Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH ADMINISTRASI SUMBER

DAYA MANUSIA
“Pemutusan Hubungan Karyawan”

Disusun Oleh :

Achmady Ilham Fayruzy (1432610101)


Dhea Adhitya Daniswara (1432610131)
Khilma Alfiana (1432610115)
Retno Daryanti (1432610013)

Kelas 2A APK
Jurusan Administrasi Niaga
Program Studi Administrasi Bisnis

POLITEKNIK NEGERI MALANG


Jalan Soekarno Hatta No. 9 Malang
Tahun Ajaran 2016
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Sering kita mendengar mengenai karyawan, karyawan adalah anggota dari sebuah
organisasi perusahaan/lembaga yang bekerja dalam mencapai tujuan tertentu. Ada yang
bekerja di lembaga pemerintahan dan ada pula yang di lembaga swasta.Bagi mereka yang
bekerja di lembaga pemerintahan bisa disebut sebagai Pegawai Negri Sipil (PNS), yaitu
mereka yang bekerja untuk negara, di gaji oleh negara dan diatur pula oleh aturan
pemerintah.Karyawan swasta yaitu mereka yang berkerja pada suatu badan usaha atau
dan diberikan imbalan kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku
baik yang bersifat harian, mingguan, maupun bulanan.
Dalam mencapai tujuannya perusahaan sangat di pengaruhi oleh karyawan. Dalam proses
tersebut ada beberapa hal yang harus di perhatikan salah satunya adalah Pemutusan
hubungan kerja (PHK). Di Indonesia sendiri pemutusan hubungan kerja di atur dalam
undang – undang ketenagakerjaan yaitu dalam UU RI No.13 Tahun 2003.
Pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan salah satu permasalahan ketenaga
kerjaan yang harus dihindari oleh siapapun baik oleh pekerja, pengusaha maupun
pemerintah.Akan tetapi dalam kenyataannya sangat sering terjadi PHK yang dilakukan
seenaknya, bahkan dijadikan salah satu alasan untuk menakut nakuti pekerja yang
berupaya memperjuangkan hakya.
Secara yuridis, hubungan kerja antara buruh (pegawai) dengan majikan (pemimpin
perusahaan) terjadi setelah ada perjanjian kerja antara kedua pihak yang
bersangkutan.Perjanjian kerja merupakan perjanjian kerja yang diadakan oleh buruh
(pegawai) dengan majkan (pemimpin perusahaan) di mana pihak pertama menyatakan
kesanggupannya untuk berkerja pada pihak pertama kesanggupannya untuk berkerja pada
pihak kedua dengan menerima upah atau gaji dan dimana pihak kedua menyatakan
kesanggupannya untuk memperkerjakan pihak pertama dengan membayar upah.
Selama perjanjian kerja mengikat kedua belah pihak, selama itu pula hubungan kerja
tetap ada, namun pemutusan hubungan kerja (pemberhentian) dapat terjadi, walaupun
perjanjian kerja masih mengikat kedua belah pihak. Pemutusan hubungan kerja dengan
singkat sering disebut “pemberhentian” , sering tak dapat dielakan dan ini disebabkan
oleh keinginan majikan atau pimpinan perusahaan (keinginan perusahaan), dapat pula
karena keinginan buruh (pegawai).
1.2 Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Apa definisi dari PHK ?
2. Apa fungsi dan tujuan dari PHK ?
3. Apasaja jenis – jenis dari PHK ?
4. Apasaja alasan – alasan diadakannya PHK ?
5. Bagaimana proses PHK?
6. Apa konsekuensi dengan adanya PHK?
7. Bagaimana undang-undang PHK?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1. Mengetahui pengertian dari Pemutusan Hubungan Kerja ( PHK )
2. Mengetahui fungsi dan tujuan Pemutusan Hubungan Kerja ( PHK )
3. Mengetahui jenis – jenis dari Pemutusan Hubungan Kerja ( PHK)
4. Mengetahui alasan – alasan dari diadakannya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
5. Mengetahui proses dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
6. Mengetahui konsekuensi dengan adanya kegiatan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
7. Mengetahui undang-undang dari Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
BAB II
PEMUTUSAN HUBUNGAN KARYAWAN

2.1 Pengertian Pemberhentian


Pemberhentian adalah fungsi operatif terakhir manajemen sumber daya manusia.
Istilah pemberhentian sinonim dengan separation, pemisahan atau pemutusan hubungan
kerja (PHK) karyawan dari suatu organisasi perusahaan. Fungsi pemberhentian harus
mendapat perjatian yang serius dari manajer perusahaan, karena telah diatur dalam oleh
Undang-Undang dan memberikan risiko bagi perusahaan maupun untuk karyawan itu
sendiri. Pemberhentian harus sesuai dengan Undang-Undang No. 12 Tahun 1964 KUHP
dan seizing P4D atau P4P atau dengan Keputusan Pengadilan. Pemberhentian juga harus
memperhatikan pasal 1603 ayat 1 KUHP yaitu “Tenggang waktu saat dan izin
pemberhentian “. Perusahaan yang melakukan pemberhentian akan mengalami kerugian
karena karyawan yang dilepas membawa biaya penarikan, seleksi, pengembangan dan
proses produksi.
Menurut Undang-undang No. 13 Tahun 2003 mengartikan bahwa Pemberhentian atau
Pemutusan hubungan kerja adalah pengakhiran hubungan kerja karena suatu hal tertentu
yang mengakibatkan berakhirnya hak dan kewajiban antar pekerja dan pengusaha.
Sedangkan menurut Moekijat mengartikan bahwa Pemberhentian adalah pemutusan
hubungan kerjas seseorang karyawan dengan suatu organisasi perusahaan.
Pemutusan hubungan kerja merupakan fungsi terakhir manajer sumberdaya manusia
yang dapat didefinisikan sebagai pengakhiran hubungan kerja antara pekerja dan
pengusaha yang dapat disebabkan oleh berbagai macam alas an, sehingga berakhir pula
hak dan kewajiban di antara mereka (Mutiara Sibarani Panggabean, Manajemen Sumber
Daya Manusia, 2004).

2.2 Fungsi Dan Tujuan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)


Fungsi Pemutusan Hubungan Kerja dilakukan adalah sebagaio berikut:
1. Mengurangi biaya tenaga kerja
2. Menggantikan kinerja yang buruk. Bagian integral dari manajemen adalah
mengidentifikasi kinerja yang buruk dan membantu meningkatkan kinerjanya.
3. Meningkatkan inovasi. PHK meningkatkan kesempatan untuk memperoleh
keuntungan , yaitu :
a. Pemberian penghargaan melalui promosi atas kinerja individual yang tinggi.
b. Menciptakan kesempatan untuk level posisi yang baru masuk
c. Tenaga kerja dipromosikan untuk mengisi lowongan kerja sebgai sumber daya
yang dapat memberikan inovasi/menawarkan pandangan baru.
d. Kesempatan untuk perbedaan yang lebih besar. Meningkatkan kesempatan untuk
mempekerjakan karyawan dari latar belakang yang berbeda-beda dan
mendistribusikan ulang komposisi budaya dan jenis kelamin tenaga kerja.

Tujuan Pemutusan Hubungan Kerja memiliki kaitan yang erat dengan alasan
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), namun tujuan lebih menitikberatkan pada jalannya
perusahaan (pihak pengusaha). Maka tujuan PHK diantaranya:
1. Perusahaan/pengusaha bertanggung jawab terhadap jalannya perusahaan dengan baik
dan efektif salah satunya dengan PHK.
2. Pengurangan buruh dapat diakibatkan karena faktor dari luar seperti kesulitan
penjualan dan mendapatkan kredit, tidak adanya pesanan, tidak adanya bahan baku
produktif, menurunnya permintaan, kekurangan bahan bakar atau listrik,
kebijaksanaan pemerintah dan meningkatnya persaingan.
Tujuan lain pemberhentian yakni agar dapat mencapai sasaran seperti yang
diharapkan dan tidak menimbulkan masalah baru dengan memperhatikan tiga faktor
penting, yaitu faktor kontradiktif, faktor kebutuhan, dan faktor sosial.

2.3 Jenis – Jenis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)


Menurut Mangkuprawira Pemutusan Hubungan kerja (PHK) ada 2 Jenis, yaitu
pemutusan hubungan kerja sementara dan pemutusan hubungan kerja permanen.
1. Pemutusan Hubungan Kerja Sementara, yaitu sementara tidak bekerja dan
pemberhentian sementara.
2. Sementara tidak bekerja

Menurut Sedarmayanti Jenis Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) ada 2 jenis,


yaitu :
1. Permberhentian Sementara biasanya terjadi pada karyawan tidak tetap yang hubungan
kerjanya bersifat tidak tetap, perusahaan yang bergerak pada produk musiman,
Karyawan yang dikenakan tahanan sementara oleh yang berwajibkarena
disangkatelah berbuat tindak pidana kejahatan.
2. Pemberhentian Permanen sering disebut pemberhentian, yaitu terputusnya ikatan
kerja antara karyawan dengan perusahaan tempat bekerja.
Menurut Mutiara S. Panggabean Jenis Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ada 4
Jenis, diantaranya :
1. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atas kehendak sendiri (Voluntary turnover) hal ini
terjadi jika karyawan yang memutuskan untuk berhenti dengan alasan pribadi.
2. Pemberhentian Karyawan karena habis masa kontrak atau karena tidak dibutuhkan
lagi oleh organisasi (Lay Off).
3. Pemberhentian karena sudah mencapai umur pensiun (Retirement). Saat berhenti
biasanya antara usia 60 sampai 65 tahun.
4. Pemutusan hubungan kerja yang dilakukan atas kehendak pengusaha. Dalam hal ini
pengusaha mmutuskan hubungan kerja dengan pekerja mungkin disebabkan adanya
pengurangan aktivitas atau kelalian pegawai atau pelanggaran disiplin yang dilakukan
pekerja.

2.4 Alasan Pemberhentian Kerja


Menurut Melayu SP. Hasibuan menyebutkan beberapa alasan karyawan diberhentikan
dari perusahaan adalah sebagai berikut:
1. Undang-udang
Undang-undang dapat menyebabkan seorang karyawan harus diberhentikan
dari suatu perusahaan, antara lain anak-anak karyawan WNA, karyawan yang terlibat
organisasi terlarang.

2. Keinginan perusahaan
Keinginan perusahaan dapat menyebabkan diberhentkannya seorang karyawan
baik terhormat ataupun dipecat.Pemberhentian semacam ini telah diatur oleh undang
undang No.12 tahun 1964, sizin P4D, P4P serta tergantung status kepegawaian
karyawan bersangkutan.

Keinginan perusahaan memberhentikan karyawan ini disebabkan:


a. Karyawan tidak mampu mengerjakan pekerjaannya
b. Perilaku dan kedisiplinannya kurang baik
c. Melanggar peraturan dan tata tertib perusahaan
d. Tidak dapat bekerja sama dan konflik dengan karyawan lainnya
e. Melakukan tindakan amoral dalam perusahaanan

Konsekuensi-konsekuensi pemberhentian berdasarkan keinginan perusahaan adalah


sebagai berikut:
a. Karyawan dengan status masa percobaan diberhentikan tanpa memberikan uang
pesangon
b. Karyawan dengan status kontrak diberhentikan tanpa memberikan uang pesangon
c. Karyawan dengan status tetap, jika diberhentikan harus diberikan uang pesangon
yang besarnya adalah sebagai berikut:
1) Masa kerja sampai 1 tahun = 1 bulan upah bruto
2) Masa kerja 1 sampai 2 tahun = 2 bulan upah bruto
3) Masa kerja 2 sampai 3 tahun = 3 bulan upah bruto
4) Masa kerja 3 tahun dan seterusnya = 4 bulan upah bruto
Pemberhentiann karyawan berdasarkan atas keinginan perusahaan dilakukan dengan
tingkatan-tingkatan sebagai berikut:
a. Perundingan antara karyawan dengan pimpinan perusahaan
b. Perundingan antara pimpinan serikat buruh dengan pimpinan perusahaan
c. Perundingan P4D dengan pimpinan perusahaan
d. Perundingan P4P dengan pimpinan perusahaan
e. Keputusan pengadilan negeri

Jelasnya, pemecatan karyawan tidak dapat dilakukan secara sewenang-wenang oleh


pimpinan. Setiap pemecatan harus berdasarkan atas Undang-Undang perburuhan
yang berlaku karena karyawan mendapat perlindungan hokum.

3. Keinginan Karyawan
Pemberhentian atas keinginan karyawan sendiri dengan mengajukan
permohonan untuk berhenti dari perusahaan tersebut. Permohonan ini hendaknya
disertai alasan alasan dan saat akan berhentinya, misalnya bulan depan.
Hal ini perlu agar perusahaan dapat mencari penggatinnya supaya kegiatan
perusahaan jangan sampai berhenti. Alasan-alasan pengunduran ini antara lain adalah:
a. Pindah ke tempat lain untuk mengurus orang tua
b. Kesehatan yang kurang baik
c. Untuk melanjutkan pendidikan
d. Untuk bewirausaha
e. Bebas jasa terlalu rendah
f. Mendapat pekerjaan yang lebih baik
g. Suasana dan lingkungan pekerjaan yang kurang serius
h. Kesempatan promosi yang tidak ada
i. Perlakukan yang kurang adil

Pemberhentian atas keinginan karyawan sendiri, tetap menimbulkan kerugian


bagi perusahaan, karena karyawan itu membawa biaya-biaya penarikan, seleksi dan
latihannya. Sedangkan pengadaan karyawan baru akan membutuhkan biaya-biaya
penarikan seleksi dan pengembangannnya.
4. Pensiun
Pensiun adalah pemberhentian karyawan atas keinginan perusahaan, undang-
undang ataupun keinginan karyawan sendiri. Keinginan perusahaan mempensiunkan
karyawan, karena produktivitas kerjanya rendah sebagai akibat usia lanjut, cacat fisik
karena kecelakaan dalam melaksanakan pekerjaan dan lain sebagainya.
Undang-undang mempensiunkan seseorang karena telah mencapai batas usia
dan masa kerja tertentu. Usia kerja seseorang karyawan untuk setatus kepegawaian
adalah 55 tahun atau seseorang dapat dikenakan pensiun dini, apabila menurut
keterangan dokter, karyawan tersebut sudah tidak mampu lagi untuk bekerja dan
umurnya sudah mencapai 50 tahun dengan masa pengalaman kerja minimal 15 tahun.
Karyawan yang pensiun akan memperoleh uang pensiun yang besarnya telah
diatur oleh undang – undang bagi pegawai negeri, dan bagi karyawan swasta diatur
sendiri oleh perusahaan yang bersangkutan.
Pembayaran uang pensiun bagi pegawai negeri dibayar secara periodic, sedang
bagi karyawan swasta biasanya dibayar berupa uang pesangon pada saat ia
diberhentikan. Pembayaran uang pensiun adalah pengakuan, penghargaan atas
pengabdian seseorang kepada organisasi dan memberikan sumber kehidupan pada
masa usia lanjutnya. Adanya uang pensiun akan memberikan ketenangan bagi
karyawan, sehingga trun over karyawan relative rendah.
Adapun persyaratan Pengurusan Pensiun
1. DPCP
2. Foto kopi SK CPNS dilegalisir
3. Foto kopi SK pangkat terakhir dilegalisir
4. Foto kopi SK jabatan terakhir
5. Pas Foto 4 x 6 (5 lembar)
6. Foto kopi surat nikah dilegalisir
7. Foto kopi akte kelahiran anak di legalisir
8. Foto kopi KARPEG
9. DP3 tahun terakhir rata-rata bernilai baik
10. Surat pernyataan tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang dan berat

5. Kontrak Kerja Berakhir


Beberapa perusahaan sekarang ini banyak mengadakan perjanjian kerja
dengan karyawanya di dalam sutau kontrak dimana di dalamnya, disebutkan masa
waktu kerja atau masa kontraknya. Dan ini alasan juga tidak dilakukan pemutusan
hubungan kerja apabila kontrak kerja tersebut di perpanjang.
Karyawan kontrak akan dilepas atau diberhentikan, apabila kontak kerjanya
berakhir. Pemberhentian berdasarkan berakhirnya kontrak kerja tidak menimbulkan
konsekuensi, karena telah terlebih dahulu diatur dalam perjanjian saat mereka
diterima.

6. Kesehatan karyawan
Kesehatan karyawan dapat menjadi alasan untuk memberhentikan karyawn.
Inisiatif pemberhentian ini bisa berdasarkan keinginan perusahaan ataupun keinginan
karyawan. Karyawan sakit-sakitan besarnya gaji yang dibayarkan perusahaan diatur
berdasarkan P4/M/56/4699, P4/M/57/6542 dan P4/M/57/6150

7. Meninggal dunia
Karyawan yang meninggal dunia secara otomatis putus hubungan kerjannya
dengan perusahaan. Perusahaan memberikan pesangon atau uang pensiun bagi
keluarga yang ditinggalkan sesuai peraturan yang ada.
Karyawan yang tewas atau meninggal dunia saat melaksanakan tugas,
pesangonnya atau golongannya diatur tersendiri oleh undang –undang. Misalnya
pesangonnya lebih besar dan golongan nya dinaikan sehingga uang pesiunnya lebih
besar.
8. Perusahaan dilikudasi
Dalam hal perusahaan dilikuidasi masalah pemberhentian karyawan diatur
dengan peraturan perusahaan, perjanjian bersama dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Untuk menentukan apakah benar atau tidak perusahaan dilikuidasi atau
dinyatakan bangkrut harus didasarkan kepada peraturan perundang-undangan

2.5 Proses Pemberhentian


Dalam pemberhentian karyawan, apakah yang sifatnya kehendak perusahaan,
kehendak karyawan maupun karena undang-undang harus betul-betul didasarkan kepada
peraturan, jangan sampai pemberhentian karyawan tersebut menibulkan suatu konflik
suatu konflik atau yang mengarah kepada kerugian kepada dua belah pihak, baik
perusahaan maupun karyawan.
Adapun beberapa cara yang dilakukan dalam proses pemberhentian karyawan:
1. Bila kehendak perusahaan dengan berbagai alasan untuk memberhentikan dari
pekerjaannya perlu ditempuh terlebih dahulu
a. Adakan musyawarah antara karyawan dengan perusahaan
b.Bila musyawarah menemui jalan buntu maka jalan terakhir adalah melalui
pengadilan atau instansi yang berwenang memutuskan perkara
2. Bagi karyawan yang melakukan pelanggaran berat dapat langsung diserahkan
kepada pihak kepolisian untuk diproses lebih lanjut tanpa meminta ijin terlebih
dahulu kepada Dinas terkait atau berwenang
3. Bagi karyawan yang akan pensiun, dapat diajukan sesuai dengan peraturan.
Demikian pula terhadap karyawan yang akan mengundurkan diri atau atas kehendak
karyawan diatur atas sesui dengan paraturan perusahaan dan peraturan perundang-
undangan
2.6 Konsekuensi Pemutusan Hubungan Kerja
Biaya yang dapat dikategorikan sebagai kerugian dari PHK, menurut Balkin, Meija,
dan Cardy (1995:231) terdiri atas hal-hal berikut :
1. Biaya recruitment, meliputi :
a. Mengiklankan lowongan pekerjaan
b. Menggunakan karyawan recruitment yang profesional untuk mencari di berbagai
lokasi (termasuk di kampus-kampus) sehingga banyak yang melamar untuk
bekerja. Untuk mengisi jabatan yang eksekutif yang tinggi secara teknologi
diperlukan perusahaan pencari yang umumnya mengenakan biaya jasa yang
cukup tinggi yaitu sekitar 30% dari gaji tahunan karyawan
2. Biaya seleksi, meliputi :
a. Biaya interview dengan pelamar pekerjaan
b. Biaya testing / psikotes
c. Biaya untuk memeriksa ulang referensi
d. Biaya penempatan
3. Biaya pelatihan, meliputi :
a. Orientasi terhadap nilai dan budaya perusahaan
b. Biaya training secara langsung, seperti instruksi, diktat, material untuk kursus
training
c. Waktu untuk memberikan training
d. Kehilangan produktivitas pada saat training
4. Biaya pemutusan hubungan kerja, meliputi :
a. Pembayaran untuk PHK/pesangon untuk karyawan yang diberhentikan sementara
tanpa kesalahan dari pihak karyawan itu sendiri
b. Karyawan tetap menerima tunjangan kesehatan sampai mendapatkan pekerjaan
baru (tergantung kebijaksanaan perusahaan)
c. Biaya asuransi bagi karyawan yang di PHK, namun belum bekerja lagi
(tergantung dari kebijakan perusahaan)
d. Wawancara pemberhentian, merupakan wawancara terakhir yang harus dilalui
karyawan dalam proses PHK, tujuannya untuk mencari alasan mengapa tenaga
kerja meninggalkan perusahaan (jika PHK dilakukan secara sukarela) atau
menyediakan bimbingan atau bantuan untuk menemukan pekerjaan baru.
Bantuan penempatan merupakan program di mana perusahaan membantu
karyawan mendapatkan pekerjaan baru lebih cepat dengan memberikan training
(keahlian) pekerjaan. Posisi yang kosong akan mengurangi keluaran atau kualitas
jasa klien perusahaan atau pelanggan.

2.7 Undang – Undang Pemberhentian

Sebab Akibat dan Dasar Hukum


Pemberhentian Pegawai

Sebab-Sebab Alasan – Alasan Dasar Hukum Keterangan


Pemberhentian
I. Keinginan 1. Tidak cakap dalam Pasal 1603 1 KUHP Tidak diberi
Perusahaan masa percobaan pesangon/uang jasa
2. Alasan mendesak Pasal 1603 0 KUHP Idem
3. Pegawai ditahan oleh a.) P4/M/57/6388 = Idem
Negara mendesak
b.) P4/M/57/6083 = Diberi uang
tidak mendesak pesangon & uang
jasa
4. Pegawai ditahan oleh P4/M/56/4599 Selama dalam
Negara tahanan diberi
tunjangan
5. Buruh dihukum oleh P4/M/57/6231 Bila bersifat
hakim mendesak tidak
diberi apa-apa; bila
tidak diberi
6. Buruh sakit-sakitan P4/M/56/4699 Sakit bulan 1 =
P4/M/57/6542 100% gaji
P4/M/57/6150 Bulan 2 =
75% gaji
Bulan 3 =
50% gaji
Bulan 4 =
25% gaji
Bulan-bulan
selanjutnya,
kebijaksanaan
perusahaan
7. Buruh berusia lanjut Peraturan pensiun
perusahaan --------------
8. Penutupan badan
usaha/pengurangan ---------------- ---------------
tenaga kerja
II. Keinginan 1. Tidak cakap dalam Pasal 1603 1 KUHP Tidak diberi apa –
pegawai masa percobaan apa
2. Alasan – alasan Pasal 1603 p ------------
mendesak
3. Menolak bekerja pada ------------- -------------
majikan baru
III. Sebab-sebab 1. Pegawai meninggal a) Pasal 1603 j a) Di luar
lain dunia KUHP hubungan kerja;
diberi uang duka
pada pegawai
tetap
b) UU Kecelakaan b) Dalam hubungan
kerja ahli waris
dapat tunjangan
2. Berakhir masa Pasal 1603 1. Tidak diberi apa-
hubungan kerja KUHAP apa

Dokumen-Dokumen Yang Dibutuhkan Dalam Pemutusan Hubungan Kerja


1. Undang-Undang
2. Surat Pemutusan Hubungan Kerja dari Perusahaan
3. Surat Pengunduran diri
4. Surat Kontrak Kerja
5. Surat Pensiun
Adapun persyaratan Pengurusan Pensiun
a. DPCP
b. Foto kopi SK CPNS dilegalisir
c. Foto kopi SK pangkat terakhir dilegalisir
d. Foto kopi SK jabatan terakhir
e. Pas Foto 4 x 6 (5 lembar)
f. Foto kopi surat nikah dilegalisir
g. Foto kopi akte kelahiran anak di legalisir
h. Foto kopi KARPEG
i. DP3 tahun terakhir rata-rata bernilai baik
j. Surat pernyataan tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang dan berat
6. Surat Kesehatan
7. Surat Keterangan meninggal dunia
8. Surat perusahaan dilikuidasi
1. Undang-Undang
2. Surat Keputusan Pemberhentian Kerja (PHK)
3. Surat Pengunduran Diri
4. Surat Kontrak Kerja/Perjanjian Kerja
5. Surat Permohonan Pensiun
DPCP
SK CPNS
SK Pangkat Terakhir dan Jabatan Terakhir
Surat Nikah

KARPEG (Kartu Pegawai)


Akta Kelahiran Anak
DP 3
Surat Pernyataan Tidak Pernah Dijatuhi hukuman Disiplin
6. Surat Keterangan Kesehatan
7. Surat Keterangan Meninggal
8. Perusahaan Dilikuidasi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Pemutusan Hubungan kerja
(PHK) yang juga dapat disebut dengan Pemberhentian, Separation atau Pemisahan
memiliki pengertian sebagai sebuah pengakhiran hubungan kerja dengan alasan tertentu
yang mengakibatkan berakhir hak dan kewajiban pekerja dan perusahaan. Selain itu,
pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan dinamika dalam sebuah organisasi
perusahaan. Dan jika pandangan mengenai PHK itu negative maka itu kurang tepat karna
PHK merupakan proses yang akan dialami semua karyawan misalnya dengan pensiun
atau kematian. Maka dari itu pemutusan hubungan kerja dibagi kedalam dua bagian yaitu
1. Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) Sementara.
PHK sementara dapat disebabkan karena keinginan sendiri ataupun karena
perusahaan dengan tujuan yang jelas.
2. Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) Permanen.
PHK permanen dapat disebabkan 4 hal, yaitu :
a. Keinginan sendiri
b. Kontrak yang Habis
c. Pensiun

3.2 Saran
Adapun saran yang dapat kami sampaikan dalam makalah ini, hendaknya dalam
pemutusan hubungan kerja harus sesuai dengan undang undang yang berlaku agar tidak
ada perselisihan dan tidak ada pihak yang merasa di rugikan.
DAFTAR PUSTAKA

Purwadi SH, 2009, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),


http://advokatpurwadi.blogspot.co.id/2009/03/pemutusan-hubungan-kerja-phk.html. Diakses
pada tanggal 18 April 2016, 15.30 WIB
M. Manullang, Marihot AMH Manullang, 2004, Manajemen Personalia
Ardana, I Komang. (dkk 2012). Manajemen Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Hasibuan, Malayu S.P. (2005). Manajemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi. Jakarta:
Bumi Aksara.