Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Skizofrenia merupakan sekelompok gangguan psikotik, dengan gangguan


dasar pada kepribadian, distorsi khas pada proses pikir. Kadang - kadang
mempunyai perasaan bahwa dirinya sedang dikendalikan kekuatan dari luar.
Gangguan skizofrenia umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi yang
mendasar dan khas, dan oleh efek yang tidak serasi atau tumpul (Ibrahim, 2005).

Orang yang mengidap skizofrenia semakin lama semakin terlepas dari


keluarga ataupun masyarakat. Orang dengan skizofrenia gagal untuk berfungsi
sesuai peran yang diharapkan sebagai anggota masyarakat. Penderita gagal untuk
berfungsi sesuai peran yang diharapkan sebagai pelajar, pekerja, atau pasangan,
dan keluarga. Pada kebanyakan kasus, terjadi penurunan secara perlahan dan
berangsur-angsur dalam fungsi individu (Nevid, 2005).

Dalam hal gangguan jiwa, masyarakat telah memberikan stigma dan


terlanjur keliru menganggap penderita gangguan jiwa berat seperti skizofrenia
sebagai hal yang berbahaya, bodoh, aneh, dan tidak bisa disembuhkan. Meskipun
telah banyak bukti yang menunjukkan hal yang sebaliknya, namun stempel
negatif terhadap penderita gangguan jiwa terus melekat dan sulit untuk
dihilangkan di masyarakat. Akibatnya orang yang mengalami gangguan jiwa
dipandang sebagai seorang yang tidak stabil dan akan menimbulkan perlakuan
diskriminatif dari masyarakat dalam pekerjaan dan kehidupan penderita.
Skizofrenia merupakan suatu sindrom penyakit klinis yang paling
membingungkan dan melumpuhkan. Gangguan psikologis ini adalah salah satu
jenis gangguan yang paling berhubungan dengan pandangan populer tentang gila
atau sakit mental. Skizofrenia juga sering kali menimbulkan rasa takut,
kesalahpahaman, dan penghukuman, bukan simpati atau perhatian.

1
2

Menurut Temes (2011) skizofrenia adalah bentuk paling umum dari


penyakit mental yang parah. Penyakit ini adalah penyakit yang serius dan
mengkhawatirkan yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan
berkomunikasi, gangguan realitas (berupa halusinasi dan waham), gangguan
kognitif (tidak mampu berpikir abstrak) serta mengalami kesulitan untuk
melakukan aktivitas sehari-hari.

Nevid (2005) juga mengungkapkan bahwa skizofrenia menyerang jati diri


seseorang, memutus hubungan yang erat antara pemikiran dan perasaan serta
mengisinya dengan persepsi yang terganggu, ide yang salah, dan konsepsi yang
tidak logis. Skizofrenia menyentuh semua aspek kehidupan dari orang yang
terkena. Episode akut dari skizofrenia ditandai dengan waham, halusinasi, pikiran
yang tidak logis, pembicaraan yang tidak koheren, dan perilaku yang aneh.
Skizofrenia merupakan salah satu gangguan jiwa yang yang berat dan dialami
manusia sejak muda dan dapat berkelanjutan menjadi sebuah gangguan yang
kronis dan menjadi lebih parah ketika muncul pada lanjut usia (lansia) karena
menyangkut perubahan pada segi fisik, psikologis dan sosial budaya. Sebenarnya
skizofrenia tidak hanya banyak dialami oleh orang lanjut usia saja, banyak orang
dewasa bahkan sampai anak-anak dan remaja pun bisa mengalaminya.

Hal ini sama seperti apa yang diungkapkan oleh (Arif, 2006) gangguan ini
bisa timbul pada usia 18-45 tahun, bahkan ada juga usia 11-12 tahun sudah
menderita skizofrenia. Menurut hasil penelitian multinasional World Health
Organization (WHO) jumlah rata-rata penderita skizofrenia tampak serupa pada
budaya maju maupun budaya berkembang. WHO memperkirakan bahwa sekitar
24 juta orang di seluruh dunia mengidap skizofrenia. Data American Psychiatric
Association (APA) menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita
skizofrenia.

Diperkirakan 75% penderita skizofrenia mulai mengidapnya pada usia 16-


25 tahun. Usia remaja dan dewasa muda memang beresiko tinggi karena pada
tahap usia perkembangan ini banyak sekali stressor kehidupan. Sekitar 1% dari
populasi orang dewasa di Amerika Serikat menderita skizofrenia, dengan jumlah
keseluruhan lebih dari 2 juta orang (Nevid, 2005).
3

Prevalensi skizofrenia di Indonesia adalah 0,3 – 1 %. Apabila diperkirakan


penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa, maka diperkirakan sebanyak 2 juta jiwa
menderita skizofrenia, sedangkan di daerah Banyuwangi, prevalensi berdasarkan
data rekam medik puskesmas Licin (2013) terdapat sebanyak 2.381 pasien
skizofrenia, yang terdiri dari 33 pasien skizofrenia hebefrenik, 10 skizofrenia
katatonik, 333 tak terinci, 1 pasien depresi pasca skizofrenia, residual 158,
simpleks 4 pasien, lainnya 1.047 pasien, YTT 29 pasien (Lestari, 2011).
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang sangat luas di Indonesia, dari data
yang telah dihimpun, lebih dari 80% penderita skizofrenia di Indonesia tidak
diobati. Penderita dibiarkan berkeliaran di jalanan, atau bahkan dipasung. Padahal
jika diobati dan dirawat baik oleh keluarga, sepertiga dari penderita bisa pulih.
Akan tetapi jika tidak diobati ataupun diberikan perawatan, penderita akan terus
mengalami kekambuhan, dan 20 – 25 % dari mereka akan bersifat resisten,
(Himpunan Jiwa Sehat Indonesia/HJSI, 2005).

Hal ini seperti yang dimuat dalam (Kompas, 8 Oktober 2011) yang
menyatakan bahwa sebanyak 80% penderita skizofrenia tidak mendapatkan
pengobatan, sebagian dari penderita gangguan jiwa ini menjadi tidak produktif,
bahkan ditelantarkan sebagai psikotik yang berkeliaran di jalanan.

1.2 Batasan Masalah

Masalah pada studi khasus ini Asuhan Keperawatan Klien yang mengalami

Skizofrenia dengan gangguan isolasi social di puskesmas licin Kabupaten

Banyuwangi Tahun 2018

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Klien yang mengalami Skizofrenia

dengan gangguan isolasi social di puskesmas licin Kabupaten Banyuwangi

Tahun 2018?
4

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Melaksanakan asuhan Keperawatan Klien yang mengalami Skizofrenia

dengan gangguan isolasi social di puskesmas licin Kabupaten Banyuwangi

Tahun 2018

1.4.2 Tujuan Khusus

1. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian keperawatan pada klien

yang mengalami Skizofrenia dengan gangguan isolasi social di

puskesmas licin Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018

2. Mahasiswa mampu menetapkan diagnose keperawatan pada klien yang

mengalami Skizofrenia dengan gangguan isolasi social di puskesmas

licin Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018

3. Mahasiswa mampu menyusun perencanaan keperawatan pada klien

yang mengalami Skizofrenia dengan gangguan isolasi social di

puskesmas licin Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018

4. Mahasiswa mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien

yang mengalami Skizofrenia dengan gangguan isolasi social di

puskesmas licin Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018

5. Mahasiswa mampu melakukan evaluasi pada klien yang mengalami

Skizofrenia dengan gangguan isolasi social di puskesmas licin

Kabupaten Banyuwangi Tahun 2018


5

1.5 Manfaat

1.5.1 Manfaat teoritis

Studi kasus diharapkan dapat memberikan informasi tentang Asuhan

Keperawatan Klien yang mengalami Skizofrenia dengan gangguan isolasi

social sehingga bisa dikembangkan dan dijadikan dasar dalam ilmu

keperawatan.

1.5.2 Manfaat Praktis

a) Bagi Peneliti

Sebagai sarana dan alat dalam memperoleh pengetahuan dan pengalaman,

serta yang paling utama peneliti mampu menerapkan atau mengaplikasikan

ilmunya dibidang asuhan keperawatan klien yang mengalami Skizofrenia

dengan gangguan isolasi social.

b) Bagi instansi pendidikan

Sebagai bahan masukan dalam kegiatan proses belajar mengajar tentang

asuhan keperawatan pada khasus skizofrenia.

c) Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperlukan dalam

pelaksanaan praktek pelayanan keperawatan pada khasus skizofrenia.

d) Bagi profesi keperawatan

Hasil penulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan

pemikiran dan informasi dibidang keperawatan tentang asuhan keperawatan

pada pasien skizofrenia.

e) Bagi klien dan keluarga


6

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan bagi klien

dan pemahaman tentang skizofrenia.


1

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Skizofrenia

2.1.1 Definisi

Skizofrenia secara etimologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu

schizo yang berarti „terpotong‟ atau „terpecah‟ dan phrēn yang berarti pikiran,

sehingga skizofrenia berarti pikiran yang terpecah (Veague, 2007).

Arti dari katakata tersebut menjelaskan tentang karakteristik utama dari

gangguan skizofrenia, yaitu pemisahan antara pikiran, emosi, dan perilaku dari orang

yang mengalaminya. Definisi skizofrenia yang lebih mengacu kepada gejala

kelainannya adalah gangguan psikis yang ditandai oleh penyimpangan realitas,

penarikan diri dari interaksi sosial, juga disorganisasi persepsi, pikiran, dan kognisi

(Wiramihardja, 2007).

Dalam Diagnostic and Stastistical Manual of Mental Disorder, 4th edition

(DSM-IV), skizofrenia didefinisikan sebagai sekelompok ciri dari gejala positif dan

negatif, ketidakmampuan dalam fungsi sosial, pekerjaan ataupun hubungan antar

pribadi, dan menunjukkan terus gejala-gejala ini selama paling tidak enam bulan.

Referensi lain juga menyebutkan bahwa skizofrenia merupakan suatu gangguan yang

mencakup gejala kelainan kekacauan pada isi pikiran, bentuk pikiran, persepsi,

1
2

afeksi, perasaan terhadap diri sendiri, motivasi, perilaku, dan fungsi interpersonal

(Halgin & Whitboume, 2014).

2.1.2 Etiologi

Skizofrenia disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab skizofrenia telah

diselidiki dan menghasilkan beraneka ragam pandangan. Sebagian besar

ilmuwan meyakini bahwa skizofrenia adalah penyakit biologis yang

disebabkan oleh faktor – faktor genetik, ketidakseimbangan kimiawi di otak,

atau abnormalitas dalam lingkungan prenatal. Berbagai peristiwa stress

dalam hidup dapat memberikan kontribusi pada perkembangan skizofrenia

pada mereka yang telah memiliki predisposisi pada penyakit ini. Penyebab

munculnya skizofrenia terbagi menjadi berbagai pendekatan seperti

pendekatan biologis, teori psikogenik, dan pendekatan gabungan atau stree-

vulnerability model.

a. Pendekatan biologis

Pada pendekatan biologis menyangkut faktor genetik, struktur otak,

dan proses biokimia sebagai penyebab skizofrenia (Halgin, 1997).

1. Teori genetik

Teori ini menekankan pada ekspresi gen yang bisa menyebabkan

gangguan mental. Hasil dari beberapa penelitian menunjukan bahwa

faktor genetik sangat berperan dalam perkembangan skizofrenia, dimana

ditemukan hasil bahwa skizofrenia cenderung menurun dalam keluarga.

2
3

Hal ini dibuktikan dengan penelitian yang dilakukan National Institute of

Mental Health (NIMH) pada keluarga penderita skizofrenia yang

menyatakan bahwa skizofrenia muncul pada 10% populasi yang memiliki

keluarga dengan riwayat skizofrenia seperti orang tua dan saudara

kandung. Berdasarkan American Journal of Medical Genetic,

menyatakan bahwa apabila kedua orang tuanya mengidap skizofrenia,

maka kemungkinan anaknya mengalami skizofrenia adalah sebesar 40%.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin dekat hubungan biologis

dengan individu yang sakit, maka semakin besar juga kemungkinan

seseorang menderita skizofrenia (Semiun, 2006). Beberapa tahun terakhir

telah diteliti mengenai gen yang spesifik berkontribusi terhadap

timbulnya skizofrenia. Gen-gen tersebut di antaranya adalah Disrupted in

Schizophrenia (DISC), G-Protein Signalling-4 (RGS4), Prolyne

Dehidrogenase (PRODH), dan Neuregulin-1 (NRG-1) (Harrison &

Owen, 2003). Dengan adanya kelainan gen-gen tersebut maka akan

berpengaruh terhadap sintesis protein, misalnya akan menyebabkan

disfungsi protein yang membentuk kompleks reseptor NMDA. Tentu

saja hal ini akan menyebabkan hipofungsi reseptor NMDA yang pada

akhirnya akan menyebabkan timbulnya gejala-gejala psikosis (Harrison

& Owen, 2003). Hasil penelitian lain menunjukkan proporsi yang tinggi

dari orang-orang skizofrenia mengalami masalah dengan suatu gen

khusus pada kromosom 5 (Semiun, 2006). Hal ini menjadi logis karena

gen ini mempengaruhi dopamin dan reseptor dopamin yang berperanan

3
4

penting dalam timbulnya simptom skizofrenia. Sehingga dapat

disimpulkan bahwa lebih dari satu gen dapat menyebabkan gangguan

skizofrenia. Pengaruh genetik tidak sesederhana itu, lingkungan individu

merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap proses

perkembangan skizofrenia. Ada kemungkinan jika individu-individu yang

hubungannya lebih erat memiliki lingkungan yang sama. Dengan begitu,

tidak bisa disimpulkan dengan pasti mengenai satu dasar genetik pada

skizofrenia. Selain itu juga, faktor-faktor genetik tidak dapat menjelaskan

semua kasus skizofrenia. Dapat dikatakan jika gen-gen tersebut hanya

meningkatkan kerentanan seseorang untuk menjadi seorang dengan

skizofrenia.

2. Teori neurostruktural

Berdasarkan pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) dan

A computed tomography (CT) scan otak pada orang-orang dengan

skizofrenia menunjukkan ada tiga tipe abnormalitas struktural, yaitu

pembesaran pada ventrikel otak, atrofi kortikal, dan asimetri serebral

yang terbalik (reversed cerebral asimetry) (Semiun, 2006).

Pembesaran pada ventrikel otak Ventrikel adalah rongga atau saluran

otak tempat cairan serebrospinal mengalir, diperkirakan pada pasien

skizofrenia terjadinya pembesaran pada daerah ini hingga 20 hingga

50%. Kerusakan pada ventrikel berhubungan dengan skizofrenia

kronis dan simptom negatif (Semiun, 2006). Struktur otak yang tidak

normal seperti pembesaran ventrikel otak diyakini menyebabkan tiga

4
5

sampai empat orang yang mengalaminya menderita skizofrenia

(Nevid, 2012). Pembesaran ventrikel otak ini menyebabkan otak

kehilangan sel–sel otak, sehingga otak akan mengecil ukurannya

dibandingkan otak yang normal.

Atrofi kortikal Pendapat lain menyatakan bahwa skizofrenia

dapat terjadi pada seseorang yang kehilangan jaringan otak yang

bersifat degeneratif atau progresif, kegagalan otak untuk berkembang

normal, dan juga karena infeksi virus pada otak ketika masa

kandungan (Nevid, 2012). Atrofi juga menyebabkan kerusakan suci

yang menutupi selaput otak atau pembesaran celah antara bagian-

bagian otak. Sebanyak 20 hingga 35% orang dengan skizofrenia

mengalami kelainan ini (Semiun, 2006).

Asimetri serebral yang terbalik (reversed cerebral asimetry) Pada

orang normal, sisi kiri otak lebih besar daripada sisi kanan, tetapi

kondisi yang terbalik terjadi pada orang-orang dengan skizofrenia.

Padahal otak kiri bertanggung jawab dalam kemampuan bahasa,

sedangkan otak kanan bertanggung jawab dalam kemampuan spasial.

Hal ini menyebabkan perbedaan dalam memahami masalah-masalah

kognitif pada pasien skizofrenia.

3. Teori biokimia

Pada teori biokimia, dikenal hipotesis dopamin dan serotonin-

glutamat. Overaktivitas reseptor dopamin saraf pada jalur mesolimbik

bisa menyebabkan timbulnya gejala positif, sedangkan penurunan

5
6

aktivitas dopamin neuron pada jalur mesokortek di dalam kortek

prefrontalis bisa menyebabkan gejala negatif. Pada teori glutamat

disebutkan bahwa, penurunan kadar glutamat akan menyebabkan

penurunan regulasi reseptor N methyl-D-aspartate (NMDA) dan

menyebabkan gejala-gejala psikotik serta defisit kognitif (Harrison &

Owen, 2003). Banyak literatur yang menyatakan hubungan

peningkatan aktivitas dari neurotransmiter dopamin dengan

skizofrenia. Tingginya konsentrasi dopamin yang ditemukan di

daerah korteks pada lobus frontalis berperan dalam mengintegrasikan

fungsi manusia (Semiun, 2006). Konsentrasi dopamin yang tinggi

menyebabkan aktivitas neurologis yang tinggi dalam otak, sehingga

memunculkan simptom-simptom skizofrenia. Tingginya aktivitas

dopamin menyebabkan rangsangan yang tinggi pada daerah khusus

pada otak, rangsangan tersebut mengganggu fungsi kognitif yang

kemudian mengakibatkan halusinasi dan delusi. Penjelasan ini yang

mengemukakan hubungan antara faktor biokimiawi dan faktor

kognitif. Ada tiga faktor yang mungkin menjadi penyebab tingginya

aktivitas dopamin (Semiun, 2006).

a. Konsentrasi dopamin yang tinggi

b. Sensitivitas yang tinggi dari reseptor dopamine

c. Jumlah reseptor dopamin yang terdapat pada sinapsis

6
7

Pada orang dengan skizofrenia ditemukan memiliki jumlah reseptor

dopamin yang lebih banyak daripada orang normal. Penurunan drastis

jumlah reseptor dopamin pada laki-laki terjadi pada usia antara 30-50

tahun, sedangkan pada perempuan penurunan jumlah reseptor terjadi

perlahan perlahan. Teori ini dapat menjadi penjelasan mengenai

perbedaan onset yang terjadi pada laki-laki dan perempuan (Semiun,

2006).

4. Teori psikogenik

Teori psikogenik, yaitu skizofrenia sebagai suatu gangguan

fungsional dan penyebab utama adalah konflik, stress psikologik dan

hubungan antar manusia yang mengecewakan.

b. Stress-Vulnerability Model

Pendekatan ini meyakini bahwa orang – orang tertentu yang memiliki

kerentanan genetis terhadap skizofrenia akan memunculkan gejala

skizofrenia jika mereka hidup dalam lingkungan yang penuh dengan stres

(Semiun, 2006). Peristiwa dalam hidup dapat memberikan kontribusi

pada perkembangan skizofrenia pada mereka yang telah memiliki

predisposisi pada penyakit ini.

7
8

2.1.3 Gejala Positif Skizofrenia

Gejala positif merupakan gajala yang mencolok, mudah dikenal,

mengganggu keluarga dan masyarakat serta merupakan salah satu motivasi

keluarga untuk membawa klien berobat (Hawari, 2003).

Gejala-gajala positif yang tiperlihatkan pada klien skizorenia yaitu :

a. Delusi atau waham, yaitu suatu keyakinan yang tidak rasional (tidak

masuk akal). Meskipun telah dibuktikan secara obyektif bahwa

keyakinan itu tidak rasional, namun klien tetap meyakini

kebenarannya.

b. Halusinasi, yaitu pengalaman panca indera tanpa rangsangan

(stimulus). Misalnya klien mendengar suara-suara atau bisikan-

bisikan ditelingannya padahal tidak ada sumber dari suara atau

bisikan itu.

c. Kekacauan alam pikiran, yang dapat dilihat dari isi pembicaraannya.

Misalnya bicara kacau, sehingga tidak dapat diikuti alur pikirannya.

Gaduh, gelisah tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, bicara

dengan semangat dan gembira berlebihan.

d. Merasa dirinya orang besar, merasa serba mampu, serba hebat, dan

sejenisnya.

e. Pikiran penuh dengan kecurigaan atau seakan-akan ada ancaman

terhadap dirinya.

8
9

f. Menyimpan rasa permusuhan.

2.1.4 Gejala Negatif Skizofrenia

Gejala negatif skizofrenia merupakan gajala yang tersamar dan tidak

mengganggu keluarga ataupun masyarakat, oleh karenannya pihak keluarga

seringkali terlambat membawa klien berobat (Hawari, 2003). Gejala-gejala

nergatif yang diperlihatkan pada klien skizofrenia yaitu :

2.1.5 Klasifikasi

Adapun jenis-jenis dari skizofrenia adalah (Videbeck, 2011) :

a. Skizofrenia Paranoid

Jenis skizofrenia dimana penderitanya mengalami bayangan dan

khayalan tentang penganiayaan dan kontrol dari orang lain dan juga

kesombongan yang berdasarkan kepercayaan bahwa penderitanya itu

lebih mampu dan lebih hebat dari orang lain.

b. Skizofrenia Tak Teratur

Jenis skizofrenia yang sifatnya ditandai terutama oleh gangguan dan

kelainan di pikiran. Seseorang yang menderita skizofrenia sering

menunjukkan tanda tanda emosi dan ekspresi yang tidak sesuai untuk

keadaan nya. Halusinasi dan khayalan adalah gejala gejala yang sering

dialami untuk orang yang mederita skizofrenia jenis ini.

9
10

c. Skizofrenia Katatonia

Jenis skizofrenia yang ditandai dengan berbagai gangguan motorik,

termasuk kegembiraan ekstrim dan pingsan. Orang yang menderita

bentuk skizofrenia ini akan menampilkan gejala negatif: postur katatonik

dan fleksibilitas seperti lilin yang bisa di pertahankan dalam kurun waktu

yang panjang. Skizofrenia Tanpa Kriteria / Golongan yang jelas Jenis

skizofrenia dimana penderita penyakitnya memiliki delusi, halusinasi dan

perilaku tidak teratur tetapi tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia

paranoid, tidak teratur, atau katatonik.

d. Skizofrenia Residual

Skizofrenia residual akan di diagnosis ketika setidaknya epsiode dari

salah satu dari empat jenis skizofrenia yang lainnya telah terjadi. Tetapi

skizofrenia ini tidak mempunyai satu pun gejala positif yang menonjol.

2.1.6 Kriteria Diagnostik Skizofrenia meliputi (Maramis, 2009):

1. Gangguan pada isi pikiran

Delusi atau kepercayaan salah yang mendalam merupakan gangguan

pikiran yang paling umum dihubungkan dengan skizofrenia. Delusi ini

mencakup delusi rujukan, penyiksaan, kebesaran, cinta, kesalahan diri,

kontrol, nihil atau doss dan pengkhianatan. Delusi lain berkenan dengan

kepercayaan irasional mengenai suatu proses berpikir, seperti percaya

bahwa pikiran bisa disiarkan, dimasuki yang lain atau hilang dari alam

pikirannya karena paksaan dari orang lain atau objek dari luar. Delusi

somatik meliputi kepercayaan yang salah dan aneh tentang kerja tubuh,

10
11

misalnya pasien skizofrenia menganggap bahwa otaknya sudah dimakan

rayap.

2. Gangguan pada bentuk pikiran, bahasa dan komunikasi

Proses berpikir dari pasien skizofrenia dapat menjadi tidak terorganisasi

dan tidak berfungsi, kemampuan berpikir mereka menjadi kehilangan

logika, cara mereka mengekspresikan dalam pikiran dan bahasa dapat

menjadi tidak dapat dimengerti, akan sangat membingungkan jika kita

berkomunikasi dengan penderita, gangguan pikiran. Contoh umum

gangguan berpikir adalah inkoheren, kehilangan asosiasi, neologisms,

blocking dan pemakaian kata-kata yang salah.

3. Gangguan persepsi halusinasi Halusinasi adalah salah satu simpton

skizofrenia yang merupakan kesalahan dalam persepsi yang melibatkan

kelima alat indera kita walaupun halusinasi tidak begitu terikat pada

stimulus yang di luar tetapi kelihatan begitu nyata bagi pasien

skizofrenia. Halusinasi tidak berada dalam kontrol individu, tetapi tejadi

begitu spontan walaupun individu mencoba untuk menghalanginya.

4. Gangguan afeksi (perasaan)

Pasien skizofrenia selalu mengekspresikan emosinya secara, abnormal

dibandingkan dengan orang lain. secara umum, perasaan itu konsisten

dengan emosi tetapi reaksi ditampilkan tidak sesuai dengan perasaannya.

5. Gangguan psikomotor

Pasien skizofrenia kadang akan terlihat aneh dan cara yang berantakan,

memakai pakaian aneh atau membuat mimik yang aneh atau pasien

11
12

skizofrenia akan memperlihatkan gangguan katatonik stupor (suatu

keadaan di mana pasien tidak lagi merespon stimulus dari luar, mungkin

tidak mengetahui bahwa ada orang di sekitarnya), katatonik rigid

(mempertahankan suatu posisi tubuh atau tidak mengadakan gerakan) dan

katatonik gerakan (selalu mengulang suatu gerakan tubuh) menonjol

adalah afek yang menumpul, hilangnya dorongan kehendak dan

bertambahnya kemunduran sosial.

2.1.5 Penatalaksanaan

2.1.5.1 Psikofarmakologi

Pengobatan medis utama untuk skizofrenia adalah Psychopharmacology. Di

masa lalu, terapi yang digunakan adalah terapi electroconvulsive, terapi kejut

insulin, dan psychosurgery, tapi karena terciptanya chlorpromazine

(Thorazine) pada tahun 1952, terapi lainnya telah tidak digunakan lagi. Obat

antipsikotik, juga dikenal sebagai neuroleptik, diresepkan untuk keberhasilan

dalam mengurangi gejala psikotik (Videbeck, 2011). Semakin tua, atau

konvensional, obat antipsikotik merupakan antagonis dopamin. Yang lebih

baru, atau atipikal, obat antipsikotik ada dua yaitu dopamin dan serotonin

antagonis. Para antipsikotik konvensional menargetkan tanda-tanda positif

skizofrenia, seperti delusi, halusinasi, pikiran terganggu, dan gejala psikotik

lainnya, tetapi tidak memiliki efek pada tanda-tanda negatif. Para antipsikotik

atipikal tidak hanya mengurangi gejala positif tetapi juga, mengurangi tanda-

tanda negatif kurangnya kemauan dan motivasi, penarikan sosial, dan

anhedonia (Videbeck, 2011).

12
13

2.1.5.2 Pengobatan Psikososial

Selain pengobatan farmakologis, banyak mode lain dari pengobatan

untuk membantu orang dengan skizofrenia. Terapi individu atau kelompok,

terapi keluarga, pendidikan keluarga, dan pelatihan keterampilan sosial dapat

dilembagakan untuk klien baik rawat inap dan pengaturan masyarakat. Sesi

terapi individu dan kelompok, memberikan klien kesempatan untuk kontak

sosial dan berhubungan dengan orang lain. Kelompok yang fokus pada topik

yang menjadi perhatian seperti manajemen obat-obatan, penggunaan

masyarakat untuk mendukung klien, dan kekhawatiran keluarga juga telah

bermanfaat bagi klien dengan skizofrenia (Pfammatter, Junghan, & Brenner,

2006).

Klien dengan skizofrenia dapat meningkatkan kompetensi sosial

mereka dengan pelatihan keterampilan sosial, yang diterjemahkan ke dalam

fungsi yang lebih efektif di masyarakat. Pelatihan keterampilan sosial dasar

melibatkan perilaku sosial yang kompleks menjadi langkah-langkah

sederhana, berlatih melalui role-playing, dan menerapkan konsep-konsep

pengaturan dalam masyarakat atau dunia nyata. Pelatihan adaptasi kognitif

digunakan untuk mendukung lingkungan yang dirancang untuk

meningkatkan fungsi adaptif dalam pengaturan rumah. Individual disesuaikan

mendukung lingkungan seperti tandatanda, kalender, perlengkapan

kebersihan, dan wadah pil isyarat klien untuk melakukan tugas-tugas yang

terkait (Velligan, et al., 2006).

13
14

Sebuah terapi baru, cognitive enhancement therapy (CET),

menggabungkan pelatihan kognitif berbasis komputer dengan sesi kelompok

yang memungkinkan klien untuk berlatih dan mengembangkan keterampilan

sosial. Pendekatan ini dirancang untuk memulihkan atau memperbaiki defisit

sosial dan neurokognitif klien, seperti perhatian, memori, dan pengolahan

informasi. Latihan pengalaman membantu klien untuk mengambil perspektif

orang lain, daripada fokus sepenuhnya pada diri. Hasil positif dari CET

meliputi peningkatan stamina mental, aktif bukan pasif pengolahan

informasi, dan negosiasi spontan dan tepat tantangan sosial tanpa latihan

(Hogarty, Hogarty, Greenwald, Keshavan, & Eack, 2011)

Pendidikan keluarga dan terapi yang dikenal untuk mengurangi

dampak negatif dari skizofrenia dan mengurangi tingkat kekambuhan (Penn,

Waldheter, Perkins, Mueser, & Lieberman, 2005).

Meskipun masuknya keluarga merupakan faktor yang meningkatkan

hasil bagi klien, keterlibatan keluarga sering diabaikan oleh para profesional

perawatan kesehatan. Keluarga sering memiliki waktu yang sulit menghadapi

kompleksitas dan konsekuensi dari penyakit klien. Hal ini menciptakan stres

di antara anggota keluarga yang tidak menguntungkan bagi anggota klien

atau keluarga. Pendidikan keluarga membantu untuk membuat anggota

keluarga bagian dari tim pengobatan.

14
15

2.1.6. Patofisiologi
Secara terminologi, schizophrenia berarti skizo adalah pecah dan frenia
adalahkepribadian. Scizophrenia adalah sekelompok gangguan psikotik dengan
gangguan dasar padakepribadian, distorsi perasaan pikir, waham yang aneh,
gangguan persepsi, afek yang abnormal.Meskipun demikian kesadaran yang jernih,
kapasitas intelektual biasanya tidak terganggu,mengalami hendaya berat dalam
menilai realitas (pekerjaan, sosial dan waktu senggang).
Patofisiologi schizophrenia dihubungkan dengan genetic dan lingkungan.
Faktor geneticdan lingkungan saling berhubungan dalam patofisiologi terjadinya
schizophrenia.Neurotransmitter yang berperan dalam patofisiologinya adalah DA,
5HT, Glutamat, peptide,norepinefrin (Price, 2006).
Pada pasien skizoprenia terjadi hiperreaktivitas system
dopaminergik (hiperdopaminergia pada sistem mesolimbik → berkaitan dengan
gejala positif, danhipodopaminergia pada sistem mesocortis dan nigrostriatal →
bertanggungjawab terhadap gejalanegatif dan gejala ekstrapiramidal) Reseptor
dopamine yang terlibat adalah reseptor dopamine-2(D2) yang akan dijumpai
peningkatan densitas reseptor D2 pada jaringan otak pasienskizoprenia. Peningkatan
aktivitas sistem dopaminergik pada sistem mesolimbik yang bertanggungjawab
terhadap gejala positif. Sedangkan peningkatan aktivitas serotonergik
akanmenurunkan aktivitas dopaminergik pada sistem mesocortis yang bertanggung-
jawab terhadapgejala negatif (Ikawati, 2009).

15
16

Adapun jalur dopaminergik saraf yang terdiri dari beberapa jalur, yaitu :

1. Jalur nigrostriatal: dari substantia nigra ke basal ganglia → fungsi gerakan,


EPS2.
2. Jalur mesolimbik : dari tegmental area menuju ke sistem limbik → memori,
sikap, kesadaran,proses stimulus3.
3. Jalur mesocortical : dari tegmental area menuju ke frontal cortex → kognisi,
fungsi sosial,komunikasi, respons terhadap stress4.
4. Jalur tuberoinfendibular: dari hipotalamus ke kelenjar pituitary → pelepasan
prolaktin(Ikawati, 2009). Dalam anatomi manusia, sistem ekstrapiramidal
adalah jaringan saraf yang terletak diotak yang merupakan bagian dari sistem
motor yang terlibat dalam koordinasi gerakan. Sistemini disebut
"ekstrapiramidal" untuk membedakannya dari saluran dari korteks motor
yangmencapai target mereka dengan melakukan perjalanan melalui
"piramida" dari medula. Parapiramidal jalur (kortikospinalis dan beberapa
saluran corticobulbar) langsung dapat innervatemotor neuron dari sumsum
tulang belakang atau batang otak (sel tanduk anterior atau inti saraf kranial
tertentu), sedangkan ekstrapiramidal sistem pusat sekitar modulasi dan

16
17

peraturan (tidak langsung kontrol) sel tanduk anterior (Ikawati, 2009).Saluran


ekstrapiramidal yang terutama ditemukan dalam formasi reticular pons
danmedula, dan neuron sasaran di sumsum tulang belakang yang terlibat
dalam refleks, penggerak,gerakan kompleks, dan kontrol postural. Ini adalah
saluran pada gilirannya dimodulasi oleh

berbagai bagian dari sistem saraf pusat, termasuk nigrostriatal jalur, ganglia
basal, otak kecil, intivestibular, dan daerah sensorik yang berbeda dari korteks
serebral. Semua peraturan komponendapat dianggap sebagai bagian dari sistem
ekstrapiramidal, karena mereka memodulasi aktivitasmotorik tanpa langsung
innervating motor neuron (Ikawati, 2009).
Pemeriksaan CT scan dan MRI pada penderita schizophrenia menunjukkan
atropi lobusfrontalis yang menimbulkan gejala negatif dan kelainan pada
hippocampus yang menyebabkangangguan memori (Price, 2006).
Skizofrenia merupakan penyakit yang mempengaruhi otak. Pada otak terjadi
prosespenyampaian pesan secara kimiawi (neurotransmitter) yang akan meneruskan
pesan sekitar otak.Pada penderita skizofrenia, produksi neurotransmitter-dopamin-
berlebihan, sedangkan kadardopamin tersebut berperan penting pada perasaan
senang dan pengalaman mood yang berbeda.Bila kadar dopamin tidak

17
18

seimbang–berlebihan atau kurang– penderita dapatmengalami gejala


positif dan negatif seperti yang disebutkan di atas. Penyebabketidakseimbangan
dopamin ini masih belum diketahui atau dimengerti sepenuhnya.
Padakenyataannya, awal terjadinya skizofrenia kemungkinan disebabkan
oleh kombinasi faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor yang mungkin dapat
mempengaruhi terjadinya skizofrenia, antaralain: sejarah keluarga, tumbuh kembang
ditengah-tengah kota, penyalahgunaan obat sepertiamphetamine, stres yang
berlebihan, dan komplikasi kehamilan.Seringkali pasien yang jelas skizophrenia
tidak dapat dimasukkan dengan mudah kedalam salah satu tipe. PPDGJ
mengklasifikasikan pasien tersebut ke dalam tipe tak terinci.Kriteria diagnostic
menurut PPDGJ III yaitu :
a. Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia-
b. Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia
paranoid, hebefrenik, ataukatatonik.-
c. Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau
depresi pasca skizofrenia (Maslim, 2003).

2.1.7 Web Of Cousion ( pohon masalah )

2.2.7 Komplikasi

Jika tidak dilakukan pengobatan yang tepat, emosi, perilaku serta kehidupan Sehari-
hari pasien bisa sangat terpengaruh secara negatif. Pasien mungkin menjadi depresi,
menyakiti diri sendiri atau bahkan melakukan upaya bunuh diri.

2.2.10 Pemeriksaan Diagnotik


PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Neuropatologi Diagnosa definitif tidak dapat ditegakkan tanpa adanya
konfirmasi neuropatologi. Secara umum didapatkan:
atropi yang bilateral, simetris lebih menonjol pada lobus temporoparietal,
anterior frontal, sedangkan korteks oksipital, korteks motorik primer, sistem
somatosensorik tetap utuh berat otaknya berkisar 1000 gr (850-1250gr).

18
19

2. Pemeriksaan neuropsikologik.
Fungsi pemeriksaan neuropsikologik ini untuk menentukan ada atau tidak
adanya gangguan fungsi kognitif umum danmengetahui secara rinci pola
defisit yang terjadi.
Test psikologis ini juga bertujuan untuk menilai fungsi yang ditampilkan oleh
beberapa bagian otak yang berbeda-beda seperti gangguan memori,
kehilangan ekspresi, kalkulasi, perhatian dan pengertian berbahasa..

3. CT scan:
Menyingkirkan kemungkinan adanya penyebab demensia lainnya selain
alzheimer seperti multiinfark dan tumor serebri. Atropi kortikal menyeluruh
dan pembesaran ventrikel keduanya merupakan gambaran marker dominan
yang sangat spesifik pada penyakit ini. Penipisan substansia alba serebri dan
pembesaran ventrikel berkorelasi dengan beratnya gejala klinik dan hasil
pemeriksaan status mini mental

4. MRI
Peningkatan intensitas pada daerah kortikal dan periventrikuler (Capping
anterior horn pada ventrikel lateral). Capping ini merupakan predileksi untuk
demensia awal. Selain didapatkan kelainan di kortikal, gambaran atropi juga
terlihat pada daerah subkortikal seperti adanya atropi hipokampus, amigdala,
serta pembesaran sisterna basalis dan fissura sylvii. MRI lebih sensitif untuk
membedakan demensia dari penyakit alzheimer dengan penyebab lain,
dengan memperhatikan ukuran (atropi) dari hipokampus.

5. EEG Berguna untuk mengidentifikasi aktifitas bangkitan yang suklinis.


Sedang pada penyakit alzheimer didapatkan perubahan gelombang lambat
pada lobus frontalis yang non spesifik

19
20

6. PET (Positron Emission Tomography) Pada penderita alzheimer, hasil PET


ditemukan:
 Penurunan aliran darah
 Metabolisme O2
 Dan glukosa didaerah serebral
Up take I.123 sangat menurun pada regional parietal, hasil ini sangat berkorelasi
dengan kelainan fungsi kognisi danselalu dan sesuai dengan hasil observasi
penelitian neuropatologi

2.3 Konsep Gangguan Eliminasi Alvi ( Konstipasi )

2.3.1 Definisi

Gangguan eliminasi alvi( konstipasi ) adalah Sembelit atau

konstipasi merupakan keadaan tertahannya feses (tinja) dalam usus besar

pada waktu cukup lama karena adanya kesulitan dalam pengeluaran. Hal

ini terjadi akibat tidak adanya gerakan peristaltik pada usus besar sehingga

memicu tidak teraturnya buang air besar dan timbul perasaan tidak

nyaman pada perut (Akmal, dkk, 2010).

2.3.2 Pengkajian

1. Usia

2. Jenis kelamin

3. Riwayat diet. Perawat menetapkan jenis makanan yang klien inginkan

dalam sehari. Perawat menghitung penyajian buah – buahan, sayur –

sayuran, sereal, dan roti.

20
21

4. Hitung asupan cairan setiap hari. Hal ini meliputi tipe dan jumlah

cairan. Klien mungkin harus memperkirakan jumlah cairan dengan

menggunakan cara pengukuran menggunakan gelas ataupun botol

aqua.

5. Status emosional. Emosi klien dapat mengakibatkan eliminasi alvi

2.3.3 Batasan Krakteristik

1. Nyeri abdomen

2. Nyeri tekan abdomen dengan teraba resistensi otot

3. Anoreksia

4. Rasa tekanan rektal

5. Distensi abdomen

6. Bising usus hipoaktif

7. Feses keras

8. Mengejan saat defekasi

9. Sering flatus

10. Nyeri saat defekasi

11. Kurang menjalini aktifitas

2.3.4 Diagnosis Medis yang Muncul pada Gangguan Eliminasi alvi (

Konstipasi )

1. Stroke ( CVA )

2. Atresia Ani

3. Hemoroid

21
22

4. Diabetes Militus

5. Prolapsus Rektum

6. Kanker Usus Besar

7. Cedera Saraf Tulang Belakang

2.3.5 Masalah Keperawatan yang Muncul

a. Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur.

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hilangnya

nafsu makan.

c. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen.

2.3.6 Hasil Yang Diharapkan

1. Mempertahankan bentuk feses lunak setiap 1-3 hari

2. Bebas dari ketidak nyamanan dan konstipasi

3. Mengidentifikasi indicator untuk mencegah konstipasi

4. Feses lunak dan berbenuk

2.3.7 Intervensi

1. Monitor tanda dan gejala konstipasi

r/ mengetahui apakah terjadi konstipasi atau tidak.

2. Monitor bising usus

r/mengetahui ke abnormalan bisisng usus mingkat atau menurun

22
23

3. Memberikan cairan yang ade kuat

r/Dengan pemberian cairan yang adekuat dapat melunakkan feses sehingga

proses BAB lebih mudah dan lancar.

4. Memberikan makanan yang tinggi serat

r/Makanan yang inggi serat dapat melunakkan feses dan memperlancar BAB.

5. Memperbanyak proses mobilisasi

r/Mobilisasi yang sering juga dapat mengurangi terjadinya konstipasi

6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat pencahar

r/Feses mudah keluar pasien merasa nyaman.

2.3.6 Dokumentasi

a) Pernyataan klien yang mengindikasikan presepsinya terhadap

kondisi

b) Perubahan khusus pada status fisik klien

c) Observasi tentang respon klien tehadap terapi

d) Kondisi kulit dan membran mukosa

e) Intervensi yang dilakukan untuk mengurangi dan mengatasi diagnosa

f) Evaluasi setiap hasil yang diharapkan

(Cynthia M,Sheila S.2011)

2.4. Konsep Asuhan Keperawatan Stroke (CVA)

2.4.1 Pengkajian

1. Identitas klien

23
24

Meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin,

pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan MRS,

nomor register, dan diagnosis medis.

2. Keluhan utama

Sering menjadi alasan kleien untuk meminta pertolongan kesehatan

adalah kelemahan anggita gerak sebalah badan, bicara pelo, tidak dapat

berkomunikasi,dan penurunan tingkat kesadaran,penurunan inake

makanan dan cairan.

3. Data riwayat kesehatan

a. Riwayat kesehatan sekarang

Serangan stroke berlangsuung sangat mendadak, pada saat klien

sedang melakukan aktivitas ataupun sedang beristirahat. Biasanya

terjadi nyeri kepala, mual, muntah,bahkan kejang sampai tidak sadar,

selain gejala kelumpuhan separuh badan atau gangguan fungsi otak

yang lain.

b. Riwayat penyakit dahulu

Adanya riwayat hipertensi, riwayat steooke sebelumnya, diabetes

melitus, penyakit jantung,anemia, riwayat trauma kepala, kontrasepsi

oral yang lama, penggunaan anti kougulan, aspirin, vasodilatator, obat-

obat adiktif, dan kegemukan.

c. Riwayat penyakit keluarga

Biasanya ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi, diabetes

melitus, atau adanya riwayat stroke dari generasi terdahulu.

24
25

4. Riwayat psikososial dan spiritual

Peranan pasien dalam keluarga, status emosi meningkat, interaksi

meningkat, interaksi sosial terganggu, adanya rasa cemas yang

berlebihan, hubungan dengan tetangga tidak harmonis, status dalam

pekerjaan.Dan apakah klien rajin dalam melakukan ibadah sehari-hari.

5. Aktivitas sehari-hari

a. Nutrisi

Klien pada penderita cva sering terjadi penurunan intake makanan.

b. Minum

Klien jarang untuk minum

c. Eliminasi

Pada pasien stroke hemoragik biasanya didapatkan pola eliminasi

BAB yaitu konstipasi karena adanya gangguan dalam mobilisasi,

bagaimana eliminasi BAK apakah ada kesulitan, warna, bau,

berapa jumlahnya, karena pada klien stroke mungkn mengalami

inkotinensia urine sementara karena konfusi, ketidakmampuan

mengomunikasikan kebutuhan, dan ketidakmampuan untuk

mengendalikan kandung kemih karena kerusakan kontrol motorik

dan postural.

6. Pemeriksaan fisik

a. Kepala

Pasien pernah mengalami trauma kepala, adanya hemato atau

riwayat operasi.

25
26

b. Mata

Penglihatan adanya kekaburan, akibat adanya gangguan nervus

optikus (nervus II), gangguan dalam mengangkat bola mata

(nervus III), gangguan dalam memotar bola mata (nervus IV) dan

gangguan dalam menggerakkan bola mata kelateral (nervus VI).

c. Hidung

Adanya gangguan pada penciuman karena terganggu pada nervus

olfaktorius (nervus I).

d. Mulut

Adanya gangguan pengecapan (lidah) akibat kerusakan nervus

vagus, adanya kesulitan dalam menelan.

e. Dada

Inspeksi : Bentuk simetris

Palpasi : Tidak adanya massa dan benjolan.

Perkusi : Nyeri tidak ada bunyi jantung lup-dup.

Auskultasi : Nafas cepat dan dalam, adanya ronchi, suara

jantung I dan II murmur atau gallop.

f. Abdomen

Inspeksi : Bentuk simetris, pembesaran tidak ada.

Auskultasi : Bisisng usus agak lemah.

Perkusi : Nyeri tekan tidak ada, nyeri perut tidak ada

g. Ekstremitas

26
27

Pada pasien dengan stroke hemoragik biasnya ditemukan

hemiplegi paralisa atau hemiparase, mengalami kelemahan otot

dan perlu juga dilkukan pengukuran kekuatan otot, normal : 5

Pengukuran kekuatan otot menurut (Arif mutaqqin,2008)

1) Nilai 0 : Bila tidak terlihat kontraksi sama sekali.

2) Nilai 1 : Bila terlihat kontraksi dan tetapi tidak ada gerakan

pada sendi.

3) Nilai 2 : Bila ada gerakan pada sendi tetapi tidak bisa

melawan grafitasi.

4) Nilai 3 : Bila dapat melawan grafitasi tetapi tidak dapat

melawan tekanan pemeriksaan.

5) Nilai 4 : Bila dapat melawan tahanan pemeriksaan tetapi

kekuatanya berkurang.

6) Nilai 5 : bila dapat melawan tahanan pemeriksaan dengan

kekuatan penuh

2.4.2 Diagnosa Keperawatan yang Muncul Menurut NANDA 2015

1. Resiko ketidak efektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan

perdarahan intraserebral, oklusi otak, vasospasme, dan edema otak.

27
28

2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan

akumulasi secret, kemampuan batuk menurun, penurunan mobilitas fisik

sekunder, dan perubahan tingkat kesadaran.

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemipearese atau

hemiplagia, kelemahan neuromoskuler pada ekstremitas

4. Defisist perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

neuromuskuler, menurunya kekuatan dan kesadaran, kehilangan kontrol

otot atau koordinasi di tandai oleh kelemahan untuk ADL, seperti

makan, mandi dll.

5. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubunagn dengan imobilisasi

dan asupan cairan yang tidak adekuat.

6. Hambatan komunikasi verbal b.d penurnan fungsi otak facial/oral

7. Ketidakseimbangan nutrisikurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan kelemahan otot dalam mengunyah dan menelan.

2.4.3 Intervensi Menurut NANDA 2015

1. Perubahan perpusi jaringan otak berhubungan dengan perdarahan

intraserebral, oklusi otak, vasospasme, dan edema otak.

Tujuan :

Setelah di lakukan tindakan keperawatan 2x24 jam perpusi jarinagn

tercapai secara optimal.

kriteria hasil :

1) klien tidak gelisah

2) tidak ada keluhan nyeri kepala

28
29

3) mual dan kejang

4) GCS 4, 5, 6

5) pupil isokor

6) refleks cahaya (+)

7) TTV normal.

Intervensi :

1) Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang sebab

peningkatan TAK dan akibatnaya.

Rasional : keluarga lebih berpartisipasi dalam proses penyembuhan.

2) Baringkan klie ( bed rest ) total dengan posisi tidur telentang tanpa

bantal.

Rasional : monitor tanda-tanda status neurologis dengan GCS.

3) Monitor tanda-tanda vital.

Rasional : untuk mengetahui keadaan umum klien.

4) Bantu pasien untuk membtasi muntah, batuk,anjurkan klien menarik

nafas apabila bergerak atau berbalik dari tempat tidur.

Rasional : aktivitas ini dapat meningkatkan tekanan intracranial dan

intraabdoment dan dapat melindungi diri diri dari valsava.

5) Ajarkan klien untuk mengindari batuk dan mengejan berlebihan.

Rasional : Batuk dan mengejan dapat meningkatkan tekanan

intrkranial dan poteensial terjadi perdarahan ulang.

6) Ciptakan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung.

29
30

Rasional : rangsangan aktivitas dapat meningktkan tekanan

intracranial.

7) Melakukan reflek cahaya

Rasional : Mengetahui keabnormalan dari pupil

8) Kolaborasi : pemberian terapi sesuai intruksi dokter,seperti :steroid,

aminofel, antibiotika.

Rasional : tujuan yang di berikan dengan tujuan: menurunkan

premeabilitas kapiler,menurunkan edema serebri,menurunkan

metabolic sel dan kejang.

2. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas yang berhubungan dengan akumulasi

secret, kemampuan batuk menurun, penurunan mobilitas fisik sekunder,

dan perubahan tingkat kesadaran.

Tujuan :

Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien mampu

meningkatkan dan memepertahankan keefektifan jalan nafas agar tetap

bersih dan mencegah aspirasi.

kriteria hasil :

1) bunyi nafas terdengar bersih

2) ronkhi tidak terdengar

3) trakeal tube bebas sumbatan

4) menunjukan batuk efektif

5) tidak ada penumpukan secret di jalan nafas

30
31

6) frekuensi pernafasan 16 -20x/menit.

Intervensi :

1) Kaji keadaan jalan nafas,

Rasional : obstruksi munkin dapat di sebabkan oleh akumulasi secret.

2) Lakukan pengisapan lendir jika d perlukan.

Rasional : pengisapan lendir dapay memebebaskan jalan nafas dan tidak terus

menerus di lakukan dan durasinya dapat di kurangi untuk mencegah hipoksia.

3) Ajarkan klien batuk efektif.

Rasional : batuk efektif dapat mengeluarkan secret dari jalan nafas.

4) Lakukan postural drainage perkusi/penepukan.

Rasional : mengatur ventilasi segmen paru-paru dan pengeluaran secret.

5) Kolaborasi : pemberian oksigen 100%.

Rasional : denagn pemberiaan oksigen dapat membantu pernafasan dan

membuat hiperpentilasi mencegah terjadinya atelaktasisi dan mengurangi

terjadinya hipoksia.

3. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan hemipearese atau

hemiplagia, kelemahan neuromoskuler pada ekstremitas

Tujuan : Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam

mobilitas fisik teratasi, dengan kriteria hasil : klien dapat mempertahan atau

meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena atau

kompensasi.

Kriteria Hasil :

31
32

1. Pasien bisa melakukan aktifitas mandiri

2. Wajah klien senang

3. Pasien bisa mengerakan ekremitas atas dan bawah

Intervensi :

1) Kaji kemampuan secar fungsional dengan cara yang teratur klasifikasikan

melalui skala 0-4.

Rasional : untuk mengidentifikasikan kelemahan dan dapat memberikan

informasi mengenai pemulihan.

2) Ubah posisi setiap 2 jam dan sebagainya jika memungkinkan bisa lebih

sering.

Rasional : menurunkan terjadinya terauma atau iskemia jaringan.

3) Lakukan gerakan ROM aktif dan pasif pada semua ekstremitas.

Rasional : meminimalkan atropi otot, meningkatkan sirkulasi dan mencegah

terjadinya kontraktur.

4) Bantu mengembangkan keseimbangan duduk seoerti meninggikan bagian

kepala tempat tidur, bantu untuk duduk di sisi tempat tidur.

Rasional : membantu melatih kembali jaras saraf,meningkatkan respon

proprioseptik dan motorik.

5) Konsultasi dengan ahli fisiotrapi.

Rasional : program yang khusus dapat di kembangkan untuk menemukan

kebutuhan klien.

32
33

4. Defisist perawatan diri berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler,

menurunya kekuatan dan kesadaran, kehilangan kontrol otot atau koordinasi

di tandai oleh kelemahan untuk ADL, seperti makan, mandi dll.

Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam terjadi

prilaku peningkatan perawatan diri.

Kriteria hasil : klien menunjukan perubahan gaya hidup untuk kebutuhan

merawat diri, klien mampu melakukan aktivitas perawatna diri sesuai dengan

tingkat kemampuan, mengidentifikasikan personal masyarakat yang dapat

membantu.

Intervensi :

1) Kaji kemampuan dan tingkat penurunan dalam skala 0 – 4 untuk

melakukan ADL.

Rasional : membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan pertemuan

kebutuhan individu.

2) Hindari apa yang tidak dapat di lakukan oleh klien dan bantu bila perlu.

Rasional : klien dalam keadaan cemas dan tergantung hal ini di lakukan

untuk mencegah frustasi dan harga diri klien.

3) Menyadarkan tingkah laku atau sugesti tindakan pada perlindungan

kelemahan. Pertahankan dukungan pola pikir dan izinkan klien melakukan

tugas, beri umpan balik yang positif untuk usahanya.

Rasional : klien memerlukan empati, tetapi perlu mengetahui perawatan yang

konsisten dalam menangani klien, skaligus meningkatkan harga diri klien,

memandirikan klien, dan menganjurkan klie untuk terus mencoba.

33
34

4) Rencanakan tindakan untuk deficit pengelihatan dan seperti tempatkan

makanan dan peralatan dalam suatu tempat, dekatkan tempat tidur ke

dinding.

Rasional : klien mampu melihat dan memakan makanan, akan mampu

melihat kelaurmasuk orang ke ruangan.

5. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubunagn dengan imobilisasi dan

asupan cairan yang tidak adekuat.

Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan selam 2x24 jam gangguan

eliminasi fecal ( konstipasi) tidak terjadi lagi.

Kriteria hasil : klien BAB lancar,konsistensi feces encer, Tidak terjadi

konstipasi lagi.

Intervensi :

1) Kaji pola eliminasi BAB

Rasional : untuk mengetahui frekuensi BAB klien, mengidentifikasi masalah

BAB pada klien .

2) Anjurkan untuk mengosumsi buah dan sayur kaya serat.

Rasional : untuk mempelancar BAB.

3) Anjurkan klien untuk banyak minum air putih, kurang lebih 18 gelas/hari,

Rasional : mengencerkan feces dan mempermudah pengeluaran feces.

4) Berikan latihan ROM pasif dan ROM aktif

Rasional : untuk meningkatkan defikasi.

5) Kolaborasi pemberian obat pencahar.

34
35

Rasional : untuk membantu pelunakkan dan pengeluaran feces

6. Hambatan komunikasi verbal b.d penurnan fungsi otak facial/oral

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan, selama 2x24 jam

komunikasi dapat teratasi

Kriteria hasil : Klien dapat mengemukakan bahasa isyarat dengan tepat

Intervensi :

1) Kaji tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi

Rasional : Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indicator dari

derajat gangguan serebral

2) Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana

Rasional : melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik

3) Tunjukan objek dan minta pasien penyebutkan nama benda tersebut

Rasional : melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik

4) Ajarkan klien tekhnik berkomunikasi non verbal (Bahasa isyarat)

Rasional : Bahasa isyarat dapat membantu untuk menyampaikan isi pesan

yang dimaksud

5) Konsultasi dengan / rujuk kepada ahli terapi bicara

Rasonal : Untuk mengidentifikasi kekurangan / kebutuhan terap

7. Resiko ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

berhubungan dengan kelemahan otot dalam mengunyah dan menelan.

35
36

Tujuan : seteah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jsm kebutuhan

nutrisi klien terpenuhi.

Kriteria Hasil :

1).Asupan dapat ,masuk sesuai kebutuhan

2)Terdapat kemampuan menelan

3)Tidak terjadi penurunan berat

Intervensi

1. Lakukan oral higiene.

Rasional : kebersihan mulut merangsang nafsu makan

2. Observasi intake dan output nutrisi

Rasional : mengetahui keseimbangan nutrisi klie

3. Kaji kemampuan klien dalam mengunyah, menelan dan reflek batuk.

Rasional : untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien.

4. Berikan makan perlahan dengan lingkungan yang tenang.

Rasional : klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya

distraksi atau gangguan dari luar.

5. Mulailah untuk memberi makan per oral setengah cair, makanan lunak

ketika klien dapat menelan air.

Rasional : makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya di

dalam mulut, dan menurunkan terjadinya aspirasi.

6. Kolaborasi dalam pemberian nutrisi melalui parenteral dan makanan

melalui selang.

36
37

Rasional : mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti dan juga

makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui

mulut.

BAB 3

37
38

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian adalah keseluruhan dari perencanaan untuk menjawab

pertanyaan peneliti dan mengantisipasi beberapa kesulitan yang mungkin timbul

selama proses penelitian, hal ini penting karena desain penelitian merupakan

strategi untuk mendapatkan data yang dibutuhkan untuk keperluan pengujian

hipotesis atau untuk menjawab pertanyaan penelitian dan sebagai alat untuk

mengontrol variabel yang berpengaruh dalam penelitian (Sugiono, 2010). Desain

penelitian yang digunakan adalah studi kasus, studi kasus ini adalah studi untuk

mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Stroke

(CVA) dengan Gangguan Eliminasi Alvi di Ruang Penyakit Dalam RSUD

Blambangan Banyuwangi Tahun 2016.

3.2 Batasan Istilah

Batasan istilah adalah peryataan yang menjelaskan istilah –istilah kunci yang

menjadi focus pada asuhan keperawatan pada klien yang mengalami Stroke

(CVA) dengan Gangguan Eliminasi Alvi di Ruang Penyakit Dalam RSUD

Blambangan Banyuwangi Tahun 2016.

Tabel 3.1. Tabel definisi dan kriteria hasil stroke (cva) dan gangguan

eliminasi alvi

Definisi Stroke (CVA) CVA (Stroke) adalah gangguan perdarahan

otak yang menyebabkan fungsi otak terganggu

yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan

38
39

pada tubuh , terganggu bagian otak mana yang

rusak,bila bila terkena CVA (Stroke) dapat

mengalami gangguan seperti penurunan

kesadaran , kelumpuhan serta tidak

berfungsinya panca indra atau nafas berhenti

yang menyebabkan penderita meninggal.

Definisi Gangguan Gangguan eliminasi alvi (konstipasi)

Elimansi Alvi adalahpenurunan pada frekuensi normal

(konstipasi) defekasi yang disertai oleh kesulitan atau

pengeluaran tidak lengkap feses atau

pengeluaran feses yang kering , keras ,dan

banyak.

3.3 Partisipan

Pada sub bab ini dideskripsikan tentang karakteristik partisipan atau unit

analisis atau kasus yang akan diteliti .Unit analisis atau partisipan dalam

keperawatan umumnya adalah klien dan keluarganya (Nur Salam, 21013).

Subjek yang digunakan adalah 2 klien atau 2 keluarga ( 2 kasus ) yang

mengalami CVA dengan Gangguan elimanssi alvi (konstipasi).

3.4 Lokasi dan Waktu Penelitian

1) Lokasi

39
40

Tempat penelitian di lakukan di ruang penyakit dalam ( RPD 1) RSUD

Blambangan.

2) Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilakukan pada saat klien masuk ke rsdan selama

minimal tiga hari dilakukan intervensi, jika dalam waktu kurang dari tiga hari

klien sudah keluar rumah sakit intervensi dapat dilakukan dengan cara home

care.Dalam penelitian ini waktu penelitian dibagi menjadi dua tahapsebagai

berikut:

a) Tahap persiapan yang meliputi:

(1) Penyusunan proposal:Juni 2016

(2) Seminar proposal: Desember 2016

b) Tahap pelaksanaan yang meliputi:

(1) Pengajuan ijin:Januari 2017

(2) Pengumpulan data: Januari 2017

3.5 Pengumpulan Data

1) Wawancara

Wawancara merupakan alat komunikasi yang memungkinkan saling tukar

informasi, proses yang menghasilkan tingkat pemahaman yang lebih tinggi

dari pada yang dicapai orang secara sendiri-sendiri. Wawancara keperawatan

mempunyai tujuan yang spesifik meliputi : pengumpulan dari satu set data

yang spesifik. Anamnesis dilakukan secara langsung antara peneliti dengan

pasien meliputi : identitas klien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang,

riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, dll. Sumber informasi

40
41

dari klien, keluarga, dan perawat lainnya. Alat yang dilakukan untuk

wawancara dalam pengumpulan data dapat berupa alat tulis, buku catatan,

kamera ataupun perekam suara.

2) Observasi dan Pemeriksaan Fisik

Observasi merupakan cara pengumpulan data dengan pengamatan secara

langsung kepada klien untuk mencari perubahan atau hal-hal yang akan diteliti

dengan pemeriksaan fisik meliputi : inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi

pada sistem tubuh klien yang dilakukan secara head to toe.

3) Studi Dokumentasi

Studi dokumentasi dilakukan dengan cara mendokumentasikan hasil

pemeriksaan dignostik, hasil evaluasi asuhan keperawatan, hasil data dari

rekam medik, dan hasil data dari buku catatan klien CVA di RSUD

Blambangan Banyuwangi

3.6 Uji Keabsahan Data

Untuk mencapai kesimpulan yang valid, maka dilakukan uji keabsahan data

terhadap semua data yang terkumpul. Uji keabsahan data ini dilakukan dengan

menggunakan teknik triangulasi. Teknik triangulasi dapat diperoleh dengan

berbagai cara diantaranya data dapat dikumpulkan dengan waktu yang

berbeda (triangulasi waktu), dengan tempat yang berbeda (triangulasi tempat),

dan orang yang berbeda (triangulasi sumber). Pada penelitian ini teknik yang

digunakan adalah dengan triangulasi sumber. Melalui triangulasi sumber data

diperoleh dari klien, keluarga klien yang mengalami stroke dan perawat.

Triangulasi teknik sumber, data utama dari klien dan keluarga dalam

41
42

penelitian dilakukan dengan cara membandingkan dan mengobservasi

perkembangan kesehatan klien. Triangulasi teknik sumber data utama perawat

digunakan untuk menyamakan persepsi antara klien dan perawat

(Moh.Nazir,2007:346).

3.7 Analisis Data

Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dalam metode ilmiah, karena

dengan analisislahdata tersebut dapat diberi artidanmakna yang berguna dalam

memecahkan masalah penelitian (Moh.Nazir, 2007:346).

1) Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dari hasil WOD (wawancara, observasi,

dokumentasi).Hasil ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian disalin

dalam bentuk transkrip (catatan terstruktur).

2) Mereduksi Data

Data hasil wawancara yang terkumpul dalam bentuk catatan lapangan

dijadikan satu dalam bentuk transkrip dan dikelompokkan menjadi data

subyektif dan obyektif, dianalisis berdasarkan hasil pemeriksaan diagnostik

kemudian dibandingkan nilai normal.

3) Penyajian Data

Penyajian data dapat dilakukan dengan tabel, gambar, bagan maupun teks

naratif.Kerahasiaan dari klien dijamin dengan jalan mengaburkan identitas

dari klien.

4) Kesimpulan

42
43

Dari data yang disajikan, kemudian data dibahas dan dibandingkan dengan

hasil-hasil penelitian terlebih dahulu dan secara teoritis dengan perilaku

kesehatan.Penarikan kesimpulan dilakukan dengan metode induksi.Data yang

terkumpulkan terkait dengan data pengkajian, diagnosis, perencanaan,

tindakan, evaluasi.

3.8. Etika Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peneliti harus memahami prinsip-prinsip

etika dalam penelitian karena penelitian yang akan dilakukan meggunakan

subyek manusia, dimana setiap manusia mempunyai hak masing-masing yang

tidak dapat dipaksakan. Beberapa etika dalam melakukan penelitian diantarnya

adalah:

1) Informed consent (lembar persetujuan menjadi partisipan)

Sebelum lembar persetujuan diberikan kepada partisipan, maka terlebih

dahulu peneliti menjelaskan maksud, tujuan, keuntungan, dan kerugian

penelitian yang akan dilakukan kepada partisipan.

a) Tujuan

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan klien

tentang cara mencegah terjadinya gangguan eliminasi alvi

(konstipasi),tindakan yang dilakukan jika sudah terjadi gangguan

eliminasi alvi (konstipasi), dan mengeksplorasi pengetahuan klien tentang

dampak yang mungkin terjadi akibat dari gangguan eliminasi alvi

(konstipasi).

43
44

b) Keuntungan

Beberapa keuntungan yang didapat dari penelitian ini adalah klien

mengetahui cara mencegah terjadinya gangguan elimanasi alvi

(konstipasi), dapat menentukan tindakan yang dilakukan jika sudah

terjadi gangguan elimanasi alvi (konstipasi) , dan mampu megetahui

tentang dampak dari gangguan elimanasi alvi (konstipasi)

c) Kerugian

Dalam penelitian ini tidak ada bahaya dan kerugian bagi partisipan,

karena penelitian ini dengan proses wawancara dan tidak ada perlakuan-

perlakuan khusus bagi partisipan. Kemungkinan kerugian adalah menyita

waktu partisipan saja. Apabila partisipan telah mengerti dan bersedia

maka partisipan diminta menandatangani surat persetujuan menjadi

partisipan, namun bila partisipan menolak maka peneliti tidak akan

memaksa. Jika partisipan sudah menandatangani persetujuan maka ada

hak dan kewajiban sebagai partisipan diantarnya:

d) Hak partisipan

Setelah dilakukan penjelasan (Informed consent) maka partisipan berhak

untuk tidak mau menjadi partisipan, dan jika partisipan sudah menyetujui,

maka partisipan berhak mengundurkan diri menjadi partisipan, berhak

menunda waktu jika partisipan berhalangan dan partisipan berhak

menolak untuk diwawancarai untuk sementara waktu. Selain itu hak

44
45

partsispan yang lain yaitu partisipan berhak mendapatkan reward dari

peneliti atas partisipasinya sebagai partisipan dalam penelitian.

e) Kewajiban partisipan

Kewajiban partisipan setelah menandatangani lembar persetujuan

adalah mematuhi apa yang sudah ditentukan oleh peneliti, misalnya

menjawab semua pertanyaan yang diberikan oleh peneliti dan partisipan

harus memberikan jawaban yang benar tanpa dimanipulasi.

2) Anonimity (tanpa nama)

Dalam rangka untuk menjaga kerahasiaan partisipan, maka peneliti

tidak mencantumkan nama terang partisipan, tapi peneliti hanya

menggunakan inisial, contohnya Ny.I/Tn.A untuk memudahkan peneliti

dalam membedakan antar partisipan sehingga meminimalkan kesalahan.

3) Confidentiality (kerahasiaan)

Kerahasiaan data-data yang diterima dari responden dijamin oleh

peneliti. Adapun bila ada forum khusus maka peneliti akan memberikan

data-data yang telah didapatkan dari wawancara tanpa memberi nama asli

partisipan.

45
46

Ikawati, Zullies. 2009.


Zullies Ikawati’s Lecture Notes : Skizophrenia

46
47

.
Yogyakarta : UGMMaslim, Rusdi. 2003.
Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas PPDGJ III
. Jakarta: BagianIlmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.Price, Wilson. 2006.
Patofisiologi
. Jakarta: EGC

47