Anda di halaman 1dari 15

I.

PENGANTAR
Kata Pengantar
Puji Syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat
serta karuniaNya saya dapat menyelesaikan Tugas ini sebagaimana kemampuan yang saya
miliki. Saya sangat berharap tugas ini dapat berguna sebagai penambah wawasan serta
pengetahuan mengenai Mata kuliah MEKANIKA BAHAN. Saya juga menyadari bahwa di
dalam tugas ini terdapat kekurangan-kekurangan dan jauh dari apa yang saya harapkan.
Untuk itu, saya berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan
datang, mengingat bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa sarana yang membangun.
Semoga tugas ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya tugas
ini dapat berguna bagi saya sendiri maupun orang yang membacanya. Akhir kata semoga
tugas ini dapat memberikan mafaaat kepada kita sekalian.

Medan, Maret 2016

Hugo S. V. Pasaribu
Nim : 5163210022

1
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ilmu pengetahuan selalu berkembang dan mengalami kemajuan yang sangat pesat, sesuai
dengan perkembangan zaman dan perkembanan cara berpikir manusia. Bangsa indonesia sebagaib
salah satu negara berkembang tidak akan bisa maju selama belum memperbaiki kualitas sumber daya
manusia bangsa kita. Kualitas hidup bangsa dapat meningkat jika ditunjang dengan sistem pendidikan
yang mapan. Dengan sistem pendidikan yang mapan, memungkinkan kita berpikir kritis, kreatif dan
produktif.
Dalam UUD 1945 disebutkan bahwa negara kita ingin mewujudkan masyarakat yang cerdas.
Untuk mencapai bangsa yang cerdas, harus terbentuk masyarakat belajar. Melalui critical book jurnal
ini diharapkan pembaca dapat memahami maksud daripada penulis
Maksud utama mempelajari mekanika teknik dan kekuatan bahan adalah untuk memperoleh
pengetahuan dasar yang dibutuhkan agar bisa merancang bagian-bagian mesin dan batang struktur,
bagian-bagian dan sambungan-sambungan dengan baik. Hampir semua materi yang diajarkan di
peguruan tinggi tentang kekuatan bahan telah dicakup dalam sebuah ilmu bagian teknik terutama
bagian Teknik Sipil.

Tujuan & Manfaat


Tujuan dan Manfaat dari pembuatan CBR(Critical Book Review) adalah :
1. Mampu dan dapat membandingkan beberapa jenis bab dalam buku yang berbeda
2. Mampu mengkritik beberapa jenis bab dalam suatu buku yang berbeda
3. Mampu melihat kekurangan dan kelebihan dari beberapa jenis bab dalam suatu buku yang berbeda
4. Dapat lebih memahami Materi seputar Kekuatan bahan terapan lebih banyak lagi
5. Sebagai salah satu tugas dalam mata kuliah Mekanika Bahan.

2
BAB II
RINGKASAN ISI BUKU
Identitas Buku :
Judul buku : Kekuatan Bahan Terapan( Applied Strength of Materials)
Penulis : Jensen/Chenoweth
Alih Bahasa : Darwin Sebayang
Penerbit : ERLANGGA dengan huruf PR-10-M
Banyak halaman : 333 halaman

2.1 TEGANGAN REGANGAN


Tegangan didefenisikan sebagai tahanan gaya-gaya luar. Ini diukur dalam bentuk gaya yang
ditimbulkan per satuan luas. Dalam praktek teknik, gaya umunya diberikan dalam pound atau
newton, dan luas yang menahan dalam inci persegi atau milimeter persegi. Akibatnya tegangan
biasanya dinyatakan dalam pound per inci persegi, yang sering disingkat menjadi psi, atau newton
per-milimeter persegi (Mpa). Lalu tegangan yang dihasilkan pada keseluruhan benda tergantung dari
gaya yang bekerja. Dalam praktek, kata “tegangan” sering memberikan 2 pengertian : (1) gaya per
satuan luas, atau intensitas tegangan, yang umumnya ditunjukkan sebagai tegangan satuan; dan (2)
gaya dalam total pada suatu batang tunggal, yang umunya dikatakan sebagai tegangan total. Bila kata
tegangan digunakan tersendiri, konteksnya harus menjelaskan mana dari kedua arti tersebut yang
dimaksudkan.
Tegangan-tegangan dasar
Hanya ada 2 tegangan dasar : (1) tegangan normal, yang selalu bekerja normal(tegak lurus)
terhadap permukaan yang mengalami tegangan yang sedang ditinjau; dan (2) tegangan geser, yang
bekerja sejajar terhadap permukaan yang mengalami tegangan. ( Tegangan normal bisa tarik atau
tekan). Tegangan –tegangan lainnya sama dengan tegangan dasar ini atau suatu kombinasi dari
keduanya. Sebagai contoh , tegangan pada suatu balok bengkok yang secara umum dikenal sebagai
“tegangan lentur” sesungguhnya adalah suatu kombinasi tegangan tarik, tekan, dan geser; tegangan
puntir, seperti dijumpai pada puntiran dari sebuah poros adalah tegangan geser.
Bila gaya-gaya luar yang bekerja pada suatu batang sejajar terhadap sumbu utamanya dan
potongan penampang batang tersebut konstan, atau secara substansial memang demikian, tegangan
dalam yang dihasilkan adalah sejajar terhadap sumbu tersebut. Gaya-gaya seperti itu disebut gaya
aksial, dan tegangan yang timbul dikenal sebagai tegangan aksial.
Tegangan Tarik (Tensile Stress). Apabila sepasang gaya tarik aksial menarik suatu batang,
dan akibatnya batang ini cenderung menjadi meregang atau bertambah panjang, maka gaya tersebut
dinamakan gaya tarik, dan gaya-gaya tersebut menghasilkan tegangan tarik dalam (internal) aksial
pada batan di suatu bidang yang terletak tegak lurus atau normal terhadap sumbunya.

3
Tegangan Tekan. Bila sepasang gaya aksial menekan suatu batang dan akibatnya cenderung
untuk memperpendek atau menekan batang tersebut, gaya ini disebut gaya tekan dan menghasilkan
tegangan-tegangan tekan dalam aksial batang di suatu bidang yang tegak lurus atau normal terhadap
sumbunya. Contohnya suatu tiang pendek menahan beban aksial P pada punyaknya, yang tentunya
diimbangi oleh gaya reaksi P pada dasar. Bila suatu bagian dipotong dari tiang ini, tegangan tekan-
dalam terlihat, tegangan tekan pada kedua ujung tiang lainnya sama halnya pada bagian yang diambil.
Yang terletak normal terhadap arah tegangan. Pada umunya bidang ini adalah luas potongan
penampang dari batang yang mengalami tegangan, dan tegangan dianggap terdistribusi serbasama di
sepanjang luas.
Tegangan Geser. Tipe tegangan ini berbeda dari tegangan tarik dan tegangan-tegangan tekan,
di mana bidang yang mengalami tegangan (bidang geser) lebih banyak sejajar dengan arah tegangan
dari pada tegak lurus terhadapnya, seperti pada kasus tegangan tarik dan tekan.
Tegangan Dukung. Tegangan tekan yang terjadi pada suatu permukaan luar (eksternal) dari
suatu benda misalnya, bila salah satu benda menekan benda lainnya, dinyatakan sebagai tegangan
dukung.
Tegangan batas, ( Ultimate stress) atau kekuatan, didefenisikan sebagai tegangan satuan
terbesar suatu bahan yang dapat ditahan tanpa menimbulkan kerusakan. Pada perencanaan praktis
dari struktur dan mesin, tentunya kita tidak akan berusaha untuk menggunakan kekuatan penuh dari
suatu bahan sehubungan dengan alasan keselamatan.
Tegangan izin ( Allowable stress), yaitu bagian kekuatan batas yang bisa aman digunakan
pada perancangan. Istilah tegangan kerja dan tegangan kerja aman memberikan pengertian yang
sama dari keduanya digunakan secara luas. Tetapi istilah tegangan izin paling umum diterima dan
dipakai dalam teks ini.
Faktor keamanan ( factor of safety) adalah perbandingan tegangan “rusak” terhadap
tegangan izin. Kerusakan bisa berarti secara eksak, atau secara sederhana berarti perubahan bentuk
diluar batas. Pendekatan faktor keamanan untuk setiap perancangan yang diberikan tergantung pada
sejumlah pertimbangan diantaranya sebagai berikut:
1. Derajat keamanan yan dibutuhkan. Yaitu apakah berbahaya bagi kehidupan manusia dan
milik yang dipunyai?
2. Derajat ekonomi yang dikehendaki. Suatu kecenderungan yang akan ada, mengunakan suatu
bahan yang kuat dan mahal dengan persentase tinggi.
3. Ketergantungan bahan. Apakah keretakan mudah dideteksi? Adakah kelihatannya potongan-
potongan yang sama bersifat sama bila mengalami tegangan? Adakah bahan mnunjukkan
tanda-tanda bencana kerusakan? Bahan yang keras, rapuh akan rusak tanpa tanda-tanda;
bahan “lunak”, liat berubahn bentuk terlebih dahulu dan akibatnya memberikan tanda.
4. Kepermanenan perancangan. Faktor keamanan yang lebih rendah sering diizinkan pada
perancangan sementara.

4
5. Kondisi beban, apakah tetap, berubah-ubah, atau beban kejutan.
6. Ketepatan perkiraan dan penentuan beban-beban dan teangan-tegangan yang mungkin terjadi.
7. Kemudahan pencapaian bagian-bagian guna pengawasan dan pemeliharaan.
8. Kesukaran relatif dalam pencegahan kerusakan bahan seperti pembusukan kayu, berkaratnya
baja, pecahnya beton, dan sebagainya.

Satuan. Bila berhubungan dengan besaran-besaran seperti gaya, luas, volume, kita harus
menetapkan suatu sistem satuan dari besraan-besaran ini dan singkatan yang dapat diterima.
Singkatan dalam bahasa inggris diusulkan oleh American National Standards Institutes (ANSI). Kip
(singkatan dari kilopound) menyatakan 1000 lb. Pada sistem singkatan SI untuk satuan-satuan tidak
berhuruf besar kecuali satuan yang diturunkan dari suatu nama yang sesuai misalnya m (meter),
rad(radian), mm(milimeter), kecuali N (Newton) dan Pa (Pascal). Awalan M (mega), k(kilo), dan
m(mili).
1Mpa = 1000kPa = 1000 000 Pa dan 1000mm = 1m
Catatan bahwa koma tidak digunakan untuk memisahkan kelompok nol. Contoh lain adalah :
2 400 000 Pa dan 0,000 078 m
Kita dapat menulis besaran ini seperti 2,4 x 10^6 Pa atau 2,4Mpa dan 78,5 x 10^-6 m atau
0,0785mm.
Tegangan Langsung
Tipe tegangan yang diterangkan pada pasal terdahulu sering dinyatakan sebagai tegangan
langsung, dalam rangka membedakannya dari puntir, lentur, dan tegangan-trgangan lain. Pada kasus
yang sama, anggapan yang pantas dibuat bahwa intensitas tegangan adalah kira-kira sama pada semua
satuan luas yang mengalami tegangan. Yaitu tegangan satuan maksimum dan minimum tidak terlalu
berbeda dari tegangan rata-rata. Sementara anggapan ini pada beberapa contoh bisa tidak tepat dalam
tingkat perubahan, seperti contoh yang biasanya dikenal, maka perubahan yang layak dapat dibuat
secara tepat.
Dengan menggunakan anggapan diatas, sekarang kita bisa tetapkan suatu hubungan antara
intensitas tegangan rata-rata s yang dihasilkan oleh suatu gaya-luar P yang bekerja pada setiap luas
satuan A yang mengalami tegangan. Gaya-dalam total jelas dihasilkan dari tegangan satuan rata-rata
dan luas yang mengalamai tegangan yakni sA. Dan gaya dalam total sA ini harus sesuai dengan
hukum kesetimbangan yang sama dengan gaya-luar P, yang dihasilkan, mengingat kedua gaya adalah
kolinier. Akibatnya,
𝑃
S = 𝐴 atau P = Sa

5
Dimana s = tegangan satuan rata-rata, psi atau Mpa
P = gaya-gaya total atau beban, Ib atau N
A = luas yang mengalami tegangan-tegangan in², atau mm².’

Regangan didefenisikan sebagai perubahan bentuk, walaupun demikian kata-kata ini sering
digunakan oleh seseorang awam untuk merancang gaya yang menghasilkan perubahan bentuk dalam
suatu benda. Misalnya dalam suatu pernyataan seperti “kereta api bergerak cepat sehingga jembatan
mengalami suatu regangan yang mengerikan,” kata regangan, secara tidak diragukan, digunakan
quntuk mengartikan gaya daripada perubahan bentuk, menginat pada kasus yang ditinjau, gaya dapat
“mengerikan”. Sementara regangan atau perubahan bentuk sesungguhnya sangat kecil. Semua bagian
bahan-bahan yang mengalami gaya-gaya luar, dan selanjutnya tegangan dalam akan mejalani
perubahan bentuk (mengalami regangan). Misalnya disepanjang batang yang mengalami suatu beban
tarik aksial akan teregang atau diperpanjang, sementara suatu kolom yang menopang suatu beban
aksial akan tertekan atau diperpendek. Perubahan bentuk total (total deformation) yang dihasilkan
suatu batang dinyatakan dalam huruf Yunani yakni delta(δ). Jika panjang batang adalah L, perubahan
bentuk per satuan panjang dinyatakan dengan huruf Yunani yakni epsilon (ε).
𝑝𝑒𝑟𝑢𝑏𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 𝛿
Perubahan bentuk satuan = 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔
atau ε = 𝐿

Besarnya perubahan bentuk total δ dan panjang L, umunya diberikan dalam in. Akibatnya
perubahan untuk satuan ε dalam inci per-inci (atau milimeter per milimeter). Lalu nyatalah bahwa
besarnya perubahan bentuk satuan tidak memiliki satuan matematis mengingat inci per inci = 1. Pada
suatu batang lurus sempurna dari suatu bahan homogen dan berpotongan penampang konstan, ε akan
mengalami perubahan bentuk satuan yang aktual. Mengingat kesempurnaan tidak ada, kita harus
sadar bahwa dalam praktek adalah perubahan bentuk satuan rata-rata. Besarnya perubahan bentuk
yang dihasilkan pada suatu batang tertentu akibat suatu gaya tertentu akan berubah sesuai dengan
kekakuan bahan batang. Pada beberapa contoh suatu perubahan bentuk yang ditinjau, tidak dapat
dilihat; sedang yang lainnya bahkan perubahan bentuk yang kecil sudah bisa memberikan hasil yang
serius. Mialnya suatu lendutan sebesar 150 mm dari suatu sayap pesawat terban 15 m pada kondisi
penerbangan tertentu masih bisa sesuai dengan yang diharapkan, sementara lendutan yang demikian
tinggi dari balok 15 m pada sebuah bangunan mungkin akan menyebabkan kerusakan. Juga ada mesin
presisi, dengan hanya perubahan bentuk yang kecil dari suatu bagian tertentu, dapat menyatakan
mesin tersebut tidak dapat dipakai.
Elasttisitas. Batas Elastik. Sifat penting lainnya dari bahan struktur yang telah berubah bentuk
oleh suatu gaya harus mampu kembali ke bentuk aslinya dengan sempurna, bila gaya dilepas. Bahan
yang mempunyai sifat ini dikatakan elastik. Konsep yang salah banyak terdapat berkenaan dengan
pengertian teknis elastisitas yang benar. Suatu bahan secara populer diperkirakan ‘elastis’, jika bahan
ini mampu menahan perubahan bentuk dengan presentase yang tinggi tanpa kerusakan. Sehingga

6
karet diperkirakan bakal elastik sekali. Tetapi berbicara secara teknis, suatu bahan hanya elastik jika
bahan mempunyai kemampuan untuk kembali ke bentuk asalnya, setelah gaya dilepas. Dengan
pengertian ini, baik baja dan kaca adalah elastik.
Contoh yang baik dari nilai sifat elastik baja penggunaannya ditemukan secara luas dari pegas
baja seperti : bandul dan pegas utama jam, pegas koil yang dipakai pada meubel dan tempat tidur serta
pegas roda pada mobil, dan pegas pad pintu yang secara otomatis menutup pintu setelah pintu terbuka.
Pada semua contoh ini prestasi fungsi pegas sesuai dengan yang diinginkan tergantung pada
diperolehnya bentuk asal secara sempurna setelah gaya dilepas. Apabila tidak bisa kembali ke bentuk
semula maka pegas tidak terpakai lagi. Tetapi agar sifat elastik bahan yang mempunyai kekuatan fisis
terbatas terpelihara, maka perubahan bentuk dan tegangan yang menyertai perubahan bentuk tersebut
harus tidak melampaui suatu batas tertentu. Batas itu dinyatakan sebagai batas elastik
(elastic limit) bahan tersebut. Suatu bahan yang mengalami tegangan-tegangan di luar batas
elastiknya, hanya sebagian bahan akan kembali ke bentuk asalnya, bergantung kesempurnaan
hilangnya gaya. Sisa perubahan bentuk dikatakan set permanen. Modulus elastisitas bahan, yang
dinyatakan dalam simbol E. Yaitu,
Tegangan satuan 𝑠
Modulus Elastisitas = perubahan bentuk satuan atau E= 𝜀

Suatu gaya geser mengakibatkan perubahan bentuk geser, gaya aksial yang menakibatkan
pemendekan atau pemanjangan batang. Perubahan bentuk geser membentuk sudut. Gaya geser F
menyebabkan bahan mengalami perubahan bentuk ke posisi garis titik-titik. Perubahan bentuk total
adalah δs, dan perubahan bentuk ini terjadi di sepanjang L. Perubahan bentuk per satuan panjang
adalah δs/L = tgɸ. Untuk sudut yang sangat kecil tangen sudut praktis sama dengan sudutnya, dan
dinyatakan dalam radian. Oleh karena itu regangan geser satuan adalah suut ɸ (huruf Yunani phi)
dalam radian.

7
2.2 MOMEN INERSIA
Momen Inersia I = ∑av²
Bila kita ingin defenisi praktis suku ini, maka kita bisa mengatakan bahwa momen inersia
luas potongan penampang balok prismatik adalah ukuran kekakuan balok, atau kemampuannya
menahan lentur. Bila I disubstitusikan ke dalam jumlah suku av² pada persamaan (g) kita dapatkan
I 𝑀𝑐
Rumus Lentur = M =s𝐶 atau s = 𝐼

Dimana : M = momen lentur pada penampang, biasanya dalam Ib-in atau N-mm
s = tegangan serat sejarak c dari sumbu netral, psi atau Mpa
I = momen inersia. In^4 atau mm^4
c = jarak dari sumbu netral ke tegangan serat s, in atau mm.
Kemudian momen inersia setiap lapisan adalah av² dan momen inersia semua luasan drai
lapisan tersebut adalah ∑av². Metode ini hanya merupakan metode pendekatan dan umumnya tidak
digunakan kecuali untuk bentuk luasan yang tidak teratur. Kesalahan penggunaan metode ini
berkurang apabila jumlah luasan n bertambah, dan menjadi tepat bila n takterhinga, di mana setiap
luasan sangat kecil, atau dA. Penurunan matematis yang tepat dari persamaan momen inersia luas
segitiga dan luasan lingkaran, dengan menggunakan kalkulus terlihat pada Apendiks B. apendiks B
juga memberikan penurunan rumus tepat untuk perpindahan yang digunakan untuk memperoleh
momen inersia luas komposit.
Momen Inersia Luasan
Untuk menentukan tegangan geser pada balok, maka suatu besaran harus ditentukan dengan
memasukkan momen pertama luasan Q, terhadap sumbu acuan, yaitu hasil kali luas dan jarak
tegaklurus ke sumbu titik berat luasan, sehingga Q= Aȳ. Sekarang, untuk menentukan tegangan lentur
pada batang dan juga pada perancangan kolom, maka besaran yang harus ditentukan meliputi momen
kedua luasan, biasanya disebut momen inersia dan di tandai dengan simbol I. Dengan acuan terhadap
acuan pada bidang luasan, momen kedua luasan. Atau momen inersia, adalah jumlah perkalian luas
elemen, masing-masing dikali dengan kuadrat jaraknya dari sumbu acuan ke titik berat. Dengan
demikian momen inersia adalah hasil luas keseluruhan di kali dengan harga rata-rata kuadrat jaraknya
dari sumbu acuan ke titik berat luas elemen. Bila jumlah luasan tertentu, I = ∑ay² dimana dari sini
persamaan momen inersia pendekatan bisa diperoleh.
Satua Momen inersia : Momen Inersia adalah perkalian luasan dan kuadrat jarak. Bila luasan
dalam inci kuadrat jarak dalam inci, hasilnya menjadi inci pengkat empat . sehingga (in²)(in²) = in^4.
Dengan cara yang sama, (mm²)(mm²) = mm^4. Satuan ini tidak mengandung konsep fisis.
Momen Inersia Luasan Sederhana
Momen inersia dari banyak luasan bentuk sederhana dapat ditentukan dengan menggunakan
kalkulus,. Luasan ini dan momen inersiannya umumnya dinyatakan dalam dimensi sederhana yang
secara lengkap mendefenisikannya. Terhadap sumbu sembarang, momen inersia luasan dengan

8
beberapa bagian dibuang sama dengan momen inersia luasan dikurangi momen inersia bagianj yang
telah dibuang.
𝑏ℎ³−𝑏1ℎ1³
Persegi panjang berongga Ix =
12

 (d4−d14)
Lingkaran berongga Ix = 64
\
𝑏ℎ³ 2𝑏1ℎ13
Penampang flens lebar = Ix = 12
- 12

Bila sumbu untuk luasan dan untuk bagian yang telah dibuang berimpit dan keduanya bertitik
berat, maka persamaan sederhana khusus yang memberikan momen inersia bisa dituliskan seperti
terlihat diatas. Kalau tidak metode umum yang dibahas pada pasal berikut ini harus digunakan.
Momen Inersia Luasan Komposit.
Pada struktur modern yang praktis, dan khususnya pada konstruksi pesawat terbang, relatif
beberapa bagian dengan potongan penampang luasan bentuk sederhana seperti persegi panjang atau
lingkaran digunakan untuk menahan lenturan. Tetapi banyak penampang dibentuk sehinga bentuknya
mudah dibai menjadi dua atau lebih luas komponen. Luas keseluruhan disebut luas komponen.
Momen Inersia Dan Jari-Jari Girasi Luasan Sederhana :
Contoh Persegi Panjang :
𝑏ℎ³ 𝑏ℎ³
Yc Momen Inersia : Ixc = Ix
12 3


h Xc Jari-jari girasi : kxc = = 0,289h
√12

X
b
Contoh Segitiga
𝑏ℎ³
Momen Inersia : Ixc = 36


h Jari-jari girasi : kxc = = 0,236ℎ
√18

Xc
X
b

9
2.3 TITIK BERAT PENAMPANG
Konsep titik berat lebih mudah dimengerti bila kita mula-mula meninjau
konsep pusat gravitasi pelat tipis dengan tevbal merata dan bahan yang homogen. Untuk menentukan
pusat pelat rata dengan bentuk tidak teratur tetapi tebalnya merata dan bahannya serba sama secara
sistematis maka pelat dibagi menjadi beberapa elemen kecil dengan ukuran yang sama. Bila berat
masing-masing elemen w, terpusat pada suatu elemen tersebut, sistem gaya sejajar tersebut di mana
resultantenya W, yaitu berat seluruh pelat, bekerja melalui pusat gravitasi pelat. Misalkan berat
elemen tersebut ditandai dengan w1, w2 dan seterusnya, dan koordinatnya, x1 dan y1, x2 dan y2, dan
seterusnya dan ambil koordinat resultan berat W adalah batang x dan y. Sekarang, terhadap titik
sembarang, akan momen resultan W sama dengan jumlah aljabar momen dari masing-masing berat.
Oleh sebab itu, momen terhadap O dalam bidang XZ.
Titik berat persegi panjang atau sembarang jajaran genjang terletak pada
perpotongan garis tengahnya. Titik ini juga merupakan perpotongan dua buah garis bagi (bisek) kedua
pasang sisi yang berlawanan. Kebenaran pernyataan itu bisa dijabarkan sebagai berikut : Misalkan
sebuah persegi panjan dibagi menjadi bagian kecil sejajar dengan 2 sisi yang berlawanan. Titik berat
masing-masing bagian terletak ditengah, titik berat seluruh bagian kecil yang sejajar akan terletak
pada garis bagi (bisek) kedua sisi yang berlawanan, dan titik berat seluruh luasan C akan terletak pada
perpotongan kedua garis bagi, yang merupakan titik tengah.
Titik berat segitiga terletak pada perpotongan garis tengahnya. Bila segitiga
dibagi menjadi bagian yang sangat kecil yang sejajar dengan alas, maka titik berat masing-masing
bagian terletak pada titik tengah, yaitu titik berat semua pelat sejajar akan terletak pada tengah-tengah
alas itu, dan titik berat C seluruh luasan terletak pada perpotongan ketiga garis tengah, pada jarak
sepertiga panjang garis tengah dari alas. Titik berat setengah lingkaran lebih mudah ditentukan
dengan integrasi, karena simetri, titik berat seperempat lingkaran dan setengah lingkaran terletak pada
jarak yang sama dari sumbu acuan X dan Y.
Titik Berat Luas Komposit. Luas komposit terbuat dari beberapa luasan sederhana. Untuk
menentukan titik beratnya, luas komposit umunya dibagi menjadi dua atau lebih luas komponen
sederhana. Kemudian titik berat luas komposit diperoleh dari prinsip yang disebutkan terlenih dahulu:
terhadap sumbu sembarang, momen luas sama dengan jumlah aljabar momen luas komponennya.

10
BAB III
KEUNGGULAN BUKU
3.1 KEUNGGULAN BUKU
(a) Tegangan-Regangan. Pada bagian Tegangan-Regangan pada buku tersebut memiliki
sejumlah kelebihan yaitu dimana bagian tersebut memiliki cakupan materi yang cukup
banyak dan jelas, sehingga pembaca akan lebih memiliki pengetahuan dan pemahaman yang
baik, kemudian bahasa yang digunakan pada buku tersebut juga memiliki gaya bahasa yang
mudah dimengerti, bagian Tegangan-Regangan juga memiliki gambar dan penurunan rumus
serta keterangan yang jelas, sehingga pembaca akan lebih memahami dalam membacanya.
Penulis pada buku ini juga membuat kata atau beberapa kalimat yang penting menandainya
dengan huruf tebal atau dicetak dengan huruf miring, sehingga pembaca dapat lebih melihat
mana saja kalimat atau kata yang menjadi inti dari setiap bagian yang dibaca. Penulis juga
membuat beberapa contoh soal mengenai setiap materi yang dibahas dalam buku tersebut
sehingga pembaca dapat langsung menerapkan Rumusan-rumusan yang diterangkan dalam
buku tersebut.
(b) Momen Inersia. Pada bagian Momen inersia dibuku ini memiliki keterkaitan antar bab
yang sangat berkaitan, dimana setiap materi rata-rata memiliki hubungan dengan Inersia,
sehingga jika ingin memahami Inersia haruslah terlebih dahulu memahami materi
sebelumnya sehingga akan lebih mengerti untuk memahami materi yang selanjutnya. Bahasa
yang digunakan pada bagian tersebut juga memiliki gaya bahasa yang mudah dimengerti,
sehingga akan lebih membuat pembaca lebih paham dalam membacanya. Penulis pada buku
ini juga membuat kata atau beberapa kalimat yang penting menandainya dengan huruf tebal
atau dicetak dengan huruf miring, sehingga pembaca dapat lebih melihat mana saja kalimat
atau kata yang menjadi inti dari setiap bagian yang dibaca. Penulis juga membuat beberapa
contoh soal mengenai setiap materi yang dibahas dalam buku tersebut sehingga pembaca
dapat langsung menerapkan Rumusan-rumusan yang diterangkan dalam buku tersebut.
(c) Titik Berat Penampang. Pada bagian Titik berat penampang dalam buku ini memiliki
keterkaitan antar bab yang juga sangat berkaitan, dimana setiap materi rata-rata memiliki
hubungan dengan titik berat, sehingga jika ingin memahaminya pembaca harus terlebih
dahulu membaca buku tersebut dari awal agar pembaca tidak merasa bingung dalam
membacanya dan akhirnya pembaca akan dapat memahami apa yang ingin disampaikan oleh
buku tersebut. Penulis pada buku ini juga membuat kata atau beberapa kalimat yang penting
menandainya dengan huruf tebal atau dicetak dengan huruf miring, sehingga pembaca dapat
lebih melihat mana saja kalimat atau kata yang menjadi inti dari setiap bagian yang dibaca.

11
BAB IV
KELEMAHAN BUKU
3.2 KELEMAHAN BUKU
(a) Tegangan-Regangan. Pada bagian tegangan-regangan pada buku ini memiliki sejumlah
kelemahan yaitu terdapat pada ukuran kata atau kalimat pada buku tersebut terlalu kecil
sehingga akan sulit dibaca oleh pembaca yang memiliki kelainan pada matanya. Selain itu
gambar yang dimuat pada bagian Tegangan-regangan juga kurang menarik, yakni setidaknya
penulis memberikan kesan warna sehingga dalam memahami kalimat pembaca juga dapat
memahami dan membaca gambar yang terdapat pada buku tersebut.
(b) Momen Inersia. Pada bagian Momen Inersia penulis memisahkan ataupun membagi
beberapa bagian dari Momen inersia dan digabung dengan materi yang berhubungan dengan
Inersia, namun dalam hal ini pembaca akan merasa bosan karena pembaca akan lebih sering
menjumpai kata ataupun kalimat momen inersia. Selain itu gambar yang dimuat pada bagian
Tegangan-regangan juga kurang menarik, yakni setidaknya penulis memberikan kesan warna
sehingga dalam memahami kalimat pembaca juga dapat memahami dan membaca gambar
yang terdapat pada buku tersebut.
(c) Titik Berat Penampang. Pada bagian Titik berat penampang penulis membuat penjelasan
yang berbeda namun pada 1 gambar yang sama pada setiap cakupan materi, sehingga
pembaca akan berbolak balik mengembalikan ke halaman yang sebelumnya, seharusnya
penulis membuat penjelasan gambarnya di setiap penjelasan materinya, sehingga lebih
menghemat waktu pembaca dalam memahami maksud dari materi tersebut. Selain itu gambar
yang dimuat pada bagian Tegangan-regangan juga kurang menarik, yakni setidaknya penulis
memberikan kesan warna sehingga dalam memahami kalimat pembaca juga dapat memahami
dan membaca gambar yang terdapat pada buku tersebut.

12
BAB V
IMPLIKASI TERHADAP
(a). Teori
Dalam Teori ini lebih melihat pada sisi perkembangan teori tersebut kepada
pemahaman Mahasiwa sehingga pendekatan ini dapat melihat kejadian yang terjadi kepada
mahasiswa untuk melakukan hal-hal positif. Kemampuan inilah yang disebut sebagai potensi
manusia dan para pendidik manusia untuk dapat bekerja sama dalam meningkatkan Teori
yang dipakai untuk melakukan hidup terlebih kepada Mahasiswa.
Untuk impilkasi terhadap teori belajar terkhususnya dibangku perkuliahan proses
pembelajaran berpegang teguh pada pentingnya menekankan keterampilan dan pengetahuan
akademik maupun perilaku sosial dan sikapmpositif terhadap bidangnya masing-masing.
Pendekatan akademik yang lebih menekankan pada penguasaan secara tuntas terhadap apa
saja yang dipelajari menjadi langkah penting dalam pencapaiannya.
(b). Program pembangunan di indonesia
Pembangunan di indonesia atau pembangunan nasional indonsia adalah paradigma
pembangunan yang terbangun atas pengalaman pancasila yaitu pembangunan manusia
indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat indonesia seluruhnya. Seperti yang kita
ketahui Negara kita adalah negara yang sedang dalam proses berkembang menjadi negara
yang lebih baik lagi, oleh karena itu terutana dalam mengatasi benjana kebanjiran yang
terjadi di beberapa tempat di negara kita ini pemahaman dan pengetahuan mengenai
KEKUATAN BAHAN TERAPAN terkhususnya pada mata kuliah Mekanika Bahan dapat
meminimalisirkan kemungkinan terjadinya kesalahan dalam tahapan dan proses
pembangunan.
(c). Analisis Mahasiswa
Mahasiwa merupakan seseorang dimana harus memiliki pemikiran yang kritis dan
memiliki analisa yang tajam dan kuat pada setiap hidupnya, kedua buku ini sangatlah
bermanfaat kepada mahasiwa, terutama mahasiswa yang sedang duduk dibangku perkuliahan
jurusan Teknik Sipil, dimana buku ini dapat memberikan pengetahuan yang baik dan luas
kepada mahasiwa sehingga apa yang ingin disampaikan buku ini dapat tersampaikan
terutama kepada mahasiswa yang membacanya.

13
BAB VI
PENUTUP
Kesimpulan Dan Saran
Sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa setiap ciptaanNya pastilah memiliki
kekurangan, baik dari dalam ataupun dari luar. Saran saya dalam CBR ini yaitu ketika kita
ingin menerbitkan sebuah buku sekiranya kita memikirkan kesukaan pembaca sehingga kita
bisa berpikir kreatif lagi dalam menerbitkan sebuah buku, dari sampul buku, tampilan buku,
serta gaya bahasa yang digunakan pada buku tersebut. Isi dari buku ini sangatlah bermanfaat
untuk menjadi pedoman dalam pengetahuan dan pemahaman dibidang MEKANIKA
BAHAN, semoga dengan adanya buku-buku yang luar biasa dapat membuat orang yang
membacanya menjadi orang yang tidak biasa melainkan menjadi orang yang luar biasa.
Seperti halnya pada buku yang tidak memuat gambar ataupun tidak memiliki tampilan
yang menarik pada sampul buku tersebut, maka pembaca akan merasa tidak ingin membaca
buku tersebut karna merasa tidak tertarik, padahal memang kualitas suatu buku tidak hanya
dilihat dari sampul bukunya saja tetapi kualitas buku tersebut, namun pada umumnya
pembaca kebanyakan memilih buku karna tampilan sampul buku dan gaya bahasa yang
dimuat dalam buku tersebut sehingga pembaca dapat memahami apa yang ingin disampaikan
pada buku tersebut.

14
DAFTAR PUSTAKA
Jensen/Chenoweth.1983. Kekuatan Bahan Terapan. Jakarta: Erlangga.
https:id.m.wilkepedia.org/wiki/pembangunan_nasional_indonesia
www.makalahskripsi.com/2013/12/makalah-teori-belajar-dan-implikasinya_4.html?m=1

15