Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Di Amerika Serikat, prevalensi seumur hidup skizofrenia sekitar 1%,

yang berarti bahwa kurang lebih 1 dari 100 orang akan mengalami skizofrenia

selama masa hidupnya.1 Gangguan jiwa merupakan respons maladaptif terhadap

stressor dari lingkungan internal atau eksternal, dibuktikan melalui pikiran,

perasaan, dan prilaku yang tidak sesuai dengan norma –norma lokal atau budaya

setempat dan menganggu fungsi sosial, pekerjaan dan/atau fisik.2

Skizofrenia adalah sebagai bentuk gangguan jiwa yang sangat berat,

gangguan ini ditandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan kacau,

delusi, halusinasi, gangguan kognitif; gejala –gejala negative seperti menurunnya

minat dan dorongan, berkurangnya keinginan bicara dan miskin isi pembicaraan,

afek yang datar; serta terganggunya relasi personal.2

Skizofrenia merupakan penyakit yang sampai hari ini terus diselidiki oleh

para ahli Penyakit ini kompleks, mulai dari penyebab, gejala-gejala yang

ditampakkannya respon terhadap pengobatan sampai kepada hasil

pengobatannnya.2

1
Skizofrenia yang menyerang kurang lebih 1% populasi, biasanya bermula di

bawah usia 25 tahun, berlangsung seumur hidup, dan mngenai orang dari semua kelas

sosial. Baik pasien maupun keluarga sering mendapatkan pelayanan yang buruk dan

pengasingan sosial karena ketidak tahuan yang meluas akan gangguan ini.klinisi

seyogianya menyadari bahwa diagnosis skizofrenia sepenuhnya didasarkan pada riwayat

psikiatri dan pemeriksaan status mental.1

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi

Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak

belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau “deteriorating”)

yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetic,

fisik, dan social budaya.3

2. Sejarah

Besarnya masalah klinis skizofrenia secara terus-menerus telah menarik

perhatian tokoh-tokoh utama psikiatri dan neurologi sepanjang sejarah gangguan ini.

Dua tokoh tersebut adalah Emil Kraepelin (1856-1926) dan Euglen Bleuler (1857-

1939). Sebelumnya Benedict Morel (1809-1873), seorang psikiater Perancis,

menggunakan istilah demence precoce untuk pasien dengan penyakit yang dimulai pada

masa remaja yang mengalami perburukan, Karl Ludwig Kahlbaum (1828-

1899)menggambarkan gejala katatonia , Ewold Hacker (1843-1909) menulis mengenai

perilaku aneh pada pasien dengan hebefrenia. 1

Emil Kraepelin

Kraepelin mendefinisikan istilah demence precoc dari Morel menjadi demensia

prekoks, yaitu istilah yang menekankan terhadap proses kognitif (demensia) dan awitan

dini (prekoks) yang nyata dari gangguan ini. Pasien dengan demensia prekoks

3
digambarkan memiliki perjalanan penyakit yang memburuk dalam jangka waktu lama

dan gejala klinis umum berupa halusinasi dan waham.1

Gejala utama pasien dengan paranoia adalah waham kejar persisten dan pasien

tersebut digambarkan tidak begitu mengalami perjalanan penyakit demensia prekoks

yang memburuk serta gejala intermiten psikosis manic depresif. Meski Kraepelin telah

mengakui bahwa sekitar 4% pasien nya sembuh sempurna dan 13 persen mengalami

remisi yang signifikan, para peneliti dikemudian hari seringkali salah menyatakn bahwa

kraepelin menganggap demensia prekoks memiliki perjalanan penyakit dengan

perburukan yang tak terhindarkan.1

Eugen Bleuler

Bleuler mencetuskan istilah skizofrenia, yang menggantikan demensia prekoks

dalam literatur. Ia memilih istilah tersebut untuk menunjukkan adanya skisme

(perpecahan, pen.) antara pikiran, emosi, dan perilaku pada pasien dengan gangguan ini.

Blueler menekankan bahwa tak seperti konsep Kraepelin tentang demensia prekoks,

skizofrenia tak harus memiliki perjalanan penyakit yang memburuk. Sebelum

dipublikasikannya istilah Diagnostik of Statistical Mental Disorders (DSM III),

insidensi skizofrenia di Amerika Serikat (dengan para psikitater mengikuti prinsip

Bleuler) meningkat hingga mungkin mencapai dua kali insidensi di Eropa (dengan para

psikiater mengikuti prinsip Kraepelin). Namun, istilah skizofrenia dari Bleuler menjadi

label yang diterima secara internasional untuk gangguan ini.1

4
Empat A.

Bleuler mengidentifikasi gejala fundamental (atau primer) skizofrenia yang

spesifik untuk membangun teori mengenai perpecahan mental internal pada pasien.

Gejala tersebut meliputi empat A. yaitu gangguan asosiasi, khususnya kelonggaran,

gangguan afektif, autisme dan ambivalensi. Bleuer juga mengidentifikasi gejala asesoris

(sekunder), yang banyak menambah pemahaman mengenai skizofrenia.1

3. Epidemiologi

Di Amerika Serikat, prevalensi seumur hidup skizofrenia sekitar 1% yang berarti

bahwa kurang lebih 1 dari 100 orang akan mengalami skizofrenia selama masa

hidupnya. Studi epidemiologic Catchment Area (ECA) yang disponsori National

Institute of Mental Health (NIMH) melaporkan prevalensi seumur hidup sebesar 0.6

sampai 1.9 persen. Menurut DSM IV TR, insidensi tahunan skizofrenia berkisar antara

0,5 sampai 5,0 per 10.000 dengan beberapa variasi geografik. 1

Gender dan Usia

Skizofrenia setara prevalensinya pada pria dan wanita. Namun kedua jenis

kelamin tersebut berbeda awitan dan perjalanan penyakitnya. Awitan terjadi lebih dini

pada pria disbanding wanita. Lebih dari separuh pasien skizofrenik wanita pertama kali

dirawat di Rumah sakit psikiatri sebelum usia 25 tahun. Usia puncak awitan adalah 8

sampai 25 tahun untuk pria dan 25-35 tahun untuk wanita. Tidak seperti pria, wanita

menunjukkan dua puncak kedua terjadi pada usia paruh baya. Kurang lebih 3-10%

wanita mengalami awitan penyakit diatas usia 40 tahun. Hampir 90% pasien yang

5
menjalani pengobatan skizofrenia berusia antara 15 dan 55 tahun. Secara umum, hasil

akhir dari pasien skizofrenik wanita lebih baik disbanding hasil akhir pada pasien pria.

Bila awitan terjadi setelah umur 45 tahun, gangguan ini dicirikan sebagai skizofrenia

awitan lambat.1

Infeksi dan Musim saat lahir

Suatu temuan yang kuat dalam peneitian skizofrenia adalah bahwa orang-orang

yang mengalami skizofrenia adalah kemungkinan besar dilahirkan di musim dingin dan

awal musim semi dan lebih jarang yang dilahirkan di akhir musim semi dan musim

panas. Beberapa studi menunjukkan bahwa frekuensi skizofrenia meningkat setelah

pajanan influenza yang terjadi dimusim dingin selama trimester kedua kehamilan.

Hipotesis lain adalah bahwa orang dengan predisposisi genetic terhadap skizofrenia

mengalami penurunan keuntungan biologis untuk bertahan dari cobaan spesifik musim.1

Distribusi Geografik

Sejumlah regio geografis bumi, seperti Irlandia memiliki prevalensi skizofrenia

yang luar biasa tinggi, dan para peneliti menginterprestasikan kantung skizofrenia

geografis ini sebagai kemungkinan dukungan terhadap teori kausa skizofrenia infektif

(contohnya, viral).1

Faktor Reproduktif

Penggunaan obat psikoterapeutik, kebijakan terbuka dirumah sakit,

deinstitusonalisasi dirumah sakit pemerintah, penekanan pada rehabilitasi dan perawatan

6
berbasis masyarakat untuk pasien skizofrenia, semuanya telah menyebabkan angka

pernikahan dan kesuburan diantara pasien skizofrenia. Akibat faktor tersebut, jumlah

anak yang dilahirkan dari orang tua skizofrenia terus meningkat, dan keluarga biologis

derajat pertama memiliki resiko terkena penyakit ini sepuluh kali lebih besar dibanding

populasi umum.1

Penyakit Medis

Orang dengan skizofrenia memiliki angka kematian akibat kecelakaan dan penyebab

alami yang lebih tinggi daripada populasi umum. Sejumlah studi menunjukkan bahwa

hingga 80 persen dari semua pasien skizofrenia mengalami penyakit medis yang

signifikan pada saat yang bersamaan dan bahwa hingga 50 persen kondisi ini mungkin

tidak terdiagnosis.1

Risiko Bunuh Diri

Bunuh diri merupakan penyebab utama kematian pada orang yang menderita

skizofrenia. Taksirannya bervariasi, namun hingga 10% orang dengan skizofrenia

mungkin meninggal akibat percobaan bunuh diri.1

Penggunaan Zat

Merokok Kretek

Sebagian besar survei telah melaporkan bahwa lebih dari tiga perempat pasien

skizofrenia merokok kretek, dibanding kurang dari setengah pasien psikiatri lain secara

keseluruhan. Sejumlah studi melaporkan bahwa merokok kretek dikaitkan dengan

7
penggunaan obat antipsikotik dalam dosis yang lebih tinggi, mungkin karena

meningkatkan laju metabolism obat-obatan tersebut.1

Zat lain

Kurang lebih 30 sampai 50 persen pasien skizofrenia mungkin memenuhi kriteria

penyalahgunaan atau ketergantungan alkohol; dua zat lain yang paling sering digunakan

adalah kanabis dan kokain.1

Factor populasi

Prevalensi skizofrenia senantiasa berkorelasi dengan kepadatan populasi local

dikota dengan populasi lebih dari 1 juta orang. Korelasi ini lebih lemah dikota yang

berpenduduk 100.000 sampai 500.000 orang dan tidak terdapat di kota dengan

penduduk kurang dari 10000 orang. Efek kepadatan penduduk sejalan dengan

pengamatan bahwa insiden skizofrenia pada anak dengan salah satu atau kedua orang

tua skizofrenik dua kali lebih tinggi di perkotaan disbanding di masyarakat pedesaan.

Pengamatan ini menyatakan bahwa stressor social disuasana perkotaan mempengaruhi

timbulnya skizofrenia pada orang yang beresiko.1

Factor sosioekonomi dan Kultural

Skizofrenia digambarkan terdapat pada semua kebudayaan dan kelompok status

sosioekonomi. Di Negara maju, jumlah pasien skizofrenik yang tdk seimbang berada

pada kelompok sosioekonomi lemah, suatu pengamatan yang dijelaskan oleh dua

hipotesis alternative. Hipotesis aliran menurun menyatakan bahwa orang yang terkena

8
bergeser kea tau gagal berpindah dari kelompok sosioekonomi lemah akibat penyakit

ini. Hipotesis penyebab social menyatakan bahwa stress yang di alami anggota

kelompok sosioekonomi lemah berperan dalam timbulnya skizofrenia.1

Prevalensi skizofrenia pada populasi spesifik1

Populasi Prevalensi (%)


Populasi umum 1,0
Saudara kandung bukan kembar pasien 8,0
skizofrenia

Anak dengan salah satu orangtua penderita 12,0


skizofrenia
Kembaran dizigotik pasien skizofrenia 12,0

Anak yang kedua orangtua menderita 40,0


skizofrenia
Kembar monozigotik pasien skizofrenia 47,0

4. Etiologi

Neurobiologi

Kausa skizofrenia belum diketahui. Meski demikian, dalam satu dekade

belakangan, terdapat peningkatan jumlah penelitian yang mengindikasikan adanya peran

patofisiologi area otak tertentu, termasuk sistem limbik, korteks frontal, serebelum dan

ganglia basalis. Keempat area ini saling terhubung sehingga disfungsi satu area dapat

melibatkan proses patologi primer ditempat lain.1

9
Hipotesis Dopamin

Rumusan paling sederhana hipotesis dopamin tentang skizofrenia menyatakan

bahwa skizofrenia timbul akiban dopaminergik yang berlebihan. Teori ini berkembang

berdasarkan dua pengamatan. Pertama kemanjuran serta potensi sebagian besar obat

antipsikotik. Kedua, obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik. Hipotesis

dopamin tentang skizofrenia terus diperbarui dan diperluas, dan reseptor dopamin baru

terus diidentifikasi. Satu studi melaporkan peningkatan reseptor D4 pada sampel otak

postmortem pasien skizofrenia.1

Neurotransmitter Lain.

Meski neurotransmitter dopamin telah menjadi pusat perhatian sebagian besar

penelitian skizofrenia, terdapat peningkatan perhatian yang ditujukan kepada

neurotransmitter lain contohnya seperti serotonin dan norepinefrin, GABA, Glutamat,

Neuropeptida, Neuropatologi, system limbik.1

Faktor Genetik

Serangkaian studi genetik secara meyakinkan mengusulkan adanya kompone

genetik dalam pewarisan sifat skizofrenia. Kembar monozigot memiliki angka kejadian

bersama yang paling tinggi. Telah banyak dilaporkan adanya hubungan antara lokasi

kromosom dan skizofrenia sejak penerapan teknik biologi molekuler dilakukan secara

luas. Lebih dari separuh dari seluruh kromosom dikaitkan dengan skizofrenia pada

berbagai laporan, namun lengan panjang kromosom 5, 11, dan 18, lengan pendek

10
kromosom 19, serta kromosom X paling sering disebut. Lokus pada kromosom 6, 8, dan

22 juga diaggap terlibat.1

Faktor Psikososial

Jika skizofrenia merupakan penyakit otak, maka penyakit ini mungkin sejalan

dengan penyakit organ lain (contohnya, infark miokardium dan diabetes) yang

perjalanan penyakitnya dipengaruhi stres psikososial. Meskipun, secara historis, para

pembuat teori menyatakan faktor psikososial berperan dalam terjadinya skizofrenia,

klinisi masa sekarang dapat memanfaatkan penggunaan teori dan pedoman yang relevan

yang dibuat berdasarkan pengamatan dan hipotesis dimasa lampau ini.1

Skisme dan Keluarga yang Menyimpang

Theodore Lidz mendeskripsikan dua pola perilaku keluarga yang abnormal. Pada

satu tipe keluarga, dengan skisme yang prominen antara kedua orang tua , salah satu

orang tua sangat dekat dengan anak dengan jenis kelamin berbeda. Pada tipe keluarga

lain, terdapat suatu hubungan yang menyimpang antara anak dengan salah satu orang

tua yang melibatkan perebutan kekuasaan antar orang tua yang mengakibatkan dominasi

salah satu orang tua.1

Etiologi dan Patogenesis :

Sampai saat ini belum ditemukan etiologi pasti penyebab skizofrenia. Tetapi

terdapat beberapa hipotesis yang mendukung terjadinya skizofrenia antara lain :

11
1. Faktor Biologi

Pada penderita skizofrenia dapat ditemukan gangguan organik berupa pelebaran

ventrikel tiga dan lateral; arteri bilateral lobus temporomedial dan gyrus

parahipokampus, hipokampus dan amiglada; disorientasi spasial sel pyramid

hipokampus; serta penurunan volume korteks prefrontal dorsolateral.4

2. Faktor Biokimia

Gejala psikotik pada pasien skizofrenia timbul diperkirakan karena adanya

gangguan neurotransmitter sentral, yaitu peningkatan aktivitas dopamin (hipotesis

dopamin). Teori lain mengatakan terjadinya peningkatan neurotransmitter serotonin

(5-HT2A) dan norepinefrin pada sistem limbik.4

5.Perjalanan Penyakit

Skizofrenia adalah gangguan jiwa yang sangat berat. Gangguan ini ditandai

dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi,

gangguan kognitif dan persepsi; gejala-gejala negatif seperti menurunnya minat dan

dorongan, berkurangnya keinginan bicara dan miskinnya isi pembicaraan, afek yang

datar; serta terganggunya relasi personal.2

Pola gejala pramorbid dapat menjadi bukti pertama adanya penyakit meski

makna gejala tersebut biasanya hanya dikenali secara retrospektif.Secara karakteristik,

gejala bermula pada masa remaja dan diikuti munculnya gejala prodromal dalam

hitungan hari sampai beberapa bulan. Perubahan sosial atau lingkungan, seperti pergi

jauh untuk kuliah, menggunakan zat, atau kematian sanak saudara, dapat mempresipitasi

12
gejala yang mengganggu, dan sindrom prodromal ini dapat berlangsung selama setahun

atau lebih sebelum awitan gejala psikotik yang nyata.1

6. Diagnosis

Pedoman Diagnostik Skizofrenia menurut PPDGJ III3

 Harus ada sedikitnya satu gejala berikut yang amat jelas (dan biasanya dua

gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas) :

(a) “Thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berualang atau bergema

dalam kepalanya (tidak keras).

“Thought insertion or withdrawal” = isi pikiran yang asing dari luar masuk

kedalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar (withdrawl).

“Thought broadcasting” = isi pikirannya disiarkan keluar sehingga orang lain

atau umum mengetahuinya.

(b) “delusion of control” = waham dikendalikan oleh sesuatu kekuatan dari luar.

“delusion of influence” = waham dipengaruhi oleh sesuatu kekuatan tertentu.

“delusion of passivity” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah

terhadap suatu kekuatan dari luar.

“delusional perception” = pengalaman inderawi yang tak wajar biasanya

bersifat mistik atau mukjizat. 3

(c) halusinasi auditorik :

o suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus

terhadap perilaku pasien

13
o mendiskusikan perihal pasien diantara mereka sendiri

o jenis suara halusinasi lain yang berasal dari satu bagian tubuh.

(d) waham waham menetap jenis lainnya yang menurut budaya setempat dianggap

tidak serta wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal keyakinan agama

atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan manusia super (misalnya

mampu mengendalikan cuaca, atau berkomunikasi dengan mahkluk asing dari

dunia lain).3

 atau paling sedikit dua gejala di bawah yang harus selalu ada secara jelas :

(e) Halusinasi yang menetap dari panca-indera apa saja, apabila disertai baik oleh

waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan

afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan yang menetap atau

apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau berbulan bulan terus

menerus

(f) arus pikiran yang terputus atau yang mengalami sisipan yang berakibat

inkoherensi atau pembicaraan yang tidak relevan atau neologisme.

(g) perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah, posisi tubuh tertentu, atau

fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme dan stupor. 3

(h) Gejala-gejala “negatif” seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan

respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya kinerja

14
social; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi

atau mediksi neuroleptika. 3

Adanya gejala – gejala khas tersebut diatas telah selama kurun waktu satu bulan atau

lebih.

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu

keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal behavior),

bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak berbuat sesuatu,

sikap larut dalam diri sendiri( self absorbed attitude), dan penarikan diri secara social.3

Kriteria diagnostic menurut DSM IV TR Skizofrenia

a. Gejala karakteristik : dua atau lebih poin berikut, masing-masing terjadi dalam

porsi waktu yang signifikan selama periode 1 bulan :

1. Waham

2. Halusinasi

3. Bicara kacau

4. Perilaku yang sangat kacau atau katatonik

5. Gejala negative yaitu afek mendatar, alogia, atau kehilangan minat. 1

b. Disfungsi social/ okupasional,: selama suatu porsi waktu yang signifikan sejak

awitan gangguan, terdapat satu atau lebih area fungsi utama, seperti pekerjaan,

hubungan interpersonal, atau perawatan diri, yang berada jauh dibawah tigkatan

yang telah dicapai sebelum awitan. 1

15
c. Durasi : tanda kontinu gangguan berlangsung selama setidaknya 6 bulan. Periode

6 bulan ini harus mencakup setidaknya 1 bulan gejala yang memenuhi criteria A.

d. Eksklusi gangguan mood dan skizoafektif : gangguan skizoafektif dan gangguan

mood dengan cirri psikotik telah disingkirkan baik karena (1) tidak ada episode

depresif, manic, atau campuran mayor yang terjadi bersamaan dengan gejala fase

aktif, maupun (2) jika episode mood terjadi selama fase aktif, durasi totalnya

relative singkat disbanding durasi periode aktif dan residual.

e. Eksklusi kondisi medis umum/zat : gangguan tersebut tidak disebabkan efek

fisiologis langsung suatu zat

f. Hubungan dengan gangguan perkembangan pervasif :jika terdapat riwayat

gangguan autistic atau gangguan perkembangan pervasive lainnya , diagnosis

tambahan skizofrenia hanya dibuat bila waham atau halusinasi yang prominen

juga terdapat Selma setidaknya satu bulan.1

7 . Klasifikasi Skizofrenia

1. Skizofrenia Paranoid (F20.0)3

Pedoman Diagnostik

 Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia

Sebagai tambahan :

 Halusinasi dan/atau waham harus menonjol;

(a) Suara-suara halusinasi yang mengancam pasien atau memberi perintah,

atau halusinasi auditorik tanpa bentuk verbal berupa bunyi peluit

(whistling), mendengung (humming), atau bunyi tawa (laughing).

16
(b) Halusinasi pembauan atau pengecapan rasa, atau bersifat seksual, atau lain-

lain perasaan tubuh; halusinasi visual mungkin ada tetapi jarang menonjol.

(c) Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan

(delusion of control), dipengaruhi delusion of influence), atau ”passivity”

(delusion of passivity), atau keyakinan dikejar-kejar yang beraneka ragam,

adalah yang paling khas.

 Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala

katatonik secara relatif tidak nyata/tidak menonjol. 3

2. Skizofrenia Hebefrenik (F20.1)

Pedoman Diagnostik

 Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia

 Diagnosis hebefrenik untuk pertama kalinya hanya ditegakkan pada usia

remaja atau dewasa muda (onset biasanya mulai 15-25 tahun).

 Keperibadian premorbid menunjukkan ciri khas : pemalu dan senang

menyendiri (solitary), namun tidak harus demikian untuk menegakkan

diagnosis.

 Untuk diagnosis hebefrenik yang meyakinkan umumnya diperlukan

pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan

bahwa gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :

o Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tak dapat diramalkan serta

mannerisme; ada kecendrungan untuk selalu menyendiri, dan perilaku

menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan.

17
o Afek pasien dangkal (shallow) dan tidak wajar (inappropriate), sering

disertai oleh cekikikan atau perasaan puas diri (self-satisfied), senyum

sendiri (self-absorbed smiling), atau oleh sikap tinggi hati (tofty manner),

tertawa menyeringai (grimaces), mengibuli secara bersenda gurau

(pranks), keluhan hipokondriakal, dan ungkapan kata yang diulang-ulang

(reitterated phrases);

o proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu

(rambling) serta inkoheren. 3

 Gangguan afektif dan dorongan kehendak serta gangguan proses pikir

umumnya menonjol. Halusinasi dan waham mungkin ada tetapi biasanya

tidak menonjol (fleeting and fragmentary delusión and halucinations).

Dorongan kehendak (drive) dan yang bertujuan (determinination) hilang

serta sasaran ditinggalkan, sehingga perilaku penderita memperlihatkan

ciri khas, yaitu perilaku tanpa tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty

of purpose). Adanya status preokupasi yang dangkal dan bersifat dibuat-

buat terhadap agama, filsafat dan tema abstrak lainnya, makin

mempersukar orang memahami jalan pikiran pasien. 3

3. Skizofrenia Katatonik (F20.2)

Pedoman Diagnostik

 Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis Skizofrenia

 Satu atau lebih dari perilaku berikut ini harus mendominasi gambaran

klinisnya :

18
(a) Stupor (amat berkurangnya dalam reaktivitas terhadap lingkungan dan dalam

gerakannya serta aktivitas spontan) atau mutisme (tidak berbicara);

(b) Gaduh-gelisah (tampak jelas aktivitas motorik yang bertujuan, yang tidak

dipengaruhi oleh stimuli eksternal).

(c) Menampilkan posisi tubuh tertentu secara sukarela mengambil dan

mempertahankan posisi tubuh tertentu yang tidak wajar atau aneh.

(d) Negativisme (tampak jelas perlawanan yang tidak bermotif terhadap semua

perintah atau upaya untuk menggerakkan, atau pergerakkan kearah yang

berlawanan).

(e) Rigiditas (mempertahankan posisi tubuh yang kaku untuk melawan upaya

menggerakkan dirinya).

(f) Fleksibilitas corea/”waxy flexibility” (mempertahankan anggota gerak dan tubuh

dalam posisi yang dapat dibentuk dari luar); dan

(g) Gejala-gejala lain seperti ”command automatism” (kepatuhan secara otomatis

terhadap perintah), dan pengulangan kata-kata serta kalimat kalimat.

4. Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated) (F20.3)

Pada penderita ditemukan gejala psikotik yang menonjol tetapi tidak dapat

digolongkan pada tipe paranoid, herbefrenik, katatonik, residual atau depresi pasca-

skizofrenia.3

Pedoman Diagnostik

 Memenuhi kriteria umum untuk diagnosis skizofrenia

 Tidak memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia paranoid, herbefrenik,

atau katatonik.

19
 Tidak memenuhi kriteria untuk skizofrenia residual atau depresi pasca-

skizofrenia.3

5. Skizofrenia Residual (F20.5)

Penderita berada dalam kondisi remisi, tetapi ditemukan gejala residual.

Pedoman Diagnostik

 Untuk suatu diagnosis yang menyakinkan. Persyaratan berikut ini harus

dipenuhi semua :

(a) Gejala ”negatif” dari skizofrenia yang menonjol, misalnya perlambatan

psikomotorik, aktivitas menurun, afek yang menumpul, sikap pasif dan

ketiadaan inisiatif, kemiskinan dalam kuantitas atau isi pembicaraan,

komunikasi non verbal yang buruk seperti dalam ekspresi muka, kontak mata,

modulasi suara, dan posisi tubuh, perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.3

(b) Sedikitnya ada riwayat satu episode psikotik yang jelas dimasa lampau yang

memenuhi kriteria untuk diagnosis skizofrenia. 3

(c) Sedikitnya sudah melampaui kurun waktu satu tahun dimana insentitas dan

frekuensi gejala yang nyata seperti waham dan halusinasi telah sangat

berkurang minimal dan telah timbul sindrom negatif dari skizofrenia. 3

(d) Tidak terdapat dementia atau penyakit gangguan otak organik lain, depresi

kronik atau institusionalisasi yang dapat menjelaskan disabilitas negatif

tersebut.

20
6. Skizofrenia Simpleks (F20.6)

Pedoman Diagnostik

 Diagnosis skizofrenia simpleks sulit dibuat secara menyakinkan karena

tergantung pada pemantapan perkembangan yang berjalan perlahan dan

progresif dari :

 Gejala ”negatif” yang khas dari skizofrenia residual tanpa didahului riwayat

halusinasi , waham, atau manisfestasi lain dari episode psikotik.

 Disertai dengan perubahan-perubahan perilaku pribadi yang bermakna,

bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, tidak berbuat

sesuatu, tanpa tujuan hidup, dan penarikan diri secara sosial.

 Gangguan ini kurang jelas gejala psikotiknya dibandingkan subtipe

skizofrenia lainnya. 3

8. Manifestasi Klinis

1. Tanda dan Gejala Pramorbid

Tanda dan gejala pramorbid muncul sebelum fase prodormal penyakit.

Pembedaannya menyiratkan bahwa tanda dan gejala pramorbid telah ada

sebelum proses penyakit muncul dan bahwa tanda dan gejala promorbid

merupakan bagian gangguan yang sedang berkembang. Pada riwayat pramorbid

skizofrenia yang tipikal namun bukan tanpa pengecualian , pasien telah memiliki

kepribadian schizoid atau skizotipal yang ditandai dengan sifat pendiam, pasif,

dan introvert, sebagai anak hanya memiliki beberapa orang teman. Remaja

praskizofrenik mungkin tidak memiliki teman dekat dan pacar serta menghindari

21
olahraga kelompok. Mereka mungkin menikmati menonton film dan televise

atau mendengar kan music hingga menghindari aktivitas social. Sejumlah pasien

remaja dapat menunjukkan awitan akut perilaku obsesif kompulsif sebagai

gambaran prodormal. 1

Manifestasi klinis lain:4

 Gangguan proses pikir: asosiasi longgar, neologisme (pembentukan kata

baru), klang asosiasi (pemilihan kata berdasarkan bunyi kata yang baru

diucapkan), ekolalia(pengulangan kata kata yang baru diucapkan oranglain),

konkritisasi(gangguan pemikiran abstrak), alogia(miskin isi pembicaraan)

 Gangguan isi pikir: waham kejar, waham kebesaran, waham rujukan, thought

broadcasting, thougt insertion,

 Tilikan yang buruk terhadap penyakitnya,

 Gangguan persepsi: halusinasi auditorik, visual,maupun penghidu, ilusi,

depersonalisasi, dan derealisasi

 Gangguan emosi: afek tumpul atau datar, afek tak serasi dan labil .4

Gejala positif dan Negatif :1

Pada tahun 1980, T.J Crow mengajukan klasifikasi pasien skizofrenik ke dalam

tipe I dan II, berdasarkan ada atau tidaknya gejala positif (produktif) dan

negative (deficit).

Gejala positif :

-waham

-halusinasi

22
Gejala negatif :

-afek mendatar atau menumpul

-miskin bicara (alogia) atau isi bicara

-bloking

-kurang merawat diri

-kurang motivasi

-anhedonia

-dan penarikan diri secara social.

Pasien tipe I cenderung memiliki sebagian besar gejala positif, struktur otak

normal pada CT SCAN, dan respons relative baik terhadap pengobatan. Pasien

tipe II cenderung mengalami sebagian besar gejala negative, abnormalitas

structural otak pada CT SCAN, dan respons buruk terhadap terapi. Kategori

ketiga, disorganized, mencakup pembicaraan kacau (gangguan isi pikir), perilaku

kacau, defek kognitif dan deficit atensi. 1

9. Diagnosis Banding1

1. Gangguan Psikotik Sekunder

2. Berpura-pura (Malingering) dan Gangguan Buatan

3. Gangguan psikotik Lain

4. Gangguan Mood

5. Gangguan Kepribadian

23
10. Penatalaksanaan

Setelah didiagnosis skizofrenia (Paranoid), pengobatan pun dimulai dengan

metode FSIT. Sembilan puluh sesi dilakukan lima sesi per minggu Dalam proses

pengobatan, dia dan temannya melaporkan tentang perubahan perilaku positif di

berbagai bidang Hidup Ms. Sk Pengamatan klinis selama pengobatan juga menunjukkan

Perubahan positif secara bertahap dalam kepribadiannya. Perbedaan antara

preassessment dan penilaian pasca dikonfirmasi ketepatan hipotesis dan khasiat FSIT.

Umpan balik diperoleh setiap minggu untuk jangka waktu tiga bulan dari Ms. Sk tentang

kemungkinan kemunculan kembali gejala skizofrenia (paranoid). dan ini dikonfirmasi

itu Tidak ada gejala reoccurrence dari gangguan lagi.5

1. Terapi Psikososial

Terapi psikososial mencakup berbagai metode untuk meningkatkan

kemampuan social, kecukupan diri, keterampilan praktis, dan komunikasi

interpersonal pada pasien skizorenik. Tujuannya adalah memungkinkan

seseorang yang sakit parah untuk membangun keterampilan social dan

keterampilan pekerjaan untuk hidup yang mandiri. Penanganan semcam ini

dilaksanakan di berbagai tempat, seperti rumah sakit, klinik rawat jalan, pusat

kesehatan jiwa, rumah sakit sehari, dan rumah atau klub social.1

24
2. Terapi Elektro konvulsi (TEK)

Seperti juga terapi konvulsi yang lain ,cara kerja elektrokonvulsi

belumdiketahui dengan jelas . dapat dikatakan bahwa terapi konvulsi dapat

memperpendek serangan skizofrenia dan mempermudah kontak dengan

penderita, akan tetapi terapi ini tidak dapat mencegah serangan yang akan

datang.6

3. Psikoterapi dan Rehabilitasi

Psikoterapi suportif individual atau kelompok, serta bimbingan yang

praktis dengan maksud mengembalikan penderita ke masyarakat. Teknik terapi

perilaku kognitif belakangan dicoba pada penderita skizofrenia dengan hasil

yang menjanjikan.6

Terapi kerja adalah baik sekali untuk mendorong penderita bergaul lagi

dengan orang lain, penderita lain, perawat, dan dokter. Maksudnya supaya ia

tidak mengasingkan diri lagi, karena bila ia menarik diri ia dapat membentuk

kebiasaan yang kurang baik. Dianjurkan untuk mengadakan permainan atau

latihan bersama.6

4. Rawat Inap

Rawat inap diindikasikan terutama untuk tujuan diagnostic, untuk

stabilisasi pengobatan, untuk keamanan pasien karena adanya ide bunuh diri atau

pembunuhan, serta untuk perilaku yang sangat kacau atau tidak pada tempatnya,

termasuk ketidakmampuan untuk mengurus kebutuhan dasar seperti pangan ,

sandang, dan papan.1

25
Indikasi rawat :4

- Pasien mengancam keselamatan lingkungan sekitar

- Adanya ide/percobaan bunuh diri

- Tidak adanya dukungan dan motivasi sembuh dari keluarga maupun

lingkungan

- Timbulnya efek samping obat yang membahayakan jiwa.

5. Terapi Medikamentosa

Psikofarmaka antiskizofrenia dibagi menjadi antipsikotik generasi I (tipikal)

dan anti psikotik generasi ke II(atipikal). Generasi I dapat diberikan untuk

mengontrol gejala positif. Sedangkan generasi ke II dapat mengatasi gejala

positif maupun negative. Saat ini obat lini pertama yang disarankan adalah anti

psikotik generasi ke II.4

1. Obat Golongan Anti Psikosis Tipikal7

a. Phenothiazine

-rantai aliphatic : chlorpromaziene (largactill)

- rantai piperazine : pherphenazine (trilafon)

Trifluoperazine( stelazine)

Fluphenazine (anatensol)

-Rantai piperidine : thioridazine (Melleril)

b. Butyrophenone : Haloperidol (Haldol, Serenace)

c. diphenyl-butyl piperidine : pimozide(orap)

2. Obat Anti Psikosis Atipikal

a. Benzamide : Sulpiride (Dogmatil)

26
b. Dibenzodiazepine : Clozapine (clozaril)

Olanzapine (zyprexa)

Quetiapine (seroquel)

Zotepine (Lodopin)

c.Benzisoxazole : Risperidon (Risperidal)

Aripiprazole (Ability)

Farmakodinamik Agen Psikotik4

AntiPsikotik Dosis (mg/hari)

Antipsikotik gen I

Fenotiazine

Chlorpromazine 300-1000 mg/h

Flufenazine 5-20

Perfenazine 16-64

Thioridazine 300-800

Trifluoperazine 15-50

Butirofenon

Halldoll 5-20

Loksapin 30-100

27
AntiPsikotik Generasi II

Aripiprazole 10-30 mg/h

Klozapine 150-600 mg/h

Risperidon 2-8 mg/h

Olanzapine 10-30 mg/h

Quetiapine 300-800 mg/h

Sediaan obat anti psikosis dan dosis anjuran7

Nama Generik Nama Dagang Sediaan Dosis Anjuran

Chlorpromazine Chlorpromazine, Cepezet Tab 25-100 mg, 100 300-1000 mh/h


mg, Amp 50 mg/2cc 50-100 mg (im) Setiap 4-6
jam
Haloperidol Haloperidol, Dores, Serenace, Tab 0,5-1,5 mg, 5 5-20 mg/hr
Lodomer, Haldol Decanoas mg, Cap 5 mg,15 mg,
Amp 5 mg/cc
Fluphenazine Sikzonoate Vial 25 mg/cc 12,5-25 mg setiap 2-4
decanoate minggu
Trifluoperazine Stelazine, Stelosis Tab 1-5 mg, 5 mg 15-50 mg/h
Sulpiride Dogmatil Forte Amp 100 mg/2cc 3-6 amp/h
300-600 mg/h
Paliperidone Invega Tab SL 6 mg 6 mg/hr
Resperidon Resperidone OGB Mersi, Tab 1-2-3 mg, Tab 2 2-8 mg/hr
Resperidone OGB Dexa, mg, Tab 1-2-3 mg,
Risperidal, Risperidal Consta, Vial 25 mg/cc 50
Neripros, Persidal, Nodiril, mg/cc, Tab 1-2-3 mg,
Noprenia, Zofredal Tetes 1mg/ml
Clozapine Clozaril, Clopine, Clorilex, Tab 25-100 mg, Tab 150-600 mg/h
Clozapine Mersi, Luften 25-100 mg, Tab 25-
100 mg
Quetiapine Seroquel Tab IR 25-100-200- 300-800 mg/h
300 ng, Tab XR 50-
300-400 mg
Olanzapine Zyprexa, Remital, Olandoz, Tab 5-10 mg, Vial 10 10-30 mg/h dapat diulang
Onzapin mg/ml, Tab 5-10 mg setiap 2 jam(maks 30 mg/h)

28
Zotepine Lodopin Tab 25-50mg &%-150 mg/h
Aripiprazole Abilif Tab 5-10-15 mg, 10-30 mg/h, Dosis 1x30
Tab Disment 10-15 mg/h, 7-50 mg/ml dapat
mg, Vial 9,75 diulang setiap 2 jam
mg/1,3 ml, Tetes, (maks 29, 25 mg/h)
Tetes 1mg/ml

11. Prognosis

Ciri untuk mempertimbangkan prognosis baik hingga buruk pada

skizofrenia1

Prognosis Baik Prognosis Buruk

Awitan lambat Awitan muda

Ada faktor presipitasi yang jelas Tidak ada faktor presipitasi

Awitan akut Awitan insidius

Riwayat seksual, sosial, dan Riwayat sosial, seksual, dan pekerjaan

pekerjaan premorbit yang baik premorbit yang buruk

Gejala gangguan mood (terutama Perilaku austiktik, menarik diri

gangguan depresi)

Menikah Lajang, Cerai, Menjanda/duda

Riwayat keluarga dengan gangguan Riwayat keluarga dengan skizofrenia

mood

Sistem pendukung yang baik Sistem pendukung yang buruk

Gejala positif Gejala negatif

Tanda dan gejala neurologis

Riwayat trauma perinatal

29
Tanpa remisi dalam 3 bulan

Berungkali relaps

Riwayat melakukan tindakan

penyerangan.

- Skizofrenia bersifat kronis dan membutuhkan waktu yang lama untuk

menghilangkan gejala.4

- Prognosis buruk dalam kesembuhan pasien skizofrenia umumnya terkait

dengan riwayat trauma perinatal, tidak ada remisi dalam 3 tahun, sering

timbul relaps, riwayat kekerasan, riwayat penyalahgunaan zat dan tidak

adanya dukungan keluarga untuk kesembuhan pasien.4

30