Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Kita semua memiliki gaya berperilaku dan cara tertentu dalam berhubungan dengan orang lain.
Beberapa dari kita adalah tipe teratur, yang lain ceroboh. Beberapa dari kita lebih memilih mengerjakan
tugas sendiri, yang lain lebih social. Beberapa dari kita tipe pengikut , yang lain pemimpin. Beberapa dari
kita terlihat kebal terhadap penolakan dari orang lain, sementara yang lain menghindari insiatif social karena
takut dikecewakan. Saat pola perilaku menjadi begitu tidak fleksibel atau maladaptive sehingga dapat
menyebabkan distress personal yang signifikan atau mengganggu fungsi social dan pekerjaan, maka pola
perilaku tersebut dapat didiagnosis sebagai gangguan kepribadian.
Kepribadian dapat didefinisikan sebagai gabungan emosi dan tingkah laku yang membuat individu
memiliki karakteristik tertentu untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. Kepribadian individu relatif stabil
dan memungkinan oarng lain untuk memprediksi pola pikir atau tindakan yang akan diambilnya.
Individu dikatakan mengalami gangguan kepribadian apabila ciri kepribadiannya menampakkan pola
perilaku maladaptif dan telah berlangsung untuk jangka waktu yang lama. Pola tersebut muncul pada setiap
situasi serta menganggu fungsi kehidupannya sehari-hari.
Pada individu ini, ciri kepribadian maladaptif itu tampak begitu melekat pada dirinya. Biasanya
mereka menolak untuk mendapatkan pertolongan dari terapis dan menolak atau menyangkal bahwa dirinya
memiliki suatu masalah. Individu dengan gangguan kepribadian lebih tidak menyadari masalah mereka,
mereka tidak merasa cemas tentang perilakunya yang maladaptif sehingga mereka pun tidak memiliki
motivasi untuk mencari pertolongan dan sulit sekali untuk mendapatkan perbaikan atau kesembuhan.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan gangguan kepribadian ?
2. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan kepribadian ?
3. Bagaimana gejala umum gangguan kepribadian ?
4.Bagaimana pengklasifikasian gangguan kepribadian sesuai dengan klasternya ?
5.Bagaimana pengertian dan diskripsi macam-macam gangguan kepribadian dari masing-masing
klaster ?
6. Bagaimana penanganan bagi penderita gangguan kepribadian ?
7. Bagaimana sudut pandang teoritis mengenai gangguan kepribadian ?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penulisan
1. Untuk mengetahui apa itu pengertian dari gangguan kepribadian.
2. Mengetahui faktor penyebab timbulnya gangguan kepribadian

1
3. Mengetahui gejala-gejala umum gangguan kepribadian.
4. Mengetahui macam – macam bentuk gangguan kepribadian sesuai dengan klasternya.
5. Mengetahui pengertian dan diskripsi macam-macam gangguan kepribadian dari masing-masing
klaster.
6. Mengetahui penangganan atau treatment bagi penderita gangguan kepribadian.
7. Mengetahui gangguan kepribadian ditinjau dari susut pandang teoritis.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Gangguan Kepribadian
Gangguan kepribadian menurut Rusdi Malim (1998) yang merujuk pada PPGDJ-III (Pedoman
Penggolongan diagnose Gangguan Jiwa III) adalah paranoid, schizoid, emosional tak stabil tipe implusif dan
borderline, historic, anankastik, cemas (menghindar), dependen, khas lainnya yang tidak tergolongkan.
Sedangkan gangguan kepribadian menurut Kaplan dan Saddock adalah suatu varian dari sifat
karakter tersebut yang diluar rentang yang ditemukan pada sebagian besar orang. Hanya jika sifat
kepribadian tidak fleksibel dan maladaptif dan dapat menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna
atau penderitaan subyektif maka dimasukkan sebagai kelas gangguan kepribadian.
Gangguan kepribadian adalah gangguan yang sangat heterogen, diberi kode pada Aksis II dalam
DSM dan dianggap sebagai pola perilaku dan pengalaman internal yang bertahan lama, pervasif, dan tidak
fleksibel yang menyimpang dari ekspetasi budaya orang yang bersangkutan dan menyebabkan hendaya
dalam keberfungsian sosial dan pekerjaan (Gerald,2004).
2.1.1 Faktor Penyebab Munculnya Gangguan Kepribadian
1. Faktor Genetika
Salah satu bukti bahwa faktor genetic berpengaruh terhadap munculnya gangguan kepribadian
berasal dari penelitian gangguan psikiatrik pada 15.000 pasangan kembar di Amerika Serikat.
Diantara kembar monozigotik, angka kesesuaian untuk gangguan kepribadian adalah beberapa kali
lebih tinggi dibandingkan kembar dizigotik. Selain itu menurut suatu penelitian, tentang penilaian
multiple kepribadian dan temperamen, minat okupasional dan waktu luang, dan sikap social, kembar
monozigotik yang dibesarkan terpisah adalah kira-kira sama dengan kembar monozigotik yang
dibesarkan bersama-sama.
2. Faktor Temperamental

2
Faktor temperamental yang diidentifikasi pada masa anak-anak mungkin berhubungan dengan
gangguan kepribadian pada masa dewasa. Contohnya, anak-anak yang secara temperamental
ketakutan mungkin mengalami kepribadian menghindar.
3. Faktor Biologis
- Hormon
Orang yang menunjukkan sifat impulsive seringkali juga menunukkan peningkatan kadar
testosterone, 17-estradiol dan estrone.
- Neurotransmitter
Penilaian sifat kepribadian dan system dopaminergik dan serotonergik, menyatakaan suatu
fungsi mengaktivasi kesadaran dari neurotransmitter tersebut. Meningkatkan kadaar serotonin
dengan obat seretonergik tertentu seperti fluoxetine dapat menghasilkan perubahan dramatik pada
beberapa karakteristik kepribadian. Serotonin menurunkan depresi, impulsivitas.
- Elektrofisiologi
Perubahan konduktansi elektrik pada elektroensefalogram telah ditemukaan pada beberaapa
pasien dengan gangguan kepribadian, paling sering pada tipe antisocial dan borderline, dimana
ditemukan aktivitas gelombang lambat.
4. Faktor Psikoanalitik
Sigmund Freud menyatakan bahwa sifat kepribadian berhubungan dengan fiksasi pada salah satu
stadium perkembangan psikoseksual. Fiksasi pada stadium anal, yaitu anakyang berlebihan atau
kurang pada pemuasan anal dapat menimbulkan sifat keras kepala, kikir dan sangat teliti.

2.1.2 Gejala Umum Gangguan Kepribadian


Individu dengan gangguan kepribadian memiliki berbagai pengalaman konflik dan ketidakstabilan
dalam beberapa aspek dalam kehidupan mereka. Gejala secara umum gangguan kepribadian berdasarkan
kriteria dalam setiap kategori yang ada. Secara umum gangguan ini klasifikasikan berdasarkan :
1. Pengalaman dan perilaku individu yang menyimpang dari social expectation. Penyimpangan pola
tersebut pada satu atau lebih:
- cara berpikir (kognisi) termasuk perubahan persepsi dan interpretasi terhadap dirinya, orang lain
dan waktu
- afeksi (respon emosional terhadap terhadap diri sendiri, labil, intensitas dan cakupan)
- fungsi-fungsi interpersonal
- dan kontrol terhadap impuls
2. Gangguan-gangguan tersebut bersifat menetap dalam diri pribadi individu dan berpengaruh pada
situasi sosial.

3
3. Gangguan kepribadian yang terbentuk berhubungan erat dengan pembentukan distress atau
memburuknya hubungan sosial, permasalahan kerja atau fungsi-fungsi sosial penting lainnya.
4. Pola gangguan bersifat stabil dengan durasi lama dan gangguan tersebut dapat muncul dan
memuncak menjelang memasuki dewasa dan tidak terbatas pada episode penyakit jiwa.
5. Gangguan pola kepribadian tidak disebabkan oleh efek-efek psikologis yang muncul yang
disebabkan oleh kondisi medis seperti luka di kepala.
Gangguan kepribadian tidak didiagnosa pada pada individu yang berusia dibawah 18 tahun, dengan
pertimbangan bahwa pada usia dibawah 18 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pada
remaja awal, bila pun adanya simtom-simtom tertentu yang tampak, haruslah simtom tersebut menetap
setidaknya 1 tahun lamanya, namun tidak semua gejala yang ada dapat didiagnosa sebagai bentuk gangguan
kepribadian.

2.2. Klasifikasi Gangguan Kepribadian


Gangguan kepribadian digolongkan menjadi tiga kelompok dalam DSM- IV-TR sebagai berikut:
1. Para individu dalam kelompok A adalah individu yang aneh atau eksentrik. Gangguan
kepribadian yang termasuk kelompok A yaitu paranoid, Schizoid, dan Schizotypal.
2. Mereka yang berada dalam kelompok B adalah individu yang dramatis, emosional, atau eratik.
Gangguan kepribadian yang termasuk dalam kelompok B yaitu Anti Social, borderline,
Histrionic, dan narsistik.
3. Mereka yang berada dalam kelompok C adalah individu yang pencemas atau ketakutan.
Gangguan kepribadian yang termasuk dalam kelompok C yaitu avoidant, dependent, dan
Obsessive-Compulsive.
Gangguan Kepribadian
Gangguan Kepribadian – adalah ciri kepribadian yang kaku dan mengalahkan diri sendiri, sehingga
mempengaruhi fungsinya dan bahkan menyebabkan gejala psikiatrik, menyebabkan penderitaan pada pasien
atau orang lain atau keduanya dan menimbulkan maladaptasi sosial (teman, keluarga, pekerjaan)
Kepribadian demikian nampak tidak seimbang, tanpa koordinasi perilaku yang harmonis.

Epidemiologi.
prevalensi gangguan kepribadian berkisar dari keseluruhan gangguan psikiatri berkisar antara 10-23%.
1. Paranoid 0,5 - 2,5%
2. Skizoid ?%
3. Skizotipal 3%(dalam kategori F2 pada ICD-10)
4. Antisocial 3% (dissosial pada ICD-10)
5. Borderline 2%
6. Histrionik 2-3%
7. Narsisistik kurang dari 1%
8. Menghindar 0,5-1%
9. Dependen 2,5-25%

4
2.2.1. Gangguan Kepribadian Paraniod
2.2.1.1 Pengertian Gangguan Kepribadian Paranoid
Individu yang didiagnosis dalam gangguan kepribadian ini akan dipenuhi keraguan yang
tidak beralasan terhadap kesetiaan orang lain dan akan selalu mencurigainya. Gangguan kepribadian
ini paling banyak terjadi pada laki-laki dan sebagian besar dialami bersamaan dengan gangguan
kepribadian Schizotypal, borderline dan menghindar (Berntein, 1993; Morey, 1988). Prevalensinya
berkisar 2 persen (Torgersen, Kringlen, & Cramer, 2001).
Beberapa penelitian mengenai sejarah keluarga menunjukkan bahwa paranoid personality
disorder sedikit lebih umum dalam keluarga dengan orang-orang yang mengalami skizofrenia
dibandingkan dengan keluarga dengan orang-orang yang sehat. Dalam Wiramihardja (2010) ahli
teori psikoanalisa berpendapat bahwa paranoid personality disorder adalah hasil dari kebutuhan
orang-oran yang menolak perasaan yang sebenarnya dan memproyeksikan perasaan tersebut kedalam
diri orang lain (Freud, 1958; Shapiro, 1965).
2.2.1.2 Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Paranoid
Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Paranoid dalam DSM IV-TR yaitu:
1. Ketidakpercayaan dan kecurigaan yang pervasif (menyebar) kepada orang lain sehingga motif
mereka dianggap sebagai berhati dengki, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam
konteks, seperti yang ditunjukkan empat (atau lebih) berikut:
- menduga tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan, membahayakan atau
mengkhianati dirinya.
- preokupasi dengan keraguan yang tidak pada tempatnya tentang loyalitas atau kejujuran teman atau
rekan kerja.
- enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena takut yang tidak perlu bahwa informasi akan
digunakan secara jahat melawan dirinya.
- membaca arti merendahkan atau mengancam yang tersembunyi dari ucapan atau kejadian yang
biasa.
- secara persisten menanggung dendam yaitu tidak memaafkan kerugian, cedera atau kelalaian.
- merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan
dengan cepat bereaksi secara marah atau balas menyerang.
- memiliki kecurigaan yang berulang, tanpa pertimbangan, tentang kesetiaan atau mitra seksual.
2. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skozfrenia, suatu gangguan mood dengan ciri
psikotik, atau gangguan psikotik lain dan bukan karena efek fisiologis langsung dari kondisi medis
umum.

5
Catatan: jika kriteria terpenuhi sebelum onset skizofrenia, tambahkan “pramorbid”, misalnya
“gangguan kepribadian paranoid (pramorbid)”.
2.2.1.3 Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Paranoid
Gangguan delusional → pada paranoid tidak ditemukan waham yang terpaku
Skizofrenia paranoid → pada paranoid tidak ditemukan halusinasi dan pikiran formal
Gangguan kepribadian borderline → pada paranoid, mereka jarang mampu terlibat secara berlebihan
dan rusuh dalam persahabatan dengan orang lain
Gangguan kepribadian Anti Social → pada paranoid tidak ditemukan karakter Anti Social sepanjang
riwayat perilaku Anti Social yang muncul
Gangguan kepribadian Schizoid → mereka menarik diri dan menjauhkan diri dari orang lain tapi
tidak memiliki gagasan paranoid
2.2.1.4. Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Paranoid
Seorang pensiunan pengusaha berusia 85 tahun diwawancarai oleh pekerja sosial untuk
menentukan kebutuhan perawatan kesehatan bagi dirinya serta istrinya yang sakit dan lemah. Pria
ini tidak memiliki sejarah penanganan gangguan mental. Ia terlihat sehat dan waspada secara
mental. Ia dan istrinya telah menikah selama 60 tahun dan tampak bahwa istrinya adalah satu-
satunya orang yang ia percaya. Dia selalu curiga pada orang lain. Ia tidak akan mengungkapkan
informasi pribadi pada siapapun kecuali pada istrinya. Ia yakin bahwa orang lain akan mengambil
keuntungan darinya. Ia menolak tawaran bantuan dari kenalannya karena ia curiga dengan motif
mereka. Saat menerima telepon ia akan menolak untuk menyebutkan namanya sampai ia tahu
maksud si penelepon. Ia meluangkan waktu yang cukup banyak untuk memonitor investasinya dan
pernah bertengkar dengan pialangnya saat terjadi kesalahan dalam rekening bulanannya yang
membuatnya curiga bahwa pialangnya tersebut berusaha menutupi transaksi yang curang. (Sumber
data: http://www.slideshare.net/syafrina_arifin/gangguan kepribadian)
2.2.1.5 Penanganan Gangguan Kepribadian Paranoid
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam menangani gangguan kepribadian paranoid.
Adapun cara tersebut adalah sebagai berikut :
1. Terapi Cognitive behavioral therapy (CBT): Terapi ini dapat membantu individu mengenal
sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif dan mengembalikannya
secara positif.
2. Psikoterapi: bila diminta bantuan, maka dalam bimbingan dititik-beratkan pada pengalaman
subjektif dalam pribadinya dan pada interaksi dengan dokter.
3. Farmakoterapi: berguna dalam menghadapi agitasi dan kecemasan. Pada sebagian besar kasus
suatu obat antiansietas seperti diazepam (Valium) adalah memadai. Tetapi mungkin perlu untuk
menggunakan suatu antipsikotik, seperti thioridazine (Mellaril) atau haloperidol (Haldol),dalam
6
dosis kecil dan dalam periode singkat untuk menangani agitasi parah atau pikiran yang sangat
delusional.
2.2.2 Gangguan Kepribadian Schizoid
2.2.2.1. Pengertian Gangguan Kepribadian Schizoid
Individu yang mengalami gangguan ini tidak menginginkan atau menikmati hubungan sosial
dengan orang lain dan biasanya tidak memiliki teman akrab. Selain itu, individu tersebut adalah
seorang penyendiri yang menyukai berbagai aktivitas yang dilakukan dalam kesendirian.
Prevalensinya sedikit lebih kecil pada kaum perempuan dibanding pada kaum laki-laki (Torgersen,
Kringlen, & Cramer, 2001).
Dalam Wiramihardja (2010) menyebutkan bahwa ahli teori psikoanalisis berpendapat bahwa
schizoid personality disorder dibangun melalui hubungan ibu dan anak yang terganggu, dimana anak
tidak pernah belajar untuk memberi atau menerima kasih sayang (Blueler,1942; Klein, 1952). Anak
yang menunjukkan hubungan dan emosi sebagai hal yang berbahaya, selanjutnya mereka berdua
tetap jauh dari orang lain dan juga perasaan mereka sendiri.
2.2.2.2. Kriteria Diagnostik Kepribadian Schizoid
Kriteria gangguan kepribadian Schizoid dalam DSM IV-TR, terdapat empat atau lebih dari
ciri-ciri berikut ini yang tidak muncul secara eksklusif dalam perjalanan penyakit skizofrenia,
depresi psikotik, atau sebagai bagian dari gangguan perkembangan pervasif; juga tidak disebabkan
oleh kondisi medis umum. Adapun gejalanya adalah sebagai berikut:
- Kurang berminat atau kurang menyukai hubungan dekat
- Hampir secara eksklusif lebih menyukai kesendirian
- Kurangnya minat untuk berhubungan seks
- Hanya sedikit, jika ada, mengalami kesenangan
- Kurang memiliki teman
- Bersikap masa bodoh terhadap pujian atau kritik dari orang lain
- Afek datar, ketidaklekatan emosional
2.2.2.3. Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Schizoid
Skizofrenia → pasien Schizoid tidak memiliki sanak saudara skizofrenik, dan mereka memiliki
riwayat pekerjaan yang berhasil. Pasien juga tidak memiliki waham atau halusinasi.
Paranoid → pasien paranoid lebih menunjukkan keterlibatan sosial, riwayat perilaku agresif verbal &
cenderung melakukan proyeksi atas perasaan mereka.
OCPD → pasien OCPD memiliki riwayat hubungan objek yang lebih banyak di masa lalu dan tidak
terlibat lamunan autistik.
Schizotypal → pasien ini lebih mirip dengan pasien skizofrenik dalam hal keanehan persepsi,
pikiran, perilaku dan komunikasi.
7
Avoidant → sama-sama terisolasi, tapi pasien memiliki masih minat sosial.
2.2.2.4. Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Schizoid
John, seorang pensiunan polisi berusia 50 th, mengalami gangguan psikologis sejak anjing
kesayangannya mati ditabrak mobil. Sejak itu ia merasa sedih dan lelah. Ia menjadi sulit konsentrasi
dan sulit tidur. Ia tinggal sendiri dan lebih senang menyendiri. Membatasi kontak dengan orang lain
hanya dengan menyapa “Halo” atau “Apakabar?”, sambil terus berlalu. Ia merasa bahwa percakapan
sosial hanya membuang- buang waktu dan merasa canggung jika ada orang lain yang mencoba
membina hubungan persahabatan. Ia tidak memiliki minat sosial yang nyata, meskipun ia gemar
membaca atau melihat berita di tv. Satu- satunya hubungan yang ia miliki adalah dengan anjingnya.
(Sumber: http://www.slideshare.net/syafrina_arifin/gangguan-kepribadian)
2.2.2.5. Penanganan Gangguan Kepribadian Schizoid
Adapun cara yang dapat dilakukan dalam menangani gangguan kepribadian Schizoid
adalah sebagai berikut :
- Diberikan berupa melakukan kegiatan untuk meningkatkan sosialisasi dari pasien itu sendiri
- Hindari pengisolasian dan perawatan secara institusional
- Libatkan pasien dalam terapi okupasi dan terapi secara berkelompok
- Tingkatkan fungsi klien dalam masyarakat
- Bantu klien untuk mendapatkan manajer kasus
- Psikoterapi : psikoterapi suportif, bimbingan dalam cara hidup, anjuran untuk mengambil bagian
dalam kegiatan sosial dan hubungan antar manusia
- Farmakologi terapi : farmakoterapi dengan antipsikotik dosis kecil, antidepresan dan
psikostimulan telah efektif pada beberapa pasien.
2.2.3. Gangguan Kepribadian Schizotypal
2.2.3.1. Pengertian Gangguan Kepribadian Schizotypal
Merupakan pola berpikir yang khas (dalam arti tidak baik) dalam bicara dan dalam persepsi
tidak aktual, sehingga merusak komunikasi dan interaksi sosial. Kognisi ganjil dari orang-
orang penderita schizotypal personality disorder terbagi menjadi empat kategori, yaitu:
- Kategori pertama adalah paranoia atau spiciousness (bersifat paranoid dan selalu mencurigai).
Orang-orang dalam kategori ini selalu menganggap orang lain sangat curang dan memusuhi.
- Kategori kedua adalah “referensi ide” (idea of reference). Meyakini bahwa kejadian-kejadian
acak yang ada di sekitarnya berkaitan dengan mereka.
- Kategori ketiga adalah odd beliefs and magical thinking yaitu keyakinan aneh dan pemikiran
magis.
- Kategori keempat adalah illusions yang merupakan halusinasi yang singkat. Sejarah keluarga,
adopsi (pengangkatan anak) dan penelitian mengenai anak kembar, seluruhnya memberikan

8
pendapat bahwa Schizotypal Personality Disorder merupakan gangguan yang ditularkan atau
disebarkan secara genetis (Nigg & Goldsmith, 1994; Siever dkk.,1998). Orang-orang dengan
schizotypal personality disorder menunjukkan abnormalitasnya dalam struktur otak mereka yang
mirip dengan apa yang tampak pada orang-orang schizophrenia (Dickey, McCarley, &
Shenton, 2002; Downhill dkk., 2001).
2.2.3.2 Kriteria Diagnostik Kepribadian Schizotypal
Kriteria gangguan kepribadian Schizotypal dalam DSM IV-TR yaitu sebagai berikut:
1. Pola pervasif defisit sosial dan interpersonal yang ditandai oleh ketidaksenangan akut dengan, dan
penurunan kapasitas untuk, hubungan erat dan juga oleh penyimpangan kognitif atau persepsi dan
perilaku eksentrik, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang
ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut:
- gagasan yang menyangkut diri sendiri (ideas of reference) (kecuali waham yang
menyangkut diri sendiri)
- keyakinan aneh atau pikiran magis yang mempengaruhi perilaku dan tidak konsisten dengan
norma kultural (misalnya, percaya takhyul, percaya dapat melihat apa yang akan terjadi,
telepati, indera keenam, pada anak-anak dan remaja, khayalan atau preokupasi yang kacau)
- pengalaman persepsi yang tidak lazim, termasuk ilusi tubuh
- pikiran dan bicara yang aneh (misalnya samar-samar, sirkumstansialitas, metaforik, terlalu
berbelit-belit atau stereotipik)
- kecurigaan atau ide paranoid
- afek yang tidak sesuai atau terbatas
- perilaku atau penampilan yang aneh, eksentrik atau janggal
- tidak memiliki teman akrab atau orang yang dipercaya selain sanak saudara derajat pertama
- kecemasan sosial yang berlebihan yang tidak menghilang dengan keakraban dan cenderung
disertai dengan ketakutan paranoid ketimbang pertimbangan negatif tentang diri sendiri
2. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skozfrenia, suatu gangguan mood dengan ciri
psikotik, atau gangguan psikotik lain atau suatu gangguan perkembangan pervasif.
Catatan: jika kriteria terpenuhi sebelum onset skizofrenia, tambahkan “pramorbid”, misalnya
“gangguan kepribadian Schizotypal (pramorbid)”.
2.2.3.3. Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Schizotypal
- Schizoid → pasien Schizotypal memiliki keanehan dalam perilaku, pikiran, persepsi dan
komunikasi dan memiliki riwayat keluarga skizofrenik
- Skizofrenia → pasien Schizotypal tidak memiliki ciri-ciri psikosis
- Paranoid → pasien paranoid memiliki tanda kecurigaan tetapi tidak memiliki perilaku aneh

9
2.2.3.4. Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Schizotypal
Jonathan, mekanik, pria 27 tahun, memiliki sedikit teman dan lebih memilih membaca novel
fiksi ilmiah dibandingkan bersosialisasi dengan orang lain. Ia jarang bergabung dalam percakapan
dengan oranglain. Suatu saat ia tampak seperti hanyut dalam pikirannya sendiri. Ia sering
menunjukkan ekspresi ganjil di wajahnya. Mungkin ciri perilaku yang paling tidak umum adalah ia
melaporkan pengalaman yang datang sewaktu-waktu akan perasaan bahwa almarhum ibunya
berdiri di dekatnya. Keyakinan ini menenangkan baginya dan ia menantikan terjadinya peristiwa itu
kembali. Jonathan menyadari hal tersebut tidak nyata. Ia tidak pernah mencoba untuk menyentuh ruh
tersebut. Perasaan berada didekat ruh ibunya merupakan pengalaman yang cukup
menenangkan katanya.
2.2.3.5 Penanganan Gangguan Kepribadian Schizotypal
- Kembangkan keterampilan perawatan diri (klien) dan keterampilan social serta perbaikan fungsi
masyarakat, klien didorong untuk melakukan kegiatan rutin sehari-hari dan membantu klien untuk
memutuskan kapan tugas hygiene dan berhias diperlukan. Dan juga dapat membantu dengan
meminta klien untuk membuat daftar orang-orang di masyarakat yang harus ia hubungi untuk
kemudian dapat memperbaiki keterampilan social klien untuk berbicara jelas kepada orang lain dan
mengurangi perbincangan aneh.
- Psikoterapi : pikiran yang aneh dan ganjil dari pasien gangguan kepribadian Schizotypal harus
ditangani dengan berhati-hati. Beberapa pasien terlibat dalam pemujaan, praktek religius yang aneh,
dan okulitis. Ahli terapi tidak boleh menertawakan aktivitas tersebut atau mengadili kepercayaan
atau aktivitas mereka.
- Farmakoterapi : Medikasi antipsikotik berguna untuk mengatasi gagasan mengenai diri sendiri,
waham, dan gejala lain dari gangguan dan dapat digunakan bersama-sama dengan psikoterapi. Hasil
yang positif telah dilaporkan dengan haloperidol. Anti depresan digunakan jika ditemukan suatu
komponen depresif dari kepribadian.
2.2.4. Gangguan Kepribadian Antisocial
2.2.4.1. Pengertian Gangguan Kepribadian Antisocial
Gangguan kepribadian antisocial dan psikopati yang kadang disebut dengan sosiopati
seringkali digunakan bergantian. Perilaku antisocial yang melanggar hukum, merupakan komponen
penting keduanya. Pada gangguan kepribadian Anti Social ini, individu tidak memerhatikan hak
orang lain, aturan, dan hukum.
Hasil dari penelitian yang dilakukan Shannon dkk. (2014), mengenai apakah narapidana yang
melakukan tindakan kekerasan teridentifikasi memiliki gejala gangguan kepribadian Anti Social
(ASPD). Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tidak adanya dorongan atau dukungan yang

10
menyatakan diagnosa gejala gangguan kepribadian Anti Social (ASPD) pada narapidana yang
menggunakan kekerasan dalam penjara.
Berdasarkan suatu kajian literature, bahwa kurangnya afeksi dan penolakan berat oleh orang
tua merupakan penyebab utama perilaku psikopatik (McCord dan McCord, 1964). Perilaku
psikopatik berkaitan dengan tidak konsistennya orang tua dalam mendisiplinkan anak-anak mereka
dan dalam mengajarkan tanggung jawab terhadap orang lain, penyiksaan fisik, dan kehilangan orang
tua (Marshall & Cooke, 1999; Johnson dkk., 1999).
Korelasi Genetik GKA – Gangguan Kepribadian Anti Social. Dalam sebuah penelitian
menunjukkan bahwa kriminalitas dan gangguan kepribadian Anti Social memiliki komponen
keturunan, namun belum dilakukan penelitian perilaku-genetik mengenai konsep psikopati yang
dikembangkan oleh Cleckley dan Hare. Tingkat konflik yang tinggi dan negasivitas serta kadar
kehangatan orang tua yang rendah memprediksi perilaku antisocial dalam sebuah studio orang
kembar yang dilakukan Reiss dkk, (1995).
Pada sebuah studi klasik berdasarkan observasi klinis Cleckley, Lykken (1957) menguji
pemikiran bahwa psikopat hanya memiliki hambatan untuk melakukan tindakan antisocial karena
mereka sangat sedikit mengalami kecemasan. Penelitian Lykken mendukung pemikiran bahwa
psikopat memiliki kadar kecemasan rendah, kemampuan mereka menghindari kejut lebih rendah dari
kelompok control.
2.2.4.2 Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Antisocial
Karakteristik Gangguan Kepribadian Anti Social dalam DSM IV- TR yaitu sebagai berikut:
1. Terdapat pola pervasif tidak menghargai dan melanggar hak orang lain yang terjadi sejak usia 15
tahun,seperti yang ditunjukkan oleh tiga (atau lebih) berikut:
- gagal untuk mematuhi norma sosial dengna menghormati perilaku sesuai hukum seperti
yang ditunjukkan dengan berulang kali melakukan tindakan yang menjadi dasar penahanan
- ketidakjujuran, seperti yang ditunjukkan oleh berulang kali berbohong, menggunakan nama
samaran, atau menipu orang lain untuk mendapatkan keuntungan atau kesenangan pribadi
- impulsivitas atau tidak dapat merencanakan masa depan
- iritabilitas dan agresivitas, seperti yang ditunjukkan oleh perkelahian fisik atau penyerangan
yang berulang
- secara sembrono mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain
- terus menerus tidak bertanggung jawab, seperti ditunjukkan oleh kegagalan berulang kali
untuk mempertahankan perilaku kerja atau menghormati kewajiban finansial
- tidak adanya penyesalan, seperti yang ditunjukkan oleh acuh tak acuh terhadap atau
mencari-cari alasan telah disakiti, dianiaya atau dicuri oleh orang lain
2. Individu sekurang-kurangnya berusia 18 tahun
11
3. Terdapat tanda-tanda gangguan konduksi dengan onset sebelum usia 15 tahun
4. Terjadinya perilaku Anti Social tidak semata-mata selama perjalanan skizofrenia atau suatu
episode manik
2.2.4.3. Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Antisocial
- Gangguan kepribadian Anti Social dapat dibedakan dari perilaku ilegal dimana gangguan
kepribadian Anti Social melibatkan banyak bidang dalam kehidupan seseorang.
- Dalam mendiagnosis gangguan kepribadian Anti Social, klinisi harus mempertimbangkan efek
yang mengganggu dari status sosioekonomi, latar belakang kultural, dan jenis kelamin pada
manifestasinya, selain itu diagnosis gangguan kepribadian Anti Social tidak diperlukan jika retardasi
mental, skizofrenia, atau mania dapat menjelaskan gejala.
2.2.4.4. Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Antisocial
Jakarta - Mujianto alias Menthok alias Genthong (24), tersangka pembunuhan di Nganjuk,
Jawa Timur, diduga memiliki kecenderungan Anti Social dan psikopat. Sebagai seorang psikopat,
Mujianto dinilai tidak mempunyai rasa empati. "Secara teoritis kasus pembunuhan ini, pelaku
memiliki kecenderungan Anti Social dan psikopat," ujar ahli Psikologi Forensik Universitas
Surabaya, Yusti Probowati, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (16/2/2012).
Dalam teori psikologi, seorang yang masuk dalam ketegori psikopat cenderung tidak
mengikuti aturan yang ada dan memiliki egosenteris yang sangat tinggi. "Pasti ada yang salah dari
masa kecil dia (Mujianto) sehingga aturan itu tidak dipahami scara baik," kata Yusti. Sifat egosentris
yang dimiliki oleh Mujianto membuat dirinya sering merasa tergangggu dengan kondisi yang tidak
cocok dengan dirinya, termasuk dengan rasa cemburu yang besar. "Egosentrisnya tinggi yang
menyebabkan dia melakukan hal yang di luar batas. Itu yang terjadi," ucapnya.
Yusti menyebut masalah yang dihadapi oleh Mujianto berada pada dirinya sendiri, bukan dari
lingkungannya. "Yang intinya dia sendiri agak sulit menerima yang melukai dirinya," kata Lita.
Mujianto dalam pengakuannya ke polisi telah meracuni 15 orang, namun yang baru terungkap 6
orang. Kasus ini terungkap setelah dua korban selamat, Muhammad Fais (28) dan Sumartono (47),
melapor ke polisi. Pelaku dibekuk di rumah J, Desa Sonopatik, Kecamatan Berbek, Kabupaten
Nganjuk. Di tempat itu, pelaku pernah bekerja sebagai pembantu dan merangkap sebagai pasangan
homo J.
(Sumber:http://news.detik.com/read/2012/02/16/091055/1843730/10/mujianto-punya-
kecenderungan-psikopat-Anti Social?9911012)
2.2.4.5. Penangganan Gangguan Kepribadian Antisocial
Adapun penanganan yang dapat dilakukan pada gangguan kepribadian Anti Social ini
adalah sebagai berikut :

12
- Meningkatkan perilaku bertanggung jawab. Penetapan batasan, mengidentifikasi konsekuensi
melanggar batasan dan perilaku yang diharapkan atau yang dapat diterima. Menjelaskan perilaku
bermasalah dan mempertahankan klien tetap focus pada dirinya.
- Membantu klien menyelesaikan masalah dan mengendalikan emosi. Ajarkan individu (klien)
untuk menyelesaikan masalah secara efektif dan mengatasi emosi marah atau frustasi.
- Meningkatkan performa peran, mengidentifikasi hambatan untuk menjalankan peran, dan
mnegurangi atau mengehentikan penggunaan obat – obatan dan alkohol.
- Psikoterapi : belum diketahui pengobatan yang optimal tetapi dokter dapat membantu penderita
dan keluarganya mengambil keputusan tentang penanganan. Bila perlu dapat diadakan
institusionalisasi untuk sementara waktu. Pada umumnya dapat dianjurkan kedua-duanya baik
terapi individual maupun terapi kelompok. Kadang-kadang terjadi perbaikan terutama pada umur
30 dan 40 tahun. Perbaikan ini tidak harus disertai dengan penyesuaian diri yang baik. Banyak
penderita yang masih terus memperlihatkan kesukaran hubungan antar manusia, iritabilitas, rasa
permusuhan terhadap suami atau istri, tetangga dan agama. Alasan yang sering diberikan oleh
penderita tentang perbaikan ini adalah kematangan, perkawinan, takut dipenjarakan dan tanggung
jawab yang bertambah.
- Farmakoterapi : digunakan untuk menghadapi gejala yang diperkirakan akan timbul – seperti
kecemasan, penyerangan, dan depresi – tetapi, karena pasien seringkali merupakan
penyalahgunaan zat, obat harus digunakan secara bijaksana. Jika pasien menunjukkan bukti-bukti
adaya gangguan defisit-atensi hiperaktivitas, psikostimulan, seperti methylphenidate (Ritalin),
mungkin digunakan. Harus dilakukan usaha untuk mengubah metabolisme katekolamin dengan
obat-obatan dan untuk mengendalikan perilaku impulsif dengan obat antiepileptik, khususnya
jika bentuk gelombang abnormal ditemukan pada EEG.
2.2.5 Gangguan Kepribadian Borderline
2.2.5.1 Pengertian Gangguan Kepribadian Borderline
Gangguan kepribadian Borderline atau biasa disebut dengan gangguan kepribadian ambang
adalah gangguan kepribadian yang mempunyai ciri-ciri utama berupa impulsivitas dan
ketidakstabilan hubungannya dengan orang lain dan mood (Sanislow, Grilo, & McGlashan, 2000).
Gangguan borderline ini pada umumnya bermula pada masa remaja atau dewasa awal dan lebih
sering terjadi kepada wanita daripada kepada pria dengan prevalensi 1 persen (Swartz dkk, 1990;
Torgesen, Kringlen, & Cramer, 2001).
Secara biologis Para pasien borderline memiliki neurotisisme tinggi, suatu trait yang
diturunkan secara genetik (Nigg & Goldsmith,1994). Teori objek-hubungan Otto Kernberg
mengemukakan bahwa pengalaman masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan menyebabkan
anak-anak mengembangkan ego yang tidak merasa aman. Teori diathesis-stres dari Linehan. Linehan

13
berpendapat bahwa gangguan kepribadian borderline terjadi bila orang yang memiliki kemungkinan
genetik (diathesis biologis) berupa kesulitan mengendalikan emosi dibesarkan dalam lingkungan
keluarga yang tidak mempertimbangkan dan menghargai keinginan/perasaan seseorang serta upaya
untuk mengomunikasikan perasaan tidak diterima bahkan dihukum.
2.2.5.2 Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Borderline
Kriteria Gangguan Kepribadian Borderline dalam DSM IV-TR yaitu:
1. Pola pervasif ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri dan afek dan impulsivitas yang
jelas pada masa dewasa awal dan ditemukan dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh
lima (atau lebih) berikut:
- usaha mati-matian untuk menghindari ketinggalan yang nyata atau khayalan.Catatan:tidak
termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam kriteria 5
- pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh perubahan antara
ekstrim-ekstrim idealisasi dan devaluasi
- gangguan identitas:citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas dan
persisten
- impulsivitas pada sekurangnya dua bidang yang membahayakan diri sendiri (misalnya
berbelanja,seks,penyalahgunaan zat,ngebut gila-gilaan,pesta makan).Catatan:tidak termasuk
perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam kriteria 5
- perilaku,isyarat atau ancaman bunuh diri yang berulangkali, atau perilaku mutilasi diri
- ketidakstabilan afektif karena reaktivitas mood yang jelas (misalnya disforia episodik
kuat,iritabilitas,atau kecemasan biasanya berlangsung beberapa jam dan jarang lebih dari
beberapa hari)
- perasaan kosong yang kronis
- kemarahan yang kuat dan tidak pada tempatnya atau kesulitan dalam mengendalikan
kemarahan (misalnya sering menunjukkan temper,marah terus menerus,perkelahian fisik
berulangkali)
- ide paranoid yang transien dan berhubungan dengan stres, atau gejala disosiatif yang parah
2.2.5.3 Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Borderline
- Skizofrenia → BPD tidak ada episode psikotik, gangguan pikiran dan tanda skizofrenik lain yang
berkepanjangan
- Schizotypal → BPD tidak menunjukkan gagasan yang aneh, dan pikiran yang sangat aneh
2.2.5.4 Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Borderline
Klien : “Saya menahan kemarahan dalam diri saya, yang terjadi adalah..saya tidak dapat
merasakannya, saya mendapat serangan panik. Saya menjadi sangat gugup, merokok
terlalu banyak. Jadi apa yang terjadi pada saya, saya adalah cenderung „meledak?. Berurai
14
air mata atau menyakiti diri atau apapun..karena saya tidak tahu bagaimana caranya untuk
mengatasi semua perasaan yang campur aduk ini.
Konselor : “Apa contoh terbaru dari „ledakan? itu?”
Klien : “Beberapa bulan yang lalu saya sendirian di rumah, saya ketakutan! Saya mencoba
mengontak pacar saya dan saya tidak bisa melakukannya. Saya tidak tahu dimana dia
berada. Semua teman saya tampak sibuk malam itu dan saya tidak punya siapa-siapa untuk
diajak bicara..saya makin dan semakin gugup dan makin dan semakin kacau.
Klien : “…Akhirnya..dor!...saya ambil rokok dan menyalakannya dan menancapkannya di lengan
saya. Saya tidak tahu mengapa saya melakukan hal itu karena saya tidak peduli pada hal
itu. Saya kira pada waktu itu saya merasa bahwa saya harus melakukan sesuatu yang
dramatis….”.
(Sumber: http://www.slideshare.net/syafrina_arifin/gangguan-kepribadian)
2.2.5.5 Penanganan Gangguan Kepribadian Borderline
Adapun penanganan yang dapat dilakukan gangguan kepribadian borderline adalah sebagai berikut :
- Tingkatkan keamanan
- Bantu klien mengatasi dan mengendalikan emosi
- Teknik restrukturisasi kognitif
- Dekatastrofe situasi
- Berbicara positif dengan diri sendiri
- Membuat daftar aktivitas untuk menghilangkan kebosanan
- Ajarkan keterampilan sosial
- Harapan realistis dari hubungan
- Psikoterapi : interaksi dengan anggota staf yang terlatih dari berbagai disiplin dan dibekali
dengan terapi kerja, rekreasional, dan kejuruan.
- Farmakoterapi : antidepresan memperbaiki mood yang terdepresi yang sering ditemukan pada
pasien. MAOI adalah efektif dalam memodulasi perilaku impulsif pada beberapa pasien.
Benzodiazepin, khususnya alprazolam, membantu kecemasan dan depresi, tetapi beberapa pasien
menunjukkan disinhibisi dengan kelas obat tersebut. Antikonvulsan seperti karbamazepin, padat
meningkatkan fungsi global pada beberapa pasien. Obat serotonergik, seperti fluoxetine, adalah
membantu pada beberapa kasus.
2.2.6 Gangguan Kepribadian Histrionic
2.2.6.1 Pengertian Gangguan Kepribadian Histrionic
Gangguan Histrionic ini diperuntukkan bagi orang-orang yang terlalu dramatis dan mencari
perhatian. Gangguan kepribadian ini cenderung terjadi di kalangan orang-orang yang mengalami
perpisahan dengan pasangannya dan dihubungkan dengan depresi serta kesehatan fisik yang buruk
15
(Nestadt dkk, 1990). Gangguan ini lebih banyak terjadi pada wanita daripada pria dengan prevalensi
2 persen.
Teori psikoanalisa berpendapat bahwa emosionalitas dan ketidaksenonohan perilaku secara
seksual didorong oleh ketidaksenonohan orangtua, terutama ayah kepada anak perempuannya.
Sedangkan ekspresi emosi yang berlebihan dipandang sebagai simtom- simtom konflik tersembunyi
tersebut dan kebutuhan untuk menjadi pusat perhatian dipandang sebagai cara untuk
mempertahankan diri dari perasaan yang sebenarnya yaitu harga diri yang rendah (Apt &
Hurlbert, 1994; Stone, 1993).
2.2.6.2 Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Histrionic
Kriteria gangguan kepribadian Histrionic dalam DSM IV-TR. Terdapat Pola pervasif
emosionalitas dan mencari perhatian yang berlebihan, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak
dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan pada lima (atau lebih) berikut:
- tidak merasa nyaman dalam situasi dimana ia tidak merupakan pusat perhatian
- interaksi dengan orang lain seringkali ditandai oleh godaan seksual yang tidak pada
tempatnya atau perilaku provokatif
- menunjukkan pergeseran emosi yang cepat dan ekspresi emosi yang dangkal
- secara terus menerus menggunakan penampilan fisik untuk menarik perhatian kepada
dirinya
- memiliki gaya bicara yang sangat impresionistik dan tidak memiliki perincian
- menunjukkan dramatisasi diri, teatrikal dan ekspresi emosi yang berlebihan
- mudah disugesti yaitu mudah dipengaruhi oleh orang lain dan situasi
- menganggap hubungan menjadi lebih intim ketimbang keadaan sebenarnya
2.2.6.3 Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Histrionic
BPD → sulit dibedakan dengan Histrionic, cuma pada BPD lebih sering ditemukan usaha bunuh diri,
difusi identitas dan episode psikotik singkat
Somatisasi → bisa terjadi bersama-sama dengan Histrionic
Gangg.Psikotik singkat dan disosiatif → mungkin perlu mendapatkan diagnosis penyerta
gangg.kepr.Histrionic
2.2.6.4 Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Histrionic
Film A Streetcar Named Desire menceritakan kisah Blanche DuBois, seorang wanita,
yang menarik muda genit tapi bermasalah, yang pindah ke New Orleans untuk tinggal bersama
kakaknya, Stella dan suaminya, Stanley Kowalski setelah kematian suaminya.
Blanche kurang dari jujur tentang dirinya sendiri. Dia mencoba untuk menggunakan
pesonanya untuk memanipulasi orang dan menutupi masa lalunya, termasuk bunuh diri suaminya,

16
hubungan sementara dengan laki-laki, alkoholisme nya, kehilangan rumah dan bahwa dia dipecat
sebagai guru karena berselingkuh dengan seorang mahasiswa.
Suami Stella, Stanley, memainkan peran seorang narsisis yang kasar, yang dominasi dan
kontrol ditantang oleh kedatangan Blanche. Blanche mencoba untuk mengekspos, menghadapi dan
mengeksploitasi kerentanan nya. Marah dengan hal ini dan akhirnya menemukan
kesempatan, Stanley serangan brutal Blanche, pertama pada tingkat emosional, maka pada satu
fisik. Pada akhirnya, dia membagi-bagikan-nya dingin ke fasilitas psikiatri, sehingga dirinya kembali
ke posisi dominasi. Blanche adik, Stella, memainkan peran enabler kodependen, mencoba untuk
menenangkan Stanley dan Blanche.
(Sumber:http://psikologiabnormal.wikispaces.com/Histrionic+Personality+Disorder)
2.2.6.5 Penanganan Gangguan Kepribadian Histrionic
Adapun langkah yang dapat dilakukan dalam menghadapi gangguan kepribadian Histrionic
adalah sebagai berikut :
- Ajarkan keterampilan sosial
- Berikan umpan balik faktual tentang perilaku
- Psikoterapi : dokter harus waspada bila pada permulaan pengobatan sudah kelihatan ada
perbaikan, karena ini mungkin hanya untuk menyenangkannya. Karena kemampuan
komunikasinya kurang, maka yang dibimbing adalah perilaku yang nyata saja.
- Farmakoterapi : dapat ditambahkan jika gejala adalah menjadi sasarannya (seperti penggunaan
antidepresan untuk depresi dan keluhan somatik, obat antiansietas untuk kecemasan dan
antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi).
2.2.7 Gangguan Kepribadian Narsisitik
2.2.7.1 Pengertian Gangguan Kepribadian Narcissistic
Orang-orang yang memiliki gangguan kepribadian Narcissistic akan memiliki pandangan
yang berlebihan mengenai keunikan dan kemampuan yang mereka miliki. Mereka akan terokupasi
(terpaku) pada pikiran-pikiran mengenai pentingnya diri mereka (self-importance) dan dengan
fantasi-fantasi mengenai kekuatan (power) dan keberhasilan (succes) dan memandang diri mereka
sendiri sebagai orang yang lebih superior (berkuasa) atas banyak orang.
Menurut Heinz Kohut, diri muncul di awal kehidupan sebagai suatu struktur bipolar dengan
grandiose yang tidak matang di satu ktub dan idealisasi berlebihan terhadap orang lain yang bersifat
tergantung di kutub lainnya. Kegagalan untuk mengembangkan harga diri yang sehat terjadi bila
orang tua tidak merespon dengan baik kompetensi yang di tunjukkan anak-anak mereka, yaitu si
anak tidak dihargai berdasarkan makna dirinya sendiri, namun dihargai sebagai alat untuk
membangun harga diri orang tua.
2.2.7.2 Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Narcissistic
17
Kriteria Diagnostik GAngguan Kepribadian Narcissistic dalam DSM IV-TR menunjukkan
pola pervasif kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan kebanggan, dan tidak ada
empati, dimulai pada dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan
oleh lima (atau lebih) berikut:
- memiliki rasa kepentingan diri yang besar (misalnya pencapaian dan bakat yang dilebih-lebihkan,
berharap terkenal sebagai superior tanpa usaha yang sepadan)
- preokupasi dengan khayalan akan keberhasilan, kekuatan, kecerdasan, kecantiakn atau cinta ideal
yang tidak terbatas
- yakin bahwa ia adalah “khusus” dan unik dan dapat dimengerti hanya oleh atau harus berhubungan
dengan orang lain (atau insitusi) yang khusus atau memiliki status tinggi
- membutuhkan kebanggaan yang berlebihan
- memiliki perasaan bernama besar yaitu harapan yang tidak beralasan akan perlakuan khusus atau
kepatuhan otomatis sesuai harapannya
- eksploitatif secara interpersonal yaitu mengambil keuntungan dari orang lain untuk mencapai
tujuannya sendiri
- tidak memiliki empati:tidak mau mengenali atau mengetahui perasaan dan kebutuhan orang lain
- sering merasa iri dengan orang lain atau yakin bahwa orang lain iri kepada dirinya
- menunjukkan perilaku yang congkak atau sombong
2.2.7.3 Diagnosis banding Kepribadian Narcissistic
Gangg.Kepr.Borderline, Histrionic dan Anti Social seringkali ditemukan bersama-sama
Narisisistik.
BPD → pasien memiliki kecemasan yang lebih tinggi dan kehidupannya lebih kacau disertai usaha
bunuh diri, sedangkan Narcissistic cenderung lebih terarah pikiran dan perilakunya
Anti Social → memiliki riwayat perilaku impulsif, seringkali ditandai dengan penyalahgunaan obat
dan berurusan dengan hukum
Histrionic → menunjukkan ciri-ciri ekshibisionisme dan manipulatif yang mirip, namun Narcissistic
cenderung lebih membanggakan diri mereka dan kurang mendramatisir keadaan
2.2.7.4 Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Narcissistic
David berprofesi sebagai pengacara dan berusia awal 40an. Dia pertama kali datang
mengunjungi psikolog untuk mengatasi mood negatifnya. Sejak awal pertemuan tampak bahwa
David sangat menaruh perhatian pada penampilannya. Dia secara khusus menanyakan pendapat
terapis mengenai baju setelan model terbaru yang dikenakannya dan juga sepetu barunya.
David juga bertanya kepada terapis tentang mobil yang digunakan dan berapa banyak klien
kelas atas yang ditangani oleh terapis tersebut. David sangat ingin memastikan bahwa dia sedang
berhubungan dengan seseorang yang terbaik bidangnya. David bercerita tentang kesuksesannya
18
dalam bidang akademis dan olahraga, tanpa mampu memberikan bukti apapun yang memastikan
keberhasilannya. Selama bersekolah di sekolah hukum, dia adalah seorang work- aholic, penuh
akan fantasi akan keberhasilannya hingga tidak memiliki waktu untuk isterintya. Setelah anak
mereka lahir, David semakin sedikit menghabiskan waktu dengan keluarganya.
Tidak lama setelah dia memliki pekerjaan yang mapan, David menceraikan isterinya karena
tidak lagi membutuhkan bantuan ekonomi dari sang istri. Setelah perceraian tersebut, David
memutuskan bahwa dia benar-benar bebas untuk menikmati hidupnya. Dia sangat suka
menghabiskan uang untuk dirinya sendiri, misalnya dengan menghias apaartemennya dengan
berbagai benda-benda yang sangat menarik perhatian. Dia juga seringkali berhubungan dengan
wanita-wanita yang sangat menarik.
Dalam pergaulannya, David merasa nyaman apabila dirinya menjadi pusat perhatian semua
orang. Dia pun merasa nyaman ketika dia berfantasi mengenai kepopuleran yang akan diraihnya,
mendapatkan suatu penghargaan, ataupun memiliki kekayaan berlimpah.
http://nurawlia.wordpress.com/2009/11/21/gangguan-kepribadian- narsistik-2/ (sumber : Barlow &
Durant, 1995).
2.2.7.5 Penanganan Gangguan Kepribadian Narcissistic
- Pendekatan yang dilakukan untuk klien yang mengalami gangguan narsistik ialah pendekatan
sesuai fakta. Dalam melakukan terapi yang diperlukan ialah kerjasama dan ajarkan klien
keterampilan perawatan diri sesuai kebutuhannya.
- Psikoterapi : dokter psikiatrik seperti Otto Kernberg dan Heinz Kohut menganjurkan pamakaian
pendekatan psikoanalitik untuk mendapatkan perubahan; tetapi banyak penelitian yang diperlukan
untuk mengabsahkan diagnosis dan untuk menentukan terapi yang terbaik.
- Farmakoterapi : lithium telah digunakan pada pasien yang memiliki pergeseran mood sebagai
bagian dari gambaran klinis. Karena pasien gangguan kepribadian narsistik mentoleransi penolakan
secara buruk dan adalah rentan terhadap depresi, suatu anti depresan mungkin juga digunakan.
2.2.8 Gangguan Kepribadian Avoidant
2.2.8.1 Pengertian Gangguan Kepribadian Avoidant
Diagnosis gangguan kepribadian menghindar ditegakkan bagi orang-orang yang sangat takut
terhadap kemungkinan timbulnya kritikan, penolakan, atau ketidaksetujuan dari orang lain sehingga
enggan menjalin hubungan, kecuali jika mereka merasa yakin bahwa mereka akan disukai. Mereka
yang mengalami gangguan kepribadian menghindar akan menghindari pekerjaan yang
mengharuskan mereka melakukan banyak kontak interpersonal.
Dalam Wiramihardja (2007) menyatakan bahwa para ahli kognitif mengatakan bahwa
penderita gangguan ini mengembangkan keyakinan disfungsi mengenai harga diri sebagai refleksi
dari penolakan oleh orang lain yang signifikan pada masa kecil (Beck & Freeman, 1990). Mereka
19
mengatakan bahwa orang tuanya pasti tidak menyukainya, pasti menganggap dirinya sebagai orang
yang tidak baik.
2.2.8.2 Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Avoidant
Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Avoidant dalam DSM IV-TR ditandai dengan
munculnya pola pervasif hambatan sosial, perasaan tidak cakap dan kepekaan berlebihan terhadap
penilaian negatif dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks seperti yang
ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut:
- menghindari aktivitas pekerjaan yang memerlukan kontak interpersonal yang bermakna, karena
takut akan kritik, celaan atau penolakan
- tidak mau terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disenangi
- menunjukkan keterbatasan dalam hubungan intim karena rasa takut dipermalukan atau
ditertawakan
- preokupasi dengan sedang dikritik atau ditolak dalam situasi social
- terhambat dalam situasi interpersonal yang baru karena perasaan tidak adekuat
- memandang diri sendiri sebagai janggal secara sosial, tidak menarik secara pribadi atau lebih
rendah dari orang lain
- tidak biasanya enggan untuk mengambil resiko pribadi atau melakukan aktivitas baru karena dapat
membuktikan penghinaan
2.2.8.3 Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Avoidant
Schizoid → pasien gangg.kepr.Avoidant tetap memiliki minat sosial
Borderline & Histrionic → pasien Avoidant tidak menuntut, tidak mudah marah
Dependen → secara klinis dianggap serupa dengan Avoidant, cuma pasien gangg.kepr.dependen
dianggap memiliki ketakutan yang lebih tinggi akan penelantaran atau tidak dicintai
2.2.8.4 Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Avoidant
Sally, seorang pustakawan 35 tahun, relatif hidup terisolasi dan tidak punya sahabat. Sejak
kecil, ia sangat pemalu dan telah menarik diri dari hubungan dekat dengan orang lain untuk menjaga
dari perasaan terluka atau dikritik. Dua tahun sebelum dia masuk terapi, ia punya waktu tertentu
untuk pergi ke pesta dengan kenalan yang ia temui diperpustakaan. saatmereka tiba di pesta, Sally
merasa sangat tidak nyaman karena dia tidak pernah memakai pakaian pesta. Dia terburu- buru pergi
dan menolak untuk melihatnya kenalan lagi.
Pada sesi pengobatan awal, dia duduk diam cukup lama, ia terlalu sulit untuk berbicara
tentang dirinya sendiri. Setelah beberapa sesi, dia tumbuh untuk mempercayai terapisnya. Dia terkait
insiden ditahun awal dimana ia telah "hancur" oleh perilaku alkoholis ayahnya yang
menjengkelkan di depan umum. Meskipun ia telah mencoba untuk menjaga tentang masalah

20
keluarganya dari teman-teman sekolahnya, namun sudah tidak mungkin maka dia membatasi
persahabatannya, untuk melindungi diri dari kemungkinan malu atau kritikan.
Ketika Sally pertama kali memulai terapi, ia menghindari diri untuk bertemu orang yang
bisa dipastikan bahwa mereka "seperti dia." Dengan terapi yang berfokus pada keterampilan sosial,
peningkatan mulai tampak, ia membuat beberapa kemajuan pada kemampuannya untuk mendekati
orang dan berbicara dengan mereka. (Sumber :
http://psikologiabnormal.wikispaces.com/Avoidant+Personality+Disorder)
2.2.8.5 Penanganan Gangguan Kepribadian Avoidant
- Memberikan dukungan dan menenangkan mereka ketika mulai merasa cemas merupakan sesuatu
yang harus dilakukan oleh terapi untuk klien-nya. Ketika mereka mulai tidak berani untuk
bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya atau mulai menutup dirinya bantulah klien untuk
meningkatkan harga dirinya.
- Psikoterapi : latihan ketegasan adalah bentuk terapi perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk
mengekspresikan kebutuhan mereka secara terbuka dan untuk meningkatkan harga diri mereka.
- Farmakoterapi : telah digunakan untuk menangani kecemasan dan depresi jika ditemukan sebagai
gambaran beta, seperti atenolol (Tenormin), untuk mengatasi hiperaktivitas sistem saraf otonomik,
yang cenderung tinggi pada pasien dengan gangguan kepribadian menghindari, khususnya jika
mereka menghadapi situasi yang menakutkan.
2.2.9 Gangguan Kepribadian Dependent
2.2.9.1 Pengertian Gangguan Kepribadian Dependent
Gangguan kepribadaian dependen adalah kurangnya kepercayaan diri dan kurangnya
perasaan otonom. Mereka memandang dirinya sebagai orang yang lemah dan orang lain sebagai
orang yang penuh kekuatan. Kriteria dalam DSM secara umum menggambarkan orang yang
mengalami gangguan kepribadian dependen sebagai orang yang sangat pasif.
Dalam psikoanalitis, melihat gangguan kepribadian dependent ini adalah hasil dari fiksasi
fase oral perkembangan psikoseksual. Para pengasuhnya sangat mengikuti apa yang dibutuhkan
penderita di masa kecil atau menuntut perilaku dependent dari penderita sebagai imbalan dari
pengasuhnya. Akibatnya mereka tidak dapat mengembangkan perilaku sehat yang tidak tergantung
pada pengasuhnya itu.
2.2.9.2 Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Dependent
Kriteria gangguan kepribadian dependen pada DSM-IV-TR adalah ditandai dengan kebutuhan
yang pervasif dan berlebihan untuk diasuh yang menyebabkan perilaku tunduk dan menggantung dan rasa
takut akan perpisahan, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai konteks, seperti yang
ditunjukkan oleh lima (atau lebih) berikut:

21
- mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan setiap hari tanpa sejumlah besar nasehat dan
penenteraman dari orang lain
- membutuhkan orang lain untuk menerima tanggung jawab dalam sebagian besar bidang utama
kehidupannya
- memiliki kesulitan dalam mengekspresikan ketidaksetujuan pada orang lain. Catatan:tidak
termasuk rasa takut yang realistik akan ganti rugi
- memiliki kesulitan dalam memulai proyek atau melakukan hal dengan diri sendiri (karena tidak
memiliki keyakinan diri dalam pertimbangan atau kemampuan ketimbang tidak memiliki motivasi
atau energi)
- berusaha berlebihan untuk mendapatkan asuhan dan dukungan dari orang lain, sampai pada titik
secara sukarela melakukan hal yang tidak menyenangkan
- merasa tidak nyaman atau tidak berdaya jika sendirian karena timbulnya rasa takut tidak mampu
merawat diri sendiri
- segera mencari hubungan dengan orang lain sebagai sumber pengasuhan dan dukungan jika
hubungan dekatnya berakhir.
- secara tidak realistik terpreokupasi dengan rasa takut ditinggal untuk merawat dirinya sendiri
2.2.9.3 Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Dependent
Histrionic & Borderline → sama-sama tergantung orang lain, cuma pasien dependent biasanya
memiliki hubungan jangka panjang dengan orang pada siapa mereka tergantung, bukannya pada
sejumlah orang dan mereka tidak manipulatif
Agorafobia → juga tergantung, cuma agorafobia memiliki tingkat kecemasan yang jelas atau bahkan
panik
2.2.9.4 Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Dependent
Mila, sebut saja begitu. Seorang mahasiswa tingkat tiga di salah satu Universitas ternama di
kota Makassar. Mila dalam keseharian dikenal sebagai seorang mahasiswa yang ramah oleh teman-
temannya. Tidak ada yang salah dalam perilakunya, namun lain halnya bagi teman-teman
dekat Mila. Mereka merasa bahwa Mila memiliki kecemasan yang berlebihan, sehingga
setiap saat harus ditemani oleh temannya. Terutama dalam hal-hal yang membutuhkan pilihan. Bagi
teman-temannya, perilaku Mila yang terlalu bergantung pada orang lain cukup mengganggu, mereka
mengkhawatirkan apa yang akan terjadi jika tidak ada mereka disamping Mila.
Setelah melakukan wawancara langsung dengan Mila yang dibungkus dalam bentuk
curhat-curhatan, Mila mengaku bahwa ia menjadi seperti itu karena Mila yang juga merupakan
anak bungsu dan satu-satunya anak perempuan di keluarganya sewaktu kecil segalanya diuruskan
oleh orang tua dan kakak-kakaknya. Mila mengatakan bahwa pernah sekali ia bermain dengan
ayahnya, ketika sang ayah tidak melihat Mila yang tengah bersembunyi dibalik tembok dan tiba-
22
tiba mengagetkan ayahnya. Namun, ternyata ayahnya langsung jatuh dan kejang-kejang sambil
memegang dadanya, dan setelah dirujuk ke dokter diketahui bahwa ayahnya terkena penyakit
jantung. Mila sangat sedih dan ketakutan dan mengaku bahwa saat itulah pertamakalinya ia
dimarahi habis-habisan oleh kakak-kakaknya. (Sumber:
http://superfunny006.wordpress.com/2012/03/09/contoh-perilaku- abnormal/
2.2.9.5 Penanganan Gangguan Kepribadian Dependent
- Klien penderita gangguan ini sebenarnya akan sering mengunjungi terapi untuk menangani segala
masalahnya, tapi sebenarnya di situlah masalah terjadi. Klien jadi tidak ingin menyelesaikan masalah
secara mandiri. Terapi yang cocok digunakan menurut Milon et.all, 2000 dalam Nolen, Susan;2006
adalah Nondirective dan Humanistik terapi. Hal ini dikarena dalam dua terapi tersebut terapis
bukan menjadi pusat yang menentukan pembicaraan, namun klien lah yang berhak membawa ke
arah mana terapi berlangsung dan juga dapat membangun otonomi dan keyakinan diri pada
penderita.
-Terapi Kognitif-Behavioral juga cukup membantu klien meningkatkan perilaku asertif,
menurunkan kecemasan, dan melawan keyakinan untuk tergantung pada orang lain.
- Psikoterapi : terapi perilaku, latihan ketegasan, terapi keluarga dan terapi kelompok, semuanya
telah digunakan, dengan keberhasilan pada banyak kasus.
- Farmakoterapi : telah digunakan untuk mengatasi gejala spesifik seperti kecemasan dan depresi,
yang sering merupakan gambaran penyerta gangguan kepribadian dependen. Pasien tersebut yang
mengalami serangan panik atau yang memiliki tingkat kecemasan perpisahan yang tinggi mungkin
tertolong oleh imipramine (Tofranil). Benzodiazepine dan obat serotonergik juga telah berguna. Jika
depresi atau gejala menarik diri pada pasien berespon terhadap psikostimulan, obat tersebut
digunakan.
2.2.10 Gangguan Kepribadian Obsessive – Compulsive
2.2.10.1. Pengertian Gangguan Kepribadian Obsessive – Compulsive
Kepribadian Obsessive-Compulsive adalah individu yang perfeksionis, terfokus berlebihan
pada detail, aturan, jadwal, dan sejenisnya. Orang yang memiliki kepribadian ini sangat fokus pada
detail sehingga tidak jarang mereka tidak pernah menyelesaikan proyek. Orientasi mereka pada
pekerjaan dan bukan pada kesenangan. Maka dari itu mereka sering mengalokasikan waktu
karena takut terfokus pada hal yang salah.
Dalam hal biologis, banyak korban trauma kepala atau infeksi yang mengenai sistem saraf
pusat kemudian mengalami OCD. Pemindai tomografi emisi positron yang mengkaji metabolism
glukosa pada nucleus kaudatus dan girus orbital pada ganglia basal otak memperlihatkan perbedaan
pada individu yang mengalami OCD dan yang tidak. (keperawatan jiwa hal.330)
2.2.10.2 Kriteria Diagnostik Gangguan Kepribadian Obsessive – Compulsive
23
Kriteria gangguan kepribadian Obsessive-Compulsive pada DSM-IV-TR adalah
munculnya pola pervasif dengan urutan, perfeksionisme dan pengendalian mental dan interpersonal,
dengan mengorbankan fleksibilitas, keterbukaan dan efisiensi, dimulai pada masa dewasa awal dan
tampak dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh empat (atau lebih) berikut:
- terpreokupasi dengan perincian, aturan, daftar, urutan, susunan atau jadwal sampai tingkat di mana
aktivitas utama hilang
- menunjukkan perfeksionisme yang mengganggu penyelesaian tugas (misalnya tidak mampu
menyelesaikan suatu proyek karena tidak memenuhi standarnya sendiri yang terlalu ketat)
- secara berlebihan setia pada pekerjaan dan produktivitas sampai mengabaikan aktivitas waktu luang
dan persahabatan (tdk disebabkan oleh kebutuhan ekonomi yang besar)
- terlalu berhati-hati, teliti dan tidak fleksibel tentang masalah moralitas, etika atau nilai-nilai (tidak
disebabkan oleh identifikasi kultural atau religius)
- tidak mampu membuang benda-benda yang usang atau tidak berguna walaupun tidak memiliki nilai
sentimentil
- enggan untuk mendelegasikan tugas atau untuk bekerja dengan orang lain kecuali mereka tunduk
dengan tepat caranya mengerjakan hal itu.
- memiliki gaya belanja yang kikir baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain;uang dipandang
sebagai sesuatu yang harus ditimbun untuk bencana masa depan
- menunjukkan kekakuan dan keras kepala
2.2.10.3 Diagnosis Banding Gangguan Kepribadian Obsessive – Compulsive
- Jika ditemukan Obsessive atau Compulsive yang rekuren, gangguan Obsessive-Compulsive harus
ditulis dalam Aksis I. Kemungkinan pembedaan yang paling sukar adalah antara pasien rawat jalan
dengan sifat Obsessive-Compulsive dan pasien dengan gangguan kepribadian Obsessive-
Compulsive.
- Diagnosis gangguan kepribadian bermakna dalam efektivitas pekerjaan atau sosialnya. Pada
beberapa kasus, gangguan delusional terjadi bersama-sama dengan gangguan kepribadian dan harus
dicatat.
2.2.10.4 Contoh Kasus Gangguan Kepribadian Obsessive – Compulsive
Bernice berusia 46 tahun saat mulai menjalani terapi. Ini keempat kalinya ia menjalani terapi.
Gangguan Obsessive-Compulsive dideritanya sejak 12 tahun lalu, tidak lama setelah kematian
ayahnya. Bernice terobsesi ketakutan mengalami kontaminasi, suatu ketakutan yang secara tidak
jelas dikaitkan dengan kematian ayahnya karena pneumonia. Ia tidak nyaman bersentuhan dengan
kayu, “objek yang bergores”, surat, benda yang dikemas kaleng, dan “noda perak” (peralatan yang
berwarna perak). Ia tidak dapat menyatakan mengapa objek-objek tersebut merupakan sumber
kemungkinan kontaminasi dengan kuman.
24
Untuk mengurangi rasa tidak nyaman, Bernice melakukan berbagai ritual Compulsive yang
menghabiskan hampir seluruh waktunya. Seperti mandi selama 3-4 jam, untuk berulang kali
mandi dan diantara waktu mandi ia mengelupas lapisan luar sabun mandi sehingga sepenuhnya
bebas dari kuman. Waktu makan berlangsung berjam-jam, ia makan tiga suap makanan pada satu
waktu, mengunyah setiap suapan 300 kali. Ini dilakukan untuk menghilangkan kontaminasi pada
makanannya. Suaminya kadangkala terlibat dalam upacara makan tersebut, ia mengocok teko teh dan
sayuran beku di atas kepala Bernice untuk menghilangkan kuman. Hal ini telah meremdahkan nilai
kehidupannya hingga hampir tidak melakukan apapun selain itu. Ia tidak keluar rumah, mengerjakan
pekerjaan rumah tangga, atau bahkan berbicara melalui telepon. (Sumber:
http://abnormalpsy.blogspot.com/2011/08/contoh-kasus.htm)
2.2.10.5 Penanganan Gangguan Kepribadian Obsessive – Compulsive
- Terapi behavioral dapat digunakan untuk menurunkan perilaku Obsessive Compulsive seseorang.
Dalam proses terapi yang dilakukan, klien diminta untuk mengubah jadwal perilaku kebiasaannya.
Ketika seseorang merasa cemas selama proses pengubahan jadwal kebiasaannya, maka pada
pertemuan selanjutnya terapis harus membantu untuk mengurangi kecemasannya. Dorong untuk
bernegosiasi dengan orang lain, bantu klien untuk membuat keputusan dan menyelesaikan
pekerjaan tepat waktu.
- Psikoterapi : individu ini sama sekali tidak merasa sakit, abnormal atau menyimpang. Ia tidak dapat
dibawa berobat ke dokter oleh orang-orang di lingkungan yang menderita karenanya, juga karena
perilakunya sering berguna dalam masyarakat atau pekerjaan. Bila penderita mengalami gangguan
badaniah atau ganguan psikiatrik yang lain sehingga ia mengunjungi seorang dokter, maka hubungan
penderita-dokter ini dapat dijadikan hubungan yang dependen pada dokter dalam jangka panjang.
Dan dengan nasehat serta efek obat apa saja maka paling sedikit keadaannya dan akibat pada
lingkunganya dapat dicegah jangan sampai bertambah buruk..
- Farmakoterapi : Clonazepam (Klonopin) adalah suatu benzodiazepine dengan antikonvulsan;
pemakaian obat ini telah menurunkan gejala pada pasien dengan gangguan kepribadian Obsessive-
Compulsive parah. Apakah obat ini digunakan pada gangguan kepribadian adalah tidak diketahui.
Clomipramine (Anafranil) dan obat serotonergik tertentu seperti fluoxetine mungkin berguna jika
tanda dan gejala Obsessive-Compulsive timbul.

2.3. Sudut Pandang Teoritis Gangguan Kepribadian


Berikut ini akan dijelaskan 5 buah sudut pandang teoritis untuk membahas penyebab gangguan
kepribadian yang telah diuraikan diatas:
1. Sudut Pandang Psikodinamik

25
Sudut pandang psikodinamik berusaha mencari asal muasalnya gangguan kepribadian dari masa anak-
anak. Adanya abuse atau penyiksaan dari orang tua pada masa anak-anak membuat pasien (individu
dengan gangguan kepribadian) memandang seluruh lingkungannya sebagai mengancam dan jahat.
Gangguan narsistik terbentuk sebagai mekanisme pertahanan diri dari individu dengan self esteem yang
rendah dan dianggap sebagai akibat dari kegagalan orang tua untuk merespon anaknya dengan
penghargaan, kehangatan, kasih sayang dan empati.
Pendekatan psikodinamika sering digunakan untuk menolong orang yang didiagnosis dengan gangguan
kepribadian agar menjadi lebih sadar akan akar dari pola perilaku self-defeating mereka dan belajar cara
yang lebih adaptif dalam berhubungan dengan orang lain. Kemajuan dalam terapi dapat terhambat oleh
kesulitan dalam bekerja secara terapeutik dengan orang yang menderita gangguan kepribadian.
Berdasarkan sudut pandang ini, penanganan bagi individu dengan gangguan kepribadian adalah dengan
menemukan asal mula penyebab masalah, serta memberikan dukungan dan bimbingan yang diperlukan
individu untuk keluar dari masalahnya.

2. Sudut Pandang Biologis


Sudut pandang ini melihat bahwa terjadinya gangguan kepribadian lebih karena faktor genetik,
diturunkan dari orang tuanya. Asumsi ini paling jelas ditunjukkan individu-individu yang mengalami
gangguan kepribadian Schizotypal. Selain itu ditemukan pula bahwa sistem saraf yang pada individu
dengan gangguan kepribadian anti sosial berbeda dengan individu yang tidak memiliki gangguan
tersebut.
Terapi obat tidak secara langsung menangani gangguan kepribadian. Meski demikian obat anti depresif
atau anti kecemasan kadang digunakan untuk menangani stress emosional yang dialami oleh individu
penderita gangguan kepribadian. Obat tidak mengubah pola persisten dari perilaku maladaptif yang
dapat menyebabkan distress. Meski demikian, sebuah penelitian mengidentifikasikan bahwa antidepresi
Prozac dapat mengurangi perilaku agresif dan iritabilitas dalam diri individu dengan gangguan
kepribadian yang impulsif dan agresif. Oleh karena itu, salah satu penanganan yang dilakukan adalah
dengan memberikan obat-obatan, misalnya prozac untuk individu dengan tingkah laku yang impulsif.
3. Sudut Pandang Sistem Keluarga (Family System)
Sudut pandang sistem keluarga memfokuskan diri pada pola asuh orang tua yang tidak adekuat dan
dapat menimbulkan stress pada anak-anak. Hal itu dapat membuat individu rentan terkena gangguan
kepribadian. Sebagai contoh, orang tua yang menyiksa anaknya, menolak atau menelantarkan anak
mereka, serta pola asuh yang inkonsisten dan tidak adekuat meningkatkan resiko terjadinya gangguan
kepribadian Anti Social setelah anak tersebut dewasa.

26
Terapis perilaku ini memandang tugas mereka adalah untuk mengubah perilaku klien dan bukan struktur
kepribadian mereka.banyak teoritikus behavioral yang sama sekali tidak berpikir kerangka “kepribadian”
klien, namun dalam perilaku maladaptif yang dipertahankan oleh kemungkinan adanya reinforcement.
Maka dari itu, terapis perilaku berfokus pada usaha untuk merubah perilaku maladaptif menjadi perilaku
adaptif melalui penggunaan teknik pemusnaha, modeling, dan reinforcement. Jika klien diajarkan
perilaku yang cenderung dikuatkan orang lain, maka perilaku baru tersebut akan dipertahankan.
Oleh karena itu, penangan yang disarankan dari sudut pandang ini adalah dengan melakukan terapi
keluarga dan melakukan berbagai pendidikan dan dukungan orang tua, misalnya dalm hal mengasuh dan
mendidik anak.
4. Sudut Pandang Behavioral
Sudut pandang ini memberikan contoh suatu penelitian yang dilakukan pada individu dengan gangguan
kepribadian Anti Social. Penelitian tersebut menuturkan bahwa individu dengan gangguan kepribadian
tersebut tidak berhasil mempelajari pola bahwa mereka sebaiknya menghindari stimulus yang tidak
menyenangkan. Alasannya karena mereka tidak memiliki kecemasan yang tidak memadai dan tidak
terlalu memberikan perhatian dan pemberian hukuman. Hal yang terganggu adalah kemampuan individu
untuk mempelajari sesuatu. Penanganan gangguan kepribadian yang dianjurkan adalah dengan
mengidentifikasi dan memperbaiki keterampilan ataupun kemampuan individu yang tidak memadai
ataupun lemah.
5. Sudut Pandang Kognitif
Sudut pandang kognitif menuturkan bahwa terjadi gangguan kepribadian karena individu memiliki
keyakinan (belief) yang maladaptif mengenai dirinya sendiri, orang lain, maupun lingkungan
disekitarnya. Misalnya keyakinan bahwa dirinya adalah seorang yang spesial dan orang lain tidak,
apabila terus menerus ditekankan maka individu tersebut memiliki kecenderungan kearah gangguan
kepribadian narsistik. Oleh karena itu , penanganan yang biasa dilakukan adalah dengan membina
hubungan pasien terapis yang erat dan sehat sehingga terapis secara bertahap mampu merubah dan
memperbaiki keyakinan yang salah pada klien.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Gangguan kepribadian merepresentasikan cara berpikir, perasaan, dan perilaku yang telah
berlangsung lama dan mengurat – akar yang dapat mengakibatkan distress yang signifikan. Karena orang –
orang dapat memperlihatkan dua (atau lebih) cara berinteraksi dengan dunia luar yang maladaptif, maka
masih ada ketidaksepakatan tentang bagaimana gangguan – gangguan kepribadian harus dikategorisasikan.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa siapa saja berpotensi untuk mengalami gangguan
kepribadian. Karena gangguan kepribadian tidak saja disebabkan oleh faktor genetika (dapat diturunkan),
27
tapi juga dipengaruhi oleh faktor temperamental, faktor biologis (hormon, neurotransmitter dan
elektrofisiologi), dan faktor psikoanalitik (yaitu adanya fiksasi pada salah satu tahap di masa perkembangan
psikoseksual dan juga tergantung dari mekanisme pertahanan ego orang yang bersangkutan).
Dalam DSM IV-TR, gangguan kepribadian dibagi menjadi tiga kelompok dan masing-masing
kelompok terdapat beberapa gangguan kepribadian dengan karakteristik yang khas dan berbeda-beda satu
sama lain. Hampir semua gangguan kepribadian dapat disembuhkan baik melalui psikoterapi (terapi
kejiwaan) maupun farmakoterapi (terapi obat-obatan), dengan teknik penyembuhan yang berbeda-beda
untuk masing-masing gangguan kepribadian
3.2. Saran
Adapun saran yang penulis makalah harapkan dari para pembaca agar memberikan saran atau
masukan-masukan apabila ada kekurangan atau kurang terperincinya paparan pada bab pembahasan salah
dan penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

DAFTAR PUSTAKA
American Psychiatric Association, Diagnostic Criteria from DSM-IV, American Psychiatric Association;
Washington DC; 1994.
Barlow, David H. 2007. Psikologi Abnormal Edisi Keempat (Terjemahan). Jakarta : Pustaka Pelajar.
Davison, G.C., Neale, J.M., & Kring, A.M. 2010. Psikologi Abnormal, Edisi ke-9 (Terjemahan).
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Edens, Jhon F., & Kelley, Shannon E., 2014. “DSM-5 Antisocial Personality Disorder: Predictive Validity
In A Prison Sample”. Journal of Law and Human Behavior, Hlm. 1-7
Kaplan H.I, M.D and Sadock B.J, M.D; Theories of Personality and Psychopathology in Synopsis of
Psychiatry, sixth edition; William and Wilkins; Baltimore USA ; 1991.
Nevid Jeffrey S. Rathus Spencer A. Green Beverly. 2005. Psikologi Abnormal penerjemah, Tim Fakultas
Psikologi UI-Ed.5, Jilid.1. Jakarta: Penerbit Erlangga
Prahara Sowanya. 2014. Peran Kecenderungan-Kecenderungan Kepribadian Narsistik terhadap
Kecenderungan Anorexia Nervosa pada Model Perempuan. Jurnal Sosio-Humaniora Fakultas
Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta. Vo.5 No.1
Sadock B.J, Md and Sadock V. A, M.D; Personality Disorders in Comprehensive Text Book of Psychiatry;
seventh edition; Volume I A : Lippincot Williams and Wilkins; Philadelphia USA; 2000.
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
Wiramihardja, Prof. Dr. Sutardjo A., psi. 2007. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: PT. Refika
Aditama

28
LAMPIRAN
PERTANYAAN PRESENTASI
1. Jelaskan kembali maksud dari gangguan kepribadian antisosial lebih dari 15 tahun ?
Jawab: Memang pada usia 15 tahun sudah bisa terlihat symptom-symptom yang mengarah ke
gangguan kepribadian antisosial, akan tetapi untuk menetapkan diagnosis sekurang kurangnya umur
18 tahun (jika di bawah 18 tahun setidaknya onset terjadi kurang lebih satu tahun ).
2. Apa yang dimaksud dari “mania menimbulkan gejala” pada slide diagnosis banding gangguan
kepribadian antisosial ?
Jawab: Dalam mendiagnosis gangguan kepribadian Anti Social, klinisi harus mempertimbangkan
efek yang mengganggu dari status sosioekonomi, latar belakang kultural, dan jenis kelamin pada
manifestasinya, selain itu diagnosis gangguan kepribadian Anti Social tidak diperlukan jika retardasi
mental, skizofrenia, atau mania dapat menjelaskan gejala.
Kata mania berhubungan dengan kalimat sebelumnya, dimana mania, retardasi mental, ataupun
skizofrenia tidak diperlukan dalam mendiagnosis gangguan kepribadian antisosial.
3. Kapan kita bisa dibilang mengalami gangguan kepribadian ?
Jawab: Gangguan kepribadian tidak didiagnosa pada pada individu yang berusia dibawah 18 tahun,
dengan pertimbangan bahwa pada usia dibawah 18 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan
perkembangan pada remaja awal, bila pun adanya simtom-simtom tertentu yang tampak, haruslah
simtom tersebut menetap setidaknya 1 tahun lamanya, namun tidak semua gejala yang ada dapat
didiagnosa sebagai bentuk gangguan kepribadian.
4. Bagaimana cara mengobati gangguan kepribadian paranoid pada individu ?
Jawab: Pasien dengan gangguan kepribadian paranoid memiliki kecurigaan yang berulang dan
merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan
dengan cepat bereaksi secara marah atau balas menyerang. Dalam menangani hal seperti ini, terapis
bisa menggunakan cara Terapi Cognitive behavioral therapy (CBT), dimana terapi ini dapat
membantu individu mengenal sikap dan perilaku yang tidak sehat, kepercayaan dan pikiran negatif
dan mengembalikannya secara positif. Terapi ini didasarkan kepada teori bahwa perilaku seseorang
merupakan wujud dari cara berpikirnya. Artinya, jika pikiran individu tersebut negative, maka
perilakunya akan negative, dan begitu pula sebaliknya.
5. Apakah individu dapat mengalami 10 gangguan kepribadian tersebut ?
Jawab: Berdasarkan teori, individu bisa mempunyai dua macam gangguan sekaligus (komorbit).
Contoh pada gangguan kepribadian cluster A dan B mengarah ke egosistonic dimana individu atau
yang memilki gangguan tersebut tidak merasa bahwa gangguan kepribadian yang mereka alami
diangap sebagai trait-trait yang alami dari diri mereka (hal yang wajar dan tidak patut diubah karena
tidak menimbulkan distress). Sebaliknya pada gangguuan kepribadian cluster C mengarah ke
egodistonik yang menimbulkan stress dan perasaan cemas serta ketakutan. Kalaupun terjadi pasti
merupakan fenomena yang sulit dan jarang ditemui, dan lebih mengarah ke gangguan identitas
disosiatif.
6. Bagaimana penanganan gangguan kepribadian secara umum ?
Jawab: Gangguan kepribadian terdiri dari 3 cluster, dimana setiap cluster terdapat bermacam-macam
gangguan kepribadian. Setiap gangguan kepribadian memiliki cara penanganan tersendiri, karena
gejala-gejala yang ditimbulkan oleh setiap gangguan kepribadian adalah berbeda. Cara
penanganannya seperti terapi psikologis di bawah bimbingan psikiater dengan tujuan meningkatkan
kemampuan pasien dalam mengendalikan emosi serta pikirannya secara lebih baik. Penggunaan obat
hanya disarankan apabila gejala-gejala yang terkait dengan gangguan kepribadian.
7. Bagaimana gangguan kepribadian dalam prespektif islam ?

29
Jawab: Dalam QS al- Ma’arij ayat 19-22, telah dijelaskan bahwasanya manusia diciptakan dalam
keadaan berkeluh kesah. Termasuk keadaan dimana individu memiliki gejala-gejala yang
menyimpang dalam hubungan socialnya. Gangguan kepribadian berhubungan erat dengan
memburuknya hubungan sosial. Setiap penyakit yang dialami oleh setiap individu baik fisik maupun
psikis, termasuk ujian dalam kehidupan manusia, gunanya agar mereka lebih bersabar dan
mendekatkan diri kepada Allah. Karena Allah tidak memberi suatu penyakit tanpa memberi obatnya
pula.
8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Teknik restrukturisasi kognitif dan Dekatastrofe situasi
dalam penanganan gangguan kepribadian borderline ?
Jawab: Individu yang mengalami gangguan kepribadian borderline, memiliki gangguan identitas,
dimana citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas dan persisten. Perilaku,
isyarat atau ancaman bunuh diri yang berulangkali, atau perilaku mutilasi diri. Teknik restrukturisasi
kognitif merupakan proses belajar untuk menyangkal destorsi kognitif atau kesalahan berfikir yang
berguna untuk meningkatkan pemikiran positif dan rasional pada pasien yang mengalami gangguan
kepribadian borderline. Sedangkan dekatasrofe situasi tidak jauh beda dari teknik restrukturisasi
kognitif, dimana pasien diterapi agar berhenti berfikir negative.
9. Penanganan gangguan kepribadian borderline pada anak kecil ?
Jawab: Seseorang tidak didiagnosa mengalami gangguan kepribadian borderline apabila pada
individu yang berusia dibawah 18 tahun. Akan tetapi jika pada anak tersebut telah menunjukkan
tanda-tanda membahayakan dan menyakiti dirinya sendiri lebih baik dilaporkan kepada orangtua
dan juga pihak sekolah, agar anak mendapatkan penanganan lebih dini.
10. Dari semua gangguan kepribadian, apa yang menyebabkan gangguan kepribadian tersebut
dialami individu ?
Jawab:
Jika dipandang dari prespektif psikodinamika:
a. Bagi kohut, kegagalan untuk merubah narsisme masa kanak-kanak dengan penilaian yang lebih
realistis tentang self dan orang lain mendasari perkembangan kepribadian narsistik.
b. Bagi kernberg, kegagalan di awal masa kanak-kanak untuk membangun sense of self yang
kohesif mengacu pada perkembangan kepribadian ambang.
c. Bagi Mahler, kegagalan menguasai tantangan perkembangan dari pemisahan – individual di
awal kehidupan mendasari perkembangan kepribadian ambang.
Jika dipandang dari prspektif belajar:
a. Ciri perilaku gangguan kepribadian berhubungan dengan pengalaman belajar masa kanak-kanak,
termasuk belajar observasional dari perilaku menyimpang atau agresif.
b. Kurangnya kesempatan pada masa kanak-kanak untuk mempelajari perilaku eksploratif atau
mandiri menuntut pada trait kepribadian dependen
c. Disiplin dan kontrol orang tua yang berlebihan menuntut pada trait kepribadian obsesif
kompulsif
d. Perhatian dan reinforcement yang tidak konsisten untuk perilaku mendapatkan perhatian dapat
menghasilkan trait kepribadian histrionic
e. Kurangnya reinforce yang dapat diramalkan dan konsisten untuk perilaku yang diterima secara
sosial mengacu pada trait kepribadian antisosial
Jika dipandang dari Prespektif keluarga:
a. Untuk kepribadian antisosial, penolakan atau pengabaian orangtua mengacu pada kegagalan
dalam menginternalisasi nilai nilai orangtua dan kegagalan untuk mengembangkan empati
b. Overproteksi dan otoritarianisme orang tua menuntun pada trait kepribadian dependen
Jika dipandang dari Prespektif sosiokultural:
30
a. Ketidakberuntungan sosial atau ekonomi dan pemaparan terhadap model yang menyimpang
menuntun pada kegagalan untuk mengembangkan perilaku yang beradab
b. Penganiayaan fisik dan seksual dapat mendasari perkembangan trait kepribadian ambang
Jika dipandang dari Prespektif biologis:
a. Kemungkinan adanya pengaruh genetis terhadap trait kepribadian yang mendasari gangguan
kepribadian
b. Kemungkinan adanya komponen keturunan pada gangguan kepribadian antisosial
c. Untuk gangguan kepribadian antisosial, mungkin terdapat kurangnya respons emosional dalam
situasi yang mengancam
d. Untuk gangguan kepribadian antisosial, mungkin perlu tingkat stimulasi yang lebih tinggi untuk
menjaga tingkat keterangsangan optimum
e. Untuk gangguan kepribadian antisosial, mengurangi aktivitas dalam pusat otak mengendalikan
tingkah laku impulsive.

REVIEW JURNAL 1
 Judul: DSM-5 ANTISOCIAL PERSONALITY DISORDER: PREDICTIVE VALIDITY in a PRISON
SAMPLE
 Halaman: Law and Human Behavior, Hlm. 1-7
 Tahun: Juli 2014
 Penulis:
Jhon F. Edens and Shannon E. Kelley ( Texax A&M University),
Jennifer L. Skeem ( University of California-Berkeley ),
Scoot O. Lilienfeld ( Emory University ),
Kevin S. Douglas (Simon Fraser University and Mid-Sweden University).
 Tujuan Penelitian:
Untuk mengetahui apakah narapidana yang melakukan tindakan kekerasan dalam narapidana teridentifikasi
memiliki gejala gangguan kepribadian antisosial (ASPD).
 Latar Belakang:
Gejala gangguan kepribadian antisosial (ASPD), terutama rasa tanpa bersalah dan penyesalan setelah
melakukan sesuatu tindakan, sering dikenal dalam peraturan hukum dan undang-undang sebagai faktor atas

31
kekerasan dalam penjara. Peniliti menguji apakah narapidana yang melakukan kekerasan dalam narapidana
teridentifikasi memiliki gejala gangguan kepribadian antisosial (ASPD).
 Subjek Penelitian:
Sebanyak 353 partisipan, pria (n = 298) dan wanita (n = 55) tahanan. Partisipan merupakan narapidanayang
direkrut dari 4 penjara di United States yang bertempat di Florida, Nevada, Oregon, dan Utah. Usia rata-rata
dari partisipan 30 sampai 43 tahun. Sebagian besar partisipan yang diidentifikasi sebagai bangsa kulit putih
56.7%, warga Afrika Amerika 41.1 %, dan 2.2% tidak teridenifikasi, selain itu 6.5% partisipan
diidentifikasi sebagai Hispanic secara etnis.
 Metode Penelitian:
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimental
 Metode Pegumpulan Data:
Partisipan di setiap tempat direkrut secara random dari daftar umum, para partisipan dipertemukan
berdasarkan pencantuman kriteria yang sesuai. Yang mana dari partisipan yang direkrut berbahasa inggris
sebagai warga Afrika Amerika atau sebagai warga bangsa kulit putih. Metode pengumpulan data dalam
penelitian ini menggunakan Interview Klinik Struktur untuk DSM-IV Axis II Gangguan Kepribadian (
SCID-II; First, Gibbon, Spitzer, Williams, & Benjamin, 1997 ) sebagai bagian dari penelitian yang dibiayai
oleh United States National Institute of Mental Health (NIMH) yang menguji sifat kepribadian antisosial dan
psikopatik dan dalam penyalahgunaan obat dan zat kimia di antara tawanan atau narapidanadi dalam
penjara.
 Hasil Penelitian:
Kekerasan secara signifikan dalam menjelaskan 3 hasil variable yaitu, perbuatan jahat atau kelakuan tidak
senonoh secara umum, agresif secara verbal atau fisik, atau kekerasan secara fisik. Dalam penelitian ini
tindakan kekerasan secara signifikan dalam menjelaskan 3 variabel yaitu, tidak menunjukkan adanya
hubungan dengan gangguan kepribadian antisosial. Misconduct atau yang biasa disebut dengan rasa tanpa
belas kasihan atau rasa tanpa penyesalan atas kesalahan yang mereka lakukan, adalah salah satu karakteristik
gangguan kepribadian antisosial, dalam faktanya menunjukkan tidak adanya hubungan dalam melakukan
tindakan kekerasan di penjara. Dalam penelitian ini tidak ada dorongan dalam menyatakan bahwa diagnose
gejala gangguan kepribadian antisosial bisa memprediksi kekerasan dalam penjara.
 Kesimpulan:
Hasil dari penelitian ini yaitu, tidak adanya dorongan atau dukungan yang menyatakan diagnosa gejala
gangguan kepribadian antisosial (ASPD) pada narapidana yang menggunakan kekerasan dalam penjara.
Dalam konteks forensik, diagnose ini digunakan dalam menyatakan terdakwa atau narapidanaakan
mendapatkan ancaman yang serius atas tindakannya pada narapidanalainnya, sekalipun terkurung dalam
penjara.

32
REVIEW JURNAL 2
 Judul : PERAN KECENDERUNGAN KECENDERUNGAN KEPRIBADIAN NARSISTIK
TERHADAP KECENDERUNGAN ANOREXIA NERVOSA PADA MODEL PEREMPUAN
 Volume dan halaman : Jurnal Sosio-Humaniora Vol. 5 No. 1., Hlm. 44-54
 Tahun : Mei 2014
 Penulis : Sowanya Ardi Prahara, Universitas Mercu Buana Yogyakarta
 Tujuan :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kecenderungan kepribadian narsistik dengan
kecenderungan anorexia nervosa pada model perempuan.
 Latar belakang :
Seiring dengan perubahan fisiknya, banyak remaja menghayati perubahannya sebagai suatu hal yang
merisaukan. Lebih lanjut dijelaskan remaja belajar dari lingkungan menjadi gemuk adalah buruk. Kegagalan
dalam pemahaman tersebut mengakibatkan remaja mengalami kecenderungan gangguan makan anorexia
nervosa. Seseorang didiagnosa anorexia nervosa apabila mengalami kesalahan dalam memandang berat atau
bentuk badan. Individu yang mengalami gangguan ini mengalami ketakutan yang amat sangat terhadap
kenaikan berat badan, sehingga cenderung melakukan penolakan terhadap berat badan normal sesuai umur
dan tinggi badan. Brehm (dlm maria et al., 2001) menyatakan bahwa faktor yang memberikan kontribusi
dalam meningkatkan kecenderungan anorxia nervosa salah satunya adalah kepribadian.
 Subjek Penelitan :
70 Orang model perempuan berusia 18-25 tahun, bertempat tinggal di kota yogyakarta, tercatat sebagai
anggota Lembaga Pendidikan Keterampilan (LPK) Buva Model Agency, LPK Samurai Pro, LPK Danar
Studio Modelling dan model-model tidak terikat kontrak.
 Metode Penelitian :
Metode dalam peneltian ini menggunakan teknik analisis korelasional product moment dari Karl Pearson.
 Metode Pengumpulan Data :
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala anorexia nervosa dan skala
kecenderungan kepribadian narsistik. Skala anorexia nervosa terdiri dari 20 item dalam bentuk kalimat
pernyataan favorable dengan 4 kategori respon yaitu SS (sangat sesuai), S (sesuai), TS (tidak sesuai) dan
STS (sangat tidak sesuai). Item-item di atas memiliki koefisien validitas bergerak antara 0,3178 – 0,6687
dan koefisien reliabilitas sebesar 0,8698 sehingga layak digunakan sebagai alat pengumpul data. Skala
kedua yang digunakan adalah skala kecenderungan kepribadian narsistik yang terdiri dari 19 item dalam
bentuk kalimat pernyataan favorable. Item-item di atas memiliki koefisien validitas bergerak antara 0,3082 –
0,5791 dan koefisien reliabilitas sebesar 0,8318 sehingga layak digunakan sebagai alat pengumpul data.
 Hasil Penelitian :
33
Hasil penelitian diperoleh r = 0,379 (p < 0,01). Dengan demikian hipotesis yang diajukan diterima.
Berdasarkan koefisien determinasinya, diketahui besarnya sumbangan kecenderungan kepribadian narsistik
terhadap peningkatan kecenderungan anorexia nervosa sebesar 14,4%.
 Kesimpulan :
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, dapat ditarik
kesimpulan bahwa ada hubungan positif yang sangat signifikan antara kecenderungan anorexia nervosa
pada model perempuan dengan kecenderungan kepribadian narsistik.

34