Anda di halaman 1dari 7

TUGAS BIOLOGI DASAR

“SPESIES YANG TERANCAM PUNAH”

Disusun oleh:
Rizki Insyani Putri ( 163-069)

JURUSAN S1 BIOLOGI MEDIK FAKULTAS BIOLOGI

UNIVERSITAS NASIONAL

JAKARTA

2018
Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati
tertinggi di dunia, termasuk tingkat endemisme yang tinggi. Tingkat endemisme yang tinggi di
Indonesia sehingga dikenal sebagai salah satu negara yang memiliki keanekaragaman hayati
tertingi yang dilengkapi dengan keunikan tersendiri. Satwa-satwa tersebut tersebar di seluruh
pulau-pulau yang ada di Indonesia. Berdasarkan informasi yang didapatkan Tim Cegah Satwa
Punah dari ProFauna Indonesia sekitar 300.000 jenis satwa liar atau sekitar 17% dari jenis
satwa di dunia berada di Indonesia. Indonesia bahkan menempati urutan pertama dalam hal
kekayaan mamalia dengan 515 jenis dan menjadi habitat dari 1539 jenis unggas serta sekitar
45% jenis ikan di dunia hidup di Indonesia.

Indonesia menyimpan banyak keanekaragaman jenis satwa liar, namun juga merupakan
salah satu negara yang mempunyai laju kepunahan jenis satwa yang cukup tinggi. Daftar
panjang tentang satwa liar yang terancam punah tersebut dapat dilihat dari sulitnya untuk
melihat beberapa jenis satwa liar di habitat aslinya. Satwa-satwa liar tersebut diantaranya yang
sudah jarang ditemui di tempat aslinya, seperti harimau Sumatera, badak bercula satu, anoa,
burung cendrawasih, gajah Sumatera, harimau Jawa, dan masih banyak lagi satwa-satwa yang
hidup di daratan, perairan, dan di udara yang terancam punah. Saat ini diperkirakan jumlah
jenis satwa liar yang terancam punah terdiri dari 147 jenis mamalia, 114 jenis unggas, 28 jenis
reptile, 91 jenis ikan dan 28 jenis invertebrata

Banyak hal yang menyebabkan tingginya ancaman kepunahan dari jenis satwa liar
tersebut. Hutan dikonversi menjadi pemukiman, lahan pertanian, perkebunan serta terjadi
eksploitasi sumber daya alam di hutan secara berlebihan. Lahan habitat alami satwa liar yang
kemudian menjadi korban. Kondisi ini diperparah dengan tingginya perburuan dan
perdagangan liar yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Semua ini disebabkan rendahnya
tingkat pengawasan dan penegakan hukum terhadap berbagai eksploitasi ilegal satwa liar dan
tingkat perburuan liar sangat tinggi. Tingginya tingkat perburuan dan perdagangan liar ini
karena tingginya permintaan pasar terhadap jenis-jenis satwa liar, ditambah penawaran harga
yang tinggi untuk jenis-jenis satwa yang sangat langka.
A. Orcaella brevirostris

Orcaella brevirostris atau yang kita


ketahui sebagai pesut mahakam. Pesut
merupakan mamalia air yang unik.
Berbeda dengan lumba-lumba dan
ikan paus, pesut (Orcaella
brevirostris) hidup di air tawar yang
terdapat di sungai-sungai dan danau
yang terdapat di daerah tropis dan subtropis. Pesut Mahakam adalah salah satu sub-populasi
pesut (Orcaella brevirostris) selain sub-populasi Sungai Irrawaddi (Myanmar), sub-populasi
Sungai Mekong (Kamboja, Laos, dan Vietnam), sub-populasi Danau Songkhla (Thailand), dan
sub-populasi Malampaya (Filipina). Pesut yang termasuk salah satu satwa dilindungi di
Indonesia ini dalam bahasa Inggris disebut sebagai Irrawaddy Dolphin atau Dolphin Snubfin.

 Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Cetacea
Famili : Delphinidae
Genus : Orcaella
Spesies : Orcaella brevirostris

 Habitat
Pesut Mahakam (Orcaella brevirostris sub-populasi sungai Mahakam) hidup di
sungai Mahakam pada daerah sekitar 180 km dari muara sungai hingga 600 km dari
daerah hulu. Lokasi yang diduga didiami mamalia air tawar ini antara lain Kedang
Kepala, Kedang Rantau, Belayan, Kedang Pahu, dan anak sungai Ratah, serta sebagai
danau Semayang dan Melintang.
 Populasi
Populasi Pesut Mahakam diperkirakan antara 67 hingga 70 ekor (2005). Ancaman
tertinggi kelangkaan populasi Pesut Mahakam diakibatkan oleh belitan jaring nelayan.
Selain itu juga akibat terganggunya habitat baik oleh lalu-lintas perairan sungai
Mahakam maupun tingginya tingkat pencemaran air, erosi, dan pendangkalan
sungai akibat pengelolaan hutan di sekitarnya.

Rendahnya populasi ini membuat lumba-lumba air tawar ini menjadi salah satu
binatang paling langka di Indonesia. Sehingga IUCN Redlist menyatakan status konservasi
Pesut Mahakam sebagai Critically Endangered (Kitis) yaitu tingkat keterancaman tertinggi. Di
Indonesia sendiri, pesut Mahakam di tetapkan sebagai satwa yang dilindungi berdasarkan PP
No. 7 Tahun 1999 tentang Tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

B. Rhinoceros sondaicus sondaicus

Rhinoceros sondaicus sondaicus atau yang kita tahu sebagai badak Jawa. Merupakan
salah satu mamalia besar terlangka di dunia yang ada diambang kepunahan. Dengan hanya
sekitar 50 ekor individu di alam liar,
spesies ini diklasifikasikan sebagai sangat
terancam (critically endangered) dalam
Daftar Merah IUCN. Ujung Kulon
menjadi satu-satunya habitat yang tersisa
bagi badak Jawa di Indonesia. Populasi
lain dari sub-spesies yang berbeda di
Vietnam telah dinyatakan punah. Status
badak Jawa dilindungi sejak 1931 di Indonesia, yang diperkuat dengan penetapan Ujung Kulon
di barat daya pulau Jawa sebagai taman nasional sejak 1992.

 Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mammalia
Ordo : Perissodactyla
Famili : Rhinocerotidae
Genus : Rhinocerotidae Linnaeus, 1758
Spesies : Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822
 Habitat
Badak Jawa pernah hidup di hampir semua gunung-gunung di Jawa Barat, diantaranya
berada hingga diatas ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut.
 Populasi
Pada tahun 1960-an, diperkirakan sekitar 20 sd 30 ekor badak saja tersisa di TN Ujung
Kulon. Populasinya meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 1967 hingga 1978
setelah upaya perlindungan dilakukan dengan ketat, yang didukung oleh
WWFIndonesia. Sejak akhir tahun 1970-an, jumlah populasi Badak Jawa tampaknya
stabil dengan angka maksimum pertumbuhan populasi 1% per tahun.
 Ekologi
Berdasarkan pengamatan terhadap ukuran wilayah jelajah dan kondisi habitat, Ujung
Kulon diperkirakan memiliki daya dukung bagi 50 individu badak. Hanya saja,
populasi yang stagnan menandakan batas daya dukung sudah dicapai. Karena alasan
tersebut serta upaya preventif menghindarkan populasi badak dari ancaman penyakit
dan bencana alam, para ahli merekomendasikan adanya habitat kedua bagi Badak
Jawa. Beberapa lokasi yang menjadi pertimbangan adalah: Hutan Baduy, Taman
Nasional Halimun – Salak, Cagar Alam Sancang dan Cikepuh.

Sudah tidak ditemukan kasus perburuan liar badak Jawa sejak tahun 1990-an karena
penegakan hukum yang efektif oleh otoritas taman nasional yang diiringin dengan inisiatif-
inisiatif seperti Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU) serta patroli pantai. Ancaman
terbesar bagi populasi badak Jawa adalah: Berkurangnya keragaman genetis Populasi badak
Jawa yang sedikit menyebabkan rendahnya keragaman genetis. Hal ini dapat memperlemah
kemampuan spesies ini dalam menghadapi wabah penyakit atau bencana alam (erupsi gunung
berapi dan gempa). Degradasi dan hilangnya habitat Ancaman lain bagi populasi badak Jawa
adalah meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung pertumbuhan populasi manusia.
Pembukaan hutan untuk pertanian dan penebangan kayu komersial mulai bermunculan di
sekitar dan di dalam kawasan lindung tempat spesies ini hidup.
C. Pongo pygmaeus
Pongo pygmaeus yang kita ketahui
sebagai nama latin dari Orang Utan.
Berdasarkan studi genetika dari orangutan
Borneo, terdapat tiga sub-spesies orangutan
yang telah diidentifikasi, yaitu Pongo
pygmaeus pygmaeus yang ditemukan di barat
laut Borneo, Pongo pygmaeus wurmbii di
Borneo bagian tengah, dan Pongo pygmaeus
morio di timur laut Borneo. Dari ketiga sub-
spesies orangutan Borneo tersebut, P.p. wurmbii merupakan sub-spesies dengan ukuran tubuh
relatif paling besar, sementara P.p. morio adalah sub-spesies dengan ukuran tubuh relatif
paling kecil.
Pada tahun 2004, ilmuan memperkirakan bahwa total populasi orangutan di Pulau
Borneo, baik di wilayah Indonesia maupun Malaysia terdapat sekitar 54 ribu individu. Diantara
ketiga sub-spesies orangutan Borneo tersebut, P.p. pygmaeus merupakan sub-spesies yang
paling sedikit dan terancam kepunahan, dengan estimasi jumlah populasi sebesar 3,000 hingga
4,500 individu di Kalimantan Barat dan sedikit di Sarawak, atau kurang dari 8% dari jumlah
total populasi orangutan Borneo.
 Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum : Chordata
Kelas : Mamalia
Ordo : Primata
Famili : Hominidae
Genus : Pongo
Spesies : Pongo pygmaeus.

 Ekologi dan Habitat


Orangutan Borneo lebih banyak ditemukan di hutan dataran rendah (di bawah 500 m
diatas permukaan laut) dibandingkan di dataran tinggi. Hutan dan lahan gambut
merupakan pusat dari daerah jelajah orangutan, karena lebih banyak menghasilkan
tanaman berbuah besar dibandingkan dengan hutan Dipterocarpaceae yang kering dan
banyak mempunyai pohon-pohon tinggi berkayu besar, seperti keruing. Orangutan
borneo sangat rentan dengan gangguan-gangguan di habitatnya, meskipun P.p. morio
menunjukkan toleransi yang relatif tak terduga mengenai degradasi habitat di bagian
utara Pulau Borneo.
Semua sub-spesies orangutan Borneo adalah spesies langka dan sepenuhnya dilindungi
oleh perundang-undangan Indonesia. Spesies ini diklasifikasikan oleh CITES ke dalam
kategori Appendix I (species yang dilarang untuk perdagangan komersial internasional karena
sangat rentan terhadap kepunahan). Beberapa ancaman utama yang dihadapi oleh orangutan
Borneo adalah kehilangan habitat, pembalakan liar, kebakaran hutan, perburuan dan
perdagangan orangutan untuk menjadi satwa peliharaan. Dalam satu dekade terakhir, di tiap
tahunnya, paling tidak terdapat 1,2 juta ha kawasan hutan di Indonesia telah digunakan untuk
aktivitas-aktivitas penebangan berskala besar, pembalakan liar, serta konversi hutan untuk
pertanian, perkebunan, pertambangan, dan pemukiman. Kebakaran hutan yang disebabkan
oleh fenomena iklim seperti badai El Nino dan musim kering yang berkepanjangan juga
mengakibatkan berkurangnya populasi orangutan. Selama 20 tahun terakhir, habitat orangutan
Borneo berkurang paling tidak sekitar 55 %.

D. Burung Maleo

Burung Maleo adalah Jenis Burung yang hanya bisa dijumpai di Pulau Sulawesi,
sehingga disebut burung endemik Sulawesi. Ukuran Burung Maleo ini kira-kira sebesar ayam
bangkok, dengan ciri khas ada bulu dada warna putih dengan bulu hitam dominan di
tubuhnya. Yang unik dari burung maleo adalah telur dan cara menetaskan telurnya. Karena
mempunyai ukuran besar maka dia tidak mengerami sendiri telurnya itu. Ukuran telur Maleo
kira-kira lima kali ukuran telur ayam kampung. Maleo diklasifikasikan dalam megapoda yang
artinya burung berkaki besar. Burung ini mengalami keterancaman karena perburuan terutama
telornya yang berukuran besar dan hilangnya habitat alami.

 Klasifikasi

Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Aves (burung)
Ordo : Galliformes
Familia : Megapodidae
Genus : Macrocephalon
Species : Macrocephalon maleo