Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Puji dan syukur senantiasa saya panjatkan kehadirat Allah


SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis
mendapatkan kemudahan dalam menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Saya sangat menyadari keterbatasan dan ilmu pengetahuan yang ada,
sehingga hasil makalah ini perlu adanya pengkajian dan pengembangan lagi.
Demi kesempurnaan penelitian selanjutnya, maka saya mengharapkan kritik dan
saran pembaca.
Akhirnya saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca dan menambah wawasan.

Medan, Februari 2018

Kelompok 2
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.3 TUJUAN PENULISAN
1.4 MANFAAT PENULISAN
BAB II KONSEP TEORI
2.1 DEFINISI
2.2 ETIOLOGI
2.3 MANIFESTASI KLINIS
2.4 PATOFISIOLOGI
2.5 PHATWAYS
2.5 KOMPLIKASI
2.6 PEMERIKSAAN PENUNJANG
2.8 PENATALAKSANAAN
2.9 PENGKAJIAN
2.10 DIAGNOSA
2.11 INTERVENSI
2.12 IMPLEMENTASI
2.12 EVALUASI
BAB III PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Asma adalah penyebab utama penyakit kronik pada anak, yang
menyebabkan sebagian besar hilangnya hari sekolah akibat penyakit kronik. Asma
mempunyai awitan pada setiap usia. Sekitar 80-90% anak asma mendapat gejala
pertama sebelum usia 4-5 tahun. Pada suatu waktu selama masa anak akan
mendapat gejala dan tanda yang sesuai dengan asma.
Berat dan perjalanan asma sulit diramalkan. Sebagian besar anak yang
menderita sebagian kecil akan menderita asma berat yang sulit diobati, biasanya
lebih bersifat menahun daripada musiman. Yang menyebabkan ketidakberdayaan
dan secara nyata mempengaruhi hari-hari sekolah, aktivitas bermain, dan fungsi
sehari-hari. Sungguh merupakan hal yang tidak menyenangkan apabila dalam
masa-masa bermain dan beraktivitas, anak-anak terganggu karena penyakit yang
diderita. Hal ini tentunya membutuhkan perhatian khusus baik berupa perawatan,
pengobatan dan pencegahan.
Oleh karena itu penyakit asma memerlukan penanganan khusus terlebih
lagi pada anak-anak yang selalu diliputi keceriaan dalam hari-hari dalam bermain
dan beraktivitas dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan tenaga kesehatan
dari berbagai bidang multidisipliner. Dalam pelayanan keperawatan, perawat
mempunyai peranan sebagai tenaga profesional yaitu bertindak memberikan
asuhan keperawatan, penyuluhan kesehatan kepada orang tua, memberikan
informasi tentang pengertian, tanda dan gejala, serta pencegahan secara mandiri
maupun secara kolaboratif dengan berbagai pihak.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa definisi asma ?
2. Apa saja etioogi asma ?
3. Bagaimana Manifestasi klinik asma ?
4. Bagaimana patofisiologi asma ?
5. Bagaimana Pemeriksaan penunjang pada asma ?
6. Bagaimana Pentalaksanaan pada asma ?

1.2 TUJUAN
Tujuan secara umum : mengerti tentang asma dan memahami apa yang hrus di
lakukan seorang perawat untuk menangani asma .
Tujuan khusus : mengetahui definisi, etiologi, manifestasi klinis, patofisiologi,
kompikasi, pemeriksaan penunjang dan penatalaksanaan asma

1.3 MANFAAT PENULISAN


Dengan diselesaikannya makalah ini, diharapkan dapat memberikan
manfaat berupa :
1. Mengetahui tentang definisi asma.
2. Mengetahui etiologi dari penyakit asma.
3. Untuk mengetahui pemberian asuhan keperawatan pada kasus asma yang
dimulai dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi
dan evaluasi
BAB II
KONSEP TEORI

2.1 DEFINISI ASMA


Asma adalah gangguan jalan nafas reaktif kronis termasuk obstruksi jalan
nafas episodik dan obstruksi jalan nafas reversible akibat bronkospasme,
peningkatan sekresi mucus, dan edema mukosa (kapita selekta penyakit, 2002).
Asma adalah sebuah penyakit radang kronik pada saluran pernafasan
dimana banyak sel-sel dan elemennya berperan.
Pada individu tertentu, peradangan menyebabkan beberapa kondisi seperti
wheezing, sulit bernafas, retraksi dinding dada, dan batuk sering terutama di
malam hari, pagi hari, atau ketika melakukan aktifitas. Beberapa gejala ini
dihubungkan dengan penyakit yang menetap tetapi obstruksi saluran pernafasan
dan sering reversible secara spontan atau dengan perawatan (Michele Geiger,
Bronsky Donna J.W; 2008)
Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran
nafas yang menyebabkan hipereaktifitas bronkus terhadap berbagi rangsanan yang
ditandai dengan gejala epidosik berulang berupa mengi, batuk, sesak nafas dan
rasa berat didada terutama di malam hari dan atau dini hari yang umumnya
bersifat reversible baik dengan atau tanpa pengobatan (Pedoman pengendalian
asma, Depkes; 2009)
Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulakan penyakit asma
adalah suatu penyakit yang menyerang saluran pernafasan (bronchiale) pada paru
dimana terdapat peradangan (inflamasi) kronis dinding rongga bronchiale
sehingga mengakibatkan penyempitan saluran nafas yang akhirnya seseorang
mengalami sesak nafas.

Asma dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis, yaitu :


i. Asma alergik (Ekstrinsik)
Merupakan suatu bentuk asma dengan allergen seperti bulu binatang,
debu, ketombe. Bentuk asma ini biasanya di mulai dari kanak – kanak.
ii. Idiopatik atau nonalergik asma (Intrinsic)
Tidak berhubungan secara langsung dengan allergen spesifik, saluran
nafas atas, aktifitas, emosi/stress dan polusi lingkungan akan mencetuskan
serangan. Bentuk asma ini biasanya di mulai ketika dewasa > 35 tahun.
iii. Asma CampuraN
Merupakan bentuk asma yang paling sering. Di karakteristikan dengan
bentuk ke dua jenis asma alergik dan ideopatik atau nonalergik
(Soemantri, 2009

2.2 ETIOLOGI
a. Zat allergen
Adalah zat-zat tertentu yang bila diisap atau dimakan dapat
menimbulkan serangan asma misalnya debu rumah, tengau debu rumah(
dermatophagoides pteronissynus), spora, jamur, bulu kucing, bulu
binatang , beberapa makanan laut, dan sebagainya.
b. Infeksi saluran pernapasan ( respiratorik )
Infeksi saluaran pernapasan terutama disebabkan oleh virus. Virus
influenza merupakan salah satu faktor pencetus yang paling sering
menimbulkan asma. Diperkirakan, dua pertiga penderita asma dewasa
serangan asmanya ditimbulkan oleh infeksi saluaran pernapasan. (sundaru
1991)
c. Olahraga / kegiatan jasmani yang berat.
Sebagin penderita asma akan mendapatkan serangan asma bila
melakukan olaharaga atau aktivitas fisik yang berlebihan. Lari cepat dan
bersepeda adalah dua jenis kegiatan paling mudah menimbulkan serangan
asma. Serangan asma karena kegiatan jasmani ( exercise induced asma -
EIA) terjadi setelah olahraga atau aktivitas fisik yang cukup berat dan
jarang serangan timbul beberapa jam setelah olahraga.
d. Perubahan suhu udara (udara dingin, panas, kabut)
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering
mempengaruhi Asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor
pemicu terjadinya serangan Asma. Kadang kadang serangan berhubungan
dengan musim, seperti musim hujan, musim kemarau.
e. Polusi udara
Klien asma sangat peka terhadap udara berdebu, asap pabrik /
kendaraan, asap rokok, asap yang mengandung hasil pembakaran dan
oksida fotokemikal, serta bau yang tajam.
f. Memiliki kecenderungan alergi obat-obatan
Beberapa klien denga asma sensitif atau alergi terhadap obat
tertentu seperti penisilin, salisilat beta bloker, kodein,dan sebainya.
g. Riwayat keluarga (factor genetic) Orang tua menderita asma
h. Lingkungan pekerajan
Lingkungan kerja merupakan factor pencetus yang menyumbang
2- 15% klien dengan asma.( sundaru,1991 ). Mempunyai hubungan
langsung dengan sebab terjadinya serangan Asma. Hal ini berkaitan
dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium
hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik
pada waktu libur atau cuti.
i. Emosi dan stres
Stres atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan Asma,
selain itu juga bisa memperberat serangan Asma yang sudah ada.
Disamping gejala Asma yang timbul harus segera diobati penderita Asma
yang mengalami stres atau gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi
maka gejala belum bisa diobati.

2.3 MANIFESTASI KLINIS


1. Serangan tiba-tiba yang diawali dengan batuk-batuk dan sesak
nafas
2. Wheezing
3. Ekspirasi lebih panjang
4. Kontraksi otot-otot bantu pernapasan
5. Hypoksemia dan sianosis
6. Keletihan

2.4 PATOFISIOLOGI
Suatu serangan asma timbul karena seseorang yang atopi terpapar dengan
allergen yang ada di lingkungan dan membentuk immunoglobulin (Ig) E, allergen
yang masuk akan ditangkap oleh makrofag yang bekerja sebagai antigen
presenting sel (APC), allergen tersebut dipresentasikan ke sel Th. Sel Th
memberikan signal kepada sel B dengan dilepaskannya interlukin 2 (IL-2) untuk
berproliferasi menjadi sel plasma dan membentuk IgE.
IgE yang terbentuk akan diikat oleh mastosit yang ada dalam jaringan dan
basofil yang ada dalam sirkulasi. Bila proses ini terjadi pada seseorang, maka
orang itu sudah disensitisasi atau baru menjadi rentan. Jika terpapar 2 kali atau
lebih dengan allergen yang sama allergen tersebut akan diikat oleh IgE yang
sudah ada dalam permukaan mastosit dan basofil. Ikatan ini akan menimbulkan
influk Ca++ ke dalam sel dan perubahan di dalam sel yang menurunkan kadar
cAMP.
Penurunan kadar cAMP menimbulkan degranulasi sel, dan melepaskan
mediator-mediator kimia yang meliputi histamine, slow releasing suptance of
anaphylaksis (SRS-A), eosinofilik chomotetik faktor of anaphylacsis (ECF-A),
dan lain-lain. Mediator tersebut menyebabkan timbulnya tiga reaksi utama yaitu:
kontraksi otot-otot polos baik saluran nafas yang besar ataupun yang kecil yang
akan menimbulkan bronkospasme, peningkatan permeabilitas kapiler yang
berperan dalam terjadinya edema mukosa yang menambah semakin
menyempitnya saluran nafas. Peningkatan sekresi kelenjar mukosa dan
peningkatan produksi mucus. Tiga reaksi tersebut menimbulkan gangguan
ventilasi, distribusi ventilasi yang tidak merata dengan sirkulasi darah paru dan
gangguan difusi gas ditingkat alveoli, akibatnya akan terjadi hipoksemia,
hiperkapnea dan asidosis pada tahap yang sangat lanjut.
2.5 PATHWAYS

2.6 KOMPLIKASI
Berbagai komplikasi menurut Mansjoer (2008) yang mungkin timbul
adalah :
a. Pneumothoraks
Pneumothoraks adalah keadaan adanya udara di dalam rongga
pleura yang dicurigai bila terdapat benturan atau tusukan dada. Keadaan
ini dapat menyebabkan kolaps paru yang lebih lanjut lagi dapat
menyebabkan kegagalan napas.
b. Pneumomediastinum
Pneumomediastinum dari bahasa Yunani pneuma “udara”, juga
dikenal sebagai emfisema mediastinum adalah suatu kondisi dimana udara
hadir di mediastinum. Pertama dijelaskan pada 1819 oleh Rene Laennec,
kondisi ini dapat disebabkan oleh trauma fisik atau situasi lain yang
mengarah ke udara keluar dari paru-paru, saluran udara atau usus ke dalam
rongga dada .
c. Atelektasis
Atelektasis adalah pengkerutan sebagian atau seluruh paru-paru
akibat penyumbatan saluran udara (bronkus maupun bronkiolus) atau
akibat pernafasan yang sangat dangkal.
d. Aspergilosis
Aspergilosis merupakan penyakit pernapasan yang disebabkan oleh
jamur dan tersifat oleh adanya gangguan pernapasan yang berat. Penyakit
ini juga dapat menimbulkan lesi pada berbagai organ lainnya, misalnya
pada otak dan mata. Istilah Aspergilosis dipakai untuk menunjukkan
adanya infeksi Aspergillus sp.
e. Gagal napas
Gagal napas dapat tejadi bila pertukaran oksigen terhadap
karbodioksida dalam paru-paru tidak dapat memelihara laju konsumsi
oksigen dan pembentukan karbondioksida dalam sel-sel tubuh.
f. Bronkhitis
Bronkhitis atau radang paru-paru adalah kondisi di mana lapisan
bagian dalam dari saluran pernapasan di paru-paru yang kecil
(bronkhiolis) mengalami bengkak. Selain bengkak juga terjadi
peningkatan produksi lendir (dahak). Akibatnya penderita merasa perlu
batuk berulang-ulang dalam upaya mengeluarkan lendir yang berlebihan,
atau merasa sulit bernapas karena sebagian saluran udara menjadi sempit
oleh adanya lendir.
g. Fraktur iga
2.7 PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Analisa Gas Darah ( AGD / astrup ).
Hanya dilakukan pada serangan asma berat karna terdapt hipoksia,
hiperkapnea, dan asidosis respiratorik.
b. Sputum
Pewarnaan gram penting untuk melihat adanya bakteri, cara tersebut
kemudian diikuti kultur dan uji resistensi terhadap beberapa antibiotik.
c. Sel eosinofil
Sel eosinofil pada klien dengan status asma dapat mencapai 1000 – 1500 /
mm3 . sedangkan hitung eosinofil normal antara 100 – 200/mm3.Perbaikan
fungsi paru disertai penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukan
pengobatan telah tepat.
d. Pemerikasaan darah rutin dan kimia
Jumlah sel leukosit yang lebih dari 15.000/ mm3 terjadi karena adanya
infeksi. SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat
hipoksia atau hiperkapnea.
e. Pengukuran fungsi paru ( Spirometri )
Menilai derajat obstruksi pada asma, kapasitas vital mungkin belum
menurun, tapi bila serangan asma makin berat FVC akan turun karena
sebagian udara yang harus dikeluarkan terjebak dalam paru-paru.
f. Tes provokasi bonkus
Tes ini dilakukan pada spirometri internal.penurunan FEV sebesar 20 %
atau lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80 – 90% dari
maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR 10%
atau lebih.
g. Pemerikasaan kulit
Untuk menunjukan adanya antibody IgE hipersensitif yang spesifik dalam
tubuh.
h. Pemeriksan radiologi
Hasil pemeriksan radiologi dari klien dengan asma biasanya normal, tetapi
prosedur ini tetap dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
proses patologi di paru atau komplikasi asma seperti pneumatoraks,
pneumomediastinum, atelektasis, dan lain – lain

2.8 PENATALAKSANAAN
A. Farmakologi
Menurut Long(1996) pengobatan Asma diarahkan terhadap gejalagejala
yang timbul saat serangan, mengendalikan penyebab spesifik dan perawatan
pemeliharaan keehatan optimal yang umum. Tujuan utama dari berbagai macam
pengobatan adalah pasien segera mengalami relaksasi bronkus. Terapi awal, yaitu:
1. Memberikan oksigen pernasal
2. Antagonis beta 2 adrenergik (salbutamol mg atau fenetoral 2,5 mg atau
terbutalin 10 mg). Inhalasi nebulisasi dan pemberian yang dapat diulang
setiap 20 menit sampai 1 jam. Pemberian antagonis beta 2 adrenergik
dapat secara subcutan atau intravena dengan dosis salbutamol 0,25 mg
dalam larutan dekstrose 5%
3. Aminophilin intravena 5-6 mg per kg, jika sudah menggunakan obat ini
dalam 12 jam sebelumnya maka cukup diberikan setengah dosis.
4. Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg intravena jika tidak ada respon
segera atau dalam serangan sangat berat25
5. Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan napas, termasuk
didalamnya golongan beta adrenergik dan anti kolinergik.

B. Pengobatan secara sederhana atau non farmakologis


Menurut doenges (2000) penatalaksanaan nonfarmakologis asma yaitu:
1. Fisioterapi dada dan batuk efektif membantu pasien untuk mengeluarkan
sputum dengan baik
2. Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi aktivitas fisik
3. Berikan posisi tidur yang nyaman (semi fowler)
4. Anjurkan untuk minum air hangat 1500-2000 ml per hari
5. Usaha agar pasien mandi air hangat setiap hari
6. Hindarkan pasien dari faktor pencetu
2. 9 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Pola pemeliharaan kesehatan
Gejala Asma dapat membatasi manusia untuk berperilaku hidup normal
sehingga pasien dengan Asma harus mengubah gaya hidupnya sesuai
kondisi yang memungkinkan tidak terjadi serangan Asma
2. Pola nutrisi dan metabolik
Perlu dikaji tentang status nutrisi pasien meliputi, jumlah, frekuensi, dan
kesulitan-kesulitan dalam memenuhi kebutuhnnya. Serta pada pasien
sesak, potensial sekali terjadinya kekurangan dalam memenuhi kebutuhan
nutrisi, hal ini karena dispnea saat makan, laju metabolism serta ansietas
yang dialami pasien.
3. Pola eliminasi
Perlu dikaji tentang kebiasaan BAB dan BAK mencakup warna, bentuk,
konsistensi, frekuensi, jumlah serta kesulitan dalam pola eliminasi.
4. Pola aktifitas dan latihan
Perlu dikaji tentang aktifitas keseharian pasien, seperti olahraga, bekerja,
dan aktifitas lainnya. Aktifitas fisik dapat terjadi faktor pencetus terjadinya
Asma.
5. Pola istirahat dan tidur
Perlu dikaji tentang bagaiman tidur dan istirahat pasien meliputi berapa
lama pasien tidur dan istirahat. Serta berapa besar akibat kelelahan yang
dialami pasien. Adanya wheezing dan sesak dapat mempengaruhi pola
tidur dan istirahat pasien.
6. Pola persepsi sensori dan kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif akan mempengaruhi konsep diri
pasien dan akhirnya mempengaruhi jumlah stresor yang dialami pasien
sehingga kemungkinan terjadi serangan Asma yang berulang pun akan
semakin tinggi.
7. Pola hubungan dengan orang lain
Gejala Asma sangat membatasi pasien untuk menjalankan kehidupannya
secara normal. Pasien perlu menyesuaikan kondisinya berhubungan
dengan orang lain.
8. Pola reproduksi dan seksual
Reproduksi seksual merupakan kebutuhan dasar manusia, bila kebutuhan
ini tidak terpenuhi akan terjadi masalah dalam kehidupan pasien. Masalah
ini akan menjadi stresor yang akan meningkatkan kemungkinan terjadinya
serangan Asma.
9. Pola persepsi diri dan konsep diri
Perlu dikaji tentang pasien terhadap penyakitnya.Persepsi yang salah dapat
menghambat respon kooperatif pada diri pasien. Cara memandang diri
yang salah juga akan menjadi stresor dalam kehidupan pasien.
10. Pola mekanisme dan koping
Stres dan ketegangan emosional merupakan faktor instrinsik pencetus
serangan Asma maka prlu dikaji penyebab terjadinya stress. Frekuensi dan
pengaruh terhadap kehidupan pasien serta cara penanggulangan terhadap
stresor.
11. Pola nilai kepercayaan dan spiritual
Kedekatan pasien pada sesuatu yang diyakini di dunia dipercayai dapat
meningkatkan kekuatan jiwa pasien.Keyakinan pasien terhadap Tuhan
Yang Maha Esa serta pendekatan diri pada-Nya merupakan metode
penanggulangan stres yang konstruktif (Perry, 2005 & Asmadi 2008).
12. Pemeriksaan penunjang

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret
2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan bronkospasme
3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya
pertahanan utama atau imunitas Cemas berhubungan dengan kurangnya
tingkat pengetahuan Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang
berlebih
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik
6. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan dispnea

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan
produksi sekret
Tujuan : jalan napas menjadi efektif
Kriteria hasil : jalan napas bersih, sesak berkurang, batuk efektif,
mengeluarkan sekret

Intervensi :
a. Kaji tanda-tanda vital dan auskultasi bunyi napas
Rasional : beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan
obstruksi jalan napas
b. Berikan pasien untuk posisi yang nyaman.
Rasional : peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi
pernapasan
c. Pertahankan lingkungan yang nyaman
Rasional : Pencetus tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat
mentriger episode akut.
d. Tingkatkan masukan cairan, denganmemberi air hangat.
Rasional : Membantu mempermudah pengeluaran sekret
e. Dorong atau bantu latihan napas dalam dan batuk efektif
Rasional : Memberikancara untuk mengatasi dan mengontrol
dispnea,mengeluarkan sekret.
f. Dorong atau berikan perawatan mulut
Rasional : higiene mulut yang baik meningkatkan rasa sehat dan
mencegah bau mulut
g. Kolaborasi : pemberian obat dan humidifikasi, seperti nebulizer
Rasional : menurunkan kekentalan sekret dan mengeluarkan sekret

2. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan bronkospasme


Tujuan : pola napas kembali efektif
Kriteria hasil : Pola napas efektif, bunyi napas normal kembali, batuk
berkurang

Intervensi :
a. Kaji frekuensi kedalaman pernapasan dan ekspansi dada
Rasional : kecepatan biasanya mencapai kedalaman pernapasan
bervariasi tergantung derajat gagal napas
b. Auskultasi bunyi napas
Rasional : ronchi dan mengi menyertai obstruksi jalan napas
c. Tinggikan kepala dan bentuk mengubah posisi
Rasional : memudahkan dalam ekspansi paru dan pernapasan
d. Kolaborasi pemberian oksigen
Rasional : memaksimalkan bernapas dan menurunkan kerja napas

3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan ganguan suplai oksigen


Tujuan :dapat mempertahankan pertukaran gas
Kriteria hasil : tidak ada dispnea, pernapasan normal

Intervensi :
a. Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan
Rasional : berguna dalam evaluasi derajat distres pernapasan dan atau
kronisnya proses penyakit.
b. Tinggikan kepala tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang
nyaman untuk bernapas
Rasional : pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi
dan latihan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas, dispnea, dan kerja
napas.
c. Kaji atau awasi secar rutin kulit dan warna membran mukosa
Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentra
(terlihat sekitar bibir atau daun telinga). Keabu-abuan dan dianosis sentral
mengindikasikan beratnya hipoksemia.
d. Dorong pengeluaran sputum: penghisapan bila diindikasikan
Rasional : Kental, tebal, dan banyaknya sekresi adalah sumber utama
gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil. Penghisapan dibutuhkan
jika batuk tidak efektif.
e. Auskultasi bunyi napas
Rasional : bunyi napas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau
area konsolidasi.
f. Palpasi Fremirus
Rasional : Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau
udara terjebak
g. Evaluasi tingkat toleransi aktivitas
Rasional : Selama distress pernapasan berat atau akut atau Refraktori
pasien secara total tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari karena
hipoksemia dan dispnea.
h. Kolaborasi : Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : dapat memperbaiki memburuknya hipoksia.

4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya


pertahanan utama atau imunitas
Tujuan :tidak mengalami infeksi noskomial
Kriteria hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi, mukosa mulut lembab, batuk
berkurang
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda vital
Rasional: demam dapat terjadi karena infeksi atau dehidrasi
b. Observasi warna, karakter, jumlah sputum
Rasional : kuning atau kehijauan menunjukan adanya infeksi paru
c. Berikan nutrisi yang adekuat
Rasional : nutrisi yang adekuat dapat meningkatkan daya tahan tubuh
d. Berikan antibiotik sesuai indikasi
Rasional : antibiotik dapat mencegah masuknya kuman kedalam tubuh

5. Cemas berhubungan dengan kurangnya tingkat pengetahuan


Tujuan : kecemasan pasien berkurang
Kriteria hasil : pasien terlihat tenang, cemas berkurang, ekspresi wajah
tenang.

Intervensi :
a. Kaji tingkat kecemasan
Rasional : mengetahui skala kecemasan pasien
b. Berikan pengetahuan tentang penyakit yang diderita
Rasional : menambah tingkat pengetahuan pasien dan mengurangi cemas
c. Berikan dukungan pada pasien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : mengungkapkan perasaan dapat mengurangi rasa cemas yang
dialaminya.
d. Ajarkan teknik napas dalam pada pasien
Rasional : mengurangi rasa cemas yang dialami pasien

6. Gangguan pola tidur berhubungan dengan batuk yang berlebih


Tujuan : pola tidur terpenuhi38
Kriteria hasil : pola tidur 6-7 jam per hari, tidur tidak terganggu karena
batuk
Intervensi :
a. Kaji pola tidur setiap hari
Rasional : mengetahui perubahan pola tidur yang terjadi
b. Beri posisi yang nyaman
Rasional : memudahkan dalam beristirahat
c. Berikan lingkungan yang nyaman
Rasional : menciptakan suasana yang tenang
d. Anjurkan kepada keluarga dan pengunjung untuk tidak ramai
Rasional :menciptakan suasana yang tenang
e. Menjelaskan pada pasien pentingnya keseimbangan istirahat dan tidur
untuk penyembuhan
Rasional : menambah pengetahuan

7. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik


Tujuan : aktivitas normal
Kriteria hasil : pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas, pasien dapat
memenuhi kebutuhan pasien secara mandiri

Intervensi :
a. Kaji tingkat kemampuan aktivitas
Rasional : mengetahui tingkat aktivitas pasien39
b. Anjurkan keluarga untuk membantu memenuhi kebutuhaan pasien
Rasional : membantu pasien dalam memenuhi kebutuhan pasien sehari-
hari
c. Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi
Rasional : membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan pasien secara
mandiri
d. Jelaskan pentingnya istirahat dan aktivitas dalaam proses penyembuhan
Rasional : menambah pengetahuan pasien dan keluarg
A. PENGKAJIAN
1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. M
Tempat dan tanggal lahir : Klaten, 14 Maret 1969
Pendidikan terakhir : SD
Agama : Islam
Status perkawinan : Menikah
Tinggi Badan / Berat Badan : 155 cm/43 kg
Penampilan umum : Composmentis tampak lemah
Ciri – ciri tubuh : Tinggi, kulit sawo matang
Alamat : Jl. Prayan Jetis,Karang Nongko, Klaten
Orang terdekat yang mudah dihubungi : Ny. D
Hubungan dengan klien : Istri klien
Tanggal masuk RS : 20 Februari 2018
Diagnosa medis : Asma
No. RM : 99.1

2. KELUHAN UTAMA
Klien merasa sesak saat beraktivitas dan napasnya pendek

3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang dengan keluhan napas pendek, napsu makan menurun, RR
24x/menit, TD 110/70 mmhg. N 80x/menit, T 36,50Cterdengar suara nafas
Wheezing.

4. RIWAYA PENYAKIT DAHULU


Klien mengatakan mempunyai riwayat Asma sejak umur 5 tahun

5. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Tidak ada riwayat penyakit keluarga.
6. RIWAYAT LINGKUNGAN
Tipe tempat tinggal permanent dengan jumlah kamar ada 3. Jumlah orang
yang tinggal di rumah sebanyak 4 orang, dengan kondisi tempat tinggal
penerangan cukup, kebersihan dan kerapihan cukup, sirkulasi udara
cukup,keadaan kamar mandi cukup baik tidak terlalu tinggi dan tidak licin.

7. POLA FUNGSI KESEHATAN


a.Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan
 Sebelum sakit klien beraktivitas dengan normal. Klien dan keluarga
mengetahui penyakit asma diderita klien.
 Selama sakit klien terbatasi dalam aktivitasnya, klien tidak menyukai
keadaannya dan berharap cepat sembuh.
b. Pola aktifitas dan latihan
 Sebelum sakit klien bekerja di sebuah pabrik. Klien tidak pernah
melakukan kegiatan olah raga.
 Selama sakit klien hanya tidur dan istirahat.
c. Pola nutrisi dan metabolik
 Sebelum sakit pasien makan 3 x/sehari dengan porsi 1 kali makan habis,
minum air teh atau putih 1000 cc/hari.
 Selama sakit pasien makan 3x/hari dengan pola makan habis ½ porsi habis
dan minum air putih 700 cc/hari.
d. Pola eliminasi
 Sebelum sakit pasien BAB 1x/hari dengan konsentrasi padat, bau khas dan
warnanya kuning kecoklatan. BAK 900 – 1000 cc/hari dengan warna
kuning pekat dan bau khas.
 Selama sakit pasien BAB 1x/hari dengan konsistensi padat, bau khas dan
warnanya kuning kecoklatan BAK 600 - 800 cc/hari dengan warna kuning
pekat dan bau khas.
e. Pola istirahat dan tidur
 Sebelum sakit pasien tidur 7-8 jam pada malam hari dan kadang tidur
siang selama 1 jam.
 Selama sakit pasien tidur 4-5 jam dan kadang-kadang sering terbangun.
Tidur siang 1-2 jam.
f.Pola kognitif persepsi
 Pasien dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar. Pasien mengatakan
aktivitasnya sekarang jadi terbatas.
g. Pola sensori visual
 Test tajam tumpul: dapat membedakan antara tajam dan tumpul
 Test panas dingin : dapat membedakan antara panas dan dingin
h.Pola toleransi dan koping terhadap stress
 Apabila pasien ada masalah selalu dibicarakan dengan keluarganya.
i.Persepsi diri / konsep diri
 Klien mengatakan pasrah dengan penyakit yang dideritanya.Klien
berharap dapat sembuh dan dapat menjalankan aktifitasnya dengan
normal.
j.Pola seksual dan reproduksi
 Pasien berjenis kelamin pria dan sudah menikah mempunyai 2 anak.
k. Pola nilai dan keyakinan
 Sebelum sakit klien selalu menjalankan kewajibannya sebagai umat
muslim (shalat 5 waktu). Klien kurang mengetahui akan penyakitnya
namun klien percaya bahwa penyakitnya dapat disembuhkan.
 Selama sakit klien melaksanakan shalat 3 – 4 waktu dan sering berdoa

8. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan umum : Lemah
b. Kesadaran : composmentis
c. Vital sign: TD :110/70 mmHg, Nadi 80 kali/menit, Suhu 36,5ºC, RR 32 x/menit
d.Antropometri : TB 155 cm, BB 43 kg
e. Kepala
 Muka : Sianonis (-), konjunctiva anemis, ukuran pupil kanan/kiri: 3
mm/ 3 mm, rangsang cahaya pupil kanan/ kiri: +/+
 Hidung : bersih, napas cuping hidung (+)
 Telinga : simetris, bersih, serumen (-)
 Leher : pembesaran kelenjar toiroid (-)
f. Dada : simetris(+), retraksi dinding dada(+), otot bantu (+),
wheezing(+)
g. Punggung : bersih
h. Abdomen : datar (+), tidakkembung, bunyi abdomen
timpani, peristaltik usus 8 x/menit
i. Ekstremitas : tidak ada edema
j. Genetalia : Bersih tidak ada kelainan dibuktikan tidak terpasang
kateter
k. Rectum dan anus : Klien mengatakan tidak ada hemoroid

B. ANALISA DATA

No Tgl/Jam Data Problem Etiologi

1 20 DS : Ketidakefektifan Keletihan otot


Februari - Klien mengatakan mengalami pola napas (00032) pernapasan
2018/ napas pendek selama beberapa
08.00 minggu.
WIB - Klien mengatakan sesak napas
sangat terasa saat beraktivitas.
Klien mengaakan napasnya berbunyi
“ngik – ngik”
DO :
- Klien tampak letih
- Tampak adanya cuping hidung
- RR 32 x/menit
- Klien tampak terengah – engah saat
bernapas.
- Bunyi napas wheezing
2 20 DS : Resiko Anoreksia
Februari - Klien mengatakan napsu makan ketidakseimbangan
2018/ menurun nutrisi kurang dari
08.00 - Klien mengatakan makan habis ½ kebutuhan tubuh
WIB porsi
DO :
- BB/TB 43 kg/155 cm
- IMT 17,8 (kurus)
- Klien tampak lemah
- Makan habis ½ porsi

3 20 DS : Intoleransi Ketidakseimbangan
Februari - Klien mengatakan sesak napas aktivitas (00092) antara suplai dan
2018/ setelah beraktivitas kebutuhan O2
08.00 - Klien mengatakan aktivitasnya
WIB terbatas
- Klien mengatakan cepat letih
DO :
- Klien tampak membatasi
aktivitasnya
- Klien tampak letih
- Dispnea setelah beraktivitas

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan keletihan
otot pernapasan
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
berhubungan dengan anoreksia
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan
antara suplai dan kebutuhan Oksigen
D. INTERVENSI KEPERAWATAN

No Tujuan Umum Kriteria Hasil Intervensi


DX

1 Setelah dilakukan Respiratory Status Airway Management (3140)


tindakan asuhan : Airway Patency Posisikan pasien semi fowler
keperawatan selama (0410) Identifikasi pasien perlunya pemasangan
3 x 24 jam pada Menunjukan jalan alat jalan napas buatan
pasien dengan napas paten (sesak (-), Auskultasi suara napas, catat adanya suara
ketidakefektifan pola irama nnapas (-), tambahan
napas dapat teratasi frekuensi napas Monitor respirasi dan status Oksigen
(24x/menit), wheezing Oxygen Theraphy (33200)
(-)). - Atur peralatan oksigenasi
Vital Sign Status
(0802) Vital Sign Monitoring ( 6680)
TTV : RR - Monitor TTV (sebelum, selama dan sesudah
24x/menit, TD 110/70 aktivitas)
mmhg. N 80x/menit, T
36,50C

2 Setelah dilakukan Nutritional Status Nutrition Theraphy (1120)


tindakan asuhan Adanya peningkatan Berikan suplemen nutrisi
keperawatan selama berat badan (45 kg)
3 x 24 jam pada Berat badan ideal
pasien dengan sesuai dengan tinggi Berikan makanan kesukaan pasien dengan
ketidakseimbangan badan pertimbangan ahli gizi
nutrisi kurang dari napsu makan
kebutuhan tubuh meningkat ( habis 1 Berikan makanan dengan porsi sedikit tapi
dapat teratasi porsi) sering
Nutritional status :
energy (1007) Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
Klien tampak segar untuk tubuh

3 Setelah dilakukan Aktivity Tolerance Activity Theraphy (4310)


tindakan asuhan (0005) bantu pasien untuk mengidentifikasi
keperawatan selama Berpartisipasi dalam aktivitas yang mampu dilakukan
3 x 24 jam pada aktivitas fisik tanpa
pasien dengan disertai peningkatan bantu pasien memilih aktivitas yang sesuai
intoleransi TTV dengan kemampuan fisiknya.
aktivitas dapat TTV : RR 24x/menit, Vital Sign Monitoring(6680)
teratasi TD 110/70 mmhg. N kaji TTV ( sebelum. Selama, dan sestelah
80x/menit, T 36,50C beraktivitas)
Pasien tampak tampak
tidak lemah

E. CATATA PERKEMBANGAN
Nama : Tn.M Hari/Tanggal : 20 Februari 2018
Jam :

IMPLEMENTASI EVALUASI

DS : S:
1. Klien mengatakan mengalami napas  klien mengatakan masih terasa sesak
pendek selama beberapa minggu, sesak napas ketika berbaring
sangat terasa saat beraktivitas, dan napasnya  klien mengatakan napsu makan mulai
berbunyi “ngik-ngik” meningkat dan bisa menghabiskan
2. klien mengatakan napsu makan menurun ¾porsi
dan makan habis ½ porsi  klien mengatakan tidak sesak ketika
3. klien mengatakan sesak napas setelah beraktivitas dan tidak cepat lelah.
beraktivitas, aktivitasnya terbatas dan cepat O :
letih.  tampak adanya cuping hidung ketika
DO: berbaring, RR 24x/menit, BB 44 kg,
1. klien tampak letih, tampak cuping hidung, Tb 155 cm, IMT 18,3, klien makan
tampak terengah – engah saat bernapas, bunyi habis ¾ porsi
napas wheezing, RR 32x/menit.  klien tampak lebih segar dan mampu
2. BB 43 kg, Tb 155 cm, IMT 17,8, Klien beraktivitas
tampak lemah dan makan habis ½ porsi. A:
3. klien tampak membatasi aktivitasnya, terlihat  ketidakefektifan pola napas (+)
letih, dan ada dispnea setelah beraktivitas.  ketidakseimbangan nutrisi kurang dati
kebutuhan tubuh (+)
DIAGNOSA :  Intoleransi aktivitas (-)
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan P :
dengan keletihan otot pernapasaN  posisikan tidur pasien semi fowler jika
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari pasien merasa sesak, anjurkan pasien
kebutuhan tubuh berhubungan dengan untuk membatasi aktivitasnya.
anoreksia
 anjurkan pasien makan sedikit tapi
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan sering, anjurkan paien untuk
ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan Oksigen

TINDAKAN:
1.1 mengidentiffikasi pasien perlunya pemasangan
alat jalan napas buatan
1.2 mengauskultasi suara napas , mencatat adanya
suara tambahan
1.3 mengatur peralatan oksigenasi
1.4 memposisikan pasien semi fowler

2.1 memberikan informasi tentang kebutuhan


nutrisi bagi tubuh
memberikan makanan kesukaan pasien dengan
pertimbangan ahli gizi
2.3 memberikan makanan dengan porsi sedikit tapi
sering
2.4 memberikan suplemen nutrisi
3.1 memonitor TTV ( sebelum, selama dan setelah
aktvitas)
3.2 membantu klien mengidentifikasi aktivitas
yang mampu dilakukan
3.3 membantu klien memilih aktivitas yang sesuai
dengan kemampuan fisiknya.

RTL :
1. monitor TTV sebelum dan setelah pasien
beraktivitas
2. monitor respirasi dan status O2
3. auskultasi suara napas , catat adanya
suara tambahan
4. berikan suplemen nutrisi yang bisa
menambah napsu makan pasien
BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran nafas yang melibatkan
banyak sel dan Elemenya.Inflamasi kronik menyebabkan peningatan
hiperesponsif jalan nafas yang menimbulkan gejala epidosik berulang berupa
sesak nafas,dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini
hari.Epidosik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan nafas yang
luas,bervariasi dan seringk Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea dan
mengi.
Pada beberapa keadaan, batuk merupakan satu - satunya gejala. Serangan
asma sering kali terjadi pada malam hari Serangan asma biasanya bermula
mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan
lambat, mengi, laborius. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding
inspirasi, yang mendorong pasien selalu lebih susah dan panjang dibanding
inspirasi, yang mendorong pasien untuk duduk tegak dan menggunakan setiap
otot - otot aksesories pernapasan. Jalan napas yang tersumbat menyebabkan
dispnea. Batuk pada awalnya susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat.
Sputum, yang terdiri atas sedikit mukus mengandungmasa gelatinosa bulat, kecil
yang dibatukkan dengan susah payah. Tanda selanjutnya termasuk sianosis
sekunder terhadap hipoksia hebat dan gejala gejala retensi karbondioksida
termasuk berkeringat, takikardia dan tekanan nadi.

3.2 SARAN
a. Dengan mengetahui gejala-gejala awal sirosis hepatis kita dapat
mengantisipasi dari awal jka terjadi tanda-tanda gangguan system
pencernaan pada pasien ataupun orang terdekat kita.
b. Dengan mengetahui penyebab-penyebab sirosis hepatis maka kita
dapat mencegah lebih awal sebelum terjadinya penyakit yang lebih
parah.
DAFTAR PUSTAKA

Depkes. (2008). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.


1023/MENKES/SK/XI/2008. Pedoman pengendalian penyakit asma.
Jakarta : Depkes RI.

Geiger, M. & Wilson, B.D.J (2008). Respiratory nursing (a core curriculum). New
York: Springer Publishing Company.

John, Esther c & Elliott Daly D. (2006). Patofisiologi (aplikasi pada praktek
keperawatan). Jakarta: ECG.

Mangunegoro, H. dkk. (2004). Asma pedoman diagnosis & penatalaksanaan di


Indonesia. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

Williams, Lippincott & Wilkins. (2002). Kapita selekta penyakit dengan implikasi
keperawatan edisi 2. Jakarta: EGC.

http://duniakeperawatan92.blogspot.com/2014/02/asma.html

http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-sitiistian-6715-2-
babii.pdf