Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Profesi secara bahasa memiliki arti bidang pekerjaan yang
dilandasi pendidikan keahlian di bidang tertentu, sedangkan investasi
memiliki arti penundaan konsumsi sekarang untuk dimasukkan ke aktiva
produktif selama periode waktu yang tertentu (Hartono, 2017:5). Pada
profesi di bidang investasi terdiri atas beberapa profesi yang memiliki
peranan masing-masing dalam menjalankan transaksi investasi. Profesi
investasi memiliki beberapa ruang lingkup, seperti ruang lingkup
globalisasi, teknologi baru, migrasi, persaingan internasional, perubahan
pasar dan dinamika politik transnasional. Dengan banyaknya ruang
lingkup profesi investasi maka penulis akan membahasnya di dalam paper
ini.
Pada paper ini juga akan dibahas mengenai konsep-konsep kunci
manajemen investasi. Dalam konsep kunci manajemen investasi terdiri
dari tiga proses yaitu proses investasi, implementasi dan evaluasi.
Mengacu pada profesi di bidang investasi yang bukan hanya
profesi sebagai investor saja tetapi masih ada profesi yang lain. profesi di
bidang investasi juga memiliki banyak ruang lingkup. Serta tahapan dalam
konsep kunci manajemen investasi yang dimulai dari proses investasi
sampai dengan proses evaluasi. Oleh karena itu kami selaku penulis akan
membahasnya di dalam paper ini.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja profesi di bidang investasi?
2. Bagaimana profesi investor dalam lingkup globalisasi?
3. Bagaimana profesi investor dalam lingkup teknologi baru?
4. Bagaimana profesi investor dalam lingkup migrasi?
5. Bagaimana profesi investor dalam lingkup persaingan internasional?
6. Bagaimana profesi investor dalam lingkup perubahan pasar?
7. Bagaimana profesi investor dalam lingkup dinamika politik
transnasional?
8. Ada berapa dan bagaimana konsep kunci manajemen investasi?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Agar pembaca mengetahui profesi di bidang investasi.
2. Agar pembaca mengetahui profesi investor dalam lingkup globalisasi.
3. Agar pembaca mengetahui profesi investor dalam lingkup teknologi
baru.
4. Agar pembaca mengetahui profesi investor dalam lingkup migrasi.
5. Agar pembaca mengetahui profesi investor dalam lingkup persaingan
internasional.
6. Agar pembaca mengetahui profesi investor dalam lingkup perubahan
pasar.
7. Agar pembaca mengetahui profesi investor dalam lingkup dinamika
politik transnasional.
8. Agar pembaca mengetahui konsep kunci manajemen investasi.

Penulisan paper ini berpedoman pada buku Pedoman Penulisan


Karya Ilmiah (PPKI) Universitas Negeri Malang (UM).
BAB II

ISI

2.1 Profesi di Bidang Investasi


Investasi adalah suatu istilah berbagai makna yang berhubungan dengan
keuangan, ekonomi dan segala hal yang berkaitan dengan akumulasi suatu
aktiva yang mana terdapat harapan untuk mendapatkan keuntungan atau
mempertahankan suatu nilai pada masa depan.
Menurut Prof. Dr. Jogiyanto Hartono dalam buku Teori Portofolio dan
Analisis Investasi, investasi memiliki arti penundaan konsumsi sekarang
untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu yang tertentu.
Investasi ke dalam aktiva keuangan dapat berupa investasi langsung dan
tidak langsung. Investasi langsung dapat dilakukan dengan membeli aktiva
keuangan yang dapat di perjual-belikan di pasar uang (money market), pasar
modal (capital market), atau pasar turunan (derivatife market). Investasi
langsung juga dapat dilakukan dalam membeli aktiva keuangan yang tidak
dapat diperjual-belikan yang mana biasa di peroleh melalui bank komersial
dalam bentuk tabungan atau sertifikan deposito. Sedangkan investasi tidak
langsung dilakukan dengan membuat surat-surat berharga dari perusahaan
investasi atau dengan kata lain adalah perusahaan yang menyediakan jasa
keuangan dengan cara menjual sahamnya ke publik dan menggunakan dana
yang diperoleh untuk diinvestasikan kedalam portofolionya. Ini berarti
perusahaan investasi membentuk portofolio (dengan harapan portofolionya
optimal) dan menjualnya eceran kepada publik dalm bentuk saham-
sahamnya.
Adapun dasar keputusan seseorang melakukan investasi berdasarkan atas
(Husnan 2003 : 50):
1. Return merupakan tingkat keuntungan investasi yang terdiri:
a. Expected return (return yang diharapkan)
Yaitu return yang diharapkan akan di dapat oleh investor di masa
depan.
b. Realized return (return aktual) yaitu return yang sesungguhnya
terjadi atau di dapatkan oleh investor.
2. Resiko merupakan kemungkinan return aktual berbeda dengan return
yang diharapkan terdiri dari:
a. Resiko sistematis
Resiko yang tidak dapat dihilangkan dengan melakukan
diversifikasi. (kurs, inflasi, kebijakan pemerintah)
b. Resiko tidak sistematis
Resiko yang dapat di hilangkan dengan adanya diversifikasi.

Menurut Dedi, Lidija, and Philippe Giraudon (2013), dalam jurnal


Valuation and Investment Profession mengemukakan profesi di bidang
investasi ;
“The investment profession comprises a wide range of activities. Brokers
(with varied roles, all the more dealing with various underlying assets),
traders, investment advisers, financial analysts, financial planners,
private bankers, investment bankers, portfolio managers, private equity
investors, financial managers are all investment professionals.”
2.1.1 Brokers

Brokers merupakan perusahaan pialang yang berfungsi untuk


mengubungkan invstor dengan pasar uang

2.1.2 Traders

Traders merupakan badan atau orang yang membeli dan menjual


instrumen keuangan seperti saham, obligasi, serta komoditas dan
derivatifnya.

2.1.3 Investment advisor

Investement advisor merupakan seseorang ataupihak tertentu yang


memberikan suatu nasihat mengenai pembelian atau pen3ualan efek kepada
pihak lain (Prof. Dr. Eduardus Tandelin : 2010)
2.1.4 Manajemen investasi (planner, manager, and analys)

Menurut Wikipedia definisi manajemeninvestasi merupakan


manajemen profesional yang mengelola beragam sekuritas atau surat
berharga seperti saham, obligasi dan aset lain demi mencapai target
investasi yang menguntungkan.

2.1.5 Bankers (Investment dan Private Bankers)

Bankers merupakan suatu kegiatan profesi dimana bertindak


sebagai agen atau penengah atau pialang bisnis antara penerbit sekuritas
dan masyarakat umum (investment banker) dan sebagai agen penyedia
investasi dalam bentuk tabungan kepada nasabah dan sertifikat deposito
(private bankers).

2.1.6 Investor (private equity investors)

Investor merupakan perorangan atau lembaga yang melakukan


investasi baik membeli surat berharga, menanam modal kepada investee
dan sebagainya dengan harapan mendapat keunggulan atau keuntungan
baik jangka panjang dan jangka pendek.

2.2 Profesi Investor dalam Lingkup Globalisasi

Globalisasi telah menghilangkan batasan-batasan nyata setiap negara,


sehingga segala sesuatu di masa sekarang ini semakin mudah untuk dijangkau.
Adanya globalisasi ini menyebabkan peningkatan dalam berinvestasi dikarenakan
kemudahan bertransaksi di pasar modal antar negara. Peningkatan jumlah
investasi disetiap negara bukan hanya penanaman modal dari investor negara
asalnya saja tetapi juga investor dari negara lain.

Menurut Steven poelhekke (2016) dalam jurnalnya “Financial


Globalozation and Foreign Direct Investment” mengemukakan bahwa Hampir
semua negara berpartisipasi dalam pasar modal global ini. Sudah diterima secara
luas adanya globalisasi ini memiliki manfaat dan resiko disetiap negara.
Peristiwa globalisasi ini akan memberikan manfaat berupa persediaan
pembiayaan yang mencukupi dari banyaknya investor baik lokal maupun asing
yang menanamkan modal di negaranya. Akan tetapi globalisasi bisa
menimbulkan resiko jika penanaman modal oleh investor disuatu negara
dianggap tidak mampu memberi keuntungan yang besar maka dengan cepat
investor mampu melakukan penarikan modal secara tiba-tiba sehingga dapat
menimbulkan yang namanya krisis. Penarikan modal secara tiba-tiba asing saat
ini perlu dicermati sebagai peringatan bagi pemerintah untuk lebih
memperhatikan kebijakan sektor ini guna mendorong peningkatan perekonomian
yang lebih baik. Bagaimanapun juga kebijakan investasi akan terkait langsung
dengan kebijakan industri, perdagangan, dan juga kebijakan non ekonomi
lainnya. Hubungan antara variabel ekonomi dan non ekonomi ini akan lebih baik
jika terjadi komitmen yang bagus untuk seluruh komponen bangsa untuk
bersama-sama mengejar ketertinggalan dari negara lain.

2.3 Profesi Investor dalam Lingkup Teknologi Baru

Di era globalisasi saat ini tidak bisa dipungkiri adanya teknologi-teknologi


baru yang tercipta. Dengan adanya teknologi baru tersebut setiap negara dapat
berinvestasi dengan menciptakan alat-alat canggih untuk membuat sesuatu yang
hasilnya dapat dijual di negara lainnya. Investasi juga berperan dalam
mengembangkan teknologi baru ini dalam hal pendanaan untuk menciptakan alat
canggih. Hal itu yang membuat produk dan keuangan, ide-ide dan budaya lebih
bebas beredar. Akibatnya, hukum, ekonomi, dan gerakan sosial terbentuk di
tingkat internasional. Kemajuan-kemajuan dalam bidang komunikasi dan
teknologi transportasi dikombinasikan dengan ideologi pasar bebas, misalnya,
telah menghasilan peralatan, jasa, dan pergerakan modal yang tak terbendung.
Negara-negara Maju ingin membuka pasar dunia bagi produk-produk mereka dan
mengambil manfaat dari berlimpahnya tenaga kerja murah di negara-negara
berkembang. Mereka menggunakan pendanaan internasional dan kesepakatan-
kesepakatan regional untuk mendorong negara-negara miskin bersatu
menurunkan tarif, privatisasi badan usaha milik negara, dan melonggarkan
standar-standar lingkungan dan tenaga kerja.
2.4 Profesi Investor dalam Lingkup Migrasi

Migrasi atau perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain


mempengaruhi investasi di negara asal dan negara tuan rumahnya. Para imigran
berkeahlian tinggi yang dikirim oleh negaranya ke negara lain akan membantu
negaranya dalam mendapatkan peluang investasi di luar negeri. Menurut Volkerr
Grossmann (2016) dalam jurnalnya yang berjudul “How Immigration Affects
Investment and Productivity in Host and Home Contries” menyatakan jika
pekerja imigran yang dikirim oleh negaranya memiliki dampak positif bagi
negara tuan rumahnya. Jika semakin banyak imigran yang datang maka jumlah
permintaan akan penyewaan perumahan semakin tinggi yang akan meningkatkan
pendapatan perkapita di negara tuan rumah. Selain itu, dengan adanya migrasi
dapat meningkatkan produktivitas di negara asalnya. Para imigran di negara tuan
rumahnya akan mengetahui apa saja yang dilakukan perusahaan di negara tuan
rumah dan teknologi apa saja yang digunakan dalam meningkatkan investasinya
yang tidak dilakukan di negara asalnya.

2.5 Profesi Investor dalam Lingkup Persaingan Internasional

Persaingan investasi antar investor asing dengan investor domestik telah


terjadi di antar negara di dunia. Oleh karena itu pemerintah negara pesaing tidak
diperbolehkan membedakan antara perusahaan domestik dengan perusahaan
asing dalam penawaran subsidi dan bantuan pajak. Investasi asing akan
membawa lebih banyak bantuan berupa tambahan modal dari para investor asing
kepada perusahaan domestik. Bukan hanya sekedar tambahan modal saja, tetapi
juga peningkatan keterampilan manajemen, peningkatan teknologi baru serta
upah yang lebih tinggi.

Menurut Goran Vuksic (2010) dalam jurnalnya “Developing countries in


Competition for Foreign Investment” bantuan subsidi dan pajak yang diberikan
oleh negara pesaing tidak akan mampu mengimbangi semua kerugian dari negara
pesaing. Negara pesaing dapat menawarkan subsidi atau keringanan pajak kepada
investor asing dan atau dapat berkomitmen untuk meningkatkan pengeluaran
mereka untuk input publik bergantung pada keputusan investor asing. Sementara
insentif hanya bermanfaat untuk orang asing perusahaan saja.

2.6 Profesi Investor dalam Lingkup Perubahan Pasar


Pasar Modal pada hakekatnya adalah pasar yang tidak berbeda jauh dengan
pasar tradisional yang selama ini kita kenal, di mana ada pedagang, pembeli, dan
juga tawar me-nawar harga. Pasar modal dapat juga diartikan sebagai sebuah
wahana yang mempertemukan pihak yang membutuhkan dana dengan pihak yang
menyediakan dana sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh lembaga dan
profesi yang berkaitan dengan efek.
Perbedaan antara pasar modal dengan pasar uang yaitu dari jangka
waktunya. Dalam pasar uang, diperdagangkan surat berharga berjangka waktu
pendek, sedangkan dalam pasar modal, diperdagangkan surat berharga berjangka
waktu panjang.
Pasar modal khususnya di Indonesia semakin hari tentunya semakin
meningkat pelaku pasar modal dan nilai perdagangannya. Hal ini harus diimbangi
oleh pengetahuan yang baik bagi siapa saja yang ingin “bermain” di pasar modal.
Ini di karenakan sifat “spekulatif” saham dan perubahan perubahan yang terjadi
di tengah tengah pasar.
Menurut Malcolm Baker dan Jeffrey Wurgler mengatakan dalam
kesimpulan jurnalnya bahwa “gelombang sentimen investor yang bervariasi
memiliki efek yang jelas, penting, dan teratur pada perusahaan individu dan di
pasar saham secara keseluruhan. “ Dengan demikian pasar modal pun dapat
berubah keadaannya menurut permintaan dan penawaran dari investor.
Selain itu terdapat beberapa hal yang menyebabkan perubahan pasar modal
yang harus bisa di antisipasi profesi investor, yang mana berkaitan dengan resiko
sistematis. Sehingga investor harus memiliki spekulasi yang baik dan intuisinya
sebagai investor dalam membaca situasi dan keadaan. Resiko tersebut di
antaranya; nilai kurs, tingkat suku bunga, inflasi, dan kebijakan pemerintah. Hal
ini di kemukakan di dalam hasil penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa
beberapa hal tersebut menjadi faktor signifikan dalam berubahnya pergerakan
pasar modal (Yogi Permana : 2009)

2.7 Profesi Investor dalam Lingkup Dinamika Politik Transnasional

Faktor yang paling utama dalam menarik investor asing dan domestik
adalah kestabilan politik suatu negara. Negara yang kondisi politiknya stabil
akan cenderung menarik lebih banyak investor. Karena negara-negara yang kaya
memiliki pemerintahan yang lebih baik daripada negara miskin. Dengan
pemerintahan yang baik maka tingkat korupsi rendah. Korupsi dijadikan sebagai
indeks pengukur stabilitas politik. Jika suatu negara memiliki indeks korupsi
yang rendah maka negara tersebut memiliki tingkat stabilitas politik yang tinggi.

3.1 Konsep Manajemen Investasi

3.1.1 Proses investasi

Proses investasi merupakan proses keputusan yang berkesinambungan (on


going process). Proses keputusan investasi menggambarkan bagaimana investor
harus membuat keputusan yang terdiri dari lima tahap keputusan yang berjalan
terus menerus sampai tercapai keputusan investasi yang terbaik. Tahap-tahap
keputusan tersebut meliputi:

1. Kebijakan Investasi

Dalam tahap ini pemodal perlu menentukan apa tujuan investasinya dan
berapa banyak investasi tersebut akan dilakukan. Ada dua hal yang perlu
dipertimbangkan, yaitu tingkat pengembalian yang diharapkan (expected rate
of return), dan ketersediaan jumlah dana yang akan diinvestasikan. Setelah
menetapkan tujuan investasi, langkah selanjutnya, perlu menentukan
kebijakan investasi. Kebijakan yang ditetapkan oleh setiap investor
berkorelasi atau berhubungan dengan tujuan yang telah mereka tetapkan
sebelumnya. Dimulai dari penentuan keputusan alokasi aset yang menyangkut
pendistribusian dana yang dimiliki pada berbagai kelas-kelas aset yang
tersedia, seperti: saham, obligasi, real estate, atau sekuritas luar negeri. Dalam
menentukan kebijakan ini, investor perlu memperhatikan batasan-batasan
yang ada, diantaranya adalah batasan yang dapat mempengaruhi kebijakan
investasi seperti jumlah dana yang dimiliki, porsi pendistribusian, serta beban
pajak dan pelaporan yang harus ditanggung.
Jika bekerja dengan Penasihat Keuangan, dapat dibantu dengan
mengidentifikasi dan memprioritaskan tujuan yang ingin dicapai. Semakin
banyak detail yang pemodal berikan tentang status keuangan saat ini, tujuan,
sasaran gaya hidup, kerangka waktu dan toleransi untuk risiko, semakin
efektif Penasihat Keuangan akan mengembangkan rencana investasi dan
proses yang disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan pemodal tersebut.

2. Analisis Risiko

Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendeteksi


sekuritas/efek yang salah harga (mispriced), yakni apakah harganya terlalu
tinggi atau terlalu rendah. Untuk itu ada dua pendekatan yang digunakan yaitu
pendekatan fundamental dan pedekatan teknikal. Pemilihan sekuritas bukan
didasarkan atas faktor mispriced, tetapi didasarkan atas preferensi risiko para
pemodal (pemodal yang bersedia menanggung risiko tinggi akan menerima
saham yang berisiko), pola kebutuhan kas (pemodal yang menginginkan
penghasilan yang tinggi akan memilih saham yang membagikan dividen
dengan stabil), dan sebagainya.

a) Analisis Teknikal

Menurut Tandelilin, analisis teknikal merupakan teknik untuk


memperdiksi arah pergerakan harga saham dan indikator pasar saham lainnya
berdasarkan pada data pasar historis seperti informasi harga dan volume
perdagangan. Model analisis teknikal lebih menekankan pada tingkah laku
pemodal di masa yang akan datang berdasarkan kebiasaan di masa lalu (nilai
psikologis). Pergerakan harga saham merupakan indikator psikologis investor.
Di dalam analisis teknikal informasi tentang harga dan volume perdagangan
merupakan alat utama untuk analisis. Analisis teknikal pada dasarnya
merupakan upaya untuk menentukan kapan akan membeli atau menjual saham
dengan memanfaatkan indikator-indikator teknis ataupun menggunakan
analisis grafis. Dari sisi psikologis, pergerakan harga saham yang menaik
menunjukan tingkat optimisme dari sebagian besar investor, sedangkan
pergerakan saham yang menurun merupakan cerminan tingkat pesimisme dari
sebagian besar investor.

b) Analisis Fundamental

Menurut Jogiyanto, analisis fundamental merupakan analisis untuk


menghitung nilai interinsik saham dengan menggunakan data keuangan
perusahaan. Analisis fundamental lebih menekankan pada penentuan nilai
instrinsik dari suatu saham. Untuk melakukan analisis yang bersifat
fundamental, diperlukan pemahaman tentang variabel-variabel yang
mempengaruhi nilai instrinsik sebuah saham. Nilai inilah yang diestimasi oleh
investor dan hasil dari estimasi ini dibandingkan dengan nilai pasar sekarang
(current market price) sehingga dapat diketahui saham-saham yang overvalue
maupun yang undervalue.

3. Konstruksi Portofolio

Portofolio adalah kumpulan dari instrument investasi yang dibentuk


untuk memenuhi suatu sasaran umum investasi. Teori Portofolio pertama
diperkenalkan oleh Harry M. Markowitz (1972) melalui model investasi yang
bernama Model Markowitz. Tujuan dari Model Markowitz adalah
menghasilnya Portofolio yang optimal, yaitu Portofolio yang mampu
memberikan ekspektasi return maksimal dengan resiko tertentu, atau
sebaliknya memiliki resiko minimal dengan ekspektasi return tertentu. Dalam
menyusun Portofolio, terdapat dua strategi yang lazim digunakan, yaitu
Strategi Aktif dan Pasif.

a) Strategi Portofolio Aktif


Strategi portofolio aktif pada dasarnya akan meliputi tindakan investor
secara aktif dalam melakukan pemilihan dan jual beli saham, mencari
informasi, mengikuti waktu dan pergerakan harga saham serta berbagai
tindakan aktif lainnya untuk menghasilkan abnormal return. Tentunya
investor harus berhati-hati dalam memilih strategi apa yang tepat baginya,
apakah strategi portofolio aktif, strateg portofolio pasif ataupun
penggabungan kedua strategi portofolio tersebut secara bersamaan (Jones,
2002).

Strategi portofolio aktif dalam pembentukan portofolio saham pada


dasarnya dapat menggunakan pendekatan fundamental dalam analisis saham
Pendekatan fundamental adalah pendekatan untuk menganalisis suatu saham
dengan berdasarkan pada kinerja keuangan perusahaan emiten (laba,
dividen, penjualan dan lainnya) dan kinerja industri di mana perusahaan
tersebut beroperasi. Tujuan strateg portofolio aktif adalah mencapai kinerja
portofolio saham yang melebihi kinerja portofolio saham yang diperoleh
melalui strategi portofolio pasif. Dengan kata lain, investor akan berusaha
untuk memperoleh hasil yang lebih tinggi dibandingkan kinerja yang
diperoleh sesama investor lainnya. Mereka secara proaktif mencari
informasi tambahan, meningkatkan kemampuan mereka dalam menganalisis
informasi-informasi yang mempengaruhi kinerja portofolio saham, bahkan
tidak jarang ada yang berani membayar mahal untuk jasa konsultasi analis
saham yang terbaik. Semuanya dilakukan untuk meningkatkan kinerja
portofolio saham yang diharapkan investor.

Terdapat 3 (tiga) cara yang digunakan dalam Strategi Aktif, yaitu


Pemilihan Saham, Rotasi Sektor dan Momentum Harga.
 Pemilihan Saham
Dalam menjalankan strategi ini, investor secara aktif menganalisa
dan memilih saham-saham terbaik, yaitu saham yang memberikan risk &
return trade-off terbaik dibanding alternatif lainnya. Pemilihan saham
didasari oleh Analisa Fundamental guna mengetahui prospek saham
tersebut di masa yang akan datang. Selain itu, Investor juga secara aktif
memilih saham yang undervalued. Saham undervalued adalah saham yang
memiliki nilai intrinsik lebih besar dari harga pasar (market value).
 Rotasi Sektor
Terdapat 2 (dua) pendekatan ketika menjalankan Strategi Rotasi
Sektor, yaitu :
Konsentrasi : melakukan investasi pada saham-saham perusahaan yang
bergerak dalam sektor tertentu untuk mengantisipasi perubahan siklus
ekonomi di kemudian hari.

Diversifikasi : Melakukan modifikasi atau perubahan terhadap bobot


Portofolio saham-saham pada sektor industri yang berbeda-beda, untuk
mengantisipasi perubahan siklus ekonomi, pertumbuhan dan nilai saham
perusahaan.

 Momentum Harga
Strategi ini berdasarkan pada ideologi bahwa pada waktu-waktu
tertentu harga pasar saham akan merefleksikan kinerja perusahaan (disebut
juga dengan momentum harga saham). Momentum inilah yang
dimanfaatkan investor untuk memperoleh keuntungan dari kenaikan harga
pasar saham tersebut.

b) Strategi Portofolio Pasif


Strategi portofolio pasif biasanya meliputi tindakan investor yang
cenderung pasif dalam berinvestasi pada saham dan hanya mendasarkan
pergerakan sahamnya pada pergerakan indeks pasar. Artinya, investor
tidak secara aktif mencari informasi atau melakukan jual beli saham yang
bisa menghasilkan abnormal return. Investor dalam hal ini hanya akan
mengikuti indeks pasar.
Terdapat 2 (dua) cara yang lazim dilakukan dalam menjalankan
Strategi Portofolio Pasif, yaitu Beli & Simpan (Buy & Hold) dan
Mengikuti Index (Indexing).
a. Beli & Simpan (Buy & Hold
Sesuai dengan namanya, dalam Strategi Portofolio Pasif Beli &
Simpan, setelah melakukan analisa secara mendalam atas saham dari
emiten-emiten tertentu, Investor akan memutuskan tindakan
investasinya dengan memilih dan mengakumulasi saham yang dinilai
mampu memberikan return paling optimal. Selanjutnya Investor
akan menahan saham tersebut selama mungkin hingga target yang
telah ditetapkannya tercapai atau hingga jangka waktu tertentu.
b. Mengikuti Indeks (Indexing)
Dalam Strategi Portofolio Pasif Mengikuti Indeks, Investor
mengalokasikan dananya ke dalam beberapa saham yang terdapat di
dalam salah satu indeks yang terdapat di Pasar Saham dengan
harapan memperoleh return yang tidak jauh berbeda dengan return
indeks tersebut. Misalnya adalah mengakumulasi saham-saham yang
terdapat dalam Indeks LQ45.

4. Revisi Portofolio
Langkah dari proses manajemen investasi ini menjadi perhatian
revisi berkala dari tiga tahapan sebelumnya. Ini perlu, karena seiring
waktu investor dengan waktu investasi jangka panjang dapat mengubah
tujuan investasinya, dan bisa saja saat ini portofolio investor yang
dipegang mungkin tidak lagi optimal dan bahkan bertolak belakang
dengan tujuan investasi yang baru diselesaikan. Investor harus membentuk
portofolio baru dengan menjual beberapa aset dalam portofolionya dan
membeli yang lain yang saat ini tidak dimiliki. Contoh alasan untuk
merevisi portofolio: seiring waktu harga aset berubah, artinya beberapa
aset yang ada menarik pada satu waktu mungkin tidak lagi begitu. Jadi
investor harus menjual satu aset dan membeli yang lain yang lebih
menarik saat ini menurut evaluasinya. Keputusan untuk melakukan
perubahan dalam merevisi portofolio tergantung dalam biaya transaksi
yang terjadi dalam membuat perubahan ini. Evaluasi ulang secara berkala
atas tujuan investasi dan portofolio berdasarkan investor adalah perlu,
karena pasar uang berubah, undang-undang pajak dan peraturan keamanan
berubah, dan peristiwa lainnya mengubah tujuan investasi yang
dinyatakan.

5. Evaluasi Portofolio
Pengukuran dan evaluasi kinerja portofolio adalah tahap paling
akhir dari proses keputusan investasi, namun bukanlah tahap terakhir.
Karena keputusan investasi merupakan proses keputusan yang
berkesinambungan dan terus-menerus, artinya jika tahap pengukuran dan
evaluasi kerja telah dilewati namun hasilnya kurang baik, maka proses
keputusan investasi harus dilakukan evaluasi lagi dimulai dari tahap
pertama dan seterusnya hingga dicapai keputusan investasi yang paling
optimal. Langkah ini meliputi pengukuran kinerja portofolio dan
selanjutnya pengevaluasian kinerja tersebut secara relative terhadap
beberapa patok-duga (benchmark). Patok-duga merupakan kinerja dari
rangkaian sekuritas yang telah ditentukan, diperoleh untuk tujuan
perbandingan. Benchmark adalah indeks yang umum digunakan, seperti
halnya Standard & Poor’s 500 untuk portofolio saham atau indeks-indeks
obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan sekuritas ternama.

Studi Kasus

1) Pelemahan Rupiah Bikin Investasi Turun di Kuartal II 2018


Oleh Septian Deny pada 14 Agu 2018, 14:00 WIB

Liputan6.com, Jakarta - Realisasi investasi di kuartal II 2018 mengalami


penurunan dibandingkan kuartal sebelumnya. Jika pada kuartal I 2018, investasi
tercatat sebesar Rp 185,3 triliun, pada kuartal II hanya Rp 176,3 triliun atau turun
4,9 persen.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong


mengatakan, penurunan ini akibat gejolak rupiah yang terjadi belakangan ini serta
masuknya tahun politik. Hal ini yang membuat para investor menahan diri untuk
menanamkan modalnya di Indonesia.

"Ini sikap wait and see yang terjadi memasuki tahun politik diamplifikasikan
dengan gejokak rupiah dan pasar modal dunia khususnya di negara berkembang,"
ujar dia di Kantor BKPM, Jakarta, Senin (14/8/2018).

Namun demikian, lanjut Thomas, hal ini hanya bersifat sementara. Dia meyakini
jika rupiah sudah kembali stabil, maka investor akan kembali gencar berinvestasi
di Indonesia.

"Tapi saya cukup percaya diri ini hanya penundaan, hanya menunda. Berdampak
signifikan di jangka pendek seperti kuartal ke kuartal. Makanya stabilitas rupiah
ini penting. Kalau tidak stabil, mereka akan tunda terus sampai rupiah stabil pada
ekuilibrium baru," kata dia.

Agar rupiah segera stabil, kata Thomas, maka BKPM mendukung langkah Bank
Indonesia untuk kembali menaikkan kembali suku bunga acuannya. Hal tersebut.
dinilai sangat diperlukan di tengah kondisi global dan internal seperti saat ini.

"Kami sangat mendukung langkah BI untuk menaikan suku bunga dan


memperketat likuiditas guna menstabilkan rupiah. Kecuali kita bisa yakinkan
pasar dan investor bahwa rupiah telah mencapai ekuilibrium baru. Karena
kecenderungan investor untuk menunda itu kuat sekali," tandas dia.
Inti Kasus:

Para investor asing menahan diri untuk menanamkan modalnya di


Indonesia dikarenakan Indonesia sedang memasuki tahun politik.

Dampak Kasus:

Melemahnya rupiah menyebabkan penurunan investasi

Keterkaitan Kasus:

Investasi adalah suatu istilah berbagai makna yang berhubungan


dengan keuangan, ekonomi dan segala hal yang berkaitan dengan akumulasi
suatu aktiva yang mana terdapat harapan untuk mendapatkan keuntungan atau
mempertahankan suatu nilai pada masa depan. Bagaimanapun juga kebijakan
investasi akan terkait langsung dengan kebijakan industri, perdagangan, dan
juga kebijakan non ekonomi lainnya. Jika terjadi penurunan investasi, maka
harapan untuk mendapatkan keuntungan atau mempertahankan suatu nilai
pada masa depan terancam gagal dan mengganggu kebijakan yang
dipengaruhinya.

Solusi Kasus:

mendukung langkah Bank Indonesia untuk kembali menaikkan kembali suku


bunga acuannya.

2) Sri Mulyani Khawatir Tekanan Global Bisa Gempur Investasi


Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 03/07/2018 06:59 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani indrawati mewanti-


wanti investasi bisa terhambat di tengah tekanan ekonomi eksternal yang menerpa
Indonesia dan negara-negara lainnya.

Menurutnya, tekanan global, utamanya dari kenaikan suku bunga acuan Fed Rate
yang diramal akan lebih dari tiga kali tahun ini tentu akan diantisipasi dengan
stabilisasi. Tak heran, Bank Indonesia juga sudah merespons tekanan itu dengan
menaikkan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Rate (7DRRR).
Hanya saja, kenaikan suku bunga menimbulkan disinsentif bagi investasi karena
bisa bikin bunga kredit meningkat. Hasilnya, dunia usaha mengurangi permintaan
kredit untuk ekspansi usaha.

Tak hanya itu, tekanan global yang berujung pada pelemahan nilai tukar rupiah
terhadap dolar AS juga bikin kenaikan harga bahan baku impor dan barang modal
yang dibutuhkan untuk realisasi investasi.

"Sekarang ini, yang akan mendapatkan tekanan paling besar dari tekanan global
ini adalah investasi, karena dia akan dapat tekanan suku bunga naik, bahan baku,
dan barang modal yang meningkat," jelas Sri Mulyani di Gedung DPR, Senin
(2/7).

Menurutnya, hal yang perlu dilakukan pemerintah adalah menahan dampak


tersebut dengan bauran kebijakan yang tepat. Bank Indonesia sendiri sebelumnya
telah melakukan relaksasi kebijakan makroprudensial baru-baru ini dengan
melonggarkan kebijakan loan to value yang bisa meningkatkan pertumbuhan
Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Sementara itu, instansinya sendiri akan melakukan kebijakan relaksasi fiskal


utamanya untuk mendorong investasi bagi sektor berbasis ekspor dan substitusi
impor dengan harapan defisit transaksi berjalan bisa ditekan.

Hanya saja, dengan kondisi perdagangan dunia yang sedang kocar-kacir, ia sedikit
khawatir dunia usaha sedikit dingin merespons kebijakan tersebut.

"Tapi sekarang situasi pasar dunia sedang tidak pasti. Namun, itu lakukan
semuanya supaya kami semua bisa lindungi momentum investasi supaya walau
ada berbagai tekanan, dia tetap bisa dapat kompensasi dari pemerintah," jelasnya.

Jika investasi terhambat, maka tentu saja itu juga ikut terdampak kepada
pertumbuhan ekonomi. Dengan melihat kondisi global, ia kini berhati-hati dalam
menentukan target ekonomi di tahun 2019.

Alasannya, pertumbuhan ekonomi tentu juga menjadi asumsi dasar bagi


penerimaan pajak tahun depan. Adapun sejauh ini, target pertumbuhan ekonomi
Indonesia di tahun depan masih di kisaran 5,2 persen hingga 5,6 persen.

Namun, untuk tahun ini, Sri Mulyani masih yakin eprtumbuhan ekonomi bisa di
kisaran 5,2 persen hingga 5,4 persen dengan pertumbuhan investasi bisa mencapai
8 persen.
"Maka di dalam 2019 kami harus hati-hati menetapkan target pertumbuhan
ekonomi dan derivasinya ke pajak," pungkas dia.

Inti Kasus:

Tekanan ekonomi eksternal yang dialami Indonesia serta melemahnya nilai


tukar rupiah dikhawatirkan dapat menghambat investasi.

Dampak Kasus:

Kenaikan suku bunga menimbulkan disinsentif bagi investasi karena dapat


menyebabkan bunga kredit meningkat selain itu juga terdapat kenaikan bahan
baku dan meningkatnya barang modal.

Keterkaitan Kasus:

Solusi Kasus:

Bank Indonesia telah melakukan relaksasi kebijakan makroprudensial


dengan melonggarkan kebijakan loan to value serta kebijakan relaksasi fiskal
utamanya untuk mendorong investasi bagi sektor berbasis ekspor dan substitusi
impor yang dilakukan oleh kementrian keuangan.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

https://m.liputan6.com/bisnis/read/3618555/pelemahan-rupiah-bikin-investasi-
turun-di-kuartal-ii-2018 (Online) Diakses pada tanggal 25 Agustus 2018
https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180702204416-532-310901/sri-
mulyani-khawatir-tekanan-global-bisa-gempur-investasi (Online) Diakses
pada tanggal 25 Agustus 2018
https://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-investment-advisor/ (Online)
Diakses pada tanggal 25 Agustus 2018
http://www.mediabpr.com/kamus-bisnis-bank/bankir_investasi.aspx (Online) Diakses
pada tanggal 25 Agustus 2018
http://jobsinfopedia.blogspot.com/2016/05/pengertian-trader-finansial-detail.html (Online)
Diakses pada tanggal 25 Agustus 2018
https://www.wikipedia.org (Online) Diakses pada tanggal 25 Agustus 2018

Hartono, Jogiyanto. 2017. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta:


BPFE-Yogyakarta
Wiksuana, I Gst, B. Tahun. Kinerja Portofolio Saham Berdasarkan Strategi
Investasi Momentum di Pasar Modal Indonesia Fakultas Ekonomi, Jurusan
Manajemen - Universitas Udayana, (Online) diakses tanggal 24 Agustus
2018
Levišauskaitē, Kristina. Tahun. Investment Analysis and Portfolio Management
Vytautas Magnus University Kaunas, Lithuania, (Online) diakses tanggal 24
Agustus 2018
Jannah, W. & Ady, Sri, U. Tahun. Analisis Fundamental, Suku Bunga, Dan
Overconfidence Terhadap Pengambilan Keputusan Investasi pada Investor
Di Surabaya Fakultas Ekonomi Dan Bisnis, Universitas Dr.Soetomo
Surabaya