Anda di halaman 1dari 215

ISBN 978-602-410-100-8

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Teknologi Untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal

Proyeksi 2035

Edisi 2017

BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

www.bppt.go.id

Untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal Proyeksi 2035 Edisi 2017 BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Teknologi Untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal Proyeksi 2035

Edisi 2017

ISBN 978-602-410-100-8

Diterbitkan oleh

2035 Edisi 2017 ISBN 978-602-410-100-8 Diterbitkan oleh BPPT PRESS Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT)

BPPT PRESS

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Anggota IKAPI (No. 467/DKI/III/2014)

Alamat

: Jl. MH Thamrin No. 8, Jakarta Pusat, 13340 Telp.021-3169091, 021-31696067; Fax. 021-3101802 e-mail: bpptpress@bppt.go.id

© Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang

Dilarang memperbanyak isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya dalam bentuk apapun tanpa ijin tertulis dari Penerbit

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1997 Pasal 44 Tentang Hak Cipta

(1) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak mengumumkan atau memperbanyak suatu ciptaan atau memberi izin untuk iru, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkaitsebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus
OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

KATA PENGANTAR

Mengawali kata pengantar dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya sehingga Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal ini telah selesai disusun dengan baik.

Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal disusun dalam rangka memberikan informasi, potret dan proyeksi kebutuhan teknologi untuk mendukung pengembangan dan penguatan industri obat herbal nasional dengan merujuk pada data-data dari para narasumber, referensi pustaka dan publikasi lainnya. Buku ini mengulas kajian dan pemetaan potensi bahan baku obat herbal dan pengembangan produk serta pasar obat herbal disertai dengan analisis dan proyeksinya. Kebutuhan akan inovasi teknologi untuk mewujudkan kemandirian dan daya saing industri obat herbal dimulai dari budidaya tanaman obat, pascapanen dan produksi simplisia tanaman obat sampai dengan produksi ekstrak, formulasi dan pengujian produk herbal secara pra klinik dan klinik.

Selain informasi dan proyeksi kebutuhan teknologi, Buku Outlook ini juga memberikan usulan rekomendasi tentang pengembangan teknologi yang dapat mendorong pemanfaatan potensi sumber daya tanaman obat melalui budidaya yang baik, produksi simplisia dan ekstrak yang terstandardisasi serta formulasi dan pengujian produk herbal yang mengacu kepada regulasi dan standar yang berlaku. Oleh karena itu, buku ini diharapkan menjadi salah satu rujukan bagi institusi dan industri dalam pengembangan bahan baku dan produk herbal nasional.

Penghargaan dan terima kasih yang tulus disampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan masukan dan kontribusi dalam penyusunan Buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal. Semoga Buku Outlook ini dapat memberikan manfaat pada inovasi teknologi untuk

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

i
i

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

pengembangan bahan baku dan produk herbal guna memperkuat industri bahan baku dan obat herbal nasional menuju kemandirian dan daya saing industri nasional.

Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang meridhoi semua langkah menuju kebaikan kita bersama. Aamiin.

Catatan penyusun :

Jakarta, Juni 2017

Tim Penyusun

Pemahaman istilah dan batasan pengertian obat herbal

Terdapat beberapa istilah populer yang tumbuh dan berkembang di masyarakat terkait dengan pengertian obat herbal sejalan dengan pertumbuhan pemanfaatan dan pengembangannya. Jamu, obat tradisional, obat bahan alam, obat asli Indonesia dan obat herbal, merupakan istilah populer dimaksud. Selain menjadi bagian dan cara untuk berkomunikasi, beberapa istilah tersebut juga menjadi icon dan istilah resmi yang tercantum dalam regulasi, buku pedoman dan dokumen resmi lainnya. Jamu merupakan icon produk tradisional Indonesia untuk menjaga kebugaran, kecantikan dan kesehatan. Produsen penghasil produk Jamu dikenal dengan industri Jamu. Namun demikian, dalam Undang-Undang Kesehatan No.36 tahun 2009, istilah Jamu tidak disebutkan, yang ada adalah obat tradisional . Dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 006 tahun 2016 tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional, istilah yang digunakan dalam kategorisasi industri adalah Industri Obat Tradisional (IOT), Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA), Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT), Industri Mikro Obat Tradisional (UMOT), Usaha Jamu Racikan (UJR) dan Usaha Jamu Gendong (UJG). Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) melalui peraturan Kepala Badan Nomor HK.00.05.41.1384 tahun 2005 mengelompokkan produk berbasis tanaman obat ke dalam 3 kategori, yaitu Jamu, Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Selain itu untuk memberikan panduan teknis,

ii
ii

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Kementerian Kesehatan menyusun buku Farmakope Herbal Indonesia (FHI), sedangkan Badan POM mengeluarkan buku Pedoman Uji Klinik Obat Herbal. Pada aspek ekonomi, Kementerian Koordinator Perekonomian memberikan buka panduan pengembangan dengan nama Roadmap Pengembangan Jamu 2011-2025.

Uraian di atas menggambarkan belum adanya kesepakatan dan kesepahaman bersama diantara stakeholder tentang produk yang berasal dari tanaman obat dan bahan alam lainnya, baik dari aspek filosofi, batasan pengertian dan keilmuan (body of knowledge) maupun konsep pemanfaatan dan pengembangannya.

Mengacu pada kondisi tersebut, dalam buku outlook ini digunakan :

Terminologi obat herbal dengan pengertian suatu produk atau sediaan yang mengandung bahan aktif dari tanaman baik berupa ekstrak, fraksi tunggal atau campuran yang mempunyai klaim khasiat tertentu berdasarkan bukti empirik dan atau data penelitian ilmiah. Terminologi ïndustri obat herbal dengan pengertian suatu sistem proses produksi dan bisnis serta tatakelola sumberdaya yang berkelanjutan untuk menghasilan produk bahan baku dan produk jadi sediaan obat herbal serta pemasarannya sesuai dengan peraturan yang berlaku.

menghasilan produk bahan baku dan produk jadi sediaan obat herbal serta pemasarannya sesuai dengan peraturan yang

* * * * *

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

iii
iii

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN
OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN SAMBUTAN KEPALA BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI Puji syukur kita panjatkan kepada

SAMBUTAN

KEPALA BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017 telah diselesaikan dengan baik. Saya sampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Tim Penyusun dari Pusat Teknologi Farmasi dan Medika, Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT yang telah berhasil menyusun Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal dalam waktu yang relatif singkat.

Outlook Teknologi Kesehatan telah diluncurkan pertama kali sejak tahun 2016, yang membahas dan memberikan informasi dan dukungan teknologi kepada stakeholder bidang kesehatan dan masyarakat luas. Selain itu juga menyajikan potret kesehatan nasional, industri farmasi dan alat kesehatan, yang dilengkapi analisis dan proyeksi kebutuhan produk dan teknologi kesehatan di masa yang akan datang hingga 2035. Mengingat lingkup bahasan Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2016 cukup luas, maka pada Edisi 2017 lebih difokuskan pada bahasan Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal.

Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal memberikan informasi yang penting dalam pemanfaatan tanaman obat dan pengembangan produk obat herbal yang mencakup analisis dan proyeksi kebutuhan produk dan teknologi untuk mendukung institusi dan industri yang bergerak dalam bidang pengembangan bahan baku dan obat herbal. Dukungan teknologi sangat diperlukan untuk menumbuhkan inovasi teknologi di industri obat herbal mulai dari tahap budidaya tanaman obat, pascapanen, proses ekstraksi, formulai dan pengujian obat herbal untuk mewujudkan kemandirian dan daya saing industri nasional.

iv
iv

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Saya berharap dengan diterbitkannya buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal selain menjadi salah satu luaran kinerja BPPT dalam rangka penguatan peran BPPT di bidang pengkajian dan penerapan teknologi, juga dapat meningkatkan dan memperkuat sinergi BPPT dalam melakukan inovasi dan layanan teknologi dengan lembaga terkait dan mitra industri. Semoga buku ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua.

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

Jakarta, Juni 2017

Kepala BPPT

bagi kita semua. Pusat Teknologi Farmasi dan Medika Jakarta, Juni 2017 Kepala BPPT Dr. Ir. Unggul

Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc.

v
v

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN
OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN SAMBUTAN MENTERI NEGARA RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI Bismillahirrohmanirrohiim.

SAMBUTAN

MENTERI NEGARA RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

Bismillahirrohmanirrohiim. Assalamu’alaikum wr.wb. Kesehatan merupakan salah satu pilar utama pembangunan nasional, dan saya memahami bahwa dalam melaksanakan pembangunan nasional di bidang kesehatan, banyak tantangan yang dihadapi, di antaranya jumlah penduduk yang terus meningkat, pergeseran demografi dan pola penyakit serta ketergantungan pada impor bahan baku obat dan alat kesehatan. Salah satu tantangan utama dalam menghadapi permasalahan tersebut adalah bagaimana mengurangi ketertinggalan penguasaan teknologi sehingga kemandirian dan daya saing industri kesehatan nasional menjadi semakin kuat. Oleh karenanya, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi senantiasa berkomitmen dan berusaha untuk mengarahkan dan mendorong agar penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa ini semakin kuat dan tidak tertinggal serta memajukan kegiatan riset dan mengaplikasikan hasil-hasil riset kepada industri sesuai Rencana Induk Riset Nasional 2017-2045 (RIRN) yang telah kita rinti bersama. Kesiapan teknologi dan inovasi merupakan dua faktor penting yang harus mendapatkan perhatian serius untuk memperkuat peran ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa. Kesiapan teknologi yang tinggi perlu didukung dengan pemilihan jenis teknologi dan cara pengembangannya yang tepat, terarah dan berkelanjutan dengan aplikasi metodologi yang benar. Inovasi teknologi yang diaplikasikan akan menghasilkan tidak hanya output baru, tetapi juga outcome yang berdampak pada penguatan industri nasional. Dengan kata lain, pemilihan dan pengembangan teknologi yang tepat, terarah dan berkelanjutan menjadi kata kunci dalam mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing bangsa. Untuk itulah, Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sangat mengapresiasi kepada BPPT yang telah melakukan kajian dan analisis kebutuhan dan pengembangan teknologi, khususnya untuk industri kesehatan, secara cermat dan tepat berupa buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal. Saya berharap agar buku Outlook Teknologi Kesehatan ini dapat menjadi salah satu bahan rujukan dan pertimbangan dalam menentukan program riset prioritas di bidang kesehatan dan obat, khususnya pengembangan bahan baku dan obat herbal, sesuai RIRN. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sangat mendukung upaya penyusunan dan sosialisasi terhadap isi buku Outlook Teknologi Kesehatan ini dan mendorong terus dikembangkannya Konsorsium Riset yang telah terbangun seperti Forum Riset Life Science Nasional, Konsorsium Riset Vaksin dan Farmasetik Nasional, sehingga ke depan diharapkan sinergi riset di bidang kesehatan dan obat dapat terwujud dan menghasilkan output dan outcome yang mempunyai dampak dalam mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya siang ndutri kesehatan nasional. Wassalamu’alaikum wr. wb.

vi
vi
dan meningkatkan daya siang ndutri kesehatan nasional. Wassalamu’alaikum wr. wb. vi Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI Saya menyambut baik dan

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI

KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI Saya menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tinggi

Saya menyambut baik dan memberikan apresiasi yang tinggi kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang telah menerbitkan buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal.

Buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017 ini merupakan salah satu bentuk nyata kontribusi BPPT dalam memberikan warna teknologi dalam mendukung dan mendorong pembangunan nasional di bidang kesehatan. Banyak aspek yang perlu ditingkatkan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang lebih tinggi. Selain infrastruktur dan tersedianya tenaga kesehatan yang profesional, peranan teknologi sangat diperlukan dalam upaya mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri kesehatan nasional.

Berkembangnya produk obat, termasuk obat herbal tidak saja penting untuk mendapatkan perhatian dari kacamata kesehatan nasional, namun juga harus dilihat dalam perspektif pertumbuhan ekonomi nasional. Berkembangnya industri obat berbasis herbal mengindikasikan bahwa produk herbal telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia. Adanya peningkatan penggunaan produk kesehatan berbasis herbal, termasuk produk dari luar negeri dalam jumlah yang cukup signifikan yakni antara 15-20% dari total peredaran produk herbal di Indonesia, memberikan gambaran bahwa masyarakat Indonesia menyukai produk kesehatan yang berasal dari bahan alam. Oleh karena itu diperlukan teknologi yang tepat dan mampu menjamin keamanan, kemanfaatan dan kualitas obat herbal.

Jl. H.R. Rasuna Said Blok X5, Kav. 4-9 Jakarta 12950 Telepon/Faxsimile (021) 5201591

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

vii
vii

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Terjaminnya kualitas, keamanan dan kemanfaatan produk herbal tidak hanya melindungi kepentingan masyarakat secara luas tapi juga meningkatkan kepercayaan bagi para pengguna terutama dari kalangan kesehatan. Secara khusus, peran teknologi perlu ditingkatkan dan dikembangkan dengan serius, berkelanjutan dan lintas sektor terutama terkait dengan tantangan pada aspek standarisasi, formulasi dan teknologi pembuatan serta keamanan produk.

Kementerian Kesehatan menyadari sepenuhnya bahwa kesehatan merupakan salah satu pilar utama pembangunan nasional. Industri kesehatan menjadi bagian utama dalam penyediaan produk-produk kesehatan. Peningkatan pengembangan produk kesehatan dalam negeri dapat meningkatkan kemandirian dan daya saing industri kesehatan. Oleh karena itu, ketersediaan teknologi diharapkan menjadi salah satu solusi dan komponen utama dalam mewujudkan kemandirian dan meningkatkan daya saing industri kesehatan nasional. Sekali lagi saya mengucapkan selamat dan berharap agar Buku Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017 ini bermanfaat serta menjadi acuan teknologi bagi banyak pihak yang terlibat dalam pengembangan produk herbal.

MENTERI KESEHATAN RI

dalam pengembangan produk herbal. MENTERI KESEHATAN RI Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K). Jl. H.R.

Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K).

Jl. H.R. Rasuna Said Blok X5, Kav. 4-9 Jakarta 12950 Telepon/Faxsimile (021) 5201591

viii
viii

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

RINGKASAN EKSEKUTIF

Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar di dunia, dimana penggunaan tanaman obat dalam sistem pengobatan masyarakat telah menjadi budaya pada setiap etnis/suku. Saat ini perkembangan obat herbal telah mencakup pada segala aspek yang terkait seperti budidaya, pengolahan simplisia dan bahan baku ekstrak, pengujian farmakologi hingga perkembangan bentuk sediaannya.

Meningkatnya pasar obat herbal nasional maupun dunia, menyebabkan semakin tingginya permintaan pasar akan produk herbal. Tuntutan sekaligus peluang ini mendorong perlunya percepatan pengembangan industri herbal nasional sesuai dengan Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan. Dalam hal ini, peran teknologi merupakan salah satu komponen utama dalam meningkatkan daya saing industri dan upaya mewujudkan kemandirian bangsa.

Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal ini difokuskan pada teknologi untuk industri herbal. Buku ini merupakan kajian yang berisi tentang potret, review, kebijakan pemerintah dan proyeksi kebutuhan teknologi untuk industri obat herbal hingga tahun 2035. Kajian ini juga memperhatikan profil demografi dan pola penyakit di Indonesia serta kecenderungan berkembangnya penyakit atau gangguan kesehatan masyarakat global.

Berdasarkan data demografi, penduduk Indonesia tahun 2035 akan mencapai 305,5 juta jiwa. Sementara itu diproyeksikan bahwa pola penyakit di Indonesia akan mengalami pergeseran, yaitu kelompok penyakit menular mengalami penurunan, sedangkan kelompok penyakit tidak menular terutama penyakit degeneratif dan penyakit akibat cedera menunjukkan peningkatan. Diperkirakan permintaan pasar produk herbal lebih banyak untuk fungsi pencegahan penyakit, peningkatan daya tahan tubuh, perlindungan fungsi organ dan pengobatan penyakit degeneratif.

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

ix
ix

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Pertumbuhan pasar obat herbal nasional pada tahun 2015 sebesar 15 triliun rupiah, dan diprediksikan hingga tahun 2030 akan meningkat menjadi 30 triliun, sejalan dengan bertambahnya tingkat kepercayaan penggunaan obat herbal. Konsekuensi dari peningkatan pasar ini adalah juga peningkatan kebutuhan bahan baku obat herbal. Nilai ekspor impor tanaman obat masih bersifat fluktuatif, pada tahun 2014 terdapat peningkatan nilai ekspor tanaman obat sebesar 31,2% dibandingkan tahun sebelumnya. Prediksi hingga tahun 2035 diharapkan nilai ekspor akan sangat jauh meningkat dan nilai impor rendah. Pada tahun 2016 tercatat sebanyak 1.243 industri obat herbal yang terdiri dari 129 Industri Obat Tradisional (IOT) dan sisanya adalah Usaha Menengah Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT).

Kajian ini juga membahas mengenai pengembangan potensi sumberdaya tanaman obat yang mencakup kearifan lokal, bioprospeksi dan keragaman genetika tanaman obat. Sebagian besar obat herbal yang beredar di pasaran saat ini berasal dari pengembangan formula tradisional yang merupakan kearifan lokal bangsa Indonesia. Perkembangan teknologi menuntun pencarian obat herbal baru dari hasil bioprospeksi tanaman obat berdasarkan analisa gen dan fitokimia. Keragaman hayati Indonesia yang menduduki peringkat kedua dunia, merupakan potensi yang sangat besar bagi penemuan obat herbal baru. Tahun 2015 telah berhasil diidentifikasi lebih dari 2500 spesies tanaman obat dari 211 famili. Pengembangan dan peningkatan kualitas obat herbal perlu dilakukan dengan dukungan teknologi budidaya, pengolahan bahan baku, pengujian farmakologi dan teknologi pembuatan sediaan obat herbal.

Kajian ini membagi kebutuhan teknologi untuk industri obat herbal menjadi 4 (empat) subtopik, yaitu:

1. Teknologi budidaya dan pascapanen tanaman obat

Kajian pada subtopik ini membahas mengenai konservasi dan domestikasi tanaman obat terutama untuk pencarian tanaman obat baru, budidaya tanaman obat berdasarkan Good Agriculture Practice (GAP) untuk menjaga kontinuitas ketersediaan bahan baku obat herbal. Selain itu juga dibahas mengenai panen dan

x
x

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

pascapanen (Good Handling Practices/GHP) sebagai salah satu bagian penting untuk memenuhi standar tanaman obat dan bahan baku simplisia, terutama dari aspek mutu, keamanan dan manfaatnya.

2. Teknologi ekstraksi dan standardisasi ekstrak

Teknologi ekstraksi merupakan bagian yang penting dalam proses produksi obat herbal berbasis ekstrak. Proses ini dilengkapi upaya standardisasi ekstrak untuk menjamin kualitas bahan berkhasiat dalam ekstrak dengan merujuk pada peraturan yang berlaku. Kajian dalam subtopik ini membahas berbagai metode ekstraksi dan teknologi terbaru dalam proses ekstraksi seperti green extraction technology.

3. Pengujian obat herbal

Kajian untuk mengevaluasi khasiat dan keamanan obat herbal pada subtopik ini mencakup dari tiga jenis pengujian yaitu secara in vitro (enzimatis, seluler maupun biologi molekuler, pengujian non klinik pada hewan dan pengujian klinik pada manusia. Kajian ini merupakan review dari metode yang ada saat ini hingga metode baru yang membutuhkan peralatan dan fasilitas dengan kualifikasi tinggi. Persaingan pasar dan permintaan data industri dimasa depan menuntut pengujian obat herbal lebih dalam lagi.

4. Teknologi formulasi obat herbal

Bentuk sediaan obat herbal kini telah berkembang dari bentuk tradisional ke bentuk sediaan obat modern sehingga tingkat penerimaan masyarakat menjadi lebih baik. Subtopik ini secara garis besar mengkaji teknologi sediaan obat herbal beserta permasalahannya terutama dari sifat fisikokimia bahan baku, formulasi dan proyeksi pengembangan sediaan herbal dengan teknik formulasi yang lebih tinggi seperti mikroenkapsulasi. Selain itu juga dibahas mengenai evaluasi sediaan obat herbal sebagai salah satu bagian penting untuk menjamin mutu dan kualitas sediaan dengan merujuk pada peraturan yang berlaku.

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xi
xi

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

TIM PENYUSUN

PENGARAH

Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc.

Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Prof. Dr. Eng Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng.

PENANGGUNG JAWAB

Direktur Pusat Teknologi Farmasi dan Medika Ir. Imam Paryanto, M.Eng.

PENULIS

Bab 1

 

Dr. Agung Eru Wibowo, M.Si., Apt

Bab 2

 

Dr. Chaidir, Apt Lely Khojayanti, ST., MT

Bab 3

Fifit Juniarti, B.Sc (Hons) Syofi Rosmalawati, M.AgrSc Ahmad Riyadi, M.Si.

Bab 4

Syofi Rosmalawati, M.AgrSc Ahmad Riyadi, M.Si. Lely Khojayanti, ST., MT

Bab 5

Ir. Bambang Srijanto Dr. Eriawan Rismana Dr. Agus Supriyono Dr. Prasetyawan Yunianto, S.Si., MP Dr. Susi Kusumaningrum, M.Si.

xii
xii

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Bab 6

 

Dr. Kurnia Agustini, M.Si., Apt Dr. Sri Ningsih, M.Si., Apt Dr. Churiyah, M.Si. Siska Andrina Kusumastuti, S.Farm., Apt

Bab 7

 

Dr. Etik Mardliyati, M.Eng Idah Rosidah, M.Farm., Apt Damai Ria Setyawati, M.Farm., Apt

Bab 8

Dr. Bambang Marwoto, Apt., MEng.

DISAIN DAN LAYOUT

Fifit Juniarti, B.Sc (Hons) Idah Rosidah, M.Farm., Apt Alfan Danny Arbianto, S.Si Indica Chandramanan Brillianto, A.Md. Kom. Nizar, MM

INFORMASI Sekretariat Tim Penyusun Outlook Teknologi Kesehatan BPPT Gedung 610-611 LAPTIAB BPPT Kawasan Puspiptek Serpong Tangerang Selatan Banten 15314

Telp./Fax

: (021) 756 2331

E-mail

: sekr-ptfm@bppt.go.id

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xiii
xiii

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

UCAPAN TERIMA KASIH

Ucapan terima kasih dan penghargaan yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah berkontribusi besar dalam penyusunan naskah Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017 : Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal.

1. Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp. M(K), Menteri Kesehatan Republik Indonesia

2. Prof. H. Mohammad Nasir, Ph.D., Ak., Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia

3. Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc., Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

4. Prof. Dr. Eng. Eniya Listiani Dewi, B.Eng., M.Eng., Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi

5. Drs. Hary Wahyu T., Apt., Direktur Standardisasi Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplementer, Badan POM

6. Dita Novianti, S.Si., Apt., MM, Kasubdit Kemandirian Obat Bahan Baku Sediaan Farmasi, Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Kementerian Kesehatan

7. Ir. Wiwi Sutiwi, MM, Kasubdit Tanaman Obat, Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat, Kementerian Pertanian

8. Drs. Nyoto Wardoyo, Apt., Presiden Direktur PT. Deltomed Laboratories

9. Dra. Barokah Sri Utami, Apt., MM, Presiden Direktur Utama PT. Phapros, Tbk.

10. Dr. Raphael Aswin Susilowidodo, ST., M.Si., Direktur R & D, SOHO Global Health

11. dr. Husniah Rubiana Thamrin Akib, MS., M.Kes., SpFK, Kepala Divisi Advokasi dan Legislasi dengan Lembaga, PB IDI

12. Dra. Lucie Widowati, M.Si., Apt., Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional

13. Prof. Agung Endro Nugroho, S.Si., M.Si., PhD., Apt, Dekan Fakultas Farmasi UGM

14. Dr. Gusmaini, M.Si., Peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Kementerian Pertanian

15. Dan semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu

xiv
xiv

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

i

SAMBUTAN KEPALA BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI

iv

SAMBUTAN MENTERI NEGARA RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI

vi

SAMBUTAN MENTERI KESEHATAN RI

vii

RINGKASAN EKSEKUTIF

ix

TIM PENYUSUN

xii

UCAPAN TERIMA KASIH

xiv

DAFTAR ISI

xv

DAFTAR GAMBAR

xix

DAFTAR TABEL

xxi

DAFTAR

ISTILAH

xxii

DAFTAR SINGKATAN

xxvii

BAB

1 PENDAHULUAN

1

1.1. Latar Belakang

1

 

1.1.1. Potensi Sumberdaya Hayati dan Pengetahuan Tradisional Indonesia

 

1

 

1.1.2. Demografi dan Pola Penyakit

2

1.1.3. Pertumbuhan Industri dan Pasar Obat Herbal Nasional

3

1.1.4. Tantangan Pengembangan Obat Herbal

4

1.1.5. Regulasi dan Kebijakan Pemerintah Terkait Industri Obat Herbal

5

 

1.2. Kerangka dan Alur Pikir

6

1.3. Tujuan 8

1.4. Ruang Lingkup

8

1.5. Metodologi

8

BAB

2 POTRET INDUSTRI OBAT HERBAL

11

2.1.

Prediksi Kebutuhan Bahan Baku dan Obat Herbal

11

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xv
xv

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

2.1.1. Prediksi Kebutuhan Nasional

11

2.1.2. Prediksi Kebutuhan Global

17

2.2. Potret Industri Obat Herbal Nasional

21

2.3. Potret Industri Obat Herbal Global

31

2.3.1. Industri Obat Herbal

31

2.3.2. Industri Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT)

33

BAB 3 PENGEMBANGAN POTENSI SUMBER DAYA TUMBUHAN OBAT

35

3.1. Kearifan Lokal

35

3.2. Bioprospeksi

37

3.3. Keragaman Genetika Tumbuhan Obat

40

BAB 4 TEKNOLOGI BUDIDAYA DAN PASCAPANEN TANAMAN OBAT

51

4.1. Konservasi dan Domestikasi

52

4.2. Budidaya Tanaman Obat

56

4.2.1 Registrasi dan Sertifikasi Lahan

61

4.2.2 Identifikasi/Otentifikasi Jenis Tanaman Obat yang Dibudidayakan . 61

4.2.3 Pembenihan

61

4.2.4 Budidaya

62

4.2.5 Pencatatan dan Penelusuran Balik

65

4.3. Panen dan Pascapanen

66

4.3.1. Panen

67

4.3.2. Pascapanen

70

BAB 5 TEKNOLOGI EKSTRAKSI DAN STANDARDISASI EKSTRAK

73

5.1. Perkembangan Teknologi Ekstraksi

74

5.1.1. Teknologi Ekstraksi

74

5.1.2. Teknik Standardisasi Ekstrak

77

5.2. Kecenderungan Pengembangan Teknologi Ekstraksi dan Standardisasi

Ekstrak 85

BAB 6 PENGUJIAN OBAT HERBAL

xvi
xvi

91

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

6.1. Pengujian In Vitro

93

6.1.1. Primary Bioassay: High-Throughput Screening (HTS), Ultra High

Screening (UHS) dan High Content Screening (HCS)

95

6.1.2.

Secondary Bioassay

101

6.2. Pengujian

Preklinik

106

6.3. Pengujian

Klinik

119

6.3.1 Produk Obat Herbal yang akan Diuji Kllinik

120

6.3.2 Pelaksanaan uji klinik

121

6.4. Prediksi Jumlah Fitofarmaka Tahun 2035

Error! Bookmark not defined.

BAB 7 TEKNOLOGI FORMULASI OBAT HERBAL

129

 

7.1. Pengembangan Teknologi Formulasi Sediaan Obat Herbal

131

7.1.1. Pembuatan sediaan cair

 

132

7.1.2. Pembuatan

Sediaan

Padat

134

7.1.3. Pembuatan

Sediaan

Semi Padat

136

7.1.4. Pembuatan

Sediaan

Parenteral

138

7.2. Pengembangan

Teknologi Farmasi

139

7.2.1. Dispersi

Padat

140

7.2.2. Pembentukan Komplek Inklusi

140

7.2.3. Teknologi

Masking

 

141

7.2.4. Teknologi Mikroenkapsulasi

142

7.2.5. Teknologi Sistem Penghantaran Obat

142

7.3. Pengembangan Obat dengan Bantuan Sistem Komputer

143

7.4. Teknologi Evaluasi Sediaan Obat Herbal

146

BAB

8 PENUTUP

161

8.1 Proyeksi Kebutuhan Obat Herbal hingga Tahun 2035

161

8.1.1 Pertumbuhan Industri dan Pasar Obat Herbal Nasional

161

8.1.2 Prediksi Kebutuhan Global

162

8.2 Rekomendasi

163

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xvii
xvii

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

8.2.1. Teknologi Budidaya dan Pascapanen Tanaman Obat

163

8.2.2. Teknologi Ekstraksi dan Standardisasi Ekstrak

165

8.2.3. Teknologi Pengujian Obat Herbal

166

8.2.4. Teknologi Formulasi Sediaan Obat Herbal

167

DAFTAR PUSTAKA

169

xviii
xviii

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1

Kerangka dan alur pikir Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017:

Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal

7

Gambar 2.1

Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010-2015 dan proyeksi tahun 2020,

2025, 2030 dan 2035

12

Gambar 2.2

Perubahan jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur

12

Gambar 2.3

Pergeseran epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit tidak menular serta gangguan kesehatan akibat cedera di Indonesia

sepanjang tahun 1990 - 2015

14

Gambar 2.4

Sepuluh besar penyakit penyebab kematian di Indonesia

15

Gambar 2.5

Pertumbuhan pasar obat tradisional Indonesia 2003-2015

16

Gambar 2.6

Distribusi populasi dunia pada tahun 2015 berdasarkan umur dan jenis

kelamin

18

Gambar 2.7

Pertumbuhan pasar obat tradisional global 2013 -2020

20

Gambar 2.8

Jumlah industri farmasi, industri obat tradisional (IOT) dan industri

ekstrak bahan alam

(IEBA)

22

Gambar

2.9

Pertumbuhan pasar

produk obat herbal nasional tahun 2003-2015

24

Gambar 2.10

Perkembangan impor bahan obat dalam juta USD dengan dominasi

bahan alam sebesar 55%

25

Gambar 2.11

Perkembangan ekspor obat tradisional dalam juta USD

26

Gambar 2.12

Negara tujuan ekspor tanaman obat

26

Gambar 2.13

Kinerja perdagangan tanaman obat tahun 2010-2015

27

Gambar 2.14

Postur industri obat herbal dalam negeri dilihat dari sisi jumlah menurut

skala usaha/golongan industri, penguasaan pasar, modal dan teknologi.

30

Gambar 3.1 Hubungan Ideal antara Bioprospeksi dan Konvensi Keanekaragaman

38

Hayati

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xix
xix

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Gambar 3.2

Peta Provinsi dilakukannya RISTOJA tahun 2012 (hijau) dan tahun 2015

(merah)

43

Gambar 4.1

Konsep alur penyediaan bahan baku tanaman obat yang berkelanjutan

 

51

Gambar 4.2

Jumlah tanaman obat yang digunakan pengobatan di dunia

56

Gambar 4.3

Diagram alir pembuatan simplisia rimpang

71

Gambar 5.1

Sifat pelarut ideal yang digunakan pada proses ekstraksi

87

Gambar 5.2

Perbandingan teknik dan pelarut yang digunakan pada proses ekstraksi

 

87

Gambar 5.3

Skema ideal standardisasi produk herbal

89

Gambar 6.1

Alur pengujian Obat Herbal

92

Gambar 6.2

Peran primary dan secondary bioassay dalam pengembangan obat

herbal

94

Gambar 6.3 Alur pengujian primary bioassay dan secondary bioassay dalam

 

pengujian preklinik secara in vitro

101

Gambar 6.4

Primary bioassay dan secondary bioassay untuk pengujian pre-klinik

secara in vitro untuk pengembangan obat herbal antidiabetes

102

Gambar 6.5

Hewan coba untuk pengujian preklinik di Indonesia

114

Gambar 6.6

Beberapa model hewan transgenik, knockout dan imunodefisiensi

116

Gambar 7.1

Bentuk sediaan obat herbal yang terdaftar periode Januari- Maret 2017

 

130

Gambar 7.2

Alur proses pembuatan sediaan cair

134

Gambar 7.3

Alur proses pembuatan sediaan padat

136

Gambar 7.4

Alur proses pembuatan sediaan semi padat

138

Gambar 7.5

Prototipe sistem hibrid

144

Gambar 7.6

Sidik jari kromatografi sampel Ginko biloba dari beberapa sumber

160

xx
xx

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1

Jumlah penduduk dunia dan beberapa wilayah utama pada tahun 2015,

serta proyeksi pada tahun 2030, 2050, dan 2100

17

Tabel 2.2

Perkiraan kebutuhan tanaman obat dalam negeri tahun 2014-2019

(dalam ton)

24

Tabel 2.3

Target Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT) yang harus dikembangkan

hingga 2025

28

Tabel 3.1

Pembagian keuntungan seperti tercantum dalam Protokol Nagoya

39

Tabel 3.2

Jumlah spesies tumbuhan obat berdasarkan famili

42

Tabel 3.3

Sebaran etnis RISTOJA 2015

44

Tabel 3.4

Beberapa varietas tanaman obat unggul yang sudah dilepas

49

Tabel 5.1

Data ekstrak terstandar, ekstrak terpurifikasi dan isolat senyawa

penanda yang telah dikembangkan di Indonesia

79

Tabel 6.1

Klasifikasi Obat Herbal

91

Tabel 6.2

Perbedaan primary dan secondary

bioassay

95

Tabel 6.3

HTS secara enzimatis untuk target aktivitas

98

Tabel 6.4

HTS untuk pengujian second messenger, gen reporter dan proliferasi sel

 

99

Tabel 6.5

Metode pengujian HTS berbasis sel untuk target penyakit dengan

prevalensi terbanyak di Indonesia

100

Tabel 6.6

Kategori efek toksik suatu bahan yang berasal dari herbal

107

Tabel 6.7

Kisaran lama pengujian toksisitas kronik

108

Tabel 6.8

Beberapa model hewan untuk indikasi penyakit degeneratif

111

Tabel 6.9

Daftar Komite Etik di Indonesia

112

Tabel 6.10

Hewan model transgenik untuk pengujian farmakologi

117

Tabel

6.11

Alat Bioimaging

118

Tabel 7.1 Persyaratan uji praklinik dan klinik untuk obat herbal yang mengalami

152

perubahan

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xxi
xxi

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

DAFTAR ISTILAH

Bioassay In vitro adalah pengujian aktivitas yang dilakukan diluar tubuh atau sistem biologi makhluk hidup dengan menggunakan enzim termurnikan, sel, jaringan atau organ tubuh.

Dekok adalah metode ekstraksi dengan pelarut air pada suhu 90°C selama 30 menit atau lebih

Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan.

Distilasi kukus (steam distillation) adalah jenis khusus proses distilasi untuk memisahkan bahan yang sensitif terhadap suhu, seperti golongan senyawa aromatik.

Efikasi adalah efektivitas, kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Eksipien atau bahan penolong adalah materi yang terdapat dalam bentuk sediaan obat namun tidak mengandung zat berkhasiat obat, yang berfungsi sebagai pengisi, pembawa atau pelarut zat aktif sehingga memungkinkan dibuat bentuk sediaan.

Ekstraksi adalah proses pemisahan senyawa dari bahan asalnya dengan menggunakan cairan penyari dan teknik yang disesuaikan.

Enzyme-Assisted Extraction (EAE) adalah proses ekstraksi yang dilakukan dengan bantuan enzim pada tahapan penguraian senyawa aktif yang akan dipisahkan agar didapatkan rendemen yang tinggi.

Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah pelarut dari bentuk cair menjadi uap.

Fitofarmaka adalah sediaan herbal yang terbukti berkhasiat pada pengujian secara klinik pada manusia.

Fluida superkritis adalah zat yang berada pada suhu dan tekanan di atas titik kritis termodinamika. Fluida ini memiliki kemampuan untuk berdifusi melalui benda padat seperti gas, dan melarutkan benda seperti cairan serta dapat mengubah kepadatannya jika ingin mengubah sedikit suhu dan tekanannya.

Formula adalah susunan kualitatif dan kuantitatif bahan berkhasiat dan bahan tambahan.

Formulasi adalah segala permasalahan yang menyangkut komposisi bahan, metode pembuatan, proses pembuatan, peralatan, dan pengemas obat.

xxii
xxii

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Granul adalah sediaan bentuk padat, berupa partikel serbuk dengan diameter 2-4 mikrometer dengan atau tanpa vehikulum.

Granulasi adalah pembentukan partikel-partikel besar dengan mekanisme pengikatan tertentu.

HTS (High-Throughput Screening) adalah sistem pengujian yang digunakan untuk menapis aktivitas ratusan atau ribuan ekstrak tanaman obat menggunakan prinsip interaksi ligan- target yang kemudian didapatkan informasi/data dalam jumlah masif.

HTS (High-Throughput Screening) berbasis sel adalah pengujian yang menggunakan sel primer atau cell line sebagai objek pengujian dalam HTS.

HTS (High-Throughput Screening) secara enzimatis adalah pengujian secara biokimia atau enzimatis menggunakan reseptor dari manusia atau enzim sebagai reagen dalam sistem pengujian HTS.

Infus adalah metode ekstraksi dengan menggunakan air yang mendidih pada suhu 96-98°C, dalam waktu tertentu sekitar 15 menit.

Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak yang dapat larut dalam cairan saluran pencernaan. Cangkang pada umumnya terbuat dari gelatin, bisa juga dari pati atau bahan lain yang sesuai.

Komite Etik Penelitian Kesehatan adalah badan independen yang dibentuk untuk mengawasi agar penelitian pada manusia maupun hewan dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip

International Convention on Harmonization of Good Clinical Trial Practice (ICH-GCP).

LD 50 adalah dosis pemberian yang menyebabkan kematian 50% hewan coba

Maserasi adalah metode ekstraksi melalui perendaman bahan/simplisia dengan cairan penyari yang sesuai tanpa pemanasan, tanpa atau dengan pengadukan/pengocokan.

Metabolomik adalah proses penentuan metabolit sekunder atau mikromolekul. Sinonim dari metabolomik adalah metabolite profiling atau penentuan metabolit-metabolit dengan karakter tertentu terkait dengan penyakit, respon pengobatan, metabolisme obat, perlakuan kimiawi.

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xxiii
xxiii

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Microwave assisted extraction (MAE) adalah proses ekstraksi menggunakan bantuan energi gelombang mikro dengan panjang gelombang 0.001 m to 1 m untuk memfasilitasi partisi zat aktif atau analit dari matriks sampel ke pelarut.

Multiple effect evaporators adalah suatu peralatan yang dirancang dengan tujuan meningkatkan efisiensi energi dari proses evaporasi yang berlangsung dengan menggunakan energi panas dari steam (uap) untuk menguapkan air. Proses kerjanya adalah sumber luar dikondensasikan dalam elemen pemanas efek pertama. Suhu mendidih di mana efek pertama beroperasi cukup tinggi sehingga air menguap dapat berfungsi sebagai media pemanas untuk efek kedua. Uap yang terbentuk kemudian dikirim ke kondensor jika itu adalah evaporator efek ganda. Umpan untuk evaporator jenis multi-efek ini umumnya ditransfer dari satu efek yang lain.

Obat Herbal Terstandar adalah sediaan herbal yang bahannya berupa ekstrak terstandar yang telah terbukti berkhasiat dan aman pada pengujian menggunakan hewan coba

Perkolasi adalah metode ekstraksi yang dilakukan dengan mengalirkan larutan/cairan pengekstrak secara berkesinambuangan (kontinu) melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.

Primary Bioassay adalah pengujian awal terhadap sampel dalam jumlah besar untuk menseleksi sampel yang berpotensi dengan menggunakan metode yang sederhana dan mudah.

Randomized double blind controlled clinical trial adalah metode ideal dalam pelaksanan uji klinik

dengan melibatkan alokasi random (acak) subjek ke dalam kelompok dan dapat mengurangi bias sehingga memberikan hasil sesuai tujuan.

Secondary Bioassay adalah pengujian terhadap sampel dengan metode yang lebih detail untuk mengetahui mekanisme aksi hingga ke tingkat molekular sesuai dengan target yang diinginkan.

Sediaan cair adalah sediaan dengan wujud cair, mengandung satu atau lebih zat aktif yang terlarut atau terdispersi stabil dalam medium yang homogen pada saat diaplikasikan.

Sediaan obat herbal adalah sediaan obat yang dibuat dari bahan atau ramuan bahan alami seperti seperti tumbuhan yang sudah dibudidayakan maupun tumbuhan liar.

xxiv
xxiv

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Sediaan oral adalah sediaan obat yang pemakaiannya dengan cara memasukkannya lewat mulut. Dapat dikatakan juga sebagai obat dalam.

Sediaan padat adalah sediaan yang mempunyai bentuk dan tekstur yang padat dan kompak.

Sediaan parenteral yaitu sediaan obat yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui injeksi.

Sediaan semi padat adalah sediaan setengah padat yang dibuat untuk tujuan pengobatan topikal melalui kulit. Bentuk sediaan ini dapat bervariasi tergantung bahan pembawa (basis) yang digunakan.

Serbuk adalah campuran kering bahan obat atau zat kimia yang dihaluskan, ditujukan untuk pemakaian oral atau untuk pemakaian luar.

Sistem klasifikasi biofarmasetik (Biopharmaceutical Classification System, BCS) adalah pengelompokan obat dalam kelompok yang didasarkan pada: kelarutan, permeabilitas dan kecepatan disolusi in vitro. Klasifikasi sistem ini dapat digunakan untuk menjustifikasi persyaratan-persyaratan penelitian in vitro (sediaan) obat yang melarut secara cepat, mengandung bahan aktif yang sangat larut dan sangat permeabel.

Sokletasi adalah suatu metode pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang-ulang dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan akan terisolasi

adalah proses ekstraksi menggunakan pelarut air pada

Subcritical Water Extraction (SWE)

kondisi air subkritik yakni air dengan suhu antara 100°C-300°C.

Supercritical Fluid Extraction (SFE) adalah proses ekstraksi menggunakan fluida superkritis sebagai pelarut.

Supositoria adalah sediaan padat dalam berbagai bobot dan bentuk, yang diberikan melalui rektal, vagina atau uretra. Umumnya meleleh, melunak atau melarut pada suhu tubuh.

Tablet adalah sediaan padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan.

Toksisitas akut adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul dalam waktu singkat setelah pemberian sediaan uji yang diberikan secara oral dalam dosis tunggal, atau dosis berulang yang diberikan dalam waktu 24 jam

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xxv
xxv

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Toksisitas kronis adalah uji toksisitas kronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji secara berulang sampai seluruh umur hewan.

Uji klinik adalah pengujian suatu produk uji pada subjek manusia untuk menemukan efek klinik, farmakologik dan/atau farmakodinamik dengan tujuan untuk memastikan keamanan dan atau efektivitas produk yang diteliti.

Uji praklinik adalah pengujian suatu produk uji pada hewan coba untuk mempelajari efek farmakodinamik dan atau keamanan produk uji.

Uji toksisitas subkronis oral adalah suatu pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul setelah pemberian sediaan uji dengan dosis berulang yang diberikan secara oral pada hewan uji selama sebagian umur hewan, tetapi tidak lebih dari 10% seluruh umur hewan.

dengan

Ultrasound

Assisted

Extraction

(UAE)

adalah

proses

ekstraksi

yang

dilakukan

menggunakan bantuan gelombang ultrasonik dengan frekuensi 20 kHz-2.000 kHz

Zat aktif adalah unsur dalam obat yang memiliki khasiat menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit suatu sediaan obat dapat mengandung beberapa zat aktif.

xxvi
xxvi

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

DAFTAR SINGKATAN

Badan POM

Badan Pengawasan Obat dan Makanan

CCE

Counter Current Extraction

CID

Controlled Instantaneous Decomposition

CPOB

Cara Pembuatan Obat yang Baik

CPOTB

Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik

DNA

Deoxyribonucleic Acid

EAE

Enzyme-Assisted Extraction

EMA

European Medicines Agency

FOHAI

Formularium Obat Herbal Asli Indonesia

GAP

Good Agricultural Practices

GK

Gas Kromatografi

GMP

Good Manufacturing Practices

HPLC

High Perfomance Liquid Chromatography

IEBA

Industri Ekstrak Bahan Alam

KCKT

Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

KK

Kromatografi Kolom

LC-MS

Liquid Chromatography-Mass Spectrometry

MAE

Microwave Assisted Extraction

NADES

Natural Deep Eutectic Solvents

NMR

Nuclear Magnetic Resonance

PSE

Pressured Solvent Extraction

SDE

Simultaneous Distillation Extraction

SFE

Supercritical Fluid Extraction

SPME

Solid Phase Micro Extraction

SWE

Subcritical Water Extraction

TLC

Thin Layer Chromatography

UAE

Ultrasound Assisted Extracti

UPLC-MS

Ultra Performance Liquid Chromatography-Mass Spectoscopy

WHO

World Health Organization

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

xxvii
xxvii
OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

1.1.1. Potensi Sumberdaya Hayati dan Pengetahuan Tradisional Indonesia

Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah pulau 13.466, luas wilayah daratan 1.922.570 km² dan luas wilayah perairan 3.257.483 km² (Badan Informasi Geospasial, 2017). Letak geografis Indonesia yang berada pada garis katulistiwa, menjadikan Indonesia sebagai negara tropis dengan tingkat keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Keragaman hayati dimaksud meliputi keragaman ekosistem, keragaman jenis dan keragaman genetika. Anugerah tersebut merupakan suatu keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh negara di belahan benua lain. Selain itu, interaksi penduduk dengan alam sekitar menghasilkan khasanah kearifan lokal dan pengetahuan tradisional tentang pemanfaatan sumberdaya tanaman untuk kebutuhan bahan pangan, menjaga kesehatan dan kebutuhan hidup lainnya, sejalan dengan perkembangan peradaban dan budaya pada masanya.

Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) yang dilakukan oleh Badan Litbang Kementerian Kesehatan tahun 2012 dan 2015 menemukan sebanyak 10.048 ramuan tradisional untuk 74 indikasi penyakit yang telah digunakan oleh masyarakat. Sejumlah 19.871 tanaman obat yang digunakan sebagai ramuan tradisional tersebut telah dikoleksi dan 16.218 diantaranya telah berhasil diidentifikasi (Kementerian Kesehatan, 2015). Suatu gambaran potensi kekayaan alam dan khasanah tradisional yang luar biasa yang perlu segera dimanfaatkan dan dikembangkan menjadi produk kompetitif dan unggulan. Kementerian Kesehatan telah menetapkan 9 ramuan tradisional potensial untuk dikaji dan dikembangkan yaitu : (1) ramuan untuk perawatan bayi, (2) ramuan perawatan pra/pasca persalinan, (3) ramuan untuk darah tinggi, (4) ramuan untuk kencing manis, (5) ramuan untuk kolesterol tinggi, (6) ramuan untuk rematik/asam urat, (7) ramuan untuk

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

1
1

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

malaria, (8) ramuan untuk sakit kuning, (9) ramuan untuk sakit TBC, (10) ramuan untuk HIV/AIDS, dan (11) ramuan untuk tumor/kanker (Kementerian Kesehatan, 2015).

Informasi etnofarmakologi yang berupa ramuan tradisional tersebut, merupakan data empirik yang penting dan sangat bermanfaat. Dengan mengacu pada potensi sumberdaya hayati dan data empirik tersebut, langkah-langkah pengembangan produk obat herbal menjadi lebih terarah, utamanya dalam penentuan indikasi khasiat dan evaluasi keamanannya.

1.1.2. Demografi dan Pola Penyakit

Sebagai produk yang mempunyai dimensi kesehatan, pengembangan obat herbal harus memperhatikan profil demografi dan pola penyakit di Indonesia serta kecenderungan berkembangnya penyakit atau gangguan kesehatan masyarakat global. Jumlah penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan yang signifikan. Diperkirakan tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 271.066.400 jiwa, dan akan terus meningkat menjadi 305.653.400 jiwa pada tahun 2035 (Badan Pusat Statistik,

2016).

Seiring dengan keberhasilan pembangunan bidang kesehatan, angka harapan hidup manusia Indonesia terus menunjukkan peningkatan, yaitu 66 tahun pada tahun 2000, meningkat menjadi 69,1 tahun pada tahun 2010 dan 70,1 tahun pada 2015. Pada kurun waktu 2020-2035, angka harapan hidup manusia Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 72,2 tahun (Badan Pusat Statistik, 2016). Sementara itu penduduk berumur di atas 65 tahun pada 2035 diprediksi mencapai 10,6 % dari jumlah penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2013a).

Penyakit di Indonesia bisa dikategorikan dalam 3 kelompok penyakit, yaitu penyakit menular (communicable diseases), penyakit tidak menular (noncommunicable diseases) dan penyakit akibat cedera. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan telah terjadi pergeseran pola penyakit seiring dengan perubahan demografi Indonesia. Dalam kurun waktu 1990 sampai dengan 2015, kelompok penyakit infeksi atau menular

2
2

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

mengalami penurunan dari 56% pada tahun 1990 menjadi 30% pada tahun 2015. Sebaliknya kelompok penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, diabetes, hipertensi dan kanker menunjukkan peningkatan dari 37% pada tahun 1990 meningkat menjadi 57% pada tahun 2015. Demikian pula dengan penyakit cidera, meningkat dari 7% pada tahun 1990 meningkat menjadi 13% pada tahun 2015 (Menteri Kesehatan, 2015).

1.1.3. Pertumbuhan Industri dan Pasar Obat Herbal Nasional

Industri obat herbal merupakan kelompok industri yang mempunyai dimensi ekonomi, kesehatan dan budaya. Industri herbal mempunyai potensi Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang cukup tinggi dibandingkan dengan kelompok industri lainnya, karena sebagai besar bahan baku produk herbal diperoleh dari dalam negeri. Saat ini tercatat 1.247 industri obat herbal terdiri dari sekitar 93 Industri Obat Tradisional (IOT), 11 Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA) dan sisanya berupa Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT) dan Usaha Mikro Obat Tradisional (UMOT) yang tersebar di Indonesia (Novianti, 2017). Suatu sumberdaya industri nasional yang cukup potensial untuk dikembangkan.

Potensi pasar produk berbasis tanaman (herbal) cukup besar. Produk herbal untuk menjaga kesehatan, kebugaran dan kecantikan terus berkembang pesat termasuk produk arometerapi dan fragrans (produk berbasis minyak asensial), kosmetika herbal (sediaan kosmetika dengan bahan aktif dari ekstrak tanaman), pangan kesehatan (fungsional), nutraseutika, teh herbal, fitomedisin (obat herbal terstandar, fitofarmaka) dan sediaan tradisional (jamu).

Pertumbuhan pasar obat herbal dalam negeri terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, sejalan dengan penguatan trend dan keinginan masyarakat untuk mengkonsumsi produk berbasis bahan alam. Tahun 2005 nilai pasar obat herbal sebesar Rp. 4,7 triliun, meningkat signifikan menjadi Rp. 15 triliun pada tahun 2015. Suatu pertumbuhan pasar yang menggembirakan dan perlu terus didorong peningkatan dan penguasaan pasarnya. Dalam tatakelola perdagangan nasional, tanaman obat, minyak atsiri dan rempah-rempah merupakan 3 dari 10 produk potensial ekspor yang perlu

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

3
3

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

dikembangkan, karena memiliki potensi pasar yang cukup menjanjikan baik pasar lokal maupun global.

1.1.4. Tantangan Pengembangan Obat Herbal

Dalam tataran konsep, pengembangan obat herbal diarahkan pada 2 tujuan utama, yaitu: (1) Berkembangnya industri obat herbal, yaitu mewujudkan industri obat herbal yang berdaya saing baik di pasar lokal maupun global dan (2) Dimanfaatkannya obat herbal dalam pelayanan kesehatan formal, yaitu terbangunnya sistem dan infrastruktur pelayanan kesehatan dengan menggunakan sediaan obat herbal.

Tantangan dalam pengembangan obat herbal cukup signifikan, baik pada tataran makro (konsepsi) maupun pada tataran mikro (operasional), termasuk unsur teknologi dan kelembagaan, yaitu penyedia produk (provider), praktisi pengobat (practice), dan pengguna (konsumen). Perbedaan pemahaman dan konsepsi pemanfaatan dan pengembangan obat herbal yang masih sering muncul diantara pemangku kepentingan termasuk praktisi industri, regulator, peneliti dan akademisi secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi upaya percepatan pengembangan industri obat herbal.

Disisi lain perkembangan pasar dan permintaan konsumen menuntut adanya inovasi produk herbal yang dinamis untuk bisa menghadirkan produk yang aman, berkhasiat dan bermutu serta nyaman dikonsumsi. Penguatan inovasi teknologi produksi obat herbal hulu-hilir penting untuk dilakukan, guna mewujudkan berkembangnya industri bahan baku obat herbal, industri manufaktur produk obat herbal dan sistem pelayanan kesehatan menggunakan obat herbal. Pengembangan dan penerapan teknologi produksi bahan baku herbal (simplisia, ekstrak), teknologi pengujian khasiat dan keamanan serta teknologi formulasi sediaan untuk mendapatkan produk obat herbal yang bermutu merupakan tantangan positif untuk segera mendapatkan solusi yang tepat.

Tantangan lain terkait upaya pemanfaatan sediaan obat herbal dalam pelayanan kesehatan formal adalah belum adanya infrastruktur, SDM, regulasi dan pedoman teknis pelaksanaan pelayanan kesehatan di rumah sakit dengan sistem ganda (dual system)

4
4

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

yaitu pengobatan konvensional dan pengobatan komplementer menggunakan sediaan obat herbal. Konsepsi atau perubahan paradigma dari pengobatan dan penanganan penyakit (paradigma sakit, bersifat kuratif) menuju pencegahan penyakit dan pengelolaan kesehatan (paradigma sehat, bersifat preventif) merupakan langkah penting yang akan menjadi arah pengelolaan kesehatan masyarakat ke depan termasuk mendorong pemanfaatan sediaan obat herbal.

1.1.5. Regulasi dan Kebijakan Pemerintah Terkait Industri Obat Herbal

Pemerintah melalui beberapa kementerian dan lembaga telah memberikan komitmen kuat untuk mendorong pemanfaatan dan pengembangan obat herbal dalam bentuk regulasi dan kebijakan, diantaranya:

1)

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan yang mengamanahkan upaya penyelenggaraan kesehatan melalui pelayanan kesehatan tradisional dengan menggunakan obat tradisional.

2)

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 103 tahun 2014 Tentang Pelayanan Kesehatan Tradisional (Yankestrad) yang memberikan pengertian dan batasan serta mengatur tentang pelayanan kesehatan tradisional.

3)

Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pengembangan Industri Nasional (RIPIN) 2015-2035 di mana industri farmasi (termasuk industri obat herbal) dikategorikan sebagai salah satu industri prioritas di masa depan,

4)

Paket Kebijakan Ekonomi IX yang merupakan stimulus pemerintah untuk mendorong pengembangan industri farmasi termasuk industri obat herbal.

5)

Inpres Nomor 6 tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan, yang diantaranya menugaskan kepada 13 Kementerian untuk meningkatkan daya saing industri farmasi, mendorong penguasaan teknologi dan inovasi dan mempercepat kemandirian bahan baku obat.

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

5
5

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

6) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2017 tentang Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan yang mengatur tentang rencana aksi pengembangan industri farmasi dan alat kesehatan.

Regulasi dan kebijakan di atas, merupakan salah satu bentuk komitmen dan keberpihakan pemerintah dalam upaya mendorong dan mempercepat pertumbuhan, daya saing dan kemandirian industri farmasi nasional, termasuk industri obat herbal.

Dari gambaran di atas, dapat disarikan bahwa selain tantangan teknologi, tantangan yang bersifat non teknologi perlu mendapat perhatian serius dari seluruh pemangku kepentingan. Teknologi merupakan salah satu variabel penting yang perlu diterjemahkan dengan lebih tepat dan sistematis. Selain tepat guna, aplikatif dan layak untuk dimanfaatkan oleh pengguna, pengembangan teknologi obat herbal juga perlu diarahkan pada hal-hal yang solutif dengan berorientasi pada kebutuhan industri dan masyarakat luas. Lingkup teknologi dimaksud adalah dari hulu hingga hilir, dari pengadaan bahan baku, produk antara hingga produk jadi serta teknologi informasi dan pendukung lainnya. Analisis dan prediksi kebutuhan teknologi untuk pengembangan obat herbal ke depan yang dituangkan dalam bentuk Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017:

Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal, penting untuk dilakukan. Dalam outlook ini, informasi, pembahasan dan analisis terkait teknologi pengembangan obat herbal menjadi substansi utama. Baik dari aspek bahan baku, pengembangan produk antara, pengujian dan formulasi sediaan akhir.

1.2. Kerangka dan Alur Pikir

Dalam buku outlook ini, pembahasan dibatasi pada lingkup sediaan obat herbal, tidak termasuk aromaterapi, kosmetika herbal, pangan fungsional, dan fragrans. Yang dimaksud obat herbal adalah suatu produk atau sediaan yang mengandung bahan aktif ekstrak dari bahan alam utamanya tanaman, atau fraksi ekstrak dalam bentuk tunggal atau campuran yang mempunyai klaim khasiat tertentu berdasarkan bukti empirik dan atau data penelitian ilmiah. Industri obat herbal merupakan industri yang memproduksi

6
6

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

bahan baku atau sediaan jadi obat herbal secara kontinyu yang memenuhi persyaratan keamanan, manfaat dan mutu serta layak secara ekonomi. Selain sumberdaya, faktor strategis, kebijakan, dan pasar, faktor teknologi mempunyai peran penting dalam mendorong pertumbuhan industri obat herbal. Beberapa jenis teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas bahan baku obat herbal (simplisia, ekstrak), teknologi untuk memberikan kepastian ilmiah tentang keamanan dan manfaat obat herbal, serta teknologi untuk menghasilkan sediaan obat herbal yang bermutu, efisien dan nyaman dikonsumsi sangat penting untuk dikembangkan. Penerapan jenis teknologi yang tepat dengan dukungan sumberdaya, kebijakan dan akses pasar yang kuat akan meningkatkan daya saing industri herbal nasional dan mendorong perkembangan industri obat herbal dalam negeri serta peningkatan pemanfaatan obat herbal oleh masyarakat. Kerangka dan alur fikir buku outlook ini dituangkan dalam skema alur proses berfikir seperti tertera pada Gambar 1.1 berikut ini.

proses berfikir seperti tertera pada Gambar 1.1 berikut ini. Gambar 1.1 Kerangka dan alur pikir Outlook

Gambar 1.1

Kerangka dan alur pikir Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

7
7

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

1.3. Tujuan

Outlook Teknologi Kesehatan Edisi 2017: Teknologi untuk Industri Bahan Baku dan Obat Herbal disusun dengan tujuan untuk memberikan gambaran, pandangan dan arah riset serta pengembangan teknologi yang diperlukan guna mendukung pemanfaatan dan pengembangan sediaan serta industri obat herbal.

1.4. Ruang Lingkup

1)

Pemetaan potensi industri obat herbal, potensi pasar dalam negeri, pasar ekspor dan potensi pengembangan industri obat herbal

2) Pemetaan dan kajian tentang jenis teknologi yang perlu dikembangkan dan diterapkan (hulu-hilir) dalam rangka meningkatkan daya saing industri obat herbal dan pemanfaatan sediaan obat herbal dalam pelayanan kesehatan formal.

1.5. Metodologi

Metodologi yang digunakan dalam analisis dan penyusunan outlook

1)

Telaah pustaka, dokumen, data dan informasi. Langkah awal penyusunan outlook ini adalah melakukan pengumpulan data dan informasi terkait obat herbal dari berbagai sumber dilanjutkan dengan analisis substansi.

2)

Penyebaran kuesioner Kuesioner yang berisikan pertanyaan dan pilihan jawaban terkait kebutuhan bahan baku, kapasitas produksi, pengembangan produk, kebijakan dan tantangan yang dihadapi, disampaikan kepada pihak industri untuk mendapatkan respon dan jawaban yang selanjutnya dilakukan pengumpulan dan analisis data.

8
8

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

3)

Diskusi kelompok terfokus (Focus Group Discussion) Diskusi terfokus pada aspek kebutuhan bahan baku obat herbal, arah riset dan pengembangan teknologi serta upaya peningkatan daya saing industri obat herbal dilakukan dengan mendapatkan pandangan dan masukan dari para narasumber yang kompeten.

4)

Pandangan dan pendapat para ahli/narasumber Pandangan dan judgement substansi teknologi terkait pengembangan industri obat herbal dari narasumber dilakukan melalui forum diskusi.

5)

Analisis dan perumusan. Melakukan analisis substansi terkait potensi pasar, kebutuhan produk obat herbal, kebutuhan teknologi dan kebijakan terkait dilanjutkan dengan perumusan substansi dalam bentuk narasi utuh dan informatif.

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

9
9

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN
10
10

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

BAB 2 POTRET INDUSTRI OBAT HERBAL

2.1. Prediksi Kebutuhan Bahan Baku dan Obat Herbal

2.1.1. Prediksi Kebutuhan Nasional

Obat merupakan komponen penting dalam sistem pelayanan kesehatan nasional, termasuk sediaan farmasi berbasis tanaman obat (obat herbal). Sejak tahun 2004 dikenal tiga kategori sediaan farmasi berbasis tanaman obat, yaitu jamu, obat herbal terstandar dan fitofarmaka. Seperti halnya dengan kebutuhan obat konvensional, prediksi kebutuhan obat herbal ditentukan oleh 2 faktor utama, yaitu perkembangan demografi dan perkembangan pola penyakit.

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 telah mencapai sekitar 255 juta penduduk (Badan Pusat Statistik, 2013b). Meskipun tingkat kelahiran dan kematian menurun dalam dekade belakangan ini, penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan dengan laju pertumbuhan turun dari 1,38% pada periode 2010-2015 menjadi 0,62% pada periode 2030-2035 (Badan Pusat Statistik, 2013a). Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar di wilayah ASEAN, yaitu 39,9% dari total populasi ASEAN yang berjumlah sekitar 537 juta penduduk. Sedangkan di dunia Indonesia menempati peringkat ke empat setelah Cina, India dan USA. Diperkirakan tahun 2020, jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 271,1 juta jiwa. Pada tahun 2035 penduduk Indonesia diproyeksi menjadi 305,7 juta penduduk penduduk (Badan Pusat Statistik, 2013b). Gambar 2.1 menunjukkan jumlah penduduk Indonesia tahun 2010-2015 dan proyeksi tahun 2020, 2025, 2030 dan 2035. Dengan jumlah penduduk tersebut, di wilayah Asia, Indonesia merupakan pangsa pasar yang besar bagi negara-negara maju/industri baru dengan industri obat herbal yang telah mapan, seperti Cina, India dan Korea.

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

11
11

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN
350 305.7 296.4 284.8 300 271.1 255.5 238.5 250 200 150 100 50 0 Jumlah
350
305.7
296.4
284.8
300
271.1
255.5
238.5
250
200
150
100
50
0
Jumlah Penduduk, Juta

Gambar 2.1

2010

2015

2020

Tahun

2025

2030

2035

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2013a

Jumlah penduduk Indonesia tahun 2010-2015 dan proyeksi tahun 2020, 2025, 2030 dan 2035

Secara demografi, berdasarkan kelompok umur terjadi pergeseran jumlah penduduk seperti tertera pada Gambar 2.2. Jumlah penduduk berusia 15-59 tahun mengalami peningkatan dan menjadi bagian utama dari profil demografi Indonesia beberapa tahun ke depan (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2016). Kelompok usia produktif ini tentu akan mendominasi profil demografi Indonesai selama dua dekade ke depan hingga tahun 2035.

160.0 150.9 140.0 123.0 120.0 102.3 100.0 80.0 68.6 65.7 61.3 60.0 40.0 11.3 14.4
160.0
150.9
140.0
123.0
120.0
102.3
100.0
80.0
68.6
65.7
61.3
60.0
40.0
11.3
14.4
18.1
20.0
-
Jumlah Jiwa, Juta

USIA 0-14 TAHUN

USIA 15-59 TAHUN Kelompok Umur

USIA 60-75 TAHUN

1990 2000 2010
1990
2000
2010

Sumber : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, 2016

Gambar 2.2

12
12

Perubahan jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Sementara itu, terjadi juga pertambahan jumlah penduduk berusia lanjut sejalan dengan meningkatnya angka harapan hidup manusia Indonesia, yaitu 68,1 tahun pada tahun 2000, menjadi 69,6 tahun pada tahun 2010 dan 70,7 tahun pada 2015. Diperkirakan pada tahun 2050 menjadi 77 (Kementerian Kesehatan, 2014). Data tersebut menggambarkan bahwa derajat kesehatan masyarakat Indonesia makin meningkat, seiring dengan perbaikan pelayanan kesehatan dan peningkatan kesejahteraan penduduk. Pada periode tahun 2030-2035 angka harapan hidup penduduk Indonesia diperkirakan 72,2 tahun. Sementara itu penduduk berumur di atas 65 tahun pada 2035 diprediksi mencapai 10,6 % dari jumlah penduduk Indonesia (Badan Pusat Statistik,

2013a).

Dengan besarnya kelompok usia produktif pada profil demografi Indonesia, kebutuhan produk-produk kesehatan akan ditentukan lebih banyak oleh kelompok usia ini. Perubahan gaya hidup pada kelompok usia tersebut, menjadi ciri utama akibat perubahan sosial-ekonomi yang dialami. Perubahan gaya hidup tersebut antara lain berpengaruh pada pola makan dan obesitas, kebiasaan merokok, minum alkohol, aktivitas fisik yang kurang, stres dan pencemaran lingkungan, berpotensi menjadi faktor gangguan kesehatan pada kelompok ini. Gangguan kesehatan tersebut dapat berupa penyakit kronis degeneratif dan sindrom metabolik. Dikenal ada berbagai jenis penyakit degeneratif dan sindrom metabolik, antara lain: penyakit jantung dan pembuluh darah (hipertensi, jantung, stroke), endokrin (diabetes mellitus, thyroid, kekurangan nutrisi, hiperkolesterol), neoplasma (tumor jinak, tumor ganas), osteophorosis, gangguan pencernaan (konstipasi, wasir, kanker usus), dan kegemukan (Suhaema & Masthalina,

2015).

Di bidang kesehatan, seperti halnya dengan negara-negara berkembang lain, Indonesia masih menghadapi permasalahan kesehatan cukup besar. Indonesia dalam beberapa dekade terakhir menghadapi masalah kesehatan triple burden akibat adanya pergeseran epidemiologi. Di satu sisi, penyakit menular (PM) masih menjadi masalah kesehatan ditandai dengan masih sering terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) beberapa penyakit menular tertentu, munculnya kembali beberapa penyakit menular lama (re-

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

13
13

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

emerging diseases), serta munculnya penyakit-penyakit menular baru (new-emerging diseases), seperti Avian Influenza, dan Flu Babi. Di sisi lain, Penyakit Tidak Menular (PTM), seperti stroke, jantung, diabetes, hipertensi, kanker dan penyakit degeneratif atau sindrom metabolik lain, menunjukkan adanya kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu (Pradono, et al., 2005). Sedangkan masalah kesehatan yang ketiga adalah meningkatnya gangguan kesehatan akibat cedera (kecelakaan lalu lintas, kecelakaan kerja, dsb.). Gambar 2.3 berikut ini menunjukkan adanya pergeseran epidemiologi di Indonesia tahun 1990-2015.

Penyakit menular Penyakit tidak menular Cedera 1990 2000 2010 2015 56% 37% 7% 43% 49%
Penyakit menular
Penyakit tidak menular
Cedera
1990
2000
2010
2015
56%
37%
7%
43%
49%
8%
33%
58%
9%
30%
57%
13%

Gambar 2.3

Sumber: disalin dari Menteri Kesehatan, 2015

Pergeseran epidemiologi dari penyakit menular ke penyakit tidak menular serta gangguan kesehatan akibat cedera di Indonesia sepanjang tahun 1990 - 2015

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun 2013, penyakit tidak menular utama dengan prevalensi tinggi adalah hipertensi (25,8%), penyakit sendi/rematik (24,7%), stroke (12,1%), asma (4,5%), penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) (3,7%) diabetes melitus (2,1%) jantung koroner (1,5%) dan kanker (1,4%) (Kementerian Kesehatan, 2013). Selebihnya prevalensi penyakit di bawah angka 1%. Sedangkan penyakut menular utama dengan prevalensi paling tinggi atau mendapat

14
14

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

perhatian adalah HIV/AIDS, tuberculosis, malaria, demam berdarah, influenza dan flu burung:

malaria, demam berdarah, influenza dan flu burung: Sumber : Litbang Kompas dari Kementerian Kesehatan RI, 2013

Sumber : Litbang Kompas dari Kementerian Kesehatan RI, 2013

Gambar 2.4

Sepuluh besar penyakit penyebab kematian di Indonesia

Penyakit sindrom metabolik degeneratif umumya disebabkan oleh banyak faktor dengan etiologi yang kompleks, sehingga tidak dapat disembuhkan dengan obat konvensional, yang umumnya bersifat simptomatik. Selain umumnya bekerja untuk mengatasi gejala , obat untuk kelompok penyakit ini juga harus diminum seumur hidup, sehingga meningkatkan kemungkinan efek samping obat dan masalah terkait obat (drug related problems) lainnya serta meningkatkan biaya pengobatan (Handayani, et al., 2006). Tingkat morbiditas dan kematian tinggi akibat efek obat yang tidak diinginkan (adverse drug reaction), umumnya terjadi pada penyakit dengan penggunaan obat banyak (poli farmasi) dan pada pasien lanjut usia (Koh, et al., 2005). Hal ini mendorong

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

15
15

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

banyak pasien dan kalangan klinis untuk melihat kembali pengobatan tradisional dengan pendekatan holistik untuk menangani penyakit tersebut, salah satunya kembali pada penggunaan obat hebal dan pangan fungsional (Purwaningsih, 2013).

Secara ekonomi hal ini tentu menguntungkan, mengingat belanja kesehatan terbesar umumnya dari komponen obat (Satriabudi, 2005), di mana sebagian besar komponen obat diperoleh melalui impor. Belanja kesehatan rakyat Indonesia, khususnya belanja obat (drug expenditure) pada tahun 2015 adalah sebesar Rp 75 triliun atau 3,45% dari APBN dan pada tahun 2016 menjadi Rp 109 triliun. Pada tahun 2014 belanja kesehatan Indonesia masih berada di bawah Filipina, Malaysia, Thailand dan Singapore. Nilai ini tentu sangat kecil, terutama jika dibandingkan dengan belanja obat negara maju, seperti Jerman yang mencapai 319,7 USD per kapita, Jepang 463,3 USD dan USA 756,2 USD (IMS, 2015).

Kecenderungan penggunaan obat herbal ini sejalan dengan pertumbuhan pasar obat herbal di Indonesia, yang dari tahun ketahun mengalami peningkatan dengan tingkat pertumbuhan sekitar 6,5% pertahun pada periode 2009-2013 (Kementerian Perdagangan, 2014). Gambar 2.5 memperlihatkan pertumbuhan pasar obat herbal di Indonesia sepanjang tahun 2003-2015. Pertumbuhan pasar obat herbal ini semakin meningkat sejak Badan Pengawasan Obat dan Makanan (Badan POM) mengeluarkan peraturan tentang pengelompokkan obat tradisional, serta berbagai regulasi lain terkait misalnya, penelitian dan pengembangan produk obat herbal, produk, pelayanan dan industri obat herbal (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011).

herbal (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011). Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011

Sumber: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2011

Gambar 2.5

16
16

Pertumbuhan pasar obat tradisional Indonesia 2003-2015

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

2.1.2. Prediksi Kebutuhan Global

Perkembangan pasar obat herbal Indonesia pada dasarnya sejalan dengan perkembangan pasar obat dunia yang terus meningkat dari tahun ke tahun, akibat meningkatnya perhatian terhadap peluang pengobatan tradisional dengan pendekatan holistik, untuk mengatasi penyakit sindrom metabolik degeneratif. Pertumbuhan penduduk dunia yang diikuti dengan pertumbuhan ekonomi di berbagai kawasan, serta perubahan gaya hidup yang menyertainya, juga menjadi faktor pendorong pertumbuhan permintaan terhadap produk-produk obat herbal.

Berdasarkan perhitungan PBB, hingga pertengahan tahun 2015 populasi dunia mencapai 7.3 milyar orang (Tabel 2.1), atau telah bertambah sekitar 1 milyar dalam waktu 12 tahun terakhir. Saat ini pertumbuhan populasi dunia mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. Pertumbuhan populasi dunia sepuluh tahun yang lalu sebesar 1,24% per tahun, saat ini tumbuh 1,18% per tahun atau sekitar 83 juta penduduk pertahun. Dengan demikian jumlah penduduk dunia pada tahun 2030 diproyeksikan akan mencapai 8,5 milyar dan terus bertambah menjadi 9,7 milyar pada tahun 2050 dan 11,2 milyar pada tahun 2100. Dari populasi tersebut sebanyak 60% hidup di wilayah Asia (4.4 milyar), 16% di Afrika (1,2 milyar), 10 % di Eropa (738 juta), 9% di Amerika Latin dan Karibia (634 juta) dan sisanya 5% di Amerika Utara (358 juta) dan Oseania (39 juta). Cina (1,4 milyar) dan India (1,3 milyar) merupakan dua negara dengan jumlah penduduk terbesar dengan masing-masing 19% dan 18% populasi dunia (United Nation, 2015).

Tabel 2.1

Jumlah penduduk dunia dan beberapa wilayah utama pada tahun 2015, serta proyeksi pada tahun 2030, 2050, dan 2100

 

Jumlah Penduduk (juta)

 
 

Wilayah

2015

2030

2050

2100

Dunia

7.349

8.501

9.725

11.213

Afrika

1.186

1.679

2.478

4.387

Asia

4.393

4.923

5.267

4.889

Eropa

738

734

707

646

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN
 

Jumlah Penduduk (juta)

 

Wilayah

2015

2030

2050

2100

Amerika Latin dan Wilayah Karibia

634

721

784

721

Amerika Utara

358

396

433

500

Oceania

39

47

57

71

Sumber : United Nation, 2015

Pada tahun 2015, 50,4% dari populasi dunia adalah pria dan sisanya 49,6% perempuan (Gambar 2.6). Rata-rata usia populasi dunia adalah 29,6 tahun. Sekitar seperempat (26 persen) penduduk dunia berusia di bawah 15 tahun, 62% berusia 15-59 tahun dan 12% berusia 60 tahun atau lebih (United Nation, 2015). Hal ini menunjukkan bahwa hingga dua dekade ke depan populasi dunia juga akan didominasi oleh usia produktif dengan konsentrasi pada negara-negara di kawasan Asia, yang memiliki populasi tertinggi.

age
age

Gambar 2.6

18
18

percentage

Sumber : United Nation, 2015

Distribusi populasi dunia pada tahun 2015 berdasarkan umur dan jenis kelamin

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Meningkatnya permintaan terhadap obat herbal dan suplemen makanan didorong oleh meningkatnya penyakit sindrom metabolik degeneratif, terutama di negara yang secara ekonomi maju dan berkembang (Global Industry Analysts Inc., 2015). Penyakit ini umumnya disebabkan perubahan gaya hidup dari kelompok usia produktif, yang mengalami peningkatan status sosial-ekonomi dan perubahan kualitas lingkungan di wilayah industri dan sentra ekonomi. Selain itu, peningkatan permintaan terhadap obat herbal juga dipacu akibat oleh meningkatnya mortalitas dan morbiditas akibat efek samping obat, yang harus dikonsumsi dalam jangka waktu lama atau akibat tidak adanya pilihan lain.

Menurut Global Industry Analyst, pasar global obat herbal dan suplemen herbal pada tahun 2014 sebesar USD 107 milyar, dan diperkirakan mencapai USD 115 milyar pada tahun 2020 (Gambar 2.7), didorong oleh pertumbuhan populasi usia lansia dan peningkatan perhatian konsumen tentang kesehatan dan kebugaran (Global Industry Analysts Inc., 2015). Selain itu fakta bahwa obat herbal dan suplemen herbal memiliki sedikit atau tanpa efek samping dan memberikan khasiat yang lebih baik juga merupakan faktor utama yang berpengaruh terhadap peningkatan petumbuhan pasar.

Pasar global obat herbal dan suplemen herbal menunjukkan pertumbuhan tinggi selama dekade terakhir, dengan sedikit atau tanpa penurunan signifikan meskipun ada resesi ekonomi saat ini terutama di negara-negara industri maju. Faktor pendukung pertumbuhan pasar meliputi penerimaan luas oleh konsumen, meningkatnya kepercayaan konsumen terhadap obat herbal dalam kesehatan preventif dan kedokteran alternatif, inovasi oleh industri dan diterbitkanya ketentuan Good Manufacturing Practises (GMP) untuk industri obat herbal (Robinson & Zhang, 2011). Pasar global, kenyataannya, memperlihatkan pertumbuhan yang konstan selama krisis 2008-2009 dan setelahnya. Konsumen sangat memperhatikan diet yang sehat dan gaya hidup yang baik, yang tidak mengalami perubahan bahkan oleh krisis finansial yang dialami di seluruh dunia hampir di semua sektor. Pada kenyataannya resesi telah mendorong kecenderungan pada obat herbal dan suplemen makanan akibat harga barang yang meningkat, biaya kesehatan yang tinggi) (Mast, 2009).

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

19
19

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN
OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN Gambar 2.7 Sumber : Global Industry Analysts Inc., 2015 Pertumbuhan pasar obat tradisional

Gambar 2.7

Sumber : Global Industry Analysts Inc., 2015

Pertumbuhan pasar obat tradisional global 2013 -2020

Saat ini pasar suplemen herbal bervariasi antar wilayah berdasarkan beberapa faktor, seperti kesadaran konsumen, ketersediaan produk dan bentuk sediaan, penerimaan produk dan regulasi. Di wilayah Amerika dan Eropa, obat herbal memperlihatkan pangsa pasar terbesar dan menjadi bagian dari praktek kedokteran, sementara wilayah Asia mengalami pertumbuhan tercepat (United Nation, 2015). Di beberapa negara kawasan Uni Eropa, seperti Perancis, Jerman, dan Inggris, meskipun obat herbal dijual di toko obat bersama produk obat, produksi dan pasar obat herbal sangat diregulasi secara ketat dan sangat sulit dimasuki (Wah, et al., 2012; Peschel,

2007).

Eropa merupakan wilayah terluas untuk suplemen herbal dan obat herbal, seperti dikatakan oleh laporan riset pasar Suplemen Herbal dan Obat Herbal dan merupakan pangsa terbesar pasar dunia. Wilayah Asia Pasifik dan Jepang merupakan pasar penting lain untuk suplemen herbal. Jika melihat tingkat pertumbuhan, pasar Asia-Pasifik, didominasi oleh Cina dan India dengan Compound Annual Growth Rate (CAGR) 10,5% hingga 2017. Jika melihat segmen produk, multi-herbs mendominasi sebagai segmen terbesar, menguasai secara signifikan pangsa pasar keseluruhan pasar suplemen herbal dan obat hebal dunia. Segmen ini juga diperkirakan akan menyusul kedepan pasar produk lainnya pada tingkat pertumbuhan sekitar 9,15% selama periode analisis (Global Industry Analysts Inc., 2015). Kaum perempuan, khususnya pada usia matang, merupakan konsumen utama yang memiliki kesadaran akan kesehatan, peningkatan perhatian pada diet dan kesehatan preventif. Beberapa tahun belakangan ini, suplemen

20
20

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

herbal telah muncul di pasaran dalam berbagai bentuk untuk mengatasi masalah seperti menopause, insomnia dan hot flashes. Generasi baby boomers merupakan kelompok konsumen utama lainnya untuk suplemen herbal dan obat herbal (Wendy & Tony, 2009).

2.2. Potret Industri Obat Herbal Nasional

Dibandingkan jenis industri farmasi sintetik dan bioteknologi, industri obat herbal di Indonesia tergolong industri dengan struktur industri yang kuat. Industri ini secara kualitatif didukung oleh kelimpahan tumbuhan obat yang menjadi bagian dari karagaman hayati Indonesia, yang berjumlah sekitar 30.000 jenis tumbuhan. Diperkirakan terdapat sekitar 9.600 jenis tumbuhan dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat yang terdapat di wilayah ini, dan sekitar 300 jenis diantaranya telah dikenal, baik digunakan secara turun temurun sebagai komponen obat tradisional Indonesia, Jamu, maupun sebagai bahan obat herbal oleh industri jamu (Kementerian Kesehatan, 2007). Penggunaan tradisional ini bersumber dari sekitar 1.300 suku dengan keragaman pengetahuan kesehatan tradisionalnya. Hingga saat ini beredar ribuan jenis jamu yang diproduksi, baik oleh industri besar maupun UKM jamu, yang menjadi bagian dari budaya minum jamu masyarakat Indonesia, baik untuk menjaga kesehatan maupun mengatasi gangguan penyakit.

Hingga tahun 2016 tercatat sebanyak 1.247 Industri Obat Herbal, terdiri dari 93 Industri Obat Tradisional (IOT) dan selebihnya adalah Usaha Menengah Obat Tradisional (UMOT) dan Usaha Kecil Obat Tradisional (UKOT), termasuk Industri Rumah Tangga, seperti ditunjukkan Gambar 2.8.

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

21
21

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN
OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN Gambar 2.8 Sumber : Presentasi Kemkes pada FGD Teknologi Obat Herbal, BPPT 2017

Gambar 2.8

Sumber : Presentasi Kemkes pada FGD Teknologi Obat Herbal, BPPT 2017

Jumlah industri farmasi, industri obat tradisional (IOT) dan industri ekstrak bahan alam (IEBA)

Organisasi yang menghimpun para pelaku bisnis di bidang ini, yaitu Gabungan Pengusaha Jamu (GP Jamu). Organisasi perhimpunan tersebut didirikan pada tahun 1988 dan merupakan induk 2 (dua) organisasi sejenis yang sudah ada sebelumnya, yaitu antara Gabungan Perusahaan Jamu Indonesia (GPJI), yang berpusat di Semarang, dan Gabungan Pengusaha Obat Tradisional Indonesia (GAPOTRIN), yang berpusat di Jakarta. Sesuai SK Menteri Kesehatan Nomor 643/Menkes/VII/1993, GP Jamu diakui Pemerintah sebagai satu-satunya asosiasi bagi pengusaha jamu dan obat tradisional Indonesia dan merupakan wadah bagi produsen (yaitu industri jamu besar dan kecil, usaha jamu racikan dan usaha jamu gendong), penyalur dan pengecer, termasuk usaha di bidang simplisia. Sebanyak, 129 IOT dan 621 UKOT telah dibina oleh Gabungan Perusahaan (GP) Jamu di 15 Provinsi yaitu: Nangroe Aceh Darussalam, Sumatra Utara, Jambi, DKI Jaya, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, NTB, Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Bali dan Lampung (Kementerian Kesehatan, 2007).

Khusus mengenai obat alami Indonesia, pemerintah melalui Surat Keputusan Kepala Badan POM Nomor: HK.00.05.4.2411 menerapkan kebijakan pengelompokan obat alami berdasarkan cara pembuatan, jenis klaim penggunaan dan tingkat pembuktian khasiat. Obat alami terbagi dalam 3 kelompok; (1) Jamu, dimana klaim khasiat

22
22

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

berdasarkan data empiris, (2) Obat Herbal Terstandar (OHT), produk berbasis ekstrak terstandar dengan klaim khasiat berdasarkan uji praklinik pada hewan dan (3) Fitofarmaka, produk berbasis ekstrak terstandar dengan klaim khasiat berdasarkan uji klinik. Kebijakan ini untuk mendorong perkembangan obat bahan alam, yang meliputi peningkatan mutu, keamanan, penemuan indikasi baru dan formulasi. Hingga saat ini telah diproduksi dan mendapat ijin edar 48 OHT dan 8 produk fitofarmaka. Produk fitofarmaka yang ada saat ini adalah; (1) Nodiar, produk dari PT. Kimia Farma (Persero) Tbk, (2) Rheumaneer, produk dari PT. Nyonya Meneer, (3) Stimuno, (4) Inlacin, (5) Livitens, dan (6) Resindex produk dari PT Dexa Medica, (7) Tensigard Agromed dan, (8) X-gra, produk dari PT. Phapos (Persero) Tbk.

Untuk menjamin mutu obat yang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, pemerintah juga telah menerbitkan Farmakope Herbal Indonesia (FHI) pada tahun 2010, melengkapi buku jaminan mutu obat alami telah diterbitkan Materia Medika Indonesia (MMI) sebagai standar mutu bahan baku simplisia, dan Monografi Ekstrak untuk mutu esktrak. Selain itu juga telah diterbitkan petunjuk Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Badan POM sebagai lembaga pembina dan pengawasan, yang dibentuk pada tahun 2001, berfungsi diantaranya melakukan pengaturan, regulasi dan standardisasi, pemberian lisensi dan sertifikasi industri farmasi, evaluasi produk-produk

farmasi dan post marketing surveillance.

Pemerintah melalui Badan POM sangat mendorong industri jamu untuk melaksanakan produksi obat alami dengan cara yang baik dan menerapkan registrasi, penilaian, pengawasan dalam peredaran produk-produk obat alami, serta menetapkan standar mutu bahan baku seperti tercantum pada Materia Medika Indonesia dan Farmakope Herbal Indonesia. Selain itu pemerintah juga telah melakukan konservasi terhadap tanaman obat yang banyak digunakan oleh masyarakat dan industri jamu, dan mendokumentasikan resep-resep pengobatan yang sering digunakan.

Pasar produk herbal dalam negeri terus menunjukkan peningkatan. Pada tahun 2007 pasar produk herbal dalam negeri sekitar Rp 6 triliun, meningkat menjadi Rp 10

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

23
23

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

triliun pada tahun 2010 dan Rp 13 triliun pada tahun 2012. Pertumbuhan pasar dalam negeri sekitar 7 % per tahun. Pada tahun 2013 pasar produk herbal mencapai Rp 14 triliun, sekitar sepertiga pasar farmasi nasional dan meningkat menjadi sekitar Rp 15 triliun pada tahun 2015 (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2016).

2015 (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2016). Sumber : Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2016

Sumber : Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2016

Gambar 2.9

Pertumbuhan pasar produk obat herbal nasional tahun 2003-2015

Pertumbuhan pasar obat herbal tersebut juga diikuti dengan peningkatan kebutuhan BBOT berupa simpisia tanaman obat. Selain untuk kebutuhan dalam negeri, produksi BBOT simplisia juga dibutuhkan untuk tujuan ekspor, yang nilainya berfluktuasi setiap tahun. Tabel 2.2 menunjukkan perkiraan kebutuhan tanaman obat dalam negeri.

Tabel 2.2

Perkiraan kebutuhan tanaman obat dalam negeri tahun 2014-2019 (dalam ton)

 

Tahun

 

Pasar

2014

2015

2016

2017

2018

2019

Nasional

566.693

593.314

621.375

650.967

682.188

715.144

Tradisional

170.008

117.994

186.413

195.290

204.656

214.543

Industri

396.685

415.320

434.963

455.677

477.532

500.601

Ekspor*

29.841

32.826

36.108

39.719

43.691

48.060

Impor**

6.842

6.500

6.175

5.866

5.573

5.294

* Asumsi presentase kenaikan sebesar 10% per tahun dari angka tetap BPJS diolah Ditjen Holtikultura 2013 ** Asumsi presentase kenaikan sebesar 5% per tahun dari angka tetap BPJS diolah Ditjen Holtikultura 2013

24
24

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Bahan baku obat tradisional (BBOT) tersedia secara melimpah dari keragaman hayati Indonesia. Namun demikian, akibat pola tanaman dan industrialisasi tanaman obat yang belum mapan, Indonesia kadang mengimpor bahan tanaman obat dari negara- negara di kawasan Asia, terutama Cina dan India. Impor BBOT dilakukan untuk tanaman obat yang sebenarnya tersedia secara melimpah di Indonesia, seperti jahe, temulawak, kunyit, akibat terjadinya kelangkaan (United Nation, 2015). Selain impor BBOT simplisia, Industri obat herbal juga melakukan import untuk ekstrak tanaman obat yang tidak tersedia di dalam negeri, seperti ekstrak Gingko biloba (Gambar 2.10).

dalam negeri, seperti ekstrak Gingko biloba (Gambar 2.10). Sumber : Novianti, 2017 Gambar 2.10 Perkembangan impor

Sumber : Novianti, 2017

Gambar 2.10 Perkembangan impor bahan obat dalam juta USD dengan dominasi bahan alam sebesar 55%.

Sementara itu, Indonesia juga termasuk negara pengekspor bahan tanaman obat dunia, khususnya ke negara dikawasan Asia (Gambar 2.11). Dari data Kementerian Perdagangan, tanaman obat, minyak atsiri dan rempah-rempah merupakan 3 dari 10 produk potensial ekspor yang perlu dikembangkan, karena memiliki potensi pasar yang cukup menjanjikan baik pasar lokal maupun global. Nilai ekspor tanaman obat Indonesia

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

25
25

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

tahun 2013 mencapai USD 23,4 juta, dengan pertumbuhan 6,5% pertahun (Kementerian Perdagangan, 2014).

pertumbuhan 6,5% pertahun (Kementerian Perdagangan, 2014). Sumber : Kementerian Perdagangan 2014 Gambar 2.11
pertumbuhan 6,5% pertahun (Kementerian Perdagangan, 2014). Sumber : Kementerian Perdagangan 2014 Gambar 2.11

Sumber : Kementerian Perdagangan 2014

Gambar 2.11 Perkembangan ekspor obat tradisional dalam juta USD

Adapun negara tujuan ekspor tanaman obat meliputi hampir seluruh wilayah di dunia, dengan nilai terbesar pada negara-negara di kawasan Asia. Perlu dilakukan penelitian apakah impor dari Indonesia oleh beberapa negara di Asia, juga digunakan untuk ekspor ke negara lain, seperti yang dilakukan oleh Singapura (Lange, 2006). Beberapa negara tujuan ekspor tanaman obat indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.12.

tanaman obat indonesia dapat dilihat pada Gambar 2.12. Gambar 2.12 Negara tujuan ekspor tanaman obat 26

Gambar 2.12 Negara tujuan ekspor tanaman obat

26
26

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Kinerja perdagangan tanaman obat dalam bentuk ekspor dan impor tanaman obat tahun 2010-2014 sangat fluktuatif. Pertumbuhan ekspor meningkat sekitar 31,2% dengan ekspor tertinggi pada tahun 2014 mencapai nilai 58,7 juta dolar, sekitar 150,5% lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Namun demikian, neraca perdagangan negatif terjadi pada tahun 2011 dan 2012, dimana jumlah impor lebih tinggi dibandingkan ekspor. Impor tanaman obat tertinggi terjadi pada tahun 2012 yang mengakibatkan defisit sebesar 9,5 juta dolar (Lange, 2006).

mengakibatkan defisit sebesar 9,5 juta dolar (Lange, 2006). Sumber : Simanungkalit, 2015 Gambar 2.13 Kinerja perdagangan

Sumber : Simanungkalit, 2015

Gambar 2.13 Kinerja perdagangan tanaman obat tahun 2010-2015

Adanya impor dan ekspor BBOT simplisia dengan nilai yang cukup besar dapat disebabkan oleh pola niaga yang kurang baik dan belum mantapnya industri tanaman obat dan simplisia, yang menyediakan bahan tanaman segar. Hingga saat ini belum terdapat industri tanaman obat dan industri simplisia, yang menyediakan BBOT dalam jumlah besar dan kualitas seragam. Umumnya BBOT segar dan simplisia hanya diproduksi dalam skala kecil oleh UKM simplisia atau dikumpulkan dari tumbuhan liar oleh petani tanaman obat. Selanjutnya bahan itu dikumpulkan oleh para pengepul, yang akan menyalurkannya untuk kebutuhan industri obat herbal. Rantai distribusi ini menyebabkan harga tanaman obat di tingkat petani selalu murah, sehingga umumnya petani tidak tertarik untuk melakukan budidaya tanaman obat dibandingkan tanaman pangan atau hortikultura lainnya, yang lebih memberikan keuntungan. Pola niaga seperti

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

27
27

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

ini juga kadang menyebabkan terjadinya ekspor lebih diutamakan dan pada gilirannya terjadi kelangkaan stok simplisia tanaman obat di dalam negeri.

Selain industri jamu, yang telah berkembang lebih dari seratus tahun, saat ini juga telah berkembang industri antara yang menyediakan BBOT ekstrak, yaitu Industri Ekstrak Bahan Alam (IEBA). Meskipun jenis industri ini sudah lama, namun baru diregulasi pada tahun 2012 oleh Kementerian Kesehatan. Dengan semakin banyaknya produk-produk obat herbal berbasis ekstrak, maka kebutuhan akan BBOT ekstrak semakin meningkat dari tahun ke tahun. Karena merupakan industri bahan baku, IEBA juga dipersyaratkan memenuhi ketentuan CPOTB. Hingga saat ini di Indonesia telah berdiri 11 IEBA yang menyediakan berbagai macam ekstrak.

Kementerian Kesehatan telah menyusun Peta Jalan Pengembangan BBOT pada tahun 2013. Selain itu Kemenkes juga telah menentukan target Bahan Baku Obat Tradisional yang harus dikembangkan hingga tahun 2025 dalam Rencana Aksi Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan (Permenkes No.17 tahun 2017). Target ini mengakomodir masukan dari GP Farmasi dan GP Jamu.

Tabel 2.3

Target Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT) yang harus dikembangkan hingga 2025

Tahun 2016-2018

Tahun 2019-2021

Tahun 2022-2025

1. Dehidro-di-Isoeugenol (Ekstrak biji pala)

2. Curcuma xanthorriza

3. Curcuma domestica

4. Gingerol

5. Phylantin (ekstrak daun meniran)

6. Piperin

7. Steviosid

8. Xanthorhizol

9.

10. Ekstrak sambung nyawa

11. Ekstrak temulawak

Zederone

1. Glucosamin

2. Omega-3

3. Resveratrol (anti oksidan alami)

4. Vinca alkaloid derivates

5. Isolat gandarusa

6. Isolat alga coklat

7. Isolat mikroba simbion karang laut (antibiotik)

8. Isolat Guazuma longifolia

9.

10. Green Chiretta

11. Aspergillus niger

Geraniol

1. Andrographolide (anti malaria)

2. Etil-p-metoksi Sinamat

3. Ekstrak cacing tanah (thrombolisis)

4. Vinca rosea

5. Piper longum

6. Polygonum cuspidatum

7. Stevia rebaudiana

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Tahun 2016-2018

Tahun 2019-2021

Tahun 2022-2025

12. Ekstrak seledri (antihipertensi)

13. Ekstrak kumis kucing

14. Palm sugar

15. Ekstrak Cinnamomum burmanii

16. Ekstrak Trigonella foenum- graceum

17. Ekstrak Centella asiatica

18. Ekstrak Phaleria macrocarpa

19. Ekstrak Lumbricus rubellus

20. Ekstrak Zingiber officinale

21. Ekstrak Lagerstromia speciosa

22. Kaempferia galanga

12. Aspergillus niger

13. Marine algae

14. Amilum pharma-grade

Sumber : Kementerian Kesehatan, 2017

Dari keseluruhan jenis industri obat herbal, IEBA dan IOT membutuhkan kandungan teknologi yang cukup tinggi dan modal yang cukup besar. Teknologi yang dibutuhkan meliputi persyaratan ruangan produksi, peralatan produksi dan pengemasan serta peralatan untuk jaminan mutu produk. Investasi yang cukup besar diperlukan untuk peralatan produksi ekstrak kental hingga ekstrak kering dan peralatan untuk pembuatan sediaan akhir. Sebagian besar peralatan ini merupakan peralatan impor. Indonesia sendiri belum mengembangkan kemampuan rancang bangun peralatan, seperti yang dilakukan oleh Cina. Sedangkan untuk industri BBOT tanaman dan simplisia, hanya diperlukan teknologi sederhana dan teknologi madya, yang tidak memerlukan investasi besar. Sebagian peralatan ini juga tersedia di dalam negeri, namun dengan mutu yang masih kalah bersaing dengan peralatan budidaya dan pengolahan pascapanen dari luar negeri. Hal ini membentuk postur industri obat herbal nasional sangat tidak proposional antara skala usaha dengan aspek permodalan, teknologi dan penguasaan pasar, seperti yang terlihat pada Gambar 2.14. Jumlah industri obat herbal dalam negeri terlihat seperti

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

29
29

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

piramida bila diurutkan dari industri besar ke industri kecil, namun bila dilihat dari kemampuan penguasaan pasar, permodalan dan penguasaan teknologi akan terlihat seperti piramida terbalik.

teknologi akan terlihat seperti piramida terbalik. Gambar 2.14 Postur industri obat herbal dalam negeri dilihat

Gambar 2.14 Postur industri obat herbal dalam negeri dilihat dari sisi jumlah menurut skala usaha/golongan industri, penguasaan pasar, modal dan teknologi.

Proyeksi selama dua dekade ke depan hingga 2035 tentang perkembangan pasar dan peningkatan permintaan obat herbal perlu dilakukan untuk kebutuhan pengembangan industri obat herbal nasional dan peningkatan daya saing produk obat herbal dari hulu ke hilir, sepanjang rantai peningkatan nilai tambah produk-produk berbasis tanaman obat. Sejalan dengan perkembangan jumlah penduduk, peningkatan status sosial-ekonomi masyarakat dan perkembangan pola penyakit dan gangguan kesehatan yang menyertainya, arah pengembangan difokuskan pada pada penanggulangan penyakit sindrom metabolik degeneratif dan keganasan, serta kebutuhan akan kehidupan yang sehat secara alami, khususnya ditujukan pada segmen pasar kelompok usia produktif.

Selain tantangan teknologi produksi seperti dijelaskan di atas, pasar obat herbal nasional juga menghadapi tantangan persaingan dengan masuknya produk-produk obat herbal dari luar negeri, sejalan dengan semakin meningkatnya pertumbuhan industri obat herbal di kawasan Asia dan global, serta diterapkannya kawasan perdagangan bebas di masa mendatang. Selain tuntutan jaminan mutu, keamanan dan khasiat, kebutuhan akan

30
30

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

riset untuk inovasi produk-produk baru dari sumber daya hayati tanaman obat dan inovasi dalam formulasi, sangat dibutuhkan dalam meningkatkan daya saing produk obat herbal nasional.

Fakta bahwa banyak tanaman obat yang diperdagangkan masih diperoleh dari sumber-sumber tumbuhan liar dan belum dibudidayakan, tentu akan menjadi kendala bagi keberlangsungan ketersediaan jenis tanaman obat tersebut di alam. Kepunahan atau penurunan keragaman hayati tanaman obat juga diperparah oleh penurunan kualitas dan rusaknya hutan oleh kegiatam ekonomi, sepeti pembukaan hutan industri, lahan tambang dan kebakaran hutan. Untuk itu diperlukan teknologi inventarisasi dan konservasi, baik ex situ maupun in situ.

Mengacu pada data tersebut, diperlukan upaya-upaya iptek yang lebih serius yang meliputi peningkatan aktivitas riset dan kemampuan rancang bangun peralatan produksi dalam mengembangkan aneka produk dari tanaman obat, sehingga peningkatan nilai tambah dan ekspor bisa dilakukan, sekaligus mengurangi jumlah impor tanaman obat dan produk olahan dari tanaman obat lainnya.

2.3. Potret Industri Obat Herbal Global

2.3.1. Industri Obat Herbal

Kemunculan industri obat herbal modern di dunia merupakan kelanjutan penggunaan tanaman obat selama ratusan tahun oleh beragam etnis dan kebudayaan di berbagai belahan dunia. Berbagai sistem pengobatan yang sudah terkenal di dunia, antara lain Traditional Chinese Medicine (TCM) di Cina, Ajuverda di India, Kampo di Jepang dan Jamu di Indonesia. Berbagai sistem lain juga dikenal, seperti sistem pengobatan Yunani-Romawi di Eropa, sistem pengobatan Mesir kuno di Afrika, sistem pengobatan Islam di dunia Arab, dan sistem pengobatan suku Indian di benua Amerika (Bannerman, et al., 1983).

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

31
31

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Organisasi Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) menggunakan beberapa istilah untuk produk-produk berbasis tanaman obat, yaitu; (1) Herbs, bahan tanaman obat, seperti daun, bunga, buah, biji, ranting, kayu, kulit kayu, akar, rimpang dan bagian tanaman lain, yang bisa dalam bentuk utuh, sebagian atau berupa serbuk. (2) Herbal materials, bentuk turunan lain, seperti juice, gum, minyak, minyak atsiri, resin dan serbuk tanaman obat. Di beberapa negara bahan-bahan ini diproses lebih lanjut dengan cara tradisional. (3) Herbal preparations, merupakan bahan baku produk herbal dan dapat diproduksi dengan cara ekstraksi, fraksinasi, purifikasi, proses fisik atau biologis. (4) Finished herbal products, sediaan herbal yang dibuat dari satu atau lebih bahan tanaman obat dan dapat mengandung bahan tambahan (eksipien).

Beberapa negara menggunakan istilah yang berbeda untuk produk obat herbal

modern (finished herbal products), seperti herbal medicine, phytomedicine, phytopharmaceutical, botanical dan phytopharmaca. Demikian pula dengan regulasi

terhadap produk berbasis tanaman obat. Di banyak negara Uni Eropa, mengikuti Jerman, obat herbal diperlakukan hampir sama dengan obat konvesional dan digunakan oleh kalangan medis. Harmonisasi regulasi diantara negara anggota Uni Eropa dilakukan dengan membentuk Herbal Medicine Product Committee (HMPC) yang mengeluarkan berbagai panduan dan peraturan dalam produksi dan mutu obat herbal. Demikian juga dengan Cina dan India, obat herbal menjadi bagian dalam sistem pelayanan kesehatan nasional melalui skema pengobatan alternatif dan komplemen (complementary and alternative medicine). Sedangkan di Amerika, produk berbasis tanaman obat diregulasi sebagai pangan kesehatan/pangan fungsional. Afrika terkait dengan regulasi obat herbal, masih belum berkembang, masih terfokus pada penggunaan secara tradisional (Wah, et al., 2012; Scholz, 2015).

Sejalan dengan perkembangan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dan proses industrialisasi, industri herbal di Eropa, khususnya di Jerman, telah lama berkembang dan menghasilkan sediaan obat herbal berbahan dasar ekstrak tanaman, berikut industri bahan baku (industri simplisia dan industri ekstrak). Langkah ini diikuti oleh Amerika, Cina, India dan Jepang. Pada negara tersebut telah berkembang

32
32

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

industri yang memproduksi tanaman obat melalui budidaya dengan teknologi modern, industri simplisia dan ekstrak tanaman obat sudah berkembang, berikut rancang bangun peralatannya.

Sejalan dengan regulasi produk herbal oleh otoritas kesehatan di masing-masing negara, khususnya di Eropa dan Amerika Utara, industri obat herbal di kedua wilayah ini telah menerapkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menghasilkan bahan baku dan produk akhir yang memenuhi berbagai persyaratan mutu produk dan jaminan aspek keamanan dan manfaat dalam penggunaan (Wah, et al., 2012).

2.3.2. Industri Bahan Baku Obat Tradisional (BBOT)

Sebagai industri pendukung dari industri obat herbal akhir (sediaan obat herbal), dibutuhkan industri BBOT tanaman obat, industri BBOT Simplisia dan industri BBOT Ekstrak. Pada negara maju seperti di beberapa negara anggota Uni Eropa, Amerika dan Cina, produksi BBOT telah dilakukan dalam skala besar menggunakan teknologi canggih. Hal ini didukung dengan industri peralatan proses untuk menghasilkan BBOT tersebut.

Industri bahan baku ekstrak merupakan industri antara yang telah berkembang dengan menghasilkan produk-produk ekstrak terstandar dengan perlindungan paten. Meskipun jumlahnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan jumlah bahan baku obat konvensional berbasis senyawa kimia murni, industri ekstrak telah mampu memberikan nilai tambah yang sangat tinggi bagi produk akhir dan mendorong penggunaan yang rasional dan diakui dalam sistem pelayanan kesehatan formal di beberapa negara.

Beberapa negara maju di kawasan Eropa dan Amerika telah lama mengembangkan produk obat herbal modern, dikenal di Jerman sebagai fitofarmaka. Produk ini mengandung tanaman obat, yang secara tradisional digunakan selama ratusan tahun, seperti Echinacea spp, Allium sativum (Garlic), Panax spp. (Ginseng),

Hipericum perforatum (St. John s Wort), Valeriana officinalis (Valerian), Ginkgo biloba

(Ginkgo), Serenoa repens (Saw Palmetto), Cimicifuga racemosa (Black Cohosh) dan

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

33
33

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Viscum album (Mistletoe) (Tyler, 1996). Meskipun tiap negara menerapkan regulasi yang berbeda terhadap produk ini, baik digolongkan sebagai suplemen makanan (dietary supplement) maupun sebagai produk obat herbal (herbal medicine) yang dapat dituliskan dalam resep, uji terhadap keamanan dan klaim khasiat merupakan syarat penting (Wah, et al., 2012; Israelsen & Barret, 2004). Untuk memperoleh status sebagai obat, produsen obat herbal harus mengajukan dokumen aplikasi obat baru/new drug application (NDA), yang menyertakan bukti keamanan dan khasiat melalui studi farmakologi yang lengkap, mulai dari uji in vitro, in vivo pada hewan dan uji klinik acak tersamar ganda (randomized double blind) pada manusia (Barret, 2004). Salah satu faktor penting adalah bahwa bahan esktrak tanaman yang digunakan dalam studi farmakologi tersebut merupakan produk yang unik (special extract) dan dilindungi oleh paten, seperti pada produk ekstrak EGb 761® dari daun tanaman Ginkgo biloba. Produk ini dipasarkan di Eropa dengan nama Tanakan®, Rökan® dan Tebonin® forte. Ekstrak spesial G. biloba ini telah banyak diuji dalam berbagai studi (Ernst & Stevinson, 1999; Gertz & Kiefer, 2004). Tanpa esktrak yang dilindungi oleh paten, para produsen obat herbal tidak akan melakukan investasi bagi studi farmakologi yang dibutuhkan untuk aplikasi obat baru. Dengan dukungan data fitokimia, uji praklinik dan klinik terhadap ekstrak terstandar tersebut, telah dihasilkan berbagai produk obat herbal, baik tunggal maupun campuran. Hal ini meningkatkan pasar produk herbal dunia dari tahun ke tahun.

Industri ekstrak tentu didukung oleh industri BBOT simplisia dan tanaman obat. Umumnya di banyak negara, kedua jenis BBOT tersebut diperoleh dari berbagai sumber, sehingga tidak menjamin keseragaman kualitas, khususnya kandungan fitokimia senyawa bioaktif yang bertanggung jawab terhadap aktifitas ekstrak. Pada negara- negara maju telah diterapkan produksi masal dengan pendekatan budidaya monoclonal untuk menjamin keseragaman bahan baku simplisia.

34
34

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

BAB 3 PENGEMBANGAN POTENSI SUMBER DAYA TUMBUHAN OBAT

Sebagian produk farmasi modern dikembangkan dari tanaman obat yang telah diketahui khasiatnya oleh masyarakat lokal atau berdasarkan pengetahuan empiris yang telah diturunkan secara turun temurun selama beberapa generasi. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati kedua terbesar di dunia setelah Brazil dan ditunjukkan dengan keanekaragaman tumbuhan obat yang endemik. Selain itu, Indonesia juga kaya akan kearifan lokal termasuk pengobatan traditional. Potensi besar yang dimiliki Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal sehingga perlu dukungan teknologi untuk memanfaatkan sumber daya alam secara optimal bagi kepentingan umat manusia. Namun pemanfaatan sumber daya alam juga harus memperhatikan aspek konservasi agar sumber daya alam tidak punah. Walaupun sumber daya alam dan kearifan lokal telah digunakan untuk pengembangan produk farmasi, namun hingga saat ini keuntungan, terutama keuntungan ekonomis, hanya dirasakan oleh perusahaan farmasi, sementara masyarakat lokal sebagai pengumpul/petani/pemilik sumber daya alam dan kearifan lokal belum memperoleh pengakuan maupun kompensasi yang seharusnya.

3.1. Kearifan Lokal

Peranan pengetahuan lokal dapat memberikan informasi tentang tumbuhan obat untuk mengobati penyakit serta penelusuran adanya hubungan antara komponen bioaktif yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut. Pengetahuan lokal ini sangat beragam karena Indonesia mempunyai sekitar 370 etnis yang bermukim tersebar di seluruh kawasan hutan/kepulauan Indonesia yang luasnya 119,7 juta hektar. Saat ini baru ditemukan sekitar 1.300 jenis tumbuhan obat yang pemanfaatannya sesuai/mengikuti pengetahuan lokal dari masing-masing etnis (Sangat, 2006).

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

35
35

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

World Health Organization (WHO) mendorong penggunaan dan pengembangan pengobatan tradisional sebagai sarana kesehatan yang mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau untuk seluruh masyarakat. Walaupun khasiat farmakologis dari beberapa komponen obat tradisional telah tercatat, tetapi catatan terkait efektivitas jamu belum terdokumentasi dengan baik (Elfahmi, et al., 2014).

Jamu adalah obat tradisional Indonesia yang telah digunakan selama berabad- abad secara turun temurun oleh masyarakat Indonesia untuk menjaga kesehatan dan mengobati berbagai penyakit. Meskipun penggunaan obat modern semakin meningkat di Indonesia, tetapi jamu masih banyak digunakan baik di pedesaan maupun perkotaan (Elfahmi, et al., 2014).

Masuknya Eropa ke Indonesia pada awal abad ke 17 berpengaruh kepada perkembangan pengobatan di Indonesia. Terbatasnya obat-obatan dan pengetahuan dokter Eropa untuk penyakit tropis memaksa ilmuwan Barat untuk mengeksplorasi tumbuhan obat Indonesia. Hasil penggalian ilmuwan Barat tersebut kemudian digunakan dan disebarluaskan dalam beberapa publikasi, diantaranya De Medicina Indorum oleh Bontius tahun 1642, The Ambonese Herbal oleh Rumphius tahun 1741, Materia Indica

oleh van der Burg tahun 1885, De Nuttige Planten van Nederlansch Indie oleh Heyne

tahun 1927 dan Select Indonesian Medicinal Plants oleh Steenis Kruseman tahun 1953. Hasil tersebut juga dilaporkan pada Medical Journal of the Dutch East-Indies (Nugraha & Keller, 2011).

Manfaat potensial obat tradisional tidak seharusnya diabaikan, selain mengurangi mengatasi penyakit dengan prevalensi tinggi di Indonesia, masalah kemiskinan juga dapat dikurangi dengan obat tradisional. Obat tradisional selain diharapkan relatif lebih murah namun juga dapat dikembangkan dan dipasarkan sehingga dapat menjadi sumber penghasilan dan membuka lapangan kerja (Purwaningsih, 2013).

36
36

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

3.2.

Bioprospeksi

Pengembangan obat saat ini terfokus untuk menemukan senyawa aktif pada target yang terdefinisi dengan baik dengan menggunakan pendekatan High Throughput Screening (HTS). Tetapi tampaknya pendekatan ini semakin kurang berhasil, karena sering kali senyawa yang baik sudah terdapat di pasaran dan biaya pengembangan obat dengan pendekatan seperti ini semakin hari semakin tinggi sehingga semakin sulit membuat obat baru yang kompetitif secara ekonomi untuk penyakit tertentu. Adanya bioprospeksi yang berkembang dapat mendorong industri bioprospeksi terutama industri farmasi untuk menghasilkan produk obat asli Indonesia berdasarkan pengetahuan etnis setempat dan tumbuhan obat dari kawasan hutan Indonesia. Tetapi sistem kesehatan modern berbeda dengan pengobatan tradisional sehingga diperlukan metode untuk memastikan khasiat dan keamanan (Verpoorte, 2009).

Penggunaan tumbuhan obat sebagai sumber obat baru memuncak pada periode 1970-1980. Selama periode 40 tahun antara tahun 1940 dan 2010, 48,6% agen antikanker adalah produk yang berasal dari tumbuhan. Tetapi sejak awal tahun 1980an hingga saat ini permintaan ekstrak tumbuhan untuk penemuan obat telah mengalami penurunan disebabkan beberapa faktor. Menurunnya ketertarikan perusahaan farmasi untuk mengembangkan obat herbal disebabkan oleh (1) masalah pasokan bahan baku; (2) hasil yang rendah; dan (3) struktur senyawa yang kompleks yang merupakan tantangan serius untuk sintesis atau modifikasi struktur (Skirycz, et al., 2016).

Bioprospeksi adalah pencarian sistematik untuk gen, senyawa alami, dan organisme yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk dengan pengamatan biologis dan biofisik, biokimia dan genetik tanpa mengganggu alam (Mateo,

2001).

Konvensi Keanekaragaman Hayati (United Nations Convention on Biological

Diversity-CBD) adalah salah satu dari hasil utama KTT Bumi di Rio de Janeiro pada bulan Juni 1992. CBD merupakan kesepakatan internasional yang mengakui hak kedaulatan negara atas sumber daya alam yang dimiliki. Tiga tujuan utama CBD adalah:

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

37
37

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Konservasi keanekaragaman hayati Penggunaan komponen keanekaragaman hayati secara berkelanjutan Pembagian manfaat yang timbul dari penggunaan komersial dan pemanfaatan genetik lainnya

Perjanjian pelengkap yang mengikat secara hukum ke CBD, yang dikenal sebagai Protokol Nagoya tentang Akses Kepada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang yang Timbul dari Pemanfaatannya (ABS) disepakati oleh penandatangan CBD. ABS menetapkan aturan untuk akses pada keanekaragaman hayati berdasarkan saling menguntungkan antara negara berdaulat dan pihak ketiga. CBD dan Protokol Nagoya diharapkan dapat mempromosikan pemanfaatan yang berkelanjutan dari keanekaragaman hayati serta meningkatkan kemitraan penelitian dan penciptaan pendapatan tanpa mengabaikan konservasi (Gambar 3.1).

pendapatan tanpa mengabaikan konservasi (Gambar 3.1). Gambar 3.1 38 Sumber: Skirycz, et. al., 2016 Hubungan Ideal

Gambar 3.1

38
38

Sumber: Skirycz, et. al., 2016

Hubungan Ideal antara Bioprospeksi dan Konvensi Keanekaragaman Hayati

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Tumbuhan obat telah banyak digunakan dalam ramuan jamu yang diproduksi berbagai industri jamu. Namun hingga saat ini pendapatan yang diperoleh dari bioprospeksi untuk pengembangan obat baru belum dapat digunakan untuk konservasi dan memberi keuntungan bagi masyarakat lokal (Skirycz, et al., 2016). Walaupun Protokol Nagoya telah mencantum pembagian keuntungan yang dapat berupa moneter maupun non moneter seperti tercantum dalam Tabel 3.2 di bawah ini.

Tabel 3.1

Pembagian keuntungan seperti tercantum dalam Protokol Nagoya

Keuntungan Moneter Mencakup Namun Tidak Terbatas Pada:

Manfaat Non-Moneter Dapat Mencakup Namun Tidak Terbatas Pada:

1. Biaya akses per sampel yang diperoleh;

1.

Berbagi hasil penelitian dan pengembangan;

2. Pembayaran di muka;

2.

Kolaborasi, kerjasama dan kontribusi dalam program penelitian dan pengembangan ilmiah;

3. Pembayaran milestone;

3.

Partisipasi dalam pengembangan produk;

4. Pembayaran untuk royalti;

4.

Kolaborasi, kerjasama dan kontribusi dalam bidang pendidikan dan pelatihan;

5. Biaya lisensi bila komersialisasi;

5.

Izin masuk ke fasilitas ex situ sumber daya genetik dan database;

6. Biaya khusus yang harus dibayarkan ke dana perwalian yang mendukung konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan;

6.

Transfer pengetahuan dan teknologi kepada penyedia sumber daya genetik secara adil dan menguntungkan;

7. Gaji dan persyaratan khusus yang telah disepakati bersama;

7.

Memperkuat kapasitas untuk transfer teknologi;

8. Dana penelitian;

8.

Pengembangan kapasitas kelembagaan;

9. Usaha bersama;

9.

Sumber daya manusia dan material untuk memperkuat kapasitas administrasi dan penegakan peraturan untuk akses;

10. Kepemilikan bersama atas hak kekayaan intelektual yang relevan.

10.

Pelatihan terkait sumber daya genetik dengan melibatkan negara-negara yang menyediakan sumber daya genetik.

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Keuntungan Moneter Mencakup Namun Tidak Terbatas Pada:

Manfaat Non-Moneter Dapat Mencakup Namun Tidak Terbatas Pada:

11. Akses terhadap informasi ilmiah yang relevan dengan konservasi dan pemanfaatan biodiversitas, termasuk inventaris biologis dan studi taksonomi;

12. Kontribusi terhadap ekonomi lokal;

13. Penelitian pada kebutuhan prioritas, seperti keamanan kesehatan dan pangan;

14. Hubungan kelembagaan dan profesional yang dapat timbul dari perjanjian akses dan pembagian keuntungan

15. Manfaat pada keamanan pangan dan mata pencaharian;

16. Pengakuan sosial;

17. Kepemilikan bersama atas hak kekayaan intelektual yang relevan.

3.3. Keragaman Genetika Tumbuhan Obat

Indonesia memiliki 30.000 jenis tumbuhan dan 7.000 di antaranya diduga memiliki khasiat obat. Tumbuhan obat merupakan salah satu elemen yang penting dari keanekaragaman hayati yang biasanya tumbuh di semua jenis ekosistem dan memiliki nilai farmasi, ekonomi, dan ekologi yang tinggi. Dengan kekayaan ini, Indonesia mempunyai potensi untuk mengembangkan tumbuhan obat. Tumbuhan obat yang umumnya masih liar harus diberdayakan melalui karakterisasi sifat-sifat agronomi, fenotipe dan genotipe, konservasi dan domestikasi serta budidaya, sehingga dapat dimanfaatkan secara tepat.

Tumbuhan obat tropis Indonesia sangat beragam dan dapat diklasifikasikan berdasarkan kelompok suku (family), habitat, bentuk morfologi (habitus), penggunaan dan bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat. Keragaman tersebut menyebabkan

40
40

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

permasalahan dalam identifikasi masing-masing spesies. Spesies tumbuhan obat yang sudah diidentifikasi disertai dengan informasi yang cukup lengkap kurang dari 1% dari jumlah spesies tumbuhan yang ada. Beberapa permasalahan yang dihadapi dalam identifikasi tumbuhan obat diantaranya:

1)

Terbatasnya jumlah masyarakat lokal yang mengenal dan mengerti keragaman

2)

tumbuhan serta memiliki kemampuan identifikasi di lapangan. Terbatasnya buku rujukan dan panduan untuk identifikasi tumbuhan.

3)

Terbatasnya jumlah institusi yang mempunyai otoritas dan fasilitas untuk identifikasi

4)

tumbuhan. Terbatasnya jumlah ahli taksonomi yang ada pada institusi tersebut yang dapat

5)

mengidentifikasi secara ilmiah jenis-jenis tumbuhan dalam jumlah besar. Terbatasnya waktu dan dana.

Bioteknologi dapat berperan dalam mendukung industri tumbuhan obat mulai dari hulu sampai hilir. Teknologi yang dapat diaplikasikan pada bagian hulu yaitu pengembangan plasma nutfah, pemetaan, konservasi, karakterisasi, perbaikan mutu, perbanyakan benih, dan budidaya. Salah satu solusi untuk memecahkan permasalahan identifikasi tumbuhan obat adalah dengan pengembangan teknologi dan pembentukan jaringan antar pemangku kepentingan. Perkembangan biomolekular dan bioinformatika dapat mengurangi masalah identifikasi. Para ilmuwan teknologi informasi dan komunikasi harus memahami bagaimana taksonom melakukan identifikasi tumbuhan. Informasi pada koleksi spesimen di herbarium merupakan kunci utama untuk melakukan identifikasi (Damayanti, et al., 2011).

Keanekaragaman tumbuhan obat berdasarkan kelompok famili menunjukkan hubungan dan kesamaan antara satu spesies dengan spesies lainnya dalam kelompok famili tersebut. Sebagai contoh spesies-spesies pada famili Fabaceae mempuyai kesamaan dalam bentuk buah yang disebut legume. Zuhud dan Siswoyo (2001) telah mengelompokkan tumbuhan obat berdasarkan familinya menjadi 203 famili (Tabel 3.2).

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

41
41

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

Tabel 3.2

Jumlah spesies tumbuhan obat berdasarkan famili

No

Famili

Jumlah Spesies

1

181 Famili @ (< 20 Sp)

< 20

2

Rhizophoraceae

20

3

Myristicaeae

21

4

Sterculiaceae

21

5

Acanthaceae

22

6

Rutaceae

23

7

Arecaceae

25

8

Melostomataceae

26

9

Menispermaceae

30

10

Piperaceae

30

11

Curcubitacea

34

12

Apocynaceae

39

13

Asteraceae

40

14

Annonaceae

43

15

Moraceae

46

16

Zingiberaceae

49

17

Poceae

55

18

Rubiaceae

72

19

Lauraceae

77

20

Euphorbiacea

94

21

Fabaceae

110

Sumber: Zuhud., 2009 yang dimodifikasi

Pemerintah Indonesia melalui Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan melakukan kegiatan Riset Tumbuhan Obat dan Jamu (RISTOJA) untuk menjawab

42
42

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

kebutuhan informasi terkait data tumbuhan obat dan ramuan tradisional yang digunakan oleh setiap etnis di Indonesia. RISTOJA telah dilakukan pertama kali pada tahun 2012 dan dilaksanakan kembali pada tahun 2015. Data yang dikumpulkan meliputi karakterisasi informan, gejala dan jenis penyakit, jenis-jenis tumbuhan, kegunaan tumbuhan dalam pengobatan, bagian tumbuhan yang digunakan, ramuan, cara penyimpanan dan cara pakai untuk pengobatan, kearifan lokal dalam pengelolaan, dan pemanfaatan tumbuhan, serta data lingkungan.

RISTOJA tahun 2012 dilaksanakan terhadap 209 etnis di 25 provinsi. Sedangkan RISTOJA tahun 2015 dilakukan di 24 provinsi, 125 kabupaten/kota dan dipilih sebanyak 96 etnis. Sebaran provinsi RISTOJA 2012 dan 2015 dapat dilihat pada Gambar 3.2. Penentuan etnis dan titik pengamatan dilakukan dengan melibatkan pakar yang mengetahui wilayah dan kondisi dari masing-masing tempat.

mengetahui wilayah dan kondisi dari masing-masing tempat. Gambar 3.2 Sumber:Laporan Ristoja tahun 2012 dan 2015 Peta

Gambar 3.2

Sumber:Laporan Ristoja tahun 2012 dan 2015

Peta Provinsi dilakukannya RISTOJA tahun 2012 (hijau) dan tahun 2015 (merah)

RISTOJA tahun 2012 telah berhasil mengidentifikasi tumbuhan yang sering digunakan hingga tingkat spesies sebanyak 1.740 spesies dari 211 famili. Sementara itu RISTOJA tahun 2015 telah berhasil mengidentifikasi sebanyak 1.559 tumbuhan obat dari

Pusat Teknologi Farmasi dan Medika

43
43

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

156 famili, dan 792 diantaranya merupakan spesies yang sama yang ditemukan pada tahun 2012. Dengan demikian jumlah spesies yang sudah berhasil diidentifikasi dari tahun 2012 dan 2015 sebanyak 2.497 spesies. Dari hasil RISTOJA tersebut diketahui bahwa spesies yang sering digunakan adalah Curcuma domestica Val. (kunyit), Piper

betle L. (sirih), Cocos nucifera L. (kelapa), Zingiber officinale Roscoe (jahe), Jatropa

curcas L. (jarak pagar), Orthosiphon aristatus (Blume) Miq. (kumis kucing), Areca cathecu L. (pinang), dan Annona muricata L. (sirsak).

Tabel 3.3

Sebaran etnis RISTOJA 2015

No

Provinsi

Kabupaten/Kota

Etnis

 

Simeulue

Devayan dan Sigulai

Aceh Singkil

Singkil

1 DI Aceh

Aceh Timur

Gayo Serbajadi

Kota Subulusalam

Alas

 

Mandailing Natal

Mandailing

Simalungun

Simalungun

2 Sumatra Utara

Dairi

Pakpak Kepas

Deli Serdang dan langkat

Karo Jahe

Batu Bara

Melayu Batubara

 

Indragiri Hilir

Duano Laut

3 Riau

Bengkalis

Hutan

 

Ogan Komering Ulu

Daya

Ogan Komering Ilir

Teloko

Ogan Ilir

Pegagan

4 Sumatera Selatan

Ogan Komering Ulu Selatan

Daya

Ogan Ilir

Meranjat

Empat Lawang

Lintang

 

Lampung Tengah

Abung Seputih

5 Lampung

Lampung Utara

Abung Kota Bumi

Way Kanan

Pepadun

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

OUTLOOK TEKNOLOGI KESEHATAN

No

Provinsi

Kabupaten/Kota

Etnis

 

Pesawaran

Pubian

Pesisir Barat

Peminggir

 

Karimun

Mantang

6

Kepulauan Riau

Natuna

Melayu Natuna

 

Jakarta Selatan, Jakarta Timur,

 

7

DKI Jakarta

Jakarta Barat, Bekasi, Lebak, Kota Betawi Serang

 

Cianjur,

Bandung,

Garut,

8

Jawa Barat

Tasikmalaya, Ciamis, Kuningan, Sunda Cimahi, Pangandaran, Cirebon

 

Cirebon, Indramayu, Subang

Cirebon

10

DI Yogyakarta

Kota Yogyakarta, Bantul, Kulon Progo Jawa

 

Malang, Mojokerto, Jombang, Madiun, Magetan, Kediri

Jawa

Lumajang, Probolinggo, Pasuruan

Tengger

11

Jawa Timur

Banyuwangi

Osing

 

Gresik

Bawean