Anda di halaman 1dari 41

IDENTIFIKASI ZAT AKTIF PERMUKAAN

LAPORAN

diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Praktikum Zat Pembantu Tekstil

oleh:

Adzkia Nurqodri Al-Hamed

17020007

PROGRAM STUDI KIMIA TEKSTIL

POLITEKNIK SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Maksud dan Tujuan :


1.1.1. Daya tahan sadah, Daya tahan asam & Daya tahan alkali
- Untuk menguji daya tahan zat aktif permukaan terhadap garam penyebab sadah dari air
sadah
- Untuk menentukan daya tahan zat aktif permukaan terhadap asam dengan konsentrasi
tertentu
- Untuk menentukan daya tahan zat aktif permukaan terhadap alkali
1.1.2. Daya Basah
Untuk mengetahui daya basah zat aktif permukaan terhadap benang kapas dengan
konsentrasi tertentu
1.1.3. Densitas&Viskositas
Untuk menentukan berat jenis suatu larutan pada beberapa konsentrasi dan
menentukan kekentalan suatu larutan
1.1.4. Penggolongan ZAP Cara Wutzchmitt&Cara Linsenmeyer
Untuk mengidentifikasi suatu golongan ZAP dengan mengggunakan cara
Wurtzchmitt dan Linsenmeyer
1.1.5. Solid content dan pH
Untuk menentukan kadar solid content dan pH pada larutan ZAP
1.1.6. MBAS (Metylene Blue Active Substances)
Untuk menganalisa kadar MBAS dalam surfaktan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Dasar Teori


Dalam industri tekstil, terutama untuk proses basah seperti pemasakan, pengelantangan,
pencapan, pencelupan dan penyempurnaan, banyak digunakan zat aktif permukaan sebagai zat
pembantu tekstil. Zat aktif permukaan mempunyai sifat khas, yaitu mempunyai kecenderungan
untuk berpusat pada antarmuka dan mempunyai kemampuan untuk menurunkan atau menaikan
tegangan permukaan. Molekul zat aktif permukaan terdiri dari dua gugus yaitu gugus hidrofil dan
hidrofob .
Zat aktif permukaan adalah zat yang cenderung terkonsentrasi pada antar muka dan
mengaktifkan antar muka serta mempunyai kemampuan untuk menurunkan atau menaikkan
tegangan permukaan. Molekul zat aktif permukaan terdiri dari dua gugus penting yaitu gugus
hidrofil (menarik pelarut) dan hidrofob (menolak pelarut). Gugus hidrofob biasanya terdiri dari
rantai alifatik yang umumnya paling sedikit sepuluh atom karbon (C). Gugus hidrofob bersifat
menjauhi air. Dan gugus hidrofil yang memiliki sifat mendekati air.

Klasifikasi zat aktif permukaan


a. Berdasarkan penggunaannya, maka zat aktif permukaan dapat digolongkan:
 Sebagai pembasah (wetting agent)
 Sebagai zat pencuci (detergent)
 Sebagai zat anti busa (anti foaming agent)
 Sebagai emulgator (emulsifier)
 Sebagai zat tahan air
 Dan lain-lain

b. Berdasarkan struktur kimianya :


 Menurut Linsenmeyer (9 golongan)
 Menurut Wurtzchmitt (8 golongan)

c. Berdasarkan sifat elektrokimia dan ionisasi molekul di dalam medium air adalah sebagai
berikut :
1. Zat aktif anion
2. Zat aktif kation
3. Zat aktif amfoter atau amfolitik
4. Zat aktif nonion
Zat Aktif Permukaan Anion
Zat aktif permukaan anion adalah zat aktif permukaan yang dalam pengionannya didalam medium
air dengan rantai panjangnya membawa muatan negatif. Zat aktif anion berfungsi untuk menurunkan
tegangan permukaan.
Biasanya dalam ZAP anion dalam strukturnya terdapat gugus
a. Senyawa karboksilat : -(R-COO-)-
b. Senyawa ester sulfat : -(R-COSO3)-
c. Senyawa aklil sulfonat : -(R-SO3)-
d. Senyawa anion lainnya yang bersifat hidrofil

Zat Aktif Permukaan Kation


Zat aktif permukaan kation adalah zat aktif permukaan yang dalam pengionannya didalam medium
air dengan rantai panjangnya membawa muatan positif. Zat aktif kation berfungsi untuk menaikan
tegangan permukaan.
Biasanya dalam ZAP kation dalam strukturnya terdapat gugus
a. Senyawa amino : - [-R-N(R`R``)H-]+
b. Senyawa amonium : - [-R-N(R`R``R```)-]+
c. Senyawa basa yang tidak mengandung nitogen : - [-R-S(R`R``)-]+
d. Senyawa basa yang mengandung Nitrogen :

Zat Aktif Permukaan Nonion


Zat aktif permukaan nonion adalah ZAP yang tidak terjadi pengionan larutan atau medium
Biasanya dalam ZAP nonionik dalam strukturnya terdapat gugus :
a. ikatan eter pada gugus terlarut : -R-R`(OR)x -OH
b. ikatan ester : -R-COO-R`-(OH)x
c. ikatan amida : -R-CO-NH-R`-(CONH)x -COOL
d. ikatan amina : -R-NH-(OR)x -OH

Zat Aktif Permukaan Amfoter


Zat aktif permukaan amfoter adalah zat aktif permukaan yang dalam pengionannya didalam
medium dengan rantai panjangnya membawa muatan negatif atau postif, bergantung pada pH larutan.
Dalam suasana asam maka ZAP akan bermuatan positif atau bersifat kationik dan dapat menaikkan
tegangan permukaan. Dalam suasana alkali akan bermuatan negatif atau bersifat anion dan dapat
menurunkan tegangan permukaan. Dalam suasana netral maka ZAP ini tidak akan bermuatan apa-apa.
Biasanya dalam ZAP anion dalam strukturnya terdapat gugus :
a. ikatan amino dan karboksilat
b. ikatan amino dan ester sulfat

Sifat-sifat Zat Aktif Permukaan :

Umum
- Sebagai larutan koloid.
- Mempunyai absorpsi positif dan negatif.
- Dapat membentuk misel sferik dan lamerar.
- Memiliki gaya untuk melarutkan kotoran
- Membentuk larutan koloid didalam air
khusus
- Zat aktif permukaan memiliki sifat khusus yang berupa pembasahan, pembasahan ini terdiri dari
beberapa, yaitu:
- pembasahan penyebaran (Spreading),
- pembasahan adisi Adhesion)
- pembasahan penyilaman (Immersion)
- pembasahan kapiler

Zat aktif permukaan dapat dibuat dari


1. Sabun
2. Minyak yang disulfatkan atau disulfonkan
3. Parafin / olefin disulfatkan/disulfonkan
4. Arakil sulfonat
5. Alkil sulfat
6. Kondensat asam lemak
7. Senyawa polietilen oksida (poliglikol eter)

2.1.1. DAYA TAHAN SADAH, ALKALI & ASAM


a. Daya tahan sadah
Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya
ionkalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras
adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan
kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa
merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat.
Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun.
Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan
menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali busa. Cara yang lebih kompleks adalah
melalui titrasi. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan ppm berat per volume (w/v) dari
CaCO3.
Total Kesadahan Air ditunjukan dengan jumlah kandungan kalsium dan magnesium,
dan dinyatakan dalam grain per galon kalsium karbonat. Kalsium dan magnesium akan
bergabung dengan ion alkali untuk membentuk kalsium karbonat. Kalsium karbonat adalah
salah satu komponen pengerasan dan pengapuran. Pengapuran tidak dapat dilarutkan dengan
air sehingga residu putih akan tetap menempel pada permukaan yang terkena air yang
mengandung kalsium karbonat. Air alami kebanyakan mengandung bikarbonat dengan sedikit
ion karbonat. Bikarbonat dapat berubah menjadi karbonat jika dipanaskan sehingga reaksi
formasi pengapuran lebih sering muncul dalam air panas. Sebagian besar deterjen kami
memiliki batas toleransi kekerasan kurang dari 10 gpg (171 ppm) pada konsentrasi yang efektif.
Air dengan tingkat kekerasan 8 gpg (136.8 ppm) kekerasan total harus dilemahkan demi
kebersihan yang efisien. Apabila Kesadahan Air pelanggan lebih tinggi daripada Kesadahan
Air yang dapat ditoleransi oleh deterjen biasa, gunakan deterjen dengan level yang lebih tinggi
atau tambahkan konsentrasi penggunaan deterjen.

Penyebab air sadah


Air sadah ditimbulkan oleh adanya senyawa kalsium hidrogen karbonat. Senyawa
ini terbentuk ketika air hujan meresap ke dalam batu kapur yang mengandung senyawa kalsium
karbonat (CaCO3). Kalsium karbonat tidak larut dalam air, tetapi air hujan yang sedikit asam
karena mengandung karbon dioksida dapat bereaksi dengan batu kapur menghasilkan kalsium
hidrogen karbonat yang dapat larut dalam air. Reaksi yang terjadi sebagai berikut.

CaCO3(s) + CO2(g) + H2O(l) → Ca(HCO3)2(aq)


batu kapur air hujan kalsium hidrogen karbonat

Jenis air sadah


Kesadahan air dibedakan atas kesadahan sementara dan kesadahan tetap. Air sadah
sementara adalah air sadah yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air
tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium
bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air yang mengandung ion atau senyawa-senyawa tersebut disebut air
sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air
tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa
tersebut akan mengendap pada dasar ketel.
Kesadahan sementara (temporary hardness) disebabkan oleh garam-garam hidrogen
karbonat, yaitu Ca(HCO3)2 atau Mg(HCO3)2. Reaksi yang terjadi adalah:

Ca(HCO3)2 (aq) → CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)

Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion bikarbonat,
misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi berupa
kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida
(MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang
mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa
dihilangkan hanya dengan cara pemanasan.Kesadahan tetap (permanent hardness) disebabkan
oleh garam CaSO4, CaCl2, MgSO4, dan MgCl2.

Penghilangan kesadahan
Kesadahan sementara dapat dihilangkan dengan cara :
1. Mendidihkan atau memanaskan air tersebut, karena garam karbonat mengendap pada
pemanasan.
Ca(HCO3)2 (aq) →CO3 (s) + CO2 (g) + H2O (l)
2. Menambahkan larutan Ca(OH)2
Ca(HCO3)2 (aq) + Ca(OH)2 (aq) → 2CaCO3 (s) + 2H2O (l)

Kesadahan tetap dapat dihilangkan dengan cara-cara berikut :


1. Proses soda-kapur
Menurut cara ini, air sadah direaksikan dengan soda Na2CO3 dan kapur Ca(OH)2, sehingga
ion-ion Ca2+ dan Mg2+ diendapkan.
Ca(HCO3)2(aq) + Ca(OH)2(aq) → (2CaCO3(s) + 2H2O(l)
MgSO4(aq) + Ca(OH)2(aq) →Mg(OH)2(s) + CaSO4(aq)
CaSO4(aq) + Na2CO3(aq) → CaCO3(s) + Na2SO4(aq)
2. Proses zeolit
Dengan cara ini, air sadah dialirkan melalui natrium zeolit, sehingga ion-ion Ca2+ dan Mg2+
akan diikat zeolit menggantikan ion Na+ membentuk kalsium atau magnesium zeolit.
3. Distilasi (penyulingan)
Cara ini relatif mahal khususnya untuk produksi dalam jumlah besar.
4. Menggunakan resin penukar ion
Resin penukar ion kini banyak digunakan untuk melunakkan air, baik untuk kebutuhan
rumah tangga maupun industri. Resin penukar ion mengandung ion-ion natrium bebas.
Jika air sadah dilewatkan melalui resin penukar ion, maka resin akan menahan ion-ion
kalsium dan magnesium. Sehingga diperoleh air lunak yang tidak lagi mengandung ion
kalsium dan magnesium, tetapi mengandung ion natrium yang tidak menimbulkan
kesadahan. Regenerasi resin penukar ion dilakukan dengan mengalirkan larutan natrium
klorida pekat melalui kolom. Air lunak yang dihasilkan dari proses ini mengandung ion
natrium dalam kadar yang relatif tinggi.

Keuntungan dan kerugian dari air sadah


Air sumur merupakan salah satu contoh air sadah.Air sadah dapat
menguntungkan dan merugikan bagi kehidupan kita.
a) Keuntungan yang dapat diperoleh dari air sadah sebagai berikut.
 Mempunyai rasa yang lebih baik daripada air lunak.
 Menyediakan kalsium yang diperlukan tubuh, misalnya untuk pembentukan gigi dan
tulang.
 Senyawa timbal (dari pipa air) lebih sukar larut dalam air sadah. Timbal merupakan
racun bagi tubuh.
b) Kerugian yang ditimbulkan air sadah sebagai berikut.
 Memboroskan sabun
 Karena air sadah menggumpalkan sabun membentuk scum, sehingga sabun tidak
akan berbuih sebelum ion Ca2+ dan Mg2+ mengendap.
 Scum dapat meninggalkan noda pada pakaian, sehingga pakaian menjadi kusam.
 Menimbulkan batu ketel
 Batu ketel adalah sejenis karang yang terbentuk pada dasar ketel. Adanya batu ketel
mengakibatkan penghantaran panas dari ketel ke air berkurang, sehingga
akanmemboroskan penggunaan bahan bakar. Selain itu, batu ketel dapat menyumbat
pipa saluran air panas, misalnyapada radiator.

Dampak air sadah


Kesadahan pada air menyebabkan air sulit berbuih.Jika sabun dicampur dengan air
sadah, maka buih atau busa tidak muncul. Percampuran air sadah dengan sabun menghasilkan
gumpalan sabun (scum).

2NaSt (aq) + Ca(HCO3)2(aq) → Ca(St)2 (s) + 2NaHCO3 (aq)


NaSt = Natrium Strearat = C17H35COO-Na+
Kesadahan air dapat ditentukan dengan menggunakan sabun.Jumlah sabun yang
dibutuhkan untuk menghasilkan buih atau busa pada air menunjukkan tingkat kesadahan
tersebut.

b. Daya tahan alkali


Definisi umum dari basa atau alkali adalah senyawa kimia yang
menyerap ion hidroniumketika dilarutkan dalam air. Alkali adalah lawan dari asam, yaitu
ditujukan untuk unsur atau senyawa kimia yang memiliki pH lebih dari 7. Kostik merupakan
istilah yang digunakan untuk basa kuat.
Basa dapat dibagi menjadi basa kuat dan basa lemah. Kekuatan basa sangat tergantung pada
kemampuan basa tersebut melepaskan ion OH dalam larutan dan konsentrasi larutan basa
tersebut.
Pengujian daya tahan alkali secara kualitatif dilakukan dengan penambahan NaOH 25%
kedalam larutan detergen yang kemudian dididihakan dengan memakai pendingin refluks,
dicatat adanya pemisahan minyak atau terjadinya penggaraman pada larutan detergen kemudian
disaring dan diambil residunya diencerkan dan dinetralkan dengan asam dengan penunjuk
indikator metil jingga.
Setelah cukup dikocok dan dididihkan, diamati adanya pemisahan minyak apabila terjadi
pemisahan dan obat tidak stabil didalam asam encer, ZAP dinyatakan tidak stabil dan tidak
tahan alkali.Apabila ZAP tidak larut atau terjdi penggaraman di dalam larutan alkali, dan
kemudian larut sempurna didalam larutan asam, serta tidak terjdi pemisahan asam lemaknya,
detergen dinyatakan stabil dan tahan alkali.

c. Daya tahan asam


Pengujian daya tahan alkali secara kualitatif dilakukan dengan penambahan NaOH
25% ke dalam larutan detergen, yang kemudian di didihkan dengan memakai pendingin refluks,
dicatat adanya pemisahan minyak atau terjadinya penggaraman pada larutan detergen.
Kemudian disaring dan diambil residunya. Residu diencerkan dan dinetralkan dengan asam
dengan penunjuk indikator metil jingga.
Asam (yang sering diwakili dengan rumus umum HA) secara umum
merupakan senyawa kimia yang bila dilarutkan dalam air akan menghasilkan larutan
dengan pH lebih kecil dari 7. Dalam definisi modern, asam adalah suatu zat yang dapat
memberi proton (ion H+) kepada zat lain (yang disebutbasa), atau dapat menerima
pasangan elektron bebas dari suatu basa. Suatu asam bereaksi dengan suatu basa dalam
reaksi penetralan untuk membentukgaram. Contoh asam adalah asam asetat (ditemukan
dalam cuka) dan asam sulfat (digunakan dalam baterai atau aki mobil). Asam umumnya berasa
masam, tapi cairan asam pekat sangat berbahaya dapat merusak kulit dan hati-hati mata, jika
terpercik asam pekat bisa berakibat kebutaan. Jika kena asam pekat harus langsung dicuci
dengan air mengalir sampai benar-benar bersih.
Pengujian terhadap asam menunjukan ZAP ketahan ZAP terhadap asam, yang ciri,
yaitu saat dipanaskan masih berbusa dan tidak terlihat adanya minyak. Kesalahan pengujian
kemungkinan disebabkan : Pengamatan yang kurang teliti, dan kurang pahamnya praktikan
dalam memahami keterangan pada petunjuk praktikum dan melihat apakah larutan uji tersebut
masih ada daya busa, atau adanya pemisahan minyak, karena minyaknya tidak terlihat seperti
minyak goreng yang diteteskan pada air bentuknya terlihat. Lapisan atas itu terlihat seperti
minyak padahal itu merupakan cekungan air dalam Erlenmeyer.

2.1.2. DAYA BASAH


Daya tahan basah yang dilakukan pada percobaan ini untuk pembasahan dan
penyebaran pada permukaan benda padat, bergantung pada besarnya sudut kontak pada antar
muka padat-cair dan penurunan tegangan antar muka. Cara ini dilakukan dengan menggunakan
kait dan bandul sebagai pemberat dengan bobot tertentu. Di mana ketentuan untuk bandul
pemberat adalah terbuat dari logam timbal tahan karat, berat 40 gram dan diameter 4
cm,panjang benang pembantu 2cm.
Sejumlah berat benang dengan nomor tertentu, diberi bahan dengan kait dan bandul tersebut
dan dibiarkan tenggelam dalam larutan ZAP tersebut, hingga tercapai titik akhir pada saat
penenggelaman.
Suatu molekul dalam rongga cairan akan mengalami tari-menarik dan tolak menolak
ke segala arah (ke kanan, ke kiri, ke atas dan ke bawah), tetapi suatu pada antarmuka tidak sama
tarik-menariknya (hanya ke kanan, ke kiri dan ke bawah), sehingga molekul tersebut akan
mengalami gaya tarik total ke bawah (ke dalam) dan terjadi tegangan permukaan atau tegangan
antarmuka. Jadi tegangan permukaan adalah gaya dalam dyne yang bekerja pada permukaan
sepan jang 1 cm dan dinyatakan dalam dyne/cm, atau energi yang diperlukan untuk memperb
esar permukaan atau antarmuka sebesar 1 cm2 dan dinyatakan dalam erg/cm2.
Zat aktif permukaan mempunyai sifat khas, yaitu mempunyai kecenderungan
untuk berpusat pada antarmuka d n mempunyai kemampuan menurunkan atau menaikkan
tegangan permukaan atau antarmuka.Bila setetes cairan diteteskan pada permukaan benda
padat, maka cairan tersebut dapat menutupi permukaan zat padat.Gejala ini disebut
pembasahan.Misalkan zat padat ditetesi cairan L dan terjadi pembasahan. Antarmuka sv akan
diganti menjadi antarmuka sl.
2.1.3. DENSITAS DAN VISKOSITAS
Density (kerapatan) adalah berhubungan dengan konsentrasi. Yaitu fasa terlarut dan
fasa pelarut, semakin banyak pelarut maka kadar zat terlarut akan semakin berkurang ini berarti
kerapatannya berkurang, demikian pula sebaliknya. Cara pengukurannya adalah dengan
membandingkan air yang sudah diketahui nilai kerapatannya dengan larutan ZAP yang diambil
pada volume yang sama dan pada suhu yang sama.
Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan fluida yang diubah baik
dengan tekanan maupun tegangan. Pada masalah sehari-hari (dan hanya untuk fluida),
viskositas adalah "Ketebalan" atau "pergesekan internal". Oleh karena itu, air yang "tipis",
memiliki viskositas lebih rendah, sedangkan maduyang "tebal", memiliki viskositas yang lebih
tinggi. Sederhananya, semakin rendah viskositas suatu fluida, semakin besar juga pergerakan
dari fluida tersebut.
Viskositas menjelaskan ketahanan internal fluida untuk mengalir dan mungkin dapat
dipikirkan sebagai pengukuran dari pergeseran fluida. Sebagai contoh, viskositas yang tinggi
dari magma akan menciptakan statovolcano yang tinggi dan curam, karena tidak dapat
mengalir terlalu jauh sebelum mendingin, sedangkan viskositas yang lebih rendah
dari lava akan menciptakan volcano yang rendah dan lebar. Seluruh fluida (kecuali superfluida)
memiliki ketahanan dari tekanan dan oleh karena itu disebut kental, tetapi fluida yang tidak
memiliki ketahanan tekanan dan tegangan disebut fluide ideal.

2.1.4. PENGGOLONGAN ZAP CARA WUTZCHMITT DAN LINSENMEYER


Zat aktif permukaan dibedakan antara penggolongan menurut sifat aktif ionnya yaitu golongan
anion dan golongan aktif nonion yang pada umumya bersifat menurunkan tegangan permukaan dan
golongan aktif kation yang bersifat menaikkan tegangan permukaan. Analisa penggolongan dapat
dilakukan menurut cara Wurtzschmitt. Wurtzchmitt membagi ZAP menjadi 8 golongan, yaitu:
1. Kondensat Polialkohol
2. Kondensat alkilol amin
3. Zat aktif anion
4. Zat aktif kation
5. Polialkilena amina (bukan hanya kwartener)
6. Polialkilena oksida dengan lebih dari 10 mol etilen oksida tidak tersulfonkan
7. Polialkilena oksida dengan 10 mol etilena oksida tidak tersulfonkan
8. Polialkilena tersulfunkan
Tabel penggolongan menurut Wurtzchmitt
Hasil Pengujian
Golongan
a b C D E f g h
I - - - - - - - -
II - - - - - - - -
III + - - - - -/+ - -
IV - + - - - - + +
V - + - + - + - -
VI - - + + - + - -
VII - - - + + + - -
VIII + - - - - - + -

Sedangkan penggolongan lain menurut struktur kimia zat aktif permukaan yaitu Analisa
penggolongan berdasarkan struktur kimia dapat dilakukan menurut cara Linsenmeyer. Linsenmeyer
membagi ZAP menjadi 9 golongan yang condong menunjukkan sifat molekul ZAP, yaitu:
1. Sabun
2. Minyak tersulfonkan
3. Minyak tersulfonkan tingkat tinggi atau terkondensasi
4. Naftalin sulfonat
5. Alkilalkilol sulfonat
6. Mersolat
7. Kondensat asam lemak
8. Kondensat protein asam lemak
9. Kondensat etilena oksida
Dalam proses zat aktif permukaan akan mengaktifkan permukaan dan cenderung untuk
berpusat pada permukaan. Tergantung dari fungsinya, zat aktif permukaan bersifat menurunkan
tegangan permukaan seperti proses pemasakan, pembasahan, dan pencucian, selain itu juga bersifat
menaikkan tegangan permukaan seperti proses pelemasan dan tolak air (water proof). Zat aktif
permukaan bekerja pada permukaan serat maupun air, sifat umum zat aktif permukaan yaitu :
1. Tegangan permukaan
ZAP dapat menaikkan dan menurunkan tegangan permukaan. Surfaktan menurunkan
tegangan permukaan air dengan mematahkan ikatan-ikatan hydrogen pada permukaan.
Prosesnya yaitu dengan menaruh kepala-kepala hidrofiliknya pada permukaan air dengan
ekor-ekor hidrofobiknya terentang menjauhi permukaan air.
2. Sebagai larutan koloid
Zat aktif permukaan terdiri atas gugus hidrofil dan hidrofob.
3. Adsorpsi permukaan
Adsorpsi terdiri dari adsorpsi positif dan adsorpsi negatif. Adsorpsi positif terjadi jika
tegangan permukaan larutan lebih kecil dari tegangan permukaan zat terlarut. Zat terlarut
terkonsentrasi pada permukaan. Sedangkan adsorpsi negatif terjadi jika tegangan permukaan
larutan lebih besar dibanding tegangan permukaan zat terlarut. Zat terlarut terkonsentrasi
dalam rongga larutan.
4. Dapat melarutkan kotoran
Pembulatan kotoran : kotoran diikat membentuk misel
Konduktivitas misel sperik > konduktifitas misel lameral
Lemak larut dalam pelarut organik
Selain sifat-sifat diatas, ZAP juga mempunyai sifat khusus yaitu sifat pembasahan, yaitu terjadi
bila setetes cairan diatas permukaan benda padat dapat menutupi permukaan benda padat tersebut.
Sifat pembasahan terdiri dari:
1. pembasahan penyebaran (spreading)
terjadi bila cairan mengembang diatas permukaan benda padat sehingga memindahkan masa
lainnya (udara/kotoran) dari permukaan benda padat tersebut.
2. pembasahan adisi (adhesion)
terjadi pada pelemasan, waterproof, jenis kationik, tegangan permukaan tinggi. Terjadi bila
cairan tepat berada pada permukaan benda padat sehingga mempunyai luas antar muka yang
sama.
3. pembasahan penyilaman (Immersion)
terjadi bila suatu benda padat dapat ditembusa suatu cairan sehingga benda padat tadi
melayang pada fasa cairan
4. pembasahan kapiler
terjadi bila serat tekstil dianggap sebagai suatu kapiler maka pembasahan pada pori-pori serat
merupakan gejala kenaikan pada pipa kapiler.
Untuk mengetahui secara langsung mutu zat aktif permukaan perlu dianalisa fungsi pokok dari
pada zat aktif permukaan yang digunakan dalam proses. Misalnya daya basah dan daya cuci untuk
zat pembasah, perata dan pencuci untuk deterjen. Untuk menentukan sifat keaktifan zat aktif
permukaan , hal itu dinyatakan sebagai hidrophile-lilophile-balance (HLB) yang merupakan skala
penentu sifat keaktifan zat aktif permukaan. Secara kwantitatif HLB dinyatakan dalam skala 0-
20 dari sangat hidrofob (HLB=0) menjadi sangat hidrofil (HLB=20). Porsi hidrofob dan hidrofil
yang seimbang menunjukkan skala HLB=10
BM hidrofil  100
HLB 
BM surfak tan 5
Selain pengujian tersebut perlu dianalisa ketahanan zat aktif permukaan terhadap medium
diantaranya :
 Ketahanan terhadap asam, yaitu untuk mengetahui daya tahan ZAP terhadap asam dengan
konsentrasi tertentu
 Ketahanan terhadap alkali yaitu untuk mengetahui daya tahan ZAP terhadap alkali
 Daya tahan sadah : untuk menguji daya tahan ZAP terhadap garam penyebab sadah dari
air sadah 20odH, 30 odH dan 40 odH
 Daya tahan Basah yaitu untuk mengetahui daya basah ZAP terhadap benang kapas dengan
konstruksi tertentu
2.1.5. Solid content dan pH
Solid content adalah semua zat padat (pasir, lumpur,dan tanah liat) atau partikel
partikel yang tersuspensi dalam air dan dapt berupa komponen hidup ataupun komponen
mati. Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi kimia yang
heterogen dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal.
pH adalah derajat keasaman yang digunakan untuk menyatakan tingkat keasaman
atau ke alkalian suatu larutan.

2.1.6. MBAS (METYLENE BLUE ACTIVE SUBSTANCES)


Penentuan Surfaktan dengan Metilen Biru
Metode ini membahas tentang perpindahan metilen biru yaitu larutan kationik dari
larutan air ke dalam larutan organik yang tidak dapat campur dengan air sampai pada titik jenuh
(keseimbangan). Hal ini terjadi melalui formasi (ikatan) pasangan ion antara anion dari MBAS
(methylene blue active substances) dan kation dari metilen biru. Intensitas warna biru yang
dihasilkan dalam fase organik merupakan ukuran dari MBAS (sebanding dengan jumlah
surfaktan). Surfaktan anion adalah salah satu dari zat yang paling penting, alami dan sintetik
yang menunjukkan aktifitas dari metilen biru. Metode MBAS berguna sebagai penentuan
kandungan surfaktan anion dari air dan limbah, tetapi kemungkin adanya bentuk lain dari
MBAS (selain interaksi antara metilen biru dan surfaktan anion) harus selalu diperhatikan.
Metode ini relatif sangat sederhana dan pasti. Inti dari metode MBAS ini ada 3 secara berurutan
yaitu: Ekstraksi metilen biru dengan surfaktan anion dari media larutan air ke dalam kloroform
(CHCl3) kemudian diikuti terpisahnya antara fase air dan organik dan pengukuran warna biru
dalam CHCl3 dengan menggunakan alat spektrofotometri pada panjang gelombang 652 nm
(Franson, 1992). Batas deteksi surfaktan anion menggunakan pereaksi pengomplek metilen biru
sebesar 0,026 mg/L, dengan rata-rata persen perolehan kembali 92,3% (Rudi dkk., 2004).

Analisis Spektrofotometri pada Metode MBAS

Spektrometri merupakan metode pengukuran yang didasarkan pada interaksi radiasi


elektromagnetik dengan partikel, dan akibat dari interaksi tersebut menyebabkan energi diserap
atau dipancarkan oleh partikel dan dihubungkan pada konsentrasi analit dalam larutan. Prinsip
dasar dari spektrofotometri UV-Vis adalah ketika molekul mengabsorbsi radiasi UV atau
visible dengan panjang gelombang tertentu, elektron dalam molekul akan mengalami transisi
atau pengeksitasian dari tingkat energi yang lebih rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi
dan sifatnya karakteristik pada tiap senyawa. Penyerapan cahaya dari sumber radiasi oleh
molekul dapat terjadi apabila energi radiasi yang dipancarkan pada atom analit besarnya tepat
sama dengan perbedaan tingkat energi transisi elektronnya (Rudi,2004).

Metilen biru digunakan untuk uji coba bahan pewarna organik. Bahan pewarna organik yang
berwarna biru tua ini, akan menjadi tidak berwarna apabila oksigen pada sampel (air yang
tercemar yang sedang dianalisis) telah habis dipergunakan (Mahida, 1981).

Surfaktan anion bereaksi dengan warna biru metilen membentuk pasangan ion baru
yang terlarut dalam pelarut organik, intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan
spektrofotometer dengan panjang gelombang 652 nm. Serapan yang diukur setara dengan kadar
surfaktan anion (Anonim, 2009).
BAB III
PERCOBAAN

3.1 Daya Tahan Sadah, Daya Tahan Asam & Daya Tahan Alkali
3.1.1 Alat dan Bahan
a. Alat
Daya Tahan Sadah :

- Tabung reaksi
- Labu ukur 100 mL
- Pipet volume 10 mL

Daya Tahan Asam :

- Erlenmeyer 300 mL
- Refluks
- Batu didih

Daya Tahan Alkali :

- Erlenmeyer 500 mL
- Gelas piala 250 mL
- Kertas saring
- Corong
- Refluks

a. Bahan

Daya Tahan Sadah

- Air sadah 20oDH


- Air sadah 30oDH
- Air sadah 40oDH
- Larutan ZAP

Daya Tahan Asam

- H2SO4 10%
- H2SO4 pekat

Daya Tahan Alkali

- NaOH padat
- Indikator MO
- HCl pekat
- HCl 1 N

3.1.2 Cara Kerja

Daya Tahan Sadah


1. Buatlah larutan dengan konsentrasi 1% di dalam air sadah.
2. Untuk air 20oDH, 2 ml air sadah 100oDH ditambah dengan 1 ml contoh uji diencerkan
menjadi 10 ml dalam tabung rekasi.
3. Untuk air 30oDH, 3 ml air sadah 100oDH ditambah dengan 1 ml contoh uji diencerkan
menjadi 10 ml dalam tabung rekasi.
4. Untuk air 40oDH, 4 ml air sadah 100oDH ditambah dengan 1 ml contoh uji diencerkan
menjadi 10 ml dalam tabung rekasi.
5. Masing-masing larutan dikocok-kocok dan diamati, pengujian dilakukan pada suhu
kamar.

Penilaian

- Apabila terjadi kekeruhan dan pengendapan air sadah 20o, 30o dan 40o DH berarti ZAP
tidak tahan sadah.
- Apabila terjadi kekeruhan pada air sadah 30oDH dan pengendapan pada air sadah
40oDH dan tidak ada perubahan pada air sadah 20oDH, berarti ZAP cukup tahan sadah.
- Apabila sama sekali tidak ada perubahan pada ketiga air sadah tersebut berarti ZAP
tahan sadah.

Daya Tahan Asam

1. 100 ml larutan ZAP 1 % (10 ml ZAP 10% encerkan menjadi 100 ml) masukkan
kedalam Erlenmeyer, tambahkan batu didih dan 1 ml asam sulfat 10%.
2. Didihkan larutan selama 5 menit dengan refluks, amati adanya perubahan, apakah
terjadi kekeruhan, pemisahan minyak atau terjadi daya busa (Pengamatan I).
3. Bila tidak terjadi perubahan, tambahkan 0,5 ml asam sulfat pekat didihkan dengan
refluks amati apakah ada perubahan dengan perlakuan dengan konsentrasi asam sulfat
1% ini (Pengamatan II).
4. Bila terjadi perubahan naikkan konsentrasi asam sulfat dalam larutan menjadi 3%
dengan menambahkan 1 ml asam sulfat pekat dan kemudian direfluks selama 15 menit.
Amati apakah ada perubahan pada kondisi ini (Pengamatan III).
5. Bila tidak terjadi perubahan, tambahkan 6,5 ml asam sulfat pekat agar konsentrasi asam
dalam larutan menjadi 10% kemudian refluks selama 15 menit. Amati apakah ada
perubahan (Pengamatan IV).
6. Bila tidak terjadi perubahan, percobaan dihentikan. Bila pada pengamatan IV terjadi
pengendapan atau pemisahan minyak, larutan diencerkan dalam air dengan volume
yang sama dan dikocok-kocok dengan teratur, kemudian diamati apakah masih timbul
busa (Pengamatan V).

Evaluasi

- Bila pada pengamata I terjadi penguraian atau pemisahan minyak, ZAP dinyatakan
sangat tidak taha asam.
- Bila pada pengamatan II terjadi perubahan, ZAP dinyatakan tak tahan asam.
- Bila pada pengamatan III terjadi perubahan ZAP dinyatakan agak tidak tahan asam.
- Bila pada pengamatan IV terjadi perubahan ZAP dinyatakan agak tahan asam.
- Bila pada pengamatan V ZAP masih berbusa, ZAP dinyatakan tahan terhadap asam.
- Bila pada pengamatan IV tidak terjadi perubahan. ZAP dinyatakan sangat tahan
terhadap asam.

Daya Tahan Alkali

1. Larutkan 1 gram ZAP (10 ml ZAP 10%) yang akan diuji dengan 65 ml air suling,
kemudian tambahkan 25 gram NaOH padat dan 1-2 butir batu didih.
2. Kocoklah hingga larut sempurna, kemudian amati adanya perubahan (Pengamatan I).
3. Didihkan larutan tersebut, pada refluks selama 15 menit, amati adanya perubahan,
apakah terjadi penggaraman (Pengamatan II).
4. Dinginkan larutan tersebut, kemudian saring sisa yang tidak larut pada kertas saring
dipindahkan ke dalam piala gelas yang berisi 25 ml air suling.
5. Titrasi dengan HCl sampai netral dengan indikator MO (Pengamatan III).
6. Kocok dengan hati-hati larutan tersebut kemudian didihkan selama 5 menit dang
dinginkan sampai suhu kamar, amati adanya perubahan (Pengamatan IV).

Evaluasi

- Bila pada pengamatan I terjadi penggaraman atau pemisahan minyak, ZAP dinyatakan
tidak tahan alkali.
- Bila pada pengamatan II terjadi penggaraman yang larut sempurna dalam asam
(Pengamatan III) ZAP dinyatakan tahan alkali.
- Bila pada pengamatan IV tidak terjadi penggaraman, ZAP dinyatakan sangat tahan
alkali

3.2. Daya Basah


3.2.1 Alat dan Bahan
a. Alat
- Gelas ukur 500 mL
- Bandul logam tahan karat
- Kait logam tahan karat
- Benang pembantu 1,9-2 cm
- Stopwatch
- Benang kapas bentuk streng

b. Bahan

- Larutan ZAP dengan konsentrasi 0,1-1 g/l.

3.4.2 Cara Kerja

1. Contoh uji ditimbang sesuai dengan persyaratan 5 gram (± 0,01gram).


2. Siapkan larutan ZAP sesuai dengan konsentrasi yang diperlukan.
3. Kait yang dihubungkan dengan pemberat dipasangkan pada ujung benang harus kuat.
4. Ujung benang yang lain dipegang diatas suatu permukaan larutan, lalu dilepas
perlahan-lahan terhadap larutan ZAP.
5. Benang harus seluruhnya terendam.
6. Waktu pembasahan dihitung sejak benang mulai tenggelam (dilihat dari benang
pembantu yang berubah dari tegang menjadi melengkung).
7. Apabila waktu tenggelam lebih dari 180 detik perhitunga waktu dihentikan.
8. Ulangi pekerjaan tersebut diatas 2x, menggunakan larutan ZAP yang sama.
9. Lakukan pengukuran waktu tenggelam untuk masing-masing konsentrasi.
10. Buat grafik konsentrasi antara ZAP dengan waktu tenggelam.

3.3. Densitas&Viskositas
3.3.1 Alat dan Bahan
a. Alat
Densitas :
-Piknometer
-Thermometer
-Neraca
-Oven
-Eksikator
-Pipet ukur 10 mL
-Piala gelas
-Gelas ukur 100 mL

Viskositas :

-Viskometer
-Labu ukur
-Pipet volume

a. Bahan
Zat aktif permukaan no.27

3.3.2 Cara Kerja


Densitas
11. Membuat larutan contoh uji 0,1, 0,2, 0,3 %.
12. Piknometer kosong dioven kurang lebih 1 jam pada suhu 105-110oC.
13. Piknometer kosong dieksikator kurang lebih 15 menit (berat tetap a gram).
14. Masukkan contoh uji konsentrasi 0,1 % lalu ditimbang (berat tetap b gram), amati
suhunya.
15. Lakukan contoh uji konsentrasi 0,2, 0,3 % seperti pada contoh uji 0,1 %.

Viskositas
16. Hitung waktu alir H2O.
17. Hitung waktu alir contoh uji
𝐝𝐂 𝐱 𝐭𝐂 𝐱 ƞ𝐬
ƞ 𝐂𝐨𝐧𝐭𝐨𝐡 =
𝐝𝐬 𝐱 𝐭𝐬
Keterangan:
dC= Density Contoh
tC = Waktu alir contoh
ds = density air
ts = Waktu alir air
ƞs = lihat table

3.4. Penggolongan ZAP cara Wutzchmitt dan Linsenmeyer


3.4.1 Alat dan Bahan
b. Alat
- Tabung reaksi
- Rak tabung reaksi
- Pembakar bunsen
- Pemegang tabung
- Cawan tahan api

c. Bahan
- Larutan aktif zat anion
- Larutan aktif zat kation
- NaCl 10%
- Asam Tanin pH 7- 75
- Air sadah 200 DH
- Air sadah 300 DH
- Air sadah 400 DH
- H2SO4 pekat
- HCl 2N
- HCl pekat
- CH3COOH 15 %
- Campuran NaOH dan CuSO4 (lar. buret)

3.4.2. Cara Kerja


Cara Wurtzschmitt
a. Uji kation
1 ml larutan Cu ditambah 1- 2 tetes zat aktif anion
b. Uji anion
1 ml larutan uji ditambah 1- 2 tetes zat aktif kation
c. Pemanasan I
1 ml larutan contoh uji dilarutkan dalam tabung reaksi.
d. Pemanasan II
1 ml larutan contoh uji dipanaskan dalam tabung reaksi ditambah BaCl2.
e. Tanin I (pH 7)
1 ml larutan contoh uji ditambah beberapa tetes tanin I.
f. Tanin II (pH 4,5)
1 ml larutan contoh uji ditambah beberapa tetes tanin II.
g. Tanin III (pH 2,5)
1 ml larutan contoh uji ditambah beberapa tetes tanin III.
h. Iodium jenuh
1 ml larutan contoh uji ditambahkan beberapa tetes larutan iodium jenuh.

Cara Linsen Meyer


Contoh uji dibuat larutan 1 %

1. Sebanyak 1 ml larutan contoh ditambah 1 ml asam asetat 15%, didihkan sebentar, kemudian
amati : keruh/tidak
2. Sebanyak 1 ml larutan contoh ditambah 1 ml CaCl2 20 dH, didihkan sebentar, kemudian
amati : keruh/tidak
Kalau terjadi kekeruhan kemungkinan golongan 1 dan 2 (A), (A) untuk golongan 1 dan 2.
Untuk golongan 2 l;arutan contoh uji ditambah BaCl2 10%Bila timbul endapan
putih/adanya penguraian menunjukan golongan2.

3. Sebanyak 1 ml larutan contoh ditambah 1-2 tetesml HCl pekat, kemudian amati perubahan
yang terjadi : keruh/tidak
Kalau ada kekeruhan kemungkinan golongan 3 dan 8. (B) untuk golongan 3 dab 8. untuk
golongan 8 akan memberikan reaksi Biuret yakni NaOH dan CuSO4 5%, larutan contoh uji
ditambah NaOH 10% / NaOH 4N, ditambahkan CuSO4 5% kemudian dipanaskan akan
memberi warna merah ungu dan dengan HCL encer dipanaskan akan memberi warna coklat
dan bau ikan.

4. Sebanyak 1 ml larutan contoh ditambah 1 ml HCl pekat, panaskan beberapa menit


kemudian tuangkan dalam 10 ml air dingin, lalu amati perubahan yang terjadi.
Kalau keruh kemungkinan golongan 4 dan 5 (C), (C) untuk golongan 4 dan 5. Untuk golongan
4 memberikan endapan dengan larutan CuSO4 5%.
Kalau tidak terjadi kekeruhan kemungkinan golongan 6 ; 7 ; 9 (D). (D) untuk golongan 6,
larutan contoh ditambahkan dengan larutan BaCl2 10% terjadi endapan putih, dipanaskan dan
dipijarkan memberikan abu. Untuk golongan 7, menunjukan adanya nitrogen dengan cara
Lassaigne atau uji amoniak. Untuk golongan 9, Larutan contoh ditambahkan BaCl2 10% ,
endapan putih akan menunjukan reajsi sulfat, dipanaskan dan dipijarkan akan memberikan abu.
Kondesat etilena oksida, golongan 9. larutan contoh ditambahkan dengan fenol memberikan
endapan putih keju.
3.5. Solid content dan pH
3.5.1 Alat dan bahan
A. Alat
 Cawan
 Penangas
 Oven
 Eksikator
 Neraca
 Indicator universal
B. Bahan
 ZAP
3.5.2 Cara kerja
A. Solid content
1. Cawan di oven 1 jam pada suhu 105ᵒ-110ᵒC, kemudian eksikator 15 menit dan
timbang (a)
2. Ditambahkan 50 mL sampel lalu uapkan diatas penangas dan masukan kedalam
oven selama 30 menit.
3. Eksikator 15 menit lalu timbang (b)
B. pH
1. Siapkan sampel ZAP dan indicator universal
2. Masukan indicator universal kedalam larutan ZAP
3. Amati perubahan warna pada indicator dan bandingkan dengan literature pH
indicator universal
3.6. MBAS (Metylene Blue Active Substances)
3.6.1 Alat dan Bahan
a. Alat
- Spektrofotometer
- Corong pemisah dengan kapasitas 500 ml

b. Bahan

A. Larutan Standar Linear Alkilat Sulfonat (LAS)


1. Larutan Stok Linear Alkilat Sulfonat (1000mg/L)
Timbang LAS (100% aktif) sebanyak 1,000 g dilarutkan dalam air destilasi 1,000 ml. 1,00
ml = 1,00 mg LAS. Simpan dalam lemari es untuk mengurangi biodegradasi.
2. Larutan standar LAS untuk analisa (10 mg/l)
Pindahkan 5 ml larutan stok LAS ke dalam labu ukur 500 ml. Encerkan sampai batas
volume dengan air destilasi.

B. Perekasi Ekstraksi dan Pewarnaan


1. Larutan indikator Fenolftalain
Larutkan 0,5 gr Fenolftalain dalam 50 ml Etil Alkohol 95% dalam labu ukur 100 ml,
encerkan sampai batas volume air suling.
2. Larutan NaOH 1 N
Larutan 40 gr NaOH dalam 500 ml air suling dalam labu ukur 1 liter encerkan sampai batas
volume dengan air suling.
3. Larutan H2SO4 1 N
27,8 ml H2SO4 pekat ditambahkan hati-hati kedalam 500 ml air suling dalam labu ukur 1
liter. Encerkan sampai batas volume air suling.
4. Larutan Metilen Blue
Larutkan 100 mg Metilen Blue dalam 50 ml air suling dalam labu ukur 100 ml. Encerkan
sampai batas volume air suling.
5. Larutan Reagent Metilen Blue
Larutkan 50 gr NaHPO4.H2O dalam 500 ml air suling dalam labu ukur 1 liter. Tambahkan
30 ml larutan Metilen Blue dan 6,8 ml H2SO4 pekat. Encerkan sampai batas volume dengan
air suling.
6. Kloroform
7. Larutan Pencuci
Larutkan 50 gr NaHPO4.H2O dalam 500 ml air suling dalam labu ukur 1 liter. Tambahkan
6,8 ml H2SO4 pekat. Encerkan sampai batas volume dengan air suling.

3.6.2 Cara Kerja

a. Persiapan Larutan Standar LAS


Buat variasi konsentrasi larutan standar LAS dengan memindahkan 0; 3,0; 5,0; 10,0; 15,0 dan
20,0 ml larutan LAS standar. Tambahkan dengan aquadest sehingga volume 100 ml.
Standar ini mengandung: 0; 0,3; 0,5; 1,0; 1,5 dan 2,0 mg LAS/l
b. Persiapan contoh
Volume contoh untuk keperluan pemeriksaan tergantung pada perkiraan kadar LAS. Mengingat
metode ini sesuai untuk kadar LAS rendah yaitu berdasarkan kalibrasi LAS standar 0-2,0 mg/L,
maka untuk kadar tinggi dilakukan pengenceran dan untuk kadar rendah dilakukan ekstraksi
dari volume contoh lebih besar dari 400 ml.
Perkiraan Kadar LAS (mg/L) Volume Contoh (ml)

0,025 - 0,080 400


0,08 – 0,40 250
0,4 – 2,0 100
2 – 10 20,0
10 – 100 2,0

Bila didalam tabel dinyatakan volume lebih besar dari 100 ml maka diperlukan ekstraksi dari
seluru volume tersebut, sedangkan volume lebih kecil dari 100ml memerlukan pengenceran
sampai 100 ml.

c. Ekstraksi dan Pewarnaan


1. Tambah 3-5 tetes indicator PP ke dalam masing-masing larutan blanko, deretan larutan
standar dan corong dalam corong pemisah. Tambah larutan NaOH 1 N tetes per tetes
supaya larutan bersifat basa. Tambah tetesan larutan H2SO4 1 N, untuk menghilangkan
warna merah saja.
2. Tambahkan larutan Metilen Blue sebanyak 25 ml (jika warna biru dari larutan hilang atau
menjadi pucat sama sekali, selama ekstraksi dengan kloroform berarti konsentrasi LAS
terlalu tinggi. Ganti dan buang sampel, buatlah pengenceran seperti pada tabel).
Tambahkan 10 ml CHCl3 dengan gelas ukur, kocok kuat-kuat untuk mengekstraksi selama
30 detik, sebentar-sebentar buka tutup corong.
3. Biarkan terjadi pemisahan fasa, goyang-goyangkan corong perlahan-lahan keluarkan
lapisan bawah (chloroform) kedalam corong pisah yang lain. Ulangi ekstraksi pada lapisan
air sebanyak 2x dengan penambahan kloroform, kumpulkan ke dalam corong pisah yang
lain.
4. Gabung semua ekstrak kloroform. Tambahkan 50 ml larutan pencuci kedalam kumpulan
ekstrak kloroform. Kocok selama 30 detik. Biarkan terjadi pemisahan fasa, goyang-
goyangkan perlahan-lahan, keluarkan lapisan bawah (kloroform) melalui glass wool,
masukkan kedalam labu ukur 100 ml. Jaga agar lapisan air tidak terbawa. Ulangi ekstraksi
ini 2x pada lapisan dengan CHCl3 10 ml. Lapisan kloroform melalui glass wool masukkan
kedalam labu ukur 25 ml. Encerkan dengan kloroform sampai batas volume. Garam yang
terjadi berwarna stabil tetapi pembacaan harus dilakukan tidak lebih dari 3 jam setelah
ekstraksi pada spektrofotometer dengan panjang gelombang 652 nm.
5. Perhitungan
Hasil pemeriksaan dinyatakan sebagai zat aktif Metilen Blue (MBAS, Metylene Blue Active
Substances). Perhitungan konsentrasi MBAS dalam contoh dapat dilakukan dengan
membuat kalibrasi atau dari persamaan garis yang dibuat standar LAS, atau langsung
konsentrasi pada alat spektrofotometer dengan model konsentrasi.
6. Ketelitian

Metode ini baik untuk pengukuran dengan range konsentrasi antara 0,025-100 mg/l LAS.
Sensitifitas sebagai “minimum detectable quantity” adalah 0,010 mg/l LAS.
BAB IV
PERCOBAAN

4.1 Data Pengamatan


4.1.1 Daya Tahan Sadah, Daya Tahan Asam & Daya Tahan Alkali
- DAYA TAHAN SADAH
ZAP yang digunakan : No 3
PENGAMATAN HASIL

Pengamatan I (200DH) Tidak Terjadi Kekeruhan dan pengendapan

Pengamatan II (300DH) Tidak Terjadi Kekeruhan dan pengendapan

Pengamatan III (400DH) Tidak Terjadi Kekeruhan dan pengendapan

- DAYA TAHAN ASAM


PENGAMATAN HASIL

Pengamatan I Tidak Terjadi kekeruhan,pemisahan minyak


atau kehilangan daya busa

Pengamatan II Tidak Terjadi kekeruhan,pemisahan minyak


atau kehilangan daya busa

Pengamatan III Tidak Terjadi kekeruhan,pemisahan minyak


atau kehilangan daya busa

Pengamatan IV Tidak Terjadi kekeruhan,pemisahan minyak


atau kehilangan daya busa

Pengamatan V Masih berbusa

- DAYA TAHAN ALKALI


PENGAMATAN HASIL

Pengamatan I Tidak terjadi penggaraman

Pengamatan II Terjadi perubahan

Pengamatan III Larut sempurna

Pengamatan IV Terjadi penggaraman


4.1.2 Daya Basah
ZAP 2
 V1 xC1 = V2 x C2
V1 x 10 = 500 x 3
= 150ml
 V1 xC1 = V2 x C2
V1 x 3 = 500 x 2
= 333ml
 V1 xC1 = V2 x C2
V1 x 2 = 500 x 1
= 250ml
 V1 xC1 = V2 x C2
V1 x 1 = 500 x 0,5
= 250ml

No Konsentrasi Waktu Berat

1. 3% 2 detik 5,021gram

2. 2% 4 detik 5,084 gram

3. 1% 56 detik 5,039 gram

4. 0,5% 288 detk 5,011 gram

GRAFIK VARIASI KONSENTRASI ZAP TERHADAP


WAKTU
350

300

250
Waktu (detik)

200

150

100

50

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Konsentrasi
4.1.3 Densitas &Viskositas

- Densitas
ZAP yang digunakan = No 3

Berat piknometer kosong = 28,7558 gram

Volume piknometer = 25 ml

Berat piknometer + air 51,9890 gram 27,10C

Berat piknometer + CU 0,1% 52,0081 gram 280C

Berat piknometer + CU 0,2% 51,9880 gram 280C

Berat piknometer + CU 0,3% 52,0620 gram 27,80C

- Viskositas

AIR ZAP 0,1% ZAP 0,2% ZAP 0,3%

25 detik 24 detik 26 detik 27 detik

Perhitungan

Densitas

Berat jenis contoh uji masing- masing konsentrasi


𝑏−𝑎 51,9890−28,7558
1) Air  𝜌= = = 0,929328 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3
𝑉 25𝑚𝑙
𝑏−𝑎 52,0081−28,7558
2) 0,1 %  𝜌 = = = 0,930092 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3
𝑉 25𝑚𝑙
𝑏−𝑎 51,9880−28,7558
3) 2 %  𝜌 = 𝑉
= 25𝑚𝑙
= 0,889288 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3
𝑏−𝑎 52,0620−28,7558
4) 0,3 %  𝜌 = 𝑉
= 25𝑚𝑙
= 0,932248 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3

Viskositas
dc x tc x ns
ds x ts

dc x tc x ns
- η ZAP 0,1% = ds x ts

0,930092x24x0,8360
= 0,929328x25,93
= 0,77441167 cps

dc x tc x ns
- η ZAP 0,2% = ds x ts
0,889288x26x0,8360
= 0,929328x25,93
= 0,828660624 cps

dc x tc x ns
- η ZAP 0,3% =
ds x ts

0,932245x27x0,8545
= 0,929328x25,93
= 0,9306580794 cps

4.1.4 Penggolongan ZAP Cara Wutzchmitt&Cara Linsenmeyer


a. Cara Wurzchmitt
Golongan Hasil Pengujian

A B C d e f g h

I - - - - - - - -

II - - - - - - - -

III + - - - - -/+ - -

IV - + - - - - + +

V - + - - - + - -

VI - - + + - + - -

VII - - - + + + - -

VIII + - - + - - + -

ZAP yang digunakan : No 3

- Uji kation (-)


- Uji anion (+)
- Pemanasan I (-)
- Pemanasan II (-)
- Uji Tanin 1 (-)
- Uji Tanin 2 (-)
- Uji Tanin 3 (+)
- Uji Yodium Jenuh (+)
*Sabun no. 3 termasuk golongan 4 (Zat Aktif Anion)
b. Cara Linsenmeyer
ZAP yang digunakan : No 3

- Golongan I = -
- Golongan II = -
- Golongan III = +
- Golongan IV = -
- Golongan V = -
- Golongan VI = -
- Golongan VII = +
- Golongan VIII = -
- Golongan IX = -

*Sabun no. 3 termasuk golongan 3 dan golongan 7 : minyak tersulfonkan tingkat tinggi dan
kondensat asam lemak

4.1.5. Solid content dan pH


Sampel no 3
a = 63,1184 gram
b = 63,1475 gram
berat awal = 50mL x 0,930092
= 46,5046 gram

SC = (63,1475 gram – 63,1184 gram) x 1000/50 = 0,582 g/L


0,0291 gram
%SC = 46,5046 gram x 100% = 0,06%

pH = 7

4.1.6. MBAS (Metylene Blue Active Substances)


Konsentrasi (x) Absorbansi (y) X2 X.Y

0,3 0,105 0,09 0,0315

0,5 0,279 0,25 0,1395

1,0 0,307 1 0,307

1,5 0,484 2,25 0,726

2,0 0,819 4 1,638

∑X =5,3 ∑Y =1,994 ∑X2=7,59 ∑X.Y=2,842


Perhitungan

n(∑xy) – (∑x) (∑y) 5(2,842) – (5,3) (1,994)


𝑏= =
n(∑x2 ) – (∑x) 2 5(7,59) – (5,3) 2

14,21−10,5682
= 37,95−28,09

3,6418
=
9,86

= -0,3694

(∑y1 ) − 𝑏(∑x1) (1,994) – (0,3694 − 5,3)


𝑎= =
n 5

0,0362
= 5

= 0,00724

Menghitung nilai x sampel ZAP no 2


y= a + bx
0,073 = 0,00724 + 0,3694 x
0,06576 = 0,3694 x
x = 0,1780 mg/L

[LAS]= 0,1780 mg/L x 40.000 = 7120 mg/L


= 7,12 g/L
Grafik Nilai Absorbansi terhadap Konsentrasi

0.9
0.819
0.8

0.7

0.6
0.484
Adsorbansi

0.5

0.4
0.307
0.279
0.3

0.2
0.105
0.073
0.1

0
0 0.5 1 1.5 2 2.5
konsentrasi g/L
BAB V
PEMBAHASAN

4.1 Diskusi
- Daya Tahan Sadah, Daya Tahan Asam & Daya Tahan Alkali
Daya tahan sadah
Pada percobaan ini praktikan diharuskan untuk melakukan pengujian daya tahan ZAP
terhadap air sadah, pada kesadahan 20 °dH, 30°dH dan 40°dH. Apabila terjadi kekeruhan
atau pengendapan pada larutan 1% detergen dalam air sadah tersebut, maka ZAP tidak
tahan air sadah. Apabila terjadi kekeruhan pada air 30°dH dan terjadi pengendapan pada
air 40°dH dan tidak ada perubahan pada air 20°dH berarti ZAP cukup tahan terhadap air
sadah. Apabila sama sekali tidak terjadi perubahan pada air 20°dH, 30°dH, 40°dH, berarti
ZAP sangat tahan terhadap air sadah.
Sampel ZAP yang digunakan adalah sampel ZAP no 3. Sampel ZAP no 3 ini tahan sadah
karena pada saat pengujian tidak menunjukkan kekeruhan ataupun pengendapan air sadah.
Dalam proses tekstil , pengetahuan tentang daya tahan sadah diperlukan agar tidak terjadi
kemungkinan kerusakan – kerusakan yang disebabkan oleh logam - logam yang bereaksi
pada proses tekstil
Daya tahan Asam
Pada percobaan ini praktikan menguji daya tahan ZAP terhadap asam, contoh uji yang
digunakan adalah nomor 3. Pada pengujian asam zat yang ditambahkan adalah yang
bersifat asam yaitu H2SO4 10% sebanyak 1 ml lalu ditambahkan batu didih dan dididihkan
15 menit dalam reflux lalu diamati perubahannya . Pada saat pengamatan, ZAP yang sangat
tahan asam dengan ditambah konsentrasi asam pekat maka tidak adak terjadi perubahan
sama sekali sehingga pengujian dihentikan dan dilakukan pengujian dengan menambahkan
air dengan volume yang sama sehingga menghasilkan busa. Pada sampel ZAP
iniperubahan terjadi pada pengamatan IV ( tidak terjadi kekeruhan), yaitu saat larutan
ditambahkan 6,5 mL asam sulfat setelah sebelumnya dilakukan penembahan asam sulfat
beberapa kali dengan konsentrasi yang berbeda. Namun pada pengamatan ke V, ZAP
masih berbusa.Hasil yang didapat dari pengujian ini menunjukan bahwa ZAP tahan
terhadap asam.

Daya tahan Alkali


Pada percobaan ini praktikan menguji daya tahan ZAP terhadap alkali, contoh uji yang
digunakan adalah nomor 3. Praktikum yang dimaksudkan untuk menentukan daya tahan
suatu ZAP terhadap alkali. Ketahanan ZAP terhadap alkali dapat dilihat pada perubahan
yang terjadi pada pengujian apakah terjadi penggaraman atau pemisahan minyak bila
dipanaskan sambil direfluks, hal tersebut dilakukan agar NaOH atau KOH cepat bereaksi
dengan ZAP. Pada pengujian alkali zat yang ditambahkan adalah yang bersifat alkali yaitu
NaOH padat sebanyak 25 gram. Pada saat pengamatan I, ZAP tidak terjadi penggaraman,
yaitu saat larutan dikocok hingga larut sempurna, kemudian di refluks dan tidak ada
pengaraman (pengamatan II). Kemudian residu disaring dan di titrasi dengan HCL dengan
indicator MO dan berwarna orange ( pengamatan III ). Larutan dikocok dan di didihkan 5
menit terjadi penggaraman ( pengamatan IV ). Menurut evaluasi, bila pada pengamatan IV
terjadi penggaraman, ZAP dinyatakan sangat tahan alkali.

- Daya Basah
Praktikum kali ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan dalam pembasahan.Pada
pengujian ini harus diperhatikan loncatan variasi konsentrasinya karena akan sangat
mempengaruhi waktu tenggelam. Benang pembantu pun cukup berpengaruh karena jika
panjang benang lebih dari 2 cm, waktu tenggelamnya menjadi lebih lama. Praktikan
menguji daya tahan basah ZAP terhadap benang kapas degan konstruksi tertentu. Langkah
awal yang dilakukan praktikan adalah menimbang berat benang kapas seberat 5 gram 6
buah. Lalu menyiapkan larutan ZAP, larutan ZAP yag digunakan yaitu no 2. Lalu
diencerkan dengan air keran sampai 100 ml, konsentrasinya bebeda- beda sehingga
diperlukan perhitungan dengan menggunakan rumus. Kemudian pada ujung benang diikat
dengan pemberat dan masukkan ke dalam larutan dan hitung waktu saat benang yang
dijadikan pengikat pada pemberat mulai menyentuh dasar gelas ukur menggunakan
stopwatch. Pada grafik terlihat bahwa semakin besar konsentrasi ZAP nya maka semakin
cepat waktu yang dibutuhkan untuk benang kapas terbasahi.

- Densitas&Viskositas
a. Densitas
Pada pengujian kali ini dilakukan dengan menggunakan sampel ZAP no 3, pengujian densitas
ini dimaksudkan untuk mengatahui berat jenis dari suatu larutan pada beberapa konsentrasi.
Penetapan berat jenis ini ditetapkan dengan piknometer yang membandingkan bobot larutan
pada volume tertentu dengan bobot air pada volume yang sama pada suhu kamar (t0C). Sampel
ZAP no 3 tersebut dibuat dengan beragam konsentrasi yaitu konsentrasi 1%, 2% dan 0%. Cara
membuat larutan contoh uji 0,1 %, yaitu pipet 1 ml larutan contoh uji kemudian larutkan dengan
100 ml air. Cara membuat contoh uji untuk konsentrasi 0,2 % dan 0,3 % sama seperti cara
membuat konsentrasi 0,1 %. Lalu piknometer dioven terlebih dahulu selama 1 jam agar tidak
ada kandungan air yang tersisa dan ditimbang beratnya, berat piknometernya adalah 28,7558
(sebagai a gram). Setelah itu larutan contoh uji dengan konsentrasi yang berbeda- beda
dimasukkan ke dalam piknometer dan juga masukkan thermometer lalu timbang berat tetap (b
gram). Untuk mengetahui berapa perbedaan bj sampel yang dihasilkan, bj air harus ditentukan
terlebih dahulu. Kemudian air dan sampel uji ditimbang secara bergantian dan suhu larutan
dicatat. Setelah mendapatkan hasil penimbangan maka berat jenis air dan sampel uji dapat
ditentukan. Dari percobaan ini didapatkan didapat hasil berat jenis contoh uji lebih kecil dari
berat jenis air (pada suhu saat pengujian 27oC). Hal ini dapat terjadi akibat penimbangan yang
kurang akurat, contoh uji yang diencerkan kurang homogen, air yang digunakan berasal dari
kran, sehingga kemungkinan air telah terkontaminasi oleh logam lainnya menyebabkan hasil
kurang akurat.
b. Viskositas
Pada percobaan ini praktikan harus dapat menentukan kekentalan suatu larutan ZAP pada 3
konsentrasi yang berbeda, yaitu 0,1 %, 0,2 %, dan 0,3 %. Hal yang pertama yang dilakukan
praktikan membuat larutan dengan cara mengencerkan 1 ml, 2 ml, 3 ml larutan contoh dengan
air hingga tepat 100 ml. Kita dapat mengetahui kekentalan suatu larutan dengan cara
menghitung waktu alir contoh uji dan membandingkannya dengan waktu alir air. Pada
praktikum ini alat yang digunakan untuk menghitung waktu alir adalah stopwatch dan
viscometer.
penghitungan waktu alir H2O dilakukan secara manual sehingga refleks saat menekan tombol stop
pada stopwatch keakuratannya tidak dapat dijamin ketepatan waktunya sehingga sangat mungkin
terjadinya kesalahan, sedangkan waktu alir H2O sangat dipengaruhi oleh :
 Suhu
 Volume
 Tekanan
 Kekentalan
ZAP memiliki berat jenis lebih basar daripada air, hal ini membuktikan bahwa ZAP tersebut lebih
pekat dan mempunyai molekul – molekul yang terlarut didalam larutannya. Pada penentuan
ketentuan atau viskositas dapat kita lihat dari tabel dengan data yang dilakukan berulang – ulang,
bahwa larutan yang memiliki konsentrasi lebih tinggi maka viskositasnya lebih besar dan waktu
yang ditempuhnya akan lebih lama pula. Pengukuran viskositas dilakukan dengan membandingkan
waktu alir air dengan waktu alir ZAP pada pipa kapiler.
- Penggolongan ZAP Cara Wutzchmitt&Cara Linsenmeyer
a. Cara Wutzchmitt
Pada percobaan ini praktikan harus dapat menggolongkan ZAP nomor 3 cara Wurtzschmitt dan
Linsen Meyer. Mengingat banyaknya jenis zat aktif permukaan maka perlu dibedakan antara
golongan penggolongan menurut sifat aktif ionnya yaitu golongan aktif anion dan aktif nonion
yang pada umumnya bersifat menurunkan tegangan permukaan, dan golongan aktif kation yang
bersifat menaikan tegangan permukaan. Analisa penggolongan terhadap sifat aktif ion dapat
dilakukan menurut cara Wurtzschmitt. Menurut cara Wurtzschmitt berdasarkan pengendapan
dengan pereaksi tertentu yang dibagi menjadi 8 golongan.
Hal yang pertama dilakukan praktikan, yaitu membuat larutan ZAP 1%, lalu pengujian golongan
cara Wurtzschmitt, dari cara tersebut didapatkan bahwa ZAP mengendap atau keruh saat uji
kation, maka ZAP positif mengandung anion. Lalu diperiksa pada tabel golongan menurut
Wurtzschmitt. Apabila dalam pengujian ZAP positif mengandung uji anion maka termasuk ke
dalam ZAP golongan IV dan juga ketika pada pengujian tanin 3, zat aktif ini berubah warnanya
menjadi sedikit keruh yang artinya positif. Ketika pengujian yodium jenuh pun terlihat ZAP
positif karena larutannya berubah menjadi keruh juga.
b. Cara Linsenmeyer
Penggolongan cara Linsen Meyer digolongkan menurut struktur kimia zat aktif permukaan..
Praktikan uji golongan 1 sampai 9. Dari hasil percobaan didapatkan bahwa sampel no 3
merupakan golongan 3 dan golongan 7 yaitu minyak tersulfokan tingkat tinggi dan kondensat
asam lemak.

- Solid content dan pH


Pada praktikum solid content sampel yang digunakan adalah ZAP no 3, solid content
sendiri adalah zat padat yang terdapat di dalam ZAP. Dn pada pengujian ini di dapatkan hasil
% solid content sebesar 0,06% . kemudian pada pengujian pH di dapatkan pH ZAP no 3
sebesar 7 yang menandakan zabun netral.

- MBAS (Metylene Blue Active Substances)


Pada praktikum MBAS ini bertujuan untuk mengetahui kadar ZAP anionik pada surfaktan.
Pada praktikum ini digunakan metilen blue yang berfungsi sebagai sampel dalam praktikum
MBAS. Praktikum kali ini menggunakan prinsip spektofotometri, contoh dibandingkan
dengan larutan standar dengan menggunakan Methilen Blue dan ZAP akan membentuk warna
biru . Intensitas warna biru yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer dengan panjang
gelombang 652 nm.
Larutan yang sudah berada di dalam corong pemisah ditambahkan dengan beberapa tetes pp,
lalu NaOH 1N, warna larutan akan berubah menjadi merah muda, lalu ditetesi dengan H₂SO₄
warna akan hilang. Setelah itu tambahkan MO sebanyak 25 ml, dan tambahkan 10 ml larutan
CHCl₃ lalu kocok sampai terjadi dua lapisan. Setelah terjadi 2 fasa keluarkan lapisan bawah
(chloroform), masukan kedalam erlenmeyer. Ulangi cara tersebut sebanyak 2 kali. Setelah itu
chloroform yang sudah berada dalam erlenmeyer di cuci sebanyak 3 kali dengan larutan
pencuci. Pencucian masih menggunakan corong pemisah. Setelah pencucian dilakukan
spektrofotometri. Yang harus diperhatikan pada praktikum ini adalah pengocokan pada corong
pemisah yang harus benar benar terkocok semuanya yang menjadikan warna pada lapisan atas
berpindah pada lapisan bawah yaitu pada chromoformnya.
BAB VI

PENUTUP

6.1. Kesimpulan
Jadi Dari seluruh rangkaian kegiatan praktikum yang telah selesai dilaksanakan, maka dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut.

- Daya Tahan Sadah, Daya Tahan Asam & Daya Tahan Alkali
DAYA TAHAN ASAM
Larutan Zat Aktif Permukaan (ZAP) NO.3 ini termasuk tahan terhadap asam.

DAYA TAHAN ALKALI


Larutan Zat Aktif Permukaan (ZAP) NO.3 ini termasuk tahan terhadap alkali.

DAYA TAHAN SADAH

Larutan Zat Aktif Permukaan (ZAP) NO.3 ini termasuk tahan terhadap sadah.

- Daya Basah
Semakin besar kosentrasi Zat Aktif Permukaan (ZAP), maka waktu yang dibutuh kapas
yang sudah direselling untuk menyentuh dasar semakin lama. Adapun titik KKM larutan Zat Aktif
Permukaan (ZAP) NO.2 ini berada pada konsentrasi 1,5%.

- Densitas & Viskositas


DENSITAS
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka diperoleh nilai densitas seperti berikut ini.
 dair = 0,929328 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3
 dZAP 0,1% = 0,930092 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3
 dZAP 0,2% = 0,889288 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3
 dZAP 0,3% = 0,932248 𝑔𝑟𝑎𝑚/𝑐𝑚3
VISCOSITAS
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka diperoleh nilai viskositas seperti berikut
ini.

 ɳZAP 0,1% = 0,77441167 cps


 ɳZAP 0,2% = 0,82866062 cps
 ɳZAP 0,3% = 0,930658079 cps

- Penggolongan ZAP Cara Wutzchmitt&Cara Linsenmeyer


Menurut Uji Penggolongan Zat Aktif Permukaan Linsenmeyer, contoh uji NO.3 tergolong Zat
Aktif Permukaan (ZAP) kondensat asam lemak dan minyak tersulfonkan tingkat tinggi. Sedangkan
menurut Uji Penggolongan Zat Aktif Permukaan (ZAP) Wurtzchmitt, contoh uji NO.3 tergolong
Zat Aktif Permukaan (ZAP) golongan 4 : Zat Aktif Anion

- Solid content dan pH


Berdasarkan hasil pengamatan di dapatkan hasil %SC sebesar 0,06% dan pH = 7 ( Netral )

- MBAS (METYLENE BLUE ACTIVE SUBSTANCES)

Berdasarkan praktikum yang relah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa


larutan sampel Zat Aktif Permukaan (ZAP) NO.2 ketika diukur dengan spektrofotometer pada
panjang gelombang 652 nm memiliki nilai absorbansi sebesar 0,073A. Dan setelah dilakukan
perhitungan dengan rumus diperoleh konsentrasi (x) MBAS (Metylene Blue Active Substances)
dalam larutan sampel Zat Aktif Permukaan (ZAP) NO.2 adalah sebesar 0,1780 mg/L
DAFTAR PUSTAKA

- https://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_air
- https://id.wikipedia.org/wiki/Basa
- https://id.wikipedia.org/wiki/Viskositas
- https://id.wikipedia.org/wiki/Massa_jenis
- https://www.scribd.com/document/261877550/ Praktikum-Zpt-Zap
- Juhana, Juju, AT. Penuntun Praktikum Zat Pembantu Tekstil “Lemak dan Minyak” dan
“SABUN”.Bandung : Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung.

Anda mungkin juga menyukai