Anda di halaman 1dari 5

RESUME DILEMA ETIK DALAM KEPERAWATAN PALIATIF CARE

OLEH :

RISDAWATI

70300116059

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2018/2019
A. Pengertian etik dakam keperawatan paliatif

Perawatan paliatif adalah kesehatan terpadu yang aktif dan menyeluruh,


dengan pendekatan multidisiplin yang teritegrasi. Tujuannya untuk mengurangi
penderitaan pasien, memperpanjang umurnya, meningkatkan kualitas hidupnya,
juga memberikan support kepada keluarganya. Meski pada akhirnya pasien
meninggal, sebelum meninggal sudah siap secara psikologis dan spiritual. (WHO,
2009).

Etik adalah kesepakatan tentang praktik moral, keyakinan, system nilai,


standar perilaku individu dan atau kelompok tentang penilaian terhadap apa yang
benar dan apa yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk, apa yang
merupakan kejahatan, apa yang dikehendaki dan apa yang ditolak. Etika
keperawatan adalah kesepakatan/peraturan tentang penerapan nilai moral dan
keputusan-keputusan yang ditetapkan untuk profesi keperawatan. (Achadiat,
Chritiono M, 2007).

B. Dasar hukum keperawatan paliatif


Dasar hukum keperawatan paliatif yaitu :
1. Aspek medikolegal dalam perawatan paliatif (Kep. Menkes No :
812/Menkes/SK/VII/2007)
a) Persetujuan tindakan medis/informed consent untuk pasien paliatif. Pasien
harus memahami pengertian, tujuan dan pelaksanaan perawatan paliatif.
b) Resusitasi/tidak resisutasi pada pasien paliatif. Keputusan dilakukan atau
tidak dilakukan tindakan resusitasi dapat dibuat oleh pasien yang
kompeten atau oleh tim perawatan paliatif. Informasi tentang hal ini
sebaiknya telah diinformasikan pada saat pasien memasuki atau memulai
perawatan paliatif.
c) Perawatan pasien paliatif di ICU pada dasarnya perawatan paliatif pasien
di ICU mengikuti ketentuan umum yang berlaku.
d) Masalah medikolegal lainnya pada perawatan pasien paliatif. Tindakan
yang bersifat kedokteran harus dikerjakan oleh tenaga medis, tetapi
dengan pertimbangan yang mempertimbangkan keselamatan pasien
tindakan-tindakan tertentu dapat didelegasikan kepada tenaga kesehatan
yang terlatih.
2. Medikolegal euthanasia
Euthanasia adalah dengan sengaja tidak melakukan sesuatu untuk
memperpanjang hidup seseorang pasien atau sengaja melakukan sesuatu
untuk, memperpendek hidup atau mengakhiri hidup seorang pasien, dan ini
dilakukan untuk kepentingan pasien sendiri. (Mendri, Ni Ketut, 2009).
C. Prinsip dasar perawatan paliatif care
1. Sikap peduli terhadap pasien
2. Menganggap pasien sebagai seorang individu
3. Pertimbangan kebudayaan
4. Persetujuan
5. Memilih tempat dilakukannya perawatan
6. Komunikasi
7. Aspek klinis : perawatan yang sesuai
8. Perawatan komprehensif dan terkoordinasi dari berbagai bidang profesi
9. Kualitas perawatan yang baik
10. Perawatan yang berkelanjutan
11. Mencegah terjadinya kegawatan
12. Bantuan kepada sang perawat
13. Pemeriksaan ulang (Rasjidi, 2010)
D. Prinsip etik dalam perawatan paliatif care
1. Autonomy (otonomi)
2. Non maleficienci (tidak merugikan)
3. Veracity (kejujuran)
4. Beneficienec (berbuat baik)
5. Justice (keadilan)
6. Kerahasiaan (Confidentiality)
7. Akuntabilitas (accountability)
E. Etika dalam isu perawatan paliatif

Sifat perawatan paliatif berfokus pada perdebatan tentang masalah etika pada
kematian. keadaan pada akhir hidup dapat mengakibatkan dilemma etika yang
lebih rumit oleh isu-isu tentang kompetensi orang yang akan meninggal, hak
mereka untuk menolak atau menerima perawatan dalam mempertahankan
integritas pribadi mereka atas kematian mereka sendiri. Tantangan yang dihadapi
oleh para perawat profesional kesehatan dalam perawatan paliatif sering berfokus
pada isu-isu etika tertentu pada akhir kehidupan, seperti keputusan berkaitan
dengan kelanjutan pemberian hidrasi buatan, obat-obatan tertentu dan pemberian
makanan buatan. Etika dapat memberikan dasar untuk menentukan apakah
keputusan yang dibuat tentang perawatan, prngobatan dapat diperbolehkan secara
etis.

1. Pasien menghadapi kondisi penyakit tidak dapat disembuhkan, terapi yang


diberikan bukan kuratif tapi simptomatis atau paliatif
2. Pasien cenderung lemah fisik maupun mental, pasien tidak mampu
menghadapi stress fisik dan mental yang timbul dari luar atau lingkungan
sendiri.
3. Pasien di ambang kematian yang akan menimbulkan ketakutan dan
kegelisahan, perlu mendapat simpati, dukungan mental dan spiritual.
(Achadiat, christiono M,2007)
F. Contoh kasus dilemma etik

Suatu hari Tn. A dibawa oleh keluarganya ke salah satu Rumah Sakit di kota
Surakarta dengan gejala demam dan diare kurang lebih selama enam hari. Selain
itu, Tn. A menderita sariawan sudah 3 bulan tidak sembuh-sembuh, dan berat
badannya turun secara berangsur-angsur. Semula TN. A badannya gemuk tapi 3
bulan terakhir ini badannya kurus dan telah turun 10 kg dari berat badan semula.
Tn. A ini merupakan seorang sopir truk yang sering pergi eluar kota karena
tuntutan kerjaaan bahkan jarang pulang, kadang-kadang 2 minggu sekali bahkan
sebulan sekali.

Tn. A masuk UGD kemudian dari dokter untuk diopname di ruang penyakit
dalam karena kondisi TN. A yang sudah sangat lemas. Keesokan harinya dokter
yang menangani Tn. A melakukan visit kepada Tn, A, dan memberikan advice
kepada perawatnya untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan
mengambil sampel darahnya. Tn. A yang ingin sekali tahu tentang penyakitnya
meminta perawat tersebut untuk segera memberi tahu penyakitnya setelah
didapatkan hasil pemeriksaan. Sore harinya pukul 16.00 WIB hasil pemeriksaan
telah diterima oleh perawat tersebut dan telah dibaca oleh dokternya. Hasilnya
mengatakan bahwa Tn. A positif terjangkit penyakit HIV/AIDS. Kemudian
perawat tersebut memanggil keluarga Tn. A untuk menghadap dokter yang
menangani Tn. A bersma dokter dan seijin dokter tersebut, perawat menjelaskan
tentang kondisi pasien dan penyakitnya. Keluarga terlihat kaget dan bingung.
Keluarga meminta kepada dokter terutama perawat untuk tidak memberitahukan
penyakitnya ini kepada Tn. A krluarga takut Tn. A akan frustasi, tidak mau
menerima kondisinya dan dikucilkan dari masyarakat.

Perawat tersebut mengalami dilemma etik dimana satu sisi dia harus
memenuhi permintaan keluarga namun di sisi lain perawat tersebut harus
memberitahukan kondisi yang dialami oleh Tn. A karena itu merupakan hak
pasien untuk mendapatkan informasi.

Kasus di atas menjadi suatu dilemma etik bagi perawat dimana dilemma etik
itu didefinisikan sebagai suatu masalah yang melibatkan dua (atau lebih) landasan
moral suatu tindakan tetapi tidak dapat dilakukan keduanya.