Anda di halaman 1dari 68

KERAGAMAN KETURUNAN SIFAT CABAI LOTANBAR

RANGKAI ENAM PADA GENERASI KE-2 DI KECAMATAN


MUNGKA KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

SKRIPSI

OLEH

MEILIANA WIDYA SARI


1310211065

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
KERAGAMAN KETURUNAN SIFAT CABAI LOTANBAR
RANGKAI ENAM PADA GENERASI KE-2 DI KECAMATAN
MUNGKA KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

OLEH

MEILIANA WIDYA SARI


1310211065

SKRIPSI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar


Sarjana Pertanian

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
KERAGAMAN KETURUNAN SIFAT CABAI LOTANBAR
RANGKAI ENAM PADA GENERASI KE-2 DI KECAMATAN
MUNGKA KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

OLEH

MEILIANA WIDYA SARI


1310211065

MENYETUJUI :

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Sutoyo, MS Dr. Ir. Etti Swasti, MS


NIP. 19590902 198403 1 002 NIP. 19601014 198712 2 001

Dekan Fakultas Pertanian Koordinator Program Studi


Universitas Andalas Agroteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Andalas

Dr. Ir. Munzir Busniah, M.Si Dr. Yusniwati, SP, MP


NIP. 19640608 198903 1 001 NIP. 19701217 200012 2 001
Skripsi ini telah diuji dan dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian
Sarjana Fakultas Pertanian Universitas Andalas, pada tanggal 07 Februari
2018

NO NAMA TANDA TANGAN JABATAN

1. Dr. Ir. Benni Satria, SP. MP Ketua

2. Dr. Yusniwati, SP. MP Sekretaris

3. Dr. Aprizal Zainal, SP. MSi Anggota

4. Ir. Sutoyo, MS Anggota

5. Dr. Ir. Etti Swasti, MS Anggota


“ Sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila engkau telah selesai (dari suatu
urusan) tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain) dan hanya kepada Tuhanmulah engkau
berharap” (QS. Al-insyirah, 6-8)

Puji syukur kepada Allah yang selalu melimpahkan kekuatan dan


ketabahan kepada ku, sehingga aku bisa menyelesaikan skripsi ini. Ku
selipkan kado terindah kepada orang tua dan nenek yang sangat ku cintai,
Ibunda Lendri Yenni, Ayahanda Etrial Sy dan Nenek tercinta Almarhumah
Hj. Ramani sosok yang selalu menjadi penyemangat ketika lelah dan rasa
putus asa menghampiri. Semoga kelak Widya bisa menjadi apa yang ibu,
ayah dan nenek inginkan, semoga setiap tetes, peluh dan air mata bisa
berubah menjadi senyum bahagia. Untuk nenekku, semoga nenek tenang dan
damai di sisi Allah serta di lapangkan kuburnya. Amin. Terima kasih untuk
Adikku Putri Apriska yang selalu menjadi teman ketika susah dan senang,
teman tempat berdebat dan selalu memberi dukungan dalam keadaan
apapun, semoga kelak kita berdua bisa membanggakan dan membahagiakan
orang tua dan nenek kita. Terima kasih kepada Bunda Tati dan Tante Pipi,
serta terima kasih kepada semua keluarga besar yang selalu mendoakan dan
mendukungku sampai saat ini.

Terima kasih sebesar-besarnya ku sampaikan kepada Bapak “Ir.


Sutoyo, MS” dan Ibu “Dr. Ir. Etti Swasti, MS” yang telah banyak memberikan
ilmu, motivasi, dukungan, arahan dan bimbingannya. Semoga Allah SWT
membalas keikhlasan dan ketulusan Bapak dan Ibu dengan pahala yang
berlipat ganda. Terima Kasih kepada teman-teman (bimbingan Pak Sutoyo,
bimbingan Etti’s Group, Plant breeder ’13 dan Agro ’13) yang telah berbagi
ilmu denganku dan berjuang bersama untuk mencapai gelar ini. Terima
kasih kepada sahabat yang selalu menjadi teman tempat berbagi cerita
(Ratih, Desi, Dilla, Ulfa, Filia) semoga kalian cepat menyusul mendapatkan
gelar sarjana. Terima kasih juga untuk (Nia, Tika, Fina, Mila, Loli, Selfi,
Widya, Jannah, Hafnes, Ana, Sisi, Ijep, Ijuk, Firdaus, Goza, Rahmi, Idel,
Yurni, Siska, Elsa, Higa, Oca, Imel, Teti) yang telah ikut membantu
perjuanganku. Terima kasih untuk Abang (Muhamad Hamdani, S.E) atas
segala dukungan dan bantuannya selama proses penelitian di lapangan
sampai aku bisa mendapatkan gelar S.P, terima kasih selalu ada ketika
senang maupun duka, selalu berusaha untuk membuatku tersenyum dan
bersedia mendengarkan keluh kesah serta memberikan saran-saran yang baik
untukku.

Terima kasih ku sampaikan kepada Bapak Dr. Ir. Benni Satria, SP.
MP, Dr. Aprizal Zainal, SP. Msi dan Ibu Dr. Yusniwati, SP. MP yang telah
ikut membantuku ketika di Ruang Sidang Ujian Sarjana. Terima kasih
kepada teman-teman KKN Tematik Disbun, KMIP dan HIMAGRETA yang
telah memberi pengalaman untukku dalam mengenal ruang lingkup
organisasi dan kekeluargaan. Terima kasih kepada Bapak Halim dan Ibu
Yenti yang telah banyak membantu di lapangan penelitian, serta terima
kasih untuk Kak Ririn, Kak Ani, Kak Vivi, Bg ade dan Wulan yang telah
sama-sama berjuang selama di lapangan penelitian. Semoga cabai Lotanbar
menjadi salah satu varietas unggul terkenal di Indonesia.
BIODATA

Penulis dilahirkan di Kayutanam, Kecamatan 2x11 Kayutanam, Kabupaten


Padang Pariaman, Sumatera Barat pada tanggal 17 Mei 1995 sebagai anak
pertama dari dua bersaudara, dari pasangan Etrial Sy dan Lendri Yenni.
Pendidikan Sekolah Dasar (SD) ditempuh di SDN 02 Kayutanam (2001–2007).
Sekolah Menengah Pertama (SMP) ditempuh di SMPN 01 Kayutanam (2007–
2010). Sekolah Menengah Atas (SMA) ditempuh di SMKN 01 Padang Panjang
(2010–2013) dengan jurusan Administrasi Perkantoran. Pada tahun 2013 penulis
diterima di Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Program studi Agroteknologi
melalui jalur mahasiswa undangan.
Selama menempuh pendidikan SD, SMP, dan SMK penulis pernah aktif
dalam kegiatan seni tari, seni musik, dan seni bela diri. Selama kuliah di Fakultas
Pertanian Universitas Andalas, penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan
akademik, diantaranya: menjadi pengurus Himpunan Mahasiswa Agroteknologi
(HIMAGRETA) pada tahun 2013-2014, pengurus UKMF Komunitas Mahasiswa
Ilmiah Pertanian (KMIP) tahun 2014-2016 dan penulis pernah menjadi asisten
dosen di salah satu mata kuliah.

Padang, April 2018

M.W.S
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Keragaman Keturunan Sifat Cabai
Lotanbar Rangkai Enam Pada Generasi Ke-2 di Kecamatan Mungka Kabupaten
Lima Puluh Kota”. Selawat beserta salam penulis sampaikan kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai suri teladan dalam kehidupan.
Penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Ir.
Sutoyo, MS dan Ibu Dr. Ir. Etti Swasti, MS selaku pembimbing yang telah banyak
memberi nasihat, arahan dan masukan yang sangat penulis butuhkan dalam
penyelesaian skripsi ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada
Koordinator Program Studi Agroteknologi dan kepada semua pihak yang telah
ikut membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung dalam
penyelesaian skripsi ini. Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah
diberikan dengan pahala-Nya yang berlipat ganda.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun bagi pembaca
sekalian, serta dapat memberikan kontribusi dan manfaat bagi pembangunan
pertanian Indonesia ke depan.

Padang, April 2018

M.W.S
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................. vii
DAFTAR ISI ............................................................................................ viii
DAFTAR TABEL ................................................................................... x
DAFTAR GAMBAR ............................................................................... xi
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xii
ABSTRAK ............................................................................................... xiii
ABSTRACT ............................................................................................ xiv
BAB I PENDAHULUAN...................... ................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Tujuan Penelitian ........................................................................ 4
C. Manfaat Penelitian ...................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................. 5
A.Tanaman Cabai ............................................................................ 5
B. Pemuliaan Tanaman Cabai.......................................................... 8
C. Pembentukan Galur Murni .................................................... ..... 10
BAB III METODE PENELITIAN ....................................................... 13
A.Waktu dan Tempat ....................................................................... 13
B. Bahan dan Alat ............................................................................ 13
C. Metode Penelitian ....................................................................... 13
D. Pelaksanaan Penelitian ................................................................ 14
E. Pengamatan ................................................................................. 22
F. Analisis Data ............................................................................... 24
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ................................................ 25
A. Keragaman Jumlah Rangkai Dalam Satu Tanaman ................... 25
B. Jumlah Helai Mahkota Bunga ..................................................... 30
C. Panjang Buah ............................................................................. 32
D. Diameter Buah ............................................................................ 33
E. Umur Muncul Bunga dan Umur Panen ....................................... 34
F. Morfologi Buah .......................................................................... 37
G. Persentase Bunga Membentuk Buah................................ .......... 40
H. Masa Simpan Buah Segar ........................................................... 41
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .................................................. 44
A. Kesimpulan ................................................................................. 44
B. Saran............................................................................................ 44
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 45
LAMPIRAN ............................................................................................. 47
DAFTAR TABEL

Halaman
1. Jumlah nodus bunga berangkai cabai Lotanbar rangkai enam
generasi ke-2 pada masing-masing tanaman………………............ 25
2. Persentase pembentukan sifat rangkai tanaman cabai Lotanbar
rangkai enam pada generasi ke-2………………….......................... 27
3. Ragam jumlah buah cabai Lotanbar rangkai enam dalam satu
nodus pada generasi ke-2………….................................................. 29
4. Jumlah helai mahkota bunga cabai Lotanbar rangkai enam
generasi ke-2..................................................................................... 31
5. Panjang buah cabai Lotanbar sifat rangkai enam dan yang bukan
rangkai enam pada generasi ke-2...................................................... 32
6. Diameter buah cabai Lotanbar sifat rangkai enam dan yang bukan
rangkai enam pada generasi ke-2...................................................... 34
7. Umur muncul bunga dan umur panen tanaman cabai Lotanbar
rangkai enam pada generasi ke-2…………….................................. 35
8. Persentase bunga cabai Lotanbar rangkai enam dalam membentuk
buah pada generasi ke-2…................................................................ 40
9. Lama masa simpan buah segar cabai Lotanbar rangkai enam pada
generasi ke-2…................................................................................. 42
DAFTAR GAMBAR

Halaman
1. Segregasi satu gen tunggal pada sel diploid................................... 11
2. Skema seleksi galur murni cabai Lotanbar rangkai enam.............. 14
3. Pembuatan bedengan dan pemberian pupuk dasar untuk
penanaman cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2....... 15
4. Pemasangan mulsa plastik hitam perak untuk penanaman cabai
Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2.................................... 16
5. Benih hasil selfing cabai Lotanbar sifat rangkai enam pada
generasi ke-1 yang berasal dari Bapak Halim Antoni.................... 16
6. Penanaman benih dan penyungkupan gelas plastik transparan
pada tanaman cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2............ 17
7. Penyiraman pada tanaman cabai Lotanbar rangkai enam generasi
ke-2 setelah dibuka sungkup gelas plastik transparan.................... 18
8. Pupuk NPK Grower untuk pemupukan setelah tanam pada
tanaman cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2.................... 18
9. Pestisida Curacron untuk pengendalian hama dan penyakit
tanaman cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2........... 19
10. Perompelan pada tanaman cabai Lotanbar generasi ke-2.............. 19
11. Penyungkupan dengan kain kasa pada tanaman cabai Lotanbar
sifat rangkai enam tanaman nomor 21 dan nomor 17.................... 20
12. Pasca panen benih cabai Lotanbar generasi ke-2 yang
menunjukkan sifat rangkai enam untuk penanaman generasi
selanjutnya...................................................................................... 21
13. Perubahan warna buah cabai Lotanbar rangkai enam dari buah
muda ke buah masak pada generasi ke-2....................................... 30
14. Jumlah helai mahkota bunga cabai Lotanbar rangkai enam
generasi ke-2................................................................................... 31
15. Ragam bentuk buah cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi
ke-2................................................................................................. 37
16. Ragam pangkal buah cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi
ke-2................................................................................................. 38
17. Ragam ujung buah cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi
ke-2…............................................................................................. 39
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
1. Jadwal kegiatan penelitian................................................................ 48
2. Letak penanaman cabai Lotanbar..................................................... 49
3. Kebutuhan pupuk dasar pada tanaman cabai.................................... 50
4. Persentase bunga cabai Lotanbar membentuk buah......................... 52
5. Morfologi buah cabai........................................................................ 53
6. Tanaman cabai Lotanbar sifat rangkai enam yang berhasil
membentuk buah pada generasi ke-2................................................ 54
KERAGAMAN KETURUNAN SIFAT CABAI LOTANBAR
RANGKAI ENAM PADA GENERASI KE-2 DI KECAMATAN
MUNGKA KABUPATEN LIMA PULUH KOTA

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaman hasil seleksi benih dari
keturunan sifat rangkai enam cabai Lotanbar yang sedang dalam pemurnian pada
generasi ke-2. Penelitian dilaksanakan di Dusun Simpang Tigo Desa Talang Maur
Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota. Penelitian berlangsung dari
bulan Desember 2016 sampai April 2017. Penelitian ini menggunakan metode
non eksperimen dengan melakukan pengamatan secara langsung tanpa
menggunakan perlakuan terhadap aksesi-aksesi dalam populasi tanaman cabai
Lotanbar rangkai enam. Hasil pengamatan ditampilkan dalam bentuk tabel dan
gambar. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan persentase sifat
rangkai enam cabai Lotanbar dari generasi sebelumnya yaitu 5 % (n=20) menjadi
11,42 % (n=35). Jumlah helai mahkota bunga tanaman cabai sifat rangkai enam
dan rangkai empat berjumlah 6 helai pada nodus yang mengeluarkan bunga
rangkai enam dan rangkai empat, pada tanaman cabai yang bukan sifat rangkai
enam dan rangkai empat berjumlah 5 helai mahkota bunga. Karakter panjang buah
dan diameter buah memiliki nilai koefisien keragaman masing-masing yaitu 45,66
% dan 41,14 % (kriteria agak rendah). Umur muncul bunga dan umur panen cabai
Lotanbar sifat rangkai enam yaitu rata-rata 80 HST dan 135 HST, morfologi buah
cabai Lotanbar (bentuk buah), (pangkal buah), (ujung buah) hampir seragam, dan
buah cabai Lotanbar tetap segar sampai ± 7 hari setelah panen.

Kata kunci: keragaman, sifat rangkai, cabai Lotanbar, seragam


DIVERSITY OF SECOND GENERATION CHILI PEPPER
PLANTS BEARING SIX FRUIT PER NODE IN MUNGKA,
LIMA PULUH KOTA

Abstract

This research was conducted in Simpang Tigo, Mungka, Lima Puluh Kota
from December 2016 to April 2017. This study used direct observation without
any interventions. Data were presented in tables and pictures. There was an
increase in the percentage of plants bearing 6 fruit per node [11,42 % (n=35)
compared to 5 % (n=20) in the previous generation]. Plant producing 6 fruit per
node had six crown petals at those nodes whereas the other plants had just five
crown petals. The coefficients of diversity for fruit length and fruit diameter were
45,66 % and 41,16 % (criteria rather low). Flower emerged and fruits were
harvested 80 and 135 days after planting. Fruit shape including the base and tip
was almost uniform and the chili remained fresh for 7 days after harvest.

Keywords: diversity, nature of concatenation, chili Lotanbar, uniformity

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cabai (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu tanaman hortikultura


dari famili solanaceae yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tanaman ini
merupakan tanaman perdu. Buah cabai memiliki rasa pedas karena kandungan
capsaicin. Kandungan gizi yang terdapat dalam cabai adalah kalori, protein,
lemak, kalsium, vitamin A, B1 dan vitamin C. Umumnya, cabai dikonsumsi
dalam bentuk segar sebagai bumbu masakan, namun dapat juga dikeringkan
sehingga dapat disimpan lebih lama. Kebutuhan cabai terus meningkat setiap
tahun sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk dan berkembangnya industri
yang membutuhkan bahan baku cabai (Harpenas dan Dermawan, 2011).
Permintaan cabai menunjukkan indikasi yang semakin meningkat seiring
dengan pertumbuhan penduduk dan perkembangan industri berbahan baku cabai.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) (2016) produksi cabai tahun 2010 sebesar
4.241,50 ton, tahun 2011 produksi tanaman cabai sebesar 4.838,40 ton, tahun
2012 produksi tanaman cabai mengalami penurunan produksi menjadi 3.238,50
ton, tahun 2013 produksi tanaman cabai 3.349,00 ton, tahun 2014 produksi
tanaman cabai 3.520,90 ton, dan pada tahun 2015 produksi tanaman cabai
mengalami kenaikan dari tahun 2012, 2013 dan 2014 menjadi 3.748,50 ton, begitu
juga pada tahun 2016 produksi tanaman cabai meningkat dari tahun sebelumnya
menjadi 3.985,70 ton. Rendahnya produksi tanaman cabai mulai tahun 2012
sampai 2016 disebabkan karena kurangnya ketersediaan varietas benih yang
berkualitas dan bermutu dalam meningkatkan produksi tanaman cabai, serangan
hama dan penyakit serta teknologi budidaya dan pasca panen yang belum optimal.
Untuk memenuhi permintaan cabai yang semakin meningkat, berbagai
usaha dilakukan untuk meningkatkan produktivitas cabai. Salah satu alternatif
untuk meningkatkan produktivitas cabai adalah dengan melakukan perakitan
varietas unggul baru berdaya hasil dan berkualitas tinggi, penyediaan benih
bermutu serta penggunaan teknologi budidaya dan pasca panen yang tepat
(Karmana et al, 1990).
Benih bermutu dari varietas unggul merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi keberhasilan produksi, sehingga dengan perakitan varietas unggul
dapat meningkatkan produktivitas cabai. Tingkat keberhasilan suatu program
perbenihan ditentukan oleh keunggulan benih yang tersedia bagi konsumen.
Perbaikan karakter suatu tanaman tidak dapat diperbaiki jika tidak memiliki
keragaman genetik (Syukur, Arif, dan Sujiprihati, 2011).
Keragaman genetik merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh
terhadap keberhasilan usaha pemuliaan tanaman. Adanya keragaman genetik
dalam suatu populasi berarti terdapat variasi nilai genotipe antar individu dalam
populasi tersebut. Hal ini merupakan syarat agar seleksi pada populasi tersebut
berhasil seperti yang diharapkan (Karmana et al., 1990). Menciptakan sumber
keragaman dapat dilakukan dengan persilangan yang kemudian dilanjutkan
dengan proses seleksi. Pada tanaman menyerbuk sendiri, tetua yang masih
heterozigot akan menghasilkan turunan F1 yang beragam atau bersegregasi,
sedangkan tetua yang telah homozigot menghasilkan turunan F1 yang seragam
dan segregasi akan muncul pada generasi F2. Pada segregasi menandakan adanya
keragaman genetik yang perlu diseleksi dan dievaluasi. Bila tanaman F2 dibiarkan
menyerbuk sendiri maka proporsi tanaman yang heterozigot pada generasi F3
akan menurun. Penyerbukan sendiri akan terus menurunkan proporsi genotipe
heterozigot, sehingga pada generasi lanjut hampir seluruh lokusnya homozigot
(Tenaya, Setiamihardja, dan Natasasmita, 2001).
Hayati et al., (2012) menyatakan bahwa terdapat keragaman yang tinggi
pada jenis cabai yang digunakan oleh petani cabai di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Salah satu penyebab tingginya variasi jenis cabai adalah kebiasaan petani
menggunakan benih dari pertanaman sebelumnya, varietas cabai yang berbeda
ditanam dalam hamparan yang sama tanpa ada isolasi jarak antara satu dengan
yang lain. Dengan demikian peluang terjadinya penyerbukan silang pada cabai
akan semakin besar ketika petani menanam varietas cabai yang berbeda dalam
satu pertanaman secara berdekatan. Hal ini salah satu penyumbang terjadinya
keragaman pada genotipe cabai yang dihasilkan oleh petani cabai di Kabupaten
Lima Puluh Kota, sehingga ditemukan cabai yang dinamakan dengan cabai
Lotanbar (Lokal Talang Barangkai) pada Desa Talang Maur, Kecamatan Mungka.
Anwar et al., (2013) menyatakan bahwa petani di Kabupaten Lima Puluh
Kota telah menemukan cabai yang memiliki buah lebih dari satu pada beberapa
buku atau nodus yang dinamakan dengan cabai Lotanbar. Umumnya pada satu
nodus tanaman cabai terdapat satu buah, namun berbeda pada cabai yang
ditemukan oleh petani di Kecamatan Mungka, pada satu nodus ditemukan lebih
dari dua buah sampai enam buah cabai. Kelebihan cabai Lotanbar dari pada cabai
yang lainnya adalah cabai Lotanbar belum ada yang terkena penyakit kering buah
dan busuk buah, tidak berpengaruh apabila tanaman cabainya berdekatan dengan
cabai sakit, daya simpan cabai lebih lama, memiliki tingkat kepedasan tertentu,
serta hasil panen cabai Lotanbar lebih banyak dari pada cabai yang lain.
Tanaman cabai merupakan tanaman yang menyerbuk sendiri, tetapi
penyerbukan silang antar varietas secara alami di lapangan sangat mungkin
terjadi, sehingga dapat menghasilkan ras-ras cabai baru dengan sendirinya
(Cahyono, 2003). Untuk melakukan proses pemurnian tanaman cabai Lotanbar
sifat rangkai enam, maka dilakukan selfing untuk menghindari terjadinya
penyerbukan silang dengan tanaman cabai yang lainnya, salah satu caranya adalah
dengan melakukan penyungkupan. Penyungkupan dilakukan saat bunga belum
mekar (masih kuncup) sampai bunga menghasilkan buah yang ditandai dengan
gugurnya mahkota bunga. Penyungkupan pada tanaman cabai dilakukan dengan
cara menyungkupkan kain kasa pada satu individu tanaman yang mengeluarkan
rangkai enam. Hal ini karena pada satu individu tanaman memiliki sifat gen yang
sama sehingga walaupun diserbuki oleh bunga yang berbeda tetapi masih dalam
satu individu, tanaman tersebut tetap dikatakan melakukan selfing dan dapat
digunakan sebagai benih pada generasi selanjutnya (Widyawati, Yuliana, dan
Respatijarti, 2014).
Berdasarkan hasil diskusi langsung dengan Bapak Halim Antoni, cabai
Lotanbar awalnya tidak sengaja ditemukan pada lahan penanaman cabai milik
petani. Benih cabai Lotanbar berasal dari benih hasil penanaman sebelumnya yang
ditanam berdekatan dengan cabai varietas lain, sehingga menghasilkan variasi
baru dengan munculnya buah cabai rangkai enam yang terdapat pada satu
buku/nodus. Selanjutnya, untuk membuktikan adanya pengaruh genetik pada sifat
rangkai enam yang dihasilkan oleh cabai, maka dilakukan pemurnian dengan
melakukan penanaman dan selfing menggunakan sungkup kain kasa pada cabai
Lotanbar yang mengeluarkan sifat rangkai enam. Kemudian, untuk melihat
keragaman keturunan dari sifat rangkai enam, maka perlu dilakukan penanaman
dan pemurnian kembali pada generasi ke-2 untuk melihat bagaimana keragaman
keturunan dari benih sifat rangkai enam cabai Lotanbar yang ditanam dan
dilakukan selfing sebagai tahap dalam pemurnian tanaman cabai Lotanbar rangkai
enam untuk mengurangi tingkat keragaman pada benih cabai yang akan
digunakan untuk penanaman generasi selanjutnya.
Berdasarkan permasalahan pada latar belakang tersebut telah dilakukan
penelitian mengenai “Keragaman Keturunan Sifat Cabai Lotanbar Rangkai
Enam Pada Generasi Ke-2 di Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh
Kota” untuk melihat bagaimana keragaman dari tanaman cabai lokal yang
memiliki karakter unggul dan memperbaiki produksi tanaman cabai nasional
khususnya di Sumatera Barat yang berpotensi dikembangkan lebih lanjut melalui
program pemuliaan tanaman.

B. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat keragaman hasil seleksi
benih dari keturunan sifat rangkai enam cabai Lotanbar yang sedang dalam
pemurnian pada generasi ke-2.

C. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai sumber informasi bagi peneliti
mengenai tingkat kemurnian cabai Lotanbar sifat rangkai enam pada generasi ke-
2, dan diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat memberi sumbangan
pemikiran untuk pelaksanaan proses pemurnian cabai Lotanbar pada generasi
selanjutnya.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tanaman Cabai

Cabai (Capsicum annuum L.) adalah salah satu komoditas hortikultura


yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia dan merupakan tanaman perdu
dari famili solanaceae yang mudah ditanam di dataran rendah maupun di dataran
tinggi (Djarwaningsih, 2005). Cabai mengandung minyak atsiri capsaicin, yang
menyebabkan rasa pedas bila digunakan untuk rempah-rempah (bumbu dapur).
Zat aktif capsaicin berkhasiat sebagai stimulan, cabai juga mengandung mineral,
seperti zat besi, kalium, kalsium, dan fosfor serta banyak mengandung vitamin A
dan vitamin C (Harpenas dan Dermawan, 2011).
Jumlah spesies tanaman cabai yaitu sekitar 20 spesies, namun spesies
tanaman cabai yang paling banyak dibudidayakan yaitu cabai rawit, cabai besar,
paprika, dan cabai keriting (Anggraeni dan Fadlil, 2013).
Menurut Tarigan dan Wiryanta (2003) secara umum tanaman cabai dapat
diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Sub Kelas : Sympetalea
Ordo : Tubiflorae
Famili : Solanaceae
Genus : Capsicum
Spesies : Capsicum annuum L.

Tanaman cabai mempunyai bagian-bagian tanaman seperti akar, batang,


daun, bunga, buah dan biji. Cabai adalah tanaman semusim yang berbentuk perdu
dengan perakaran akar tunggang. Batang utama cabai tegak dan pangkalnya
berkayu dengan panjang 20-28 cm dan diameter 1,5-2,5 cm. Batang percabangan
berwarna hijau dengan panjang mencapai 5-7 cm. Percabangan bersifat dikotomi
atau menggarpu, tumbuhnya cabang beraturan secara berkesinambungan. Helaian
daun berbentuk bulat telur sampai elips, ujung runcing, pangkal meruncing, tepi
rata, pertulangan menyirip, panjang 1,5-12 cm, lebar 1-5 cm, berwarna hijau.
Cabai berbunga sempurna dengan benang sari yang lepas tidak berlekatan, terdiri
dari 5-6 buah tangkai sari dengan kepala sari lonjong berwarna biru keunguan,
disebut berbunga sempurna karena terdiri atas tangkai bunga, dasar bunga,
kelopak bunga, mahkota bunga, alat kelamin jantan dan alat kelamin betina.
Bunga cabai disebut juga hermaprodit (mempunyai putik dan polen pada satu
bunga atau berkelamin dua) dan kasmogami (penyerbukan terjadi setelah bunga
mekar). Bunga cabai cenderung berkarakter protogini (protogyny) dan tepung sari
keluar dari kotak sari pada saat bunga mekar (Kusandriani dan Permadi, 1996).
Sedangkan, buah cabai termasuk dalam buah buni berbiji banyak yang berbentuk
kerucut memanjang, lurus atau bengkok, meruncing pada bagian ujungnya,
menggantung, permukaan licin, diameter 1-2 cm, panjang 4-17 cm, bertangkai
pendek, rasanya pedas. Buah muda berwarna hijau tua, setelah masak menjadi
merah cerah. Sedangkan untuk biji yang masih muda berwarna kuning, setelah tua
menjadi cokelat, berbentuk pipih, berdiameter sekitar 4 mm. Berat 1000 biji
kering berkisar antara 3-6 gram (Hewindati dan Yuni, 2006).
Cabai merupakan tanaman menyerbuk sendiri namun masih dapat terjadi
persilangan secara alami. Menurut Pickersgill (1997) dalam kondisi tertentu
tanaman cabai dapat mengalami persilangan terbuka tergantung pada lokasi,
kondisi lingkungan, dan jarak antar tanaman. Dengan demikian peluang terjadinya
penyerbukan silang pada cabai akan semakin besar ketika petani menanam
varietas cabai yang berbeda dalam satu pertanaman secara berdekatan. Maka
untuk menghindari terjadinya persilangan antar varietas di lapangan maka perlu
dilakukan isolasi terhadap tanaman cabai seperti isolasi jarak, isolasi tempat dan
isolasi waktu tanam. Salah satu isolasi yang dapat dilakukan yaitu dengan selfing
melalui penyungkupan kain kasa yang ditutup pada semua bagian tanaman cabai
(Widyawati, Yuliana, dan Respatijarti, 2014).
Kusandriani dan Permadi (1996) menyatakan bahwa antara kultivar-
kultivar cabai terdapat perbedaan ukuran dan posisi kepala putik terhadap kotak
sari. Pada bunga yang kepala putiknya lebih tinggi dari kotak sari akan terjadi
penyerbukan silang. Pada bunga yang letak kepala putiknya lebih rendah dari
kotak sari akan terjadi penyerbukan sendiri. Hal ini yang menyebabkan tanaman
cabai pada kultivar tertentu dapat mengadakan penyerbukan sendiri dan pada
kultivar lainnya terjadi penyerbukan silang. Tanaman cabai yang masih
bersegregasi dimurnikan melalui proses penyerbukan sendiri dengan cara
menutup setiap bunga yang belum mekar, agar tidak terjadi penyerbukan silang
dengan tepung sari dari bunga tanaman lain.
Adapun syarat tumbuh dari tanaman cabai adalah:
1. Tanah
Tanah yang sesuai untuk menanam cabai merah adalah tanah yang subur,
kaya bahan organik, tanah yang bertekstur remah dan tanah gembur. Tetapi,
tanaman cabai masih dapat ditanam di tanah lempung (berat), tanah agak liat,
maupun tanah hitam (Setiadi, 1999).
Sutarya dan Grubben (1995) menyatakan bahwa tanaman cabai merah
dapat ditanam di dataran rendah (suhu tinggi) maupun di daerah dataran tinggi
(suhu rendah) sampai pada ketinggian 1400 mdpl, tetapi pertumbuhan yang terjadi
di dataran rendah lebih cepat.
2. Suhu
Suhu yang baik untuk tanaman cabai berkisar antara 21-28 °C. Suhu
harian yang terlalu terik (di atas 32 °C) menyebabkan tepung sari tidak berfungsi,
sehingga produksi rendah. Jika suhu malam tinggi, dapat menyebabkan
pembentukan buah rendah. waktu berbunga, suhunya turun di bawah 15 °C,
pembuahan dan pembijiannya dapat terganggu (Sunaryono, 1999).
3. Kelembaban
Kelembaban udara yang terlalu rendah akan mengurangi produksi cabai.
Tanaman cabai tumbuh dengan baik di daerah yang mempunyai kelembaban
tinggi sampai sedang. Kelembaban yang rendah dan suhu yang tinggi
menyebabkan penguapan tinggi, sehingga tanaman akan kekurangan air.
Akibatnya kuncup buah dan bunga yang masih kecil banyak gugur (Pracaya,
1995).
4. Curah hujan
Tanaman cabai lebih senang tumbuh di daerah yang tipe iklimnya lembab
sampai agak lembab, tidak suka curah hujan yang lebat, tetapi pada stadia tertentu
perlu banyak air. Pada musim hujan tanaman mudah stres atau mengalami
tekanan, sehingga bunga sedikit dan banyak bunga yang tidak mampu menjadi
buah, serta bunga jadi mudah gugur karena tekanan atau pukulan air hujan yang
lebat. Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman cabai merah adalah ±
600-1200 mm/tahun. Bila waktu berbunga, tanaman kekurangan air, maka akan
banyak bunga yang gugur dan tidak mampu menjadi buah (Sunaryono, 1999).
Keberhasilan produksi cabai merah sangat dipengaruhi oleh kualitas benih
yang dapat dicerminkan oleh tingginya produksi, ketahanan terhadap hama dan
penyakit serta tingkat adaptasi iklim. Untuk mendapatkan benih dengan tingkat
kemurnian dan mutu yang tinggi, maka seleksi juga dilakukan terhadap tanaman
dengan kriteria tanaman sumber benih harus sehat, berbuah lebat, serta bebas
hama, dan penyakit. Mutu fisiologis berkaitan dengan waktu panen benih. Panen
yang dilakukan sebelum buah mengalami masak fisiologis akan menghasilkan
benih yang kurang bermutu. Dengan demikian, waktu panen buah yang tepat
sangat berpengaruh untuk memperoleh mutu benih awal yang tinggi dan umur
simpan benih yang lebih panjang (Tjahjadi, 1991).

B. Pemuliaan Tanaman Cabai

Pemuliaan tanaman (plant breeding) merupakan perpaduan antara seni


(art) dan ilmu (science) dalam merakit keragaman genetik suatu populasi tanaman
tertentu menjadi bentuk tanaman baru yang lebih baik atau unggul dari
sebelumnya. Kegiatan pemuliaan tanaman merupakan serangkaian kegiatan yang
saling berkaitan, pada prinsipnya adalah merakit jenis tanaman baru yang berdaya
hasil tinggi, mengembangkan varietas yang lebih baik untuk lahan pertanian baru,
mengembangkan varietas baru yang tahan terhadap hama dan penyakit, perbaikan
karakter agronomi dan hortikultura tanaman serta peningkatan kualitas hasil
tanaman. Seleksi yang artinya memilih, dilakukan pada setiap tahap program
pemuliaan, seperti memilih plasma nutfah yang akan dijadikan tetua, memilih
metode pemuliaan yang tepat, memilih genotipe yang akan diuji, memilih metode
pengujian yang tepat, dan memilih galur yang akan dilepas sebagai varietas
(Syukur, Sujiprihati, dan Yunianti, 2015).
Salah satu cara peningkatan produktivitas cabai adalah dengan perbaikan
potensi genetik melalui pembentukan varietas unggul, yaitu dengan pemuliaan
tanaman. Pemuliaan tanaman cabai membutuhkan keragaman genetik dan cara
yang sesuai untuk memindahkan suatu karakter dari suatu individu tanaman ke
individu tanaman lainnya. Dalam metode pemuliaan tanaman cabai, seleksi yang
digunakan untuk tanaman cabai adalah seleksi massa, seleksi galur murni, dan
seleksi silsilah (pedigree), karena cabai merupakan tanaman menyerbuk sendiri
(self pollinated crop). Seleksi awal dilakukan pada populasi yang beragam,
dengan cara memilih tanaman yang dikehendaki. Tanaman-tanaman yang telah
diseleksi secara individu, dipelihara sampai berbuah dan diambil bijinya. Biji-biji
tersebut ditanam dalam barisan tersendiri, kemudian dilakukan lagi seleksi
individu (Duriat, 1996).
Keragaman genetik yang luas merupakan salah satu syarat seleksi yang
efektif, karena akan memberikan kemudahan dalam proses pemilihan suatu
genotipe. Karakter yang memiliki keragaman genetik luas akan memiliki
keragaman fenotipe luas. Karakter yang memiliki keragaman genetik yang sempit
belum tentu memiliki keragaman fenotipe yang sempit. Hal ini disebabkan karena
keragaman fenotipe dipengaruhi oleh keragaman genetik dan lingkungan. Seleksi
yang dilakukan pada tanaman menyerbuk sendiri ada dua macam, yaitu seleksi
galur murni dan seleksi massa. Bahan seleksi galur murni adalah populasi yang
memang sudah mempunyai tanaman-tanaman homozigot. Seleksi galur murni
ditentukan oleh penampilan tanaman tersebut. Seleksi galur murni dilakukan
dengan menanam individu-individu terbaik secara terpisah (Syukur et al., 2007).
Menurut Syukur et al., (2007) salah satu komponen penting keberhasilan
program seleksi dalam program pemuliaan adalah keragaman genetik. Keragaman
genetik yang luas untuk beberapa karakter pada populasi disebabkan oleh latar
belakang genetik populasi yang berbeda. Keragaman genetik suatu populasi
tergantung pada populasi tersebut merupakan generasi bersegregasi dari suatu
persilangan, pada generasi ke berapa dan bagaimana latar belakang genetiknya.
Salah satu keragaman genetik pada tanaman cabai yaitu ditemukan cabai
Lotanbar yang memiliki buah rangkai enam pada buku/nodus oleh petani yang
berada di Kecamatan Mungka Kabupaten Lima Puluh Kota. Selanjutnya untuk
membuktikan adanya pengaruh genetik pada sifat rangkai enam yang dihasilkan
oleh cabai, maka dilakukan pemurnian dengan cara melakukan penanaman dan
selfing. Proses pemurnian pada tanaman cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-
2 dilakukan dengan cara selfing menggunakan kain kasa sebagai penyungkup
dengan tujuan mendapatkan benih cabai Lotanbar sifat rangkai enam untuk
penanaman pada generasi selanjutnya.

C. Pembentukan Galur Murni

Pembentukan galur murni pada tanaman cabai Lotanbar rangkai enam


dilakukan dengan cara seleksi. Seleksi yang dilakukan adalah berdasarkan kriteria
sifat yang dikehendaki. Nomor-nomor terseleksi yang masih bersegregasi
dimurnikan melalui proses penyerbukan sendiri dengan cara menutup setiap
bunga yang belum mekar, agar tidak tersilang dengan tepung sari dari bunga
tanaman lain. Penyerbukan sendiri dilakukan beberapa generasi sampai populasi
galur mencapai kemurnian mendekati 100 %.
Seleksi galur murni memberi kesempatan bagi famili/galur (barisan)
untuk memperlihatkan struktur tertentu, apakah sudah homozigot atau masih
heterozigot (satu famili berasal dari satu tanaman). Keragaman dalam famili
seharusnya lebih kecil dibandingkan dengan antar famili. Jika terjadi keragaman
dalam famili maka keragaman ini disebabkan oleh lingkungan. Seleksi galur
murni bisa menghasilkan lebih dari satu varietas. Satu varietas tidak selalu terdiri
atas satu galur. Akan tetapi, dapat juga terdiri atas beberapa galur murni. Misalkan
dari segi daya hasil, semua galur sama, tetapi mempunyai ketahanan yang berbeda
terhadap berbagai penyakit (Syukur, Sujiprihati, dan Yunianti, 2015).
Proses dalam pembentukan galur murni adalah pemilihan tanaman untuk
tetua. Seleksi dilaksanakan pada generasi awal (F2) dengan tingkat keragaman
yang tinggi. Seleksi awal dilakukan terhadap individu berdasarkan fenotipe yang
kemudian ditanam dalam barisan, seleksi dilakukan berulang terhadap individu
terbaik sampai tercapai tingkat homozigot yang dikehendaki. Generasi F3
merupakan generasi penting, pada generasi ini dapat diketahui terjadinya
segregasi apabila tanaman F2 yang dipilih ternyata heterozigot. Seleksi tetap
dilakukan secara individu, tanaman yang dipilih adalah tanaman terbaik pada
barisan yang tanamannya lebih seragam. Jumlah tanaman yang dipilih tidak lebih
banyak daripada jumlah famili. Jarak tanam, lingkungan mikro dan interaksi
genotipe dengan musim dapat mempengaruhi efektivitas seleksi individu pada
generasi F2 dan F3 (Syukur, Sujiprihati, dan Yunianti, 2015).
Umumnya untuk memperoleh tanaman homozigot dilakukan penyerbukan
sendiri, dan diseleksi tiap-tiap generasi sampai didapatkan persentase homozigot
yang tinggi seperti yang tertera pada Gambar 1. Banyak generasi yang diperlukan
untuk mencapai galur homozigot tergantung pada tingkat heterozigot dari tanaman
yang diseleksi. Apabila telah diperoleh galur-galur yang homozigot, maka
dilakukan persilangan untuk menentukan galur-galur yang memiliki daya gabung
umum dan daya gabung khusus yang baik. Kemudian, dapat ditentukan
kombinasi-kombinasi persilangan yang menghasilkan hibrida F1 yang terbaik.

Tetua Tetua I AA x aa Tetua II

Turunan F1 Aa

Turunan F2 ¼ AA ½ Aa ¼ aa

Turunan F3 3/8 AA ¼ Aa 3/8 aa

Turunan F4 7/16 AA 1/8 Aa 7/16 aa


Keterangan: frekuensi yang digambarkan pada samping kiri setiap simbol alel
pada masing-masing generasi adalah frekuensi kumulatif pada setiap
generasi hasil silang sendiri
Gambar 1. Segregasi satu gen tunggal pada sel diploid (Jamsari, 2008)

Prinsip segregasi oleh Mendel yang disebut dengan pola pewarisan


Mendel I mengemukakan adanya akumulasi alel-alel homozigot. Pada keturunan
F2 frekuensi kombinasi alel homozigot AA dan aa memiliki jumlah 50 % (2/4),
sebanding dengan frekuensi kombinasi alel heterozigot AA sebesar 50 % (2/4).
Selanjutnya pada keturunan F3, yang dihasilkan dari persilangan sendiri individu
Aa, akan menghasilkan frekuensi individu yang sama dengan persilangan F2,
sehingga pada populasi tersebut terjadi peningkatan frekuensi individu dengan
kombinasi alel AA dan aa sebesar 25 % menjadi 75 % (6/8) (Jamsari, 2008).
Tanaman menyerbuk sendiri mengalami segregasi tertinggi pada generasi
F2. Tingkat segregasi dan rekombinan yang luas akan tergambar melalui sebaran
frekuensi genotipe pada generasi F2 (Crowder, 1997). Karakter yang dikendalikan
oleh satu atau sedikit gen memiliki pengaruh gen yang secara mudah dikenali,
yang disebut dengan karakter kualitatif. Karakter yang dikendalikan oleh banyak
gen yang masing-masing gen berpengaruh kecil terhadap ekspresi suatu karakter
disebut karakter kuantitatif (Trustinah, 1997).
Proses pemurnian tanaman cabai Lotanbar sifat rangkai enam pada
generasi ke-2 menggunakan proses selfing untuk menghindari terjadinya
penyerbukan silang dengan tanaman cabai yang lain, salah satu caranya adalah
dengan melakukan penyungkupan. Penyungkupan dilakukan saat bunga belum
mekar (masih kuncup) sampai bunga menghasilkan buah yang ditandai dengan
gugurnya mahkota bunga. Penyungkupan pada tanaman cabai dilakukan dengan
cara menyungkupkan kain kasa pada satu individu tanaman cabai yang
mengeluarkan sifat rangkai enam. Hal ini karena pada satu individu tanaman
memiliki sifat gen yang sama sehingga walaupun diserbuki oleh bunga yang
berbeda tetapi masih dalam satu individu, tanaman tersebut masih tetap dikatakan
melakukan selfing dan dapat dijadikan sebagai benih pada generasi selanjutnya.
BAB III METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini sudah dilaksanakan pada bulan Desember 2016 - April 2017.
Tempat penelitian dilaksanakan di Desa Talang Maur Kecamatan Mungka
Kabupaten Lima Puluh Kota. Jadwal kegiatan dapat dilihat pada Lampiran 1.

B. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan adalah benih cabai Lotanbar rangkai enam yang
berasal dari Kabupaten Lima Puluh Kota (benih dari Bapak Halim Antoni), pupuk
sintetik (Urea, SP-36, KCl, ZA), pupuk NPK Grower 1 kg, pupuk kandang ayam
36 kg, pestisida Curacron dengan kandungan bahan aktif (triazofos 200 g/l,
piridaben 135 g/l, imidakloprid 100 g/l, chlorothalonil 75 %, bayfolan), stick
(perata) 20 ml, mulsa plastik hitam perak, pancang bambu/ajir, label dan plastik.
Kemudian alat yang digunakan yaitu cangkul, kain kasa sebagai penyungkup,
gelas plastik transparan dengan ukuran tinggi 14 cm diameter alas 9 cm untuk
penyungkupan tanaman cabai umur ± 20 hari, alat dokumentasi, dan alat tulis.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimen dengan melakukan


pengamatan secara langsung tanpa menggunakan perlakuan terhadap aksesi-aksesi
dalam populasi tanaman cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2. Hasil
pengamatan dibuat dalam bentuk tabel dan menampilkan foto pengamatan.
Benih cabai Lotanbar rangkai enam dari penanaman generasi ke-1 yang
menunjukkan sifat rangkai enam ditanam pada generasi ke-2. Seleksi dilakukan
pada individu-individu tanaman F2 yang menunjukkan sifat rangkai enam untuk
mendapatkan tanaman yang homozigot melalui proses seleksi galur murni.
Tanaman cabai Lotanbar yang menunjukkan sifat rangkai enam dipisahkan
dengan tanaman cabai Lotanbar yang bukan rangkai enam, dengan melakukan
selfing melalui penyungkupan menggunakan kain kasa untuk cabai Lotanbar yang
menunjukkan sifat rangkai enam. Proses seleksi galur murni cabai Lotanbar
rangkai enam dapat dilihat pada Gambar 2.
Seleksi

F1 vVvVvvV Seleksi individu


Vv v vvVv

vvvvvvvv
v vvv v vv v v vvv v
F2 Seleksi individu
v vvv v vVvvv vvv v
V v V v V
v V v
v v
v
v
v v v v v
F3 v v v v v Seleksi individu
v V v V v
V v V V v

F4 v V V VVV vVV v v v VVV Seleksi famili


VVV Vv V VVv v v v V V v
v v v v v vv v v v v vv v v vv
vv v v vvvv vv v v v v v vvvv
F5 v v vv vv v v v v vv v vv vvUjivdaya
v hasil pendahuluan
vvvv vvvv v v v v v v vvvv
F6 vvvv vvvv v v v v v v v Uji
v vdaya
v hasil lanjutan
v v v v vv v v v v v v v vv
vv vv v v v v
F7 v v Uji multilokasi

Pelepasan Varietas

Keterangan: V = Individu terseleksi


v = Individu yang tidak terseleksi
= Jalur seleksi galur murni
Gambar 2. Skema seleksi galur murni cabai Lotanbar rangkai enam

D. Pelaksanaan

1. Persiapan Media Tanam dan Pupuk Dasar

Lahan yang digunakan untuk penanaman cabai Lotanbar rangkai enam


generasi ke-2 sebelum dibuat bedengan, terlebih dahulu dibersihkan dari gulma
dengan menggunakan cangkul. Setelah lahan bersih dibuat bedengan berukuran 6
m x 1 m sebanyak tiga bedengan dengan tinggi bedengan 30 cm dan jarak antar
bedengan 1m, satu bedengan ada 20 lubang tanam, jumlah semuanya sebanyak 60
lubang tanam, dapat dilihat pada Lampiran 2. Setelah bedengan terbentuk
diberikan pupuk kandang ayam sebanyak 12 kg per bedengan sehingga semua
pupuk kandang ayam berjumlah 36 kg, dan dicampur rata bersama tanah
bedengan dengan menggunakan cangkul, selanjutnya dibiarkan terbuka ± 3 hari,
dapat dilihat pada Gambar 3. Kemudian diberi pupuk dasar dengan dosis
perhitungan yang dapat dilihat pada Lampiran 3 yaitu sebanyak 0,12 kg Urea per
bedengan, 0,09 kg SP-36 per bedengan, KCl 0,09 kg per bedengan, dan ZA 0,06
kg pada masing-masing bedengan.

Gambar 3. Pembuatan bedengan dan pemberian pupuk dasar untuk penanaman


cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2

2. Pemasangan Mulsa

Pemasangan mulsa pada tanaman cabai Lotanbar rangkai enam generasi


ke-2 dilakukan setelah pemberian pupuk dasar sintetis. Mulsa yang digunakan
adalah mulsa plastik hitam perak yang berfungsi untuk menghilangkan hama,
menghambat pertumbuhan gulma dan mempercepat masa pembungaan. Mulsa
dipotong dengan ukuran kurang dari panjang bedengan, kemudian ujung mulsa
diberi bambu yang berbentuk kait sebagai penguatnya, dipasang pada salah satu
ujung bedengan dan ujung mulsa lainnya ditarik perlahan sampai menutupi ujung
bedengan, kemudian dikuatkan dengan menggunakan pancang bambu. Waktu
pemasangan mulsa dilakukan pada siang hari supaya pemasangan mulsa lebih
mudah dan kuat. Setelah mulsa dipasang, dibiarkan selama 5 hari, kemudian
mulsa yang berada pada bedengan diberi lubang tanam dengan jarak tanam 50 cm
x 35 cm menggunakan kaleng yang diisi bara panas. Setelah itu dibiarkan 2 hari
sebelum dilakukan penanaman. Proses pemasangan mulsa dapat dilihat pada
Gambar 4.
Gambar 4. Pemasangan mulsa plastik hitam perak untuk penanaman cabai
Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2

3. Persiapan Benih

Benih yang digunakan adalah benih hasil selfing cabai Lotanbar yang
menunjukkan sifat rangkai enam pada generasi ke-1, dapat dilihat pada Gambar 5.
Benih diambil dengan cara memetik tanaman cabai Lotanbar yang menunjukkan
sifat rangkai enam pada saat cabai masak fisiologis, kemudian biji pada buah
cabai Lotanbar yang menunjukkan sifat rangkai enam dijadikan benih untuk
penanaman pada generasi ke-2. Pemilihan benih cabai Lotanbar rangkai enam
dilakukan dengan memisahkan antara biji yang bernas dan hampa, memilih benih
yang baik serta tidak berwarna hitam, jika benih sudah berwarna hitam maka
benih sudah dalam keadaan tidak dapat tumbuh, serta telah terserang oleh jamur.

Gambar 5. Benih hasil selfing cabai Lotanbar sifat rangkai enam pada generasi
ke-1 yang berasal dari Bapak Halim Antoni

4. Penanaman Benih

Penanaman benih dilakukan dengan cara benih langsung ditanam di


lubang tanam pada bedengan dengan cara sedikit ditekan menggunakan tangan
dengan kedalaman ± 1 cm pada tanah, dapat dilihat pada Gambar 6. Kemudian
dimasukkan benih 3 biji dalam satu lubang tanam dan ditutup dengan tanah.
Setelah benih ditanam 5-7 hari, kemudian disungkup selama ± 20 hari dengan
menggunakan gelas plastik transparan berukuran tinggi 14 cm diameter alas 9 cm
yang berfungsi untuk menghindari tanaman cabai dari gangguan lingkungan,
seperti gangguan hama.

14 HST

Gambar 6. Penanaman benih dan penyungkupan gelas plastik transparan pada


tanaman cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2

5. Pemasangan Label dan Ajir

Pemasangan label dilakukan saat bunga cabai yang mengeluarkan sifat


rangkai enam muncul. Pemasangan label berguna untuk melihat setiap tanaman
cabai yang mengeluarkan sifat rangkai enam yang diamati. Sedangkan ajir
dipasang pada masing-masing tanaman cabai yaitu pada saat tanaman cabai sudah
berumur ± 30 hari yaitu setelah sungkupan gelas plastik transparan dibuka.
Panjang ajir yang digunakan adalah 80 cm yang berfungsi untuk menopang
tanaman cabai.

6. Pemeliharaan

a. Penyiraman

Penyiraman dilakukan setelah sungkupan gelas plastik transparan pada


cabai Lotanbar rangkai enam dibuka, dapat dilihat pada Gambar 7. Penyiraman
dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari saat cuaca dalam keadaan
cerah. Jika cuaca hujan, penyiraman dilakukan mengikuti kondisi tanah. Hal ini
dilakukan karena kebutuhan air untuk tanaman berada pada gelas plastik
transparan yang berasal dari proses evaporasi sehingga tidak perlu disiram.
Gambar 7. Penyiraman pada tanaman cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2
setelah dibuka sungkup gelas plastik transparan

b. Pemupukan setelah tanam

Pemupukan setelah tanam dilakukan setelah membuka sungkupan gelas


plastik transparan. Pupuk yang digunakan adalah pupuk NPK Grower 15 : 9 : 20
sebanyak 1 kg, dapat dilihat pada Gambar 8. Pupuk NPK Grower diambil
sebanyak 1 kg dan dilarutkan ke dalam ± 40 liter air. Kemudian diaplikasikan
pada tanaman cabai dengan cara menyiramkan pupuk yang sudah dilarutkan ke
lubang tanam sebanyak 200 cc per lubang tanam. Pemberian pupuk dilakukan
1x15 hari dengan dosis yang sama sampai cabai Lotanbar rangkai enam berbuah.

Gambar 8. Pupuk NPK Grower untuk pemupukan setelah tanam pada tanaman
cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2

c. Penyiangan

Penyiangan dilakukan pada sekitar lubang tanam yang berfungsi untuk


membersihkan areal sekitar tanaman cabai dari gulma supaya pertumbuhan cabai
tidak terganggu karena persaingan penyerapan unsur hara dengan gulma, sehingga
dapat meningkatkan daya hasil dari tanaman cabai. Penyiangan dilakukan
minimal satu kali dalam 1 minggu.
d. Pengendalian hama dan penyakit

Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman cabai Lotanbar dilakukan


pertama kali saat sungkup gelas plastik transparan dibuka. Pada umur 30, 40, 47
hari dilakukan penyemprotan dengan pestisida Curacron yang memiliki
kandungan bahan aktif (triazofos 200 g/l, piridaben 135 g/l, imidakloprid 100 g/l,
chlorothalonil 75 %, bayfolan), dan stick (perata) 20 ml, dapat dilihat pada
Gambar 9. Pestisida Curacron 250 ml dicampur dengan air sebanyak 15 liter,
kemudian dilakukan penyemprotan pada tanaman cabai. Pada saat tanaman cabai
berumur 50, 71, 105, 120 dilakukan lagi penyemprotan dengan pestisida yang
sama, dengan meningkatkan 1/3 dosis pestisida yang digunakan.

Gambar 9. Pestisida Curacron untuk pengendalian hama dan penyakit tanaman


cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2

e. Perompelan

Perompelan yaitu membuang tunas-tunas air yang keluar dari batang cabai
dan membuang daun, bertujuan untuk meningkatkan kualitas produksi tanaman
cabai, dapat dilihat pada Gambar 10. Perompelan dilakukan sebanyak dua kali.
Perompelan pertama dilakukan saat bunga pertama cabai muncul, cabang di
bawah dikotom pertama dibuang menggunakan tangan dengan menyisakan dua
daun, setelah terbentuk buah dilakukan perompelan kedua dengan membuang
semua daun dan cabang yang tumbuh di bawah dikotom.

45 HST 45 HST

Gambar 10. Perompelan pada tanaman cabai Lotanbar generasi ke-2


7. Selfing

Selfing merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam


pemurnian benih dan bertujuan untuk mendapatkan benih generasi selanjutnya
yang bisa diamati tingkat segregasinya. Selfing pada tanaman cabai Lotanbar yang
bersifat rangkai enam, dilakukan melalui penyungkupan menggunakan kain kasa
yang berguna untuk menghindari terjadinya penyerbukan silang dengan tanaman
cabai yang lain. Penyungkupan pada tanaman cabai dilakukan dengan cara
menyungkupkan kain kasa pada satu individu tanaman yang mengeluarkan
rangkai enam. Hal ini karena pada satu individu tanaman memiliki sifat gen yang
sama sehingga walaupun diserbuki oleh bunga yang berbeda tetapi masih dalam
satu individu, tanaman tersebut masih dikatakan melakukan selfing.
Penyungkupan dilakukan pada tanaman-tanaman yang mengeluarkan sifat
rangkai enam, kuncup bunga pada tanaman yang menunjukkan sifat rangkai enam
ditandai dengan menggunakan tali, yang ditandai adalah bunga yang masih
kuncup (belum mekar), kemudian tanaman cabai disungkup agar tidak terjadi
penyerbukan silang. Setelah ditandai dan disungkup, ditunggu ± 10 hari sampai
terbentuknya buah yang ditandai dengan gugurnya mahkota bunga, kemudian
sungkup kain kasa dibuka, selanjutnya dilakukan pemeliharaan sampai buah cabai
masak fisiologis atau berwarna merah. Apabila bunga yang ditandai untuk
dijadikan benih generasi selanjutnya tidak berhasil membentuk buah atau gugur,
maka dilakukan pemilihan benih dari bunga lain yang bersifat rangkai enam pada
tanaman yang sama. Cara penyungkupan yaitu menyungkup satu pohon tanaman
cabai sampai tertutup semua dengan sungkup kain kasa yang berbentuk persegi,
dapat dilihat pada Gambar 11.

79 HST 83 HST

Gambar 11. Penyungkupan dengan kain kasa pada tanaman cabai Lotanbar sifat
rangkai enam tanaman nomor 21 dan nomor 17
8. Panen

Pemanenan dilakukan pada tanaman cabai setelah cabai masak fisiologis


yaitu saat cabai sudah berwarna merah penuh, hal ini bertujuan untuk
mendapatkan mutu benih yang baik pada generasi selanjutnya. Buah cabai yang
dipanen untuk dijadikan benih pada penanaman generasi selanjutnya adalah buah
cabai yang menunjukkan sifat rangkai enam yang telah dilakukan proses selfing.
Sedangkan pada bunga yang tidak mengeluarkan sifat rangkai enam tidak
dilakukan penyungkupan, dipanen seperti panen yang dilakukan petani yaitu saat
warna buah cabai berwarna merah ± 80 %. Cara pemanenan cabai dilakukan
dengan memetik buah bersama tangkainya secara hati-hati pada pagi hari setelah
embun atau air habis dari permukaan kulit buah.

9. Pasca Panen

Pada proses pasca panen, benih cabai Lotanbar rangkai enam dirontokkan
secara manual menggunakan pisau dan dipisahkan antara biji dengan daging buah.
Kemudian, benih dibersihkan dengan air mengalir. Setelah itu benih dikering
anginkan di ruang pengering dengan suhu 34 oC selama ± 5-6 hari. Setelah
pengeringan dilakukan sortasi benih, yaitu pemilihan benih yang berukuran
normal dan bernas. Selanjutnya benih cabai Lotanbar rangkai enam untuk
penanaman generasi selanjutnya disimpan per individu tanaman dalam aluminium
foil/kantong plastik dan ditutup rapat, dapat dilihat pada Gambar 12.

Gambar 12. Pasca panen benih cabai Lotanbar generasi ke-2 yang menunjukkan
sifat rangkai enam untuk penanaman generasi selanjutnya
E. Pengamatan

1. Keragaman Jumlah Rangkai Dalam Satu Tanaman

Pengamatan terhadap keragaman jumlah rangkai dalam satu tanaman


dilakukan saat mulai muncul bunga pertama yaitu bunga masih dalam keadaan
belum mekar (kuncup) namun sudah terlihat mahkota bunga sampai fase
pembungaan selesai. Pengamatan dilakukan dengan mengamati keseluruhan
aksesi secara langsung pada setiap tanaman cabai serta menghitung jumlah nodus
cabai Lotanbar generasi ke-2 yang membentuk sifat rangkai pada masing-masing
tanaman untuk melihat sifat rangkai yang muncul dalam satu tanaman cabai,
sehingga dapat dilihat berapa persentase tanaman cabai yang mengeluarkan sifat
rangkai enam pada generasi ke-2. Tujuan untuk melihat persentase berapa
tanaman yang mengeluarkan sifat rangkai enam pada generasi ke-2 ini adalah
sebagai informasi bagi peneliti selanjutnya untuk melihat ada atau tidaknya
peningkatan cabai yang mengeluarkan sifat rangkai enam dan melakukan proses
pemurnian cabai Lotanbar rangkai enam pada penanaman generasi selanjutnya.

2. Jumlah Helai Mahkota Bunga

Pengamatan terhadap jumlah helai mahkota bunga dilakukan pada awal


munculnya bunga sampai fase pembungaan selesai yang menunjukkan bunga sifat
rangkai enam maupun yang bukan sifat rangkai enam. Pengamatan ini dilakukan
secara visual yaitu dengan mengamati keseluruhan aksesi secara langsung dan
didokumentasikan hasil pengamatannya.

3. Panjang Buah

Pengamatan terhadap panjang buah dilakukan setelah pemanenan buah


cabai. Pengamatan dilakukan pada semua sifat buah yang keluar baik itu rangkai
enam maupun buah selain rangkai enam. Pengamatan dilakukan dengan cara
mengukur panjang buah mulai dari pangkal tangkai buah sampai ujung buah
dengan menggunakan tali dan penggaris yaitu dengan cara mengukur cabai
dengan tali diluruskan mengikuti ukuran panjang buah cabai, kemudian diukur
panjang tali tersebut dengan menggunakan penggaris, hal ini dilakukan untuk
mempermudah dalam pengukuran panjang buah cabai karena pada buah cabai
Lotanbar yang mengeluarkan sifat rangkai enam memiliki ciri buah yang berlekuk
atau tidak lurus, kemudian hasil pengukuran panjang buah cabai sifat rangkai
enam dan selain sifat rangkai enam pada masing-masing tanaman dijumlahkan
dan dirata-ratakan. Sampel yang akan digunakan yaitu buah cabai yang
mengeluarkan sifat rangkai enam dan buah cabai selain rangkai enam yang
diambil secara acak sebanyak 5 buah pada masing-masing sifat rangkai.

4. Diameter Buah

Pengamatan diameter buah cabai dilakukan setelah pemanenan buah cabai


Lotanbar rangkai enam. Pengamatan dilakukan pada semua sifat buah yang keluar
baik itu rangkai enam maupun buah selain rangkai enam. Pengamatan dilakukan
dengan mengamati secara langsung dan mengukur bagian buah terlebar
menggunakan jangka sorong. Sampel yang digunakan adalah buah cabai yang
mengeluarkan sifat rangkai enam dan buah cabai selain sifat rangkai enam yang
diambil secara acak sebanyak 5 buah pada masing-masing sifat rangkai.

5. Morfologi Buah

Pengamatan morfologi buah bertujuan untuk melihat keragaman bentuk


buah pada masing-masing sifat rangkai dalam satu tanaman maupun antar
tanaman yang dilakukan pada saat setelah panen. Sampel yang digunakan diambil
secara acak dari masing-masing aksesi sifat rangkai sebanyak 5 buah cabai.
Kemudian, morfologi buah cabai dideskripsikan berdasarkan pada Lampiran 5.
Pengamatan morfologi buah cabai Lotanbar ini meliputi:
a. Bentuk buah cabai
Pengamatan bentuk buah cabai dilakukan secara keseluruhan, dengan
melihat buah cabai berbentuk lurus memanjang atau tidak lurus. Kemudian
diamati permukaan buah dengan melihat permukaan buah halus atau berlekuk.
b. Pangkal buah
Pengamatan pangkal buah dilakukan dengan melihat secara langsung
bentuk pangkal buah cabai, semuanya seragam atau tidak seragam.
c. Ujung buah
Ujung buah cabai diamati dengan melihat secara langsung, semua buah
berbentuk runcing atau tumpul.
6. Umur Muncul Bunga dan Umur Panen

Pengamatan umur muncul bunga cabai dilakukan dengan cara menghitung


hari dari pertama mulai melaksanakan penanaman benih cabai Lotanbar sampai
saat muncul bunga pertama pada masing-masing aksesi yang membentuk rangkai
enam dan bukan rangkai enam. Sedangkan, pengamatan terhadap umur panen
dilakukan dengan cara menghitung hari dari mulai penanaman benih cabai
Lotanbar rangkai enam sampai saat panen pertama pada masing-masing aksesi.

7. Persentase Bunga Membentuk Buah

Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui persentase bunga cabai yang


berhasil membentuk buah pada masing-masing sifat rangkai cabai Lotanbar
rangkai enam generasi ke-2 yang terdapat pada tiap-tiap tanaman. Pengamatan
dilakukan pada saat panen dengan cara menghitung persentase bunga yang
berhasil dalam membentuk buah pada masing-masing sifat rangkai.

8. Masa Simpan Buah Segar

Pengamatan masa simpan buah segar dilakukan saat buah telah dipanen.
Kemudian, disimpan pada suhu ruang 27 oC tanpa diberi perlakuan. Pengamatan
ini bertujuan untuk melihat berapa lama buah dapat bertahan sampai mencapai
busuk. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali yaitu pengamatan pertama diamati
pada 7 hari penyimpanan, pengamatan kedua diamati pada 14 hari penyimpanan,
dan pengamatan ketiga diamati pada 21 hari penyimpanan. Sampel diambil dari
masing-masing aksesi yang membentuk sifat rangkai enam dan yang bukan
rangkai enam, masing-masing diambil sebanyak 5 buah cabai.

F. Analisis Data

Karakter kualitatif dideskripsikan berdasarkan panduan deskripsi cabai.


Sedangkan, data karakter kuantitatif dihitung dengan menggunakan rumus-rumus
statistik sederhana, sebagai berikut:
n n

 xi  (x  x) 2

Rata–rata: 𝑥̅  i 1
Ragam: S 2 = i 1

n n 1
Standar deviasi: SD = √S2 Koefisien Keragaman: CV = (SD/𝑥̅ ) x 100
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Keragaman Jumlah Rangkai Dalam Satu Tanaman

Berdasarkan hasil pengamatan morfologis sifat rangkai enam terhadap


aksesi-aksesi dalam populasi cabai Lotanbar generasi ke-2 yang dilakukan di
lapangan diperoleh hasil akhir seperti yang tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Jumlah nodus bunga berangkai cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-
2 pada masing-masing tanaman
Tanaman Jumlah nodus bunga berangkai
1 2 3 4 5 6
1 38 6 2
2 48 7
3 *
4 52 8 2
5 38 7 2
6 37 9 2
7 37 10 1 1
8 44 12 2
9 28 7 1 1
10 *
11 *
12 31 10
13 *
14 28 6 4
15 *
16 *
17 24 13 3 1 1
18 27 10 3 1 1
19 36 8
20 15 3 3
21 17 6 2 1 1
22 29 11 3
23 18 9
24 41
25 33 7
26 13 7 2 1
27 29 8
28 36
29 34 8 1
30 17 9
31 26 6
32 27 9 1
33 29 4
34 29 5 1
35 22 8
36 24 5
37 27 7
38 28 3
39 26 2 1
40 21 4 1
41 23 8
Jumlah 35 Tanaman 33 Tanaman 19 Tanaman 5 Tanaman - 4 Tanaman
Keterangan: (*) Tanaman yang mati terkena virus keriting kuning = 6 tanaman (14%) sehingga
tinggal 35 aksesi tanaman yang diamati.
Pengamatan terhadap jumlah nodus bunga berangkai yang menunjukkan
aksesi sifat rangkai pada masing-masing tanaman telah dilakukan di lapangan,
pada penanaman awalnya ditanam masing-masing 3 biji dalam satu lubang tanam
pada tiga bedengan, total jumlah lubang tanam ada 60 lubang tanam, masing-
masing 20 lubang tanam tiap bedengan, namun yang tumbuh hanya ada 41
tanaman, kemudian dilakukan penyulaman dengan meletakkan masing-masing 1
tanaman pada tiap lubang tanam dan langsung dilakukan pemberian nomor/label
tanaman.
Pada saat tanaman cabai belum berbunga, ada 6 tanaman cabai yang
terkena virus keriting kuning (mati) yang disebabkan oleh beberapa hama sebagai
vektor seperti hama kutu kebul, thrips, dan sejenis kutu lainnya yang menyerang
tanaman cabai, sedangkan hama yang bukan merupakan vektor dari penyakit virus
keriting kuning adalah hama ulat grayak yang mengakibatkan kerusakan pada
daun cabai, sehingga jumlah total tanaman yang diamati sampai panen adalah 35
aksesi tanaman seperti yang tertera pada Tabel 1.
Tanaman cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2 memiliki
beberapa aksesi sifat rangkai yaitu tanaman berangkai dua yang berarti memiliki
jumlah bunga maksimal dua bunga dalam nodus pada satu tanaman, tanaman
rangkai tiga berarti memiliki jumlah bunga maksimal tiga bunga dalam nodus
pada satu tanaman, tanaman rangkai empat memiliki jumlah bunga maksimal
empat bunga dalam nodus pada satu tanaman, dan rangkai enam memiliki jumlah
bunga maksimal ada enam bunga dalam nodus pada satu tanaman. Tanaman cabai
Lotanbar yang membentuk rangkai enam pada generasi ke-2 ini, menunjukkan
semua sifat rangkai berada dalam satu tanaman yang sama yaitu pada tanaman
nomor 17, nomor 18, dan nomor 21 dimana terdapat sifat rangkai dua, rangkai
tiga, rangkai empat, dan rangkai enam dalam satu tanaman yang sama.
Pengamatan yang telah dilakukan selama di lapangan menunjukkan hasil
aksesi yang membentuk bunga rangkai dua lebih banyak dari rangkai tiga, empat
dan enam. Jumlah aksesi yang membentuk bunga rangkai dua sebanyak 33 aksesi,
sedangkan jumlah aksesi yang membentuk rangkai tiga sebanyak 19 aksesi,
rangkai empat sebanyak 5 aksesi dan rangkai enam sebanyak 4 aksesi dari 35
aksesi yang diamati, dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Persentase pembentukan sifat rangkai tanaman cabai Lotanbar rangkai
enam pada generasi ke-2

Jumlah bunga per nodus Jumlah tanaman Persentase (%)


Satu bunga 35 Tanaman 100 %

Dua bunga 33 Tanaman 94,28 %

Tiga bunga 19 Tanaman 57,57 %

Empat bunga 5 Tanaman 14,28 %

Enam bunga 4 Tanaman 11,42 %


Pengamatan persentase pembentukan sifat rangkai cabai Lotanbar rangkai
enam dalam satu tanaman dilakukan pada saat bunga masih dalam keadaan
kuncup, namun sudah terlihat mahkota bunga. Persentase yang tertera pada Tabel
2 menunjukkan persentase pembentukan sifat rangkai enam cabai Lotanbar
sebesar 11,42 % dengan jumlah aksesi yang membentuk sifat rangkai enam
sebanyak 4 aksesi dari 35 aksesi yang diamati pada tanaman nomor 7, 17, 18 dan
21. Persentase ini menunjukkan adanya sedikit peningkatan dari penanaman
sebelumnya oleh Halim Antoni pada generasi ke-1 yaitu sebanyak 5 %. Adanya
peningkatan pada generasi ke-2 (F2) sesuai dengan Hukum Mendel I yang
mengemukakan bahwa dua alel dari sepasang gen akan memisah satu dengan
yang lainnya pada saat pembentukan gamet, sehingga masing-masing dari gamet
akan membawa satu alel dari pasangan gen tersebut (Jamsari, 2008). Persentase
pada Tabel 2 juga menunjukkan bahwa keragaman tanaman cabai Lotanbar masih
tinggi dan luas sehingga perlu adanya penanaman pada generasi selanjutnya untuk
menurunkan tingkat keragaman pada tanaman cabai dari benih rangkai enam.
Rangkai yang terbentuk pada tanaman bunga cabai Lotanbar generasi ke-2
dapat dilihat saat bunganya muncul pada nodus. Rangkai yang dimaksud adalah
jumlah bunga cabai Lotanbar yang berada pada satu nodus yaitu rangkai dua
artinya terdapat dua bunga cabai Lotanbar dalam satu nodus begitu juga untuk
rangkai tiga, empat dan enam yang mana jumlah rangkai menunjukkan banyaknya
bunga cabai Lotanbar dalam satu nodus. Tanaman cabai Lotanbar pada generasi
ke-2 mengeluarkan bunga majemuk yang dibuktikan dengan jumlah bunga cabai
Lotanbar lebih dari satu bunga pada satu nodus, biasanya pada cabai yang lain
hanya terdapat satu bunga pada satu nodus. Pembentukan bunga sifat rangkai
enam, dapat dilihat dari cabang yang akan keluar jika keluar lebih dari 2 cabang
pada satu dikotom maka akan keluar bunga yang lebih dari tiga rangkai.
Pada tanaman cabai Lotanbar generasi ke-2 juga terdapat aksesi tanaman
yang tidak menunjukkan sifat rangkai sama sekali (bunga tunggal) yaitu pada
tanaman nomor 24 dan 28, pada aksesi tanaman nomor 17, 18 dan 21
menunjukkan semua sifat rangkai mulai dari rangkai dua, tiga, empat dan enam
terdapat dalam satu tanaman, dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Ragam jumlah buah cabai Lotanbar rangkai enam dalam satu nodus pada
generasi ke-2
Jumlah buah Gambar Jumlah Nomor tanaman
per nodus tanaman
Buah tunggal 35 Tanaman 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 12,
14, 17, 18, 19, 20, 21, 22,
23, 24, 25, 26, 27, 28, 29,
30, 31, 32, 33, 34, 35, 36,
37, 38, 39, 40, 41

Rangkai dua 33 Tanaman 1, 2, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 12,


14, 17, 18, 19, 20, 21, 22,
23, 25, 26, 27, 29, 30, 31,
32, 33, 34, 35, 36, 37, 38,
39, 40, 41

Rangkai tiga 19 Tanaman 1, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 14, 17,


18, 20, 21, 22, 26, 29, 32,
34, 39, 40

Rangkai empat 5 Tanaman 9, 17, 18, 21, 26

Rangkai enam 4 Tanaman 7, 17, 18, 21


Pada tanaman cabai Lotanbar sifat rangkai enam generasi ke-2,
pengamatan perubahan warna buah muda ke buah masak dihitung dari hari setelah
bunga mekar (HSBM) yaitu mulai dari umur mekar bunga rata-rata ± 84 hari
setelah tanam (HST). Perubahan warna buah muda ke buah masak mulai dari
berwarna hijau, hijau tua, coklat keunguan, oren dan kemudian merah tua, dapat
dilihat pada Gambar 13.

17 HSBM 24 HSBM 33 HSBM 51 HSBM


Gambar 13. Perubahan warna buah cabai Lotanbar rangkai enam dari buah muda
ke buah masak pada generasi ke-2

Berdasarkan pengamatan perubahan warna buah dari buah muda ke buah


masak pada tanaman cabai Lotanbar sifat rangkai enam dapat dilihat adanya
perbedaan warna masak buah. Jika cabai masih berwarna merah keorenan maka
perlu ditunggu sampai cabai benar-benar berwarna merah tua sehingga bisa
dijadikan benih untuk penanaman selanjutnya. Buah tanaman cabai Lotanbar yang
berwarna merah tua menandakan cabai sudah masak fisiologis dan telah siap
untuk dipanen. Buah cabai Lotanbar yang berwarna hijau muda akan berubah
warna menjadi hijau tua setelah itu akan berwarna coklat keunguan, selanjutnya
berwarna keorenan dan kemudian akan berwarna merah tua.

B. Jumlah Helai Mahkota Bunga

Pengamatan jumlah helai mahkota bunga dilakukan ketika bunga telah


mekar sempurna. Pada tanaman cabai, munculnya bunga (primordial) merupakan
penanda yang berarti masa peralihan dari fase vegetatif menuju fase generatif.
Menurut Syukur, Sujiprihati, dan Yunianti (2015) Bunga cabai tumbuh di
percabangan (ketiak daun), yang terdiri dari 6 helai kelopak bunga berwarna hijau
dan 5-7 helai mahkota bunga berwarna putih susu atau ungu dengan posisi bunga
cabai yang menggantung dan panjang tangkai bunga umumnya 1-2 cm. Setiap
bunga mempunyai satu putik (stigma) dengan tangkai putik berwarna putih
memiliki panjang sekitar 0,5 cm, kepala putik berbentuk bulat berwarna agak
ungu dan benang sari berjumlah 5-8 helai benang sari dengan kepala sari
berbentuk lonjong berwarna biru keunguan.
Berdasarkan pengamatan jumlah helai mahkota bunga cabai Lotanbar
generasi ke-2, pada tanaman yang menunjukkan sifat rangkai enam yaitu tanaman
nomor 7, 17, 18 dan 21 memiliki jumlah helai mahkota bunga sebanyak 6 helai
mahkota bunga masing-masing pada satu nodus yang mengeluarkan bunga
rangkai enam dan rangkai empat, pada tanaman yang menunjukkan sifat rangkai
empat yaitu pada tanaman nomor 9 dan 26 juga memiliki jumlah helai mahkota
bunga sebanyak 6 helai mahkota bunga pada satu nodus yang mengeluarkan
bunga rangkai empat. Sedangkan pada tanaman yang bukan menunjukkan sifat
rangkai enam dan rangkai empat, yaitu pada tanaman yang menunjukkan bunga
tunggal, rangkai dua, dan rangkai tiga memiliki jumlah helai mahkota bunga
sebanyak 5 helai mahkota bunga pada setiap nodus. Hasil pengamatan terhadap
jumlah helai mahkota bunga cabai Lotanbar dapat dilihat pada Gambar 14 dan
Tabel 4.

Gambar 14. Jumlah helai mahkota bunga cabai Lotanbar rangkai enam generasi
ke-2

Tabel 4. Jumlah helai mahkota bunga cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2
Jumlah rangkai Jumlah helai mahkota bunga
Bunga tunggal 5 helai
Rangkai 2 5 helai
Rangkai 3 5 helai
Rangkai 4 6 helai
Rangkai 6 6 helai
Pengamatan terhadap jumlah helai mahkota bunga pada tanaman yang
menunjukkan sifat rangkai enam dan rangkai empat dengan tanaman yang bukan
sifat rangkai enam dan rangkai empat, menunjukkan bahwa bunga dengan jumlah
5 helai mahkota bersifat dominan terhadap bunga yang memiliki jumlah 6 helai
mahkota bunga. Karakter jumlah helai mahkota bunga dalam satu tanaman
diwariskan secara kualitatif yang dikendalikan oleh satu atau dua gen yang
bekerja secara epistasis dan resesif. Menurut Kirana et al., (2005) karakter jumlah
bunga tiap nodus diwariskan secara kualitatif mengikuti pola 13:3 yang
menunjukkan bahwa karakter tersebut dikendalikan sedikitnya oleh dua gen yang
bekerja secara epistasis dan resesif. Epistasis yaitu sebuah atau sepasang gen yang
menutupi/mengalahkan ekspresi gen yang lain, sedangkan resesif yaitu gen yang
tertutupi oleh gen dominan, sehingga tidak sanggup atau tidak mampu
mengekspresikan sifatnya. Karakter yang dikendalikan oleh gen resesif
memberikan kemudahan bagi peneliti untuk melakukan seleksi, artinya akan
memudahkan dalam proses seleksi untuk mendapatkan benih sifat rangkai enam
untuk penanaman selanjutnya.

C. Panjang Buah

Pengamatan terhadap panjang buah dilakukan setelah pemanenan buah


cabai. Pengamatan dilakukan secara visual dengan mengambil buah cabai
sebanyak 5 sampel yang mewakili masing-masing sifat rangkai enam dan yang
bukan rangkai enam. Pengambilan sampel diambil secara acak pada beberapa
aksesi tanaman cabai Lotanbar. Hasil pengamatan panjang buah cabai Lotanbar
generasi ke-2 dapat dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Panjang buah cabai Lotanbar sifat rangkai enam dan yang bukan rangkai
enam pada generasi ke-2
Jumlah rangkai Panjang buah (cm)
Buah tunggal 17,86 ± 1,74
Rangkai 2 16,34 ± 1,04
Rangkai 3 16,08 ± 1,24
Rangkai 4 15,42 ± 1,48
Rangkai 6 16,98 ± 2,06
Berdasarkan hasil pengamatan pada Tabel 5 menunjukkan bahwa tanaman
cabai Lotanbar yang membentuk buah tunggal pada nodus memiliki rata-rata
panjang buah sebesar 17,86 cm, aksesi rangkai dua 16,34 cm, aksesi rangkai tiga
16,08 cm, aksesi rangkai empat 15,42 cm, dan aksesi rangkai enam memiliki rata-
rata panjang buah sebesar 16,98 cm. Panjang buah cabai Lotanbar yang bersifat
rangkai enam memiliki ukuran panjang buah rata-rata lebih panjang dari pada
panjang buah cabai yang bersifat rangkai dua, tiga dan empat, namun
dibandingkan dengan ukuran panjang buah cabai yang membentuk buah tunggal,
panjang buah cabai sifat rangkai enam lebih pendek, dengan selisih panjang antara
keduanya yaitu ± 0,88 cm.
Karakter panjang buah cabai Lotanbar pada generasi ke-2 ini memiliki
nilai total koefisien keragaman sebesar 45,66 % dengan kriteria (agak rendah)
sehingga menunjukkan keragaman sempit dan ukuran hampir seragam. Menurut
Moedijono dan Mejaya (1994) nilai koefisien keragaman memiliki kriteria sebagai
berikut: KK rendah (0-25%), agak rendah (25-50%), cukup tinggi (50-75%),
tinggi (75-100%). Jika nilai koefisien keragaman rendah sampai agak rendah,
berarti menunjukkan karakter yang diamati memiliki keragaman yang sempit dan
penampilan yang seragam. Hal ini karena genotipe yang digunakan merupakan
genotip hasil seleksi individu yang berasal dari genotip yang sama dari penelitian
sebelumnya. Sedangkan nilai keragaman yang cukup tinggi sampai tinggi dapat
dikategorikan dalam keragaman luas.

D. Diameter Buah

Pengamatan diameter buah cabai Lotanbar dilakukan secara visual.


Sampel buah cabai diambil sebanyak 5 buah cabai untuk mewakili masing-masing
sifat rangkai enam dan yang bukan rangkai enam. Pengambilan sampel dilakukan
secara acak pada beberapa aksesi tanaman cabai Lotanbar saat setelah panen.
Berdasarkan hasil pengamatan diameter buah pada Tabel 6, dapat dilihat
bahwa tanaman cabai Lotanbar yang membentuk buah tunggal pada satu nodus
memiliki rata-rata diameter buah sebesar 2,90 cm, rangkai dua 2,94 cm, rangkai
tiga 3,00 cm, rangkai empat 3,06 cm, dan rangkai enam memiliki rata-rata
panjang buah sebesar 3,10 cm.
Tabel 6. Diameter buah cabai Lotanbar sifat rangkai enam dan yang bukan
rangkai enam pada generasi ke-2
Jumlah rangkai Diameter buah (cm)
Buah tunggal 2,90 ± 0,29
Rangkai 2 2,94 ± 0,16
Rangkai 3 3,00 ± 0,28
Rangkai 4 3,06 ± 0,19
Rangkai 6 3,10 ± 0,20

Diameter buah cabai Lotanbar yang menunjukkan sifat rangkai enam pada
generasi ke-2 ini memiliki ukuran diameter buah rata-rata lebih besar
dibandingkan dengan diameter buah cabai yang bukan rangkai enam, sehingga
dapat dikatakan bahwa semakin banyak rangkai, akan berpengaruh terhadap
ukuran diameter buah cabai Lotanbar rangkai enam, dibuktikan dengan lebih
besarnya ukuran diameter buah yang bersifat rangkai enam daripada aksesi yang
bukan bersifat rangkai enam.
Nilai total koefisien keragaman pada karakter diameter buah cabai sebesar
41,14 % dengan kriteria (agak rendah), hal ini menunjukkan karakter diameter
buah memiliki keragaman sempit. Jika nilai koefisien keragaman rendah sampai
agak rendah, berarti menunjukkan karakter yang diamati memiliki keragaman
yang sempit dan penampilan yang seragam. Sedangkan nilai keragaman yang
cukup tinggi sampai tinggi dapat dikategorikan dalam keragaman luas (Moedijono
dan Mejaya, 1994).

E. Umur Muncul Bunga dan Umur Panen

Pengamatan terhadap umur muncul bunga pada tanaman cabai Lotanbar


generasi ke-2 dilakukan dengan cara menghitung hari dari saat setelah tanam
sampai saat muncul bunga pertama pada masing-masing sifat rangkai yang
membentuk rangkai enam dan yang bukan rangkai enam, sedangkan pengamatan
terhadap umur panen dilakukan mulai pada hari setelah tanam sampai
dilakukannya panen pertama. Hasil pengamatan karakter umur muncul bunga dan
umur panen cabai Lotanbar pada masing-masing aksesi di lapangan tertera pada
Tabel 7.
Tabel 7. Umur muncul bunga dan umur panen tanaman cabai Lotanbar rangkai
enam pada generasi ke-2
Tanaman Umur muncul bunga (HST) Umur panen (HST)
1 2 3 4 6 1 2 3 4 6
1 55 59 63 110 110 112
2 53 57 110 112
4 51 55 60 112 115 112
5 54 58 59 112 115 113
6 53 57 61 112 112 113
7 51 55 64 80 110 112 114 136
8 52 56 64 110 110 113
9 55 59 61 73 112 110 114 125
12 54 58 112 112
14 55 59 64 112 110 113
17 53 54 63 74 83 112 110 117 127 138
18 50 54 60 70 80 116 113 117 124 135
19 50 54 109 113
20 53 57 61 116 112 117
21 48 55 59 71 79 109 110 117 122 134
22 50 54 63 109 112 117
23 50 54 110 113
24 55 112
25 50 54 109 113
26 52 56 65 70 110 113 117 124
27 50 54 113 113
28 55 113
29 53 57 61 116 113 113
30 55 59 109 115
31 50 59 112 115
32 53 57 61 110 112 115
33 55 58 109 113
34 50 54 63 109 115 114
35 50 54 113 115
36 50 54 110 117
37 49 59 110 117
38 47 55 109 115
39 47 53 61 110 115 117
40 51 59 66 110 115 117
41 50 58 110 115
Rata-rata (HST) 52 56 62 71 80 110 112 116 124 135
SD 2,39 2,05 2,01 1,81 1,73 2,05 2,02 2,00 1,81 1,70
Ragam 5,75 4,23 4,05 3,30 3,00 4,20 4,10 4,02 3,30 2,91

Pada tanaman nomor 7, nomor 17, nomor 18, dan nomor 21 yang
menunjukkan aksesi sifat rangkai enam, memiliki nilai rata-rata umur muncul
bunga 80 HST dengan umur panen 135 HST, dan pada tanaman yang sama juga
terdapat sifat rangkai yang membentuk buah tunggal, rangkai dua, rangkai tiga,
rangkai empat dengan umur muncul bunga berturut-turut yaitu 52 HST, 56 HST,
62 HST, 71 HST dan umur panen berturut-turut 110 HST, 112 HST, 116 HST,
124 HST.
Berdasarkan dari data yang diperoleh dapat dilihat bahwa umur muncul
bunga cabai Lotanbar rangkai enam masih belum seragam, pada aksesi yang
membentuk bunga tunggal memiliki nilai ragam umur muncul bunga sebesar 5,75
dengan keragaman luas karena nilai ragam dari data yang diperoleh lebih besar
dari 2SD (S2 > 2SD), rangkai dua (4,23) memiliki keragaman luas, aksesi rangkai
tiga (4,05) memiliki keragaman luas, rangkai empat (3,30) memiliki keragaman
sempit (S2 < 2SD) dan rangkai enam (3,00) juga memiliki keragaman sempit. Hal
ini menunjukkan, pada semua aksesi sifat rangkai cabai Lotanbar rangkai enam
memiliki tingkat keragaman yang berbeda-beda.
Umur panen cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2 yaitu pada aksesi
yang membentuk buah tunggal memiliki nilai ragam umur panen sebesar 4,24
dengan keragaman luas (S2 > 2SD), rangkai dua (4,10) memiliki keragaman luas,
rangkai tiga (4,02) memiliki keragaman luas, rangkai empat (3,30) memiliki
keragaman sempit, dan rangkai enam (2,91) keragaman sempit (S2 < 2SD). Hal ini
menunjukkan, umur panen tanaman cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2
memiliki tingkat keragaman yang berbeda-beda pada masing-masing sifat rangkai,
rangkai enam memiliki nilai ragam lebih kecil dan keragaman yang sempit,
sedangkan nilai ragam yang lebih besar dan luas terdapat pada aksesi yang
membentuk buah tunggal, berarti semakin banyak rangkai dalam satu nodus akan
mempengaruhi semakin lamanya masa umur panen cabai Lotanbar.
Umur muncul bunga cabai yang lebih cepat dapat menyebabkan umur
panen juga menjadi lebih cepat. Umumnya cabai berbunga pada umur 30–45 HST
dan bisa dipanen pada 90–120 HST (Syukur, Sujiprihati, dan Yunianti, 2015).
Berdasarkan dari data yang diperoleh, umur muncul bunga pada cabai Lotanbar
rangkai enam generasi ke-2 mengalami lambat masa pembungaan. Adapun faktor
penyebab lambatnya umur muncul bunga dan umur panen cabai Lotanbar yaitu
keadaan lahan penanaman sebelumnya belum pernah digunakan untuk penanaman
cabai, kemudian kurangnya pemberian pupuk yang mengandung unsur hara untuk
mempercepat masa pembungaan tanaman cabai, serta pengendalian hama yang
kurang dilakukan secara intensif. Kusandriani dan Permadi (1996) menyatakan
bahwa selain kualitas benih dan suhu, faktor cara pembudidayaan tanaman induk
seperti pemupukan, pemeliharaan, pencegahan serangan hama dan penyakit, serta
pembersihan gulma secara intensif dapat mempengaruhi lambatnya masa
pembungaan pada cabai.
F. Morfologi Buah

Pengamatan morfologi buah cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2


bertujuan untuk melihat keragaman bentuk buah pada masing-masing aksesi sifat
rangkai enam dan yang bukan rangkai enam. Pengamatan dilakukan setelah
panen, dengan mengambil secara acak sebanyak 5 sampel buah cabai pada
beberapa aksesi tanaman cabai Lotanbar untuk mewakili masing-masing sifat
rangkai. Pengamatan ini meliputi: bentuk buah cabai, pangkal buah dan ujung
buah dengan melihat deskripsi morfologi buah cabai pada Lampiran 5.

a. Bentuk buah cabai

Berdasarkan pada pengamatan yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa


bentuk buah cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2 ini secara
keseluruhan memiliki buah yang berbentuk lurus memanjang, ada juga beberapa
bentuk buah yang bengkok ke samping dengan permukaan buah yang berlekuk,
hasil pengamatan bentuk buah ini dapat dilihat pada Gambar 15 dengan melihat
deskripsi morfologi buah cabai pada Lampiran 5.

Buah tunggal Rangkai dua Rangkai tiga

Rangkai empat Rangkai enam

Gambar 15. Ragam bentuk buah cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2

Hasil pengamatan pada setiap aksesi rangkai baik aksesi rangkai enam dan
yang bukan rangkai enam memiliki bentuk buah yang hampir seragam, hal ini
berarti pada karakter bentuk buah cabai Lotanbar generasi ke-2 dapat dikatakan
banyaknya rangkai dalam satu nodus tidak begitu mempengaruhi keadaan bentuk
buah dan permukaan buah.
b. Pangkal buah

Berdasarkan pada pengamatan yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa


pangkal buah cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2 ini hampir seragam,
dapat dilihat pada Gambar 16 bentuk pangkal buah yaitu tidak berpundak, baik
pada cabai Lotanbar yang membentuk sifat rangkai enam maupun yang bukan
rangkai enam, dengan melihat deskripsi morfologi buah cabai pada Lampiran 5.

Buah Buah Buah Buah Buah


tunggal tunggal tunggal tunggal tunggal

Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai


2 2 2 2 2

Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai


3 3 3 3 3

Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai


4 4 4 4 4

Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai


6 6 6 6 6

Gambar 16. Ragam pangkal buah cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2
c. Ujung buah

Berdasarkan pada pengamatan yang telah dilakukan dapat dilihat bahwa


ujung buah cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2 ini hampir seragam yaitu
berbentuk runcing dan ada beberapa yang agak tumpul, baik pada cabai Lotanbar
yang membentuk sifat rangkai enam maupun yang bukan sifat rangkai enam,
seperti yang tertera pada Gambar 17 dengan melihat deskripsi morfologi buah
cabai pada Lampiran 5.

Buah
Buah Buah Buah Buah tunggal
tunggal tunggal tunggal tunggal

Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai Rangkai


2 2 2 2 2

Rangkai Rangkai
3 Rangkai Rangkai Rangkai 3
3 3 3

Rangkai Rangkai
Rangkai Rangkai Rangkai
4 4
4 4 4

Rangkai Rangkai Rangkai


Rangkai 6 Rangkai
6 6 6
6

Gambar 17. Ragam ujung buah cabai Lotanbar rangkai enam pada generasi ke-2
G. Persentase Bunga Membentuk Buah

Pengamatan terhadap jumlah bunga cabai Lotanbar rangkai enam pada


generasi ke-2 yang berhasil dalam membentuk buah sifat rangkai enam dan yang
bukan rangkai enam pada masing-masing sifat rangkai yang terdapat pada tiap-
tiap tanaman diperoleh hasil akhir seperti yang tertera pada Lampiran 4.
Berdasarkan pada pengamatan persentase bunga dalam membentuk buah
yang telah dilakukan terhadap aksesi-aksesi populasi cabai Lotanbar rangkai enam
generasi ke-2 saat setelah panen diperoleh hasil berupa menurunnya jumlah bunga
dalam membentuk buah yang disebabkan oleh gugur bunga cabai sebelum
terbentuknya buah, dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Persentase bunga cabai Lotanbar rangkai enam dalam membentuk buah
pada generasi ke-2

Jumlah rangkai Persentase bunga cabai membentuk buah (%)


Buah tunggal 81,55 ± 10,78
Rangkai 2 65,84 ± 17,70
Rangkai 3 72,07 ± 20,60
Rangkai 4 80,00 ± 27,30
Rangkai 6 84,00 ± 23,50

Pada Tabel 8 dapat dilihat bahwa ada beberapa aksesi sifat rangkai yang
mengalami penurunan persentase bunga dalam membentuk buah pada tiap-tiap
tanaman, yaitu pada aksesi yang membentuk sifat rangkai dua dan sifat rangkai
tiga pada nodus yang masing-masing nilai rata-rata persentasenya adalah 65,84 %
dan 72,07 %. Pada bunga yang membentuk sifat rangkai enam memiliki jumlah
persentase yang paling besar daripada aksesi sifat rangkai yang lain, yaitu sebesar
84,00 % bunga yang berhasil sampai menjadi buah cabai.
Pengamatan yang telah dilakukan di lapangan saat fase pembungaan, yaitu
saat bunga cabai telah membentuk rangkai pada nodus yaitu pada aksesi tanaman
yang membentuk bunga tunggal, rangkai dua dan rangkai tiga pada nodus
mengalami gugur bunga cabai, sehingga tidak semua bunga cabai dapat bertahan
dari bunga sampai menjadi buah. Pada aksesi sifat rangkai enam sendiri, ada 2
tanaman dari total keseluruhan (4 tanaman) yang dapat bertahan dari bunga
rangkai enam sampai menjadi buah rangkai enam, sehingga memiliki persentase
100 % yang artinya bunga bertahan sampai menjadi buah yaitu pada tanaman
nomor 17 dan 21, dapat dilihat pada Lampiran 6 poin 1, kemudian dijadikan
sebagai benih untuk generasi selanjutnya. Sedangkan, pada 2 tanaman lainnya
yaitu tanaman nomor 7 mengalami gugur tiga bunga sehingga menjadi tiga bunga
yang berhasil sampai membentuk buah dan tanaman nomor 18 mengalami gugur
satu bunga sehingga menjadi lima bunga yang berhasil sampai menjadi buah,
dapat dilihat pada Lampiran 6 poin 2. Pada aksesi sifat rangkai empat ada 3
tanaman yang memiliki persentase 100 % yaitu pada tanaman nomor 9, 17 dan 21,
dapat dilihat pada Lampiran 4.
Jumlah bunga sampai menjadi buah mengalami penurunan pada aksesi
yang membentuk bunga tunggal, rangkai dua dan rangkai tiga. Gugurnya bunga
pada tanaman cabai disebabkan oleh faktor seperti gangguan hama dan penyakit,
jarak yang berdekatan antara satu tanaman dengan tanaman lainnya, terjadinya
perubahan angin yang tak menentu sehingga menggugurkan bunga, kemudian
adanya kekurangan unsur hara mikro dan makro yang ditandai dengan kurangnya
dalam pemberian pupuk, seperti pupuk yang mengandung unsur N dan P yang
dapat mencegah agar tanaman tidak mengalami gugur bunga, serta faktor
kesalahan dari peneliti sendiri yang tak sengaja menyentuh bunga dengan tangan
saat melakukan pengamatan pada masa pembungaan.

H. Masa Simpan Buah Segar

Pengamatan terhadap masa simpan buah segar bertujuan untuk melihat


berapa lama buah dapat bertahan sampai mencapai busuk pada kondisi suhu ruang
yang memiliki suhu ± 27 oC (suhu kamar) yang dilakukan saat setelah panen.
Sampel yang digunakan diambil dari masing-masing aksesi sifat rangkai yang
membentuk rangkai enam dan yang bukan rangkai enam dengan mewakili 10 %
dari populasi tanaman yang diamati. Setiap aksesi sifat rangkai diambil sebanyak
5 buah cabai untuk mewakili masing-masing sifat rangkai. Pada buah tunggal
diambil 5 buah cabai dari tanaman nomor 24, rangkai dua diambil 5 buah cabai
dari tanaman nomor 12, 5 buah cabai rangkai tiga pada tanaman nomor 14, 5 buah
cabai rangkai empat dari tanaman nomor 9 dan 5 buah cabai rangkai enam dari
tanaman nomor 18. Hasil panen langsung disimpan pada suhu ± 27 oC (suhu
kamar) tanpa diberi perlakuan apapun. Pengamatan dilakukan sebanyak 3 kali
pengamatan yaitu pada pengamatan pertama diamati pada 7 hari penyimpanan,
pengamatan kedua diamati pada 14 hari penyimpanan, dan pengamatan ketiga
diamati pada 21 hari penyimpanan. Hasil pengamatan masa simpan buah segar
cabai Lotanbar rangkai enam generasi ke-2 dapat dilihat pada Tabel 9.

Tabel 9. Lama masa simpan buah segar cabai Lotanbar rangkai enam pada
generasi ke-2
Aksesi rangkai Hari 1 Minggu 1 Minggu 2 Minggu 3

Buah tunggal

Rangkai 2

Rangkai 3

Rangkai 4

Rangkai 6
Berdasarkan hasil pengamatan dari masa simpan buah segar pada cabai
Lotanbar rangkai enam generasi ke-2, menunjukkan hampir seluruh aksesi
rangkai, buahnya mengalami keriput, kering dan hitam pada masa penyimpanan ±
7 hari setelah panen. Pengamatan masa simpan buah segar yang telah dilakukan
pada masing-masing aksesi sifat rangkai cabai Lotanbar rangkai enam pada
generasi ke-2 saat setelah panen pertama dapat dilihat pada Tabel 9. Pada
beberapa aksesi sifat rangkai, buah cabai mengalami keriput, kering dan berkerut
setelah satu minggu masa penyimpanan buah cabai. Pada minggu kedua (14 hari
penyimpanan) semua aksesi sifat rangkai cabai Lotanbar rangkai enam generasi
ke-2 buahnya jadi mengecil namun tidak busuk dan tidak berair, kemudian
buahnya berubah warna menjadi merah tua atau hitam dan terlihat ada satu ulat
buah yang terdapat pada tangkai buah cabai, kemudian pada minggu ketiga (21
hari penyimpanan) buah cabai Lotanbar generasi ke-2 mengalami perubahan
warna menjadi kuning dan biji yang susut pada aksesi sifat rangkai dua dan aksesi
sifat rangkai enam.
Daya simpan buah cabai Lotanbar rangkai enam yang disimpan pada suhu
ruang ± 27 oC (suhu kamar) tanpa menggunakan perlakuan apapun hanya bertahan
kesegaran buahnya selama ± 7 hari setelah panen, setelah itu cabai Lotanbar
rangkai enam tidak dalam keadaan segar lagi, seperti keadaan buah yang
mengalami keriput dan kekeringan buah, hal ini disebabkan oleh kondisi suhu
ruang penyimpanan yang tidak cocok sehingga mempengaruhi keadaan buah
cabai. Cabai umumnya dikonsumsi dalam keadaan segar sehingga harus tersedia
dalam keadaan segar setiap saat dan tidak dapat disimpan dalam waktu yang
relatif lama. Cabai biasanya langsung dijual setelah panen karena mutu buah cabai
akan turun setelah 2-3 hari pada suhu kamar. Jika disimpan di ruang bersuhu
dingin, buah cabai akan bertahan selama 10-20 hari (Yunianti et al., 2010).
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari hasil pengamatan sifat rangkai enam cabai


Lotanbar pada generasi ke-2 adalah sebagai berikut:
1. Persentase sifat rangkai enam cabai Lotanbar sebesar 11,42 % yaitu dari 35
tanaman yang diamati, terdapat 4 tanaman cabai bersifat rangkai enam.
2. Tanaman cabai Lotanbar sifat rangkai enam dan rangkai empat memiliki
jumlah 6 helai mahkota bunga pada nodus yang mengeluarkan bunga rangkai
enam dan rangkai empat, sedangkan tanaman yang bukan sifat rangkai enam
dan rangkai empat berjumlah 5 helai mahkota bunga pada setiap nodus.
3. Karakter panjang buah dan diameter buah cabai memiliki nilai koefisien
keragaman sebesar 45,66 % dan 41,14 % (kriteria agak rendah), artinya
terdapat keragaman sempit dan ukuran yang hampir seragam.
4. Umur muncul bunga dan umur panen cabai Lotanbar sifat rangkai enam yaitu
rata-rata 80 HST dan 135 HST.
5. Morfologi buah cabai Lotanbar (bentuk buah), (pangkal buah), dan (ujung
buah) hampir seragam pada generasi ke-2.
6. Buah cabai Lotanbar tetap segar sampai ± 7 hari setelah panen.

B. Saran

Saran untuk penelitian selanjutnya diharapkan melakukan penelitian


terhadap tanaman cabai Lotanbar sifat rangkai enam pada generasi ke-3 untuk
melihat kestabilan genetik dan sebagai benih tahapan pemurnian selanjutnya, serta
dapat mengatasi terjadinya gugur bunga cabai sampai menjadi buah.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, N.T. dan A. Fadlil. 2013. Identifikasi Jenis Cabai (Capsicum annuum
L.). Biodiversitas 1(2): 409–418.
Anwar, A., Jamsari., H. Fauza., Sutoyo., N.E. Putri., dan L. Syukriani. 2013. Uji
Kebenaran Cabai Lotanbar. Laporan Tim Uji Kebenaran. Padang. Fakultas
Pertanian Unand. 33 hal.
Badan Pusat Statistik (BPS). 2016. Ringkasan Eksekutif Analisis Perkembangan
Sektor Pertanian Kabupaten Lima Puluh Kota. BPS Kabupaten Lima Puluh
Kota Provinsi Sumatera Barat. Katalog BPS 9 hal.
Cahyono, B. 2003. Teknik Budidaya Cabai Rawit dan Analisis Usaha Tani.
Yogyakarta: Kanisius. 67 hal.
Crowder, L.V. 1997. Genetika Tumbuhan. Terjemahan dari: Plant Genetics oleh
Kusdiati, L. Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 499 hal.
Djarwaningsih, T. 2005. Capsicum sp. (Cabai): Asal Persebaran dan Nilai
Ekonomi. Biodiversitas 6(4): 292-296.
Duriat, A.S. 1996. Cabai Merah: Komoditas Prospek dan Andalan. Dalam: A.S.
Duriat., A. Widjaja., W. Hadisoeganda., T.A. Soetiarso., dan L.
Prabaningrum. Teknologi Produksi Cabai Merah. Lembang, Bandung: Balai
Penelitian Tanaman Sayuran. Hal 1-7.
Harpenas, A. dan R. Dermawan. 2011. Budidaya Cabai Unggul. Jakarta: Penebar
Swadaya. 102 hal.
Hayati, P.K.D., Sutoyo., D. Hervani., N.E. Putri., dan L. Syukriani. 2012.
Keanekaragaman Cabai Lokal di Kabupaten Lima Puluh Kota: Cabai
Unggul Sumatera Barat. Prosiding Seminar Nasional Biodiversitas.
Surakarta. Universitas Sebelas Maret. Hal 69-73.
Hewindati dan T. Yuni. 2006. Hortikultura. Jakarta: Universitas Terbuka. 96 hal.
Jamsari. 2008. Pengantar Pemuliaan Tanaman Landasan Genetics, Biologis, dan
Molekuler. Riau: Unri Press. 232 hal.
Karmana, M.H., A. Baihaki., G. Satari., T. Danakusuma., dan A.H Permadi. 1990.
Variasi Genetik Tanaman Bawang Putih di Indonesia. Zuriat 1(1): 32-36.
Kirana, R., R. Setiamihardja., N. Hermiati., dan A.H Permadi. 2005. Pewarisan
Karakter Jumlah Bunga Tiap Nodus Hasil Persilangan Capsicum annuum L.
dengan Capsicum chinense. Dalam: S. Hapshoh., M. Syukur., Y. Wahyu.,
dan Widodo. 2016. Pewarisan Karakter Kualitatif Cabai Hias Hasil
Persilangan Cabai Besar dan Cabai Rawit. J. Agron. Indonesia 44(3): 286-
291
Kusandriani, Y. dan Permadi. 1996. Pemuliaan Tanaman Cabai. Dalam: A.S.
Duriat., A. Widjaja., W.W. Hadisoeganda., T.A. Soetiarso., dan L.
Prabaningrum. Teknologi Produksi Cabai Merah. Lembang, Bandung: Balai
Penelitian Tanaman Sayuran. Hal 28-35.
Moedijono dan M. J. Mejaya. 1994. Variabilitas Genetik Beberapa Karakter
Plasma Nutfah Jagung Koleksi Balittas Malang. Zuriat 5(2): 27-32.
Pickersgill, B. 1997. Genetic Resources And Breeding Capsicum spp. Euphytica
9(6): 129-133.
Pracaya. 1995. Bertanam Cabai Merah (Capsicum annuum L.). Yogyakarta:
Kanisius. 92 hal.
Setiadi. 1999. Bertanam Cabai Merah. Jakarta: Penebar Swadaya. 63 hal.
Sunaryono. 1999. Budidaya Cabai. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 99 hal.
Sutarya, R. dan G. Grubben. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah.
Yogyakarta: Gajah Mada University Press. 36 hal.
Syukur, M., A. Arif., dan S. Sujiprihati. 2011. Pewarisan Sifat Beberapa Karakter
Kualitatif Pada Tiga Kelompok Cabai. Buletin Plasma Nutfah 17(2): 1-8.

Syukur, M., S. Sujiprihati., dan R. Yunianti. 2015. Teknik Pemuliaan Tanaman


(Edisi Revisi). Jakarta: Penebar Swadaya. 348 hal.
Syukur, M., S. Sujiprihati., J. Koswara., dan Widodo. 2007. Pewarisan Ketahanan
Cabai (Capsicum annuum L.) Terhadap Antraknosa Pada Colletotrichum
acutatum. Bul. Agro 35(2): 112-117.
Tarigan, S. dan W. Wiryanta. 2003. Bertanam Cabai Hibrida Secara Intensif.
Jakarta: Agromedia Pustaka. 112 hal.
Tenaya, I.M.N., R. Setiamihardja., dan S. Natasasmita. 2001. Seleksi Ketahanan
Terhadap Penyakit Antraknos Pada Tanaman Hasil Persilangan Cabai rawit
x Cabai Merah. Zuriat 12(2): 84-92.
Tjahjadi. 1991. Bertanam Cabai Keriting dan Cabai Rawit Unggul. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius. 77 hal.
Trustinah. 1997. Pewarisan Beberapa Sifat Kualitatif dan Kuantitatif Pada Cabai
Merah (Capsicum annuum L.). Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 15(2):
48-54.
Widyawati, Z., I. Yuliana., dan Respatijarti. 2014. Heritabilitas dan Kemajuan
Genetik Harapan Populasi F2 Pada Tanaman Cabai Besar (Capsicum
annuum L.). Produksi Tanaman 2(3): 247-252.
Yunianti, R., S. Sastrosumarjo., S. Sujiprihati., M. Surahman., dan S.H. Hidayat.
2010. Kriteria Seleksi Untuk Perakitan Varietas Cabai Tahan Phytophthora
capsici Leonian. J. Agron. Indonesia 38:122-129.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Jadwal kegiatan penelitian

Bulan
No Kegiatan Desember Januari Februari Maret April
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Persiapan lahan
2 Penanaman benih
cabai
3 Pemberian botol
pop ice
4 Pemberian ajir
4 Pemberian pupuk
5 Pengendalian hama
dan penyakit
7 Pengamatan mulai
munculnya bunga
sampai berbuah
8 Pemberian
sungkupan kain
kasa
9 Panen
10 Analisis data
penelitian
Keterangan: Penelitian ini dimulai pada minggu ke-1 bulan Desember 2016 - minggu ke-4 bulan April 2017.
Lampiran 2. Letak penanaman cabai Lotanbar

1 meter 1 meter 1 meter


6

Lubang tanam

B T

S
Lampiran 3. Kebutuhan pupuk dasar pada tanaman cabai

1. Kebutuhan pupuk Urea

Kebutuhan pupuk Urea adalah 200 kg/hektar = 200.000 g/hektar

1 hektar = 10.000 m²

Luas 1 bedengan 6 m x 1m = 6 m²

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑈𝑟𝑒𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑈𝑟𝑒𝑎 𝑝𝑒𝑟 ℎ𝑒𝑘𝑡𝑎𝑟
=
𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑢𝑎𝑠 1 ℎ𝑒𝑘𝑡𝑎𝑟

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑈𝑟𝑒𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 200.000 𝑔


= 10.000 𝑚²
6 𝑚²

200.000 𝑔 𝑥 6 𝑚²
Kebutuhan pupuk Urea per bedengan = 10.000 𝑚²

1200.000 𝑔𝑚²
Kebutuhan pupuk Urea per bedengan = = 120 g = 0,12 kg
10.000 𝑚²

Pupuk Urea yang dibutuhkan adalah 120 g atau 0,12 kg per bedengan yang
diberikan 5 hari sebelum tanam.

2. Kebutuhan pupuk SP-36

Kebutuhan pupuk SP-36 adalah 150 kg/hektar = 150.000 g/hektar

1 hektar = 10.000 m²

Luas 1 bedengan 6 m x 1m = 6 m²

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑆𝑃−36 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑆𝑃−36 𝑝𝑒𝑟 ℎ𝑒𝑘𝑡𝑎𝑟
=
𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑡𝑎𝑘𝑎𝑛 𝑙𝑢𝑎𝑠 1 ℎ𝑒𝑘𝑡𝑎𝑟

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑆𝑃−36 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 150.000 𝑔


= 10.000 𝑚²
6 𝑚²

150.000 𝑔 𝑥 6 𝑚²
Kebutuhan pupuk SP-36 per bedengan = 10.000 𝑚²

900.000 𝑔𝑚²
Kebutuhan pupuk SP-36 per bedengan = 10.000 𝑚²

Kebutuhan pupuk SP-36 per bedengan = 90 g = 0,09 kg

Pupuk SP-36 yang dibutuhkan adalah 90 g atau 0,09 kg per bedengan yang
diberikan 5 hari sebelum tanam.
3. Kebutuhan pupuk KCl

Kebutuhan pupuk KCl adalah 150 kg/hektar = 150.000 g/hektar

1 hektar = 10.000 m²

Luas 1 bedengan 6 m x 1m = 6 m²

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝐾𝐶𝑙 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝐾𝐶𝑙 𝑝𝑒𝑟 ℎ𝑒𝑘𝑡𝑎𝑟
=
𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑢𝑎𝑠 1 ℎ𝑒𝑘𝑡𝑎𝑟

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝐾𝐶𝑙 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 150.000 𝑔


= 10.000 𝑚²
6 𝑚²

150.000 𝑔 𝑥 6 𝑚²
Kebutuhan pupuk KCl per bedengan = 10.000 𝑚²

900.000 𝑔𝑚²
Kebutuhan pupuk KCl per bedengan = = 90 g = 0,09 kg
10.000 𝑚²

Pupuk KCl yang dibutuhkan adalah 90 g atau 0,09 kg per bedengan yang
diberikan 5 hari sebelum tanam.

4. Kebutuhan pupuk ZA

Kebutuhan pupuk ZA adalah 100 kg/hektar = 100.000 g/hektar

1 hektar = 10.000 m²

Luas 1 bedengan 6 m x 1m = 6 m²

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑍𝐴 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑍𝐴 𝑝𝑒𝑟 ℎ𝑒𝑘𝑡𝑎𝑟


=
𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑙𝑢𝑎𝑠 1 ℎ𝑒𝑘𝑡𝑎𝑟

𝐾𝑒𝑏𝑢𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑝𝑢𝑝𝑢𝑘 𝑍𝐴 𝑝𝑒𝑟 𝑏𝑒𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 100.000 𝑔


= 10.000 𝑚²
6 𝑚²

100.000 𝑔 𝑥 6 𝑚²
Kebutuhan pupuk ZA per bedengan = 10.000 𝑚²

600.000 𝑔𝑚²
Kebutuhan pupuk ZA per bedengan = = 60 g = 0,06 kg
10.000 𝑚²

Pupuk ZA yang dibutuhkan 60 g atau 0,06 kg per bedengan yang diberikan 5


hari sebelum tanam.
Lampiran 4. Persentase bunga cabai Lotanbar membentuk buah

Jumlah bunga Jumlah buah Persentase bunga cabai


Tan membentuk buah (%)
No. Pada nodus berbunga
1 2 3 4 6 1 2 3 4 6 1 2 3 4 6
1 48 12 6 38 10 3 79,16 83,33 50
2 55 14 48 8 87,27 57,14
3 *
4 62 16 6 52 12 5 83,87 75 83,33
5 44 14 6 38 10 6 86,36 71,42 100
6 52 18 6 37 14 3 71,15 77,77 50
7 42 19 3 6 37 16 3 3 88,09 84,21 50 50
8 47 24 6 44 14 2 93,61 58,33 33,33
9 38 14 3 4 28 12 3 4 73,68 85,71 100 100
10 *
11 *
12 36 20 31 14 86,11 70
13 *
14 31 16 12 28 6 9 90,32 37,5 75
15 *
16 *
17 34 26 9 4 6 24 16 6 4 6 70,58 61,53 66,66 100 100
18 27 20 9 4 6 27 8 6 2 4 100 40 66,66 50 84
19 45 16 36 12 80 75
20 25 6 9 15 6 7 60 100 77,77
21 22 12 6 4 6 17 8 6 4 6 77,27 66,66 100 100 100
22 31 22 9 29 9 6 93,54 40,90 66,66
23 23 18 18 8 78,26 44,44
24 44 41 93,18
25 39 14 33 7 84,61 50
26 23 14 6 4 13 7 2 2 56,52 33,33 50 50
27 37 16 29 10 78,37 62,5
28 42 36 85,71
29 34 16 3 34 8 2 100 50 66,66
30 26 18 17 15 65,38 83,33
31 35 12 26 8 74,28 66,66
32 31 18 3 27 12 2 87,09 66,66 66,66
33 38 8 29 6 76,31 75
34 29 10 3 29 8 3 100 80 100
35 29 16 22 12 75,86 75
36 34 10 24 10 70,58 100
37 38 14 27 6 71,05 42,85
38 34 6 28 5 82,35 83,33
39 32 4 3 26 2 2 81,25 50 66,66
40 22 8 3 21 6 3 95,45 75 100
41 30 16 23 8 76,66 50
Rata-rata 81,55 65,84 72,07 80 84
SD 10,7 17,7 20,6 27,3 23,5
Keterangan: (*) Tanaman yang mati terkena virus kuning keriting = 6 tanaman (14%) sehingga tinggal 35
aksesi tanaman yang di amati
Lampiran 5. Morfologi buah cabai (Kusandriani dan Permadi, 1996)

A. Bentuk buah

Keterangan :
1 : Memanjang 4 : Kerucut
2 : Lonjong 5 : Tidak beraturan
3 : Bulat 6 : Kotak lonceng

B. Pangkal buah

Keterangan :
1 : Pundak meruncing 7 : Pundak agak berlekuk
3 : Tidak berpundak 9 : Pundak berlekuk
5 : Pundak rata

C. Bentuk ujung buah

Keterangan :
3 : Runcing 7 : Berlekuk
5 : Tumpul 9 : Bergelombang
Lampiran 6. Tanaman cabai Lotanbar sifat rangkai enam yang berhasil
membentuk buah pada generasi ke-2

134 HST 138 HST

1. Tanaman cabai Lotanbar yang menunjukkan sifat rangkai enam pada generasi
ke-2, dijadikan benih untuk penanaman generasi selanjutnya yang berasal dari
tanaman nomor 21 dan nomor 17.

135 HST 135 HST

2. Tanaman cabai Lotanbar yang menunjukkan sifat rangkai enam generasi ke-2.
Tanaman nomor 7 mengalami gugur tiga bunga sehingga tinggal tiga bunga
yang membentuk buah dan tanaman nomor 18 mengalami gugur satu bunga
sehingga tinggal lima bunga yang menjadi buah.