Anda di halaman 1dari 31

 Beranda

 About

IATMI SM STT MIGAS Balikpapan


Dari Kami Untuk Negeri

PENGANTAR STUDI WATER FLOOD


Juni 7, 2012 by IATMI SM STT MIGAS Balikpapan Tinggalkan komentar

3.1. Pengertian Injeksi Air

Pada lapangan yang sudah melewati batas primary recovery-nya, dilakukan optimasi
produksi dengan cara yang lain salah satunya adalah injeksi air (water flooding). Mekanisme
kerjanya adalah dengan menginjeksikan air ke dalam formasi yang berfungsi untuk
mendesak minyak menuju sumur produksi (produser) sehingga akan meningkatkan produksi
minyak ataupun dapat juga berfungsi untuk mempertahankan tekanan reservoir (pressure
maintenance), untuk lebih jelasnya lihat Gambar 3.1.
Gambar 3.1 : Mekanisme waterflood

3.1.1. Sejarah Perkembangan Dan Aplikasi Waterflood

Penemuan minyak mentah oleh Edwin L. Drake di Titusville pada tahum 1859 menandai
dimulainya era industri minyak bumi. Penggunaan minyak bumi yang semakin meluas
membuat orang mulai berpikir untuk meningkatkan perolehan produksi minyak bumi. Maka
pada awal 1880-an, J.F. Carll mengemukakan pendapatnya bahwa kemungkinan perolehan
minyak dapat ditingkatkan melalui penginjeksian air dari suatu sumur injeksi untuk
mendorong minyak ke sumur produksi adalah sangat besar.

Eksperimen waterflood pertama tercatat dilakukan di lapangan Bradford, Pennsylvania pada


tahun 1880-an. Dari eksperimen pertama ini, mulai terlihat bahwa program waterflood akan
dapat meningkatkan produksi minyak. Maka pada awal 1890-an, dimulailah penerapan
waterflood di lapangan-lapangan minyak di Amerika Serikat.

Pada 1907, ditemukan metoda baru dalam pengaplikasian waterflood di Lapangan Bradford,
Pennsylvania, yang disebut sebagai “metoda lingkar (circular method)”, yang juga tercatat
sebagai pengaplikasian flooding pattern pertama. Karena adanya regulasi pemerintah yang
melarang penerapan waterflood di masa itu, proyek ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi,
sampai larangan itu dicabut pada 1921.

Mulai tahun 1921, penerapan waterflood mulai meningkat. Pola pattern waterflood berubah
dari circular method menjadi line method. Pada 1928, pola five spot ditemukan dan
diterapkan secara meluas di lapangan-lapangan minyak. Selain tahun-tahun tersebut, operasi
waterflood juga tercatat dilakukan di Oklahoma pada tahun 1931, di Kansas pada tahun 1935,
dan di Texas pada tahun 1936.

Dibandingkan dengan masa sekarang, penerapan waterflood pada masa dahulu boleh dibilang
sangat sedikit. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena pada zaman dahulu pemahaman
tentang waterflood masih sangat sedikit. Selain itu, pada zaman dahulu produksi minyak
cenderung berada diatas kebutuhan pasar.
Signifikansi waterflood mulai terjadi pada akhir 1940-an, ketika sumur-sumur produksi mulai
mencapai batasan ekonomis (economic limit)nya dan memaksa operator berpikir untuk
meningkatkan producable reserves dari sumur-sumur produksi. Pada 1955, waterflood
tercatat memberikan konstribusi produksi lebih dari 750000 BOPD dari total produksi
6600000 BOPD di Amerika Serikat. Dewasa ini, konstribusi waterflood mencapai lebih dari
50% dari total produksi minyak di Amerika Serikat.

Injeksi air ini sangat banyak digunakan, alasannya antara lain:

 Mobilitas yang cukup rendah


 Air mudah didapatkan
 Pengadaan air cukup murah
 Berat kolom air dalam sumur injeksi turut memberikan tekanan, sehingga cukup
banyak mengurangi tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan
 Mudah tersebar ke daerah reservoir, sehingga efisiensi penyapuannya cukup tinggi
 Memiliki efisiensi pendesakan yang sangat baik

Penginjeksian air bertujuan untuk memberikan tambahan energi kedalam reservoir. Pada
proses pendesakan, air akan mendesak minyak mengikuti jalur-jalur arus (stream line) yang
dimulai dari sumur injeksi dan berakhir pada sumur produksi, seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 3.2, yang menunjukkan kedudukan partikel air yang membentuk batas air-minyak
sebelum breakthrough (a) dan sesudah breakthrough (b) pada sumur produksi.

Gambar 3.2.

Kedudukan Air Sepanjang Jalur Arus

(a) sebelum dan (b) sesudah Tembus Air Pada Sumur Produksi

3.1.2. Perencanaan Waterflood

Perencanaan waterflood didasarkan pada pertimbangan teknik dan keekonomisannya. Analisa


ekonomis tergantung pada perkiraan hasil dari proses waterflood itu sendiri. Perkiraan ini
bisa baik atau buruk tergantung pada kebutuhan khusus dari proyek atau keinginan pelaksana.
Lima langkah utama dalam perencanaan waterflood adalah ;

1. Evaluasi reservoir meliputi hasil produksi dari primary recovery


2. Pemilihan waterflood plan yang potensial
3. Perkiraan laju injeksi dan produksi
4. Prediksi oil recovery untuk setiap perencanaan proyek waterflood
5. Identifikasi variabel-variabel yang menyebabkan ketidaktepatan analisa secara teknik

Analisa teknik produksi waterflood dilakukan dengan memperkirakan jumlah volume dan
kecepetan fluida. Perkiraan diatas juga berguna untuk penyesuaian atau pemilihan peralatan
serta sistem pemeliharaan ( treatment ) fluida.

a. Penentuan Lokasi Sumur Injeksi-Produksi

Pada umumnya dipegang prinsip bahwa sumur-sumur yang sudah ada sebelum injeksi
dipergunakan secara maksimal pada waktu berlangsungnya injeksi nanti. Jika masih
diperlukan sumur-sumur baru maka perlu ditentukan lokasinya. Untuk memilih lokasi
sebaiknya digunakan peta distribusi cadangan minyak tersisa. Pada daerah yang sisa
minyaknya masih besar mungkin diperlukan lebih banyak sumur produksi daripada daerah
yang minyaknya tinggal sedikit. Peta isopermeabilitas juga membantu dalam memilih arah
aliran supaya penembusan fluida injeksi (breakthrough) tidak terjadi terlalu dini.

b. Penentuan Pola Sumur Injeksi-Produksi

Salah satu cara untuk meningkatkan faktor perolehan minyak adalah dengan membuat pola
sumur injeksi-produksi, yang bertujuan untuk mendapatkan pola penyapuan yang seefisien
mungkin. Tetapi kita harus tetap memegang prinsip bahwa sumur yang sudah ada sebelum
injeksi harus dapat digunakan semaksimal mungkin pada waktu berlangsungnya injeksi nanti.

Pertimbangan-pertimbangan dalam penentuan pola sumur injeksi produksi tergantung pada:

 Tingkat keseragaman formasi, yaitu penyebaran permeabilitas ke arah lateral maupun


ke arah vertikal.
 Struktur batuan reservoir meliputi patahan, kemiringan, dan ukuran.
 Sumur-sumur yang sudah ada (lokasi dan penyebaran).
 Topografi.
 Ekonomi.

Pada operasi waterflood sumur-sumur injeksi dan produksi umumnya dibentuk dalam suatu
pola tertentu yang beraturan, misalnya pola garis lurus, empat titik, lima titik, tujuh titik, dan
sebagainya (seperti yang terlihat pada Gambar 3.3).

Pola sumur dimana sumur produksi dikelilingi oleh sumur-sumur injeksi disebut dengan pola
normal. Sedangkan bila sebaliknya yaitu sumur-sumur produksi mengelilingi sumur injeksi
disebut dengan pola inverted. Masing-masing pola mempunyai sistem jaringan tersendiri
yang mana memberikan jalur arus berbeda-beda sehingga memberikan luas daerah
penyapuan yang berbeda-beda.
Gambar 3.3. Pola-pola Sumur Injeksi-Produksi

c. Penentuan Debit dan Tekanan Injeksi

Debit injeksi yang akan ditentukan di sini adalah untuk sumur-sumur dengan pola tertutup
dengan anggapan bahwa mobility ratio (M) sama dengan satu. Besarnya debit injeksi
tergantung pada perbedaan tekanan injeksi di dasar sumur dan tekanan reservoirnya.

Bentuk persamaan dikembangkan dari persamaan Darcy sesuai dengan pola sumur injeksi-
produksi,sebagai berikut :
Persamaan yang disebutkan diatas adalah laju injeksi dari fluida yang mempunyai mobilitas
yang sama (M=1) karena reservoir minyak terisi oleh cairan saja.

Untuk menentukan laju injeksi sampai dengan terjadinya interferensi digunakan persamaan:

Untuk mencapai keuntungan ekonomis yang maksimal, biasanya diinginkan debit injeksi
yang maksimal, namun ada batasan yang harus diperhatikan. Batas bawah debit injeksi
adalah debit yang menghasilkan produksi minyak yang merupakan batas ekonomisnya. Batas
atas debit injeksi adalah debit yang berhubungan dengan tekanan injeksi yang mulai
menyebabkan terjadi rekahan di reservoir.

Analisa berikutnya adalah injeksi air dari interface sampai dengan fill-up. Besarnya laju
injeksi pada perioda ini dinyatakan dengan persamaan :

iwf = t x i …………………………………………………………………………. (3-6)


Dengan diketahuinya laju injeksi pada setiap periode dari perilaku water flood, maka
diramalkan waktu injeksi dari setiap periode.

3.2. Konsep Interaksi Batuan dan Fluida

Fluida dua fasa atau lebih dikatakan immiscible (tidak bercampur) pada tekanan atau
temperatur tertentu jika terbentuk suatu lapisan kasat mata antar fasa setelah fasa- fasa fluida
tersebut dicampurkan satu sama lain sampai mencapai kesetimbangan kimia. Kehadiran fasa-
fasa immiscible ini di reservoir akan mengubah kemampuan batuan dalam menyalurkan
fluida. Fasa-fasa immiscible di reservoir seperti : minyak-air, minyak-gas, air-gas, atau air-
minyak-gas.

Pada waterflood dalam skala mikro, efesiensi pendesakan dipengaruhi oleh faktor interaksi
fluida dan media yang di tempatinya.. Karena di reservoir terdapat lebih dari satu fasa, maka
secara alamiah telah terjadi interaksi antara batuan dan fluida di reservoir yang sekaligus
mempengaruhi pendesakan fluida. Karena itulah, pemahaman tentang sifat-sifat dasar batuan
reservoir perlu dilakukan

Karena interaksinya dengan fluida, sifat-sifat batuan reservoir ini menjadi terbagi atas dua
kelompok :

1. Sifat absolut dari batuan itu sendiri, antara lain porositas, permeabilitas, dan distribusi
ukuran pori.
2. Sifat batuan reservoir akibat interaksi batuan dengan fluida reservoir yang bersifat
statis, antara lain tekanan kapiler, wettability, dan contact angle.
3. Sifat batuan reservoir akibat interaksi batuan dengan fluida reservoir yang bersifat
dinamis, diantaranya mobilitas, dan permeabilitas relatif

Untuk itu, konsep dasar sifat-sifat batuan dan fluida reservoir telah menjadi bahan
pertimbangan penting dalam studi waterflood karena dalam proses injeksi air akan terjadi
kontak antara fluida yang diinjeksikan dengan batuan dan fluida formasi, sehingga dapat
dipelajari kondisi efisiensi pendesakan yang lebih efektif untuk mendesak minyak sebagai
efisiensi pendesakan pada skala mikroskopis.

Adapun sifat-sifat itu antara lain :

3.2.1. Porositas

Porositas diartikan sebagai perbandingan volume pori dengan volume total batuan, lebih
umum dinyatakan dalam fraksi dibandingkan dengan persentase. Porositas terbagi dua :

1. Porositas efektif

Merupakan perbandingan antara rongga pori yang saling berhubungan dengan volume bulk
(total) batuan

1. Porositas absolut

Merupakan perbandingan total volume pori dengan volume total batuan


Porositas dari sebuah media permeabel merupakan fungsi yang kuat dari variansi distribusi
ukuran pori dan fungsi yang lemah dari ukuran pori itu sendiri.

3.2.2.Permeabilitas

Bisa diartikan sebagai kemampuan batuan dalam menyalurkan fluida, terbagi atas tiga :

1. Permeabilitas absolut

Merupakan kemampuan batuan dalam mendistribusikan semua fasa fluida yang


dikandungnya

2. Permeabilitas efektif

Didefinisikan sebagai kemampuan batuan dalam mendistribusikan salah satu fasa fluida jika
batuan tersebut mengandung lebih dari satu fasa fluida

3. Permebilitas relatif

Merupakan rasio antara permeabilitas efektif dengan permeabilitas absolut, merupakan sifat
fisik batuan yang sangat urgen dalam proses EOR. Atau perbandingan antara permeabilitas
efektif dengan permeabilitas absolut.

Permeabilitas relatif reservoir terbagi berdasarkan jenis fasanya, sehingga didalam reservoir
akan terdapat permeabilitas relatif air (Krw), permeabilitas relatif minyak (Kro), permeabilitas
relatif gas (Krg), dimana persamaannya adalah :

dimana Kw, Ko, Kg berturut-turut adalah permeabilitas relatif air, minyak, dan gas.

Permeabilitas relatif dipengaruhi variable-variabel seperti sejarah saturasi dan kebasahan


batuan. Karakteristik dari permeabilitas relatif ditunjukkan pada gambar 3.10.
Gambar 3.4. Karakteristik Permeabilitas Relatif

Pada Gambar 3.4 menunjukkan pengaruh sejarah saturasi terhadap permeabilitas relatif. Itu
dicatat bahwa arah aliran tidak berpengaruh pada perilaku aliran untuk fasa pembasah.
Bagaimanapun, suatu perbedaan penting ada antara kurva drainage dan imbibition untuk
tahap fasa non-pembasah. Untuk sistim water-wet, kita dapat memilih data imbibisi,
sedangkan, data drainage diperlukan untuk mengoreksi prediksi dari reservoir oil-wet.

Sedangkan pengaruh wettability sangat penting untuk diketahui, hal ini dapat dilihat pada
sistim water-wet dan oil-wet. Ada beberapa perbedaan antara kurva oil-wet dan kurva water-
wet dimana :

1. Saturasi air pada permeabilitas minyak dan air adalah jumlah (titik persimpangan
kurva) yang akan lebih besar dari 50 % untuk sistim water-wet dan lebih kecil dari 50
% untuk sistim oil-wet.
2. Saturasi air connate untuk sistim water-wet lebih besar dari 20 % dan untuk sistim oil-
wet lebih kecil dari 15 %.
3. Permeabilitas realtif untuk air pada saturasi air maksimum (residual oil saturation)
akan lebih kecil dari 0.3 untuk sistim water-wet tetapi akan lebih besar dari 0.5 untuk
sistim oil-wet.

Gambar 3.5. Pengaruh Sejarah Saturasi


Terhadap Permeabilitas Relatif
Gambar 3.6. Pengaruh Kebasahan Terhadap Permeabilitas Relatif

Untuk nilai permeabilitas yang tinggi { (ko)Swir > 100 md}, penemuan ini tidak mungkin
benar. Sebagai contoh, Batuan water-wet dengan pori-pori besar kadang-kadang
memperlihatkan kejenuhan air tak bergerak kurang dari 10 hingga 15 persen. Meskipun
demikian, pada Gambar 3.5. menunjukkan pentingnya kurva permeabilitas relatif yang dapat
mengindikasikan tingkat kebasahan suatu reservoir untuk permeabilitas ke level rendah
(ko)Swir < 100 md.

Rumus tes permeabilitas relatif air-minyak untuk contoh batuan core sering disebut sebagai
“end point” karena merupakan refleksi dari Swir, Sor, (ko)Swir dan (kw)Sor. Hasil tes ini sedikit
lebih mahal dari tes permeabilitas realtif normal, tapi tes ini dapat menyediakan informasi
dari karakteristik- karakteristik reservoir

Berbeda dengan porositas, permeabilitas lebih dipengaruhi oleh ukuran pori batuan
dibandingkan dengan distribusi butiran batuan tersebut.

3.3. Pengawasan Waterflood

(Reservoir Susveillance)

Kunci kesuksesan sebuah proyek waterflood terlelak pada perencanaan dan pelaksanaan
program pengawasan serta monitoring pada sumur. Program ini disesuaikan dengan
lapangan atau proyek yang bersangkutan, sebab masing-masing proyek waterflood
mempunyai karakter yang beragam. Hal yang penting untuk diperhatikan pada program
monitoring well khususnya system waterflood terdapat pada Gambar 3.7. Sebelumnya proyek
waterflood hanya terfokus pada hasil produksi dan injeksi saja. Dewasa ini dengan
pengetahuan manajemen reservoir modern, telah menjadi praktek industri untuk menjadikan
sumur, fasilitas, water system dan kondisi pengoperasian menjadi program surveillance
secara comprehensive.
Gambar 3.7.Waterflood Injection
System

Managemen reservoir yang baik terdiri dari reservoir, well dan surface facilities sebagai
komponen dari satu kesatuan system. Telah diakui bahwa karakteristik reservoir, fluida dan
bentuk alirannya akan mempengaruhi operasi sumur dan proses produksi fluida di
permukaan. Pelaksanaan program surveillance yang komprehensif dapat dilihat pada tabel
berikut :

Tabel 3.1. Pelaksanaan Program Surveillance

Saat ini, pelaksanaan surveillance tidak hanya difokuskan pada kinerja reservoir, namun
melibatkan sumur-sumur, fasilitas dan sistem air. Informasi tentang sejarah kinerja
waterflood pada suatu lapangan lebih detail dapat diperoleh, memberikan suatu penilaian
terhadap behavior waterflood yang tengah berjalan. Informasi ini mencakup :

¨ Deskripsi reservoir yang akurat dan lebih detail


¨ Kinerja reservoir, estimasi efisien penyapuan dan recovery minyak untuk tiap stage (at
various stage of depletion)

¨ Sumur injeksi dan sumur produksi, beserta laju alir, tekanan, dan profil fluida

¨ Treatment dan kualitas air

¨ Performansi fasilitas dan perawatan

¨ Perbandingan performasi actual dan teoritis untuk memonitor behavior dan efektfitas
waterflood

¨ Diagnosa terhadap permasalahan yang ada/potensial, dan solusinya.

5 jenis data yang sangat penting dalam Surveillance dan monitoring :

1. Data reservoir

 Litologi, pengendapan, patahan, WOC/GOC, bentuk perangkap, jenis drive


 Pemetaan bentuk unit aliran
 Data petrofisik (nilai rata-rata k, h, f)
 Kompresibilitas (rock, gas, oil dan water)
 Tipe rekahan

1. Data statik

 Pressure (RFT, Psi static, built up/fall off, step rate test)
 Saturasi (resistivity, core, simulasi saturasi)
 Volume produksi

1. Sifat batuan dan fluida

 PVT data (psi, volume, Rs, Viskositas, temperature)


 Permeabilitas relative (Kro, Krg, Krw sebagai fungsi dari saturasi)
 Sorw, Sorg (titik akhir dari proses pendesakan)

1. Data injeksi/produksi sumur

 Kecepatan produksi dan injeksi


 Fluid entry/exit (PLT Logging)
 Pwf
 Productivity dan injectivity index
 Kekuatan semen

1. Facilities/operating condition

 Kualitas air
 Injection facilities operation
 Production facilities operation
 Monitoring equipment operation
3.4. Efisiensi Pendesakan Minyak

Effisiensi pendesakan minyak diantaranya :

3.4.1.Areal Sweep Efficiency

Pada pelaksanaan waterflood, air diinjeksikan dari beberapa sumur injeksi dan produksi akan
terjadi dari sumur yang berbeda. Ini akan menyebabkan terbentuknya distribusi tekanan dan
streamlines di daeah antara sumur injeksi dengan sumur produksi. Dua faktor ini akan
menentukan seberapa besar kontak waterflood dengan daerah antara tersebut. Besar daerah
reservoir yang mengalami kontak dengan air ini yang disebut dengan Areal sweep efficiency.

Gambar
3.8.

(a) Areal Sweep effisiensi, (b) Vertical Sweep effisiensi

Secara rumus, Areal sweep efficiency didefinisikan sebagai :

3.4.2. Mobility Efficiency

Efisiensi mobilitas merupakan efisiensi yang dipengaruhi oleh nilai saturasi minyak
tersisa dan sifat pembasahan batuan. Didefinisikan sebagai fraksi minyak pada awal proses
yang dapat diambil pada 100 % area vertikal.

Persamaan efisiensi mobilitas adalah sebagai berikut :

Untuk nilai Boi konstan, maka persamaan (3.12) diatas menjadi :


dimana

EM = efisiensi mobilitas

Soi = saturasi minyak awal

Sorp = saturasi minyak residual/immobile oil

3.4.3.Vertical Sweep Efficiencies

Bervariasinya nilai permeabilitas pada arah vertikal dari reservoir menyebabkan fluida injeksi
akan bergerak dengan bentuk front yang tidak beraturan. Semakin sedikit daerah
berpermeabilitas bagus, semakin lambat pergerakan fluida injeksi.

Ukuran ketidakseragaman invasi air adalah vertical sweep efficiency (Gambar 3.8), yang juga
sering disebut sebagai invasion efficiency. Vertical sweep efficiency ini bisa didefinisikan
sebagai bidang tegak lurus yang mengalami kontak dengan air injeksi dibagi dengan
keseluruhan bidang tegak lurus di darah belakang front. Secara sederhana, vertical sweep
efficiency ini menyatakn seberapa banyak bagian tegak lurus (vertikal) reservoir yang dapat
dijangkau oleh air injeksi.

Persamaan untuk vertical sweep efficiency adalah :

Ada beberapa hal yang mempengaruhi vertical sweep efficiency, ini :

1. Mobility Ratio

Term injektivitas relatif ini adalah perbandingan indeks injekstivitas pada sembarang waktu
dengan injektivitas pada saat dimulainya waterflood. Pada M = 1, injekstivitas relatif
cenderung konstan. Pada M < 1, terlihat bahwa injektivitas menurun seiring menaiknya
radius flood front. Sedangkan untuk M > 1, injektivitas relatif meningkat seiring naiknya
radius flood front.

1. Gaya Gravitasi

Karena air merupakan fluida dengan densitas yang tinggi, maka ia cenderung untuk bergerak
di bagian bawah reservoir. Efek ini disebut dengan gravity segregation dari fluida injeksi,
merupakan akibat dari perbedaan densitas air dan minyak.

Terlihat bahwa baik untuk sistem linear maupun untuk sistem five spot, derajat dari gravity
segeragation ini tergantung dari perbandingan antara gaya viscous dengan gaya gravitasi,
. Sehingga laju alir yang lebih besar akan menghasilkan vertical sweep efficiency
yang lebih baik pula.

1. Gaya kapiler
Penelitian membuktikan bahwa volume hanya menurun sedikit walaupun laju alir injeksi
dinaikkan sampai sepuluh kali lipat.

1. M Crossflow antar lapisan


2. Laju alir

Perhatikan semua properties yang mempengaruhi vertical sweep efficiency diatas.


Keseluruhannya dipengaruhi oleh laju alir

3.4.4.Volumetric sweep efficiency

Volumetric sweep efficiency ini merupakan ukuran pendesakan tiga dimensi. Definisi
volumetric sweep efficiency adalah perbandingan antara total volume pori yang mengalami
kontak dengan air injeksi dibagi dengan total volume pori area injeksi. Volumetric sweep
efficiency dirumuskan dalam persamaan berikut :

Faktor-faktor yang mempengaruhi volumetric sweep efficiency sama dengan faktor-


faktor yang mempengaruhi vertical sweep efficiency.

3.4.5. Displacement Efficiency

Displacement Efficiency didefinisikan sebagai jumlah total minyak yang berhasil


didesak dibagi dengan total Oil in Place yang ada di daerah sapuan tersebut. Berdasarkan
pengertian tersebut, Displacement Efficiency dapat dirumuskan dengan persamaan :

Efisiensi pendesakan ini merupakan efisiensi pendesakan tak bercampur dalam skala
makroskopik yang digunakan untuk menggambarkan efisiensi pendesakan volume spesifik
minyak oleh injeksi air pada batuan reservoir, sehingga dapat ditentukan seberapa efektifnya
fluida pendesak menggerakkan minyak pada saat fluida pendesak telah membentuk kontak
dengan minyak.

Efisiensi pendesakan fluida reservoir dapat dilihat pada dua konsep berikut :

1. Konsep desaturasi

Terjadi perubahan saturasi fluida dibelakang front seharga satu dikurangi saturasi residual
fluida yang didesak, sehingga terdapat dua fasa yang mengalir yaitu minyak dan air.
Sedangkan di depan front hanya minyak yang mengalir.

2. Konsep pendesakan
Saturasi fluida pendesak pada front sama dengan satu dikurangi saturasi residual fluida itu
sendiri. Dianggap minyak telah habis didesak sehingga yang dibelakang front hanya fluida
pendesak yang mengalir.

Displacement Efficiency mempunyai nilai maksimum, yang dirumuskan sebagai


berikut :

Sedangkan nilai displacement efficiency pada saat breakthrough adalah :

Gambar 3.9. Effisiensi Displacement

Ucapan Terimakasih kepada :

REFKI JULIASTY 003210200 Universitas Islam Riau, Fakultas Teknik

:)
About these ads

Share this:

 Twitter
 Facebook

Sukai ini:

Suka Memuat...

Terkait
Categories: PRODUCTION, RESERVOIR | Permalink.

Author: IATMI SM STT MIGAS Balikpapan

Untuk mereka yang ingin mewujudkan mimpinya. Salam IATMI

Tinggalkan Balasan

Surel (wajib) (Alamat takkan pernah dipublikasikan)


Nama (wajib)

Situs web

Notify me of new comments via email.

Post navigation
← Previous Post
Next Post →
Cari:

Pos-pos Terakhir

 Pindah
 Artificial Lift
 Guest Lecture “Work Abroad, Why Not?”
 PETROCLASS part 2
 STRUKTURAL PENGURUS IATMI SM STT MIGAS PERIODE 2012-2013

Arsip

 Januari 2013
 Desember 2012
 November 2012
 Juni 2012
 Januari 2012
 Desember 2011
 November 2011

Kategori

 DRILLING
 GEOLOGI
 IATMI
 KARIR
 PRODUCTION
 RESERVOIR
 Uncategorized

Meta

 Mendaftar
 Masuk log
 RSS Entri
 RSS Komentar
 WordPress.com

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Yoko Theme.

Puncak
Ikuti

Follow “IATMI SM STT MIGAS Balikpapan”

Get every new post delivered to your Inbox.

Ditenagai oleh WordPress.com


%d bloggers like this:
All About OILGAS-TRAINING
Selamat datang di Oilgas_Training, disini anda akan menemukan layanan Training untuk
bidang Petroleum Engineering. Semuanya kami tampilkan lengkap : Syllabus, Instruktur (not
publish yet), Course Content, Discription, dan Audience. Apabila anda menghendaki seri
pelatihan dimaksud, dapat menghubungi via email : subagyaagus@yahoo.co.id

FMTI

Have your training needs, please click here

Jumat, September 14, 2012


BASIC ENHANCED OIL RECOVERY (EOR)

DASAR-DASAR ENHANCED OIL RECOVERY (EOR)

http://zulfikariseorengineer.blogspot.com/2011/04/dasar-dasar-enhanced-oil-
recovery-eor.html

Lapangan hidrokarbon setelah sekian lama diproduksikan akan mengalami penurunan produksi
karena force/tenaga untuk mengeluarkan fluida ke dalam sumur sudah semakin berkurang.
Berkurangnya tenaga pendorong bisa terlihat dengan dipasangnya pompa atau gas lift pada sumur
sembur alam (natural flow) yang tidak dapat mengalir dengan sendirinya. Begitupun sumur pompa
atau gas lift yang lambat laun akan menjadi kering. Untuk menambah pengurasan lapangan dan
drive force, dikembangkan teknik-teknik yang kemudian disebut dengan Enhanced Oil Recovery
(EOR) atau Improved Oil Recovery (IOR). Selanjutnya akan dibahas jenis-jenis teknik EOR.

I. INJEKSI AIR (WATER FLOOD)


Injeksi air merupakan salah satu metoda EOR yang paling banyak dilakukan sampai saat ini. Biasanya
injeksi air digolongkan ke dalam injeksi tak tercampur.
Alasan-alasan sering digunakannya injeksi air ialah:
- Mobilitas yang cukup rendah
- Air cukup mudah diperoleh
- Pengadaan air cukup murah
- Berat kolom air dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga cukup banyak mengurangi besarnya
tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan; jika dibandingkan dengan injeksi gas, dari segi ini
berat air sangat menolong.
- Air biasanya mudah tersebar ke seantero reservoir, sehingga menghasilkan efisiensi penyapuan
yang cukup tinggi.

- Effisiensi pendesakan air juga cukup baik. sehingga harga Sor sesudah injeksi air = 30% cukup
mudah didapat.

Gambar Pattren Water Flooding

Pemakaian injeksi air sebagai meloda untuk menaikan peralehan minyak dimulai pada tahun 1880
setelah John F. Carll menyimpulkan bahwa air tanah dari lapisan yang lebih dangkal dapat
membantu produksi minyak. Secara tidak sengaja, hal telah terjadi sebelum di Pennsylvania opada
tahun 1865. Tujuan Injeksi air

adalah mengimbangi penurunan tekanan reservoir dengan menginjeksikan air ke dalam reservoir.

II. INJEKSI AIR DITAMBAH ZAT-ZAT KIMIA TERTENTU

Setelah injeksi air telah maksimum diaplikasikan, terdapat beberapa cara untuk menambah efisiensi
injeksi dengan cara menambahkan zat-zat kimia tertentu kedalam air injeksi yang akan diinjeksikan.

1. Surfactant

Surfactant berfungsi untuk menurunkan tegangan pcrmukaan, tekanan kapiler campuran polimer,
alkohol, sulfonate), menaikkan efesiensi pendesakan dalam skala pori, mikropis.

2. Polymer
Polymer berfungsi untuk memperbaiki perbandingan mobilitas minyak-air. Untuk menaikkan
efesiensi pengurasan secara luas, makrokopis. Sering dipakai berselang-seling dengan surfactant.
Injeksi Polymer efektif untuk reservoir dengan viskositas minyak tinggi (sampai 200 cp).

Jenis-jenis polimer yang paling sering dipakai:


- polycrylamide
- polysaccharide

Gambar Sumur Injeksi Surfactant

III. INJEKSI TERMAL

Injeksi termal dilakukan dengan menginjeksikan fluida panas yang temperatur jauh lebih besar jika
dibandingkan temperatur fluida reservoir. Injeksi Termal berfungsi menurunkan viskositas minyak
atau membuat minyak berubah ke fasa uap, juga mendorong minyak ke sumur-sumur produksi.

Jenis-jenis Injeksi termal antara lain:

1. Stimulasi uap (steam soak, huff and puff)

Yang diinjeksikan biasanya campuran uap dan air panas dengan komposisi yang berbcda-beda.
Gambar Thermal Oil Recovery

2. Pembakaran di tempat (In-situ Combustion)

Menginjeksikan udara dan membakar sebagaian minyak ini akan menurunkan viskositas, mengubah
sebagian minyak menjadi uap dan mendorong dengan pendesakan gabungan uap, air panas dan gas.

3. Injeksi air panas.

IV. INJEKSI GAS CO2

CO2 mudah larut dalam minyak bumi namun sulit larut pada air. Karena itu beberapa hal yang
penting dan berguna dalam proses EOR ketika minyak bumi terjenuhi oleh CO2 adalah :
1. Menurunkan viskositas minyak dan menaikkan viskositas air.
2. Menaikkan volume minyak (swelling) dan menurunkan densitas minyak
3. Memberikan efek pengasaman pada reservoir karbonat.
4. Membentuk fluida bercampur dengan minyak karena ekstraksi, penguapan, dan pemindahan
kromatografi, sehingga dapat bertindak sebagai solution gas drive.

Mekanisme dasar injeksi CO2 adalah bercampurnya CO2 dengan minyak dan membentuk fluida baru
yang lebih mudah didesak daripada minyak pada kondisi awal di reservoir.

Ada 4 jenis mekanisme pendesakan injeksi CO2 :


1. Injeksi CO2 secara kontinyu selama proses EOR.
2. Injeksi slug CO2, diikuti air.
3. Injeksi slug CO2 dan air secara bergantian.
4. Injeksi CO2 dan air secara simultan.
Gambar Injeksi CO2

Injeksi CO2 dan air secara simultan terbukti merupakan mekanisme pendesakan yang terbaik di
antara keempat metode tersebut (oil recovery-nya sekitar 50%). Disusul kemudian injeksi slug CO2
dan air secara bergantian. Injeksi langsung CO2 dan injeksi slug CO2 diikuti sama buruknya dalam
kemampuan mengambil minyak sekitar 25%). Agar tercapai pencampuran antara CO2 dengan
minyak, maka tekanan di reservoir

harus melebihi MMP (Minimum Miscibility Pressure), harga MMP dapat diperoleh dari hasil
percobaan di laboratorium atau korelasi. Sumber CO2 alami adalah yang terbaik, baik dari sumur
yang memproduksi gas CO2 yang relatif murni atau dari pabrik yang mengolah gas hidrokarbon yang
mengandung banyak CO2 sebagai kontaminan. Sumber yang lain adalah kumpulan gas (stack gas)
dari pembakaran batubara (coal-fired). Alternatif lain adalah gas yang dilepaskan dari pabrik
amoniak. Desain yang dilakukan dalam injeksi CO2 ke reservoir minyak adalah menentukan
banyaknya air yang digunakan untuk menaikkan tekanan reservoir sehingga proses pencampuran
CO2 dengan minyak dapat berlangsung, menentukan kebutuhan CO2 yang akan diinjeksikan ke
reservoir yang didorong oleh gas N2, menentukan tekanan injeksi (dipermukaan) CO2 ke reservoir
yang tidak melebihi tekanan formasi.

V. PEMILIHAN METODA EOR

Dari beberapa metoda EOR yang ada, harus ditentukan metoda mana yang paling tepat yang sesuai
dengan karakteristik reservoir. Besaran-bcsaran berikut yang harus diperhatikan dalam pemilihan
metoda EOR:
- Kebasahan (Wettability) batuan
- Sifat-sifat batuan reservoir (petrofisik), seperti permeabilitas, porositas
- Jenis batuan (satu pasir, carbonatc dan lain-lain).
- Jenis minyak (viskositas).
- Tekanan temperatur reservoir, surfactant & polimer: T < 250°F
- Kegaraman air formasi.
- Saturasi minyak yang tersisa yang dapat bergerak
- Cadangan
- Kemiringan reservoir
- Ekonomi

DONGKRAK PRODUKSI MINYAK MELALUI EOR PROJECT

http://zulfikariseorengineer.blogspot.com/2011/05/dongkrak-produksi-
minyak-melalui-eor.html

Pengelolaan Wilayah Kerja (WK) Pertamina sektor hulu di dalam negeri diserahkan kepada salah satu
anak perusahaannya, yaitu Pertamina EP (PEP). Eks WK Pertamina ini cukup luas, 140.000 km2 yang
terdiri atas 214 lapangan di mana 80 persennya merupakan lapangan tua (mature field atau brown
field). Tingkat penurunan produksi alamiah atau decline-nya rata-rata 5-15 persen per tahun. PEP
saat ini sedang mempersiapkan program Enhanced Oil Recovery (EOR). Seberapa jauh kebutuhan
program EOR bagi pengelolaan lapangan tua?

Ketika Pertamina secara korporat manargetkan tingkat produksi minyak pada tahun 2014 sebesar
225 ribu barel per hari (sekarang 150 ribu barel per hari), upaya menaikkan produksi dilakukan PEP,
Pertamina Hulu Energi (PHE), PEP Randugunting, dan PEP Cepu. Selain anak perusahaan operasional
sektor hulu juga ada binis panasbumi, yaitu Pertamina Geothermal Energy dan anak perusahaan
bisnis gas, Pertamina Gas (lihat Boks: Skuadron Anak Perusahaan Hulu).

ARTI PENTING "EOR"


Salah satu metode dari EOR itu adalah menginjeksikan air (water flooding) ke dalam pori-pori
reservoir di bawah permukaan agar produksi naik atau persentase decline-nya tidak terlalu cepat.
Itulah langkah PEP melalui EOR Project.

Memahami EOR dan arti pentingnya, akan sulit kalau tidak memahami terlebih dulu periode-periode
produksi. Coba, deh, kita buka penjelasan dari Ketua Umum Ikatan Ahli Teknik Perminyakan
Indonesia (IATMI) Kuswo Wahyono dalam Buku Pintar Migas Indonesia. Menurutnya metode
optimal untuk produksi minyak dan gas adalah melalui:
1. Secara alamiah (natural), dengan tenaga dari reservoir itu sendiri;
2. Secara buatan (artificial lift), misalnya dengan pompa ataupun gas lift;
3. Dengan penambahan energi dari luar, yaitu injeksi air atau gas, dengan menggunakan metode
penyerapan tahap lanjut (Enhanced Oil Recovery). Misalnya injeksi panas, kimiawi, CO2, dan
sebagainya.
EOR juga ada yang mengartikan sebagai produksi tahap lanjut. Sedangkan menurut Kuswo Wahyono
EOR dilakukan untuk tertiary. Dan tahap secondary recovery adalah untuk menjaga kestabilan dan
atau menambah tenaga reservoir secara langsung, yaitu dengan menginjeksikan air atau gas pada
suatu sumur, untuk kemudian memproduksikannya dari sumur lainnya.

Kondisi lapangan yang dikelola PEP, seperti diungkapkan para pembicara pada Workshop EOR 2008
Pertamina EP, 19 November 2008 lalu di Hotel The Ritz Carlton, Jakarta, sudah berada pada akhir
primary recovery. "Sebagian besar reservoir pada lapangan minyak PEP sudah berada pada akhir
periode primary recovery. Sulitnya menaikkan produksi dari lapangan-lapangan tua ini sangat
berhubungan erat dengan siklus produksi yang sudah seharusnya masuk ke dalam periode
secondary recovery," beber Manajer EOR Tanjung John Hisar Simamora, salah seorang pembicara
pada workshop tersebut.

EOR SEBAGAI JAWABAN


Langkah melakukan EOR adalah hal lumrah pada tahapan produksi secondary recovery dan tertiary
recovery. Sedangkan pada tahapan awal, yaitu primary recovery cukup dilakukan melalui
conventional oil recovery. Belum mesti dengan EOR. Saat ini kondisi lahan-lahan minyak Pertamina,
sebagian besar reservoirnya, sudah berada pada tahap akhir primary recovery. Sementara sisa
cadangan masih cukup signifikan sehingga perlu aplikasi teknologi EOR.

GM EOR M. Bunyamin menjelaskan dengan kondisi lapangan Pertamina sekarang, tidak mungkin
hanya mengandalkan eksplorasi saja. Bunyamin memberikan contoh lapangan Tambun yang
memproduksi 20 ribu BOPD.

"Dengan kondisi ini Tambun merupakan andalan, kita selalu ngebor dan ngebor untuk meningkatkan
produksi, begitu kita ngebor tetap hasilnya 20 ribu BOPD. Padahal kalau kita lihat dari kondisi
decline-nya tanpa mempertimbangkan blok baru, hanya eksisting, trend-nya naik atau turun?
Turunnya normal atau tidak?" tuturnya.

Decline lapangan Tambun sekarang (2004 - 2008) sekitar 20 persen. "Sekarang produksi terus
menurun hingga 20 persen. Tetapi kalau sejak awal sudah ada pressure maintenance atau water
flooding, decline nya itu sekitar 12 persen. Kesadaran melakukan EOR ini terlambat," tegas
Bunyamin.
Pertamina EP pada 1 September 2008 telah membentuk Project Management Team EOR (PMT EOR),
yang bertujuan meningkatkan produksi melalui proses secondary recovery dengan injeksi air dan
proses tertiary recovery dengan injeksi kimia. Peningkatan produksi ini diharapkan dapat menunjang
ambisi Pertamina menjadi produser nomor satu dan menurunkan angka impor minyak untuk
kebutuhan dalam negeri.

STRATEGI PERTAMINA EP
Sesuai dengan tujuan didirikannya PEP, anak perusahaan sektor hulu ini memang bertugas
menggarap eks WK Pertamina. Sehingga kalaupun ada WK lain dalam negeri di luar WK-WK itu akan
menjadi domain anak perusahaan sektor hulu yang lain, Pertamina Hulu Energi (PHE).

Seperti diketahui PHE selain menggarap lahan-lahan eksplorasi dan produksi di luar negeri juga
memegang ladang-ladang kerjasama dengan perusahaan lain atau Joint Operating Body Production
Sharing Contract (JOB PSC). Juga dalam bentuk Pertamina Participating Interest (PPI).

Untuk mencapai target korporat, PEP berusaha melakukan strategi peningkatan produksi. Dalam
rangka peningkatan produksi ini Presiden Direktur PEP Tri Siwindono menyebutkan PEP
mempersiapkan empat langkah, yaitu eksplorasi dengan mengembangkan konsep-konsep baru;
mengaktifkan sumur-sumur yang suspended yang dulu diabaikan karena dinilai tidak ekonomis;
program EOR; dan memasikmalkan produksi.

Apa yang disiapkan PEP dengan tiga langkah itu adalah sematamata mencakup pemaksimalan
lapangan-lapangan tua, juga mencari kemungkinan ditemukannya cadangan baru.

Tri Siwindono menjelaskan untuk eksplorasi pun PEP selektif. Walaupun ada sejumlah WK yang
belum tergarap maksimal, tetapi PEP tidak akan mencari di cekungan yang remote. Ada tiga syarat
dalam rangka eksplorasi PEP saat ini.

Syarat pertama, menurut Tri Siwindono, adalah quick yield, yaitu jenis eksplorasi yang dilakukan
dekat dengan lapangan eksisting sehingga begitu dapat langsung dapat duit. Yang kedua adalah
market driven mengeksplorasi di mana market terbuka di situ. Dan ketiga, PEP harus mencari big
fish, yaitu eksplorasi mencari di mana cadangan besar, meskipun remote. "Inilah tiga cara di mana
eksplorasi akan terkonsentrasi di situ," katanya.

Adapun mengenai lapangan yang suspended, yang ditangguhkan penggarapannya pada masa lalu,
menurut Presiden Direktur PEP pihaknya mau tidak mau harus mengaktifkannya lagi. Jenis lapangan
migas suspended adalah lapangan-lapangan migas yang saat itu tidak memungkinkan untuk
diproduksikan karena tidak ekonomis.

"Potensinya banyak. Di Cepu banyak sekali lapanganlapangan tua yang ditinggalkan. Yang dilakukan
oleh KUD-KUD (Koperasi Unit Desa) itu hanya mengangkat minyaknya saja, tidak menggunakan
teknologi," ujar Tri Siwindono.
Langkah PEP di lahan-lahan tua yang suspended?

"Kita akan kembali ke sana menggunakan teknologi yang baru untuk mempercepat dan
memperbesar produksi di sana. Tidak hanya di Cepu saja. Juga di Sumatera Selatan, dan di seluruh
lapangan yang ada di wilayah kerja kita," ujarnya.

Langkah ketiga, sebagai strategi untuk menaikkan produksi minyak, PEP melakukan EOR Project.
"EOR sangat dibutuhkan. Untuk"primary recovery sudah mencapai 90 persen. Padahal cadangan
yang bisa terambil itu cukup banyak, lebih dari 5 milliar barel. Potensi ini bisa diambiil di secondary
atau tertiary recovery. Jadi EOR mau tidak mau harus dimulai dari sekarang," jelasnya mengenai
alasan PEP mengapa harus ada proyek EOR di sejumlah lapangan.

Diposkan oleh Agus Subagya di 11:15:00 PM

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda

Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Outbound di Jogja

Looking for Outbound Training


Selamat Datang
Assalamu'alaikum Wr. Wb
Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menyatukan kita didalam
ikatan tali silaturahmi ini, semoga majlis ini senantiasa memberikan manfaat untuk kita bersama.
Tak lupa kami mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan, tutur saran ke arah perbaikan
sangat kami harapkan.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb

Total Tayangan Laman


Training Paling Diminati :
 DAFTAR PERUSAHAAN MINYAK DAN TAMBANG BATU BARA DI INDONESIA LENGKAP

Alas Watu Utama, PT. Wisma BSG, 9th Floor,Jl. Abdul Muis No. 40,Jakarta Pusat
10160,Indonesia DKI Jakarta Fax.(021) 3841980,Fax.(021) 35...

 Nama dan Alamat Perusahaan Ekplorasi Minyak dan Gas

Nama dan Alamat Perusahaan Ekplorasi Minyak dan Gas, Indonesia 1. Total E&P Indonesie
[Balikpapan Branch] Jl. Yos Sudarso,Balikpapan 76...

 Akuntansi Minyak dan Gas Bumi

http://hepiprayudi.wordpress.com/2009/07/08/psak-29-akuntansi-minyak-dan-gas-bumi/
PSAK 29: Akuntansi Minyak dan Gas Bumi PENDAHULU...

BASIC ENHANCED OIL RECOVERY (EOR)

DASAR-DASAR ENHANCED OIL RECOVERY (EOR)


http://zulfikariseorengineer.blogspot.com/2011/04/dasar-dasar-enhanced-oil-recovery-
eor.html ...

 INHOUSE TRAINING “OPERATOR PEMBORAN “ : Operator Lantai Bor (OLB) - Floorman atau
Rotary Helper, Operator Menara Bor (OMB) - Derrickman , Juru Bor (JB) - Driller
PROPOSAL INHOUSE TRAINING “OPERATOR PEMBORAN “ 1. Operator Lantai Bor (OLB), 2.
Operator Menara Bor (OMB) 3. Juru B...

KERUSAKAN FORMASI SUMUR

KERUSAKAN FORMASI SUMUR http://zulfikariseorengineer.blogspot.com/p/production.html


Kontak antara formasi dengan fluida lain ...

 INFO KARIR DI PERUSAHAAN MINYAK

Mungkin bagi anda yang tertarik ingin bekerja di perusahaan tambang ataupun migas, disini
saya hanya ingin berbagi beberapa diantaranya. dan...

Low Density Additives Pada Fuida Pemboran

Low Density Additives Pada Drilling Fluid


http://zulfikariseorengineer.blogspot.com/2011/04/low-density-additives-pada-drilling.html
...

 INTRODUCTION TO COMPRESSED NATURAL GAS (CNG)

INTRODUCTION TO COMPRESSED NATURAL GAS (CNG) Gas alam terkompresi (Compressed


natural gas, CNG) adalah alternatif bahan bakar sela...

 E S P – ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP : DESIGN, OPERATION AND TROUBLESHOOTING

E S P – ELECTRICAL SUBMERSIBLE PUMP : DESIGN, OPERATION AND TROUBLESHOOTING


Electrical Submergible Pump (ESP) merupakan salah satu tekni...

Arsip Blog
 ► 2014 (35)
o ► Agustus (3)
o ► Juli (4)
o ► Juni (3)
o ► Mei (3)
o ► April (19)
o ► Februari (3)

 ► 2013 (27)
o ► Oktober (1)
o ► September (3)
o ► Mei (5)
o ► Maret (2)
o ► Februari (1)
o ► Januari (15)

 ▼ 2012 (23)
o ▼ September (22)
 DAFTAR PERUSAHAAN MINYAK DAN TAMBANG BATU BARA DI...
 Low Density Additives Pada Fuida Pemboran
 DASAR-DASAR PERHITUNGAN CADANGAN MINYAK (Initial O...
 FORMATION EVALUATION For Oilgas Production System
 COILED TUBING
 Blow Out Preventer ( Oilgas BOP production system)...
 INTRODUCTION TO DRILLING FLUID TECHNOLOGY
 SIMULASI RESERVOIR UNTUK PERANCANGAN CHEMICAL INJE...
 SCALE SQUEEZE TREATMENT
 Lost Circulation in Practice
 Komposisi scale pada lapangan minyak
 PERAMALAN PRODUKSI MINYAK/GAS DENGAN MENGGUNAKAN D...
 BASIC OIL GAS PRODUCTION SYSTEM
 BASIC RESERVOIR ENGINEERING
 ARTIFICIAL LIFT TECHNOLOGY
 PETROLEUM PRODUCTION SYSTEM
 COAL BED METHANE (CBM)
 BASIC ENHANCED OIL RECOVERY (EOR)
 WELL SERVICE and WELL WORK
 KERUSAKAN FORMASI SUMUR
 UNDERBALANCED DRILLING
 Chemical Flooding (Chemical Injection - EOR)
o ► Agustus (1)

 ► 2010 (15)
o ► Maret (14)
o ► Februari (1)

 ► 2009 (9)
o ► Oktober (1)
o ► Juni (8)

Mengenai Saya
Agus Subagya

Profesional Training and Meeting Organizer with kinship and friendship concept
We are ready to assist and cooperate with various companies, agencies, and other
professional institutions in organizing the training activities, meetings, seminars, workshops,
conventions, etc.
Trust us all meetings, MICE, seminar, and training requirements. We will prepare all your
event planning needs, which include: hotel, professional trainer, accreditation forms,
hospitality and registration desk, field and laboratory practice location, Jogja city tour guide
service, transportation, souvenirs, etc. according to your needs.
Confidence Guarantee Cooperation in the field of training is a major force from us, because
it is supported by: The team of professional and experienced organizers, trainers and
instructors are competent, Innovation and Sustainable Development Program, as well as
service to the clients who put forward the concept of kinship and friendship.
Services : we offer event organizers: public training, inhouse training, international
certification, professional certification, outbound training, achievement motivation training,
religious training, company gathering, outing games, focus group discussion. etc.
Cooperation includes areas: Mechanical, Electrical, Industrial, Civil, Architech, Chemical,
Petroleum, Mining, Geothermal, Geophysics, Geology, Safety, Environment, Farming, Food
Industry, General Management, Finance, Sales and Marketing, Human Resources,
Administration, Organization Development, Comunity Development, Computer and
information technology, and special purpose (mice and customice).

Lihat profil lengkapku

Pengikut
Google+

Materi Petroleum Engineering Yang Paling Anda Minati


?

Template Ethereal. Diberdayakan oleh Blogger.