Anda di halaman 1dari 37

BAB 4:

INTEGRASI KEBUDAYAAN

Soal: bagaimana isi kebudayaan tersusun menjadi suatu


sistem integral. Inilah integrasi kebudayaan.
Integrasi kebudayaan (cultural integration) itu terjadi atas
dua cara, yaitu oleh `fungsi' dan oleh `konfigurasi'. 'Fungsi'
berhubungan langsung - dengan integrasi susunannya ,
(structural integration), sedangkan 'konfigurasi' dengan
integrasi psikologisnya (psychological integration). Yang
disebut pertama merupakan sistem sosial atau kompleks
aktivitas - `intermediate level of culture', sedangkan yang
kedua merupakan kompleks ide-ide -`the third level of
culture'.' Sementara 'lapisan luar' (kebudayaan fisik, benda-
benda) yang kelihatan dalam tiga lapisan lingkaran
konsentris kita sebut `the surface level of culture'.`
Sedangkan lapisan terdalam dikenal sebagai `sistem gagasan
ideologis' atau 'nilai-nilai budaya' (cultural values).
WUJUD-WUJUD KEBUDAYAAN:
Lapisan Kebudayaan Artifacts Benda-benda
I fisik budaya sebagai
hasil karya
manusia, baik
yang kompleks
dan canggih
maupun yang
sederhana
Lapisan Sistem Activities Kompleks
II sosial [integrasi aktivitas sosial:
struktural] tindakan berpola
atau interaksi
antar individu
dalam mas arakat
Lapisan Sis:em Ideas Sistem gagasan,
III budaya [integrasi adat istiadat:
psikologis] kompleks ide-ide,
cita-cita, nilai
nilai, sistem
hukum, norma
norma, peraturan
raturan
Lapisan Nilai-nilai Cultural Sistem gagasan
IV budaya values ideologis yang
menentukan sifat
Jan corak pikiran,
carra berpikir,
serta tingkah laku
rn2r~,,;, ia;
pedoman orientasi
1 hiduti ba i war,-,a
Menurut R. Linton, kesatuan suatu kebuda yaan terdiri
atas empat `tahap' (pranata) struktural . Setiap kebudayaan
Unsur-unsur pokok kebudayaan universal l terbagi atas lembaga (institutions, cultural activities), yang
1.sistem pengetahuan sifatnya umum (universal). Tiap lembaga terbagi atas
2.sistem religi kompleks (complexes). Tiap kompleks terdiri atas traits dan
3.kesenian traits terdiri atas bagian-bagian (items). Semakin kecil unsur
4.bahasa kebudayaan itu, semakin khusus dan lokal sifatnya.
5.sistem peralatan hidup dan teknologi
6.sistem ekonomi
7. organisasi sosial

4.1. INTEGRASI STRUKTURAL

Kebudayaan terdiri atas unsur-unsur yang berkaitan satu


sama lain sebagai suatu organisme hidup. Mereka tersusun
menurut fungsi, mulai dari tingkatan-tingkatan yang terkecil
dan sederhana sampai yang paling kompleks.
Complex budaya: kumpulan beberapa traits, yang saling
berkaitan berdasarkan fungsi yang sama.

Institution terdiri dari beberapa complex budaya yang


bertalian sedemikian rupa sehingga bersama
memenuhi suatu kebutuhan dasar manusia.

Item: bagian-bagian lebih kecil dari trait, yang in setidak ada


arti budayanya di luar trait-nya sebagai suatu
barang yang mempunyai fungsi budaya sendiri.

Trait: unsur terkecil dari cara hidup, yang teratur secara


fungsional dan digarap sebagai sesuatu yang
indipenden. Maka sifat esensialnya: bagian terkecil
yang teratur secara fungsional terhadap bagian-
bagian yang lain, yang berdiri sendiri (mempunyai arti
sendiri), meskipun ia hanyalah sebagian dari suatu
kesatuan yang lebih besar.
3) Faedah (use) adalah tujuan atau maksud khusus dalam
pemakaian barang budaya. Misalnya, api, air, parang,
kerbau, tarian, dll.
4) Fungsi (function dalam arti sempit) menyatakan
hubungan yang jauh lebih luas antara masing-masing
'rupa' kebudayaan daripada nyata dari faedahnya saja.
Oleh sebab itu, fungsi memperlihatkan hubungan
struktural secara jauh lebih luas dan lengkap - status
quo!

R Linton (1940) menganjurkan pembedaan antara rupa


(form), makna (meaning) , faedah (use), dan fungsi
(function) dalam arti sempit yang menyangkut unsur-
unsur budaya itu.

1) Rupa (form) ialah bentuk, besarnya, cara


membuatnya atau memakainya. Pendek kata yang
membuat unsur ini menjadi nyata atau kelihatan.
Misalnya: bahan, bentuk, dan ukuran parang; irama
lagu; cara memukul gong; gerak-gerik tarian.
a) Makna (meaning) ialah keseluruhan asosiasi subjektif
yang tergabung dengan bentuk (form). Masing-masing
benda atau unsur memiliki makna dan nilai khusus
dalam kebudayaan tertentu. Jadi, 'makna' dapat
dikatakan sebagai sesuatu yang tak kelihatan.
Fungsionalisme

'Fungsionalisme' adalah aliran metodologis dalam filsafat


dan ilmu pengetahuan yang timbul pada tahun 1920-an.
Latar belakang timbulnya ialah popularitas Gestalt
psychologie, yang bertujuan untuk mendapatkan pandangan
universal dan struktural tentang manusia.
Deskripsinya tentang penduduk dan masyarakat Andaman - Mengamati penjelasan di atas, kita melihat adanva
integrasi fungsional antara berbagai upacara agama dan persamaan dan sedikit perbedaan antara Radcliffe-Brown
mitologi mempunyai efek pada struktur hubungan antar dengan Malinowski dalam memahami `fungsi'. Keduanya
warga dalam komunitas setempat - lebih bersifat struktural. melihat `fungsi' sebagai melayani suatu 'tujuan'.
Untuk menyatakan efek dari suatu keyakinan, adat atau Perbedaannya:
'pranata' kepada solidaritas sosial dalam masyarakat,
Radcliffe-Brown memakai istilah `fungsi sosial' - "the social
function of the ceremonial customs of the Andaman
Islanders is to transmit from one generation to another Fungsi menurut Malinowski: the part which is played by
the emotional dispositions on which the society (as it is any factor of a culture within the general
constituted) depends for its existence". Dalam bab scheme.
'upacara' dari bukunya itu, ia menguraikan hal-hal berikut Fungsi menurut Radcliffe-Brown: [the function of any
(Koentjaraningrat, [I] 1987: 176): recurrent activity ...] is the part it plays in the
(1) agar suatu masyarakat dapat hidup langsung, maka social life as a whole and therefore the
harus ada suatu sentimen dalam jiwa para warganya contribution it makes to the maintenance of the
yang -merangsang mereka untuk berperilaku sesuai structural continuity.
dengan kebutuhan masyarakat;
(2) tiap unsur dalam sistem sosia: dan tiap gejala atau
benda yang dengan demikian mempunyai efek pada
solidaritas masyarakat, m enjadi pokok orientasi dari
sentimen tersebut;
(3) sentimen itu ditimbulkan dalam pikiran individu
warga masyarakat sebagai akibat pengaruh hidup
masyarakatnya;
(4) adat-istiadat upacara adalah wahana dengan apa
sentimen-ser_timen itu dapat diekspresikan secara kolektif
dan berulang pada saat-saat ±ertentu;
(5) ekspresi kolektif dari sentimen memelihara intensitas
sentimen itu dalam jiwa warga masyarakat, dan
bertujuan meneruskannya kepada warga-warga dalam
generasi berikutnya.
Menurut Malinowski, berbagai unsur kebudayaan
yang ada dalam suatu masyarakat gunanya untuk
memuaskan sejumlah hasrat naluri manusia. Karena
itu unsur "kesenian", misalnya, berfungsi untuk
memuaskan hasrat naluri manusia akan
keindahan; unsur "sistem pengetahuan" untuk
memuaskan hasrat untuk tahu.
Konfigurasi adalah pendapat atau anggapan dasar nilai-nilai
4.2. INTEGRASI PSIKOLOGIS pokok serta tujuan-tujuan utama yang menyerap pelbagai
segi kebudayaan dan yang dengan itu memersatukannya.
Kebudayaan adalah semacam organisme hidup yang
mempunyai bukan hanya alat-alat yang berfungsi, melainkan
juga `jiwa' yang mengarahkan dan mengendalikan fungsi- Arah psikologis yang mempersatukan ini disebut oleh ahli-
fuagsi itu. Para ahli antropologi menyebut `jiwa' atau ahli dengan Weltanschaung atau worldview. Yang jelas,
'pikiran kolektif ini sebagai 'konfigurasi' yaitu sistem pilihan serta pemakaian suatu istilah pada umumnya
gagasan, norma, aturan, pedoman dll. yang membentuk cara bergantung pada segi pandangan yang mau diutarakan atau
berpikir dan menentukan tata-kelakuan individu-individu, sifat/ciri kebudayaan yang mau ditekankan.
adat istiadat. Menurut Ruth Benedict, konfigurasi adalah
satu 'ide pokok' saja; menurut M.E. Opler, `konfigurasi'
adalah suatu 'susunan tema-tema’.

4.2.1. Pengertian konfigurasi

Dari semua kemungkinan untuk menyesuaikan diri pada


lingkungan serta untuk memenuhi kebutuhan dasarnya,
setiap masyarakat memilih cara atau jalan pikiran, sikap
dan cara bereaksi tertentu dengan sekaligus membuang
cara atau jalan lain. Pilihan ini selaras dengan ‘jiwa’
kebudayaannya.
Pola-pola yang padat ini diterangkannya sebagai keharusan
- Jika 'arah utama' ini dipandang sebagai sikap emosional, atau hasil mutlak yang berasal dari dorongan atau desakan
maka orang lalu membicarakan tentang `values, value- (drives) yang khas bagi kebudayaan itu. Akhirnya, ia
attitudes, attitudes, interests'. Nilai-nilai pokok (values) mengakui adanya tingkatan-tingkatan integrasi.
adalah dorongan emosional yang dasar.
- Jika 'arah utama' ini dipandang sebagai pangkal cara Terminologi yang dipakai Benedict diambilnya dari
berpikir, maka dibicarakanlah tentang `premises, psikologi. Istilah 'apollonian' da n 'dionysian' - yang
postulates, assumptions, themes, hypotheses, inner dipinjam dari Nietzsche - sebagai ide-ide utama, yang
logic'. saling berlawanan, yang menyerap seluruh kebudayaan.
- Jika 'arah utama' ini dipandang sebagai motif kegiatan - Apollonian berarti kebudayaan yang bercorak kesadaran tinggi
atau gerakan, maka dibicarakanlah tentang `goals, akan hubungan dengan golongannya (group-conscious),
ideals, sanctions, purposes'. Goals atau motif-motif konformistik, ritualistik, yang tahu menahan diri dan berkurban
utama perbuatan. (restrained), cinta damai demi komunitas.
- Dionysian sebaliknya, introvert, individualistik, self centred,
4.2.2. Teori-teori tentang konfigurasi non-konformistik, agresif.
Pola pola kebudayaan - Ruth Benedict Teori tema-tema - Morris E. Opler
Menurutnya kebudayaan memiliki suatu karakter distingtif Menurutnya, kebudayaan mempunyai bukan hanya satu
yang sangat besar, seperti individu-individu; ada tema saja, tetapi beberapa tema yang erat hubungannya
kebudayaan introvert, paranoid, megalomania. satu sama lain.
Kebudayaan juga berisi bentuk gagasan dan tindakan.
Atas hubungan yang erat ini mereka mengarahkan dan 4.3. KEBUDAYAAN FISIK DAN SISTEM
mempersatukan segala unsur kebudayaan menjadi satu GAGASAN IDEOLOGIS
keseluruhan.

Kebudayaan tidak mempunyai 'jiwa' yang menyerap Artifacts atau 'kebudayaan fisik' meliputi semua benda
semuanya, tetapi ada aturan atau kumpulan yang teratur hasil karya manusia. Contoh: bangunan, benda-benda
antara premises, values, and goals (anggapan-anggapan, bergerak - semua hasil karya manusia yang bisa diindrai
nilai-nilai, dan tujuan atau cita-cita) yang paling bertalian langsung.
dengan anggapa.: dasar filsafat yang kurang lebih tetap.
Premises, values, dan goals pada umumnya tersembunyi, Cultural values atau 'sistem gagasan ideologis' (lapisan
tidak nyata, oleh sebab itu harus dikupas, dipelajari dan terdalam dalam lingkaran konsentris) merupakan gagasan-
dibandingkan ' terus-menerus. gagasan yang telah dipelajari manusia sejak usia dini - dan
karena itu suka diubah.
1) Perkaitan unsur-unsurnya (relatedness)
4.4. TINGKAT-TINGKAT INTEGRASI
Relatedness berarti pertalian semua traits, complexes, dan
Derajat kesempurnaan atau integrasi suatu kebudayaan institutions kebudayaan menurut fungsi dan logikanya yang
bisa berbeda-beda. Ada kebudayaan yang lebih solid khas. Ini berarti unsur-unsurnya saling bergantung satu sama
dalam kesatuannya daripada yang lain; artinya, ada lain.
tingkat-tingkat 'padu' atau `longgarnya kesatuan itu
2) Keteguhan (consistency)
4.4.1. Patokan untuk memastikan tingkat integrasi
Perkaitan bagian-bagian serta hubungan fungsional saja
Tidak satu kebudayaan pun yang terintegrasi secara belum menjelaskan bahwa semuanya bekerja dengan baik
sempurna. Di lain pihak, ada pula kebudayaan yang dan mudah. Fungsi-fungsi dan tema-tema harus tersambung
mengalami disintegrasi dan disorganisasi. teguh dan harmonis, artinya, semakin besar suatu
kebudayaan terintegrasi, semakin baik keselarasan unsur-
Suatu kebudayaan disebut terintegrasi pada tingkat tertentu unsurnya.
dilihat dari sudut isi, fungsi, dan tema-temanya yang
berkaitan erat dan seimbang. 3) Ketimbal-balikan (reciprocity)

Dalam suatu kebudayaan yang terintegrasi dengan baik


unsur-unsurnya bukan saja berkaitan dengan teguh tetapi juga
saling menyokong secara timbal balik. Ini semacam
simbiose, yaitu hidup bersama dengan saling menyokong.
4.4.2. Sintese atau terintegrasi

Teori tentang kebutuhan membantu melukiskan dengan lebih


terang tentang integrasi kebudayaan.

Ada tiga macam kebutuhan manusia:

1) Kebutuhan primer (biological imperatives)

Kebutuhan ini dimiliki baik oleh manusia maupun oleh


hewan. Kebutuhan ini disebut juga
`dorongan/desakan/perintah biologis' (biological
imperatives) yang menyangkut hal-hal seperti:
kebutuhan akan makan,
kebutuhan fisiologis,
kebutuhan melawan iklim,
kebutuhan seksual,
pembiakan,
kesehatan, dll.

.
- 3) Kebutuhan integratif
.
2) Kebutuhan sekunder (derived needs) Disebut demikian karena kebutuhan ini tidak mutlak
harus terpenuhi menurut kodrat sosio-biologis manusia,
Ini langsung berkaitan dengan sifat sosial manusia. Pada tetapi terpancar dari kodratnya sebagai makhluk bermoral dan
dasarnya manusia dapat hidup hanya dalam kelompok berakal budi. Nyata dalam pola-pola magis-religius dan
atau masyarakat. Cara hidup kolektif ini menyebabkan estetik, ilmu pengetahuan dan filsafat, hiburan akan aneka
adanya regangan kekelompokan yang dipuaskan oleh upacara.
pendidikan, bahasa, perekonomian, kepemimpiran,
kerjasama, undang-undang dan politik. Misalnya: kebutuhan Kebutuhan akan penilaian yang benar dan yang salah
berorganisasi atau kegiatan bersama, berkomunikasi, kepuasan
material, pengawasan sosial (kolektif), sistem pendidikan, Kebutuhan menyatakan perasaan kolektif dan rasa
dll. kepercayaan

Kebutuhan akan hiburan don manyatakan perasaan


estetik
BAB 5:
DINAMIKA KEBUDAYAAN
"Kemampuan berubah selalu merupakan sifat yang
penting dalam kebudayaan manusia. Tanpa itu,
kebudayaan tidak mampu menyesuaikan diri dengan
keadaan yang berubah.

5.1. PENGERTIAN DINAMIKA KEBUDAYAAN

Kebudayaan: kesatuan unsur-unsur dalam suatu organisme hidup.


Sebagai organisme hidup, kebudayaan memiliki dua
kecenderungan atau kemungkinan:

untuk tinggal tetap sama (statis, a tendency to persist)


untuk berubah (dinamis, a tendency to change).
5.1.1. Tempat nerubahan budava

Jika suatu kebudayaan berubah, bukan unsur lahiriah pertama--


tama yang berubah, melainkan ide atau gagasannya. Ide itu
bertempat di dalam akal budi. Itu berarti bahwa perubahan
kebudavaan pertama-tama adalah perubahan mental. Target
perubahan itu pertamatama adalah inside the mind.

Artinya perubahan budaya terjadi menurut aturan dan dasar-dasar


psikologis. Hal ini penting disadari, justru karena kebudayaan
itu membentuk tingkah laku masyarakat.

Kebudayaan itu bukan hanya sesuatu yang berhubungan dengan


pikiran saja. Ada interaksi antara kebudayaan dan masyarakat, antara
the code for behaviour dengan actual behaviour. Kebudayaan=
kekuatan sentral yang sangat besar mempengaruhi perilaku
(bahaviour) seseorang, yang pada gilirannya mempengaruhi
aturan (code).
5.1.2. Konstanta dan perubahan

Kebuday aan di satu pihak cenderung untuk tinggal tetap sama


(resisten, stagnan, konstan), di pihak lain cenderung berubah.
Dengan memakai istilah psikologi, setiap individu dalam
masyarakat condong untuk memegang teguh beberapa ide,
membuang yang lain dan menggantikannya dengan yang baru.
Konstanta atau ketetapan dan perubahan adalah dua pengertian
yang bukan hanya berlawanan tetapi juga saling berhubungan
dan bergantungan.

Untuk memajukan program atau kebijakan pembangunan, ahli-


ahli antropologi biasanya bekerja menurut beberapa tahap:
(1) meneliti, mencari dan menentukan kebutuhan masyarakat,
(2) memformulasikan kebijakan dan memilih alternatif solusi
atas masalah yang dihadapi masyarakat tersebut,
(3) merencanakan dan melaksanakan proyek sesuai dengan
kebijakan dan rencana yang telah ditetapkan, dan
(4) menilai hasil kerja proyek melalui riset evaluasi.

5.1.3. Variasi perubahan

Sebuah pola kebudayaan selalu berupa lapangan. yang penuh


dengan kemungkinan-kernungkinan dan variasi-variasi.
Peninggalan (survivals) ialah traits atau complexes yang
5.1.4. Macam-macam perubahan
fungsinya berubah dalam waktu lampau, dan sekarang tinggal
sebagai suatu kebiasaan saja yang kurang lebih kosong; suatu
(1) Luasnya perubahan (the extent of change)
formalitas atau konvensi saja.
Konservatisme umum (general persistence) terjadi kalau suatu
(2) Derajat perubahan (the rate of change)
masyarakat melawan perubahan dalam segala bidang. Artinya,
kebudayaan tersebut tidak mau menerima apa pun yang baru dan
Revolusi ialah perubahan mendadak yang dipercepat oleh
tinggal tetap dalam keadaan tertentu (sejak dahulu kala). Coba
kekerasan dan menyangkut seluruh kebudayaan; semua ide
peihatikan kebijaksnkebijakan sekolah, pengertian tentang
lama dibuang dan diganti dengan ide-ide haru.
hygiene, pola-niode pakaian, dlsb.
Mode ialah perubahan sesaat atau sesewaktu yang singkat
Konservatisme seksional (sectional persistence) hanya mengenai waktunya dan terjadi pada satu atau beberapa aspek kehidupan.
beberapa aspek kebudayaan, yakni unsur-unsur yang kuat dan amat Contoh: pakaian, rambut, mobil, dll.
sulit berubah. Umpamanya, agama (kepercayaan) termasuk unsur
yang sangat kuat resistensinya dalam setiap kebudayaan. Tren jangka panjang (long-term trend) adalah perebahan
sesewaktu atau remeh dalam suatu unsur kebudayaan dan
Konservatisme parsial (partial persistence) ialah suatu bagian berlangsung dalam jangka waktu yang agak lama.
khusus dari sectional persistence mengenai suatu kebiasaan yang
jarang berlaku. Artinya, dipakai hanya dalam situasi tertentu, Arus budaya (cultural drift) ialah suatu proses yang secara
misalnva tari-tarian sakral atau tari-tarian kraton yang memiliki evolutif mengubah sifat dan cara hidup, tetapi dengan tidak
fungsi dan tujuannya tertentu. memutuskan hubungan dengan masa lanpau atau cara lama.
Tetap ada kontinuitas dalam perubahan itu.

Peristiwa bersejarah (historical accidents) yang bersifat kebetulan


adalah perubahan yang mendadak yang berasal dari dalam atau
dari luar kebudayaan.
(3) Objek perubahan (the object of change)
Fusi (fusion) adalah percampuran unsur baru dengan
Perubanan dapat terjadi pada salah satu atau yang lama atau tradisional yang kurang lebih
ketiga tingkat kebudayaan: dalam 'bentuk', dalam sama isi dan bentuknya. Misalnya masuknya
fungsi, maupun dalam asumsi-asumsi dasar, nilai- kata-kata asing tanpa meniadakan logat asli.
nilai dan drives. Perubahan ini bisa mempengaruhi
trait, complex, institution atau bahkan jangkauan yang
lebih luas dalam sikap. Misalnya, perubahan
bentuk bangunan gereja. Perubahan 5.2. PROSES PERUBAHAN BUDAYA
model/bentuk menunjukkan adanya perubahan
gagasan maupun nilai. Perubahan budaya dapat ditinjau dari tiga aspek,
sebagai suatu proses konsekutif
(4) Cara perubahan (the manner of change)

Penggantian (substitution) terjadi, kalau satu unsur


tradisional dihalau oleh unsur baru. Penggantian
juga bisa sempurna (complete) atau tidak sempurna
(partial) tergantung pada penghapusan sama sekali
atau tidak dari suatu unsur lama.

Penghilangan (loss with no replacement) terjadi kalau


satu unsur lenyaa tanpa penggantinya. Seringkali
peng.hilanQan adalah akibat suatu reaksi
berantai. Penghilangan sering tergabung dengan
'penghapusan' suatu kepercayaan atau tabu
tabu. Termasuk di sini segala mitos dan
kepercayaan sia-sia. Bdk. misalnya sikap Gereja
pra-Konsili terhadap kebudayaankebudayaan
daerah!

Penambahan (incrementation with no displacement) terjadi


kalau unsur baru diterima dan unsur lama tetap
tinggal.
1) Aspek primer atau inovatif: proses-proses yang
membangkitkan perubahan atau yang memberikan Penemuan baru menjadi invention (membuat sesuatu yang baru)
dorongan untuk perubahan --> originasi, difusi, akulturasi. bila masyarakat mengakui, menerima, dan menerapkan
2
) Aspek sekunder atau integratif proses-proses dalam penemuan baru itu.
mana pembaharuan yang dibangkitkan dalam tahap
permulaan diintegrasikan ke dalam keseluruhan Penciptaan yang baru (invention) selalu terjadi di atas pengalaman
kebudayaan -- reinterpretasi, ramifikasi sebelumnya, yang menjadi latarbelakang bagi seluruh
3) Aspek akibat atau tujuan proses perubanan: keseluruhan kebudayaan.
arah perubahan budaya dalam korelasi antara Dibedakan antara penciptaan dasar dan penciptaan sekunder.
perkembangan dan kemunduran, antara perluasan dan Penciptaan dasar (basic developmental revolutionary): penciptaan
penyederhanaan, antara pertumbuhan dan penyusutan, yang menjadi dasar atau batu loncatan untuk penciptaan-
antara keseimbangan dan kegoncangan. Korelasi penciptaan berikutnya. Peaciptaan sekunder atau modifikatif:
merupakan dinamika kultural suatu masyarakat untuk aplikasi dan modifikasi dengan menggunakan sesuatu yang
mencapai integrasi dan ekuilibrium. sudah ada.

5.2.:. Inovasi: Aspek Primer perubahan budava

Penciptaan ('origination')

Disebut 'penciptaan' jika perubahan itu muncul dari dalam


kebudayaan itu sendiri; karena kebetulan atau kesengajaan. Proses
ini biasa juga disebut 'inovasi'. Inilah yang esensial dalam
penciptaan, yakni timbulnya `dari dalam' masyarakat yang
bersangkutan dan bukan sebagai pinjaman’ dari luar.
Difusi (`diffusion') Ada beberapa jenis difusi:
1) stimulus diffusion: terjadi kalau ide (stimulus) dipinjam dan
Lawan 'penciptaan' adalah 'difusi', yakni perubahan yang terjadi selanjutnya dikerjakan oleh masyarakat yang meminjam.
oleh pengaruh dari luar masyarakat. De facto kebanyakan Pure diffusion: pinjaman langsung hasil produksinya, bukan
perubahan kebudayaan disebabkan oleh peminjaman dari ide.
kebudayaan lain. Isolasi dan pembatasan diri pada penciptaan 2) Difusi bertahap dan difusi mendadak dibedakan berdasarkan
sendiri semata-mata menyebabkan stagnasi. Dari sejarah terbukti cepat lambatnya penerimaan.
bahwa perkembangan kebudayaan sejajar dengan keterbukaan dan 3) Difusi objektif dan difusi tekhnik. Pada yang pertama, obyek
sa1ing mempengaruhi. Isolasi mematikan perkembangan. Maka (barangnya) yang dipinjam; pada yang kedua, `know-
kebudayaan-kebudayaan, yang letaknya memungkinkan banyak how'nya yang dipinjam.
kontak, berkembang lebih cepat. 4) Difusi strategik: pinjaman itu memerlukan persiapan yang agak luas
dan mendalam (industrialisasi, urbanisasi).
Dalam difusi atau penyebaran unsur-unsur kebudayaan, kontak 5) Difusi aktif dan pasif: tergantung dari masyarakat yang
langsung antara kebudayaan yang menerima dan yang memberi, meminjarrt, aktif atau pasif dalam penerimaannya.
tidak mutlak perlu. 6) Difusi dapat mengenai bentuk (rupa), makna, faedah,
maupun fungsi. Yang dipinjam dapat berupa trait saja, atau
complex, atau bahkan seluruh institution .

Cara khusus difusi adalah akulturasi atau kontak dan adaptasi


budaya. Akulturasi pada dasarnya merupakan rangkaian kontak
antar budaya yang menjadi proses dinamis timbal balik.
Akulturasi 3) Adisi (addition), di mana unsur atau kompleks unsur-unsur baru
ditambahkan pada yang lama. Di sini dapat terjadi atau
Akulturasi terjadi bila kelompok-kelompok individu yang tidak terjadi perubahan struktural. Bandingkan dengan
memiliki (berasal dari) kebudayaan yang berbeda saling inkorporasi, yakni sebuah kebudayaan kehilangan
berhubungan secara langsung dengan intensif, dengan timbulnya otonominya, tetapi tetap mempunyai identitas sebagai
kemudian perubahan-perubahan besar pada pola kebudayaan dari subkultur, seperti kasta, kelas, atau kelompok etnis.
salah satu atau kedua kebudayaan yang bersangkutan. Di antara 4) Dekulturasi, di mana bagian substansial sebuah kebudayaan
variabel-variabelnya yang banyak itu termasuk tingkat perbedaan mungkin hilang. Bandingkan dengan kepunahan (ekstinksi), di
kebudayaan; keadaan, intensitas, frekuensi, dan semangat mana sebuah kebudayaan kehilangan orang-orang yang
persaudaraan dalam hubungannya; siapa yang dominan, dan siapa menjadi anggotanya (karena mati atau bergabung dengan
yang tunduk; dan apakah datangnya pengaruh itu timbal balik atau kebudayaan lain), sehingga kebudayaan itu tidak berfungsi
tidak. lagi.
5) Orijinasi ( origination), unsur-unsur baru untuk memenuhi
Akulturasi meliputi fenomena yang timbul sebagai hasil, jika kebutuhan-kebutuhan baru yang timbul karena perubahan
kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang situasi.
berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan 6) Penolakan, di mana perubahan mungkin terjadi begitu cepat,
terus-menerus, yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola sehingga sejumlah besar orang tidak dapat menerimanya. Ini
kebudayaan yang original dari salah satu kelompok atau pada kedua- menimbulkan pPnolakan sama sekali, pemberontakan, atau
duanya. . gerakan kebangkitan.

Untuk menguraikan apa yang terjadi dalam akulturasi para ahli 5.2.2. Integrasi: Aspek sekunder perubahan budava
antropologi menggunakan istilah-istilah berikut:
Segala sesuatu yang baru dalam kebudayaan harus diintegrasikan
1) Substitusi. di mana unsur atau kompleks unsur-unsur ke dalamnya, karena hal-hal baru selalu mengakibatkan
kebudayaan yang ada sebelumnya diganti oleh yang memenuhi disharmoni. Proses sekunder (integratif) ini berusaha mencapai
fungsinya, yang melibatkan perubahan struktural yang hanya kecil keseimbangan dengan menjadikan hal-hal baru itu bagian
sekali. integral dari seluruh sistem hidup. Proses integratif ini tidak
2) Sinkretisme, di mana unsur-unsur lama bercampur dengan yang selalu berhasil, yang akhirnya bisa mengakibatkan timbulnya
baru dan membentuk sebuah sistem baru, kemungkinan besar disorganisasi dalam sistem hidup itu.
dengan perubahan kebudayaan yang berarti. Bandingkan dengan
asimilasi, yaitu dua kebudayaan kehilangan identitas masing-
masing dan menjadi satu kebudayaan baru.
(3) Reinterpretasi faedah
Ada banyak contoh, misalnya, di beberapa tempat, kertas
Penafsiran kembali ('reinterpretation') koran memiliki guna sebagai kertas rokok; lampu minyak tanah
menjadi hiasan; kain panas atau selimut menjadi bahan pakaian
Suatu masyarakat akan menolak mengadopsi suatu ide baru di Peru.
yang dirasakan tidak sesuai dengan sistem budayanya atau
memang tidak dibutuhkan. Namun, bila ide baru itu tampaknya (4) Reinterpretasi fungsi
diinginkan, masyarakat yang bersangkutan akan mulai Tarian hula-hula yang di Hawaii adalah tarian sakral, di
menafsirkannya kembali sehingga ide itu cocok dengan sistem Amerika berubah menjadi bagian dari olahraga.
simbolnya.
Percabangan ('ramification')
(1) Reinterpretasi bentuk (pinjaman)
Dari ketiga level kebudayaaa, pada umumnya 'bentuk' Unsur-unsur kebudayaan tidak terpisan-pisah tetapi saling
(level pertama) yang paling sedikit mengalami modifikasi. berkaitan, maka perubahan dalam satu unsur biasanya
menyebabkan perubahan dalam unsur-unsur lain. Pengaruh yang
(2) Reinterpretasi makna berkaitan ini disebut 'percabangan' (ramification).
Sesuatu yang masuk ke dalam suatu kebudayaan, yaitu
'bentuk' yang telah dikosongkan dari makna dan perkaitan Tidak semua pembaruan bercabang berjalan lancar tanpa konflik
psikologisnya dalam kebudayaan asalnya, mendapatkan jiwa' pribadi dan sosial.
baru dalam ketudayaaa baru.
5.2.3. Aspek akibat dari perubahan budava

Perubahan-perubahan budaya selalu membawa dampak yang


berwajah ganda: perkembangan (development) atau kemunduran;
perluasan (elaboration) atau pcnyederhanaan; pertumbuhan
(growth) atau penyusutan dan segregasi; keseimbangan
(equilibrium) atau kekacauan.
5.3. KONDISI PERUBAHAN BUDAYA

5.3.1. Faktor-faktor umum yang menguntungkan perubahan


 Adanya inovator-inovator yang cocok
 Sikap sosial yang menguntungkan perubahan
 Kebebasan penelitian serta kegiatan
 Kekuatan dan efektivitas kontrol sosial
 Perubahan sebagai faktor pembaruan
 Keselarasan budava sebagai faktor pembaruan
 Penggolongan (factionalism)
 Bencana sebagai faktvr perubahan budaya
(1) Keinginan yang disadari
5.3.2. Kondisi yang menguntungkan Origination Kesadaran bahwa penemuan atau penciptaan baru dapat
menguntungkan si pencipta, sangat mendorongnya untuk
Motivasi yang wajar membuat atau menemukan sesuatu yang baru; biarpun ini
bukan satu-satunya motif mereka.
Inventors (pencipta) dan discoverers (penemu) adalah orang-orang
yang mempunyai motivasi tinggi. Penciptaan-penciptaan baru dan (2) Keinginan yang tak disadari
penemuan-penemuan memang dapat ditelasuri ke motivasi- Banyak orang mempunyai keinginan atau kebutuhan yang tak
motivasi mendalam dan kuat. Motivasi-motivasi itu beragam mereka sadari, yang tersimpan dalam bawah sadar. Inilah yang
seperti juga inovasi-inovasi. sering mendorong orang untuk menemukan sesuatu atau
secara mendadak memberikan pemecahan kepada salah satu
masalah. .

(3) Kreativitas
Seniman atau ahli ilmu pengetahuan, tidak mempunyai motif
lain dalam kegiatannya kecuali untuk menciptakan sesuatu
atau menemukan kebenaran.

(4) Rekonsiliasi ide-ide yang bertentangan


Bisa jadi bahwa usaha untuk memufakatkan ide-ide yang
bertentangan untuk menemukan jalan keluar menjadi motif
penciptaan.
(5) Halangan dan kesulitan
Ada suatu keyakinan yang mendalam pada manusia bahwa Inventarisasi kultural dan individu-individu
halangan-halangan dan segala kesulitan itu ada untuk
diatasi. Pandangan yang agak umum ini biasanya menjadi Perubahan budaya adalah sesuatu yang pertama-tama terjadi di
sebab lahirnya banyak penciptaan baru dalam dunia dewasa dalam pikiran orang perseorangan: persoalan ide atau gagasan
ini seperti obat-obatan dan berbagai pengobatan, operasi yang selalu dikerjakan ulang dan diinterpretrasikan lagi.
plastik, organ-organ tubuh artifisial, transplantasi.

(6) Quest for relief


Tidak sedikit penciptaan dan penemuan baru merupakan hasil usaha-
usaha untuk membubuh kebosanan.

(7) Tuntutan efisiensi dan efektivitas


Meningkatnya hasil penciptaan dan penemuan baru juga
merupakan hasil dari tuntutan efisiensi dan efektivitas.

Luasnya dan kompleksitas kebudayaan

Semua penciptaan baru dibangun di atas dasar kebudayaan dan


penemuan-penemuan yang sudah ada - bahkan suatu
rangkaian penemuan-penemuan yang panjang.
Leisure and peace of mind
Kompetisi
Tekanan (stress) dapat sangat membatasi jangkauan inovasi
Persaingan, perlombaan, dan konkurensi adalah faktor yang paling manusia. Sebaliknya, bila ada cukup waktu luang dan
kuat mendorong penciptaan baru; entah terjadi antara partai politik ketenangan, pikiran bebas dan relaks, maka perhatian-perhatian
atau agama, bisnis atau apa saja. pun akan berkembang beragam dan tidak dipaksa untuk ditujukan
ke satu arah.
Kekurangan dan ketercabutan ('deprivation')

Kekurangan (atau kebutuhan akan sesuatu) merupakan salah satu 5.3.3. Kondisi vany menguntunakan difusi
hal pokok yang mendorong orang atau kelompok orang untuk
berusaha mencari dan mendapatkan imbangannya. (1) jenis masyarakat yang berkontak (the type of
community that is borrowing dan lending)
(a) Besar-kecilnya masyarakat
(b) Kelompok masyarakat yang terlibat dalam difusi
(c) Mayoritas versus minoritas
(d) Migrasi dan difusi

(2) hubungan antara masyarakat yang berkontak (the type


of contact between the two societies)

(a) Intensitas itubungan

(b) Hubungan persahabatan - permusuhan

(c) Lamanya kontak


(3) motivasi peminjaman (the type of motive for
borrowing, motivational factors in diffusion)

(a) Kebutuhan (fell-needs)


(b) Prestise (prestige)
(c) Minat (interest)
(d) Emosi (emotions)

(4) kemungkinan untuk difusi (difusibility atau the type


of idea borrowed).

(a) ide-ide yang simple dan yang kompleks


(b) ide-ide yang memiliki nilai kegunaan dan daya tarik
(c) 'bentuk' lebih mudah berdifusi
(d) hal-hal yang dipelajari--pada usia dini lebih kuat
bertahan daripada yang dipelajari dalam periode berikutnya
(e) nilai-nilai yang dipandang sebagai 'hidup dan mati' (basic
survival) adatah paling kuat bertahan
(f) kebiasaan alternatif paling mudah berubah
(g) pusar kebudayaan dan pusat minat
DINAMIKA KEBUDAYAAN DAN MISI GEREJA
(Louis J. Luzbetak, 1988:300-301)

1) If the Church is mission, it is by its very nature an


agent of culture change. In anthropological and
therefore purely human terms, the work of the
establishment of the Kingdom of God is culture
change (p. 300).
2) Too often, Church policy and strategy are based on
tradition and guesswork rather than on analysis and
on the light obtained from scientific research and
study. Every industry has its team of researchers
whose sole task is to discover more effective and
more efficient ways of manufacturing and marketing
the product in question. The Church needs besides
"salesmen" also capable researchers who are deeply
interested in applying human light to mission action;
not the least important area of needed research and
study is that of culture dynamics (p. 301).
3) Today as Christians we cannot afford to take a
leisurely pace.
Radical changes are taking place all around us,
overnight. Christians must somehow keep up with this
breakneck speed. Unfortunately, little i3 known about
revolutionary change and how to deal with it. Today,
scholars and experts in every field, especial:y at
Christian universities and research centers, must look
beyond their purely secular responsibilities and help
those engaged in mission better understand the ~
meaning of revolution and what mission in a revolutionary
age really entails. Rc-volutionary approaches are needed in
revolutionary times. Willy-nilly, revolutionary apostolic
methods are no longer a matter of choice for the Church.
In the mad race forced upon the Christian today, mere is
no choice for the Church, unless, of course, the Chwch
does not mind being left behind ir. the dust (p. 301)..
4) The locus of culture change is the individual mind. When
culture ~~anges, it is the set of ideas that individuals
share with one another that citanges. Because the
commission given the Church is the "make disciples"
of all nations, the Church's task is that of an cducator: its
task
is to bi ing about a change in the mind and heart of
"disciples". It is "the mind of Christ" (1Cor 2:16) that