Anda di halaman 1dari 10

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Diabetes Mellitus


Diabetes mellitus, DM (bahasa Yunani: diabaínein, tembus atau pancuran air)
(bahasa Latin: mellitus, rasa manis) yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah
penyakit kencing gula adalah kelainan metabolis yang disebabkan oleh banyak faktor,
dengan simtoma berupa hiperglisemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat,
lemak dan protein.
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing
manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai
dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem
metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi
hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.

Insulin adalah salah satu hormon yang diproduksi oleh pankreas yang
bertanggung jawab untuk mengontrol jumlah/kadar gula dalam darah dan insulin
dibutuhkan untuk merubah (memproses) karbohidrat, lemak, dan protein menjadi
energi yang diperlukan tubuh manusia. Hormon insulin berfungsi menurunkan kadar
gula dalam darah.

Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70-150 mg/dL


{millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4-8 mmol/l
{milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl.
Namun demikian, kadar gula tentu saja terjadi peningkatan setelah makan dan
mengalami penurunan diwaktu pagi hari bangun tidur. Seseorang dikatakan
mengalami hyperglycemia apabila kadar gula dalam darah jauh diatas nilai normal,
sedangkan hypoglycemia adalah suatu kondisi dimana seseorang mengalami
penurunan nilai gula dalam darah dibawah normal.
Diagnosa Diabetes dapat ditegakkan jika hasil pemeriksaan gula darah puasa
mencapai level 126 mg/dl atau bahkan lebih, dan pemeriksaan gula darah 2 jam
setelah puasa (minimal 8 jam) mencapai level 180 mg/dl. Sedangkan pemeriksaan
gula darah yang dilakukan secara random (sewaktu) dapat membantu diagnosa
diabetes jika nilai kadar gula darah mencapai level antara 140 mg/dL dan 200 mg/dL,
terlebih lagi bila dia atas 200 mg/dl.

Tabel: Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa dengan metode


enzimatik sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM (mg/dl).

Kadar Glukosa Darah Sewaktu :


Plasma Vena <110 – 199 > 200
Darah Kapiler <90 – 199 > 200
Kadar Glukosa Darah Puasa :
Plasma Vena <110 – 125 > 126
Darah Kapiler <90 – 109 > 110

2.2 Tanda dan Gejala DM


Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau
kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana
peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni
(urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine
sering dilebung atau dikerubuti semut.
Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah
ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita :
1) Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
2) Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
3) Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
4) Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
5) Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
6) Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
7) Cepat lelah dan lemah setiap waktu
8) Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
9) Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
10) Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.

2.3 Komplikasi Diabetes Melitus


Ada berbagai komplikasi pada penderita diabetes. Mereka akan mengalami
beberapa macam kerusakan. Secara garis besar, komplikasi yang terjadi adalah:
1. Kerusakan pada pembuluh darah kecil
2. Kerusakan pada mata
3. Kerusakan pada ginjal
4. Arteriosclerosis pada pembuluh darah besar atau menebalnya arteri
5. Kerusakan saraf
Dari garis besar tersebut, penyakit dan gangguan yang mungkin terjadi pada penderita
diabetes di antaranya adalah:
1. Gangguan pada penglihatan
2. Gangguan pada ginjal
3. Impotensi
4. Stroke
5. Kerusakan jaringan pada kaki
6. Kerusakan jaringan pada bagian tubuh lainnya
7. Penyakit jantung

2.4 Jenis-Jenis DM
1. Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh
kekurangan hormon insulin, dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (IDDM). Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-
pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 biasanya muncul sebelum penderita
berumur 30 tahun (banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja). Biasanya
pasien membutuhkan insulin eksogenosa dan pengaturan makanan. Gejala yang
menonjol adalah terjadinya sering kencing (terutama malam hari), sering lapar dan
sering haus, sebagian besar penderita DM type ini berat badannya normal atau kurus.
Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan
pemberian therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan.
Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan
penderita diabetes tipe 1. Pada penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan
pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat test
gula darah. Terutama pada anak-anak atau balita yang mana mereka sangat mudah
mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit.

2. Diabetes mellitus tipe 2


Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat
berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes
Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti kecacatan
dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas
(respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya
kadar insulin di dalam darah.
Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap
insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2,
pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet,
penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian
tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik
mulai dipertimbangkan untuk diberikan.

3. Diabetes Melitus Gestasional


Diabetes ini ditemukan pada ibu yang melahirkan anak dengan berat badan
lebih dari 4,5 kg. Ini terjadi ketika seorang perempuan yang telah mengandung
mengalami kadar glukosa yang tinggi. Mereka bahkan bisa saja tidak menderita
diabetes sebelumnya. Namun, penderitanya memiliki tingkat resiko tinggi yang
cukup untuk terkena diabetes militus tipe 2.
Memang pada dasarnya, perempuan yang sedang mengandung memiliki kadar
gula yang tinggi daripada biasanya karena pengaruh hormon. Meskipun begitu,
peningkatan ini tidak seharusnya membuat seorang ibu hamil menderita diabetes.
Pada trimester ketiga, peningkatan kadar tersebut memang akan meningkatkan resiko
mereka terkena diabetes melitus gestasional.
Pada ibu hamil, hormon tertentu yang dibuat diplasenta membantu pergeseran
nutrisi dari ibu ke janin.Selain itu, ada hormon lain yang berusaha menjaga ibu agar
tidak mengalami kadar gula yang rendah dan bekerja dengan melawan atau
menghentikan insulin. Oleh karena itu, pankreas bekerja dengan menghasilkan lebih
banyak insulin ( 3 kali dari jumlah normal ) untuk mencegah terjadinya kadar glukosa
yang berlebihan dalam tubuh. Jika pankreas tidak sanggup membuat cukup
insulin,disinilah terjadi diabetes melitus gestasional.

Salah satu faktor resiko terkena diabetes melitus gestasional adalah jika
memang pernah mengalami kondisi ini pada kehamilan sebelumnya. Faktor resiko
lain adalah:
1. Obesitas pada masa sebelum kehamilan
2. Terkena pradiabetes
3. Jika pernah melahirkan bayi yang meninggal
4. Riwayat keluarga dengan diabetes
5. Memiliki air ketuban yang berlebihan
6. Usia diatas 30 tahun
7. Adanya gula dalam urine
8. Terkena infeksi pada vagina
Apa yang akan terjadi pada bayi, ibu penderita diabetes melitus gestasional?
Bayi akan diperiksa kondisinya. Jika ia kekurangan glukosa dalam darah
(hipoglikemia), maka ia akan diberikan tambahan glukosa. Mereka biasanya akan
dikirim keruang perawatan untuk melihat dan menjaga kondisinya. Bayi ini bisa
terkena penyakit kuning pada kulit (jaundice) dan juga diabetes di kemudian hari.
Ibu yang mengalami penyakit ini biasanya akan sembuh dalam 6 minggu
setelah kelahiran. Bagaimanpun, untuk menjaga kesehatan mereka, ada baiknya
melakukan diagnosa untuk penyakit diabetes di kemudian hari. Memang, penyakit ini
adalah salah satu faktor resiko dari penyakit diabetes melitus tipe 2. Selain itu, untuk
mencegah terjadinya penyakit ini lagi pada kehamilan berikutnya, penderita pun
diminta untuk untuk berkonsultasi untuk mengetahui apa saja yang harus dilakukan
dalam asupan diet makanan, olahraga dan mungkin juga obat-obatan. Jika mereka
bisa mengontrol hal tersebut, mereka bisa saja terhindar dari penyakit diabetes
melitus tipe 2 dan juga diabetes melitus gestasional pada kehamilan berikutnya.

2.5 Konsep Dasar Pengendalian Diabetes Mellitus


1. Harus dapat menormalkan glukosa darah agar bisa mengurangi komplikasi
2. Kenali tanda dan gejala DM

2.6 Tujuan Pengendalian Diabetes Mellitus


1. Promotif, berupaya meningkatkan pengetahuan serta kepedulian penderita DM
2. Preventif, upaya pencegahan penyakit atau komplikasi yang mungkin timbul
3. Rehabilitas, upaya pemulihan penderita kembali kepada keadaan semula
sehingga kualitas hidup dapat ditingkatkan

2.7 Cara Pengendalian DM


1. Dapatkan Informasi Tentang Penyakit Diabetes
Diabetes adalah penyakit berbahaya. Jika tidak ditangani dengan baik,
penyakit diabetes dapat menyebabkan penyakit jantung, stroke, kebutaan bahkan
kematian. Langkah pertama yang harus dilakukan setelah terdeteksi diabetes adalah,
mencari informasi sebanyak mungkin tentang diabetes, baik dari dokter, keluarga
atau teman yang berpengalaman mengendalikan diabetes. Semakin banyak informasi
yang didapatkan semakin mudah untuk mengendalikan diabetes.
2. Dapatkan Perawatan Untuk Penyakit Diabetes
Pengobatan : Pengobatan pada diabetes tergantung pada gejala, komplikasi,
tingkat gula darah dan masalah lainnya.
Mengubah Pola Makan: Konsultasikan kepada ahli gizi untuk menentukan
makanan apa yang baik untuk mengendalikan gula darah agar tetap sehat dan
berenergi sepanjang hari.
Memantau Penyakit Diabetes: Dokter akan mengajarkan cara untuk
memonitor gula darah dan menunjukkan apa yang harus dilakukan untuk
menghindari meningkatnya gula darah.

3. Lakukan Pemeriksaan Rutin


Untuk merawat penyakit diabetes, bisa melakukan 3 pemeriksaan berikut ini:
a) A1c. Pemeriksaan ini mengukur tingkat gula darah 2-3 bulan terakhir.
Tujuannya adalah untuk menjaga A1c agar tetap di angka 7.
b) Tekanan Darah. Jika memiliki penyakit diabetes, dapat berada pada risiko
terkena tekanan darah tinggi, yang dapat menyebabkan kondisi serius lainnya.
Untuk memastikan bahwa tekanan darah pada tingkat yang sehat, harus
memeriksa tekanan darah Anda 2-4 kali setahun.
c) Kolesterol. Memiliki diabetes juga dapat terkena risiko kolesterol tinggi,
yang dapat memicu penyakit jantung dan stroke. Pastikan untuk memeriksa
kolesterol setahun sekali.
4. Kendalikan Penyakit Diabetes
Bisa hidup secara normal sekalipun memiliki diabetes. Tentunya dengan
menjaga pola hidup tetap sehat seperti, memeriksakan diri 2-4 kali setahun, diet
seimbang, olahraga 3-4 kali seminggu selama 30 menit, menjaga berat badan,
memeriksakan gigi 6 bulan sekali dan hentikan kebiasaan merokok.
5. Cegah Komplikasi Penyakit Diabetes
Diabetes dapat menyebabkan komplikasi pada saraf, gangguan penglihatan,
gangguan ginjal, serangan jantung dan stroke. Untuk menghindari komplikasi
penyakit diabetes, bisa menjalankan pola makan yang sehat dan olahraga teratur.
6. Memiliki Gaya Hidup Sehat
Makanan dan kegiatan yang berbeda dapat mempengaruhi tingkat kadar gula
darah. Jadi kita harus memiliki pola hidup sehat agar kondisi tubuh kita tidak semakin
parah.
1. Komposisi Makanan
a. Karbohidrat : 50%-60%, penting untuk pemasukan kalori yang cukup.
b. Protein : 10%-20%, mempertahankan keseimbangan nitrogen dan mendorong
pertumbuhan.
c. Lemak : 25%-30%, pemasukan kolesterol < 300 mg/hari, lemak jenuh diganti
dengan lemak yang tidak jenuh.
d. Serat : 25 g/1000 kkal, memperlancar penyerapan gula.
2. Latihan fisik
Frekuensi 2-3 kali/minggu, intensitas : ringan-sedang, waktu 30-60 menit/latihan,
tipe oleh raga : aerobik (jalan, renang, joging, bersepeda)
3. Obat anti diabetik
a. OAD : Sulfodnilurea
b. Obat injeksi insulin
BAB III
PENUTUP

3.1.Kesimpulan
Penyakit Diabetes Mellitus (DM) adalah golongan penyakit kronis yang
ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan
sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi
hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh.
Normalnya kadar gula dalam darah berkisar antara 70-150 mg/dL
{millimoles/liter (satuan unit United Kingdom)} atau 4-8 mmol/l
{milligrams/deciliter (satuan unit United State)}, Dimana 1 mmol/l = 18 mg/dl.
Tanda dan gejala diabetes:
1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria)
2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia)
3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria)
5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya
6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki
7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu
8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba
9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya
10. Mudah terkena infeksi terutama pada kulit.

Penyakit Diabetes Melitus muncul dalam tiga bentuk yaitu Tipe 1 ditandai
dengan insufisiensi insulin absolut, tipe 2 ditandai dengan resistansi insulin disertai
kelainan sekresi insulin berbagai tingkatan, tipe gestasional yaitu pada perempuan
yang sedang mengandung memiliki kadar gula yang tinggi daripada biasanya karena
pengaruh hormon.
Pengendalian Diabetes Mellitus dilakukan dengan cara:
1. Dapatkan Informasi Tentang Penyakit Diabetes
2. Dapatkan Perawatan Untuk Penyakit Diabetes
3. Lakukan Pemeriksaan Rutin
4. Kendalikan Penyakit Diabetes
5. Cegah Komplikasi Penyakit Diabetes
6. Memiliki Gaya Hidup Sehat
a. Komposisi Makanan
b. Latihan fisik
c. Obat anti diabetik

3.2.Saran
Waspadai tanda dan gejala ketosasidosis (nafas aseton, dehidrasi, denyut nadi
lemah dan cepat) dan koma hiperosmolar (poliuria, haus, keabnormalan, neurologis,
pucat) serta kaji tanda neuropati diabetik (mati rasa atau nyeri di tangan dan kaki
bawah) agar dapat meminimalkan komplikasi dengan mempertahankan kontrol gula
darah dengan rutin.