Anda di halaman 1dari 2

Penyakit Tidak Menular (PTM) saat ini menjadi penyebab utama kematian di Dunia.

Data World Health Organization (WHO) tahun 2008 menunjukkan bahwa dari 57 juta kematian
yang terjadi di dunia, hampir dua pertiganya disebabkan oleh Penyakit Tidak Menular. Penyakit
kardiovaskular, kanker, diabetes dan penyakit paru-paru kronis merupakan penyakit yang sering
menyebabkan kematian pada PTM. Di Negara berpenghasilan menengah dan rendah hampir tiga
perempat dari semua kematian PTM (82% dari 16 juta orang) meninggal sebelum usia 70 tahun.
Sekitar 1,3 juta orang meninggal akibat diabetes militus dan 4 persen meninggal sebelum usia 70
tahun. Sepuluh besar negara dengan prevalensi DM tertinggi di dunia pada tahun 2000 adalah
India, Cina, Amerika, Indonesia, Jepang, Pakistan, Rusia, Brazil, Italia, dan Bangladesh. Pada
tahun 2030 India, Cina, dan Amerika diprediksikan tetap menduduki posisi tiga teratas negara
dengan prevalensi DM tertinggi.

Indonesia diprediksikan akan tetap berada dalam sepuluh besar negara dengan prevalensi
DM tertinggi pada tahun 2030. Indonesia menduduki posisi keempat dunia setelah India, Cina,
dan Amerika dalam prevalensi DM. Masyarakat Indonesia yang menderita DM adalah sebesar
8,4 juta jiwa dan diprediksi akan meningkat pada tahun 2030 menjadi 21,3 juta jiwa. Data ini
menunjukkan bahwa angka kejadian DM tidak hanya tinggi di negara maju tetapi juga di negara
berkembang, seperti. Pada tahun 2000 penderita Diabetes Millitus di Indonesia adalah sebesar
8,4 juta jiwa dan diprediksi pada tahun 2030 diperkirakan jumlah Diabetes Millitus di Indonesia
akan meningkat menjadi urutan ke-7 penyebab kematian dunia, yaitu sebanyak 21,3 juta jiwa.
Hiperglikemia, atau peningkatan kadar gula darah, merupakan efek umum diabetes yang tidak
terkontrol dan seiring dengan berjalannya waktu menyebabkan kerusakan pada banyak sistem
tubuh, terutama saraf dan pembuluh darah.

Menurut data dari American Diabetes Association, Diabetes Mellitus (DM) merupakan
salah satu kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh hiperglikemia karena gangguan
sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Keadaan hiperglikemia kronis dari diabetes
berhubungan dengan kerusakan jangka panjang, gangguan fungsi dan kegagalan berbagai organ,
terutama mata, ginjal, saraf, jantung, dan pembuluh darah (American Diabetes Association
(ADA), 2017). Seiring berjalannya waktu, diabetes melitus dapat merusak jantung, pembuluh
darah, mata, ginjal, dan saraf. Pada tahun 2015, diperkirakan 1,6 juta kematian secara langsung
disebabkan oleh diabetes.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013 menunjukkan


bahwa secara nasional, prevalensi DM berdasarkan hasil pengukuran kadar gula darah pada
penduduk umur lebih dari 15 tahun adalah sebesar 6,9%. Salah satu kegiatan pengendalian DM
yang dilakukan Kemenkes yaitu monitoring dan deteksi dini faktor risiko DM di Posbindu (Pos
Pembinaan Terpadu) PTM. Posbindu PTM merupakan kegiatan peran serta masyarakat dalam
pengendalian faktor risiko DM secara mandiri dan berkelanjutan.