Anda di halaman 1dari 153

UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL (RSUPN)
DR. CIPTO MANGUNKUSUMO
PERIODE 9 APRIL – 1 JUNI 2012

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

KARTIKA CITRA DEWI PERMATA SARI, S. Farm.


1106047032

ANGKATAN LXXIV

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI
DEPOK
JUNI 2012

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
UNIVERSITAS INDONESIA

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER


DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL (RSUPN)
DR. CIPTO MANGUNKUSUMO
PERIODE 9 APRIL – 1 JUNI 2012

LAPORAN PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Apoteker

KARTIKA CITRA DEWI PERMATA SARI, S. Farm.


1106047032

ANGKATAN LXXIV

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM PROFESI APOTEKER - DEPARTEMEN FARMASI
DEPOK
JUNI 2012

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker ini diajukan oleh :


Nama : Kartika Citra Dewi Permata Sari, S.Farm
NPM : 1106047032
Program Studi : Apoteker – Departemen Farmasi, FMIPA UI
Judul Laporan : Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Rumah Sakit
Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto
Mangunkusumo Periode 9 April – 1 Juni 2012

iii

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Tuhan Yang Maha Esa atas nikmat, rahmat, dan karunia-
Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Praktek Kerja Profesi Apoteker
(PKPA) dan menyusun laporan ini tepat waktu. Dalam kesempatan ini, dengan
segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan banyak terima kasih dan rasa
hormat kepada :
1. Dr. Yahdiana Harahap, M.S. selaku Ketua Departemen Farmasi FMIPA UI.
2. Dr. Harmita, Apt. selaku Ketua Program Profesi Apoteker, Departemen
Farmasi, FMIPA UI.
3. Dra. Retnosari A, MS., Ph.D., Apt selaku pembimbing dari Departemen
Farmasi, FMIPA UI yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan serta
penyusunan laporan ini.
4. Dra. Idayanti, MARS., Apt. selaku pembimbing dari RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama
PKPA serta penyusunan laporan ini.
5. Dra. Yulia Trisna, M.Pharm., Apt. selaku kepala Instalasi Farmasi RSUPN Dr.
Cipto Mangunkusumo atas kesempatan yang diberikan kepada kami
mahasiswa untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya selama PKPA.
6. Seluruh apoteker dan staf di Instalasi Farmasi RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo atas waktu, pengarahan, dan bimbingannya selama kami
PKPA.
7. Keluarga dan para sahabat yang selama ini tidak pernah berhenti memberikan
dukungan dan doa.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan PKPA ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis dengan senang hati menerima segala kritik
dan saran demi perbaikan di masa yang akan datang.

Penulis
2012

iv

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... ii


HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii
KATA PENGANTAR ................................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................................. v
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. vi
BAB 1 PENDAHULUAN ............................................................................. 1
1.1. Latar Belakang ......................................................................... 1
1.2. Tujuan ..................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN UMUM ......................................................................... 3
2.1 Definisi Rumah Sakit ............................................................... 3
2.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit ................................................ 3
2.3 Klasifikasi Rumah Sakit ........................................................... 3
2.4 Struktur Organisasi Rumah Sakit .............................................. 7
2.5 Tenaga Kesehatan .................................................................... 7
2.6 Instalasi Farmasi Rumah Sakit ................................................. 8
2.7 Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) ............................................. 10
2.8 Instalasi Sterilisasi Pusat (ISP)/Centralized Sterile
Supply Department (CSSD)...................................................... 13
2.9 Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit ..................... 15
2.10 Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah Sakit ...................... 24
BAB 3 TINJAUAN KHUSUS ...................................................................... 30
3.1 Profil RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ................................. 30
3.2 Profil Instalasi Farmasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ...... 32
3.3 Sub Instalasi Perbekalan Farmasi ............................................. 35
3.4 Sub Instalasi Produksi .............................................................. 36
3.5 Sub Instalasi Farmasi Klinik dan Pendidikan, Penelitian
dan Pengembangan (Diklitbang)............................................... 39
3.6 Keterlibatan Farmasi dalam Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) . 44
3.7 Instalasi Sterilisasi Pusat RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.... 45
BAB 4 PEMBAHASAN ............................................................................... 52
4.1 Sub Instalasi Produksi .............................................................. 52
4.2 Gudang Pusat ........................................................................... 58
4.3 Satelit Pusat ............................................................................. 65
4.4 Satelit Instalasi Gawat Darurat (IGD) ....................................... 71
4.5 Satelit Intensive Care Unit (ICU) ............................................. 77
4.6 Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A) ................................... 82
4.7 Satelit Kirana ........................................................................... 88
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................... 93
5.1 Kesimpulan ................................................................................ 93
5.2 Saran .......................................................................................... 93
DAFTAR REFERENSI ................................................................................ 95

v Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Struktur Organisasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo ...............96


Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi ..........................................97
Lampiran 3. Struktur Organisasi Sub Instalasi Produksi ..................................98
Lampiran 4. Struktur Organisasi Instalasi Pusat Sterilisasi ..............................99
Lampiran 5. Contoh Etiket ........................................................................... 100
Lampiran 6. Contoh Klip Plastik Obat Unit Dose ......................................... 101
Lampiran 7. Contoh Blanko Kartu Stok ....................................................... 102
Lampiran 8. Formulir Retur Obat ................................................................. 103
Lampiran 9. Label Penandaan Khusus .......................................................... 104
Lampiran 10. Formulir Konseling Obat Pasien Pulang ................................... 105
Lampiran 11. Lembar Monitoring Pengobatan Pasien Rawat Inap .................. 106
Lampiran 12. Formulir Medication History Taking Pasien ............................. 107
Lampiran 13. Formulir Pelayanan Pencampuran Obat Sitostatik .................... 108
Lampiran 14. Contoh Protokol Kemoterapi .................................................... 109

vi Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan dengan tujuannya mewujudkan derajat kesehatan yang
optimal bagi masyarakat (Departemen Kesehatan, 2004). Berdasarkan Undang-
Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, upaya kesehatan diselenggarakan
dengan pendekatan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan
penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan
(rehabilitatif). Upaya kesehatan diselenggarakan oleh tenaga kesehatan pada
fasilitas pelayanan kesehatan.
Rumah sakit merupakan salah satu dari fasilitas pelayanan kesehatan
(Departemen Kesehatan, 2004). Upaya kesehatan di rumah sakit dapat berjalan
dengan baik jika masing-masing tenaga kesehatan yang berperan memahami serta
melaksanakan fungsi dan tugasnya dengan baik. Berdasarkan UU No.36 Tahun
2009 Apoteker merupakan salah satu profesi yang termasuk dalam tenaga
kesehatan yang juga berperan dalam pelaksanaan upaya kesehatan di rumah sakit.
Apoteker adalah profesi pelaksana praktek pelayanan kefarmasian.
Pelayanan kefarmasian merupakan penunjang bagi pelaksanaan upaya kesehatan
yang bermutu di rumah sakit (Departemen Kesehatan, 2004). Pelayanan farmasi
di rumah sakit berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang
bermutu, dan pelayanan farmasi klinik, yang terjangkau bagi semua lapisan
masyarakat (Departemen Kesehatan, 2004). Pelayanan farmasi di rumah sakit
merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan di rumah
sakit. Jika pelayanan kefarmasian tidak berjalan dengan baik maka pelayanan
kesehatan di rumah sakit tersebut juga tidak akan berjalan dengan baik. Dengan
kata lain, apoteker juga berperan penting dalam keberhasilan pelaksanaan
penyelenggaraan upaya kesehatan.
Saat ini, pelayanan kefarmasian di rumah sakit tidak hanya berfokus pada
fungsi manajemen perbekalan kefarmasian yaitu sebatas penyediaan dan
pendistribusian. Pelayanan kefarmasian di rumah sakit juga harus berorientasi
kepada pasien (Departemen Kesehatan, 2004). Perubahan ini menuntut apoteker
1 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
2

untuk kompeten menjalankan tugas dan fungsinya di ruang lingkup manajemen


dan klinis di rumah sakit. Selain itu, apoteker juga dituntut untuk memiliki
kemampuan bekerja sama dengan tenaga kesehatan lainnya. Oleh sebab itu,
dilaksanakan praktek kerja profesi apoteker di rumah sakit agar calon-calon
apoteker dapat mempelajari dan mempraktekkan tugas dan fungsi apoteker di
rumah sakit.

1.2 Tujuan
Tujuan dilaksanakannya praktek kerja profesi apoteker di rumah sakit
adalah memahami tugas beserta fungsi instalasi farmasi, pelaksanaan pelayanan
kefarmasian, dan peran apoteker di rumah sakit.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 2
TINJAUAN UMUM

2.1 Definisi Rumah Sakit


Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat
menyelenggarakan upaya kesehatan. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat. Menurut UU No. 44 Tahun 2009
tentang Rumah Sakit, Rumah Sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang
menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan dan gawat darurat.

2.2 Tugas dan Fungsi Rumah Sakit


Berdasarkan UU No. 44 Tahun 2009, rumah sakit mempunyai tugas
memberikan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna, untuk
menjalankan tugas sebagaimana yang dimaksud, rumah sakit mempunyai fungsi
sebagai berikut :
a. Penyelenggaraan pelayanan pengobatan dan pemulihan kesehatan sesuai
dengan standar pelayanan rumah sakit.
b. Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan perorangan melalui pelayanan
kesehatan yang paripurna tingkat kedua dan ketiga sesuai kebutuhan medis.
c. Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia dalam
rangka peningkatan kemampuan dalam pemberian pelayanan kesehatan.
d. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan serta penapisan teknologi
bidang kesehatan dalam rangka peningkatan pelayanan kesehatan dengan
memperhatikan etika ilmu pengetahuan bidang kesehatan.

2.3 Klasifikasi Rumah Sakit


Suatu sistem klasifikasi rumah sakit diperlukan untuk memberi kemudahan
mengetahui identitas, organisasi, jenis pelayanan yang diberikan, pemilik,
kapasitas tempat tidur serta evaluasi golongan rumah sakit. Rumah sakit dapat
diklasifikasikan menjadi beberapa golongan berdasarkan jenis pelayanan,
3 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
4

kepemilikan, kapasitas tempat tidur dan fasilitas pelayanan jangka waktu


pelayanan, serta afiliasi pendidikan (Siregar, 2004).

2.3.1 Berdasarkan Jenis Pelayanan


Berdasarkan jenis pelayanan, rumah sakit dapat digolongkan menjadi:
a. Rumah sakit umum
Rumah sakit umum adalah rumah sakit yang memberikan pelayanan
kesehatan yang bersifat dasar, spesialistik dan sub spesialistik. Rumah sakit umum
memberikan pelayanan kepada berbagai penderita dengan berbagai jenis penyakit
dan pelayanan diagnosis dan terapi untuk berbagai kondisi medik seperti penyakit
dalam, bedah, pediatrik, psikiatrik, ibu hamil dan sebagainya.
b. Rumah sakit khusus
Rumah sakit khusus adalah rumah sakit yang mempunyai fungsi primer
memberikan diagnosis dan pengobatan untuk penderita yang mempunyai kondisi
medik khusus, baik bedah atau non bedah, misalnya Rumah Sakit Ginjal, Rumah
Sakit Kusta, Rumah Sakit Jantung, Rumah Sakit Anak dan Bunda, Rumah Sakit
Kanker dan lain-lain (Siregar, 2004).

2.3.2 Berdasarkan Kepemilikan


Berdasarkan kepemilikan, rumah sakit dapat digolongkan menjadi rumah
sakit pemerintah dan rumah sakit swasta.
a. Rumah sakit pemerintah
Rumah sakit pemerintah adalah rumah sakit umum milik pemerintah, baik
pusat maupun daerah dan diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan,
Departemen Pertahanan dan Keamanan, Pemerintahan Daerah (Pemda) tingkat I
dan II), maupun Badan Usaha Milik Negara. Rumah sakit umum pemerintah dapat
dibedakan berdasarkan unsur pelayanan, ketenagaan, fisik, dan peralatan menjadi
empat kelas, yaitu rumah sakit umum kelas A, B, C, dan D.
b. Rumah sakit swasta
Rumah sakit swasta merupakan rumah sakit yang dimiliki dan
diselenggarakan oleh yayasan yang sudah disahkan sebagai badan hukum atau
badan hukum lain yang bersifat sosial.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
5

Rumah sakit swasta terdiri dari:


1. Rumah sakit umum pratama, yaitu rumah sakit umum swasta yang
memberikan pelayanan medik bersifat umum, setara dengan rumah sakit
pemerintah tipe D.
2. Rumah sakit umum swasta madya, yaitu rumah sakit umum swasta yang
memberikan pelayanan medik bersifat umum, setara dengan rumah sakit
pemerintah kelas C.
3. Rumah sakit umum swasta utama, yaitu rumah sakit umum yang memberikan
pelayanan medik bersifat umum, spesialistik, dan subspesialistik, setara
dengan rumah sakit pemerintah kelas B (Siregar, 2004).

2.3.3 Berdasarkan Fasilitas Pelayanan Dan Kapasitas Tempat Tidur


Berdasarkan fasilitas pelayanan dan kapasitas tempat tidur, rumah sakit
dapat digolongkan menjadi rumah sakit kelas A, B, C, dan D.
a. Rumah Sakit Kelas A
Rumah sakit kelas A yaitu rumah sakit yang mempunyai fasilitas dan
kemampuan pelayanan medik spesialistik dan sub spesialistik luas dengan
kapasitas lebih dari 1000 tempat tidur.
b. Rumah Sakit Kelas B
Rumah sakit kelas B, dibagi menjadi:
i. Rumah sakit B1 yaitu rumah sakit yang melaksanakan pelayanan medik
minimal 11 spesialistik dan belum memiliki sub spesialistik dengan
kapasitas 300 - 500 tempat tidur.
ii. Rumah sakit B2 yaitu rumah sakit yang melaksanakan pelayanan medik
spesialistik dan sub spesialistik terbatas dengan kapasitas 500 - 1000 tempat
tidur.
c. Rumah Sakit Kelas C
Rumah sakit kelas C yaitu rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medik spesialistik dasar, yaitu penyakit dalam, bedah,
kebidanan atau kandungan, dan kesehatan anak dengan kapasitas 100-300 tempat
tidur.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
6

d. Rumah Sakit Kelas D


Rumah sakit kelas D yaitu rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas
dan kemampuan pelayanan medik dasar, dengan kapasitas kurang dari 100 tempat
tidur (Siregar, 2004).

2.3.4 Berdasarkan Jangka Waktu Perawatan


Rumah sakit berdasarkan jangka waktu perawatan digolongkan menjadi:
a. Rumah sakit perawatan jangka pendek
Rumah sakit perawatan jangka pendek adalah rumah sakit yang jangka
waktu perawatan penderitanya kurang dari 30 hari. Rumah sakit perawatan jangka
pendek pada umumnya merawat penderita penyakit akut dan kondisi gawat
darurat.
b. Rumah sakit perawatan jangka panjang
Rumah sakit perawatan jangka panjang adalah rumah sakit yang jangka
waktu perawatan penderitanya lebih dari 30 hari. Rumah sakit perawatan jangka
panjang pada umumnya merawat penderita penyakit kronis seperti Rumah Sakit
Kanker, Rumah Sakit Jiwa, Rumah Sakit Kusta, dan lain-lain (Siregar, 2004).

2.3.5 Berdasarkan Afiliasi Pendidikan


Rumah sakit berdasarkan afiliasi pendidikan dibedakan menjadi:
a. Rumah sakit pendidikan
Rumah sakit pendidikan adalah rumah sakit yang melaksanakan program
pelatihan bagi residen di bidang farmasi, bedah, spesialis anak, dan bidang
spesialisasi lain. Residen melaksanakan perawatan penderita dibawah pengawasan
staf medik rumah sakit.
b. Rumah sakit afiliasi pendidikan
Rumah sakit afiliasi pendidikan adalah rumah sakit yang tidak
melaksanakan program pelatihan residen sendiri tetapi menyediakan fasilitas
pelatihan bagi mahasiswa dan residen.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
7

c. Rumah sakit non pendidikan


Rumah sakit non pendidikan adalah rumah sakit yang tidak melaksanakan
program pelatihan bagi residen dan tidak memiliki afiliasi dengan perguruan
tinggi (Siregar, 2004).

2.4 Struktur Organisasi Rumah Sakit


Setiap rumah sakit harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan
akuntabel agar dapat menjalankan fungsinya secara optimal. Berdasarkan UU
No.44 tahun 2009, organisasi rumah sakit paling sedikit terdiri atas kepala rumah
sakit atau direktur rumah sakit, unsur pelayanan medis, unsur keperawatan, unsur
penunjang medis, komite medis, satuan pemeriksaan internal, serta administrasi
umum dan keuangan. Selain itu, disebutkan juga bahwa pemilik rumah sakit tidak
boleh merangkap menjadi kepala rumah sakit.
Staf medik fungsional (SMF) berada di bawah koordinasi komite medik.
SMF terdiri atas dokter umum, dokter gigi, dan dokter spesialis dari semua
disiplin yang ada di rumah sakit. Komite medik adalah wadah non struktural yang
keanggotaannya terdiri atas ketua-ketua SMF. Kepala rumah sakit merupakan
seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di bidang rumah
sakit serta memiliki kewarganegaraan Indonesia.

2.5 Tenaga Kesehatan


Berdasarkan UU No.36 tahun 2009, tenaga kesehatan merupakan setiap
orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan
dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis
tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Tenaga
kesehatan juga harus memiliki kualifikasi minimum, memenuhi ketentuan kode
etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar pelayanan, dan
standar prosedur operasional. Kode etik dan standar profesi diatur oleh organisasi
profesi masing-masing.
Menurut Peraturan Pemerintah RI No.32 tahun 1996 tentang tenaga
kesehatan, tenaga kesehatan terdiri dari:
a. Tenaga medis yang meliputi dokter dan dokter gigi.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
8

b. Tenaga keperawatan yang meliputi perawat dan bidan.


c. Tenaga kefarmasian yang meliputi apoteker, analis farmasi dan asisten
apoteker.
d. Tenaga kesehatan masyarakat yang meliputi epidemiolog kesehatan,
entomolog kesehatan, mikrobiolog kesehatan, penyuluh kesehatan,
administrator kesehatan dan sanitarian.
e. Tenaga gizi yang meliputi nutrisionis dan dietisian.
f. Tenaga keterapian medik yang meliputi fisioterapis, okupasiterapis dan terapi
wicara.
g. Tenaga keteknisian teknis yang meliputi radiographer, radioterapis, teknisi
gigi, teknisi elektromedis, analis kesehatan, refraksionis, optisien, ototik
prostetik, teknisi transfuse darah dan perekam medis.

2.6 Instalasi Farmasi Rumah sakit


2.6.1 Definisi IFRS
Instalasi adalah fasilitas penyelenggara pelayanan medik, pelayanan
penunjang medik, kegiatan penelitian, pengembangan, pendidikan, pelatihan dan
pemeliharaan sarana rumah sakit. Farmasi rumah sakit adalah seluruh aspek
kefarmasian yang dilakukan rumah sakit. Jadi, instalasi farmasi rumah sakit
adalah suatu bagian/unit/divisi atau fasilitas di rumah sakit, tempat
penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian yang ditujukan untuk
keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar, 2004).

2.6.2 Tujuan IFRS


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1197/MENKES/SK/X/2004
tentang standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit, tujuan pelayanan farmasi
ialah :
a. Melangsungkan pelayanan farmasi yang optimal baik dalam keadaan biasa
maupun dalam keadaan gawat darurat, sesuai dengan keadaan pasien maupun
fasilitas yang tersedia.
b. Menyelenggarakan kegiatan pelayanan profesional berdasarkan prosedur
kefarmasian dan etik profesi.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
9

c. Melaksanakan KIE (Komunikasi Informasi dan Edukasi) mengenai obat.


d. Menjalankan pengawasan obat berdasarkan aturan-aturan yang berlaku.
e. Melakukan dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan
evaluasi pelayanan.
f. Mengawasi dan memberi pelayanan bermutu melalui analisa, telaah dan
evaluasi pelayanan.
g. Mengadakan penelitian di bidang farmasi dan peningkatan metoda.

2.6.3 Tugas dan Tanggung Jawab IFRS


Tugas utama IFRS adalah pengelolaan yang mulai dari perencanaan,
pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada
penderita hingga pengendalian semua perbekalan kesehatan yang beredar dan
digunakan oleh pasien rawat inap, rawat jalan maupun semua unit di rumah sakit.
Berkaitan dengan pengelolaan tersebut, IFRS harus menyediakan terapi obat yang
optimal bagi semua penderita dan menjamin pelayanan bermutu tinggi dengan
biaya minimal.
IFRS juga bertanggung jawab mengembangkan suatu pelayanan farmasi
yang luas dan terkoordinasi dengan baik dan tepat untuk memenuhi kebutuhan
berbagai bagian/unit diagnosa dan terapi, unit pelayanan keperawatan, staf medik
dan rumah sakit keseluruhan untuk kepentingan pelayanan pasien yang lebih baik
(Siregar, 2004).

2.6.4 Ruang Lingkup Fungsi IFRS


IFRS mempunyai berbagai fungsi yang dapat digolongkan menjadi fungsi
klinik dan non klinik. Fungsi non klinik meliputi perencanaan, penetapan
spesifikasi produk dan pemasok, pengadaan, pengendalian, produksi,
penyimpanan, pengemasan dan pengemasan kembali, distribusi dan pengendalian
semua perbekalan kesehatan yang beredar (Siregar, 2004).
Ruang lingkup farmasi klinik mencakup fungsi farmasi yang dilakukan
dalam program rumah sakit yaitu pemantauan terapi obat (PTO), evaluasi
penggunaan obat (EPO), penanganan bahan sitotoksik, pelayanan di unit
perawatan kritis, penelitian, pengendalian infeksi rumah sakit, sentra informasi
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
10

obat, pemantauan reaksi obat merugikan (ROM), sistem pemantauan kesalahan


obat, buletin terapi obat, program edukasi ‘in-service’ bagi apoteker, dokter dan
perawat dan investigasi obat, konseling, pemantauan kadar obat dalam darah,
ronde/visite pasien, pengkajian resep dan penggunaan obat (Siregar, 2004 dan
Departemen Kesehatan RI, 2004).

2.6.5 Struktur Organisasi IFRS


Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan RI No.
1197/Menkes/SK/X/2004, pelayanan farmasi diselenggarakan dengan visi, misi,
tujuan, dan bagan organisasi yang mencerminkan penyelenggaraan berdasarkan
filosofi pelayanan kefarmasian. Bagan organisasi adalah bagan yang
menggambarkan pembagian tugas, koordinasi, dan kewenangan serta fungsi.
Kerangka organisasi minimal mengakomodasi penyelenggaraan pengelolaan
perbekalan, pelayanan farmasi klinik dan manajemen mutu, serta harus selalu
dinamis sesuai perubahan yang dilakukan yang tetap menjaga mutu sesuai
harapan pelanggan.
Struktur organisasi dapat dibagi menjadi tiga tingkat yaitu tingkat puncak,
tingkat menengah, dan garis depan. Manajer tingkat puncak bertanggung jawab
untuk perencanaan, penerapan, dan peningkatan efektifitas fungsi dari sistem
mutu secara menyeluruh. Manajer tingkat menengah sebagian besar merupakan
kepala bagian/unit fungsional yang bertanggung jawab untuk mendesain dan
menerapkan berbagai kegiatan pelayanan yang diinginkan. Manajer garis depan
terdiri atas personil pengawas yang secara langsung memantau dan
mengendalikan kegiatan yang berkaitan dengan mutu pelayanan. Setiap personil
IFRS harus mengetahui lingkup, tanggung jawab, kewenangan fungsi mereka,
dampaknya pada pelayanan dan bertanggung jawab untuk mencapai mutu produk
dan pelayanan (Siregar, 2004).

2.7 Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)


2.7.1 Definisi PFT
Panitia Farmasi dan Terapi (PFT) adalah sekelompok penasehat dari staf
medik dan bertindak sebagai garis komunikasi organisasi antara staf medis dan
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
11

IFRS. PFT mengevaluasi secara klinik penggunaan obat, mengembangkan


kebijakan untuk pengelolaan penggunaan obat dan pemberian obat serta
pengelolaan sistem formularium. Panitia ini merupakan suatu kelompok pemberi
rekomendasi kebijakan yang berkaitan dengan penggunaan terapi obat bagi staf
medis dan pimpinan rumah sakit. Panitia ini berfungsi untuk menjamin
tercapainya terapi obat yang rasional. Pembentukan PFT diperlukan agar
hubungan antara IFRS dan semua profesional kesehatan di rumah sakit dapat
berjalan dengan baik (Siregar, 2004).

2.7.2 Tujuan PFT


Tujuan Panitia Farmasi dan Terapi di rumah sakit adalah sebagai berikut:
a. Menerbitkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan
obat, serta evaluasi obat.
b. Melengkapi staf profesional di bidang kesehatan dengan pengetahuan terbaru
yang berhubungan dengan obat dan penggunaan obat sesuai kebutuhan
(Departemen Kesehatan RI, 2004).

2.7.3 Fungsi PFT


Berikut adalah beberapa fungsi PFT :
a. Berfungsi dalam suatu kapasitas evaluatif, edukasi, dan penasihat bagi staf
medik dan pimpinan rumah sakit, dalam semua hal yang berkaitan dengan
penggunaan obat (termasuk obat investigasi).
b. Mengembangkan dan menetapkan formularium obat yang diterima untuk
digunakan dalam rumah sakit dan mengadakan revisi tetap. Pemilihan sediaan
obat yang akan dimasukkan dalam formularium harus didasarkan pada
evaluasi obyektif terhadap manfaat terapi, keamanan, dan harga. PFT harus
meminimalkan duplikasi dari jenis obat dasar yang sama, zat aktif yang sama
atau sediaan obat yang sama.
c. Menetapkan program dan prosedur yang membantu memastikan terapi obat
yang aman dan bermanfaat.
d. Menetapkan program dan prosedur yang membantu memastikan manfaat
biaya terapi.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
12

e. Menetapkan atau merencanakan program edukasi yang sesuai bagi staf


profesional rumah sakit tentang berbagai hal yang berkaitan dengan
penggunaan obat.
f. Berpartisipasi dalam kegiatan jaminan mutu yang berkaitan dengan distribusi,
pemberian, dan penggunaan obat.
g. Memantau dan mengevaluasi reaksi obat merugikan di rumah sakit dan
membuat rekomendasi yang tepat untuk mencegah berulangnya kembali.
h. Memprakarsai atau memimpin program dan studi evaluasi penggunaan obat,
pengkajian hasil dari kegiatan tersebut dan membuat rekomendasi yang tepat
untuk mengoptimalkan penggunaan obat.
i. Bersama IFRS merencanakan dan menetapkan suatu sistem distribusi obat
dan prosedur pengendalian yang efektif.
j. PFT mempunyai tanggung jawab pada pengadaan edukasi bagi staf
profesional rumah sakit. Tanggung jawab itu dipenuhi melalui penerbitan
buletin terapi obat yang disahkan PFT dan sponsor kuliah tahunan yang
berkaitan dengan terapi obat atau seminar bagi staf rumah sakit.
k. Membantu IFRS dalam pengembangan dan pengkajian kebijakan, ketetapan
dan peraturan berkaitan dengan penggunaan obat dalam rumah sakit sesuai
dengan peraturan perundang-undangan lokal dan nasional.
l. Mengevaluasi, menyetujui atau menolak obat yang diusulkan untuk
dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari formularium rumah sakit.
m. Menetapkan kategori obat yang digunakan dalam rumah sakit dan
menetapkan tiap obat pada suatu kategori tertentu.
n. Mengkaji penggunaan obat dalam rumah sakit dan meningkatkan standar
optimal untuk terapi obat rasional.
o. Membuat rekomendasi tentang obat yang disediakan dalam daerah perawatan
penderita.

2.7.4 Struktur Organisasi PFT


Susunan organisasi PFT serta kegiatan yang dilakukan bagi tiap rumah
sakit dapat bervariasi sesuai dengan kondisi rumah sakit setempat :

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
13

a. PFT harus sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) Dokter, Apoteker dan


Perawat. Untuk rumah sakit yang besar tenaga dokter bisa lebih dari 3
(tiga) orang yang mewakili semua staf medis fungsional yang ada.
b. Ketua PFT dipilih dari dokter yang ada di dalam kepanitiaan dan jika
rumah sakit tersebut mempunyai ahli farmakologi klinik, maka sebagai
ketua berasal Farmakologi. Sekretarisnya adalah Apoteker dari instalasi
farmasi atau apoteker yang ditunjuk.
c. PFT harus mengadakan rapat secara teratur, sedikitnya 2 (dua) bulan sekali
dan untuk rumah sakit besar rapatnya diadakan sebulan sekali. Rapat PFT
dapat mengundang pakar-pakar dari dalam maupun dari luar rumah sakit
yang dapat memberikan masukan bagi pengelolaan PFT.
d. Segala sesuatu yang berhubungan dengan rapat PFT diatur oleh sekretaris,
termasuk persiapan dari hasil-hasil rapat.
e. Membina hubungan kerja dengan panitia di dalam rumah sakit yang
sasarannya berhubungan dengan penggunaan obat (Departemen Kesehatan
RI, 2004).

2.8 Instalasi Sterilisasi Pusat (ISP)/ Centralized Sterile Supply Department


(CSSD)
2.8.1 Definisi Instalasi Sterilisasi Pusat
Instalasi sterilisasi pusat adalah unit pelayanan non struktural yang
berfungsi memberikan pelayanan sterilisasi yang sesuai standar/pedoman dan
memenuhi kebutuhan barang steril di rumah sakit. Instalasi ini khusus melayani
ruang perawatan, klinik, laboratorium khusus seperti Cardiac Catherization
Laboratory (laboratorium katerisasi jantung) dan ruang operasi (Departemen
Kesehatan RI, 2009).

2.8.2 Tugas dan Tujuan Instalasi Sterilisasi Pusat (ISP)


Tugas utama dari ISP adalah menyediakan seluruh kebutuhan barang atau
peralatan steril rumah sakit. ISP menerima pesanan barang untuk disterilkan
seperti alat-alat bedah dari instalasi bedah pusat serta obat-obat steril dari sub
bagian produksi (Siregar, 2004).
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
14

Tujuan ISP adalah:


a. Membantu unit lain di rumah sakit yang membutuhkan kondisi steril, untuk
mencegah terjadinya infeksi.
b. Menurunkan angka kejadian infeksi dan membantu mencegah, serta
menanggulangi infeksi nosokomial.
c. Efisiensi tenaga medis/paramedis lain serta pada media unit kegiatan-kegiatan
yang pada dasarnya bersifat patient care (berorientasi pada pelayanan
terhadap pasien).
d. Menyediakan dan menjamin kualitas hasil sterilisasi terhadap produk yang
dihasilkan (Departemen Kesehatan RI, 2009)

2.8.3 Personil Instalasi Sterilisasi Pusat


Pemilihan tenaga kerja untuk ditempatkan di ISP harus dilatih terlebih
dahulu tentang prinsip sterilisasi, monitoring autoklaf, pengoperasian sterlisasi
gas, identifikasi alat bedah, menyusun dan membersihkan peralatan, tes
bakteriologi dan biologi dasar. Progam pelatihan ini membutuhkan waktu dan
biaya sehingga harus ada teknisi progam pelatihan untuk mengembangkan
karyawan sehingga berkualitas baik dari segi teori dan teknologi (Siregar, 2004).

2.8.4 Lokasi Ideal Instalasi Sterilisasi Pusat


Ruangan ISP idealnya berada di tengah-tengah lokasi dimana pelayanan
ISP dibutuhkan. Hal penting lain yang harus dipertimbangkan adalah besarnya
ruangan utuk ISP. Ruang ISP harus mampu menampung baju/kain dalam jumlah
besar yang berasal dari laundry dan ruang bedah serta sejumlah besar produk
intravena (IV) steril dan larutan irigasi jika tidak diproduksi sendiri.
Faktor-faktor yang cukup penting untuk menentukan besar ruangan ISP
adalah ukuran dan keadaan rumah sakit, jumlah barang dalam ISP, jumlah shift
kerja per hari dan tipe sterilisasi yang dilakukan. Jika manajemen farmasi dan ISP
dikombinasi, secara fisik kedua ruangan dapat digabung atau berdekatan sehingga
memudahkan pengawas untuk melaksanakan tugasnya selama 24 jam (Siregar,
2004).

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
15

2.8.5 Kegiatan Instalasi Sterilisasi Pusat


ISP modern merupakan ruangan yang terdiri dari autoklaf dan peralatan
sterilisasi. Barang yang masuk ke dalam ISP dicatat dalam buku penerimaan yang
memuat data tentang tanggal masuk barang, nama dan jumlah barang, nama
ruangan serta keterangan mengenai fisik barang.
Barang yang masuk dalam ISP dapat digolongkan sebagai berikut:
a. Barang bersih
Berasal dari bagian perbekalan dan distribusi, rumah tangga dan barang
pesanan untuk disterilkan.
b. Barang kotor
Berasal dari ruangan-ruangan seperti sarung tangan, pakaian, dan alat
kedokteran.
Proses seleksi dilakukan untuk memisahkan barang yang dapat dipakai
ulang dengan barang yang sudah rusak seperti sobek, tidak tajam lagi, bekas
pasien AIDS, dan sebagainya. Pemberian desinfektan dengan cara merendam
barang dalam larutan desinfektan seperti lisol dan wipol, kecuali tenun operasi
yang tidak mengalami proses pemberian desinfektan. Kontrol kualitas dilakukan
untuk menjamin mutu sterilitas produk yang dihasilkan. Kontrol kualitas tersebut
diantaranya adalah pemasangan indikator fisik pada barang-barang yang akan
disterilkan, uji mikrobiologi barang-barang yang telah disterilkan, penentuan
tanggal kadaluarsa untuk barang yang telah disterilkan (Siregar, 2004).

2.9 Pengelolaan Perbekalan Farmasi di Rumah Sakit


Pengelolaan perbekalan farmasi merupakan suatu siklus kegiatan, dimulai
dari perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian,
pengendalian, penghapusan, administrasi, dan pelaporan serta evaluasi yang
diperlukan bagi kegiatan pelayanan.

2.9.1 Perencanaan
Perencanaan merupakan proses kegiatan dalam pemilihan jenis, jumlah,
dan harga perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.
Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
16

metode yang dapat dipertanggung jawabkan seperti metode konsumsi,


epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi.
a. Tujuan Perencanaan Obat
Tujuan utama dari perencanaan dalam farmasi adalah untuk menyusun
kebutuhan obat yang tepat dan sesuai kebutuhan guna mencegah terjadinya
kekurangan atau kelebihan persediaan farmasi serta meningkatkan penggunaan
persediaan farmasi secara efektif dan efisien.
b. Prinsip Perencanaan
Perencanaan obat harus ditetapkan berdasarkan pada pedoman
perencanaan, yaitu:
1) Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) untuk tingkat nasional, formularium
rumah sakit untuk tingkat rumah sakit, standar diagnosis dan terapi untuk unit
pelayanan fungsional (UPF), dan juga berdasarkan permintaan perbekalan
farmasi.
2) Data catatan medik, untuk mengetahui macam-macam penyakit yang diderita
pasien, rata-rata lama perawatan pasien, serta jumlah pasien dalam kurun
waktu tertentu.
3) Sesuai dengan anggaran yang tersedia.
4) Penetapan prioritas berdasarkan sasaran unit pelayanan, jenis perbekalan
farmasi, dan fungsinya.
5) Jumlah stok barang yang tersisa.

c. Metode-Metode Perhitungan Obat


Perhitungan kebutuhan obat dilakukan untuk menghindari masalah
kekosongan obat atau kelebihan obat. Metode yang biasa digunakan dalam
perhitungan kebutuhan obat, antara lain :
1) Metode Konsumsi
Secara umum, metode konsumsi menggunakan data konsumsi obat
individual dalam memproyeksikan kebutuhan yang akan datang berdasarkan data
konsumsi tahun sebelumnya. Dasarnya adalah data riil konsumsi obat per periode
yang lalu dengan berbagai penyesuaian dan koreksi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
17

2) Metode Morbiditas
Metode morbiditas menggunakan data jumlah pasien pengguna fasilitas
kesehatan yang ada dan tingkat morbiditas (frekuensi masalah kesehatan yang
umum) untuk membuat rencana kesehatan obat yang dibutuhkan. Dasarnya adalah
jumlah kebutuhan obat yang digunakan untuk beban kesakitan. Metode morbiditas
membutuhkan sebuah daftar tentang masalah kesehatan umum, sebuah daftar
obat-obatan yang penting mencakup terapi untuk masalah-masalah tersebut dan
satu set pengobatan standar untuk tujuan perhitungan (berdasarkan pada praktek
rata-rata atau pedoman pengobatan).
3) Metode penyesuaian konsumsi
Metode ini menggunakan data jumlah insiden penyakit dan konsumsi
penggunaan obat. Sistem perencanaan pengadaan didapat dengan
mengekstrapolasi nilai konsumsi dan penggunaan untuk mencapai target sistem
suplai berdasarkan pada cakupan populasi atau tingkat pelayanan yang disediakan.
4) Metode proyeksi tingkat pelayanan dari keperluan anggaran
Metode ini digunakan untuk memperkirakan anggaran keperluan
pengadaan obat berdasarkan biaya per pasien yang diobati setiap tingkat dalam
sistem kesehatan yang sama.

2.9.2 Pengadaan
Metode-metode pengadaan terdiri dari (Quick, 1997) :
a. Tender terbuka (Open tender)
Tender terbuka merupakan prosedur formal yang mengundang secara
terbuka para pemasok untuk menyertakan diri dalam lelang pengadaan.
b. Tender terbatas (Restricted tender)
Pada tender terbatas, undangan lelang hanya diberikan kepada pemasok
yang telah lulus kualifikasi sebelumnya. Kualifikasi yang dipertimbangkan
mengenai GMP (Good Manufacturing Practices), aktivitas pengadaan
sebelumnya, kesinambungan finansial dan faktor-faktor lain yang terkait.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
18

c. Negoisasi kompetitif
Pemasok telah diseleksi hingga jumlah yang sedikit (umumnya tiga), lalu
pemasok diminta untuk membuka harga dan penawaran-penawaran spesial.
Pembeli akan memilih pemasok yang paling menguntungkan.
d. Pengadaan langsung
Metode ini merupakan metode yang paling sederhana tetapi paling mahal.
Hal tersebut dikarenakan pemasok tidak memiliki saingan untuk menurunkan
harga. Umumnya, metode ini digunakan untuk obat-obat yang masih dalam masa
patennya atau untuk bahan-bahan yang penjualannya dibatasi pada pemasok
tertentu. Dalam kondisi seperti itu, pembeli memiliki dua pilihan, membeli
langsung atau mencari pilihan obat/bahan lain.
Menurut Keputusan Presiden No. 18 Tahun 2000 tentang Pedoman
Pelakasanaan Barang dan Jasa Instansi Pemerintah, metode pengadaan perbekalan
farmasi di setiap tingkatan pada sistem kesehatan dibagi menjadi 5 kategori
metode pengadaan barang dan jasa, yaitu :
a. Pembelian
1) Pelelangan (tender)
2) Pemilihan langsung
3) Penunjukan langsung
4) Swakelola
b. Produksi
Kriterianya adalah obat lebih murah jika diproduksi sendiri.
1) Obat tidak terdapat dipasaran atau formula khusus Rumah Sakit
2) Obat untuk penelitian
c. Kerjasama dengan pihak ketiga
d. Sumbangan/droping/hibah
e. Lain-lain

2.9.3 Produksi (Kementerian Kesehatan RI, 2004)


Produksi merupakan kegiatan membuat, merubah bentuk, dan mengemas
kembali sediaan farmasi steril atau non steril untuk memenuhi kebutuhan
pelayanan kesehatan di rumah sakit.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
19

Kriteria obat yang diproduksi adalah :


a. Sediaan farmasi dengan formula khusus.
b. Sediaan farmasi dengan harga murah.
c. Sediaan farmasi dengan kemasan yang lebih kecil.
d. Sediaan farmasi yang tidak tersedia dipasaran.
e. Sediaan farmasi untuk penelitian.
f. Sediaan nutrisi parenteral.
g. Rekonstruksi sediaan obat kanker.
h. Sediaan farmasi yang harus dibuat baru.
Jenis sediaan farmasi yang diproduksi (Departemen Kesehatan RI, 2008) :
a. Produksi Steril
Persyaratan teknis untuk produksi steril :
1) Ruangan aseptis.
2) Peralatan, contohnya laminar air flow (horizontal dan vertikal),
autoclave, oven, Cytoguard, dan alat pelindung diri.
3) Sumber daya manusia : petugas terlatih.
Kegiatan produksi steril meliputi :
1) Pembuatan Sediaan steril
Contoh : Pembuatan methylen blue, triple dye, aqua steril
2) Total Parenteral Nutrisi (TPN)
TPN adalah nutrisi dasar yang diperlukan bagi penderita secara intravena
yang kebutuhan nutrisinya tidak dapat terpenuhi secara enteral. Contoh TPN
adalah campuran sediaan karbohidrat, protein, lipid, vitamin, dan mineral
untuk kebutuhan individual dan dikemas ke dalam kantong khusus untuk
nutrisi.
3) Pencampuran Obat Suntik/ Sediaan Intravena (IV admixture)
IV admixture adalah pencampuran sediaan steril ke dalam larutan intravena
secara aseptis untuk menghasilkan suatu sediaan steril. Contoh kegiatan IV
admixture adalah mencampur sediaan intravena ke dalam cairan infus dan
melarutkan sediaan intravena dalam bentuk serbuk dengan pelarut yang
sesuai.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
20

4) Pengemasan Kembali (Re-Packing)


5) Rekonstitusi Sediaan Sitostatika

b. Produksi Nonsteril
1) Pembuatan Sirup
Contoh sirup yang umum dibuat di rumah sakit adalah OBH (Obat Batuk
Hitam).
2) Pembuatan Salep
Contoh : Salep 24, Salep Sulfadiazin, dan Salep AAV.
3) Pembuatan Puyer
4) Pengemasan Kembali (Re-Packing)
Contoh : Alkohol, Povidon Iodine, H2O2, dan Wash Bensin.
5) Pengenceran
Contoh : antiseptik dan desinfektan.
Sediaan farmasi yang diproduksi oleh IFRS harus akurat dalam identitas,
kekuatan, kemurnian, dan mutu. Oleh karena itu, harus ada pengendalian proses
dan produk untuk semua sediaan yang diproduksi atau pembuatan sediaan ruah
dan pengemasan yang memenuhi syarat. Formula induk dan batch harus
terdokumentasi dengan baik (termasuk hasil pengujian produk).

2.9.4 Penerimaan
Penerimaan merupakan kegiatan untuk menerima perbekalan farmasi yang
telah diadakan sesuai dengan aturan kefarmasian. Staf farmasi merupakan bagian
dari tim penerimaan perbekalan farmasi.
Pedoman dalam penerimaan perbekalan farmasi:
1. Setiap produk jadi yang telah di produksi oleh pabrik harus mempunyai
certificate of analyse (CA).
2. Barang harus bersumber dari distributor utama.
3. Harus mempunyai Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk kategori bahan-
bahan berbahaya.
4. Khusus untuk alat kesehatan/kedokteran harus mempunyai certificate of origin
(CO).
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
21

5. Waktu kadaluarsa minimal 2 tahun.

2.9.5 Penyimpanan
Tempat penyimpanan perbekalan farmasi adalah gudang farmasi. Tujuan
penyimpanan :
a. Memelihara mutu barang dan menjaga kelangsungan persediaan.
b. Menjamin keamanan dari pencurian dan kebakaran.
c. Memudahkan dalam pencarian dan pengawaasan persediaan barang
kadaluarsa.
d. Menjamin pelayanan yang cepat dan tepat.
Fungsi gudang farmasi adalah :
a. Menjamin pelayanan yang cepat dan tepat. Menerima, menyimpan,
memelihara, dan mendistribusikan perbekalan farmasi.
b. Menyiapkan penyusunan rencana, pencatatan pelaporan mengenai persediaan
dan penggunaan perbekalan farmasi.
c. Mengamati mutu dan khasiat obat yang disimpan.
Ketentuan penyimpanan berdasarkan KEPMENKES Tahun 2004 tentang
Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, antara lain:
a. Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya.
b. Dibedakan menurut suhu dan kestabilannya.
c. Mudah tidaknya meledak/terbakar.
d. Tahan/tidaknya terhadap cahaya.
e. Disertai dengan sistem informasi yang selalu menjamin ketersediaan
perbekalan farmasi sesuai kebutuhan.
Ruang penyimpanan harus memperhatikan kondisi, sanitasi, suhu,
sinar/cahaya, kelembaban, ventilasi, pemisahan untuk menjamin mutu produk,
dan keamanan petugas. Umumnya, penyimpanan dibagi berdasarkan :
a. Bentuk sediaan
b. Kelas terapi
c. Alfabetis
d. First in First Out (FIFO) dan First Expired First Out (FEFO)
e. Kestabilan sediaan.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
22

2.9.6 Pendistribusian
Kegiatan distribusi perbekalan farmasi di rumah sakit dilakukan untuk
menunjang pelayanan medis bagi pasien (Departemen Kesehatan, 2004).
Distribusi perbekalan farmasi di rumah sakit dapat dilakukan dengan berbagai
pilihan sistem. Sistem distribusi dirancang atas dasar kemudahan untuk dijangkau
oleh pasien dengan mempertimbangkan :
a. Efisiensi dan efektifitas sumber daya yang ada.
b. Metode sentralisasi atau desentralisasi.
c. Sistem total floor stock, resep individu, dispensing dosis unit atau kombinasi
(Departemen Kesehatan, 2004).
Beberapa kategori sistem pendistribusian perbekalan farmasi adalah :
A. Sistem Persediaan Lengkap di Ruangan (Total Floor Stock)
Pada sistem total floor stock, sejumlah perbekalan farmasi disimpan dalam
ruang rawat untuk memenuhi kebutuhan di ruang tersebut. Pendistribusian
perbekalan farmasi menjadi tanggung jawab perawat ruangan. Perbekalan yang
disimpan tidak dalam jumlah besar dan dapat dikontrol secara berkala oleh
petugas farmasi (Departemen Kesehatan, 2004). Sistem ini seharusnya
diminalisasi tetapi dalam beberapa kondisi sistem ini dapat digunakan, yaitu :
1) Pada unit gawat darurat atau ruang operasi. Pada ruang tersebut biasanya
dibutuhkan obat atau alat kesehatan dengan segera sehingga lebih baik
disediakan stok. Akan tetapi, jika terdapat satelit farmasi di dekat ruangan
tersebut maka sistem ini bisa dihindari.
2) Dalam keadaan gawat darurat, obat-obatan diharuskan tersedia di ruang
pelayanan pasien. Oleh sebab itu, umumnya disediakan stok obat-obat gawat
darurat di ruang rawat. Farmasi bertanggung jawab melakukan pengawasan
untuk obat-obat tersebut.
3) Untuk obat-obatan yang dibutuhkan dalam jumlah banyak dan biayanya murah
dapat dilakukan distribusi dengan sistem ini. Hal tersebut dilakukan dengan
pertimbangan resiko bahaya keamanan pasien atas obat tersebut rendah (Quick,
1997).
Keuntungan dari sistem ini adalah :
a. Obat yang dibutuhkan cepat tersedia.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
23

b. Meniadakan retur obat.


c. Pasien tidak harus membayar obat berlebih.
d. Mengurangi jumlah personil farmasi.
Kelemahan dari sistem ini adalah :
a. Sering terjadi kesalahan obat (salah order dari dokter, salah peracikan oleh
perawat, salah etiket obat).
b. Persediaan obat di ruangan menjadi banyak.
c. Kemungkinan kehilangan dan kerusakan obat lebih besar.
d. Menambah beban kerja bagi perawat.

B. Sistem Resep Perorangan (Resep Individual)


Pada distribusi dengan sistem resep individual, perbekalan farmasi
diberikan kepada pasien sesuai dengan yang tertulis di resep. Pendistribusian
perbekalan farmasi dengan sistem resep individual dilakukan melalui instalasi
farmasi (Departmen Kesehatan, 2004).
Keuntungan dari sistem ini adalah :
a. Resep dapat dikaji dulu oleh apoteker.
b. Ada interaksi antara apoteker, dokter, dan perawat.
c. Ada pengendalian persediaan.
Kelemahan dari sistem ini adalah :
a. Bila obat berlebih, pasien tetap harus membayar.
b. Obat dapat terlambat sampai ke pasien.
c. Masih memerlukan tenaga perawat untuk menyiapkan obat sebelum diberikan
ke pasien.
d. Kehilangan dan kesalahan penggunaan obat masih cukup besar karena tidak
adanya proses pengawasan ganda.

C. Sistem Unit Dosis


Pada sistem unit dosis, pendistribusian obat dilakukan melalui resep
perorangan yang disiapkan, diberikan/digunakan, dan dibayar dalam unit untuk
penggunaan satu kali dosis (Departemen Kesehatan, 2004). Penyiapan obat
dilakukan oleh instalasi farmasi untuk tiap waktu penggunaan dalam sehari.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
24

Selanjutnya, obat diserahkan kepada perawat untuk diberikan ke pasien. Sistem


unit dosis hanya dapat dilakukan untuk pasien rawat inap bukan untuk pasien
rawat jalan.
Keuntungan dari sistem ini adalah :
a. Pasien hanya membayar obat yang telah dipakainya.
b. Tidak ada kelebihan obat/ yang tidak terpakai di ruang perawatan.
c. Semua obat dipersiapkan oleh farmasi sehingga perawat mempunyai waktu
yang lebih untuk merawat pasien.
d. Menciptakan sistem pengawasan ganda yaitu oleh farmasi ketika membaca
resep dokter, sebelum dan sesudah menyiapkan obat serta oleh perawat ketika
membaca formulir instruksi obat sebelum memberikan obat kepada pasien.
Hal ini akan mengurangi kesalahan pengobatan (medication error).
e. Mengurangi ruang untuk persediaan obat di ruang perawatan.
f. Memperbesar kesempatan komunikasi antara farmasi, perawat dan dokter
serta pasien.
g. Memungkinkan farmasi mempunyai profil farmasi penderita yang dibutuhkan
untuk Drug Use Review (pengkajian penggunan obat).
h. Apoteker dapat keluar dari bagian farmasi dan masuk ke ruang perawatan.
Apoteker dapat berfungsi sebagai konsultan obat serta membantu dokter dan
perawat demi perawatan yang lebih baik.
Kelemahan dari sistem ini adalah :
a. Membutuhkan banyak tenaga farmasi.
b. Harus segera siap sebelum jam makan pasien.
c. Menggunakan lebih banyak bungkus obat.

2.10 Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit


2.10.1 Pengkajian Resep
Kegiatan dalam pelayanan kefarmasian yang dimulai dari skrinning resep
meliputi persyaratan administrasi, kesesuaian farmasetik dan pertimbangan klinis.
Persyaratan administrasi meliputi :
a. Nama, umur, jenis kelamin dan berat badan pasien
b. Nama, nomor ijin, alamat dan paraf dokter
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
25

c. Tanggal resep
d. Ruangan/unit asal resep
Kesesuaian farmasetik meliputi :
a. Bentuk dan kekuatan sediaan
b. Dosis dan jumlah obat
c. Stabilitas dan ketersediaan
d. Aturan, cara dan teknik penggunaan
Pertimbangan klinis meliputi :
a. Ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat
b. Duplikasi pengobatan
c. Alergi, interaksi dan efek samping obat
d. Kontra indikasi
e. Efek aditif

2.10.2 Pelayanan Informasi Obat (PIO) (Departemen Kesehatan RI, 2004)


PIO merupakan kegiatan pelayanan yang dilakukan oleh apoteker untuk
memberikan informasi secara akurat, tidak bias dan terkini kepada tenaga
kesehatan dan pasien. Tujuan PIO meliputi :
a. Menyediakan informasi mengenai obat kepada pasien dan tenaga kesehatan
dilingkungan rumah sakit.
b. Menyediakan informasi untuk membuat kebijakan-kebijakan yang
berhubungan dengan obat, terutama bagi Panitia/Komite Farmasi dan Terapi.
c. Meningkatkan profesionalisme apoteker.
d. Menunjang terapi obat yang rasional.
Kegiatan PIO meliputi :
a. Memberikan dan menyebarkan informasi kepada konsumen secara aktif dan
pasif.
b. Menjawab pertanyaan dari pasien maupun tenaga kesehatan melalui telepon,
surat atau tatap muka.
c. Membuat buletin, leaflet, dan label obat.
d. Menyediakan informasi bagi PFT sehubungan dengan penyusunan
formularium rumah sakit.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
26

e. Melakukan pendidikan berkelanjutan bagi tenaga farmasi dan tenaga


kesehatan lainnya.
f. Mengkoordinasi penelitian tentang obat dan kegiatan pelayanan kefarmasian.

2.10.3 Pemantauan dan Pelaporan Efek Samping Obat (ESO)


Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 1197/Menkes/SK/X/2004,
pemantauan dan pelaporan ESO merupakan kegiatan pemantauan setiap respon
terhadap obat yang merugikan atau tidak diharapkan yang terjadi pada dosis
normal yang digunakan pada manusia untuk tujuan profilaksis, diagnosis dan
terapi. Tujuan monitoring ESO yakni menemukan ESO sedini mungkin (terutama
yang berat, tidak dikenal, frekuensinya jarang), menentukan frekuensi dan insiden
ESO, dan mengenal semua faktor yang mungkin dapat menimbulkan/
mempengaruhi timbulnya ESO.
Kegiatan monitoring efek samping obat meliputi:
a. Menganalisa laporan ESO
b. Mengidentifikasi obat-obatan dan pasien yang mempunyai resiko tinggi
mengalami ESO
c. Mengisi formulir ESO
d. Melaporkan ke Panitia ESO Nasional
Faktor yang perlu diperhatikan dalam monitoring ESO yakni kerjasama
dengan PFT dan ruang rawat serta ketersediaan formulir monitoring ESO
(Departemen Kesehatan RI, 2004). Standar yang ditetapkan rumah sakit dapat
digunakan apoteker untuk meningkatkan keterlibatannya dalam suatu program
pemantauan ESO. Apoteker yang ingin memulai atau menerapkan program
tersebut, dapat mengusulkan beberapa metode kepada PFT. Usulan ini mencakup
pelaporan sukarela oleh praktisi individu, mengkaji kartu pengobatan pasien,
surveilan obat individu dan surveilan unit pasien.

2.10.4 Pengkajian Penggunaan Obat (Drug Use Review)


Pengkajian penggunaan obat adalah alat untuk mengidentifikasi
permasalahan terkait penggunaan obat seperti dosis yang tidak benar, reaksi efek
samping yang bisa dihindari, pemilihan obat yang tidak tepat dan kesalahan
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
27

dalam penyiapan dan pemberian obat (Quick, 1997). Pengkajian penggunaan obat
merupakan program evaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan
berkesinambungan untuk menjamin obat-obat yang digunakan sesuai indikasi,
efektif, aman dan terjangkau oleh pasien. Tujuan dari pengkajian penggunaan
obat adalah (Departemen Kesehatan, 2004):
a. Mendapatkan gambaran keadaan saat ini atas pola penggunaan obat pada
pelayanan kesehatan/dokter tertentu.
b. Membandingkan pola penggunaan obat pada pelayanan kesehatan/dokter satu
dengan yang lain.
c. Penilaian berkala atas penggunaan obat spesifik
d. Menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan obat.
Alat yang digunakan dalam pengkajian penggunaan obat adalah (Quick,
1997):
a. Indikator peresepan, yang mencakup parameter inti sebagai berikut :
1) Rata-rata jumlah obat per pasien.
2) Persentase obat yang diresepkan menggunakan nama generik.
3) Persentase pasien yang diresepkan antibiotik.
4) Persentase pasien yang diresepkan injeksi.
5) Persentase obat yang diresepkan dari daftar obat esensial.
b. Indikator pelayanan pasien, yang mencakup parameter inti sebagai berikut :
1) Rata-rata waktu konsultasi.
2) Rata-rata waktu dispensing.
3) Persentase obat aktual yang disiapkan.
4) Persentase pelabelan yang benar.
5) Persentase pasien yang memiliki pemahaman yang benar tentang obat.
c. Indikator fasilitas, yang mencakup parameter inti sebagai berikut :
1) Ketersediaan daftar obat-obat esensial.
2) Ketersediaan obat-obat esensial.

2.10.5 Konseling
Konseling merupakan suatu proses sistematik untuk mengidentifikasi dan
menyelesaikan masalah pasien terkait penggunaan obat pasien rawat jalan dan
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
28

rawat inap. Konseling bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar


mengenai obat kepada pasien dan tenaga kesehatan mengenai nama obat, tujuan
pengobatan, jadwal pengobatan, cara menggunakan obat, lama penggunaan obat,
efek samping obat, tanda-tanda toksisitas, cara penyimpanan obat, dan interaksi
dengan penggunaan obat-obat lain.
Konseling dapat dilakukan untuk pasien dengan kriteria sebagai berikut:
a. Pasien rujukan dokter,
b. Pasien dengan penyakit kronis,
c. Pasien dengan obat yang berindeks terapi sempit dan polifarmasi,
d. Pasien geriatrik, dan
e. Pasien pulang sesuai dengan kriteria diatas.
Konseling terdiri dari beberapa kegiatan, diantaranya:
a. Memulai komunikasi antara apoteker dengan pasien.
b. Menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan obat yang dikatakan oleh
dokter kepada pasien dengan metode open-ended question, mencakup:
1) Apa yang dikatakan dokter mengenai obat
2) Bagaimana cara pemakaiannya
3) Efek yang diharapkan dari obat tersebut
c. Memperagakan dan menjelaskan mengenai cara penggunaan obat
d. Melakukan verifikasi akhir yaitu mengecek pemahaman pasien,
mengidentifikasi, dan menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan cara
penggunaan obat untuk mengoptimalkan tujuan terapi.

2.10.6 Ronde/Visite Pasien


Ronde merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap bersama tim
dokter dan tenaga kesehatan lainnya yang bertujuan untuk:
a. Pemilihan obat.
b. Menerapkan secara langsung pengetahuan farmakologi terapeutik.
c. Menilai kemajuan pasien.
d. Bekerjasama dengan tenaga kesehatan lain.
Kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut:

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
29

a. Apoteker harus memperkenalkan diri dan menerangkan tujuan dari kunjungan


tersebut kepada pasien.
b. Untuk pasien yang baru dirawat, apoteker harus menanyakan terapi obat
terdahulu dan memperkirakan masalah yang mungkin terjadi.
c. Apoteker memberikan keterangan pada formulir resep untuk menjamin
penggunaan obat yang benar.
d. Melakukan pengkajian terhadap catatan perawat akan berguna untuk
pemberian obat.
Setelah kunjungan, apoteker membuat catatan mengenai permasalahan dan
penyelesaian masalah dalam buku yang digunakan bersama antara apoteker
sehingga dapat menghindari pengulangan kunjungan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 3
TINJAUAN KHUSUS

3.1 Profil RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo


3.1.1 Sejarah Singkat
Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN) Dr. Cipto Mangunkusumo
didirikan tahun 1919 dengan nama Centrale Burgerlijke Ziekeninrichting. Pada
masa penjajahan Jepang, RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo berubah nama
menjadi Rumah Sakit Perguruan Tinggi (Ika Daigaku Byongin). Pada tahun 1964,
kembali terjadi perubahan nama menjadi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr.
Tjipto Mangunkusumo (RSTM). Kini, rumah sakit yang berada di Jl. Diponegoro
No.71 Jakarta Pusat ini bernama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional (RSUPN)
Dr. Cipto Mangunkusumo atau yang biasa disingkat menjadi RSCM.
Pada bulan Desember 2000, RSCM berubah status menjadi Rumah Sakit
Perjan (Perusahaan Jawatan) yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah
RI No. 116 tahun 2000 tentang Pendirian Perusahaan Jawatan Rumah Sakit Dr.
Cipto Mangunkusumo. Dengan demikian, tata organisasi dan kebijakan yang telah
ada diubah dan disesuaikan dengan peraturan tersebut. Perjan RSCM adalah
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang diberi tugas dan wewenang untuk
menyelenggarakan kegiatan jasa pelayanan dan senantiasa berorientasi kepada
kepentingan masyarakat.
RSCM merupakan rumah sakit pusat rujukan nasional yang senantiasa
memberikan pelayanan kesehatan berkualitas dan terjangkau. Berdasarkan
Peraturan Pemerintah RI No. 23 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum, status RSCM diubah menjadi Badan Layanan Umum (BLU)
milik pemerintah dengan pengawasan Departemen Keuangan RI, Menteri Negara
BUMN, dan secara teknis oleh Departemen Kesehatan RI. Hal ini senada dengan
Keputusan Menteri Kesehatan No.1234/Menkes/SK/VIII/2005 tanggal 11
Agustus 2005 tentang Penetapan 13 Eks Rumah Sakit PERJAN menjadi UPT
Departemen Kesehatan dengan Menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum dimana RSCM termasuk di dalamnya. Dengan demikian, RSCM
diharapkan mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan

30 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
31

barang dan/atau jasa tanpa mengutamakan keuntungan dimana dalam melakukan


kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.

3.1.2 Visi dan Misi


RSCM memiliki visi “Menjadi Rumah Sakit Pendidikan dan Pusat
Rujukan Nasional Terkemuka di Asia Pasifik Tahun 2014” dengan misi sebagai
berikut:
a. Memberikan pelayanan kesehatan paripurna dan bermutu serta terjangkau
oleh semua lapisan masyarakat.
b. Menjadi tempat pendidikan dan penelitian tenaga kesehatan.
c. Menjadi tempat penelitian dan pengembangan dalam rangka meningkatkan
derajat kesehatan masyarakat melalui manajemen yang mandiri.
Kesehatan dan kepuasan pelanggan adalah komitmen RSCM. Untuk itu,
RSCM senantiasa memberikan pelayanan paripurna yang prima untuk
meningkatkan kepuasan dan menumbuhkan kepercayaan pasien sebagai
pelanggan utama RSCM. Berbekal motto RSCM yaitu ”Respek, Sigap. Cermat,
dan Mulia”, RSCM mengembangkan lima nilai budaya yakni profesionalisme,
integritas, kepedulian, penyempurnaan berkesinambungan, pembelajaran, dam
pendidikan.

3.1.3 Pengelolaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia


RSCM dipimpin oleh seorang Direktur Utama yang membawahi lima
direktorat, yaitu Direktorat Medik dan Keperawatan, Direktorat Pengembangan
dan Pemasaran, Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan, Direktorat
Keuangan, dan Direktorat Umum dan Operasional yang terkait dengan pelayanan
rumah sakit. Struktur organisasi RSCM dapat dilihat secara lebih jelas pada
Lampiran 1.
Secara garis besar, manajemen RSCM terdiri dari manajemen klinik dan
manajemen operasional. Manajemen klinik memiliki beberapa indikator sebagai
berikut:

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
32

a. Menurunkan angka kematian.


b. Mencegah kecacatan (disability).
c. Menurunkan infeksi nosokomial (disease infection).
d. Meminimalisir ketidaknyamanan (discomfort).
e. Tidak tercapainya hasil tindak sesuai prediksi (dissatisfaction).
f. Kecacatan nol – sembuh tanpa gejala (zero defect).
Sementara itu, manajemen operasional memiliki empat indikator sebagai berikut:
a. Cepatnya mendapat pertolongan dokter.
b. Cepatnya mendapat kamar.
c. Cepatnya mendapat pertolongan perawat.
d. Keseringan ketergantungan dengan yang lain dalam diagnosa dan terapi.

3.1.4 Klasifikasi
RSCM merupakan rumah sakit umum pemerintah pusat kelas A yang
merupakan pusat rujukan nasional. Selain itu, RSCM juga merupakan rumah sakit
pendidikan yang bekerja sama dengan berbagai pihak, salah satunya Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sebagai mitra penyelenggara program
pendidikan Spesialis dan Sub Spesialis. Hubungan erat RSCM dengan FKUI
seperti mata uang dengan dua sisi dimana sepertiga tenaga medis RSCM
merupakan staf FKUI yang melakukan pelayanan, pendidikan, dan penelitian di
RSCM. Beberapa bentuk kerjasama keduanya antara lain pengalaman belajar
klinis peserta didik program pendidikan kedokteran dan PPDS RSCM, program
pendidikan FKUI yang dilaksanakan di RSCM, dan Departemen Klinik FKUI
yang terletak di RSCM.

3.2 Profil Instalasi Farmasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo


3.2.1 Visi dan Misi
Instalasi Farmasi RSCM memiliki visi “Menjadi Penyelenggara Pelayanan
Farmasi yang Komprehensif dengan Kualitas Terbaik dan Mengutamakan
Kepuasan Pelanggan” dengan misi sebagai berikut:
a. Menyelenggarakan pelayanan farmasi prima untuk kepuasan pelanggan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
33

b. Menyelenggarakan manajemen perbekalan farmasi yang efektif dan efisien.


c. Menyelenggarakan pelayanan farmasi klinik untuk meningkatkan
keselamatan pasien dan mencapai hasil terapi obat yang optimal.
d. Menunjang penyelenggaraan kebijakan obat di rumah sakit dalam rangka
meningkatkan penggunaan obat yang rasional.
e. Memproduksi sediaan farmasi tertentu yang dibutuhkan RSCM sesuai
persyaratan mutu.
f. Berperan serta dalam peningkatan pendapatan rumah sakit.
g. Berperan serta dalam program pendidikan dan pelatihan, penelitian dan
pengembangan farmasi.

3.2.2 Tujuan Umum


Menyelenggarakan kebijakan obat di rumah sakit melalui pelayanan
farmasi satu pintu, profesional, berdasarkan prosedur kefarmasian dan etika
profesi, bekerja sama dengan dokter, perawat, dan tenaga kesehatan lain yang
terkait dalam rangka meningkatkan penggunaan obat yang rasional.

3.2.3 Tujuan Khusus


a. Aspek manajemen, antara lain mengelola perbekalan farmasi yang efektif dan
efisien, menerapkan farmakoekonomi dalam pelayanan, mewujudkan sistem
informasi tepat guna dan berdaya guna, meningkatkan kemampuan tenaga
kesehatan farmasi melalui pendidikan dan pelatihan, serta mengawasi,
mengendalikan dan mengevaluasi mutu pelayanan farmasi.
b. Aspek klinik, antara lain mengkaji instruksi pengobatan, mengidentifikasi dan
menyelesaikan permasalahan yang berhubungan dengan obat, memantau
efektifitas dan keamanan penggunaan obat, menjadi pusat informasi obat bagi
tenaga kesehatan, pasien/keluarga dan masyarakat, melaksanakan konseling
pada pasien maupun tenaga kesehatan, melakukan pengkajian obat,
melakukan penanganan obat-obat kanker, melakukan perencanaan,
penerapan dan evaluasi pengobatan, bekerja sama dengan tenaga kesehatan
lain, serta berperan serta dalam tim/kepanitian di rumah sakit seperti panitia

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
34

farmasi dan terapi, panitia infeksi nosokomial, tim kanker, tim nutrisi, tim
HIV AIDS dan lain-lain.

3.2.4 Tugas dan Fungsi


Instalasi Farmasi RSCM bertugas melaksanakan pengelolaan perbekalan
farmasi yang optimal, meliputi perencanaan, penerimaan, penyimpanan,
pendistribusian perbekalan farmasi dan produksi sediaan farmasi, serta
melaksanakan pelayanan farmasi klinik sesuai prosedur kefarmasian dan etika
profesi. Untuk menjalankan tugasnya tersebut, Instalasi Farmasi RSCM berfungsi
dalam:
a. Penyusunan standar, kriteria, prosedur dan indikator kinerja pelayanan
kefarmasian serta administrasi umum dan keuangan.
b. Penyusunan program pelayanan pengelolaan perbekalan farmasi, produksi
sediaan farmasi, pelayanan farmasi klinik rumah sakit serta administrasi dan
keuangan.
c. Penyusunan rencana kebutuhan perbekalan farmasi rumah sakit, tenaga,
sarana dan prasarana penunjang kebutuhan Instalasi Farmasi.
d. Menjamin ketersediaan perbekalan farmasi.
e. Penyelenggaraan penyimpanan dan pendistribusian perbekalan farmasi.
f. Penyelenggaraan produksi sediaan farmasi dan aseptic dispensing untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di rumah sakit.
g. Penyelenggaraan pelayanan farmasi klinik.
h. Penyelenggaraan supervisi, pemantauan, pengawasan dan pengendalian
terhadap mutu pelayanan farmasi.
i. Memfasilitasi dan mendorong tersusunnya standar pengobatan dan
formularium.
j. Pengadministrasian penerimaan dan pengeluaran perbekalan farmasi.
k. Pengadministrasian SDM dan keuangan farmasi.
l. Pengembangan kompetensi SDM farmasi.
m. Penyelenggaraan penelitian dan pengembangan pelayanan farmasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
35

3.2.5 Pengelolaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia


Instalasi Farmasi RSCM adalah satuan kerja fungsional yang berada di
bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktorat Medik dan
Keperawatan. Instalasi Farmasi yang berpusat di Gedung Central Medical Unit
(CMU) 2 lantai 3 dipimpin oleh seorang apoteker selaku Kepala Instalasi Farmasi
RSCM yang membawahi empat sub instalasi, yaitu:
a. Sub Instalasi Administrasi dan Keuangan (Adminkeu),
b. Sub Instalasi Perbekalan Farmasi,
c. Sub Instalasi Produksi, dan
d. Sub Instalasi Farmasi Klinik dan Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan
(Farklin Diklitbang).
Tenaga kerja di Instalasi Farmasi RSCM terdiri dari 22 orang apoteker, 153 orang
asisten apoteker, 14 orang tenaga administrasi, dan 29 orang pekarya. Struktur
organisasi Instalasi Farmasi RSCM secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 2.

3.3 Sub Instalasi Perbekalan Farmasi


Sub Instalasi Perbekalan Farmasi adalah satuan kerja fungsional yang
berada di bawah Instalasi Farmasi. Sub Instalasi Perbekalan Farmasi dipimpin
oleh seorang apoteker pengelola yang disebut Kepala Sub Instalasi Perbekalan
Farmasi dan bertanggung jawab langsung kepada Kepala Instalasi Farmasi. Sub
Instalasi Perbekalan Farmasi dalam menjalankan tugasnya mempunyai fungsi:
a. Penyusunan rancangan kebijakan, standar, kriteria, prosedur dan indikator
kinerja Sub Instalasi Perbekalan Farmasi.
b. Penyusunan RBA dan RKT Sub Instalasi Perbekalan Farmasi.
c. Pengkoordinasian perencanaan perbekalan farmasi dengan Bidang Pelayanan
Medik dan unit kerja terkait.
d. Pengkoordinasian pengadaan perbekalan farmasi dengan Unit Procurement.
e. Pelaksanaan penerimaan perbekalan farmasi sesuai peraturan yang berlaku.
f. Pelaksanaan penyimpanan dan pendistribusian perbekalan farmasi sesuai
aturan kefarmasian

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
36

g. Penyelenggaraan supervisi, pengawasan dan pengendalian terhadap


pengelolaan perbekalan farmasi baik di satelit farmasi maupun di unit kerja
yang tidak memiliki tenaga farmasi.
h. Pelaporan kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi.
i. Pelaporan kegiatan Sub Instalasi Perbekalan Farmasi.
Kegiatan yang dilakukan oleh Sub Instalasi Perbekalan Farmasi meliputi
perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengawasan,
pengendalian, dan pelaporan pengelolaan perbekalan farmasi. Perencanaan
dikaitkan dengan proses pengadaannya, memiliki tiga sistem yaitu reguler,
konsinyasi, dan sistem tertutup. Sistem pengadaan perbekalan farmasi dikaitkan
dengan asal sumber dana yaitu dana operasional dan dana pendapatan.
Penyimpanan dan pendistribusian perbekalan farmasi sesuai aturan kefarmasian
dilakukan di Gudang Perbekalan Farmasi.

3.4 Sub Instalasi Produksi


Sub Instalasi Produksi adalah satuan kerja fungsional yang berada di
bawah Instalasi Farmasi RSCM dan dipimpin oleh seorang apoteker pengelola
selaku Kepala Sub Instalasi Produksi dan bertanggung jawab langsung kepada
Kepala Instalasi Farmasi RSCM. Struktur organisasi Sub Instalasi Produksi
RSCM dapat dilihat pada Lampiran 3. Sub Instalasi Produksi RSCM berperan
sebagai salah satu sumber pengadaan kebutuhan RSCM. Kepala Sub Instalasi
Produksi dibantu oleh dua orang staf pelaksana fungsional yang terdiri dari:
a. Penanggung Jawab Produksi Steril dan Non Steril
Membawahi Pelaksana Produksi Steril, Pelaksana Produksi Non Steril, dan
Pelaksana Repacking Serbuk.
b. Penanggung Jawab Aseptic Dispensing (Penyiapan Obat secara Aseptis).
Membawahi Pelaksana Pencampuran Obat Suntik dan Pelaksana Penyiapan
Obat Sitostatika.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
37

Sub Instalasi Produksi RSCM dalam menjalankan tugasnya memiliki fungsi


sebagai berikut:
a. Penyusunan rancangan kebijakan, standar, kriteria, prosedur, dan indikator
kinerja Sub Instalasi Produksi.
b. Penyusunan RKT dan RBA Sub Instalasi Produksi.
c. Pelaksanaan perencanaan produksi sediaan farmasi dan aseptic dispensing.
d. Pelaksanaan perencanaan, penerimaan, dan penyimpanan bahan baku dan
bahan pengemas yang berasal dari Sub Instalasi Perbekalan Farmasi, sesuai
dengan peraturan yang berlaku.
e. Pelaksanaan kegiatan pelayanan produksi sediaan farmasi untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan rumah sakit.
f. Pelaksanaan repacking dan pelayanan aseptic dispensing untuk memenuhi
kebutuhan pelayanan kesehatan rumah sakit.
g. Pengendalian dan pengawasan terhadap mutu produksi sediaan farmasi dan
aseptic dispensing.
h. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi produksi farmasi.
i. Pelaporan kegiatan produksi.
Kegiatan Sub Instalasi Produksi meliputi produksi sediaan farmasi non
steril, pengemasan kembali (repacking), penyiapan obat sitostatika, dan
pencampuran obat suntik (IV admixture). Sub Instalasi Produksi RSCM telah
memproduksi kurang lebih 84 jenis sediaan dengan total sediaan rutin 40 jenis
setiap bulannya. Kriteria sediaan yang diproduksi di RSCM adalah sebagai
berikut:
a. Memiliki formula khusus, contohnya sirup omeprazol dan KCl premix
dengan dosis individual.
b. Mengemas ke dalam kemasan yang lebih kecil (repacking), contohnya
povidone iodine dan alkohol 96%.
c. Tidak terdapat di pasaran, contohnya sirup omeprazol dan kapsul NaCl.
d. Menghasilkan produk dengan harga yang lebih ekonomis, contohnya handrub
dan kapsul campuran parasetamol dan tramadol.
e. Sediaan harus dibuat segar (recenter paratus), contohnya sirup omeprazol.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
38

f. Sediaan dibuat untuk kepentingan penelitian, contohnya asam urso.


Saat ini, hasil produksi sediaan farmasi yang dilakukan di Sub Instalasi
Produksi RSCM meliputi kurang lebih 84 jenis sediaan dengan 40 jenis
diantaranya rutin diproduksi setiap bulan. Produk tersebut terbatas pada jenis
sediaan non steril, seperti handrub, sirup OBH, dan kapsul campuran parasetamol
dan tramadol.
Pengemasan kembali (repacking) sediaan farmasi yang dilakukan di Sub
Instalasi Produksi RSCM mencakup repacking bahan-bahan non steril contohnya
alkohol 96% dan povidon iodine. Selain itu, juga terdapat kegiatan repacking
sediaan injeksi, baik cair, maupun serbuk, contohnya sediaan Pycin yang dikemas
kembali dengan masa/volume yang lebih kecil sesuai dengan kebutuhan pasien,
dengan tujuan menghemat biaya pengobatan pasien. Oleh karena itu, repacking
hanya dilakukan untuk sediaan injeksi mahal dimana besarnya biaya penghematan
dapat menutupi biaya repacking.
Pelayanan aseptic dispensing meliputi pencampuran obat suntik (IV
admixture) dan repacking sediaan steril yang terletak di Gedung Central Medical
Unit (CMU) 2 lantai 3, serta penanganan obat-obat sitostatika (handling cytotoxic)
yang terletak di Gedung CMU 2 lantai 3, lantai 8 Gedung A RSCM, dan Paviliun
Tumbuh Kembang (PTK) Departemen Ilmu Kesehatan Anak (IKA). Kriteria
sediaan aseptic dispensing yang diproduksi di Sub Instalasi Produksi RSCM
meliputi:
a. Obat sitostatika.
b. Sediaan steril dan tidak tahan pemanasan.
c. Sediaan steril yang tidak stabil dalam larutan.
d. Sediaan steril dengan formula khusus.
e. Menghasilkan produk dengan harga yang lebih ekonomis.
Kuantitas dan frekuensi kegiatan produksi dan repacking yang dilakukan
di Sub Instalasi Produksi RSCM disesuaikan dengan jumlah permintaan sediaan
farmasi yang berasal dari gudang pusat, satelit, dan/atau departemen, sedangkan
kuantitas pencampuran obat sitostatika ditentukan berdasarkan banyaknya
permintaan pasien dalam bentuk resep. Permintaan sediaan farmasi, baik dalam

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
39

bentuk resep maupun formulir permintaan, akan diperiksa kesesuaiannya dengan


jumlah persediaan bahan baku yang tersedia. Jika bahan baku yang diperlukan
tersedia, dilakukan persiapan produksi mencakup persiapan bahan baku, bahan
pengemas, dan peralatan yang akan digunakan. Kegiatan produksi dilakukan di
ruangan yang sesuai dengan jenis produk, yaitu produk steril, produk non steril,
dan obat sitostatika.

3.5 Sub Instalasi Farmasi Klinik dan Pendidikan, Penelitian, dan


Pengembangan (Diklitbang)
Sub Instalasi Farmasi Klinik dan Diklitbang adalah satuan kerja fungsional
yang berada di bawah Instalasi Farmasi RSCM. Sub Instalasi Farmasi Klinik dan
Diklitbang dipimpin oleh seorang apoteker pengelola yang disebut Kepala Sub
Instalasi Farmasi Klinik dan Diklitbang dan bertanggung jawab langsung kepada
Kepala Instalasi Farmasi RSCM. Sub Instalasi Farmasi Klinik dan Diklitbang
mempunyai fungsi sebagai berikut:
a. Penyusunan rancangan kebijakan, standar, kriteria, prosedur dan indikator
kinerja Sub Instalasi Farmasi Klinik dan Diklitbang.
b. Pelaksanaan kegiatan pelayanan farmasi klinik meliputi: pengkajian instruksi
pengobatan dan resep pasien, pengidentifikasian masalah terkait penggunaan
obat dan alat kesehatan, pemantauan terhadap efektifitas dan keamanan
penggunaan obat dan alat kesehatan, pemberian konseling kepada pasien dan
keluarga pasien, serta pemberian informasi obat kepada petugas kesehatan,
pasien/keluarga.
c. Pelaksanaan pengembangan profesi sumber daya manusia (SDM) farmasi.
d. Pengkoordinasian pelaksanaan pendidikan dan pelatihan tenaga kefarmasian.
e. Pengkoordinasian pelaksanaan penelitian dan pengembangan pelayanan
farmasi.
f. Pemantauan, pengawasan, dan pengendalian terhadap mutu pelayanan
farmasi.
g. Pelaporan kegiatan farmasi klinik dan diklitbang farmasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
40

3.5.1 Pelayanan Farmasi Klinik di RSCM


Kegiatan farmasi klinik di RSCM telah dilakukan di beberapa tempat,
diantaranya Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A), Departemen Ilmu Kesehatan
Anak (IKA), Ruang Unit Perawatan Intensif (Intensive Care Unit/ICU), RSCM
Kencana, dan Departemen Pelayanan Jantung Terpadu (PJT).

3.5.1.1 Kegiatan Farmasi Klinik di Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A)


Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A) merupakan suatu bangunan yang
diperuntukkan bagi pasien rawat inap. Gedung A terdiri dari 8 lantai dan
dibedakan berdasarkan jenis penyakit yang ditangani. Hampir setiap lantai di
Ruang Rawat Inap Terpadu memiliki depo farmasi dan apoteker penanggung
jawab yang berkewajiban untuk melakukan kegiatan farmasi klinik setiap hari.
Adapun kegiatan farmasi klinik yang dilakukan di Ruang Rawat Inap Terpadu
antara lain:
a. Informasi Obat Pulang (IOP)
Informasi Obat Pulang (IOP) diutamakan terhadap pasien yang
memperoleh resep polifarmasi, memperoleh obat dengan cara penggunaan khusus,
dan/ atau pasien yang memerlukan kepatuhan khusus dalam pengobatannya.
Informasi diberikan dengan metode bedside counseling (di sisi tempat tidur)
pasien yang akan pulang. Hal ini dilakukan karena belum terdapat ruang
konseling khusus di setiap lantai.
Sebelum memberikan konseling, apoteker harus mengisi formulir IOP
(Lampiran 10) yang dibuat dua rangkap mencakup nama, kekuatan, jumlah, dan
regimen obat yang diserahkan, serta instruksi khusus untuk sediaan tertentu.
Lembar asli IOP diserahkan kepada pasien atau keluarga pasien sebagai informasi
tertulis. Lembar salinan disimpan oleh apoteker yang memberikan informasi
sebagai arsip.
b. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Pelayanan Informasi Obat (PIO) merupakan kegiatan pelayanan yang
dilakukan oleh apoteker untuk memberikan informasi secara akurat, tidak bias,
dan terkini. Pertanyaan dapat berasal dari berbagai pihak, seperti dokter, perawat,

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
41

pasien, keluarga pasien, dan lain-lain. Pelayanan informasi obat yang baik
membutuhkan sarana penunjang yang baik dan memadai, diantaranya berupa
buku-buku teks terbaru yang up-to-date, jurnal kesehatan, dan akses internet.
Pencatatan perlu dilakukan setelah pelayanan informasi obat dilakukan
sebagai dokumentasi. Dokumentasi tersebut berisi pertanyaan yang diajukan serta
jawaban yang diberikan oleh apoteker. Dokumentasi sangat bermanfaat apabila
terdapat pertanyaan serupa di kemudian hari. Selain itu, berdasarkan hasil
dokumentasi dapat diketahui topik pertanyaan yang paling sering diajukan
sehingga apoteker dapat memperdalam pengetahuan mengenai topik pertanyaan
tersebut.
c. Pemantauan Terapi Obat
Kegiatan pemantauan pengobatan pasien tidak dilakukan pada semua resep
yang diberikan kepada pasien. Kegiatan tersebut diprioritaskan bagi pasien-pasien
yang memperoleh obat lebih dari 7 macam atau pasien yang memperoleh obat
dengan indeks terapi sempit. Secara garis besar, pemantauan dilakukan terhadap
kesesuaian dosis, kesesuaian pemilihan terapi dengan diagnosis pasien, ketepatan
jenis obat, dan potensi interaksi obat dalam satu resep yang diberikan kepada
pasien.
Skrining interaksi obat dilakukan menggunakan perangkat lunak Drug
Interaction Fact atau Adverse Drug Interaction Medical Letter. Temuan interaksi
obat dicatat dalam formulir pemantauan terapi obat sebagai bukti dokumentasi
(Lampiran 11). Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan menghubungi dokter yang
bertanggung jawab terhadap pasien tersebut. Dokter perlu diberikan informasi
mengenai adanya potensi interaksi obat tersebut, terutama yang bermakna, dan
dapat sangat mempengaruhi kondisi pasien. Selain itu, apoteker juga harus
menyiapkan rekomendasi untuk mengatasi masalah tersebut, terutama apabila
obat-obat yang berinteraksi memang diperlukan oleh pasien untuk
kesembuhannya.
Selain itu, dilakukan pula pemantauan penggunaan antibiotika dengan
memantau dosis dan lama penggunaan antibiotika yang digunakan pasien. Apabila
terdapat hal yang tidak sesuai atau meragukan, apoteker perlu menanyakannya

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
42

kepada dokter yang meresepkan untuk mencegah terjadinya efek yang tidak
diinginkan dan pemantauan penggunaan antibiotika harus didokumentasikan.
d. Pengambilan Riwayat Penggunaan Obat (Medication History Taking/MHT)
Pengambilan riwayat penggunaan obat bertujuan untuk mengetahui
adanya kemungkinan riwayat alergi, efek samping obat, dan hal-hal lain yang
tidak diharapkan akibat penggunaan obat. Selain itu, MHT juga bermanfaat untuk
menilai kepatuhan pasien dalam penggunaan obat dan menyelaraskan rejimen
terapi pada saat sebelum perawatan dan saat menjalani perawatan. MHT
diprioritaskan terhadap pasien yang baru masuk rumah sakit (48 jam pertama)
dengan riwayat penyakit kronis (penyakit dalam, infeksi, dan saraf) serta pasien
dengan imunitas rendah.
Sebelum melakukan MHT, apoteker menyiapkan lembar daftar obat
sebelum perawatan dan menanyakan tentang riwayat penggunaan obat pasien
sebelum dirawat di rumah sakit meliputi :
1) Nama obat yang digunakan (nama generik/ nama dagang).
2) Cara mendapatkan obat (resep/ non resep) termasuk obat herbal, OTC, dan
suplemen.
3) Dosis/ aturan pakai obat.
4) Lama penggunaan obat (kapan mulai menggunakan dan kapan dihentikan).
5) Bagaimana obat digunakan (dengan jadwal teratur, kadang-kadang, jika
timbul gejala saja, dan lain-lain).
6) Sumber obat.
7) Jumlah obat tersisa. (Lampiran 12)
Selain itu, apoteker juga perlu menanyakan kepada pasien apakah pasien tersebut
memiliki riwayat alergi atau pernah mengalami efek samping obat sebelumnya
untuk menghindari pemberian obat tersebut.
e. Visite atau Ronde
Ronde bertujuan untuk memantau perkembangan kesehatan pasien dan
kesesuaian terapi yang telah diberikan. Ronde dapat dilakukan secara mandiri
oleh apoteker atau berkolaborasi dengan tim dokter dan profesi kesehatan lain.
Selain ronde, apoteker juga melakukan meeting dengan tim kesehatan lain untuk

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
43

membicarakan kasus pasien tertentu. Kegiatan meetiing sedikit berbeda dengan


ronde, meeting dilakukan di dalam suatu ruangan, sedangkan ronde dilakukan di
ruang rawat pasien. Apoteker berperan untuk merekomendasikan pengobatan
pasien terkait kesesuaian diagnosa, kesesuaian dosis, kesesuaian sediaan obat,
ketersedian obat, keterjangkauan harga obat, menghindari efek yang tidak
diinginkan, serta kemungkinan terjadinya interaksi obat.

3.5.1.2 Kegiatan Farmasi Klinik di Ruang Unit Perawatan Intensif (Intensive Care
Unit/ICU)
a. Parade
Kegiatan parade bertujuan untuk mendiskusikan perkembangan kesehatan
pasien dan merencanakan langkah terapi berikutnya yang akan diberikan kepada
pasien. Apoteker berperan dalam merekomendasikan pilihan obat bagi pasien
ICU. Selain itu, apoteker juga berperan dalam memberikan informasi mengenai
obat yang dibutuhkan dalam perawatan pasien, meliputi ketersediaan obat di
Instalasi Farmasi RSCM, dosis obat yang diberikan sesuai diagnosa pasien, dan
potensi interaksi obat yang mungkin terjadi.
b. Visite/ Ronde
Apoteker farmasi klinis ICU bertanggung jawab melaksanakan visite
pasien bersama dokter, perawat, dan dietisian. Melalui kegiatan ini, tim medis
dapat mengetahui kondisi pasien yang sebenarnya. Apoteker berperan dalam
merekomendasikan pilihan terapi apabila dokter menginginkan adanya perubahan
terapi.
c. Monitoring Pengobatan
Apoteker farmasi klinis ICU melakukan pengkajian obat yang diresepkan
dokter, baik dalam hal farmasetik maupun klinis. Apabila terdapat
ketidaksesuaian terapi yang diberikan, apoteker dapat mengkonfirmasikannya
kepada dokter yang bersangkutan dan memberikan rekomendasi jika diperlukan.
Selain itu, monitoring obat juga dilakukan untuk memeriksa apabila terdapat
diskrepansi antara resep, kardeks, dan status pasien. Monitoring juga dilakukan
dengan memperhatikan perkembangan pasien setelah memperoleh terapi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
44

3.6 Keterlibatan Farmasi dalam Panitia Farmasi dan Terapi (PFT)


PFT adalah panitia ahli yang mewakili staf medis dan farmasi. PFT
bertugas membantu pimpinan RSCM dalam merumuskan berbagai kebijakan dan
peraturan tentang obat yakni untuk mencapai penggunaan obat yang rasional
sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh setiap pasien.
Keanggotaan PFT RSCM adalah berdasarkan pengusulan dari Kepala
Departemen/ Bidang/ Instalasi dan disahkan oleh Direktur Utama RSCM.
Anggota PFT tidak boleh mempunyai ikatan kerja dengan perusahaan farmasi
manapun. PFT menyusun program kerja tentang pemilihan obat dan penyusunan
formularium. PFT mengajukan anggaran setiap tahun untuk mendukung program
kerja. Tugas PFT mencakup:
a. Sebagai penasehat bagi pimpinan RSCM dan tenaga kesehatan dalam semua
masalah yang ada kaitannya dengan obat, alat kesehatan habis pakai, dan
bahan diagnostik.
b. Menyusun kebijakan penggunaan obat, alat kesehatan dan bahan diagnostik
di RSCM.
c. Menyusun formularium obat, alat kesehatan, dan bahan diagnostik; dan
memperbaharuinya secara berkala. Seleksi obat, alat kesehatan, dan bahan
diagnostik didasarkan pada efektivitas, keamanan, kualitas, dan harga. PFT
harus mampu menghindari terjadinya duplikasi obat, baik obat dengan nama
generik yang sama atau obat dengan indikasi yang sama.
d. Memantapkan dan melaksanakan program dan agenda kegiatan yang
menjamin berlangsungnya pelaksanaan terapi yang efektif, aman, dan hemat
biaya.
e. Merencanakan dan melaksanakan program pelatihan dan penyebaran
informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan seleksi, pengadaan, dan
penggunaan obat kepada staf medis RSCM.
f. Berperan aktif dalam penjaminan mutu pemilihan, pengadaan, dan
penggunaan obat.
g. Menyelenggarakan pemantauan dan evaluasi efek samping obat yang terjadi
di RSCM.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
45

h. Memandu tinjauan penggunaan obat (drug utilization review) dan


mengumpanbalikkan hasil tinjauan itu ke seluruh staf medis.
PFT perlu mengadakan rapat rutin sekurang-kurangnya satu bulan sekali
untuk membicarakan implementasi dari kebijakan dan peraturan tentang seleksi
dan penggunaan obat. Rapat pleno PFT dihadiri oleh seluruh anggota PFT. Setiap
anggota PFT dalam pengambilan keputusan harus bebas dari kepentingan pribadi
atau kelompok dan semata-mata adalah untuk kepentingan pasien. Keputusan
rapat pleno yang menyangkut kebijakan diambil berdasarkan musyawarah. Bila
musyawarah tidak berhasil, maka dilakukan pemungutan suara.

3.7 Instalasi Sterilisasi Pusat RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo


Kondisi steril melalui sterilisasi merupakan prinsip dasar untuk mencegah
terjadinya infeksi nosokomial. Sterilisasi menjadi langkah awal untuk
terlaksananya patient safety melalui pemutusan mata rantai penyebaran
mikroorganisme. Pelaksanaan sterilisasi membutuhkan perangkat dan sistem yang
utuh dalam pelaksanaannya dengan petugas khusus dengan ketrampilan khusus
sebagai first step to quality. Oleh karena itu, CSSD menjadi unit yang dibutuhkan
rumah sakit untuk memenuhi ketersediaan atas barang-barang steril untuk
mencegah terjadinya infeksi nosokomial. Alat kesehatan steril menjadi produk
akhir sterilisasi di CSSD yang merupakan hasil dari suatu sistem yang utuh.

3.7.1 Definisi CSSD (Central Sterile Supply Department)


CSSD merupakan suatu unit kerja yang memproduksi atau menyediakan
barang dan peralatan steril seperti perbekalan farmasi dasar steril, instrumen steril,
linen steril, dll yang dibutuhkan oleh departemen/instalasi/unit pelayanan terpadu
dan jejaring pelayanan kesehatan lainnya.

3.7.2 Sejarah
Tahun 1968 hingga Maret 1983, CSSD berada di bawah naungan bidang
perawatan. Pada tahun 1983 hingga awal tahun 2000, berdasarkan Edaran
Direktur Jendral Medik tanggal 29 Maret 1983, CSSD berubah nama menjadi Sub

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
46

Instalasi CSSD di bawah naungan Instalasi Farmasi RSCM. Perubahan kembali


terjadi pada tahun 2000. berdasarkan SK Menkes No.553 Tahun 1994 dan SK
Menkes No.130 Tahun 2000, Instalasi Sterilisasi berada di bawah Direktur
Penunjang Medik. Saat ini, berdasarkan SK Direktur Utama No.
9426/TU.K/34/XII/2008, CSSD RSCM merupakan salah satu unit kerja non
struktural dan instalasi medik yang berada di bawah dan bertanggungjawab
kepada Direktorat Umum dan Operasional. CSSD RSCM dipimpin oleh seorang
pejabat pengelola yang disebut kepala instalasi.

3.7.3 Visi dan Misi CSSD RSCM


Visi dari CSSD RSCM adalah menjadi CSSD yang terkemuka di Asia
Pasifik Tahun 2014. Misi dari CSSD RSCM adalah:
a. Menyelenggarakan pusat pelayanan sterilisasi yang aman dan bermutu.
b. Menjadi penyedia alat kesehatan steril untuk jejaring pelayanan kesehatan.
c. Meningkatkan kompetensi SDM dibidang sterilisasi.
d. Menyedikan sarana dan prasarana yang handal.
e. Menyediakan tempat pendidikan/pelatihan dan penelitian / pengembangan di
bidang sterilisasi.

3.7.4 Tujuan dan Strategi CSSD RSCM


Tujuan dari CSSD RSCM adalah tercapainya pelayanan pusat sterilisasi
dengan pergeseran posisi menjadi revenue center. Strategi yang digagas adalah:
a. Meningkatkan efisiensi produktivitas.
b. Meningkatkan profesionalisme.
c. Menciptakan restrukturisasi.
d. Menerapkan sistem managemen keuangan.
e. Menetapkan tarif pelayanan sterilisasi berdasarkan perhitungan unit cost.
f. Meningkatkan mutu pemantauan dan evaluasi.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
47

3.7.5 Kebijakan Mutu


CSSD RSCM menyelenggarakan pelayanan sterilisasi profesional, aman
dan bermutu yang berorientasi terhadap kepuasan pelanggan dengan
meningkatkan aktivitas fungsional secara terus menerus, disertai komitmen untuk
meningkatkan kompetensi, dan kesejahteraan karyawan serta pihak-pihak terkait
yang dilengkapi dengan fasilitas yang sesuai dengan teknologi tepat guna tanpa
menyalahi regulasi. Sasaran mutu dari CSSD RSCM terbagi atas enam indicator
sebagai berikut:
a. Indikator operasional
b. Indikator bahan medis habis pakai
c. Indikator pemeliharaan mesin
d. Indikator kesehatan dan keselamatan kerja
e. Indikator pelayanan
f. Indikator lingkungan kerja

3.7.6 Pengelolaan Organisasi dan Sumber Daya Manusia


CSSD RSCM dikepalai oleh Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi yang berada
di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Umum dan
Operasional. Struktur organisasi CSSD RSCM dapat dilihat pada Lampiran 4.
Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi membawahi empat penanggung jawab sebagai
berikut:
a. Penanggung Jawab SDM & Keuangan.
b. Penanggung Jawab Peralatan & Pelayanan.
c. Penanggung Jawab Administrasi dan Rumah Tangga.
d. Penanggung Jawab Logistik dan Inventaris.
Kepala Instalasi Pusat Sterilisasi juga membawahi dua kepala bagian, yaitu
Kepala Sub Instalasi Operasional dan Kepala Sub Instalasi Mutu. Kepala bagian
tersebut masing-masing memiliki tiga penanggung jawab yang menjadi pelaksana
kegiatan. Kepala Sub Instalasi Operasional membawahi Penanggung Jawab
Dekontaminasi, Penanggung Jawab Pengemasan & Labeling, dan Penanggung
Jawab Proses Sterilisasi, sedangkan Kepala Sub Instalasi Mutu membawahi

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
48

Penanggung Jawab Penyimpanan dan Distribusi, Penanggung Jawab Quality


Control, dan Penanggung Jawab Audit Mutu. Sumber Daya Manusia CSSD
RSCM harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu, seperti terlatih, tidak mempunyai
luka terbuka, tidak mempunyai penyakit yang menular, disiplin memakai APD
dalam tugas operasional, dan mematuhi aturan sterilisasi.

3.7.8 Ruang & Sarana CSSD RSCM


Ruang CSSD RSCM memiliki suhu 180-220 C dan kelembaban 35-72%.
Pertukaran udara dilakukan minimal 10 kali per jam dan pada setiap ruangan
harus memiliki exhaust/ hepafilter. Alat yang digunakan untuk membantu
sterilisasi yaitu ultrasonic, washer automatic, dry heat sterilisator, autoclave
sterilisator, dan plasma sterilisator. CSSD RSCM memiliki tiga jenis area, yaitu:
a. Area unclean
Area bertekanan negatif sebagai tempat proses dekontaminasi.
b. Area clean
Tempat dilakukannya proses pengemasan, labeling, dan sterilisasi.
c. Area steril
Area bertekanan positif untuk pelaksanaan uji visual, penyimpanan, dan
distribusi barang steril.

3.7.9 Sistem Pelayanan


Sistem pelayanan CSSD terbagi dua, yaitu sistem pelayanan yang
tersentralisasi dan desentralisasi. Sistem pelayanan tersentralisasi mencakup
dalam hal manajemen (SDM, SOP, perencanaan) dan pelayanan sterilisasi
perbekalan farmasi dasar steril. Untuk sistem pelayanan desentralisasi mencakup
dalam hal khusus seperti pelayanan sterilisasi instrumen, linen, dan lain-lain.
Pelaksanaan sterilisasi di RSCM tersentralisasi di CSSD. Keuntungan
sentralisasi tersebut diantaranya yaitu peningkatan efisiensi ruangan, SDM,
peralatan, dan waktu. Mutu dari alat kesehatan steril juga akan terjamin karena
adanya prosedur indikator mutu. Pelayanan yang diberikan akan lebih cepat dan
dapat mengurangi beban kerja SDM di unit pemakai. Selain itu, CSSD juga akan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
49

lebih mudah untuk diawasi dan lebih terkendali serta dapat mencegah duplikasi
dalam proses sterilisasi.

3.7.10 Variabel-Variabel Penentu Mutu CSSD


CSSD RSCM memiliki empat prinsip dasar operasional, yaitu quality in -
quality out, efisien, efektif, dan excellent. Dalam pelaksanaan operasionalnya
perlu diperhatikan variable-variabel yang menentukan mutu CSSD. Mutu CSSD
dipengaruhi oleh tiga tahap pelaksanaan yaitu input, proses, dan output. Variabel
penentu pada tahap input meliputi unsur-unsur yang bersifat tetap di rumah sakit
seperti tenaga kerja, modal, bahan, mesin, metode, konsumen, waktu, informasi,
dan ruangan.
Pada tahap proses, variabel yang menentukan adalah aktivitas fungsional
yang dilakukan, seperti perencanaan pengadaan perbekalan farmasi dasar,
perencanaan produksi, penerimaan alat kesehatan bersih yang disertai uji mutu,
penerimaan alat kesehatan kotor dan seleksinya, proses dekontaminasi beserta
pengujian hasil, proses pengemasan, uji sebelum proses sterilisasi, proses
sterilisasi dengan uji selama dan sesudah proses sterilisasi, penyimpanan barang
steril, dan pendistribusian barang steril.
Melalui proses tersebut diharapkan menghasilkan output dan outcome.
Output yang dihasilkan berupa barang atau peralatan steril yang bermutu.
Outcome yang diharapkan dari ouput yang dihasilkan yang merupakan keamanan
pasien, petugas, dan lingkungan, efisiensi sumber daya, dan kepuasan pelanggan.
Tahapan uji mutu perlu memperhatikan beberapa hal diantaranya yaitu
a. Setiap pengujian tidak dapat menggantikan fungsi uji lain namun
memberikan informasi yang lengkap dalam proses monitoring mutu
sterilisasi.
b. In proses control harus dilakukan untuk memastikan seluruh kegiatan
opersional telah dilakukan sesuai SPO.
c. Dengan menggunakan semua jenis dan cara pengujian akan didapatkan hasil
sterilisasi secara akurat.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
50

d. Di samping pengujian harus dilakukan juga kalibrasi alat steril dan test
mikrobiologi dilaboratorium secara berkala terhadap barang steril yang
dihasilkan.

3.7.11 Kegiatan CSSD


a. Alur Perpindahan Barang Satu Arah
CSSD RSCM memiliki alur dalam perpindahan barang. Alur tersebut
berupa alur satu arah, dari area kotor ke area bersih dan akhirnya ke area steril.
Pada area kotor, barang non steril diterima serta dipilih dan di sortir. Barang
direndam, dibersihkan, dibilas, dan dikeringkan sebelum dibawa ke area bersih.
Pada area bersih, barang diterima dan dikemas. Barang yang dikemas kemudian
diberi label, disusun dan diuji secara mekanik, kimia, dan biologi, lalu barang
akan melalui proses sterilisasi. Setelah proses sterilisasi, barang akan masuk ke
area steril dan disimpan.
b. Alur Aktivitas Fungsional
Terdapat dua subjek yang ditangani oleh CSSD, yaitu supplier dan
customer. Supplier memberikan barang bersih yang ditempatkan pada loket
barang bersih CSSD. Berbeda dengan supplier, barang kotor yang berasal dari
customer diserahkan melalui loket barang kotor. Barang kotor diseleksi dan
dilakukan dekontaminasi lalu dikemas dan diberi label. Sebelum dilakukan
pengemasan & pemberian label, petugas akan melakukan uji mutu pada sebagian
barang. Barang bersih yang lolos uji mutu dapat memasuki tahap pengemasan dan
labeling. Setelah dikemas dan diberi label, barang diuji mutunya sebelum
memasuki proses sterilisasi. Pada proses sterilisasi, barang steril yang rusak akan
dilakukan proses ulang dengan mengulang proses sterilisasi dari awal.sedangkan
barang yang kondisinya memenuhi persyaratan akan ditempatkan di penyimpanan
barang steril. Barang-barang di penyimpanan barang steril kemudian
didistribusikan melalui loket distribusi dan akan diawasi mutunya oleh customer.
c. Proses Sterilisasi Perbekalan Farmasi Dasar
Barang bersih memasuki tahap kontrol spesifikasi sebelum pengemasan
dan labeling Selain itu, barang diuji secara mekanik, kimia, dan biologi. Setelah

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
51

dikemas dan diberi label, barang disusun dengan baik sebelum sterilisasi.
Sterilisasi menggunakan suhu tinggi atau suhu rendah. Setelah proses sterilisasi,
barang akan melalui uji visual, dan ditempatkan pada bagian penyimpanan barang
steril untuk didistribusikan.
d. Proses Sterilisasi Barang Medis Ulang Pakai
Proses sterilisasi barang medis ulang pakai CSSD RSCM harus melalui
proses dekontaminasi terlebih dahulu dan lolos uji mekanik, kimia, dan biologi
sebelumnya. Barang yang didekontaminasi dikeringkan dan dilakukan kontrol
spesifikasi, lalu memasuki tahap pengemasan, labeling dan penyusunan. Setelah
penyusunan barang disterilisasi dengan suhu tinggi atau suhu rendah. Barang diuji
secara visual dan ditempatkan di bagian penyimpanan barang steril untuk
didistribusikan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Sub Instalasi Produksi


Mahasiswa melakukan kerja praktek di dua bagian Sub Instalasi Produksi
RSCM, yaitu Sub Instalasi Produksi Steril dan Non Steril yang terletak di Gedung
Central Medical Unit (CMU) 2 lantai tiga dan Depo Sitostatika Gedung A lantai
delapan selama tiga hari untuk masing-masing tempat.
4.1.1 Sub Instalasi Produksi Steril dan Non Steril
Kegiatan produksi sediaan farmasi di RSCM menjadi salah satu sumber
pengadaan perbekalan farmasi untuk memenuhi kebutuhan RSCM. Alur
pelayanan produksi sediaan farmasi dimulai dari adanya permintaan, baik berupa
resep pasien, maupun formulir permintaan dari departemen atau unit kerja yang
berada di RSCM. Petugas Sub Instalasi Produksi Steril dan Non Steril melakukan
skrining permintaan dengan memeriksa ketersediaan bahan-bahan yang
diperlukan untuk proses produksi. Setelah disetujui, beberapa persiapan dilakukan
sebagai berikut:
a. Mencuci Tangan
Petugas produksi sediaan farmasi diharuskan mencuci tangan sebelum dan
sesudah melakukan proses produksi untuk menjaga kebersihan dan kualitas
produk. Cuci tangan dapat dilakukan menggunakan handrub RSCM atau sabun.
b. Menggunakan Alat Pelindung Diri (APD)
Petugas produksi sediaan farmasi diharuskan menggunakan APD selama
proses produksi berlangsung, kecuali pada saat menempelkan etiket, untuk
menjamin kualitas produk dan keamanan petugas khususnya dari bahan berbahaya
dan beracun seperti formalin dan peroksida. Penggunaan APD dibedakan
berdasarkan jenis proses produksi yang dilakukan. Namun dalam pelaksanannya,
beberapa petugas belum menggunakan APD secara baik dan benar, contohnya
masih ada petugas yang tidak menggunakan sarung tangan dalam pembuatan
handrub karena merasa hal tersebut mempersulit pekerjaannya.

52 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
53

c. Mengisi Dokumen Pembuatan Obat (DPO)


Dokumen Pembuatan Obat (DPO) berisi formulasi sediaan, petugas yang
mengerjakan, lamanya waktu pengerjaan, dan pemeriksaan yang dilakukan.
Informasi mengenai sediaan yang akan dibuat mengacu pada buku Formula Induk.
Hal ini penting sebagai bahan dokumentasi dan penjaminan mutu produk yang
dibuat. Namun sangat disayangkan, saat ini DPO terbatas hanya untuk produk
handrub dan sirup OBH, sedangkan dokumentasi produk lainnya dilakukan di
buku pembuatan obat.
d. Mempersiapkan Bahan Baku
Bahan baku produksi non steril disimpan di ruang bahan baku (Raw
Material). Penyimpanan bahan baku dibedakan berdasarkan tujuan
penggunaannya, yaitu untuk sediaan oral (label putih) atau sediaan luar (label
biru). Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) disimpan di lemari terpisah disertai
label peringatan pada masing-masing wadah zat.
e. Mempersiapkan Bahan Pengemas
Sebelum digunakan, bahan pengemas untuk produk non steril dicuci dan di
keringkan terlebih dahulu di ruang pencucian (Washing Room) untuk menjamin
kebersihan wadah dan menghindari terjadinya kebocoran. Setelah itu, bahan
pengemas disimpan di ruang bahan baku (Raw Material) hingga saatnya
digunakan. Keterbatasan ruang membuat bahan pengemas terpaksa disimpan di
dalam ruang yang sama dengan ruang penyimpanan bahan baku. Meski demikian,
untuk mempertahankan kebersihan bahan pengemas, bahan pengemas disimpan di
dalam kotak plastik besar di rak terpisah dari bahan baku. Selain dicuci dan
dikeringkan, bahan pengemas untuk sediaaan steril dan sitostatika juga melalui
sterilisasi dengan metode sesuai dengan jenis bahan pengemas. Bahan pengemas
disimpan di ruang penyiapan masing-masing untuk memudahkan petugas.
f. Mempersiapkan Peralatan yang Dibutuhkan
Peralatan yang diperlukan dalam proses pembuatan sediaan farmasi
dipastikan dalam keadaan bersih dan siap untuk digunakan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
54

Selanjutnya, tiap langkah produksi dilakukan sesuai instruksi yang


terdapat di DPO/ Buku Formula Induk untuk masing-masing sediaan, mulai dari
penyiapan bahan baku hingga pengemasan produk. Untuk meminimalisir
terjadinya kesalahan, tiap langkah produksi dilakukan oleh petugas yang berbeda.
Namun dalam pelaksanaannya, ketentuan tersebut sulit untuk dilakukan karena
jumlah tenaga kerja yang terbatas. Hal tersebut dapat disiasati dengan
pemeriksaan ganda (double checking) oleh asisten apoteker pada tiap langkah
proses produksi.
Pengemasan sediaan farmasi dilakukan dalam wadah primer, kemudian
diberi etiket yang sesuai. Etiket berisi nama sediaan, tanggal kadaluarsa, dan logo
RSCM sebagai produsen. Sediaan jadi didistribusikan melalui gudang pusat
RSCM, sedangkan untuk sediaan repacking dan obat sitostatika, pendistribusian
dilakukan langsung kepada pasien.
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan selama menjalani PKPA di
Sub Instalasi Produksi RSCM, kami menemui beberapa keterbatasan sebagai
berikut:
a. Kurangnya tenaga asisten apoteker untuk melakukan proses produksi non
steril sehingga beberapa proses pembuatan ada yang dilakukan oleh pekarya
di bawah pengawasan asisten apoteker.
b. Besarnya jumlah permintaan yang ada tidak sebanding dengan jumlah asisten
apoteker untuk melakukan pengawasan mutu produk.
c. Beberapa jenis produk tidak dapat diproduksi karena bahan baku tidak
tersedia.
Beberapa sediaan farmasi yang pembuatannya diikuti oleh mahasiswa
antara lain pembuatan sediaan non steril seperti handrub, kapsul CaCO3, kapsul
campuran parasetamol dan tramadol, sirup omeprazol, dan sirup OBH. Selain itu,
mahasiswa juga mengamati kegiatan repacking alkohol 96%, repacking sediaan
injeksi serbuk, iv admixture, dan penyiapan obat sitostatika. Kegiatan lain yang
dilakukan mahasiswa selama melakukan praktek kerja di sub instalasi produksi
steril dan non steril adalah meringkas MSDS (Material Safety Data Sheet)
beberapa bahan baku sediaan yang telah ada agar lebih mudah dipahami petugas

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
55

pelaksana, membuat formulasi sediaan Dihidrogen Kalium Fosfat 10,54 mol,


melakukan quality control dalam pembuatan handrub, dan mempelajari sistem
EHR (Electronic Health Record) yang digunakan di RSCM.

4.1.2 Depo Sitostatik


Rekonstitusi obat kanker merupakan salah satu kriteria sediaan farmasi
yang diproduksi di rumah sakit. Depo sitostatik Gedung A lantai delapan
melayani penyiapan obat kanker khusus pasien rawat inap Gedung A, peracikan
obat kanker bagi pasien rawat jalan dan pasien RSCM Kencana di luar jam kerja.
Alur pelayanan penyiapan obat sitostatika adalah sebagai berikut:
a. Penerimaan Obat Sitostatik
Pasien sebisa mungkin tidak dilibatkan dalam pendistribusian obat
sitostatik untuk menjamin keamanan pasien dan kualitas obat sitostatik yang
umumnya tergolong mahal. Pengantaran obat ke depo sitostatik dilakukan oleh
perawat, sedangkan bagi pasien poliklinik yang telah menebus obat di satelit pusat
RSCM, obat diantarkan oleh petugas satelit pusat RSCM setelah perawat
mengantarkan bon ambil pasien ke depo sitostatik. Khusus bagi pasien Askes,
obat diperoleh dari apotek Kimia Farma atau Sana Farma. Petugas handling
cytotoxic yang menerima akan terlebih dulu memeriksa obat-obat yang diserahkan
beserta cairan infus dan spuit yang dibutuhkan sesuai dengan jumlah yang tertulis
dalam formulir permintaan rekonstitusi. Apabila pasien tidak segera melakukan
kemoterapi maka obat disimpan di depo sitostatik sebagai obat titipan pasien.
b. Penerimaan Resep
Resep kemoterapi berbeda dengan resep obat lainnya, yakni berupa
Formulir Pelayanan Pencampuran Obat Sitostatika Instalasi Farmasi. Selain itu,
untuk menghindari terjadinya kesalahan, formulir juga dilengkapi dengan protokol
kemoterapi yang dituliskan dokter. Contoh formulir dan protokol kemoterapi
dapat dilihat pada Lampiran 13 dan 14. Namun, belum semua dokter
menuliskannya, beberapa dokter hanya menyertakan salinan lembar daftar infus
yang tertera di rekam medik (RM) pasien. Hal tersebut seringkali mempersulit
petugas depo sitostatik karena tulisan yang tidak jelas dan sulit terbaca.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
56

Selanjutnya petugas depo sitostatik melakukan skrining resep dengan


memeriksa kesesuaian dosis dan ketersedian obat. Petugas Depo Sitostatik perlu
memiliki pengetahuan yang cukup mengenai protokol yang sering digunakan
dokter dalam kemoterapi pasien. Hal ini penting supaya petugas dapat membantu
memeriksa bila terjadi kesalahan dokter dalam menuliskan suatu protokol. Selain
itu, protokol juga berguna untuk mempermudah pekerjaan petugas dalam
menyiapkan obat sitostatik. Apabila terdapat hal yang kurang jelas atau
bermasalah, misalnya jumlah obat yang kurang, protokol yang tidak jelas, maupun
kesalahan dalam mengisi formulir permintaan, petugas depo sitostatik
mengkonfirmasikannya kepada perawat.
c. Persiapan Pencampuran Obat Sitostatik
Persiapan pencampuran obat sitostatik meliputi penyiapan obat sitostatik,
cairan, dan spuit sesuai dengan jumlah yang dibutuhkan. Selain itu juga dilakukan
pembuatan etiket berisi nama pasien, nomor RM, jumlah obat yang dioplos
beserta jumlah cairan pelarutnya, rute pemberian, tanggal dan waktu pembuatan,
serta tanggal dan waktu kadaluarsa. Pengisian etiket ini sangat penting karena
petugas yang akan menyiapkan obat tersebut hanya memperoleh informasi dari
keterangan yang tertera pada etiket. Oleh karena itu, sebelum dilakukan penyiapan
obat di ruang steril, apoteker perlu melakukan verifikasi untuk meminimalisir
potensi kesalahan yang dapat merugikan pasien dan rumah sakit. Seluruh obat,
cairan, spuit, dan etiket yang diperlukan ditempatkan dalam kotak obat dan
didistribusikan melalui pass box yang terhubung ke dalam ruang steril tempat
penyiapan obat secara aseptis.
d. Pencampuran Obat Sitostatik
Sebelum dilakukan pencampuran, petugas harus menggunakan APD sesuai
dengan ketentuan yang berlaku terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk menjamin
sterilitas produk yang dihasilkan dan keamanan bagi petugas sendiri. Persiapan
tersebut meliputi pemakaian baju steril dan alat pelindung diri seperti penutup
kepala, sarung tangan steril, masker N95, dan penutup mata (google), serta
penutup kaki. Sarung tangan yang dikenakan untuk prosedur aseptis rangkap dua
dan sarung tangan yang kedua dipakai setelah masuk ke dalam ruang steril.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
57

Persiapan lain yang perlu dilakukan yaitu melakukan swab searah pada
bagian dalam BSC, obat, cairan, dan spuit yang akan dimasukkan ke dalam BSC
dengan mengunakan alkohol 70%, menyiapkan tempat pembuangan tertutup
khusus limbah sitostatik, dan menyiapkan peralatan lain yang dibutuhkan seperti
beaker glass. Sesuai dengan ketentuan yang berlaku, pencampuran obat sitostatik
dilakukan di ruang steril dalam Biological Safety Cabinet (BSC) yang dilengkapi
dengan Laminar Air Flow (LAF) vertikal.
e. Pengemasan Obat Sitostatik
Setelah selesai direkonstitusi, sediaan sitostatik ditempel etiket dan label
obat sitostatik yang sesuai. Pelabelan dan pemberian etiket dilakukan di dalam
ruang steril. Khusus obat yang tidak tahan cahaya, obat di kemas menggunakan
aluminium foil.
Sediaan akhir yang selesai dikerjakan diletakkan kembali ke dalam kotak
khusus dan dikeluarkan dari ruang steril melalui pass box. Petugas di ruangan
administrasi mengambil obat tersebut untuk dimasukkan ke dalam kantong plastik
yang sesuai. Kantong plastik digunakan sebagai pelindung apabila terjadi
kebocoran wadah primer obat setelah disiapkan. Nama pasien dan nomor ruangan
ditulis dengan ukuran agak besar pada plastik dengan menggunakan spidol agar
obat tidak tertukar saat akan digunakan.
f. Pendistribusian Obat Sitostatik
Setelah pencampuran obat sitostatik selesai, petugas depo sitostatik akan
menghubungi perawat yang bertanggung jawab untuk mengambilnya. Perawat
akan mengambil obat tersebut dan memberikan tanda tangan di buku ekspedisi.
Khusus pasien rawat inap Gedung A lantai satu, tiga, enam dan yang akan
menggunakan obat pada hari itu, akan menerima tagihan dari depo sitostatik.
Beban biaya yang diterima pasien berdasarkan jumlah yang obat yang diterima
dengan pembulatan ke atas. Jika pasien menerima setengah vial, maka pasien akan
dibebankan biaya obat satu vial. Sisa dari obat yang tidak terpakai oleh pasien
dianggap sebagai penghematan dan disimpan pada suhu yang sesuai. Setiap akhir
bulan, petugas depo sitostatik akan mengembalikan obat tersebut ke gudang pusat
sebagai obat hibah.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
58

Selama praktek kerja di depo sitostatik, mahasiswa berkesempatan untuk


melakukan verifikasi Formulir Pelayanan Pencampuran Obat Sitostatika Instalasi
Farmasi yang disesuaikan dengan protokol kemoterapi atau lembar salinan daftar
infus pasien. Mahasiswa juga mengamati dan melakukan proses double checking
pencampuran obat sitostatik di ruang steril di dalam BSC yang dilengkapi dengan
LAF vertikal. Selain itu, mahasiswa juga melakukan analisis respon time bagi
petugas depo sitostatik dalam melakukan pencampuran obat sitostatik, yakni
mulai dari tahap persiapan di ruang steril hingga sediaan selesai diberikan label
dan etiket yang sesuai.
Menurut hasil pengamatan mahasiswa, terdapat beberapa kekurangan bagi
depo sitostatik Gedung A lantai delapan, diantaranya:
a. Depo sitostatik belum memenuhi standar pengaturan tekanan di ruang
handling cytotoxic yang sangat penting untuk menjamin keamanan petugas.
b. Sarana yang tidak bekerja dengan baik, contohnya pass box yang tidak
interlock dan alat komunikasi yang tidak berfungsi dengan baik menyebabkan
petugas berkomunikasi melalui pass box yang terbuka. Hal ini berpotensi
besar mengganggu sterilitas ruang handling cytotoxic.
c. Alur pelayanan yang terlalu panjang dapat memperlambat proses pengoplosan.
d. Keterbatasan jumlah petugas depo sitostatik tidak memungkinkan
dilakukannya double checking saat pencampuran obat sitostatik, dimana
kegiatan double checking merupakan salah satu standar yang harus dipenuhi.
e. Keterbatasan jumlah apoteker belum memungkinkan dilakukannya kegiatan
farmasi klinis bagi pasien-pasien yang menerima kemoterapi.

4.2 Gudang Pusat


Dalam struktur organisasi IFRS, penanggung jawab gudang pusat
bertanggung jawab kepada kepala sub instalasi perbekalan farmasi. Gudang Pusat
terpisah menjadi dua lokasi yaitu gudang pusat (gudang obat dan alkes) dan CMU
tiga (gudang cairan). Tata ruang gudang pusat diatur berdasarkan arah arus
penerimaan dan pengeluaran perbekalan farmasi yaitu sistem arus U yang terdiri

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
59

atas ruang penerimaan, gudang alat kesehatan, ruang administrasi, gudang obat,
gudang akses terbatas, gudang B3 dan ruang pendistribusian.
Gudang pusat beroperasi hari Senin hingga Sabtu mulai pukul 8.00 hingga
21.00 yang terbagi menjadi dua shift yaitu pukul 08.00- 15.30 dan 13.00-21.00
WIB. Gudang pusat melayani seluruh satelit dan unit kerja/departemen di RSCM.
Tenaga kerja di gudang pusat terdiri dari 13 asisten apoteker dan tiga
pekarya. Masing-masing petugas memiliki tanggung jawab berbeda dalam
pengelolaan perbekalan farmasi yang terbagi atas pengelola gudang obat, gudang
alat kesehatan dan petugas administrasi yang dikoordinasi oleh satu orang
penanggung jawab.
Dalam rangka menjaga ketersediaan perbekalan farmasi di RSCM, gudang
pusat melakukan permintaan perbekalan farmasi yang dibutuhkan. Permintaan
perbekalan farmasi rutin dilakukan dua kali dalam seminggu dengan menyusun
defekta pada hari Senin dan Rabu untuk memenuhi kebutuhan selama dua
minggu. Setelah penyusunan defekta, petugas pengadaan akan membuat surat
pesanan dalam sistem komputer. Jika permintaan telah di setujui oleh Kepala Sub
Instalasi Perbekalan Farmasi, petugas pemesanan akan menghubungi distributor
terkait. Dalam waktu kurang lebih tiga hari, perbekalan farmasi yang diminta akan
dikirim ke gudang pusat. Kegiatan utama dari gudang pusat adalah penerimaan,
penyimpanan dan pendistribusian perbekalan farmasi ke seluruh satelit/unit
kerja/departemen di RSCM.

4.2.1 Penerimaan Perbekalan Farmasi


Penerimaan merupakan proses serah terima perbekalan farmasi yang
dilakukan oleh panitia penerimaan kepada pihak gudang. Karena letak ruang
penerimaan perbekalan farmasi dilakukan di gudang pusat, untuk menghemat
waktu proses penerimaan dilakukan bersama antara petugas gudang dan panitia
penerimaan. Saat penerimaan dilakukan pemeriksaan dokumen, fisik dan mutu
perbekalan farmasi yang dikirim.
Tahap awal penerimaan meliputi pemeriksaan kesesuaian daftar pesanan
baik jenis dan jumlah pada komputer, faktur penjualan. dan kelengkapan dokumen

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
60

seperti surat jalan/faktur penjualan, certificate of origin (CO) untuk alat


kesehatan/alat kedokteran, certificate of analysa (CA) untuk bahan baku dan
material safety data sheet (MSDS) untuk bahan berbahaya. Hingga saat ini,
pengiriman dokumen terkait keamanan dan kualitas produk ini masih belum
sepenuhnya dilaksanakan oleh semua distributor rekanan.
Panitia penerima bersama petugas gudang juga memeriksa kondisi fisik
dan mutu perbekalan farmasi yang diterima meliputi waktu kadaluarsa dan
spesifikasi dari produk yang dikirim. Setelah pemeriksaan selesai dilakukan,
panitia penerimaan membubuhkan tanda tangan, nama jelas dan stempel serta
tanggal penerimaan pada faktur penjualan, dan salinan faktur yang diserahkan
kepada petugas administrasi untuk diproses lebih lanjut. Data perbekalan farmasi
tersebut diinput dalam sistem komputer dan kartu stok manual yang meliputi
spesifikasi produk, asal distributor, jumlah dan waktu kadaluarsa.

4.2.2 Penyimpanan Perbekalan Farmasi


Pengaturan tata ruang gudang perlu dilakukan untuk memudahkan
penyimpanan, penyusunan, pencarian dan pengawasan perbekalan farmasi.
Penyimpanan perbekalan farmasi dilakukan dengan sistem First In First Out
(FIFO) dan First Expired First Out (FEFO). Penyimpanan di gudang pusat hanya
meliputi obat dan alat kesehatan, sedangkan reagensia, bahan baku dan
radiofarmaka disimpan di satelit/departemen terkait.
Penyimpanan obat di gudang pusat dilakukan berdasarkan kategori
berikut:
a. Jenis perbekalan farmasi : obat, alat kesehatan, reagensia, radiofarmaka, dan
bahan baku
b. Tujuan penggunaan : obat dalam dan obat luar
c. Bentuk sediaan : sediaan padat dan cair (untuk obat dalam) dan semi solid
dan injeksi (obat luar)
d. Suhu penyimpanan/ stabilitas : obat termolabil (dalam kulkas)
e. Akses terbatas : narkotika, psikotropika, high alert, obat mahal dan sitostatika
f. Sumber obat : produksi RSCM, Askes

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
61

g. Obat generik dan nama dagang


h. Kategori lain : obat permintaan khusus, produk nutrisi dan sebagian produk
untuk radiologi
Penyimpanan alat kesehatan di gudang pusat terpisah dengan penyimpanan
obat-obatan. Alat kesehatan disusun berdasarkan kesamaan jenis dan kelompok
departemen pengguna misalnya bedah dan departemen mata serta pelayanan
jantung terpadu (PJT) untuk mempermudah pengambilan barang.
Penyimpanan obat di gudang pusat disusun berdasarkan alfabetis dengan
memperhatikan obat yang tergolong obat LASA untuk menghindari kesalahan
dispensing. Obat yang tergolong LASA memiliki bentuk dan pengucapan yang
mirip, sehingga penyimpanannya dipisah walaupun memiliki nama dengan
alphabet yang berdekatan. Penyimpanan obat sudah tertata dengan rapi dan baik
dengan pemberian label petunjuk pada tiap kelompok obat. Hal ini mempermudah
dispensing obat mengingat jenis dan jumlah perbekalan farmasi yang banyak.
Selain obat, gudang pusat juga memiliki ruangan khusus yang digunakan untuk
menyimpan obat buffer dan B3 yang berdekatan dengan ruang penerimaan.

4.2.3 Pendistribusian Perbekalan Farmasi


Pendistribusian merupakan proses penyaluran perbekalan farmasi dari
gudang yang dilakukan berdasarkan permintaan yang disertai bukti serah terima.
Satelit farmasi dapat langsung melakukan pemintaan melalui sistem online ke
gudang pusat sehingga gudang pusat dapat menyiapkan perbekalan farmasi yang
diminta satu hari sebelumnya dengan mencetak langsung di gudang berupa surat
permintaan barang. Permintaan perbekalan farmasi oleh unit kerja/departemen
masih dilakukan secara manual dengan menggunakan formulir permintaan barang
farmasi yang harus diantar langsung oleh petugas yang bersangkutan ke gudang
dua hari sebelum pengambilan barang.
Petugas akan menyiapkan perbekalan farmasi yang diminta serta
melakukan pencatatan jenis dan jumlah perbekalan farmasi yang tertera pada
formulir permintaan. Petugas administrasi akan memproses formulir permintaan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
62

tersebut untuk mendapatkan Form Distribusi Obat/Alkes bagi tiap


satelit/unit/departemen terkait.
Pendistribusian perbekalan farmasi untuk tiap departemen/satelit di RSCM
sudah dijadwalkan setiap minggu yang dikenal sebagai permintaan rutin. Setelah
perbekalan farmasi disiapkan, petugas gudang akan menghubungi
satelit/departemen terkait untuk memberitahukan bahwa perbekalan farmasi sudah
siap diambil. Pada saat penyerahan dilakukan pengecekan kembali oleh petugas
gudang dan pihak satelit/departemen dengan membaca ulang dan memeriksa
perbekalan farmasi yang telah disiapkan serta mencatat di buku serah terima
gudang yang dilakukan di ruang pendistribusian.
Gudang pusat juga melayani permintaan mendesak/cito setiap hari.
Permintaan cito dapat berasal dari permintaan obat yang bukan termasuk kontrak
tender ataupun karena kekosongan barang di satelit/unit/departemen serta gudang
pusat. Perbekalan farmasi yang diambil dicatat pada buku cito di gudang dan unit
terkait. Untuk memenuhi permintaan perbekalan farmasi di luar jam operasional
gudang, petugas satelit harus menghubungi penanggung jawab gudang untuk
mengambil perbekalan farmasi di gudang dengan satu orang saksi dan petugas
keamanan untuk membuka pintu gudang.

4.2.4 Pengendalian Mutu Perbekalan Farmasi


Tujuan pengendalian mutu adalah menjamin mutu obat yang terdapat di
rumah sakit sesuai standar yang berlaku. Langkah-langkah yang telah dilakukan
oleh gudang pusat RSCM :
1. Melakukan pemeriksaan pengiriman obat termolabil
Dalam pengiriman obat termolabil, distributor akan mengirimkan
produknya menggunakan cool box yang dilengkapi dengan termometer penunjuk
suhu dan dipastikan berada pada suhu 2-8°C. Jika distributor tidak menggunakan
cool box, maka petugas gudang akan melakukan penukaran produk yang baru.
2. Melakukan stock opname empat kali dalam setahun
Stock opname di gudang berguna untuk mengetahui perbekalan farmasi
yang memiliki waktu kadaluarsa singkat dan tidak memenuhi persyaratan. Produk

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
63

dengan waktu kadaluarsa kurang dari tiga bulan diberi label kadaluarsa berwarna
kuning.
3. Menyediakan lemari khusus untuk penyimpanan produk bermasalah
Gudang juga bertanggung jawab atas perbekalan farmasi yang tidak
memenuhi persyaratan agar dilakukan penukaran ke distributor atau pemusnahan
bila telah kadaluarsa.
4. Melakukan pemantauan suhu kulkas dan suhu ruangan setiap hari
Pemantauan suhu kulkas dilakukan tiga kali sehari pada pukul 06.00,
14.00 dan 21.00 WIB sedangkan pemantauan suhu ruangan dilakukan satu kali
sehari pada pukul 08.00 WIB untuk menjaga stabilitas obat yang membutuhkan
kondisi penyimpanan khusus.
Dalam pelaksanaan PKPA, mahasiswa berkesempatan untuk mengamati
dan membantu melaksanakan kegiatan penyimpanan dan pendistribusian
perbekalan farmasi di gudang pusat diantaranya :
1. Membantu menyusun perbekalan farmasi yang diterima dari distributor ke
rak-rak penyimpanan.
2. Membantu menempelkan label pada obat yang tergolong high alert, serta
label LASA pada rak penyimpanan obat.
3. Membantu merapikan susunan sediaan injeksi secara alfabetis, memeriksa
waktu kadaluarsa dari tiap obat dan memeriksa cara penyimpanan sediaan
obat mata yang termolabil.
4. Membantu menyiapkan permintaan perbekalan farmasi dari beberapa
satelit/unit kerja/departemen di RSCM.
Hasil pengamatan selama melakukan praktek kerja antara lain :
1. Sarana dan Prasarana
a. Lantai pada gudang cairan menggunakan lantai semen, sehingga sulit
dibersihkan (menggunakan vacum cleaner) dan berdebu.
b. Gudang cairan tergenang air pada saat hujan, terutama dekat pintu gudang.
c. Gudang B3 belum memenuhi persyaratan karena menggunakan pintu kayu
dan tidak semua perbekalan B3 diletakkan pada rak penyimpanan yang

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
64

terbuat dari besi. Beberapa bahan diletakkan di atas lantai dengan


menggunakan pallet kayu.
2. Kegiatan
a. Pemeriksaan spesifikasi produk dilakukan untuk melihat waktu kadaluarsa
dan kondisi fisik sediaan padahal pemeriksaan seharusnya juga meliputi
kesesuaian nomor batch dan nomor registrasi untuk setiap produk. Hal ini
berguna untuk mempermudah penarikan bila terjadi recall produk/retur.
b. Kelengkapan dokumen mutu dan keamanan produk yaitu Certificate of
Origine (CO) untuk alat kesehatan, Certificate of Analysis (CA) untuk obat
dan bahan baku dan Material Safety Data Sheet (MSDS) untuk perbekalan B3
hanya dilakukan oleh beberapa distributor.
c. Beberapa distributor mengirimkan barang yang dipesan pada malam hari
dengan alasan kesulitan mendapat tempat parkir pada siang hari padahal
panitia penerima hanya bertugas hingga pukul 18.30.
d. Permintaan cito yang terjadi setiap hari di gudang menjadi beban petugas
pada perbekalan farmasi yang tidak tersedia di gudang. Saat ini proses
pembelian obat cito masih dilakukan oleh petugas dari satelit/departemen
masing-masing atas koordinasi pihak gudang.
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala diatas :
1. Sarana dan prasarana
a. Penambahan jumlah rak penyimpanan besi B3 mengingat sifat bahan yang
disimpan umumnya mudah terbakar.
b. Penambahan smoke detector sebagai tahap deteksi dini terhadap
kemungkinan terjadinya kebakaran.
c. Untuk mengatasi perembesan air, perlu dibuat saluran air di depan pintu
masuk gudang cairan atau melakukan peninggian lantai bagian dalam gudang
serta membuat lantai permanen (diberi lapisan keramik) agar mudah
dibersihkan.
d. Penambahan fasilitas pintu yang hanya dapat diakses oleh petugas gudang
namun, permintaan ini masih dalam pengajuan ke direktur.
2. Kegiatan di gudang

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
65

a. Pada saat penerimaan disarankan melakukan pemeriksaan nomor batch dan


nomor registrasi untuk setiap produk.
b. Menghubungi pihak distributor untuk mengingatkan kembali untuk
menyertakan dokumen mutu dan keamanan dalam setiap pengiriman.
c. Memberikan akses parkir khusus bagi para distributor yang akan
mengirimkan barang ke gudang pusat pada siang atau sore hari.
d. Melakukan perencanaan yang baik yang tidak hanya berdasarkan pada sisa
stok barang yang kosong.

4.3 Satelit Pusat


Satelit pusat terdiri dari satu apoteker yang dibantu oleh 11 asisten
apoteker dan tiga juru resep. Penanggung jawab satelit pusat bertanggung jawab
secara langsung kepada kepala sub instalasi perbekalan farmasi. Satelit pusat
melaksanakan pelayanan kefarmasian selama 24 jam pada hari Senin hingga
Minggu yang masing-masing terbagi ke dalam tiga shift kerja. Shift satu dilakukan
oleh tiga orang asisten apoteker dan dua orang juru resep pada pukul 08.00 hingga
pukul 14.30 WIB. Shift dua dilakukan oleh tiga orang asisten apoteker dan satu
orang juru resep pada pukul 14.00 hingga pukul 21.00 WIB. Shift tiga dilakukan
oleh dua asisten apoteker pada pukul 21.00 hingga pukul 08.00 WIB.
Satelit pusat melayani pelayanan resep pasien rawat inap dan rawat jalan.
Pasien rawat inap dilayani oleh unit tertentu yang meliputi:
a. Unit bedah anak (BCH)
b. PTK (Paviliun Tumbuh Kembang),
c. ICCU
d. ICU (shift tiga)
e. PJT (shift dua dan tiga)
f. Perinatalogi (NICU dan PICU)
g. Unit Luka Bakar
h. ODC (One Day Care)
i. Unit Psikiatri (Laki-laki, Perempuan, dan Anak)

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
66

Pasien rawat jalan yang dilayani oleh satelit pusat berasal dari berbagai poli yang
meliputi:
a. Poliklinik Hemodialisa
b. Semua poliklinik yang meresepkan obat kemoterapi (poliklinik kebidanan,
bedah tumor, hematologi-onkologi, bedah toraks dan bedah digestif).
c. Pusat talasemi
Satelit pusat bertanggung jawab atas ketersediaan perbekalan farmasi di
poli dan unit tersebut. Resep rawat inap yang dapat ditebus di satelit pusat
merupakan resep rawat inap untuk pemakaian obat satu hari. Khusus pasien
psikiatri, penulisan resep untuk pemakaian obat oral selama tiga hari dan injeksi
untuk satu hari. Selain melayani resep pasien rawat inap, satelit pusat juga
melayani resep rawat jalan diantaranya yaitu pasien poli hemodialisa. Pasien
hemodialisa yang menggunakan cairan dianeal diberikan injeksi untuk kebutuhan
satu bulan sedangkan pasien yang tidak menggunakan cairan dianeal, cukup
diberikan obat untuk keperluan satu hingga dua minggu dan tergantung
pemakaian. Pasien rawat jalan dengan penyakit kronis seperti jantung, hipertensi
dan diabetes dapat menebus resep untuk pemakaian obat selama satu bulan
sedangkan poli lainnya rata-rata untuk pemakaian obat selama satu minggu. Selain
melayani resep rawat inap dan rawat jalan, satelit pusat juga melayani resep
pasien jaminan dan umum. Pasien jaminan meliputi pasien jaminan SKTM,
Gakin, Jamkesmas, Jamkesda, jaminan perusahaan dan Askes.
Perencanaan penting dilakukan oleh satelit untuk menjamin ketersediaan
perbekalan farmasi. Perencanaan perbekalan farmasi satelit pusat ke gudang
berdasarkan konsumsi rata-rata penggunaan obat per minggu yang dilihat dari
jumlah pemakaian obat di kartu stok. Pengadaan farmasi dilakukan rutin setiap
hari Selasa dan Kamis dengan pemesanan ke gudang yang dilakukan sebelum hari
tersebut.
Sebelum dilakukan pemesanan, satelit memeriksa ketersediaan obat di
kartu stok. Jumlah obat yang dipesan oleh satelit berdasarkan konsumsi rata-rata
dan ditambah buffer stock 10% khusus obat fast moving. Defekta obat ke gudang
dipesan melalui IT. Gudang akan mengecek ketersediaan obat yang dibutuhkan

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
67

satelit pusat. Jika obat yang diminta tersedia, petugas akan menyediakan obat
yang dibutuhkan dan petugas satelit pusat akan melakukan serah terima obat di
gudang. Selain melaksanakan defekta secara rutin, satelit pusat juga melaksanakan
defekta cito saat stok kosong atau pada resep cito dengan obat atau alat tak
terduga seperti implant atau ortopedi.
Khusus defekta cito, petugas akan datang langsung ke gudang mengambil
obat atau alkes yang dibutuhkan dan menulisnya dibuku cito. Permintaan obat
atau alkes cito selama satu hari diakumulasi dan dibuat kumpulan defekta cito.
Kumpulan defekta cito selanjutnya diserahkan ke gudang. Buku cito dimiliki oleh
satelit pusat dan gudang. Setelah kumpulan defekta cito diserahkan ke gudang,
petugas gudang memeriksa kesesuaian kumpulan defekta cito dari satelit pusat
dengan buku cito yang dimiliki gudang.
Obat yang telah disediakan oleh petugas gudang, diambil langsung oleh
petugas satelit pusat. Obat yang telah diterima disusun di rak dan sebagian
disimpan sebagai persediaan kemudian petugas memasukkan data obat yang
diterima ke kartu stok sebagai obat masuk.
Penyimpanan obat di satelit pusat dilakukan berdasarkan bentuk sediaan
yang terdiri dari sediaan cair, solid, dan semisolid. Obat tersebut kemudian
disimpan berdasarkan obat generik dan obat paten. Beberapa obat yang tidak
stabil dalam suhu ruang juga dipisah dan obat disimpan di kulkas dengan suhu 2-
8°C yang suhunya dipantau tiga kali sehari.
Obat dengan penyimpanan khusus di satelit pusat salah satunya yaitu obat
high alert. Obat high alert membutuhkan kewaspadaan tinggi dalam
penggunaannya termasuk dalam hal dispensing obat karena kesalahan dosis
bersifat fatal. Penyimpanan obat high alert dilokalisir dengan lakban warna merah
dan diberi label warna merah bertuliskan high alert pada tiap obat. Penyimpanan
obat sitostatik juga dipisah dari penyimpanan obat lainnya dengan pemberian
label khusus warna ungu yang bertuliskan “Awas obat kanker! Tangani dengan
hati-hati” pada lemari maupun tiap obatnya. Narkotika dan psikotropika disimpan
disebuah lemari putih dengan sekat merah di tepinya serta tertulis obat narkotika
dan obat psikotropika pada daun pintu. Lemari narkotika dan psikotropika

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
68

merupakan lemari pintu ganda dengan satu pintu di luar dan satu pintu lagi di
bagian dalam dan kunci ganda. Kunci lemari narkotika senantiasa terkunci dan
kuncinya disimpan oleh petugas. Khusus obat yang memiliki nama yang sama,
pengucapan yang hampir sama atau bentuk yang hampir sama diberikan label
LASA pada kotak obat yang memenuhi ketentuan tersebut. Obat yang mendekati
kadaluarsa diberi label warna kuning dengan pencantuman kadaluarsa obat
tersebut. Secara umum, penyimpanan jenis obat tersebut disusun berdasarkan
abjad.
Berbeda dengan obat, penyimpanan alkes dilakukan berdasarkan jenis dan
fungsinya. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan dispensing alkes.
Penyimpanan obat dan alkes dilakukan berdasarkan sistem FEFO dan FIFO. Stock
opname untuk semua perbekalan farmasi di satelit pusat dilakukan setiap enam
bulan sekali.
Pelayanan resep di satelit pusat merupakan pelayanan resep individual.
Dokter meresepkan obat secara manual ataupun Electronic Health Record (EHR).
Pelayanan resep melalui EHR hanya dilakukan oleh poli bedah anak sedangkan
poli lainnya masih menggunakan resep manual. Resep diserahkan ke satelit baik
oleh perawat, keluarga pasien atau pasien. Khusus pasien yang tidak memiliki
keluarga atau pasien rawat inap, resep langsung diserahkan oleh perawat,
sedangkan untuk pasien rawat jalan umumnya diserahkan oleh keluarga pasien
atau pasien itu sendiri. Pasien atau keluarga pasien yang ikut mengantri,
mengambil nomor urut. Selanjutnya, petugas yang bertugas verifikasi memanggil
pasien atau keluarga pasien sesuai dengan nomor urut. Verifikasi resep meliputi
verifikasi administrasi, farmasetik, klinis dan kelengkapan lainnya seperti syarat
jaminan khusus pasien pasien jaminan pemerintah, kwitansi pada semua pasien,
protokol & jadwal terapi khusus pada pasien kemo dan hasil lab khusus pada
penggunaan obat mahal dan antibiotik lini dua & tiga. Setelah verifikasi, jumlah
obat dan jenis obat dimasukkan melalui IT dan diganti statusnya. Setelah
dimasukkan dan diberi harga, resep diberikan kepada petugas lainnya agar di
dispensing. Bagi pasien yang membayar secara tunai, dapat langsung membayar

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
69

ke petugas sedangkan pasien jaminan wajib menyerahkan resep asli dan


kelengkapan jaminan lainnya kepada petugas.
Petugas yang melakukan dispensing mengambil obat dengan jenis dan
jumlah yang sesuai dan mencatat di kartu stok. Selain dispensing obat, satelit
pusat juga menerima resep racikan. Obat racikan diracik di ruang racik secara
manual dengan kertas perkamen khusus. Obat diberi label dan dikemas. Setelah
melakukan pengemasan, petugas akan melakukan update terhadap status
peresepan sehingga akan diperoleh respon time tiap dispensing satu resep. Khusus
obat kanker dan obat bagi pasien pusat talasemia, pengeluaran obat dicatat di
kartu kendali.
Semua obat kecuali obat kanker diberikan oleh petugas setelah dilakukan
pengecekan terhadap kesesuaian jenis dan jumlah obat terhadap resep. Petugas
akan menerima nomor urut antrian dan memberikan informasi obat kepada pasien.
Khusus pasien yang menebus resep obat kanker, obat akan diantar langsung oleh
perawat dan pasien akan menerima bon ambil sebagai tanda obat telah
didispensing.
Resep serta kelengkapan jaminan yang diterima oleh satelit terdiri dari dua
rangkap. Satu rangkap digunakan sebagai arsip satelit sedangkan lainnya sebagai
bukti arsip untuk penagihan ke Unit Pelayanan Pasien Jaminan (UPPJ). Penagihan
terhadap pasien jaminan dilakukan satu hari setelah dispensing obat ke UPPJ.
Obat yang ditebus harus memiliki tanggal SJP (surat jaminan perawatan), tanggal
resep dan tanggal persetujuan petugas dinkes yang sama. Selain kelengkapan
tersebut, pasien juga harus menyerahkan kwitansi poli sebagai bukti bahwa pasien
telah berobat di poli tersebut. Tidak semua resep memperoleh persetujuan petugas
dinkes, persetujuan dilakukan pada pasien jaminan SKTM dan Gakin dengan
harga obat lebih dari Rp 500.000,00 tiap resep. Khusus pasien pasien rawat inap
jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas) dan jaminan kesehatan daerah
(jamkesda), penagihan dilakukan maksimal tujuh hari setelah pasien pulang
sedangkan untuk pasien dengan jaminan surat keterangan tidak mampu (SKTM)
dan warga miskin (Gakin) penagihan dilakukan satu hari setelah dispensing.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
70

Satelit pusat mengalami kendala dalam pelayanan kefarmasiannya.


Kendala yang dihadapi salah satunya adalah penyusunan obat. Beberapa obat
masih ada yang disimpan dalam satu wadah yang berpotensi meningkatkan
kesalahan dalam hal dispensing obat. Selain itu, ada beberapa obat yang
diletakkan di belakang tumpukan obat sehingga mempersulit dispensing obat.
Efektifitas tempat mungkin perlu dilakukan oleh satelit pusat, yakni dengan
membuat deretan obat yang memanjang dan berundak ke belakang agar obat yang
ditempatkan di belakang dapat terlihat mata. Hal tersebut sudah direncanakan oleh
apoteker, tapi masih belum terlaksana sepenuhnya karena keterbatasan SDM.
SDM di satelit sebagian besar fokus melayani resep, sehingga SDM yang
melaksanakan penyusunan obat pun terbatas dan pelaksanaan terhadap hal
tersebut belum sepenuhnya terlaksana. Jika peningkatan efektifitas tempat masih
memiliki kendala, maka penambahan fasilitas atau sarana menjadi jalan terakhir
untuk meningkatkan efektifitas penyimpanan.
Ada lemari obat yang juga belum diberi keterangan alfabetis dan daftar
obat karena baru dilakukan pemindahan obat. Petugas belum memberi label pada
lemari tersebut. Sebaiknya segera setelah pemindahan obat, petugas langsung
menempelkan label identitas pada lemari tersebut agar memudahkan dispensing
obat.
Masih belum dilakukannya peresepan melalui EHR juga menyebabkan
beberapa kendala, diantaranya yaitu penumpukan resep di perawat dan tulisan
pada resep yang sulit terbaca. Penumpukan resep di perawat menyebabkan resep
yang akan didispensing semakin banyak dan antrian memanjang pasien di ruang
tunggu. Tulisan dokter pada resep yang terkadang sulit terbaca juga berpotensi
menyebabkan medication error. Hal ini dapat diatasi dengan mengubah sistem
peresepan menjadi peresepan melalui EHR. Pelaksanaan peresepan EHR memang
belum dilaksanakan pada semua poli tetapi sistem peresepan tersebut akan segera
dilaksanakan. Melalui prescribing prescription, beban kerja perawat juga
berkurang untuk mengantar resep ke satelit.
Peresepan melalui EHR memudahkan petugas dalam melakukan
dispensing obat, tetapi sering kali menjadi masalah ketika obat di retur. Hal ini

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
71

disebabkan oleh jumlah dokter yang menangani satu pasien di unit bedah anak
lebih dari satu orang. Tindak lanjut dalam masalah ini adalah memberi peringatan
kepada dokter untuk menuliskan resep dengan cermat dan meningkatkan ketelitian
petugas.
Verifikasi klinis di satelit pusat masih terbatas dilakukan karena apoteker
yang hanya terdiri dari satu orang masih terfokus dalam pelaksanaan manajemen.
Verifikasi resep dan pemberian informasi obat sebagian besar dilakukan oleh
asisten apoteker. Apoteker klinis diperlukan dalam hal verifikasi resep dan
pemberian informasi obat kepada pasien yang lebih komprehensif.
Obat kanker milik pasien di satelit pusat juga sering tersimpan cukup lama
di lemari penyimpanan. Umumnya pasien tidak menggunakan obat kanker
tersebut terlebih dahulu karena jadwal kemoterapi yang belum pasti. Perawat akan
mengambil obat kanker yang telah disiapkan untuk digunakan kepada pasien.
Penumpukan obat kanker pesanan tersebut berpotensi membahayakan petugas.
Oleh karena itu, perlu adanya peraturan yang mengikat akan jadwal kemoterapi
dan peresepan dokter agar obat tidak menumpuk di satelit pusat.
Beban kerja di satelit pusat juga tinggi. Selama satu hari, hanya terdapat
delapan asisten apoteker yang melayani resep. Berdasarkan penerimaan resep di
bulan mei 2012, rata-rata resep yang dilayani oleh satelit pusat adalah 181 resep
dengan standar deviasi 52 resep. Jika pelayanan resep yang ingin dicapai mulai
dari verifikasi hingga penyerahan yakni 30 menit, maka dibutuhkan asisten
apoteker sebanyak empat orang yang melayani terus menerus selama 24 jam.
Karena beban kerja terbagi menjadi tiga shift, asisten apoteker yang dibutuhkan
sebanyak 12 orang untuk melayani 181 resep. Berdasarkan standar deviasi jumlah
rata-rata resep, nilai rentang resep yang dilayani sebanyak 129-233 resep sehingga
asisten apoteker yang dibutuhkan 9-15 orang asisten apoteker. Penambahan
asisten apoteker yang dibutuhkan oleh satelit pusat satu hingga tujuh orang.

4.4 Satelit Instalasi Gawat Darurat (IGD)


Satelit IGD merupakan satelit farmasi yang terletak di IGD dan
bertanggung jawab dalam mengelola kebutuhan perbekalan farmasi di IGD.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
72

Satelit farmasi IGD terletak dibawah garis koordinasi dengan Sub instalasi
Perbekalan Farmasi, Instalasi Farmasi RSCM.
Satelit farmasi IGD terbagi menjadi dua depo farmasi yang terletak di
lantai satu dan lantai empat. Pelayanan farmasi di IGD dilakukan selama 24 jam
(tiga shift). Satelit farmasi IGD hanya melayani kebutuhan perbekalan farmasi
IGD saja dan tidak melayani resep dari tempat/unit lain.

4.4.1 Kegiatan
Depo lantai satu memiliki kegiatan sebagai berikut :
a. Melayani permintaan perbekalan farmasi untuk lantai satu hingga tiga
b. Melayani kebutuhan paket tindakan untuk lantai satu hingga tiga
c. Melayani kebutuhan distribusi ruangan (floor stock)
d. Melayani kebutuhan implant ortopedi konsinyasi
e. Pengawasan troli emergensi di IGD
Depo lantai empat memiliki kegiatan melayani permintaan perbekalan farmasi
dari ruang operasi lantai empat selama berjalannya operasi.

4.4.2 Perencanaan, Pengadaan, dan Penerimaan Perbekalan Farmasi


Perencanaan jumlah barang yang diminta satelit ke gudang pusat
didasarkan pada jumlah konsumsi rata-rata per hari dikali dengan waktu. Akan
tetapi perhitungan tersebut masih berdasarkan kebiasaan petugas yang sudah
terbiasa dalam melakukan pemesanan barang. Petugas farmasi di satelit IGD
umumnya akan melakukan pendataan barang yang akan habis sebelum melakukan
pemesanan ke gudang pusat. Selanjutnya, petugas menentukan jumlah kebutuhan
untuk satu minggu dan membuat defekta pemesanan melalui sistem komputer ke
gudang pusat. Pemesanan dari satelit ke gudang pusat dilakukan sebanyak dua
kali seminggu yaitu pada hari senin dan kamis. Setelah gudang selesai
mempersiapkan barang yang diminta, petugas farmasi di satelit akan datang ke
gudang untuk verifikasi barang yaitu pada hari selasa dan jumat. Verifikasi
dilakukan untuk mengecek kesesuaian nama barang, jenis, kondisi dan jumlahnya
dengan defekta yang dibuat. Selain itu, saat verifikasi juga dilakukan untuk

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
73

pencatatan waktu kadaluarsa dari barang yang dipesan. Setelah verifikasi selesai,
petugas satelit bersama pekarya akan membawa barang pesanan dari gudang ke
satelit. Petugas satelit dapat melakukan pemesanan di luar jadwal rutin jika ada
kebutuhan mendesak.
Pemesanan barang di depo lantai empat ditujukan ke depo lantai satu.
Petugas farmasi yang sedang bertugas di depo lantai empat diharuskan memeriksa
jumlah barang di depo secara rutin. Petugas mencatat barang-barang yang akan
habis dan menentukan jumlah yang akan diminta. Selanjutnya, petugas melakukan
pemesanan ke depo lantai satu dan barang akan diantar oleh pekarya ke depo
lantai empat.

4.4.3 Penyimpanan
Penyimpanan perbekalan farmasi di satelit IGD telah sesuai dengan
standar prosedur operasional di RSCM. Penyimpanan perbekalan farmasi dibagi
berdasarkan kriteria berikut :
A. Bentuk sediaan dan jenisnya
1. Obat
a. Oral
b. Injeksi
c. Cairan Infus
2. Alat kesehatan
Alat kesehatan dikelompokkan berdasarkan penggunaannya.
B. Suhu penyimpanan dan stabilitasnya
1. Obat kulkas
2. Obat yang dapat disimpan dalam ruangan
C. Sifat bahan
1. Bahan berbahaya dan beracun (B3)
2. Bahan tidak berbahaya
D. Susunan alfabetis
Susunan alfabetis dilakukan berdasarkan nama obat.
E. Obat Askes dan non Askes

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
74

F. Obat generik atau nama dagang


G. Sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out)
Selain itu, penyimpanan dan penataan perbekalan farmasi di satelit IGD
juga telah memperhatikan high alert dan LASA (Look Alike Sound Alike). Obat-
obat high alert sudah dilokalisasi dan diberi pembatas dengan lakban merah.
Setiap obat high alert telah ditempeli label di wadah primer obat. Obat yang
bersifat LASA telah ditata secara terpisah dengan pasangannya dan diberi label
hijau LASA.
Penyimpanan obat narkotika dilakukan dalam lemari khusus dengan pintu
ganda. Kunci pintu lemari dikalungkan di salah satu petugas farmasi yang sedang
bekerja dan tidak dibiarkan menggantung di lemari. Selain itu, terdapat
penyimpanan khusus lainnya untuk obat mahal dan B3. Obat mahal disimpan
dalam lemari khusus yang mudah diawasi dan selalu terkunci. Hal tersebut
ditujukan untuk menghindari kehilangan obat. B3 disimpan terpisah dan sudah
dilengkapi dengan label tanda bahaya dan Material Safety Data Sheet (MSDS).

4.4.3 Distribusi
Sistem distribusi di satelit IGD ada dua macam yaitu sistem resep
individual dan sistem floor stock (persediaan ruangan). Sistem resep individual
diterapkan untuk peresepan di satelit IGD (depo lantai 1). Depo menyiapkan obat
atau alat yang diresepkan berdasarkan permintaan dalam resep dan tidak
dipisahkan untuk setiap waktu pemakaian. Sistem floor stock diterapkan untuk
penyediaan paket tindakan yang dibutuhkan di ruang rawat IGD. Depo lantai satu
akan menyediakan paket tertentu dengan jumlah tertentu yang disimpan dalam
lemari. Selain itu, barang-barang perbekalan farmasi dasar seperti sarung tangan,
alkohol, dan hand rub juga didistribusikan dengan sistem floor stock.

4.4.4 Alur Pelayanan Resep dan Permintaan Paket


Depo lantai satu melayani resep dari lantai satu hingga tiga di IGD. Resep
diantarkan oleh perawat atau dokter ke depo. Selanjutnya, dilakukan skrining
kelengkapan resep dan kesesuaian farmasetik dari resep. Kelengkapan resep

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
75

meliputi nama dokter, nama pasien, usia pasien, nomor rekam medis, jenis
jaminan pasien dan ruangan asal resep. IGD telah menerapkan sistem barcode
untuk setiap pasien. Sistem barcode tersebut membuat data pasien yang
dibutuhkan sudah dapat tercetak dalam sebuah label. Jadi, dokter hanya perlu
menempelkan label identitas pasien pada resep. Kesesuaian farmasetik dilihat
dari kesesuaian nama sediaan, bentuk sediaan, dan kekuatannya.
Setelah melewati proses skrinning tersebut, data resep diinput ke dalam
sistem komputer untuk data penagihan dan pengecekan kemungkinan resep ganda.
Pada input data tersebut ditentukan jumlah barang yang akan disiapkan.
Penyiapan obat dari resep lantai satu dan tiga untuk satu kali pemakaian
sedangkan lantai dua dan ruang rawat disiapkan untuk penggunaan satu hari. Hal
tersebut dikarenakan antisipasi perubahan terapi akibat kondisi pasien pada lantai
satu dan tiga yang umumnya tidak stabil.
Setiap pengambilan obat dan alat kesehatan selama penyiapan resep harus
dicatat dalam kartu stok. Obat yang telah selesai disiapkan (sudah diberi etiket)
dimasukkan ke dalam kantung plastik yang diberi identitas pasien (nama, nomor
rekam medis dan ruangan). Selanjutnya, kantung tersebut diletakkan di troli sesuai
dengan pengelompokan lantainya. Jika kantung obat sudah cukup banyak di troli,
pekarya akan mengantarkan kantung-kantung tersebut ke masing-masing ruangan.
Resep-resep yang bersifat cito dapat ditunggu pengerjaannya di depo dan
langsung diserahkan kepada perawat atau dokter yang menunggu.
Permintaan paket tindakan di depo lantai satu juga berdasarkan peresepan
dan lembar penggunaan paket yang diisi oleh perawat ruangan. Jika perawat
menggunakan paket tindakan yang tersedia dalam lemari di ruangan maka
perawat wajib melaporkan ke depo lantai satu dengan membawa formulir
penggunaan paket. Selanjutnya, petugas farmasi akan menggantikan alat yang
terpakai sesuai dengan yang tercantum dalam formulir tersebut.
Pelayanan di depo lantai empat berbeda dengan depo lantai satu.
Permintaan perbekalan farmasi yang diajukan ke depo lantai empat dapat
dilakukan langsung oleh perawat atau dokter yang sedang melakukan tindakan
operasi. Permintaan tersebut dituliskan dalam formulir permintaan barang.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
76

Perawat atau dokter yang meminta menunggu barang disiapkan lalu membawanya
ke dalam kamar operasi. Barang-barang yang diminta dapat diretur jika tidak
digunakan.

4.4.5 Sumber Daya Manusia


Sumber daya manusia di satelit IGD terdiri dari satu orang apoteker, 21
orang asisten apoteker, dan satu orang pekarya. Asisten apoteker terdiri dari
sembilan orang dengan pendidikan Sekolah Menengah Farmasi (SMF) dan 12
orang berpendidikan diploma farmasi. Satelit IGD beroperasi selama 24 jam dan
terbagi menjadi tiga shift. Tabel 4.1 menunjukkan pembagian sumber daya asisten
apoteker dari masing-masing depo

Tabel 4.1 Pembagian jumlah asisten apoteker setiap shift di tiap depo
Pagi Siang Malam
(08.00 –15.00 WIB) (14.00–21.00 WIB) (20.00 –08.00 WIB)
Depo lantai 1 4 orang 3 orang 3 orang
Depo lantai 4 1 orang 1 orang 1 orang

Selama tiga hari berada di satelit IGD, mahasiswa dilibatkan dalam


kegiatan-kegiatan pengelolaan perbekalan farmasi. Kegiatan-kegiatan yang
dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Dispensing resep.
b. Membantu distribusi obat ke ruang rawat.
c. Menata obat yang baru datang dari gudang pusat.
d. Membuat paket tindakan.
e. Merapikan troli emergensi yang berada di IGD.
f. Melakukan pendataan obat yang tidak diambil oleh pasien pulang.
g. Membantu pelayanan di depo lantai empat.
Selain itu, mahasiswa juga melakukan pengamatan kesesuaian pengelolaan
perbekalan farmasi dimulai dari pemesanan hingga distribusi di IGD dengan
ketentuan yang ada.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
77

Pemesanan barang yang dibutuhkan di IGD dapat dikatakan masih


bergantung pada perkiraan petugas. Hal tersebut dapat merugikan jika petugas
tersebut tidak masuk bekerja atau tidak lagi bekerja. Oleh sebab itu, sebaiknya
ditetapkan ketentuan perhitungan jumlah pesanan yang disosialisasikan ke seluruh
petugas (asisten apoteker). Jika semua petugas telah mengetahui ketentuan
perhitungan tersebut maka pemesanan tidak lagi bergantung pada satu orang saja.
Penerimaan dan penataan barang di satelit IGD telah sesuai dengan SPO
yang ditetapkan di RSCM. Penyimpanan barang juga telah disesuaikan dengan
ketentuan RSCM dan JCI seperti dilakukannya pengecekan berkala terhadap suhu
kulkas dan suhu ruangan. Walaupun ada hal yang belum terpenuhi yaitu adanya
label peringatan dan MSDS pada rak penyimpanan B3.
Distribusi obat di IGD, dilakukan oleh seorang pekarya ke semua lantai.
Hal ini sering kali kami temukan menjadi lamanya respon time terhadap
pengantaran obat ke ruang rawat. Pekarya mempunyai tanggung jawab
mengantarkan obat ke ruang rawat, mengambil barang dari gudang, mengantarkan
barang habis pakai, dan mengantarkan barang ke depo lantai empat. Tugas
tersebut kadang dibutuhkan dalam waktu bersamaan sehingga pekarya harus
menunda tugas lainnya. Akibatnya, kelancaran kegiatan pelayanan dapat tertunda.
Oeh sebab itu, sebaiknya ditambahkan lagi seorang pekarya di satelit IGD.
Pelayanan farmasi klinis di IGD juga belum berjalan. Hal tersebut
dikarenakan kurangnya tenaga apoteker di satelit IGD. Apoteker yang ada saat ini
berfokus pada pengelolaan perbekalan farmasi di IGD yang cukup rumit sehingga
belum bisa melakukan pelayanan klinis. Padahal pelayanan farmasi klinis sangat
dibutuhkan di IGD untuk mengurangi adanya medication error dengan melakukan
verifikasi resep, pemberian informasi obat, monitoring pengobatan dan lain-lain.
Oleh sebab itu, agar pelayanan farmasi klinis dapat berjalan sebaiknya
ditambahkan seorang apoteker lagi di IGD.

4.5 Satelit Intensive Care Unit (ICU)


Satelit ICU melayani pasien dimulai dari pukul 08.00 hingga pukul 21.00
WIB yang terbagi ke dalam dua shift setiap hari Senin – Jumat dan satu shift

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
78

setiap hari Sabtu dan Minggu. Bila depo satelit ICU tutup, pelayanan dialihkan ke
satelit pusat. Satelit ICU hanya melayani resep yang berasal dari ruang rawat inap
ICU dewasa saja untuk pemakaian obat satu hari (One daily dose). Pelayanan
resep dilakukan baik pasien jaminan maupun umum yang membayar tunai.
Pelayanan farmasi ICU dikelola oleh dua apoteker yang mengelola bidang
manajemen perbekalan dan klinis yang dibantu oleh tiga asisten apoteker.
Penanggung jawab satelit manajemen bertanggung jawab kepada kepala sub
instalasi perbekalan farmasi sedangkan penanggung jawab satelit farmasi klinis
bertanggung jawab kepada kepala subinstalasi farklin litbang.
Pelayanan kefarmasian meliputi pengelolaan perbekalan kefarmasian
mulai dari perencanaan, defekta obat, penerimaan, penyimpanan dan pelaporan,
pelayanan resep ICU dewasa atau defekta resep cito dari bagian endoskopi, parade
pagi, visite pasien bersama, pengkajian resep, monitoring obat, konseling obat
pasien pulang di ICCU dan pemberian informasi obat baik kepada perawat
ataupun dokter.
Apoteker farmasi klinis ini melakukan parade pagi setiap pukul 08.00 –
10.00 WIB bersama dokter, perawat dan dietisian. Tujuan parade pagi yaitu
membicarakan permasalahan pasien tentang perkembangan pasien dan
merencanakan tindakan atau pengobatan yang akan diberikan kepada pasien.
Apoteker akan memberikan rekomendasi mengenai informasi obat yang
dibutuhkan dalam perawatan pasien, ketersediaan obat di instalasi farmasi, dosis
obat sesuai indikasinya, dan interaksi obat. Selain itu, perencanaan pengobatan
pasien juga disesuaikan dengan hasil laboratorium pasien.
Setelah parade pagi, apoteker melaksanakan visite pasien bersama dokter,
perawat, dan dietisian. Melalui visite pasien, tim tersebut dapat mengetahui
kondisi pasien yang sebenarnya. Perubahan terapi dan tindakan dapat pula terjadi
ketika visit pasien. Jika terjadi perubahan terapi, apoteker akan memberi
rekomendasi kepada dokter.
Pengkajian resep juga dilakukan oleh apoteker klinis. Apoteker mengkaji
obat yang diresepkan dokter khususnya dalam hal farmasetik maupun klinis. Jika
ada terapi yang kurang sesuai, apoteker meminta konfirmasi kepada dokter yang

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
79

bersangkutan dan memberi rekomendasi jika diperlukan. Monitoring obat


dilakukan oleh apoteker dengan memeriksa kesesuaian antara resep, kardeks dan
status pasien serta menganalisa perkembangan pasien dengan terapi yang
diperoleh.
Pasien yang dirawat di ICU dengan kondisi yang telah stabil, umumnya
dipindah ke rawat inap gedung A. Berbeda dengan ICCU, pasien yang sudah
memiliki kondisi yang baik dapat dipulangkan. Apoteker klinis juga
melaksanakan kegiatan farmasi klinis di ICCU yang salah satunya adalah
memberi informasi obat pada pasien yang akan pulang.
Pengadaan barang baik obat maupun alat kesehatan dilakukan setiap hari
Senin dan Kamis. Jumlah perbekalan yang dipesan diperiksa melalui kartu stok.
Petugas akan memesan defekta ke gudang melalui IT sehari sebelum pengadaan.
Jika terjadi kekosongan barang, satelit akan melakukan transfer ke satelit lain.
Selanjutnya, petugas gudang memeriksa ketersediaan obat dan menyediakan obat
sesuai dengan permintaan. Petugas depo pergi ke gudang untuk melakukan serah
terima barang dengan menandatangani fomulir defekta barang setelah melakukan
penmeriksaan terhadap kesesuaian jenis dan jumlah barang. Setelah melakukan
defekta dari gudang, data obat dimasukkan ke kartu stok dan obat disusun pada
rak obat dan beberapa jenis obat atau alkes disimpan di lemari tertentu sebagai
persediaan.
Berbeda dengan distribusi obat yang secara individual, distribusi
perbekalan farmasi dasar dilakukan dengan sistem floor stock di ruang rawat.
Perawat menulis permintaan perbekalan farmasi dasar ke satelit farmasi ICU dan
satelit farmasi akan meneruskan permintaan ke gudang melalui IT. Setelah
perbekalan farmasi dasar diterima satelit farmasi, perbekalan farmasi dasar
diserahkan kepada perawat.
Penyimpanan perbekalan farmasi dilakukan berdasarkan jenisnya yaitu
obat dan alkes. Penyimpanan obat di satelit farmasi ICU dilakukan berdasarkan
bentuk sediaan. Sediaan tersedia dalam bentuk cair, solid, dan semisolid. Obat
pasien jaminan dipisah penyimpanannya berdasarkan obat jaminan Askes dan non
Askes. Obat non Askes dipisah juga berdasarkan obat generik dan obat paten.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
80

Beberapa obat yang tidak stabil dalam suhu ruang juga dipisah dan disimpan di
kulkas dengan suhu 2-8C yang suhunya dipantau tiga kali sehari. Obat berupa
cairan seperti infus dan obat luar juga disimpan terpisah.
Obat dengan penyimpanan khusus di satelit farmasi ICU salah satunya
yaitu obat high alert. Obat high alert membutuhkan kewaspadaan tinggi dalam
penggunaannya termasuk dalam hal dispensing obat karena kesalahan dosis
bersifat fatal. Penyimpanan obat high alert dilokalisir dengan lakban warna merah
dan diberi label warna merah bertuliskan high alert pada tiap obat. Narkotika dan
psikotropika disimpan disebuah lemari putih dengan sekat merah di tepinya serta
tertulis obat narkotika dan obat psikotropika pada daun pintu. Lemari narkotika
dan psikotropika merupakan lemari putih berpintu ganda dengan satu pintu di luar
dan satu pintu lagi di bagian dalam dan kunci ganda. Lemari narkotika senantiasa
terkunci dan kunci untuk lemari narkotika disimpan oleh petugas satelit. Khusus
obat yang memiliki nama yang sama, pengucapan yang hampir sama atau bentuk
yang hampir sama diberikan label LASA pada kotak tempat tiap obat yang
memenuhi ketentuan tersebut. Obat yang mendekati kadaluarsa diberi label warna
kuning dengan pencantuman kadaluarsa obat tersebut. Secara umum,
penyimpanan jenis obat tersebut disusun secara alfabetis.
Berbeda dengan obat, penyimpanan alkes dilakukan berdasarkan jenis dan
fungsinya. Hal tersebut dilakukan untuk memudahkan dispensing alkes.
Penyimpanan obat dan alkes dilakukan berdasarkan sistem FEFO dan FIFO. Stock
opname dan pengecekan kadaluarasa untuk semua perbekalan farmasi di satelit
farmasi ICU dilakukan setiap enam bulan sekali.
Pendistribusian obat di satelit farmasi ICU menggunakan sistem peresepan
individual. Dokter menuliskan resep obat secara manual. Resep biasanya diantar
perawat atau keluarga pasien. Petugas melakukan verifikasi resep dan memberi
harga. Verifikasi resep meliputi verifikasi administrasi, farmasetik, klinis dan
kelengkapan lainnya seperti syarat jaminan khusus pasien pasien jaminan
pemerintah, dan hasil lab khusus pada penggunaan obat tertentu seperti albumin.
Setelah verifikasi, jumlah obat dan jenis obat dimasukkan melalui IT dan diganti
statusnya. Penginputan data pasien umum dilakukan sebelum obat didispensing

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
81

sedangkan data pasien jaminan, diinput setelah dispensing obat selesai. Setelah
dimasukkan dan diberi harga, resep diberikan kepada petugas lainnya agar
didispensing. Pasien umum biasanya membayar secara tunai kepada petugas
sedangkan pasien jaminan wajib menyerahkan resep asli dan kelengkapan jaminan
lainnya kepada petugas.
Petugas yang melakukan dispensing mengambil obat dengan jenis dan
jumlah yang sesuai. Kemudian, obat tersebut dicatat di kartu stok, diberi label dan
dikemas. Setelah melakukan pengemasan, petugas akan melakukan update
terhadap status peresepan sehingga akan diperoleh respon time tiap dispensing.
Selain resep manual, satelit farmasi ICU juga menerima resep cito.
Berbeda dengan resep biasa, perawat yang telah menyerahkan resep cito ke satelit
farmasi akan menunggu obat yang didispensing untuk segera di antar. Umumnya
terdapat obat yang secara cepat dibutuhkan oleh pasien tetapi belum dituliskan
resep oleh dokter. Perawat berkewajiban mengambil obat yang dibutuhkan dan
menuliskan obat yang diambil oleh petugas di buku komunikasi. Selanjutnya,
petugas akan memindahkan data di buku komunikasi ke IT.
Obat pasien dapat dikembalikan jika obat sudah tak terpakai lagi,
kondisinya masih layak pakai dan berasal dari satelit farmasi. Bagi pasien umum,
obat yang dikembalikan akan diganti dengan uang tunai, sedangkan pasien
jaminan akan dilakukan pengurangan terhadap jumlah tagihan penjamin.
Penagihan terhadap pasien jaminan diurus oleh penata rekening. Penata rekening
akan melakukan penagihan ke UPPJ (Unit Pelayanan Pasien Jaminan) terhadap
obat-obat yang telah digunakan pasien.
Pelayanan resep di atas pukul 21.00 WIB dialihkan ke satelit pusat.
Sampai saat ini, buku komunikasi sebagai sarana komunikasi pergantian shift
belum dilakukan oleh ICU dengan satelit pusat. Selama ini, komunikasi masih
dilakukan secara lisan. Komunikasi sebaiknya dilakukan secara tertulis melalui
buku komunikasi, hal ini penting untuk mengetahui pelayanan resep yang
mungkin belum dilaksanakan oleh shift sebelumnya. Pelaksanaannya perlu
dilakukan secara tertulis agar semua petugas shift berikutnya dapat mengetahuinya
dengan mudah dan sebagai dokumentasi pelayanan yang belum terlaksana.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
82

Penulisan aturan pakai pada resep yang diterima oleh satelit farmasi
terkadang tidak lengkap, hal ini berpotensi terjadinya medication error. Oleh
karena itu, perlu segera dilakukannya peresepan online untuk memudahkan
dispensing obat. Keuntungan lain dilakukannya peresepan secara online yaitu
mengurangi jumlah perawat yang mengantar resep ke satelit sehingga mengurangi
beban kerja perawat.
Satelit farmasi ICU telah berpindah lokasi di depan ruang tata usaha.
Posisi ruang tunggu keluarga pasien cukup jauh dari satelit farmasi, sehingga
petugas harus berteriak keluar ruangan untuk memanggil keluarga pasien.
Pengeras suara dibutuhkan agar petugas mudah memanggil pasien.
Lokasi satelit farmasi ICU yang baru dilengkapi dengan lemari yang
tingginya sekitar dua meter lebih. Obat serta dokumen diletakkan pada posisi yang
sulit dijangkau oleh petugas, walaupun dengan alat bantu kursi sekalipun.
Penambahan fasilitas tangga diperlukan untuk mengurangi resiko kecelakaan
kerja.
Penyimpanan di satelit farmasi ICU sudah tertata dengan baik tetapi,
masih ada beberapa obat yang tersimpan dalam satu wadah obat. Penyimpanan
obat tersebut beresiko meningkatkan kesalahan dalam hal dispensing obat.
Penyimpanan obat yang masih tertumpuk di lantai juga masih belum dilengkapi
palet. Penempatan palet diperlukan agar obat yang disimpan tidak rusak.

4.6 Ruang Rawat Inap Terpadu (Gedung A)


4.6.1 Pelayanan Perbekalan Farmasi di Gedung A
Satelit farmasi gedung A berlokasi di gedung A RSCM. Satelit tersebut
melayani kebutuhan perbekalan farmasi bagi pasien rawat inap di gedung A, baik
pasien jaminan maupun pasien umum. Satelit farmasi gedung A terdiri dari depo-
depo farmasi yang terletak di setiap lantai (ada delapan lantai) dan gudang farmasi
di basemen. Gudang farmasi basemen akan mendistribusikan perbekalan farmasi
ke setiap depo kemudian depo farmasi tersebut yang akan medistribusikan ke
pasien melalui perawat. Pelayanan farmasi untuk pasien rawat inap dilayani
selama 24 jam yang terbagi menjadi tiga shift yaitu dua shift (pagi dan siang) yang

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
83

dilayani di depo farmasi setiap lantai dan satu shift (malam) pelayanan yang
dialihkan ke gudang farmasi basemen. Jumlah SDM di satelit farmasi gedung A
terdiri dari tiga orang apoteker, 61 orang asisten apoteker, 11 orang pekarya, dan
dua orang administrator.
Perencanaan satelit farmasi gedung A berdasarkan konsumsi rata-rata
yaitu yang berasal dari data mutasi di sistem komputer. Perencanaan untuk obat-
obatan fast moving perlu ditambahkan dengan buffer stock, sedangkan untuk obat
slow moving tidak dilakukan pengadaan melainkan langsung mengambil di
gudang pusat. Pengadaan perbekalan farmasi di satelit gedung A dilakukan
dengan pemesanan ke gudang pusat setiap tiga kali dalam seminggu yaitu pada
hari Senin, Rabu, dan Jum’at. Pemesanan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
perbekalan farmasi selama seminggu di gedung A. Setelah dilakukan pemesanan
dan penyiapan barang, petugas farmasi gedung A melakukan serah terima barang
di gudang pusat dengan melakukan pemeriksaan kesesuaian barang meliputi jenis,
jumlah, kadaluarsa, dan kondisi barang.
Barang yang telah diterima dan disusun barang di gudang farmasi gedung
A. Penyimpanan obat solid oral di gudang farmasi basemen terdiri dari dua jenis
yaitu penyimpanan obat sebagai persediaan dan penyimpanan obat untuk
keperluan sehari-hari yang rutin digunakan untuk pelayanan. Perbekalan farmasi
disusun berdasarkan alfabet, bentuk sediaan, generik/non generik dan suhu
(kestabilan). Obat narkotika disimpan kedalam lemari khusus berpintu dan
berkunci ganda sedangkan obat psikotropika juga disimpan di lemari terpisah.
Obat-obatan yang termasuk kedalam high alert disimpan secara terpisah dengan
diberi label khusus dan ditandai dengan garis merah pada lemari penyimpanannya.
Obat high alert disimpan secara terpisah karena obat tersebut memiliki resiko
tinggi bila digunakan secara tidak tepat yang dapat menyebabkan bahaya
bermakna bagi pasien. Selain itu, penyimpanan obat mahal, produk nutrisi, B3,
dan obat kanker disimpan ditempat terpisah, sedangkan obat kanker dan obat
LASA diberikan label khusus yang telah disediakan. Penyimpanan obat yang
terdapat di dalam lemari tertutup atau kulkas dilampirkan daftar nama obat-obatan
yang terdapat di dalam lemari tersebut. Penyusunan tersebut dilakukan agar lebih

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
84

mudah melakukan penyiapan kebutuhan perbekalan farmasi bagi pasien. Berbeda


dengan penyimpanan obat, alat kesehatan disusun berdasarkan fungsi dan
jenisnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pasien, satelit farmasi gedung A
mendistribusikan perbekalan farmasi ke depo farmasi di setiap lantai. Metode
yang digunakan dalam pendistribusian ini yaitu metode desentralisasi. Depo
farmasi disetiap lantai biasanya melakukan permintaan obat setiap hari ke gudang
farmasi basemen gedung A sesuai dengan kebutuhannya. Obat-obat yang perlu
diracik dilakukan di ruang peracikan khusus yang tersedia di gudang farmasi
basemen dengan menggunakan stok obat di gudang tersebut. Perbekalan farmasi
yang sudah disiapkan oleh petugas gudang farmasi basemen dikirimkan ke depo
farmasi di setiap lantai dengan melakukan serah terima barang dan dilakukan
pemeriksaan kesesuaian barang dan jenis.
Sistem peresepan di gedung A sudah menggunakan Electronic Health
Record (EHR). Keuntungan dari EHR ini yaitu dapat mengurangi kesalahan
dalam membaca resep sehingga kesalahan dalam pemberian obat ikut berkurang.
Dokter biasanya melakukan peresepan bagi pasien pada hari Senin dan Kamis.
Namun, ada beberapa dokter yang masih melakukan peresepan secara manual
khususnya dokter konsulen. Obat-obat yang sudah diresepkan oleh petugas
farmasi kemudian disiapkan dan didistribusikan ke pasien melalui perawat. Sistem
distribusi yang digunakan yaitu unit dose dan floor stock. Pada sistem unit dose,
obat disiapkan untuk pemakaian satu hari dengan pembagian kemasan tiap waktu
minum obat dimulai dari sore hari hingga siang hari di hari berikutnya. Barang
yang didistribusikan dengan metode floor stock yaitu perbekalan farmasi dasar.
Mutasi perbekalan farmasi di gudang farmasi basemen dicatat di kartu
stok. Namun, depo farmasi tidak menggunakan kartu stok karena secara otomatis
sudah tersistem melalui IT. Laporan yang biasanya disiapkan oleh satelit farmasi
gedung A yaitu laporan mutasi, laporan penjualan, laporan pemakaian antibiotik,
laporan penggunaan perbekalan farmasi dasar, laporan obat generik, laporan
narkotika dan psikotropika, laporan formulariun dan laporan barang implant.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
85

Laporan tersebut dibuat sekali setiap bulan dan dikirim sebelum tanggal lima
setiap bulannya.
Kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa selama kerja praktek di satelit
farmasi gedung A adalah mendata produk nutrisi parenteral yang terdapat di
gudang farmasi basemen, melakukan analisis waktu peracikan, melakukan analisis
waktu penyiapan obat dari pemberian etiket hingga pengemasan obat dan
melakukan pemeriksaan obat atau alat kesehatan yang diambil oleh perawat tanpa
etiket.

4.6.2 Farmasi Klinik Gedung A


Kegiatan farmasi klinik di gedung A RSCM sudah berjalan cukup baik.
Farmasi klinik adalah pelayanan yang berorientasi kepada pasien yang bertujuan
untuk menjamin efektivitas, keamanan, dan efisiensi penggunaan obat serta dalam
rangka meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Penggunaan obat yang
rasional adalah penggunaan obat yang tepat indikasi, tepat obat, tepat cara
pemberian, tepat waktu pemberian dan tepat lama pemberian. Kegiatan farmasi
klinik di gedung A meliputi verifikasi resep, konseling obat, monitoring
pengobatan, pengambilan riwayat pengobatan, visit/ronde dan pelayanan
informasi obat.
Verifikasi resep yang dilakukan oleh apoteker meliputi pemeriksaan
legalitas resep, kesesuaian dosis, rute pemberian, lama pemberian, interaksi obat
dan waktu pemberian obat. Apabila terdapat obat yang tidak tersedia, apoteker
dapat memberikan rekomendasi obat dengan merk dagang yang berbeda namun
memiliki kandungan dan dosis yang sama. Kegiatan konseling di gedung A ada 2
jenis yaitu bedside counseling dan konseling obat pulang. Kegiatan bedside
counseling masih jarang dilakukan dibandingkan dengan konseling obat pasien
pulang. Mahasiswa PKPA melakukan penyiapan konseling obat pasien pulang
dengan menuliskan formulir informasi obat pulang terlebih dahulu. Informasi
yang diberikan kepada pasien yaitu nama obat, jumlah obat yang diberikan, aturan
dan waktu pemakaian obat, serta informasi khusus. Formulir informasi obat
pulang sangat membantu bagi pasien karena biasanya obat yang diberikan kepada

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
86

pasien lebih dari satu jenis obat sehingga pasien dapat lebih mudah dalam
meminum obat.
Secara umum, informasi obat bagi pasien yang akan pulang cukup
informatif. Pada umumnya pasien telah terbiasa dengan cara penggunaan obat-
obat tersebut selama dirawat di rumah sakit sehingga tidak membutuhkan
penjelasan yang terlalu mendetail. Namun, apoteker sebaiknya juga meminta
pasien untuk mengulangi informasi yang telah disampaikan dan tidak hanya
sekedar menanyakan apakah pasien telah paham atau belum. Hal tersebut sebagai
proses evaluasi dan untuk memastikan bahwa informasi telah diterima dengan
tepat oleh pasien tanpa ada kesalahan interpretasi.
Kegiatan farmasi klinik lainnya yang dilakukan oleh mahasiswa PKPA
yaitu melakukan monitoring pengobatan pasien. Monitoring pengobatan pasien
biasanya dilakukan oleh apoteker yang bertugas di tempat pasien di rawat. Pasien
yang diprioritaskan untuk mendapatkan konseling obat pasien yang akan pulang,
pasien geriatri (di atas 60 tahun) dan pasien pediatri (di bawah 12 tahun) dengan
kriteria: Pasien yang mendapat rejimen pengobatan lebih dari 7 item obat
(polifarmasi), mendapat rejimen pengobatan dengan indeks terapi sempit,
mempunyai riwayat alergi, dan pasien yang mengalami efek yang tidak
diharapkan akibat penggunaan obat. Kegiatan monitoring ini dengan cara melihat
kesesuaian antara obat yang diresepkan oleh dokter dengan obat yang di berikan
oleh perawat yang dapat dilihat dari kardeks serta obat yang dituliskan di status
pasien (Medical Record). Terkadang dokter tidak memberitahu apabila ada
perubahan terapi bagi pasien sehingga apoteker perlu melakukan konfirmasi
kepada dokter untuk meresepkan kembali. Selain kesesuaian peresepan, apoteker
juga memperhatikan dosis yang diberikan karena dikhawatirkan ada perbedaan,
interaksi obat yang terjadi akibat dari penggunaan obat yang banyak, dan hasil
laboratorium pasien.
Pasien yang baru datang biasanya juga dilakukan pengambilan riwayat
penggunaan obat. Pengambilan riwayat penggunaan obat ini dilakukan oleh
apoteker yang bertujuan untuk mengetahui adanya kemungkinan riwayat alergi,
efek samping dan efek-efek yang tidak diharapkan akibat penggunaan obat,

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
87

menilai kepatuhan pasien dalam penggunaan obat dan menyelaraskan rejimen


terapi antara sebelum perawatan dan saat perawatan. Namun, untuk pengambilan
riwayat penggunaan obat ini dilakukan kepada pasien yang baru masuk dalam 48
jam pertama dengan riwayat penyakit kronis (penyakit dalam, infeksi dan saraf)
serta pasien dengan imunitas rendah. Ketika pengambilan riwayat pengobatan,
apoteker menyiapkan lembar daftar obat sebelum perawatan, dan menanyakan
tentang riwayat penggunaan obat pasien sebelum dirawat di rumah sakit, meliputi
: nama obat yang digunakan (nama generik/ nama dagang), cara perolehan (resep,
non resep) termasuk obat herbal dan suplemen, dosis/aturan pakai, lama
penggunaan obat, (kapan mulai menggunakan dan kapan dihentikan), kepatuhan
(dengan jadwal teratur, kadang-kadang, jika timbul gejala saja, dll), sumber obat,
dan jumlah obat tersisa. Selain itu, apoteker juga menanyakan riwayat alergi dan
efek samping obat yang pernah dialami pasien. Apabila pasien memiliki riwayat
alergi dan pernah mengalami efek samping dari suatu obat tertentu maka apoteker
perlu menelusuri obat-obatan tersebut.
Mahasiswa PKPA juga melakukan visite/ronde bersama tim dokter yang
didampingi oleh apoteker. Visite ini bisa dilakukan secara mandiri atau
berkolaborasi dengan tim dokter dan profesi kesehatan lainnya. Selain visite,
apoteker juga melakukan rapat dengan tim kesehatan untuk membicarakan kasus
pasien tertentu. Kegiatan rapat berbeda dengan visite, rapat ini dilakukan di suatu
ruangan sedangkan visite dilakukan di ruang rawat pasien. Dalam kegiatan visite
atau rapat, apoteker berperan dalam rekomendasi pengobatan pasien terkait
kesesuaian obat sesuai penyakitnya, kesesuaian dosis dan sediaan obat,
ketersedian obat, harga obat, efek yang tidak diinginkan, serta kemungkinan
terjadinya interaksi obat.
Farmasi klinik juga menyediakan pelayanan informasi obat (PIO) bagi
petugas kesehatan lainnya, baik perawat, dokter, asisten apoteker bahkan pasien.
Sebaiknya apoteker juga membuat brosur atau leaflet yang berkaitan dengan
penggunaan obat khusus dan informasi obat lainnya sehingga tidak hanya
pelayanan informasi obat pasif saja yang sebagian besar diajukan dari lingkungan
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo saja. Apoteker juga menyertakan nomor

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
88

telepon yang dapat dihubungi setiap memberikan informasi obat pulang kepada
pasien, sehingga pasien juga dapat bertanya langsung kepada apoteker mengenai
cara penggunaan obat. Mahasiswa apoteker juga mendapatkan beberapa
pertanyaan yang diajukan oleh petugas farmasi lain, seperti : kestabilan obat,
substitusi obat, dosis maksimal omeprazole. Dalam menjawab pertanyaan
mahasiswa mencari informasi dari literatur yang telah tersedia di ruangan yaitu
Drug Information Handbook. Laporan dari masing-masing kegiatan PIO yang
dilakukan apoteker direkapitulasi setiap bulannya dan dilaporkan paling lambat
tanggal lima bulan berikutnya.

4.7 Satelit Kirana


Kegiatan yang dilakukan selama PKPA di satelit Kirana antara lain
mengamati prosedur administrasi resep yang masuk berdasarkan umum dan
jaminan pasien, mengamati dan melaksanakan alur pelayanan resep mulai dari
penerimaan resep, penyiapan obat hingga penyerahan obat kepada pasien,
melabeli LASA dan High Alert, dan monitoring resep pasien jaminan.
Satelit kirana merupakan satelit termuda yang dibuka IFRS pada tahun
2011, terletak di gedung Kirana Jl. Kimia No.8 Jakarta Pusat dan buka satu shift
pada pukul 08.00-16.00 WIB, terdiri dari satu Apoteker penanggung jawab, empat
asisten apoteker dan satu kasir. Satelit Kirana tidak hanya melayani dispensing
obat mata, tetapi juga obat lain seperti analgesik, obat saluran cerna, narkotika,
dan lain-lain. Satelit Kirana memiliki dua depo yaitu depo yang terletak di lantai
satu (depo dan gudang) dan depo yang terletak di lantai tiga khusus untuk OK.
Satelit kirana hanya melayani pasien rawat jalan, dan melayani resep umum dan
jaminan.
Alur pelayanan resep di satelit kirana sebagai berikut:
1. Umum (Resep Tunai)
Resep yang berasal dari pasien diverifikasi oleh petugas farmasi yang
meliputi kelengkapan resep ketersediaan barang, dan jumlah obat yang ingin
ditebus. Setelah diverifikasi, petugas mengkonfirmasi harga obat kepada pasien
umum atau Askes dan dilakukan transaksi jika kedua belah pihak telah bersepakat.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
89

Petugas menyiapkan obat lalu menyerahkan obat kepada pasien dan disertai
dengan pemberian informasi obat. Alur pelayanan di satelit Kirana sesuai dengan
standar yang berlaku di RSCM yaitu verifikasi, harga, dispensing dan serah.
Setiap tahap pelayanan tersebut dicatat pada resep dengan membubuhkan inisial
petugas yang melakukan pelayanan sebagai bentuk tanggung jawab atas
pelayanan yang dilakukan.
2. Jaminan
Alur pelayanan resep jaminan yang berbeda adalah pada saat penerimaan
resep, dan pada saat pemberian resep ke pasien. pelayanan resep jaminan selain
Askes sebelum obat diberikan harus melihat monitoring obat tujuannya adalah
untuk memastikan bahwa pasien tersebut tidak mendapatkan double dosis obat.
Form monitoring obat di Satelit Kirana berisi tanggal pemberian obat, nama obat,
aturan pakai dan tanda tangan.
Resep Jaminan terdiri dari :
a. Asuransi Kesehatan (Askes)
Pedoman pemberian obat berdasarkan buku standar yang dikeluarkan PT.
ASKES. Syarat yang harus dilengkapi adalah resep asli dan Surat Jaminan
Perawatan (SJP) Askes.
b. JAMKESMAS/JAMKESDA/SKTM/GAKIN
Pedoman pemberian obat berdasarkan buku standar formularium RSCM.
Syarat pemberian obat adalah satu jenis obat dalam resep tidak lebih dari Rp.
500.000,00 dan jumlah keseluruhan dalam satu resep tidak lebih dari Rp.
1.000.000,00. Jika harga obat dalam resep melebihi ketentuan tersebut, resep
harus memperoleh persetujuan dari petugas Dinas Kesehatan yang ditunjuk.
Kelengkapan yang harus dilengkapi adalah satu resep asli dan satu fotokopi
dan surat jaminan.
Perencanaan satelit kirana berdasarkan pemakaian yang dilakukan enam
bulan sekali. Perencanaan tersebut diberikan ke bagian departemen mata bukan
langsung ke bagian perencanaan perbekalan farmasi RSCM. Depo lantai tiga
membuat perencanaan untuk pemesanan barang yang kemudian mengirim

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
90

perencanaan tersebut ke depo lantai satu. Pemesanan barang dilakukan secara


online melalui SIM UPF pada hari Selasa dan Kamis.
Setelah melakukan defekta, petugas satelit ke gudang untuk melakukan
verifikasi barang. Perbekalan farmasi yang telah diverifikasi, dibawa oleh petugas
dan di masukkan ke rak obat serta mengisi di kartu stok. Penyimpanan perbekalan
farmasi di satelit kirana berdasarkan sistem FEFO dan FIFO, dan sesuai standar
JCI yaitu penyimpanan obat-obat yang termasuk LASA dan Higt Alert. Jenis
perbekalan farmasi yaitu obat dan alat kesehatan. Obat disimpan berdasarkan
bentuk sediaan, nama generik atau non generik, kestabilan dan Askes (Asuransi
Kesehatan) sedangkan alat kesehatan disimpan berdasarkan fungsinya.
Penyimpanan obat khusus di satelit kirana meliputi penyimpanan obat narkotika
dan psikotropika, obat high alert, obat sitostatika dan kit emergensi.
Sistem distribusi obat di satelit kirana ada dua, depo lantai satu menggunakan
sistem distribusi obat individual prescription, sedangkan depo lantai tiga
menggunakan sistem floor stock. Depo lantai tiga memperoleh perbekalan
farmasi dari depo lantai satu. Desain satelit kirana tidak terlalu besar. Tampak
depan terdapat meja kasir dengan dua komputer, dan terdapat obat-obat Over The
Counter (OTC) yang disusun di rak depan. Ruang bagian dalam terdapat satu
kulkas untuk menyimpan obat-obat yang tidak stabil pada suhu panas.
Penyusunan obat di Satelit Kirana berdasarkan sediaannya dan disusun
berdasarkan alfabet. Obat-obat yang masuk dalam kriteria LASA disimpan tidak
berdekatan satu sama lain sedangkan untuk obat-obat yang masuk kedalam
kategori High Alert disimpan dilemari yang telah dilingkari dipinggirnya dengan
lakban merah. Obat narkotika disimpan di lemari khusus dengan kunci ganda
yang disimpan oleh petugas. Alat-alat kesehatan disimpan terpisah yaitu di lemari
bagian atas. Barang-barang yang enam bulan mendekati kadaluarsa diberi label
kuning dengan menulis bulan dan tahun kadaluarsa. Pengatur suhu ruangan dan
kulkas dicatat setiap pagi, sore dan malam. Stock opname di satelit kirana
dilakukan dua kali dalam satu tahun yaitu bulan Juni dan Desember.
Laporan di Satelit Kirana dilakukan setiap bulan, meliputi :
1. Laporan Manajemen, terdiri dari :

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
91

a. Laporan Mutasi/Pergerakan Barang


b. Laporan Penjualan Tunai
c. Laporan Penjulan Kredit
d. Laporan Pendistribusian Ruangan
2. Laporan Medication Error
3. Laporan Sampling Etiket
4. Laporan Pengontrolan Elektrolit Pekat.
Resep disimpan di satelit kirana selama tiga tahun, begitu juga dengan
resep narkotika. Sedangkan untuk barang yang telah masuk tanggal kadaluarsa
dan rusak di musnahkan satu tahun dua kali.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
92

Analisis temuan di satelit Kirana selama PKPA, yaitu :


1. Terdapat barang kosong, sehingga banyak pasien yang menebus obat di
luar. Sehingga perlu dilakukan perencanaan yang baik supaya tidak terjadi
lagi barang kosong setiap hari. Selain itu perlu komunikasi dengan dokter
untuk peresepan obat.
2. Penyimpanan obat-obat dalam lemari tertutup, seharusnya terdapat daftar
nama obat di depan pintu.
3. Terdapat makanan dan minuman yang disimpan di dalam kulkas obat.
4. Kartu stock banyak yang lupa menulis jumlah sisa dan ada beberapa
jumlah yang tidak sesuai dengan fisik dan komputer.
5. Etiket obat belum menuliskan keterangan sebelum atau sesudah makan.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Instalasi farmasi di rumah sakit berperan sebagai bagian fungsional dari
organisasi rumah sakit yang menjamin terselenggarakannya pelayanan
kefarmasian yang komprehensif. Apoteker di rumah sakit bertanggung jawab
melaksanakan pelayanan kefarmasian yaitu pengelolaan perbekalan kefarmasian
dan pelaksanaan kegiatan farmasi klinis. Apoteker juga berperan sebagai seorang
manajer yang berperan dalam mengelola sumber daya manusia (SDM), sarana dan
prasarana, serta upaya peningkatan pendapatan rumah sakit.
Pelaksanaan pelayanan kefarmasian di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
sudah dilaksanakan dengan baik mendekati standar pelayanan kefarmasian yang
ditetapkan Kementerian Kesehatan RI. Namun, terdapat beberapa hal yang belum
terpenuhi dengan baik yaitu jumlah SDM dan fasilitas.

5.2 Saran
Berdasarkan pengamatan kami selama PKPA, berikut adalah beberapa
saran yang dapat kami ajukan :
A. Sumber daya manusia
1. Penambahan jumlah asisten apoteker di Sub Instalasi Produksi dan satelit
farmasi yang memiliki beban kerja tinggi seperti IGD dan satelit pusat.
2. Penambahan jumlah pekarya di satelit kirana, satelit IGD, satelit ICU, dan
satelit pusat.
3. Penambahan jumlah apoteker untuk optimalisasi pelaksanaan pelayanan
kefarmasian.
4. Letak Sub Instalasi Produksi RSCM yang jauh dari Gedung A dapat disiasati
penambahan pekarya untuk kepentingan pendistribusian.
B. Fasilitas
1. Penambahan mesin pembungkus puyer dan jumlah troli di satelit IGD.
2. Pengadaan tangga untuk satelit ICU karena ada lemari di ICU yang sangat
tinggi.
3. Peresepan online untuk satelit yang belum menerapkan sitem online.
93 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
94

4. Pengadaan buku komunikasi antar satelit untuk satelit pusat, satelit ICU dan
satelit pelayanan jantung terpadu (PJT).
5. Penggunaan pintu dengan kunci akses di satelit IGD agar membatasi petugas
non farmasi masuk ke dalam satelit.
C. Manajemen pengelolaan perbekalan farmasi
1. Di satelit pusat, sebaiknya dibuat SOP pembatasan waktu penulisan resep
untuk obat kemoterapi oleh dokter, misal dilakukan maksimal tiga hari
sebelum pelaksanaan kemoterapi. Diharapkan hal tersebut dapat
meminimalisasi penumpukan obat kemoterapi yang belum terambil di satelit
pusat.
2. Pendataan jumlah konsumsi rata-rata/hari perbekalan farmasi di tiap satelit
sebagai dasar perencanaan pemesanan barang di satelit.
3. Penandaan menggunakan spidol permanen warna biru pada kemasan primer
sediaan solid oral di gedung A sebagai penanda obat mendekati waktu
kadaluarsa (H-3 bulan).
4. Penandaan label sebelum atau sesudah makan pada kotak penyimpanan obat
di satelit agar asisten apoteker dapat mengisi keterangan tersebut di etiket
obat.
5. Sentralisasi pencampuran obat sitostatik di Sub Instalasi Produksi RSCM
Gedung CMU 2 lantai tiga, dimana peralatan yang digunakan telah
memenuhi standar yang ditetapkan. Sentralisasi pencampuran obat sitostatik
juga akan mempermudah pengawasan, baik kepada petugas maupun
peralatan yang digunakan. Dengan demikian, baik kualitas obat maupun
keamanan petugas dapat terjamin dengan lebih baik.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
DAFTAR REFERENSI

Departemen Kesehatan RI. (2008). Pedoman Pengelolaan Perbekalan Farmasi di


Rumah Sakit. Jakarta: Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan bekerjasama dengan Japan International Cooperation Agency.
Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. (2010). Materi
Pelatihan Manajemen Kefarmasian di Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota.
Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Departemen Kesehatan RI. (2004). Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1197/
Menkes/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Siregar, Charles J.P. (2004). Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Quick, J.D. [ed]. (1997). Managing Drug Supply: The Selection, Procurement,
Distribution, and Use of Pharmaceuticals 2nd ed. Connecticut: Kumarin
Press Inc

95 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
LAMPIRAN

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
96

Lampiran 1.Struktur Organisasi RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
97

Lampiran 2. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
98

Lampiran 3. Struktur Organisasi Sub Instalasi Produksi

Kepala Instalasi Farmasi

Kepala Sub Instalasi Produksi

Penanggung Jawab Penanggung Jawab Aseptik Dispensing


Produksi Steril dan Non Steril

Pelaksana Produksi Pelaksana Pelaksana Pelaksana


Non Steril Repacking Sediaan Pencampuran Obat Pencampuran Obat
Injeksi Serbuk Sitostatika Suntik

Pelaksana
Repacking Sediaan
Injeksi Cair

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
99

Lampiran 4. Struktur Organisasi Instalasi Pusat Sterilisasi

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
100

Lampiran 5. Contoh Etiket

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
101

Lampiran 6. Contoh Klip Plastik Obat Unit Dose

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
102

Lampiran 7. Contoh Blanko Kartu Stok

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
103

Lampiran 8. Formulir Retur Obat

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
104

Lampiran 9. Label Penandaan Khusus

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
105

Lampiran 10. Formulir Konseling Obat Pasien Pulang

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
106

Lampiran 11. Lembar Monitoring Pengobatan Pasien Rawat Inap

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
107

Lampiran 12. Formulir Medication History Taking Pasien

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
108

Lampiran 13. Formulir Pelayanan Pencampuran Obat Sitostatik

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
109

Lampiran 14. Contoh Protokol Kemoterapi

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
UNIVERSITAS INDONESIA

EVALUASI MANAJEMEN SELURUH TROLI EMERGENSI


DI RUANG RAWAT INAP RSUPN. DR. CIPTO MANGUNKUSUMO

TUGAS KHUSUS PRAKTEK KERJA PROFESI APOTEKER

KARTIKA CITRA DEWI PERMATA SARI, S. Farm.


1106047032

ANGKATAN LXXIV

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


PROGRAM PROFESI APOTEKER-DEPARTEMEN FARMASI
DEPOK
JUNI 2012

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i


DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. iii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... iii
DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................... iv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Tujuan........................................................................................... 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keadaan Gawat Darurat (Emergensi) ............................................ 3
2.2 Perbekalan Farmasi Emergensi ...................................................... 5
2.3 Manajemen Troli Emergensi ......................................................... 6
BAB 3 METODOLOGI PENGKAJIAN
3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian .................................................... 10
3.2 Metode Pengkajian ...................................................................... 10
BAB 4 PEMBAHASAN
4.1 Konsep Penggunaan Troli Emergensi .......................................... 11
4.2 Analisis Isi Troli dan Penataannya............................................... 14
4.3 Mekanisme Pengawasan Troli Emergensi.................................... 16
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ................................................................................. 19
5.2 Saran ........................................................................................... 19
DAFTAR REFERENSI ................................................................................... 20

ii Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Kriteria keadaan emergensi untuk orang dewasa ................................ 3


Tabel 2.2 Contoh perbekalan farmasi emergensi minimal .................................. 6
Tabel 4.1 Sebaran troli emergensi di unit yang memiliki ruang rawat inap ...... 11
Tabel 4.2 Perbandingan kesesuaian troli emergensi dengan kriteria standar ..... 12
Tabel 4.3 Perbandingan jumlah isi troli emergensi di setiap tempat ................. 15
Tabel 4.4 Usulan lembar dokumentasi pengecekan kunci troli emergensi ........ 17

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Pertolongan dasar awal pada manajemen emergensi.......................... 4

iii Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar troli emergensi di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo ......... 21


Lampiran 2. Usulan lembar daftar isi troli emergensi ......................................... 23
Lampiran 3. Daftar isi troli emergensi berdasarkan standar TMRC (Tim Medis
Reaksi Cepat) ................................................................................ 26
Lampiran 4. Lembar checklist troli emergensi di RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo (formulir hanya sebagian) .................................... 29
Lampiran 5. Usulan lembar pengecekan harian kunci troli emergensi ................. 30
Lampiran 6. Lembar penggunaan perbekalan farmasi emergensi ........................ 31

iv Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keadaan emergensi adalah kondisi yang dapat mengancam kelangsungan
hidup. Di rumah sakit, pelayanan medis pada kondisi emergensi merupakan salah
satu hal yang sangat dipertimbangkan. Semua hal yang terkait dalam prosedur
emergensi ditentukan dengan penuh pertimbangan agar pelaksanaanya dapat
berjalan dengan lancar. Tenaga kesehatan yang terlibat, ketersediaan alat maupun
obat, dan prosedur yang harus dilakukan merupakan hal-hal yang menjadi
pertimbangan dalam menyusun standar prosedur operasional untuk tindakan
emergensi (Bussieres, et al., 2009). Dalam tindakan emergensi, hal yang perlu
diperhatikan adalah respon yang cepat dan tepat termasuk tersedianya alat dan
obat yang dibutuhkan.
Di rumah sakit, kondisi emergensi tidak hanya dapat terjadi pada unit
gawat darurat saja tetapi juga di ruang rawat inap. Kondisi pasien yang berada di
ruang rawat dapat berubah tidak menentu, misal pasien tiba-tiba mengalami henti
nafas atau henti jantung yang merupakan kondisi emergensi. Pada kondisi tersebut,
dokter maupun perawat membutuhkan obat dan alat secara cepat untuk dapat
melakukan tindakan medis emergensi. Oleh sebab itu, tersedia troli emergensi
yang menyimpan obat atau alat kesehatan emergensi yang dapat digunakan
langsung di ruang rawat (Bussieres, et al, 2009).
Instalasi farmasi di rumah sakit yang mempunyai peran sebagai pengelola
perbekalan farmasi juga memiliki tanggung jawab mengelola ketersediaan
perbekalan farmasi di troli emergensi. Di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo,
pengelolaan troli emergensi di setiap ruang rawat inap belum memiliki standar
yang seragam tentang penataan dan pengawasannya. Adanya standar mengenai
hal tersebut akan mempermudah pengawasan dan penggunaan troli. Penataan isi
troli yang distandarisasi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo akan
mempermudah proses penggunaan barang di troli emergensi oleh para dokter dan
perawat sehingga dapat memperlancar tindakan medis yang akan dilakukan. Joint
Commission International (JCI) sebagai badan akreditasi internasional untuk
rumah sakit juga mensyaratkan bahwa perbekalan farmasi emergensi secara terus
1 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
2

menerus tersedia, terkontrol dan terjamin keamanannya (Kienle, 2006). Oleh


sebab itu, dilakukan evaluasi manajemen troli emergensi di ruang rawat inap di
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sehingga dapat diajukan usulan manajemen
troli emergensi.

1.2 Tujuan
Tujuan dari penyusunan tulisan ini adalah mengevaluasi manajemen
seluruh troli emergensi di ruang rawat inap di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
sehingga dapat dirumuskan usulan standar untuk hal tersebut .

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Keadaan Gawat Darurat (Emergensi)


Emergensi atau keadaan gawat darurat adalah keadaan yang mengancam
kelangsungan hidup. Di rumah sakit, terdapat istilah “code blue” yaitu prosedur
emergensi untuk tindakan medis bagi pasien yang sedang gawat. Kondisi medis
yang dapat menimbulkan kegawatdaruratan bagi pasien meliputi ancaman pada
ABC yaitu airway, breathing, dan circulation. Selain itu, dapat pula ditambahkan
kategori untuk sistem saraf dan obstetri (Queensland Government, 2007).
Ancaman yang terjadi pada hal-hal tersebut jika tidak ditangani secara cepat dapat
mengancam hidup pasien. Oleh sebab itu, tindakan medis emergensi
diprioritaskan untuk membuat fungsi-fungsi tersebut (terutama sistem ABC) dapat
berjalan dengan baik.

Tabel 2.1 Kriteria keadaan emergensi untuk orang dewasa


Airway Terhambat
Breathing Terjadi perubahan pada kecepatan pernafasan (kurang dari 5 kali
tarikan nafas/menit atau lebih dari 36 kali tarikan nafas/menit)
Circulation Terjadi perubahan denyut jantung (kurang dari 40 denyut/menit atau
lebih dari 140 denyut/menit)
Sistem Kehilangan kesadaran yang tiba-tiba, kejang yang terjadi terus
saraf menerus atau berulang
Obstetri Kejadian emergensi pada obstetri (misal pendarahan)
[Sumber : Queensland Government, 2007]

Dalam keadaan emergensi, diperlukan respon cepat dan tepat untuk


menyelamatkan fungsi vital pasien terkait ABC. Prinsip umum manajemen pasien
emergensi adalah (Queensland Government, 2007) :
a. Pencegahan kegawatan/luka selanjutnya
b. Melihat respon pasien terhadap stimulus verbal dan sentuhan
c. Penanganan ABC (Airway, Breathing and Circulation)
d. Melakukan kontrol terhadap pendarahan (jika ada)
e. Menjaga suhu tubuh pasien tetap normal
f. Perlindungan tubuh pasien dari benturan benda keras
3 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
4

g. Observasi lebih lanjut terhadap kondisi pasien

(Keterangan : pemantauan, CPR (Cardiopulmonary Resuscitation), defibrilasi, dan tindakan


lanjutan yang lebih awal)
Gambar 2.1 Pertolongan dasar awal pada manajemen emergensi

2.1.1 Airway (saluran pernafasan)


Saluran pernafasan merupakan saluran yang digunakan sebagai jalur
pernafasan dari mulai hidung dan mulut hingga ke paru-paru. Saluran pernafasan
meliputi rongga hidung atau mulut, tenggorokan, bronkus, dan bronkiolus.
Apabila terjadi sumbatan atau hambatan pada saluran nafas tersebut maka fungsi
pernafasan akan terganggu. Akibatnya, oksigen tidak dapat disalurkan ke dalam
paru-paru dan CO2 tidak dapat dikeluarkan. Kondisi tersebut dapat menyebabkan
rasa sesak dan lebih lanjut mempengaruhi fungsi vital lain (Queensland
Government, 2007).
Manajemen terhadap saluran nafas diperlukan jika pasen dalam keadaan
tidak sadar, terhambat jalur nafasnya atau membutuhkan bantuan pernafasan. Pada
pasien yang tidak sadarkan diri harus dijaga agar lidah pasien tidak menutupi jalan
nafas ke tenggorokan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan teknik Head Tilt Chin
Lift untuk pasien-pasien yang tidak mengalami trauma wajah. Selain itu dapat
pula digunakan alat-alat bantu jalan nafas seperti guedel, endotrakeal tube dan
lain-lain (Queensland Government, 2007).

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
5

2.1.2 Breathing (pernafasan)


Istilah pernafasan atau breathing adalah kemampuan spontan untuk
menghirup atau menghembuskan udara. Keadaan yang dapat menghambat nafas
adalah :
a. obstruksi saluran nafas,
b. depresi atau kerusakan pada pusat pengaturan nafas di otak,
c. masalah di paru-paru
d. paralisis atau kerusakan saraf atau otot di saluran nafas (Queensland
Government, 2007).
Jika terjadi henti nafas maka harus segera dilakukan prosedur yang dapat
merangsang refleks nafas pasien. Untuk manajemen henti nafas dapat dilakukan
penatalaksanaan pemberian nafas bantuan menggunakan masker oksigen atau alat
lain yang dibutuhkan sesuai keadaan pasien (Queensland Government, 2007).

2.1.3 Circulation
Istilah circulation dalam manajemen keadaan emergensi dikaitkan dengan
fungsi jantung dan peredaran darah pasien. Salah satu keadaan emergensi terkait
circulation adalah henti jantung. Pasien dapat dikatakan mengalami henti jantung
jika tidak sadar, tidak responsif, tidak bergerak, tidak bernafas normal dan tidak
ada denyut jantung. Manajemen terkait henti jantung adalah compression,
defibrilasi atau induksi denyut jantung melalui obat (Queensland Government,
2007).

2.2 Perbekalan Farmasi Emergensi


Perbekalan farmasi emergensi adalah obat dan alat kesehatan yang
penggunaannya harus segera dan bersifat menyelamatkan jiwa dan hidup pasien
(life saving). Walaupun telah ada standar untuk manajemen keadaaan emergensi,
perbekalan farmasi emergensi yang harus ada di troli belum memiliki standar
yang jelas. Ketentuan rincian perbekalan farmasi emergensi diserahkan kepada
rumah sakit untuk menentukannya sesuai dengan kebutuhan di rumah sakit
tersebut. Akan tetapi, beberapa obat dan alat sering digunakan dalam keadaan
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
6

emergensi sehingga audah seperti kelengkapan minimal yang harus ada di troli
emergensi (Hand H, 2004).
Perbekalan farmasi emergensi yang harus tersedia disesuaikan dengan
tindakan yang dilakukan untuk menyelamatkan fungsi vital pasien. Umumnya,
perbekalan farmasi emergensi yang disediakan meliputi kebutuhan untuk tindakan
airway, breathing, dan circulation. Selain itu, dapat disediakan pula perlengkapan
tambahan yang dapat digunakan untuk menunjang kondisi pasien atau alat yag
tersedia seperti handuk hangat, baterai, dan elektroda (Hand H, 2004).

Tabel 2.2 Contoh perbekalan farmasi emergensi minimal (Hand H, 2004)


Airway Obat
Orofaringeal Adrenalin (1:10.000) atau (1:1000)
Endotracheal suction catheters Atropin 1mg/3 mg
Laringeal Amiodaron 150mg/300mg
Endotracheal tube (oral, cuffed) Na bicarbonat 8,4%
Laringoskop CaCl 13,24%
Breathing Lidokain 100mg
Masker oksigen NaCl 0,9%
Ambu bag Nalokson 400mcg
Circulation MgSO4 50% solution 2g (4ml)
IV canul KCl 40 mmol
Syringes Adenosin 6 mg
needle Midazolam 10 mg
Tambahan Hidrokortison 200mg
Elektroda EKG Glukosa 10% 500ml
Gel defibrilasi
Jam
Sarung tangan, apron

2.3 Manajemen Troli Emergensi


2.3.1 Penataan Perbekalan di Troli Emergensi
2.3.1.1 Penataan Obat
Joint Commission International (JCI) dalam standar akreditasinya
menetapkan bahwa obat harus disimpan dengan benar dan aman (Joint
Commission International, 2010). JCI juga menetapkan bahwa perbekalan
emergensi harus selalu tersedia, terkontrol, dan aman. Perbekalan emergensi harus
dievaluasi secara periodik untuk memastikan bahwa perbekalan tersebut sama
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
7

dengan daftar, sesuai dengan panduan terkini, dan memenuhi kebutuhan pasien
(Kienle, 2006).
Perbekalan farmasi yang berada di troli emergensi adalah barang-barang
yang siap pakai. Jenis obat, jumlah, dan kekuatan/konsentrasi obat di troli
emergensi harus distandarisasi di rumah sakit berdasarkan persetujuan komite
medis. Kontrol penyediaan dan pengawasan perbekalan farmasi emergensi harus
dilakukan oleh farmasi. Untuk menjamin keselamatan pasien maka obat harus
diberi label nama, kekuatan, dan jumlah (Kienle, 2006).
Selain memperhatikan label identifikasi, penataan obat juga harus
memperhatikan penataan obat high alert untuk mengurangi kesalahan pengobatan
(medication error) (Hartman, 2009). Obat yang dikategorikan sebagai high alert
adalah obat-obat yang memiliki resiko besar untuk membahayakan keselamatan
pasien dalam penggunaannya terutama jika digunakan dengan tidak tepat
(Hartman, 2009 dan American Hospital Association, 2002). Obat-obat yang
umumnya termasuk high alert sebagai berikut (American Hospital Association,
2002):
a. Agen adrenergik i. Magnesium intravena
b. Kalsium rute intravena j. Garam fosfat
c. Digoksin intravena k. Agen inhibitor neuromuskular
d. Insulin l. Benzodiazepin
e. Lidokain intravena m. Saline hipertonis
f. Agen kemoterapi n. KCl
g. Heparin, trombolitik, inhibitor o. Narkotik dan opiat
trombin intravena p. Obat-obat yang digunakan untuk
h. Warfarin sedasi pediatri
Terdapat tiga prinsip penggunaan obat-obat high alert, yaitu (American
Hospital Association, 2002):
a. Eliminasi kemungkinan melakukan kesalahan.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan mengurangi obat-obat high alert yang
beredar di ruang rawat dan memberi label high alert pada obat dan lokalisasi
obat.
b. Membuat sistem yang dapat menunjukkan kesalahan.
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
8

c. Minimalisasi akibat dari kesalahan.


JCI menetapkan bahwa rumah sakit harus memiliki sistem manajemen
khusus obat-obat high alert secara aman. Sistem tersebut harus dapat
mengidentifikasi dan meminimalisasi resiko terkait penggunaan obat high alert.
Pada troli emergensi, obat high alert juga harus diminimalisasi keberadaannya.
Hal tersebut dapat dilakukan dengan menyediakan bentuk sediaan premixed obat
high alert. Dengan menyediakan bentuk premixed dapat meningkatkan keamanan
pasien dan meningkatkan efisiensi waktu serta obat (Fanikos, 2011).

2.3.1.2 Penataan alat kesehatan di troli emergensi


Alat kesehatan yang disimpan dalam troli emergensi dapat disusun
berdasarkan kegunaannya pada sistem ABC. Hal tersebut dapat memudahkan
penggunaan dan pengawasan baran-barang tersebut. Penyusunannya dapat
mengikuti bentuk troli emergensi yang digunakan oleh rumah sakit (Hand H,
2004).

2.3.2 Pengawasan Troli Emergensi


JCI menyatakan bahwa perbekalan farmasi harus selalu tersedia, terkontrol
dan terjamin keamanannya (Kienle, 2006). Keamanan isi dalam troli dapat
dijamin dengan pilihan cara sebagai berikut (Rich, 2001):
a. Troli emergensi dikunci dengan kunci disposable, isi troli dapat dibungkus
dengan plastic wrap
b. Troli tidak dikunci tapi diletakkan di ruang yang terkunci.
c. Troli tidak dikunci tapi diletakkan di ruang yang terus menerus di
supervisi seperti di nurse station
Jika troli menggunakan kunci disposable maka hanya farmasi yang
diperbolehkan memiliki akses penggantian kunci disposable. Hal tersebut
disebabkan farmasi yang bertanggung jawab dalam penggantian perbekalan
farmasi emergensi yang terpakai. Jadi, hanya farmasi yang diperbolehkan
mengganti kunci disposable yang sudah dibuka. Troli emergensi yang berisi
sediaan narkotik harus dikunci dengan gembok dan kunci logam. Akan tetapi
disarankan lebih baik troli tidak usah diisi dengan sediaan narkotik. Jika troli
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
9

dibuka maka perawat harus segera menghubungi farmasi untuk penggantian


perbekalan farmasi yang digunakan. Pengecekan sehari sekali tidak mencukupi
untuk menjamin kelengkapan isi di troli emergensi. Oleh sebab itu, dapat
dilakukan pengecekan troli setiap pergantian shift (Rich, 2001).

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 3
METODOLOGI PENGKAJIAN

3.1 Waktu dan Tempat Pengkajian


Pengkajian dilakukan pada tanggal 9 April – 1 Juni 2012 bertempat di
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.

3.2 Metode Pengkajian


Metode yang digunakan dalam pengkajian adalah :
a. Observasi pengumpulan data isi troli emergensi di seluruh unit yang
memiliki ruang rawat inap.
b. Pengkajian literatur untuk membandingkan data yang diperoleh dengan
standar-standar yang ada.

10 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 4
PEMBAHASAN

4.1 Konsep Penggunaan Troli Emergensi


Troli emergensi disediakan di ruang rawat inap sebagai upaya menjamin
ketersediaan obat atau alat yang dibutuhkan saat terjadi keadaan gawat darurat di
ruang rawat. Model troli emergensi yang digunakan di RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo adalah Lifeline Emergency Cart dengan 1 kompartemen di atas, 3
laci depan, dan 1 kompartemen di bawah serta 3 kompartemen di samping
(Lampiran 1). Berdasarkan tujuan penggunaannya maka dibutuhkan sistem yang
menjamin ketersediaan barang di troli dan kemudahan penggunaannya bagi
perawat ataupun dokter. Kebijakan yang ditetapkan di RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo, pengawasan dan penyediaan barang di troli emergensi menjadi
tanggung jawab dari instalasi farmasi. Saat ini, manajemen troli emergensi di unit
pelayanan yang memiliki rawat inap belum memiliki standar. Akibatnya, isi troli,
penataan isi troli, penggunaan, maupun mekanisme pengawasannya dapat
berbeda-beda di tiap unit tersebut. Hal tersebut menjadi kendala pengawasan troli
emergensi oleh instalasi farmasi.

Tabel 4.1 Sebaran troli emergensi di unit yang memiliki ruang rawat inap
No Unit Pelayanan Jumlah Troli Rincian
1 Gedung A (8 lantai) 11 Masing-masing 1 tiap lantai, kecuali
lantai 7 ada 2 troli, High Care Unit
(HCU), ICU anak
2 Intensive Care Unit 2 Terletak pada satu ruangan yang sama
(ICU)
3 Pusat Jantung Terpadu 5 Di bagian ICU, lantai 4 dan lantai 5,
(PJT) ruang catheter laboratorium, dan
poliklinik
4 Instalasi Gawat Darurat 3 Di ruang rawat akut, ICU, bagian anak
5 BCH 1
6 Kencana 4 Di lantai 1, lantai 4, lantai 7, dan ICU
7 Perinatologi 1
8 Unit Luka Bakar (ULB) 2 Di ICU dan ruang rawat
Total 29 Dieksklusi ruang catheter dan
poliklinik PJT karena bukan ruang
rawat inap jadi 27 troli

11 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
12

Troli emergensi digunakan jika terjadi keadaan gawat pada pasien dan
dibutuhkan penanganan yang cepat sehingga tidak dapat melakukan peresepan
dan menunggu dispensing di satelit farmasi. Oleh sebab itu, isi dari troli
emergensi bersifat life saving dan memerlukan pemantauan khusus. Selain
memperhatikan isi troli, kelengkapan troli akan kriteria standar juga harus
diperhatikan. Berkut adalah kriteria standar menurut Bussieres et al (2009) :
a. Troli memiliki daftar isi obat dan jumlahnya
b. Daftar isi obat meliputi nama generik untuk semua obatnya
c. Daftar obat yang ada di troli memenuhi kebutuhan emergensi dari unit
perawatan tempat troli diletakkan.
d. Terdapat label identifikasi untuk setiap obat di dalam troli
e. Tidak ada perbedaan nama antara daftar isi troli dengan yang tertulis di
label identifikasi obat
f. Obat-obat yang ada di troli tidak ada yang kadaluarsa
g. Troli dikunci dengan kunci bernomor
h. Jumlah obat di troli sesuai dengan jumlah yang tertera di daftar isi
i. Troli tidak berisi obat-obat yang tidak ada dalam daftar isi troli
j. Semua obat di troli diletakkan dalam kompartemen bagian atas troli

Tabel 4.2 Perbandingan kesesuaian troli emergensi dengan kriteria standar


No Kriteria Jumlah Persentase Keterangan
troli (n/27x100%)
1. Troli memiliki daftar isi beserta 24 88, 89 % ULB dan BCH belum
jumlahnya
2. Daftar isi troli ditulis dengan 3 11,11 % Hanya IGD
nama generik untuk semua
obatnya
3. Terdapat label identifikasi untuk 22 81,48% gedung A, IGD,
obat di troli perinatologi, PJT, Kencana
4. Label identifikasi obat di troli 4 14,81% IGD, perinatologi,
menggunakan nama generik
5. Troli memiliki kunci yang 24 88,89% Troli di ULB (2),
bernomor perinatologi (1) belum
menggunakan kunci
disposable
6. Semua obat di troli disimpan 27 100%
dalam bagian atas troli
7. Penataan di troli berdasarkan 14 51,85% Gedung A, IGD
tindakan (ABC-Drug)
8 Penataan obat sudah 27 100%
memperhatikan high alert
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
13

Kelengkapan troli yang diusulkan adalah sebagai berikut :


a. Daftar isi troli
Troli seharusnya memiliki daftar isi yang memudahkan petugas mencari
barang yang dibutuhkannya. Daftar isi harus dibuat sesuai dengan isi dalam troli.
Sebaiknya daftar tersebut dibuat berdasarkan nama generik dan dikelompokkan
berdasarkan penataannya (ABC-Drug). Daftar isi harus memuat data teknik dan
jumlah dari barang yang ada. Adanya data teknik diharapkan mengurangi
kesalahan penggunaan obat terkait kesalahan pengambilan kekuatan obat atau
ukuran alat kesehatan yang dibutuhkan. Selain itu, melalui daftar isi dapat juga
dilakukan peningkatan kewaspadaan terhadap penggunaan obat high alert. Pada
daftar isi yang dibuat sebaiknya obat yang tergolong high alert ditulis dengan
warna merah. Contoh dari usulan daftar isi dapat dilihat pada Lampiran 2.
b. Label identifikasi untuk obat
Label identifikasi obat yang diberikan di dalam troli ditujukan untuk
memudahkan pencarian dan mengurangi kesalahan pengambilan obat. Label
identifikasi sebaiknya dibuat menggunakan nama generik, memuat kekuatan obat
dan jumlah sediaan. Label tersebut dapat ditempel pada pembatas antar obat untuk
memudahkan penglihatan petugas.

Aminofilin 24mg/10ml
1 Ampul

Gambar 4.1 Contoh label identifikasi obat

c. Label identifikasi untuk tiap laci di troli


Setiap kompartemen atau laci di troli emergensi harus diberi nama sesuai
tindakannya yaitu airway, breathing dan circulation. Di dalam tiap laci tersebut
berisi perlengkapan yang sesuai dengan tindakannya. Label identifikasi tiap laci
troli digunakan untuk memudahkan pencarian barang oleh petugas yang akan
menggunakannya.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
14

d. Perlengkapan untuk pengawasan troli


Perlengkapan pengawasan troli terdiri dari lembar pengecekan harian, dan
lembar penggunaan isi troli. Kedua hal tersebut dibahas lebih lanjut dalam subbab
mekanisme pengawasan troli emergensi.

4.2 Analisis Isi Troli Emergensi dan Penataannya


4.2.1 Isi troli emergensi
Berdasarkan tujuan penggunaannya, isi troli emergensi merupakan obat
atau alat yang dibutuhkan segera untuk menyelamatkan kondisi pasien saat gawat
darurat. Isi dari troli emergensi ditentukan oleh unit kerja departemen/ruang rawat
yang berkepentingan. Isi dari troli disesuaikan dengan kebutuhan pada ruang
rawat tersebut, misalnya kebutuhan obat bagian anak berbeda dengan ruang rawat
dewasa. Oleh sebab itu, terdapat perbedaan isi troli antara unit pelayanan. Tim
Medis Reaksi Cepat (TMRC) di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo telah
menetapkan standar minimal untuk isi dari troli emergensi yang meliputi
penanganan airway, breathing, circulation, dan obat-obat (Lampiran 3).
Semua troli yang berada di gedung A memiliki isi yang sama kecuali pada
lantai satu bagian anak. Kencana juga memiliki isi troli yang sama dengan troli di
gedung A. Isi troli pada lantai satu mengikuti ketetapan yang dibuat oleh
departemen ilmu kesehatan anak. Selain troli emergensi, gedung A juga memiliki
emergency kit. Emergency kit merupakan versi minimalis dari troli emergensi.
Akan tetapi, emergency kit hanya memiliki sebagian barang dari seluruh isi di
troli emergensi. Jika terjadi keadaan gawat, diharapkan emergency kit yang akan
dibuka terlebih dahulu. Bila obat atau alat yang dibutuhkan tidak ada di
emergency kit maka yang dibuka adalah troli emergensi.
Troli emergensi yang berada di Instalasi Gawat Darurat (IGD) sama
dengan standar minimal yang ditetapkan TMRC kecuali bagian anak yang tetap
mengikuti standar dari departemen ilmu kesehatan anak. Begitu juga dengan
bedah anak (BCH) yang sudah melengkapi isi troli dengan standar minimal
TMRC dan tambahan lain sesuai kebutuhan emergensi bagi anak. Perinatologi
memiliki isi troli yang berbeda dengan lainnya. Troli di perinatologi tidak
dilengkapi dengan alat-alat kesehatan. Alat kesehatan yang dibutuhkan saat
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
15

emergensi disediakan secara floor stock di bagian tersebut dengan sistem


permintaan langsung ke gudang pusat RSCM. Isi troli di Intensive Care Unit
(ICU), Unit Luka Bakar (ULB) dan Pusat Jantung Terpadu (PJT) belum
memenuhi standar minimal TMRC.

Tabel 4.3 Perbandingan jumlah isi troli emergensi di setiap tempat


No Troli Emergensi Jumlah Jumlah Jumlah Total
obat alat cairan jumlah
kesehatan (non obat) isi troli
1 Gedung A
Ruang rawat dewasa (lantai 27 50 13 90
2-8)
Ruang rawat anak (lantai 1) 20 62 11 93
HCU (High Care Unit)
ICU (Intensive Care Unit)
2 Intensive Care Unit (ICU) 28 59 2 89
3 Pusat Jantung Terpadu (PJT)
ICU PJT 18 78 11 107
Ruang rawat lantai 4 29 59 12 100
Ruang rawat lantai 5 27 83 15 125
4 Instalasi Gawat Darurat (IGD)
Ruang Rawat Akut (RRA) 25 56 7 88
Intensive Care Unit (ICU) 25 56 7 88
Anak 20 43 6 69
5 BCH (Bedah Anak) 20 51 2 73
6 Kencana 27 50 13 90
7 Perinatologi 20 6 26
8 ULB (Unit Luka Bakar)
ICU ULB 34 59 11 104
Ruang rawat ULB 20 45 9 74
9 Standar Tim Medis Reaksi 25 56 7 88
Cepat (TMRC)

TMRC RSCM telah mengeluarkan standar minimal isi troli emergensi.


Oleh sebab itu, sebaiknya setiap unit melengkapi isi trolinya sesuai standar
tersebut. Adanya penambahan perbekalan farmasi di luar standar TMRC
diperbolehkan selama dibutuhkan dalam keadaaan emergensi di unit tersebut.
Penataan isi troli disesuaikan dengan penggunaannya pada tindakan airway,
breathing, circulation dan obat. Perlengkapan tambahan seperti sarung tangan,

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
16

masker operasi atau lainnya dapat ditempatkan dalam kompartemen yang berbeda
misal di kompartemen samping (lihat Lampiran 1).
Penataan obat di troli emergensi pada dasarnya tidak berbeda dengan
penataan obat pada umumnya. Obat disusun berdasarkan alfabetis nama
generiknya. Selain itu, penataan obat juga harus memperhatikan lokalisasi obat
high alert. Hal tersebut untuk mengurangi kesalahan penggunaan obat (Hartman,
2009). Lokalisasi dan penandaan obat high alert di troli emergensi dapat
disesuaikan dengan sistem yang telah diterapkan oleh RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo yaitu menggunakan lakban merah.

4.3 Mekanisme Pengawasan Troli Emergensi


Dalam standar prosedur operasional (SPO) pengelolan perbekalan farmasi
emergensi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, pengecekan troli emergensi
dilakukan oleh dokter/perawat dan farmasi. Dokter/perawat mempunyai tanggung
jawab untuk pengecekan defibrilator dan laryngoscope. Farmasi mempunyai
tanggung jawab melakukan pengecekan terhadap kesesuaian isi troli, ketepatan
penyimpanan, tanggal kadaluarsa dan pengisian kembali atau penggantian barang.
Pengecekan tersebut didokumentasikan pada lembar checklist troli emergensi
(Lampiran 4)
Setiap troli emergensi di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo sebaiknya
menggunakan kunci disposable yang memiliki nomor. Jika troli sudah dibuka
maka kunci tidak dapat digunakan lagi dan harus dilakukan penggantian dengan
kunci yang baru. Hal tersebut mempermudah pengawasan, karena jika kunci tidak
berganti nomor atau belum rusak berarti troli belum dibuka. Akan tetapi, saat ini
belum ditetapkan sistem pengawasan yang efektif dan efisien bagi farmasi untuk
menjamin bahwa troli belum dibuka. Sumber daya farmasi yang terbatas
menyebabkan kesulitan jika setiap pengawasan rutin dilakukan pengecekan isi
troli.
Sistem pengawasan yang efektif dan efisien dapat dilakukan dengan
pengawasan rutin tiap pergantian shift kerja. Setiap pergantian shift, perawat
diharuskan mengecek nomor kunci di troli. Jika nomor kunci tetap sama dengan
sebelumnya (kunci tidak rusak) berarti troli belum dibuka. Pengecekan
Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
17

didokumentasikan di lembar pengecekan yang digantung di troli emergensi (Tabel


4.4). Sistem tersebut juga ditetapkan di SPO Emergency Cart/Defibrillators oleh
rumah sakit di University of New Mexico dan rekomendasi JCI. Petugas farmasi
melakukan pengecekan yang sama secara mingguan untuk menjamin pengawasan
ganda troli.

Tabel 4.4 Usulan lembar dokumentasi pengecekan kunci troli emergensi


Peride bulan :
Ruangan :
Tgl Nomor Pengecekan I Nomor Pengecekan II Nomor Pengecekan II
Kunci Jam Inisial Paraf Kunci Jam Inisial Paraf Kunci Jam Inisial Paraf
1
2
3
4
5
...
30
(Versi lengkapnya dapat dilihat di Lampiran 5)

Selain lembar pengecekan kunci troli, troli dapat dilengkapi juga dengan
lembar pengggunaan barang emergensi. Pada lembar tersebut memuat informasi
tanggal penggunaan, nama pasien, nomor rekam medis, barang yang digunakan,
jumlah, dan paraf petugas (Lampiran 6). Lembar tersebut juga dapat digunakan
sebagai pengganti resep untuk penggunaan perbekalan farmasi emergensi. Adanya
lembar tersebut diharapkan dapat meminimalisasi penggunaan barang emergensi
yang tidak dapat ditelusuri. Jika ditemukan kunci troli terbuka tetapi
penggunaannya tidak dapat ditelusuri serta paraf di lembar pengecekan kunci troli
tidak lengkap maka hal tersebut menjadi tanggung jawab pihak yang seharusnya
melakukan pengecekan.
Pengecekan kelengkapan barang di troli emergensi yang terbuka umumnya
memakan waktu lama karena banyaknya jumlah barang di troli. Hal tersebut
merupakan salah satu permasalahan terkait pengawasan troli karena jumlah
petugas farmasi yang terbatasdan banyaknya tanggung jawab di pekerjaan lainnya.
Apalagi jika troli emergensi sering terbuka karena kondisi pasien seperti di IGD
atau ICU. Oleh sebab itu, diusulkan penggunaan plastic wrap untuk membungkus

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
18

obat dan sebagai pengikat antar alat kesehatan yang sejenis. Jika plastic wrap
tidak rusak dapat diartikan bahwa obat atau alat kesehatan tersebut tidak
digunakan sehingga dapat mengurangi beban kerja pengecekan petugas. Plastic
wrap merupakan plastik tipis yang biasa digunakan untuk membungkus makanan
dan mudah untuk dirobek sehingga tidak menyulitkan pengambilan barang.
Penggunaan plastic wrap untuk membungkus barang-barang di troli emergensi
juga diperbolehkan oleh JCI (Rich, 2001).
Penggunaan plastic wrap pada alat kesehatan yang berada di troli
emergensi disesuaikan menjadi pengikat. Jika troli memiliki alat kesehatan yang
sejenis lebih dari satu (misal endotrakeal tube nomor 7 ada 3 buah) maka plastic
wrap digunakan untuk mengikat barang tersebut. Jika ikatan tersebut tidak rusak
berarti alat kesehata tersebut masih lengkap. Selain itu, sebaiknya alat kesehata
yang berada di troli diberikan nomor urut sesuai yang tertera di daftar isi troli.
Jadi, petugas dapat melakukan skrinning awal dengan mengecek nomor yang ada.
Jika petugas mendapati nomor yang seharusnya ada di laci tersebut lengkap maka
alat kesehatan tersebut juga lengkap. Hal tersebut sangat membantu jika jumlah
masing-masing alat kesehatan dalam troli adalah satu buah. Akan tetapi, hal
tersebut juga dapat membantu petugas walaupun jumlah masing-masing alat lebih
dari satu. Jika nomor alat ditemukan lengkap, petugas cukup melanjutkan
pengecekan jumlah terhadap alat kesehatan yang jumlahnya lebih dari satu.

Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Troli emergensi di ruang rawat inap RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo
saat ini sudah dikelola dengan cukup baik. Akan tetapi, masih terdapat beberapa
permasalahan yang dihadapi terkait standar penataan dan pengawasan yang efektif
dan efisien. Oleh sebab itu, diusulkan beberapa hal berikut ini yaitu :
a. Troli dilengkapi dengan daftar isi yang berisi nama generik, nama dagang,
data teknik dan jumlah. Daftar isi dipisahkan berdasarkan penataannya dan
ditandai warna merah untuk obat high alert.
b. Troli dilengkapi dengan label identifikasi untuk obat yang berisi nama
generik, kekuatan dan jumlah obat.
c. Penataan di troli disusun berdasarkan jenis tindakan yaitu obat, airway,
breathing, circulation serta perlengkapan tambahan. Penataan dan
pengawasan perbekalan di troli juga lebih mudah jika menggunakan
plastic wrap.
d. Pengawasan troli menggunakan lembar monitoring harian dan lembar
penggunaan perbekalan farmasi emergensi.

5.2 Saran
Usulan yang telah disusun patut diuji kelayakan penerapannya. Setelah itu,
usulan yang layak diterapkan sebaiknya ditetapkan menjadi standar prosedur
operasional pengelolaan perbekalan farmasi emergensi karena bersifat lebih
mengikat.

19 Universitas Indonesia

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
DAFTAR REFERENSI

American Hospital Association. (2002). Pathway for Medication Safety. Health


Research & Educational Trust.
BussieresJean-Francois, ScharrKarin, MarquisChristopher, SaindonSophie,
ToledanoBaruch, DiliddoLydia, et al. (2009). Reevaluation of
Emergency Drug Management in A Tertiary Care Mother-Child Hospital.
Hospital Pharmacy, 44 (7), 584-593.
FanikosJohn. (2011, November). Premixed Products Improve Safe Medication
Practices. Pharmacy Practice News : 56-57.
Hand HABanks. (2004, Maret 19). The Contents of Resuscitation Trolley.
Nursing Standard, 18 (44) : 43-52.
HartmanChristian. (2009, April). Medication Safety and Quality. Pharmacy
Practice News : 10-11.
Joint Commission International. (2010). Accreditation Standards for Hospital,
Standards List Version 4th Edition. USA: Department of Publications
Joint Commission Resources.
KienleCPatricia. (2006). JCAHO Med Management, Meeting The Standards for
Emergency Medications and Labeling. Hospital Pharmacy, 41 (9), 888-
892.
Queensland Government. (2007). Code Blue Manual : Royal Brisbane and
Women's Hospital Health Service District. Queensland: Queensland
Health.
RichSDarryl. (2001). Ask the Joint Commission; Security of Crash Carts and
Medication security in Other Areas: New Interpretation. Hospital
Pharmacy, 36 (1), 112-116.

20

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
21

Lampiran 1. Gambar troli emergensi di RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo

a. Troli emergensi tampak depan

b. Troli emergensi tampak atas (kompartemen atas)

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
22

c. Troli emergensi tampak samping kanan

d. Troli emergensi tampak samping kiri

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
23

Lampiran 2. Usulan lembar daftar isi troli emergensi


DAFTAR ISI TROLI EMERGENSI LANTAI.....
UNIT PELAYANAN..........
RSUPN DR. CIPTO MANGUNKUSUMO

No Nama Generik Nama Dagang Data Satuan Jumlah


Teknik
RAK TERATAS
1 Adrenalin 0,1% Epineprin, Phinev 1 mg/ml Ampul 10
2 Aminophilin Aminophilin 24 mg/10ml Ampul 1
3 Amiodaron Cordaron, Kendaron 150mg/3ml Ampul 3
4 Atropin Sulfas Atropin Sulfas 0,25mg/ml Ampul 10
5 Bicnat Meylon 84mg/25ml Ampul 3
6 Calcium glukonas Calcium glukonas 100 mg/ml Ampul 2
7 Dexamethasone Kalmethasone 5 mg/ml Ampul 3
8 Dextrose 40 % Dextrose 40 % 25 ml Flacon 3
9 Diazepam Stesolid, Valdimex 10 mg/2ml Ampul 2
10 Difenhidramin Difenhidramin 10 mg/ml Ampul 1
11 Digoxin Fargoxin 0,5 mg/2ml Ampul 3
12 Dobutamin Dobuject, Inotrop 250 mg/5ml Ampul 1
13 Dopamin (Dopin) Indop 200 mg/5ml Ampul 1
14 Efedrin Ephedrin 50 mg/1ml Ampul 1
15 Furosemid Furosemid 20 mg/2ml Ampul 5
16 Heparin Inviclot 25.000 U Vial 1
17 ISDN ISDN 5 mg Tablet 5
18 Lidocain 2 % Lidocain 2% 20 mg/2ml Ampul 3
19 MgSO4 MgSO4 40% 25 ml Flacon 2
20 NaCl 0,9% NaCl 0,9% 25 ml Flacon 2
21 Nitrogliserin Gliserilnitrat.
10 mg/10ml Ampul 3
(Nitrocin) DBLnitrocine
22 Norepineprin Raivas, Vascon 4 mg/4ml Ampul 1
23 Salbutamol Ventolin Nebule 2,5 mg Ampul 3
24 WFI WFI 25 ml Botol 2
25 Xylocain Jelly Xylocain Jelly 2%
2% 10 G Tube 1
10 G
LACI 1 (AIRWAY)
26 ETT With cuff No 7,5 Buah 1
27 ETT With cuff No 7 Buah 1
28 ETT With cuff No 6,5 Buah 1
29 ETT With cuff No 6 Buah 1
30 ETT With cuff No 5,5 Buah 1
31 ETT With cuff No 5 Buah 1
32 ETT Without cuff No 4,5 Buah 1
33 ETT Without cuff No 4 Buah 1
34 ETT Without cuff No 3,5 Buah 1
35 Orofaringeal tube Guedel No 2/3/4/5 Buah 1

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
24
(Lanjutan)

36 Perfusor (ET 1) JMS JMS Buah 2


37 Sarung tangan non Sensi gloves
M Box 1
steril
38 Sarung tangan Gammex
No 7,5 Buah 2
Steril
39 Suction catheter No 10 Buah 1
40 Suction catheter No 12 Buah 1
41 Suction catheter No 8 Buah 1
42 Surgical mask Buah 5
LACI 2 (BREATHING)
43 Masker non
Buah 1
rebreathing
44 Masker oksigen
Buah 1
dewasa
45 Masker rebreathing Buah 1
46 Nasal kanul dewasa Buah 1
47 Nebulizer dewasa Buah 1
LACI 3 (CIRCULATION)
48 Alkohol Swab Buah 10
49 Bisturi No. 11 Buah 1
50 Blood set Sangofix Buah 2
51 Catheter tip Terumo Buah 1
52 Elektroda Dewasa W2244 Dewasa Buah 6
53 Foley Catheter No. 16 Buah 1
54 Foley Catheter No. 18 Buah 1
55 Hypavix 10 x 5 inch Rol 1
56 Infus set Terumo Buah 2
57 IV Catheter Long No. 16 Buah 2
58 IV Catheter Short No. 18 Buah 2
59 Leukomed IV 7,5 x 5 ml Lembar 3
60 Micropore 1 inch Buah 1
61 Mikrodrip Terumo Buah 1
62 Needle Spuit Terumo No. 18 Buah 2
63 NGT Terumo No. 14 Buah 1
64 NGT Terumo No. 16 Buah 1
65 NGT Terumo No. 18 Buah 1
66 Plester Coklat 1 inch Rol 1
67 Silkam 2/0 DS 24 Buah 1
68 Spuit disposable Terumo 1 cc Buah 2
69 Spuit disposable Terumo 3 cc Buah 10
70 Spuit disposable Terumo 5 cc Buah 5
71 Spuit disposable Terumo 10 cc Buah 4
72 Spuit disposable Terumo 20 cc Buah 2
73 Spuit disposable Terumo 50 cc Buah 2
74 Three way stop Bbraun
Buah 2
cock
75 Urine bag Buah 1

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
25
(Lanjutan)

76 Vasofix Bbraun No. 18 Buah 2


77 Vasofix Bbraun No. 20 Buah 2
78 Vasofix Bbraun No. 22 Buah 2
79 Vasofix Bbraun No. 24 Buah 2
80 Verban Nasional 5 x 4 inchi Buah 5
81 Wing needle Terumo No. 23 Buah 1
LACI 4 (Cairan)
82 Dextrose 5 % Ecosol 500 ml Botol 1
83 Dextrose 5 % Otsuka 100 ml Botol 1
84 Gelofusin Ecosol 500 ml Botol 1
85 Manitol Otsuka 250 ml Botol 1
86 NaCl 0,9 % Ecosol 500 ml Botol 1
87 NaCl 0,9 % Ecosol 100 ml Botol 1
88 Ringer Laktat Ecosol 500 ml Botol 2

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
26

Lampiran 3. Daftar isi troli emergensi berdasarkan standar TMRC (Tim Medis
Reaksi Cepat)

No Nama Data Teknik Jumlah


1 Adrenalin/Epinefrin 0,1% 1 mg/ml 10 ampul
2 Aminofilin 24 mg/10ml 1 ampul
3 Amiodaron (Cordaron) 150 mg/3ml 3 ampul
4 Atropin Sulfas 0,25 mg/ml 10 ampul
5 Bicnat (Meylon) 84 mg/25ml 3 ampul
6 Calsium Glukonas 100 mg/ml 2 ampul
7 Dexamethasone 5 mg/ml 3 ampul
8 Dextrose 40 % 25 ml 3 flacon
9 Diazepam (Stesolid) 10 mg/2ml 2 ampul
10 Difenhidramin 10 mg/ml 1 ampul
11 Digoxin (Fargoxin) 0,5 mg/2ml 3 ampul
12 Dobutamin (Dobuject) 250 mg/5ml 1 ampul
13 Dopamin (Dopin) 200 mg/5ml 1 ampul
14 Efedrin 50 mg/1ml 1 ampul
15 Furosemid 20 mg/2ml 5 ampul
16 Heparin (Inviclot) 25.000 U 1 vial
17 ISDN 5 mg 5 tablet
18 Lidocain 2 % 20 mg/2ml 3 ampul
19 MgSO4 25 ml 3 flacon
20 Nitrogliserin (Nitrocin) 10 mg/10ml 3 ampul
21 Norepineprin 4 mg/4ml 1 ampul
22 Salbutamol (Ventolin) 2,5 mg 3 ampul
23 WFI (Aqua for inj) 25 ml 2 flacon
24 Xylocain Jelly tube 1 tube
25 Elektroda buah 6 buah
26 Vasofix No. 18 2 buah
27 Vasofix No. 20 2 buah
28 Vasofix No. 22 2 buah
29 Vasofix No. 24 2 buah
30 IV catheter No. 16 2 buah
31 IV catheter No. 18 2 buah
32 Three way stop cok buah 2 buah
33 Spuit disposible 1 cc 2 buah
34 Spuit disposible 2,5 cc 10 buah
35 Spuit disposible 5 cc 5 buah
36 Spuit disposible 10 cc 4 buah
37 Spuit disposible 20 cc 2 buah
38 Spuit disposible 50 cc 2 buah

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
27
(Lanjutan)

No Nama Data Teknik Jumlah


39 Needle spuit No. 18 2 buah
40 Mikrodrip buah 1 buah
41 Blood set buah 2 buah
42 Infus set buah 2 buah
43 ETT No. 7,5 1 buah
44 ETT No. 7 1 buah
45 ETT No. 6,5 1 buah
46 ETT No. 6 1 buah
47 ETT No. 5,5 1 buah
48 ETT No. 5 1 buah
49 ETT No. 4,5 1 buah
50 ETT No. 4 1 buah
51 ETT No. 3,5 1 buah
52 ETT No. 3 1 buah
53 ETT non kingking No.7,5 1 buah
54 Foley Catheter No. 16 1 buah
55 Foley Catheter No. 18 1 buah
56 NGT No. 14 1 buah
57 NGT No. 16 1 buah
58 NGT No. 18 1 buah
59 Suction Catheter No. 10 1 buah
60 Suction Catheter No. 12 1 buah
61 Suction Catheter No. 8 1 buah
62 Urin bag buah 1 buah
63 Catheter tip buah 1 buah
64 Orofaringeal tube No. 2/3/4/5 1 buah
65 Perfusor (ET 1) buah 2 buah
66 Silkam No. 2/0 1 buah
67 Bisturi buah 1 buah
68 Wing needle buah 1 buah
69 Spatel lidah disposible bungkus 1 bungkus
70 Dextrose 5 % 500 ml 1 kolf
71 NaCl 0,9 % 500 ml 1 kolf
72 NaCl 0,9 % 100 ml 1 kolf
73 NaCl 0,9 % 25 ml 2 flacon
74 Gelofusin 500 ml 1 kolf
75 Hemohes 6 % 500 ml 1 kolf
76 Manitol 250 ml 1 kolf
77 Ringer Laktat 500 ml 2 kolf
78 Dextrose 5 % 100 ml 1 kolf
79 Masker Rebreathing buah 1 buah
80 Masker Non Rebreathing buah 1 buah

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
28
(Lanjutan)
No Nama Data Teknik Jumlah
81 Nasal kanul dewasa buah 1 buah
82 Simple mask buah 1 buah
83 Nebulizer set set 1 set
84 Surgical mask buah 5 buah
85 Sarung tangan steril No. 7,5 2 pasang
86 Sarung tangan non steril M 1 box
87 Alkohol swab buah 10 buah
88 Hypavix 5x5 inchi 1 rol
89 Leukomed IV 7,5x5 ml 3 lembar
90 Micropore 1 inchi 1 rol
91 Kassa kecil bungkus 2 bungkus
92 Kassa besar bungkus 2 bungkus
93 Verban 5 x 4 inchi 5 buah
94 Plester coklat 1 inchi 1 rol

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
29

Lampiran 4. Lembar checklist troli emergensi di RSUPN Dr. Cipto


Mangunkusumo (formulir hanya sebagian)

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
30

Lampiran 5. Usulan lembar pengecekan harian kunci troli emergensi

LEMBAR PENGECEKAN KUNCI TROLI EMERGENSI

Peride bulan :
Ruangan :

Tgl Nomor Pengecekan I Nomor Pengecekan II Nomor Pengecekan III


Kunci Kunci Kunci
Jam Inisial Paraf Jam Inisial Paraf Jam Inisial Paraf
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
31

Lampiran 6. Lembar penggunaan perbekalan farmasi emergensi


Formulir Penggunaan Perbekalan Farmasi Emergensi
(Nama Unit) RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo

Nama Pasien : Tanggal :


No. RM :
No Nama Generik Nama Dagang Data Satuan Jumlah
Teknik
Terpakai Diganti
(ED)
RAK TERATAS
1 Adrenalin 0,1% Epineprin, Phinev 1 mg/ml Ampul
2 Aminophilin 24
Ampul
Aminophilin mg/10ml
3 Amiodaron Cordaron,
150mg/3ml Ampul
Kendaron
4 Atropin Sulfas Atropin Sulfas 0,25mg/ml Ampul
5 Bicnat Meylon 84mg/25ml Ampul
6 Calcium
100 mg/ml Ampul
glukonas Calcium glukonas
7 Dexamethasone Kalmethasone 5 mg/ml Ampul
8 Dextrose 40 % Dextrose 40 % 25 ml Flacon
9 Diazepam Stesolid, Valdimex 10 mg/2ml Ampul
10 Difenhidramin Difenhidramin 10 mg/ml Ampul
11 Digoxin Fargoxin 0,5 mg/2ml Ampul
12 250
Ampul
Dobutamin Dobuject, Inotrop mg/5ml
13 200
Ampul
Dopamin (Dopin) Indop mg/5ml
14 Efedrin Ephedrin 50 mg/1ml Ampul
15 Furosemid Furosemid 20 mg/2ml Ampul
16 Heparin Inviclot 25.000 U Vial
17 ISDN ISDN 5 mg Tablet
18 Lidocain 2 % Lidocain 2% 20 mg/2ml Ampul
19 MgSO4 MgSO4 40% 25 ml Flacon
20 NaCl 0,9% NaCl 0,9% 25 ml Flacon
21 Nitrogliserin Gliserilnitrat. 10
Ampul
(Nitrocin) DBLnitrocine mg/10ml
22 Norepineprin Raivas, Vascon 4 mg/4ml Ampul
23 Salbutamol Ventolin Nebule 2,5 mg Ampul
24 WFI WFI 25 ml Botol
25 Xylocain Jelly Xylocain Jelly 2%
2% 10 G Tube
10 G
LACI 1 (AIRWAY)
26 ETT With cuff No 7,5 Buah
27 ETT With cuff No 7 Buah
28 ETT With cuff No 6,5 Buah
29 ETT With cuff No 6 Buah
30 ETT With cuff No 5,5 Buah
31 ETT With cuff No 5 Buah

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
32
(Lanjutan)

32 ETT Without cuff No 4,5 Buah


33 ETT Without cuff No 4 Buah
34 ETT Without cuff No 3,5 Buah
35 Orofaringeal tube Guedel No 2/3/4/5 Buah
36 Perfusor (ET 1) JMS JMS Buah
37 Sarung tangan Sensi gloves
M Box
non steril
38 Sarung tangan Gammex
No 7,5 Buah
Steril
39 Suction catheter No 10 Buah
40 Suction catheter No 12 Buah
41 Suction catheter No 8 Buah
42 Surgical mask Buah
LACI 2 (BREATHING)
43 Masker non
Buah
rebreathing
44 Masker oksigen
Buah
dewasa
45 Masker
Buah
rebreathing
46 Nasal kanul
Buah
dewasa
47 Nebulizer dewasa Buah
LACI 3 (CIRCULATION)
48 Alkohol Swab Buah
49 Bisturi No. 11 Buah
50 Blood set Sangofix Buah
51 Catheter tip Terumo Buah
52 Elektroda W2244
Dewasa Buah
Dewasa
53 Foley Catheter No. 16 Buah
54 Foley Catheter No. 18 Buah
55 Hypavix 10 x 5 inch Rol
56 Infus set Terumo Buah
57 IV Catheter Long No. 16 Buah
58 IV Catheter Short No. 18 Buah
59 Leukomed IV 7,5 x 5 ml Lembar
60 Micropore 1 inch Buah
61 Mikrodrip Terumo Buah
62 Needle Spuit Terumo No. 18 Buah
63 NGT Terumo No. 14 Buah
64 NGT Terumo No. 16 Buah
65 NGT Terumo No. 18 Buah
66 Plester Coklat 1 inch Rol
67 Silkam 2/0 DS 24 Buah
68 Spuit disposable Terumo 1 cc Buah
69 Spuit disposable Terumo 3 cc Buah
70 Spuit disposable Terumo 5 cc Buah
71 Spuit disposable Terumo 10 cc Buah
72 Spuit disposable Terumo 20 cc Buah
73 Spuit disposable Terumo 50 cc Buah

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012
33
(Lanjutan)

74 Three way stop Bbraun


Buah
cock
75 Urine bag Buah
76 Vasofix Bbraun No. 18 Buah
77 Vasofix Bbraun No. 20 Buah
78 Vasofix Bbraun No. 22 Buah
79 Vasofix Bbraun No. 24 Buah
80 Verban Nasional 5 x 4 inchi Buah
81 Wing needle Terumo No. 23 Buah
LACI 4 (CAIRAN)
82 Dextrose 5 % Ecosol 500 ml Botol
83 Dextrose 5 % Otsuka 100 ml Botol
84 Gelofusin Ecosol 500 ml Botol
85 Manitol Otsuka 250 ml Botol
86 NaCl 0,9 % Ecosol 500 ml Botol
87 NaCl 0,9 % Ecosol 100 ml Botol
88 Ringer Laktat Ecosol 500 ml Botol

Dokter yang menggunakan Perawat yang menyerahkan


formulir

(………………………….) (……………………………)

Perawat yang menerima Petugas farmasi yang mengganti


penggantian perbekalan perbekalan & kunci

(………………………….) (……………………………)

Laporan praktek..., Kartika Citra Dewi Permata Sari, FMIPA UI, 2012