Anda di halaman 1dari 26

Referat

BENDA ASING ESOFAGUS

Oleh:

Putri Dunda, S.Ked 04084821820047

Rani Gustini, S.Ked 04054821719094

Rostika Fajrastuti, S.Ked 04054821719095

Pembimbing:

dr. Puspa Zuleika, Sp.T.H.T-K.L (K), FICS

BAGIAN ILMU KESEHATAN THT-KL RSMH

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

PALEMBANG

2018

i
HALAMAN PENGESAHAN

Referat

Judul: Benda Asing Esofagus

Disusun oleh :

Putri Dunda, S.Ked 04084821820047

Rani Gustini, S.Ked 04054821719094

Rostika Fajrastuti, S.Ked 04054821719095

Telah diterima sebagai salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di
Bagian Ilmu Kesehatan THT-KL Fakultas Kedokteran Universitas
Sriwijaya/RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang periode Oktober ─ November
2018.

Palembang, November 2018

Pembimbing,

dr. Puspa Zuleika, Sp.T.H.T-K.L (K), FICS

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT atas berkah dan
rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan kasus dengan judul
“Benda Asing Esofagus” untuk memenuhi tugas sebagai bagian dari sistem
pembelajaran dan penilaian kepaniteraan klinik, khususnya Bagian Ilmu
Kesehatan THT-KL Universitas Sriwijaya.

Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada dr.
Puspa Zuleika,Sp.T.H.T-K.L(K),FICS , selaku pembimbing yang telah membantu
memberikan ajaran dan masukan sehingga laporan kasus ini dapat diselesaikan
dengan baik.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan laporan


kasus ini yang disebabkan keterbatasan kemampuan penulis. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak sangat penulis harapkan
demi perbaikan di masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberi
manfaat dan pelajaran bagi kita semua.

Palembang, November 2018

Penulis

iii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL................................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................. ii

KATA PENGANTAR ........................................................................................... iii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iv

BAB I. PENDAHULUAN .......................................................................................1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.............................................................................2

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................35

iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Benda asing di suatu organ adalah benda yang berasal dari luar tubuh
atau dari dalam tubuh yang dalam keadaan normal tidak ada. Dari semua
kasus benda asing yang masuk kedalam saluran cerna dan pernapasan anak-
anak, sepertiganya tersangkut di saluran pernapasan. Benda asing esofagus
adalah benda yang tajam maupun tumpul atau makanan yang tersangkut dan
terjepit di esofagus karena tertelan, baik secara sengaja maupun tidak
sengaja.1,2
Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda asing merupakan masalah
utama anak usia 6 bulan sampai 6 tahun, dan dapat terjadi pada semua umur
pada tiap lokasi di esophagus, baik ditempat penyempitan fisiologis maupun
patologis dan dapat pula menimbulkan komplikasi fatal akibat perforasi.
Angka kejadian tertelan benda asing mengakibatkan 1500 kematian di
Amerika Serikat. Sebanyak 80-90 % benda asing esofagus akan melewati
saluran pencernaan selama 7-10 hari tanpa komplikasi, sedangkan 10-20%
sisanya membutuhkan tindakan endoskopi dan 1% membutuhkan
pembedahan.2,3
Benda asing di esophagus merupakan tantangan tersendiri, meskipun
masalah klinis ini telah mengalami kemajuan besar dalam teknik anestesi dan
instrumentasi, ekstraksi benda asing saluran cerna bukanlah merupakan suatu
prosedur yang mudah dan tetap memerlukan keterampilan serta pengalaman
dari dokter yang melakukannya. Oleh karena itu kasus ini diangkat pada
diskusi kasus mengenai benda asing di esophagus.3

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Anatomi Esofagus
Esofagus merupakan sebuah saluran berupa tabung berotot yang
menghubungkan dan menyalurkan makanan dari rongga mulut ke lambung.
Dari perjalanannya dari faring menuju gaster, esofagus melalui tiga
kompartemen dan dibagi berdasarkan kompartemen tersebut, yaitu Leher(pars
servikalis), sepanjang 5 cm dan berjalan di antara trakea dan kolumna
vertebralis. Dada (pars thorakalis), setinggi manubrium sterni berada di
mediastinum posterior mulai di belakang lengkung aorta dan bronkus cabang
utama kiri, lalu membelok ke kanan bawah di samping kanan depan aorta
thorakalis bawah. Abdomen (pars abdominalis), masuk ke rongga perut
melalui hiatus esofagus dari diafragma dan berakhir di kardia lambung,
panjang berkisar 2-4 cm.3
Pada orang dewasa, panjang esofagus apabila diukur dari incivus
superior ke otot krikofaringeus sekitar 15-20 cm, ke arkus aorta 20-25 cm, ke
v. pulmonalis inferior, 30-35 cm, dan ke kardioesofagus joint kurang lebih 40-
45 cm. Pada anak, panjang esofagus saat lahir bervariasi antara 8 dan 10 cm
dan ukuran sekitar 19 cm pada usia 15 tahun.3
Bagian servikal:
1. Panjang 5-6 cm,setinggi vertebra cervicalis VI sampai vertebra thoracalis I
2. Anterior melekat dengan trachea (tracheoesophageal party wall)
3. Anterolateral tertutup oleh kelenjar thyroid
4. Sisi dextra/sinistra dipersarafi oleh nervus recurren laryngeus
5. Posterior berbatasan dengan hypopharynx
6. Pada bagian lateral ada carotid sheats beserta isinya
Bagian Thorakal:
1. Bagian Thoracal: Panjang 16-18 cm, setinggi Vertebra thoracalis IX-X
2. Berada di mediastinum superior antara trachea dan collumna vertebralis

2
3. Dalam rongga thorax disilang oleh arcus aorta setinggi vertebra thoracalis
IV dan bronchus utama sinistra setinggi Vertebra thoracalis V
4. Arteri pulmonalis dextra menyilang di bawah bifurcatio trachealis
5. Pada bagian distal antara dinding posterior oesophagus dan ventral corpus
vertebralis terdapat ductus thoracicus, vena azygos, arteri dan vena
intercostalis
Bagian abdominal:
1. Terdapat pars diaphragmatica sepanjang 1 - 1,5 cm, setinggi vertebra
thoracalis X
2. Terdapat pars abdominalis sepanjang 2 - 3 cm, bergabung dengan cardia
gaster disebut gastroesophageal junction

Gambar 1. Anatomi Esofagus4

Esofagus mempunyai tiga daerah normal penyempitan yang sering


menyebabkan benda asing tersangkut di esofagus. Penyempitan pertama
adalah disebabkan oleh muskulus krikofaringeal, dimana pertemuan antara
serat otot striata dan otot polos menyebabkan daya propulsif melemah.

3
Daerah penyempitan kedua disebabkan oleh persilangan cabang utama
bronkus kiri dan arkus aorta. Penyempitan yang ketiga disebabkan oleh
mekanisme sfingter gastroesofageal.3

Gambar 2. Anatomi Saluran Pencernaan Atas

2.2.Fisiologi Esophagus (Proses Menelan)


Menelan merupakan suatu aksi fisiologis kompleks ketika makanan
atau cairan berjalan dari mulut ke lambung. Menelan merupakan rangkaian
gerakan otot yang sangat terkoordinasi, dimulai dari pergerakan voluntar lidah
dan diselesaikan dengan serangkaian refleks dalam faring dan esofagus.
Bagian aferen refleks ini merupakan serabut-serabut yang terdapat dalam saraf
V, IX, dan X. Pusat menelan atau deglutisi terdapat pada medula oblongata.
Di bawah koordinasi pusat ini, impuls-impuls berjalan ke luar dalam
rangkaian waktu yang sempurna melalui saraf kranial V, X, dan XII menuju
ke otot-otot lidah, faring, laring, dan esofagus. Walaupun menelan merupakan
suatu proses yang kontinu, tetapi terjadi dalam tiga fase oral, faringeal, dan
esofageal.

4
Pada fase oral, makanan yang telah dikunyah oleh mulut disebut bolus
didorong ke belakang mengenai dinding posterior faring oleh gerakan voluntar
lidah. Akibat yang timbul dari peristiwa ini adalah rangsangan gerakan refleks
menelan. Posisi lidah yang menekan langit-langit keras menjaga agar makanan
tidak masuk kembali ke mulut sewaktu menelan.5
Pada fase faringeal, palatum mole dan uvula bergerak secara refleks
menutup rongga hidung. Pada saat yang sama, Iaring terangkat dan menutup
glotis, mencegah makanan memasuki trakea. Kontraksi m.levator palatini
mengakibatkan rongga pada lekukan dorsum lidah diperluas, palatum mole
terangkat dan bagian atas dinding posterior faring akan terangkat pula. Bolus
terdorong ke posterior karena lidah terangkat ke atas. Selanjutnya terjadi
kontraksi m.palatoglosus yang menyebabkan ismus fausium tertutup, diikuti
oleh kontraksi m.palatofaring, sehingga bolus makanan tidak akan berbalik ke
rongga mulut. Kontraksi otot konstriktor faringeus mendorong bolus melewati
epiglotis menuju ke faring bagian bawah dan memasuki esofagus. Gerakan
retroversi epiglotis di atas orifisium Iaring akam melindungi saluran
pernapasan, tetapi terutama untuk menutup glotis sehingga mencegah
makanan memasuki trakea. Pernapasan secara serentak dihambat untuk
mengurangi kemungkinan aspirasi. Sebenarnya, hampir tidak mungkin secara
voluntar menarik napas dan menelan dalam waktu yang sama.3,5
Fase esofageal mulai saat otot krikofaringues relaksasi sejenak dan
memungkinkan bolus memasuki esofagus. Setelah relaksasi yang singkat itu,
gelombang peristaltik primer yang dimulai dari faring dihantarkan ke otot
krikofaringeus, menyebabkan otot ini berkontraksi. Gelombang peristaltik
terus berjalan sepanjang esofagus, mendorong bolus menuju sfingter esofagus
bagian distal. Adanya bolus merelaksasikan otot sfingter distal ini sejenak
sehingga memungkinkan bolus masuk ke dalam lambung. Gelombang
peristaltik primer bergerak dengan kecepatan 2 sampai 4 cm/detik, sehingga
makanan yang tertelan mencapai lambung dalam waktu 5 sampai 15 detik.
Mulai setinggi arkus aorta, timbul gelombang peristaltik sekunder bila

5
gelombang primer gagal mengosongkan esofagus. Timbulnya gelombang ini
dipacu oleh peregangan esofagus oleh sisa partikel partikel makanan.5
Gelombang peristaltik primer penting untuk jalannya makanan dan
cairan melalui bagian atas esofagus, tetapi kurang penting pada esofagus
bagian bawah. Posisi berdiri tegak dan gaya gravitasi adalah faktor-faktor
penting yang mempermudah transpor dalam esofagus bagian bawah, tetapi
adanya gerakan peristaltik memungkinkan seseorang untuk minum air sambil
berdiri terbalik dengan kepala di bawah atau ketika berada di luar angkasa
dengan gravitasi nol.5
Sewaktu menelan terjadi perubahan tekanan dalam esofagus yang
mencerminkan fungsi motoriknya. Dalam keadaan istirahat, tekanan dalam
esofagus sedikit berada di bawah tekanan atmosfer, tekanan ini mencerminkan
tekanan intratorak. Daerah sfingter esofagus bagian atas dan bawah
merupakan daerah bertekanan tinggi. Daerah tekanan tinggi ini berfungsi
untuk mencegah aspirasi dan refluks isi lambung. Tekanan menurun bila
masing-masing sfingter relaksasi sewaktu menelan dan kemudian meningkat
bila gelombang peristaltik melewatinya. Ada bukti-bukti yang menyatakan
bahwa rangkaian gerakan kompleks yang menyebabkan terjadinya proses
menelan mungkin terganggu bila ada sejumlah proses patologis. Proses ini
dapat mengganggu transpor makanan maupun mencegah refluks lambung.5

Gambar 3. Fisiologi Menelan

6
2.3.Definisi
Benda asing esofagus adalah benda yang tajam maupun tumpul atau
makanan yang tersangkut dan terjepit di esofagus karena tertelan, baik secara
sengaja maupun tidak sengaja.6
Peristiwa tertelan dan tersangkutnya benda asing merupakan masalah
utama pada anak usia 6 bulan sampai 6 tahun dan dapat terjadi pada semua
umur pada tiap lokasi di esofagus, baik di tempat penyempitan fisiologis
maupun patologis dan dapat pula menimbulkan komplikasi fatal akibat
perforasi.6

2.4.Klasifikasi Benda Asing


Berdasarkan asalnya, benda asing digolongkan menjadi dua golongan :13,14

1. Benda asing eksogen, yaitu yang berasal dari luar tubuh, biasanya masuk
melalui hidung atau mulut. Benda asing eksogen terdiri dari benda padat,
cair, atau gas. Benda asing eksogen padat terdiri dari zat organik, seperti
kacang-kacangan (yang berasal dari tumbuhan-tumbuhan), tulang (yang
berasal dari kerangka binatang), dan zat anorganik seperti paku, jarum,
peniti, batu, kapur barus (naftalen), gigi palsu, dan lain-lain. Benda asing
eksogen cair dibagi dalam benda cair yang bersifat iritatif, seperti zat
kimia, dan benda cair noniritatif, yaitu cairan dengan pH 7,4.
2. Benda asing endogen, yaitu yang berasal dari dalam tubuh. Benda asing
endogen dapat berupa sekret kental, darah atau bekuan darah, nanah,
krusta, perkijuan, membran difteri. Cairan amnion, mekonium dapat
masuk ke dalam saluran napas bayi pada saat proses persalinan.

2.5.Epidemiologi
Morbiditas dan mortalitas yang tinggi tergantung pada komplikasi yang
terjadi. Benda asing di esophagus sering ditemukan di daerah penyempitan
fisiologis esophagus. Benda asing yang bukan makanan kebanyakan
tersangkut di servikal esophagus, biasanya di otot krikofaring atau arkus aorta,
kadang-kadang di daerah penyilangan esophagus dengan bronkus utama kiri

7
pada sfingter kardio esophagus.70% dari 2394 kasus benda asing esophagus
ditemukan di daerah servikal, dibawah sfingter krikofaring, 12% didaerah
hipofaring dan 7,7% didaerah esophagus torakal. Dilaporkan 48% kasus benda
asing yang tersangkut di daerah esofagogaster menimbulkan nekrosis tekanan
atau infeksi lokal. Pada orang dewasa benda asing yang tersangkut dapat
berupa makanan atau bahan yang tidak dapat dicerna seperti biji buah-buahan,
gigi palsu, tulang ikan, atau potongan daging yang melekat pada tulang.3

2.6.Etiologi dan Faktor Predisposisi


Secara klinis masalah yang timbul akibat benda asing esofagus dapat
dibagi dalam golongan anak dan dewasa. Penyebab pada anak antara lain,
anomali kongenital termasuk stenosis kongenital, web, fistel trakeoesofagus
dan pelebaran pembuluh darah.6
Faktor predisposisi antara lain belum tumbuhnya gigi molar untuk dapat
menelan dengan baik, koordinasi proses menelan dan sfingter laring yang
belum sempurna pada kelompok usia 6 bulan sampai 1 tahun, retardasi mental,
gangguan pertumbuhan dan penyakit-penyakit neurologik lain yang
mendasarinya. Pada orang dewasa tertelan benda asing sering dialami oleh
pemabuk atau pemakai gigi palsu yang telah kehilangan sensasi rasa (tactile
sensation) dari palatum, pada pasien gangguan mental dan psikosis.6
Faktor predisposisi lain ialah adanya penyakit-penyakit esofagus yang
menimbulkan gejala disfagia kronis, yaitu penyakit esofagitis refluks, striktur
pasca esofagitis kronis, akhalasia, karsinoma esofagus atau lambung, cara
mengunyah yang salah dengan gigi palsu yang kurang baik pemasangannya,
mabuk (alkoholisme) dan intoksikasi (keracunan).6

2.7.Patogenesis
Benda asing yang berada lama di esofagus dapat menimbulkan berbagai
komplikasi, antara lain jaringan granulasi yang menutupi benda asing, radang
periesofagus. Benda asing tertentu seperti baterai alkali mempunyai toksisitas

8
intrinsik lokal dan sistemik dengan reaksi edema dan inflamasi lokal, terutama
bila terjadi pada anak-anak.3,6
Batu baterai (disc battery) mengandung elektrolit, baik natrium maupun
kalium hidroksida dalam larutan kaustik pekat (concentrated caustic solution).
Pada penelitian binatang in vitro dan in vivo, bila baterai berada dalam
lingkungan yang lembab dan basah, maka pengeluaran elektrolit akan terjadi
dengan cepat sehingga terjadi kerusakan jaringan (tissue saponification)
dengan ulserasi lokal, perforasi atau pembentukan striktur. Absorbsi bahan
metal dalam darah menimbulkan toksisitas sistemik. Oleh karena itu benda
asing batu baterai harus segera dikeluarkan.3,6
Ketika benda asing masuk ke esophagus, dapat membentuk suatu peradang
an pada esophagus dan menimbulkan suatu efek trauma pada esophagus.
Kemudian menimbulkan suatu edema yang menimbulkan rasa nyeri. Efek
lebih lanjut adalah terjadi penumpukan makanan, rasa penuh di leher dan
kemudian dapat menganggu sistem pernapasan sebagai akibat trauma
yang juga mempengaruhi trakea, dimana trakea memiliki jarak yang dekat
dengan esophagus.3

Gambar 4. Patogenesis benda asing di esophagus3

2.8.Manifestasi Klinis

9
Gejala sumbatan akibat benda asing di esofagus tergantung pada ukuran,
bentuk, jenis benda asing, lokasi tersangkutnya (apakah berada di daerah
penyempitan esofagus yang normal atau patologis), komplikasi yang timbul,
dan lama tertelan. Mula-mula timbul nyeri di daerah leher bila benda asing
tersangkut di daerah servikal. Bila benda asing tersangkut di esofagus bagian
distal, timbul rasa tidak enak di daerah substernal atau nyeri di punggung.6
Suatu benda asing yang tersangkut dalam esofagus menimbulkan kesulitan
dalam menelan serta rasa tidak nyaman. Posisi benda asing dalam esofagus
seringkali dapat terlokalisasi secara akurat oleh pasien.7
Gejala disfagia bervariasi tergantung pada ukuran benda asing. Disfagia
lebih berat bila telah terjadi edema mukosa yang memperberat sumbatan,
sehingga timbul rasa sumbatan yang persisten. Gejala lain adalah odinofagia
yaitu nyeri menelan makanan atau ludah, hipersalivasi, regurgitasi, dan
muntah. Kadang-kadang ludah berdarah.6
Nyeri di punggung menunjukkan tanda perforasi atau mediastinitis. Bila
benda asing tersangkut pada esofagus servikal, penekanan terhadap bagian
belakang laring serta trakea dapat menimbulkan suara sengau, batuk, dan
dispne. Air liur dapat mengalir ke luar dari esofagus dan masuk ke dalam
hidung.6,8

2.9.Diagnosis
Ditegakkan berdasarkan anamnesis yang lengkap, gambaran klinis, dengan
gejala dan tanda, pemeriksaan radiologic dan endoskopik. Tindakan
endoskopik dilakukan untuk diagnostik dan terapi. Diagnosis tertelan benda
asing, harus dipertimbangkan pada setiap anak dengan rasa tercekik (choking),
rasa tersumbat di tenggorok (gargling), batuk, muntah. Gejala ini diikuti
dengan disfagia, berat badan menurun, demam, gangguan pernafasan. Harus
diketahui dengan baik ukuran, bentuk dan jenis benda asing, dan apakah
mempunyai bagian yang tajam. Nyeri didaerah leher bila benda asing
tersangkut didaerah servikal. Bila benda asing tersangkut di esophagus bagian
distal timbul rasa tidak enak didaerah substernal atau nyeri dipunggung.6,9,10

10
Pemeriksaan fisik
Terdapat kekakuan lokal pada leher bila benda asing terjepit akibat edema
yang timbul progresif. Bila benda asing ireguler menyebabkan perforasi akut,
didapatkan tanda pneumo-mediastinum, emfisema leher dan pada auskultasi
terdengar suara getaran didaerah prekordial atau interskapula. Bila terjadi
mediastinitis, tanda efusi pleura unilateral atau bilateral dapat dideteksi.
Perforasi langsung ke rongga pleura dan pneumothorak jarang terjadi, tetapi
dapat timbul sebagai komplikasi tindakan endoskopi.6
Pada anak-anak gejala nyeri atau batuk dapat disebabkan oleh aspirasi
ludah atau minuman dan pada pemeriksaan fisik didapatkan ronkhi, mengi
(wheezing), demam, abses leher atau tanda emfisema subkutan. Tanda lanjut,
berat badan menurun dan gangguan pertumbuhan. Benda asing yang berada
didaerah servikal esophagus dan dibagian distal krikofaring, dapat
menimbulkan gejala obstruksi saluran nafas dengan stridor, karena menekan
dinding trakea bagian posterior (tracheo-esophageal party wall), radang dan
edema periesofagus. Gejala aspirasi rekuren akibat obstruksi esophagus
sekunder dapat menimbulkan pneumonia, bronkiektasis dan abses paru.6,9
Pemeriksaan radiologi
Foto rontgen polos esofagus servikal dan torakal anteroposterior dan
lateral, harus dibuat pada semua pasien yang diduga tertelan benda asing.
Benda asing radioopak seperti uang logam, mudah diketahui lokasinya dan
harus dilakukan foto ulang sesaat sebelum tindakan esofagoskopi untuk
mengetahui kemungkinan benda asing sudah pindah ke bagian distal. Letak
uang logam umumnya koronal, maka hasil foto rontgen servikal atau thorakal
pada posisi PA akan dijumpai bayangan radioopak berbentuk bundar,
sedangkan pada pasien lateral berupa garis radioopak yang sejajar dengan
kolumna vertebra. Benda asing seperti kulit telur, tulang, dan lain-lain
cenderung berada pada posisi koronal dalam esofagus, sehingga lebih mudah
dilihat pada posisi lateral. Benda asing radiolusen seperti plastik, aluminium,
dan lain-lain, dapat diketahui dengan tanda inflamasi periesofagus atau
hiperinflamasi hipofaring dan esofagus bagian proksimal.8,11

11
Gambar 5. Benda asing di esofagus11

Foto rontgen thoraks dapat menunjukkan gambaran perforasi esofagus


dengan emfisema servikal, emfisema mediastinal, pneumotoraks, piotoraks,
mediastinitis, serta aspirasi pneumonia.11
Foto rontgen leher posisi lateral dapat menunjukkan tanda perforasi,
dengan trakea dan laring tergeser ke depan, gelembung udara di jaringan,
adanya bayangan cairan atau abses bila perforasi telah berlangsung beberapa
hari.11
Gambaran radiologik benda asing batu baterai menunjukkan pinggir bulat
dengan gambaran densitas ganda, karena bentuk bilaminer. Foto polos sering
tidak menunjukkan gambaran benda asing, seperti daging dan tulang ikan,
sehingga memerlukan pemeriksaan esofagus dengan kontras (esofagogram).
Esofagogram pada benda asing radiolusen akan memperlihatkan “filling
defect persistent”. Pemeriksaan esofagus dengan kontras sebaiknya tidak
dilakukan pada benda asing radioopak karena densitas benda asing biasanya
sama dengan zat kontras, sehingga akan menyulitkan penilaian ada tidaknya
benda asing. Risiko lain adalah terjadi aspirasi bahan kontras. Bahan kontras
barium lebih baik daripada zat kontras yang larut di air (water soluble
contrast), seperti gastrografin, karena sifatnya kurang toksik terhadap saluran
napas bila terjadi aspirasi kontras, sedangkan gastrografin bersifat mengiritasi

12
paru. Oleh karena itu pemakaian kontras gastrografin harus dihindari
terutama pada anak.11,12
Suatu penelanan barium dalam jumlah besar sebaiknya tidak diberikan,
karena akan menutupi dinding esofagus dengan penebalan pasta putih
akibatnya sangat sulit dilakukan esofagoskopi. Lebih baik pasien menelan
sedikit kapas atau marshmallow dengan kontras medium di dalamnya. Serat
kapas dapat menangkap benda asing untuk sementara atau selama penelanan,
dengan demikian menampakkan adanya benda asing melalui floroskopi.
Pengetahuan orientasi dari benda asing pada esofagus sangat membantu
dalam merencanakan endoskopi.11
Radiogram sebaiknya termasuk semua daerah dari hidung hingga anus.
Seringkali lebih dari satu benda asing yang tertelan, kecuali pemeriksaan
lengkap dilakukan, objek tambahan, seperti jarum yang telah menembus ke
dalam kolon, dapat terlewatkan.11,12
Xeroradiografi dapat menunjukkan gambaran penyangatan (enhancement)
pada daerah pinggir benda asing.11
Computerized tomographyc scanner (CT scan) esofagus dapat
menunjukkan gambaran inflamasi jaringan lunak dan abses. Magnetic
resonanse imaging (MRI) dapat menunjukkan gambaran semua keadaan
patologis esofagus. Bagaimanapun juga, tanpa bukti radiologik, belum dapat
menyingkirkan adanya benda asing di esofagus.7,12

2.10. Penatalaksanaan
Apabila suatu benda asing tertelan, biasanya benda tersebut akan melewati
sistem pencernaan secara spontan. Tetapi beberapa benda dapat tersangkut di
esofagus. Apabila benda asing tersangkut di esofagus, maka benda tersebut
harus dikeluarkan, terutama jika :15
a. benda asing yang runcing, harus dikeluarkan sesegera mungkin untuk
mencegah kerusakan lebih lanjut dari lapisan esophagus,

13
b. baterai jam tangan atau kalkulator, yang dapat menyebabkan kerusakan
pada jaringan sekitarnya dengan cepat, harus dikeluarkan dari esofagus
dengan segera.
Jika seseorang yang tertelan benda asing batuk, maka instruksikan orang
tersebut untuk terus batuk dan jangan menghalangi ataupun mengganggunya.
Apabila benda asing yang tertelan menutupi jalan napas dan menyebabkan
kondisi pasien memburuk, maka dapat dilakukan beberapa pertolongan
pertama, antara lain :15

1. Melakukan back blow sebanyak lima kali. Back blow dilakukan dengan
cara melakukan pukulan dengan telapak tangan di antara kedua tulang
skapula korban.15

Gambar 6. Cara melakukan back blow15

2. Melakukan abdominal thrust. Abdominal thrust atau yang juga dikenal


dengan Heimlich maneuver, dilakukan sebanyak lima kali. Tetapi pada
bayi, maneuver ini tidak dilakukan karena dapat menyebabkan luka,
jadi dapat dilakukan kompresi dada sebagai gantinya.15
Cara melakukan Heimlich maneuver adalah penolong berdiri di
belakang korban, posisikan tangan penolong memeluk di atas perut
korban melalui ketiak korban. Sisi genggaman tangan penolong
diletakkan di atas perut korban tepat pada pertengahan antara pusar dan
batas pertemuan rusuk kiri dan kanan. Letakkan tangan lain penolong di
atas genggaman pertama lalu hentakkan tangan penolong ke arah
belakang dan ke atas, posisi kedua siku penolong ke arah luar,

14
kemudian lakukan hentakan sambil meminta pasien membantu
memuntahkannya.15

Gambar 7. Cara melakukan Heimlich maneuver15

Benda asing di esofagus dikeluarkan dengan tindakan esofagoskopi


(endoskopi) dengan menggunakan cunam yang sesuai dengan benda asing
tersebut. Bila benda asing telah berhasil dikeluarkan, harus dilakukan
esofagoskopi ulang untuk menilai adanya kelainan-kelainan esofagus yang
telah ada sebelumnya.7,8
Terdapat dua jenis esofagoskop, yaitu :3
1. Esofagoskop kaku (fiberoptic rigid esophagoscope), digunakan terutama
untuk terapi, seperti mengambil benda asing, mengangkat tumor jinak,
hemostatis, pemberian obat sklerosing untuk varises dan dilatasi stiktur.
Selain itu juga untuk menilai keadaan bagian proksimal osefagus, yaitu
daerah pharyngoeosophageal junction. Alat ini juga digunakan untuk
menilai kelainan esofagus pada bayi dan anak kecil, serta untuk mengambil
foto kelainan esofagus. Esofagoskop kaku memiliki dua ukuran. Ukuran 50
cm untuk memeriksa esofagus thorakal dan sfingter bagian bawah, serta
ukuran 20-30 cm untuk memeriksa faring dan esofagus servikal.3
2. Esofagoskop lentur (fiberoptic flexible esophagoscope), memberikan
kemudahan untuk memeriksa pasien dengan kelainan tulang vetebra,
terutama di daerah servikal dan thorakal. Untuk kelainan esofagus yang
disertai dengan adanya kecurigaan kelainan dilambung, maka esofagoskop
lentur merupakan alat pilihan untuk diagnostik. Esofagoskop lentur

15
memiliki panjang yang bervariasi mulai dari 100-110 cm dan diameter
mulai dari 7,8 sampai 12 mm. Masing-masing alat tersebut juga dilengkapi
dengan suction, air insufflation, dan forsep biopsi.3

Gambar 8. Alat esofagoskopi8

Karena esofagoskopi relatif invasif dan mahal, terdapat dua metode lain
yang telah diteliti dapat dilakukan untuk mengeluarkan benda asing dari
esofagus dan mungkin lebih hemat biaya bila dilakukan dengan tepat. Kedua
metode tersebut umumnya dilakukan pada anak-anak yang tertelan koin.16
a. Metode dengan kateter foley. Benda asing tumpul dapat dikeluarkan dengan
menggunakan kateter foley. Pasien dibaringkan pada meja fluoroskopi
dengan posisi kepala direndahkan (head-down position), kemudian kateter
dimasukkan sampai ke bagian distal benda asing. Kateter kemudian
digembungkan dan ditarik secara perlahan, lalu ambil dan tarik benda asing
dengan kateter tersebut. Pada beberapa kasus, benda asing lepas dan masuk
ke lambung. Proses ini sebaiknya dilakukan dengan pantauan fluoroskopi.16

16
Gambar 9. Metode kateter foley17

b. Metode Businasi (Bougienage method). Benda asing yang tumpul dapat


diteruskan ke lambung dengan menggunakan sebuah busi (bougie). Anak
dalam posisi duduk tegak, dan instrumen yang telah diberi pelumas
dimasukkan perlahan ke dalam esofagus, dan menyebabkan benda asing
terlepas. Benda asing tersebut diharapkan dapat melewati sisa saluran
pencernaan. Metode ini tidak dapat dilakukan pada anak-anak yang
memiliki abnormalitas pada saluran pencernaannya.16
Karena benda asing di esofagus dapat lewat dengan spontan, maka foto
thoraks harus dilakukan sebelum dilakukannya kedua prosedur. Kedua metode
ini hanya dilakukan oleh orang-orang yang berpengalaman dan dilakukan pada
anak-anak yang sebelumnya sehat yang menelan benda tumpul kurang dari 24
jam.16

Benda asing tajam yang tidak berhasil dikeluarkan dengan esofagoskopi


harus segera dikeluarkan dengan pembedahan, yaitu esofagotomi servikal atau
esofagotomi thorakal, tergantung lokasi benda asing tersebut.18,19

17
1. Esofagotomi servikal, dilakukan dengan cara membuat insisi eksternal pada
leher (setinggi perkiraan letak benda asing) untuk mengidentifikasi esofagus
servikal ataupun hipofaring.18
2. Esofagotomi thorakal, dilakukan dengan membuat insisi pada thoraks
apabila benda asing mengobstruksi esofagus bagian kaudal.19
Bila dicurigai adanya perforasi yang kecil segera dipasang pipa nasogaster
agar pasien tidak menelan, baik makanan maupun ludah, dan diberikan
antibiotik berspektrum luas selama 7-10 hari untuk mencegah timbulnya sepsis.
Benda asing tajam yang telah masuk ke dalam lambung dapat menyebabkan
perforasi di pilorus. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi dengan sebaik-
baiknya, untuk mendapatkan tanda perforasi sedini mungkin dengan
melakukan pemeriksaan radiologik untuk mengetahui posisi dan perubahan
letak benda asing. Bila letak benda asing menetap selama 2 kali 24 jam maka
benda asing tersebut harus dikeluarkan secra pembedahan (laparatomi).3,7

Benda asing uang logam di esofagus bukan keadaan gawat darurat, namun
pengeluaran uang logam tersebut harus dilakukan sesegera mungkin dengan
persiapan tindakan esofagoskopi yang optimal untuk mencegah komplikasi.12
Benda asing baterai bundar (disk/button battery) di esofagus merupakan
benda yang harus segera dikeluarkan karena risiko perforasi esofagus yang
terjadi dengan cepat dalam waktu ± 4 jam setelah tertelan akibat nekrosis
esofagus.20

2.11. Komplikasi
Benda asing dapat menimbulkan laserasi mukosa, perdarahan, perforasi
lokal dengan abses leher atau mediastinitis. Perforasi esofagus dapat
menimbulkan selulitis lokal, fistel trakeo-esofagus. Benda asing bulat atatu
tumpul dapat juga menimbulkan perforasi, akibat sekunder dan inflamasi
kronik dan erosi. Jaringan granulasi di sekitar benda asing timbul bila benda
asing berada di esofagus dalam waktu yang lama.6

18
Gejala dan tanda perforasi esofagus servikal dan torakal oleh karena benda
asing atau alat, antara lain emfisema subkutis atau mediastinum, krepitasi kulit
di daerah leher atau dada, pembengkakan leher, kaku leher, demam dan
menggiggil, gelisah, nadi, dan pernapasan cepat, nyeri yang menjalar ke
punggung, retrosternal, dan epigastrium. Bila terjadi perforasike pleura dapat
timbul pneumotoraks atatu pyotoraks.6

2.12. Pencegahan
Pada dasarnya pencegahan terhadap masuknya atau tertelannya benda
asing ke dalam esofagus tergantung pada setiap individu itu sendiri. Dari
setiap cara pencegahan benda asing yang masuk dalam esofagus hendaknya:3
1. Anak dididik untuk hanya memasukkan makanan ke dalam mulut. Pada
dasarnya anak-anak banyak mengeksplor benda-benda apa saja yang
mungkin dapat masuk kedalam mulut. Disarankan anak-anak selalu
diawasi agar tidak terjadi tertelannya benda asing.
2. Jangan meletakkan sesuatu sembarangan. Ketidak sengajaan pada orang
tua yang meletakkan barang atau benda kecil sering sekali menjadi
kecelakaan pada anak yang tertelan benda asing. Misalnya pada orang tua
yang sedang meletakkan jarum pada ayunan saat sedang menidurkan
anaknya di ayunan.
3. Jangan makan makanan keras bila gigi tak lengkap. Proses pencernaan
diawali pada masuknya benda dimulut. Bila pada anak yg belum tumbuh
gigi atau pada orang tua yang tidak mampu untuk mencerna dan
melunakkan makanan yang keras.
4. Jangan menggigit benda-benda yang bukan makanan seperti peniti, dll.
Kecerobohan yang tidak disengaja juga dapat terjadinya benda asing juga
tertelan. Contoh bisa sedang mengigit jarum pada saat menjahit atau pada
saat sedang memasang kerudung pada wanita, jika tidak terjadi
kecerobohan meletakan sesuatu pada mulut maka tidak akan tertelan benda
asing.

19
5. Pemakaian gigi palsu yang baik dan benar. Ketidak sesuaian rongga pada
gigi akan mengakibatkan renta lepas pada dasar gigi, yang akan jatuh
tertelan.

DAFTAR PUSTAKA

20
1. Fitri, F., Novialdi, Triola S. Penatalaksanaan Benda Asing Gigi Palsu di
Esofagus. [diunduh tanggal 1 November 2018 dari
http://repository.unand.ac.id/18187/1/Penatalaksanaan%20Benda%20Asing
%20Gigi%20Palsu%20di%20Esofagus%20PDF.pdf].
2. Dharmawan,. Benda Asing di Saliran nafas. 2009. [diunduh tanggal 1
November 2018 dari http:///D:/tht/corpus_aleneum.htm.2009].
3. Soepardi, E.A, et all. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher.: Benda Asing di Esofagus, edisi ke-6, 2007,
FKUI, halaman 266-269.
4. Frank, H., Atlas of Human Anatomy by Netter. 5th edition. 2011.
Philadelphia: Elsevier.
5. Sherwood, L., Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi VI. 2009.
Jakarta: EGC.
6. Efiaty A.S.; Nurbaiti I, Jenny B. Ratna D.R.; Mariana Y.; eds.-, Buku Ajar
Ilmu Kesehatan THT-KL: Benda Asing di Esofagus, edisi ke-7, 2012,
FKUI, halaman 266-269.
7. Dhillon RS, East CA. An illustrated colour text : ear, nose, and throat, and
head and neck surgery. 2nd ed. London: Churchill Livingstone; 2000,
halaman 84-85.
8. Water TR, Staecker H. Otolaryngology : basic science and clinical review.
New York: Thieme; 2006, halaman 223.
9. Marasabessy SN, Mengko SK, Palandeng OI. Benda Asing Esofagus Di
Bagian/SMF THT-KL. Jurnal e-Clinic (eCl). 2015;3(1). [diunduh tanggal 3
November 2018].
10. Lintzenich C.R, Esophageal Disorder. Bailey's Head and Neck Surgery
Otolaryngology.5th edition. USA.Lippicont.2014,vol 1., halaman 857.
11. Rooks V. Esophageal foreign body imaging [online]. 2013 November 11.
[diakses 3 November 2018 dari
http://emedicine.medscape.com/article/408752].

21
12. Shivakumar AM, Naik AS, Prashanth KB, Hongal GF, Chaturvedy G.
Foreign bodies in upper digestive tract. Indian Journal of Otolaryngology
and Head and Neck Surgery 2006 Mar;58(1): halaman 63-68.
13. Chinski A, Foltran F, Gregori D, Ballali S, Passali D, Bellussi L. Foreign
bodies in the oesophagus : the experience of the buenos aires paediatric orl
clinic. International Journal of Pediatrics 2010 Aug 21;halaman 1-6.
14. Probst R, Grevers G, Iro H. Basic otorhinolaryngology : a step-by-step
learning guide. New York: Thieme; 200, halaman 124-126.
15. Staff Mayo Clinic. Foreign object swallowed : first aid [online]. 2014
September 20 [diunduh 3 November 2018 dari
http://www.mayoclinic.org/first-aid].
16. Conners GP. Pediatric foreign body ingestion [online]. 2014 October 17
[diunduh 3 November 2018 dari
http://emedicine.medscape.com/article/801821].
17. Virginia University. Treatment of food impactions and foreign bodies in
the esophagus [online]. 2013 [diunduh 3 November 2018 dari
https://www.med-ed.virginia.edu].
18. Theissing J, Rettinger G, Werner JA. ENT - head and neck surgery :
essential procedures. New York: Thieme; 2011.
19. Sidney University. Esophageal foreign body [online]. 2012 November 19
[diunduh 3 November 2018 dari http://www.vetbook.org/].
20. P Rathore, A Raj, A Sayal, R Meher, B Gupta, M Girhotra. Prolonged
foreign body impaction in the oesophagus. Singapore Med J 2009;50(2):
halaman 53-54.

22