Anda di halaman 1dari 37

KETERKAITAN KOMUNIKASI ANTARPRIBADI

DENGAN LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING


(Tugas Mata Kuliah Komunikasi Antar Pribadi)

Dosen Pengampu : Rury Muslifar, S. Pd., M. Pd. dan Andi Wahyu Irawan, M. Pd

Disusun oleh :

KELOMPOK 1 BK B 2017

1. Catur Anggraheni 1705095083


2. Nadya Kustiani Putri 1705095066
3. Priyo Yoso Tri Utomo 1705095078
4. Riskia Safitri 1705095072
5. Suratun 1705095076

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MULAWARMAN

TAHUN 2018

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,
kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
penyusunan makalah “Keterkaitan Komunikasi Antarpribadi dengan Layanan
Bimbingan dan Konseling” ini dengan tepat waktu. Tidak lupa kami ucapkan terima
kasih kepada Ibu Rury Muslifar, S. Pd., M. Pd. dan Pak Andi Wahyu Irawan, M. Pd
selaku dosen Komunikasi Antar Pribadi yang telah memberikan kami kesempatan
untuk mengerjakan tugas ini sehingga kami mendapatkan pengetahuan yang lebih
dalam tentang keterkaitan komunikasi antarpribadi dengan layanan bimbingan dan
konseling.
Makalah ini kami susun dengan usaha se-maksimal mungkin dari berbagi
sumber, terlepas dari itu semua, kami menyadari bahwa masih ada kekurangan baik
dari segi susunan, kalimat maupun tata bahasa. Oleh karena itu dengan tangan
terbuka kami menerima kritik dan saran dari makalah ini.
Akhir kata, kami harapkan semoga makalah ini dapat memberikan manfaat
bagi para pembaca.

Samarinda, 03 Desember 2018

Penulis

Kelompok 7

2
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL............................................................................... 1
KATA PENGANTAR ............................................................................ 2
DAFTAR ISI ........................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................... 4
A. Latar Belakang ................................................................................. 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................ 5
C. Tujuan .............................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................ 6
A. Hakikat Komunikasi Antarpribadi ................................................... 6
B. Hakikat Komunikasi dalam Konseling ............................................ 16
BAB III PENUTUP ................................................................................ 26
A. Kesimpulan ...................................................................................... 26
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. 28

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada hakikatnya, manusia adalah mahluk sosial, mahluk yang tidak
bisa hidup tanpa bersosialiasi. Bersosialisasi dapat dilakukan dengan
mengadakan komunikasi. Komunikasi adalah sebuah interaksi antara manusia
satu dengan manusia lainnya. Komunikasi menjadikan dasar pemaknaan
dalam hubungan manusia. Menjalin komunikasi dengan orang lain tentu akan
memudahkan kita dalam aktivitas keseharian baik itu dalam kehidupan
keluarga, kerja, organisasi, pertemanan, sekolah serta aktivitas lainnya,
termasuk dalam pemberian layanan bimbingan dan konseling. Dalam
memberikan semua jenis layanan bimbingan konseling, komunikasi
merupakan senjata utamanya. Komunikasi dalam bimbingan dan konseling
dapat digunakan untuk mencegah terjadinya permasalahan, meningkatkan
motivasi konseli, memahami diri konseli, meningkatkan kemampuan interaksi
sosial, menyelesaikan masalah, merencanakan masa depan dan memperbaiki
diri konseli.
Menurut sifatnya, komunikasi terbagi menjadi dua yaitu komunikasi
diadik dan komunikasi kelompok kecil. Komunikasi kelompok kecil biasanya
berlangsung diantara tiga orang atau lebih secara tatap muka serta semua
anggota berinteraksi satu dengan yang lain. Komunikasi jenis ini termasuk
dalam komunikasi antarpribadi sebab pertama, anggotanya terlibat dalam
proses komunikasi yang berlangsung secara tatap muka. Kedua, pembicaraan
berlangsung secara terpotong-potong dimana semua peserta mempunyai
kedudukan yang sama untuk berbicara. Ketiga, dalam jenis ini sumber dan
penerima sulit diidentifikasi sebab dalam situasi seperti ini, semua anggota
dapat memerankan sebagai sumber dan penerima pesan (tema pembicaraan).

4
Dalam dunia pendidikan, siswa yang memiliki kesulitan dalam
melakukan komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi menurut
Tedjasaputra (2005) akan sulit menyesuaikan diri, seringkali marah,
cenderung memaksakan kehendak, egois dan mau menang sendiri sehingga
mudah terlibat dalam perselisihan. Keterampilan komunikasi interpersonal
pada siswa ini menjadi sangat penting karena dalam bergaul dengan teman
sebayanya siswa seringkali dihadapkan dengan hal-hal yang membuatnya
harus mampu menyatakan pendapat pribadinya tanpa disertai emosi, marah
atau sikap kasar, bahkan siswa harus bisa mencoba menetralisasi keadaan
apabila terjadi suatu konflik. Oleh karenanya, penting bagi calon guru
bimbingan dan konseling untuk mengetahui pentingnya komunikasi,
khususnya komunikasi antarpribadi karena kegiatan layanan bimbingan
konseling tidak dapat berjalan apabila seorang konselor tidak mempunyai
keterampilan komunikasi yang baik terutama keterampilan komunikasi
antarpribadi, sebab hubungan personal antara konselor dengan konseli
merupakan inti yang perlu diciptakan dan dikembangkan dalam proses
pemberian layanan bimbingan konseling.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas
dalam makalah ini adalah:
1. Apa hakikat komunikasi antarpribadi?
2. Apa hakikat komunikasi dalam konseling?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka makalah ini bertujuan untuk :
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui hakikat komunikasi antarpribadi.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui hakikat komunikasi dalam konseling.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Komunikasi Antarpribadi


1. Landasan Teori Komunikasi Antarpribadi
Terdapat berbagai macam teori komunikasi antarpribadi diantaranya
teori kebutuhan hubungan interpersonal, teori disonansi kognitif, teori
procce dview, teori exchange, teori hipotesis kecocokan, teori saling
melengkapi, teori interaksi simbolik, teori penetrasi sosial, teori reduksi
ketidakpastian teori dialektikarelasional, teori penilaian sosial, teori
inikolasi, teori atribusi, teori pandangan proses. Penulis memilih
menggunakan teori kebutuhan hubungan interpersonal dalam memaknai
komunikasi. William Schutz (1958) mengatakan bahwa setiap manusia
mamiliki tiga kebutuhan antarpribadi yang disebut dengan inkusif,
kontrol, dan afeksi. Dasar teori ini adalah bahwa setiap manusia pasti
membutuhkan orang lain sebagai mahluk sosial.
Teori ini menjelaskan tentang adanya hubungan yang terjadi antar
individu yang harus menghadirkan sesuatu dalam kondisi tertentu agar
dapat menghasilkan sesuatu yang menyenangkan. (a) kebutuhan untuk
inklusi. Kebutuhan ini untuk mengadakan atau mempertahankan
komunikasi yang memuaskan. Dalam kebutuhan inipun terdapat beberapa
tipe yaitu tipe sosial yang puas secara ideal, tipe undersocial yang selalu
menghindari dari suatu keramaian, tipe oversosial yang selalu ingin
bergabung dengan suatu kelompok. (b) kebutuhan untuk kontrol. Dalam
kebutuhan ini terdapat suatu penguasaan dalam berkomunikasi seperti
mempengaruhi, mendominasi, memimpin, mengatur (kontrol positif),
sedangkan memberontak, mengikut dan menurut (kontrol negatif).
Beberapa tipe dalam kontrol yaitu abdicrat yang cenderung merendahkan
diri individu lainnya, authocrat yang cenderung mendominasi komunikasi

6
orang lain, democrat yang mampu memberikan perintah dan diperintah,
patologis yang tidak mampu menerima kontrol dari orang lain. (c)
Kebutuhan ini berhubungan dengan cinta dan kasih saying yang
melibatkan emosi dan perasaan. Didalamnya terdapat dua afeksi yaitu
positif (cinta, intim, persahabatan) dan negatif (kebencian, dingin, dan
jarak emosional). Beberapa tipe afeksi yaitu ideal yang memenuhi
kebutuhan, underpersonal yang selalu menghindar dari individu lain,
overpersonal yang terlalu erat dalam berhubungan dan patologis yang
sukar untuk berhubungan.
2. Pengertian Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi merupakan pertemuan dari paling sedikit dua
orang yang bertujuan untuk memberikan pesan dan informasi secara
langsung. Devito (Harapan dan Syarwani Ahmad 2014:4) mengemukakan
komunikasi antarpribadi ini sebagai “proses pengiriman dan penerimaan
pesan-pesan antara dua orang, atau sekelompok kecil orang, dengan
beberapa effect atau umpan balik seketika” . Muhammad (Harapan, Edi
dan Syarwani Ahmad 2014:4) mengartikan komunikasi antar pribadi
sebagai “proses pertukaran informasi di antara seseorang dengan paling
kurang seseorang lainnya atau biasanya di antara dua orang yang dapat
langsung diketahui balikannya” . Sedangkan menurut Wiryanto (2004),
Komunikasi antar pribadi adalah komunikasi yang berlangsung dalam
situasi tatap muka antara dua orang atau lebih, baik secara terorganisasi
maupun pada kerumunan orang. Febrina (2008),
Komunikasi Interpersonal (KIP) adalah interaksi orang ke orang, dua
arah, verbal dan non verbal. Saling berbagi informasi dan perasaan antara
individu dengan individu atau antar individu di dalam kelompok kecil.
Tan dalam Liliweri (1997) mengemukakan bahwa komunikasi antar
pribadi atau komunikasi interpersonal adalah komunikasi tatap muka
anatara dua atau lebih. Menurut Rakhmat (2007) komunikasi

7
interpersonal merupakan kemampuan yang penting dalam menjalin
hubungan dan mempertahankan hubungan dengan orang lain. Sedangkan
menurut Sugiyo (2005) mengatakan bahwa komunikasi antarpribadi
merupakan proses sosial yang mana individu yang terlibat di dalamnya
saling mempengaruhi satu sama lain. Selain itu, Peter (2001:20)
mendefinisikan komunikasi interpersonal sebagai berikut : “komunikasi
interpersonal adalah komunikasi yang memiliki karakteristik yaitu
komunikasi terjadi dari satu orang ke orang lain, komunikasi berlangsung
secara tatap muka dan isi dari komunikasi itu merefleksikan karakter
pribadi dari tiap individu itu sebaik hubungan dan peran sosial mereka”.
Dari pengertian pengertian ahli diatas dapat diartikan bahwa komunikasi
antarpribadi hanya melibatkan beberapa orang saja atau kelompok kecil
dimana dalam proses komunikasinya umpan balik langsung terjadi.
Sehingga pesan dari komunikator bisa langsung dapat diterima oleh
komunikannya. Dapat disimpulkan juga bahwa komunikasi interpersonal
adalah proses komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih secara
langsung (tatap muka) dan terjadi timbal balik secara langsung pula baik
secara verbal maupun non-verbal.
3. Urgensi Komunikasi Antarpribadi bagi Calon Konselor
Johnson (dalam Supratiknya, 1995:9) mengungkapkan komunikasi
antarpribadi (interpersonal) menunjukkan peranan penting dalam rangka
men-ciptakan kebahagiaan hidup manusia. Pertama, komunikasi
interpersonal membantu per-kembangan intelektual dan social kita.
Kedua, identitas atau jati diri terbentuk dalam dan lewat komunikasi
dengan orang lain. Ketiga, dalam rangka memahami realitas di sekeliling
kita serta menguji ke-benaran kesan-kesan dan pengertian yang kita
miliki tentang dunia di sekitar kita. Keempat, kesehatan mental se-
bahagian besar juga ditentukan oleh kualitas komunikasi.Berdasarkan
hasil penelitian yang dilakukan oleh Lesmana (2005) dapat dilihat bahwa

8
hampir semua jenis pekerjaan dimanapun menuntut pekerjanya untuk
memilki komunikasi antarpribadi yang baik. Komunikasi antarpribadi
juga merupakan landasan bagi konselor. Dalam bimbingan konseling
menggunakan teknik berkomunikasi interpersonal dimana komunikasi
lebih intens atau mendalam antara siswa dan guru bimbingan, tatap muka
(face to face) yang memungkinkan untuk mudahnya terjalin hubungan
diadik.Seorang guru konselelor atau guru bimbingan konseling tentu
harus betul-betul memperhatikan pendekatan komunikasi interpersonal
seperti apa yang digunakan agar dapat tepat sasaran dan efektif. Dalam
pendekatan-pendekatan ini ada berbagai bentuk pendekatan seperti
informatif,dialogis, dan persuasif. Dalam hal ini komunikator berperan
penting untuk menentukan keberhasilan untuk mempengaruhi komunikan
sebagaimana yang diinginkan oleh komunikator.Proses pemberian
bantuan dalam konseling terjadi dalam suatu wawancara konseling yang
di dalamnya terdapat interaksi dan komunikasi antarpribadi antara dua
pihak yaitu konselor dan konseli. Winkel (2006) mengatakan bahwa
dalam proses konseling menonjolkan empat aspek yang terdapat di
dalamnya, yaitu terjadinya komunikasi antarpribadi, berlangsung suatu
proses, terdapat pertemuan tatap muka, dan adanya tanggapan dari
konselor yang sifatnya membantu. Secara rasional, memilki dan
memahami berkomunikasi antarpribadi yang baik adalah sangat penting
bagi mahasiswa jurusan Bimbingan dan Konseling yang merupakan calon
konselor, sehingga komunikasi antarpribadi yang telah dimiliki dapat
digunakan sebagai bekal untuk membangun komunikasi yang efektif dan
efisien dengan konseli ketika nantinya menjadi konselor. Selain itu,
pemahaman yang baik mengenaik komunikasi antarpribadi juga dapat
berguna dalam kehidupan sehari hari baik di dalam maupun di luar
kampus. Dengan memilki komunikasi antarpribadi yang baik, banyak
manfaat yang dapat diambil, yaitu (1) membantu mengembangkan

9
intelektual dan sosial remaja, (2) membantu mengetahui identitas dan jati
diri, (3) membantu memahami realitas di sekelilingnya, (4) membantu
menyehatkan mental remaja. Adapun keefektifan komunikasi antarpribadi
ditunjang oleh beberapa faktor diantaranya : kredibilitas yang dimiliki,
daya tarik fisik maupun nonfisik, kemampuan intelektual, integritas,
kepercayaan, kepekaan sosial, kematangan tingkat emosional, kondisi
psikologis komunikan, dan sikap komunikator.
4. Komponen Komunikasi Antarpribadi
Tiga komponen utama tentang pemikiran komunikasi antar pribadi
berdasarkan:
a. Komponen-komponen utama
Bittner (1985: 10) menerangkan komunikasi antar pribadi
berlangsung bila pengirim menyampaikan informasi berupa kata-
kata kepada penerima dengan menggunakan medium suara
manusia (human voice). Menurut Barnlund (dikutip dalam Alo
Liliweri, 1991), ciri-ciri mengenali komunikasi antar pribadi
sebagai berikut. (1) bersifat spontan; (2) tidak berstruktur; (3)
kebetulan; (4) tidak mengejar tujuan yang direncanakan; (5)
identitas keanggotaan tidak jelas; dan (6) terjadi sambil lalu.
b. Hubungan diadik
Hubungan diadik mengartikan komunikasi antar pribadi sebagai
komunikasi yang berlangsung antara dua orang yang mempunyai
hubungan mantap dan jelas. Untuk memahami perilaku seseorang,
harus mengikutsertakan paling tidak dua orang peserta dalam
situasi bersama (Laing, Phillipson, dan Lee, 1991: 117). Trenholm
dan Jensen (1995: 26) mendefinisikan komunikasi antar pribadi
sebagai komunikasi antara dua orang yang berlangsung secara
tatap muka (komunikasi diadik). Sifat komunikasi ini antara lain.
(1) spontan dan formal; (2) saling menerima feedback secara

10
maksimal; dan (3) partisipan berperan fleksibel. Trenholm dan
Jensen (1995: 227-228) mengatakan tipikal pola interaksi dalam
keluarga menunjukkan jaringan komunikasi.
c. Pengembangan
Komunikasi antar pribadi dapat dilihat dari dua sisi sebagai
perkembangan dari komunikasi interpersonal dan komunikasi
pribadi atau intim. Oleh karena itu, derajat komunikasi antar
pribadi berpengaruh terhadap keluasan dan kedalaman informasi
sehingga merubah sikap. Pendapat Berald Miller dan M. Steinberg
(1998: 274), pandangan developmental tentang semakin banyak
komunikator mengetahui satu sama lain, maka semakin banyak
karakter antar pribadi yang terbawa dalam komunikasi tersebut.
Edna Rogers (2002: 1), mengemukakan pendekatan hubungan
dalam menganalisis proses komunikasi antar pribadi
mengasumsikan bahwa komunikasi antar pribadi membentuk
struktur sosial yang diciptakan melalui proses komunikasi. Ciri-
ciri komunikasi antar pribadi menurut Rogers antara lain.
1) Arus pesan dua arah;
2) Konteks komunikasi dua arah;
3) Tingkat umpan balik tinggi;
4) Kemampuan mengatasi selektivitas tinggi;
5) Kecepatan jangkauan terhadap khalayak relatif lambat; dan
6) Efek yang terjadi perubahan sikap.
5. Karakteristik Komunikasi Antarpribadi
Menurut Judy C. Pearson (Hidayat 2012: 49-50) karateristik
komunikasi yaitu sebagai berikut: (a) Komunikasi Antarpribadi bersifat
My Self Commutication, komunikasi yang menyangkut pemaknaan
berpusat pada diri, artinya dipengaruhi oleh pengalaman dan pengamatan
kita. (b) Komunikasi antarpribadi bersifat transaksional, anggapan ini

11
mengacu pada pihak-pihak yang berkomunikasi secara serempak dan
bersifat sejajar, menyampaikan dan menerima pesan. (c) Komunikasi
antarpribadi mencangkup aspek-aspek isi pesan dan hubungan
antarpribadi, isi pesan dapat dipengaruhi oleh hubungan antar pihak yang
berkomunikasi. (d) Komunikasi antarpribadi mensyaratkan kedekatan
fisik antar pihak yang berkomunikasi. (e) Komunikasi antarpribadi
melibatkan pihak-pihak yang saling bergantung satu sama lainnya dalam
proses komunikasi. (f) Komunikasi antarpribadi tidak dapat diubah
maupun diulang. Jika kita salah mengucapkan sesuatu pada pasangan
maka tidak dapat diubah. Adapun menurut Purwanto (Kurniawati 2013:7)
komunikasi yang dilakukan antara orang seseorang dengan orang lain
dalam suatu masyarakat maupun orang dengan menggunakan media
komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami untuk mencapai
suatu tujuan tertentu.
6. Efektivitas Komunikasi Antarpribadi
Komunikasi antarpribadi merupakan proses pertukaran informasi yang
dianggap paling efektif dan prosesnya dapat dilakukan dengan cara sangat
sederhana. Komunikasi dapat disebut efektif apabila penerima
menginterpretasikan pesan yang diterimanya sebagaiman yang dimaksud
oleh pengirim. Komunikasi biasanya sering terganggu, hal ini
dikarenakan masalah semantik/arti kata, tidak adanya umpan balik,
saluran komunikasi, gangguan fisik, adanya perbedaan budaya dan status.
Agar dapat berkomunikasi secara efektif apabila seseorang mampu
mendengarkan secara aktif, usahakan memberikan umpan balik,
pembicaraan langsung kepada pokok masalah, menggambarkan situasi,
dan kemampuan meringkas pesan. Menurut Suranto A.W (2011: 9)
komponen-komponen komunikasi interpersonal yaitu: 1) Sumber/
komunikator merupakan orang yang mempunyai kebutuhan untuk
berkomunikasi, yakni keinginan untuk membagi keadaan internal sendiri,

12
baik yang bersifat emosional maupun informasional dengan orang lain.
Kebutuhan ini dapat berupa keinginan untuk memperoleh pengakuan
sosial sampai pada keinginan untuk mempengaruhi sikap dan tingkah
laku orang lain. Dalam konteks komunikasi interpersonal komunikator
adalah individu yang menciptakan, memformulasikan, dan
menyampaikan pesan, 2) Encoding adalah suatu aktifitas internal pada
komunikator dalam menciptakan pesan melalui pemilihan simbol-simbol
verbal dan non verbal, yang disusun berdasarkan aturan-aturan tata
bahasa, serta disesuaikan dengankarakteristik komunikan, 3) Pesan
Merupakan hasil encoding. Pesan adalah seperangkat simbol-simbol baik
verbal maupun non verbal, atau gabungan keduanya, yang mewakili
keadaan khusus komunikator untuk disampaikan kepada pihak lain.
Dalam aktivitas komunikasi, pesan merupakan unsur yang sangat
penting. Pesan itulah disampaikan oleh komunikator untuk diterima dan
diinterpretasi oleh komunikan, 4) Saluran Merupakan sarana fisik
penyampaian pesan dari sumber ke penerima atau yang menghubungkan
orang ke orang lain secara umum. Dalam konteks komunikasi
interpersonal, penggunaan saluran atau media semata-mata karena situasi
dan kondisi tidak memungkinkan dilakukankomunikasi secara tatap
muka, 5) Penerima/Komunikan Adalah seseorang yang menerima,
memahami, dan menginterpretasi pesan. Dalam proses komunikasi
interpersonal, penerima bersifat aktif, selain menerima pesan melakukan
pula proses interpretasi dan memberikan umpan balik. Berdasarkan
umpan balik dari komunikan inilah seorang komunikator akan dapat
mengetahui keefektifan komunikasi yang telah dilakukan, apakah makna
pesan dapat dipahami secara bersama oleh kedua belah pihak yakni
komunikator dan komunikan, 6) Decoding Decoding merupakan kegiatan
internal dalam diri penerima. Melaui indera, penerima mendapatkan
macam-macam data dalam bentuk “mentah”, berupa kata-kata dan

13
simbol-simbol yang harus diubah kedalam pengalamanpengalaman yang
mengandung makna. Secara bertahap dimulai dari proses sensasi, yaitu
proses di mana indera menangkap stimuli, 7) Respon Yakni apa yang
telah diputuskan oleh penerima untuk dijadikan sebagai sebuah tanggapan
terhadap pesan. Respon dapat bersifat positif, netral, maupun negatif.
Respon positif apabila sesuai dengan yang dikehendaki komunikator.
Netral berarti respon itu tidak menerima ataupun menolak keinginan
komunikator. Dikatakan respon negatif apabila tanggapan yang diberikan
bertentangan dengan yang diinginkan oleh komunikator, 8) Gangguan
(noise) Gangguan atau noise atau barier beraneka ragam, untuk itu harus
didefinisikan dan dianalisis. Noise dapat terjadi di dalam
komponenkomponen manapun dari sistem komunikasi. Noise merupakan
apa saja yang mengganggu atau membuat kacau penyampaian dan
penerimaan pesan, termasuk yang bersifat fisik dan phsikis, 9) Konteks
Komunikasi Komunikasi selalu terjadi dalam suatu konteks tertentu,
paling tidak ada tiga dimensi yaitu ruang, waktu, dan nilai. Konteks ruang
menunjuk pada lingkungan konkrit dan nyata tempat terjadinya
komunikasi, seperti ruangan, halaman dan jalanan. Konteks waktu
menunjuk pada waktu kapan komunikasi tersebut dilaksanakan, misalnya:
pagi, siang, sore, malam. Konteks nilai, meliputi nilai sosial dan budaya
yang mempengaruhi suasana komunikasi, seperti: adat istiadat, situasi
rumah, norma pergaulan, etika, tata krama, dan sebagainya. Devito
(Suranto : 2011) mengemukakan 5 pendekatan positif yang diperlukan
dalam komunikasi interpersonal, yaitu : keterbukaan (openess), empati
(empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif
(positiveness), dan kesetaraan (equality). 1) Keterbukaan (openess)
Keterbukaan ialah sikap seseorang dimana ia mampu menerima masukan
atau saran dari orang lain kepada dirinya. Juga ia dapat memberikan
informasi tentang dirinya kepada orang lain. akan tetapi dalam hal ini

14
bahwa tidak semua informasi tentang kita dapat kita beritahukan kepada
orang lain hanya informasi yang diinginkan saja. Kunci dari keterbukaan
itu sendiri adalah tidak berkata bohong dan menyembunyikan informasi.
Jadi keterbukaan ialah kemampuan untuk dapat memberikan informasi
tentang diri kita tentang apa yang ingin orang lain ketahui, 2) Empati
(empathy) Empati ialah kemampuan seseorang merasakan jika menjadi
orang lain, dapat memahami apa yang dirasakan oleh orang lain, dapat
melihat dari sudut pandang orang lain, 3) Sikap mendukung
(supportiveness) Komunikasi antarpribadi dapat efektif apabila masing-
masing pihak saling mendukung. Artinya pihak yang terlibat dalam
komunikasi ini harus saling berterusterang sehingga komunikasi ini dapat
terlaksana dengan baik, 4) Sikap positif (positiveness) Sikap positif yaitu
suatu sikap yang ditunjukkan dimana masing-masing pihak yang terlibat
harus berpikir positif tidak saling mencurigai satu sama lainnya sehingga
akan tumbuh rasa saling percaya. Hal ini tentu saja akan menjadikan
komunikasi yang terjalin menjadi efektif, 5) Kesetaraan (equality)
Kesetaraan dalam suatu hunbungan antarpribadi sangatlah penting.
Dimana satu pihak tidak boleh merasa jauh lebih baik dari pada pihak
lain, merasa lebih baik dari oarng lain, merasa lebih tinggi dari pada
orang lain. Jika salah satu pihak lebih unggul maka akan terdapat
kesenjangan sehingga komunikasi yang terjalin akan sulit terjalin.
7. Model Komunikasi Antarpribadi
Model merupakan upaya untuk mewakili sesuatu itu dan bagaiman
cara kerjanya. Berikan beberapa model komunikasi antarpribadi : (1)
Model Linear, komunikasi model pertama dari komunikasi antarpribadi
dikemukakan oleh Lasswell pada tahun 1948 digambarkan adalah linear
atau salah satu cara, proses di salah satu tindakan seseorang pada orang
lain. Yaitu siapa? Mengatakan apa? Dalam saluran apa? Kepada siapa?
Dengan efek apa? , (2) Model Interaktif Wine, pada tahun 1967

15
mengemukakan fitur utama dari model interaktif adalah umpan balik,
yang merupakan tanggapan terhadap pesan. Umpan balik dapat berbentuk
lisan, nonverbal atau keduanya dan mungkin disengaja atau tidak sengaja,
(3) Model Transaksi Model transaksional meliputi kekuatan model
sebelumnyadan mengatasi kelemahan mereka.

B. Hakikat Komunikasi dalam Konseling


1. Landasan Filosofis Komunikasi
Ilmu komunikasi tidak dapat dilepaskan dari tiga ilmu filsafat yaitu
ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Dalam hakikat komunikasi,
ontologi lebih ditonjolkan, tanpa mengabaikan ilmu filsafat yang lain,
mengingat ontologi memfokuskan pada pemahaman mengenai hakikat
obyek ilmu kajian dan teori. Hakikat diartikan sebagai suatu realitas
kenyataan yang utuh, dapat pula dikatakan sebenar-benarnya. Dalam
pandangan ontologi, ilmu komunikasi dipahami melalui objek materil dan
objek formilnya. Objek materil dalam kacamata ontology dimaknai
bahwa komunikasi sebagai sesuatu yang berada pada tingkat paling
abstrak. Smentara itu, objek formal dalam kacamata ontologi memandang
bahwa komunikasi merupakan sebuah sudut pandang (point of view)
yang kemudian diberikan kerangka bagi dimensi studi itu sendiri.
Sehingga dapat disimpulkan ontologi komunikasi memberikan penjelasan
tentang hakikat komunikasi. Komunikasi sebagai kajian ilmu dapat
dipahami sebagai ilmu yang mempelajari tentang pesan antar manusia
sebagai obyek telaah, hakekat, dan bagaimana wujud pesan pesan itu.
Epistimologi pada dasarnya adalah suatu metode yang didalamnya
membahas bagaimana suatu pengetahuan dirangkai dari data data yang
diperoleh menggunakan metode ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan. Kaitan komunikasi dengan epistimologi yaitu
bahwa kemunculan ilmu komunikasi sebagai suatu ilmu pengetahuan

16
tidak bisa dilepaskan dari perkembangan ilmu sosial sebagai payung
diatasnya. Perkembangan keilmuan pada ilmu sosial memberikan sebuah
landasan bagi terciptanya cabang keilmuan yang baru. Sehingga,
diperoleh ilmu komunikasi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang utuh.
Dimana dalam komunikasi snediri, epistimologi komunikasi diartikan
sebagai suatu penjelasan yang membahasa metode, teori, serta proses
komunikasi. Terakhir, aspek aksiologis sangat terkait dengan tujuan yang
bersifat filosofis pragmatis. Tujuan tersebut memilki asas kebermanfaatan
yang terkait dengan tujuan dan kepentingan dari pada manusia itu sendiri.
Bahwa, perkembangan ilmu komunikasi tidak terlepas dari kebutuhan
manusia itu sendiri akan pentingnya komunikasi. Kebutuhan manusia
akan komunikasi inilah yang diartikan sebagai tujuan pragmatic.
Sehingga dapat disimpulkan, aksiologi komunikasi adalah sebuah
penjelasan mengenai subtansi, tujuan, dan manfaat komunikasi.
2. Pengertian Komunikasi Dalam Konseling
Menurut Dance (dalam Suryanita, 2011) komunikasi dalam konseling
adalah suatu proses pemindahan informasi antara dua orang manusia
(konselor-konseli) atau lebih yang menimbulkan respon, dengan
menggunakan simbol-simbol yang dipahami bersama. Berdasarkan
pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa komunikas dalam konseling
merupakan suatu proses pemindahan/ penyampain informasi, pikiran dan
sikap antara konselor dan konseli, terjadi dalam konteks tertentu,
mempunyai pengaruh tertentu dan ada kesempatan untuk melakukan
umpan balik sehingga dapat meningkatkan pemahaman informasi
diantara kedua belah pihak.
3. Unsur-Unsur Dalam Komunikasi
Menurut Suryanita (2011) unsur-unsur yang harus ada dalam
komunikasi, khususnya dalam konseling adalah sebagai berikut:

17
a. Komunikator (who?), sebagai pelaku komunikasi yaitu orang yang
menyampaikan pesan, dalam proses konseling unsur ini adalah
konselor itu sendiri yang mempunyai peran sentral dan sangat
menentukan keberhasilan dari keseluruhan proses konseling.
b. Komunikan (to whom?), yaitu pelaku komunikasi yang menerima
pesan, dalam proses konseling unsur ini adalah konseli, meskipun
tampak berperan “pasif” namun juga mempunyai andil dalam
menentukan arah dan hasil proses konseling.
c. Pesan (says what?), yaitu materi/ obyek/ stimulan yang
disampaikan oleh komunikator/ konselor. Dalam hubungannya
dengan proses konseling maka pesan ini mencakup sebagai
pengarah di dalam usaha untuk mengubah sikap dan perilaku
komunikan/ konseli.
d. Media (in which chanel?), yaitu sarana dan prasarana sebagai alat
penunjang untuk terjadinya komunikasi baik hardware maupun
softwarenya. Dalam katagori media ini termasuk juga suasana,
tempat dan kualitas interaksi yang terjadi antar pelaku komunikasi
(konselor dan konseli).
e. Umpan balik/ feedback (with what effect?), yaitu merupakan
respon yang diberikan oleh komunikan (konseli) yang merupakan
hasil dari proses komunikasi (konseling). Respon ini bisa berupa
pesan balik (dalam hal ini komunikan akan beralih menjadi
komunikator dan sebaliknya), atau juga berupa perubahan sikap
atau perilaku sebagai hasil akhir (outcome) dari proses komunikasi
(konseling).
4. Komunikasi Yang Efektif Dalam Konseling
Komunikasi disebut efektif apabila tercapai saling pemahaman atau
penerima menginterpretasikan pesan yang di terimanya sebagaimana
dimaksudkan oleh pengirim (komunikator). Keefektifan komunikasi antar

18
pribadi menurut Moss dan Tubbs (2000: 23) ada lima kriteria yang harus
di penuhi:
a. Pemahaman
Maksudnya komunikasi dianggap efektif apabila penerima
(komunikan) menerima pemahaman yang cermat atas pesan yang
disampaikanya. Misalnya seorang konselor (komunikator)
memberikan pesan pada konseli (komunikan) bahwa konseli
hendaknya menyusun program kerja keseharianya, dan si konseli
mengerjakan semua yang diperintahkan oleh konselor, maka
komunikasi antara konselor dan konseli sudah bisa di katakana
efektif.
b. Kesenangan
Maksudnya bahwa dalam komunikasi tercipta hubungan yang
menyenangkan seperti suasana yang kondusif, ngobrol bersama,
saling tegur sapa, dan lain sebagainya. Contoh: pada saat terjadi
komunikasi antara seorang konselor dengan konseli, pada saat itu
terjadi saling tegur sapa, mengobrol bersama dan ada feedback dari
keduanya maka akan terciptalah suasana yang menyenangkan dan
kondusif.
c. Pengaruh pada sikap
Maksudnya setelah berkomunikasi maka sikap komunikan menjadi
berubah dan tentunya ke arah yang positif. Contohnya: ada seorang
konseli datang ke konselor untuk menyelesaikan masalah-maalah
yang ada pada dirinya, dan si konselor memberikan solusi tentang
masalah yang ada pada diri konseli dan setelah beberapa hari si
konseli ternyata sudah bisa mengatasi masalah yang ada pada
dirinya serta bisa merubah sikapnya menjadi lebih baik dari
sebelumnya.
d. Hubungan yang semakin baik

19
Maksud dari pernyatan di atas adalah bahwa melalui komunikasi
antar pribadi seseorang dapat memperbaiki hubunganya. Contoh:
pada saat pembicaraan antara konselor dengan konseli terjadi
kesalahpahaman penafsiran terhadap pesan yang disampaikan
sehingga terjadi adu mulut, maka dengan komunikasi antar pribadi
yang lebih efektif dapat mengurangi kesalah pahaman di antara
mereka, sehingga mereka yang semula salah paham dapat menjadi
baik.
e. Tindakan
Maksudnya bahwa melalui komunikasi antar pribadi, komunikan
tidak hanya memahami pesan yang disampaikan tetapi juga
melakukan tindakan sesuai yang diharapkan komunikator atau ikut
berpartisipasi. Sebagai contoh: dalam proses konseling
(komunikasi antar pribadi) telah terjadi kesepakatan bersama
bahwa konseli (komunikan) akan melakukan tindakan tertentu,
sesuai dengan isi dan proses layanan yang diterimanya, namun
konseli tidak melakukan apa yang telah disepakati bersama, maka
komunikasi antar pribadi tersebut dikatakan tidak efektif.
5. Keterampilan Komunikasi Dalam Konseling
Untuk terlaksananya suatu komunikasi konseling yang dialogis dengan
mengajak konseli berpartisipasi secara aktif, selain dari memahami
karakter konseli, penguasan materi dan juga menguasai keterampilan
komunikasi sangat penting untuk jalannya komunikasi. Oleh karena itu,
di bawah ini akan dibahas lebih rinci keterampilan-keterampilan dalam
konseling yang harus dikuasai oleh konselor sebagai modal awal dalam
komunikasi (Surya dalam Hanny, 2011).
a. Penghampiram
Penghampiran (attending) merupakan keterampilan berkomunikasi
melalui isyarat-isyarat verbal dan non verbal sehingga dapat menarik

20
perhatian kepada pembicara pada tahap awal. Oleh karena itu,
penghampiran ini merupakan keterampilan dasar dalam setiap proses
komunikasi yang bersifat dialogis. Hal ini biasanya dilakukan dengan
sapaan dan nada yang baik, seperti : “assalamualaikum”, “selamat pagi” ,
dan lain sebagainya. Hal seperti itu dilakukan dengan menggunakan
perkataan yang baik dan sopan serta bahasa tubuh yang baik seperti
kontak mata, gerak badan dan lain-lain. Diharapkan nantinya konseli
akan merasa diterima dan penting, serta merasa dihargai keberadaanya
oleh konselor. Keterampilan ini dapat dikembangkan melalui berbagai
cara, seperti :
1) Ungkapan salam dan sapaan secara sopan.
2) Penampilan diri dengan postur fisik yang meyakinkan.
3) Gerakan fisik yang disertai dengan perhatian.
4) Pengakuan.
5) Memelihara kontak mata.
6) Mengamati dan menyimak dengan penuh perhatian.
b. Empati
Empati adalah kesediaan untuk memahami orang lain secara
keseluruhan, baik yang tampak maupun yang terdapat dalam aspek
perasaan, pikiran, dan keinginan. Dengan berempati konselor akan
berusaha menempatkan diri sedekat mungkin dengan orang lain. Dengan
begitu konselor dapat merasakan apa yang dirasakan konseli dan bahkan
dapat merasakan berada dalam situasi yang sama seperti
konseli. Keterampilan ini dapat dilakukan dengan memberikan respon
sebagai berikut:
1) Sikap menerima dan memahami ungkapan konseli, seperti gerak mata
dan anggukan.
2) Memberikan perhatian yang mendalam terhadap ungkapan konseli.
3) Pernyataan yang menggambarkan ungkapan suasana perasaan.

21
c. Merangkumkan
Keterampilan merangkum merupakan keterampilan yang harus
dikuasai seorang konselor, sebab merangkum merupakan wujud dari
penerimaan konselor terhadap ungkapan konseli. Dalam berkomunikasi
biasanya konseli akan menyampaikannya secara panjang lebar. Oleh
karena itu, perlu kiranya seorang konselor merangkumnya. Untuk dapat
merangkum, maka seorang konselor harus menyimak baik-baik apa yang
dikatakan oleh konselinya. Selanjutnya adalah menyampaikan sebagai
respon konselor terhadap konseli. Dengan demikian konseli akan merasa
diterima, dihargai, dan diakui yang pada gilirannya akan menunjang
proses konseling. Hal ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
1) Memberikan kesempatan kepada konseli untuk menyampaikan
ungkapan secara lengkap.
2) Menunjukkan sikap pemberian perhatian dan menyimaknya dengan
penuh perhatian.
3) Membuat catatan-catatan seperlunya untuk merangkum pembicaraan.
4) Pada akhirnya konseli dapat menyampaikan ungkapan-ungkapan
konselor yang memberikan respon.
d. Bertanya
Keterampilan bertanya merupakan keterampilan yang penting dan
strategis dalam komunikasi konseling sebab dapat menentukan
kelancaran proses konseling. Jika bertanya dilakukan dengan cara yang
kurang tepat maka komunikasi tidak akan berjalan dengan efektif. Begitu
juga sebaliknya, pertanyaan yang baik dapat merangsang orang lain untuk
lebih terbuka, keratif dan berkeinginan untuk berbagi informasi dan
pengalaman. Keterampilan bertanya dapat dikembangkan dengan
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1) Perhatikan suasana konseling dan konseli.
2) Kuasai materi yang berkaitan dengan pertanyaan.

22
3) Ajukan pertanyaan dengan cara yang jelas dan terarah.
4) Segera berikan respon balikan terhadap jawaban konseli.
e. Kejujuran
Konselor harus mampu menunjukkan kejujuran dari apa yang
diungkapkan sehingga data memberikan pesan secara objektif. Untuk itu
seorang konselor harus mampu memberikan penyampaian secara terbuka
tanpa manipulasi. Dengan keterampilan ini konselor dapat menyatakan
perasaannya mengenai perasaan konseli dengan cara sedemikian rupa
sehingga konseli dapat menerima tanpa ada rasa tersinggung.
Keterampilan ini juga membantu untuk berbagi perasaan terhadap apa
yang dikatakan atau dilakukan konseli dan tetap menjaga hubungan
dengan konseli. Respon yang diberikan oleh seorang konselor dengan
jujur adalah respon dengan cara yang ikhlas secara emosional dan secara
langsung dapat menyatakan perasaan sendiri. Namun ada empat kondisi
yang harus diperhatikan untuk mengembangkan keterampilan kejujuran,
seperti:
1) Ungkapan perasaan yang sebenarnya.
2) Kejadian tertentu yang menyentuh perasaan.
3) Alasan mengapa berperasaan seperti itu.
4) Pengaruh perasaan itu terhadap kegiatan selanjutnya.
b. Asertif
Asertif adalah suatu tindakan memberikan respon terhadap tindakan
orang lain dalam bentuk mempertahankan hak asasi sendiri yang
mendasar tanpa melanggar hak asasi orang lain yang mendasar pula.
Dalam komunikasi konseling, keterampilan ini sangat diperlukan untuk
menerima respon konseli dengan cara sedemikian rupa, hingga konseli
merasa hak asasinya tidak terganggu. Keterampilan ini dapat
dikembangkan dengan menggunakan bahasa verbal dan non verbal. Non
verbal dapat dilakukan dengan cara melakukan kontak mata yang baik,

23
membagi waktu yang baik, penampilan yang tenang dan lain sebagainya.
Sedangkan dengan cara verbal seperti menggunakan ungkapan perasaan
dan kepercayaan secara jujur, serta menggunakan suara yang jelas dan
menyenangkan.
c. Konfrontasi
Keterampilan ini digunakan untuk memberikan respon terhadap pesan
seseorang yang mengandung pesan ganda yang tidak sesuai atau saling
bertentangan satu dengan yang lainnya. Keterampilan ini merupakan cara
konselor untuk membetulkan titik perbedaan atau pertentangan dalam
situasi sebagai berikut:
1) Perbedaan antara apa yang diucapkan dengan apa yang dilakukan.
2) Perbedaan antara apa yang dikatakan oleh seseorang dengan apa yang
dilaporkan oleh orang lain.
3) Perbedaan antara apa yang dikatakan dengan apa yang nampak.
Untuk penerapan keterampilan konfrontasi ini sebaiknya konselor
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1) Konselor memiliki pemahaman yang tepat dan bersikap empati
serta jujur.
2) Harus diperhitungkan agar konseli mau menerima.
3) Harus sesuai dengan situasi dan kondisi masalah konseli.
4) Harus singkat dan tepat sasaran.
d. Pemecahan masalah
Hal ini penting karena untuk membantu konseli memecahkan masalah-
masalah yang dihadapinya. Konselor harus mengembangkan suatu
mekanisme komunikasi yang memberikan kesempatan pada konseli
menyatakan pendapat dan sumbangan pemikiran, menjabarkan, serta
memilih alternatif pemecahan masalahnya sendiri. Ada tujuh tahapan
yang harus dilalui dalam pemecahan masalah, seperti:
1) Menjajaki masalah.

24
2) Memahami masalah.
3) Membatasi masalah.
4) Menjabarkan alternatif.
5) Memilih alternatif yang baik.
6) Menerapkan alternatif.

25
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Komunikasi antar pribadi adalah proses komunikasi yang terjadi antara dua
orang atau lebih secara langsung (tatap muka) dan terjadi timbal balik secara
langsung pula baik secara verbal maupun non-verbal. Dalam komunikasi antar
pribadi terdapat 3 komponen utama tentang pemikiran komunikasi antar
pribadi yaitu:
1. Komponen-komponen utama
2. Hubungan diadik, dan
3. Pengembangan
Karakteristik komunikasi antar pribadi menurut Purwanto Kurniawati
2013:7 komunikasi yang dilakukan antara orang seseorang dengan orang
lain dalam suatu masyarakat maupun orang dengan menggunakan media
komunikasi tertentu dan bahasa yang mudah dipahami untuk mencapai
suatu tujuan tertentu. Devito (Suranto : 2011) mengemukakan 5
pendekatan positif yang diperlukan dalam komunikasi interpersonal, yaitu
: keterbukaan (openess), empati (empathy), sikap mendukung
(supportiveness), sikap positif (positiveness), dan kesetaraan (equality).
Menurut Dance (dalam Suryanita, 2011) komunikasi dalam konseling
adalah suatu proses pemindahan informasi antara dua orang manusia
(konselor-konseli) atau lebih yang menimbulkan respon, dengan
menggunakan simbol-simbol yang dipahami bersama. Menurut Suryanita
(2011) unsur-unsur yang harus ada dalam komunikasi, khususnya dalam
konseling adalah sebagai berikut:
1. Komunikator (who?)
2. Komunikan (to whom?)
3. Pesan (says what?)
4. Media (in which chanel?)

26
5. Umpan balik/ feedback (with what effect?)
Keefektifan komunikasi antar pribadi menurut Moss dan Tubbs
(2000: 23) ada lima kriteria yang harus di penuhi: a) pemahaman b)
kesenangan c) pengaruh pada sikap d) hubungan yang semakin baik e)
tindakan.

27
DAFTAR PUSTAKA

Aswara, Dana. 2016. “Komunikasi Antarpribadi antara Guru Bimbingan Konseling


dan Siswa dalam pembentukkan Karakter kepribadian”. Fakultas Ilmu Sosial
dan Politik. Universitas Hasanuddin. Makassar.
Barata, Adya. 2003. Dasar-dasar Pelayanan Prima. Jakarta: Elex Media
Komputindo.
Firdausi, A., Hartati, M., Nusantoro, E. 2014. Komunikasi Interpersonal Mahasiswa
Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Semarang. Indonesian Journal of
Guidance and Counseling 3. No 2.
Hariko, R. 2017. Landasan Filosofis Keterampilan Komunikasi Konseling. Jurnal
Kajian Bimbingan dan Konseling. 2(2), 41-49.
Moss, Sylvia dan Tubbs, L. Stewart. 2000. Human Communication: Prinsip – Prinsip
Dasar. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Pratiwi, S.W. 2013. Komunikasi Interpersonal Antar Siswa di Sekolah dan
Implikasinya Terhadap Pelayanan Bimbingan dan Konseling. Jurnal Ilmiah
Konseling. Vol. 2. No.1
Septia, H., Yusmansyah, Mayasari S. 2012. Peningkatan Komunikasi Interpersonal
dengan Membuat Konseling Kelompok.
Supratiknya. 1995. Komunikasi Antarpribadi. Yogyakarta : Kanisius.
Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan + Konseling [Studi & Karier]. Yogyakarta: Andi.
Willis, Sofyan. 2013. Konseling Individual Teori dan Praktik. Bandung: Alfabeta.
Wiryanto. 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta: Grasindo.
Wulandari, I. 2017. Peran Komunikasi Antar Pribadi Antara Guru Bimbingan
Konseling (BK) Dan Siswa Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Siswa Di SMK
N 1 Tanah Grogot Kabupaten Paser. E-Jounal Ilmu Komunikasi. Volume 5,
Nomor 3, Hal. 438-450.

28
LAMPIRAN

Analisis Teori Komunikasi Suku Asli Kalimantan

Sebelum menganalisis tentang teori-teori komunikasi, kita harus tau dulu


macam-macam dari teori komunikasi itu sendiri. Teori komunikasi merupakan dasar
dari proses komunikasi. Teori-teori komunikasi terdapat berbagai macam, yaitu :

1. Teori Kebutuhan Hubungan Interpersonal


William Schutz (1958) mengatakan bahwa setiap manusia memiliki tiga
kebutuhan antarpribadi yang disebut dengan inklusif kontrol dan afeksi. Dasar
teori ini adalah bahwa manusia pasti membutuhkan orang lain sebagai
makhluk sosial. Teori ini menjelaskan tentang adanya hubungan yang terjadi
antar individu yang harus menghadirkan sesuatu dalam kondisi tertentu agar
dapat menghasilkan sesuatu yang menyenangkan.
2. Teori Disonansi Kognitif
Sebenarnya teori disonansi kofnitif merupakan teori yang bersinggungan
dengan psikologi. Namun, jika dikaitkan ke bidang komunikasi, disonansi
kognitif ini merupakan suatu komunikasi yang berhubungan dengan perasaan
ketidaknyamanan karena sikap, pemikiran, dan perilaku yang tidak baik atau
tidak sesuai.
3. Teori Procced View
Teori ini merupakan teori komunikasi yang merupakan salah satu teori dari
pengembangan diri dalam individu seseorang. Teori ini merupakan teori
komunikasi yang dilihat dari kualitas pribadi. Seperti halnya pada Mario
Teguh yang berbicara, maka akan banyak orang yang mendengarkan. Dengan
kata lain, teori procced view ini dilihat dari siapa yang berbicara. Siapa yang
berbicara, dialah yang didengar. Semakin ia berkualitas, semakin banyak
orang yang mendengarkan. Sehingga teori ini memerlukan kualitas pribadi
terlebih dahulu untuk melanjutkan komunikasinya agar banyak orang yang

29
mendengarkan. Biasanya, teori ini berhubungan dengan kepercayaan pada
seseorang. Semakin banyak orang yang percaya dengan orang tersebut, maka
semakin banyak orang yang mendengarkan.
4. Teori Social Exchange
Teori ini merupakan salah satu teori dalam bidang komunikasi yang biasanya
disebut sebagai pertukaran sosial. Monge dan Contractor (2003)
mengemukakan bahwa orang menghitung nilai keseluruhan dari sebuah
hubungan dengan mengurangkan pengorbanannya dari penghargaan yang
diterima. Teori ini dikembangkan oleh ahli psikolog John Thibaut dan Harlod
Kelley (1959), dan beberapa orang sosiolog yang bernama George Homans
(1961), Richard Emerson (1962), dan Peter Blau (1964). Teori ini memiliki
hubungan dengan pertukaran orang lain yang dapat menghasilkan sesuatu.
Komunikasi akan terjadi ketika adanya lingkungan dan sikap individu yang
saling berhubungan. Di lingkungan masyarakat, pastinya kita akan menemui
berbagai orang dengan sikap yang berbeda-beda yang saling terkait dan
berhubungan. Koneksi ini terdapat unsur imbalan, pengorbanan seperti biaya,
dan keuntungan yaitu profit.
5. Teori Hipotesis Kecocokan
Teori hipotesis kecocokan atau hipotesis matching ini merupakan salah satu
teori komunikasi yang dilihat dari segi penampilan seseorang. Dengan kata
lain, dalam komunikasi dengan teori ini merupakan gaya komunikasi yang
menggunakan ketertarikan melalui fisik. Seperti halnya seorang perempuan
yang elegan, ia akan sudi untuk berkomunikasi dengan seorang pria tampan
dan kaya sebagai lawan bicaranya. Sehingga, dalam teori ini perlu adanya
ketertarikan secara fisik dalam berkomunikasi. Melihat dari sisi luar sebelum
berbicara dengan orang tersebut.
6. Teori Saling Melengkapi (Complementary)
Teori saling melengkapi pernah dikemukakan teorinya oleh Thedore Reik. Ia
berpendapat bahwa teori komunikasi antar pribadi ini menegaskan ketika kita

30
sedang melihat kelebihan orang lain dan membandingkan dengan kemampuan
kita, sehingga timbul rasa iri. Contohnya adalah seorang istri yang dominan
atau agresif bisa jadi cocok ketika memiliki suami yang penurut, namun tidak
cocok berteman dengan seorang yang penurut. Hal ini merupakan teori yang
saling melengkapi satu sama lain. Seperti pasangan suami istri yang laki-laki
hanya bisa berjalan, dan sang istri hanya bisa memegang. Sehingga, mereka
akan saling melengkapi dalam kehidupannya.
7. Teori Interaksi Simbolik
Dalam teori ini merupakan suatu hubungan komunikasi antar individu yang
saling keterkaitan atau menguntungkan. Jika komunikator merasa untung
menyampaikan informasinya dan komunikan juga merasa untung dengan
komunikasi tersebut, maka dapat dikatakan bahwa teori ini berhasil
dilakukannya.
8. Teori Penetrasi Sosial
Teori ini juga disebut sebagai social penetration theory. Salah satu teori
komunikasi antar pribadi ini termasuk salah satu teori pengembangan
hubungan atau relationship development theory. Irwin Altman dan Damas
Taylor adalah pengembang teori ini. Altman dan Taylor mengungkapkan
secara rinci terkait peran dari pengungkapan diri, keakraban, dan komunikasi
dalam pengembangan hubungan antarpribadi.
Kemudian, teori ini cenderung fokus pada pengembangan hubungan, terutama
berkaitan dengan perilaku antarpribadi saat terjadinya interaksi sosial dan
beberapa proses kognitif internal mulai dari mendahului, menyertai, dan
mengikuti pembentukan hubungan. Proses penetrasi sosial terjadi secara
bertahap dan teratur dari sifatnya di permukaan ke tingkat yang akrab
mengenai pertukaran. Hal ini berfungsi efektif untuk mengetahui hasil yang
akurat. Menurut teori penetrasi sosial, prinsip utama bagi komunikasi pada
pertemuan pertama adalah norma resiprositas. Norma ini menilai bahwa
individu memiliki kewajiban untuk mengembalikan pengungkapan pihak lain

31
yang diterima. Kemudian, menurut teori ini juga, Secara langsung akan
mengenali diri orang lain dengan cara “masuk ke dalam” (penetrating) diri
orang yang bersangkutan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui beberapa
informasi terkait diri orang lain.
9. Teori Reduksi Ketidakpastian
Teori ini dikemukakan oleh Charles R. Berger dan Richard J. Calabrese dari
Northwestern University. Mereka mengembangkan beberapa teori komunikasi
yang hingga kini masih jadi acuan pembelajaran komunikasi . Teori-teori
yang lahir adalah teori terkait dengan persepsi manusia, pertukaran sosial, dan
keseimbangan antarpribadi.
10. Teori Dialektika Relasional
Teori Dialektika Relasional adalah salah satu teori komunikasi antar pribadi
yang memiliki sifat berbeda dibanding teori lainnya. Dalam teori ini, Orang-
orang yang membangun relasi kemudian melakukan komunikasi antarpribadi,
dalam hatinya mengalami tarikan konflik. Kemudian, tarikan konflik itulah
yang menjadi penyebab dari relasi menjadi selalu ada dalam kondisi cair.
Kondisi ini kemudian dikenal sebagai ketegangan dialektis. Orang yang
melakukan interaksi merasa terombang – ambing di antara dua kutub relasi.
Dua kutub tersebut adalah diantara harmonis dan konflik ataupun juga antara
keakraban dan bermusuhan.
11. Teori Penilaian Sosial
Teori ini fokus terhadap penilaian dari pesan yang diterima. Si penerima
pesan dapat melakukan dua hal:
a. Mengkontraskan, kontras adalah distorsi perseptual. Kontras yang
membawa menuju polarisasi ide. Contohnya adalah : “mengontraskan
antara pandangan kopi itu bermanfaat bagi kesehatan dan kopi itu
merugikan kesehatan.”
b. Mengasimilasikan, asimilasi memiliki bertujuan untuk menunjukan
kekeliruan penilaian yang berlawanan.

32
Ada dua hal yang menjadi cakupan dalam teori Penilaian Sosial. Cakupan
tersebut dapat digunakan untuk mempelajari pengaruh dari komunikasi
antarpribadi. Kedua hal tersebut adalah:
a. Pembicaraan yang memiliki kredibilitas tinggi. Tipe pembicaraan ini
mampu menyampaikan pesan yang langsung masuk ke dalam wilayah
penerimaan dari pendengarnya.
b. Ambiguitas seringkali terjadi lebih baik apabila dibandingkan dengan
kejelasan. Banyak ambiguitas komunikasi yang dipakai dalam dunia
periklanan.
12. Teori Inokulasi
Teori Inokulasi atau lebih dikenal dengan teori suntikan dikemukakan oleh
Mc-Guire. Perkembangan teori ini menggunakan analogi dari peristiwa
medis. Individu yang tidak siap secara fisik untuk menahan penyakit infeksi,
seperti kutu air dan hepatitis, membutuhkan inokulasi (suntikan) vaksin. Hal
ini bertujuan untuk merangsang mekanisme daya tahan tubuh agar dapat
melawan penyakit tersebut.
Kemudian, individu yang tidak mempunyai informasi terhadap suatu hal, Ia
akan lebih mudah untuk dipersuasi atau dibujuk. Oleh karena itu, cara yang
diperlukan untuk tidak mudah dipersuasi adalah memberinya argumentasi
balasan. Menurut Mc. Guire, orang mudah diinokulasi untuk melawan
persuasi
13. Teori Atribusi
Teori ini mempelajari tentang hubungan antar individu. Kemudian, teori ini
dikembangkan oleh Heider. Heider mengungapkan bahwa apabila kita melihat
perilaku orang lain, maka kita juga harus melihat tujuan sebenarnya yang
menyebabkan seorang tersebut berperilaku seperti dalam pandangan.
14. Teori Pandangan Proses
Teori ini melihat bahwa kualitas dan originalitas sebuah hubungan antar
pribadi dapat dinilai dari pengetahuan yang dimiliki oleh pasangan

33
komunikasi. Penilain tersebut berdasarkan keadaan dari pribadi nya sendiri
(hubungan asli atau semu).

Selanjutnya akan dibahas mengenai bagaimana komunikasi tersebut. Komunikasi


merupakan aktifitas dasar manusia. Melalui komunikasi manusia dapat saling
berhubungan satu sama lain baik dalam kehidupan seharihari di rumah ditempat
kerja, pasar, masyarakat, atau dimanapun manusia berada. Tidak ada manusia yang
tidak ada terlibat dalam komunikasi.

Komunikasi begitu sangat penting dalam kehidupan manusia, karena harus


diakui bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa komunikasi karena manusia adalah
makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Dengan berkomunikasi
secara efektif, maka kegiatan-kegiatan yang sering dilakukan manusia bisa berjalan
dengan baik. Tanpa adanya komunikasi dengan baik mengakibatkan ketidakteraturan
dalam melakukan kegiatan sehari-hari baik itu di rumah maupun dalam suatu
organisasi, perusahaan dan dimanapun manusia itu berada.

Cara orang berkomunikasi di Indonesia sendiri sangat beragam. Disini, akan


dibahas khususnya cara berkomunikasi dan berperilaku di Kalimantan. Di
Kalimantan terdapat banyak suku, antara lain suku banjar, dayak, banjau, kutai, paser,
dll.

Berdasarkan pengalaman salah satu anggota di Banjarmasin selama beberapa


hari. Bahasa Banjar yang digunakan baik di Banjarmasin maupun di Samarinda
sangat jauh berbeda. Suku Banjar asli biasa menggunakan bahasa Banjar secara
penuh, sedangkan di Samarinda hanya sekadar menggunakan kata “ulun” atau
“ikam”. Dalam kehidupan sehari-hari suku Banjar, penduduknya berbicara cepat dan
terkesan ramai, memiliki sikap yang blak-blakan apa adanya (cenderung mirip
dengan orang Sumatera atau Madura), kecintaan mereka terhadap keluarga, memiliki
kejujuran dan sikap penolong yang cukup dominan, menguasai pembicaraan, dll.

34
Ketika salah satu anggota kami mengunjungi Banjarmasin untuk pertama kali.
Hal yang paling diingat adalah cara pedagang suku Banjar menawarkan dagangan
mereka dengan unik. Mereka berkata, “Jual ding lah,” yang terdengar aneh karena
seharusnya menggunakan kata ‘beli’ jika ingin dagangannya dibeli, seperti “Beli ding
lah”. Selain itu, terdapat pula penambahan kata ‘lah’ dan ‘ai’ dalam setiap
percakapan. Dalam berbicara, orang-orang suku Banjar terkesan menekankan kata
paling akhir dalam suatu kalimat, seperti “Ulun handak kamana?” dengan
menekankan kata ‘kamana’. Adapun suku Banjar sendiri dibedakan menjadi dua,
yaitu Banjar Hulu dan Banjar Kuala.

Suku lainnya yang ada di Kalimantan adalah suku Paser. Suku Paser adalah suku
yang berada di Paser, Penajam Paser Utara. Perilaku-perilaku suku Paser antara lain,
adalah kebiasaan menyelipkan daun ke telinga apabila sedang hujan panas, yang
dipercaya menyelamatkan mereka dari ancaman makhluk tak kasat mata; jika pergi
ke luar kota harus meletakkan daun beserta batangnya sebagai pertanda bahwa tidak
ada orang di rumah. Dalam berkomunikasi bahasa yang digunakan oleh suku paser
tidak jauh berbeda dengan suku Dayak Modang. Contoh kata-katanya, yaitu “akai”
(aduh), “nang” (jangan), “roa” (banyak), dll.

Suku lainnya yang ada di Kalimantan, yaitu suku Banjau, yang menggunakan
bahasa Banjau Sama, berlokasi di pesisir Paser. Sebenarnya suku Banjau banyak
tersebar di segala penjuru Sulawesi, Kalimantan Timur, Kangean (di Filipina), Bali,
Sumbawa, Jawa Timur, dll., karena hidupnya yang tinggal di atas laut. Masyarakat
Banjau di Paser, tersebar diantaranya di Muara Pasir, Air Mati, Ponding Baru, Lori,
Sungai Ngalir, dll. Contoh kosakata suku Banjau, yaitu “aran” (nama), “baew”
(baru), “dekane’” (anak anak), “ende” (telur), “inde’” (melihat), “kite” (anda/kita),
dan masih banyak lagi.

Suku selanjutnya yang ada di Kalimantan adalah suku Dayak. Suku Dayak
berasal dari Kalimantan Timur. Dayak dibedakan menjadi Dayak Kenyah, Dayak

35
Hiban, Dayak Tanjung, Dayak Bahau, Dayak Beau, Dayak Punan, dll. Suku Dayak
yang paling primitif adalah suku Dayak Punan. Suku ini sulit berkomunikasi dengan
masyarakat lain, kebanyakan dari mereka tinggal di gua dan hutan. Dalam menjalani
kehidupan sehari hari, suku Dayak dikenal sebagai suku yang menjunjung tinggi
adatnya. Bila ada permasalahan yang muncul, biasanya mereka lebih memilih
menggunakan hukum adat. Dalam menerima pendatang baru, suku Dayak cenderung
terbuka selama pendatang tersebut bersikap sopan dan datang dengan cara baik-baik.
Prinsip suku dayak sendiri adalah “Kamu jual, kami beli berapapun harganya.”.
Kosakata bahasa suku Dayak antara lain adalah “jida” (tidak), “beken” (bukan),
“pai” (kaki), “lenge” (tangan), “kueh” (mana), “bara” (dari), “mihop” (minum).

Dan suku yang akan dibahas terakhir kali adalah suku Kutai. Suku Kutai adalah
suku asli Kalimantan Timur. Mayoritas suku Kutai saat ini beragama Islam dan
hidup di tepi sungai. Orang Kutai memiliki sifat yang sangat khas dan kental. Sifat
orang Kutai adalah baik, ramah, tidak kasar, suka menolong, dan menerima orang
baru. Prinsip suku Kutai adalah hidup mandiri dan saling membantu orang lain.
Adat-istiadat lama suku Kutai memiliki banyak kesamaan dengan adat-istiadat suku
Dayak Rumpun Ot Danum (khususnya Tunjung-Benuaq), misalnya Erau (upacara
adat yang paling meriah), Belian (upacara tarian penyembuhan penyakit), Memang,
dan mantra-mantra serta ilmu gaib, seperti parang maya, panah terong, polong,
racun gangsa, perakut, peloros, dan lain-lain. Salah satu suku Kutai yang saat ini
masih sangat kental adat istiadatnya berada di daerah Desa Embalut, Tenggarong
Sebrang, disana ada perkumpulan suku Kutai yang sangat banyak dan meraka
membuat kelompok sendiri.

Itulah beberapa contoh cara berkomunikasi suku asli Kalimantan. Dari tulisan
kami di atas, dapat kami simpulkan bahwa komunikasi suku asli di Kalimantan
mengandung teori kebutuhan hubungan interpersonal. Dasar teori ini adalah bahwa
manusia pasti membutuhkan orang lain sebagai makhluk sosial. Sikap menolong
sesama yang ditunjukkan oleh suku-suku di Kalimantan berkaitan erat dengan

36
kutipan dalam teori kebutuhan hubungan interpersonal yang dasarnya menyebutkan
manusia membutuhkan orang lain sebagai makhluk sosial.

Selain itu, terdapat pula teori social exchange. Komunikasi terjadi ketika adanya
lingkungan dan sikap individu yang saling berhubungan, di lingkungan masyarakat
pastinya kita akan menemui berbagai orang dengan sikap yang berbeda-beda yang
saling terkait dan berhubungan. Contohnya seperti suku Kutai yang dengan tangan
terbuka menerima orang baru yang memiliki adat yang berbeda dari suku Kutai. Ada
pula seperti pengalaman salah satu anggota kami yang melakukan transaksi jual-beli
dengan pedagang suku Banjar, dari proses transaksi tersebut kami jadi mempelajari
hal baru dalam cara berdagang mereka yang cukup unik.

Teori terakhir adalah teori penetrasi sosial. Teori ini cenderung fokus pada
pengembangan hubungan, terutama berkaitan dengan perilaku antarpribadi saat
terjadinya interaksi sosial dan beberapa proses kognitif internal mulai dari
mendahului, menyertai, dan mengikuti pembentukan hubungan. Suku-suku di
Kalimantan terlihat begitu saling bahu-membahu, memiliki kecintaan lebih kepada
keluarganya. Kecintaan tersebut tentunya tumbuh berkembang secara perlahan,
mengenali diri orang lain dengan cara “masuk ke dalam” (penetrating) diri orang
yang bersangkutan. Dari tahap pengenalan akan muncul rasa percaya satu sama lain
untuk saling terbuka, yang akan menimbulkan adanya hubungan intim terhadap satu
sama lain.

37