Anda di halaman 1dari 13

RINGKASAN EKSEKUTIF

LAPORAN PENGELOLAAN PROGRAM DAN


LAPORAN KEUANGAN JAMINAN SOSIAL KESEHATAN
TAHUN 2014

BPJS Kesehatan yang menyelenggarakan dan mendorong partisipasi masyarakat dalam perluasan
Jaminan Kesehatan-melalui inisiasi dan kepesertaan. Pengelolaan manfaat jaminan kesehatan
dilakukan dengan menjalankan dan memantapkan sistem
implementasi Kartu Indonesia Sehat (KIS)-
jaminan pelayanan kesehatan yang efektif, efisien dan
hadir sebagai terobosan dalam menangani bermutu kepada peserta melalui kemitraan yang optimal
masalah kesehatan di Indonesia. Kami dengan fasilitas kesehatan. Pengelolaan dana program
berkomitmen untuk terus memberikan jaminan sosial dan dana BPJS Kesehatan dilaksanakan
pelayanan jaminan kesehatan yang berkualitas secara efektif, efisien, transparan dan akuntabel untuk
kepada seluruh masyarakat. mendukung kesinambungan program. Penerapan prinsip-
prinsip tata kelola organisasi yang baik dan peningkatan
kompetensi pegawai dijalankan untuk mencapai kinerja
Kehadiran program Jaminan Kesehatan Nasional menjadi unggul. Implementasi sistem perencanaan dan evaluasi,
harapan baru bagi seluruh masyarakat Indonesia dalam kajian, manajemen mutu dan manajemen risiko melalui
menangani permasalahan kesehatannya. BPJS Kesehatan, teknologi informasi dilaksanakan untuk mendukung
sesuai UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan keseluruhan operasionalisasi BPJS Kesehatan.
Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), mendapat amanat
untuk menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan.
Tujuan utama program ini adalah untuk memperbaiki
akses penduduk terhadap layanan kesehatan sehingga Pencapaian Kinerja 2014
peserta memperoleh manfaat pemeliharaan kesehatan
dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan.

Sebagai badan hukum publik, BPJS Kesehatan


bertanggung jawab kepada Presiden. BPJS Kesehatan
menjalankan program Jaminan Kesehatan berdasarkan
prinsip kegotongroyongan, nirlaba, keterbukaan, kehati-
hatian, akuntabilitas, portabilitas, kepesertaan bersifat
wajib, dana amanat dan hasil pengelolaan dana jaminan
sosial seluruhnya untuk pengembangan program dan
untuk sebesar-besarnya kepentingan peserta.

Dalam memberikan pelayanan, BPJS Kesehatan tidak


memandang status kependudukan seseorang. Seluruh
penduduk Indonesia, secara bertahap wajib menjadi
Dewan Pengawas beserta Direksi dan seluruh Duta
peserta Jaminan Kesehatan, termasuk orang asing
BPJS Kesehatan telah memberikan tenaga, pikiran dan
yang bekerja paling singkat 6 (enam) bulan di Indonesia.
berbagai inovasi program untuk mendukung pencapaian
Bagi fakir miskin dan orang yang tidak mampu iurannya
kinerja tahun 2014 secara optimal. Pada tahun 2014,
dibayar oleh Pemerintah. Setiap peserta mendapatkan
BPJS Kesehatan mampu memenuhi target kinerja yang
pelayanan kesehatan komprehensif mencakup promotif,
ditetapkan dalam Annual Management Contract (AMC)
preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Secara bertahap dan
dengan nilai hasil sebesar 106,14 dari target 100. Pokok-
berkelanjutan, BPJS Kesehatan berkomitmen untuk terus
pokok indikator keberhasilan yang berhasil dicapai adalah:
memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada
seluruh peserta sejalan dengan visi BPJS Kesehatan, yaitu • Cakupan kepesertaan sebanyak 133.423.653 jiwa dari
mencapai “Cakupan Semesta 2019”. target 131.378.187 jiwa.
Seiring proses transformasi yang sedang berlangsung, • Skor tingkat kepuasan peserta tercapai 81 dari
BPJS Kesehatan terus berupaya mengoptimalkan target 75.
seluruh kapasitas dan kapabilitas yang dimiliki dengan
membangun kemitraan strategis dengan berbagai lembaga

Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014 1
• Indeks kualitas layanan fasilitas kesehatan tercapai
Tahun
78 dari target 70. Peningkatan Unit Kerja dan SDM
2013 2014
• Pendapatan iuran peserta mencapai Rp40,72 triliun
Kantor Divisi Regional 12 13
dari target Rp39,95 triliun.
Kantor Cabang (termasuk KC Prima) 104 119

Kantor Layanan Operasional Kabupaten/ 358 389


Prestasi Membangun Sistem Kota (KLOK)
Kelembagaan Kantor Liaison Officer di Kawasan Industri 0 34

Dalam rangka mewujudkan penyelenggaraan Jaminan Kantor SPI Wilayah 0 4


Kesehatan Nasional yang efisien, efektif, bersih dan
Jumlah SDM 4.230 5.602
bertanggung jawab, BPJS Kesehatan telah menerapkan
Tata Kelola Organisasi Yang Baik (Good Governace).
Implementasi Good Governance tersebut dilakukan dengan Pengelolaan SDM di BPJS Kesehatan dijalankan melalui
menyusun kebijakan dan pedoman berupa: (1) Board pendekatan Competency Based Human Resources
Manual, yang mengatur tentang tugas, fungsi, wewenang, Management dengan menggunakan aplikasi online Human
tanggung jawab serta hubungan antara Dewas dan Direksi; Capital Information System (HCIS). Persiapan SDM yang
(2) Pedoman Umum, berisikan tentang prinsip-prinsip tata memiliki produktivitas dan kompetensi tinggi dilaksanakan
kelola yang baik dan kebijakan umum dari fungsi-fungsi dengan Implementasi Knowledge Management (KM), Diklat
yang dijalankan BPJS Kesehatan, dan (3) Kode Etik, yang Peningkatan Kompetensi, Diklat Penjenjangan leadership,
mencakup pengelolaan benturan kepentingan, pengelolaan Diklat Profesi, Sertifikasi dan Perguruan Tinggi, serta Diklat
gratifikasi dan whistle blower system. Luar Negeri.

Terhadap implementasi Good Governance tahun 2014, Diklat peningkatan kompetensi yang dilaksanakan
BPJS Kesehatan telah melakukan self assessment dengan pada tahun 2014 diprioritaskan pada operasional inti
pendampingan dari Badan Pengawasan Keuangan dan program BPJS Kesehatan yaitu pemasaran, kepesertaan,
Pembangunan (BPKP) yang mencakup 4 aspek tata kelola pengumpulan iuran dan implementasi tarif INA-CBG's.
organisasi yang baik, yaitu: Dewan Pengawas, Direksi, Pelatihan pemasaran difokuskan untuk pengembangan
Pengungkapan Informasi dan Transparansi. Asesmen jumlah kepesertaan BPJS Kesehatan. Sedangkan diklat
menggunakan pedoman asesmen yang mengacu kepada premium collection dimaksudkan untuk memperkuat
praktik-praktik tata kelola yang baik (best practices) dari strategi penagihan dan pengumpulan iuran dari peserta.
BPKP. Hasil asesmen mencapai skor 88,94 (dari skor Pelatihan Kepesertaan difokuskan untuk mengelola
maksimal 100) dan masuk dalam kategori Sangat Baik. data kepesertaan BPJS Kesehatan dalam jumlah yang
besar. Selanjutnya pelatihan INA-CBG's ditujukan untuk
memperlancar proses administrasi klaim dan mencegah
Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) terjadinya kecurangan (fraud) dari berbagai pihak.
Berkelanjutan dan Sumber Daya Sarana (SDS) yang Untuk memastikan kelancaran operasional di seluruh
Memadai level organisasi, BPJS Kesehatan telah mempercepat
Untuk memastikan operasional BPJS Kesehatan pemenuhan kebutuhan infrastruktur dengan prioritas
berjalan baik maka diperlukan organisasi dan SDM pada fungsi-fungsi inti guna menunjang pelayanan bagi
yang mendukung kebutuhan operasional organisasi. peserta BPJS Kesehatan. Untuk menunjang kegiatan
Perkembangan organisasi dan SDM selama kurun waktu pengadaan dan inventarisasi aset yang lebih transparan
2014 dapat dilihat pada tabel berikut: dan akuntabel, pada tahun 2013 dibangun aplikasi IMAP’s
(Integrated Management Asset and Procurement System).
Di dalamnya terdapat modul Manajemen Aset, Vendor
Registration, Contract Management e-procurement yang
memudahkan proses bisnis pengelolaan barang/jasa di
BPJS Kesehatan.

2 Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014
Memperkuat Sistem Teknologi Informasi (STI) yang Membangun Budaya Sadar Risiko
Efektif
BPJS Kesehatan menggunakan standar ISO 31000
Kegiatan STI ditujukan untuk meningkatkan efisiensi sebagai acuan dalam mengelola risiko organisasi secara
dan efektifitas kerja melalui otomasi berbagai terintegrasi, terstruktur, sistematis, efektif dan efisien.
proses pengelolaan informasi guna mempercepat Untuk itu telah disusun Pedoman Pengelolaan Risiko
manajemen dalam proses pengambilan keputusan. BPJS Kesehatan sebagai panduan bagi seluruh unit kerja
BPJS Kesehatan telah menyusun perencanaan dan dalam mengelola risikonya demi menjaga pencapaian
standarisasi Teknologi Informasi (TI) mencakup aspek tujuan organisasi.
pengembangan, implementasi dan review IT master plan,
Untuk tahun 2014, profil risiko BPJS Kesehatan mencakup
IT governance, sosialisasi implementasi IT master plan
10 kejadian yang harus dimitigasi atas risiko yang akan
serta pengembangan dan implementasi aplikasi. Dalam
terjadi. Risiko tersebut meliputi (1) peningkatan rekrutmen
aspek pemeliharaan aplikasi, telah dilaksanakan program
peserta baru untuk kategori Pekerja Penerima Upah dan
pengembangan otomasi proses bisnis. Sedangkan
anggota keluarganya; (2) upaya pencairan investasi untuk
pada bidang manajemen data dan informasi diterapkan
kebutuhan likuiditas; (3) kecukupan jumlah dan kapasitas
pengelolaan data warehouse, pengembangan dan
fasilitas kesehatan; (4) peningkatan pelayanan fasilitas
pemeliharaan database terpusat, dan pembangunan
kesehatan; (5) optimalisasi pengendalian biaya pelayanan
master file kepesertaan semesta melalui Electronic Data
kesehatan; (6) peningkatan otomasi pelayanan TIK; (7)
Interchange (EDI).
peningkatan sistem keamanan TI; (8) penambahan jumlah
Dalam hal pengelolaan jaringan dan infrastruktur teknologi SDM sesuai kebutuhan; (9) peningkatan kompetensi dan
informasi telah dilakukan pengembangan dan pemeliharaan kualitas SDM; serta (10) peningkatan iklim kerja yang
Data Center (DC) dan Disaster Recover Center (DRC), kondusif. Kejadian risiko tersebut diantisipasi secara
downtime (jaringan, server, storage, Data Center, DRC), menyeluruh pada setiap level manajemen sehingga
lisensi, antivirus dan security incident (pengamanan IT). merupakan budaya sadar risiko.
Untuk optimalisasi teknologi komunikasi layanan interaktif
dilakukan melalui pengelolaan e-mail, website dan video
conference. Implementasi Sistem Pengawasan yang Akurat
Untuk memperlancar proses pelayanan di rumah sakit, Fungsi Audit Internal di BPJS Kesehatan dilaksanakan oleh
telah dilakukan integrasi sistem yang ada di rumah sakit Satuan Pengawas Internal (SPI) yang bertanggungjawab
melalui pengembangan integrasi sistem/bridging system langsung kepada Direktur Utama dan memiliki akses
berbasis web-service sehingga pertukaran data antar komunikasi langsung kepada Komite Audit (Organ Dewan
aplikasi berjalan secara elektronik. Dengan adanya bridging Pengawas) untuk berkordinasi dan menyampaikan
system tersebut rumah sakit cukup menjalankan single informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan dan hasil
entry di aplikasi rumah sakit. Sedangkan untuk kebutuhan audit.
eligibilitas data peserta, aplikasi rumah sakit telah terhubung
dengan Master File Kepesertaan melalui web-service. SPI juga menjalankan fungsi sangat strategis dalam
Integrasi yang menyeluruh antara aplikasi Surat Eligibilitas membantu organisasi BPJS Kesehatan mencapai
Peserta (SEP) dengan SIMRS dan INA-CBG’s di 105 Rumah tujuannya dengan pendekatan yang sistematis, teratur dan
Sakit dapat mengurangi keluhan antrian panjang peserta. terstruktur melalui evaluasi pengelolaan risiko yang efektif
Sampai akhir 2014, integrasi antara SEP dengan INA-CBG’s serta tata kelola organisasi yang baik (Good Governance).
sudah diimplementasikan di 1.552 rumah sakit. Dalam rangka memperkuat fungsi pengawasan, pada
tahun 2014 telah dilakukan penguatan organisasi melalui
pembentukan 4 koordinator wilayah SPI, dari yang
sebelumnya hanya terorganisir di Kantor Pusat.

Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014 3
Prestasi dalam Melayani perbaikan yang perlu dilakukan. Hasil survey menunjukan
kepuasan peserta terhadap BPJS Kesehatan mencapai
Masyarakat angka 81%, angka ini lebih besar dari target Peta Jalan
Jaminan Kesehatan Nasional yang ditetapkan Dewan
Tahun 2014 menjadi milestone penting eksistensi BPJS
Jaminan Sosial Nasional, yaitu sebesar 75%.
Kesehatan sekaligus tantangan dalam mengelola program
jaminan kesehatan di masa depan. Secara umum, Di samping itu, BPJS Kesehatan telah menerapkan sistem
penyelenggaraan program BPJS Kesehatan selama manajemen keluhan yang berhasil merespon 100% keluhan
tahun 2014 telah berjalan dengan baik dan telah berhasil yang masuk. Keluhan yang diterima masuk melalui Pusat
meletakkan dasar yang kuat untuk suksesnya operasional Layanan Informasi 24 Jam BPJS Kesehatan dan media
di tahun-tahun mendatang. Hal tersebut ditunjukkan lainnya, berjumlah 104.427 keluhan selama tahun 2014.
dengan pencapaian sejumlah indikator kinerja utama Selama tahun 2014 juga telah dilakukan pemberian
sebagaimana yang ditetapkan dalam RKAT 2014. informasi melalui Pusat Pelayanan informasi sebanyak
435.619 kali.

Perkembangan Kepesertaan
Implementasi Kartu Indonesia Sehat 2014
Sampai dengan posisi 31 Desember 2014, realisasi
jumlah peserta yang dicapai BPJS Kesehatan tahun
2014 sebesar 133.423.653 jiwa atau 101,56% dari target
sebesar 131.378.187 jiwa. Jumlah ini berhasil menorehkan
rapor hijau dari Unit Kerja Presiden bidang Pengawasan
dan Pengendalian Pembangunan (UKP4). Terdapat
penambahan peserta baru sebanyak 20.840.231 jiwa atau
mencapai 114,32% dari target 2014 sejumlah 18.225.717
jiwa.

Penambahan peserta tersebut berasal dari Peserta Bukan


Penerima Upah (PBPU) sejumlah 9.052.859 jiwa (dari
target 5.909.167 jiwa) dan Peserta PBI APBD/Jamkesda
sebanyak 8.767.229 jiwa (dari target 7.064.262 jiwa) antara
lain peserta Jamkesda dari Jaminan Kesehatan Rakyat
Aceh (JKRA) dan Kartu Jakarta Sehat (KJS). Sebanyak 179
Pemda yang pengelolaan kesehatan masyarakatnya telah
terintegrasi dengan BPJS Kesehatan pada tahun 2014. Sesuai Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2014 tentang
Selain itu, diperoleh kepesertaan dari segmen Peserta Pelaksanaan Program Simpanan Keluarga Sejahtera,
Penerima Upah badan usaha (PPU-BU) yang meliputi Eks Program Indonesia Pintar, dan Program Indonesia Sehat
JPK Jamsostek, pegawai BUMN, badan usaha swasta dan Untuk Membangun Keluarga Produktif, sejak tanggal 3
badan hukum lainnya. Sampai dengan 31 Desember 2014, November 2014 BPJS Kesehatan telah mendistribusikan
sebanyak 122.438 Badan Usaha yang telah mendaftar Kartu Indonesia Sehat (KIS) sebanyak 4.426.010 kartu
sebagai peserta BPJS Kesehatan. kepada peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI). Distribusi
KIS akan dilanjutkan tahun 2015, kepada 81.973.990
Untuk mengetahui respon atas pelayanan yang diberikan, peserta PBI.
pada periode September sampai dengan Oktober 2014,
BPJS Kesehatan melakukan survei tingkat kepuasan Kartu Indonesia Sehat (KIS) adalah tanda kepesertaan
peserta. Survey ini dilakukan oleh pihak ketiga, bertujuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk memperoleh
untuk mengetahui tingkat kepuasan peserta dalam semua pelayanan kesehatan yang komprehensif pada fasilitas
aspek pelayanan sekaligus untuk mengidentifikasi prioritas kesehatan melalui mekanisme sistem rujukan berjenjang
dan atas indikasi medis. Kartu lainnya, seperti Kartu Eks

4 Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014
FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA
Askes, Eks Jamkesmas, KJS, Kartu JKN BPJS Kesehatan, FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA
masih tetap berlaku sesuai ketentuan sepanjang belum
diganti dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS).

37
1

,4
8

7 18
,6
1
KIS diterbitkan oleh BPJS Kesehatan untuk seluruh peserta

1 17
0

3
3

,8

,4
,4

1 16

18
0 16

,6
jaminan kesehatan termasuk penerima bantuan iuran

17
3
3

,8
3

,4

16
9

16
(PBI). Kepesertaan KIS ada 2 kelompok, yaitu kelompok

,9
3 12
9
masyarakat yang wajib mendaftar dan membayar iuran,

,9
12
baik membayar sendiri, ataupun berkontribusi bersama
pemberi kerjanya; dan kelompok masyarakat miskin

17
7
8

,5

,3
4
43

7 6

7 7
,7
dan tidak mampu yang didaftarkan oleh Pemerintah dan

,3

8 5
6

3 5

57

31
0
,6

74

6,

7,
6 3
iurannya dibayari oleh Pemerintah.

34

5,
5,
60
3,
Des 2013 Mar 2014 Jun 2014 Sep 2014 Des 2014
Pendapatan Iuran
Des 2013 Mar 2014 Jun 2014 Sep 2014 Des 2014
Sejalan dengan bertambahnya peserta BPJS Kesehatan Total FKTP Dokter/Dokter Gigi Praktek Perorangan
dan Klinik Pratama
sepanjang tahun 2014, maka pendapatan iuran pun Total FKTP Dokter/Dokter Gigi Praktek Perorangan
dan Klinik Pratama
semakin besar, yang diperoleh dari berbagai segmen
peserta. Total pendapatan iuran selama tahun 2014
mencapai Rp40,72 triliun atau 101,94% melampaui target Sedangkan Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan
RKAT sebesar Rp39,95 triliun. Tingkat kolektabilitas iuran (FKRTL) terdiri dari Rumah Sakit dan Klinik Utama
sebesar 97,33% dengan jumlah iuran yang diterima sebesar yang jumlahnya meningkat 51,5% atau sejumlah 572
Rp39,63 triliun. Pencapaian penerimaan iuran tersebut dibandingkan tahun sebelumnya. Termasuk di dalamnya
didukung oleh pemanfaatan jaringan Kantor Cabang dan ada 68 Klinik Utama. Khusus untuk Rumah Sakit swasta
electronic channel (ATM, Internet Banking, SMS Banking, telah meningkat dari 346 menjadi 652 (88,4%).
Electronic Data Capture/EDC, fasilitas transfer LLG/RTGS)
BNI, Bank Mandiri dan BRI, yang merupakan bank mitra FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN
dalam pendaftaran peserta dan penerimaan iuran. Selain FASILITAS KESEHATAN RUJUKAN TINGKAT LANJUTAN
itu secara proaktif dan berkelanjutan BPJS Kesehatan
melakukan awareness campaign kepada peserta agar
membayar iuran secara tepat waktu.
81
92

.6
1 1
.5
1

2 1
55

68
1

1.
44

59

1.
1
1.

1.
55
41

1.
4

Pembayaran Manfaat Program


1.
9
10.
9 1
10

Pelayanan Kesehatan kepada peserta dilakukan oleh


1.

Fasilitas Kesehatan (Faskes). Fasilitas Kesehatan


7

2
61

65
6

Tingkat Pertama (FKTP) terdiri dari Puskesmas, Dokter


58
7
55

2
6

61

65
34

Praktik Perorangan, Klinik TNI/Polri dan Klinik Pratama


6
58
7
55
6
34

yang jumlahnya meningkat 39,6% atau sejumlah 5.151


dibanding tahun sebelumnya. Termasuk didalamnya ada
945 FKTP Dokter Gigi Praktik Perorangan. Des 2013 Mar 2014 Jun 2014 Sep 2014 Des 2014
Des 2013 Mar 2014 TotalJun
RS 2014 Sep
RS2014
Swasta Des 2014

Total RS RS Swasta

Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014 5
Sampai dengan 31 Desember 2014, realisasi biaya manfaat Untuk memperluas cakupan manfaat bagi masyarakat,
berupa biaya pelayanan kesehatan perorangan meliputi BPJS Kesehatan juga bekerjasama dengan 49 perusahaan
biaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif, mencapai asuransi swasta melalui skema koordinasi manfaat
Rp42,65 triliun. BPJS Kesehatan telah melakukan atau Coordination of Benefit (CoB) dalam memberikan
pembayaran kapitasi sebesar Rp8,34 triliun kepada 18.437 tambahan benefit non-medis kepada masyarakat mampu
FKTP secara tepat waktu tanggal 15 setiap bulan dan yang menginginkan manfaat lebih.
sebesar Rp34,31 triliun untuk membayar 1.681 FKRTL/
Komitmen dalam Membangun Kedekatan, Mendengar
Rumah Sakit dengan waktu pembayaran klaim rata-rata 13
Keluhan dan Memberi Solusi
hari (lebih cepat dari ketentuan Undang-Undang maksimal
15 hari). Sebagai komitmen dalam memberikan pelayanan
berkualitas kepada peserta, BPJS Kesehatan diwajibkan
Biaya manfaat diatas adalah untuk membayar sebanyak
untuk membentuk Unit Pengendali Mutu Pelayanan
61,7 juta kunjungan pasien Rawat Jalan Tingkat Pertama
dan Penanganan Pengaduan Peserta (UPMP4). Di
(RJTP) di FKTP dan 511.475 kasus Rawat Inap Tingkat
tahun 2014 telah dibentuk UPMP4 di seluruh unit kerja
Pertama (RITP) di FKTP, serta 21,3 juta kunjungan pasien
BPJS Kesehatan, baik di Kantor Pusat, Kantor Divisi
Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL) dan sebanyak 4,2
Regional dan Kantor Cabang.
juta kasus di Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL).
BPJS Kesehatan juga membangun kemitraan dan
Peningkatan Kualitas Pelayanan
kedekatan dengan berbagai pihak untuk meningkatkan
BPJS Kesehatan mengelola manfaat pelayanan kesehatan awareness masyarakat terhadap Jaminan Kesehatan
melalui manajemen manfaat pelayanan primer dan rujukan. Nasional, sehingga timbul kesadaran masyarakat untuk
Pengelolaan manfaat pelayanan primer dilakukan melalui berpartisipasi di dalam program jaminan kesehatan.
penguatan sistem gate keeper, penetapan indikator mutu Sampai dengan 31 Desember 2014, beragam kegiatan
manfaat pelayanan kesehatan primer, serta pelayanan promosi dilakukan oleh BPJS Kesehatan, baik melalui
promotif preventif di FKTP. media cetak maupun media elektronik.

Sedangkan pengelolaan manajemen manfaat pelayanan Membangun kedekatan kepada berbagai pihak juga
rujukan dilakukan melalui penguatan sistem rujukan dilakukan melalui pusat Layanan Informasi 24 Jam
berjenjang, peningkatan mutu manfaat pelayanan BPJS Kesehatan 500400, Pemberian Informasi Langsung,
kesehatan rujukan dan manajemen utilisasi/pemanfaatan, talkshow, hotline service, pemberian informasi melalui
serta pengendalian penyalahgunaan (anti fraud). Untuk Kantor Cabang/BPJS Kesehatan Center, website BPJS
meningkatkan kualitas pelayanan kepada peserta, Kesehatan, media sosial (twitter), dan SMS gateway. Selain
termasuk membangun komunikasi dengan rumah sakit itu, juga disampaikan melalui surat, surat elektronik (email)
dan melaksanakan pelayanan administrasi terpadu, BPJS dan media massa. Pada tahun 2014, BPJS Kesehatan
Kesehatan menempatkan petugas di Rumah Sakit dengan telah mengunggah 130 berita di website, 3.282 berita di
membentuk unit BPJS Kesehatan Center. Sampai dengan twitter BPJS Kesehatan, 109 berita di Kompasiana, 2.212
31 Desember 2014 jumlah rumah sakit yang telah memiliki berita/thread di kaskus, dan 33 berita di youtube BPJS
BPJS Kesehatan Center sebanyak 1.237 rumah sakit Kesehatan.
(73,59% dari total rumah sakit yang bekerjasama) dan 505
Sepanjang tahun 2014, BPJS Kesehatan telah memberikan
rumah sakit diantaranya sudah terpasang jaringan VPN.
informasi sebanyak 959.927 secara lisan dan 99.177
Sebagai feedback atas mutu layanan yang telah secara tulisan. Sedangkan jumlah keluhan yang diterima
diberikan, BPJS Kesehatan melakukan pengukuran atas sampai dengan 31 Desember 2014 tercatat 104.427
Indeks Kualitas Layanan oleh Fasilitas Kesehatan. Hasil keluhan yang terdiri dari 18.904 keluhan diterima melalui
pengukuran, diperoleh indeks sebesar 78% atau 111,43% Pusat Layanan Informasi 24 Jam BPJS Kesehatan 500400
dari target sebesar 70%. dan 85.523 keluhan yang tercatat dari media lainnya.
Seluruh keluhan yang masuk sampai Desember 2014,

6 Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014
rata-rata dapat diselesaikan dalam waktu 1,5 hari (lebih sebesar 44,05% lebih rendah dari RKAT antara lain karena
cepat dari ketentuan Undang-Undang maksimal 5 hari). terjadinya peningkatan jumlah liabilitas lancar, yaitu utang
Pokok masalah keluhan terbanyak yang disampaikan jaminan kesehatan.
peserta adalah pelayanan administrasi.
Dana Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)

Pengelolaan Dana/Keuangan Sebagai pengelola Dana Jaminan Sosial, pendapatan


operasional Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Dana Jaminan Sosial
per 31 Desember 2014 tercatat Rp2,48 triliun, didapat dari
Pengelolaan investasi Dana Jaminan Sosial tahun 2014 dana operasional sebesar 6,25% yang dipotong dari iuran
telah dikelola secara prudent dengan hasil kinerja yang baik peserta sesuai Peraturan Menteri Keuangan RI Nomor 211/
sehingga mencapai yield on investment (YOI) netto sebesar PMK.02/2013.
13,03%.
Selain itu, BPJS Kesehatan juga memperoleh pendapatan
Tahun 2014, aset neto DJS membukukan kondisi negatif investasi bruto sebesar Rp1,33 triliun atau 128,47% dari
(mismatch) sebesar Rp3,31 triliun, lebih tinggi dari asumsi RKAT, yang diperoleh dari pengembangan dana investasi
pada RKAT 2014. Hal ini antara lain disebabkan karena BPJS sebesar Rp9,95 triliun atau 123,60% dari RKAT.
realisasi biaya manfaat yang lebih besar dibandingkan Biaya Investasi sebesar Rp151,11 miliar atau 157% dari
dengan alokasi pada RKAT 2014. Upaya yang dilakukan RKAT. Berdasarkan Dana, Pendapatan dan Beban Investasi
BPJS Kesehatan untuk mengatasi aset neto negatif tersebut, tersebut, maka Yield on Investment (YOI) neto dana BPJS
yaitu dengan menerbitkan Peraturan BPJS Kesehatan sebesar 13,87%.
Nomor 4 Tahun 2014 tentang Tata Cara Pendaftaran dan
Pada akhir tahun 2014 jumlah aset BPJS mencapai Rp11,98
Pembayaran Peserta Perorangan BPJS Kesehatan. Salah
triliun atau 109,16% dari RKAT. Pencapaian aset tersebut
satu isi peraturan tersebut mengatur pemanfaatan layanan
terutama dipengaruhi oleh pencapaian penghasilan neto
kesehatan setelah 7 hari mendaftar untuk peserta BPJS
yang sampai dengan 31 Desember 2014 mencapai Rp1,07
Kesehatan segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU).
triliun. Sedangkan Liabilitas BPJS sebesar Rp838 miliar
Tujuannya adalah untuk membiasakan masyarakat
atau 133,32% dari RKAT. Adapun Rasio likuiditas dana
mampu dan sehat agar mendaftarkan menjadi peserta
BPJS sebesar 1.494,02%.
BPJS Kesehatan sebelum sakit.
Sebagai sebuah badan hukum publik, BPJS Kesehatan
Upaya lain adalah melakukan secara ketat kendali mutu
juga mengeluarkan beban operasional untuk menjalankan
dan kendali biaya pelayanan kesehatan yang dilakukan di
program kerjanya. Beban operasional sampai dengan 31
FKTP dan FKRTL serta melakukan kajian atas kecukupan
Desember 2014 sebesar Rp2,47 triliun atau 84,74% dari
iuran untuk Tahun 2016 dengan pendekatan aktuaria
RKAT. Dengan perolehan pendapatan operasional yang
yang berbasis data realisasi pelayanan kesehatan peserta
mencapai 102,71% dari RKAT dan beban operasional yang
selama 1 tahun perjalanan program Jaminan Kesehatan
hanya terealisasi 84,74%, serta pendapatan investasi bruto
Nasional.
yang mencapai 128,47% dari RKAT, maka BPJS Kesehatan
Kajian tersebut berbeda dengan nilai iuran tahun 2014 mencatat penghasilan komprehensif (surplus) sebesar
dan 2015, yang belum sepenuhnya dengan pendekatan Rp1,11 triliun atau 391,54% dari RKAT.
aktuaria, namun menggunakan pendekatan studi, yang
disesuaikan dengan ketersediaan ruang fiskal Pemerintah.

Aset Dana Jaminan Sosial mencapai Rp4,32 triliun atau


122,83% dari RKAT 2014. Sedangkan Liabilitas Dana
Jaminan Sosial sebesar Rp7,63 triliun atau 134,19% dari
RKAT. Hal ini yang disebabkan oleh tingginya utang jaminan
kesehatan sebagai konsekuensi dari tingginya pemanfaatan
pelayanan kesehatan oleh peserta. Adapun rasio likuiditas

Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014 7
Pengawasan yang Menghasilkan
Opini WTP, Skor GG Sangat Baik dan
UKP4 Warna Hijau
Satu tahun implementasi program jaminan kesehatan
yang dikelola BPJS Kesehatan, Kantor Akuntan Publik
(KAP) Kanaka Puradireja Suhartono telah memberikan
opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) terhadap Laporan
Keuangan Dana Jaminan Sosial (DJS) dan BPJS Kesehatan
untuk periode yang berakhir pada 31 Desember 2014.
Dengan demikian Laporan Keuangan Dana Jaminan Sosial
(DJS) Kesehatan dan BPJS Kesehatan dinyatakan: ”telah
disajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,
posisi keuangan Dana Jaminan Sosial (DJS) Kesehatan
dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)
Kesehatan serta kinerja keuangan dan arus kas untuk
tahun yang berakhir pada tanggal tersebut, sesuai dengan
Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia”. Audit yang
dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik, merupakan wujud
implementasi dari prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional
(SJSN) yaitu keterbukaan, kehati-hatian dan akuntabilitas.

Hasil pengukuran Good Governance BPJS Kesehatan


telah memperoleh penilaian Sangat Baik (yang merupakan
predikat tertinggi), dengan capaian skor aktual 88,94 dari
skor maksimal 100.

BPJS Kesehatan juga memperoleh penilaian yang baik


(warna hijau) dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan
dan Pengendalian Pembangunan (UKP4).

8 Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014
Hal Yang Perlu Mendapat Perhatian
Pemerintah
Satu tahun implementasi program jaminan kesehatan
yang dikelola BPJS Kesehatan, telah memberi manfaat
yang nyata bagi masyarakat, terutama bagi mereka
yang membutuhkan jaminan kesehatan. Sejalan dengan
program Pemerintah melalui implementasi Kartu Indonesia
Sehat (KIS) yang merupakan salah satu agenda Nawacita,
selanjutnya program jaminan kesehatan ini membutuhkan
dukungan penuh dari Pemerintah.

VISI PRESIDEN

BERDAULAT

Lembaga yang Bertanggung


Jawab Langsung kepada
TRISAKTI Presiden untuk Menjalankan
Jaminan Kesehatan

GOTONG ROYONG Mensukseskan KIS


dengan mendorong masyarakat sehat
BERKEPRIBADIAN dan mampu untuk menjadi peserta
BERDIKARI jaminan kesehatan KIS

“…harapan akan berdikarinya/penguatan Nawacita ke lima (5), “… akan meningkatkan


sendi-sendi ekonomi bangsa menjadi semakin kualitas hidup manusia Indonesia melalui …
jauh ketika negara tidak kuasa memberikan layanan kesehatan masyarakat dengan
jaminan kesehatan dan kualitas hidup yang menginisiasi kartu “Indonesia Sehat”…”
layak…”

Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014 9
1. Untuk menjamin sustainabilitas program jaminan c. Standar Tarif Pelayanan Kesehatan
kesehatan nasional jangka panjang, BPJS Kesehatan
Standar tarif yang diatur Permenkes 59/2014
membutuhkan dukungan Pemerintah, melalui:
berimplikasi terhadap penyerapan dana.
a. Revisi Iuran Untuk Mencukupi Biaya Pelayanan Besarnya biaya pelayanan kesehatan dipengaruhi
Kesehatan oleh (i) utilisasi dan (ii) tarif. Angka utilisasi
bersifat random, tergantung penyakit, sehingga
Penyesuaian besaran iuran JKN akan
intervensinya relatif sulit. Intervensi tarif lebih
menjadi penyelamat utama keuangan BPJS
memungkinkan dengan menetapkan tarif agar
Kesehatan. Revisi besaran iuran JKN dengan
penyerapan biaya maksimal 90%, dengan cara
memperhitungkan semua kebutuhan biaya.
mereviu struktur tarif INA-CBG's di rumah sakit.
Besaran iuran dihitung dengan memenuhi prinsip:
kecukupan, rasional, kompetitif, ekuitas dan d. Penegakan Pengendalian Biaya (Cost
bersifat futuristik. Untuk maksud ini maka iuran Containment)
dihitung secara cermat dengan menerapkan
Penerapan kapitasi dan INA-CBG's tidak luput
kaidah-kaidah perhitungan aktuaria.
dari masalah. Berbagai isu antara lain up-coding,
Penyesuaian besaran iuran tahun 2016 untuk re-admission, bloody-discharge, dumping dan
menanggulangi mismatch antara iuran yang skimping, merupakan implikasi yang tidak
diterima dengan biaya pelayanan kesehatan yang diharapkan dalam penerapan INA-CBG's sebagai
dikeluarkan tahun 2014 dan 2015 serta sebagai sistem pembayaran di rumah sakit. Kondisi ini jika
bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan dibiarkan akan berujung pada penyerapan dana
di FKTP dan FKRTL sekaligus untuk mendorong di luar batas normal, sehingga eskalasi biaya
partisipasi swasta, mengantisipasi laju inflasi dan sulit dikendalikan. Untuk itu dibutuhkan program
tuntutan kenaikan tarif. Penyesuaian iuran akan kendali biaya dan mutu layanan yang konsisten
mengurangi/menghapus nilai negaitf/defisit Aset yang dikoordinir oleh Kementerian Kesehatan.
Neto yang akan terjadi pada tahun 2016 serta
2. Untuk Peningkatan Mutu Pelayanan Kesehatan,
menghindari prediksi defisit pada tahun-tahun
BPJS Kesehatan membutuhkan dukungan
yang akan datang.
Pemerintah, melalui:
b. Rekrutmen Peserta yang Sehat
a. Supply side (jumlah, distribusi dan kompetensi)
BPJS Kesehatan memiliki tugas atau peran untuk
Agar masyarakat mudah dalam mengakses
mengupayakan agar masyarakat mendaftarkan
fasilitas kesehatan, diperlukan dukungan
dirinya sebagai peserta BPJS Kesehatan saat
Pemerintah untuk meningkatkan jumlah dan
kondisi dirinya sehat, bukan pada saat kondisi
kualitas fasilitas kesehatan baik di fasilitas
sakit baru mendaftar. Oleh karena itu BPJS
kesehatan tingkat pertama (FKTP) maupun
Kesehatan memerlukan dukungan Pemerintah,
Fasilitas kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan
terutama untuk mendorong prinsip kegotong
(FKRTL), baik milik Pemerintah maupun swasta.
royongan dan mengoptimalkan partisipasi
Distribusi fasilitas kesehatan yang merata dan
langsung dari peserta BUMN, Pekerja Penerima
didukung oleh tenaga medis yang kompeten,
Upah Swasta dan masyarakat sehat dari segmen
harus menjadi perhatian, khususnya di daerah
Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU). Khusus
yang kurang diminati.
untuk PBPU, masa tunggu administrasi menjadi
peserta merupakan keniscayaan yang seyogyanya Pada masa mendatang, terdapat kekhawatiran
didukung penuh Pemerintah. tingkat pertumbuhan peserta tidak seimbang
dengan tingkat pertumbuhan fasilitas kesehatan
dan tenaga kesehatan.

10 Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014
b. Obat Dukungan Pemerintah kepada BPJS Kesehatan
sebagaimana usulan di atas sangat menentukan bagi
Ketersediaan obat merupakan isu penting dalam
sustainabilitas pengimplementasian Kartu Indonesia Sehat
pelayanan kesehatan pada awal tahun berjalannya
(KIS)–Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), mengingat
program Jaminan Kesehatan Nasional. Hal ini
program ini sangat strategis dan dibutuhkan oleh seluruh
perlu langkah serius dari seluruh stakeholder
masyarakat Indonesia. Dukungan ini harus segera
terkait untuk memperbaikinya, termasuk dari
diwujudkan untuk menjaga agar tidak terjadi kegagalan
industri obat. Pemerintah perlu mereviu kebijakan
pembayaran (default) kepada fasilitas kesehatan
ketersediaan obat sehingga tercipta sistem yang
sehingga Pemerintah tidak perlu secara terus menerus
kuat dan mampu mendorong komitmen berbagai
menutupi beban defisit yang akan terjadi di masa yang
pihak untuk memperbaiki pelayanan kepada
akan datang. Oleh karena itu, sesuai dengan amanat UU
peserta.
SJSN dan UU BPJS, Pemerintah berkewajiban menjamin
c. Sistem Rujukan Berjenjang BPJS Kesehatan berjalan sebagaimana mestinya untuk
kepentingan seluruh rakyat Indonesia.
Mekanisme sistem rujukan berjenjang antar
fasilitas kesehatan membutuhkan pengaturan
kebijakan baik oleh Pemerintah Pusat maupun
Jakarta, Mei 2015
Pemerintah Daerah.

Pada Tahun 2014, berdasarkan Peraturan


Gubernur, SK Kepala Dinas Kesehatan Propinsi,
MOU antara BPJS Kesehatan dengan Pemerintah
Propinsi maupun dalam bentuk peraturan daerah, Fachmi Idris
telah memberi dampak yang menguntungkan
dalam pelaksanaan program sistem rujukan Direktur Utama
berjenjang.

Selanjutnya BPJS Kesehatan membutuhkan


dukungan implementasi yang kuat dari Kepala
Daerah dan Dinas Kesehatan untuk bersama-
sama dengan BPJS Kesehatan melakukan
pengawasan yang ketat, mengedukasi fasilitas
kesehatan dan peserta agar sistem ini dapat
berjalan dengan baik.

Ringkasan Eksekutif Laporan Pengelolaan Program Dan Laporan Keuangan Jaminan Sosial Kesehatan Tahun 2014 11
24
KANTOR PUSAT
Jl. Letjen Suprapto Kav. 20 No. 14
Cempaka Putih, Jakarta Pusat

JAM 10510

Telp. 021 421 2938 (Hunting)


www.bpjs-kesehatan.go.id Fax. 021 421 2940