Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Menuanya organ tubuh tak lebih dari sebuah proses alamiah.
Namun, "sangat sulitmembedakan antara penuaan normal yang tidak bisa
dicegah dengan kerusakan organ akibatpenuaan yang sebenarnya dapat
dicegah.Dari seluruh penyakit yang mendera lansia,penyakit
kardiovaskular menempati urutan paling atas. Kerusakan akibat penuaan
biasanyaakan mengalami dua macam interaksi, yang berasal dari penuaan
itu sendiri atau prosespatologis yang mengikuti penyakit jantung tersebut.
Kelompok ini pun sering mengalamikelainan klinis akibat komorbiditas
serta polifarmasi.(Muin Rahman, A, 2010).
Penyakit jantung merupakan penyakit yang mematikan.Di seluruh
dunia, jumlah npenderita penyakit ini terus bertambah. Ketiga kategori
penyakit ini tidak lepas dari gayahidup yang kurang sehat yang banyak
dilakukan seiring dengan berubahnya pola hidup.Angka harapan hidup
yang semakin meningkat ditambah peningkatan golongan usia tuasemakin
memperbesar jumlah penderita penyakit jantung yang sebagian besar
diderita olehorang tua. (Wikipedia, 2008)Sekitar 83% penderita gagal
jantung merupakan lansia.Gagal jantung diastolik merupakan masalah
utama disfungsi pendarahan pada lansia.Dari para lansia berusia di atas80
tahun yang menderita gagal jantung, 70% di antaranya memiliki fungsi
sistolik yangnormal.Sedangkan para penderita gagal jantung yang berusia
di bawah 60 tahun hanyakurang dari 10% yang fungsi sistoliknya masih
bagus.Artinya, sebagian besar penderitalansia tidak memiliki kelainan
pada fungsi sistolik, namun mengalami kelainan diastole.
Sementara itu, hampir 75% pasien geriatri menderita gagal jantung,
hipertensi dan ataupenyakit arteri koroner. Sedangkan para lansia

1
penderita gagal jantung diastolik akanmengalami gagal jantung
dekompensasi karena biasanya tekanan darahnya relatif tinggi dantidak
terkontrol. Selain itu, sulit membedakan secara klinis antara gagal jantung
diastol atausistol karena keduanya sering bercampur pada orang tua.Gejala
yang mendadak merupakantanda umum gagal jantung akibat kelainan
fungsi diastol.

2
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. PENGERTIAN
Sistem kardiovaskuler sering disebut sebagai system transportasi
tubuh atau sistem peredaran darah.Sistem ini memiliki tiga komponen
utama, yaitu jantung, pembuluh darah,dandarah.Jantung dan pembuluh
darah memberikan oksigrn dan nutrient setiap sel hidup yang perlukan
untuk bertahan hidup.Tanpa fungsi jantung kehidupan akan berakhir.
Penurunanfungsi system kardiovaskuler (KV) telah memiliki dampak
system yang lainnya.
Namun, pada kondisi tanpa penyakit yang berat jantung lansia
mampu untuk menyediakan suplaidarah yang mengandung oksigen secara
adekuat untuk memenuhi kebutuhan tubuh.Penyakit pada system
kardiovaskuler yang sering terjadi pada lansia umumnya adalahhipertensi,
congestive heart failure (CHF), aritmia,

B. PERUBAHAN ANATOMIS
Penebalan dinding ventrikel kiri jantung kerap terjadi,meski
tekanan darah relatif normal. Begitupun fibrosis dan kalsifikasi katup
jantung terutama pada anulus mitral dan katup aorta.Selain itu terdapat
pengurangan jumlah sel pada nodus sinoatrial (SA Node) yang
menyebabkan hantaran listrik jantung mengalami gangguan. Hanya sekitar
10% sel yang tersisa ketika manusia berusia 75 tahun ketimbang
jumlahnya pada usia 20 tahun lalu.
Bisa dibayangkan,bagaimana terganggunya kerja jantung,apalagi
jika disertai penyakit jantung lain,seperti penyakit jantung koroner.
Sementara itu,pada pembuluh darah terjadi kekakuan arteri sentral dan
perifer akibat proliferasi kolagen,hipertrofi otot polos,kalsifikasi,serta
kehilangan jaringan elastik. Meski seringkali terdapat aterosklerosis pada
manula,secara normal pembuluh darah akan mengalami penurunan debit

3
aliran akibat peningkatan situs deposisi lipid pada endotel. Lebih
jauh,terdapat pula perubahan arteri koroner difus yang pada awalnya
terjadi di arteri koroner kiri ketika muda,kemudian berlanjut pada arteri
koroner kanan dan posterior di atas usia 60 tahun.

C. PERUBAHAN FISIOLOGIS
Perubahan fisiologis yang paling umum terjadi seiring
bertambahnya usia adalah perubahan pada fungsi sistol ventrikel. Sebagai
pemompa utama aliran darah sistemik manusia,perubahan sistol ventrikel
akan sangat mempengaruhi keadaan umum pasien. Parameter utama yang
terlihat ialah detak jantung,preload dan afterload,performa otot
jantung,serta regulasi neurohormonal kardiovaskular.
Oleh karenanya,orang-orang tua menjadi mudah deg-degan. Akibat
terlalu sensitif terhadap respon tersebut,isi sekuncup menjadi bertambah
menurut kurva Frank-Starling. Efeknya,volume akhir diastolik menjadi
bertambah dan menyebabkan kerja jantung yang terlalu berat dan lemah
jantung. Awalnya,efek ini diduga terjadi akibat efek blokade reseptor β-
adrenergik,namun setelah diberi β-agonis ternyata tidak memberikan
perbaikan efek.
Di lain sisi, terjadi perubahan kerja diastolik terutama pada
pengisian awal diastol lantaran otot-otot jantung sudah mengalami
penurunan kerja. Secara otomatis,akibat kurangnya kerja otot atrium untuk
melakukan pengisian diastolik awal,akan terjadi pula fibrilasi
atrium,sebagaimana sangat sering dikeluhkan para lansia. Masih
berhubungan dengan diastol,akibat ketidakmampuankontraksi atrium
secara optimal,akan terjadi penurunan komplians ventrikel ketika
menerima darah yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan diastolik
ventrikel ketika istirahat dan exercise. Hasilnya, akan terjadi edema paru
dan kongesti sistemik vena yang sering menjadi gejala klinis utama pasien
lansia. Secara umum,yang sering terjadi dan memberikan efek nyata secara
klinis ialah gangguan fungsi diastol.

4
Pemeriksaan EKG perlu dilakukan untuk melihat adanya penyakit
jantung koroner,gangguan konduksi dan irama jantung,serta hipertrofi
bagian-bagian jantung. Beberapa macam aritmia yang sering ditemui pada
lansia berupa ventricular extrasystole (VES), supraventricular extrasystole
(SVES),atrial flutter/fibrilation,bradycardia sinus,sinus block,A-V
junctional. Gambaran EKG pada lansia yang tidak memiliki kelainan
jantung biasanya hanya akan menunjukkan perubahan segmen ST dan T
yang tidak khas. Untuk menegakkan diagnosis,perlu dilakukan
ekokardiografi sebagaimana prosedur standar bagi para penderita penyakit
jantung lainnya.

D. PERUBAHAN PATOLOGI ANATOMIS


Perubahan-perubahan patologi anatomis pada jantung degeneratif
umumnya berupa degeneratif dan atrofi. Perubahan ini dapat mengenai
semua lapisan jantung terutama endokard,miokard,dan pembuluh darah.
Umumnya perubahan patologi anatomis merupakan perubahan mendasar
yang menyebabkan perubahan makroskopis,meskipun tidak berhubungan
langsung dengan fisiologis.
Seperti halnya di organ-organ lain,akan terjadi akumulasi pigmen
lipofuksin di dalam sel-sel otot jantung sehingga otot berwarna coklat dan
disebut brown atrophy. Begitu juga terjadi degenerasi amiloid alias
amiloidosis,biasa disebut senile cardiac amiloidosis. Perubahan demikian
yang cukup luas dan akan dapat mengganggu faal pompa jantung.
Terdapat pula kalsifikasi pada tempat-tempat tertentu,terutama
mengenai lapisan dalam jantung dan aorta. Kalsifikasi ini secara umum
mengakibatkan gangguan aliran darah sentral dan perifer. Ditambah lagi
dengan adanya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah besar dan
degenerasi mukoid terutama mengenai daun katup jantung,menyebabkan
seringnya terjadi kelainan aliran jantung dan pembuluh darah.
Akibat perubahan anatomis pada otot-otot dan katup-katup jantung
menyebabkan pertambahan sel-sel jaringan ikat (fibrosis) menggantikan

5
sel yang mengalami degenerasi, terutama mengenai lapisan endokard
termasuk daun katup. Tidak heran,akibat berbagai perubahan-perubahan
mikroskopis seperti tersebut di atas,keseluruhan kerja jantung menjadi
rusak.

E. MANIFESTASI KLINIK
Nyeri pada daerah prekordial dan sesak napas seringkali dirasakan
pada penderita penyakit jantung di usia lanjut. Rasa cepat lelah yang
berlebihan seringkali ditemukan sebagai dampak dari sesak napas yang
biasanya terjadi di tengah malam. Gejala lainnya adalah
kebingungan,muntah-muntah dan nyeri pada perut karena pengaruh dari
bendungan hepar atau keluhan insomnia.
Bising sistolik banyak dijumpai pada penderita lanjut usia,sekitar
60% dari jumlah penderita. Dalam penemuan lain juga dilaporkan bahwa
bising sistolik tanpa keluhan ditemukan pada 26% penderita yang berusia
65 tahun keatas.
Pada jantung dapat dijumpai kekakuan pada arteria koroner,cincin
katup mitral,katup aorta,miokardium dan perikardium. Kelainan-kelainan
tersebut selalu merupakan keadaan yang abnormal.

F. JENIS PENYAKIT JANTUNG PADA LANJUT USIA


1) Penyakit Jantung Koroner Dan Infark Miokard
Akibat yang besar dari penyakit jantung koroner adalah kehilangan
oksigen dan makanan ke jantung karena aliran darah ke jantung
melalui arteri koroner berkurang. PJK adalah manifestasi umum dari
keadaaan pembuluh darah yang mengalami pengerasan dan penebalan
dinding,disebut juga aterosklerosis. Tapi selain itu stenosis
aorta,kardiomiopati hipertrofi dan kelainan arteri koronaria kongenital
juga dapat menyebabkan PJK.
Faktor risiko PJK antaralain hipertensi sistolik,dislipidemia,intoleransi
glukosa dan fibrinogen,obesitas dan kurang bergerak.

6
2) Gagal Jantung
Gagal jantung adalah merupakan suatu sindrom, bukan diagnosa
penyakit.Sindrom gagal jantung kongestif (Chronic Heart Failure/
CHF) juga mempunyai prevalensi yang cukup tinggi pada lansia
dengan prognosis yang buruk.Prevalensi CHF adalah tergantung umur
atau age-dependent. Menurut penelitian,gagal jantung jarang pada usia
di bawah 45 tahun,tapi menanjak tajam pada usia 75 – 84 tahun.
CHF terjadi ketika jantung tidak lagi kuat untuk memompa darah yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan.
Penyebab yang sering adalah menurunnya kontraktilitas miokard
akibat Penyakit Jantung Koroner, Kardiomiopati, beban kerja jantung
yang meningkat seperti pada penyakit stenosis aorta atau hipertensi,
Kelainan katup seperti regurfitasi mitral.
Selain itu ada pula faktor presipitasi lain yang dapat memicu
terjadinya gagal jantung,yaitu kelebihan Na dalam makanan,kelebihan
intake cairan,tidak patuh minum obat,aritmia, flutter,aritmia,obat-
obatan,sepsis,hiper/hipotiroid,anemia,gagal ginjal,defisiensi vitamin
B,emboli paru.

3) Kelainan Katup
Bising sistolik dapat ditemukan pada sekitar 60% lansia, dan ini
jarang sekali diakibatkan oleh kelainan katup yang parah.Pada katup
aorta, stenosis akibat kalsifikasi lebih sering ditemukan daripada
regurgitasi aorta.Tapi pada katup mitral, regurgitasi sangat sering
dijumpai dan lebih banyak terdapat pada wanita daripada pria.
Pada lansia sering terdapat bising sistolik yang tidak mempunyai
arti klinis yang berarti.Tapi harus hati-hati membedakan fisiologis
dengan yang patologis. Bising patologis menandakan adanya kelainan
katup yang berat, yang bila tidak ditangani dengan benar akan
mengakibatkan hipertrofi ventrikel dan pada akhirnya berakhir dengan
gagal jantung.

7
Stenosis katup aorta etiologinya adalah akibat
kalsifikasi/degeneratif. Stenosis aorta akan berakibat pada pembesaran
ventrikel kiri. Dapat terjadi tanpa disertai gejala selama beberapa tahun.
Tapi pada akhirnya kondisi ini akan berakhir dengan kerusakan
ventrikel permanen yang akhirnya mengakibatkan komplikasi-
komplikasi seperti pulmonary vascular congestion (dengan sesak
nafas), aritmia ventrikel dan heart block.
Sedangkan kelainan pada katup mitral juga dapat mengakibatkan
terjadinya Atrial fibrillation dan gagal jantung.

4) Hipertensi Dan Penyakit Jantung Hipertensif


Semakin tua,tekanan darah akan bertambah tinggi. Prevalensi
hipertensi pada orang-orang lanjut usia adalah sebesar 30-65%.
Hipertensi pada lansia sangat penting untuk diketahui karena
patogenesis, perjalanan penyakit dan penatalaksanaannya tidak
seluruhnya sama dengan hipertensi pada usia dewasa muda.
Pada pasien lansia, aspek diagnostik yang dilakukan harus lebih
mengarah kepada hipertensi dan komplikasinya serta terhadap
pengenalan berbagai penyakit komorbid pada orang itu karena
penyakit komorbid sangat erat kaitannya dengan penatalaksanaan
keseluruhan.
Seperti penyakit degeneratif pada lanjut usia lainnya,hipertensi
sering tidak memberikan gejala apapun atau gejala yang timbul
tersamar (insidious) atau tersembunyi (occult).
Peningkatan tekanan darah sering merupakan satu-satunya tanda
klinis hipertensi yang esensial, sehingga diperlukan pengukuran
tekanan darah secara akurat.

G. PENCEGAHAN PENYAKIT JANTUNG PADA LANJUT USIA


1. Pencegahan Primer

8
Pencegahan primer adalah berbagai upaya yang dilakukan untuk
menghindari atau menunda munculnya penyakit atau gangguan
kesehatan. Pencegahan primer penyakit jantung yang dapat dilakukan
antara lain :
a. Stop merokok
b. Turunkan kolesterol
c. Obati tekanan darah tinggi
d. Latihan jasmani
e. Pelihara berat badan ideal
f. Konsumsi aspirin dosis rendah untuk pencegahan
g. Kelola dan kurangi stres.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder adalah berbagai upaya yang dilakukan untuk
deteksi dini adanya penyakit atau gangguan kesehatan agar dapat
dilakukan tatalaksana sedini mungkin pula. Pencegahan sekunder yang
dapat dilakukan :
a. Pemeriksaan kolesterol tiap 3-5 tahun.
b. Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG)
c. Pemeriksaan tekanan darah setiap 3 tahun sebelum usia 40
tahun dan setiap tahun setelah berusia 40 tahun.
3. Pencegahan Tersier
Pengelolaan penyakit atau gangguan kesehatan secara seksama
harus dilakukan.Diperlukan kerjasama yang baik antara tenaga
kesehatan dan pasien serta keluarganya agar penyakit atau gangguan
kesehatan yang diderita pasien dapat terkelola dan terkendali dengan
baik.Untuk itu amat dibutuhkan kepatuhan pasien dalam mengontrol
penyakit-penyakit yang diderita agar tidak timbul komplikasi atau
penyulit.
Pada umumnya berbagai penyakit kronik degeneratif memerlukan
kedisiplinan dan ketekunan dalam diet atau latihan jasmani, demikian

9
pula di dalam pengobatan yang umumnya membutuhkan waktu
bertahun-tahun bahkan bisa seumur hidup.

10
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Riwayat keperawatan dan kesehatan
a) Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan digunakan untuk mengumpulkan data
tentang kebiasaan-kebiasaan pasien yang mencerminkan refleksi
perubahan dan sirkulasi oksigen. Perawat harus dapat
mengidentifikasi nyeri pada pasien. Perawat juga harus
menentukan integrasi neurovascular dan mengetahui dengan pasti
jika klien mengalami panas,mati rasa atau perasaan geli. Perawat
perlu mengkaji status pernapasan klien.Perawat perlu juga
mengetahui tentang diet pasien karena erat kaitannya dengan status
kardiovascular pasien.
b) Riwayat perkembangan
Struktur sistem cardiovascular berubah sesuai usia individu.
Perawat harus memahami efek perkembangan fisik pada denyut
jantung,produksi zat tertentu dalam darah dan tekanan darah, untuk
menginterpretasikan parameter tersebut dikaitkan dengan usia
pasien.
c) Riwayat social
Perawat dapat mengumpulkan tentang cara hidup pasien,latar
belakang pendidikan,sumber-sumber ekonomi,agama dan etnik
pada pasien kardiovascular.
d) Riwayat psikologis
Perawat mengidentifikasi stress maupun sumber-sumber coping.
2. Pengkajian fisik

11
Pengkajian fisik sistem kardiovaskuler meliputi pemeriksaan jantung
dan pembuluh darah melalui keterampilan inspeksi,palpasi,perkusi dan
auskultasi.

B. DIAGNOSA
1. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan kurangnya suplai
oksigen pada jaringan
2. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan oksigen.
3. Kurang pengetahuan mengenai kondisi,rencana pengobatan
berhubungan dengan keterbatasan kognitif.

C. PERENCANAAN
Diagnosa 1 :Nyeri berhubungan dengan kurangnya suplai oksigen
pada jaringan
Intervensi :
1. Monitor dan kaji karakteristik dan lokasi nyeri.
2. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi,
kesadaran).
3. Anjurkan pada pasien agar segera melaporkan bila terjadi nyeri
dada.
4. Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman.
5. Ajarkan dan anjurkan pada pasien untuk melakukan tehnik
relaksasi.
6. Kolaborasi dalam: pemberian obat-obatan (beta blocker, anti
angina, analgesik)

Rasional :

1. Untuk mengetahui intensitas nyeri yang dirasakan klien


2. Untuk mengetahui keadaan umum pasien
3. Agar segera dilakukan tindakan lanjut

12
4. Agar rasa nyeri pasien bisa berkurang atau terkontrol
5. Untuk menghilangkan rasa nyeri klien
6. Menghilangkan nyeri

Diagnosa 2 :Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan


Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Intervensi :
1. Bantu klien mengidentifikasi faktor yang meningkatkan atau
menurunkan toleransi aktifitas.
2. Kembangkan aktivitas klien dalam program latihan.
3. Ajarkan klien menggunakan daftar latihan untuk mencatat
aktivitas latihan dan responnya (seperti nadi,bernapas
dangkal,cemas).
4. Kaji respon fisiologi terhadap aktivitas, observasi frekuensi
nadi >20 X/i di atas frekuensi istirahat.
5. Ajarkan tentang rasa takut/cemas berhubungan dengan
intoleransi aktivitas.
6. Ajarkan strategi koping kognitif (seperti
pembandingan,relaksasi,pengendalian bernapas).
7. Ajarkan keluarga untuk membantu klien melakukan aktivitas.
8. Kolaborasi dengan klien/keluarga untuk menetapkan rencana
ADL yang konsisten dengan pola hidup.
9. Berikan dukungan melakukan aktivitas atau perawatan diri
bertahap.Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
10. Beri semangat klien untuk mencari bantuan dalam
mempertahankan aktivitas.

Rasional :

1. Pengkajian akurat terhadap faktor yang meningkatkan atau


menurunkan toleransi aktivitas memberikan dasar untuk
membuat rencana perawatan.

13
2. Program latihan fisik mempunyai efek menguntungkan pada
kerja jantung.
3. Membuat daftar harian dapat meningkatkan kemampuan.
4. Peningkatan tekanan darah selama/sesudah aktivitas(sistol
meningkat 40 mmHg atau diastolik meningkat 20
mmHg),dispneu/nyeri dada, keletihan,kelemahan
berlebihan,pusing atau pingsan. Menyebutkan parameter
membantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stress
aktivitas,dan bila ada merupakan indicator dari kelebihan kerja
yang berkaitan dengan tingkat aktivitas.
5. Rasa takut/cemas dapat meningkatkan intoleransi aktivitas.
6. Respon emosional terhadap intoleransi aktivitas dapat ditangani
dengan menggunakan strategi koping kognitif.
7. Dukungan sosial meningkatkan pelaksanaan aktivitas.
8. Mencapai dan mempertahankan pola hidup produktif sesuai
kemampuan jantung dalam berespon terhadap peningkatan
aktivitas dan stress.
9. Kemajuan aktivitas bertahap mencegah peningkatan kerja
jantung tiba-tiba.Membantu sebatas kebutuhan mendorong
kemandirian dalam beraktifitas.
10. Dukungan sosial meningkatkan penyembuhan dan
mempertahankan pola hidup yang diharapkan.

Diagnosa 3 :Kurang pengetahuan mengenai kondisi,rencana


pengobatanBerhubungan dengan : Keterbatasan kognitif.
Intervensi ;
1. Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar, termasuk keluarga.
2. Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor risiko
kardiovaskular yang dapat diubah, misal obesitas,diet tinggi
lemak jenuh dan kolesterol,merokok,minum alkohol serta pola
hidup penuh stress.

14
3. Atasi masalah bersama klien dengan mengidentifikasi cara
gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi factor
risiko kardiovaskular.
4. Bahas pentingnya menghentikan menghentikan merokok dan
bantu klien dalam membuat rencana berhenti merokok.
5. Beri penguatan pentingnya kerja sama dalam regimen
pengobatan Kerja sama meningkatkan keberhasilan terapi.
6. Jelaskan tentang obat (rasional,dosis dan efek samping).
7. Hindari minuman yang mengandung kafein.

Rasional :

1. Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosis mempengaruhi minat untuk


mempelajari penyakit,prognosis.
2. Faktor risiko menunjukan hubungan dalam menunjang penyakit
kardiovaskular.
3. Faktor risiko meningkatkan proses penyakit. Dengan mengubah
perilaku,dukungan,petunjuk dan empati dapat meningkatkan keberhasilan
klien.
4. Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin; mengakibatkan
peningkatan frekuensi jantung, tekanan darah dan vasokonstriksi;
mengurangi oksigen jaringan; serta meningkatkan beban kerja miokardium.
5. Kerja sama meningkatkan keberhasilan terapi.
6. Informasi adekuat dan pemahaman tentang obat meningkatkan kerja sama
pengobatan.
7. Kafein adalah stimulant jantung dan merugikan fungsi jantung.

15
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Penyakit jantung pada lansia mempunyai penyebab yang
multifaktorial yang saling tumpang tindih.Penyakit degeneratif adalah
suatu penyakit yang mempunyai penyebab dan selalu berhubungan dengan
satu faktor resiko atau lebih, di mana faktor-faktor resiko tersebut bekerja
sama menimbulkan penyakit degeneratif itu.
PJK merupakan penyakit yang paling sering ditemukan pada lansia.
Penyakit jantung koroner (PJK) bertanggung jawab untuk morbiditas dan
mortalitas yang signifikan pada pasien usia lanjut (yaitu, 65 tahun dan
lebih tua).
Gagal jantung adalah sindrom klinis (sekumpulan tanda dan
gejala),ditandai oleh sesak napas dan fatik (saat istirahat atau saat aktifitas)
yang disebabkan oleh kelainan struktur atau fungsi jantung.
Merokok tembakau memiliki efek merusak pada sistem
kardiovaskular, mewujudkan peningkatan kejadian infark miokard
(MI),stroke dan kematian.

B. SARAN
Mengingat betapa pentingnya kesehatan bagi lansia,maka
disarankan agar para tenaga kesehatan memberikan asuhan keperawatan
yang tepat dan sesuaikepada lansia agar angka harapan hidup lansia
meningkat.

16
DAFTAR PUSTAKA

http://kuliahiskandar.blogspot.com/2012/05/makalah-penyakit-jantung-pada-
lansia_26.html

http://www.majalah-farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=150

http://majalahkasih.pantiwilasa.com/index.php?option=com_content&task=view
&id=62&Itemid=74

http://www.smallcrab.com/jantung/455-penyakit-jantung-yang-sering-terdapat-
pada-lansia

Kushariyadi,2010.Asuhan Keperawatan Klien Lanjut Usia.Jakarta : Salemba


Medika

Pusat pendidikan tenaga kesehatan departemen kesehatan,1993.Proses


Keperawatan Pada

Pasien Dengan Gangguan sIstem Kardiovaskuler.Jakarta: EGC

17