Anda di halaman 1dari 27

CRITICAL BOOK REPORT

FILSAFAT PENDIDIKAN

DISUSUN OLEH :

NAMA : FERDIANSYAH RAMADAN TANJUNG


NIM : 5172111002
KELAS : A / PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
JURUSAN : PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
PROGRAM STUDI : S-1 PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN
DOSEN PENGAMPU : Prof. Dr. EFENDI NAPITUPULU, M.Pd

PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
FILSAFAT PENDIDIKAN

FILSAFAT PENDIDIKAN 2
KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT saya selaku
penyusun telah selesai menyusun CBR Filsafat Pendidikan sebagai bentuk tanggung –
jawab saya dalam penyelesain tugas rutin yang diberikan oleh dosen pengampu.
Tugas ini disusun dari berbagai referensi yang mana setiap pengutipan dan
penyusunan kata demi kata, saya sebagai penyusun sadar masih banyak kekurangan
disana sini. Namun, saya telah berusaha semaksimal mungkin dan memberikan yang
terbaik dalam menyelesaikan makalah ini agar dapat menjadi tugas yang sempurna.
Akhirnya, saya berharap semoga tugas ini dapat menjadi salah satu wujud
nyata tanggung – jawab saya dalam menyelesaikan tugas yang diberikan dosen
pengampu. Saya juga berharap tugas ini dapat memberikan tambahan ilmu dan
pengetahuan serta bermanfaat bagi saya sebagai penyusun.

Medan, 17 Oktober 2017

Ferdiansyah Ramadan Tanjung

FILSAFAT PENDIDIKAN 3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...................................................................................................................... 3


DAFTAR ISI ..................................................................................................................................... 4
BAB I PENDAHULUAN................................................................................................................. 6
A. LATAR BELAKANG ...................................................................................................................... 6
B. Tujuan .............................................................................................................................................. 7
C. Manfaat ............................................................................. Error! Bookmark not defined.
BAB II PEMBAHASAN ..............................................................Error! Bookmark not defined.
A. IDENTITAS BUKU ........................................................................................................................ 7
B. RINGKASAN ISI BUKU ................................................................................................................ 8
BUKU UTAMA ........................................................................................................................... 8
1. FILSAFAT, MANUSIA, DAN PENDIDIKAN ................................................................... 8
a. Manusia dan Filsafat ....................................................................................................... 8
2. Filsafat dan Teori Pendidikan .......................... Error! Bookmark not defined.
3. Hubungan Antara Filsafat, Manusia Dan Pendidikan Error! Bookmark not
defined.
a. Kedudukan Filsafat Dalam Ilmu Pengetahuan ......... Error! Bookmark not
defined.
b. Kedudukan Filsafat Dalam Kehidupan Manusia ...... Error! Bookmark not
defined.
C. PANDANGAN FILSAFAT PANCASILA TENTANG MANUSIA,
MASYARAKAT,PENDIDIKAN DAN NILAI. ..................... Error! Bookmark not defined.
1. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Manusia .......... Error! Bookmark not
defined.
2. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Masyarakat .... Error! Bookmark not
defined.
3. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Pendidikan .... Error! Bookmark not
defined.
4. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Nilai Error! Bookmark not defined.
5. Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap Sistem Pendidikan
Nasional................................................................................. Error! Bookmark not defined.
BUKU PEMBANDING .......................................................................................................... 16
A. Pancasila Sebagai Filsafat Hidup Bangsa............. Error! Bookmark not defined.
B. Pancasila Sebagai Filsafat Pendidikan Nasional Error! Bookmark not defined.
1. Hubungan Pancasila dengan Sistem pendidikan ditinjau dari Filsafat
Pendidikan ........................................................................... Error! Bookmark not defined.
2. Filsafat Pendidikan Pancasila ditinjau dari Ontologi, Epistimologi, dan
Aksiologi ............................................................................... Error! Bookmark not defined.

FILSAFAT PENDIDIKAN 4
a. Ontologi ................................................................ Error! Bookmark not defined.
b. Epistemologi ....................................................... Error! Bookmark not defined.
c. Aksiologi ................................................................... Error! Bookmark not defined.
BAB III PERBANDINGAN ANTARA KEDUA BUKU ..........Error! Bookmark not defined.
A. Kelemahan Buku ........................................................... Error! Bookmark not defined.
B. Kelebihan Buku ............................................................. Error! Bookmark not defined.
C. Perbandingan Kedua Buku ....................................... Error! Bookmark not defined.
BAB IV PENUTUP......................................................................Error! Bookmark not defined.
A. Kesimpulan ..................................................................... Error! Bookmark not defined.
B. Saran .................................................................................. Error! Bookmark not defined.
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................Error! Bookmark not defined.

FILSAFAT PENDIDIKAN 5
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Manusia adalah makhluk Tuhan paling sempurna penciptaannya dari
makhluk lain. Dengan menggunakan panca indera, manusia berusaha
memahami benda-benda konkrit. Eksistensi alam semesta tempat manusia
hidup yang selalu berubah dan penuh dengan peristiwa-peristiwa penting
bahkan dahsyat untuk dipikirkan dan direnungkan. Kadang-kadang manusia
tidak kuasa untuk menentang dan menolaknya, menyebabkan manusia itu
tertegun, termenung memikirkan segala hal yang terjadi di sekitar dirinya.
Manusia mengupayakan eksistensinya untuk hadir di alam dalam berpikir
agar apa yang dilihatnya dapat dipahami makna kehadiran sesuatu di luar
dirinya. Berpikir adalah hasil kerja pikiran. Pikiran manusia dalam proses-
proses pikirannya selalu nampak misterius dan menakjubkannya seperti alam
semesta sendiri, sehingga manusia terdorong memikirkannya secara
mendalam.
Seperti halnya, proses berpikir dapat dilakukan manusia denga
mengarahkan pandangannya ke langit biru, maka nampak olehnya benda-
benda angkasa mengambang dan bersemayam di langit-langit.
Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara
pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam memecahakan
problematika pendidikan dan menyusun teori-teori pendidikannya, di
samping menggunakan metode-metode ilmiah lainnya. Denga kata lain, teori-
teori dan pandangan-pandangan filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh

FILSAFAT PENDIDIKAN 6
seorang filosof tentu berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh
pandangan dan aliran filsafat yag dianutnya.
Pancasila merupakan dasar dari pembentukan Negara Indonesia
sebagaimana yang dikemukakan oleh bung Karno di dalam lahirnya
Pancasila.Setiap Negara mempunyai dasar atau ideologssinya.Fungsi dari
suatu dari ideology atau dogama yaitu serangkaian nilai-nilai yang dijadikan
pegangan oleh setiap warga Negara untuk mengikat seluruh anggotanya dalam
suatu organisasi Negara Republik Indonesia.Sebagai ideology,Pancasila
sebagai dasar Negara.Oleh sebab itu , setiap warga Negara wajib mengikuti
dan menghormati nilai-nilai tersebut dan secara kolekti ingin mewujudkan
nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya.

B. Tujuan
1. Mengkritik 2 buku untuk menambah ilmu dalam Filsafat Pendidikan
2. Untuk menambah wawasan tentang Filsafat Pendidikan khususnya Filsafat
Pendidikan Pancasila
3. Untuk mempelajari Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Manusia

C. Manfaat
1. Memperbaiki diri menggunakan teori-teori Filsafat Pendidikan Pancasila
2. Mengetahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari Filsafat Pendidikan
Pancasila dapat menjadi acuan untuk membangun bangsa Indonesia.

BAB II
PEMBAHASAN

A. IDENTITAS BUKU
Buku Pertama (Buku Utama)
1.Judul buku :Filsafat Pendidikan

FILSAFAT PENDIDIKAN 7
2. Pengarang : Dr.Edward Purba,MA
3.Pengarang :Prof.Dr.Yusnadi,MS
4. Penerbit : UNIMED PRESS
5. Tahun terbit : 2013
6. Kota Terbit :MEDAN
7.Tebal buku :164 lembar
Buku Kedua (Buku Pendamping)
1. Judul buku : FILSAFAT PENDIDIKAN
2. Pengarang :Prof.Dr.H.Jalaluddin
3.Pengarang :Prof.Dr.H.Abdullah Idi,M.Ed
4. Penerbit : Raja Grafindo Persada
5. Tahun terbit : 2011
6. Kota Terbit :Jakarta
7.Tebal Buku :384 Lembar

B. RINGKASAN ISI BUKU

BUKU UTAMA
1. FILSAFAT, MANUSIA, DAN PENDIDIKAN
a. Manusia dan Filsafat
Manusia adalah makhluk Tuhan paling sempurna penciptaannya
dari makhluk lain. Dengan menggunakan panca indera, manusia
berusaha memahami benda-benda konkrit. Eksistensi alam semesta
tempat manusia hidup yang selalu berubah dan penuh dengan
peristiwa-peristiwa penting bahkan dahsyat untuk dipikirkan dan
direnungkan. Kadang-kadang manusia tidak kuasa untuk menentang
dan menolaknya, menyebabkan manusia itu tertegun, termenung
memikirkan segala hal yang terjadi di sekitar dirinya.
Manusia mengupayakan eksistensinya untuk hadir di alam dalam
berpikir agar apa yang dilihatnya dapat dipahami makna kehadiran
sesuatu di luar dirinya. Berpikir adalah hasil kerja pikiran. Pikiran

FILSAFAT PENDIDIKAN 8
manusia dalam proses-proses pikirannya selalu nampak misterius dan
menakjubkannya seperti alam semesta sendiri, sehingga manusia
terdorong memikirkannya secara mendalam.
Seperti halnya, proses berpikir dapat dilakukan manusia denga
mengarahkan pandangannya ke langit biru, maka nampak olehnya
benda-benda angkasa mengambang dan bersemayam di langit-langit.
Dengan menangkap kesan indera lalu dipadukan dengan analisis
radio manusia mulai sadar bahwa pengertiannya melalui kesan indera
itu belum memuaskan. Manusia berpikir dan berpikir sepanjang masa
dan sepanjang jaman tentang hakikat dirinya dan alam semesta.
Masing-masing dunia ini memerlukan pendekatan yang berbeda-beda
sebab wujud dan sifat realitas yang akan ditafsirkan berbeda secara
mendasar dan kualitatif.
Filsafat sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami semua hal
yang timbul di dalam keseluruhan lingkup pengalaman manusia.
Sebelum ada ilmu, filsafat merupakan lapangan utama pemikiran dan
penyelidikan manusia. Filsafat mendahului ilmu pengetahuan.
Demikian pula kesimpulan-kesimpulan filsafat yang bersifat hakiki,
menyebabkan kedudukan filsafat dianggap lebih tinggi daripada ilmu
pengetahuan. Karena itulah filsafat dipandang sebagai induk ilmu
pengetahuan atau yang melahirkan ilmu pengetahuan. Bahkan karena
kedudukannya yang tinggi itu, filsafat disebut ratu ilmu pengetahuan
(Queen Knowledge).

2. Filsafat dan Teori Pendidikan


Hubungan fungsional antara filsafat dan teori pendidikan, secara
lebih rinci dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Filsafat, dalam arti analisa filsafat adalah merupakan salah satu cara
pendekatan yang digunakan oleh para ahli pendidikan dalam
memecahakan problematika pendidikan dan menyusun teori-teori
pendidikannya, di samping menggunakan metode-metode ilmiah
lainnya. Dengan kata lain, teori-teori dan pandangan-pandangan

FILSAFAT PENDIDIKAN 9
filsafat pendidikan yang dikembangkan oleh seorang filosof tentu
berdasarkan dan bercorak serta diwarnai oleh pandangan dan
aliran filsafat yag dianutnya.
b. Filsafat, juga berfungsi memberika arah agar teori pendidikan yang
telah dikembangkan oleh para ahlinya, yang berdasarkan dan
menuntut pandangan dan aliran filsafat tertentu, mempunyai
relevansi dengan kehidupan nyata. Disinilah letak fungsi filsafat dan
filsafat pendidikan dalam memilih dan mengarahkan teori-teori
pendidikan dan kalau perlu juga merevisi teori pendidikan tersebut,
yang sesuai dan relevan dalam kebutuhan, tujuan, dan pandangan
hidup masyarakat.
c. Filsafat, termasukjuga filsafat pendidikan, juga mempunyai fungsi
untuk memberikan petunjuk dan arah dalam pengembangan teori-
teori pendidikan menjadi ilmu pendidikan atau pedagogik.

3. Hubungan Antara Filsafat, Manusia Dan Pendidikan


a. Kedudukan Filsafat Dalam Ilmu Pengetahuan
Dalam ilmu pengetahuan, filsafat mempunyai kedudukan sentral, asal,
atau pokok. Karena filsafatlah yang mula-mula merupakan satu-satunya
usaha manusia di bidang pemikiran untuk mencapai kebenaran atau
pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu dasarnya dari filsafat, dengan rincian
antara lain :
 Setiap ilmu pengetahuan itu mempunyai problem dan objek.
 Filsafat juga memberikan dasar-dasar yang umum bagi semua ilmu
pengetahuan dan dengan dasar yang umum itu dirumuskan
keadaan dari ilmu pengetahuan itu.
 Di samping itu filsafat juga memberikan dasar-dasar yang khusus
digunakan dalam tiap-tiap ilmu pengetahuan.Ilmu pengetahuan
memperoleh sifat ilmu itu kalau memenuhi syarat-syarat yang telah
ditentukan oleh filsafat.
 Filsafat juga memberikan metode atau cara kerja kepada tiap ilmu
pengetahuan.

FILSAFAT PENDIDIKAN 10
b. Kedudukan Filsafat Dalam Kehidupan Manusia
 Memberikan pengertian dan kesadaran kepada manusia akan arti
pengetahuan tentang kenyataan yang diberikan oleh filsafat.
 Filsafat memberikan pedoman hidup kepada manusia.

C. PANDANGAN FILSAFAT PANCASILA TENTANG MANUSIA,


MASYARAKAT,PENDIDIKAN DAN NILAI.
Pancasila merupakan dasar dari pembentukan Negara Indonesia
sebagaimana yang dikemukakan oleh bung Karno di dalam lahirnya
Pancasila.Setiap Negara mempunyai dasar atau ideologinya.Fungsi dari
suatu dari ideology atau dogama yaitu serangkaian nilai-nilai yang
dijadikan pegangan oleh setiap warga Negara untuk mengikat seluruh
anggotanya dalam suatu organisasi Negara Republik Indonesia.Sebagai
ideology,Pancasila sebagai dasar Negara.Oleh sebab itu , setiap warga
Negara wajib mengikuti dan menghormati nilai-nilai tersebut dan secara
kolekti ingin mewujudkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya.

1. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Manusia


Pancasila sebagai dasar dan nilai yang dijunjung tinggi oleh
masyarakat, bangsa dan Negara Indonesia memandang bahwa manusia
adalah makhluk tertinggi ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia
yang dianugerahi kemampuan atau potensi untuk bertumbuh dan
berkembang, baik sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat
atau social. Selanjutnya Paulus Wahana (dalam Tilaar. 2002: 191)
mengemukakan gambaran manusia sebagai berikut:
a. Manusia adalah makhluk monopluralitas yang memungkinkan manusia
itu dapat melaksanakan sila-sila yang tercantum dalam Pancasila.
b. Manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi yang
dikaruniakan memiliki kesadaran dan kebebasan dalam menentukan
pilihannya.
c. Dengan kebebasannya manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan dapat
menentukan sikapnya dalam hubungannya dengan Penciptanya.

FILSAFAT PENDIDIKAN 11
d. Sila pertama menunjukkan bahwa manusia perlu menyadari akan
kedudukannya sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dan oleh sebab
itu harus mampu menentukan sikapnya terhadap hubungannya dengan
Penciptanya.
e. Manusia adalah otonom dan memiliki harkat dan martabat yang
luhur.
f. Sila kedua yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab menuntut akan
kesadaran keluhuran harkat dan martabatnya yaitu dengan
menghargai akan martabat sesama manusia.
g. Sila persatuan Indonesia berarti manusia Indonesia adalah makhluk
social yang berada didalam dunia Indonesia bersama-sama dengan
manusa Indonesia yang lainnya.
h. Selanjutnya manusia Indonesia haruslah dapat hidup
bersama,menghargai satu dengan yang lain dan tetap membina rasa
persatuan dan kesatuan bangsa yang kokoh.
i. Manusia adalah makhluk yang dinamis yang melakukan
kegiatannya bersama-sama dengan manusia Indonesia yang lain.
j. Sila keempat atau sila demokrasi dituntut manusia Indonesia yang
saling menghargai,memeliki kebutuhan bersama di dalam
menjalankan dan mengembangkan kehidupannya.
k. Dalam sila kelima manusia Indonesia dituntu saling memiliki
kewajiban menghargai orang lain dalam memanfaatkan sarana yang
diperlukan bagi peningkatan tarag kehidupan yang lebih baik.
Dari penjelasan di atas dan disimak dari nilai-nilai luhur yang
dikandung Pancasila, dapat disimpulkan bahwa manusia Pancasila adalah
manusia yang bebas dan bertanggung jawab terhadap perkembangan
dirinya sebagai individu dan perkembangan masyarakat (social) Indonesia.
Manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa dianugerahi kemampuan atau
potensi untuk bertumbuh dan berkembang sepanjang hayat.

FILSAFAT PENDIDIKAN 12
2. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Masyarakat
Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila yaitu Ke-Tuhanan Yang
Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,Persatuan
Indonesia,Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikam kebijaksaan dalam
permusyawaratan perwakilan,serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.akan terwujud sesuai dengan perkembangan dan kemajuan yang
telah dicapai.karena itu nilai-nilai luhur Pancasila tidak pernah tertinggal
oleh perkembangan dan kemajuan nilai-nilai itulah sebagai ciri
kepribadian masyarakat-bangsa dan negara Indonesia.Akuntasi nilai
filsafat Pancasila dalam membangun diformulasikan dalam konsep
pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Di atas dalam penjelasan hakekat masyarakat telah di jelaskan bahwa
masyarakat bangsa dan negara Indonesia menuju masyarakat madani yang
aman , damai,sejahtera,terbuka serta toleran,adil dan makmur.Berarti
masyarakat Indonesia berkembang dengan tetap memperhatikan dan
menghargai masing-masing budaya etnis yang ada di dalam
masyarakat,masing-masing budaya etnis yang ada di dalam masyarakat ,
masing-masing budaya etnis yang ada di masyarakat mendapakatkan
kesempatan yang seluas-luasnya untuk berkembang.

3. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Pendidikan


Dalam undang-undang sistem pendidikan Nasional no 20 tahun 2003
dijelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembakan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan,pengendalian diri,kepribadian,kecerdasan,akhlak
mulia,serta keterampilan yang diperlukan dirinya,masyarakat , bangsa dan
negara. Pendidikan berlangsung di keluarga,di rumah, di sekolah, dan di
masyarakat.

FILSAFAT PENDIDIKAN 13
4. Pandangan Filsafat Pancasila Tentang Nilai
Pembangunan nasional adalah upaya bangsa untuk mencapai tujuan
nasional sebagaimana yang sudah dinyatakan dalam pembukaan Undang-
Undang Dasar 1945. Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup
bangsa,dan sumber nilai bagi bangsa Indonesia. Menurut Kaelan (dalam
surajiyo 2008,161) menjelaskan bahwa Pancasila merupakan satu
kesatuan dari sila-silanya merupakan sumber nilai, kerangka berpikir serta
asas moralitas bagi pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi.Oleh
karena itu,sila-sila dalam Pancasila menunjukkan sistem etika dalam
pembangunan iptek, seperti berikut ini:
a. Sila ketuhanan Yang Maha Esa; Sila ini menempatkan manusia di alam
semesta bukan sebagai pusatnya,melainkan sebagai bagian yang
sistematik dari alam yang diolahnya.
b. Sila Kemanusian yang Adil dan Beradab; Sila ini menekankan bahwa
pembangunan dan pelaksanaan pendidikan harus menjaga
keseimbangan antar daerah , keberadaan masyarakat dan warga
negara,letak dan jarak atau geografis sehingga dapat tercapai berdiri
sama tinggi duduk sama rendah,dan bahu membahu membangun
bangsa ini.
c. Sila Persatuan Indonesia,Sila ini memberikan kesadaran bagi bangsa
Indonesia bahwa rasa nasionalisme merupakan modal dasar bagi
persatuan dan kesatuan bangsa.
d. Sila kerakyatan yanf dipimpin oleh Hikmah kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/perwakilan:mendasari bahwa setiap warga negara
memiliki kebebasan untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan
potensinya, masing masing warga negara menghormati kebebasan
berkarya demi kemajuan dan perkembangan bangsa yang berdasarkan
Pancasila
e. Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia:Sila ini mengandung
nilai bahwa manusia Indonesia harus menjaga keseimbangan keadilan
dalam hubungannya dengan dirinya sendiri,manusia dengan

FILSAFAT PENDIDIKAN 14
Tuhan,Manusia dengan manusia lain,manusia dengan masyarakat
bangsa dan negara serta manusia dengan alam lingkungannya.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pancasila adalah sumber
nilai bagi pembangunan bangsa Indonesia.Pancasila menjadi kerangka
kognitif dalam indentifikasi diri sebagai bangsa,sebagai landasan,arah,dan
etos,serta sebagai moral pembangunan Nasional.

5. Pandangan Filsafat Pendidikan Pancasila Terhadap Sistem


Pendidikan Nasional.
Tatacara bernegara di Indonesia diatur dalam UUD 1945 yang selama
ini belum pernah mengalami amandemen, kecuali setelah bergulir
reformasi tahun 1998. Kendatipun amandemen keempat telah rampung
bulan agustus 2002, namun Pembukaan Uud 1945 masih tetap, tidak di
amandemen, dan alinea keempat menyebutkan antara lain: ”... untuk
membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi
segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk
memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan
ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial,...”
Dengan tidak adanya perubahan terhadap pembukaan Uud 1945,
menunjukan bangwa bangsa Indonesia tetap memiliki komitmen yang kuat
untuk melakukan upaya sebagai langkah mencerdaskan kehidupan bangsa
dalam rangka mengankat harkat dan martabat bangsa Indonesia di mata
dunia internasional.Lebih lanjut sebagai acuan penyelenggaraan sistem
pendidikan nasional,UUD 1945 pasal 31 yang baru sebagai hasil
amandemen Agustus 2002 menjadi :
1. Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah
wajib membiayainya;
2. Pemerintah mengusahakan menyelanggarakan suatu sistem
pendidikan nasional;yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan
serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,yanf
diatur dengan undang-undang;

FILSAFAT PENDIDIKAN 15
3. Negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya
20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran
pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan
penyelenggaraan pendidikan Nasional;

BUKU PEMBANDING

A. Pancasila Sebagai Filsafat Hidup Bangsa


Pancasila adalah :
1. Jiwa seluruh rakyat Indonesia
2. Kepribadian bangsa Indonesia
3. Pandangan bangsa Indonesia
4. Dasar negara Indonesia
5. Tujuan hidup bangsa Indonesia
6. Kebudayaan yang mengajarkan banhwa hidup manusia akan mencapai
puncak.
Kebahagiaan jika dapat dikembangkan keselarasan dan keseimbangan,
baik dalam hidup manusia secara pribadi, sebagai makhluk sosial dalam
hubungan masyarakat, alam dan Tuhannya mengejar kemajuan lahiriah
dan kebahagiaan rohaniah. Pancasila harus dipahami, dihayati dan
diamalkan dalam kehidupan sehingga mempunyai nilai dan arti bagi
kehidupan bangsa Pancasila yang dimaksud: Yang dirumuskan dalam
Pembukaan UUD 1945 terdiri dari 5 sila, penjabarannya sebanyak 36 butir
yang saling berhubungan menjadi satu kesatuan.
Sangatlah wajar kalu Pancasila dikatakan sebagai filsafat hiup bangsa
karena menurut Muhammad Noor Syam (1983: 346), nilai-nilai dasar
dalam sosio budaya Indonesia hidup dan berkembang sejak awal
peradabannya, yang meliputi:
1. Kesadaran ketuhanan dan kesadaran keagamaan secara sederhana.

FILSAFAT PENDIDIKAN 16
2. Kesadaran kekeluargaan, di mana cinta dan keluarga sebagai dasar dan
kodrat terbentuknya masyarakat dan sinambungnya generasi.
3. Kesadaran musyaawarah mufakat dalam menetapkan kehendak
bersama.
4. Kesadaran gotong royong, tolong-menolong.
5. Kesadaran tenggang rasa, atau tepo seliro, sebagai semangat
kekeluargaan dan kebersamaan, hormat demi keutuhan, kerukunan
dan kekeluargaan dalam kebersamaan.
Itulah yang termaktub dalam Pancasila dengan 36 butir-butirnya.
Dengan begitu, pada dasarnya masyarakat Indonesia telah
melaksanakan Pancasila, walaupun sifatnya masih merupakan
kebudayaan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut sudah
beradab lamanya mengakar pada kehidupan bangsa Indonesia, karena itu
Pancasila dijadikan sebagai falsafah hidup bangsa.

B. Pancasila Sebagai Filsafat Pendidikan Nasional


Pendidikan di Indonesia berkembang secara dinamis dari zaman
kemerdekaan 17 Agustus 1945 dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan politik,
sosial, ekonomi dan kebudayaan. Dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 2: pendidikan
diusahakan dan diselenggarakan oleh pemerintah sebagai satu sistem
pengajaran nasional à hal ini dimaksudkan agar pendidikan dapat menjamin
perkembangan dan kelangsungan kehidupan bangsa. Sejarah yang
menyatakan bahwa Pancasila sebagai asas pendidikan nasional.
Menurut Aris Toteles, tujuan pendidikan sama dengan tujuan
didirikannya suatu negara (Rapar, 1988:40) begitu juga Indonesia, yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 ingin menciptakan manusia pancasila
Tahun 1959 pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan agar arah pendidikan
tidak menuju pembentukan manusia liberal yang dianggap sangat
bertentangan dengan jiwa dan semangat bangsa Indonesia (Depdikbud, 1993).
Atas instruksi menteri Pengajaran dan Budaya (PM) Prof.Dr. Priyono yang
dikenal dengan nama “Sapta Usaha Tama dan Pancawardhana” yang isinya

FILSAFAT PENDIDIKAN 17
antara lain bahwa Pancasila merupakan asas pendidikan nasional (Supardo,
1960: 431).
Jika pendidikan suatu bangsa akan secara otomatis mengikuti ideologi
bangsa yang dianut, karenanya sistem pendidikan nasional Indonesia dijiwai,
didasari dan mencerminkan identitas Pancasila. Sementara cita dan karsa
bangsa kita, tujuan nasional dan hasrat luhur rakyat Indonesia, tersimpul
dalam pembukaan UUD 1945 sebagai perwujudan jiwa dan nilai Pancasila.
Cita dan karsa itu dilembagakan dalam sistem pendidikan nasional yang
bertumpu dan dijiwai oleh suatu keyakinan, dan pandangan hidup Pancasila.
Inilah alasan mengapa filsafat pendidikan Pancasila merupakan tuntutan
nasional, sedangkan filsafat pendidikan Pancasila adalah subsistem dari sistem
negara Pancasila. Dengan kata lain, sistem negara Pancasila wajar tercermin
dan dilaksanakan di dalam berbagai subsistem kehidupan bangsa dan
masyarakat.
Dengan demikian, jelaslah tidak mungkin Sistem Pendidikan Nasional
dijiwai dan didasari oleh sistem filsafat pendidikan yang selain Pancasila. Hal
ini tercermin dalam tujuan Pendidikan Nasional yang termuat dalam UU No. 2
Tahun 1989 dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
yakni: pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki
pengetahuan, keterampilan, kesehatan jasmani, kepribadian yang mantap dan
mandiri serta bertanggung jawab kemasyarakatan.

1. Hubungan Pancasila dengan Sistem pendidikan ditinjau dari


Filsafat Pendidikan
Pancasila adalah dasar negara Indonesia di mana fungsi utamanya
sebagi pandangan hidup dan kepribadian bangsa (Dardodiharjo, 1988: 17).
Memegang fungsi dalam hidup dan kehidupan bangsa dan negara
Indonesia, Pancasila tidak saja sebagai dasar negara RI, tapi juga alat
pemersatu bangsa, kepribadian bangsa, pandangan hidup bangsa, sumber
ilmu pengetahuan di Indonesia (Azis, 1984: 70). Sehingga dapat kita

FILSAFAT PENDIDIKAN 18
ketahui bahwa Pancasila merupakan dasar negara yang membedakannya
dengan bangsa yang lain.
Filsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh
untuk mencari kebenaran sesuatu. Sementara filsafat pendidikan adalah
pemikiran yang mendalam tentang kependidikan. Bila kita hubungkan
fungsi Pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat
pendidikan, maka dapat kita jabarkan bahwa Pancasila adalah pandangan
hidup bangsa yang menjiwai sila-silanya dalam kehidupan sehari-hari. Dan
untuk menerapkan sila-sila Pancasila, diperlukan pemikiran yang sungguh-
sungguh mengenai bagaimana nilai-nilai Pancasila itu dapat dilaksanakan.
Dalam hal ini, tentunya pendidikanlah yang berperan utama.

2. Filsafat Pendidikan Pancasila ditinjau dari Ontologi, Epistimologi,


dan Aksiologi
a. Ontologi
Ontologi adalah bagian dari filsafat yang menyelidiki tentang
hakikat yang ada. Menurut Muhammad Noor Syam (1984: 24), ontologi
kadang-kadang disamakan dengan metafisika, sebelum manusia
menyelidiki yang lain, manusia berusaha mengerti hakikat sesuatu.
Manusia dalam interaksinya dengan semesta raya, melahirkan
pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti apakah sesungguhnya realita
yang ada itu. Jadi, ontologi adalah cabang dari filsafat yang persoalan
pokoknya apakah kenyataan atau realita itu. Rumusan-rumusan
tersebut identik dengan membicarakan tentang hakikat ada. Hakikat
ada dapat berarti segala sesuatu yang ada, menunujuk kepada hal
umum (abstrak umum universal). (Sutrisno, 1984: 82).Dalam
kenyataanya, Pancasila dapat dilihat dari penghayatan dan pengamalan
kehidupan sehari-hari. Dan bila dijabarkan menurut sila-sila dari
Pancasila itu adalah sebagai berikut:
1) Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama ini menjiwai sila-sila yang lainnya. Di dalam sistem
Pendidikan Nasional dijelaskan bahwa pendidikan nasional adalah

FILSAFAT PENDIDIKAN 19
pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Dengan sila pertama ini, kita
diharapkan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang juga
merupakan bagian dari sistem pendidikan nasional.
2) Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Manusia yang ada di muka bumi ini mempunyai harkat dan martabat
yang sama, yang diperlakukan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan
fitrahnya sebagai hamba Allah (Darmodiharjo, 1988: 40).
Pendidikan tidak membedakan usia, agama dan tingkat sosial budaya
dalam menuntut ilmu. Setiap manusia mempunyaai kebebasan dalam
hal menuntut ilmu, mendapat perlakuan yang sama, kecuali tingkat
ketakwaan seseorang. Dan oleh karena yang dibangun adalah
masyarakat Pancasila, maka pendidikan harus dijiwai Pancasila
sehingga akan melahirkan masyarakat yang susila, bertanggung jawab,
adil dan makmur, baik spiritual maupun materiil dan berjiwa Pancasila.
Dengan demikian, sekolah harus mencerminkan sila-sila dari Pancasila.
3) Sila Persatuan Indonesia
Persatuan merupakan kunci kemenangan. Dengan persatuan yang kuat
kita dapat menikmati alam kemerdekaan. Sila ketiga ini tidak
membatasi golongan dalam belajar. ini berarti, bahwa semua golongan
dapat menerima pendidikan, baik dari golongan rendah maupun
golongan yang tinggi, tergantung kepada kemampuannya untuk
berpikir, sesuai dengan UUD 1945 Pasal 31 ayat 1.
4) Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
PermusyawaratanPerwakilan
Sila keempat ini sering dikaitkan dengan kehidupan berdemokrasi.
Dalam hal ini, demokrasi sering juga diartikan sebagai kekuasaan ada
di tangan rakyat. sebagai contoh, dalam memilih seorang pemimpin di
desa, lembaga untuk menyalurkan kehendak untuk kepentingan
bersama melalui musyawarah (Djamal, 1986: 82). Bila dilihat dari
dunia pendidikan, maka hal ini sangat relevan, karena menghargai
pendapat orang lain demi kemajuan. Di samping itu, juga sesuai dengan

FILSAFAT PENDIDIKAN 20
UUD 1945 Pasal 28 yang menyatakan kebebasan untuk mengeluarkan
pendapat, baik secara lisan maupun tulisan. Jadi, dalam menyusun
tujuan pendidikan, diperlukan ide-ide dari orang lain demi kemajuan
pendidikan.
5) Sila Keadilan Sosial bagi Rakyat Indonesia
Setiap bangsa di dunia bertujuan untuk mencapai masyarakat yang adil
dan makmur. Keadilan ini meliputi kebutuhan di bidang materiil dan di
bidang spiritual yang didasarkan pada asas kekeluargaan.
b. Epistemologi
Epistemologi adalah studi tentang pengetahuan (adanya) benda-benda.
Epistemologi yang diartikan sebagai filsafat yang menyelidiki sumber,
syarat, proses terjadinya ilmu pengetahuan, batas validitas dan hakikat
ilmu pengetahuan. Dengan filsafat, kita dapat menentukan tujuan-
tujuan yang akan dicapai demi peningkatan ketenangan dan
kesejahteraan hidup, pergaulan dan berwarga negara. Untuk itu,
bangsa Indonesia telah menemukan filsafat Pancasila.
1) Sila Ketuhanan Yang Maha Esa
Pemikiran tentang apa dan bagaimana sumber pengetahuan manusia
diperoleh melalui akal atau panca indra dan dari ide atau Tuhan.
Berbeda dengan Pancasila, ia lahir tidak secara mendadak, tetapi
melalui proses panjang yang dimatangkan dengan perjuangan.
Pancasila digali dari bumi Indonesia yang merupakan dasar negara,
pandangan hidup bangsa, kepribadian bangsa, tujuan atau arah untuk
mencapai cita-cita dan perjanjian luhur rakyat Indonesia (Widjaya,
1985:176-177). Dalam rangka pikiran seperti ini, maka cita-cita telah
merupakan ideologi (lihat Deliar Noer, 1983: 25).
2) Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Kepribadian manusia adalah subjek yang secara potensial dan aktif
berkesadaran tahu atas eksistensi diri, dunia, bahkan juga sadar dan
tahu bila di suatu ruang dan waktu “tidak ada” apa-apa (kecuali ruang
dan waktu itu sendiri). Pancasila adalah ilmu yang diperoleh melalui
perjuangan yang sesuai dengan logika. Dengan mempunyai ilmu moral,

FILSAFAT PENDIDIKAN 21
diharapkan tidak ada lagi kekerasan dan kesewenang-wenangan
manusia terhadap yang lainnya.
3) Sila Persatuan Indonesia
Proses terbangunnya pengetahuan manusia merupakan hasil dari kerja
sama atau produk hubungan dengan lingkungannya. Potensi dasar
denga faktor kondisi lingkungan yang memadai akan membentuk
pengetahuan.

4) Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam


Permusyawaratan Perwakilan
Manusia diciptakan Allah SWT sebagai pemimpin di muka bumi ini
untuk memakmurkan umat manusia. Seorang pemimpin mempunyai
syarat untuk memimpin dengan bijaksana. Dalam sistem pendidikan
nasional, pendidikan memang mempunyai peranan yang besar, tetapi
itu tidak menutup kemungkinan peran keluarga dan masyarakat dalam
membentuk manusia Indonesia seutuhnya. Jadi, dalam hal ini
diperlukan suatu ilmu keguruan untuk mencapai guru yang ideal, guru
yang kompeten. Setiap manusia bebas mengeluarkan pendapat dengan
melalui lembaga penidikan. Setiap ada permasalahan diselesaikan
dengan jalan musyawarah, agar mendapat kata mufakat.
5) Sila Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Ilmu pengetahuan sebagai perbendaharaan dan prestasi individu serta
sebagai karya budaya umat manusia merupakan martabat kepribadian
manusia (IKIP Malang, 1983: 63). Dalam arti luas, adil di atas
dimaksudkan seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama. Hal ini
didapatkan melalui pendidikan, baik itu informal, formal dan non
formal. Dalam sistem pendidikan nasional yang intinya mempunyai
tujuan yang mengejar Iptek dan Imtaq. Di bidang sosial, dapat dilihat
pada suatu badan yang mengkoordidir dalam hal mengentaskan
kemiskinan, di mana hal ini sesuai dengan butir-butir Pancasila. Kita
harus menghormati dan menghargai hasil karya orang lain, hemat yang
berarti pengeluaran sesuai dengan kebutuhan.

FILSAFAT PENDIDIKAN 22
c. Aksiologi
Aksiologi adalah bidang filsafat yang menyelidiki aspek nilai
(value). Nilai tidak akan timbul karena manusia mempunyai bahasa
yang digunakan dalam pergaulan sehari-hari. Jadi, masyarakat menjadi
wadah timbulnya nilai. Dikatakan mempunyai nilai, apabila berguna,
benar (logis), bermoral dan etis. Dengan demikian, dapat pula
dibedakan nilai materiil dan spiritual. Pancasila sebagai pandangan
hidup dan dasar negara memiliki nilai-nilai: Ketuhanan, Kemanusiaan,
Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan. Nilai ideal, materiil, spiritual dan
nilai positif dan juga nilai logis, estetika, etis, sosial dan religius. Dengan
demikian Pancasila syarat akan nilai. Sesuai dengan Pancasila :

1) Sila Ketuhanan yang Maha Esa


Percaya kepada Allah merupakan hal yang paling utama dalam ajaran
Islam. Di setiap kita mengucapkan kalimah Allah, baik itu dalam shalat,
menikahkan orang, dikumandangkan adzan, para dai mula-mula
menyiarkan Islam dengan menanamkan keimanan. Pendidikan, sejak
tingkat kanak-kanak sampai perguruan tinggi, diberikan pelajaran
agama dan hal ini merupakan sub-sistem pendidikan nasional.
2) Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Dalam kehidupan umat Islam, setiap Muslim yang datang ke masjid
untuk shalat berjamaah berhak berdiri di depan dengan tidak
membedakan keturunan, ras dan kedudukan. Di mata Allah sama,
kecuali ketakwaan seseorang. Inilah sebagian kecil contoh dari nilai-
nilai Pancasila yang ada dalam kehidupan umat Islam.
3) Sila Persatuan Indonesia
Islam mengajarkan supaya bersatu dalam mencapai tujuan yang dicita-
citakan,mengajarkan untuk taat kepada pemimpin. Memang Indonesia
adalah negara Pancasila, bukan negara yang berdasarkan satu agama.
Meskipun demikian demikian, warga negara kita tidak lepas dari

FILSAFAT PENDIDIKAN 23
pembinaan dan bimbingan kehidupan beragama untuk terwujudnya
kehidupan beragama yang rukun dan damai.
4) Sila Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam
Permusyawaratan Perwakilan
Jauh sebelum Islam datang, di Indonesia sudah ada sikap gotong-
royong di musyawarah. Dengan datangnya Islam, sikap ini lebih
diperkuat lagi dengan datangnya al-Qur’an.

5) Sila Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia


Adil berarti seimbang antara hak dan kewajiban. Dalam segi
pendidikan, adil itu seimbang antara ilmu umum dan ilmu agama di
mana ilmu agama adalah sub-sistem dari sistem pendidikan nasional.

BAB III
PERBANDINGAN ANTARA KEDUA BUKU

A. Kelemahan Buku
Buku Filsafat Pendidikan dari Edward Purba memiliki cover buku yang
berwarna cerah tetapi sederhana, yang membuat rasa ingin tahu pembaca
buku tertarik untuk melihat dan membacanya, sedangkan buku dari Prof. Dr.
H. Jalaluddin memiliki cover buku yang berwarna kusam yang membuat daya
tarik pembaca yang baru pertama melihatnya buku dari Prof. Dr. H. Jalaluddin
mengurangi minat orang yang pertama melihat bukunya.
Buku dari Edward Purba sedikit member latihan di akhir pembahasan
sehingga sedikit sulit untuk memahami isinya jika tidak ada bimbingan dari
Dosen Pembimbing, buku dari Jalaluddin memberi banyak latihan sehingga
membuat pembacanya lebih mengerti dari tiap-tiap materi yang diberikan.

FILSAFAT PENDIDIKAN 24
B. Kelebihan Buku
Buku Edward Purba sangat detail dan banyak memberikan contoh-contoh
dari materi yang di bahas, misalnya di awal materi Buku Edward Purba
memberi standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator agar
mahasiswa tahu inti dari materi yang di jelaskan.
Buku Edward Purba tidak terlalu menonjolkan ilmu Filsafat dalam materi
yang terlalu keagamaan, sedangkan buku dari Jalaluddin terlalu menonjolkan
keagamaan dari agama tertentu dari sebagian besar materi yang ia berikan,
hal ini akan menimbulkan rasa dari pembaca yang berbeda agama malas
untuk lanjut membacanya, karena terkadang sebagian orang tidak suka untuk
mempelajari apa yang diajarkan agama lain.

C. Perbandingan Kedua Buku

Buku filsafat dari Edward Purba mempunyai tampilan yang lebih


menarik, yang membuat rasa penasaran dari calon pembaca.
Kedua buku memberi materi yang mudah untuk dipahami pembacanya,akan
tetapi buku Jalaluddin lebih banyak memberikan latihan –latihan daripada
buku Edward Purba, akan tetapi Buku dari Edward Purba memberi materi
dengan sangat detail dan banyak contoh-contoh materi yang membuat
pembaca lebih mudah untuk memahaminya.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Bahwa filsafat pendidikan adalah aktivittas pemikiran teratur yang
menjadikan filsafat sebagai medianya untuk menyusun proses pendidikan,
menyelaraskan, mengharmoniskan, dan menerangkan nilai-nilai dan tujuan
yang ingin dicapai. Filsafat pendidikan mempunyai tiga cabang utama yaitu
ontologi, espistomologi, dan aksiologi. Filsafat penddikan memiliki ruang

FILSAFAT PENDIDIKAN 25
lingkup maupun tujuannya. Praktek pelaksanaan pendidikan harus
berlandaskan nilai dan budaya jangan mengarah pada terbentuknya
pengelompokkan praktek hidup dan kehidupan masyarakat. Kedudukan
filsafat pendidikan dalam jajaran ilmu pendidikan adalah sebagai bagian
fondasi-fondasi pendidikan dan filsafat pendidikan mempunyai peranan yang
sangat penting dalam suatu sistem pendidikan, karena filsafat merupakan
pemberi arah dan pedoman dasar bagi usaha – usaha perbaikan,
meningkatkan kemajuan dan landasan kokoh bagi tegaknya sistem
pendidikan.
B. Saran
Menurut saya, cover buku sangatlah penting untuk menarik minat calon
pembaca, ketika calon pembaca kurang suka membaca buku, hal utama yang
dilihat pembaca yang malas adalah tampilan buku. Karena akan percuma jika
isi buku itu sangat lengkap tapi daya tarik untuk menimbulkan minat pembaca
untuk membaca buku tersebut kurang, pembaca yang malas tidak akan
membaca buku yang tampilannya kurang bagus, dan lebih memilih membaca
buku dengan tampilan bagus walaupun isi dari buku tersebut kurang lengkap.

FILSAFAT PENDIDIKAN 26
DAFTAR PUSTAKA

 Purba, Edward dan Yusnadi. 2015. Filsafat Pendidikan. Medan : Unimed Press.
 Jalaluddin dan Abdullah Idi. 2014. Filsafat Pendidikan. Jakarta : PT
Rajagrafindo Persada.

FILSAFAT PENDIDIKAN 27

Anda mungkin juga menyukai