Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Gangguan somatisasi telah dikenal sejak jaman Mesir kuno. Nama awal
untuk gangguan somatisasi adalah histeria, suatu keadaan yang secara tidak tepat
diperkirakan hanya mengenai wanita, (kata “Histeria” di dapatkan dari kata bahasa
Yunani untuk rahim, Hystera). Pada abad ke-17 Thomas Syndenham menemukan bahwa
faktor psikologis yang dinamakannya penderitaan yang mendahului (antecendent sorrow), terlibat
dalam patogenesis gejala gangguan somatisasi. Pada tahun 1859 Paul Briquet,
seorang dokter Prancis, mengamati banyaknya gejala dan sistem organ yang terlibat
dan perjalanan penyakit yang biasanya kronis. Karena pengamatan klinis tersebut
maka gangguan ini dinamakan Sindroma Briquet. Akan tetapi sejak tahun 1980 sejak
diperkenalkan DSM edisi ketiga (DSM III) istilah “Gangguan Somatisasi” menjadi
standar di Amerika Serikat untuk gangguan yang ditandai oleh banyak keluhan fisik
yang mengenai banyak sistem organ. Prevalensi dari gangguan somatisasi
diperkirakan kurang dari 0.5% dari populasi Amerika, biasanya lebih sering muncul
pada wanita, khususnya wanita African American dan Hispanic dan pada pasien yang
sedang menjalani pengobatan medis. Prevalensi ini lebih tinggi pada beberapa negara
di Amerika Selatan dan di Puerto Rico.
Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki
gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat
ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup
serius untuk menyebabkan penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau
gangguan pada kemampuan pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau
pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan somatoform mencerminkan penilaian klinisi
bahwa faktor psikologis adalah suatu penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan
durasi gejala. Gangguan somatoform adalah tidak disebabkan oleh pura-pura yang
disadari atau gangguan buatan. 1,2,7

1
Gambaran yang penting dari gangguan somatoform adalah adanya gejala
fisik, dimana tidak ada kelainan organik atau mekanisme fisiologik. Dan untuk hal
tersebut terdapat bukti positif atau perkiraan yang kuat bahwa gejala tersebut terkait
dengan adanya faktor psikologis atau konflik. Karena gejala tak spesifik dari
beberapa sistem organ dapat terjadi pada penderita anxietas maupun penderita
somatoform disorder, diagnosis anxietas sering disalahdiagnosiskan menjadi
somatoform disorder, begitu pula sebaliknya. Adanya somatoform disorder, tidak
menyebabkan diagnosis anxietas menjadi hilang. Pada gangguan ini sering kali
terlihat adanya perilaku mencari perhatian (histrionik), terutama pada pasien yang
kesal karena tidak berhasil membujuk dokternya untuk menerima bahwa keluhannya
memang penyakit fisik dan bahwa perlu adanya pemeriksaan fisik yang lebih lanjut.
Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder edisi keempat (DSM-
IV) mempertahankan sebagian besar diagnosis yang dituliskan di dalam edisi ketiga
yang direvisi (DSM-III-R) . Lima gangguan somatoform spesifik adalah dikenali
(tabel 1). (1) Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai
banyak sistem organ. (2) Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan
neurologis. (3) hipokondriasis ditandai oleh focus gejala yang lebih ringan dari
kepercayaan pasien bahwa ia menderita penyakit tertentu. (4) Gangguan dismorfik
tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-lebihan bahwa
suatu bagian tubuh mengalami cacat. (5) Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri
yang semata-mata berhubungan dengan factor psikologis atau secara bermakna
dieksaserbasi oleh factor psikologis. DSM-IV juga memilikik dua kategori diagnostik
residual untuk gangguan somatoform. (1) Gangguan somatoform yang tidak
dibedakan (undifferentiated) termasuk gangguan somatoform, yang tidak dijelaskan
lain, yang ada selama enam bulan atau lebih. (2) Gangguan somatoform yang tidak
ditentukan (NOS ; not otherwise specified) adalah kategori untuk gejala somatoform
yang tidak memenuhi diagnosis gangguan somatoform yang sebelumnya ditentukan.

2
BAB II
GANGGUAN SOMATOFORM

2.1 Definisi

Kata somatoform ini di ambil dari bahasa Yunani soma, yang berarti “tubuh”.
Dalam gangguan somatoform, orang memiliki simtom fisik yang mengingatkan pada
gangguan fisik, namun tidak ada abnormalitas organik yang dapat ditemukan
penyebabnya. Gangguan somatoform berbeda dengan malingering, atau kepura-
puraan simtom yang bertujuan untuk mendapatkan hasil yang jelas. Gangguan ini
juga berbeda dengan gangguan factitious yaitu suatu gangguan yang ditandai oleh
pemalsuan simtom psikologis atau fisik yang disengaja tanpa keuntungan yang jelas.
Selain itu gangguan ini juga berbeda pula dengan sindrom Muchausen yaitu suatu tipe
gangguan factitious yang ditandai oleh kepura-puraan mengenai simtom medis.11

Gangguan somatoform (somatoform disorder) adalah suatu kelompok


gangguan, ditandai dengan keluhan tentang masalah atau simptom fisik yang tidak
dapat dijelaskan oleh penyebab kerusakan fisik.6 Pada gangguan somatoform, orang
memiliki simptom fisik yang mengingatkan pada gangguan fisik, namun tidak ada
abnormalitas organik yang dapat ditemukan sebagai penyebabnya. Gejala dan
keluhan somatik menyebabkan penderitaan emosional/gangguan pada kemampuan
pasien untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Gangguan
somatoform tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.
Ganguan ini ditandai dengan adanya keluhan-keluhan berupa gejala fisik yang
bermacam-macam dan hampir mengenai semua sistem tubuh. Keluhan ini biasanya
sudah berlangsung lama dan biasanya keluhannya berulang-ulang namun berganti-
ganti tempat. Pasien biasanya telah sering pergi ke berbagai macam dokter (doctor
shopping). Beberapa pasien bahkan ada yang sampai dilakukan operasi namun
hasilnya negatif. Keluhan yang paling sering biasanya berhubungan dengan sistem

3
organ gastrointestinal (perasaan sakit, kembung, bertahak, mual dan muntah) dan
keluhan pada kulit seperti rasa gatal, terbakar, kesemutan, baal dan pedih. Pasien juga
sering mengeluhkan rasa sakit di berbagai organ atau sistem tubuh, misalnya nyeri
kepala, punggung, persendian, tulang belakang, dada atau nyeri saat berhubungan
badan. Kadang juga terdapat keluhan disfungsi seksual dan gangguan haid. 10
Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Biasanya bermula
sebelum usia 30an dan telah berlangsung beberapa tahun. Pasien biasanya tidak mau
menerima pendapat dokter bahwa mungkin ada dasar psikologis yang mendasari
gejalanya.k berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan.

2.2 Etiologi

Terdapat faktor psikososial berupa konflik psikologis di bawah sadar yang


mempunyai tujuan tertentu. Pada beberapa kasus ditemukan faktor genetik dalam
transmisi gangguan ini. Selain itu, dihubungkan pula dengan adanya penurunan
metabolisme (hipometabolisme) suatu zat tertentu di lobus frontalis dan hemisfer non
dominan. 3
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab dikelompokkan sebagai berikut:6
1. Faktor-faktor Biologis
Faktor ini berhubungan dengan kemungkinan pengaruh genetis (biasanya pada
gangguan somatisasi).
2. Faktor Lingkungan Sosial
Sosialisasi terhadap wanita pada peran yang lebih bergantung, seperti “peran sakit”
yang dapat diekspresikan dalam bentuk gangguan somatoform.
3. Faktor Perilaku
Pada faktor perilaku ini, penyebab ganda yang terlibat adalah:
a. Terbebas dari tanggung jawab yang biasa atau lari atau menghindar dari situasi yang
tidak nyaman atau menyebabkan kecemasan (keuntungan sekunder).
b. Adanya perhatian untuk menampilkan “peran sakit”.

4
c. Perilaku kompulsif yang diasosiasikan dengan hipokondriasis atau gangguan
dismorfik tubuh dapat secara sebagian membebaskan kecemasan yang diasosiasikan
dengan keterpakuan pada kekhawatiran akan kesehatan atau kerusakan fisik yang
dipersepsikan.
4. Faktor Emosi dan Kognitif
Pada faktor penyebab yang berhubungan dengan emosi dan kognitif, penyebab ganda
yang terlibat adalah sebagai berikut:
a. Salah interpretasi dari perubahan tubuh atau simptom fisik sebagai tanda dari adanya
penyakit serius (hipokondriasis).
b. Dalam teori Freudian tradisional, energi psikis yang terpotong dari impuls-impuls
yang tidak dapat diterima dikonversikan ke dalam symptom fisik (gangguan
konversi).
c. Menyalahkan kinerja buruk dari kesehatan yang menurun mungkin merupakan suatu
strategi self-handicaping (hipokondriasis).

2.3 Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik


yang berulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali
terbukti hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan dokternya bahwa tidak ada
kelainan yang mendasari keluhannya.3 Beberapa orang biasanya mengeluhkan
masalah dalam bernafas atau menelan, atau ada yang “menekan di dalam
tenggorokan”. Masalah-masalah seperti ini dapat merefleksikan aktivitas yang
berlebihan dari cabang simpatis sistem saraf otonomik, yang dapat dihubungkan
dengan kecemasan. Kadang kala, sejumlah simptom muncul dalam bentuk yang lebih
tidak biasa, seperti “kelumpuhan” pada tangan atau kaki yang tidak konsisten dengan
kerja sistem saraf. Dalam kasus lain, juga dapat ditemukan manifestasi dimana
seseorang berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita penyakit yang serius,
namun tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan. 6

5
Pada gangguan ini sering kali terlihat adanya perilaku mencari perhatian
(histrionik), terutama pada pasien yang kesal karena tidak berhasil membujuk
dokternya untuk menerima bahwa keluhannya memang penyakit fisik dan bahwa
perlu adanya pemeriksaan fisik yang lebih lanjut (PPDGJ III, 1993). Dalam kasus
lain, orang berfokus pada keyakinan bahwa mereka menderita penyakit serius, namun
tidak ada bukti abnormalitas fisik yang dapat ditemukan.
Gambaran keluhan gejala somatoform:
1. Neuropsikiatri:
a. “Kedua bagian dari otak saya tidak dapat berfungsi dengan baik”
b. “Saya tidak dapat menyebutkan benda di sekitar rumah ketika ditanya”
2. Kardiopulmonal:
a “ Jantung saya terasa berdebar debar…. Saya kira saya akan mati”
3. Gastrointestinal:
a. “Saya pernah dirawat karena sakit maag dan kandung empedu dan belum ada
dokter yang dapat menyembuhkannya”
4. Genitourinaria:
a. “Saya mengalami kesulitan dalam mengontrol BAK, sudah dilakukan
pemeriksaan namun tidak di temukan apa-apa”
5. Musculoskeletal
a. “Saya telah belajar untuk hidup dalam kelemahan dan kelelahan sepanjang
waktu”
6. Sensoris:
a. “Pandangan saya kabur seperti berkabut, tetapi dokter mengatakan kacamata tidak
akan membantu”

2.4 Klasifikasi dan Diagnosis


Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki gejala fisik
(sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat ditemukan penjelasan medis
yang adekuat. Gejala dan keluhan somatik adalah cukup serius untuk menyebabkan

6
penderitaan emosional yang bermakna pada pasien atau gangguan pada kemampuan pasien
untuk berfungsi di dalam peranan sosial atau pekerjaan. Suatu diagnosis gangguan
somatoform mencerminkan penilaian klinisi bahwa faktor psikologis adalah suatu
penyumbang besar untuk onset, keparahan, dan durasi gejala. Gangguan somatoform adalah
tidak disebabkan oleh pura-pura yang disadari atau gangguan buatan.

Ada lima gangguan somatoform yang spesifik adalah:


 Gangguan somatisasi ditandai oleh banyak keluhan fisik yang mengenai banyak sistem
organ.

 Gangguan konversi ditandai oleh satu atau dua keluhan neurologis.

 Hipokondriasis ditandai oleh fokus gejala yang lebih ringan dan pada kepercayaan pasien
bahwa ia menderita penyakit tertentu.

 Gangguan dismorfik tubuh ditandai oleh kepercayaan palsu atau persepsi yang berlebih-
lebihan bahwa suatu bagian tubuh mengalami cacat.

 Gangguan nyeri ditandai oleh gejala nyeri yang semata-mata berhubungan dengan faktor
psikologis atau secara bermakna dieksaserbasi oleh faktor psikologis.
DSM-IV juga memiliki dua kategori diagnostik residual untuk gangguan somatoform.

 Undiferrentiated somatoform, termasuk gangguan somatoform, yang tidak digolongkan


salah satu diatas, yang ada selama enam bulan atau lebih.
Gangguan Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi :
1. F.45.0 gangguan somatisasi
2. F.45.1 gangguan somatoform tak terperinci
3. F.45.2 gangguan hipokondriasis
4. F.45.3 disfungsi otonomik somatoform
5. F.45.4 gangguan nyeri somatoform menetap
6. F.45.5 gangguan somatoform lainnya
7. F.45.6 gangguan somatoform YTT

7
DSM-IV, ada tujuh kelompok, lima sama dengan klasifikasi awal dari PPDGJ
ditambah dengan gangguan konversi, dan gangguan dismorfik tubuh. Pada bagian
psikiatri, gangguan yang sering ditemukan di klinik adalah gangguan somatisasi dan
hipokondriasis.

2.5 Gangguan Somatisasi (F 45.0)


2.5.1 Definisi
Gangguan somatisasi ditandai oleh banyaknya gejala somatik yang tidak dapat
dijelaskan secara adekuat berdasarkan pemeriksaan fisik dan laboratorium.
Gangguan somatisasi dibedakan dari gangguan somatoform lainnya karena
banyaknya keluhan dan melibatkan sistem organ yang multipel (sebagai contoh,
gastrointestinal dan neurologis). Gangguan ini adalah kronis (dengan gejala
ditemukan selama beberapa tahun dan dimulai sebelum usia 30 tahun) dan disertai
dengan penderitaan psikologis yang bermakna, gangguan fungsi sosial dan pekerjaan,
dan perilaku mencari bantuan medis yang berlebihan.2

Gangguan somatisasi (somatization disorder) dicirikan dengan keluhan


somatik yang beragam dan berulang yang bermula sebelum usia 30 tahun (namun
biasanya pada usia remaja), bertahan paling tidak selama beberapa tahun, dan
berakibat antara menuntut perhatian medis atau mengalami hendaya yang berarti
dalam memenuhi peran sosial atau pekerjaan.

Gangguan ini merupakan pasien-pasien yang terutama menunjukkan keluhan


somatis yang tidak dapat dijelaskan dengan adanya gangguan depresif, anxietas atau
penyakit medis. Ada dua gangguan yang termasuk dalam kelompok gangguan
somatoform: pertama, yang gambaran utamanya adalah kekhawatiran bahwa gejala
yang ada merupakan bukti adanya penyakit (hipokondriasis) atau deformitas
(dismorfofobia), dan kedua, yang gambaran utamanya adalah kekhawatiran tentang

8
gejala somatik itu sendiri (antara lain gangguan somatisasi, disfungsi autonomik
persisten, dan gangguan nyeri somatoform persisten).5

Gambaran somatisasi telah dikenal sejak zaman mesir kuno. Nama awal untuk
gangguan somatisasi adalah histeria, suatu kedaan yang secara tidak tepat
diperkirakan hanya mengenai wanita. Kata “histeria” didapatkan dari bahasa yunani
untuk rahim, hystera.,2, 5

Keluhan-keluhan yang diutarakan biasanya mencakup sistim-sistim organ


yang berbeda seperti nyeri yang samar dan tidak dapat didefinisikan, problem
menstruasi/seksual, orgasme terhambat, penyakit-penyakit neurologik,
gastrointestinal, genitourinaria, kardiopulmonar, pergantian status kesadaran yang
sulit ditandai dan lain sebagainya. Jarang dalam setahun berlalu tanpa munculnya
beberapa keluhan fisik yang mengawali kunjungan ke dokter. Orang dengan
gangguan somatisasi adalah orang yang sangat sering memanfaatkan pelayanan
medis. Keluhan-keluhannya tidak dapat dijelaskan oleh penyebab fisik atau melebihi
apa yang dapat diharapkan dari suatu masalah fisik yang diketahui. Keluhan tersebut
juga tampak meragukan atau dibesar-besarkan, dan orang itu sering kali menerima
perawatan medis dari sejumlah dokter, terkadang pada saat yang sama.

2.5.2 Etiologi
Penyebab gangguan somatisasi belum diketahui dengan pasti tetapi banyak teori
telah diajukan untuk menjelaskan penyebab somatisasi yaitu:

1. Neurologis
Pengaturan sistem saraf pusat yang abnormal untuk informasi sensorik yang masuk
menyebabkan gangguan pada proses atensional.
2. Psikodinamik
Somatisasi merupakan suatu mekanisme pertahanan.

3. Perilaku

9
Somatisasi merupakan suatu perilaku yang dipelajari sehingga pendorong-pendorong
lingkungan melestarikan perilaku sakit yang abnormal. Teori yang ada yaitu teori
belajar, terjadi karena individu belajar untuk mensomatisasikan dirinya untuk
mengekspresikan keinginan dan kebutuhan akan perhatian dari keluarga dan
orang lain.
4. Sosiokultural
Cara-cara “benar” menghadapi emosi dan perasaan-perasaan ditetapkan oleh budaya.

Teori-teori ini satu sama lain tidak eksklusif, dan kemungkinan somatisasi
merupakan suatu fenomena komplek dengan banyak faktor resiko yang memainkan
penyebabnya. Pada seorang pasien tertentu, tiga kesatuan atau kelompok faktor berikut dapat
ditemukan:

a. Faktor predisposisi
Termasuk karakteristik biologi, perkembangan, kepribadian, dan sosiokultural pasien.
Teori bahwa somatisasi disebabkan oleh pengaturan sistem saraf pusat yang
abnormal untuk informasi sensorik yang masuk (inhibisi kortikufugal).
b. Faktor pencetus
Termasuk peristiwa-peristiwa kehidupan yang menimbulkan stres (misal: penyakit)
dan konflik antar pribadi.
c. Faktor penunjang
Termasuk interaksi-interaksi antar pasien, keluarga dan dokter dan sistem sosial.
Keuntungan finansial dan bentuk-bentuk lain keuntungan sekunder memperkuat
somatisasi, demikian pula faktor-faktor iantrogenik seperti pengujian yang tidak
perlu, efek samping obat, dan komplikasi pemeriksaan pemeriksaan invasif. 9

2.5.3 Epidemiologi
1) Wanita : pria = 5 :1, bermula pada masa remaja atau dewasa muda
2) Rasio tertinggi usia 20- 30 tahun
3) Pasien dengan riwayat keluarga pernah menderita gangguan somatoform
(berisiko 10-20 kali lebih besar dibanding yang tidak ada riwayat)
Penyakit ini sering didapatkan, berkisar antara 2-20 dari 1000 penduduk.
Lebih banyak pada wanita. Pasien pada umumnya mempunyai riwayat keluhan
fisik yang banyak. Biasanya dimulai sebelum berumur 30 tahun. Sebelumnya pasien

10
telah banyak mendapat diagnosis, makan banyak obat, dan banyak menderita alegi.
Pasien ini terus mencari penerangan medis untuk gejala yang dideritanya dan
bersedia untuk melakukan berbagai test medis, pembedahan, uji klinik, walaupun
dia tahu hal tersebut jarang yang memberikan hasil, biasanya hasilnya adalah
normal, atau ada gangguan kecil.10

Fenomena ini dapat berupa spectrum yang ringan yang akan memperberat
gangguan somatisasi, pasien yang benar benar masuk kriteria biasanya telah hidup
dengan didominasi dengan pengalaman medik dan mungkin telah mengalami
gangguan hubungan interpersonal. Riwayat keluarga biasanya menunjukkan hal
yang sama terutama pada wanita, dan riwayat anti sosial pada pria.10

2.5.4 Gambaran Klinis

Ciri utama gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang
berulang-ulang disertai dengan permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-
kali terbukti hasilnya negatif dan juga sudah dijelaskan oleh dokternya bahwa tidak
ditemukan kelainan yang menjadi dasar keluhannya.

Penderita juga menyangkal dan menolak untuk membahas kemungkinan kaitan


antara keluhan fisiknya dengan problem atau konflik dalam kehidupan yang dialaminya,
bahkan meskipun didapatkan gejala-gejala anxietas dan depresi. 8

2.5.5 Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Somatisasi


Untuk gangguan somatisasi, diagnosis pasti memerlukan semua hal
berikut:
1) Adanya banyak keluhan-keluhan fisik yang bermacam-macam yang
tidak dapat dijelaskan atas dasar adanya kelainan fisik, yang sudah
berlangsung sedikitnya 2 tahun.
2) Tidak mau menerima nasehat atau penjelasan dari beberapa dokter
bahwa tidak ada kelainan fisik yang dapat menjelaskan keluhan-
keluhannya.

11
3) Terdapat disabilitas dalam fungsinya di masyarakat dan keluarga, yang
berkaitan dengan sifat keluhan-keluhannya dan dampak dari
perilakunya.
atau:
1) Keluhan fisik dimulai sebelum usia 30 tahun, terjadi selama periode
beberapa tahun yang terjadi selama periode beberapa tahun dan
menyebabkan individu tersebut mencari penanganan atau gangguan
yang bermakna pada fungsi sosial, pekerjaan dan fungsi penting
lainnya.
2) Tiap kriteria berikut ini harus ditemukan, yaitu:
a) 4 gejala nyeri: sekurangnya empat tempat atau fungsi yang
berlainan (misalnya kepala, perut, punggung, sendi, anggota gerak,
dada, rektum, selama menstruasi, selama hubungan seksual, atau
selama miksi)
b) 2 gejala gastrointestinal: sekurangnya dua gejala selain nyeri
(misalnya mual, kembung, muntah selain dari selama kehamilan,
diare, atau intoleransi terhadap beberapa jenis makanan)
c) 1 gejala seksual: sekurangnya satu gejala selain dari nyeri
(misalnya indiferensi seksual, disfungsi erektil atau ejakulasi,
menstruasi tidak teratur, perdarahan menstruasi berlebihan, muntah
sepanjang kehamilan).
d) 1 gejala pseudoneurologis: sekurangnya satu gejala atau defisit
yang mengarahkan pada kondisi neurologis yang tidak terbatas
pada nyeri (gangguan koordinasi atau keseimbangan, paralisis,
sulit menelan, retensi urin, halusinasi, hilangnya sensasi atau nyeri,
pandangan ganda, kebutaan, ketulian, kejang; gejala disosiatif
seperti amnesia; atau hilangnya kesadaran selain pingsan).
3) Salah satu 1) atau 2):

12
a) Setelah penelitian yang diperlukan, tiap gejala dalam kriteria 2)
tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh sebuah kondisi medis
umum yang dikenal atau efek langsung dan suatu zat (misalnya
efek cedera, medikasi, obat, atau alkohol)
b) Jika terdapat kondisi medis umum, keluhan fisik atau gangguan
social atau pekerjaan yang ditimbulkannya adalah melebihi apa
yang diperkirakan dari riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, atau
temuan laboratorium.
4) Gejala tidak ditimbulkan secara sengaja atau dibuat-buat (seperti
gangguan buatan atau pura-pura).

2.5.6 Tatalaksana
Pada gangguan somatisasi, tujuan pengobatannya antara lain:
1) Mencegah adopsi dari rasa sakit, invalidasi (tidak membenarkan
pemikiran/meyakinkan bahwa gejala hanya ada dalam pikiran tidak untuk
kehidupan nyata.
2) Meminimalisir biaya dan komplikasi dengan menghindari tes-tes
diagnosis, treatment, dan obat-obatan yang tidak perlu.
3) Melakukan kontrol farmakologis terhadap sindrom komorbid
(memperparah kondisi).

Strategi dan teknik psikoterapi dan psikososial :


1) Pengobatan yang konsisten, ditangani oleh dokter yang sama
2) Buat jadwal regular dengan interval waktu kedatangan yang memadai
3) Memfokuskan terapi secara gradual dari gejala ke personal dan ke
masalah social

Berikut adalah penanganan pada gangguan somatisasi.


1. Farmakoterapi

13
Tidak ada percobaan klinis terapi obat yang adekuat untuk somatisasi
primer. Obat-obat yang yang efektif dalam situasi-situasi sebagai
berikut :
a. Gejala-gejala spesifik yang sulit disembuhkan seperti nyeri kepala,
mialgia, dan bentuk-bentuk penyakit kronik lainnya dapat hilang
dengan antidepresan trisiklik. Demikian pula pasien-pasien cemas
dengan terapi aprazolam, benzodiazepin, atau beta-bloker.
Walaupun pasien-pasien tersebut tidak memnuhi kriteria gangguan
panik atau kecemasan.
b. Obat-obat simtomatik murni (misal: analgetik, antasida)
2. Konsultasi psikiatrik
Kita harus merujuk pasien pada suatu pelayanan hubungan konsultasi
atau kepada seorang dokter ahli jiwa.konsultasi mengakibatkan
intervensi psikiatrik jangka pendek selain strategi-strategi
penatalaksanaan yang dianjurkan oleh dokter di perawatan primer.
Pasien dengan somatisasi kronik berat mungkin mendapatkan
perbaikan dengan program-program terapi rawat inap.9
3. Strategi penatalaksanaan
Terapi perilaku kognitif (CBT, cognitive behavior therapy) akan
bermanfaat jika diadaptasi untuk keluhan somatisasi utama. Pasien
mungkin perlu dibantu untuk mengenali dan mengatasi stresor sosial
yang dialami.5
Terapi kognitif-behavioral, untuk mengurangi pemikiran atau sifat
pesimis pada pasien. Teknik behavioral, terapis bekerja secara lebih
langsung dengan si penderita gangguan somatoform, membantu orang
tersebut belajar dalam menangani stress atau kecemasan dengan cara
yang lebih adaptif. Terapi kognitif, terapis menantang keyakinan klien
yang terdistorsi mengenai penampilan fisiknya dengan cara
menyemangati mereka untuk mengevaluasi keyakinan mereka dengan
bukti yang jelas

14
Terapi ini dapat berfokus pada menghilangkan sumber-sumber
reinforcement sekunder (keuntungan sekunder), memperbaiki
perkembangan keterampilan untuk menangani stress, dan memperbaiki
keyakinan yang berlebihan atau terdistorsi mengenai kesehatan atau
penampilan seseorang. Terapi ini berusaha untuk membantu individu
melakukan perubahan-perubahan, tidak hanya pada perilaku nyata
tetapi juga dalam pemikiran, keyakinan dan sikap yang mendasarinya.

Strategi dan teknik farmakologikal dan fisik :


1) Diberikan hanya bila indikasinya jelas
2) Hindari obat-obatan yang bersifat adiksi
3) Anti anxietas dan antidepresan

2.5.7 Prognosis
Sebagian besar pasien dengan gejala-gejala somatik fungsional sembuh
tanpa intervensi khusus. Faktor-faktor yang lebih prognostik antara lain awitan
yang akut dan durasi gejala yang singkat, usia muda, kelas sosioekonomi tinggi,
tidak ada penyakit organik, dan tidak ada gangguan kepribadian.
Prognosa jangka panjang untuk pasien gangguan somatisasi dubia ad
malam, dan biasanya diperlukan terapi sepanjang hidup. Pasien susah sembuh
walau sudah mengikuti pedoman pengobatan. Sering kali pada pasien
wanita berakhir pada percobaan bunuh diri. Bila somatisasi merupakan
sebuah “topeng” atau gangguan psikiatrik lain, prognosanya tergantung pada
prognosis masalah primernya.
Gejala-gejala konversi mempunyai prognosis yang lebih baik. Gejala-
gejala ini mungkin dapat hilang secara spontan bila sudah tidak diperlukan lagi
atau berespons baik terhadap psikoterapi spesifik. 9

15
BAB III
KESIMPULAN

Gangguan somatoform adalah suatu kelompok gangguan yang memiliki


gejala fisik (sebagai contohnya, nyeri, mual, dan pusing) di mana tidak dapat
ditemukan penjelasan medis yang adekuat. Gambaran yang penting dari gangguan
somatoform adalah adanya gejala fisik, dimana tidak ada kelainan organik atau
mekanisme fisiologik. Dan untuk hal tersebut terdapat bukti positif atau perkiraan
yang kuat bahwa gejala tersebut terkait dengan adanya faktor psikologis atau konflik.

16
Manifestasi klinis gangguan ini adalah adanya keluhan-keluhan gejala fisik yang
berulang disertai permintaan pemeriksaan medik, meskipun sudah berkali-kali
terbukti hasilnya negatif dan juga telah dijelaskan dokternya bahwa tidak ada
kelainan yang mendasari keluhannya.
Gangguan Somatoform berdasarkan PPDGJ III dibagi menjadi: gangguan
somatisasi, gangguan somatoform tak terperinci, gangguan hipokondriasis, disfungsi
otonomik somatoform, gangguan nyeri somatoform menetap, gangguan somatoform
lainnya, dan gangguan somatoform YTT. Sedangkan pada DSM-IV, ada tujuh
kelompok, lima sama dengan klasifikasi awal dari PPDGJ ditambah dengan gangguan
konversi, dan gangguan dismorfik tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kaplan, Hl dan Saddock BJ. 1993. Comprehensive Textbook of Psychiatry vol.2


6th edition. USA: Williams and Wilikins Baltimore.
2. Wiguna, IM (editor). 1997. Sinopsis Psikiatri jilid II. Ed 7. Jakarta:
BinanupaAksara. Hal 276-303.
3. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I. 2001. Media Aesculapicus : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

17
4. Departemen Kesehatan R.I. 1993.Pedoman Penggolongan dan Diagnosis
Gangguan Jiwa di Indonesia III cetakan pertama. Direktorat Jenderal Pelayanan
Medik Departemen Kesehatan RI : Jakarta
5. Maramis, WF. 2005. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa cetakan kesembilan.
Airlangga University Press : Surabaya
6. Nevid, JS, dkk. 2005. Psikologi Abnormal Jilid I.Edisi 5. PenerbitErlangga :
Jakarta
7. Pardamean E. 2007. Simposium Sehari Kesehatan Jiwa Dalam Rangka
Menyambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia : Gangguan Somatoform. Ikatan
Dokter Indonesia Cabang Jakarta Barat.
8. Maslim R, Buku Saku Diagnosis Gangguan jiwa, Rujukan Ringkasan dari PPDGJ
III, jakarta: 2001, hal 84-86
9. Mangel MB. Dkk, Referensi Manual Kedokteran Keluarga, Editor edisi bahasa
Indonesia, perpustakaan Nasional, jakarta:2001 hal 701-709

10. Medika G. Gangguan Somatoform.


http://chanantha.wordpress.com/2009/09/28/gangguan-somatisasi di akses 29
April 2011.

11. Hartati N, Gangguan Disosiatif dan Somatoform, di unduh dari


hhtp://catatankuliah.wordpres.com/2008/11/08.gangguan-disosiatif-dan-
somatisasi// di akses 29 April 2011

12. Djunaidi AR. Gangguan Psikosomatik. Fakultas Kedokteran Universitas


Sriwijaya Palembang. http://www.docstoc.com/docs/68607705/psikosomatik.
Diakses 7 Mei 2011

18