Anda di halaman 1dari 10

BAB I

1. JUDUL
Waspadai bahaya diabetes militus(gula darah).
2. LATAR BELAKANG
Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010
adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat
bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang
optimal di seluruh wilayah republika Indonesia (Depkes RI 1999)
Di zaman modernisasi seperti komunikasi industri dan lingkungan
telah menimbulkan berbagai perubahan dalam pola hidup manusia yang
berdampak pada tingkat kesehatan seseorang baik secara positif maupun
negatif, dampak negatif terhadap masalah kesehatan yang di akibatkan
oleh gaya hidup yang tidak sehat diantaranya adalah penyakit diabetes
mellitus (DM).
Diabetes mellitus merupakan penyakit akibat gangguan system
endokrin yang paling banyak jumlah nya dan selalu meningkat dari tahun
ketahun serta dapat menyerang semua orang dengan tidak memandang
jenis kelamin. Diabetus militus dibagi menjadi beberapa tipe yaitu tipe
IDDM dan NIDDM.
Di Indonesia, penderita diabetes mellitus tipe 2 ini yang paling
banyak, konon mencapai lebih dari 90 % dan umumnya disertai
kegemukan dan pada umumnya diabetes mellitus tipe ini terjadi pada
penderita diabetes diastas usia 40 tahun.
Di negara lain seperti di amerika serikat diabetes mellitus
merupakan penyebab utama amputasi di luar trauma kecelakaan 30%
pasien yang mulai mendapatkan terapi dialysis setiap tahun menderita
diabetes mellitus. Diabetes juga berada pada urutan ke tiga sebagai
penyebab utama kematian akibat penyakit dan hal ini sebagian besar di
sebabkan oleh angka penyakit arteri koroner yang tinggi pada penderita
diabetes mellitus. Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang
menyerang kurang lebih dua belas juta orang dari tujuh juta dari dua belas
penderita Diabetes Mellitus tesebut sudah terdiagnosis di Amerika Serikat
kurang lebih enam ratus lima puluh ribu kasus Diabetes baru diagnosis
setiap tahunnya (Healthy people, 2000-1990).
Berdasarkan data Medical Record Rumah Sakit Umum Daerah
karawang mulai Januari sampai Desember 2009, “hubungan factor
obesitas dan usia lanjut yang Menyebabkan terjadinya Diabetes Mellitus”.
Fakor-faktor yang mempengaruhi terjadinya DM adalah faktor usia,
pendidikan, obesitas dengan faktor genetik diperkirakan memegang
peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin. Selain itu ada pula
faktor-faktor yang berhubungan dengan proses terjadinya DM faktor-
faktor itu antara lain obesitas, riwayat keluarga dan kelompok
etnik.penderita yang dirawat dengan penyakit Diabetes Militus berjumlah
344 orang atau sekitar 73,98% dari seluruh jumlah penyakit DM, Dari data
yang didapat penderita Diabetes Militus terbanyak di rawat di ruang
rengasdengklok yaitu berjumlah 154 orang atau sekitar 44,76% dari
seluruh pasien Diabetes Militus yang dirawat di seluruh ruangan RSUD
Karawang.
3. IDENTIFIKASI DAN PERUMUSAN MASALAH
Dari uraian diatas masalah yang akan ditelti adalah tentang Faktor –
Faktor yang menyebabkan terjadinya diabetes mellitus. Sebagai tindak
lanjut dari temuan kasus diabetes militus tersebut maka dilakukan
pengabdian kepada masyarakat berupa pendidikan kesehatan tentang
dibetes melitus
4. TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus (diabetes) adalah suatu kondisi terganggunya
metabolisme didalam tubuh karena ketidakmampuan tubuh membuat
atau menyuplai hormon insulin sehingga menyebabkan terjadinya
peningkatan kadar gula darah melebihi normal (Desriani, 2003).
b. Etiologi
Diabetes adalah suatu penyakit yang disebabkan karena peningkatan
kadar gula dalam darah (hiperglikemi) akibat kekurangan hormon
insulin absolut ataupun relatif.
1) Diabetes melitus tipe 1
Pada diabetes melitus tipe 1 terjadi kelainan sekresi insulin oleh
sel beta pankreas. Penderita tipe ini mewarisi kerentanan genetik
yang merupakan predisposisi untuk kerusakan autoimum sel beta
pankreas. Respon autoimun dipacu oleh aktivitas limfosit,
antibodi terhadap sel pulau langerhans dan terhadap insulin itu
sendiri (Misnadiarly,2006).
2) Diabetes melitus tipe 2
Pada diabetes melitus tipe 2, jumlah insulin normal tetapi jumlah
reseptor insulin yang terdapat pada permukaan sel yang kurang
sehingga glukosa yang masuk ke dalam sel sedikit dan glukosa
dalam darah menjadi meningkat. (Misnadiarly,2006).
3) Diabetes mellitus Tipe Spesifik Lain
Etiologi bagi diabetes tipe ini merupakan defek spesifik pada
sekresi atau fungsi insulin, kelainan metabolik yang menyebabkan
gangguan sekresi insulin, kelainan mitokondria, dan keadaan-
keadaan yang lainnya yang menyebabkan IGT (Powers, 2005).
c. Tanda dan gejala
Ada beberapa tanda dan gejala diabetes yang dapat anda kenali
sebagai gejala umum yang terjadi pada penghidap diabetes. Walau
bagaimanapun, tidak semua tanda dan gejala akan dialami oleh pesakit
diabetes.
Tanda dan gejala diabetes adalah :
1) Jumlah air kencing yang dikeluarkan lebih banyak dan kerap
kencing (Polyuria)
2) Sering atau cepat rasa haus/dahaga (Polydipsia)
3) Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia)
4) Urin mengandungi paras gula yang tinggi (Glycosuria)
5) Berat badan turun mendadak
6) Rasa kebas pada hujung saraf di telapak tangan & kaki
7) Cepat penat dan lemah sepanjang masa
8) Mengalami rabun penglihatan
9) Luka lambat sembuh
10) Mudah terkena jangkitan kuman terutama pada kulit.

d. Klasifikasi Diabetes Melitus


Berdasarkan Perkeni (2006) diabetes, diklasifikasikan menjadi:
1) Diabetes Mellitus Tipe-1
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut,
yangdisebabkan oleh: autoimun dan idiopatik.
2) Diabetes Mellitus Tipe-2
Penderita diabetes mellitus tipe-2 memiliki satu atau lebih
keabnormalan di bawah ini, antara lain:
a) Defisiensi insulin relatif: insulinyang disekresi oleh sel-β
pankreas untuk memetabolisme tidak mencukupi (Kumar et al,
2005).
b) Resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif (Perkeni,
2006).
3) Diabetes Mellitus Tipe Lain
Diabetes tipe ini dapat disebabkan karena beberapa hal, antara lain :
defek genetic fungsi sel beta, defek genetic kerja insulin penyakit
eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia,
infeksi, sebab imunologi yang jarang dan sindrom genetik lain yang
berkaitan dengan diabetes
a) Diabetes Mellitus Kehamilan
Diabetes mellitus kehamilan atau sering disebut dengan istilah
Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) adalah suatu gangguan
toleransi karbohidrat yang terjadi atau diketahui pertama kali
pada saat kehamilan sedang berlangsung. Faktor risiko diabetes
tipe ini antara lain obesitas, adanya riwayat DMG, gukosuria,
adanya riwayat keluarga dengan diabetes, abortus berulang,
adanya riwayat melahirkan bayi dengan berat > 4 kg, dan
adanya riwayat preeklamsia. Penilaian adanya risiko diabetes
melitus gestasional perlu dilakukan sejak kunjungan pertama
untuk pemeriksaan kehamilannya.
e. Faktor resiko diabetes
Pemeriksaan penyaring atau skrining dilakukan pada kelompok
dengan faktor risiko diabetes mellitus seperti usia ≥ 45 tahun, obesitas
(Indeks Massa Tubuh > 23 kg/m²), riwayat keluarga diabetes mellitus,
riwayat melahirkan bayi dengan berat badan > 4000 gram (4kg),
atauriwayat diabetes gestasional, hipertensi (≥ 140/90 mmHg),
kolesterol (HDL ≤ 35 mg/dL dan atau trigliserida ≥ 250 mg/dL),
riwayat penyakit jantung, orang sebelumnya dinyatakan sebagai TDT
(Toleransi Glukosa Terganggu) atau GDPT (Glukosa Darah Puasa
Terganggu).
f. Komplikasi Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan
pengobatan yang terkontrol. Tanpa didukung oleh pengelolaan yang
tepat, diabetes dapat menyebabkan beberapa komplikasi (IDF, 2007).
Komplikasi yang disebabkandapat berupa:
1) Komplikasi Akut
a) Hipoglikemi
Hipoglikemi ditandai dengan menurunnya kadar glukosa darah
hingga mencapai <60 mg/dL. Gejala hipoglikemia terdiri dari
gejala adrenergik (berdebar, banyak keringat, gemetar, rasa
lapar) dan gejala neuro-glikopenik (pusing, gelisah, kesadaran
menurun sampai koma) (PERKENI, 2006).
b) Ketoasidosis diabetik
Keadaan ini berhubungan dengan defisiensi insulin, jumlah
insulin yangterbatas dalam tubuh menyebabkan glukosa tidak
dapat digunakan sebagaisumber energi, sehingga tubuh
melakukan penyeimbangan dengan;. memetabolisme lemak.
Hasil dari metabolisme ini adalah asam lemak bebasdan
senyawa keton. Akumulasi keton dalam tubuh inilah yang
menyebabkanterjadinya asidosis atau ketoasidosis (Gale,
2004).Gejala klinisnya dapat berupa kesadaran menurun, nafas
cepat dan dalam(kussmaul) serta tanda-tanda dehidrasi. Selain
itu, sesorang dikatakanmengalami ketoasidosis diabetik jika
hasil pemeriksaan laboratoriumnya:
 Hiperglikemia (glukosa darah >250 mg/dL)
 Na serum <140 meq/L
 Asidosis metabolik (pH <7,3; bikarbonat <15 meq/L)
 Ketosis (ketonemia dan atau ketonuria
c) Hiperosmolar non ketotik
Riwayat penyakitnya sama dengan ketoasidosis diabetik,
biasanya berusia > 40 tahun. Terdapat hiperglikemia disertai
osmolaritas darah yang tinggi >320.
2) Komplikasi Kronis (Menahun)
a) Makroangiopati: pembuluh darah jantung, pembuluh darah tepi,
pembuluh darah otak.
b) Mikroangiopati: pembuluh darah kapiler retina mata (retinopati
diabetik) dan Pembuluh darah kapiler ginjal (nefropati diabetik).
c) Neuropatid : suatu kondisi yang mempengaruhi sistem saraf, di
mana serat-serat saraf menjadi rusak sebagai akibat dari cedera
atau penyakit.
d) Komplikasi dengan mekanisme gabungan: rentan infeksi,
contohnya tuberkolusis paru, infeksi saluran kemih,infeksi kulit
dan infeksi kaki. dan disfungsi ereksi.
g. Penatalaksanaan
Tujuan utama terapi diabetes adalah menormalkan aktivitas insulin
dan kadar glukosa darah sebagai upaya untuk mengurangi terjadinya
komplikasi vaskuler serta neuropatik. Tujuan terapeutik pada setiap tipe
diabetes melitus adalah mencapai kadar glukosa darah normal tanpa
terjadinya hipoglikemia dan gangguan serius pada pola aktivitas pasien
(Smeltzer & Bare, 2002).
Penatalaksanaan diabetes melitus dalam jangka pendek bertujuan
untuk menghilangkan keluhan/gejala diabetes melitus, sedangkan tujuan
jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi. Tujuan tersebut
dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa, lipid, dan insulin.
Untuk mempermudah tercapainya tujuan tersebut, kegiatan dilaksanakan
dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan
kegiatan mandiri (Mansjoer dkk, 2007).
Terdapat lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes melitus
yaitu diet, latihan, pemantauan, terapi (jika diperlukan), dan pendidikan.
Penanganan di sepanjang perjalanan penyakit diabetes melitus akan
bervariasi mengikuti kemajuan dalam metode terapi yang dihasilkan dari
riset, perubahan pada gaya hidup, keadaan fisik, dan mental daripenderita
diabetes melitus sendiri. Para diabetisi diharapkan dapat mengontrol
kadar glukosa darahnya secara rutin agar dapat dilakukan tindakan
pencegahan sedini mungkin (Smeltzer & Bare, 2002).
h. Strategi Penanggulangan Diabetes Melitus Tipe II
Pada dasarnya ada empat tingkatan pencegahan penyakit secara
umum yang meliputi: pencegahan tingkat dasar (primordial
prevention), pencegahan tingkat pertama (primary prevention) yang
meliputi promosi kesehatan dan pencegahan khusus, pencegahan
tingkat kedua (secondary prevention) yang meliputi diagnosa dini
serta pengobatan yang tepat, pencegahan tingkat ketiga (tertiary
prevention) yang meliputi pencegahan terhadap terjadinya cacat dan
rehabilitasi (Noor, 2002).
1) Pencegahan Tingkat Dasar
Pencegahan tingkat dasar (primordial prevention) adalah
usaha mencegah terjadinya resiko atau mempertahankan keadaan
resiko rendah dalam masyarakat terhadap penyakit secara umum.
Pencegahan ini meliputi usaha memelihara dan mempertahankan
kebiasaan atau perilaku hidup yang sudah ada dalam masyarakat
yang dapat mencegah resiko terhadap penyakit dengan
melestarikan perilaku atau kebutuhan hidup sehat yang dapat
mencegah atau mengurangi tingkat resiko terhadap suatu penyakit
tertentu atau terhadap berbagai penyakit secara umum.
Umpamanya memelihara cara masyarakat pedesaan yang kurang
mengonsumsi lemak hewani dan banyak mengonsumsi sayuran,
kebiasaan berolahraga dan kebiasaan lainnya dalam usaha
mempertahankan tingkat resiko yang rendah terhadap penyakit
(Noor, 2002).
Bentuk lain dari pencegahan ini adalah usaha mencegah
timbulnya kebiasaan baru dalam masyarakat atau mencegah
generasi yang sedang bertumbuh untuk tidak meniru atau
melakukan kebiasaan hidup yang dapat menimbulkan resiko
terhadap beberapa penyakit. Sasaran pencegahan tingkat dasar ini
terutama pada kelompok masyarakat berusia muda dan remaja
dengan tidak mengabaikan orang dewasa dan kelompok manula
(Noor, 2002).
2) Pencegahan Tingkat Pertama.
Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) adalah
upaya mencegah agar tidak timbul penyakit diabetes mellitus.
Faktor yang berpengaruh pada terjadinya diabetes adalah faktor
keturunan, faktor kegiatan jasmani yang kurang, faktor
kegemukan, faktor nutrisi berlebih, faktor hormon, dan faktor lain
seperti obat-obatan. Faktor keturunan jelas berpengaruh pada
terjadinya diabetes mellitus. Keturunan orang yang mengidap
diabetes (apalagi kalau kedua orangtuanya mengidap diabetes,
jelas lebih besar kemungkinannya untuk mengidap diabetes
daripada orang normal). Demikian pula saudara kembar identik
pengidap diabetes hampir 100% dapat dipastikan akan juga
mengidap diabetes pada nantinya (Sidartawan, 2001).
Faktor keturunan merupakan faktor yang tidak dapat
diubah, tetapi faktor lingkungan (kegemukan, kegiatan jasmani
kurang, nutrisi berlebih) merupakan faktor yang dapat diubah dan
diperbaiki. Usaha pencegahan ini dilakukan menyeluruh pada
masyarakat tapi diutamakan dan ditekankan untuk dilaksanakan
dengan baik pada mereka yang beresiko tinggi untuk kemudian
mengidap diabetes. Orang-orang yang mempunyai resiko tinggi
untuk mengidap diabetes adalah orang-orang yang pernah
terganggu toleransi glukosanya, yang mengalami perubahan
perilaku/gaya hidup ke arah kegiatan jasmani yang kurang, yang
juga mengidap penyakit yang sering timbul bersamaan dengan
diabetes, seperti tekanan darah tinggi dan kegemukan.
Tindakan yang dilakukan untuk pencegahan primer
meliputi penyuluhan mengenai perlunya pengaturan gaya hidup
sehat sedini mungkin dengan cara memberikan pedoman:
a) Mempertahankan perilaku makan seharihari yang sehat dan
seimbang dengan meningkatkan konsumsi sayuran dan buah,
membatasi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana.
b) Mempertahankan berat badan normal sesuai dengan umur
dan tinggi badan.
c) Melakukan kegiatan jasmani yang cukup sesuai dengan umur
dan kemampuan.
3) Pencegahan Tingkat Kedua
Sasaran utama pada mereka yang baru terkena penyakit
atau yang terancam akan menderita penyakit tertentu melalui
diagnosa dini serta pemberian pengobatan yang cepat dan
tepat.Salah satu kegiatan pencegahan tingkat kedua adanya
penemuan penderita secara aktif pada tahap dini. Kegiatan ini
meliputi pemeriksaan berkala, penyaringan (screening) yakni
pencarian penderita dini untuk penyakit yang secara klinis belum
tampak pada penduduk secara umum pada kelompok resiko tinggi
dan pemeriksaan kesehatan atau keterangan sehat (Noor, 2002).
Upaya pencegahan tingkat kedua pada penyakit diabetes adalah
dimulai dengan mendeteksi dini pengidap diabetes. Karena itu
dianjurkan untuk pada setiap kesempatan, terutama untuk mereka
yang beresiko tinggi agar dilakukan pemeriksaan penyaringan
glukosa darah. Dengan demikian, mereka yang memiliki resiko
tinggi diabetes dapat terjaring untuk diperiksa dan kemudian yang
dicurigai diabetes akan dapat ditindaklanjuti, sampai diyakinkan
benar mereka mengidap diabetes. Bagi mereka dapat ditegakkan
diagnosis dini diabetes kemudian dapat dikelola dengan baik,
guna mencegah penyulit lebih lanjut (Sidartawan, 2001).
4) Pencegahan Tingkat Ketiga
Pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) merupakan
pencegahan dengan sasaran utamanya adalah penderita penyakit
tertentu, dalam usaha mencegah bertambah beratnya penyakit
atau mencegah terjadinya cacat serta program rehabilitasi. Tujuan
utama adalah mencegah proses penyakit lebih lanjut, seperti
perawatan dan pengobatan khusus pada penderita diabetes
mellitus, tekanan darah tinggi, gangguan saraf serta mencegah
terjadinya cacat maupun kematian karena penyebab tertentu, serta
usaha rehabilitas (Noor, 2002). Upaya ini dilakukan untuk
mencegah lebih lanjut terjadinya kecacatan kalau penyulit sudah
terjadi. Kecacatan yang mungkin timbul akibat penyulit diabetes
ada beberapa macam, yaitu:
a) Pembuluh darah otak, terjadi stroke dan segala gejala sisanya.
b) Pembuluh darah mata, terjadi kebutaan.
c) Pembuluh darah ginjal, gagal ginjal kronik.
d) yang memerlukan tindakan cuci darah.
e) Pembuluh darah tungkai bawah, dilakukan amputasi tungkai
bawah.
Untuk mencegah terjadinya kecacatan, tentu saja harus dimulai
dengan deteksi dini penyulit diabetes, agar kemudian penyulit
dapat dikelola dengan baik di samping tentu saja pengelolaan
untuk mengendalikan kadar glukosa darah (Sidartawan, 2001).
Pemeriksaan pemantauan yang diperlukan untuk penyulit ini
meliputi beberapa jenis pemeriksaan, yaitu:
a) Mata, pemeriksaan mata secara berkala setiap 6-12 bulan.
b) Paru, pemeriksaan berkala foto dada setiap 1-2 tahun atau
kalau ada keluhan batuk kronik.
c) Jantung, pemeriksaan berkala urin untuk mendeteksi adanya
protein dalam urin.
d) Kaki, pemeriksaan kaki secara berkala dan penyuluhan
mengenai cara perawatan kaki yang sebaik-baiknya untuk
mencegah kemungkinan timbulnya kaki diabetik dan
kecacatan yang mungkin ditimbulkannya.

5. TINJAUAN KEGIATAN
1. Tujuan Intruksional Umum
Setelah di lakukan tindakan pendidikan kesehatan selama 1x 90 menit, di
harapkan masyarakat mampu memahami Diabetes Mellitus
2. Tujuan Intruksional Khusus
a. Menjelaskan Pengertian Diabetes Mellitus
b. Menjelaskan Penyebab Diabetes Mellitus
c. Menjelaskan kembali Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus
d. Menjelaskan kembali Resiko Terkena Diabetes Mellitus
e. Menjelaskan kembali Komplikasi Diabetes Mellitus

6. MANFAAT KEGIATAN
Adapun manfaat dari Pengabdian Masyarakat ini adalah sebagai berikut
a. Bagi Masyarakat
Meningkatkan status kewaspadaan terkaitdiabetes militus
b. Bagi Institusi Pendidikan
Meningkatkan ketrampilan bagi dosen/mahasiswa yang terlibat
dalam mengasah kemampuan memberikan pendidikan kesehatan
pada masyarakat
c. Bagi puskesmas/Rumah Sakit
Meringankan beban institusi kesehatan untuk memberikan
pengetahuan kepada masyarakat tentang penatalaksanaan diabetes
militus

(http://www.myhealth.gov.my/index.php/tanda-dan-gejala-diabetes-mellitus-
dalam-kalangan-dewasa)