Anda di halaman 1dari 5

Prosedur bedah mengandung risiko tinggi maka pelaksanaannya harus direncanakan dengan

saksama. Asesmen prabedah akan menjadi acuan untuk menentukan jenis tindakan bedah yang
tepat dan mencatat temuan penting. Hasil asesmen memberikan informasi tentang :

 Tindakan bedah yang sesuai dan waktu pelaksanaannya;


 Melakukan tindakan dengan aman; dan
 Menyimpulkan temuan selama monitoring.

Pemilihan teknik operasi bergantung pada riwayat pasien, status fisik, data diagnostik, serta
manfaat dan risiko tindakan yang dipilih. Pemilihan tindakan juga mempertimbangkan asesmen
waktu pasien masuk dirawat inap, pemeriksaan diagnostik, dan sumber lainnya. Proses asesmen
dikerjakan segera pada pasien darurat.

Asuhan untuk pasien bedah dicatat di rekam medis. Untuk pasien yang langsung dilayani oleh
dokter bedah, asesmen prabedah menggunakan asesmen awal rawat inap. Pada pasien yang
diputuskan dilakukan pembedahan dalam proses perawatan, Asesmen dicatat dalam rekam
medis, sedangkan pasien yang dikonsultasikan di tengah perawatan oleh dokter penanggung
jawab pelayanan (DPJP) lain dan diputuskan operasi maka asesmen prabedah juga dicatat di
rekam medis, dalam hal ini termasuk diagnosis praoperasi dan pascaoperasi serta nama tindakan
operasi.

Pasien, keluarga, dan mereka yang memutuskan bersedia dilakukan tindakan harus menerima
cukup penjelasan untuk berpartisipasi dalam keputusan asuhan pasien dan memberikan
persetujuan yang dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan pasien maka penjelasan tersebut
diberikan secara terintegrasi oleh Dokter operator yang kompeten dan berwenang serta para
profesional pemberi asuhan (PPA) terkait dibantu oleh manajer pelayanan pasien (MPP).

Informasi tersebut harus memuat minimal

 Risiko dari rencana tindakan operasi;


 Manfaat dari rencana tindakan operasi;
 Kemungkinan komplikasi dan dampak;
 Pilihan operasi atau nonoperasi (alternatif) yang tersedia untuk menangani pasien;
 sebagai tambahan jika dibutuhkan darah atau produk darah, sedangkan risiko dan
alternatifnya didiskusikan.

Asuhan pasien pascaoperasi bergantung pada temuan dalam operasi. Semua tindakan dan
hasilnya dicatat di rekam medis pasien. Laporan operasi rumah sakit uns ini dibuat dalam bentuk
laporan operasi tertulis. Untuk mendukung kesinambungan asuhan pasien pascaoperasi maka
laporan operasi dicatat segera setelah operasi selesai, sebelum pasien dipindah dari daerah
operasi atau dari area pemulihan pasca-anestesi.

Laporan yang tercatat tentang operasi memuat paling sedikit

 diagnosis pascaoperasi;
 nama dokter bedah dan asistennya;
 prosedur operasi yang dilakukan dan rincian temuan;
 ada dan tidak ada komplikasi;
 spesimen operasi yang dikirim untuk diperiksa;
 jumlah darah yang hilang dan jumlah yang masuk lewat transfusi;
 nomor pendaftaran alat yang dipasang (implan);
 tanggal, waktu, dan tanda tangan dokter yang bertanggung jawab.

Jumlah darah yang hilang dan transfusi darah dicatat di catatan anestesi. Catatan tentang implan
dapat ditunjukkan dengan “sticker” yang ditempelkan pada laporan operasi.

Rencana asuhan pascaoperasi dapat dimulai sebelum tindakan operasi berdasarkan asesmen
kebutuhan dan kondisi pasien serta jenis operasi yg dilakukan. Rencana asuhan pasca operasi
juga memuat kebutuhan pasien yang segera. Rencana asuhan dicacat di rekam medik pasien
dalam waktu 24 jam dan diverifikasi oleh dokter penanggung jawab pelayanan (DPJP) sebagai
pimpinan tim klinis untuk memastikan kontuinitas asuhan selama waktu pemulihan dan masa
rehabilitasi. Kebutuhan pascaoperasi dapat berubah sebagai hasil perbaikan klinis atau informasi
baru dari asesmen ulang rutin, atau dari perubahan kondisi pasien yang mendadak. Rencana
asuhan pascaoperasi direvisi berdasar atas perubahan ini dan dicatat di rekam medis pasien
sebagai rencana asuhan baru.
Banyak tindakan bedah di RS UNS menggunakan implan antara lain tindakan pemasangan
implant orthopedic, implant lensa mata, dll, oleh karena itu :

1. implant yang digunakan di RS UNS harus sesuai dengan peraturan perundangan, seperti
memiliki sertifikasi dari lembaga berwenang dan sudah mempunyai ijin edar alat
kesehatan;
2. modifikasi surgical safety checklist untuk memastikan ketersediaan implan di kamar
operasi dan pertimbangan khusus untuk penandaan lokasi operasi;
3. staff yang ikut serta dalam melakukan pemasangan implant harus memiliki kualifikasi
dan atau pelatihan untuk pemasangan implan (staf dari pabrik atau perusahaan implan
untuk mengkalibrasi);
4. proses pelaporan jika ada kejadian yang tidak diharapkan terkait implan;
5. proses pelaporan malfungsi implan sesuai dengan standar/aturan pabrik;
6. pertimbangan pengendalian infeksi yang khusus;
7. instruksi khusus kepada pasien setelah operasi;
8. kemampuan penelusuran (traceability) alat jika terjadi penarikan kembali (recall) alat
dengan melakukan antara lain menempelkan barcode alat di rekam medis.

Tindakan bedah merupakan tindakan yang berisiko tinggi dan rumit sehingga memerlukan ruang
operasi yang mendukung terlaksananya tindakan bedah untuk mengurangi risiko infeksi. Selain
itu, untuk mengurangi risiko infeksi :

 alur masuk barang-barang steril harus terpisah dari alur keluar barang dan pakaian kotor;
 koridor steril dipisahkan dan tidak boleh bersilangan alurnya dengan koridor kotor;
 desain tata ruang operasi harus memenuhi ketentuan zona berdasar atas tingkat sterilitas
ruangan yang terdiri atas :
o zona steril rendah;
o zona steril sedang;
o zona steril tinggi; dan
o zona steril sangat tinggi.

Selain itu, desain tata ruang operasi harus memperhatikan risiko keselamatan dan keamanan.
Pelayanan bedah merupakan tindakan berisiko, oleh karena itu perencanaan dan pelaksanaannya
membutuhkan tingkat kehati-hatian dan akurasi tinggi. Sehubungan dengan hal itu rumah sakit
menetapkan program mutu dan keselamatan pasien yang meliputi :

 pelaksanaan asesmen prabedah;


 penandaan lokasi operasi;
 pelaksanaan surgical safety check List
 pemantauan diskrepansi diagnosis pre dan posoperasi.