Anda di halaman 1dari 2

Mahasiswa Suka Lupa Etika Demonstrasi

Mahasiswa digolongkan sebagai kaum terpelajar yang mendapatkan pendidikannya di perguruan


tinggi. Tidak sekadar berpengetahuan luas di bidangnya, mahasiswa juga dituntut untuk menjadi insan
yang intelektual, kreatif, tegas, berani dan tanpa mengharapkan imbalan apalagi ditunggangi oleh
pihak tertentu.

Tidak heran jika mahasiswa di zaman orde baru menjadi garda terdepan dalam memerjuangkan
keadilan. Tak heran pula jika mahasiswa begitu ditakuti oleh para wakil rakyat di Senayan. Seperti
tergambar di beberapa media dokumentasi, pergerakan mahasiswa tersebut penuh dengan
anarkisme, penuh dengan gelora juang yang tinggi nan mencekam hingga berbuah jatuhnya Mantan
Presiden Soeharto dari singgasananya.

Aksi-aksi heroik mahasiswa ini begitu diapresiasi karena merupakan suara banyak orang. Terlebih bagi
masyarakat menengah ke bawah yang hidupnya sudah terseok-seok dengan berbagai tekanan.
Namun belakangan, sebagai seorang yang juga berstatus mahasiswa, saya tidak jarang mendengar
keluh kesah masyarakat yang tidak mendukung adanya demonstrasi mahasiswa. "Bikin macet saja,
Yang didemo to opo mas, Demo terus kuliahnya kapan," dan berbagai keluhan lain yang terlontar dari
berbagai kalangan, baik mahasiswa sendiri, maupun kerabat dan sanak saudara.

Demonstrasi mahasiswa baru-baru ini terjadi di Riau. Mahasiswa dari salah satu perguruan tinggi
melakukan aksi yang menuntut agar Presiden Republik Indonesia Joko Widodo mundur dari
jabatannya. Meroketnya nilai tukar dollar terhadap rupiah menjadi alasan utama atas segala
problematika yang terjadi. Mulai dari daya beli menurun, harga barang pokok mahal, kebijakan impor,
dan lain sebagainya.

Tak hanya sekadar berorasi, mahasiswa juga membakar ban bekas hingga membakar boneka pocong
yang ditempeli foto Presiden Jokowi sebagai bentuk protes. Tujuannya diklaim tidak jauh-jauh dari
usaha membela hak masyarakat kecil. Ungkapan pemerintah sebagai oposisi abadi pun menjadi hal
yang lumrah.

Kendati sudah melewati tiga jenjang pendidikan dasar dan menengah, mahasiswa ternyata masih bisa
lupa. Etika dalam menyampaikan pendapat dan gagasan rupanya masih tidak penting. Rentetan
kegiatan penyampaian aspirasi tidak jarang berujung anarkisme. Padahal, mahasiswa Indonesia
harusnya bisa belajar bagaimana menyelenggarakan demonstrasi tanpa harus menghina pemimpin
negara, merusak fasilitas atau bahkan menciderai orang lain.

Ada lagi demonstrasi terkait penolakan student loan yang terjadi beberapa waktu lalu. Di Surabaya,
isu ini menjadi panas seketika terjalinnya kerjasama perguruan tinggi negeri dengan salah satu bank
swasta. Oleh aliansi mahasiswa, kerjasama ini digadang-gadang sebagai student loan yang dimaksud.
Padahal, kerjasamanya merupakan pemberian beasiswa tanpa timbal balik. Sedangkan kredit
pendidikan ditujukan untuk mahasiswa master dan doktoral yang sudah memiliki penghasilan sendiri.

Berpikir kritis memang perlu di generasi seperti sekarang yang semuanya serba cepat berkat hadirnya
teknologi. Namun, pengisuan tanpa dibarengi riset dan solusi seperti tidak ada artinya. Keterbukaan
informasi seharusnya tidak menghambat mahasiswa dalam menyajikan berbagai data dan fakta
sebelum menyalahkan salah satu pihak. Tidak lupa, validitas informasi juga penting jika tidak ingin
dijerat oleh UU No.11 Tahun 2008 dan Undang-Undang No.40 Tahun 2008 tentang Penghapusan
Diskriminasi Ras dan Etnis tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta tindakan ketika ujaran
kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial.
Tidak kalah penting menyoal etika saat melakukan demonstrasi. Meskipun alur penyampaian aspirasi
sudah begitu mudah, bukan berarti mahasiswa harus kembali lupa akan bagaimana memilih kata-kata
yang pantas dilontarkan. Alih-alih mendoakan Indonesia agar lebih baik, beberapa oknum mahasiswa
malah menakut-nakuti masyarakat dengan Indonesia yang terancam bubar jika presiden tidak
dimakzulkan.

Melirik ke Korea Selatan, demonstrasi sebagai usaha memakzulkan mantan presiden perempuan
pertama di Korea Selatan Park Geun-hye berjalan damai. Semua elemen tanpa pandang usia
berkumpul membawa lilin sebagai bentuk protes. Tentu tiap negara punya cara khas dalam
menyampaikan bentuk protes, tapi bukankah demonstrasi yang anarkis dan provokatif tidak
menyumbang manfaat bagi semua pihak?