Anda di halaman 1dari 20

1

I. JUDUL:
MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI
PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IX SMP
NEGERI 8 PAREPARE

II. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ketika kita memperhatikan pendidikan yang ada sekarang ini masih sangat

banyak hal-hal yang perlu ditingkatkan, baik itu dari segi sarana prasarana yang

menunjang proses pendidikan, kualitas para pendidik, dan juga hasil dari pendidikan

itu sendiri. Tak bisa dipungkiri bahwa pendidikan memberikan pengaruh yang sangat

besar di dalam kehidupan. Seperti halnya pendidikan dalam hal belajar matematika,

kita menyadari betul betapa pentingnya pelajaran matematika. Hampir di setiap

pelajaran/bahkan semua pelajaran tentunya terkait dengan matematika, bahkan di

dalam kehidupan sehari-hari kita, matematika kerap kita jumpai, contohnya saja

dalam hal jual-beli, dalam hal pembangunan rumah (yang menghitung luas rumah

yang akan dibangun) dan masih banyak lagi hal lainnya. Dan tak kalah pentingnya,

dengan belajar matematika, seseorang tidak hanya dapat menyelesaikan hal-hal yang

berupa angka/bersifat kuantitatif tetapi juga hal-hal lainnya yang dihadapi (setiap

permasalahan yang dihadapi di dalam kehidupan ini dapat diselesaikan dengan

pemikiran yang logis).

Pada kenyataannya pencapaian hasil belajar matematika pada siswa-siswa

belum sepenuhnya tercapai. Hal ini disebabkan beberapa masalah yang menghambat

proses pembelajaran, salah satu penyebabnya ialah siswa kurang aktif (misalnya

mengajukan pertanyaan) dalam proses pembelajaran, yang menyebabkan sebagian


2

siswa tidak memahami pelajarannya. Hal ini pun memberikan dampak buruk, seperti

dalam hal mengerjakan tugas, beberapa siswa tidak mengerjakan tugasnya secara

mandiri, melainkan dengan saling menyotek (siswa lebih mementingkan hasil yang

akan didapatkan tanpa mempedulikan bagaimana proses mendapatkannya). Pada

pembelajaran matematika yang dilaksanakan pada siswa kelas IX SMP Negeri 8

Parepare, hasil yang ditunjukkan kurang maksimal. Hal ini ditunjukkan dari salah

satu data nilai ulangan harian yang menunjukkan nilai rata-rata siswa belum

mencapai nilai KKM yang ditetapkan yaitu 65, di mana nilai rata-rata murid hanya

63. Dengan demikian diperlukan upaya-upaya untuk lebih meningkatkan hasil

belajar matematikanya.

Dengan demikian dalam penelitian ini, untuk meningkatkan hasil belajar

matematika siswa kelas IX SMP Negeri 8 Parepare maka peneliti menggunakan

pendekatan kontekstual atau lebih dikenal dengan CTL (Contextual Teaching and

Learning). Pendekatan kontekstual atau CTL melibatkan para siswa dalam aktivitas

penting yang membantu mereka mengaitkan pelajaran akdemis dengan konteks

kehidupan nyata yang mereka hadapi. Penemuan makna adalah ciri utama dari CTL.

Di dalam kamus ‘makna’ diartikan sebagai ‘arti penting dari sesuatu yang dimaksud’

(Alwasilah, A Chaedar, 2006: 35). Ketika diminta untuk mempelajari sesuatu yang

tak bermakna, para siswa biasanya bertanya, “mengapa kami harus mempelajari ini?”

wajar sekali jika mereka mencari makna, arti penting dan maksud, serta manfaat dari

tugas sekolah yang mereka terima. Ilmu saraf memastikan adanya kebutuhan otak

untuk menemukan makna. Otak berusaha memberi arti bagi suatu informasi baru

dengan cara menghubungkannya dengan pengetahuan dan keterampilan yang sudah


3

ada. Karena otak terus-menerus mencari makna dan menyimpan hal-hal yang

bermakna, proses belajar harus melibatkan para siswa dalam pencarian makna.

Proses belajar harus memungkinkan para siswa memahami arti pelajaran yang

mereka pelajari.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka yang menjadi persamasalahan

adalah:

1. Apakah yang dimaksud hakikat belajar matematika?

2. Teori-teori apa sajakah yang mendukung pendekatan kontekstual?

3. Bagaimanakah kaitan antara pendekatan kontekstual dengan pembelajaran

matematika?

4. Bagaimanakah penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran

matematika?

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah:

1. Agar kita dapat menjelaskan maksud dari hakikat belajara matematika.

2. Agar kita dapat menyebutkan teori-teori yang mendukung pendekatan

kontekstual.

3. Agar kita dapat mengaitkan antara pendekatan kontekstual dengan pembelajaran

matematika.

4. Agar kita dapat menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran

matematika.
4

III. PEMBAHASAN

A. Hakikat Belajar Matematika

Sebelum membahas tentang hakikat dari belajar matematika, terlebih dahulu

perlu dipahami makna dari belajar dan bagaimanakah matematika itu sendiri. Disini

akan dijelaskan beberapa defenisi dari belajar, sebagai berikut:

1. Menurut Slameto belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu

untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan

sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksinya dengan

lingkungannya.

2. Menurut Sudjana belajar adalah suatu perubahan yang relative permanent dalam

suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan.

3. Menurut Winkel, belajar adalah suatu aktifitas mental/ psikis yang berlangsung

dalam interaksi dengan lingkungan yang menghasilkan pengetahuan,

ketrampilan, nilai dan sikap serta perubahan relative konstan dan berbekas.

4. Menurut Usman, belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada

diri individu berkat adanya interaksi individu dengan individu dan individu

dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan

lingkungannya. Lebih lanjut Usman mengungkapkan bahwa mengajar pada

prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Dapat

pula dikatakan bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi

lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran

sehingga menimbulkan terjadinya proses belajar pada diri siswa.


5

Jadi berdasarkan definisi belajar di atas dapat dirumuskan definisi belajar

yaitu proses yang dilalui individu untuk mengusahakan adanya/terciptanya

perubahan yang lebih baik, seperti perubahan dalam pengetahuan, tingkah laku dan

perubahan dalam bentuk lainnya. Hakikat proses belajar mengajar adalah dimana

belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya

tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan,

keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme/ pribadi,

intinya hakikat dari belajar adalah perubahan. Ada empat pilar pembelajaran yang

perlu diketahui:

1. Learning to know/ learning to learn, mengandung pengertian bahwa belajar itu

pada dasarnya tidak hanya berorientasi kepada produk/ hasil belajar, akan tetapi

juga berorientasi kepada proses belajar.

2. Learning to do, belajar itu bukan hanya sekedar mendengar dan melihat dengan

tujuan akumulasi pengetahuan, akan tetapi belajar untuk berbuat dengan tujuan

akhir penguasaan kompetensi yang sangat diperlukan dalam era persaingan

global/ pembelajaran berorientasi pada pengalaman.

3. Learning to be, belajar adalah membentuk manusia yang “menjadi diri sendiri”,

belajar untuk mengaktualisasikan dirinya sendiri sebagai individu dengan

kepribadian yang memiliki tanggung jawab sebagai manusia.

4. Learning to live together adalah belajar untuk bekerja sama.

Sedangkan Matematika merupakan ilmu yang mendidik manusia untuk

berpikir logis, teoritis, rasional, dan percaya diri, sehingga matematika merupakan

dasar ilmu pengetahuan yang lain. Oleh karena itu matematika harus dikuasai oleh
6

segenap warga negara sebagai sarana untuk memecahkan masalah sehari-hari,

sehingga mereka mampu bertahan di era globalisasi dan tekhnologi maju di saat

sekarang ini maupun yang akan datang (Abdurrahman). Hakikat dari belajar

matematika yaitu matematika timbul karena pikiran-pikiran manusia berhubungan

dengan ide dan penalaran. Ide-ide yang dihasilkan oleh pikiran-pikiran manusia itu

merupakan sistem-sistem yang bersifat untuk menggambarkan konsep-konsep

abstrak, dimana masing-masing sistem bersifat deduktif sehingga berlaku umum

dalam menyelesaikan masalah.

B. Teori-teori yang Mendukung Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual pertama kali diusulkan oleh John Dewey untuk

diterapkan di kelas-kelas Amerika Serikat pada awal abad ke-20 yakni pada tahun

1916. Jonh Dewey (Marwati Abd. Malik, 2010: 34) merumuskan suatu kurikulum

dengan metode pengajaran yang dikaitkan dengan minat dan pengalaman siswa.

Pendekatan kontekstual mengakui bahwa belajar merupakan sesuatu yang kompleks

dan multidimensi yang jauh melampaui berbagai metodologi yang hanya berorientasi

kepada latihan/tanggapan. Berdasarkan teori pendekatan kontekstual, belajar hanya

terjadi jika siswa memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa

sehingga dirasakan masuk akal dan sesuai dengan kerangka berpikir yang

dimilikinya (ingatan, pengalaman dan tanggapan).

Berikut ini beberapa teori yang melandasi pendekatan kontekstual:

1. Knowledge-Based Constructivism, menekankan kepada pentingnya siswa

membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif dalam proses

pembelajaran.
7

2. Effort-Based Learning/Incremental Theory of Intelligence, bekerja keras untuk

mencapai tujuan belajar akan memotivasi seseorang untuk terlibat dalam

kegiatan dengan komitmen untuk belajar.

3. Socialization, menekankan bahwa belajar merupakan proses sosial yang

menentukan tujuan belajar. Oleh karenanya, faktor sosial dan budaya perlu

diperhatikan selama perencanaan pengajaran.

4. Situated Learning, pengetahuan dan pembelajaran harus dikondisikan dalam

fisik tertentu dan konteks social (masyarakat, rumah, dsb) dalam mencapai

tujuan belajar.

Sesuai dengan asumsi yang mendasarinya, bahwa pengetahuan itu diperoleh

anak bukan dari informasi yang diberikan oleh orang lain termasuk guru, akan tetapi

dari proses menemukan dan mengkonstruksinya sendiri, maka guru harus

menghindari mengajar sebagai proses penyampaian informasi. Guru perlu

memandang siswa sebagai subjek belajar dengan segala keunikannya. Siswa adalah

organisme yang aktif yang memiliki potensi untuk membangun pengetahuannya

sendiri. Kalaupun guru memberikan informasi kepada siswa, guru harus memberikan

kesempatan untuk menggali informasi itu agar lebih bermakna untuk kehidupan

mereka.

Berikut ini akan dijelaskan tentang kelebihan dan kelemahan pendekatan

kontekstual. Adapun kelebihan pendekatan kontekstual diantaranya:

1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk

dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan

kehidupan nyata.
8

2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep

kepada siswa karena metode pendekatan CTL menganut aliran konstruktivisme.

3. Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami

suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif.

4. Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.

5. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.

6. Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.

7. Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.

8. Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.

Adapun kelemahan dari pendekatan kontekstual diantaranya:

1. Guru lebih intensif dalam membimbing karena dalam metode CTL. Guru tidak

lagi berperan sebagai pusat informasi.

2. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam proses

pembelajaran.

3. Dalam proses pembelajaran dengan pendekatan CTL akan nampak jelas antara

siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan

kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang

kurang kemampuannya.

4. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan

kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan pendekatan CTL ini.


9

Adapun langkah-langkah penerapan kontekstual (CTL) dalam kelas adalah

sebagi berikut:

1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara

bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan

dan keterampilan barunya.

2. Melaksanakan kegiatan inkuiri untuk semua topik.

3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.

4. Ciptakan ‘masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok).

5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.

6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan.

7. Lakukan penilaian sebenarnya dengan berbagai cara.

C. Kaitan antara Pendekatan Kontekstual dengan Pembelajaran


Matematika

1. Pendekatan Kontekstual

Pendekatan kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)

merupakan pendekatan yang melibatkan siswa secara penuh dalam proses

pembelajaran. Siswa didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pelajaran sesuai

dengan topik yang akan dipelajarinya. Belajar dengan CTL bukan hanya sekedar

mendengarkan dan mencatat, tetapi belajar adalah proses berpengalaman secara

langsung. Melalui proses berpengalaman itu diharapkan perkembangan siswa terjadi

secara utuh, yang tidak hanya berkembang dalam aspek kognitif saja, tetapi juga

aspek afektif dan juga psikomotor.


10

Konsep dasar pendekatan kontekstual (CTL) adalah suatu pendekatan yang

menekankan pada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan

materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata

sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dari konsep tersebut ada 3 hal yg perlu dipahami:

Pertama, CTL menekankan pada proses keterlibatan siswa untuk menemukan

materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara

langsung. Dalam CTL, bukan hanya siswa menerima pelajaran, namun proses

mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran.

Kedua, CTL mendorong agar siswa dapat menemukan hubungan antara

materi yang dipelajarinya dengan situasi kehidupan nyata, artinya siswa dituntut

untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan

kehidupan nyata.

Ketiga, CTL mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan,

artinya bukan hanya mengharapkan siswa dapat memahami materi yang

dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai

perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.

CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 asas atau disebut

komponen-komponen CTL:

a. Konstruktivisme (Constructivism)

Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru

dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Menurut konstruktivisme,

pengetahuan itu memang berasal dari luar, akan tetapi dikonstruksi oleh dan dari
11

dalam diri seseorang. Dengan demikian pengetahuan itu tidak bersifat statis tetapi

bersifat dinamis, tergantung individu yang melihat dan mengkostruksinya.

b. Menemukan (Inquiry)

Artinya, proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan

melalui proses berpikir secara sistematis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil

dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Berikut ini Siklus

Inquiri:

1) Observasi (observation)

2) Bertanya (Questioning)

3) Mengajukan dugaan (Hypothesis)

4) Pengumpulan data (Data Gathering)

5) Penyimpulan (Conclusion)

c. Bertanya (questioning)

Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya

dapat dipandang sebagai refleksi keingintahuan setiap individu, sedangkan menjawab

pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berpikir. Dalam suatu

pembelajaran yang produktif kegiatan bertanya akan sangat berguna untuk:

1) Menggali informasi tetang kemampuan siswa dalam penguasaan materi

2) Membangkitkan motivasi siswa untuk belajar

3) Merangsang keingintahuan siswa terhadap sesuatu

4) Menfokuskan siswa pada sesuatu yang diinginkan

5) Membimbing siswa untuk menemukan atau menyimpulkan sesuatu.


12

d. Masyarakat belajar (Learning Community)

Leo Semenovich Vygotsky (Alwasilah, A Chaedar, 2006: 267), seorang

psikologi Rusia, menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak ditopang

banyak oleh komunikasi dengan orang lain. Konsep masyarakat belajar (LC) dalam

CTL menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerja sama dengan

orang lain. Kerja sama itu dapat dilakukan dalam berbagai bentuk baik dalam

kelompok belajar secara formal maupun dalam lingkungan yang terjadi secara

alamiah.

e. Pemodelan (Modeling)

Asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu

sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan

contoh bagaiman cara mengoperasikan sebuah alat dan sebagainya. Proses modeling

tidak terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang

dianggap memiliki kemampuan.

f. Refleksi (Reflection)

Refeksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke

belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Diakhir

pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi

berupa:

1) Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya pada hari itu

2) Catatan atau jurnal di buku siswa

3) Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu

4) Diskusi
13

5) Hasil karya

g. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)

Dalam CTL, keberhasilan pembelajaran tidak hanya ditentukan oleh

perkembangan kemampuan intelektual saja, akan tetapi perkembangan seluruh

aspek. Oleh karena itu, penilaian keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh aspek

hasil belajar seperti hasi tes, tetapi juga proses belajar melalui penilaian nyata.

Penialai nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan

informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian ini

diperlukan untuk mengetahui apakah siswa benar-benar belajar atau tidak. Penilaian

ini dilakukan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung.

Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak

akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih

bermakna jika ‘anak mengalami' apa yang dipelajarinya, bukan 'mengetahui'-nya.

Pembelajaran yang berorieritasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam

kompetisi 'mengingat' jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak

memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Dan itulah yang terjadi

pada kebanyakan sekolah-sekolah. Dengan konsep CTL ini hasil pembelajaran

diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah

dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan

dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam

kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.

Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi

informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama
14

untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru

(baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari 'menemukan sendiri', bukan dari

'apa kata guru'.

2. Pembelajaran Matematika di Sekolah

Sebelumnya telah dijelaskan definisi matematika sebagai suatu ilmu,

matematika yang diajarkan di jenjang persekolahan adalah unsur-unsur atau bagian-

bagian dari matematika yang dipilih berdasarkan atau berorientasi kepada

kepentingan pendidikan dan perkembangan IPTEK. Hal tersebut menunjukkan

bahwa matematika tidak sepenuhnya sama dengan matematika sebagai ilmu.

Dikatakan tidak sepenuhnya sama karena memiliki perbedaan antara lain:

a. Penyajian Matematika Sekolah

Penyajian atau pengungkapan butir-butir matematika yang akan disampaikan

disesuaikan dengan prakiraan perkembangan intelektual peserta didik. Mungkin

dengan mengaitkan butir yang akan disampaikan dengan realitas disekitar siswa atau

disesuaikan dengan pemakaiannya.

b. Pola Pikir Matematika Sekolah

Telah diketahui bahwa pola pikir matematika bersifat deduktif, sifat atau

teorema yang ditemukan secara induktif ataupun empirik harus kemudian dibuktikan

kebenarannya dengan langkah-langkah deduktif sesuai dengan strukturnya. Tidak

demikian halnya dengan matematika sekolah. Meskipun siswa pada akhirnya

diharapkan mampu berpikir deduktif, namun dalam proses pembelajarannya dapat

digunakan pola pikir induktif. Pola pikir yang digunakan dimaksudkan untuk

menyesuaikan dengan tahap perkembangan intelektual siswa.


15

c. Keterbatasan Semesta

Dengan memperhatikan aspek kependidikan maka dapat terjadi

penyederhanaan dari konsep matematika yang kompleks. Pengertian semesta

pembicaraan tetap diperlukan, namun seringkali dipersempit. Selanjutnya, semakin

meningkat usia siswa, yang berarti meningkat juga tahap perkembangannya, maka

semesta itu dapat diperluas.

d. Tingkat Keabstrakan Matematika Sekolah

Sifat abstrak objek matematika tetap ada pada matematika sekolah. hal itu

merupakan salah satu penyebab sulitnya seorang guru mengajarkan matematika

sekolah. Seorang guru matematika harus berusaha untuk mengurangi sifat abstrak

dari objek kajian sehingga memudahkan siswa menangkap pelajaran, guru harus

mengusahakan agar fakta, konsep, operasi, ataupun prinsip dalam matematika itu

terlihat konkret.

Menurut Soedjadi (2000: 40) tujuan diberikannya pembelajaran matematika

di sekolah pada umumnya adalah:

a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam

kehidupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas

dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.

b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir

matematika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu

pengetahuan.

Dari pendejalasan di atas dapat dikaitkan antara pendekatan kontekstual dengan

pembelajaran matematika, yaitu dengan menerapkan pendekatan kontekstual dalam


16

pembelajaran matematika maka tujuan dari pembelajaran matematika (khususnya di

sekolah) dapat tercapai, dimana dengan pendekatan kontekstual siswa dapat

mengatasi permasalahan yang dihadapinya di dalam kehidupan.

D. Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika

Ada lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pendekatan

kontekstual dalam pembelajaran yang disingkat REACT, yaitu:

1. Relating, belajar dikaitkan dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.

2. Experiencing, belajar ditekankan pada penggalian (eksplorasi), penemuan

(discovery) dan penciptaan (invention).

3. Applying, menerapkan pengetahuan sesuai dengan konteks pemanfaatannya.

4. Cooperating, belajar melalui konteks komunikasi interpersonal, pemakaian

bersama dan sebagainya.

5. Transfering, belajar melalui pemanfaatan pengetahuan di dalam situasi atau

konteks baru.

Adapun hal-hal yang harus diperhatikan guru jika menggunakan pendekatan

kontekstual (CTL) sbb:

1. Siswa dalam pembelajaran kontekstual sebagai individu yang sedang

berkembang.

2. Setiap anak memiliki kecenderungan untuk belajar hal-hal yang baru dan penuh

tantangan.

3. Belajar bagi siswa adalah proses mencari keterkaitan atau keterkaitan hubungan

antara hal-hal yang baru dengan hal-hal yang sudah diketahui.


17

Belajar bagi anak adalah proses menyempurnakan skema yang telah

ada/proses pembentukan skema baru, dengan demikian tugas guru adalah

memfasilitasi (fasilitator).

Untuk mencapai kompetensi yang sama dengan menggunakan CTL, guru

melakukan langkah-langkah pembelajaran seperti dibawah ini:

1. Pendahuluan

a. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses

pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.

b. Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL:

1) Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah siswa.

2) Tiap kelompok ditugaskan untuk menyelesaikan tugas yang diberikan sesuai

dengan hasil pengamatan mereka (observasi), misalnya mengenai bangun-

bangun datar yang sebangun dan kongruen.

3) Melalui observasi siswa ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang

ditemukan.

c. Gurur melakukan Tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap

kelompok.

2. Inti

a. Siswa melakukan pengamatan di dalam kelas sesuai dengan pembagian tugas

kelompok.

b. Siwa mencatat hasil observasi mereka.

c. Siswa mendiskusikan hasil pengamatan mereka sesuai dengan kelompoknya

masing-masing.
18

d. Siswa melaporkan hasil diskusi.

e. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain.

3. Penutup

a. Dengan bantuan guru siswa menyimpulkan hasil pengamatan sekitar masalah

bangun-bangun datar yang sebangun dan kongruen sesuai dengan indikator hasil

belajar yang harus dicapai.

b. Guru menugaskan siswa untuk membuat karangan tentang materi ajar yang baru

dipelajari.
19

IV. PENUTUP

A. Kesimpulan

Pendekatan kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL)

merupakan pendekatan pembelajaran yang berpusat kepada siswa, dimana

pengetahuan yang diperoleh didapatkan dari penemuan siswa sendiri dengan

menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, yang kemudian

pengetahuan tersebut dapat mereka terapkan di dalam kehidupan nyata. Ada tujuh

komponen CTL; yaitu konstruktivisme, inquiry, questioning, learning community,

modeling, reflection, authentic assessment.

Dengan menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran

matematika, siswa belajar lebih bermakna dengan cara menemukan sendiri, sehingga

pengetahuan yang diperolehnya tidak mudah dilupakan dengan demikian diharapkan

hasil belajar matematika siswa meningkat.

B. Saran

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan dalam makalah ini, maka

penyusun mengajukan saran sebagai berikut:

1. Dalam menerapkan pendekatan kontekstual, perlu dilaksanakan sesuai dengan

langkah-langkah pendekatan kontekstual dalam pembelajaran.

2. Diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai pendekatan

kontekstual sampai pada makalah ini saja, namun perlu menambah refrensi lain.
20