Anda di halaman 1dari 5

Penyakit Tularemia ( Francisella tularensis)

Definisi
Tularemia Merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh bakteri dengan manifestasi klinis
yang sangat bervariasi tergantung kepada tempat masuknya bakteri dan virulensi dari bakteri
yang menginfeksi. Penyakit ini menyerang berbagai jenis hewan termasuk domba.

Etiologi
Tularemia disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis atau Pasteurella tularensis, sejenis
kokobasilus yang non motil, berbentuk kecil, gram negatif. Semua isolat secara serologis
homogen dibedakan satu sama lain secara epidemiologis dan biokemis yaitu menjadi Jellison
Type A (F. tularensis biovarian tularensis) dengan LD50 pada kelinci lebih kecil dari 10 bakteria
atau Jellison type B (F. tularensis biovarian palaearctica) dengan LD50 pada kelinci lebih besar
dari 107 bakteria. Didalam tinja yang kering bakteri ini dapat hidup selama 25-30hari.

Klasifikasi
Domain : Bacteria
Phylum : Proteobacteria
Class : Gamma Proteo Bacteria
Ordo : Thiotrichales
Family : Francisellaceae
Genus : Francisella
Spesies : Francisella tularensis

Morfologi
Francisella tularensis adalah bakteri Gram negatif (bakteri Gram negatif terdiri
dari outermembran dengan peptidoglikan, tidak seperti bakteri Gram positif yang
mempunyai dinding sel yang tebal dan tidak mempunyai outermembran. Kebanyakan bakteri
Gram negatif bersifat patogen), dengan phili pada permukaan. Bakteri ini bersifat
nonmotil, aerob, dan tidak berspora. Di alam baktri ini dapat bertahan lama pada temperatur
rendah di air, tanah, dan bangkai hewan. Dalam penelitian laboratorium, Francisella
tularensis berukuran 0,2 m dan tumbuh pada suhu 35-37°C.

Bakteri Francisella tularensis


Ada empat suspecies dari Francisella tularensis yang diketahui. Dua strain dari Francisella
tularensis yang paling banyak dipelajari yaitu tipe A yang lebih virulen (ditemukan di Amerika
Utara) dan tipe B yang kurang virulen (subspecies holartica, ditemukan di Eropa). Dua species
lain adalah mediasiatica yang tidak virulen, ditemukan di Asia Tengah, dan novicida yang tidak
banyak diketahui. Francisella tularensis mempunyai kromosom yang berbentuk bulat dan
mempunyai 52 RNA yang terdiri dari 32% Guanin dan Sitosin, 79% gen
fungsional. Kebanyakan bakteri Francisella mempunyai ukuran dan bentuk yang sama.
Mereka ditutupi oleh kapsul seperti lapisan dengan batas yang jelas. Keturunan yang
virulen seperti Francisella tularensis mempunyai kapsul yang tebal sementara yang tidak
virulen mempunyai kapsul yang tipis. Bakteri ini terdiri dari 4 tipe pili di permukaan
yang digunakan untuk menempel di jaringan inang, pembentukan biofilm, dan
pembentukan motil. Francisella tularensis juga terdiri dari siderophores yang tumbuh di bawah
besi.
Siderophores adalah molekul kecil yang dapat mengikat reseptor di membran
bakteri. Keistimewaan ini penting untuk bakteri karena replikasi intraseluler dari
Francisella tularensis tergantung pada besi, bahkan bakteri yang virulen adalah yang tergantung
pada besi.

Epidemiologi
Tularemia tersebar hampir di semua bagian Amerika Utara dan di sebagian besar benua Eropa, di
bekas Uni Soviet, Cina dan Jepang. Di AS penyakit ini ditemukan sepanjang tahun; insidensi
penyakit ini ditemukan lebih tinggi pada orang dewasa dimusim dingin pada saat musim
perburuan kelinci dan pada anak-anak dimusim panas pada saat densitas vektor berupa kutu dan
lalat pada menjangan/kijang meningkat. Francisella tularensis biovarian tularensis terbatas
ditemukan hanya dibagian utara benua Amerika dan sering ditemukan pada kelinci (jenis
Cottontail, Jack dan Snowshoe), dan biasanya penularan terjadi karena gigitan kutu binatang
tersebut. Sedangkan Francisella tularensis biovarian palaearctica sering ditemukan pada mamalia
selain kelinci di bagian utara benua Amerika; berbagai strain ditemukan di Elerasia pada
binatang jenis voles, muskrat dan tikus air. Sedangkan di Jepang ditemukan pada kelinci.

Reservoir
Berbagai jenis binatang liar seperti kelinci, hares, voles, muskrats, beavers dan beberapa jenis
binatang domestik dapat berperan sebagai reservoir; begitu juga berbagai jenis kutu dapat
berperan sebagai reservoir, sebagai tambahan telah ditemukan siklus penularan dari rodentia –
nyamuk untuk F. tularensis biovarian palaearctica didaerah Skandinavia, Baltic dan Rusia.

Cara penularan
Berbagai cara penularan telah diketahui antara lain melalui gigitan binatang berkaki beruas
(artropoda) seperti kutu Dermacentor andersoni, kutu anjing D. variabilis, Anblyomma
americanum (the lonestar stick); dan walaupun jarang terjadi, lalat Chrysops discalis pada
kijang/menjangan dapat juga menularkan penyakit ini. Di Swedia nyamuk Aedes cinerius
diketahui dapat menularkan penyakit ini melalui inokulasi kulit, melalui mukosa konjungtiva dan
mukosa orofaring yang terpajan dengan air yang terkontaminasi.
Penularan dapat juga terjadi karena terpajan dengan darah atau jaringan binatang yang terinfeksi
(pada waktu menguliti binatang, memotong daging atau pada waktu melakukan nekropsi);
mengkonsumsi daging atau jaringan binatang yang terinfeksi yang tidak dimasak dengan
sempurna; minum air yang terkontaminasi; inhalasi debu yang terkontaminasi atau inhalasi
partikel dari tumpukan rumput/jerami kering dan padi-padian yang terkontaminasi. Jarang sekali
penularan terjadi melalui gigitan coyote (sejenis rubah), tupai, musang, babi hutan, kucing atau
anjing yang mulutnya tercemar karena diduga memakan binatang yang terinfeksi. Penularan juga
jarang terjadi karena bulu dan cacar binatang. Jika penularan terjadi karena kecelakaan
dilaboratorium biasanya berupa pneumonia primer dn tularemia tifoidal.
Masa Inkubasi
Masa inkubasi sangat bergantung pada virulensi daripada mikroorganisme dan tergantung pada
ukuran inokulum. Biasanya berkisar antara 1 – 14 hari, rata-rata 3 – 5 hari.

Masa Penularan
Tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Pada penderita yang tidak diobati
mirkoorganisme penyebab penyakit ditemukan didalam darah selama 2 minggu pertama infeksi,
dan ditemukan didalam lesi selama satu bulan bahkan terkadang lebih lama. Lalat mengandung
bakteri selama 14 hari dan kutu selama hidup mereka (sekitar 2 tahun). Daging kelinci yang
dibekukan pada suhu –150C (50F) tetap infektif selama 3 tahun.

Gejala Klinis
Gejala klinis lebih sering muncul sebagai ulcus yang indolen ditempat masuknya bakteri disertai
dengan pembengkakan kelenjar limfe disekitarnya (tipe ulseroglanduler). Manifestasi lain dapat
berupa infeksi tanpa disertai timbulnya ulcus, hanya terjadi pembengkakan satu atau beberapa
kelenjar limfe disertai dengan rasa sakit. Pembengkakan kelenjar limfe ini mengalami supurasi
(tipe glanduler). Tertelannya mikroorganisme karena mengkonsumsi makanan dan minuman
yang tercemar dapat menimbulkan faringitis dengan rasa sakit (dengan atau tanpa terjadi
ulserasi), sakit perut, diare dan muntah (tipe orofaringeal). Jika mikroorganisme masuk kedalam
tubuh melalui
inhalasi dapat terjadi pneumonia atau sindroma septikemi primer, jika tidak segera diberi
pengobatan yang tepat, dapat menimbulkan kematian dengan CFR sekitar 30 – 60% (tipe
tifoidal). Mikroorganisme yang masuk melalui darah biasanya menimbulkan penyakit yang
terlokalisir pada paru dan ruangan pleura (tipe pleuropulmoner). Walaupun sangat jarang sekali,
mikroorganisme dapat masuk melalui Sacus conjunctivus dan menimbulkan konjungtivitis
purulenta disertai dengan pembengkakan kelenjar limfe disekitarnya (tipe okuloglanduler). Dari
semua tipe infeksi diatas dapat terjadi komplikasi pneumonia yang memerlukan pengenalan dan
pengobatan secara dini untuk mencegah kematian.
Ada dua biovarians dengan patogenisitas yang berbeda yang dapat menyebabkan penyakit pada
manusia. Organisme yang disebut dengan nama Jellison type A adalah jenis yang lebih virulen,
jika tidak diobati dengan benar dapat menimbulkan kematian dengan CFR berkisar antara 5 –
15% terutama disebabkan oleh penyakit dengan tipe tifoidal atau dengan tipe pleuropulmoner.
Dengan pengobatan menggunakan antibiotika yang tepat CFR dapat diturunkan secara
bermakna. Biovarian dengan nama Jellison type B, virulensinya lebih rendah walaupun tidak
diobati, CFR-nya rendah. Secara klinis tularemia sulit dibedakan dengan pes dan dengan
penyakit lain seperti infeksi oleh Stafilokokus dan Streptokokus, Cat Scratch fever,
Sporotrichosis oleh karena semua penyakit yang disebutkan diatas dapat menimbulkan
pembengkakan kelenjar limfe yang bubonik dan pneumonia berat.

Diagnosis
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan diagnosa pasti dibuat karena adanya
kenaikan titer antibodi spesifik yang muncul pada minggu kedua sakit. Terjadi reaksi silang
dengan infeksi spesies Brucella. Diagnosa cepat dibuat melalui pemeriksaan spesimen yang
diambil dari eksudat ulcus dan aspirat dari kelenjar limfe dengan tes FA. Biopsi yang dilakukan
untuk tujuan diagnostik harus dilindungi dengan pemberian antibiotik yang tepat karena tindakan
biopsi dapat menimbulkan septikemi. Bakteri penyebab infeksi dapat diisolasi melalui kultur
pada media khusus seperti dengan media cysteine glucose blood agar atau dengan melakukan
inokulasi binatang percobaan dengan bahan yang diambil dari lesi, darah dan sputum. Untuk
menentukan biovarians dilakukan dengan pemeriksaan reaksi kimiawi. Tipe A
memfermentasikan gliserol dan merubah citrulline menjadi ornithine. Pemeriksaan laboratorium
harus dilakukan dengan sangat hati-hati oleh karena dapat terjadi penularan bahan infeksius
melalui udara. Oleh karena itu identifikasi dengan menggunakan media kultur hanya dilakukan
dilaboratorium rujukan yang sudah sangat berpengalaman dengan fasilitas keamanan yang
memadai. Umumnya diagnosis ditegakkan hanya dengan pemeriksaan serologis.

Penatalaksanaan
Obat pilihan adalah streptomisin atau gentamisin, diberikan selama 7 – 14 hari; sedangkan
tetrasiklin dan kloramfenikol bersifat bakteriostatik jika diberikan kurang dari 14 hari, relaps
lebih sering terjadi dibandingkan pengobatan dengan menggunakan streptomisin. Namun telah
ditemukan mikroorganisme virulen yang resisten terhadap streptomisin. Tindakan insisi, biopsi,
aspirasi yang dilakukan untuk mengambil sampel pada kelenjar limfe yang terinfeksi dapat
menyebarkan infeksi. Tindakan ini harus dilindungi dengan antibiotika yang tepat.
Pencegahan
 Berikan penyuluhan kepada masyarakat untuk menghindari diri terhadap gigitan kutu,
lalat dan nyamuk. Hindari minum air, mandi atau bekerja diperaiaran yang tidak ditangani
dengan baik dimana didaerah tersebut angka infeksi pada binatang liar sangat tinggi.
 Pakailah sarung tangan pada saat menguliti binatang terutama kelinci. Masaklah daging
kelinci liar atau binatang rodensia sebelum dikonsumsi.
 Berlakukan larangan pengapalan antar pulau terhadap hewan atau daging hewan yang
terinfeksi.
 Vaksinasi intradermal dengan skarifikasi menggunakan vaksin jenis “Live attenuated”
digunakan secara luas dibekas Uni Soviet dan secara terbatas digunakan dikalangan pekerja
dengan risiko penularan di AS. Vaksin “Live anttenuated” yang dulu pernah digunakan untuk
tujuan penelitian
 pada petugas laboratorium di AS saat ini tidak lagi tersedia.
 Pakailah masker, pelindung mata, sarung tangan dan jas laboratorium
(Personal Protection Equipment) dan pergunakan kabinet dengan tekanan negatif pada
saat bekerja dengan kultur F. tularensis.

Prognosis

Jika diobati, sebagian besar penderita bisa diselamatkan.


Sekitar 6% penderita yang tidak diobati akhirnya meninggal. Kematian biasanya terjadi akibat
infeksi yang tidak terkontrol, pneumonia, meningitis (infeksi selaput otak) atau peritonitis
(infeksi selaput rongga perut).

Jarang terjadi kekambuhan, tetapi jika pengobatannya tidak adekuat, maka bisa terjadi
kekambuhan.
Penderita tularemia nantinya akan membentuk kekebalan terhadap infeksi ini