Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Perdarahan post partum merupakan penyebab kematian maternal terbanyak. Semua wanita yang
sedang hamil 20 minggu memiliki resiko perdarahan post partum dan sekuelenya. Walaupun
angka kematian maternal telah turun secara drastis di negara-negara berkembang, perdarahan
post partum tetap merupakan penyebab kematian maternal terbanyak dimana-mana.

Kehamilan yang berhubungan dengan kematian maternal secara langsung di Amerika Serikat
diperkirakan 7 – 10 wanita tiap 100.000 kelahiran hidup. Data statistik nasional Amerika Serikat
menyebutkan sekitar 8% dari kematian ini disebabkan oleh perdarahan post partum. Di negara
industri, perdarahan post partum biasanya terdapat pada 3 peringkat teratas penyebab kematian
maternal, bersaing dengan embolisme dan hipertensi. Di beberapa negara berkembang angka
kematian maternal melebihi 1000 wanita tiap 100.000 kelahiran hidup, dan data WHO
menunjukkan bahwa 25% dari kematian maternal disebabkan oleh perdarahan post partum dan
diperkirakan 100.000 kematian matenal tiap tahunnya.

Definisi perdarahan post partum saat ini belum dapat ditentukan secara pasti. Perdarahan post
partum didefinisikan sebagai kehilangan darah lebih dari 500 mL setelah persalinan vaginal atau
lebih dari 1.000 mL setelah persalinan abdominal. Perdarahan dalam jumlah ini dalam waktu
kurang dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum primer, dan apabila perdarahan ini
terjadi lebih dari 24 jam disebut sebagai perdarahan post partum sekunder.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa Pengertian Kompresi Bimanual Interna (KBI), Kompresi Bimanual Eksterna (KBE),
Kompresi Aorta Abdominal (KAA).
2. Apa Tujuan dilakukannya tindakan Kompresi Bimanual Interna (KBI), Kompresi Bimanual
Eksterna (KBE), Kompresi Aorta Abdominal (KAA)
3. Apa Tanda dan gejala Perdarahan Post Partum akibat atonia uteri
4. Bagaimana Penatalaksanaan Kompresi Bimanual Interna (KBI), Kompresi Bimanual
Eksterna (KBE), Kompresi Aorta Abdominal (KAA) pada kasus atonia uteri.

C. TUJUAN
1. Untuk Mengetahui Pengertian Kompresi Bimanual Interna (KBI), Kompresi Bimanual
Eksterna (KBE), Kompresi Aorta Abdominal (KAA).
2. Untuk Mengetahui Tujuan dilakukannya tindakan Kompresi Bimanual Interna (KBI),
Kompresi Bimanual Eksterna (KBE), Kompresi Aorta Abdominal (KAA)
3. Untuk Mengetahui Tanda dan gejala Perdarahan Post Partum akibat atonia uteri
4. Untuk Mengetahui Penatalaksanaan Kompresi Bimanual Interna (KBI), Kompresi Bimanual
Eksterna (KBE), Kompresi Aorta Abdominal (KAA) pada kasus atonia uteri.

1
D. MANFAAT
a. Bagi Penulis

Setelah menyelesaikan makalah ini diharapkan kami sebagai mahasiswa


dapat meningkatkan pengetahuan dan wawasan mengenai Kompresi Bimanual Interna
(KBI), Kompresi Bimanual Eksterna (KBE), Kompresi Aorta Abdominal (KAA) pada kasus
atonia uteri serta upaya penurunan kematian pada ibu.

b. Bagi Institusi/bidan

Diharapkan sebagai bahan pertimbangan untuk perbandingan dalam peningkatan pelayanan


asuhan kebidanan.

2
BAB I
TINJAUAN TEORI
A. PENGERTIAN

Ada beberapa macam pengertian dari kompresi bimanual,antara lain sebagai berikut:

a. Kompresi bimanual adalah suatu tindakan untuk mengontrol dengan segera homorrage

postpartum. Dinamakan demikian karena secara literature melibatkan kompresi uterus

diantara dua tangan.(varney,2004)

b. Menekan rahim diantara kedua tangan dengan maksud merangsang rahim untuk

berkontraksi dan mengurangi perdarahan (depkes RI,1996-1997)

c. Tindakan darurat yang dilakukan untuk menghentikan perdarahan pasca salin.(depkes

RI,1997)

1. Kompresi Bimanual Interna (KBI)

Ada kalanya setelah kelahiran plasenta terjadi perdarahan aktif dan uterus tidak

berkontraksi walaupun sudah dilakukan menajemen aktif kala III. Dalam kasus ini

uterus tidak berkontraksi dengan penatalaksanaan menajemen aktif kala III dalam waktu

15 detik setelah plasenta lahir.

Tindakan atau penanganan yang dapat dilakukan adalah melakukan tindakan

kompresi bimanual interna,kompresi bimanual eksterna atau kompresi aorta

abdominalis. Sebelum melakukan tindakan ini harus dipastikan bahwa penyebab

perdarahan adalah atonia uteri,dan pastikan tidak ada sisa plasenta.

Proses penanganan atonia uteri ini merupakan suatu rangkaian tindakan dalam

proses persalinan. Kompresi Bimanual adalah serangkaian proses yang dilakukan untuk

menghentikan perdarahan secara mekanik. Proses mekanik yang digunakan adalah

aplikasi tekanan pada korpus uteri sebagai upaya pengganti kontraksi miometrium (yang

3
untuk sementara waktu tidak dapat berkontraksi). Kontraksi miometrium dibutuhkan

untuk menjepit anyaman cabang-cabang pembuluh darah besar yang berjalan

diantaranya.

Kompresi bimanual interna dilakukan saat terjadi perdarahan. Perdarahan

postpartum adalah perdarahan lebih dari 500-600 ml selama 24 jam setelah anak lahir.

Termasuk perdarahan karena retensio plasenta.

Perdarahan post partum adalah perdarahan dalam kala IV lebih dari 500-600 cc

dalam 24 jam setelah anak dan plasenta lahir (Prof. Dr. Rustam Mochtar, MPH, 1998).

Haemoragic Post Partum (HPP) adalah hilangnya darah lebih dari 500 ml dalam 24 jam

pertama setelah lahirnya bayi (Williams, 1998). HPP biasanya kehilangan darah lebih

dari 500 ml selama atau setelah kelahiran (Marylin E Dongoes, 2001).

Perdarahan Post partum diklasifikasikan menjadi 2, yaitu:

 Early Postpartum : Terjadi 24 jam pertama setelah bayi lahir

 Late Postpartum : Terjadi lebih dari 24 jam pertama setelah bayi lahir

Tiga hal yang harus diperhatikan dalam menolong persalinan dengan komplikasi

perdarahan post partum :

a. Menghentikan perdarahan.

b. Mencegah timbulnya syok.

c. Mengganti darah yang hilang.Frekuensi perdarahan post partum 4/5-15 % dari seluruh

persalinan.

Berdasarkan penyebabnya :

a. Atoni uteri (50-60%)

b. Retensio plasenta (16-17%)

4
c. Sisa plasenta (23-24%)

d. Laserasi jalan lahir (4-5%)

e. Kelainan darah (0,5-0,8%)

2. Kompresi Bimanual Eksterna (KBE)

Kompresi bimanual eksterna merupakan tindakan yang efektif untuk

mengendalikan perdarahan misalnya akibat atonia uteri. Kompresi bimanual ini

diteruskan sampai uterus dipastikan berkontraksi dan perdarahan dapat dihentikan.ini

dapat di uji dengan melepaskan sesaat tekanan pada uterus dan kemudian mengevaluasi

konsistensi uterus dan jumlah perdarahan.

Penolong dapat menganjurkan pada keluarga untuk melakukan kompresi

bimanual eksterna sambil penolong melakukan tahapan selanjutnya untuk

penatalaksanaan atonia uteri. Dalam melakukan kompresi bimanual eksterna ini, waktu

sangat penting, demikian juga kebersihan. sedapat mungkin,gantilah sarung tangan atau

cucilah tangan sebelum memulai tindakan ini.

KBE menekan uterus melalui dinding abdomen dengan jalan saling

mendekatkan kedua telapak tangan yang melingkupi uterus. Pantau aliran darah yang

keluar. Bila perdarahan berkurang,kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus

dapat kembali berkontraksi. Bila belum berhasil dilakukan kompresi bimanual internal.

Prinsip Pelaksanaan Kompresi Bimanual :

1. Kaji ulang indikasi

2. Berikan dukungan emosional kepada ibu dan keluarga

3. Cegah infeksi sebelum tindakan

5
4. Kosongkan kandung kemih

5. Pastikan perdarahan karena atonia uteri

6. Pastikan plasenta lahir lengkap

3. Kompresi Aorta Abdominal (KAA)

Peralatan yang di perlukan untuk dapat melakukan kompresi aorta abdominalis tidak ada,

kecuali sedapat mungkin teknik yang benar, sehingga aorta benar-benar tertutup untuk

sementara waktu sehingga perdarahan karena otonia uteri dapat di kurangi.

Tata cara komperesi aorta abdominalis:

a. Tekanlah aorta abdominalis diatas uterus dengan kuat dan dapat dibantu dengan tangan

kiri selama 5 s/d 7 menit.

b. Lepaskan tekanan sekitar 30 sampai 60 detik sehingga bagian lainnya tidak terlalu

banyak kekurangan darah.

c. tekanan aorta abdominalis untuk mengurangi perdarahan bersifat sementara sehingga

tersedia waktu untuk memasang infus dan memberikan uterotonika secara intravena.

B. TUJUAN

1. Mencegah terjadinya perdarahan karena atonia uteri

2. Mencegah terjadinya syok

C. PATOFISIOLOGI

Dalam persalinan pembuluh darah yang ada di uterus melebar untuk meningkatkan

sirkulasi ke pembuluh, atoni uteri dan subinvolusi uterus menyebabkan kontraksi uterus

menurun sehingga pembuluh darah yang melebar tadi tidak menutup sempurna hal inilah

6
yang menyebabkan perdarahan terjadi terus menerus. Trauma jalan lahir seperti epiostomi

yang lebar, laserasi perineum, dan rupture uteri juga menyebabkan perdarahan karena

terbukanya pembuluh darah. Penyakit perdarah pada ibu; misalnya afibrinogemia atau

hipofibrinogemia karena tidak ada atau kurangnya fibrin untuk membantu proses pembekuan

darah juga merupakan penyebab dari perdarahan postpartum. Perdarahan yang sulit

dihentikan bisa mendorong pada keadaan shock hemoragik.

Perbedaan perdarahan pasca persalinan karena atonia uteri dan robekan jalan lahir adalah:

a. Atonia uteri (sebelum/sesudah plasenta lahir).

1. Kontraksi uterus lembek, lemah, dan membesar (fundus uteri masih tinggi.

2. Perdarahan terjadi beberapa menit setelah anak lahir.

3. Bila kontraksi lemah, setelah masase atau pemberian uterotonika, kontraksi yang

lemah tersebut menjadi kuat.

b. Robekan jalan lahir (robekan jaringan lunak).

1. Kontraksi uterus kuat, keras dan mengecil.

2. Perdarahan terjadi langsung setelah anak lahir. Perdarahan ini terus-menerus.

Penanganannya : ambil spekulum dan cari robekan.

Setelah dilakukan masase atau pemberian uterotonika, uterus mengeras tapi perdarahan

tidak berkurang. Perdarahan Postpartum akibat Atonia Uteri biasanya dapat terjadi karena

terlepasnya sebagian plasenta dari rahim dan sebagian lagi belum, karena perlukaan pada

jalan lahir atau karena atonia uteri. Atoni uteri merupakan sebab terpenting perdarahan

postpartum.

7
Atonia uteri dapat terjadi karena proses persalinan yang lama; pembesaran rahim yang

berlebihan pada waktu hamil seperti pada hamil kembar atau janin besar; persalinan yang

sering (multiparitas) atau anestesi yang dalam. Atonia uteri juga dapat terjadi bila ada usaha

mengeluarkan plasenta dengan memijat dan mendorong rahim ke bawah sementara plasenta

belum lepas dari rahim.

Perdarahan yang banyak dalam waktu pendek dapat segera diketahui. Tapi bila

perdarahan sedikit dalam waktu lama tanpa disadari penderita telah kehilangan banyak darah

sebelum tampak pucat dan gejala lainnya. Pada perdarahan karena atonia uteri, rahim

membesar dan lembek.Terapi terbaik adalah pencegahan. Anemia pada kehamilan harus

diobati karena perdarahan yang normal pun dapat membahayakan seorang ibu yang telah

mengalami anemia. Bila sebelumnya pernah mengalami perdarahan postpartum, persalinan

berikutnya harus di rumah sakit. Pada persalinan yang lama diupayakan agar jangan sampai

terlalu lelah. Rahim jangan dipijat dan didorong ke bawah sebelum plasenta lepas dari

dinding rahim.

Pada perdarahan yang timbul setelah janin lahir dilakukan upaya penghentian perdarahan

secepat mungkin dan mengangatasi akibat perdarahan. Pada perdarahan yang disebabkan

atonia uteri dilakukan massage rahim dan suntikan ergometrin ke dalam pembuluh balik. Bila

tidak memberi hasil yang diharapkan dalam waktu singkat, dilakukan kompresi bimanual

pada rahim, bila perlu dilakukan tamponade utero vaginal, yaitu dimasukkan tampon kasa

kedalam rahim sampai rongga rahim terisi penuh. Pada perdarahan postpartum ada

kemungkinann dilakukan pengikatan pembuluh nadi yang mensuplai darah ke rahim atau

pengangkatan rahim.

8
Plasenta sudah terlepas dari dinding rahim namun belum keluar karena atoni uteri atau

adanya lingkaran konstriksi pada bagian bawah rahim (akibat kesalahan penanganan kala III)

yang akan menghalangi plasenta keluar (plasenta inkarserata).

Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan tetapi bila sebagian

plasenta sudah lepas maka akan terjadi perdarahan. Ini merupakan indikasi untuk segera

mengeluarkannya.Plasenta mungkin pula tidak keluar karena kandung kemih atau rektum

penuh. Oleh karena itu keduanya harus dikosongkan.Sehingga untuk mengatasi perdarahan

tersebut diatas harus dilakukan Kompresi Bimanual Interna apabila tidak berhasil lakukan

Kompresi Bimanual Eksterna apabila kedua tindakan tersebut tidak berhasil dapat dilakukan

Kompresi Aorta Abdominalis.

D. MANIFESTASI KLINIK/TANDA DAN GEJALA

Gejala Klinis umum yang terjadi untuk dilakukannya tindakan KBI dan KBE adalah

kehilangan darah dalam jumlah yang banyak (> 500 ml), nadi lemah, pucat, lochea berwarna

merah, haus, pusing, gelisah, letih, dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah

rendah, ekstremitas dingin, mual.

Gejala Klinis berdasarkan penyebab:

a. Atonia Uteri:

Gejala yang selalu ada: Uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan segera

setelah anak lahir (perarahan postpartum primer).Gejala yang kadang-kadang timbul:

Syok (tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah,

mual dan lain-lain)

9
b. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)

Gejala yang selalu ada : plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah )

tidak lengkap dan perdarahan segera. Gejala yang kadang-kadang timbul: Uterus

berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.

c. Inversio uterus

Gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat

(jika plasenta belum lahir), perdarahan segera, dan nyeri sedikit atau berat.

Gejala yang kadang-kadang timbul: Syok neurogenik dan pucat

E. INDIKASI

Uterus tidak berkontraksi dengan penatalaksanaan menajemen aktif kala III dalam waktu 15

detik setelah plasenta lahir.

F. PENATALAKSANAAN KBI DAN KBE DAN KAA

1. Persiapan

Tempat : Ruangan tertutup ,aman, tenang dan nyaman

 Alat

a. Lembar informed consent ( persetujuan )

b. Phantom panggul

c. Phantom uterus

d. Sarung tangan DTT/steril (4 pasang).

e. Kapas dan air DTT dalam kom

f. Alas bokong dan alas penutup perut bawah.

10
g. Larutan antiseptik.

h. Obat-obatan uterotonika,

i. Set infus, jarum dan cairan RL, NaCl

j. Kasa dan plester

k. Cateter nelaton

l. Jelly

m. Tabung dan jarum suntik 5 ml dan

n. Analgesik (tramadol 1-2 mg/kgBB).Oksitosin 20 IU (2 ampul).Ergometrin 0,20

mg/ml.

o. Set infus (jarum ukuran 16 atau 18).

p. Cairan infus (ringer Laktat 3 botol)

q. Oksigen dan regulator

r. Tensimeter dan stetoskop.

s. Nierbekken/bengkok.

t. Gunting verband.

u. Korentang dan tempatnya

v. Lampu sorot.

 Bahan

a. Perlengkapan ibu: kain panjang, pembalut wanita.

b. Pelindung pribadi: penutup kepala, kaca mata pelindung, alas kaki tertutup,

apron/celemek plastik.

c. Tempat sampah medis,

11
d. Bak Dekontaminasi (klorin 0,5%).

e. Perlak/underpad.

2. Pasien :

Pasien sudah mengerti dengan tindakan yang akan dilakukan. Ia mengerti bahwa

tindakan dilakukan karena uterusnya tidak berkontraksi dengan baik, keluarga sudah

memahami peran sertanya untuk tindakan kompresi bimanual eksterna.

3. Penolong : Siap melakukan kompresi bimanual interna, Kedua tangan sudah

memakai sarung tangan DTT.

4. Prosedur :

a. Langkah-langkah Kompresi Bimanual Interna (KBI)

1. Memberitahukan tindakan yang akan dilakukan oleh pasien serta keluarga,

dan melakukan informed concent.

2. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan

3. Mencuci tangan sesuai dengan prosedur dan memakai APD

4. Melakukan vulva hygiene dengan kapas dan air DTT

5. Mengosongkan kandung kemih pasien

6. Melakukan pemeriksaan dengan benar sehingga dapat dipastikan bahwa

perdarahan ini disebabkan oleh atonia uteri.

7. Lakukan Dengan Segera Kompresi Bimanual Interna (KBI).

8. Penolong berdiri di depan vulva.

9. Membasahi tangan kanan dengan larutan antiseptik.

12
10. Menyisihkan kedua labia mayora ke arah lateral dengan ibu jari dan jari

telunjuk.

11. Memasukkan tangan yang lain secara obstetrik ke dalam introitus vagina (bila

perlu berikan analgesik).

12. Mengubah tangan obstetrik menjadi kepalan dan letakkan dataran punggung

jari telunjuk hingga kelingking pada forniks inferior dan dorong segmen

bawah rahim ke kranioanterior.

13. Meletakkan telapak tangan luar pada dinding perut, upayakan untuk

mencakup bagian belakang korpus uterus seluas atau sebanyak mungkin.

14. Melakukan kompresi uterus selama 5 menit dengan cara mendekatkan telapak

tangan luar dengan kepalan tangan dalam forniks anterior.

15. Mempertahankan posisi demikian bila perdarahan berhenti, hingga kontraksi

uterus benar-benar membaik kemudian lanjutkan langkah berikutnya.

16. Amati apakah uterus berkontraksi, jika :

 YA, maka lanjutkan KBI selama 2 menit, kemudian keluarkan tangan

perlahan-lahan lalu pantau kala IV dengan ketat.

 TIDAK, maka lanjutkan langkah berikutnya.

17. Meminta keluarga untuk melakukan kompresi bimanual eksterna. Keluarkan

perlahan-lahan tangan kanan dengan mengubah kepalan menjadi tangan

obstetrik.

18. Memasukkan kedua tangan ke dalam wadah yang sudah berisi larutan klorin

0,5% lalu bersihkan sarung tangan.

13
19. Mengajarkan keluarga cara melakukan KBE (Kompresi Bimanual Eksterna),

kemudian minta keluarga melakukan KBE sementara bidan memsang infus

dan memberikan obat uterotonika.

b. Langkah-langkah Kompresi Bimanual Eksterna (KBE)

Cara melakukan KBE adalah sebagai berikut :

1. Penolong berdiri menghadap sisi kanan pasien.

2. Tekan ujung jari telunjuk, tengah, dan manis satu tangan diantara simpisis dan

umbilikus pada korpus depan bawah sehingga fundus uterus naik ke arah dinding

abdomen.

3. Meletakkan sejauh mungkin telapak tangan lain di korpus uterus bagian belakang

dan dorong uterus ke arah korpus depan.

4. Menggeser perlahan-lahan ujung ketiga jari tangan pertama ke arah fundus

sehingga telapak tangan dapat menekan korpus uterus bagian depan.

5. Melakukan kompresi korpus uterus dengan jalan menekan dinding belakang dan

dinding depan uterus dengan telapak tangan kiri dan kanan (mendekatkan tangan

belakang dan depan).

6. Perhatikan perdarahan. Bila perdarahan berhenti, pertahankan posisi tersebut

hingga uterus dapat berkontraksi dengan baik. Bila perdarahan belum berhenti,

lanjutkan pertolongan berikutnya.

7. Memberikan Ergometrin 0,2 mg IM atau Misoprostol 600-1000 mcg per rektal.

Ergometrin tidak diberikan untuk ibu hipertensi.

8. Memasang infus menggunakan jarum ukuran 16 atau 18 dan berikan Oksitosin

20 unit dalam 500 ml Ringer Laktat, habiskan 500 cc pertama secepat mungkin.

14
9. Amati perkembangannya, apakah uterus berkontraksi. Jika :

 YA, maka pantau pasien dengan seksama selama kala IV.

 TIDAK, maka lanjutkan ke langkah berikutnya.

c. Langkah-langkah Kompresi Aorta Abdominal (KAA)

1. Jelaskan pada ibu dan keluarga tentang apa yang akan dilakukan dan lakukan

informed concent

2. Memberikan dukungan pada ibu

3. Baringkan ibu di atas ranjang, penolong menghadap sisi kanan pasien. Atur posisi

penolong sehingga pasien berada pada ketinggian yang sama dengan pinggul

penolong.

4. Tungkai diletakan pada dasar yang rata ( tidak menggunakan penopang kaki ) dengan

sedikit fleksi pada artikulasio koksae

5. Memakai celemek dan melakukan cuci tangan

6. Memakai sarung tangan DTT / steril

7. Raba artikulasi arteri femoralis dengan jalan meletakan ujung jari telunjuk dan tengah

tangan kanan pada lipatan paha yaitu pada perpotongan garis lipat paha dengan garis

horizontal yang melewati titik 1 cm diatas dan sejajar dengan tepi atas simpisis

ossium pubis. Pastikan pulsasi arteri tersebut teraba dengan baik.

8. Setelah pulsasi dikenali, jangan pindahkan kedua ujung jari dari titik pulsasi tersebut

9. kepalkan tangan kiri dan tekankan bagian punggung jari telunjuk, tengah, manis dan

kelingking pada umbilikus ke arah kulumna vertebralis dengan arah tegak lurus (

15
titik kompresi adalah tepat di atas pusar sedikit dan sedikit ke arah kiri ). Pertahankan

selama 5-7 menit.

10. Dorongan kepalan tangan akan mengenai bagian yang keras di bagian tengah atau

sumbu badan ibu, dan apabila tekanan kepalan tangan kiri mencapai aorta

abdominalis maka pulsasi arteri femoralis ( yang dipantau dengan jari telunjuk, dan

tengah tangan kanan ) akan berkurang atau terhenti ( tergantung derajat tekanan pada

aorta )

11. Lepaskan tekanan pada dinding perut

Perhatikan perubahan perdarahan pervaginam (kaitkan dengan perubahan pulsasi

arteri femoralis )

12. Dekontaminasi sarung tangan yang telah digunakan

13. Cuci tangan

14. Memantau perdarahan dan tanda-tanda vital secara ketat

 Amati perkembangannya, apakah uterus berkontraksi. Jika :

 YA, maka pantau pasien dengan seksama selama kala IV.

 TIDAK, maka lanjutkan ke langkah berikutnya.

15. Segera merujuk pasien

16. Mendampingi pasien ke tempat rujukan

17. Melakukan infus oksitosin 20 unit dalam 500 cc Ringer Laktat dengan laju 500

ml/jam hingga tiba di tempat rujukan atau hingga menghabiskan 1,5 L infus,

kemudian lanjutkan dengan kecepatan 125 ml/jam. Jika tidak tersedia cairan yang

cukup, beri 500 ml kedua dengan kecepatan sedang dan berikan minuman untuk

rehidarasi.

16
DAFTAR PUSTAKA

1. http://kebidanan-wh.blogspot.com/2017/01/job-sheet-penanganan-atonia-uteri.html

2. http://windafebrianty24.blogspot.com/2012/06/kbi-kbe-kompresi-bimanual-aorta.html

3. https://aniksensasi.wordpress.com/2015/06/10/askeb-komunitas-kbikbekaa/

17

Anda mungkin juga menyukai