Anda di halaman 1dari 7

Step 3

5. Bagaimana indikasi SC pada persalinan?


Beberapa kriteria atau indikasi yang dapat dilakukannya persalinan SC, yaitu :
a. Indikasi Ibu
1) Riwayat infertilitas
2) Riwayat obstetric jelek
3) Panggul sempit
4) Masalah kesehatan ibu yang mengharuskan operasi besar, seperti :
a) Herpes genital
b) Hipertensi
c) AIDS
d) Penyakit sistemik, seperti kelainan jantung, preeklamsia, diabetes melitus
e) Ancaman robekan uterus
f) Tumor jalan lahir
g) Distosia servicalis
h) Kelainan bentuk uterus
i) Perdarahan antepartum, seperti plasenta previa, plasenta letak rendah dan solution
plasenta
b. Indikasi Janin
1) Kelainan presentasi dan letak janin
2) Tali pusat membumbung
3) Gawat janin
4) Janin multiple
5) Kepala bayi jauh lebih besar dari ukuran normal
6) Fetal distress
c. Indikasi Waktu
1) Kala I : Partus tak maju
2) Kala II : Partus macet
(Cahyono, 2013)
Step 7
7. Kekerasan terhadap anak (Child abuse)
a. Definisi
Child abuse adalah semua bentuk perlakuan menyakitkan secara fisik ataupun
emosional, penyalahgunaan seksual, pelalaian, eksploitasi komersial atau atau eksploitasi
lain, yang mengakibatkan cedera/kerugian nyata ataupun potensial terhadap kesehatan
anak, kelangsungan hidup anak, tumbuh kembang anak, atau martabat anak, yang
dilakukan dalam konteks hubungan tanggung jawab, kepercayaan, atau kekuasaan (Fakih,
2003).
b. Faktor Risiko
Faktor-faktor risiko terhadap kejadian child abuse dapat ditinjau dari 3 aspek yaitu
faktor sosial, orang tua dan anak.
1) Faktor masyarakat/ sosial, yaitu tingkat kriminalitas yang tinggi, layanan sosial yang
rendah, kemiskinan yang tinggi, tingkat pengangguran yang tinggi, adat istiadat
mengenai pola asuh anak, pengaruh pergeseran budaya, stres pada para pengasuh,
budaya memberikan hukuman badan kepada anak, dan pengaruh media massa.
2) Faktor orang tua atau situasi keluarga, yaitu riwayat orang tua dengan kekerasan fisik
atau seksual pada masa kecil, orang tua remaja, imaturitas emosi, kepercayaan diri
rendah, dukungan sosial rendah, keterasingan dari masyarakat, kemiskinan, kepadatan
hunian (rumah tinggal), masalah interaksi dengan masyarakat, kekerasan dalam rumah
tangga, riwayat depresi dan masalah kesehatan mental lainnya (ansietas, skizoprenia),
mempunyai banyak anak balita, riwayat penggunaan zat/ obatobatan terlarang
(NAPZA) atau alkohol, kurangnya dukungan sosial bagi keluarga, diketahui ada
riwayat child abuse dalam keluarga, kurang persiapan menghadapi stres saat kelahiran
anak, kehamilannya disangkal, orang tua tunggal, riwayat bunuh diri pada orang tua/
keluarga, pola mendidik anak, nilai-nilai hidup yang dianut orangtua, dan kurang
pengertian mengenai perkembangan anak.
3) Faktor anak, yaitu, prematuritas, berat badan lahir rendah, cacat, dan anak dengan
masalah/ emosi.
(Widiastuti, 2005)
c. Klasifikasi
Terdapat 2 golongan besar, yaitu :
1) Dalam keluarga
a) Penganiayaan fisik, Non Accidental “injury” mulai dari ringan “bruiser – laserasi”
sampai pada trauma neurologic yang berat dan kematian. Cedera fisik akibat
hukuman badan di luar batas, kekejaman atau pemberian racun.
b) Penelantaran anak/kelalaian, yaitu : kegiatan atau behavior yang langsung dapat
menyebabkan efek merusak pada kondisi fisik anak dan perkembangan
psikologisnya. Kelalaian dapat berupa :
(1) Pemeliharaan yang kurang memadai Menyebabkan gagal tumbuh, anak merasa
kehilangan kasih sayang, gangguan kejiwaan, keterlambatan perkembangan.
(2) Pengawasan yang kurang memadai Menyebabkan anak gagal mengalami resiko
untuk terjadinya trauma fisik dan jiwa.
(3) Kelalaian dalam mendapatkan pengobatan Kegagalan dalam merawat anak
dengan baik.
(4) Kelalaian dalam pendidikan Meliputi kegagalan dalam mendidik anak mampu
berinteraksi dengan lingkungannya gagal menyekolahkan atau menyuruh anak
mencari nafkah untuk keluarga sehingga anak terpaksa putus sekolah.
c) Penganiayaan emosional Ditandai dengan kecaman/kata-kata yang merendahkan
anak, tidak mengakui sebagai anak. Penganiayaan seperti ini umumnya selalu
diikuti bentuk penganiayaan lain.
d) Penganiayaan seksual, mempergunakan pendekatan persuasif. Paksaan pada
seseorang anak untuk mengajak berperilaku/mengadakan kegiatan sexual yang
nyata, sehingga menggambarkan kegiatan seperti : aktivitas seksual (oral genital,
genital, anal atau sodomi) termasuk incest.
2) Di luar rumah
Dalam institusi/lembaga, di tempat kerja, di jalan, di medan perang.
(Widiastuti, 2005).
d. Dampak child abuse pada tumbuh kembang anak
Dampak yang terjadi dapat secara langsung maupun tidak langsung atau dampak
jangka pendek dan dampak jangka panjang. Pertumbuhan dan perkembangan anak yang
mengalami child abuse, pada umumnya lebih lambat dari pada anak yang normal yaitu :
1) Dampak langsung terhadap kejadian child abuse 5% mengalami kematian, 25%
mengalami komplikasi serius seperi patah tulang, luka bakar, cacat menetap.
2) Terjadi kerusakan menetap pada susunan saraf yang dapat mengakibatkan retardasi
mental, masalah belajar/ kesulitan belajar, buta, tuli, masalah dalam perkembangan
motor/ pergerakan kasar dan halus, kejadian kejang, ataksia, ataupun hidrosefalus.
3) Pertumbuhan fisik anak pada umumnya kurang dari anak-anak sebayanya, tetapi Oates
dkk pada tahun 1984 mengatakan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna dalam
tinggi badan dan berat dengan anak normal.
4) Perkembangan kejiwaan juga mengalami gangguan yaitu :
a) Kecerdasan, berbagai penelitian melaporkan terdapat keterlambatan dalam
perkembangan kognitif, bahasa, membaca, dan motorik. Retardasi mental dapat
diakibatkan trauma langsung pada kepala, juga karena malnutrisi. Anak juga
kurang mendapat stimulasi adekuat karena gangguan emosi.
b) Emosi, masalah yang sering dijumpai adalah gangguan emosi, kesulitan
belajar/sekolah, kesulitan dalam mengadakan hubungan dengan teman, kehilangan
kepercayaan diri, fobia cemas, dan dapat juga terjadi pseudomaturitas emosi.
Beberapa anak menjadi agresif atau bermusuhan dengan orang dewasa, atau
menarik diri/menjauhi pergaulan. Anak suka mengompol, hiperaktif, perilaku aneh,
kesulitan belajar, gagal sekolah, sulit tidur, temper tantrum.
c) Konsep diri, anak yang mendapat kejadian child abuse merasa dirinya jelek, tidak
dicintai, tidak dikehendaki, muram dan tidak bahagia, tidak mampu menyenangi
aktifitas dan melakukan percobaan bunuh diri.
d) Agresif, anak yang mendapat kejadian child abuse lebih agresif terhadap teman
sebaya. Sering tindakan agresif tersebut meniru tindakan orang tua mereka atau
mengalihkan perasaan agaresif kepada teman sebayanya sebagai hasil kurangnya
konsep diri.
e) Hubungan sosial, pada anak-anak tersebut kurang dapat bergaul dengan teman
sebaya atau dengan orang dewasa, misalnya melempari batu, perbuatan kriminal
lainnya.
f) Akibat dari sexual abuse, tanda akibat trauma atau infeksi lokal, seperti nyeri
perineal, sekret vagina, nyeri dan perdarahan anus; Tanda gangguan emosi,
misalnya konsentrasi kurang, enuresis, enkopresis, anoreksia dan perubahan
tingkah laku, kurang percaya diri, sering menyakiti diri sendiri, dan sering mencoba
bunuh diri; Tingkah laku atau pengetahuan seksual anak yang tidak sesuai dengan
umurnya.
(Widiastuti, 2005)
e. Jenis-jenis kekerasan (abuse)
Kekerasan terhadap anak menjadi empat jenis, yaitu :
1) Kekerasan pengabaian/pelantaran (neglect abuse), terjadi ketika orang dewasa (orang
tua, pendidik, pengasuh dan sebagainya) tidak memberikan perhatian bahkan lebih
memilih untuk mengabaikan/melantarkan anak. Misalnya orang tua yang membiarkan
anaknya kelaparan karena orang tua yang terlalu sibuk atau sedang tidak ingin
diganggu, mengabaikan kebutuhan anak untuk dilindungi, mempermalukan anak
didepan umum dan sering menyalahkan anak. Hal yang perlu diperhatikan yaitu anak
akan mengingat peristiwa kekerasan tersebut terjadi konsisten.
2) Kekerasan verbal (verbal abuse), terjadi ketika orang dewasa (orang tua, pendidik,
pengasuh dan sebagainya) menggunakan kekerasan verbal, seperti membentak,
memaki, menggunakan kata-kata kasar, mengancam, dan sebagainya. Hal yang perlu
diwaspadai yaitu bahwa anak akan mengingat kekerasan verbal yang dialami apabila
kekerasan verbal tersebut terjadi dalam satu periode.
3) Kekerasan fisik (physical abuse), terjadi ketika orang dewasa (orang tua, pendidik,
pengasuh dan sebagainya) melukai fisik anak seperti memukul, mencubit, menendang,
menampar dan sebagainya. Hal yang perlu diwaspadai yaitu bahwa anak akan
mengingat perlakuan fisik yang menyakitkan apabila kekerasan fisik tersebut terjadi
dalam periode tertentu.
4) Kekerasan seksual (sexual abuse) terjadi ketika orang dewasa (orang tua, pendidik,
pengasuh dan sebagainya) melakukan tindakan yang mengarah pada pelecehan,
pencabulan atau penyiksaan seksual. Korban sexual abuse umumnya mengalami
trauma, baik jangka pendek maupun jangka panjang.
(Muthmainnah, 2014)

8. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT)


a. Definisi
Kekerasan dalam rumah tangga menurut Undang-Undang PKDRT No. 23 Tahun
2004 adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan, yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk melakukan perbuatan pemaksaan,
atau perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga
(Kemenkes RI, 2011).
b. Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga menurut UU No 23
tahun 2004
1) Kekerasan fisik, yakni perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka
berat (Pasal 6).
2) Kekerasan psikis, yakni perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa
percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau
penderitaan psikis berat pada seseorang (Pasal 7).
3) Kekerasan seksual, yakni pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang
yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut, pemaksaan bubungan seksual
terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan
komersial da/atau tujuan tertentu (Pasal 8).
4) Penelantaran rumah tangga, yakni perbuatan menelantarkan orang dalam lingkup
rumah tangga, padahal menurut hukum yang berlaku bagi yang bersangkutan atau
karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan, perawatan atau
pemeliharaan kepada orang tersebut.
(Kemenkes RI, 2011).
c. Hak-hak korban KDRT
1) Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, advokat,
Lembaga social, atau pihak lainnya baik sementara maupun berdasarkan penetapa
perintah perlindungan dari pengadilan;
2) Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis;
3) Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban;
4) Pendamping oleh pekerja social dan bantua hukum pada setiap tingkat proses
pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
5) Pelayanan bimbingan rohani
d. Faktor penyebab terjadi KDRT
1) Faktor individu
2) Faktor keluarga
3) Factor komunitas
4) Faktor lingkungan sosial

Fakih, M. 2003. Buku panduan pelatihan deteksi dini dan penatalaksanaan korban child
abuse and neglect. Jakarta: IDI-UNICEF.
Widiastuti, Daisy., Rini Sekartini. 2005. Deteksi Dini, Faktor Risiko, dan Dampak
Perlakuan Salah pada Anak. Sari Pediatri, 7 (2) : 105-112.
Muthmainnah. 2014. Membekali Anak dengan Keterampilan Melindungi diri. Yogyakarta
: Jurnal Pendidikan Anak.
Kemenkes RI. 2011. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.
Yogyakarta: Pustaka Mahardika.
Cahyono. 2013. Analisis Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Menggigil Pada Pasien
Pasca Secsio Secarea di Ruang Pemulihan IBS RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
Purwokerto. Purwokerto : FIKES UMP.