Anda di halaman 1dari 86

KARAKTERISTIK DIODE

1. TUJUAN

1. Mengukur karakteristik v - ℓ diode germanium dan diode silikon

2. Menetukan tegangan hidup (threshold voltage), VT

3. Menghitung resistensi statis, RS

4. Menghitung resistansi dinamis, rd

5. Menggunakan osiloskop untuk menampilkan karakrteristik v - ℓ diode secara


langsung

6. Membandingkan parameter diode germanium dengan diode silikon.

2. PENDAHULUAN

1. Diode adalah komponen yang bergantung polaritas, yang dipasang bias arah-
maju (forward hiased) atau arah balik (reverse biased). Diode dikatakan dibias
maju jika tegangan anode (material P) dibuat lebih posotof daripada katode
(material N), arus akan mengalir dengan mudah melalui diode. Sebaliknya,
dibias balik jika anode dibuat lebih negatif daripada katode.

Anode Katode A K
P N

Simbol Diode Struktur Diode

2. Beberapa parameter diode dapat ditentukan dari kurva karakteristik vp - ℓp –


nya.

Tegangan hidup VT diperoleh dengan memperpanjang bagian linier dari kurva


karakteristik bias maju sampai memotong sumbu tegangan. Tegangan hidup
adalah tegangan minimum yang diperlukan pada diode untuk mengatasi
tegangan difusi pada sambungan (junction) diode.
𝑉𝑝
Resistansi statis RS = (bias maju
𝐼𝑝

𝛥𝑉𝑝
Resistansi dinamis rd = 𝛥ℓ
𝑝

Karakteristik bias maju


I(iF)
i
+ + I(iF) iF
v iF vF
- -

∆VF
VT
3. BAHAN DAN PERALATAN
1 Diode germanium, 10mA, 90V
1 Diode silikon, 1 A, 100 V
1 Resistor 10 Ω/10 W
1 Resistor 1 K Ω
1 Resistor 10 K Ω
2 Multimeter
1 Osiloskop dua-saluran
1 Sumber tegangan dc variabel 0 – 60 V
1 Sumber tegangan dc variabel 0 – 12 V/1 A/50 Hz

4. DIAGRAM RANGKAIAN

R1
4.1. 0...+15 V A
IP
+
Vp
V -

0V

4.2. 10 kΩ
0...+60 V A
IR

V
+
VR
0V
-

Y
0...12 V
4.3. R1

+
i V
-
R1
0V
X

5. LANGKAH KERJA
5.1 Buatlah rangkaian seperti diagram 4.1, gunakan diode germanium dan R1
= 1 K Ω.
Lakukan pengukuran Ip sebagai fungsi Vp.
Masukkan hasilnya pada tabel 1.
5.2 Buatlah rangkaian seperti diagram 4.2, gunakan diode germanium.
Lakukan pengukuran Ir sebagai fungsi VR.
Masukkan hasilnya pada tabel 1.
5.3 Gambarlah karakteristik V - ℓ diode germanium tersebut.
Buatlah skala yang berbeda untuk bias maju dan bias balik
5.4 Analisislah karakteristik V - ℓ dan tentukan :
5.4.1. Tegangan hidupnya, VT
5.4.2. Resistansi statisnya, RS
Pada bias maju IP = 10 mA dan
Pada bias balik VR = 30 V
5.4.3. Resistansi dinamisnya, rd
5.5 Kerjakan seperti langkah 5.1 untuk diode silikon dengan R1 = 10 Ω / 10
W. (Tabel 2)
5.6 Kerjakan seperti langkah 5.2 untuk diode silikon. (Tabel 2)
5.7 Kerjakan seperti langkah 5.3 untuk diode silikon.
5.8 Kerjakan seperti langkah 5.4 untuk diode silikon.
5.9 Buatlah rangkaian seperti diagram 4.3, gunakan diode germanium dan
R1 = 1 K Ω.
Hidupkan osiloskop pada operasi X-Y/DC. Naikkan tegangan sumber
secara perlahan-lahan sampai maksimum. Lukislah pada kertas grafik
karakteristik V-ℓ diode tersebut, disertai skala arus dan tegangannya.
5.10 Kerjakan seperti langkah 5.9 untuk diode silikon dengan R1 = 10 Ω / 10
W.
5.11 Buatlah perbandingan parameter diode germanium dengan diode silikon
yang telah diperoleh.

TABULASI DATA

TABEL 1 (Diode Germanium)

BIAS MAJU BIAS BALIK


VP IP VR IR
(Volt) (mA) (Volt) (µA)
0,05 0 1 0
0,1 0 2 0
0,15 0 3 0
0,2 0 5 0
0,25 0 8 0
1,66 1 12 0
2,67 2 10 0
3,68 3 25 0
4,69 4 30 0
6,7 6 40 0,113
8,7 8 50 0,142
10,75 10 60 0,17
TABEL 2 (Diode Silikon)

BIAS MAJU BIAS BALIK


VP IP VR IR
(Volt) (mA) (Volt) (µA)
0,2 1
0,4 2
0,6 3
10 5
20 8
50 12
100 10
200 25
400 30
600 40
800 50
1000 60
KARAKTERISTIK DIODA ZENER

1. TUJUAN
1.1. Mengukur karakteristik v-i diode zener dengan menggunakan osiloskop
1.2. Menentukan tegangan zener, Vz
1.3. Menentukan resistansi dinamis, rz
1.4. Membangun rangkaian untuk pengukuran rsistansi dinamis diode zener

2. PENDAHULUAN
2.1. Pada keadaan bias maju, karakteristik diode zener tidak berbeda dengan diode silikon
biasa sedangkan pada keadaan bias balik, diode zener akan bersifat menghantar
ketika besar tegangannya melampaui tegangan dadalnya (breakdown voltage). Arus
yang mengalir pada keadaan dadal tidak merusak dioda zener sejauh kemampuan
disipasi daya maksimumnya tidak dilampaui.
2.2. Dengan gambar karakteristik vZ – iZ dapat ditentukan besarnya tegangan dadal atau
dikenal dengan tegangan zener dan resistansi dinamis dioda zener.
Tegangan zener vZ ditentukan pada titik arus uji tertentu, IZT , yaitu sekitar dua puluh
lima persen dari kemampuan diresistansi dinamis.
∆𝑣𝑍
IZ = ∆𝑖𝑍

iZ + vZ -

2.3. Resistansi dinamis dioda zener dapat juga ditentukan berdasarkan metode
pengukuran diagram 4.2.
𝑉
rz = ( 𝑉𝑖𝑛 – 1) R2
𝑟2
3. BAHAN DAN PERALATAN
1 Diode zener , 4,7 V/ 0,25 W
1 Diode zener , 0,25 W/ 10 V
1 Resistor 100 Ω
1 Resistor 1 kΩ
1 Kapasitor elektrolit 1 µE/ 35 V
1 Multimeter
1 Osiloskop 2 saluran
1 Generator sinyal sinusoidal
1 Sumber tegangan ac variabel 0-15 V/ 50 Hz
1 Sumber tegangan dc variable 0 – 30 V

4. DIAGRAM RANGKAIAN

4.1.
0... 15 V
IZ
+
vZ
0V
C
V

4.2. IZ
1 kΩ
0... 30 V C A
V 1 µF
Vin Vr2
1 KHz G

0 VC
V

5. LANGKAH KERJA
5.1. Buatlah rangkaian seperti diagram 4.1. gunakan dioda zener 4,7 V, hidupkan
osiloskop pada operasional x – Y / DC. Naikan tegangan sumber secara perlahan-
lahan sampai maksimum. Lukislah pada kertas grafik karakteristik v – i diode zener
4,7 V tersebut, disertai skala arus dan tegangan.
5.2. Analisislah karakteristik vZ – iZ yang didapat dan tentukan :
5.2.1.1. Tegangan zenernya, VZ
5.2.1.2. Resistansi dinamisnya, rZ
5.3. Kerjakan seperti langkah 5.1 untuk diode zener 10 V
5.4. Kerjakan seperti langkah 5.2 untuk diode zener 10 V
5.5. Buatlah rangkaian seperti diagram 4.2. gunakan diode zener 4,7 V. Set generator
sinyal pada frekuensi 1 KHz.
Lakukan pengukuran Vr2 (tegangan ac pada R2) fungsi IZ untuk Vin konstan 0,1 Vpp
Masukkan hasilnya pada tabel 1.
catatan : Gunakan osiloskop untuk pengukuran Vin dan Vr2.
5.6. Hitunglah resistansi dinamis r2 untuk setiap harga arus zener pada tabel 1.
5.7. Kerjakan seperti langka 5.5 untuk diode zener 10V. (tabel 2)
5.8. Kerjakan seperti langka 5.6 untuk diode zener 10V. (tabel 2)
5.9. Jelaskan prinsip pengukuran resistansi dinamis diagram 4.2.1
5.10. Jelaskan hubungan antara resistansi dinamis dn arus zener !

TABULASI DATA

Tabel 1 (zener 4,7 V)

IZ Vin Vr2 rZ
(mA) (Vpp) (Vpp) (Ω)
6 0,1
10 0,1
14 0,1
18 0,1
22 0,1

*) Lihat Langkah 5.6


Tabel 2 (zener 10 V)

IZ Vin Vr2 rZ
(mA) (Vpp) (Vpp) (Ω)
2 0,1
4 0,1
6 0,1
8 0,1
10 0,1

*) Lihat Langkah 5.8


KARAKTERISTIK TRANSISTOR

1. TUJUAN

1.1 Mengukur karakteristik keluaran transistor (NPN).

1.2 Mengukur karakteristik control arus transistor.

1.3 Menghitung faktor penguatan arus hPE.

1.4 Mengukur karakteristik control tegangan transistor.

1.5 Menghitung transkonduktansi.

1.6 Mengukur karateristik masukan transistor.

1. PENDAHULUAN

2.1 Transistor berada dalam kondisi kerja bila sambungan (junction) basis-emitor
mendapat bias maju dan sambungan basis-kolektor mendapat bias balik.
Untuk transistor NPN, tegangan pada basis (B) harus lebih positif daripada
emitor (E) dan tegangan pada kolektor (C) harus lebih positif daripada basis.

Simbol Transistor NPN Struktur Transistor NPN

2.2 Karakteristik keluaran memperlihatkan hubungan antara arus kolektor ( iC )


dan tegangan kolektor-emitor ( VCE ) pada arus basis ( iB ) konstan , iC = f (
VCE )

2.3 Karakteristik-control-arus memperlihatkan hubungan antara arus kolektor dan


arus basis pada tegangan kolektor-emitor konstan , iC = f ( iB ). Faktor
penguatan-arus dc hFE = IC / IB
2.4 Karakteristik-control-tegangan memperlihatkan hubungan antara arus kolektor
dan tegangan basis-emitor ( VBE ). Pada tegangan kolektor-emitor konstan, ( iC
) = f ( VBE ).

Transkonduktansi gm = Δ iC hFE = Δ iB

Δ VBE Δ VBE

2.5 Karakteristik-masukan memperlihatkan hubungan antara arus basis dan


tegangan basis-emitor pada tegangan kolektor-emitor konstan, iy = f ( VBE ).
Karakteristik ini dapat digambar dengan data dari kedua karakteristik-kontrol
diatas tersebut.

2. BAHAN DAN PERALATAN

1) Transistor silikon NPN, BC 107 C (1)


2) Resistor 100 Ω (1)
3) Resistor 1 k Ω (1)
4) Resistor 180 k Ω (1)
5) Potensiometer 1 k Ω (1)
6) Potensiometer 10 k Ω (1)
7) Diode penyearah (jembatan) (4)
8) Multimeter (3)
9) Osiloskop dua saluran (1)
10) Sumber tegangan dc 10V (1)
11) Sumber tegangan ac variabel 0-9V/50 Hz (1)

3. DIAGRAM RANGKAIAN

Gambar 4.1
Gambar 4.2

4. LANGKAH KERJA

5.1 Buatlah rangkaian seperti digambar 4.2 tanpa memasang V1 . Lakukan


pengukuran IC sebagai fungsi VCE dengan IB konstan ; 10VA ; 20 VA ; 30 VA.
Masukanlah hasilnya pada tabel 1.
5.2 Gambarlah karakteristik-keluaran transistor tersebut. Bagaimana terjadinya
kenaikan tajam arus kolektor dan bagaimana terjadinya arus kolektor jenuh?
5.3 Dengan rangkaian yang sama seperti langkah 5.1. Lakukan pengukuran IB
sebagai fungsi IC dengan VCE konstan (5V). Masukkan hasilnya pada tabel 2
(kolom IB).
5.4 Gambarlah karakteristik kontrol-arus transistor tersebut. Bagaimanakah
hubungan antara arus basis dan arus kolektornya?
5.5 Hitunglah faktor prnguatan arusnya
5.6 Buatlah gambar rangkaian seperti diagram 4.1 dengan menghubung singkat A1
dan memasang V1. Lakukan pengukuran VBE sebagai fungsi IC dengan VCE
konstan (5V). Masukkan hasilnya pada tabel 2 (kolom VBE).
5.7 Gambarlah karakteristik-kontrol tegangan transistor tersebut. Bagaimana
mulai terjadinya kenaikan arus kolektor yang relatif besar?
5.8 Hitunglah transkonduktansi ( gm ) transistor. (Gunakan karakteristik kontrol
tegangan yang telah didapat).
5.9 Gambarlah masukan transistor dengan menggunakan dana dari kedua
karakteristik kontrolnya. Apakah hubungan karakteristik masukan dengan
karakteristik kontrol tegangannya?
5.10 Buatlah rangkaian gambar 4.2.
Hidupkan osiloskop pada operasi X-Y/DC.
Tetapkan tegangan IB = 30 A dan naikkan tegangan sumber ac secara perlahan
sampai maks. 9 Vrms.
Lukislah pada kertas grafik karakteristik keluaran yang di dapat dari
osiloskop. Lengkapi dengan skala arus dan tegangannya.
Kerjakan juga untuk IB = 25 A ; 20 A ; 15 A; 10 A ; 5 A ; 0 A.

TABULASI DATA
Tabel 1
IC (mA)
VCE (V) IB = 10 (mA) IB = 20 (mA) IB = 30 (mA)
0,2
0,5
1
2
4
6
8

TABEL 2

VCE = 5 V
IC (mA) IB (mA) VBE (volt)
0,1
0,2
0,5
1
2
4
6
8
10
12
RANGKAIAN STABILISASI TEGANGAN

1. TUJUAN :
1.1.Membangun rangkaian stabilitasasi tegangan yang menggunakan diode zener.
1.2.Mengukur pengaruh diode zener pada tegangan beban terhadap perubahan
tegangan sumber.
1.3.Mengukur pengaruh diode zener pada tegangan beban terhadap perubahan
arus beban.

2. PENDAHULUAN :
2.1 Karakteristik bias balik diode zener menunjukkan bahhwa pada tegangan zener
(V2) suatu perubahan arus zener yang cukup besar hanya mengakibatkan
perubahan tegangan zener yang relative kecil (konstan). Hal ini dapat
dimanfaatkan untuk pembuatan rangkaian stabilisasi tegangan. Tegangan beban
rangkaian tersebut diharapkan dan konstan terhadap perubahan tegangan sumber
dan arus bebannya.
2.2 Untuk maksud tersebut di atas sebuah resistor , yang disambungkan seri dengan
diose zener, diperlukan untuk menyerap perbedaan antara tegangan sumber dan
tegangan diode zener. Resistor ini harus ditentukan sedemikian rupa sehingga
masih terdapat arus zener pada keadaan tegangan sumber minimum dan arus
beban maksimum, tegangan sumber maksimum dan arus beban minimum.

IS R IL

IZ

Sumber DC VS VZ VL Beban 10x stabil


10x stabil

Rangkaian Stabilisasi Tegangan


3. BAHAN DAN PERALATAN :
1 Diode zener 6,5 V
1 Resistor 270 Ω
1 Resistor 330 Ω
1 Potensiometer 1 kΩ
1 Kapasitor elektrolit 100μf/25 v
4 Diode penyearah
3 Multimeter
1 Osiloskop dua-saluran
1 Sumber tegangan ac variable o … 15V/5CKz

4. DIAGARAM RANGKAIAN
IL
270 Ω
A

330 Ω
100
µF V1 VS V2 VL
0....15 V
1 KΩ

5. LANGKAH KERJA
5.1 buatlah rangkaian seperti gambar seperti diagram, tetapkan potensiometer ? pada
kedudukan maksimum dan atur sumber tegangan sampai 10 V amati tegangan dc
VS dan V2 dengan osiloskop . Gambarkan bentuk tegangan dc V3 dan VL untuk
rangkaian tanpa dan dengan kapasitor tapis C.
5.2 Jelaskan mengapa kapsitor tapis mutlak diperlukan dalam rangkaian percobaan
ini.
5.3 Lakukan pengukuran VL sebagai fungsi VS untuk bahan minimum (? =
maksimum) dan untuk beban maksimum (? = minimum) masukkan hasilnya pada
tabel 1.
5.4 Gambarkan grafik “tegangan beban sebagai fungsi tegangan sumber dc”.
Berapakah tegangan sumber dc minimum agar fungsi stabilisasi tegangan masih
didapatkan pada keadaan beban maksimum
5.5 Lakukan pengukuran VL sebagai fungsi IL untuk fungsi VS konstan (12 V dan 10
V). masukkan hasilnya pada tabel 2.
5.6 Gambarlah grafik “tegangan beban sebagai fungsi arus beban”. Pada arus beban
berapakah, tegangan beban mulai turun.
5.7 Hitunglah arus sumber dc IS, arus zener IZ dan disipasi daya pada diode zener PZ
untuk setiap hasil penggukuran langkah 5.5 .
Jelas pengaruh kenaikan IL terhadap IS , IZ,dan PZ !

5.8 Sebutkan keburukan utama rangkaian stabilisasi tegangan percobaan ini.

Tabulasi Data

VL (Volt)
Tabel 1 VS P = maks P = min
(Volt)
2
4
6
7
8
9
11
11
13
15

VL (Volt)
IL VS = 12 V VS = 10 V
(mA)
0
4
6
8
10
12
Tabel 2 14
16
18
20
TIGA RANGKAIAN DASAR

6. TUJUAN :
Setelah praktek praktiran diharapkan dapat :
1.4. Membuat tiga rangkaian dasar penguat transistor “ emitor bersama ”. ( CE ): “
Basis bersama ” ( CB ) ; dan “ Kolektor bersama ”( CC ).
1.5. Menentukan penguatan arus Ai, penguatan tegangan Av, penguatan Ap, dan
impedansi masukan Ri.
1.6. Melakukan optimasi rangkaian “ Basis bersama ” dan” Kolektor bersama ”
dengan rangkaian “ Emitor bersama ”.
1.7. Membandingkan rangkaian “ Basis bersama ” dan “ Kolektor bersama ”
dengan rangkaian “ Emitor bersama ”.

7. PENDAHULUAN :
7.1 Penguat transistor mempunyai “ rangkaian masukan ” dengan tegangan bolak-
balik ( AC ) dan “ rangkaian keluaran ” dengan resistor beban. Sumber tegangan
dc diperlukan untuk membuat transistor dapat bekerja, yaitu untuk mempolarisasi
Basis pada arah konduksi ke Emitor dan untuk menutup garisedar Basis-Kolektor.
Ada tiga macam rangkaian dasar penguat transistor, yaitu : rangkaian Emitor
bersama, Basis bersama, dan Kolektor bersama. Letak perbedaan dari ketiga
rangkaian dasar tersebut adalah pada bagaiamana ketiga terminal transistor
dihubungkan. Sedangkan istilah rangkaian bersama ( common ) adalah
berhubungan dengan elektrode yang dihubungkan secara bersama ( common )
dengan rangkaian masukan dan keluaran, sepanjang menyangkut tegangan AC.
Hal ini tidaklah mutlak bahwa elektro yang akan dibersama-sama-kahn ke ground
harus dihubungkan ke ground secara langsung.
7.2 Rangkaian Emitor bersama ( CE )
Rangkaian “Emitor bersama” paling sering digunakan karena sistem rangkaian ini
memungkinkan untuk mendapatkan penguatan arus 50 dan 500 , penguatan
tegangan antara 100 dan 1000, secara bersamaan. Impedansi masukannya berada
pada batas daerah medium( 1-5 k. )sehingga membuat tegangan dan arus masukan
menjadi relatif rendah.
7.3 Rangkaian kolektor bersama ( CC )
Dalam rangkaian ini, tegangan keluar lebih kecil dari tegangan masukan sbesar
tegangan Basis-Emitornya yang dalam hal ini relatif rendah sehingga penguatan
tegangan sedikit lebih kecil dari 1.
7.4 Rangkaian Basis bersama ( CD )
Penguatan arus pada rangkaian “ Basis bersama ” mempunyai harga identik
dengan penguatan tengangan “ Kolektor bersama ”, disana arus keluaran kolektor
lebih kecil dari arus masukan emitor sebesar arus basis. Sedangkan hanya arus
dan tegangan lainnya dapat dilihat ari hasil pengamatan yang akan dilakukan .
7.5 Rumus-rumus penguatan ( lihat rangkaian percobaan )
Harga – harga arus maupun tegangan diambil harga puncak ke puncak ( P-P )
Vo
 Penguatan tegangan AV = Vi
Vo
 Penguatan arus Ai = Ii

 Penguatan daya Ap = AV . Ai
Vi
 Impedansi masukan Ri = Ii

Untuk rumrus rumus yang lain supay ditentukan sendiri :

8. DAFTAR ALAT DAN BAHAN


 Papan prcobaan
 Resistor 1 K
 Resistor 100 K
 Resistor 10 K
 Potensiometer 10 K
 Transistor BC 107
 Kapasitor 0.47 F, 50V
 Multimeter
 Oscilloscope , dua chanel , 1
 Penyediaan daya DC
 Generator fungsi
 Penghubung

9. DIAGRAM RANGKAIAN
9.1 Emitor bersama
9.2 Basis bersama

9.3 Kolektor bersama

5. Prosedur percobaan
5.1 Buat rangkaian ”Emitor bersama” (CE) seperti pada 4.1
5.2 Optimasikan pengetesan “titik” kerja dengan cara sbb :
5.2.1.1 Berikan tegangan suply dc, atur tegangan masukan AC dari generator
fungsi dengan frekuensi f = 10 KHz dan atur pengesatan titik kerja
dengan potensiometer P sehingga diperoleh tegangan keluaran VO yang
sinusoidal , maksimum tidak distorsi ( cacat ) . (Berarti penegsatan
titikkerja pada kondisi optimum sudah tercapai.
5.3 Ukur tegangan keluara dc VO dan arus basis dc IB , tanpa sinyal masukan AC (
IC
Generator fungsi harus “ off ”) Tentukan penguatan arus dc , β = hFE = IB

5.4 Tanpa perubahan apapun pada rangkaian , berikan sinyal AC , VI sehingga


tegangan keluaran Va =8 Vp-p ( harus sinusoidal ) . Ukur Vi dan Vw ; tentukan
AV ; Ai ; Ap ; Ri dan gambarkan bentuk gelombang keluaran masukkannya.
Perhatikan :

Hindari pemakaian kabel penghubung yang tidak terlalu penting untuk


menghindari pengaruh osilasi yang tinggi dalam rangkaian ( terutama untuk CB ).

Lakukan pengukuran tegangan dengan oscilloscope.

5.5 Ulangi prosedur percobaan diatas ( 5.1 ÷ 5.4 ) untuk rangkaian “ basis bersama“ (
4.2 ) dan kolektor bersama ( 4.3)
5.6 Masukkan semua hasil pengamatn dan perhitungan kedalam satu tabel
Bandingkan rangkaian basis bersama dan kolektor bersama degan emitor
bersama.
5.7 Bandingkan tegangan keluaran degna tegangan sumber pada kondisi pengetesan
titik kerja optimum. Berikan komentar !
STABILISASI TITIK KERJA RANGKAIAN EMITOR BERSAMA

1. TUJUAN :

Setelah melaksanakan percobaan praktikan diharapkan dapat :

1.1 Melihat adanya penggeran titik kerja pada penguat transistor akibat terjadinya
pemanasan

1.2 Mengetahui bahwasanya resistor emitor dapat digunakan untuk menstabilkan titik
kerja terhadap proses pemanasan

1.3 Mengamati dan menerangkan pengaruh resistor emitor terhadap rangkaian

1.4 Mengamati dan menerangkan pengaruh umpan balik pada penguasaaan tegangan

2. PENDAHULUAN

Karakteristik transistor akan berubah apabila dipanaska. Bertitik tolak dari hal
itulah stabilisasi titik kerja amat penting artinya untuk memperkecil faktor
ketergantungannya terhadap perubahan temperatur. Meskipun terjadi kenaikan
temperatur pada transistor, titik terjadinya akan relatif tetap dengan adanya
stabilisasi ini.

Pemanasan ini bisa terjadi dari persamaan dalam (internal) yang terjadi akibat
adanya efek pembebanan pada transistor atau pemanasan dari luar (eksternal)
stabilisasi di sini terutama untuk menanggulangi pemanasan internal yaitu yang
terjadi pada transistor pada saat beroperasi.

Stabilisasi titik kerja dapat dilakukan dengan menggunakan resistor emitor. Dalam
percobaan ini proses pemanasannya diambil dari luar, yaitu dari solder listrik daya
rendah. Pemanasan internal sangat sulit dilakukan tanpa merusakkan transistornya.

Pemanasan dilakukan selama 30 detik dan pengaruhnya dapat dilihat dalam waktu
itu pula
3. KOMPONEN DAN INSTRUMEN

- Papan percobaan, 1 - Transistor BC 107 C,

- Resistor 320 Ω, 1 - Osciloscope, 2 Chanel, 1

- Resistor 1 kΩ, 1 - Generator fungsi, 1

- Multimeter, 2 - Pencatu daya dc, 1

- Kapasitor 0,47µF/50V, 1 - Solder 30 watt, 1

- Kapasitor elektrolit 100 µF/50V, 1 - Kabel penghubung

- Potensiometer 1 kΩ, 1 - Stop Watch

4. DIAGRAM RANGKAIAN

4.1 Rangkaian emitor bersama (titik kerja distabilisasi)

+12 V

R3 1kΩ R2 1kΩ

A
IC

P 1kΩ
A

Vo
C Vi
G
0,47 µF
0V
4.2 Rangkaian emitor bersama (titik kerja distabilisasi)

+15 V

R3 1kΩ R2 1kΩ

A
IC

P 1kΩ
A Vo

CE
Vi
C 100 µF
RE 330kΩ
G 0,47 µF

5. TUGAS DAN PERTANYAAN

5.1 Buatlah rangkaian seperti pada diagram 4.1 dan lakukan pengukuran-
pengukuran/ perhitungan-perhitungan yang diperlukan di bawah ini.

5.1.1 Penyetelan titik kerja (tanpa sinyal AC)

Lakukan penyetelan titik kerja dengan mengatur potensiometer P


1 𝑉𝐶𝐶
sehingga tegangan VCE≈ 2 Vcc atau IC =2 (𝑅𝐶+𝑅𝐸) = ......... mA

5.1.2 Panaskan transistor dan tuliskan hasil pengamatan terhadap IC,VCE, dan
IB.

5.1.3 Berikan tegangan masukkan bolak-balik (f=10 kHz) yang dibuat


sedemikian rupa sehingga tegangan keluaran sebesar mungkin tapi tidak
cacat.
Ukur sinyal masukkan dengan osiloscope pada posisi AC, sinyal
keluaran pada posisi DC. Gambarkan bentuk gelombang tegangan
Vo
masukkan dan tegangan keluaran. Tentukan penguatan tegangan AV= Vi

5.1.4 Panaskan transistor, amati bentuk tegangan keluaran pada osciloscope.


Jelaskan.

5.2 Buatlah rangkaian seperti pada diagram 4.2

5.2.1 Penyetelan titik kerja (tanpa sinyal AC)

Lakukan penyetelan titik kerja dengan mengatur potensiometer P


1 𝑉𝐶𝐶
sehingga tegangan VCE≈ 2 Vcc atau IC =2 (𝑅𝐶+𝑅𝐸) = ......... mA.

Hitung dan ukurlah tegangan keluaran VO.

5.2.2 Panasi transistor, amati arus kolektor IC, sebutkan alasan-alasan mengapa
berbeda dengan 5.1.2

5.2.3 Berikan tegangan bolak balik yang diatur sedemikian rupa sehingga
tegangan keluaran maksimum tapi tidak cacat, ukur tegangan Vi, Vo,
dan hitunglah Av.

5.2.4 Panaskan transistor, amati bentuk tegangan keluaran dan jelaskan.

5.2.5 Lepaskan kapasitor CE, lakukan lagi pengukuran seperti pada butir 5.2.3

Jelaskan dan tulis alasan perbedaan yang terjadi pada harga Av dan Vo
pada rangkaian dengan dan tanpa kondensator CE

5.2.6 Naikkan tegangan masukkan bolak-balik sehingga didapatkan tegang-an


keluaran maksimum tapi tidak cacat. Ukur Vi dan Vo, serta tentukan Av.
R2
Bandingkan penguatan tegangan Av yang diperoleh dengan harga R3 ,

Berikan Komentar !

5.2.7 Lakukan pemanasan dan pengamatan seperti langkah-langkah


sebelumnya dan jelaskan.
5.2.8 Jelaskan mengapa resistor emitor RE bisa digunakan untuk stabilisasi titik
kerja

5.2.9 Apakah tujuan pemanasan CE paralel RE dan rumusan pendekatan yang


mana menyatakan berapa harga CE yang seharusnya dipasang?
KARAKTERISTIK JPET

1. TUJUAN :
1.1.Mengukur karakteristik-keluaran JFET
1.2.Mengukur karakteristik-transfer JFET
1.3.Mengukur transkonduksi JFET
1.4.Mengukur karakteristik perubahan transkonduksi terhadap arus-drain.

2. PENDAHULUAN
FET (Field Effect Transistor) masuk kelompok transistor unipolar karena hanya
mempunyai satu jenis pembawa-muatan.
JFET atau Junction FET merupakan salah satu dari keluarga FET. JFET terdiri dari 2
jenis, yaitu JFET kanal-N dan JFET kana-P. Yang akan diamati pada percobaan ini
adalah JFET kanal-N.

3. BAHAN DAN PERALATAN

1 buah JFET E 300

1 buah Resistor 1 kΩ

1 buah Resistor 100 kΩ

1 buah Potensio meter 470 kΩ Simbol dan struktur JFET kanal-


N

1 buah Kapasitor 1µ

2 buah Voltmerer DC

1 buah Amperemeter DC

1buah Osiloskop

1 buah Generator Frekuensi Audio (AFG)

1 buah Sumber-tegangan DC tetap 9 V

1 buah Sumber-tegangan DC variable 0-30 V


4. DIAGRAM RANGKAIAN
Diagram 1

0 – 10 V

Diagram 2

0 – 30 V

5. LANGKAH KERJA :
5.1.Pengukuran Karakteristik Keluaran dan Karakteristik Transfer
5.1.1. Buat rangkaian seperti diagram 4.1.
5.1.2. Laksanakan pengukuran dan catat hasilnya dalam table. Gunakan
potensiometer 100kΩ untuk menetapkan tegangan VDC dan sumber
tegangan dc variable untuk tegangan VDC
5.2.Pengukuran Transkonduktansi maksimal
5.2.1. Buat diagram seperti diagram 4.2
5.2.2. Laksanakan pengukuran dan catat hasilnya dalam table. Gunakan
osiloskop untuk mengukur tegangan ac, Vgs dan Vds dan tetapkan tegangan
VDS dengan mengatur sumber tegangan dc variable.
5.3.Pengukuran pengarug arus – drain terhadap transkonduktansi VDC konstan
Seperti langkah 5.2.1 dan 5.2.2
Catat hasilnya dalam table 6.3.
Gunakan potensiometer 100kΩ untuk mengatur arus ID
6. DATA PENGAMATAN
Tabel 1 ( Karakteristik Keluaran dan Karakteristik Transfer )
ID (mA)
VDS
VGS = VGS = VGS = VGS VGS = VGS = VGS =
(Volt)
0V V V =0,6V -0,9V -1,2V -1,5V
0,2
0,4
0,8
1,5
3
6
10

Tabel 2 ( Transkonduktansi maksimum )


VDS VGG Vgs Vds gmo ( ms )
( Volt ) ( Volt ) ( Vpp) ( Vpp) Terukur Dihitung

Tabel ( Peubahan transkonduktansi terhadap arus – drain ).


VDS ID Vgs Vds gm ( ms )
( Volt ) ( mA ) ( Vpp) ( Vpp) Terukur Dihitung
10 10 0,1
10 7 0,1
10 4 0,1
10 2 0,1
10 1,2 0,1
10 0,5 0,1
10 0,1 0,1

7. TUGAS :
7.1.1. Gambarkan karakteristik – keluaran untuk Vgs konstan 0 V ; -0,1V ; -0,2V
; -0,4V ; dam -0,7V.
7.1.2. Gambarkan karakteristik – transfer untuk VDS konstan 0,2V, 0,8V dan
10V.
Tandailah IDSS dan I=VP pada grafik.
7.1.3. Hitunglah transkonduktansi maksimum (gmo) pada table 6.2. dan
transkonduktansinya untuk setiap harga arus – drain (ID) pada table 6.3,
menggunakan rumus pengukuran transkonduktansi :
𝑉𝑑𝑠
gm = 𝑉𝑞𝑜 𝑥 𝑅2

7.1.4. Hitunglah transkonduktansi dengan rumus perhitungan teoritis :


−2 𝑥 IDSS 𝑉𝐺𝑆 2
gm = (1- )
𝑉𝑝 𝑉𝑃

7.1.5. Gambarkan karakteristik perubhan transkonduktansi terhadap arus – drain


gm = f (ID), VDS konstan, dengan data dari table 6.3.
7.1.6. Diketahui IDDS suatu FET 5mA dan VP = -2V.
Hitunglah arus – drainnya pada VGS = -1V.
KARAKTERISTIK UJT

1. TUJUAN
1.1 Menggambarkan karakteristik UJT, VEBI = f (iE)
1.2 Mengukur parameter VD dan
1.3 Menjelaskan dasar kerja rangkaian osilator relaksasi UJT

2. PENDAHULUAN
UJT (Uni-Junction-Transistor) sering digunakan dalam rangkaian “timing”,
“triggering”, “sensing” dan osilator.

Jumlah komponen untuk rangkaian di atas akan lebih sedikit jika menggunakan UJT.
Karena UJT mempunyai gabungan sifat-sifat ketelitian penginderaan tegangan,
penguatan regeneratif, dan resistansi “ON” yang sangat rendah.

B2
Basis 2

Emitor E

Basis 1
B1

Simbol dan Struktur UJT

3. BAHAN DAN PERALATAN


1 UJT, 2N 2646
1 Resistor 10 Ω
1 Resistor 100 Ω
1 Resistor 470 Ω
1 Resistor 1K Ω
1 Resistor 10K Ω
1 Resistor 100K Ω
1 Kapasitor 0,01 uF
1 Kapasitor 0,047 uF
4 Diode penyearah
1 Multimeter
1 Osiloskop dua-saluran
1 Sumber tegangan dc variable 0… + 12 V
1 Sumber tegangan ac variable 0… 12 V / 50 Hz
4. DIAGRAM RANGKAIAN

4.1

4.2

5. LANGKAH KERJA

Pengukuran Karakteristik UJT

5.1 Buatlah rangkaian seperti diagram 4.1. Tetapkan VB2-B1 = 12 V dan hidupkan
osiloskop pada operasi X-Y/DC. Naikkan tegangan sumber ac secara perlahan
- lahan sampai maksimum (12V)
Lukislah pada kertas grafik karakteristik UJT VEBI-iE, disertai skala arus dan t
tegangannya ; kerjakan pula untuk VB2-B1 = 4V.

5.2 Tentukan masing-masing tegangan puncaknya (Vp)


5.3 Hitunglah tegangan dioddde UJT (Vp) dan perbandingan stand off intrinsikn
nya

5.4 Hitunglah secara teori Vp untuk VB2-B1 = 8V

5.5 Kerjakan seperti langkah 5.1 untuk VB2-B1 = 8v


Tentukan Vp-nya. Samakah dengan hasil perhitungan teori?

5.6 Kerjakan seperti langkah 5.1 untuk VB2-B1 = 0V

Pengamatan Kerja Rangkaian Relaksasi UJT

5.7 Buatlah rangkaian seperti diagram 4.2 dengan


VBB = 12V, RT = 10KΩ dan CT = 0,01μF
Amati dengan osiloskop secara Bersama sinyal tegangan VE dengan VB1 dan
dengan VB2 . Lukislah masing-masing sinyal pada kertas grafik.

5.8 Ukur frekuensi osilasi rangkaian 4.2 dengan osiloskop untuk variasi RT, CT,
dan VBB seperti pada tabel.

5.9 Jelaskan kerja rangkaian osilator relaksasi UJT tersebut

TABULASI DATA

F (Hz)
RT CT
(KΩ) (μF) VBB = 12V VBB = 6V

10 0,01

10 0,047

100 0,01

100 0,047
DAYA AKTIF, REAKTIF, DAN SEMU

I.I PENDAHULUAN

Di dalam rangkaian arus bolak-balik, arus dapat bersifat mendahului, sefasa atau
terlambat terhadap tegangannya, tergantung dari bebannya.

Jika beban yang dipasang bersifat kapasitif, maka arus akan mendahului tegangan, jika
beban bersifat induktif, arus akan terlambat terhadap tegangan, dan jika beban berupa
tahanan murni, arus akan sefasa dengan tegangan.

Daya sesaat yang merupakan hasil kali tegangan sesaat dan atau sesaat mempunyai harga
efektif sebesar :

S =v.I

S = harga efektif dari daya sesaat (Volt ampere)

= daya semu

I = arus efektif (Ampere)

v = tegangan efektif (Volt)

Daya yang diserap beban merupakan rata-rata dari daya sesaat, dan besarnya adalah :

P = v . I . cos 

P = daya rata-rata/daya aktif (Watt)

Cos  = faktor daya

 = beda sudut fasa antara tegangan dan arus

= < 0 jika beban bersifat induktif

= 0 jika beban tahanan murni

= > 0 jika beban bersifat kapasitif

Daya yang tidak diserap beban (dikembalikan ke sumber daya) disebut daya reaktif dan
besarnya :

Q = v . I . sin 
Q = daya reaktif

Sin  = faktor reaktif

Dengan demikian, jika kita mengetahui tegangan, arus, dan sifat beban (induktif, resistif,
atau kapasitif), dapat kita gambarkan.

Dengan demikian, jika tegangan, arus, dan sifat beban (induktif, resistif, atau kapasitif)
diketahui, maka dapat kita gambarkan diagram vektor arus dan tegangan, serta diagram
segitiga daya, sebagaimana gambar 1.

Gambar 1. Diagram vektor arus


dan tegangan dan diagram
segitiga daya suatu beban.

a) untuk beban terlambat


(lagging)
b) untuk beban mendahului
(leading)
PERBAIKAN FAKTOR – DAYA

1 . TUJUAN

1 .1 . Menjelaskan pengaruh pemasangan kapasitor pada beban – beban induktif

1 .2 . Menghitung kebutuhan kapsitor kompensasi pada rangkaian listrik .

2 . PENDAHULUAN

Kebanyakanbeban yang digunakan untuk penerangan dan daya bersifat induktif .


Misalnya , lampu TL , motor – motor listrik , transformator . Karena adanya daya
reaktif induktif yang ditimbulkan oleh beban tersebut , maka besarnya daya VA akan
lebih besar daripada daya – nyatanya . Hal ini secara teknis dan ekonomis kurang
menguntungkan . Salah satu cara mengatasinya dengan memasangkan kapasitor
paralel dengan beban .

3 . BAHAN DAN PERALATAN

1 lampu TL 40W/220V/50Hz

1 motor kapasitor

3 kapasitor 3 µF/250V

1 kapasitor 20 µF/250V

1 voltmeter

1 amperemeter

1 wattmeter

4 . DIAGRAM RANGKAIAN

5 . LANGKAH KERJA

5 . 1 . Buatlah rangkaian seperti diagram , dengan beban lampu TL , dan tanpa


pemasangan kapasitor kompensasi C
5 . 2 . Ukur tegangan , arus dan daya ( aktif ) beban .

5 . 3 . Seperti langkah 5 . 2 untuk C = 1 , 5µF ; 3µF ; 4,5µF ; 6µF

5 . 4 . Dan 5 . 5 : Seperti langkah 5 . 1 dan 5 . 2 , untuk beban motor – kapasitor .

5 . 6 . Ukur tegangan , arus dan daya ( aktif ) beban pada C = 6µF; 9µF;20µF;23µF

5 . 7 . Hitunglah daya S , Q , dan faktornya – daya ( cos Q ) untuk masing – masing


beban di atas .

5 . 8 . Tentukanlah / hitunglah nilai C agar faktor – daya = 1 , untuk masing – masing


beban di atas .

5 . 9 . Kerjakan soal berikut .

Tentukan kapasitor C agar faktor – daya = 0 , 94


RANGKAIAN RLC SERI

1. TUJUAN

1.1 Mempelajari sifat tegangan, arus, dan beda fasanya pada rangkaian RLC Seri
untuk beberapa nilai frekuensi.
1.2 Menentukan faktor kualitas (=Q) suatu rangkaian RLC Seri.
1.3 Menentukan frekuensi Resonansi suatu rangkaian RLC Seri.

2. PENDAHULUAN

Pada suatu rangkaian LC seri, beda fasa tegangan induktor terhadap tegangan
kapasitor adalah 180̊. Dengan demikian, pada keadaan dimana besar tegangan
indikator sama dengan tegangan kapasitor, rangkaian LC seolah-olah dihubung
singkat. Pada suatu rangkaian LC seri, keadaan tersebut dapat dicapai pada
frekuensi resonansinya.

Dengan demikian, jika RLC seri diberi tegangan bolak-balik dengan frekuensi
yang sama dengan frekuensi resonansinya, arusnya akan sefasa dengan
tegangannya.

3. BAHAN DAN PERALATAN


- Resistor 100 Ω 1 buah
- Induktor (balast TL 20 W) 1 buah
- Kapasitor 0,47 μF 1 buah
- Generator frekuensi audio ( AFG) 1 buah
- Alat ukur arus AC 1 buah
- Alat ukur tegangan AC 1 buah
- Oscilloscope 2 channel 1 buah
4. DIAGRAM RANGKAIAN

5. LANGKAH KERJA

5.1 Ukur dan catat masing-masing nilai R, L, dan C. Tentukan Q.


5.2 Buatlah rangkaian seperti diagram. Lakukan pengukuran untuk pengisian
“Tabel Pengamatan”. (Gunakan gambar lissojous pada osiloskop operasi X-Y
untuk mengukur ∅, sudut beda-fasa antara tegangan V dengan arus I).
5.3 Hitunglah I dan Z untuk masing-masing pengukuran.
(Rumus: I=𝑉𝑅⁄𝑅 , Z=𝑉⁄𝐼 )
5.4 Gambarkan grafik hubungan antara arus I dan frekuensi f.
5.5 Gambarlah grafik hubungan antara impedansi Z dan frekuensi f.
5.6 Gambarlah grafik hubungan antara sudut beda-fasa ∅ dan frekuensi f.
5.7 Gambarlah berdasarkan pengamatan osiloskop bentuk tegangan V dan arus I
pada:
5.7.1. Frekuensi resonansi
5.7.2. Satu frekuensi di bawah frekuensi resonansi
5.7.3. Satu frekuensi di atas frekuensi resonansi
6. TABEL PENGAMATAN

f V V1 V2 V3 𝜑 I Z
(Hz) (Vp-p) (Vp-p) (Vp-p) (Vp-p) ( °) (mAp-p) (kΩ)
50 8
100 8
150 8
200 8
250 8
300 8
350 8
400 8
500 8
600 8
fres 8
RANGKAIAN RLC PARALEL

1. TUJUAN
1.1 Menggambar grafik hubungan arus dengan frekuensi rangkaian RLC Paralel.
1.2 Menggambar grafik hubungan impedansi dengan frekuensi rangkaian RLC Paralel.
1.3 Menggambar grafik hubungan beda-fasa arus-tegangan dengan frekuensi rangkaian RLC-
paralel.
1.4 Menentukan frekuensi resonansi rangkaian RLC-paralel.

2. PENDAHULUAN
Dalam percobaan ini tegangan masukkan (pada rangkaian RLC-paralel) supaya di jaga
konstan, dengan mengamatinya di osiloskop.
Untuk pengukuran beda-fasa antara tegangan dan arus, tegangan pada Rv digunakan untuk
memberikan informasi mengenai arus yang mengalir pada rangkaian. Pengukuran sudut fasa
dapat dilakukan menggunakan gambar lissajous.

3. BAHAN DAN PERALATAN


- Resistor 10 Ω, 1 kΩ 1 buah
- Induktor (ballast TL 40 W) 1 buah
- Kapasitor 0,47 μF 1 buah
- Multimeter 1 buah
- Osiloskop dua-saluran 1 buah
- Generator frekuensi- audio 1 buah

4. DIAGRAM RANGKAIAN
5. LANGKAH KERJA

5.1 Ukur dan catat masing-masing nilai resistor, indikator, dan kapasitor.
5.2 Buatlah rangkaian seperti diagram. Lakukan pengukuran untuk pengisian tabel
pengamatan.
5.3 Hitunglah I dan Z untuk masing-masing pengukuran. ( z= impedansi rangkaian RLC-
paralel)
5.4 Gambarlah grafik hubungan antara arus I dan frekuensi.
5.5 Gambarlah grafik hubungan antara impedansi dan frekuensi.
5.6 Gambarlah grafik hubungan antara sudut beda-fasa Q dan frekuensi.
5.7 Gambarlah berdasarkan pengamat osiloskop bentuk tegangan V dan arus I pada:
5.7.1. frekuensi resonansi
5.7.2. satu frekuensi di bawah frekuensi resonansi
5.7.3. satu frekuensi di atas frekuensi resonansi

6. TABEL PENGAMATAN
f V VRV Q I Z
(Hz) (Vp-p) (Vp-p) (o) (mAp-p) (k )
50 6
100 6
150 6
200 6
250 6
300 6
350 6
400 6
500 6
600 6
PENYEARAH SATU-FASA

1. TUJUAN
1.1.Membangun rangkaian penyearah setengah gelombang, satu-gelombang, dan
penyearah jembatan.
1.2.Menggambar bentuk tegangan keluaran penyearah, dengan dan tanpa
pemasangan kapasitor tapis.
1.3.Menjelaskan hubungan antara tegangan keluaran DC dan tegangan masukan ac
pada rangkaian penyearah tanpa kapasitor tapis.
1.4.Menjelaskan hubungan antara tegangan ripel dengan arus beban dan kapasitansi
tapis.
1.5.Menjelaskan perbedaan antara penyearahan setengah-gelombang, satu-
gelombang dan jembatan.

2. PENDAHULUAN
Arus searah selain dihasilkan oleh sumber dc batere, dapat juga diperoleh dengan
penyearahan sumber ac. Penyearahan sumber ac ke dc dapat dilakukan dengan
beberapa sistem yaitu penyearahan setengah-gelombang (half-wave), satu gelombang
(full-wave) dan jembatan (bridge).
Untuk mendapatkan arus searah yang rata, pada rangkaian dapat ditambahkan tapis
(filter).

3. BAHAN DAN PERALATAN


4 dioda silikon 1N4007
1 resistor 470
1 potensiometer 1k
1 kapasitor elektrolit 10µF,47 µF,100 µF,470 µF
2 multimeter
1 osiloskop dua-saluran
1 transformator 220V/24V (CT)
4. DIAGRAM RANGKAIAN
5. LANGKAH KERJA
Penyearah setengah-gelombang
5.1.Buatlah rangkaian seperti diagram 4.1 (tanpa kapasitas tapis C dan beban RL
5.2.Ukur tegangan masukan V3 (rms) dan tegangan keluaran V2 (DC). Bandingkan !
5.3.Pasangkan RL = 470 . Tampilkan bentuk tegangan V1 dan V2 pada osiloskop ,
tanpa dan dengan pemasangan C=10µF . Gambarlah bentuk gelombangnya .
Ulangi percobaan untuk C=470µF
5.4.Ukur periode ripel dan hitung frekuensinya
5.5.Ukur tegangan ripel dan hitung Vr (p-p) dengan osiloskop untuk C=10µF , 47µF ,
100µF dan 470µF pada harus beban IL = 10mA ( dijaga konstan dengan
mengatur potensiometer )
5.6.Ukur Vr (p-p) untuk C=470µF pada IL=10mA , 20mA , dan 30mA

Penyearah satu-gelombang

5.7.Buatlah rangkaian seperti diagram 4.2. (tanpa C dan Rl)


5.8. S.d. 5.10. : seperti langkah 5.2 s.d. 5.4

5.11. Ukur Vr (p-p) untuk C=470 F .

Penyearah Jembatan

5.12. Buatlah rangkaian seperti diagram 4.3. (tanpa C dan RL) .

5.13. s.d. 5.16. : seperti langkah 5.2. s.d. 5.4.

5.17. Seperti langkah 5.11.


TRANSISTOR SEBAGAI SAKLAR

1. TUJUAN

Setelah melaksanakan percobaan praktikan diharapkan :

1.1 Menggunakan transistor sebagai komponen penyakelaran (SWITCHING)

1.2 Membuat rangkaian yang menggunakan transistor sebagai sakelar

1.3 Menerangkan cara kerja penyakelaran di dalam transistor

1.4 Menyebutkan keuntungan dan kerugian penggunaan transistor sebagai alat


penyakelaran

2. PENDAHULUAN

2.1 Transistor termasuk ke dalam golongan komponen elektronik yang dapat digunakan
untuk menggantikan sakelar mekanis, yakni dengan memanfaatkan garis edar
kolektor-emitor sebagai sakelar.

Kalau dibandingkan dengan sakelar mekanis, maka sakelar transistor mempunyai


keuntungan dan kerugian.

Pada sakelar mekanis, dalam kondisi menutup (on), sakelar dapat dikatakan hubung
singkat; sebaliknya, dalam kondisi membuka (off), rangkaian dalam keadaan
terbuka (terputus) sama sekali.

Lain halnya dengan sakelar transistor, dalam keadaan “off” (mati) masih ada arus
bocor, dan apabila konduksi (on) masih mempunyai resistansi walaupun relatif kecil
sehingga rangkaian tidak terhubung singkat seperti pada sakelar mekanis.

Sedangkan keuntungan sakelar transistor adalah cukup banyak, antara lain :

- Tidak ada bagian yang bergerak

- Tanpa adanya sobekan dan keausan

- Tanpa adanya pengapian kontak (contact sparking)

- Bekerja dengan kecepatan tinggi


- Jauh lebih murah daripada sakelar atau relay

2.2 Perlu diketahui bahwa dalam “kontrol rangkaian-rangkaian penyakelaran transistor”


arus basis adalah cukup besar untuk mengoperasikan/menghidupkan transistor,
untuk mematikannya arus basisnya cukup kecil.

Oleh karena itu, untuk emnghidupkan transistor harus dipertimbangkan dengan


cermat berapa arus basis yang akan dimasukkan. Biasanya arus basis ini diberikan 3
atau 4 x arus basis yang diberikan agar transistor bekerja (arus basis minimum).

3. ALAT DAN BAHAN

- Pencatu daya dc, 1 - Kondensator 0.47 


F/56v, 1

- Generator fungsi, 1 - Koil 100 mH, 1

- Papan percobaan, 1 - Diode IN 4007, 1

- Oscilloscope 2 chanel, 1 - Transistor AC 127, 1

- Avo meter, 2 - Lampu indikator


2,2 w/12v, 1

- Resistor 1k  , 1 - Sakelar “on/off”, 1

- Resistor 2,2k  , 1 - Kabel secukupnya

- Resistor 3,3k  , 1

- Resistor 15k  , 1
4. DIAGRAM RANGKAIAN
5. TUGAS DAN RANGKAIAN

5.1 Buatlah rangkaian seperti pada diagram 4.1

Ukurlah arus kolektor dan arus basis yang mengalir bila sakelar s terbuka dan bila
“s” menutup; bagaimana pula reaksi lampu indikatornya?

5.2 Terangkan cara kerja penyakelaran suatu transistor

5.3 Buatlah rangkaian seperti pada dagram 4.2 (“s” terbuka)

Set generator fungsi, gelombang kotak, dengan keluaran 1,2 Vp-p pada frekuensi f =
1 kHz

Amati gelombang tegangan masukan dan tegangan keluaran serta gambarkanlah


bentuk gelombang tegangan tsb.

5.4 Tutup sakelar “s” dan gambarkan bentuk gelombang masukan keluarannya.

5.5 Evaluasilah gambar yang diperoleh dari 5.3 dan 5.4

5.6 Buat rangkaian seperti pada diagram 4.3

Set keluaran generator, gelombang kotak, 1,8 Vp-p pada f = 120 Hz

Amati dan gambarkan bentuk gelombang tegangan masukan-keluaran pada saat


tanpa dan dengan resistor 3,3 k.

5.7 Berikan komentar terhadap gambar yang didapat pada 5.6


OSILATOR RC

1. TUJUAN

1.1 Generator penggeser fasa (phase-shifter-generator)


- Membuat rangkaian generator penggeser fasa
- Menyebutkan syarat terjadinya eksitasi sendiri dan membuktikannya
dengan pengukuran
- Mengetahui ketergantungan frekuensi dan bentuk gelombang terhadap
umpan balik
- Mengukur dan menghitung frekuensi osilasi untuk bermacam-macam
harga RC
1.2 Generator Jembatan Wien (Wien-bridge-generator)
- Membuat rangkaian “generator jembatan Wien” dengan Op-Amp 741
- Melakukan pengesetan untuk osilasi sinusoidal
- Membandingkan tegangan bagian-bagian jembatan wien dengan tegangan
resistor umpan balik

2. PENDAHULUAN

Osilator adalah rangkaian elektronis yang berfungsi untuk membangkitkan gaya gerak
listrik (emf) bolak balik pada frekuensi dan bentuk gelombang tertentu (khusus).
Dalam praktek ini akan dibahas osilator yang membangkitkan suatu keluaran dengan
bentuk gelombang sinusoidal. Meskipun tanpa induktansi, hanya dengan resistor dan
kapasitor dapat dibuat generator untuk pembangkitan tegangan sinusoidal. Pada
cabang umpan balik, generator RC ini berisi suatu jaringan resistor dan kapasitor yang
hanya memenuhi untuk eksitasi sendiri untuk satu frekuensi. Dengan penguat
transistor satu tingkat, tegangan kolektor harus diumpan balikkan ke basis setelah
diadakan penggeseran fasa 180°, untuk memenuhi kondisi fasa pada masukan ini
diperoleh dengan penyambungan 3 elemen RC dalam seri, yang masing – masing
menyebabkan pergeseran fasa mendekati 60°. Dengan penguatan yang dapat diatur,
generator akan berosilasi mendekati sinusoidal. Dengan Op Amp yang berumpan
balik, dapat dibuat suatu penguat dengan penguatan tertentu. Penguatannya sesuai
dengan perbandingan “resistor umpan balik” dan “resistansi masukan”. Jika tegangan
keluaran dibagi menjadi “perbandingan faktor penguatan”, diumpan-balikkan ke
masukan non-inverting (tanda +) Op Amp maka kondisi untuk eksitasi sendiri telah
terpenuhi. Dengan generator jembatan Wien, “pembagi tegangan umpan balik” terdiri
dari suatu “elemen RC seri” dihubungkan secara seru dengan “elemen RC parallel”.
Pada frekuensi tertentu, kedua elemen RC mempunyai pengeseran fasa yang sama dan
perputaran fasa dari kedua bagian tegangan tersebut adalah 0° . Jika perbandingan
pembagi setuju dengan penguatannya, rangkaian membangkitkan osilasi sinusoidal
pada frekuensi ini.
3. ALAT DAN BAHAN YANG DIPERLUKAN

- Resistor : 470Ω ; 1KΩ ; 5,6KΩ ; 47KΩ ; 1


- Resistor : 3,3 KΩ , 3
- Resistor : 100KΩ , 2
- Potensiometer : 1MΩ ; 1KΩ , 1
- Kapasitor : 0,01μF ; 0,1μF ; 0,47μF ; 0,047μF , 3
- Kapasitor elektrolit : 100μF/50V,1
- Transistor BC 107,1
- Op Amp 741,1
- Catu daya dc, 1
- Osiloskop 2 chanel, 1
- Papan percobaan
- Modul soket 1C
- Kabel penghubung

4. DIAGRAM RANGKAIAN

4.1 Generator penggeser fasa

4.2 Generator jembatan Wien


5. PROSEDUR PERCOBAAN DAN TUGAS

5.1 Generator penggeser fasa


5.1.1 Buatlah rangkaian seperti pada diagram rangkaian 5.1 dengan C =
0,01μF.
Berikan tegangan catu dc sesuai yang diminta dan atur potensiometer
p1 sehingga generator berosilasi sinusoidal serta tidak cacat
5.1.2 Dengan osiloskop, ukur amplitude dan sudut fasa tegangan-tegangan
pada titik (b), (c), dan (d) terhadap tegangan kolektor (a)
5.1.3 Ukur frekuensi osilasi fo, tentukan penguatan Av, dan gambarkan
bentuk gelombang tegangan masukan keluarannya
5.1.4 Lakukan pengamatan selanjutnya untuk harga C berturut-turut 0,05 ;
0,1 ; dan 0,47μF. Ukur frekuensi tegangan keluaran masing-masing
pengukuran setelah diadakan pengesetan ulang dan buatlah grafik fo =
f(c)
5.1.5 Hitunglah frekuensi berdasarkan data teknis yang ada untuk masing-
masing kombinasi RC, dan bandingkan dengan harga terukurnya
5.1.6 Mengapa untuk membuat generator penggeser fasa diperlukan minimal
3 elemen RC dan mengapa beda fasa antara titik (d) dan (a) tidak tepat
180°

5.2 Generator jembatan Wien

5.2.1 Buat rangkaian seperti pada diagram rangkaian 4.2. Atur penguatan
dengan potensiometer P3 sehingga generator berosilasi sinusoidal.
Ukur tegangan keluaran, tegangan pada R2, dan R4
5.2.2 Tentukan fo berdasarkan pengukuran dan perhitungan serta gambarkan
gelombang tegangan keluaran
5.2.3 Ukur dengan teliti “perbandingan pembagi” (P3+R3)/R4 dan buktikan
dengan vector diagram bahwa jembatan terdiri dari rangkaian RC (seri
dan parallel) mempunyai vector diagram yang sama dengan vector
diagram pada rasio pembagi (P3+R3)/R4 pada frekuensi ini
5.2.4 Amati dengan seksama, apa pengaruh tegangan catu terhadap tegangan
keluaran, dalam hal frekuensi dan amplitudonya
PENYEARAH 3 FASA GELOMBANG SETENGAH DAN GELOMBANG PENUH

1. TUJUAN
Pada akhir percobaan siswa dapat :
- Membandingkan besarnya tegangan dan arus sebelum dan sesudah lewat diode
secara teori dan praktek.
- Menggambarkan bentuk gelombang tengangan sebelum lewat diode.
- Menggambarkan bentuk gelombang tengangan sesudah lewat diode.

2. PENDAHULUAN
2.1.Penyearah tiga fasa gelombang setengah
Pada prinsipnya penyearah tiga fasa tidak jauh berbeda dengan peyearah satu fasa.
Penyearah tiga fasa ini sering dijumpai pemakaianya pada control elektronik,
control motor dsb.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dibawah ini penyearah tiga fasa gelombang
setengah.

Seperti gambar diatas yang terdiri dari 3 komponen, yaitu :


a. Transformer tiga fasa hubungan Δ / Y
b. Diode
c. Beban
Apabila tegangan fasa L1 pada sekundair lebih bear dari fase L2 / L3 , maka akan
timbul tegangan maju pada D1 dan tegangan mundur pada D2 dan D3 ini terjadi
antara sudut 300 sampai 1500 disusul pula gelombang untuk L2 dan seterusnya
untuk L3 (lihat gambar 2.6).

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dibawah misnya untuk gelombang tegangan tiga
fasa sebelum lewat diode.

Gambar 2.b. gelombang tegangan setelah lewat diode pada penyearah gelombang
setengah.

Berdasarkan gambar 2b maka tegangan rata-rata (VL) adalah :


1 𝑇
VL = 𝑇 ∫0 𝑉 sin sin 𝜔 𝑡 𝑑𝜔𝑡

1 1500
= 2⁄ ∫300 𝑉𝑠𝑖𝑛 sin 𝜔 𝑡 𝑑𝜔𝑡
3

3 𝑉 𝑠𝑖𝑛
= {− cos 1500 − (− cos 300 )}
2𝜋
3 𝑉 𝑠𝑖𝑛
= (+ 1⁄2 √3 + 1⁄2 √3)
2𝜋

2 𝑉 𝑠𝑖𝑛
= 2𝜋
√3 = 0,827 𝑉 sin 𝑑𝑎𝑛 𝐼𝐿 = 0,59 𝐼s

Dimana :

VL = tegangan rata-rata (DC)

IL = arus rata-rata (IDC)

Vs = tegangan sumber sebelum dicoba

Is = Arus sumber sebelum diode (IAC)

Vsm = tegangan maksimum

2.2.Penyearah tiga fasa gelombang penuh


Demikian juga untuk penyearah tiga fasa gelombang penuh dimana tegangan
outputnya lebih halus bila kita bandingkan dengan gelombang setengah. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar dibawah ini penyearah tiga fasa
Pada gambar 4 diatas adalah suatu penyearah tiga fasa gelombang penuh dimana
sistem penyearah menggunakan 6 dioda yang dirangkai sistem jembatan (bridge
circuit).
Pada gambar 4 apabila positif, maka pada D1 timbul tegangan arah maju dan D2
dan D3 timbul tegangan arah mundur.
Maka arus listrik mengalir melalui D1 load dan kembali ke sumber tegangan
melalui D5 dan D6 dan seterusnya untuk L, 5L2.
Untuk tegangan out putnya ada dua sistem yaitu:
a) Jika VS yang diukur antara fasa-fasa
maka : VL = 1,35 VS
b) Jika VS yang dikur antara fasa – nol
maka : VL = V3 . 1,35 VS = 2,3 VS

3. ALAT- ALAT YANG DIGUNAKAN


a. Power suplay 1 buah
b. Tahanan geser 1000, 14 1 buah
c. Multimeter elavi 15 n 1 buah
d. Dioda 6 buah
e. Oscilloscope double beam 1 buah
f. Kabel penghubung
g. Kit board
4. RANGKAIAN PERCOBAAN
4.1 Rangkaian penyearah tiga fasa gelombang setengah.
5. TUGAS DAN PERTANYAAN
5.1 Rangkaikan gambar 1
5.2 Isikan hasil praktikum pada tabel 1
5.3 Gambarkan bentuk gelombang setengah untuk beban 700 Ω dan bentuk
gelombang sebelum lewat dioda pada gambar 2 dan tentukan faktor ripelnya
5.4 Rangkaikan gambar 3
5.5 Isikan hasil praktikum pada tabel II
5.6 Gambarkan bentuk gelombang penuh pada beban 700 Ω dan bentuk gelombang
setengah sebelum lewat dioda pada gambar 4
5.7 Lihat di osiloskop, berapa faktor ripelnya untuk penyearah 3 fasa gelombang
penuh
5.8 Rangkai gambar 5 dan 6
5.9 Lihat di osiloskop, hasil pengukuran untuk gambar 5. Isikan pada tabel III dan
untuk gambar 6 pada tabel IV
5.10Berapa faktor ripel untuk gelombang setengah dan gelombang penuh bila
dipasang C = 470 μF/ 50 V dan C = 220 μF/ 50 V
5.11Buat kesimpulan dari percobaan ini

6. TABEL EVALUASI
Tabel I. Penyearah tiga dasar setengah gelombang untuk beban 100 – 700 Ω.

VS IS VO (Volt) IL
(Volt) (mA) P T (mA)
Tanpa Beban
Berbeban: 10 %
20 %
30 %
40 %
50%
70 %
Ket : P = Hasil praktek
T = Teori

Tabel II. Penyearah tiga fasa gelombang penuh untuk beban 100 – 700 Ω.

VS IS VO (Volt) IL
(Volt) (mA) P T (mA)
Tanpa Beban
Berbeban: 10 %
20 %
30 %
40 %
50%
70 %
Tabel III. Penyearah 3 fasa gelombang setengah, beban 100 – 500 Ω.

L=0 L=0 L=0 L = mA


C=0 C = 470 μF/ 50 C = 2200 μF/ C = 2200 μF/
V 50 V 50 V
AC DC AC DC AC DC AC DC
(V) (V) (V) (V) (V) (V) (V) (V)
Tanpa Beban
Berbeban: 10
%
30 %
50 %

Tabel IV. Penyearah 3 fasa gelombang penuh, beban 100 – 500 Ω.

L=0 L=0 L=0 L = mA


C=0 C = 470 μF/ 50 C = 2200 μF/ C = 2200 μF/
V 50 V 50 V
AC DC AC DC AC DC AC DC
(V) (V) (V) (V) (V) (V) (V) (V)
Tanpa Beban
Berbeban: 10
%
30 %
50 %
ASTABLE MULTIVIBRATOR

1. TUJUAN
Setelah melaksanakan praktek praktikan diharapkan dapat :Membuat dan
mengoperasikan rangkaian astable multivibrator .
1.1 Memahami dan menghitung “waktu pulsa”, “waktu internal pulsa”,
perbandingan antara waktu pulsa dan interval pulsa, periode pulsa, dan
frekuensi .
1.2 Memperbaiki “rise-time” gelombang kotak, dengan rangkaian modifikasi,
dibandingkan dengan bentuk gelombang yang dibangkitkan oleh rangkaian
dasar .
1.3 Memperlihatkan bentuk gelombang tegangan keluaran (VQ1 , VQ2) , dan
masukkan (VBE1 , VBE2) .
1.4 Menyebutkan hubungan phasa antara bentuk gelombang keluaran .

2. PENDAHULUAN
Multivibrator adalah rangkaian osilator yang membangkitkan bentuk gelombang
tegangan tak sinusoidal, dalam hal ini bisa gelombang kotak, atau gelombang gigi
gergaji . karena keistimewaan multivibrator dalam membangkitkan sinyal
keluaran tersebut, maka multivibrator amatlah diperlukan baik dalam digital untuk
pulsa-pulsa, maupun dalam teknik audio tone generator .
Pada kesempatan ini yang akan dibahas adalah astable multivibrator atau running,
yang berarti bahwa multivibrator berisolasi dengan sendirinya tidak memerlukan
suatu sinyal luar untuk mengubah keadaan .
Multivibrator ini dikatakan tidak stabil karena mengalami kondisi tak stabil ketika
salah satu stagenya mati ( cut off ) .
Rangkaian dasar AMV terdiri dari 2 transistor yang satu konduksi penuh katil
yang lainnya off ( mati ), dan sebaiknya keadaan ini karena adanya hubungan
silang pada rangkaian kolektor kedua transistor . Penyambungan silanh resistor
dan kapasitor biasanya pada harga yang sama, menghubungkan keluaran
transisitor yang satu ke masukan transistor yang lain .
3. KOMPONEN/INSTRUMENT
- Pencatu daya dc, 1
- Papan percobaan, 1
- Osiloskop 2 chanel, 1
- Resistor 1k Ohm, 2
- Resistor 4,7k Ohm, 2
- Resistor 10k Ohm, 2
- Kapasitor 0,1𝜇F, 2
- Diode 1 N 4007 , 1
- Transistor BC 1B 2B, 1

4. DIAGRAM RANGKAIAN
4.1 Rangkaian dasar

RB2 RB1 15V

1K 10K 10K 1K

C2 C1

˄ ˄
0,1 µF 0,1 µF

VQ1 VQ2
T1 T2
˄ ˄

BC 108 B UBE1 VBE2 BC 108 B


0V
4.2 Rangkaian modifikasi

15V

1K 4,7K 10K 1K

˄ ˃I
˄
IN 400T
0,1 µF 0,1 µF

VQ1 VQ2
T1 T2

BC 108 B BC 108 B
0V

5. LANGKAH PERCOBAAN DAN TUGAS


5.1 Buat rangkaian seperti diagram 4.1 (rangkaian dasar multivibrator) perlihatkan
bentuk gelombang keluaran, VQ1 : VQ2 dan gambarkan .
Ukur dan hitung parameter-parameter dibawah ini :
- Waktu pulsa, t1 ≈ 0,7 RB1 . C1
- Waktu interval pulsa, t2 ≈ 0,7 RB2 . C2
- Waktu periode, T = t1+t2
- Frekuensi, f = 1/t
- Rasio antara t1 dan t2
- Rise-time
5.2 Display dan gambarkan bentuk gelombang tegangan Vg dan tegangan base
emitor VBE
5.3 Lakukan percobaan seperti pada 5.1 dan 5.2 untuk diagram rangkaian 4.2
(diagram modifikasi)
5.4 Berdasarkan hasil pengamatan saudara, terangkan prinsip kerja multivibrator
DASAR – DASAR GERBANG 1

1 . TUJUAN :

Setelah percobaan diharapkan dapat :

A . Menerangkan fungsi gerbang AND , OR , dan NOT

B . Merangkai gerbang – gerbang tersebut dengan rangkaian tahanan , dioda dan


transitor .

C . Membuat tabel kebenarannya

D . Merangkai fungsi gerbang Nand dan Nor

2 . TEORI SINGKAT :

Gerbang And , Or dan Not serta kombinasinya merupakan realisasi dari aljabar
boolean yang menggunakan notasi ( - ) , ( + ) , ( - ) (baca = inverse ) untuk hubungan antar
variebelnya . Tiga tiga simbol dasar digambarkan sebagai berikut :

Fungsi dari masing – masing gerbang dapat direalisasikan dengan rangkaian tahanan , dioda ,
dan transistor tetapi untuk pemakaian yang umum dipakai dalam bentuk IC ( rangakaian
terintegrasi ) . Pembicaraan mengenai gerbang – gerbang ini ; lazim disebut dengan teknik
digital yang menggunakan operasi bilangan biner . Oleh karenanya didalam teknik digital
hanya dikenal logika 0 ( nol ) dan logika 1 ( satu ) . Logika ini diwujudkan dengan besar
tegangan tertentu , yang dalam praktek ini logika satu sama dengan – 5 Volt atau LED
menyala , dan logika 0 Volt atau LED padam . Penggunaan gerbang – gerbang di dalam
teknik digital sangat lah luas sebagai contoh : pada pengaturan kerja AC dalam cool storage ,
pengaturan lalu lintas , kunci elektronis dll .

3 . ALAT/BAHAN :

- Tahanan : 100 𝛺 , 68 𝛺 , 4K7 𝛺 , 56 𝛺

- Transistor : BC 108

- Dioda : 1N4002

- LED :-

- Saklar :-

- Multimeter :-

- Sumber DC :-

- Kabel secukupnya :-
4 . LANGKAH PERCOBAAN

A . Rangkaian Dasar

1 . Pastikan kompenen dalam keadaan baik

2. Rangkailah sesuai dengan diagram dibawah ini

3. Amati kerja rangkaian dan buatlah tabel kebenarannya pada lembar data .
B . Rangkaian Gabungan

1 . Gabungkanlah rangkaian gambar A dan C, gambar B dan C dengan rangkaian


LED dilepsas, serta lakukan percobaan seperti point A.

2. Isikan hasil percobaan ke dalam lembar data.


DASAR GERBANG LOGIKA PENJUMLAHAN BINER

1. TUJUAN

Setelah percobaan praktikum diharapkan dapat:

- Merangkai penjumlahan biner x setengah maupun penuh dari gerbang logika.

- Menerangkan cara kerja penjumlahan biner x setengah penuh.

- Mengoperasikan langkah-langkah penjumlahan dari penjumlahan biner.

- Membuat rangkaian penjumlah biner untuk serangkaian bilangan biner.

2. PENDAHULUAN

Salah satu bagian dari pengolah mikro (micro processor) yang befungsi untuk melakukan
operasi hitung adalah ALU (Arithmetic Logic Unit).

Satu bagian dari ALU dikenal sebagai penjumlah biner (Adder) yang bertugas bukan saja
untuk operasi penjumlahan tetapi juga dapat untuk operasi pengurangan, tentu saja
dengan memodifikasi rangkaian penjumlahan tesebut.

Ada 2 macam penjumlahan biner:

a. Penjumlahan setengah (Half Adder)


b. Penjumlahan penuh (Full Adder)

2.1 Penjumlahan Setengah

Tugas dari penjumlahan setengah adalah menjumlahkan 2 digit biner, yang akan
menghasilkan jumlah dan bawaan (Carry) sesuai dengan hukum penjumlahan biner
sepert tabel berikut:

MASUKAN JUMLAH BAWAAN


0+0 0 0
0+1 1 0
1+0 1 0
1+1 0 1

Simbol

X S (Jumlah)
HA
Y C (Bawaan)

Dari tabel dan simbol dapat diterangkan bahwa pejumlahan setengah mempunyai 2
masukan x, y, dan keluaran S, C yang jika masukan salah satu sama dengan 1 akan
menghasilkan keluaran 1 dengan bawaan 0.

Sebaiknya jika kedua masukan 1 didapat pada keluarannya 0 dengan bawaan 1.


Hubungan ini dapat ditulis dalam persamaan Boolean berikut:

S = X Y + X Y dan C = XY

2.2 Penjumlahan Penuh

Di dalam penjumlah setengah, bilangan biner yang dijumlahkan tidak dapat


melebihi 2 digit.

Penjumlahan penuh dapat mengatasi masalah tersebut, dan untuk jelasnya kita lihat
penjumlahan berikut:

- penjumlahan biasa - penjumlahan dengan


adder

1111 1111

1010 + 1010+
11001 0101 →
Sebagaian S

1 1 + → Bit bawaan (C)

11001 → Jumlah (S)

Terlihat bahwa bawaan dihasilkan dalam tiap kolom dan harus diikutkan selama
proses berlangsung.

Jadi perhitungan di atas memerlukan 3 masukan di setiap tingkatnya, kecuali pada


tingkat LSB hanya memerlukan 2 masukan.

SImbolnya digambarkan sebagai berikut:

X S di mana : X, Y = Masukan
FA S =
Y
Jumlah

Ci = Bawaan masuk
Ci Co
Co = Bawaan keluar

Tabel dan persamaan Booleannya diberikan sebagai berikut:

Masukan Keluaran
X Y Ci S Co
0 0 0 0 0
0 0 1 1 0 S = X . Y Ci + X YCi + XYCi
0 1 0 1 0
Co = XYCi + X YCi + XYCi
0 1 1 0 1
1 0 0 1 0 atau
1 0 1 0 1
Co = XCi + YCi + XY
1 1 0 0 1
1 1 1 1 1
Penjumlahan biner penuh dapat dibuat dari penjumlahan setengah seperti gambar 1
berikut:
3. ALAT DAN BAHAN

1. Papan percobaan gerbang logika


2. Sumber tegangan searah 5 Volt
3. Resistor 1 kΩ, 3 buah
470 Ω, 1 buah

220 Ω, 2 buah

4. Saklar togel, 3 buah


5. Kabel secukupnya

4. LANGKAH PERCOBAAN

1. Periksalah apakah gerbang logikanya dalam keadaan baik.


2. Buat rangkaian seperti gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2
3. Lakukanlah percobaan dengan mengoperasikan S1 dan S2.
4. Masukanlah data yang diperoleh dalam tabel I.
5. Buat rangkaian seperti gambar 3 berikut :

Gambar 3

6. Lakukanlah percobaan dengan memberi masukan pada X, Y, dan Ci dan catat kondisi
keluaran (LED).
7. Masukan data pada tabel II.

5. TUGAS DAN PERTANYAAN

1. Terangkan cara kerja masing-masing penjumlah!


2. Buat rangkaian lain dari penjumlah penuh gambar 3!
3. Modifikasikan sebuah rangkaian yang berfungsi untuk menjumlahkan dua buah
bilangan yang masing-masing terdiri dari 3 bit, jelaskan!
4. Buat kesimpulan dari percobaan saudara!
PENYEDERHANAAN FUNGSI LOGIKA

1. TUJUAN
Setelah percobaan praktikum diharapkan dapat :
a. Menyederhanakan satu fungsi logika
b. Mengimplementasikan suatu fungsi logika
c. Mengaplikasikan fungsi-fungsi logika

2. TEORI SINGKAT
Suatu diskripsi kerja yang diterjemahkan dalam persamaan logika (boolean) akan
menghasilkan rangkaian yang kompleks. Dimana kemungkinan rangkiannya masih
dapat disederhanakan dalam hal jumlah gerbang, jumlah kaki (rumitnya rangkaian)
maupun jumlah IC yang dipakai.

Cara untuk menyederhanakan fungsi logika ada 2 macam :


1. Penyederhanaan dengan aljabar boolean.
2. Penyederhanaan dengan karnaugh map.

Penyederhanaan dengan aljabar boolean memerlukan penguasaan secara mendalam


dan paham benar akan teori tersebut. Sedangkan cara karnaugh map lebih praktis bila
dipakai untuk menyederhanakan fungsi logika yang mempunyai tidak lebih dari 4
variabel.

Penyederhanaan ini sangat penting artinya dalam perencanaan suatu sistem logika,
yang dapat diaplikasikan dalam sistem kerja tertentu, seperti :

a. Alat kontrol
b. Komputer
c. Traffic light, dsb.
3. ALAT DAN BAHAN
- Modul terminal IC
- IC type 7405, 7400, 7432, 7415, 7425
- Transistor 2N3055
- Resistor 220 Ω/ 5W, 820 Ω
- Lampu 12 Volt/ 2,2 W
- Power supply DC 15 Volt
- Kabel penghubung

4. LANGKAH KERJA
A. Penyederhanaan dan Implementasi
1. Selidikilah 2 macam fungsi logika dibawah ini :

2. Implementasikan dan sederhanakan fungsi logika dibawah ini serta amatilah :


F = AC + BC + ABC + ABC
3. Amatilah fungsi logika erikut ini :

Rangkai seperti gambar 3 dan amati fungsi kerjanya :

5. TUGAS DAN PERTANYAAN


1. Bandingkan hasil percobaan untuk gambar 1a dengan 1b, buktikan secara teoritis!
2. Bandingkan pula percobaan a2 dengan a3, buktikan!
3. Terangkan cara kerja rangkaian pada gambar 3!
4. Dimana kemungkinan pengembangan pemakaian fungsi kerja pada gambar 2?
5. Berikan satu contoh rangkaian penggunaan gerbang sebagai fungsi kerja!
PENCACAH (COUNTER)

1. TUJUAN
Setelah selesai percobaan praktikum diharapkan dapat :
1.1 Merangkai dan mengoperasikan pencacah naik (up counter)
1.2 Merangkai dan mengoperasikan pencacah puluhan (dekade counter)
1.3 Merangkai dan mengoperasikan pencacah berhenti sendiri (self stoping counter)
1.4 Menggambarkan diagram waktu masing-masing pencacah
1.5 Merancang dan membuktikan dalam praktek sebuah pencacah lingkar (ring
counter)

2. PENDAHULUAN
Counter atau pencacah adalah suatu alat penghitung yang sangat luas penggunaanya,
misalnya sebagai penghitung benda-benda fisik, waktu, frekuensi, dan lain
sebagainya, bahkan hampir semua sistem logika menggunakanya.

Ada 2 macam pencacah, yaitu:


a. Pencacah sinkron (Synchronous Counter) atau pencacah jajar.
b. Pencacah tak sinkron (Asynchrous Counter), yang kadang-kadang disebut juga
pencacah deret atau pencacah ripel.

Pencacah deret sangat sederhana bentuknya dan banyak macamnya, antara lain:
pencacah maju (up-counter), pencacah mundur (down-counter), dan pencacah
lingkaran (ring-counter).

Kemampuan untuk mencacah diidentifikasikan dengan Mod, misal counter Mod 10,
berarti counter tersebut mempunyai kemampuan mencacah 10 kaki dalam kedudukan
yang saling berbeda. Dalam hal counter Mod 10 disebut decade counter (pencacah
puluhan), jika keluaran dari counter berurutan dari biner 0000 sampai 1001 atau 0
sampai 9 dalam desimal. Counter ini juga sering disebut Counter BCD (Binary Coded
Decimal). Hasil dari pencacah masih dalam bilangan biner, jadi bila diinginkan hasil
dalam desimal masih memerlukan modifikasi.
3. ALAT DAN BAHAN
- IC TTL 7473 (JK Flip-flop) 2 buah
- IC 7400 1 buah
- Resistor 330 Ω 4 buah
- LED 4 buah
- Saklar biasa 2 buah
- Saklar anti dender (bounce-fire switch) 1 buah
- Power supply DC 5 Volt
- Generator fungsi (AFG)
- Papan percobaan
- Kabel penghubung

4. LANGKAH PERCOBAAN
A. Percobaan Up-counter
1. Buatlah rangkaian seperti gambar dibawah ini dengan LED sebagai indikator
keluaran yang diseri dengan resistor 330 ohm.

2. Set saklar SW 1 ke logika 1. Masukan sumber DC 5 Volt catat keluaran


counter DCBA
3. Reset counter sesaat dengan Sa B
Perhatikan kondisi LED dan catat isi counter DCBA =
4. Catat hasil langkah 3 pada tabel percobaan.
Dengan saklar SW A masukan pulsa detak ke counter, amati LED dan catat isi
counter pada setiap kali pemasukan pulsa, masukan kedalam tabel percobaan.
5. Reset counter, melalui SW A masukan pulsa detak 10 Hz set saklar SW B
pada posisi reset, amati isi counter.
6. Ubah posisi saklar SW B pada Un-reset, masukan pulsa detak 10 Hz melalui
SW A, amati isi counter.
7. Amati, sat counter sedang berjalan saklat SW 1 diset dari logika 1 ke logika 0.
8. Amati saat saklar SW B ditekan sesaat pada saat counter dalam keadaan
berjalan.
9. Ubah pencacah diatas menjadi pencacah lingkar dan operasikan lah.

B. Pencacah puluhan (Dekade Counter)


1. Buatlah rangkaian seperti gambar dibawah ini dengan LED yang diseri dengan
resistor 330 ohm sebagai indikator keluarannya.

Data IC TTL 7473

2. Operasikan pencacah-puluhan tersebut dengan memberikan pulsa detak


melalui SW 1.
Yakinlah bahwa pencacah bekerja semestinya.
Buat tabel kebenarannya.
C. Pencacah berhenti sendiri (Self-stopping Counter)
1. Ubahlah rangkaian pada percobaan A menjadi rangkaian seperti gambar
dibawah ini:

2. Operasikan pencacah dengan memberikan pulsa detak melalui SW 1. Yakinlah


bahwa pencacah bekerja semestinya.
Buatlah tabel kebenarannya.
REGISTER GESER

1. TUJUAN
Setelah selesai praktek diharapkan dapat :

1. Merangkai register geser dengan IC 7474 (FF tipe D)


2. Mengoperasikan register geser
3. Menggambarkan diagram waktu (Timing diagram)

2. PENDAHULUAN
Shift register atau register geser adalah suatu register yang fungsinya sebagai
penimbun sementara dan penggeser informasi. Disamping itu dapat pakai untuk
mengubah data yang berjajar menjadi berderet atau sebaliknya.

Register geser terdiri dari sekumpulan flip-flop yang saling dihubungkan sedemikian
rupa sehingga isinya dapat digeser-geserkan dari satu flip-flop ke flip-flop yang lain
atas perintah pulsa detak.

Register geser yang di praktekan kali ini adalah register serial input, paralel output
yang pemakaiannya banyak ditemui pada alat ukur digit dan alat-alat
penghitung/kalkulator. Saudara dapa melihat gejala bergesernya informasi pada
display kalkulator saudara.

3. ALAT DAN BAHAN

1. Modul terminal IC (solderless bread board)


2. IC 7474 : 2 buah
3. Resistor 330 ohm : 4 buah
4. LED indicator : 4 buah
5. Saklar anti guruh : 1 buah
6. Saklar biasa :-
7. Power supply DC :-
8. Volt meter DC :-
9. Papan percobaan dan kabel : Secukupnya

4. LANGKAH KERJA

1. Buatlah rangkaian seperti gambar dibawah ini.


Gunakan LED sebagai indicator keluarannya seri dengan resistor 330 ohm
Data IC 7474

2. Berikan power supply +5 volt. Reset register dengan saklar SB set S1 ke bilangan
biner 1.
Dengan menggunakan saklar SA berikan 4 pulsa ke register.
Catat isi register : A B C D =

3. Set S1 ke biner 0 (turun). Berikan 4 pulsa dengan saklar SA dan catat isi register :
ABCD=

4. Dengan menggunakan saklar S1 dan SA, bebani register geser sebagai berikut :
S1 = 1, SA =

S1 = 0, SA =

S1 = 1, SA =

S1 = 0, SA =

Catat isi register : ABCD =

Berapa isi register dalam bilangan desimal ?


5. TUGAS DAN PERTANYAAN

1. Terangkan bagaimana cara pengoperasian register geser jika kita ingin memasukan
data bilangan desimal 5 ke dalam register tersebut ! praktikkan !

2. Gambarkan diagram waktu untuk percobaan 2,3, dan 4 !

3. Terangkan kapan data masukan di transfer ke keluaran, tunjukkan dasar


jawabannya !

4. Apa sebabnya register geser yang kita amati disebut register geser serial input
paralel output ?

5. Jelaskan, mengapa pada praktek ini kita menggunakan saklar anti guruh ( Bounce-
fire switch)
5