Anda di halaman 1dari 36

BAB I

PENDAHULUAN

I. LATAR BELAKANG
Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran napas
yang menyebabkan hiperaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai
dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas dan rasa berat di dada
terutama pada malam hari atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan
atau tanpa pengobatan (Depkes RI, 2010). Asma pada anak merupakan masalah bagi
pasien dan keluarga, karena asma pada anak berpengaruh terhadap berbagai aspek
khusus yang berkaitan dengan kualitas hidup, termasuk proses tumbuh kembang baik
pada masa bayi, balita maupun remaja (Sidhartani, 2007).
Menurut Depkes (2009) angka kejadian asma pada anak dan bayi sekitar 10-85%.
Departemen Kesehatan juga memperkirakan penyakit asma termasuk 10 besar penyebab
tingginya angka kesakitan dan kematian di Rumah Sakit serta diperkirakan 10% dari 25
juta penduduk Indonesia menderita asma. Apabila tidak dilakukan pencegahan prevalensi
asma akan semakin meningkat pada masa yang akan datang (Depkes RI, 2009).
Woolcock dan Konthen pada tahun 1990 di Bali mendapatkan prevalensi asma
pada anak dengan hiperreaktivitas bronkus 2,4% dan hiperreaktivitas bronkus serta
gangguan faal paru adalah 0,7%. Menurut data SKRT tahun 2007 menunjukkan
prevalensi asma di Propinsi Bali 2,3% dan berdasarkan data RSUP Sanglah, prevalensi
asma tahun 2013 adalah 2%.
Beberapa anak menderita asma sampai mereka usia dewasa; namun dapat
disembuhkan. Kebanyakan anak-anak pernah menderita asma. Para Dokter tidak yakin
akan hal ini, meskipun hal itu adalah teori. Lebih dari 6 % anak-anak terdiagnosa
menderita asma, 75 % meningkat pada akhir-akhir ini. Meningkat tajam sampai 40 % di
antara populasi anak di kota.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kelompok akan membahas tentang asuhan
keperawatan pada pedriatri yang mengalami asthma akut.

1
II. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, permasalahan yang dibahas dalam
makalah ini sebagai berikut.
1. Bagaimanakah konsep dasar penyakit asthma akut?
2. Bagaimanakah konsep dasar asuhan keperawatan pada pasien asthma akut?
3. Bagaimanakah contoh kasus asuhan keperawatan pada pasien asthma akut ?

III. TUJUAN PENULISAN


1. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar penyakit asthma akut
2. Mahasiswa mampu memahami konsep dasar asuhan keperawatan pada asthma akut
3. Mahasiswa mampu memahami contoh kasus asuhan keperawatan pada asthma akut

IV. MANFAAT PENULISAN


Berdasarkan tujuan di atas, maka penulisan makalah ini diharapkan dapat
bermanfaat, sebagai berikut:
1. Manfaat Umum
Dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang materi serta bahan
pembelajaran dalam perkuliahan
2. Manfaat Khusus
a. Bagi Pembaca
Makalah ini diharapkan dapat mempermudah pembaca dalam memahami materi
yang di sajikan. Selain itu pembaca makalah ini diharapkan mampu menerima
semua materi yang disampaikan.
b. Bagi Penulis
Dapat memperluas kaidah-kaidah pengetahuan serta sumber ajar yang berguna
dalam proses pembelajaran khususnya pada materi Kasus Kegawatdaruratan
Pediatrik : Asthma Akut

2
BAB II
PEMBAHASAN

I. KONSEP DASAR TEORI ASMA AKUT


A. Definisi Asma
Asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran
napas yang menyebabkan hiperaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang
ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas dan rasa
berat di dada terutama pada malam hari atau dini hari yang umumnya bersifat
reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan (Depkes RI, 2010).
Asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermiten, reversibel dimana
trakea dan bronchi berespon dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu
(Smeltzer&Bare, 2009).
Asma akut adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh spasme
akut otot polos bronkiolus.Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan
penurunan ventilasi alveolus (Huddak & Gallo, 1997).
Jadi dapat disimpulkan bahwa asma adalah penyakit jalan napas obstruktif
yang disebabkan oleh berbagai stimulan, yang ditandai dengan spasme otot polos
bronkiolus.

B. Etiologi Asma
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi
timbulnya serangan asthma bronkial.
1. Faktor Predisposisi
a. Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui
bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi
biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena
adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena penyakit asthma
bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas
saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.

3
2. Faktor Presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu:
1) Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan, seperti: debu, bulu
binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi.
2) Ingestan, yang masuk melalui mulut, seperti : makanan dan obat-obatan.
3) Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit, seperti : perhiasan,
logam dan jam tangan.
b. Perubahan Cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi
asma. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya
serangan asma. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim,
seperti: musim hujan, musim kemarau, musim bunga. Hal ini berhubungan
dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
c. Stress
Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu
juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala
asma yang timbul harus segera diobati, penderita asma yang mengalami
stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah
pribadinya. Karena jika stresnya belum diatasi maka gejala asmanya belum
bisa diobati.
d. Lingkungan Kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma.
Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja
di laboratorium hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas.
Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
e. Olahraga / Aktivitas Jasmani yang Berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan
aktivitas jasmani atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah
menimbulkan serangan asma. Serangan asma karena aktivitas biasanya
terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

4
C. Manifestasi Klinis Asma
1. Gejala awal berupa :
a. Batuk terutama pada malam atau dini hari
b. Sesak napas
c. Napas berbunyi (mengi) yang terdengar jika pasien menghembuskan
napasnya
d. Rasa berat di dada
e. Dahak sulit keluar
f. Belum ada kelainan bentuk thorak
g. Ada peningkatan eosinofil darah dan IG E
h. BGA belum patologis.
2. Gejala yang berat adalah keadaan gawat darurat yang mengancam jiwa atau
disebut juga stadium kronik. Yang termasuk gejala yang berat adalah:
a. Serangan batuk yang hebat
b. Sesak napas yang berat dan tersengal-sengal
c. Sianosis (kulit kebiruan, yang dimulai dari sekitar mulut)
d. Sulit tidur dan posisi tidur yang nyaman adalah dalam keadaan duduk
e. Kesadaran menurun
f. Thorak seperti barel chest
g. Tampak tarikan otot sternokleidomastoideus
h. Sianosis
i. BGA Pa O2 kurang dari 80%
j. Suara nafas melemah bahkan tak terdengar (silent Chest)
(Direktorat Bina Farmasi dan Klinik, 2007)

Sedangkan menurut Smeltzer & Bare (2009) manifestasi klinis dari asma,
diantaranya:
1. Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea dan mengi. Serangan asma
biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai
dengan pernapasan lambat, mengi dan laborius.
2. Sianosis karena hipoksia
3. Gejala retensi CO2 : diaforesis, takikardia, pelebaran tekanan nadi.

5
D. Klasifikasi Asma
Asma dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Asma Bronchial
Penderita asma bronkial, hipersensitif dan hiperaktif terhadap
rangsangan dari luar, seperti debu rumah, bulu binatang, asap dan bahan lain
penyebab alergi. Gejala kemunculannya sangat mendadak, sehingga gangguan
asma bisa datang secara tiba-tiba. Jika tidak mendapatkan pertolongan
secepatnya, risiko kematian bisa datang. Gangguan asma bronkial juga bisa
muncul lantaran adanya radang yang mengakibatkan penyempitan saluran
pernapasan bagian bawah. Penyempitan ini akibat berkerutnya otot polos
saluran pernapasan, pembengkakan selaput lendir dan pembentukan timbunan
lendir yang berlebihan.
2. Asma Kardial
Asma yang timbul akibat adanya kelainan jantung. Gejala asma kardial
biasanya terjadi pada malam hari, disertai sesak napas yang hebat. Kejadian ini
disebut nocturnal paroxymul dyspnea. Biasanya terjadi pada saaat penderita
sedang tidur.
Derajat Asma
Pembagian derajat asma menurut GINA adalah sebagai berikut :
1. Intermiten
Gejala kurang dari 1 kali/minggu dan serangan singkat
2. Persisten ringan
Gejala lebih dari 1 kali/minggu tapi kurang dari 1 kali/hari
3. Persisten sedang
Gejala terjadi setiap hari
4. Persisten berat
5. Gejala terjadi setiap hari dan serangan sering terjadi

E. Patofisiologi Asma
Suatu serangan akut asma akan disertai oleh banyak perubahan di jalan nafas
yang menyebabkan penyempitan: edema dan peradangan selaput lendir, penebalan
membran basa, hipersekresi kelenjar mucus dan yang lebih ringan kontraksi otot
polos. Perubahan histologi yang sama dapat dijumpai pada keadaan tanpa serangan
akut akibat pajanan kronik derajat rendah ke satu atau lebih pemicu asma. Melalui

6
berbagai jalur, zat-zat pemicu tersebut merangsang degranulasi sel mast di jalan
nafas yang menyebabkan pembebasan berbagai mediator yang bertanggung jawab
untuk perubahan yang terjadi. Mediator yang terpenting mungkin adalah leukotrien
C, D dan E tetapi terdapat bukti bahwa histamine, PAF, neuropeptida, zat-zat
kemotaktik, dan berbagai protein yang berasal dari eosinofil juga berperan penting
dalam proses ini. Obstruksi menyebabkan peningkatan resistensi jala nafas (terutama
pada ekspirasi karena penutupan jalan nafas saat ekspirasi yang terlalu dini),
hiperinflasi paru, penurunan elastisitas dan frekuensi-dependent compliance paru,
peningkatan usaha bernafas dan dispneu serta gangguan pertukaran gas oleh paru.
Obstruksi yang terjadi tiba-tiba besar kemungkinannya disebabkan oleh
penyempitan jalan nafas besar, dengan sedikit keterlibatan jalan nafas halus, dan
biasanya berespon baik terhadap terapi bronkodilator. Asma yang menetap dan
terjadi setiap hari hampir selalu memiliki komponen atau fase lambat yang
menyebabkan penyakit jalan nafas halus kronik dan kurang berespon terhadap terapi
bronkodilator saja.
Eosinofil diperkirakan merupakan sel efektor utama pada pathogenesis gejala
asma kronik, dimana beberapa mediatornya menyebabkan kerusakan luas pada sel
epitel bronkus serta perubahan-perubahan inflamatori. Walaupun banyak sel
mungkin sitokin (termasuk sel mast, sel epitel, makrofag dan eosinofil itu sendiri)
yang mempengaruhi diferensiasi, kelangsungan hidup, dan fungsi eosinofil, sel T
type TH2 dianggap berperan sentral, karena sel ini mampu mengenali antigen secara
langsung. Obstruksi pada asma biasanya tidak sama, dan defek ventilasi-perkusi
menyebabkan penurunan PaO2. Pada eksaserbasi asma terjadi hiperventilasi yang
disebabkan oleh dispneu.Pada awalnya banyak keluar dan PaCO2 mungkin rendah
namun seiring dengan semakinparahnya obstruksi, PaCO2 meningkat karena
hipoventilasi alveolus.Efek obstruksi berat yang timbul mencakup hipertensi
pulmonaris, peregangan ventrik.

7
F. Pathway Masalah Asma

Mengeluarkan Permeabilitas Edema mukosa,


Faktor pencetus Antigen yang terikat
mediator kapiler sekresi produktif,
(alergen, stress, IGE pada permukaan
histamin pratelet meningkat kontriksi otot polos
cuaca) sel mast atau basofil
bradikinin, dll meningkat

Spasme otot polos Konsentrasi oksigen


sekresi kelenjar Hiperkapnea Gelisah => ansietas dalam darah menurun
bronkus meningkat

Suplai oksigen ke otak


Koma Hipoksemia
Penyempitan/obstruksi meningkat
proksimal dari bronkus
pada tahap ekspirasi
dan inspirasi Suplai darah dan
Gangguan Asidosis metabolik oksigen ke jantung
Pertukaran Gas
berkurang
Mucus berlebih, batuk,
wheezing, sesak napas
Suplai oksigen ke Penurunan kardiak
jaringan menurun Perfusi jaringan perifer
output
Tekanan partial
oksigen alveoli
meningkat
Penyempitan jalan Penurunan Curah Tekanan darah
pernapasan Jantung menurun

Kelemahan dan
keletihan

Peningkatan kerja otot Nafsu makan Kebutuhan oksigen


Hiperventilasi
pernapasan menurun meningkat

Ketidakefektifan Ketidakefektifan Retensi oksigen Asidosis respiratorik


Bersihan Jalan Napas Pola Napas

G. Pemeriksaan Diagnostik Asma


1. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dijumpai napas menjadi cepat dan dangkal, terdengar
bunyi mengi pada pemeriksaan dada (pada serangan sangat berat biasanya tidak
lagi terdengar mengi, karena pasien sudah lelah untuk bernapas).

8
2. Pemeriksaan Fungsi Paru
a. Spirometri
Spirometri adalah mesin yang dapat mengukur kapasitas vital paksa (KVP)
dan volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1). Pemeriksaan ini sangat
tergantung kepada kemampuan pasien sehingga diperlukan instruksi
operator yang jelas dan kooperasi pasien. Untuk mendapatkan nilai yang
akurat, diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang diperiksa. Sumbatan jalan
napas diketahui dari nilai VEP1 < 80% nilai prediksi atau rasio VEP1/KVP
< 75%. Selain itu, dengan spirometri dapat mengetahui reversibiliti asma,
yaitu adanya perbaikan VEP1 > 15 % secara spontan, atau setelah inhalasi
bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah pemberian bronkodilator oral
10-14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/oral) 2 minggu.
Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis
tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan.
b. Peak Expiratory Flow Meter (PEF meter)
Sumbatan jalan napas diketahui dari nilai APE < 80% nilai prediksi. Selain
itu juga dapat memeriksa reversibiliti, yang ditandai dengan perbaikan nilai
APE > 15 % setelah inhalasi bronkodilator, atau setelah pemberian
bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid
(inhalasi/oral) 2 minggu. Variabilitas APE ini tergantung pada siklus
diurnal (pagi dan malam yang berbeda nilainya), dan nilai normal
variabilitas ini < 20%. Cara pemeriksaan variabilitas APE : Pada pagi hari
diukur APE untuk mendapatkan nilai terendah dan malam hari untuk
mendapatkan nilai tertinggi.
𝐴𝑃𝐸 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 − 𝐴𝑃𝐸 𝑝𝑎𝑔𝑖
𝑉𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑖𝑙𝑖𝑡𝑎𝑠 ℎ𝑎𝑟𝑖𝑎𝑛 = 𝑥 100%
1
(𝐴𝑃𝐸 𝑚𝑎𝑙𝑎𝑚 + 𝐴𝑃𝐸 𝑝𝑎𝑔𝑖)
2
(Direktorat Bina Farmasi dan Klinik, 2007)
c. Pemeriksaan Tes Kulit (Skin Test)
Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat
menimbulkan reaksi yang positif pada asma.

9
3. Pemeriksaan Darah
Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi
hipoksemia, hiperkapnia, atau asidosis. Pemeriksaan ini hanya dilakukan pada
penderita dengan serangan asma berat atau status asmatikus.

H. Penatalaksanaan Medis Asma


Prinsip umum dalam pengobatan pada asma bronkhiale :
 Menghilangkan obstruksi jalan nafas
 Mengenal dan menghindari faktor yang dapat menimbulkan serangan asma.
 Memberi penerangan kepada penderita atau keluarga dalam cara pengobatan
maupun penjelasan penyakit.
Penatalaksanaan asma dapat dibagi atas :
1. Pengobatan dengan obat-obatan, seperti :
a. Beta agonist (beta adrenergik agent)
b. Methylxanlines (enphy bronkodilator)
c. Anti kolinergik (bronkodilator)
d. Kortikosteroid
e. Mast cell inhibitor (lewat inhalasi)
2. Tindakan yang spesifik tergantung dari penyakitnya, misalnya :
a. Oksigen 4-6 liter/menit.
b. Agonis B2 (salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin 10 mg)
inhalasi nabulezer dan pemberiannya dapat di ulang setiap 30 menit-1 jam.
Pemberian agonis B2 mg atau terbutalin 0,25 mg dalam larutan dextrose
5% diberikan perlahan.
c. Aminofilin bolus IV 5-6 mg/kg BB, jika sudah menggunakan obat ini
dalam 12 jam.
d. Kortikosteroid hidrokortison 100-200 mg itu jika tidak ada respon segera
atau klien sedang menggunakan steroid oral atau dalam serangan sangat
berat.

10
II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN ASMA AKUT
A. Pengkajian Keperawatan
1. Pengkajian Primer
a. Airway
Mengecek jalan nafas dengan tujuan menjaga jalan nafas disertai control
servikal. Ada tidaknya penumpukan sputum pada jalan nafas. Hal ini
menyebabkan penyumbatan jalan napas sehingga asma memperlihatkan
kondisi pasien yang sesak karena kebutuhan akan O2 semakin sedikit yang
dapat diperoleh. Pada anak dengan kasus asma biasanya menunjukkan
tanda pada airway yaitu peningkatan sekresi pernafasan dan bunyi nafas
crackles, ronchi, wheezing.
b. Breathing
Mengecek pernafasan dengan tujuan mengelola pernafasan agar oksigenasi
adekuat. Adanya sumbatan pada jalan napas pasien menyebabkan
bertambahnya usaha napas pasien untuk memperoleh oksigen yang
diperlukan oleh tubuh. Namun pada kasus asma, pasien mengalami nafas
lemah hingga adanya henti napas. Sehingga ini memungkinkan bahwa
usaha ventilasi pasien tidak efektif. Disamping itu adanya bising mengi dan
sesak napas berat sehingga pasien tidak mampu menyelesaikan satu kalimat
dengan sekali napas, atau kesulitan dalam bergerak. Selain itu, adapun hal-
hal yang perlu dikaji pada anak dengan kasus asma yaitu :
1) Kaji saturasi oksigen dengan menggunakan pulse oximeter, dengan
tujuan mempertahankan saturasi oksigen >92%
2) Ambil darah untuk pemeriksaan arterial blood gases untuk menkaji PaO2
dan PaCO2
3) Kaji respiratory rate (pada anak dengan asma RR > 30x/menit)
4) Jika pasien mampu, rekam Peak Expiratory Flow dan dokumentasikan
5) Periksa system pernapasan – cari tanda:
a) Diaforesis dan cyanosis
b) Deviasi trachea
c) Kesimetrisan pergerakan dada
d) Retraksi dinding dada
e) Pernapasan cuping hidung
f) Takipneu/bradipneu

11
g) Penggunaan otot aksesoris pernafasan
6) Dengarkan adanya:
a) Wheezing
b) Pengurangan aliran udara masuk
c) Silent chest
7) Lakukan thorak photo untuk mengetahui adanya pneumothorak
c. Circulation
Mengecek sistem sirkulasi disertai kontrol perdarahan. Adanya usaha yang
kuat untuk memperoleh oksigen maka jantung berkontraksi kuat untuk
memenuhi kebutuhan tersebut hal ini ditandai dengan adanya peningkatan
denyut nadi lebih dari 120 x/menit. Terjadi pula penurunan tekanan darah
sistolik pada waktu inspirasi, arus puncak ekspirasi (APE) kurang dari 50 %
nilai dugaan atau nilai tertinggi yang pernah dicapai atau kurang dari 120
L/menit. Adanya kekurangan oksigen ini dapat menyebabkan sianosis yang
dikaji pada tahap circulation ini. Selain itu, ada beberapa hal lain yang perlu
dikaji pada circulation dan yang lazim dialami oleh anak dengan asma akut
adalah:
1) Penurunan curah jantung : gelisah, latergi, takikardi
2) Sakit kepala
3) Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah.
4) Papiledema
5) Urin output meurun
6) Kaji denyut jantung dan rhytme
7) Catat tekanan darah
8) Kaji hasil EKG
9) Kaji intake output.
d. Dissability
Mengecek status neurologis. Kaji status umum dan neurologi dengan
memeriksa atau cek kesadaran dengan metode AVPU (Alert, Verbal, Pain,
ketahui tanda Unresponse). Penurunan tingkat kesadaran merupakan tanda
ekstrim pertama dan pasien membutuhkan pertolongan di ruang Intesnsive
e. Exposure
Kaji suhu tubuh pasien serta ada tidaknya jejas ataupun trauma

12
3. Pengkajian Sekunder
a. Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun
strategi pengobatan. Gejala asma sangat bervariasi baik antar individu
maupun pada diri individu itu sendiri (pada saat berbeda), dari tidak ada
gejala sama sekali sampai kepada sesak yang hebat yang disertai gangguan
kesadaran.
Pengkajian sekunder gawat darurat menggunakan metode SAMPLE yaitu
tanyakan :
1) Sign and symptom / tanda dan gejala yang dialami
2) Alergi
3) Medical/pengobatan
4) Penyakit penyerta yang diderita
5) Last meal/makanan yang terakhir dikonsumsi
6) Environment/lingkungan
b. Pola Fungsional
Pengkajian riwayat keperawatan berdasarkan pola kesehatan fungsional
menurut Gordon:
1) Pola persepsi sehat-penatalaksanaan sehat
Orang tua penderita yang sudah remaja biasa menganggap sebagai
penyakit yang serius karena muncul sesak napas yang menggangu
aktivitas.
2) Pola metabolik nutrisi
Dapat muncul mual dan anoreksia sebagai dampak penurunan oksigen
jaringan gastrointestinal. Anak biasanya mengeluh badannya lemah
karena penurunan asupan nutrisi, terjadi penurunan berat badan.
3) Pola eliminasi
Anak dengan asma jarang terjadi gangguan eleminasi baik buang air
besar maupun buang air kecil.
4) Pola tidur-istrahat
Data yang sering muncul adalah anak mengalami kesulitan tidur karena
sesak nafas. Penamapilan anak terlihat lemah, sering menguap, mata

13
merah, anak juga sering menangis pada malam hari karena
ketidaknyamanan tersebut.
5) Pola aktivitas-latihan
Anak nampak menurun aktivitas da kelemahan fisik. Anak tampak
lebih banyak minta digendong orang tuanya atau bedrest.
6) Pola kognitif-presepsi
Penurunan kognitif untuk mengingat apa yang pernah disampaikan
biasanya sesaat akibat penurunan asupan nutrisi dan oksigen ke otak.
Pada saat dirawat anak tampak bingung kalau ditanya tentang hal-hal
baru yang disampaikan.
7) Pola presepsi diri-konsep diri
Tampak gambaran orang tua terhadap anak diam kurang bersahabat,
tidak suka bermain, ketakutan terhadaporang lain meningkat.
8) Pola peran-hubungan
Anak tampak malas kalau diajak bicara baik dengan teman sebaya
maupun yang lebih besar, anak lebih banyak diam dan selalu bersama
dengan terdekat (orang tua).
9) Pola seksualitas-reproduktif
Pola kondisi sakit dan anak kecil sering msih sulit terkaji. Pada anak
yang sudah mengalami purbetas mungkin mengalami gangguan
menstruasi pada wanita tetapi bersifat sementara dan biasanya
penundaan.
10) Pola toleransi stress-koping
Aktivitas yang sering tampak saat menghadapi stress adalah anak
sering menangis, kalau sudah remaja saat sakit yang dominan adalah
mudah tersinggung dan suka marah.
11) Pola nilai-keyakinan
Nilai keyakinan mungkin meningkat seiring dengan kebutuhan untuk
dapat sumber kesembuhan dari Tuhan.
c. Pemeriksaan Fisik
Lakukan pemeriksaan fisik head to toe dengan menggunakan teknik IAPP
(Inspeksi, Auskultasi, Palpasi, dan Perkusi) untuk mengetahui adanya
kelainan atau gangguan pada organ atau bagian tubuh, Fokus pengkajian
ada pada paru paru

14
Pada paru – paru :
1) Inspeksi : Frekuensi irama : kedalaman dan upaya bernapas anatara
lain: takipnae, dispnea progresif, pernapasan dangkal.
2) Palpasi : Adanya nyeri tekan, massa, peningkatan vokal fremitus
pada daerah yang terkena.
3) Perkusi : Pekak terjadi bila terisi cairan pada paru, normalnya timpani
(terisi udara) resonansi.
4) Auskultasinya : Suara pernapasan yang meningkat intensitasnya:
a) Suara mengi (whezing)
b) Suara napas tambahan ronkhi

B. Diagnosa Keperawatan
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b.d peningkatan produksi mucus
2. Gangguan pertukaran gas b.d retensi karbon diaksoda
3. Ketidakefektifan pola nafas b.d keletihan otot pernafasan dan deformita dinding
dada
4. Penurunan curah jantung b.d perubahan kontakbilitas dan volume sekuncup
jantung

15
C. Intervensi Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
No Diagnosa Keperawatan
(NOC) (NIC)
1 Ketidakefektifan bersihan Setelah diberikan tindakan Airway Management
jalan nafas keperawatan selama … x .... jam, □ Buka jalan nafas menggunakan head tilt chin lift atau jaw
diharapkan pasien mampu thrust bila perlu
mempertahankan kebersihan jalan □ Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
nafas dengan kriteria hasil : □ Identifikasi pasien perlunya pemasangan alat jalan nafas
Respiratory status : Airway Patency buatan (NPA, OPA, ETT, Ventilator)
□ Respirasi dalam batas normal □ Lakukan fisioterpi dada jika perlu
□ Irama pernafasan teratur □ Bersihkan secret dengan suction bila diperlukan
□ Kedalaman pernafasan normal □ Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
□ Tidak ada akumulasi sputum □ Kolaborasi pemberian oksigen
□ Batuk berkurang/hilang □ Kolaborasi pemberian obat bronkodilator
□ Monitor RR dan status oksigenasi (frekuensi, irama,
kedalaman dan usaha dalam bernapas)
□ Anjurkan pasien untuk batuk efektif
□ Berikan nebulizer jika diperlukan

Asthma Management
□ Tentukan batas dasar respirasi sebagai pembanding

16
□ Bandingkan status sebelum dan selama dirawat di rumah
sakit untuk mengetahui perubahan status pernapasan
□ Monitor tanda dan gejala asma
□ Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan usaha dalam
bernapas
2 Gangguan pertukaran gas Setelah diberikan tindakan Acid Base Management
keperawatan selama …. X .... jam, □ Pertahankan kepatenan jalan nafas
diharapkan pasien tidak mengalami □ Posisikan pasien untuk mendapatkan ventilasi yang
gangguan pertukaran gas dengan adekuat(mis., buka jalan nafas dan tinggikan kepala dari
kriteria hasil : tempat tidur)
Respiratory status: Gas Exchange □ Monitor hemodinamika status (CVP & MAP)
□ PaO2 dalam batas normal (80-100 □ Monitor kadar pH, PaO2, PaCO2, dan HCO3 darah melalui
mmHg) hasil AGD
□ PaCO2 dalam batas normal (35-45 □ Catat adanya asidosis/alkalosis yang terjadi akibat
mmHg) kompensasi metabolisme, respirasi atau keduanya atau tidak
□ pH normal (7.35-7.45) adanya kompensasi
□ SaO2 normal (95-100%) □ Monitor tanda-tanda gagal napas
□ Tidak ada sianosis □ Monitor status neurologis
□ Tidak ada penurunan kesadaran □ Monitor status pernapasan dan status oksigenasi klien
□ Atur intake cairan
□ Auskultasi bunyi napas dan adanya suara napas tambahan

17
(ronchi, wheezing, krekels, dll)
□ Kolaborasi pemberian nebulizer, jika diperlukan
□ Kolaborasi pemberian oksigen, jika diperlukan.
3 Ketidakefektifan pola nafas Setelah diberikan tindakan Oxygen Therapy
keperawatan selama ….. x ..... jam, □ Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
diharapkan pola nafas pasien teratur □ Pertahankan jalan nafas yang paten
dengan kriteria hasil : □ Siapkan peralatan oksigenasi
Respiratory status : Ventilation □ Monitor aliran oksigen
□ Respirasi dalam batas normal □ Monitor respirasi dan status O2
□ Irama pernafasan teratur □ Pertahankan posisi pasien
□ Kedalaman pernafasan normal □ Monitor volume aliran oksigen dan jenis canul yang
□ Suara perkusi dada normal (sonor) digunakan.
□ Retraksi otot dada □ Monitor keefektifan terapi oksigen yang telah diberikan
□ Tidak terdapat orthopnea □ Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
□ Taktil fremitus normal antara dada □ Monitor tingkat kecemasan pasien yang kemungkinan
kiri dan dada kanan diberikan terapi O2
□ Ekspansi dada simetris
□ Tidak terdapat akumulasi sputum
□ Tidak terdapat penggunaan otot
bantu napas

18
4 Penurunan curah jantung Setelah diberikan tindakan Cardiac Care
keperawatan selama …. X …. Jam, □ Evaluasi adanya nyeri dada (Intesitas, lokasi, rambatan,
diharapkan masalah penurunan curah durasi, serta faktor yang menimbulkan dan meringankan
jantung dapat teratasi dengan kriteria gejala).
hasil : □ Monitor EKG untuk perubahan ST, jika diperlukan.
Cardiac Pump Effectiveness □ Lakukan penilaian komprehenif untuk sirkulasi perifer (Cek
□ Tekanan darah sistolik dalam batas nadi perifer, edema,CRT, serta warna dan temperatur
normal ekstremitas) secara rutin.
□ Tekanan darah diastolik dalam □ Monitor tanda-tanda vital secara teratur.
batas normal □ Monitor status kardiovaskuler.
□ Heart rate dalam batas normal □ Monitor disritmia jantung.
□ Peningkatan fraksi ejeksi □ Dokumentasikan disritmia jantung.
□ Peningkatan nadi perifer □ Catat tanda dan gejala dari penurunan curah jantung.
□ Tekanan vena sentral (Central □ Monitor status repirasi sebagai gejala dari gagal jantung.
venous pressure) dalam batas □ Monitor abdomen sebagai indikasi penurunan perfusi.
normal □ Monitor nilai laboratorium terkait (elektrolit).
□ Gejala angina berkurang □ Monitor fungsi peacemaker, jika diperlukan.
□ Edema perifer berkurang □ Evaluasi perubahan tekanan darah.
□ Gejala nausea berkurang □ Sediakan terapi antiaritmia berdasarkan pada kebijaksanaan
□ Tidak mengeluh dispnea saat unit (Contoh medikasi antiaritmia, cardioverion,
istirahat defibrilator), jika diperlukan.

19
□ Tidak terjadi sianosis □ Monitor penerimaan atau respon pasien terhadap medikasi
antiaritmia.
Circulation Status □ Monitor dispnea, keletihan, takipnea, ortopnea.
□ MAP dalam batas normal
□ PaO2 dalam btas normal (60-80 Cardiac Care : Acute
mmHg) □ Monitor kecepatan pompa dan ritme jantung.
□ PaCO2 dalam batas normal (35-45 □ Auskultasi bunyi jantung.
mmHg) □ Auskultasi paru-paru untuk crackles atau suara nafas
□ Saturasi O2 dalam batas normal (> tambahan lainnya.
95%) □ Monitor efektifitas terapi oksigen, jika diperlukan.
□ Capillary Refill Time (CRT) dalam □ Monitor faktor-faktor yang mempengaruhi aliran oksigen
batas normal (< 3 detik) (PaO2, nilai Hb, dan curah jantung), jika diperlukan.
□ Monitor status neurologis.
□ Monitor fungsi ginjal (Nilai BUN dan kreatinin), jika
diperlukan.
□ Administrasikan medikasi untuk mengurangi atau mencegah
nyeri dan iskemia, sesuai kebutuhan.

20
III. Kasus Kegawat Daruratan Pediatric : Ashma Akut

Seorang anak Y berusian 10 tahun datang bersama ibunya ke IGD sanglah dengan
keluhan ibu An. Y mengeluhkan anaknya batuk berdahak berwarna putih kental, tidak
bercampur darah, dan sulit untuk dikeluarkan, sehingga saat tidur berbunyi banyak lendir dan
terdengar suara mengii itu dirasakan sejak kemarin, batuk dirasakan lebih sering pada malam
hari, hingga menyebabkan nyeri seperti kram. Sejak dua minggu sebelum masuk Rumah
Sakit anak nafasnya sesak setelah ibunya membersihkan rumah, anak mempunyai riwayat
asma sejak usia 5 tahun. Ibu pasien mengatakan sakit anaknya kambuh bila terkena debu.
Pernafasan anak lemah dan lambat serta kata-kata yang diucapkan terputus-putus karena
seraknya dan RR : 36x/menit, Nadi : 110x/menit

A. Pengkajian Keperawatan
Tanggal masuk : 25 September 2017
Ruang : IGD RSUP Sanglah
Nomor Register : 0004
Diagnosa Medis : Asma Bronchial
1. Identitas Klien
Nama : An.Y
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia : 10 tahun
Agama : Islam
Pendidikan : -
Suku : Bali
Bahasa yang digunakan : Indonesia
Alamat rumah : Desa Peguyangan Kaja, Denpasar Utara
Sumber biaya : Pribadi
Sumber informasi : Klien, keluarga dan catatan medis
2. Pengkajian Primer
Tingkat kesadaran : Compos mentis
a. Airway
1) Ditemukan adanya peningkatan sekresi pada saluran pernapasan
2) Penumpukan sputum pada jalan nafas
3) Bunyi nafas mengi, wheezing (+/+)
21
4) Anak tidak mampu mengeluarkan dahak
Dx : Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Intervensi / Implementasi :
- Memberikan Posisi semi Fowler
- Memberikan Oksigen 4-6 liter
- Melatih batuk efektif
- Memberikan nebulizer salbutamol 5 mg atau veneteror 2,5 mg atau terbutalin
10 mg
Evaluasi
- Respirasi 32 x/menit
- Batuk berkurang
b. Breathing :
1) Anak mengeluh sesak napas disertai batuk berdahak
2) Pernapasan anak Tachipnue (lemah,Cepat)
3) RR 36 x/menit
4) Terdengar bunyi napas mengi wheezing (+/+)
5) Sesak bertambah parah saat malam hari
6) Sesak timbul ketika anak terkena alergen (debu)
7) Jika anak berbicara, kata-katanya terputus-putus akibat sesak yang dialaminya
Dx :
1) Ketidakefektifan pola nafas
2) Gangguan pertukaran gas
Intervensi / Implementasi :
1) Pertahankan jalan nafas yang paten
2) Monitor respirasi dan status O2
3) Pertahankan posisi pasien
4) Monitor volume aliran oksigen dan jenis canul yang digunakan
5) Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
Evaluasi
1) Respirasi 32 x/menit
2) Tidak terdapat penggunaan otot bantu napas
c. Circulation
Tidak ada perdarahan internal maupun eksternal, CRT < 2 detik, nadi brachialis
teraba 100 x/menit, akral perifer hangat.
22
Dx : –
Intervensi / Implementasi : –
Evaluasi : –
d. Dissability
Kesadaran compos mentis, reaksi pupil (+/+), GCS = E4 M5 V6 (15)
Dx : –
Intervensi / Implementasi : –
Evaluasi : –
e. Exposure
Suhu aksila 36.7oC, tidak ada trauma maupun jejas
Dx Kep : –
Intervensi / Implementasi : –
Evaluasi : –

3. Pengkajian Sekunder
a. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan Utama
Klien mengatakan nafasnya sesak sejak satu hari sebelum masuk Instalasi
Gawat Darurat disertai batuk berdahak
2) Riwayat Penyakit Sekarang
Dua hari SMRS, Ibu px mengeluhkan anaknya batuk berdahak berwarna
putih kental, tidak bercampur darah, dan sulit untuk dikeluarkan, sehingga
saat tidur berbunyi banyak lendir. Batuk ini muncul tiba-tiba setelah ibu px
menyapu karpet rumahnya, batuk dirasakan lebih sering pada malam hari,
hingga menyebabkan nyeri seperti kram, sesak disertai dengan bunyi mengi,
sesak pernah muncul sebelumnya, frekuensi muncul dalam satu bulannya 2
kali dan dapat menganggu aktivitas sehari-hari. Ibu lupa dengan nama obat
yang biasa digunakan. BAB konsistensi padat, tidak berlendir, tidak
berdarah, BAK normal seperti biasanya. Px sudah dibawa berobat ke dokter,
belum ada perbaikan yang berarti, anak masih mau makan dan minum.
3) Kronologis Keluhan
Satu hari SMRS, ibu px mengatakan anak sesak yang disertai dengan bunyi
mengi dan semakin berat, anak masih batuk berdahak berwarna putih kental,

23
tidak bercampur darah, dan sulit untuk dikeluarkan.Riwayat Asma sejak
umur 5 tahun.
4) Faktor Pencetus
Sejak dua minggu sebelum masuk Rumah Sakit anak nafasnya sesak setelah
ibunya membersihkan rumah, anak mempunyai riwayat asma sejak usia 5
tahun. Ibu pasien mengatakan sakit anaknya kambuh bila terkena debu.
b. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
1) Riwayat Kehamilan
Kunjungan ANC teratur ke bidan, Ibu tidak mengkonsumsi obat-obatan
selama masa kehamilan, penyulit kehamilan tidak ada.
2) Riwayat Kelahiran
Anak lahir cukup bulan, lahir normal, ditolong bidan, langsung menangis,
tidak terdapat kelainan atau cacat bawaan, BB lahir = 3200 gram, PB lahir
49cm.
3) Riwayat Makanan
- ASI sejak usia 0 – 6 bulan
- MP-ASI sejak usia 6 bulan
- Kesan : Makanan sesuai usia
4) Riwayat Imunisasi :

Saat lahir Hepatitis B-1, polio-0


I bulan Hepatitis B-2
2 bulan BCG, DPT-1, polio-1
4 bulan DPT-2, polio-2
6 bulan DPT-3, polio-3, Hepatitis B-3
9 bulan Campak

Kesan : Imunisasi dasar lengkap


5) Riwayat Tumbuh Kembang
- Bisa tengkurap usia 4 bulan, bisa mengoceh usia 6 bulan
- Merangkak, suka menggenggam benda pada usia 7 bulan
- Bisa duduk usia 7 bulan
- Berjalan dengan bantuan usia 11 bulan
Kesan : tumbuh kembang sesuai usia

24
6) Riwayat Alergi
Pasien memiliki riwayat alergi debu.
c. Pengkajian Fisik
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Composmentis
Tanda Vital
1) Suhu : 36,5 °C
2) Nadi : 110 x/menit  takikardi
3) Tek. Darah : –
4) RR : 36 x/menit
Status Gizi
1) Tinggi Badan : 138 cm
2) Berat badan : 40 kg
3) BB/TB : 21 (normal)
STATUS GENERALIS
Kepala
1) Bentuk : Normocephal
2) Rambut : Hitam dan tidak rontok
3) Mata : Konjungtiva anemis (-/-), skelra ikterik (-/-)
4) Hidung : Konka hiperemis (-/-), keluar sekret (-/-)
5) Telinga : Keluar sekret (-/-)
6) Mulut : Pharynk hiperemis (-), bibir anemis (-/-), bibir sianosis (-/-)
Leher
1) Kelenjar tiroid : Pembesaran (-)
2) Kelenjar getah bening : Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Thorax
1) Inspeksi : Dinding dada simetris, retraksi sela iga (-)
2) Palpasi : Vocal fremitus kiri dan kanan sama
3) Perkusi : Sonor dikedua lapang paru, batas paru-hepar ICS 5
4) Auskultasi : Bunyi napas wheezing (+/+) , ronkhi (-/-)
Jantung
1) Inspeksi : Ictus cordis terlihat
2) Palpasi : Ictus cordis teraba
3) Perkusi : Jantung dalam batas normal
25
4) Aukultasi : Bunyi jantung 1&2 murni, tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
1) Inspeksi : Dinding perut simetris, distensi (-), massa (-), bekas operasi (-)
2) Auskultasi : Bising usus (+), 8 x/menit
3) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran organ
4) Perkusi : Timpani pada keempat kuadran abdomen
Extremitas
1) Atas : Akral hangat, RCT<2 detik, edema (-), sianosis (-), kekuatan
motorik : 5 / 5, sensibilitas : normal, refleks fisiologis (+), reflex
patologis : (-)
2) Bawah : Akral hangat, RCT<2 detik, edema (-), sianosis (-), kekuatan
motorik : 5 / 5, sensibilitas : normal, refleks fisiologis : normal
refleks patologis : negative
d. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium 25 September 2017

Analisa Gas Darah Nilai Rujukan


Temperatur 37,0 C -
pH 7,298 7,350-7,450
PCO2 45,8 33-44 mmHg
PO2 135,4 71-104 mmHg
Calculated data - -
HCO3 act 22,6 21- 28 mmol/L
BE (ecf) -4,00 2,00- + 3,00 mmol/L
BE (B) -3.5 -2,4--+2,3mmol/L
02 sat 97,8 94-98 %
Serologi Hasil Rujukan
Hb 15,5 13,2-17,3
Leukosit 21,41 3,80- 18,60
Hematokrit 45 40- 52
Trombosit 359 150-440

26
B. Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan
DATA ETILOGI MASALAH
DS : Faktor pencetus (alergen, Ketidakefektifan
- Ibu mengatakan anak sulit stress, cuaca) bersihan jalan nafas b/d
bernafas. peningkatan produksi
- Ibu mengatakan anak sesak Antigen yang terikat IGE pada mucus d/d penumpukan
napas disertai batuk permukaan sel mast atau sputum dan suara nafas
berdahak basophil tambahan Wheezing
- Ibu mengatakan anak
mengalami kesusahan saat Mengeluarkan mediator
mengeluarkan dahak. histamin pratelet bradikinin, dll

DO : Permeabilitas kapiler
- Anak tampak sesak nafas meningkat
disertai batuk
- Pernapasan anak bradipneu Edema mukosa, sekresi
(lemah, lambat) produktif, kontriksi otot polos
- RR 36x/menit meningkat
- Terdengar bunyi napas
mengi, wheezing (+/+) Mucus berlebih, batuk,
- Jika anak berbicara, kata- wheezing, sesak napas
katanya terputus-putus akibat
sesak yang dialaminya Ketidakefektifan bersihan
menyelesaikan kalimat jalan nafas

DS : Faktor pencetus (alergen, Ketidakefektifan pola


- Ibu mengatakan anak sesak stress, cuaca) nafas b/d keletihan otot
napas, pernafasan dan
- Ibu mengatakan pernafasan Antigen yang terikat IGE pada deformita dinding dada
anak mengi saat tidur. permukaan sel mast atau d/d pernafasan
- Ibu mengatakan sesak anak basophil Tachipnue dan RR :
bertambah parah saat malam 36x/menit

27
hari Mengeluarkan mediator
- Ibu mengatakan sesak anak histamin pratelet bradikinin, dll
timbul ketika anak terkena
alergen (debu) Permeabilitas kapiler
meningkat
DO :
- Anak tampak sesak nafas Edema mukosa, sekresi
disertai batuk produktif, kontriksi otot polos
- Pernapasan anak bradipneu meningkat
(lemah, lambat)
- RR 36x/menit Tekanan partial oksigen alveoli
- Terdengar bunyi napas meningkat
mengi, wheezing (+/+)
- Jika anak berbicara, kata- Penyempitan jalan pernapasan
katanya terputus-putus akibat
sesak yang dialaminya Peningkatan kerja otot
menyelesaikan kalimat pernapasan

Ketidakefektifan Pola Napas

DS : Faktor pencetus (alergen, Gangguan pertukaran


- Ibu mengatakan anak sesak stress, cuaca) gas b/d retensi karbon
napas, diaksoda d/d PCO2 dan
- Ibu mengatakan pernafasan Antigen yang terikat IGE pada PO2 tidak normal
anak mengi saat tidur. permukaan sel mast atau
- Ibu mengatakan sesak anak basophil
bertambah parah saat malam
hari Mengeluarkan mediator
- Ibu mengatakan sesak anak histamin pratelet bradikinin, dll
timbul ketika anak terkena
alergen (debu) Permeabilitas kapiler
meningkat
DO :

28
- Anak tampak sesak nafas Edema mukosa, sekresi
disertai batuk produktif, kontriksi otot polos
- Pernapasan anak bradipneu meningkat
(lemah, lambat)
- RR 36x/menit Konsentrasi oksigen dalam
- Terdengar bunyi napas darah menurun
mengi, wheezing (+/+)
- Jika anak berbicara, kata- Hipoksemia
katanya terputus-putus akibat
sesak yang dialaminya Gangguan Pertukaran Gas
menyelesaikan kalimat
- Dari hasil analisa gas darah
diketahui bahwa anak
mengalami asidosis
respiratorik karena nilai pH =
7.298

29
C. Intervensi Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi


No Diagnosa Keperawatan
(NOC) (NIC)
1 Ketidakefektifan bersihan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Airway Management
jalan nafas b/d peningkatan selama …. X .... jam, diharapkan pasien □ Buka jalan nafas menggunakan head tilt chin lift atau jaw
produksi mucus d/d mampu mempertahankan kebersihan jalan thrust bila perlu
penumpukan sputum dan nafas dengan kriteria hasil : □ Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
suara nafas tambahan Respiratory status : Airway Patency □ Lakukan fisioterpi dada jika perlu
Wheezing □ Respirasi dalam batas normal 20-30 □ Bersihkan secret dengan suction bila diperlukan
x/menit □ Auskultasi suara nafas, catat adanya suara tambahan
□ Irama pernafasan teratur □ Kolaborasi pemberian oksigen
□ Kedalaman pernafasan normal □ Kolaborasi pemberian obat bronkodilator
□ Tidak ada akumulasi sputum □ Monitor RR dan status oksigenasi (frekuensi, irama,
□ Batuk berkurang/hilang kedalaman dan usaha dalam bernapas)
□ Anjurkan pasien untuk batuk efektif
□ Berikan nebulizer jika diperlukan
Asthma Management
□ Tentukan batas dasar respirasi sebagai pembanding
□ Bandingkan status sebelum dan selama dirawat di rumah sakit
untuk mengetahui perubahan status pernapasan
□ Monitor tanda dan gejala asma
□ Monitor frekuensi, irama, kedalaman dan usaha dalam
bernapas

30
2 Ketidakefektifan pola nafas Setelah dilakukan tindakan keperawatan Oxygen Therapy
b/d keletihan otot pernafasan selama ….. x .... jam, diharapkan pola nafas □ Bersihkan mulut, hidung dan secret trakea
dan deformita dinding Dada pasien teratur dengan kriteria hasil : □ Pertahankan jalan nafas yang paten
d/d pernafasan Tachipnue RR: Respiratory status : Ventilation □ Siapkan peralatan oksigenasi
36x/menit □ Respirasi dalam batas normal (dewasa: □ Monitor aliran oksigen
20-30x/menit) □ Monitor respirasi dan status O2
□ Irama pernafasan teratur □ Pertahankan posisi pasien
□ Kedalaman pernafasan normal □ Monitor volume aliran oksigen dan jenis canul yang
□ Suara perkusi dada normal (sonor) digunakan.
□ Retraksi otot dada □ Monitor keefektifan terapi oksigen yang telah diberikan
□ Tidak terdapat orthopnea □ Observasi adanya tanda tanda hipoventilasi
□ Taktil fremitus normal antara dada kiri □ Monitor tingkat kecemasan pasien yang kemungkinan
dan dada kanan diberikan terapi O2
□ Ekspansi dada simetris
□ Tidak terdapat akumulasi sputum
□ Tidak terdapat penggunaan otot bantu
napas
3 Gangguan pertukaran gas b/d Setelah dilakukan tindakan keperawatan Acid Base Management
retensi karbondiaksoda selama .... x ….. jam, diharapkan hasil tidak □ Pertahankan kepatenan jalan nafas
ditandai dengan PCO2 dan terjadi gangguan pertukaran gas normal □ Posisikan pasien untuk mendapatkan ventilasi yang
PO2 tidak normal dengan kriteria hasil : adekuat(mis., buka jalan nafas dan tinggikan kepala dari
□ Respiratory status: Gas Exchange tempat tidur)
□ PaO2 dalam batas normal (80-100 □ Monitor hemodinamika status (CVP & MAP)

31
mmHg) □ Monitor kadar pH, PaO2, PaCO2, dan HCO3 darah melalui
□ PaCO2 dalam batas normal (35-45 hasil AGD
mmHg) □ Catat adanya asidosis/alkalosis yang terjadi akibat kompensasi
□ pH normal (7,35-7,45) metabolisme, respirasi atau keduanya atau tidak adanya
□ SaO2 normal (95-100%) kompensasi
□ Tidak ada sianosis □ Monitor tanda-tanda gagal napas
□ Tidak ada penurunan kesadaran □ Monitor status neurologis
□ Monitor status pernapasan dan status oksigenasi klien
□ Atur intake cairan
□ Auskultasi bunyi napas dan adanya suara napas tambahan
(ronchi, wheezing, krekels, dll)
□ Kolaborasi pemberian nebulizer, jika diperlukan
□ Kolaborasi pemberian oksigen, jika diperlukan.

32
D. Implementasi Keperawatan
No
Tgl / jam Implementasi Evaluasi
Dx
1, 25 - Mengkaji auskultasi bunyi S : -
2, 3 September nafas O:
2017 - Memantau frekuensi - TD : 110/70 mmHg
08.00 wita pernafasan - RR: 24 x/menit
- Meninggikan kepala dari - HR: 85 x/meni
tempat tidur - Suhu : 36.6oC
- Memberikan obat - Posisi kepala pasien sudah
bronkodilator. semifowler
- Pasien tenang dan obat
bronkodilator sudah diberikan
1, 09.00 wita - Mengobservasi pola batuk S : Pasien mengatakan masih batuk
2, 3 pasien. disertai dahak
- Mengkaji frekuensi O :
kedalaman pernafasan dan - TD : 110/70 mmHg
ekpansi dada. - RR : 24 x/menit
- HR: 88 x/meni
- Suhu : 36.6oC
- Kedalaman napas pasien cepat
dan dangkal
- Pasien bernafas menggunakan
retraksi otot dada dan bernapas
cuping hidung
2,3 10.00 wita - Mengkaji auskultasi bunyi S : -
napas. O : Terdapat suara tambahan
wezzing

33
E. Evaluasi Keperawatan
Hari / TTD
No Evaluasi
Tanggal
1, 25 S : Pasien mengatakan batuk sudah berkurang,
2, 3 September sudah tidak sesak
2017 O:
10.00 wita - Pasien tampak tenang, keadaan umum
composmentis, retraksi otot ada (-), suara napas
tambahan (-), napas cuping hidung (-)
- TD : 110/70 mmHg
- Suhu : 36.6oC
- Nadi : 88 x/menit
- RR : 24 x/menit
A:
- Ketidakefektifan bersihan jalan napas
- Ketidakefektifan pola napas
- Gangguan pertukaran gas
P : Pertahankan kondisi pasien

34
BAB III
PENUTUP

I. SIMPULAN
Asma merupakan suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan
karena hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu yang menyebabkan peradangan
dengan manifestasi mengi kambuhan, sesak nafas, dan batuk terutama pada malam hari
dan pagi hari. Asma menjadi salah satu penyakit yang sering dijumpai pada anak-anak.
Asma pada anak merupakan masalah bagi pasien dan keluarga, karena asma pada anak
berpengaruh terhadap berbagai aspek khusus yang berkaitan dengan kualitas hidup,
termasuk proses tumbuh kembang baik pada masa bayi, balita maupun remaja. Asma
akut adalah penyakit pernapasan obstruktif yang ditandai oleh spasme akut otot polos
bronkiolus. Hal ini menyebabkan obsktrusi aliran udara dan penurunan ventilasi
alveolus.
Menurut Depkes (2009) angka kejadian asma pada anak dan bayi sekitar 10-85%.
Departemen Kesehatan juga memperkirakan penyakit asma termasuk 10 besar penyebab
tingginya angka kesakitan dan kematian di Rumah Sakit serta diperkirakan 10% dari 25
juta penduduk Indonesia menderita asma.

II. SARAN
Penyakit asma tidak dapat disembuhkan namun dalam penggunaan obat-obat
yang ada saat ini hanya berfungsi untuk menghilangkan gejala saja. Kontrol yang baik
diperlukan oleh penderita untuk terbebas dari gejala serangan asma dan bisa menjalani
aktivitas hidup sehari-hari. Untuk mengontrol gejala asma secara baik maka penderita
harus bisa merawat penyakitnya dengan cara mengenali lebih jauh tentang penyakit
tersebut.

35
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2009. PedomanPengendalianPenyakitAsma. Jakarta :Depkes RI.

Depkes RI. 2010. ProfilKesehatan Indonesia.Jakarta :Depkes RI.

Mangunegoro, H. dkk. 2004. Asmapedoman diagnosis &penatalaksanaan di Indonesia.


Jakarta: BalaiPenerbit FKUI.

Price, Sylvia Anderson. 2006. PatifisiologiKonsepKlinis Proses – proses Penyakit, Ed.6,


Volume 1&2. Jakarta : EGC.

Smeltzer, S. C., & Bare B.G. 2009.Buku Ajar KeperawatanMedikalBedah Brunner


&Suddarth( Edisidan Volume 1 ). Jakarta : EGC.

Sidhartani, Magnalena. 2007. PeranEdukasiPadaPenatalaksanaanAsmaPadaAnak.


Semarang :UniversitasDiponegoro

Supari, SitiFadilah. 2008. PedomanPengendalianPenyakitAsma. Jakarta : DEPKES

Wong, L. Donna. 2009. BukuAjarKeperawatanPediatrik. Vol. 1.Edisi 6.Jakarta : EGC.

36