Anda di halaman 1dari 4

INOVASI Vol.

6/XVIII/Maret 2006
NASIONAL
Perspektif Pembangunan Wilayah Pedesaan

Kuntoro Boga Andri


Staf peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, Badan Penelitian dan
Pengembangan Departemen Pertanian RI; Mahasiswa program Doctor di The United Graduate
of Agricultural Sciences, Kagoshima University.
E-mail: kuntoro_boga@hotmail.com

1. Pendahuluan 2. Melepas Ketergantungan Desa dari Luar

Dalam upaya mencapai keberhasilan tujuan Untuk menelaah hubungan ekonomi antara
pembangunan wilayah pedesaan saat ini, suatu wilayah, kita bisa mengutip pendapat
secara umum kita dihadapkan pada banyak seorang pemikir strukturalis, Galtung [3]. Ia
tantangan yang sangat berbeda sifatnya membedakan antara centre yang merupakan
dibandingkan pada masa-masa yang lalu. pusat pertumbuhan dengan daerah pinggiran
Tantangan pertama berkaitan dengan kondisi (periphery) yang terkebelakang. Hal ini
eksternal seperti perkembangan internasional berlaku untuk hubungan keluar ataupun
yang berhubungan dengan liberalisasi arus didalam suatu negara. Hubungan yang
investasi dan perdagangan global. dihasilkan tersebut digambarkan telah
Sedangkan yang kedua bersifat internal, yaitu menguntungkan masyarakat di pusat-pusat
yang berkaitan dengan perubahan kondisi secara keseluruhan, dan merugikan mayoritas
makro maupun mikro dalam negeri. masyarakat di daerah pinggiran. Tanpa
Tantangan internal disini dapat meliputi disadari, sejak lama kondisi pembangunan
transformasi struktur ekonomi, masalah desa-kota kita menggambarkan konstruksi
migrasi spasial dan sektoral, ketahanan mengenai tata hubungan ekonomi domestik
pangan, masalah ketersediaan lahan yang timpang. Desa telah menjadi
pertanian, masalah investasi dan permodalan, komoditas empuk bagi penghisapan surplus
masalah iptek, SDM, lingkungan dan masih ekonomi pusat-pusat pembangunan di
banyak lagi. kota. Prospek ekonomi rakyat pedesaan
sangat dikhawatirkan akan bertambah suram
Proses transformasi suatu wilayah pedesaan pada masa yang akan datang, jika perilaku
menjadi suatu daerah agroindustri secara elit kekuasaan di seluruh tingkatan tidak
ilmiah telah banyak diulas peneliti dan mengalami perubahan pola pikir pemihakan
akademisi dan menjadi tuntutan nyata dalam terhadap rakyat di desa.
proses perkembangan modernisasi
masyarakat pertanian, karena kegiatan Dalam tulisannya Arief [2] mengemukakan
pertanian berada di wilayah pedesaan. bahwa urbanisasi penduduk dari sektor
Dengan melihat desa sebagai wadah kegiatan pertanian di pedesaan berlangsung akibat
ekonomi, kita harus merubah pandangan adanya investasi dari sektor manufaktur dan
inferior atas wilayah ini, dan merubahnya jasa yang selama ini masih terfokus di
dengan memandang desa sebagai basis kota/pusat. Ketika kegiatan di kota
potensial kegiatan ekonomi melalui investasi memberikan tawaran imbalan tinggi kepada
prasarana dan sarana yang menunjang penduduk desa yang berpindah, sementara
keperluan pertanian, serta mengarahkannya itulah sektor pertanian akan mengalami
secara lebih terpadu. Sudah saatnya desa kelangkaan relatif pekerja. Seiring dengan itu
tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai pula, interaksi antar aktor-aktor ekonomi,
wilayah pendukung kehidupan daerah antar maupun intra sektor, telah menambah
perkotaan, namun seharusnya pembangunan keruh keadaan dengan adanya pengambilan
wilayah kota atau daerah pedesaan secara keputusan politik yang tidak berpihak kepada
menyatu. rakyat di desa. Sehingga, sektor pertanian,
dimana sebagian besar bangsa kita
menggantungkan hidupnya, jauh dari

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia
INOVASI Vol.6/XVIII/Maret 2006

perannya sebagai pondasi pembangunan 3. Agroindustri dalam Membangun


yang sesungguhnya. Dilain sisi, sektor Pedesaan
manufaktur semakin tidak memiliki linkage
dengan sektor primer, yaitu pertanian. Ini bisa Integrasi antara konsep agroindustri dan
kita lihat dari besaran volume total impor pembangunan desa menjadi penting
produk barang primer Indonesia yang keterkaitannya dalam penyediaan dan
semakin meningkat sejak awal 70-an sampai penyaluran sarana produksi, penyediaan
saat ini. Justru ketergantungan kita akan dana dan investasi, teknologi, serta
produk barang primer dari luar negri dukungan sistem tataniaga dan perdagangan
bertambah tinggi. yang efektif. Pengembangan agroindustri
pada dasarnya diharapkan selain memacu
Pergeseran sistem perdagangan internasional pertumbuhan tingkat ekonomi, juga sekaligus
komoditas pertanian menuntut kemampuan diarahkan untuk meningkatkan kesempatan
sektor pertanian kita untuk mampu bersaing kerja dan pendapatan petani. Wibowo [5]
menghadapi kekuatan agribisnis multinasional mengemukakan perlunya pengembangan
yang selama ini telah menguasai pasar. agroindustri di pedesaan dengan
Dimana dari hasil studi yang dilakukan oleh memperhatikan prinsip-prinsip dasar
FAO tahun 1995 terungkap bahwa diantaranya: (1) memacu keunggulan
perdagangan hasil-hasil pertanian masih kompetitif produk/komoditi serta komparatif
didominasi oleh negara-negara maju seperti setiap wilayah, (2) memacu peningkatan
USA, Uni Eropa, Australia dan Kanada kemampuan suberdaya manusia dan
dengan pangsa pasar sekitar 86% sedangkan menumbuhkan agroindustri yang sesuai dan
total dari negara-negara berkembang mampu dilakukan di wilayah yang
termasuk Indonesia baru berkontribusi 14%. dikembangkan, (3) memperluas wilayah
Saat ini kita dihadapkan kenyataan tingkat sentra-sentra agribisnis komoditas unggulan
pertumbuhan sektor pertanian yang sangat yang nantinya akan berfungsi sebagai
rendah dan meluasnya jumlah penduduk yang penyandang bahan baku yang berkelanjutan,
menggantungkan hidup di sektor informal (4) memacu pertumbuhan agribisnis wilayah
musiman, akhirnya menyebabkan efek dengan menghadirkan subsistem-subsitem
kemiskinan sosial meluas. Situasi shared agribisnis, (5) menghadirkan berbagai saran
poverty atau involusi seperti yang pendukung berkembangnya industri
digambarkan oleh Geertz [4] yang terjadi pedesaan.
sejak lama di pedesaan kita sekarang ini
makin nyata. Bila kita tidak memiliki strategi Untuk mengaktualisasikan secara optimal
yang jelas dalam pengembangan potensi strategi tersebut di atas, perumusan
pedesaaan jangka panjang, hal ini sangat perencanaan pembangunan pertanian, perlu
membahayakan. Penerapan ideologi disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan
liberalisasi perdagangan internasional yang ketersediaan teknologi tepat guna. Sehingga
disertai liberarisasi arus investasi asing dalam alokasi sumberdaya dan dana yang terbatas
kerangka WTO, APEC ataupun organisasi dapat menghasilkan output yang optimal,
internasional lainnya dalam situasi likuiditas yang pada gilirannya akan berdampak positif
internasional Indonesia yang belum sehat terhadap pembangunan wilayah. Pengalaman
seperti sekarang, dapat membawa pengaruh yang sangat berharga bagi kita selama ini
negatif dalam pengembangan industri lokal menjelaskan bahwa program pembangunan
dan menambah beban ekonomi rakyat desa kurang terkoodinasi dalam suatu sistem
khususnya di desa. Kekuatan ekonomi yang baik dalam konteks sumberdaya
domestik, secara substansial, akan tergeser maupun secara fungsional seringkali kurang
keluar. Rakyat di desa dan Indonesia secara menjamin dalam tiga hal endurance (daya
keseluruhan akan memasuki fase tahan), integrity (keutuhan) dan continuity
ketergantungan yang lebih dahsyat kepada (kesinambungan).
orang luar, atau secara sistematis akan
menjadi buruh di atas tanah sendiri. Pembangunan pertanian haruslah sinergi dari
pembangunan wilayah pedesaaan dimana
memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia
INOVASI Vol.6/XVIII/Maret 2006

kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. pengelolaan yang kompleks dan rumit, akan
Berdasarkan poin tersebut, dapat dipaparkan tetapi keberhasilannya dapat dilihat dan
bahwa industrialisasi pertanian seharusnya dirumuskan dengan melihat indikator-indikator
membawa cakrawala baru dalam antara lain: kontribusi terhadap keberlanjutan
pembangunan pedesaan. Meningkatkan lingkungan lokal, kontribusi terhadap
produktivitas pertanian harus diikuti oleh keberlanjutan penggunaan sumberdaya alam,
peningkatan investasi dalam pertanian kontribusi terhadap peningkatan lapangan
modern beserta industri pengolahan dan kerja, kontribusi terhadap keberlanjutan
sektor jasa lainnya di desa. Pengembangan ekonomi makro, efektifitas biaya dan
kawasan potensial dengan basis pedesaan kontribusi terhadap kemandirian teknis.
sebagai pusat pertumbuhan akan
mentransformasikan pedesaan menjadi kota- Wibowo [5] mengungkapkan empat aspek
kota pertanian (agropolitan). Perkotaan umum ciri-ciri spesifik terpenting mengenai
pertanian ini diharapkan dapat mengimbangi konsep agroekosistem. Empat aspek umum
interaksi antar wilayah secara sehat yang tersebut adalah: kemerataan (equitability),
dapat menimbulkan aspek positif lainnya yaitu keberlanjutan (sustainability), kestabilan
mengurangi arus urbanisasi penduduk. Di (stability) dan produktivitas (productivity).
samping nilai tambah produksi pedesaan Secara sederhana, equitability merupakan
akan meningkat, industrialisasi juga akan penilaian tentang sejauh mana hasil suatu
mencegah berkembangnya pengangguran lingkungan sumberdaya didistribusikan
terdidik di desa, dan mendorong mereka diantara masyarakatnya. Sustainability dapat
untuk tetap bekerja dan berpartisipasi dalam diberi pengertian sebagai kemampuan sistem
pembangunan daerahnya, yang juga sebagai sumberdaya mempertahankan
pusat-pusat pertumbuhan. produktivitasnya, walaupun menghadapi
berbagai kendala. Stability merupakan ukuran
4. Pembangunan Desa yang tentang sejauh mana produktivitas
Berkelanjutan sumberdaya bebas dari keragaman yang
disebabkan oleh fluktuasi faktor lingkungan.
Dalam situs Walhi [1] tentang pembangunan Productivity adalah ukuran sumberdaya
berkelanjutan, dipaparkan bahwa bahwa terhadap hasil fisik atau ekonominya. Dimasa
pembangunan yang berkelanjutan dapat yang akan datang, dalam konteks
diartikan secara luas sebagai kegiatan- pembangunan pedesaan yang berkelanjutan,
kegiatan di suatu wilayah untuk memenuhi pengelolaan sumberdaya di desa haruslah
kebutuhan pembangunan di masa sekarang dilaksanakan dalam satu pola yang menjamin
tanpa membahayakan daya dukung kelestarian lingkungan hidup, menjaga
sumberdaya bagi generasi mendatang untuk keseimbangan biologis, memelihara
memenuhi kebutuhannya. Tantangan kelestarian dan bahkan memperbaiki kualitas
pembangunan berkelanjutan adalah sumberdaya alam sehingga dapat terus
menemukan cara untuk meningkatkan diberdayakan, serta menerapkan model
kesejahteraan sambil menggunakan pemanfaatan sumberdaya yang efisien.
sumberdaya alam secara bijaksana.
5. Kesimpulan
Arus globalisasi yang semakin kuat perlu
diimbangi dengan kesadaran bahwa Memandang desa sebagai basis potensial
mekanisme pasar tidak selalu mampu kegiatan ekonomi haruslah menjadi
memecahkan masalah ketimpangan paradigma baru dalam program
sumberdaya. Kebijakan pembangunan harus pembangunan ekonomi Indonesia secara
memberi perhaatian untuk perlunya menata keseluruhan. Perubahan kondisi internal dan
kembali landasan sistem pengelolaan aset- ekternal yang terjadi menuntut kebijakan yang
aset di wilayah pedesaan. Penataan kembali tepat dan matang dari para pembuat
tersebut lebih berupa integrasi kepada kebijakan dalam upaya pengembangkan
pemanfaatan ganda, yaitu ekonomi dan potensi wilayah pedesaan. Sudah saatnya
lingkungan/ekosistem. Walaupun wawasan menjadikan desa sebagai pusat-pusat
agroekosistem merupakan sesuatu pembangunan dan menjadikan daerah ini

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia
INOVASI Vol.6/XVIII/Maret 2006

sebagai motor utama penggerak roda (http://www.walhi.or.id/kampanye/glob


perekonomian melalui sektor pertanian. alisasi/kttpemblan/ind_pf_rio+10_/).
[2] Arief, S., 1995, Neo-Kolonialisme,
Pengembangan agroindustri sebagai pilihan Makalah pada Seminar Ekonomi
model modernisasi pedesaan haruslah dapat Rakyat yang diselenggarakan
meningkatkan kesempatan kerja dan Sekretariat Bina Desa, di Jakarta, 3
pendapatan petani. Untuk itu perumusan Agustus 1995.
perencanaan pembangunan pertanian, perlu [3] Galtung, J., 1971, A Structural Theory
disesuaikan dengan karakteristik wilayah dan of Imperialism, Journal of Peace
ketersediaan teknologi tepat guna. Sehingga Research 8: 81-117.
alokasi sumberdaya dan dana yang terbatas, [4] Geertz, C., 1983, Involusi Pertanian:
dapat menghasilkan output yang optimal, Proses Perubahan Ekologi di
yang pada gilirannya akan berdampak positif Indonesia, Jakarta: Bhratara Karya
terhadap kesejahteraan masyarakat. Agar Aksara, terjemahan dari: Agriculture
model pembangunan pedesaan yang Involution: The Process of Ecological
berkelanjutan dapat terwujud diperlukan Change in Indonesia, Berkeley and
pedoman pengelolaan sumberdaya melalui Los Angeles: University of California
pemahaman wawasan agroekosistem secara Press, 1963.
bijak, yaitu pemanfaatan asset-aset untuk [5] Wibowo, R., 1997, Strategi
kegiatan ekonomi tanpa mengesampingkan Industrialisasi Pertanian dan
aspek-aspek pelestarian lingkungan. Pengembangan Agribisnis Komoditas
Unggulan, Makalah disampaikan
Daftar Pustaka pada pelatihan pengkajian sistem
usahatani spesifik lokasi dengan
[1] Anonim, Pembangunan Berkelanjutan, pendekatan teknologi terapan adaptif,
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia BPPFP Ciawi-Bogor, 14 Maret -12
(Walhi), April 1997.

Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Jepang; Membuka Dunia untuk Indonesia dan Membuka Indonesia untuk Dunia