Anda di halaman 1dari 3

Ringkasan Hikmah Buku Konsep Pendidikan dalam Islam

Identitas Buku

Buku ini aslinya berjudul The Concept of Education in Islam dan diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia menjadi Konsep Pendidikan dalam Islam, merupakan buah karya Syed Muhammad
Naquib Al Attas. Buku ini pertama kali diterbitkan di Indonesia oleh Mizan pada tahun 1984
(Cetakan Pertama). Jumlah halaman 95 dan ukuran 15 x 20 cm.

Uraian Ringkas Isi Buku

Buku karya Syed Muhammad Naguib Al-Attas ini merupakan komentar atas makalah beliau yang
pernah disajikan dalam Konferensi Dunia tentang Pendidikan Islam Pertama yang diadakan di
Makkah sejak tanggal 31 Maret – 8 April 1977, yaitu yang berjudul Pemikiran-pemikiran Awal
Mengenai Sifat Ilmu Pengetahuan serta Definisi dan Tujuan-tujuan Pendidikan.

Buku ini tersusun atas enam bagian, untuk memahami garis besar keenam bagian tersebut,
diuraikan sebagai berikut.

Bagian Pertama. Tujuan Pembahasan.

Pada bagian ini Al Attas menjabarkan secara ringkas beberapa tujuan utama yang akan dibahas
dalam bukunya tersebut. Pembahasannya secara urut yaitu, pertama, pendefinisian ulang makna
pendidikan dalam Islam. Al Attas meyakini bahwa apabila definisi pendidikan mampu terjelaskan
dengan baik, maka perumusan kurikulum selanjutnya akan lebih mudah. Kedua, penjelasan
mengenai latarbelakang masalah-masalah tentang sejarah intelektual Islam serta sejarah
kebudayaan dan peradaban Barat yang telah menciptakan krisis dalam pendidikan masa kini.

Bagian Kedua. Sifat Ilmiah Bahasa Arab.


Bahasa Arab merupakan bahasa Islam yang mana struktur ilmiahnya telah terbukti dan pada
kenyataanya bahwa dia adalah bahasa yang dipergunakan untuk mewahyukan Al Qur’an. Al
Qur’an merupakan sumber ilmu yang benar, maka bentuk linguistik yang menjadi tempat
mengalirnya dan alat dialirkannya ilmu itu mesti juga mempunyai sifat sedemikian rupa, yaitu
tidak mungkin menyimpang dari makna sebenarnya yang menyampaikan kebenaran secara
langsung, tidak melenceng kemana-mana, dan juga tanpa distrorsi. Bahasa-bahasa lain bisa
mengalami perubahan semantik akibat perubahan sejarah dan masyarakat, namun tidak dengan
bahasa Arab.

Bagian Ketiga. Medan Semantik dalam Konteks Islam.

Pada bagian ini Al Attas mengingatkan tentang pentingnya mengunakan metode pengungkapan
makna-makna, kata-kata, dan istilah-istilah dalam bahasa Arab secara benar dalam konteks Islam.
Hal ini penting karena kosa-kata bahasa Arab saling berkaitan dalam suatu pola yang bermakna,
yang memproyeksikan suatu pandangan alam dunia (worldview) khas Al Qur’an.

Dewasa ini, tidak sedikit istilah kunci kosa kata dasar Islam pada bahasa-bahasa masyarakat
muslim telah digantikan dan diperalat oleh konsep-konsep asing. Hal ini meyebabkan kebingungan
dalam pikiran para muslim yang berujung pada perasaan kebangsaan yang picik serta ideologisasi
ras dan tradisi-tradisi kultural. Lebih bahaya lagi kebingungan semantik akibat kesalahan
penerapan konsep-konsep kunci dalam kosa kata Islam bisa mempengaruhi persepsi kita tentang
pandangan alam dunia (worldview).

Bagian Keempat. Konsep Pendidikan dalam Islam.

Istilah ta’dib, menurut Al Attas merupakan istilah pendidikan yang paling tepat dipandang dari
kacamata Islam. Hal ini dikarenakan istilah ta’dib sudah mencakup makna unsur-unsur dari
pengetahuan (‘ilm), pengajaran (ta’lim), dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Selain itu dalam
bagian ini Al Attas juga menjelaskan konsep-konsep kunci Islam dalam pendidikan, diantaranya
ialah makna (ma’na), ilmu (‘ilm), keadilan (‘adl), kebijaksanaan (hikmah), tindakan (‘amal), dan
lain sebagainya. Ada satu konsep kunci lagi yang pada hakikatnya merupakan inti pendidikan dan
proses pendidikan karena konsep-konsep kunci yang telah disebutkan diatas semuanya
memusatkan makna-maknanya hanya kepada konsep ini saja. Konsep kunci utama ini adalah adab.

Bagian Kelima. Masalah dan Pemecahannya.

Pada bagian ini Al Attas menjelaskan bahwa konsekuensi yang timbul akibat tidak dipakainya
konsep ta’dib sebagai inti dan proses pendidikan adalah hilangnya adab, yaitu yang berarti
hilangnya keadilan yang menimbulkan kebingungan dan kesalahan dalam pengetahuan tentang
Islam serta pandangan tentang hakikat dan kebenaran dalam Islam, sehingga menciptakan kondisi
munculnya pemimpin-pemimpin palsu dalam segala bidang kehidupan dan menimbulkan kondisi
kezaliman, yang mana telah terjadi dikalangan masyarakat muslim sekarang ini. Pemecahan atas
masalah ini akan ditemukan apabila mengacu pada konsep ta’dib sebagai inti dan proses
pendidikan.

Bagian Kelima. Bentuk Sistem Pendidikan dalam Islam.


Dalam Islam, tujuan mencari pengetahuan pada puncaknya adalah untuk menjadi seorang manusia
yang baik (detail penjelasan lengkapnya terdapat dibuku) dan bukannya sebagai seorang penduduk
yang baik dari sebuah negara sekuler, maka sistem pendidikan dalam Islam mestilah
mencerminkan manusia bukan negara. Maksud manusia disini adalah Manusia Universal atau
Sempurna (al-insanul-kamil). Universitas modern yang berdasarkan model-model Barat tidak
mencerminkan manusia, melainkan lebih mencerminkan Negara sekuler. Hal ini dikarenakan
dalam peradaban Barat, atau peradaban-peradaban lain selain Islam, tidak pernah ada seorng
Manusia Universal atau Sempurna (al-insanul-kamil)-pun yang bisa menjadi model untuk ditiru
dalam hidup dan yang bisa dipakai untuk memproyeksikan pengetahuan dan tindakan yang benar
dalam bentuk universal bagi universitas. Hanya dalam Islam, dalam pribadi suci Rasulullah SAW,
sajalah manusia al-insanul-kamil itu ternyatakan. Jadi, universitas Islam itu mestinya
mencerminkan Rasulullah SAW dalam hal pengetahuan dan tindakan yang benar, dan mempunyai
fungsi untuk menghasilkan manusia yang mutunya sedekat mungkin menyerupai beliau. (masing-
masing sesuai kapasitas dan potensi bawaan tiap individu), yaitu manusia yang beradab.

Pada bagian ini Al Attas juga menjabarkan tentang konsep ilmu yang dipelajari para pelajar yaitu
konsep ilmu fardlu ‘ain (ilmu-ilmu agama) yang wajib dipelajari setiap pelajar dan konsep ilmu
fardlu kifayah (ilmu rasional, intelektual, dan filosofis) yang hanya wajib untuk sebagian pelajar
saja. Konsep ilmu fardlu ‘ain hendaknya setiap cabang mesti diserapi dengan unsur-unsur dan
konsep-konsep kunci Islam setelah unsur-unsur dan konsep-konsep kunci asing dibersihkan dari
semua cabangnya. Proses ini dinamakan islamisasi. Islamisasi ilmu adalah pembebasan ilmu dari
penafsiran-penafsiran yang didasarkan pada ideology sekuler, dan dari makna-makna serta
ungkapan-ungkapan manusia-manusia sekuler.

Wallahualam,
Taufik Hendratmoko.