarannya. (Online), (www.fkm-albiner.com, diakses pada tanggal 10
Mei 2008)