Anda di halaman 1dari 36

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

1. Pengertian Pengaruh

Pengaruh menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Populer (1994:1031)

menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Populer (1994:1031) memiliki arti sebagai berikut : “Sesuatu yang dapat

memiliki arti sebagai berikut :

“Sesuatu yang dapat membentuk perilaku, kepercayaan, atau tindakan,

seseorang atau sesuatu yang menimbulkan akibat.”

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002, 349) memiliki

arti sebagai berikut :

“Daya yang ada atau timbul dari sesuatu (barang atau benda) yang ikut

membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.”

Berdasarkan pengertian yang telah diuraikan di atas dapat disimpulkan

bahwa pengaruh merupakan daya yang timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang

ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang yang menimbulkan

akibat.

11

12

2.2

Audit

2.2.1

Pengertian Audit

Pada dasarnya sebuah perusahaan didirikan dengan tujuan utama untuk

memperoleh laba disamping beberapa tujuan lainnya. Untuk mencapai tujuan

tersebut,

semua

tahap

kegiatan

perusahaan

yang

akan

dilaksanakan

harus

direncanakan, dianalisa dan diteliti terlebih dahulu oleh mereka yang bertanggung-

dan diteliti terlebih dahulu oleh mereka yang bertanggung- jawab. Seiring dengan berjalannya aktivitas perusahaan maka

jawab. Seiring dengan berjalannya aktivitas perusahaan maka masalah-masalah

pada perusahaan semakin luas dan rumit. Tanggung jawab yang dipikul oleh

manajemen semakin besar, oleh karena itu manajemen memerlukan alat bantu yang

dapat digunakan untuk mengendalikan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakannya.

Salah satu alat bantu untuk melaksanakan fungsi utama manajemen, fungsi

pengawasan dan pengendalian adalah aktivitas audit. Berikut ini adalah beberapa

pengertian Audit menurut para ahli :

Menurut Sukrisno Agoes (2004:1) :

“Audit merupakan suatu proses sistematis untuk secara objektif mendapatkan dan mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang kegiatan- kegiatan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk menyakinkan tingkat keterkaitan antara asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan”.

Sedangkan menurut Arens et al (2011:4) :

“Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent, independent person”.

13

Pengertian serupa juga disampaikan oleh Agoes (2012:4) :

“Auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut”.

Berdasarkan pengertian yang dikemukakan oleh para ahli di atas dapat

disimpulkan bahwa Audit adalah suatu proses pemeriksaan yang sistematis untuk

secara objektif mengevaluasi bukti yang dapat dilakukan independen dan kompeten, atas laporan keuangan yang
secara
objektif
mengevaluasi
bukti
yang
dapat
dilakukan
independen
dan
kompeten,
atas
laporan
keuangan
yang
2.2.2 Jenis-Jenis Audit
Ada tiga jenis Audit menurut Arens (2008:16-19), yaitu :
1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audits)
suatu
organisasi
atau
perusahaan
secara
keseluruhan

oleh

telah

pihak

dibuat

yang

oleh

perusahaan untuk memperoleh pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan.

Pemeriksaan keuangan merupakan pemeriksaan atas laporan keuangan

dengan

tujuan

memberikan pendapat atas kewajaran penyajian laporan keuangan tersebut

sesuai dengan kriteria yang berlaku atau tertentu.

2. Audit Operasional (Operational Audits)

Pemeriksaan operasional adalah suatu tinjauan terhadap setiap bagian dan

prosedur dan metode operasi suatu organisasi untuk menilai efisiensi dan

efektivitas kegiatan entitas tersebut. Pada akhir pemeriksaan operasional

biasanya

diajukan

saran-saran

rekomendasi

pada

manajemen

untuk

meningkatkan kualitas operasi perusahaan.

14

3.

Audit Ketaatan (Compliance Audits)

 

Pemeriksaan

ketaatan

merupakan

proses

pemeriksaan

atas

ketaatan

pelaksanaan suatu prosedur atau peraturan tertulis yang ditetapkan oleh

pihak yang berwenang, baik pihak atasan perusahaan maupun pemerintah.

2.3

Audit Internal

2.3.1

Pengertian Audit Internal

 

Audit internal atau disebut juga audit operasional memiliki peranan penting

beberapa perkembangan definisi Audit
beberapa
perkembangan
definisi
Audit

di dalam struktur pengendalian intern pada suatu organisasi karena dibuat untuk

memonitor efektivitas dari aktivitas internal perusahaan atau organisasi. Seiring

dengan berjalannya waktu definisi Audit Internal telah berkembang. Para ahli telah

diantaranya

mengemukakan

Internal

sebagai berikut :

Menurut Institute of Internal Auditors (IIA) (1997:4) :

“Audit Internal adalah suatu aktivitas penilaian independen di dalam suatu organisasi untuk penelitian kegiatan pembukuan, finansial, dan kegiatan lainnya, sebagai dasar untuk membantu pimpinan perusahaan. Pemeriksaan itu mempunyai pengendalian manajerial yang berfungsi dengan jalan mengukur dan menilai efektivitas sarana pengendalian.

IIA board of director meredefinisikan Audit Internal pada Juni 1999 :

“Internal Auditing is an independent, objective assurance and consulting activity designed to add value and improve organization’s operation. It’s help an organization accomplish it’s objectives by bringing a systematic, disciplined, approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control and governance processes.”

15

Sedangkan

pada

tahun

2004

Standar

Profesi

Audit

Internal

(SPAI)

mendefinisikan Audit Internal, sebagai berikut:

Internal audit adalah kegiatan assurance dan konsultasi yang independen dan objektif, yang dirancang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan kegiatan operasi organisasi. Audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan risiko, pengendalian, dan proses governance.”

Menurut Sawyer (2009:10) (diterjemahkan) Audit Internal sebagai berikut:

yang memiliki tujuan untuk membantu
yang
memiliki
tujuan
untuk
membantu

“Audit internal adalah sebuah penilaian yang sistematis dan objektif yang dilakukan auditor internal terhadap operasi dan control yang berbeda-beda dalam organisasi untuk menentukan apakah: (a) informasi keuangan dan operasi terlah akurat dan dapat diandalkan; (b) risiko yang dihadapi perusahaan telah diidentifikasi dan diminimalisasi; (c) peraturan eksternal serta kebijakan dan prosedur internal yang bisa diterima telah diikuti; (d) kriteria operasi yang memuaskan telah dipenuhi; (e) sumber daya telah digunakan secara efisien dan ekonomis; dan (f) tujuan organisasi telah dicapai secara efektif. Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk dikonsultasikan dengan manajemen dan membantu anggota organisasi dalam menjelankan tanggungjawabnya secara efektif”.

Dari beberapa definisi yang telah diuraikan di atas, dapat disimpulkan

bahwa Audit Internal adalah suatu aktifitas penilaian yang independen di dalam

suatu

dalam

organisasi

manajemen

meningkatkan pengawasan terhadap operasional perusahaan dengan melakukan

evaluasi terhadap operasional perusahaan untuk meningkatkan nilai perusahaan,

meningkatkan

efektivitas

pengelolaan

dan

pengendalian

risiko,

serta

proses

pengendalian

dalam

menjalankan

tanggungjawabnya

secara

efektif

dengan

pendekatan

yang sistematis

Governance (GCG).

dan

apakah

telah

menerapkan

Good Corporate

16

2.3.2 Fungsi, Tujuan, Kewenangan dan Tanggung jawab Audit Internal

Fungsi audit internal ada berdasarkan kebijakan yang telah dibuat oleh

manajemen atau dewan direksi. Fungsi audit internal adalah suatu alat bagi

manajemen untuk menilai efektivitas serta efesiensi pelaksanaan pengendalian

intern perusahaan, kemudian memberikan hasil berupa saran dan rekomendasi bagi

manajemen yang akan dijadikan landasan untuk pengambilan keputusan atau

tindakan selanjutnya. Standar Profesional Audit Internal (SPAI) yang dikeluarkan

dalam melaksanakan tanggungjawabnya secara yang dilakukan oleh internal perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan
dalam
melaksanakan
tanggungjawabnya
secara
yang dilakukan
oleh internal
perusahaan
(manajemen)
dalam
melaksanakan

Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:21) mengemukakan bahwa :

“Fungsi audit internal harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian intern yang efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisiensi dan efektivitas pengendalian tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian intern secara berkesinambungan .”

Adapun tujuan dari audit internal adalah untuk membantu semua anggota

dengan

organisasi

efektif

memberikan analisis, penilaian, rekomendasi dan komentar-komentar penting

mengenai aktivitas yang diaudit. Menurut Sukrisno Agoes (2004:222), tujuan

semua

pemeriksaan

pimpinan

auditor adalah membantu

tanggungjawabnya

dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang

diperiksanya. Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor internal harus melakukan

kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

a) Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya dan penerapan dari sistem

pengendalian manajemen, pengendalian intern dan pengendalian operasional

lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang

tidak terlalu mahal.

17

b) Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang

telah ditetapkan oleh manajemen.

c) Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan

dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan

dan penyalahgunaan.

d) Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi

dapat dipercaya.

mutu pekerjaan setiap bagian dalam
mutu
pekerjaan
setiap
bagian
dalam

e)

Menilai

melaksanakan

tugas

yang

diberikan oleh manajemen.

f) Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan

efisiensi dan efektifitas.

Tanggung jawab audit internal adalah memberikan pelayanan kepada

manajemen dalam suatu organisasi dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya

sesuai dengan kode etik yang berlaku. Apabila audit internal melaksanakan

tugasnya dengan penuh tanggung jawab, maka hasil audit akan menjadi berkualitas

dan relevan dengan objek yang diaudit. Tanggung jawab ini juga mencakup

pengkoordinasian aktivitas-aktivitas audit internal dengan bagian-bagian lain

sehingga pemeriksaan yang objektif dan tujuan organisasi dapat dipakai secara

optimal.

18

Tanggung jawab seorang Audit Internal menurut Komite SPAP Ikatan

Akuntansi Indonesia dalam Standar Profesi Akuntan Publik (2001:322) :

“Auditor Internal bertanggung jawab untuk menyediakan jasa analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan dan rekomendasi dan informasi lain kepada manajemen entitas dan bagian komisaris atau pihak lain yang setara wewenang dan tanggung jawabnya. Untuk memenuhi tanggungjawabnya tersebut, Auditor Internal bertanggung jawab untuk mempertahankan obyektivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya”

di dalam Internasional Professional
di
dalam
Internasional
Professional

Berbagai pengertian yang telah diuraikan adalah sesuai dengan pendapat

SPAI yang dikutip oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:15)

mengenai tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab sebagai berikut :

“Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab fungsi audit internal harus dinyatakan secara formal dalam charter audit internal, konsisten dengan SPAI, dan mendapat persetujuan dari pimpinan dan dewan pengawas organisasi.”

Framework

Sedangkan

Practice

(IPPF) (2012) butir (1000) adalah sebagai berikut :

“Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab aktivitas audit internal harus didefinisikan secara formal dalam suatu piagam audit internal, dan harus sesuai dengan Definisi Audit Internal, Kode Etik, dan Standar. Kepala Audit Internal (KAI) harus mengkaji secara periodik piagam audit internal dan menyampaikannya kepada Manajemen Senior dan Dewan untuk memperoleh persetujuan.”

19

2.3.3 Standar Praktik Audit Internal

Standar profesi audit internal merupakan sebuah pedoman bagi pelaksanaan

aktivitas audit internal agar dalam menjalankan aktivitasnya, auditor internal dapat

berperan untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan atau organisasi serta

dapat memenuhi tanggungjawabnya. Standar ini merupakan tolak ukur untuk

mengendalikan kualitas kinerja audit internal.

Hiro Tugiman (2006:8-18) mengemukakan standar praktik profesional

Tugiman (2006:8-18) mengemukakan standar praktik profesional audit internal adalah sebagai berikut : 1. Independensi

audit internal adalah sebagai berikut :

1. Independensi (Kemandirian)

2. Kemampuan profesional

3. Lingkup pekerjaan

4. Pelaksanaan kegiatan pemeriksaan

5. Manajemen bagian audit internal

Berikut uraian dari standar-standar yang telah disebutkan sebelumnya :

1. Independensi

Dimana audit internal harus mandiri dan terpisah dari kegiatan yang

diperiksanya, yaitu :

a. Status Organisasi; merupakan status organisasi dari unit audit internal

(bagian

pemeriksaan

internal)

harus

memberi

keleluasaan

untuk

memenuhi

dan

menyelesaikan tanggung

jawab

pemeriksaan

yang

diberikan kepadanya.

b. Objektifitas; merupakan para pemeriksa internal (internal Auditor)

haruslah melaksanakan tugasnya secara objektif.

20

Menurut Arens et al (2012) independensi diklasifikasikan ke dalam tiga

aspek, yaitu sebagai berikut :

a)

Independence in Fact (Independensi dalam fakta)

Artinya auditor harus mempunyai kejujuran yang tinggi dan keterkaitan

yang erat dengan objektivitas. Independensi dalam fakta akan ada

apabila kenyataannya auditor mampu mempertahankan sikap yang tidak

b)

c)

memihak sepanjang pelaksanaan auditnya.

pelaksanaan audit. Meskipun auditor telah
pelaksanaan
audit.
Meskipun
auditor
telah

Independence in Appearance (Independensi dalam penampilan)

Artinya pandangan pihak lain terhadap diri auditor sehubungan dengan

auditnya

menjalankan

dengan baik secara independen dan objektif, pendapat yang dinyatakan

melalui laporan audit tidak akan dipercaya oleh para pemakai jasa

auditor independen bila ia tidak mampu mempertahankan independensi

dalam penampilan sangat penting bagi perkembangan profesi auditor.

Independence in Competence (Independensi dari sudut keahliannya)

Artinya independensi dari sudut pandang keahlian yang berkaitan erat

dengan kecakapan profesional auditor.

Pada saat melakukan aktivitas audit, auditor internal harus dapat berdiri

sendiri tanpa ada intervensi dari pihak manapun serta tidak boleh memihak

kepada

siapapun.

Oleh

karena

itu,

auditor

internal

harus

bersikap

independen dan objektif dalam melaksanakan kegiatan pemeriksaan. Hal ini

akan tercapai apabila audit internal diberikan status dan kedudukan yang

21

jelas. Seperti yang dikemukakan oleh Hiro Tugiman (2006:20) mengenai

status dan kedudukan audit internal sebagai berikut :

“Para audit internal dianggap mandiri apabila dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif. Kemandirian para pemeriksa internal dapat memberikan penilaian yang tidak memihak dan tanpa prasangka, hal mana sangat diperlukan atau penting bagi pemeriksaan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diperoleh melalui status organisasi dan sikap objektif pada auditor internal”.

2. Kemampuan profesional

audit internal harus mencerminkan keahlian dalam pemeriksaan serta pemeriksa Sejalan dengan pendapat menurut
audit
internal
harus
mencerminkan
keahlian
dalam
pemeriksaan
serta
pemeriksa
Sejalan
dengan
pendapat
menurut
Hiro

Dimana

dan

ketelitian

profesional. Dengan meliputi, pemeriksaan intern mempunyai keahlian dan

mendapat

pengetahuan

internal

kesempatan pendidikan untuk selalu meningkatkan keahlian. Kemampuan

profesional merupakan tanggung jawab bagian Audit Internal dan Auditor

(2006:27)

Internal.

Tugiman

kemampuan profesional yang harus dimiliki oleh bagian audit internal

adalah sebagai berikut :

“Kemampuan profesional merupakan tanggung jawab bagian audit internal dan setiap auditor internal. Pimpinan audit internal dalam setiap pemeriksaan haruslah menugaskan orang-orang secara bersama atau keseluruhan memiliki pengetahuan, kemampuan, dan berbagai disiplin ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan secara tepat dan pantas”.

22

Menurut

Hiro

Tugiman

dalam

buku

Standar

Profesi

Audit

Internal

(1997:27-49), bahwa kemampuan profesional yang harus dimiliki oleh

Auditor Internal adalah sebagai berikut :

a.

Personalia.

Satuan kerja Audit harus memberikan jaminan atas kepastian bahwa

teknis dan pendidikan para Auditor Internal, telah sesuai bagi audit yang

b.

c.

akan dilaksanakan.

Pengetahuan dan kecakapan. yang cukup dan memadai tentang berbagai dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan.
Pengetahuan dan kecakapan.
yang
cukup
dan
memadai
tentang
berbagai
dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan.
Pengawasan.

Staf Auditor Internal harus memiliki kemampuan dan kecakapan, agar

dapat melakukan Audit Internal di dalam perusahaannya secara optimal.

Untuk itu, satuan kerja Audit Internal sebaiknya memiliki pengetahuan

ilmu

yang

disiplin

Melakukan pengawasan adalah tanggung jawab dari satuan kerja Audit

Internal. Pengawasan merupakan suatu proses yang berkelanjutan yang

dimulai dari perencanaan, pelaksanaan dan diakhiri dengan penyusunan

laporan hasil audit dan kesimpulan audit.

3. Lingkup pekerjaan

Lingkup

pekerjaan

pemeriksa

internal

harus

meliputi

pengujian

dan

evaluasi terhadap kecukupan serta efektivitas sistem pengendalian intern

yang dimiliki organisasi dan kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang

diberikan.

23

Lingkup pekerjaan meliputi :

a.

Keandalan informasi : pemeriksa internal harus memeriksa keandalan

(reliabilitas

dan

integritas)

informasi

keuangan

dan

pelaksanaan

pekerjaan dan cara-cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi,

mengukur, mengklasifikasi, dan melaporkan suatu informasi tersebut.

b.

c.

d.

Kesesuaian dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur, dan peraturan

perundang-undangan; pemeriksa internal harus memeriksa sistem yang

memenuhi hal-hal tersebut. bila dipandang perlu, memverifikasi keberadaan organisasi.
memenuhi hal-hal tersebut.
bila
dipandang
perlu,
memverifikasi
keberadaan
organisasi.

telah ditetapkan untuk meyakinkan apakah sistem tersebut telah sesuai

dengan kebijaksanaan, rencana, prosedur, hukum, dan peraturan yang

memiliki akibat penting terhadap pekerjaan-pekerjaan atau operasi-

operasi, laporan-laporan serta harus menentukan apakah organisasi telah

Perlindungan terhadap harta; pemeriksa internal harus memeriksa alat

atau cara yang dipergunakan untuk melindungi harta atau aktiva, dan

berbagai

harta

Penggunaan sumber daya secara ekonomis dan efisien; pemeriksa

internal harus menilai keekonomisan dan efisiensi penggunaan sumber

e.

daya yang ada.

Pencapaian tujuan; pemeriksa internal harus menilai pekerjaan, operasi,

atau program untuk menentukan apakah hasil-hasil yang dicapai sesuai

dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, dan apakah suatu

pekerjaan, operasi atau program telah dijalankan secara tepat.

24

4. Pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan

Kegiatan pemeriksaan harus meliputi perencanaan pemeriksaan, pengujian

serta mengevaluasi informasi, pemberitahuan hasil dan menindaklanjuti

(Follow up). Pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan tersebut antara lain

meliputi, sebagai berikut :

a.

Perencanaan pemeriksaan : pemeriksa internal harus merencanakan

b.

c.

d.

setiap pemeriksaan

mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan tepat.
mengumpulkan,
menganalisis,
menginterpretasi,
dan
tepat.

Pengujian dan pengevaluasian informasi : pemeriksa internal harus

membuktikan

kebenaran informasi untuk mendukung hasil pemeriksaan.

Penyampaian hasil pemeriksaan : pemeriksa internal harus melaporkan

hasil-hasil pemeriksaan yang diperoleh oleh kegiatan pemeriksaannya.

Tindak lanjut hasil pemeriksaan : pemeriksa internal harus terus

meninjau atau melakukan Follow up untuk memastikan bahwa temuan-

temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindak lanjut yang

5. Manajemen bagian audit internal

Pimpinan audit internal harus mengelola bagian audit internal secara cepat.

Manajemen bagian audit internal antara lain meliputi :

a. Tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab : pimpinan audit internal

harus memiliki pernyataan tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab

bagi bagian audit internal.

25

b. Perencanaan

:

pimpinan

audit

harus

menetapkan

rencana

bagi

pelaksanaan tanggung jawab bagian audit internal.

c. Kebijaksanaan dan prosedur : pimpinan audit internal harus membuat

berbagai

kebijaksanaan

dan

prosedur

secara

tertulis

yang

akan

dipergunakan sebagai pedoman oleh staf pemeriksa.

d. Manajemen personel :

pimpinan audit internal harus menetapkan

program untuk menyeleksi dan mengembangkan sumber daya manusia

pada bagian audit internal
pada bagian audit internal

Standar Profesi Audit Internal ini merupakan awal dari berbagai

rangkaian Pedoman Praktik Audit Internal (PPAI), yang diharapkan dapat

menjadi tolak ukur bagi auditor internal agar menjalankan fungsinya secara

profesional. Standar Profesi Audit Internal yang disusun oleh Konsorsium

Organisasi Profesi Audit Internal terdiri atas Standar Atribut, Standar

Kinerja dan standar Implementasi. Apabila auditor tidak menjalankan

aturan yang ada dalam standar tersebut, maka artinya auditor telah bekerja

menyimpang dari standar atau tidak sesuai dengan standar yang telah

ditetapkan. Sehingga besar kemungkinan bahwa hasilnya menjadi di bawah

standar dan juga akan menyebabkan berkurangnya kepercayaan masyarakat

akan mutu jasa auditor tersebut.

26

Adapun

tujuan

Standar

Profesi

Audit

Internal

(SPAI)

menurut

Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal SPAI (2004:5) yaitu, sebagai

berikut:

1.

Memberikan

kerangka

dasar

yang

konsisten

untuk

mengevaluasi

kegiatan dan kinerja satuan audit internal maupun individu auditor.

2.4

2.

Menjadi saran bagi pemakai jasa dalam memahami peran, ruang

3.

4.

5.

6.

lingkup, dan tujuan audit internal. Memberikan kerangka untuk melaksanakan dan kegiatan audit internal yang
lingkup, dan tujuan audit internal.
Memberikan
kerangka
untuk
melaksanakan
dan
kegiatan
audit
internal
yang
memberikan
nilai
meningkatkan kinerja kegiatan operasional organisasi.
bagi auditor internal.
Menggambarkan
prinsip-prinsip
dasar
praktik
audit
seharusnya.

Mendorong peningkatan praktik audit internal dalam organisasi.

mengembangkan

tambah

dan

Menjadi acuan dalam penyusunan program pendidikan dan pelatihan

internal

yang

Kecurangan

Kecurangan merupakan suatu tindakan yang bersifat kontinyu dan biasanya

terjadi karena adanya tekanan untuk melakukan penyelewengan atau dorongan

untuk memanfaatkan kesempatan yang ada dan adanya pembenaran (diterima

secara umum) terhadap tindakan tersebut. Kecurangan bisa saja terjadi di dalam

sebuah profesi, contohnya profesi akuntansi. Misalnya kecurangan dalam pelaporan

keuangan, kesalahan pencatatan akuntansi dapat menyebabkan salah saji material

27

pada pelaporan keuangan. Adapun sejalan dengan teori mengenai kecurangan yang

dikemukakan oleh The Institute of Internal Auditors (IIA) yang dikutip oleh

Soejono Karni (2000:34), yaitu sebagai berikut :

“Kecurangan

mencakup

suatu

ketidakberesan

dan

tindakan

ilegal

yang

bercirikan penipuan disengaja. Ia dapat dilakukan untuk manfaat dan atau

kerugian organisasi oleh orang di luar atau di dalam organisasi.”

Menurut SPAI (2004:63) kecurangan, yaitu sebagai berikut :

pengertian yang telah diuraikan, dapat disimpulkan
pengertian
yang
telah
diuraikan,
dapat
disimpulkan

Fraud mencakup perbuatan melanggar hukum dan pelanggaran terhadap peraturan dan perundang-undangan lainnya yang dilakukan dengan niat untuk berbuat curang. Perbuatan tersebut dilakukan dengan sengaja demi keuntungan atau kerugian suatu organisasi oleh orang dalam atau juga oleh orang di luar organisasi tersebut”.

Sedangkan menurut IPPF (2012) kecurangan adalah :

Setiap tindakan ilegal yang bercirikan penipuan, penyembunyian, atau penyalahgunaan kepercayaan. Tindakan tersebut tidak terbatas pada ancaman atau pelanggaran dalam bentuk kekuatan fisik saja. Kecurangan dapat dilakukan oleh pihak-pihak dan organisasi untuk mendapatkan uang, aset, atau jasa; untuk menghindari pembayaran atau kerugian atas jasa; atau untuk memperoleh keuntungan pribadi atau bisnis.

Dari

bahwa

fraud

merupakan suatu tindakan ilegal, mencakup perbuatan melanggar hukum yang

bercirikan

penipuan,

penyembunyian,

atau

penyalahgunaan

kepercayaan

dan

dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh sesuatu yang bukan merupakan hak

pelakunya sehingga dapat mengakibatkan kerugian atau keuntungan pribadi atau

bisnis.

28

2.4.1 Faktor Pendorong Terjadinya Kecurangan (Fraud)

Terdapat 3 faktor seseorang melakukan kecurangan yang dikenal sebagai

fraud triangel yang dikemukakan oleh SAS 99 (AU316) dikutip oleh Arens (2008):

1. Pressure (Tekanan)

Tekanan ekonomi merupakan salah satu faktor yang mendorong seseorang

berani melakukan tindakan fraud. Faktor ini berasal dari individu si pelaku

dimana dia merasa bahwa tekanan kehidupan yang begitu berat memaksa si

Lingkungan kerja yang tidak menyenangkan, terhadap pegawai yang tidak wajar. karyawan merasa tidak diperlakukan
Lingkungan
kerja
yang
tidak
menyenangkan,
terhadap pegawai yang tidak wajar.
karyawan merasa tidak diperlakukan secara adil.

pelaku melakukan kecurangan untuk keuntungan pribadinya, biasanya

dilakukan karena jaminan kesejahteraan yang ditawarkan perusahaan atau

organisasi tempat dia bekerja kurang atau pola hidup yang serba mewah si

pelaku merasa terus-menerus kekurangan. Namun, tekanan (pressure) juga

dapat berasal dari lingkungan tempatnya bekerja, seperti:

a.

misalnya

perlakuan

b.

Sistem pengukuran kinerja dan penghargaan yang tidak wajar sehingga

c.

Tidak adanya bantuan konsultasi pegawai.

d.

Adanya proses penerimaan pegawai yang tidak fair.

2. Opportunity (Kesempatan)

Merupakan faktor yang sepenuhnya berasal dari luar individu, yakni berasal

dari organisasi sebagai korban perbuatan fraud. Kesempatan melakukan

fraud selalu ada pada setiap kedudukan. Dengan kedudukan yang dimilki,

si pelaku merasa memiliki kesempatan untuk mengambil keuntungan.

29

Ditambah lagi dengan sistem pengendalian dari organisasi yang kurang

memadai.

3. Reazionalization (Rasionalisasi)

Si pelaku merasa memiliki alasan yang kuat yang menjadi dasar untuk

membenarkan apa yang dia lakukan. Serta mempengaruhi pihak lain untuk

menyetujui apa yang dia lakukan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan

untuk mengurangi resiko tersebut adalah :

a.

Penyaringan tenaga kerja semaksimal mungkin diterimanya pegawai yang tidak bermoral baik. dengan melibatkan seluruh
Penyaringan
tenaga
kerja
semaksimal
mungkin
diterimanya pegawai yang tidak bermoral baik.
dengan melibatkan seluruh elemen organisasi.
dengan lingkungan dan budaya organisasi.
dengan visi dan misi perusahaan.

demi

mencegah

b.

Visi dan misi organisasi ditetapkan secara jelas agar dapat dicapai

c.

Aturan yang jelas mengenai perilaku para pegawai yang disesuaikan

d.

Gaya manajemen dan sistem pengendalian yang maksimal sehingga

dapat memberikan contoh bagi para pegawai bagaimana bekerja sesuai

Soejono

Karni

(2000:38)

mengemukakan

pendapat

tentang

faktor

pendorong terjadinya kecurangan sebagai berikut:

1. Lemahnya pengendalian internal

Manajemen

a. tidak

menekankan

perlunya

pengaruh

pengendalian

internal.

b. Manajemen tidak menindak pelaku kecurangan.

30

c. Manajemen tidak mengambil sikap dalam hal terjadinya conflict of

interest

d. Internal auditor tidak diberi wewenang untuk menyelidiki para eksekutif

terutama menyangkut pengeluaran yang besar.

2.

3.

4.

2.4.2

Tekanan keuangan terhadap seseorang

a.

b.

c.

Banyak utang

Pendapatan Rendah Gaya hidup mewah Tuntutan pimpinan di luar kemampuan karyawan dikonsultasikan terlebih dahulu kepada
Pendapatan Rendah
Gaya hidup mewah
Tuntutan pimpinan di luar kemampuan karyawan
dikonsultasikan terlebih dahulu kepada bawahannya
Penurunan penjualan
Lemahnya kebijakan penerimaan pegawai

Tekanan non financial

a.

b.

Direktur utama menetapkan satu tujuan yang harus dicapai tanpa

c.

Indikasi lain

a.

b.

Meremehkan integritas pribadi

c.

Kemungkinan koneksi dengan orang kriminal.

Tanda-Tanda Kecurangan (Fraud)

Kecurangan (Fraud) dapat dideteksi secara dini oleh Auditor Internal

apabila Auditor Internal teliti dalam melihat tanda-tanda akan terjadinya fraud.

Fraud biasanya muncul dibarengi dengan red flag.

Red flag dapat didefinisikan

sebagai suatu kondisi yang janggal atau berbeda dengan keadaan normal yang

31

menjadi indikasi akan adanya sesuatu yang tidak biasa dan perlu penyidikan lebih

lanjut.

Tanda awal (Red Flags) dikemukakan oleh Robert K Elliot yang dikutip

oleh Soejono Karni ( 2000 : 43 ) sebagai berikut :

1. Situasi pribadi yang menciptakan tekanan yang tidak diharapkan

a.

Dililit Hutang

b.

Sakit berat Kesulitan Ekonomi Kelebihan berhutang Meningkatnya persaingan Kredit Pinjaman yang terbatas Supervisi
Sakit berat
Kesulitan Ekonomi
Kelebihan berhutang
Meningkatnya persaingan
Kredit Pinjaman yang terbatas
Supervisi yang buruk

2. Keadaan perusahaan yang menciptakan tekanan yang tidak semestinya

a.

b.

c.

d.

3. Risiko pengendalian yang spesifik

a.

b.

Satu orang yang menangani semua bagian dari transaksi penting

c.

Penugasan dan tanggung jawab yang tidak jelas

Ciri-ciri atau kondisi adanya kecurangan menurut Soejono Karni (2000:43):

1. Terdapatnya angka laporan keuangan yang mencolok dengan tahun-tahun

sebelumnya.

2. Adanya perbedaan antara buku besar dengan buku pembantu.

3. Perbedaan yang dikemukakan melalui konfirmasi

32

4.

Transaksi yang tidak dicatat sesuai dengan otoritas manajemen dengan baik

umum maupun khusus.

5.

Perbedaan kepentingan (conflict interest) pada tugas pekerjaan karyawan.

2.4.3

Jenis-Jenis Kecurangan (Fraud)

The Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) atau Asosiasi

Pemeriksa

Kecurangan

Bersertifikat,

merupakan

organisasi

profesional

yang

bergerak di bidang pemeriksaan atas kecurangan yang berkedudukan di Amerika

pemeriksaan atas kecurangan yang berkedudukan di Amerika Serikat dan mempunyai tujuan untuk memberantas kecurangan,

Serikat dan mempunyai tujuan untuk memberantas kecurangan, mengklasifikasikan

fraud (kecurangan) dalam beberapa klasifikasi, dan dikenal dengan istilah “The

Fraud Tree” yaitu Sistem Klasifikasi Mengenai Hal-hal Yang Ditimbulkan Sama

Oleh Kecurangan (Uniform Occupational Fraud Classification System).

ACFE dalam Tuanakotta (2010) membagi fraud (kecurangan) dalam 3

(tiga) jenis atau tipologi berdasarkan perbuatan, yaitu :

1.

Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud).

Kecurangan Laporan keuangan dapat didefinisikan sebagai kecurangan

yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah saji material Laporan

Keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat

bersifat finansial atau kecurangan non finansial. Adapun pada umumnya

kecurangan dalam penyajian laporan keuangan dapat dideteksi melalui

analisis laporan keuangan sebagai berikut :

a.

Analisis vertikal, yaitu teknik yang digunakan untuk menganalisis

hubungan antara item-item dalam laporan laba rugi, neraca, atau laporan

arus kas dengan menggambarkannya dalam persentase.

33

b. Analisis

horizontal,

yaitu

teknik

untuk

menganalisis

persentase-

persentase perubahan item laporan keuangan selama beberapa periode

laporan.

c. Analisis rasio, yaitu alat untuk mengukur hubungan antara nilai-nilai

item dalam laporan keuangan.

2. Penyalahgunaan aset (Asset Misappropriation).

Asset misappropriaton meliputi penyalahgunaan/pencurian aset atau harta

Adapun Teknik yang dapat dipergunakan pada kategori ini sangat
Adapun
Teknik
yang
dapat
dipergunakan
pada
kategori
ini
sangat

perusahaan atau pihak lain. Ini merupakan bentuk fraud yang paling mudah

dideteksi karena sifatnya yang tangible atau dapat diukur/dihitung (defined

mendeteksi

variasinya.

value).

untuk

kecurangan-kecurangan

banyak

Masing-masing jenis kecurangan dapat dideteksi melalui beberapa teknik

yang berbeda. Namun, pemahaman yang tepat atas pengendalian intern yang

baik dalam pos-pos (asset) akan sangat berguna, dan membantu dalam

melaksanakan pendeteksian atau pencegahan terhadap terjadinya kecurangan

dengan metode sebagai berikut :

a. Analytical review

Suatu

review

atas

berbagai

akun

yang

mungkin

menunjukkan

ketidakbiasaan atau kegiatan-kegiatan yang tidak diharapkan.

b. Statistical sampling

Sebagaimana persediaan, dokumen dasar pembelian dapat diuji secara

sampling untuk menentukan ketidakbiasaan (irregularities), metode

34

deteksi ini akan efektif jika ada kecurigaan terhadap satu atributnya,

misalnya pemasok fiktif.

c.

Vendor or outsider complaints

Komplain/keluhan dari konsumen, pemasok, atau pihak lain merupakan

alat deteksi yang baik yang dapat mengarahkan CFE untuk melakukan

3.

audit lebih lanjut.

d.

Site visit observation

pengendalian intern di lokasi-lokasi tersebut. bagaimana transaksi akuntansi dilaksanakan daerah yang mempunyai
pengendalian
intern
di
lokasi-lokasi
tersebut.
bagaimana
transaksi
akuntansi
dilaksanakan
daerah yang mempunyai potensi bermasalah.

Observasi ke lokasi umumnya dapat mengungkapkan ada tidaknya

terhadap

akan

Observasi

terkadang

memberikan peringatan pada auditor kecurangan akan adanya daerah-

Korupsi (Corruption).

Pada umumnya sebagian besar kecurangan ini dapat dideteksi melalui

keluhan dari rekan kerja yang jujur, laporan dari rekan kerja, atau pemasok

yang tidak puas dan menyampaikan komplain ke perusahaan. Atas sangkaan

atau dugaan terjadinya kecurangan ini kemudian akan dilakukan analisis

terhadap tersangka atau transaksinya. Pendeteksian atas kecurangan ini

dapat dilihat dari karakteristik (Red flag) si penerima maupun si pemberi.

Korupsi dalam konteks pembahasan ini adalah korupsi menurut ACFE,

bukannya

pengertian

korupsi

menurut

UU

Pemberantasan

TPK

di

Indonesia.

Menurut

ACFE,

korupsi

terbagi

ke

dalam

pertentangan

kepentingan (conflict of interest), suap (bribery), pemberian illegal (illegal

35

gratuity), dan pemerasan (economic extortion). Di dalam tindakan korupsi

terdapat

contoh-contoh

kepentingan, yaitu :

kecurangan

yang

berkaitan

dengan

konflik

a.

Penyuapan (Bribery) merupakan tindakan pemberian atau penerimaan

sesuatu yang bernilai dengan tujuan untuk mempengaruhi tindakan

orang yang menerima.

b.

Pemberian

Kembali

(Kickback)

merupakan

salah

satu

bentuk

penjualannya kembali ke pembeli. merupakan bentuk terselubung dari penyuapan. Menurut Soejono Karni (2000:35)
penjualannya kembali ke pembeli.
merupakan bentuk terselubung dari penyuapan.
Menurut
Soejono
Karni
(2000:35)

penyuapan dimana penjual dengan ikhlas memberikan sebagian hasil

c.

Penawaran (Bid rigging) adalah skema dimana karyawan membantu

sebuah vendor untuk memenangkan suatu kontrak dengan perusahaan.

d.

Pemberian Ilegal (Illegal gratuities) adalah pemberian atau hadiah yang

Sedangkan

kecurangan

dapat

diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut :

1.

Kecurangan Manajemen

Kecurangan ini dilakukan oleh orang dari kelas sosial ekonomi yang lebih

atas dan terhormat yang biasa disebut white collar crime (kejahatan kerah

putih). Kecurangan manajemen ada dua tipe yaitu kecurangan jabatan dan

kecurangan korporasi. Kecurangan jabatan dilakukan oleh seseorang yang

mempunyai jabatan dan menyalahgunakan jabatannya itu. Kecurangan

korporasi adalah kecurangan yang dilakukan oleh suatu perusahaan untuk

36

memperoleh keuntungan bagi perusahaan tersebut misalnya manipulasi

2.

3.

2.4.4

pajak.

Kecurangan Karyawan

Kecurangan

karyawan

biasanya

melibatkan

karyawan

bawahan.

Dibandingkan dengan kecurangan yang dilakukan manajemen, kesempatan

untuk melakukan kecurangan pada karyawan bawahan jauh lebih kecil. Hal

ini disebabkan karena mereka tidak mempunyai wewenang. Pada umumnya

pengadaan komputer antara lain digunakan
pengadaan
komputer antara lain
digunakan

semakin tinggi wewenang yang dimiliki, maka semakin besar kesempatan

untuk kecurangan.

Kecurangan Komputer

Tujuan

untuk

pencatatan

operasional atau pembukuan suatu perusahaan. Kejahatan komputer yang

berupa pemanfaatan berbagai sumber daya komputer.

Syarat Penemuan Kecurangan (Fraud)

Agar fraud dapat ditemukan dan dideteksi,

maka diperlukan Sistem

Pengendalian Intern yang memadai, agar setiap bentuk kecurangan dapat dideteksi

lebih dini. Selain itu, dukungan secara penuh dari pihak manajemen juga sangat di

butuhkan, agar Audit Internal dapat bekerja secara efektif dan efisien dan dapat

menemukan kecurangan yang terjadi di perusahaan lebih dini. Sejalan dengan

pendapat yang dikemukakan oleh Amin Widjaja Tunggal dalam bukunya “Pokok-

pokok Audit Kecurangan” (2009) yang menjelaskan bahwa syarat fraud dapat

ditemukan, yaitu :

1. Penemuan Fraud

37

Audit internal diharapkan dapat menemukan fraud yang terjadi di dalam

perusahaan, sehingga segala aktivitas yang bertentangan dengan prosedur

atau kebijakan perusahaan dapat dicegah dan diatasi. Sehubungan dengan

itu, temuan-temuan hasil audit harus didasarkan pada:

a.

b.

c.

d.

e.

Kriteria: yaitu berbagai standar, ukuran atau harapan dalam melakukan

evaluasi.

kondisi yang diharapkan dan kondisi sesungguhnya.
kondisi yang diharapkan dan kondisi sesungguhnya.

Kondisi: yaitu berbagai bukti nyata yang ditemukan oleh audit internal.

Sebab: yaitu alasan yang dikemukakan atas terjadinya perbedaan antara

Akibat: yaitu beragai resiko atau kerugian yang dihadapi oleh organisasi

dari pihak yang diaudit atau unit organisasi lain karena terdapatnya

kondisi yang tidak sesuai dengan kriteria (dampak dari perbedaan).

Dalam laporan tentang berbagai temuan, dapat pula dicantumkan

berbagai rekomendasi, hasil yang telah dicapai oleh pihak yang diaudit,

dan informasi lain bersifat membantu yang tidak dicantumkan di tempat

lain.

2. Bukti yang Cukup dan Kompeten

Bukti yang cukup merupakan bukti yang faktual dan meyakinkan, sehingga

orang yang diberi bukti akan mempunyai kesimpulan yang sama dengan

auditor. Sedangkan bukti yang kompeten adalah bukti yang dapat dipercaya

dan cara terbaik untuk memperolehnya adalah dengan mempergunakan

teknik audit yang tepat.

2.4.5 Pencegahan Kecurangan (Fraud)

38

Peranan penting dari auditor internal sesuai dengan fungsinya dalam

pencegahan kecurangan adalah untuk menghilangkan atau meminimalisir sebab-

sebab timbulnya kecurangan tersebut. Karena pencegahan terhadap akan terjadinya

suatu perbuatan curang akan lebih mudah daripada mengatasi bila telah terjadi

kecurangan tersebut.

sikap skeptisisme profesional dalam
sikap
skeptisisme
profesional
dalam

American Institute of Certified Public Accountants (AICPA) bersama

dengan organisasi profesional, menerbitkan Management Anti Fraud Program and

Controls: Guidance to Prevent, Deter, and Detect Fraud yaitu petunjuk bagi

auditor dalam mendeteksi kecurangan yang material dengan tekanan bahwa auditor

harus

dan

tidak

menerapkan

auditnya

mengasumsikan bahwa manajemen selalu berlaku jujur. Yang penting juga dari

standar ini adalah pedoman untuk membantu manajemen perusahaan dalam

tanggungjawabnya memerangi kecurangan. Dalam pedoman tersebut dijelaskan

unsur-unsur pencegahan kecurangan, yaitu sebagai berikut :

1.

Budaya yang jujur dan etika yang Tinggi

Salah satu tanggung jawab organisasi adalah menumbuhkan budaya yang

menghargai kejujuran dan nilai-nilai etika yang tinggi dan menjelaskan

perilaku yang diharapkan dan kesadaran dari masing-masing pegawai.

Dengan adanya nilai dan norma dapat membantu menciptakan budaya jujur

dan etika yang tinggi.

39

Penciptaan budaya jujur dan etika yang tinggi menurut Amin Widjaja

Tunggal (2012:220) mencakup enam unsur :

1) Tone at the top Manajemen dan dewan direksi berada pada posisi atas. Dalam hal
1)
Tone at the top
Manajemen dan dewan direksi berada pada posisi atas. Dalam hal ini
menajemen
dan
dewan
direksi
selaku
pemberi
arahan
terhadap
karyawannya
serta
tidak
membiarkan
karyawan
yang
tidak
menanamkan kejujuran dan perilaku etis.
2)
Menciptakan lingkungan kerja positif.
Semangat karyawan akan semakin meningkat jika dalam perusahaannya
ia merasa lebih santai, namun tetap memiliki dedikasi yang tinggi.
Dengan
demikian,
karyawan
tidak
merasa
terabaikan
dalam
lingkungannya, misalnya seorang karyawan yang tidak mendapatkan
tekanan berlebihan, ancaman dan sebagainya.
3)
Mempekerjakan dan mempromosikan pegawai yang tepat.
Perusahaan
sebaiknya
memprioritaskan
karyawan
untuk
mendapat
promosi atau mempekerjakan berdasarkan tingkat kejujuranya agar
karyawan
di
dalamnya
dapat
lebih
kompeten
dan
menanamkan
kejujurannya
sehingga
dapat
membantu
pencegahan
terjadinya
kecurangan. Hal demikian dimaksudkan agar lebih mengefektifkan
pencegahan atau menghalangi kecurangan.
4)
Pelatihan.

Pelatihan merupakan tool serta menjadi pegangan bagi karyawan dalam

perusahaan

agar

mampu

menerapkan

perilaku

etisnya.

Pelatihan

40

merupakan bagian yang penting dalam pengendalian anti kecurangan

ini. 5) Konfirmasi. Adakalanya pegawai mengkonfirmasikan tanggung jawab serta perilaku mereka selama bekerja tanpa
ini.
5)
Konfirmasi.
Adakalanya pegawai mengkonfirmasikan tanggung jawab serta perilaku
mereka
selama
bekerja
tanpa
melaporkan
suatu
tindakan
yang
melanggar. Hal ini dapat mengokohkan kebijakan kode perilaku dan
juga membantu pegawai untuk tidak melakukan kecurangan.
6)
Disiplin.
Setiap
pegawai
harus
mengetahui
bahwa
mereka
akan
dimintai
pertanggungjawaban jika tidak mengikuti kode perilaku perusahaannya
atau melanggar nilai dan norma, sehingga pegawai akan merasa enggan
untuk berbuat tidak etis yang merujuk pada kecurangan.
2.
Tanggung jawab manajemen untuk mengevaluasi resiko kecurangan
Menurut AICPA didalam pedomannya menyebutkan bahwa, kecurangan
tidak akan terjadi tanpa persepsi adanya kesempatan dan menyembunyikan
perbuatannya.
Organisasi
hendaknya
bersikap
proaktif
dalam
upaya
mengurangi
kesempatan
terjadinya
kecurangan
dengan
cara
sebagai
berikut:

1)

Mengidentifikasi risiko kecurangan

Manajemen bertanggungjawab menetapkan dan mengawasi seluruh

aspek tindakan pencegahan dan penaksiran resiko kecurangan.

41

2)

Mengambil tindakan mengurangi risiko yang diidentifikasi

 

Untuk

mengurangi

dan

mengeliminir

risiko

kecurangan

tertentu

perusahaan akan melakukan perubahan aktivitas dan prosesnya.

3)

Implementasi dan monitoring pengendalian intern preventif dan detektif

dan tindakan pencegahan lainnya

Pada umumnya sistem pengendalian intern di dalam suatu entitas

3.

risiko yang melekat (inherent) dalam entitas risiko yang telah diidentifikasi. entitas hendaknya memiliki fungsi
risiko
yang
melekat
(inherent)
dalam
entitas
risiko yang telah diidentifikasi.
entitas
hendaknya
memiliki
fungsi

pengawasan

memiliki pengaruh yang besar terhadap penanganan beberapa jenis

Dengan

tersebut.

penaksiran risiko kecurangan, entitas dapat mengidentifikasi proses,

pengendalian, dan prosedur lain yang diperlukan untuk mengurangi

Pengawasan

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dalam modul audit kecurangan

menyebutkan bahwa, untuk mencegah dan menangkal kecurangan secara

yang

tepat.

efektif,

Pengawasan dalam berbagai jenis dan bentuk ini dapat dilaksanakan oleh

berbagai pihak di bawah pengawasan umum Komite Audit atau Dewan

Komisaris.

1)

Komite Audit

Di samping menciptakan “tone at the top“ perusahaan, Komite Audit

juga

menilai

apakah

manajemen

telah

mengidentifikasi

risiko

kecurangan, termasuk implementasi program tindakan anti kecurangan.

42

Pengawasan yang aktif oleh Komite Audit menegaskan komitmen

manajemen

menciptakan

budaya

anti

kecurangan

atau

tidak

ada

toleransi bagi kecurangan (zero tolerance approach).

2)

Manajemen

Manajemen bertanggungjawab mengawasi dan mengatur aktivitas yang

dilakukan pegawai dengan cara mengimplementasikan, monitoring dan

3)

mengendalikan seluruh proses dalam institusi. Di lain pihak manajemen

menyembunyikan tindakan kecurangan. Auditor Internal fungsi pengawasan. Pengetahuannya tentang auditor internal
menyembunyikan tindakan kecurangan.
Auditor Internal
fungsi
pengawasan.
Pengetahuannya
tentang
auditor
internal
harus
memiliki
pengetahuan
yang

juga dapat berinisiatif dan ikut atau mengarahkan perbuatan atau

Audit internal yang efektif akan sangat membantu dalam pelaksanaan

entitas

dapat

mengidentifikasi indikator terjadinya kecurangan. Standards for The

Professional of Internal Auditing (IIA Standars) menyatakan bahwa

cukup

untuk

mengidentifikasi kecurangan tetapi tidak diharapkan untuk memiliki

keahlian seseorang yang tanggung jawab utamanya adalah mendeteksi

dan investigasi kecurangan.

2.5 Kerangka Pemikiran

43

Pada dasarnya auditor internal memiliki peranan penting dalam suatu

organisasi atau perusahaan, terutama untuk menjamin efisiensi dan ekonomis dari

keseluruhan

fungsi

organisasi.

Tidak

hanya

organisasi

swasta

saja

yang

memerlukan audit internal, namun organisasi pemerintahan juga memerlukan

adanya audit internal. Hal ini dikarenakan audit internal diperlukan untuk mencegah

terjadinya kecurangan dan mendeteksi adanya kecurangan (fraud) pada organisasi

utama dari internal auditor sesuai dengan
utama
dari
internal
auditor
sesuai
dengan

pemerintahan.

Standar Profesi Audit Internal butir (1210.2) menyatakan bahwa internal

audit harus memiliki pengetahuan yang memadai untuk dapat mengenali, meneliti,

dan menguji adanya indikasi kecurangan. Sejalan dengan hal tersebut, pernyataan

standar internal audit (SIAS) No. 3 menyatakan bahwa internal audit diwajibkan

untuk mewaspadai kemungkinan terjadinya ketidakwajaran penyajian, kesalahan,

penyimpangan, kecurangan, inefficiency, konflik kepentingan dan ketidakefektifan

pada suatu aktivitas perusahaan, pada saat pelaksanaan audit.

Peran

fungsinya

dalam

pencegahan kecurangan adalah berupaya untuk menghilangkan atau mengeleminir

sebab-sebab timbulnya kecurangan tersebut. Karena pencegahan akan terjadinya

suatu perbuatan curang akan lebih mudah daripada mengatasi bila telah terjadi

kecurangan tersebut (Amrizal, 2004:4).

44

Adapun

Hiro

Tugiman

(2006:16)

menyebutkan

kemampuan auditor internal sebagai berikut :

1. Independensi

2. Kemampuan Profesional

3. Lingkup Pekerjaan

standar

atau

kualifikasi

4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan

5. Manajemen Bagian Audit Internal

Kegiatan Pemeriksaan 5. Manajemen Bagian Audit Internal Apabila kelima standar atau kualifikasi kemampuan tersebut

Apabila kelima standar atau kualifikasi kemampuan tersebut dapat dipenuhi

oleh auditor internal, maka kemampuan profesionalnya akan semakin terpercaya

dalam melakukan fungsi pengawasan, karena profesionalisme merupakan kriteria

untuk mengukur keberhasilan auditor internal dalam melaksanakan tanggung jawab

pemeriksaan.

Seandainya kecurangan (fraud) terjadi, audit internal bertanggungjawab

untuk membantu manajemen dalam mencegah kemungkinan terjadinya kecurangan

(fraud) lagi, dengan melakukan pengujian dan evaluasi keandalan dan efektivitas

dari pengendalian, seiring dengan potensi risiko terjadinya kecurangan (fraud)

dalam

berbagai

segmen.

Tidak

hanya

bertanggungjawab

untuk

membantu

manajemen puncak, namun audit internal juga harus mendapat sumber daya yang

memadai dalam rangka memenuhi tujuannya untuk mencegah kecurangan (fraud).

Kecurangan (Fraud) berarti bahwa suatu item tidak dimasukkan sehingga

menyebabkan informasi tidak benar, apabila suatu kesalahan adalah sengaja maka

kesalahan tersebut merupakan tindakan

fraud. Adapun didalam SPAI (2004:63)

disebutkan bahwa, fraud mencakup perbuatan melanggar hukum dan pelanggaran

45

terhadap peraturan dan perundang-undangan lainnya yang dilakukan dengan niat

untuk

berbuat

curang.

Perbuatan

tersebut

dilakukan

dengan

sengaja

demi

keuntungan atau kerugian suatu organisasi oleh orang dalam atau juga oleh orang

di luar organisasi tersebut.

Beberapa hal yang telah diuraikan sebelumnya tentu akan memiliki dampak

bagi perusahaan dalam mencapai tujuannya. Maka dari itu, aktivitas pencegahan

kecurangan

di

dalam

suatu

perusahaan

diperlukan

kecurangan

dapat

audit internal sebagai suatu bagian yang sebelumnya (R 2 ) sebesar 0.752. Hal ini berarti
audit
internal
sebagai
suatu
bagian
yang
sebelumnya
(R 2 )
sebesar
0.752.
Hal
ini
berarti
75,2%
audit

dapat

agar

diminimalisir atau mungkin dihilangkan. Tetapi pada prakteknya meskipun pihak

manajemen telah menetapkan peraturan, sistem, maupun prosedur tetap saja

terkadang kecurangan masih sering terjadi. Oleh karena itu, perusahaan juga

menilai

dan

memerlukan

mengevaluasi sistem pengedalian intern yang ada di dalam perusahaan.

Berdasarkan penelitian

yang dilakukan oleh Santa Clara

Perangin-Angin (2015) telah membuktikan bahwa audit internal memiliki pengaruh

dalam hal pencegahan kecurangan. Berdasarkan nilai R diperoleh koefisien

internal

yang

determinasi

dilaksanakan PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah memadai dan berperan dalam

pencegahan terjadinya kecurangan. Dan juga penelitian pada jurnal fekon vol.1

No.2 Theresa Festi T (2014) menyatakan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan

dari peran audit internal terhadap pencegahan kecurangan. Berdasarkan hasil

perhitungan nilai R diperoleh koefisien determinasi (R 2 ) sebesar 0,467. Ini berarti

bahwa 46,7% pencegahan kecurangan dipengaruhi oleh peran audit internal.

46

Gambar 2.1 Paradigma Penelitian

Audit Internal

(X)

1. Independensi

2. Kemampuan profesional

3. Ruang lingkup pekerjaan

2.6

Pencegahan Kecurangan (Fraud)

(Y)

1. Budaya jujur dan etika yang

2.

tinggi

Tanggung jawab

manajemen untuk

mengevaluasi kecurangan

3.

Pengawasan

beberapa penjelasan yang telah diuraikan
beberapa
penjelasan
yang
telah
diuraikan

Hipotesis Penelitian

Dari

sebelumnya,

penulis

menyajikan hipotesis yang merupakan kesimpulan sementara dari penelitian ini,

yaitu sebagai berikut :

Ho

:

Audit

Internal tidak berpengaruh signifikan terhadap pencegahan

kecurangan (fraud) pada PT Bank Mandiri Tbk. Bandung.

Ha : Audit Internal berpengaruh signifikan terhadap pencegahan kecurangan

(fraud) pada PT Bank Mandiri Tbk. Bandung.