Anda di halaman 1dari 7

TUGAS KELOMPOK MANAJEMEN RESIKO

Manajemen Resiko
Disusun Oleh :

LINDA FEBRIANTI NUR B1B516081


NUNUNG ERITRIANI B1B516061
SAGITA INDAH CAHYANI B1B516081
YUSTIKA AVIANTI B1B516101
YUNI INRA PURNAMA B1B516091

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI

1
 PENGANTAR
Aktivitas suatu badan usaha atau perusahaan pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari aktivitas
mengelola resiko. Operasi suatu badan usaha atau perusahaan biasanya berhadapan dengan resiko usaha
dan resiko non usaha. Imam Ghazali dalam Kasidy, Manajemen Resiko (2010) menyatakan bahwa, resiko
usaha adalah resiko yang berkaitan dengan usaha perusahaan untuk menciptakan keunggulan bersaing
dan memberikan nilai bagi pemegang saham. Sedangkan resiko non usaha adalah resiko lainnya yang
tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan.
Manajemen resiko merupakan desain prosedur serta implementasi prosedur untuk mengelola
suatu resiko usaha. Manajemen resiko merupakan antisipasi atas semakin kompleksnya aktivitas
badan usaha atau perusahaan yang dipicu oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi
(Kasidi, 2010). Perbankan adalah badan yang paling potensial mengalami kegagalan akibat resiko.
Tercatat berbagai macam bank yang telah gagal akibat resiko yang tidak dapat dikendalikan, beberapa
dinyatakan bangkrut (collapse) seperti Westminster Bank Inggris, Baring Bank London dan Bank Century
dan bank lain yang pernah mengalami permasalahan akibat resiko dalam bidang finansial seperti
Citibank, Bank Syariah Bukopin dan Bank Mandiri (Masyhud Ali, 2006)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), resiko adalah akibat yang kurang
menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Resiko dalam Webster’s
Desk Dictionary resiko didefinisikan sebagai suatu potensi adanya kehilangan (Iban Sofyan, 2004)
Definisi lain yang menjelaskan tentang pengertian resiko adalah kemungkinan terjadinya
penyimpangan dari harapan yang dapat menimbulkan kerugian. Resiko adalah suatu kemungkinan
terjadinya peristiwa menyimpang dari apa yang diharapkan, namun penyimpangan ini baru terlihat bila
sudah berbentuk kerugian (Kasidy, 2010). Pendapat lain juga diutarakan oleh Abbas Salim dalam Kasidy
(2010) Resiko adalah ketidakpastian yang mungkin melahirkan kerugian (loss). Sehingga dari beberapa
definisi yang telah diutarakan, dapat diambil kesimpulan bahwa resiko adalah sesuatu yang belum pasti
namun apabila tidak ditangani dengan tepat akan menimbulkan kerugian bagi usaha tersebut.

3
Studi Kasus:
Kasus yang menjadi salah satu topik menarik terkait dengan manajemen resiko adalah kasus
Penggelapan Bank Mandiri. Salah satu oknum pegawai Kantor Cabang Pembantu Rawa Lumbu Bekasi
PT Bank Mandiri Tbk melakukan kerja sama ilegal dengan Manajer Keuangan PT Mexdie Sekawan
Utama, Yekti Sartono yang mencairkan cek ilegal di Bank Mandiri senilai Rp 720 juta pada 5 Mei 2010.
Pengambilan cek ini menyalahi prosedur perbankan karena otoritas cek adalah dua orang, yakni Anang
Syifudin dan Muhammar Fauzan serta stempel perusahaan harus diterakan. Namun cek tersebut hanya
ditandatangani satu orang dan itu diduga dipalsukan (stempel palsu dan asli berbeda dengan specimen
yang ada di bank).
Sampai saat ini kasus Bank Mandiri ini belum ditindaklanjuti lagi lebih jauh oleh pihak-pihak
terkait. Bank Mandiri berpegang teguh pada pendirian mereka yang mengatakan bahwa Risk
Management adalah bagian dari proses bisnis yang dapat memberikan kontribusi melalui penerapan risk
management untuk mencapai return yang optimal bagi stakeholder yakni pemegang saham, masyarakat,
nasabah, pemerintah dan pihak-pihkan yang berhubungan dengan bank (Masyhud Ali, 2006). Di dalam
tulisan ini selanjutnya akan dibahas bagaimana kaitan kasus Bank Mandiri dengan faktor penyebab, jenis
dan sumber resiko, serta bagaimana Bank Mandiri mampu mengatasi permasalahan resiko tersebut.

 ISI

I. IDENTIFIKASI RESIKO

a. Klasifikasi Kerugian

Pada kasus Bank Mandiri, terdapat beberapa potensi kerugian yang akan diderita Bank Mandiri.
Yang pertama adalah kerugian finansial dalam jumlah yang sangat besar (720 juta rupiah) serta resiko
hilangnya reputasi yang dapat mengancam keberlangsungan perusahaan ke depannya. Tidak dapat
dipungkiri, akibat adanya pencairan ilegal akan mampu menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat
(social distrust) dari para nasabah terhadap sistem manajemen dan sekuritas finansial bank tersebut.
Resiko finansial dapat berujung pada resiko likuiditas, yakni resiko yang mengakibatkan suatu perbankan
mengalami kegagalan untuk membayar hutang jangka pendeknya. Masalah ini apabila terus dibiarkan
tanpa ditangani lebih lanjut juga akan membawa perbankan pada resiko kegagalan bank dalam membayar
hutang jangka panjangnya (solvabilitas).

Salah satu cara alternatif sistem pengklasifikasian kerugian di perusahan Mandiri adalah:

1. Kerugian Finansial
 Kerugian langsung berupa merosotnya reputasi sehingga pendapatan perusahaan menurun
 Kerugian pendapatan seperti penghentian operasional perusahaan yang disebabkan oleh suatu
kerugian dimana tidak dapat ditempatinya ruang kerja tertentu
 Kerugian mengganti kewajiban hak orang lain artinya membayar uang kepada korban penipuan.

3
 Kerugian membayar denda-denda yang disebabkan oleh adanya tuntutan hukum, ketiadaan
peraturan perundang-undangan yang mendukung.
 Kerugian biaya dalam membangun citra positif kembali kepada masyarakat.

2. Kerugian Reputasi
 Kerugian adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau persepsi negatif
terhadap bank
 Kerugian berkurangnya tingkat kepercayaan para pemegang saham perusahaan
 Kerugian sulitnya untuk bersaing dengan kompetitor
 Kerugian kredibilitas perusahaan menurun di masyarakat

Kerugian lainnya adalah kerugian yang ditimbulkan oleh resiko kepatuhan pegawai (compliance).
Pegawai yang tidak patuh dapat merusak keseluruhan sistem kerja. Hal ini disebabkan karena
ketidakpatuhan yang dibuatnya dapat mengganggu koordinasi dan pelimpahan tanggung jawab oleh
atasannya. Kerahasiaan perusahaan pun dapat terancam dengan munculnya pegawai seperti ini. Mereka
akan cenderung mengupayakan berbagai hal untuk memuaskan kepentingan sendiri meskipun harus
melanggar peraturan.

b. Faktor Penyebab Resiko

Dua faktor penyebab resiko adalah bencana (perils) dan bahaya (hazards). Banjir, tanah longsor,
gempa, gelombang laut tinggi merupakan contoh-contoh bencana yang secara langsung dapat
menimbulkan kerugian. Sementara bahaya terbagi atas beberapa jenis :

1. Bahaya fisik (physical hazard) misalnya berhubungan dengan fasilitas bangunan suatu
perusahaan,
2. Bahaya moral (moral hazard) misalnya sikap ketidakjujuran atau ketidakdisiplinan.
3. Bahaya morale (morale hazard) misalnya sikap yang tidak hati-hati ataupun kurangnya
perhatian dari pihak-pihak terkait dalam suatu perusahaan.
4. Bahaya karena hukum atau peraturan (legal hazard) misalnya akibat mengabaikan
undang-undang atau peraturan yang telah ditetapkan.

Pada Kasus Bank Mandiri, faktor penyebab terjadinya resiko adalah berasal dari moral para
pegawai Kantor Cabang Pembantu Bank Mandiri. Pegawai tersebut melakukan pencairan cek ilegal yang
menimbulkan kerugian besar terhadap keuangan Bank Mandiri tersebut. Masalah kepatuhan juga
merupakan resiko yang harus ditanggung Bank Mandiri pada kasus pencairan cek illegal tersebut.
Pegawai seharusnya menjadi pihak yang taat dan patuh terhadap peraturan perusahaan dan menjunjung
tinggi integritas dan nama baik perusahaan, bukan dengan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh
perusahaan itu.

3
Bahaya moral tidak hanya mengancam Bank Mandiri saja, kasus lain akibat moral dari para
pegawai suatu badan/perusahaan misalnya yang terjadi pada kasus Citibank Indonesia yang terlibat pada
permasalahan penggelapan dana nasabah. Akibatnya bank tersebut tidak hanya menderita kerugian
finansial, tapi juga resiko reputasi, bahkan kepatuhan. Resiko reputasi dan kepatuhan lebih
membahayakan keberlangsungan perusahaan daripada resiko finansial. Ketidakpercayaan masyarakat
terhadap bank akan membuat bank tersebut kehilangan dana karena masyarakat akan menarik kembali
seluruh dana yang telah tertanam di bank tersebut karena takut akan mengalami kerugian besar. Dana-
dana yang ditarik tersebut sebenarnya digunakan untuk menjalankan kegiatan perbankan, namun kerena
ada penarikan sejumlah dana dan ketidakinginan masyarakat untuk menabung lagi maka bank tersebut
dapat terancam likuiditasnya. Pada fase ini pemerintah dapat melakukan intervensi dengan menutup bank.

c. Sumber Penyebab Resiko

Sumber resiko dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis :

1. Resiko Sosial, resiko ini berasal dari masyarakat. Artinya tindakan orang-orang
menciptakan penyimpangan yang dapat merugikan. Misalnya : pencurian, huru-hara,
peperangan.
2. Resiko Fisik, berasal dari fenomena alam dan sebagian tingkah laku manusia. Kebakaran
adalah penyebab utama cidera fisik, kematian maupun kerusakan harta.
3. Resiko ekonomi, misalnya inflasi, resesi, fluktuasi dan harga.

Pada kasus Bank Mandiri di atas, sumber resiko berasal dari permasalahan sosial. Ada
sekelompok orang yang melakukan pencurian sehingga menimbulkan kerugian besar terhadap Bank
Mandiri (Kasidy , 2010). Oknum yang terlibat dalam kasus pencairan cek secara illegal ini secara
langsung dapat dikatakan sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kerugian bank. Resiko ini
cenderung bisa lebih membahayakan daripada resiko fisik ataupun ekonomi. Karena resiko ini datangnya
dari hati nurani seseorang atau sekelompok manusia, sehingga yang harus memperbaikinya adalah pihak
tersebut. Tidak seperti resiko fisik, pemerintah dapat menanggulanginya dengan membuat gedung baru
misalnya, atau seperti resiko ekonomi, dengan intervensi pemerintah tingkat inflasi dapat diatur.

d. Jenis Resiko

Resiko dapat dibagi menjadi dua kelompok yakni :

1. Resiko nonsistematis, yakni resiko yang dapat dihilangkan atau dikurangi melalui suatu
diversifikasi atau tindakan pencegahan dan penanggulangan resiko.
2. Resiko sistematis, resiko yang tidak dapat dihilangkan atau dikurangi melalui diversifikasi,
biasanya berhubungan dengan pasar atau kejadian yang dapat secara sistematis akan
mempengaruhi posisi pasar (Iban Sofyan, 2004)

Selain itu, Kasidy (2010) membagi jenis resiko menjadi dua yakni :

3
1. Resiko spekulatif, yakni resiko yang mengandung dua kemungkinan, baik yang
menguntungkan mupun merugikan. Contohnya : perjudian, pembelian saham atau valuta
asing.
2. Resiko murni, yakni resiko yang hanya mengandung satu kemungkinan yakni kemungkinan
rugi saja. Contoh : banjir, gempa, gunung meletus dan lain-lain.

Bank Mandiri dalam hal ini dapat digolongkan ke dalam kategori resiko nonsistematis serta
resiko spekulatif. Artinya, Bank Mandiri masih dapat dicegah di kemudian hari untuk menghindari
peristiwa yang sama. Misalnya seperti yang telah diterapkan Bank Mandiri selama ini dengan membuat
Laporan Profil Resiko (LPR) yang menggambarkan penilaian terhadap resiko komposit bank, atau resiko
yang dipandang dari sudut pandang bank dan unit bisnis terkait (Masyhud Ali, 2006). Sementara
dikatakan resiko spekulatif, karena resiko ini sebenarnya dapat memberikan dua alternatif bagi pelaku
pencairan cek ilegal, apabila tidak diketahui tindakan ini akan menguntungkan si pelaku, namun di sisi
lain merugikan perbankan. Sebaliknya bila diketahui seperti yang telah terjadi, maka ini akan
menimbulkan kerugian bagi si pelaku kejahatan tersebut dan bank dapat dihindarkan dari permasalahan
yang lebih serius lagi.

II. CARA PENGENDALIAN RESIKO

Ada beberapa cara yang dapat ditempuh perbankan dalam mengatasi resiko ataupun mencegah
terjadinya resiko yang sama ke depannya. Beberapa cara tersebut telah diterapkan Bank Mandiri dalam
manajemen resiko perusahaannya.

1. Melakukan tata kelola resiko secara terpadu dengan pengimplementasian tanggung jawab dan
keseuaian kompetensi masing-masing pihak yang terkait. Misalnya seperti Dewan Komisaris,
Direksi, Risk & Capital Committee (RCC), unit risk management dan unit business yang
telah berinteraksi dan bersinerji secara optimal.
2. Bank Mandiri menyusun profil resiko dalam suatu Laporan Profil Resiko, dan digunakan
sebagai laporan pada Bank Indonesia. Dengan demikian, bank dapat memusatkan
perhatiannya pada jenis-jenis resiko yang memiliki tendensi memburuk atau melebihi
kebijakan toleransi bank pada resiko tertentu.
3. Studi kasus juga mengungkapkan bahwa Bank Mandiri telah mempersiapkan tenaga
profesionalnya di bidang resiko. Sekaligus juga begaimana Bank Mandiri melakukan
persiapan untuk mengimplementasikan Basel II Accord yang menjadi penanggung jawab dari
seluruh inisiatif strategis bank terkait kepatuhan pegawai.
4. Bank menetapkan kebijakan pengelolaan resiko likuiditas. Misalnya dengan pemeliharaan
cadangan likuiditas yang optimal, pengukuran dan penetapan limit resiko likuiditas,
merancang analisis scenario dan contingency plan, penetapan strategi pendanaan dan
mempertahankan kapasitas dana yang cukup di pasar (Masyhud Ali, 2006).

KESIMPULAN

3
 Bank Mandiri menderita kerugian finansial, reputasi dan masalah kepatuhan akibat adanya
pencairan cek ilegal. Hal ini mengindikasikan bahwa Bank Mandiri perlu lebih meningkatkan
sistem manajemen resikonya. Kerugian-kerugian tersebut sangat berdampak pada
keberlangsungan Bank Mandiri ke depannya., terutama masalah kepercayaan masyarakat.
 Beberapa hal yang dapat dilakukan Bank Mandiri dalam mengatasi resiko yang terjadi misalnya
dengan menyusun profil resiko, mempersiapkan tenaga kerja yang handal di bidang resiko,
menetapkan kebijakan pengelolaan likuiditas, serta melakukan tata kelola resiko terpadu.

 DAFTAR PUSTAKA
Ali, Masyhud. 2006. Manajemen Resiko. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Iban, Sofyan. 2004. Manajemen Resiko. Jakarta : Graha Ilmu
Kasidi. 2010. Manajemen Resiko. Jakarta : Ghalia Indonesia