Anda di halaman 1dari 21

PENELITIAN EKSPERIMEN DAN PENELITIAN SURVEI

A. PENELITIAN EKSPERIMEN
a) Pengertian Eksperimen
Eksperimen merupakan penelitian yang dikembangkan untuk
mempelajari fenomena dalam rangka hubungan sebab akibat, yang dilakukan
dengan memberikan perlakuan oleh peneliti kepada subjek penelitian,
selanjutnya dipelajari atau diobservasi efek perlakuan tersebut dengan
mengendalikan variabel yang tidak dikehendaki. Dalam arti kata yang luas,
bereksperimen ialah mengadakan kegiatan percobaan untuk melihat suatu hasil.
Tujuan dalam eksperimen adalah mengamati (observation) terhadap akibat yang
ditimbulkan dari perlakuan. Dalam eksperimen terdapat unsur-unsur pokok,
yaitu:
1. Adanya dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
2. Adanya controlled variables, yaitu faktor-faktor yang dikendalikan atau
dipersamakan untuk kedua grup di atas.
3. Adanya treatment variables, yaitu kondisi-kondisi yang dipandang menjadi
sebab dari suatu gejala yang diharapkan, yang diberikan secara berbeda
kepada kedua kelompok tersebut.
4. Adanya behaviour variables, yaitu gejala-gejala tertentu dari segi mana
pengaruh dari treatment yang akan dinilai.
Menurut Sudjarwo dan Basrowi (2009: 301) di bidang pendidikan,
penelitian eksperimen dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu penelitian di
dalam laboratorium dan penelitian di luar laboratorium.
a. Penelitian di dalam Laboratorium
Penelitian yang dilakukan di dalam laboratorium dilaksanakan di dalam
ruangan yang tertutup atau dalam kondisi tertentu untuk meningkatkan
intensitas yang lebih teliti terhadap variabel yang diteliti. Penelitian di
laboratorium lebih cocok untuk problem yang berkaitan dengan misi
pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pendidikan.

1
b. Penelitian di luar Laboratorium
Penelitian yang dilakukan di luar laboratorium disebut juga penelitian
lapangan, biasanya dilakukan oleh peneliti dengan tujuan guna mendapatkan
hasil penelitian yang mendekati dengan lingkungan nyata, misalnya di kelas,
di sekolah, di bengkel atau pertemuan sekolah lainnya yang diambil secara
alami.
Bentuk penelitian diluar laboratorium ini paling banyak dilakukan oleh
peneliti, karena memiliki beberapa keunggulan seperti :
 Variabel eksperimen lebih kuat di lapangan dibandingkan penelitian di
dalam laboratorium
 Lebih mudah membeikan perlakuan
 Dapat dilakukan proses eksperimen dengan seetting yang mendekati
keadaan sebenarnya
 Serta hasil eksperimen lebih aktual dengan permasalahan yang dihadapi
oleh para pendidik.
Walaupun demikian, eksperimen di laboratorium juga memiliki
keunggulan yang utama adalah bahwa penelitian ini lebih cocok untuk problem
yang berkaitan dengan misi pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu
pendidikan.
Di bidang pendidikan, ada 2 alasan mengapa penelitian ekspserimen cocok
dilakukan yaitu:
1. metode pengajaran yang lebih tepat disetting secara alami dan dikomparasikan
di dalam keadaan yang tidak bias
2. penelitian dasar dengan tujuan menurunkan prinsip umum teoritis ke dalam
ilmu terapan yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh para
penyelenggara sekolah.

2
b) Karakteristik Penelitian Eksperimen
Menurut Sukardi (2005: 180) penelitian eksperimen pada umumnya
mempuyai tiga karakteristik penting yaitu:
1) Variabel bebas yang dimanipulasi;
2) Variabel lain yang mungkin berpengaruh dikontrol agar tetap konstan; dan
3) Efek atau pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel teikat diamati
secara langsung oleh peneliti.
Ketiga karaktristik tersebut dapat diuraikan secara singkat, sebagai berikut.
1. Memanipulasi
Karakteristik pertama yang selalu ada dalam penelitian eksperimen
adalah tindakan memanipulasi variabel secara terencana diakukan oleh
peneliti, yang dimaksud dengan manipulasi yaitu tindakan atau perlakuan
yang dilakukan oleh peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek
dalam variabel terikat.
Misalnya dalam suatu proses penelitian laboratorium, du kelompok
yaitu treatment dan kelompok kontrol diberikan suhu ruangan yang
bertingkat, yaitu dingin, sedang, dan panas. Perbedaan kondisi ruang tersebut
direncanakan sebagai penentu awal agar mereka mempeoleh hasil yang
mungkin berbeda diantara kedua grup. Perbedaan yang muncul tersebut
diperhitungkan sebagai akibat adanya manipulasi variabel terhadap dua
kelompok.
2. Mengontrol variable
Karakteristik kedua yang selalu ada dalam penelitian eksperimen yaitu
adanya kontrol yang selalu sengaja dilakukan oleh peneliti terhadap variabel
atau ubahan yang ada. Menurut Gay (1982), “Control is an effort on the part
of researcher to remove the influence of any variable other than the
independent variable that ought affect performance on a dependent variable.”
Dengan kata lain, mengontrol merupakan usaha peneliti untuk
memindahkan pengaruh variabel lain yang mungkin dapat mempengaruhi

3
variabel terkait. Dalam pelaksanaan eksperimen, group eksperimen dan group
kontrol sebaiknya diatur secara intensif agar karakteristik keduanya mendekati
sama.
Mengontrol merupakan usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh
variabel lain pada variabe terikat ang mungkin mempengaruhi penampilan
variabel tersebut. Kegiatan mengontrol suatu variabel atau subjek dalam
penelitian eksperimen memiliki peranan penting karena tanpa melakukan
kontrol secara sistematis, seorang peneliti tidak munkin dapat melakukan
evaluasi dengan melakukan pengukuran secara cermat terhadap variabel
terikat.
Untuk mengatasi hal tersebut maka proses eksperimen harus
dipisahkan dengan variabel luar yang tidak diperlukan tetapi memiliki potensi
yang mungkin dapat mempegaruhi hasil pengukuran pada variabel terikat,
sehingga peneliti yakin bahwa apabila terjadi perbedaan pada variabel terikat
antara grup kontrol dan grup treatment, atau dengan kata lain perbedaan
tersebut disebabkn oleh perubahan treatment yang dilakukan oleh peneliti
pada variabel bebas.
Pelaksanaan penelitian eksperimen, kelompok eksperimn dan klompok
kontrol sebaiknya diatur secara intensif sehingga kedua variabel mempunyai
karakteristik sama atau mendekti sama, yang membedakan dari kedua
kelompok ialah bahwa grup eksperimen diberi teatment atau perlakuan
tertentu, sedangkan grup kontrol diberikan treatmen seperti keadaan biasanya.
3. Melakukan observasi
Karakteristik yang ketiga dalam penelitian eksperimn adlah adanya
tindakan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses penelitian
belangsung. Selama proses penelitian berlangsung, peneliti melakukan
observasi terhadap kedua kelompok tersebut. Tujuan melakukan observasi
adalah untuk melihat dan mencatat fenomena apa yang memungkinkan
terjadinya perbedaan diantara kedua kelompok.

4
Tindakan observasi dilakukan peneliti pada umumnya mempunyai
tujuan agar dapat mengamati dan mencatat fenomena yang muncul dalam
variabel terikat sebagai akibat dari adanya kontrol dan manipulasi variabel.
Dalam proses eksperimen yang biasanya menerima akibat terjadinya
perubahan secara sistematis dalam variabel bebas.

c) Proses Penelitian Eksperimen


Langkah penelitian eksperimen pada prinsipnya sama dengan jenis
penelitian lainnya. Yang secara eksplisit dapat dilihat seperti berikut.
1. Melakukan kajian secara induktif yang berkaitan erat dengan permasalahan
yang hendak dipecahkan
2. Mengidentifikasi permasalahan
3. Menggunakan studi literature dari beberapa sumber yang relevan,
memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan definisi operasional dan
variabel
4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan :
a. Mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan
terjadinya kontaminasi proses eksperimen
b. Menentukan cara untuk mengontrol mereka
c. Memilih desain riset yang tepat
d. Menentukan populasi, memilih sampel yang mewakili dan memilih
(assign) sejumlah subjek penelitian
e. Membagi subjek kedalam kelompok control maupun kelompok eksperimen
f. Membuat instrumen yang sesuai, memvalidasi instrumen dan melakukan
pilot study agar memperoleh instrument yang memenuhi persyaratan untuk
mengambil data yang diperlukan
g. Mengidentifikasi prosedur pengumpulan data, dan menentukan hipotesis
5. Melakukan eksperimen
6. Mengumpulkan data kasar dari proses eksperimen

5
7. Mengorganisasi dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah
ditentukan
8. Melakukan analisis data dengan teknik statistika yang relevan
9. Membuat laporan penelitian eksperimen.
Pada kondisi yang sama, (Gay, 1982 : 201) dalam penelitian eksperimen
menekankan perlu adanya langkah-langkah penting seperti berikut.
a) Adanya permasalahan yang signifikan untuk diteliti.
b) Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan
kelompok kontrol.
c) Pembuatan atau pengembangan instrumen.
d) Pemilihan desain penelitian.
e) Eksekusi prosedur.
f) Melakukan analisis data.
g) Memformulasikan simpulan.
Dalam penelitian eksperimen peneliti diharuskan menyusun variabel-
variabel minamal satu hipotesis yang menyatakan harapan hubungan sebab akibat
diantara variable-variabel yang terjadi.

d) Desain Penelitian Eksperimen


Secara definisi, desain penelitian mempunyai dua macam pengertian,
yaitu secara luas dan sempit. Secara luas, desain penelitian adalah semua proses
yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksaan penelitian. Dalam hal ini
komponen desain dapat mencakup semua struktur penelitian yang diawali sejak
menemukan ide, menentukan tujuan, kemudian merencanakan proses penelitian,
yang di dalamnya mencakup perencanaan permasalahan, merumuskan,
menentukan tujuan penelitian, mencari sumber informasi dan melakukan kajian
dari berbagai pustaka, menentukan metode yang digunakan, analisis data dan
mengetes hipotesis untuk mendapatkan hasil penelitian, dan sebagainya. Arti
desain penelitian secara luas ini didukung oleh pendapat dari beberapa ahli
(babbie, 1983), (Gay, 1983) dan (Nazir, 1988). Lebih jauh (Babbie, 1983),

6
tentang desain penelitian yang mengatakan bahwa research design addresses the
planning of scientific inquires.
Seorang peneliti memang perlu mempertimbangkan sejakl munculnya
rasa ketertarikan mereka terhadap masalah yang muncul dalam suatu objek atau
subjek di sekitarny, kemudian diteruskan pemikiran lebih jauh guna menangkap
dan merangkaikan ide dan teori yang mendasari dari interes peneliti terhadap
sesuatu yang ingin diteliti. Atau dengan kata lain, pemikiran dari yang masih
sifatnya abstrak ini dilanjutkan sampai pada langkah yang lebih nyata atau
operasional, di anntaranya yaitu menghubungkan pada konteks dan
permasalahan. Variabel yang terikat dalam permasalahan, pemilihan metode,
tehnik sampling, administrasi data, dan sampai akhirnya pada pembuatan laporan
penelitian.
Desain penelitian secara sempit dapat diartikan sebagai penggambaran
secara jelas tentang hubungan antarvariabel, pengumpulan data, dan analisis data,
sehingga dengan adanya desain yang baik peneliti maupun orang lain yang
berkepentingan mempunyai gambaran tentang bagaimana keterkaitan antara
variabel yang ada dalam konteks penelitian dan apa yang hendak dilakukan oleh
seorang peneliti dalam melaksanakan penelitian. Desain penelitian yang dibuat
secara cermat akan memberikan gambaran yang lebih jelas pada kaitannya
dengan penyusunan hipotesis dengan tindakan yang akan diambil dalam proses
penelitian selanjutnya.
Model desain penelitian eksperimen, Campbell dan Stanley (dalam Ary,
2011: 374-404) mengemukan berjumlah 12 model dan terbagi dalam tiga
kelompok besar, yaitu pra-eksperimen (pre-experiment), eksperimen sejati (true-
experiment), dan eksperimen semu (quasi-experiment).
1. Pra-Eksperimen (pre-experiment)
a. Desain 1. Pretes – pascates dengan satu kelompok (tidak ada grup kontrol)
Pre tes Variabel Bebas Postes
Y1 X Y2

7
b. Desain 2. Desain statis dengan dua kelompok
Kelompok Variabel Bebas Postes
Eksperimen X Y2
Kontrol - Y2

2. Eksperimen Sejati (true-experiment)


a. Desain 3. Desain yang hanya menggunakan postes dengan subyek diacak
dari dua kelompok
Kelompok Variabel Bebas Postes
(R) Eksperimen X Y2
(R) Kontrol - Y2

b. Desain 4. Desain yang hanya menggunakan postes, subyek dipadankan dan


diacak, dua kelompok
Kelompok Variabel Bebas Postes
Eksperimen X Y2
(M1) Kontrol - Y2

c. Desain 5. Desain yang menggunakan pretes dan postes dengan kelompok-


kelompok yang diacak
Kelompok Pretes Variabel Bebas Postes
(R) Eksperimen Y1 X Y2
(R) Kontrol Y1 - Y2

d. Desain 6. Desain tiga kelompok solomon


Kelompok Pretes Variabel Bebas Postes
(R) Eksperimen Y1 X Y2
(R) Kontrol 1 Y1 - Y2
(R) Kontrol 2 - X Y2

e. Desain 7. Desain empat kelompok solomon


Kelompok Pretes Variabel Bebas Postes
(R) Eksperimen Y1 X Y2
(R) Kontrol 1 Y1 - Y2
(R) Kontrol 2 - X Y2
(R) Kontrol 3 - - Y2

8
f. Desain 8. Desain faktorial sederhana
Variabel Eksperimen (X1)
Variabel Atribut (X2)
Perlakuan A Perlakuan B
Eksperimen Kotak 1 Kotak 3
(M1) Kontrol Kotak 2 Kotak 4

3. Eksperimen Semu (quasi-experiment)


a. Desain 9. Desain yang menggunakan pretes dan postes dengan kelompok
kontrol tidak acak
Kelompok Pretes Variabel Bebas Postes
Eksperimen Y1 X Y2
Kontrol Y1 - Y2

b. Desain 10. Desain berimbang


Perlakuan Eksperimen
Replikasi
X1 X2 X3 X4
1 Kelompok A B C D
2 Kelompok B A D B
3 Kelompok C D A C
4 Kelompok D C B A
Rerata Rerata Rerata
Rerata kolom 1
kolom 1 kolom 1 kolom 1

c. Desain 11. Desain satu grup time seri/rangkaian waktu dengan satu
kelompok
Y1 Y2 Y3 Y4 X Y5 Y6 Y7 Y8

d. Desain 12. Desain grup control time seri/rangkaian waktu dengan kelompok
kontrol
Kelompok
Eksperimen Y1 Y2 Y3 Y4 X Y5 Y6 Y7 Y8
Kontrol Y1 Y2 Y3 Y4 - Y5 Y6 Y7 Y8

Untuk memecahkan persoalan eksperimen yang lebih rumit, seorang


peneliti umumnya memerlukan adanya pembahasan tentang apa yang dimaksud
dengan desain factorial. Desain factorial pada prinsipnya termasuk bagian dari
desain penelitian, yang secara pasti diuraikan sebagai berikut.

9
Factorial design is one in which two or more variabel s are manipulated
simultaneously in order to study the independent effect of each
variabel on the dependent variabel s as well as the effects due to
interactions among the several variabel s (Ary dkk., 1985).
Desain faktorial merupakan suatu tindakan terhadap satu variabel atau
lebih yang dimanipulasi secara simultan agar dapat mempelajari pengaruh setiap
variabel terhadap variabel terikat atau pengaruh yang diakibatkan adanya
interaksi antara beberapa variabel. Jika diperhatikan pada desain 1 dan desain 2,
menunjukkan bahwa karena masih menggunakan konsep variabel tunggal,
seorang peneliti pada umumnya masih merasa mudah dan mengerti apa yang
hendak dilakukan dan tindakan apa yang perlu diantisipasi untuk mengambil data
yang diperlukan di lapangan. Konsep variabel tunggal ini banyak terjadi di
penelitian laboratorium, ilmu pengetahuan alam, dan disebagian penelitian
tinngkah laku (pendidikan, sosial dan ekonomi). Tetapi bila lebih lanjut kita
melihat pada desain penelitian eksperimen atau eksperimen semu, maka kesulitan
akan dirasakan, terutama dalam menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan
dalam proses selanjutnya.
Dalam penelitian tingkah laku, konsep variabel tunggal pada umumnya
kurang tepat jika diterapkan dalam penelitian sebenarnya. Hal ini terjadi, karena
kebanyakan pengaruh variabel terjadi saling terkait dengan variabel lainnya.
Untuk mengatasi pengaruh variabel yang saling terkait dan memecahkan
permasalahan dalam penelitian eksperimen, desain faktorial dapat digunakan
secara tepat. Dengan desain faktorial, seorang peneliti dimungkinkan untuk dapat
mencermati disamping pengaruh beberapa variabel bebas terhadap variabel
terkait, juga interaksi yang dapat terjadi dari beberapa variabel terikat maupun
variabel bebas dalam suatu proses penelitian.
Desain faktorial dapat dibedakan menjadi dua tipe. Tipe pertama, satu
dari variabel bebas dimanipulasi secara eksperimental dengan variabel terikat.
Tipe ini pada umumnya dilakukan karena peneliti tertarik pada pengaruh satu
variabel bebas terhadap variabel terikat secara terpisah, baru kemudian

10
memperhitungkan variabel lainnya yang mungkin berpengaruh pada variabel
tersebut. Tipe kedua adalah dalam suatu penelitian, semua variabel bebas
dimanipulasi secara eksperimental, karena si peneliti tertarik terhadap pengaruh
beberapa variabel bebas dan mengharapkan dapat menilai pengaruh variabel
tersebut baik secar terpisah maupun secara bersama.

e) Hal-hal yang Merusak Hasil Penelitian


Hasil eksperimen dengan subjek manusia atau tingkah l a k u mempunyai
kemungkinan besar bervariasi apabila peneliti tidak memisahkan antara variabel
yang diperlukan dari variabel luar disekitar proses eksperimen. Padahal secara
ideal eksperimen dikatakan valid apabila:
1) hasil yang dicapai hanya diakibatkan oleh karena variabel bebas yang
dimanipulasi secara sistematis.
2) hasil akhir eksperimen harus dapat digeneralisasi pada kondisi eksperimen
yang berbeda.
Untuk mencapai hal yang ideal di atas, ada dua syarat agar hasil suatu
eksperimen dapat mencapai hasil yang baik dan tidak bervariasi. Kedua syarat
yang dimaksud adalah perlunya validitas internal dan validitas eksternal yang
terjaga selama proses penelitian eksperimen. Suatu penelitian dikatakan
mempunyai validitas internal tinggi, apabila kondisi berbeda pada variabel terikat
dari subjek yang diteliti merupakan hasil langsung dari adanya manipulasi
variabel bebas. Misal, penelitian pendidikan tentang pengaruh metode mengajar
alternatif dan metode mengajar yang biasa diberikan guru terhadap hasil belajar
siswa. Jika validitas internal tinggi, maka perbedaan hasil belajar di antara grup
eksperimen dan grup kontrol, hanya disebabkan adanya pengaruh dari kedua
variabel metode mengajar. Hal ini dapat dicapai apabila validitas internal tetap
dijaga sehingga perubahan hasil belajar pada siswa hanya disebabkan oleh
adanya perubahan pada variabel bebas.

11
Validitas internal penelitian eksperimen dapat terjadi karena adanya
delapan faktor penting sebagai sumber variasi. Kedelapan faktor tersebut, yaitu
1. faktor sejarah atau history dari subjek yang diteliti,
2. proses kematangan,
3. prosedur pretesting,
4. instrumen pengukur yang digunakan,
5. adanya kecenderungan terjadinya statistik regresi pada individu, perbedaan
pemilihan subjek,
6. Perbedaan pemilihan subjek
7. perbedaan lainnya disebabkan adanya mortalitas dalam proses eksperimen,
8. terjadinya interaksi di antara faktor-faktor di atas,termasuk kematangan,
sejarah, pemilihan, dan sebagainya.
Kedelapan faktor ini perlu dikontrol agar variabel yanng direncanakan dapat
mengakibatkan terjadinya perubahan pada variabel terikat.
Variabel eksternal tinggi merupakan kondisi dimana hasil penelitian yang
dilakukan dapat digeneralisasi dan digunakan pada kelompok lain di
luar setting eksperimen, ketika keadaan serupa dengan kondisi penelitian
eksperimen. Jika hasil penelitian tidak dapat digeneralisasi pada situasi lain,
maka dapat diartikan bahwa orang lain tidak dapat mengambil keuntungan dari
hasil penelitian yang ada. Akibatnya mereka harus terus-menerus melakukan
penelitian sendiri untuk memperoleh hasil yang diinginkan. Beberapa peneliti
menggunakan istilah ecological vallidityuntuk batasan validitas eksternal.
Validitas eksternal pada umumnya dibedakan menjadi empat macam
faktor, yaitu:
1) Adanya interaksi pengaruh bias pemilihan dan X.
2) Pengaruh interaksi pretesting.
3) Pengaruh reaktif proses eksperimen.
4) Adanya interferensi antarperlakuan selama dalam proses penelitian
eksperimen.

12
Validitas eksperimen yang baik mestinya mengandung kedua validitas
tersebut, secara proporsional, walaupun itu tidak dapat dicapai secara sempurna.
Jika dari bermacam-macam desain penelitian tersebut dipadukan dalam
suatu tabel, maka akan tampak masing-masing kelemahan maupun kelebihannya
terhadap validitas internal maupun validitas eksternalnya. Memahami masing-
masing desain penelitian terhadap sumber validitas tersebut penting, terutama
ketika peneliti akan menentukan bentuk desain penelitian eksperimen yang
hendak digunakan guna memecahkan permasalahan yang diinginkan.
Faktor-faktor yang mungkin merusakkan validitas desain eksperimen,
secara ringkas dapat dilihat seperti tabel berikut:
Tabel 13.1 Faktor Yang Merusakkan Validitas Eksperimen
Desain Penelitian
Pra Eksperimen
Sumber Validitas Eksperimen Sejati
Eksperimen Semu
1 2 3 4 5 6 7 9 10 11 12
Validitas Internal
1 Sejarah - + + + + + + + + - +
2 Kematangan - ? + + + + + + + + +
3 Prosedur pretesting - + + + + + + + + + +
4 Pengukuran instrumen - + + + + + + + + ? +
5 Statistik regresi ? + + + + + + ? + + +
6 Perbedaan seleksi + - + + + + + + + + +
7 Mortalitas + - + + + + + + + + +
8 Interaksi antara - - + + + + + - ? + +
pemilihan dan
kematangan
Validitas Eksternal
1 Interaksi pemilihan dan - - ? ? ? ? ? ? ? ? -
variabel eksperimen
2 Interaksi pretesting - + + - + + - ? - -
dengan variabel
eksperimen
3 Reaksi prosedur ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?
eksperimen
4 Interferensi multi -
treatment

13
Keterangan :
+ = menunjukkan adanya kontrol terhadap faktor
– = menunjukkan tidak adanya kontrol terhadap faktor
? = menunjukkan masih dipertanyakan kontrol terhadap faktor
= (kosong) menunjukkan bahwa faktor yang dimaksud tidak relevan.
Nomor 1-12 menunjukkan desain penelitian eksperimen yang terbagi atas
tiga kelompok, yaitu praeksperimen, eksperimen dan eksperimen semu.

B. PENELITIAN SURVEI
a) Pengertian Penelitian Survei
Survei menurut Cohen dan Nomion (1982) mengidentifikasikan,
sebenarnya lebih tepat dikatakan sebagai salah satu penelitian deskriptif.
Berkenaan dengan itu Cohen dan Nomion (1982) mengatakan: “survey
grathersdata at a particular point in time with the intention of a) describing the nature
ofexisting conditions, or b) identifying standards against which existing conditioncan be
compared, or c) determining the relationship that exist between specificevent Artinya
bahwa: “penelitian survei merupakan kegiatan penelitian yang mengumpulkan
data pada saat tertentu dengan tiga tujuan penting” yaitu:
1. Mendeskripsikan keadaan alami yang hidup saat itu,
2. Mengidentifikasi secara terukur keadaan sekarang untuk dibandingkan, dan
3. Menentukan hubungan sesuatu yang hidup diantara kejadian spesifik
Penelitian survei seperti tersebut di atas, dsiamping merupakan model penelitian
yang paling banyak digunakan oleh para peneliti social, juga banyak banyak
digunakan dalam penelitian pendidikan.
Penelitian dengan menggunakan survei juga merupakan metode baik guna
mengukur sikap orientasi penduduk dalam populasi besar terhadap suatu kasus
sosial. Dalam bidang pendidikan, pelaksanaan penelitian survei mungkin
bervariasi dalam hal tingkat kompleksitasnya dari yang hanya menggunakan
teknik analisis frekuensi sederhana sampai dengan penggunaan perhitungan
analisis hubungan antar variabel kompleks.

14
Survei juga bervariasi dalam hal cakupan penelitian. Penelitian itu bisa
dilakukan dengan hanya menggunakan beberapa item pertanyaan tetapi
mencakup wilayah penelitian sempit. Misalnya survei tentang letak sekolah
dalam suatu kawasan.
Penelitian survei juga dapat dibedakan atas lamanya waktu
penyelenggaraan. Terdapat jenis survei yang dilaksanakan dalam waktu sesaat
atau slice of time dengan cakupan luas, misalnya sensus penduduk, dan tetapi ada
pula yang dilakukan dalam jangka waktu yang lebih lama misalnya tiga tahun
atau lebih. Penelitian survei dengan jangka waktu lama ini sering disebut sebagai
penelitian survei longitudinal. Contohnya penelitian kesehatan responden tentang
akibat merokok, survei dampak lingkungan kerja terhadap para pekerja.
Dengan tidak melihat kateristik yang ada, misalnya termasuk apakah
dalam skope yang luas atau sempit, waktu yang lama ataupun yang berjangka
pendek serta yang lebih penting diperhatikan dalam penelitian survei adalah
adanya kecenderungan para peneliti untuk menggunakan satu metode atau lebih
teknik pengumpulan data seperti wawancara, dokumentasi, chek list, dan angket
atau kuesioner.

b) Melaksanakan Penelitian Survei


Kegiatan penelitian survei dapat diidentifikasikan sejak dari seorang
peneliti melakukan persiapan perencanaan, menentukan strategi sampling yang
hendak digunakan, mendiskusikan instrumen, bagaimana menyampaikan
instrumen tersebut kepada responden sebagai kelengkapan teknik survei, sampai
akhirnya mengidentifikasikan beberapa prosedur yang tepat agar dapat
memproses dan menganalisis untuk memperoleh hasil penelitian.
Ada tiga minimal persyaratan untuk melakukan penelitian survei. ketiga
persyaratan pendahuluan tersebut ialah:
1. Perlunya tujuan yang tepat
2. Adanya populasi yang menjadi pusat kegiatan penelitian
3. Sumber pembiayaan yang mecukupi

15
Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang cepat, penelitian
survei juga banyak digunakan di bidang pengetahuan seperti, pendidikan,
ekonomi, dan social atau penelitian lain yang mempunyai tujuan, sebagai berikut:
1. Menjawab pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan oleh peneliti.
2. Memecahkan permasalahan yang signifikan dan hidup di masyarakat.
3. Menilai kebutuhan dan menentukan tujuan institusi atau lembaga tertentu.
4. Menganalisis kecenderungan yang terjadi dalam suatu masyarakat atau
suatulembaga, pada periode tertentu.
5. Menentukan apakah tujuan spesifik suatu lembaga sudah dapat dicapai.
6. Mendeskripsikan permasalahan yang ada, dan seberapa jauh
implikasinyaterhadap lembaga yang ada.
7. Membuat acuan sikap yang realisik atas dasar data dan keadaan yang ada dimasyarakat.

c) Langkah-langkah Penelitian Survei


Penelitian survei menurut para ahli memiliki langkah-langkah yang agak
bervariasi. Ada tiga langkah penting dan menentukan keberhasialan penlitian
survei (Babbie, 1982), yaitu :
1. Mengembangkan atau membuat angket
2. Pemilihan sampel, dan
3. Mengumpulkan data dengan wawancara atau dengan angket/kuisioner
Detail tahapan penelitian survei menurut (Isaac dan Michael, 1982) yaitu
sebagai berikut.
1. Menentukan tujuan dan skope survei
2. Mendesian angket atau petunjuk wawancara
3. Mengetes instrumen untuk mengidentifikasi dan memperbaiki item yang
kurang relevan, dan mencapai format yang baik, mudah ditabulasi dan
dianalisis.
4. Jika menggunakan wawancara sebaiknya dibuat guide-nya, dilakukan oleh
orang-orang yang terlatih

16
5. Yakinkan bahwa instrumen harus memiliki karakteristik jelas, simple, dan
langsung berkaitan dengan permasalahannya
6. Menggunakan program computer yang relevan dan efesien
7. Mempertimbangkan sifat-sifat penting dari respondenyang menjadi sasaran,
utamanya ketika survei dilaksanakan dan analisis data dilakukan
8. Bayangkan variasi hasil yang mungkin muncul dari penelitian survei,
termasuk efek yang mungkin mengejutkan.

d) Jenis-Jenis Penelitian Survei


1. Survei Catatan
Jenis survei ini disebut survei of records, karena dalam kegiatan
penelitian ini banyak menggunakan sumber-sumber yang berupa catatan atau
informasi nonreaksi. Dalam penelitian nonreaksi ini, peneliti biasanya tidak
banyak melibatkan jawaban langsung dari orang atau subjek yang diteliti.
Survei model catatan ini mempunyai keuntungan disbanding dengan model
lainnya, yaitu bahwa objektivitas informasi yang diperoleh lebih objektif dan
bisa dipertanggungjawabkan. Di samping itu, survei menggunakan sumber
catatan ini mempunyai kelebihan lain, termasuk:
a. Catatan merupakan sumber informasi yang tidak dapat bereaksi terhadap
perlakuan yang diterima yang berasal dari peneliti
b. Sumber-sumber yang ada murah, dan tidak berpindah-pindah tempat,
sehingga lebih cepat di akses
c. Catatan yang ada memungkinkan dilakukan perbandingan secara historis
dan dilakukan analisis kecenderungan dari satu keadaan ke keadaan lain
yang berbeda, dan
d. Jika catatan tepat dan up to date, mereka dapat menjadi acuan
perbandingan yang sangat baik
Disamping kelebihan seperti di atas survei menggunakan sumber
catatan juga mempunyai kelemahan yang apabila peneliti tidak menyadari
akan dapat meminimalkan efektivitas penelitian itu sendiri. Beberapa

17
kelemahan yang dimiliki oleh penelitian dengan survei catatan di antaranya
sebagai berikut:
a. Peneliti terhalang dengan sumber catatan yang memiliki sifat confidential
atau rahasia Negara, kelompok atau mungkin juga pribadi
b. Sumber-sumber catatan mungkin sekali tidak lengkap, tidak tepat, dan
obsolete atau kadaluwarsa
c. Adanya aturan untuk usia suatu catatan dapat diketahui publik sering
membuat perbandingan tidak valid, misalnya catatan highly secret negara
maka baru setelah masa 30 tahun, rahasia Negara tersebut dapat dibuka
untuk diketahui publik
d. Catatan dapat menyebabkan salah persepsi, utamanya jika peneliti tidak
dapat menerangkan bagaimana catatan dikumpulkan dan diadministrasi
e. Tujuan pencatatan biasanya tidak berhubungan dengan kegiatan survei.
Oleh karena itu, peneliti perlu menyeleksi bagian informasi yang relevan
dan menganalisisnya dengan menggunakan teknik yang tepat
f. Catatan pada umumnya hanya berupa informasi faktual yang masih
memerlukan kajian lebih lanjut guna mencapai kebermaknaannya
2. Survei Menggunakan Angket
Survei dengan menggunakan angket ini biasanya di distribusikan ke
responden melalui jasa pos. Di negara-negara di mana masyarakatnya telah
lebih maju tingkat pendidikannya, penelitian ini termasuk aman, tetapi untuk
di Negara kita masih memerlukan pencermatan secara intensif. Walaupun
demikian, sebaiknya kita perlu mengetahui keunggulan dan kelemahan
penelitian survei yang menggunakan angket sebagai pengumpulan data.
Keunggulan:
a. Biaya murah
b. Dapat menjangkau responden
c. Dapat diadministrasi dengan lebih mudah
d. Pengisian angket dapat merahasiakan nama responden

18
Kelemahan:
a. Tingkat pengambilan responden rendah
b. Tidak ada kepastian bahwa pertanyaan dalam angket diketahui maksudnya
oleh responden
c. Tidak ada kepastian bahwa yang menjawab adalah responden yang
dimaksud oleh peneliti
3. Survei Melalui Telepon
Pada penelitian ini, peneliti dengan menggunakan buku petunjuk
telepon (buku kuning) menghubungi responden, kemudian mengatakan
kepada mereka maksud dan tujuannya memperoleh informasi yang diinginkan
adalah jawaban dari mereka.
Keunggulan:
a. Lebih murah
b. Menghubungi responden dalam jumlah besar
c. Waktunya fleksibel
d. Dapat mencakup daerah tinggal yang lebih luas
e. Responden merasa lebih mudah dalam berkomunikasi
Kelemahan:
a. Banyak penduduk yang belum mempunyai telepon
b. Menggunakan hak kerahasiaan seseorang
c. Hilangnya beberapa keuntungan yang ada pada wawancara langsung
d. Strata masyarakat yang ada tidak dapat dijangkau generalisasi yang
terwakili
4. Survei Menggunakan Wawancara Kelompok
Teknik ini mirip dengan wawancara perorangan. Peneliti dalam
menggali informasi terhadap grup, memungkinkan terjadinya interaksi di
antara anggota kelompok dan dengan peneliti, sehingga menghasilkan suatu
gambaran yang lebih baik tentang keadaan subjek atau objek yang diteliti

19
Keunggulan:
a. Efisien dan Murah
b. Hasil survei lebih merefleksikan tingkah laku kelompok dan merupakan
hasil consensus atrar responden
c. Menunjukan adanya bentuk interaksi kelompok dalam suatu lembaga
d. Dapat merangsang produktivitas yang lebih tinggi di antara kelompok
Kelemahan:
a. Interaksi antar anggota dalam suatu kelompok, memungkinkan terjadinya
rasa terintimidasi perbedaan yang ada dalam individual
b. Terjadinya loyalitas kelompok yang dapat mempengaruhi keadaan
kelompok tersebut
c. Terjadinya manipulasi oleh anggota grup yang memiliki kelebihan
5. Survei dengan Melakukan Wawancara Individual
Pada penelitian dengan wawancara individual ini lebih berhasil apabila
peneliti merasa tertantang untuk melakukan eksplorasi permasalahan dengan
informasi yang terbatas
Keunggulan:
a. Bersifat personal
b. Terjadinya wawancara yang mendalam dengan jawaban bebas
c. Fleksibel
d. Memperoleh informasi tambahan dari responden
e. Lingkungan rumah juga dapat meningkatkan ketepatan teknik wawancara
Kelemahan:
a. Lebih mahal dan memerlukan waktu yang lama
b. Manipulasi
c. Konflik pribadi
d. Keterampilan berwawancara
e. Menyimpulkan hasil temuan wawancara

20
DAFTAR PUSTAKA

Hadi, Sutrisno. 1994. Metodologi Research IV. Yogyakarta: Andi Offset.


Latipun. 2004. Psikologi Eksperimen. Malang: UMM Press.
Sukardi. 2011. Metodologi Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Bumi Aksara.
Surakhmad, Winarno. 1994. Pengantar Penelitian Ilmiah : Dasar Metode Teknik.
Bandung: Tarsito.

21

Anda mungkin juga menyukai