Anda di halaman 1dari 11

TUGAS INDIVIDU PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

PRINSIP – PRINSIP BERIJTIHAD

DOSEN PEMBIMBING :
KURNIAWAN YUNUS ARIYONO, M.Pd.I
DISUSUN OLEH ANGGOTA KELOMPOK (H) / MANAJEMEN A2 :
YUDISTIRA

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI


WIDYA GAMA LUMAJANG 2018
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Puji Syukur selalu kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas
limpahan Rahmat, Taufik serta Hidayah-Nya. Sehingga kami dapat menyelesaikan
pembuatan tugas makalah kelompok sebagai kedisiplinan dalam memenuhi kontrak
studi mahasiswa, dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam dengan tema
PRINSIP – PRINSIP BERIJTIHAD.
Makalah ini telah disusun dan diuraikan secara efektif dan representatif
dengan landasan pengetahuan yang diambil dari buku-buku kajian ilmu tentang
agama dan media-media yang berkaitan, guna menambah wawasan dan
pemahaman yang seluas-luasnya dengan dasar yang benar dan hasilnya terlampir
menjadi satu kesatuan dalam bentuk makalah.
Kiranya makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan oleh karena itu
kami sangat menerima kritik dan saran konstruktif demi perbaikan isi dari makalah
ini selanjutnya. Semoga kita semua selalu di Ridloi oleh Allah SWT dalam
menimba ilmu apapun, dimanapun dan kapanpun. Amin.

LUMAJANG, 6 OKTOBER 2018


ANGGOTA KELOMPOK – H

MAHASISWA MANAJEMEN A2

i
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ......................................................................................................... i
Daftar Isi .................................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 1
C. Tujuan ....................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 2
A. Pengertian Ijtihad ..................................................................................... 2
B. Fungsi Ijtihad ............................................................................................ 2
C. Hukum Itjihad........................................................................................... 3
D. Jenis – Jenis Ijtihad................................................................................... 4
E. Syarat – Syarat Berijtihad......................................................................... 5
F. Prinsip – Prinsip Berijtihad ...................................................................... 6
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 7
A. Kesimpulan ............................................................................................... 7
B. Saran ......................................................................................................... 7
Daftar Pustaka ......................................................................................................... 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Prinsip – prinsip berijtihad mungkin sebagian orang masih banyak yang
belum mengetahui apa saja prinsip – prinsip dan pengertian dari berijtihad sesuai
yang terkandung dalam Al-Qur’an. Berdasarkan latar belakang masalah, maka
dalam makalah ini akan membahas mengenai apa pengertian dan prinsip – prinsip
berijtihad.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka dapat kami rumuskan beberapa sub-
sub bab dalam bab selanjutnya, yang nantinya akan dikupas tuntas dalam satu
wadah yaitu pembahasan. Demikian tersebut rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan ijtihad ?
2. Apa saja fungsi ijtihad ?
3. Apa hukum ijtihad ?
4. Apa saja jenis – jenis ijtihad ?
5. Apa saja syarat-syarat untuk berijtihad ?
6. Apa saja prinsip – prinsip berijtihad ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian dari ijtihad
2. Untuk mengetahui apa fungsi dari ijtihad
3. Untuk mengetahui hukum melakukan ijtihad
4. Untuk mengetahui jenis – jenis ijtihad
5. Untuk mengetahui apa syarat – syarat berijtihad
6. Untuk mengetahui prinsip – prinsip berijtihad

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ijtihad
Sebenarnya kata “ijtihad” semakna dengan kata “jihad”, yaitu keduanya
mempunyai akar kata yang sama, yaitu dari kata “jahada” yang artinya
“mengerahkan segala kemampuan”. Dalam wacana Islam, kedua pengertian
tersebut, dalam penggunaanya mempunyai arah yang berbeda. “jihad” diartikan
sebagai pengerahan kemampuan secara maksimal, penggunaanya lebih cenderung
pada segi fisik, sedangkan “ijtihad” penggunaanya lebih cenderung pada segi non-
fisik (akal pikiran) atau yang bersifat ilmiah. Orang yang melakukan jihad disebut
mujahid, dan orang yang melakukan ijtihad disebut dengan mujtahid.
Secara terminologis ijtihad berarti “mengerahkan segala kemampuan
dengan semaksimal mungkin dalam mengungkapkan kejelasan atau maksud hukum
Islam untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang
muncul.” Mendudukkan ijtihad sebagai sumber ajaran Islam tentu tidak dapat
disejajarkan atau diperlakukan sama dengan dua sumber pokok lainnya; yakni Al-
Qur’an dan Hadits. Ijtihad lebih tepat dikatakan sebagai sumber kekuatan, alat, atau
cara untuk meneropong dua sumber pokok itu dalam kaitannya dengan fenomena-
fenomena kehidupan.

B. Fungsi Ijtihad
Secara umum fungsi ijtihad dapat dikategorikan dalam tiga hal, yaitu :
a. Sebagai interpretasi atau penyalur kreativitas individu atau kelompok
terhadap peristiwa yang berkembang bagi umat Islam dengan tidak
melanggar kaidah yang berlaku
b. Sebagai interpretasi dalil nash yang dzanni al wurud (dalil yang meyakinkan
bahwa datangnya dari Allah (al-Qur’an) atau dari Rasulullah).
c. Menumbuhkan ruh Islam yang dinamis, menghancurkan kebekuan dan
kejumudan dalam kehidupan yang global dan kontemporer serta saksi atas
kebesaran dan keunggulan Islam

2
C. Hukum Ijtihad
Hukum melakukan ijtihad adalah fardhu ‘ain, bisa juga fardhu kifayah, bisa mandub
(sunah), dan bisa pula menjadi haram.
1. Hukum fardhu ‘ain. Jika dilakuakan seseorang yang telah mencukupi
syarat bilamana terjadi pada dirinya sesuatu yang membutuhkan jawaban
hukumnya.
2. Hukum fardhu kifayah. Jika di sampingnya ada lagi mujtahid lain yang
akan menjelaskan hukumnya. Bila salah satu dari mereka telah berijtihad,
maka meraka sudah lepas dari tuntutan untuk berijtihad.
3. Hukumnya sunnah. Terbagi dalam dua hal, yaitu:
a. Melakuakan ijtihad kepada hal yang belum terjadi tanpa ditanya,
seperti yang dilakukan oleh imam abu hanifah yaitu tentang fiqih
ifradhi (fiqih pengandaian).
b. Melakukan ijtihad-ijtihad pada masalah yang belum jadi
berdasarkan pertanyaan seseorang.
4. Hukumnya haram, apabila:
a. Berijtihad dalam hal-hal yang ada nash yang tegas (qath’iy) baik
berupa ayat atau hadits rasulullah, atau hasil ijtihad itu menyalahi
ijma’.
b. Berijtihad bagi seseorang yang tidak melangkapi syarat-syarat
sebagai mujathid, karena oarang yang tidak memenuhi syarat
ijtihadnya tidak akan menemukan kebenaran, karena berbicara tanpa
ilmu hukumnya adalah haram.

3
D. Jenis – Jenis Ijtihad
1. Ijma’, yaitu keputusan bersama yang dilakukan oleh para ulama dengan
cara ijtihad untuk kemudian dirundingkan dan disepakati. Hasil dari ijma’
adalah fatwa, yaitu keputusan bersama para ulama dan ahli agama yang
berwenang untuk diikuti seluruh umat.
2. Qiyas, beberapa definisi qiyas (analogi) :
a. Menyimpulkan hukum dari yang asal menuju kepada cabangnya,
berdasarkan titik persamaan diantara keduanya.
b. Membuktikan hukum definitif untuk yang definitif lainnya, melalui
suatu persamaan diantaranya.
c. Tindakan menganalogikan hukum yang sudah ada penjelasan di
dalam Al-Qur'an atau Hadis dengan kasus baru yang memiliki
persamaan sebab (iladh).
3. Istihsan, beberapa definisi Istihsan :
a. Fatwa yang dikeluarkan oleh seorang fâqih (ahli fikih), hanya
karena dia merasa hal itu adalah benar.
b. Argumentasi dalam pikiran seorang fâqih tanpa bisa diekspresikan
secara lisan olehnya.
c. Mengganti argumen dengan fakta yang dapat diterima, untuk
maslahat orang banyak.
d. Tindakan memutuskan suatu perkara untuk mencegah
kemudharatan.
e. Tindakan menganalogikan suatu perkara di masyarakat terhadap
perkara yang ada sebelumnya.
4. Maslahat al-Mursalah, yaitu tindakan memutuskan masalah yang tidak ada
naskhnya dengan pertimbangan kepentingan hidup manusia berdasarkan
prinsip menarik manfaat dan menghindari kemudharatan.
5. Sududz Dzariah, yaitu tindakan memutuskan suatu yang mubah menjadi
makruh atau haram demi kepentingan umat.
6. Istishab, yaitu tindakan menetapkan berlakunya suatu ketetapan sampai ada
alasan yang bisa mengubahnya.
4
7. Urf, yaitu tindakan menentukan masih bolehnya suatu adat-istiadat dan
kebiasaan masyarakat setempat selama kegiatan tersebut tidak bertentangan
dengan aturan-aturan prinsipal dalam Al-quran dan Hadis.

E. Syarat – Syarat Berijtihad


Dibukanya pintu ijtihad dalam hukum islam tidak berarti bahwa setiap
orang dapat melakukan ijtihad. Hanya orang yang memiliki syarat-syarat
tertentulah yang mampu berijtihad. Syarat-syarat tersebut ialah sebagai berikut:
1. Mengetahui bahasa Arab dengan segala seginya, sehingga memungkinkan
dia menguasai pengertian susunan kata-katanya.
2. Mengetahui Al-Qur’an, dalam hal ini ialah hukum-hukum yang dibawa
oleh Qur’an beserta ayat-ayatnya, dan mengetahui cara pengambilan
hukum dari ayat tersebut.
3. Mengetahui hadis-hadis Nabi SAW., yaitu yang berhubungan dengan
hukum-hukum syara’ sehingga ia dapat mendatangkan hadis-hadis yang
diperlukan dengan mengetahui keadaan sanadnya.
4. Mengetahui segi-segi pemakaian qiyas, seperti illat dan hikmah penetapan
hukum, serta mengetahui fakta-fakta yang ada nashnya dan yang tidak ada
nashnya.
5. Mampu menghadapi nash-nash yang berlawanan, kadang-kadang dalam
suatu persoalan terdapat beberapa ketentuan yang berlawanan.
Di samping syarat-syarat tersebut, seorang mujtahid juga harus:
a. Mengetahui ilmu ushul fiqih secara mantap karena ilmu ini merupakan
dasar dan pokok dalam berijtihad.
b. Mengetahui ilmu-ilmu kemasyarakatan sebab penentuan hukum sangat
erat hubungannya dengan kehidupan masyarakat atau lingkungan.

5
F. Prinsip – Prinsip Berijtihad
Tidak semua masalah dalam ajaran Islam dapat atau boleh ditetapkan
hukumnya melalui ijtihad. Masalah-masalah yang sudah ditetapkan hukumnya
secara pasti (qath’i) dalam Al-Qur’an dan Sunnah tidak boleh ditetapkan melalui
ijtihad, seperti waktu sholat, hukum wajib sholat, zakat, puasa, dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, para Ulama’ menetapkan wilayah – wilayah yang boleh ditetapkan
hukumnya melakukan ijtihad (berijtihad). Prinsip – prinsip tersebut meliputi :
1. Pada dasarnya, masalah yang ditetapkan melalui ijtihad tidak melahirkan
keputusan atau hukum yang bersifat mutlak. Sebab, ijtihad hanya
merupakan aktifitas akal manusia yang relatif dan terbatas, maka keputusan
atau hukum yang diperolehnya pun adalah relatif.
2. Suatu keputusan yang ditetapkan melalui ijtihad, mungkin berlaku bagi
seseorang, dan tidak berlaku bagi orang lain secara umum.
3. Ijtihad tidak berlaku dalam masalah – masalah yang sudah ditetapkan
hukumnya secara pasti (Qath’i) dalam Al-Qur’an dan Hadits.
4. Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor
motivasi, kemaslahatan dan kemanfaatan umum serta nilai – nilai yang
menjadi jiwa atau nafas Islam.
5. Keputusan hukum yang ditentukan melalui ijtihad tidak boleh bertentangan
dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

6
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Ijtihad berarti “berusaha keras unutk mencapai atau memperoleh sesuatu”.
Dalam kaitan ini pengertian ijtihad : adalah usaha maksimal dalam melahirkan
hukum-hukum syariat dari dasar-dasarnya melalui pemikiran dan penelitian yang
sungguh-sungguh dan mendalam.
Hukum melakukan ijtihad adalah fardhu ‘ain, bisa juga fardhu kifayah, bisa
mandub (sunah), dan bisa pula menjadi haram.
Syarat-syarat berijtihad adalah : menguasai bahasa arab dengan bagian-
bagiannya, mengetahui asbabun nuzul ayat-ayat al-qur’an, mengetahui ilmu
manthiq (logika) sesuai yang dibutuhkan untuk memahami al-quran dan sunah,
mengetahui ilmu ushul fiqh (dasar-dasar hukum syariat).
Dibukanya pintu ijtihad dalam hukum islam tidak berarti bahwa setiap
orang dapat melakukan ijtihad.Hanya orang yang memiliki syarat-syarat tertentulah
yang mampu berijtihad.

B. Saran
Jika kita ingin berijtihad pastikan hukumnya terlebih dahulu melalui al-
quran dan hadist, jika tidak ada hukum nya barulah kita tentukan hukumnya melalui
berbagai metode berijtihad.
Dan jangan takut salah ketika ingin berijtihad karena sejatinya manusia
harus menentukan mana yag baik mana yang buruk, mana yang boleh dilakukan
mana yang tidak

7
DAFTAR PUSTAKA
 http://miethablog.blogspot.com/2011/06/ijtihad.html
 http://wardahcheche.blogspot.com/2014/04/ijtihad.html
 http://khairunnisanisa22.blogspot.com/2013/12/ijtihad.html
 http://nidaekonomrabbani.blogspot.com/2013/01/ijtihad.html